Hakekat Ilmu Kesaktian, Ilmu Hikmah, & Ilmu Kanuragan

Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh….

Sahabat & Saudara/ri ku semuanya…

Apa sih Hakekat Kesaktian yang sebenarnya..???
Kesaktian Hakikatnya adalah sebuah kemampuan diri untuk menyelesaikan segala permasalahan kehidupan yang dihadapi dengan efektif dan efisien.

Lalu apa hakekat Ilmu Kesaktian, Ilmu Hikmah, Ilmu Kanuragan, dll..??
Intinya, Ilmu Kesaktian adalah Ilmu yang Bermanfaat.
Jadi, walau ilmunya segudang tetapi tdk ada manfaatnya baik bagi dirinya sendiri ataupun orang lain. Maka itu tergolong Ilmu Yang Tidak berguna alias tidak memberikan kesaktian kpd pemiliknya, karena tidak ada fungsinya dalam kehidupannya……..

Jadi dalam hal ini keampuhan & kesaktian ilmu dinilai dari segi pragmatisnya atau kemanfaatannya. Ilmu dituntut adalah sebagai bekal kita dalam menempuh perjalanan kehidupan kita, baik di dunia atupun di akhirat. Di ibaratkan orang yang melakukan perjalanan jauh, maka bekal yang dibawa haruslah bekal yang tepat dan manfaat, agar tidak sia-sia dan menghabiskan tenaga.

“Ilmu yang paling utama adalah ilmu hal. Artinya ilmu yang diperlukan saat itu.”
“Setiap muslim haruslah mempelajari ilmu yang bermanfaat dan menjauhi ilmu yang tidak berguna agar ilmunya tidak membahayakan dirinya.”
(kitab Ta’lim Muta’allim Thariq al-Ta’allum)

Disamping itu, kita membekali diri dengan Ilmu yang bermanfaat adalah agar Kita terbentuk menjadi manusia yang berguna dan penuh manfaat. Karena ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauhmana dirinya punya nilai manfaat bagi dirinya sendiri & orang lain.

Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, ” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari).

Oleh karena itulah Rasulullah n berdoa:

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا

Ya Allah, berikanlah manfaat kepadaku dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarilah aku hal-hal yang akan bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah untukku ilmu.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)

اللَّهُمَّ إِنِّـي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يـَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah puas/cukup, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim, Ahmad dan An-Nasa’i dari Zaid bin Arqam z)

KISAH EMPAT ISTRI KITA
Isteri pertamanya adalah tipe yang setia
Isteri keduanya adalah tipe yang sabar dan pengertian
Isteri ketiganya adalah tipe yang selalu bisa dibanggakan olehnya
Isteri keempatnya adalah tipe yang menyenangkan dan paling cantik

Kepada isteri keempat, dia selalu memberinya banyak harta dan kesenangan.
Kepada isteri ketiga, dia selalu berusaha memperkenalkannya dengan semua kenalannya.
Kepada isteri kedua, dia selalu meminta pendapatnya karena selalu dapat menolongnya bila ada suatu masalah yang tidak bisa dia hadapi sendirian. Kepada isteri pertamanya, dia malah sering melupakannya dan melalaikannya, padahal isterinya yang pertama ini begitu sayang kepadanya.

Sampailah pada masa yang ditetapkan, pria itu mengalami sakit dan merasakan bahwa umurnya tak panjang lagi.

Dipanggillah keempat isterinya yang telah melewati hidup bersamanya selama ini. Dia merasa takut bila nanti kehilangan semua isterinya, karena itu dia bermaksud menanyakan kepada semua isterinya, apakah mereka semua mau menemaninya meninggalkan dunia ini karena dia merasa tak sanggup bila harus pergi meninggalkan dunia ini sendirian.

Kemudian pria itu mulai bertanya dari isteri keempatnya, “Wahai isteriku, engkau selalu kuberikan banyak harta dan kesenangan, maukah engkau menemaniku meninggalkan dunia ini?”

