>Sekilas Kemunculan Thariqoh

>

Thariqoh adalah salah satu tradisi keagamaan dalam Islam yang sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, perilaku kehidupan beliau sehari-hari adalah paktek kehidupan rohani yang dijadikan rujukan utama oleh para pengamal thariqoh dari generasi ke generasi sampai kita sekarang.

Lihat saja, misalnya hadis yang meriwayatkan bahwa ketika Islam telah berkembang luas dan kaum Muslimin telah memperoleh kemakmuran, sahabat Umar bin Khatab RA. berkunjung ke rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika dia telah masuk di dalamnya, dia tertegun melihat isi rumah beliau, yang ada hanyalah sebuah meja dan alasnya hanya sebuah jalinan daun kurma yang kasar, sementara yang tergantung di dinding hanyalah sebuah geriba (tempat air) yang biasa beliau gunakan unuk berwudlu’. Keharuan muncul di hati Umar RA. yang kemudian tanpa disadari air matanya berlinang. Maka kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya: ”Gerangan apakah yang membuatmu menangis, wahai sahabatku?” Umar pun menjawabnya: “Bagaimana aku tidak menangis, Ya Rasulullah ? hanya seperti ini keadaan yang kudapati di rumah tuan. Tidak ada perkakas dan tidak ada kekayaan kecuali sebuah meja dan sebuah geriba, padahal di tangan tuan telah tergenggam kunci dunia timur dan dunia barat, dan kemakmuran telah melimpah.” Lalu beliau menjawab: “Wahai Umar aku ini adalah Rasul Allah. Aku bukan seorang kaisar dari Romawi dan juga bukan seorang Kisra dari Persia. Mereka hanyalah mengejar duniawi, sementara aku mengutamakan ukhrawi.”

Suatu hari Malaikat Jibril As. datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. setelah menyampaikan salam dari Allah Swt, dia bertanya: “Ya Muhammad, manakah yang engkau sukai menjadi Nabi yang kaya raya seperti Sulaiman As atau menjadi Nabi yang papa seperti Ayub As?” Beliau menjawab: ”Aku lebih suka kenyang sehari dan lapar sehari. Disaat kenyang, aku bisa bersyukur kepada Allah Swt dan disana lapar aku bisa bersabar dengan ujian Allah Swt.”

Bahkan suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada sahabatnya: ”Bagaimana sikap kalian, jika sekiranya kelak telah terbuka untuk kalian kekayaan Romawi dan Persia?” Di antara sahabatnya ada yang segera manjawab: ”Kami akan tetap teguh memegang agama, ya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Tetapi beliau segera menukas: ”Pada saat itu kalian akan berkelahi sesama kalian. Dan kalian akan berpecah belah, sebagian kalian akan bermusuhan dengan sebagian yang lainnya. Jumlah kalian banyak tetapi kalian lemah, laksana buih di lautan. Kalian akan hancur lebur seperti kayu di makan anai-anai! ”Para sahabat penasaran, lalu bertanya: ”Mengapa bisa begitu ya Rasulullah.” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menjawabnya: ”Karena pada itu hati kalian telah terpaut dengan duniawi (materi) dan aku menghadapi kematian.” Di kesempatan lain beliau juga menegaskan: ”Harta benda dan kemegahan pangkat akan menimbulkan fitnah di antara kalian!”

Apa yang dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut bukanlah ramalan, karena beliau pantang untuk meramal. Tetapi adalah suatu ikhbar bil mughayyabat (peringatan) kepada umatnya agar benar-benar waspada terhadap godaan dan tipu daya dunia.

Sepeninggal Nabi pun, ternyata apa yang beliau sabdakan itu menjadi kenyataan. Fitnah yang sangat besar terjadii di separoh terakhir masa pemerintahan Khulafaurrasyidin. Dan lebih hebat lagi terjadi di zaman Daulah Bani Umayyah, dimana sistem pemerintahan telah mirip dengan kerajaan. Penguasa memiliki kekuasaan yang tak terbatas, yang cenderung lebih mengutamakan kepentingan pribadi mereka, keluarga atau kelompoknya dan mengalahkan kepentingan rakyat kebanyakan. Dan akhirnya berujung pada munculnya pemberontakan yang digerakkan oleh golongan Khawarij, Syiah,dan Zuhhad.

Hanya saja ada perbedaan diantara mereka. Kedua golongan yang pertama memberontak dengan motifasi politik, yakni untuk merebut kekuasaan dan jabatan, sementara golongan terakhir untuk mengingatkan para penguasa agar kembali kepada ajaran Islam dan memakmurkan kehidupan rohani, serta untuk menumbuhkan keadilan yang merata bagi warga masyarakat. Mereka berpendapat bahwa kehidupan rohani yang terjaga dan terpelihara dengan baik akan dapat memadamkan api fitnah, iri dengki dan dendam.

Meskipun saat itu Daulat Bani Umayyah merupakan pemerintahan yang terbesar di dunia, dengan wilayah kekuasaan yang terbentang dari daratan Asia dan Afrika di bagian timur sampai daratan Spanyol Eropa di bagian barat, pada akhinya mengalami kehancuran. Pengalaman dan nasib yang sama juga dialami oleh Daulah Bani Abasiyah. Meskipun saat itu jumlah umat Muslim sangat banyak dan kekuasaan mereka sangat besar, tetapi hanya laksana buih di lautan atau kayu yang dimakan anai-anai, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Semua itu dikarenakan fakor hubb al-dunya (cinta dunia) dan karahiyat al-maut (takut menghadapi kematian). Sebab yang tampak makmur hanya kehidupan lahiriyah/duniawi, sementara kehidupan rohani/batiniyah mereka mengalami kegersangan. Inilah yang menjadi motifasi golongan Zuhhad.

Golongan Zuhhad inilah yang menjadi fokus pembahasan dalam penulisan buku ini, karena gerakan-gerakannya mengajak kembali kepada ajaran Islam yang benar dan mendekatkan diri pada Allah ‘Azza wa jalla.

Gerakan yang muncul di akhir abad per enam hijriyyah ini, pada mulanya meupakan kegiaan sebagian kaum Muslimin yang semata-mata berusaha mengendalikan jiwa mereka dan menempuh cara hidup untuk mencapai ridla Allah Swt, agar idak terpengaruh dan terpedaya oleh tipuan dan godaan duniawi (materi). Karenayna, pada saa itu mereka lebih dikenal dengan sebutan “zuhhad” (orang- orang yang berperilaku zuhud), ”nussak” (orang-orang yang berusaha melakukan segala ajaran agama) atau “Ubbad” (orang yang rajin melaksanakan ibadah).

Lama kelamaan cara kehidupan rohani yang mereka tempuh, kemudian berkembang menjadi alat unuk mencapai tujuan yang lebih murni, bahkan lebih mendalam yaitu berkehendak mencapai hakekat ketuhanan dan ma’rifat (mengenal) kepeda Allah yang sebenar-benarnya, melalui riyadlah (laku pihatin), mujahadah (perjuangan batin yang sungguh-sungguh), mukasyafah (tersingkapna tabir antara diriyna dan Allah), musyahadah (penyaksian terhadap keberadaan Allah). Atau dengan istilah lain, laku batin yang mereka tempuh di mulai dengan “takhalli” yaitu mengosongkan hati dari sifat-sifat tercela, lalu “tahalli”, yaitu menghiasi hati dengan sifat yang terpuji, lalu “tajalli” yaitu mendapatkan pencerahan dari Allah Swt. Tata caa kehidupan rohani tersebut kemudian tumbuh berkembang di kalangan masarakat Muslim, yang akhirnya menjadi disiplin keilmuan tersendiri, yang dikenal dengan ilmu “Tashawuf.”

Sejak munculyna Tashawuf Islam di akhir abad kedua hijriyah, sebagai kelanjutan dari gerakan golongan Zuhhad, muncullah istilah “Thariqoh” yang tampilan bentuknya berbeda dan sedikit demi sedikit menunjuk pada suatu yang tertentu, yaitu sekumpulan akidah-akidah, akhlaq-akhlaq dan aturan-aturan tertentu bagi kaum Sufi. Pada saat itu disebut “Thariqoh Shufiyyah” (metode orang-orang Sufi) menjadi penyeimbang terhadap sebutan “Thariqoh Arbabil Aql wal Fikr” (metode orang-orang yang menggunakan akal dan pikiran. Yang pertama lebih menekankan pada dzauq (rasa), sementara yang kedua lebih menekankan pada burhan (bukti nyata/empiris). Isilah “thariqoh“ terkadang digunakan untuk menyebut suatu pembibingan pribadi dan perilaku yang dilakukan oleh seorang mursyid kepada muridyna. Pengertian terakhir inilah yang lebih banyak difahami oleh banyak kalangan, ketika mendengarkan kata “thariqoh.”

Pada perkembangan berikutyna, terjadi perbedaan diantara tokoh Sufi di dalam menggunakan metode laku batin mereka untuk menggapai tujuan utamanya, yaitu Allah Swt dan ridlanya. Ada yang menggunakan metode latihan-latihan jiwa, dari tingkat terendah, yaitu nafsu ammarah, ke tingkat nafsu lawwamah, terus ke nafsu muthmainah, lalu ke nafsu mulhamah, kemudian ke tingkat nafsu radliyah, lalu ke nafsu mardliyyah, sampai ke nafsu kamaliyyah. Ada juga yang mengguanakan metode takhalli, tahalli dan akhirnya tajalli. Ada pula yang menggunakan metode dzikir, yaitu dengan cara mulazamatudz-dzikri, yakni melanggengkan dzikir dan senantiasa mengingat Allah dalam keadaan apapun.

Dari perbedaan metode itulah, akhirnya muncul aliran-aliran thariqoh yang mengambil nama dari tokoh-tokoh sentral aliran tersebut, seperti Qodiriyah, Rifa’iyyah, Syadzaliyyah, Dasuqiyyah/Barahamiyyah, Zainiyyah, Tijaniyyah, Naqsabandiyyah, dan lain sebagainya

Iklan

>Allah Nan Maha Agung Mengundang dan merindukanmu…..

>Limpahan puji kehadirat Allah yang telah menjadikan hujan sebagai lambang keindahan Illahi juga sebagai cobaan dan pengangkatan derajat bagi sebagian muslimin dan juga sebagai penghapusan dosa bagi sebagian muslimin dan juga sebagai Rahmat dan kemudahan bagi sebagaian muslimin lainnya. Maha Suci Allah SWT yang cahaya kelembutanNya terus memanggil para pendosa, cahaya kelembutan Illahi terus mengundang ruh dan jiwa mereka untuk meninggalkan dosa, untuk kembali kepada Allah “fafirruu ilallah..” Dari salah satu firman Allah memanggil hamba–hambaNya untuk lari dari dosa–dosa, lari dari seluruh permasalahan kepada Allah “fafirruu ilallah..” Wahai hamba–hambaKu tempat melarikan diri adalah kepadaKu, dari apapun keluhan–keluhan hamba-hambaNya hanya Dialah yang Maha Mampu memaksakan kehendaknya untuk mengatur dan merubah keadaan. Jalla wa’alla (Dia Maha Dahsyat dan Maha Luhur) yang menjadikan setiap saat merupakan Rahmat bagi umat dan sebagian lagi menjadi penghapusan dosa dan cobaan.

Maha Suci Allah yang undangannya memanggil nafas-nafas para pendosa untuk bertaubat, mengundang mereka untuk kembali kepada Rahmat ilahi, sehingga tiadalah seseorang dari hamba ini wafat terkecuali menyesali ternyata betapa indah dan lemah lembutnya Allah, ternyata betapa baiknya Allah, ternyata betapa indahnya kasih sayang Allah. Merugilah mereka yang telah meninggalkan Allah didalam hidupnya, didalam hari-harinya. Ia meninggalkan hal-hal yang dicintai Allah, sebagaimana Allah SWT memanggil hamba hambaNya kelak di Yaumil Qiyamah “yaa ayyuhal insan.., Maa gharraka birabbikal kariim…….?” Wahai manusia apa yang telah membuatmu meninggalkan-Ku, Tuhanmu yang Maha Pemurah? Tuhan yang telah menciptakanmu dan menjadikanmu ada dari ketiadaan.

Bukankah kita wajib berbakti kepada ayah dan ibu? Sedangkan Allah lebih dari pada jasa ayah dan bunda kita “maa gharraka birabbikal kariim……….” apa yang membuat engkau meninggalkan Tuhanmu yang Maha Pemurah? Dia yang menawarkan pengampunan-Nya atas setiap dosa. Dia yang menginginkanmu selalu dekat kepada kasih-sayang-Nya, sehingga mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ketika orang-orang menyesal di Yaumil Qiyamah, akan tetapi sebagian hamba-hamba Allah yang dimasa hidupnya selalu ingin bersama Allah, mereka berada dalam kebahagiaan yang kekal, mereka di dalam istana-istana termegah yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, sebagaimana dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhori Allah berfirman “A’dadatu li’ibaadiy……….” telah Aku siapkan bagi hamba hamba Ku yang shalih -yang berbicara ini adalah yang Maha Menciptakan jagat raya dengan segala kemegahannya- Kuciptakan dan Kusiapkan bagi hamba–hambaKu yang shalih apa–apa yang belum pernah terlihat mata, belum pernah didengar telinga, belum pernah terlintas dalam lintasan pemikiran mereka.

Firman Allah ini bagi mereka yang berfikir dan mendalami dan merenunginya merupakan undangan Allah kepada setiap jiwa kita. Telah Kusiapkan hidangan–hidangan dan istana agung untukmu wahai hambaKu. Sayanglah dan merugilah jika engkau menolak tawaranKu. Inilah makhluq yang paling merugi ketika ia menolak tawaran Rabbul ‘alamin untuk hidup bersama-Nya dalam kebahagiaan yang kekal.

Sungguh Allah SWT adalah yang tiada henti–hentinya Maha bersabar kepada mereka yang berbuat salah dari hambaNya dan betapa indahnya umat Nabi Muhammad saw yang mendapat undangan untuk selalu menghadap lima kali dalam setiap harinya. Adakah lagi hamba yang lebih suci dan bercahaya dari umat Sayyidina Muhammad? Mereka lima kali setiap hari dipanggil Allah. Bukankah mereka benar–benar dimanjakan oleh Allah? Adakah seorang raja memanggil seorang rakyatnya lima kali sehari terkecuali ia seorang yang sangat dicintai? Demikian keadaanku dan kalian yang selalu mendapat undangan agung lima kali setiap hari. Betapa suci dan terang benderangnya ummat Nabi Muhammad saw, dan betapa rugi dan gelapnya mereka yang menolak Allah. Ketika ia dipanggil oleh Allah, ia menolak. Ketika ia dipanggil oleh Allah untuk menghadap, ia pun mungkar dan berpaling. Adakah yang lebih rugi dari orang yang menolak undangan seorang raja? Kalau ini rugi maka bagaimana dengan undangan Maha Raja langit dan bumi.

Sambutlah undangan Rabbul ‘allamin, dengan semangat gembira kehadirat Allah atas anugerah-Nya. Jadikan siang dan malam kita selalu di dalam cahaya Rabbani, di dalam cahaya kehidupan yang kekal. Inilah hakikat kehidupan yang mulia.

(majelisrasulullah.org)

Tuhan…
Ni’matMu selalu turun kepadaku
Padahal dosaku selalu naik kepadaMu

Ni’matMu bagai kelembutan seorang ibu
yang membelai anaknya penuh kasih-sayang

Ketika aku malu dan ingin menahan diriku dari segala ni’matMu
Engkau malah menyodorkan segala ni’matMu padaku
Seakan Engkau berfirman:
Wahai hambaKu terimalah rizkimu yang halal
Mengenai dosa-dosamu
Sesungguhnya Aku Mahapengampun

Mengapa Engkau begitu baik padaku?
Padahal aku ingin menghukum diriku sendiri.
Apakah Engkau tidak bosan mendengar permintaan maafku?
Padahal aku sendiri merasa bosan mendengar kedustaan lisanku.
Tetapi Engkau memang Yang tidak bosan.

Ingin rasanya aku terus berada dalam keridhoanMu
Tetapi hatiku yang lalai
membuatku pergi dariMu

Wahai Tuhan Yang Mahabaik
Rantailah diriku pada DiriMu
Kuncilah dan jangan lepaskan
Kumohon padaMu

Jawablah… jawablah…
Wahai Yang Mahamenjawab

Jika engkau membiarkan aku
Aku khawatir bahwa aku akan binasa
Maka berikanlah aku hidup yang kekal
Jangan biarkan aku dikuasai oleh maut

Kumohon padaMu
dengarkanlah permintaanku
Wahai Engkau Yang Mahahidup lagi Memberi hidup

Jawablah… jawablah…
Wahai Engkau Yang Mahabaik

Allah Merindukanmu….

Anda mungkin berfkir bahwa rasanya tidak mungkin Allah merindukan Anda. Anda merasa bahwa Anda terlalu kotor untuk dirindukan. Maka ketahuilah, justeru Allah sangat merindukan hamba-hamba-Nya dan memanggil mereka untuk kembali kepada-Nya. Allah memanggil hamba-hamba-Nya yang melampaui batas agar kembali kepada Kasih-Sayang-Nya. Jika Anda berfikir bahwa Anda tidak akan diampuni, maka Anda keliru. Memangnya ampunan Allah itu untuk para malaikat yang tidak pernah berdosa? Atau untuk mereka yang Anda anggap sholih? Justeru ampunan Allah itu untuk kita, hamba-hamba-Nya yang telah melampau batas dalam kedurhakaan. Maka ambillah ampunan Allah itu dengan bertaubat dan beristighfar, karena ampunan Allah memang untuk kita. Dia selalu merindukan Anda.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” [QS. Az-Zumar: 53-55]

Lihatlah betapa Allah merindukanmu dan menghiburmu dengan rahmat dan ampunan-Nya. Jika Dia merindukan Anda, lalu bagaimana Anda tidak merindukannya? Bukankah sebenarnya Anda juga rindu untuk merasakan ni’matnya ibadah, ni’matnya munajat, ni’matnya berdialog dengan Allah? Maka rasakanlah kelezatan ini. Rasakanlah manisnya lisan yang menyebut Asma-Nya. Ni’matilah keindahan mata yang dibasahi air mata kerinduan pada-Nya. Rasakanlah dahsyatnya goncangan hati yang bergetar dalam khusyu.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, [QS. Al-Anfal: 2]

Aku bukanlah siapa-siapa
Tak ada raja yang mengenalku
Tak pula rakyat jelata menghormatiku

Aku hanyalah makhluq hina
Terasing dan terbuang

Tak seorang mencintaiku
Semua manusia tak ‘ku hiraukan

Tak ada yang menghendaki diriku
Tak pula yang merinduku

Dalam kesendirian dan keterasingan ‘ku tersadar
Ada yang tengah memperhatikan
bahkan merindukanku

Dia selalu menghendaki kehadiranku
bahkan ketika aku mengabaikan keberadaannya

Dia terlalu mulya untuk ‘ku harapkan
Namun sekarang aku percaya
Dia memang merindukanku

Hanya dia yang menghendaki hadirku
Hanya dia yang s’lalu sabar
atas segala jahilku

Dalam setiap alpaku
Hanya dia yang selalu merindukanku

Sahabat, sadarkah Anda, dalam setiap kedurhakaan kita selalu tersimpan kerinduan Allah? Mungkin kita bertanya, apakah Allah tidak menghendaki kedekatan kita sehingga membiarkan kita jatuh dalam kenistaan. Namun ternyata itu salah. Allah selalu mengundang hamba-hamba-Nya yang terperosok dalam kehinaan dosa. Betapa besar kasih-sayang Allah. Bahkan Dia masih menghendaki kehadiran kita dalam istana kemulyaan-Nya setelah semua kedurhakaan yang kita perbuat.

PENGARUH DZIKIR PADA KEHIDUPAN

Majelis-majelis dzikir mempunyai pengaruh yang besar di dalam kehidupan manusia, pengaruh terhadap hati manusia, pengaruh terhadap bathin manusia. Majelis-majelis dzikir berpengaruh terhadap seseorang dalam urusan lahir dan bathin, dalam urusan dunia dan akhirat. Walau pun seseorang sibuk dalam memenuhi kebutuhan duniawinya, akan tetapi perlu diketahui bahwasanya dzikir kepada Allah SWT merupakan salah satu usaha di dalam memperbaiki kehidupan kita, baik yang lahir maupun yang bathin.

Seperti kita ketahui bahwa kita butuh kekayaan, makanan, pakaian, dan tempat tinggal; ruh kita pun membutuhkan kekayaan, makanan, pakaian dan tempat tinggal. Apabila seseorang memperhatikan dan memenuhi kebutuhan dari ruh dan bathinnya, maka kebutuhan lahirnya pun akan menjadi baik pula. Apabila dia menelantarkan kebutuhan bathinnya, maka hal itu akan berpengaruh pula kepada kebutuhan lahirnya. Sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi Muhammad SAW tentang pengaruh dari dzikir, bahwa sesungguhnya seseorang yang duduk di tempat sholatnya setelah shalat shubuh dan berdzikir kepada Allah SWT, hal itu lebih mempercepat dalam meraih rizqi dari pada orang yang pagi-pagi buta telah pergi mencari rizqi.

Kemudian, orang-orang yang memperhatikan makanan hatinya berupa dzikir kepada Allah SWT, maka akan mempengaruhi mereka dalam memilih makanan bagi lahiriyah mereka. Mereka akan memilih makanan yang halal, menjauhi yang haram, menjauhi yang syubhat. Barangsiapa yang hanya memakan makanan yang halal, maka anggota tubuhnya pun akan mudah untuk taat kepada Allah SWT. Begitu juga apabila seseorang memakan makanan yang haram, maka anggota tubuhnya pun akan berbuat ma’siat kepada Allah SWT, melanggar perintah-Nya, dan mengerjakan apa yang dilarang-Nya.

Hendakya seseorang lebih mengutamakan pakaian bathinnya, menghiasi hatinya dengan hal-hal yang diridhoi oleh Allah SWT, dan menghiasi hatinya dengan sifat-sifat mulya. Karena Allah telah membagi-bagikan pakaian kepada manusia, dan sebaik-baik pakaian yang Allah berikan bagi seseorang adalah taqwa. Sungguh, pakaian-pakaian lahiriyah akan hancur. Namun pakaian taqwa akan tetap abadi. Sehingga orang-orang bertaqwa akan menghadap Allah SWT dengan pakaian ini, dan ia tidak telanjang di hadapan Allah SWT, dan tidak pula telanjang di hadapan manusia di Padang Mahsyar kelak. Dan pakaian seperti ini Allah bagi-bagikan di majelis-majelis ilmu, di majelis-majelis dzikir.

(Dikutip dari ceramah Guru Mulya Al-Habib Umar bin Muhammad Al-Hafizh)

Zaman ini adalah zaman
begitu banyak manusia melupakan Tuhan
tertipu oleh keinginan nafsu
mereka berlomba meninggalkan Tuhan

Mereka asing dengan hukum Tuhan
Menganggapnya sudah tidak relevan
Hawa nafsu dijadikan tuhan
yang membuat segala aturan

Belum tibakah saat di mana
manusia mencari Dia
mengemis kasih dan keridhoan-Nya
menjaga diri dari yang dibenci-Nya
mendidik diri untuk taat kepada-Nya
membela Tuhan dan menghinakan dunia

Tapi lihatlah tingkah manusia
mengagungkan dunia mengabaikan Dia
Tuhan Pencipta alam semesta

Keyakinan mereka hanya pada lisan
Hati mereka mendustakan hari pembalasan

Bilakah manusia rindukan Tuhan
Merindu Dia Pencipta insan
Sedang manusia telah keringkan lisan
dari menyebut Nama Tuhan

Wahai insan, sembahlah Dia
Yang telah Mencipta