Isteri keempatnya langsung menjawab, “Tentu saja tidak, takkan kutinggalkan dunia ini hanya untuk menemanimu.”

Pria itu merasa sangat sedih akan perlakuan yang diterimanya dari isteri keempatnya.
kemudian pria itu mulai bertanya lagi kepada isteri ketiganya, “Wahai isteriku, engkau selalu kubanggakan kepada semuanya, maukah engkau menemaniku meninggalkan dunia ini?”

Isteri ketiganya langsung menjawab, “Tentu saja tidak, karena disini banyak yang mau menerimaku dan aku akan segera menikah lagi segera setelah engkau pergi.” Pria itu terpukul akan jawaban yang diterimanya dari isteri ketiganya. kemudian pria itu mulai bertanya lagi kepada isteri keduanya, “Wahai isteriku, engkau selalu kudatangi bila ada masalah yang tak bisa kuhadapi sendirian, maukah engkau menemaniku meninggalkan dunia ini?”

Isteri keduanya menjawab, “Maafkan aku, aku tak bisa menolongmu untuk masalah yang ini. Aku hanya bisa mengantarmu sampai ke liang lahat. Segera setelah engkau pergi, aku akan membuatkan makam yang indah untukmu untuk dapat aku datangi nanti.” Pria itu langsung putus asa akan jawaban yang diterimanya dari isteri keduanya.

Kemudian dia mendengar isteri pertamanya berkata, “Aku akan menemanimu, ikut kemanapun engkau pergi. Aku takkan pernah meninggalkanmu, karena aku begitu sayang kepadamu dan aku tahu engkau selalu membutuhkanku, tak berdaya tanpa adanya diriku.”

Pria itu menoleh dan melihat kepada isteri pertamanya, tampak kurus dan tak bersinar, seperti orang yang tak terurus. Pria itu menyesali dirinya dan berkata, “Seandainya aku selalu merawatmu disaat masih ada waktuku dahulu, takkan kubiarkan engkau menemaniku dalam keadaan seperti ini. Aku menyesal dan baru menyadari bahwa engkaulah yang benar-benar menyayangiku dan tak pernah meninggalkanku.”

Hikmah :
Sesungguhnya dalam diri kita akan ada empat isteri.
Isteri keempat ialah tubuh kita. Walau banyak waktu dan materi yang kita lakukan untuk merawatnya, saat tiba masanya kita meninggalkannya, takkan kita bawa saat menghadap Allah SWT.

Apa yang sudah kita siapkan untuk bekal nanti
Apa yang sudah kita siapkan untuk bekal nanti

Isteri ketiga ialah status sosial dan kekayaan kita. Walau kita begitu bangga dan sayang kepadanya, segera setelah kita meninggalkannya, semuanya akan berpindah dari diri kita ke orang lain.

Isteri kedua ialah keluarga, kerabat dan teman kita. Walau kita selalu dekat kepada mereka, mereka takkan bisa bersama kita tuk selamanya. Hanya sampai liang lahat mereka dapat mengantar kita.

Dan isteri pertama ialah jiwa dan amal ibadah kita, yang kadang terlupakan oleh kita, jarang kita jaga. Padahal inilah yang akan selalu menemani kita baik dalam hidup maupun setelah kita meninggalkan dunia yang fana ini. Hanya jiwa yang kaya iman, islam dan ihsan serta amal ibadah yang akan selalu menolong kita baik didunia maupun di akhirat kelak

Wallahu A’lam…..

PELAJARAN TERKAIT :

  1. The Power of Kepepet, Kekuatan dalam Keterdesakan
  2. Mendadak Sakti, The Power Of Kepepet 2
  3. Hakekat Kesaktian
  4. PELATIHAN NAQS DNA
  5. Insan Pembelajar, Success Road : Learn, Change, Grow
  6. Menuju Insan Terbaik
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 236 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: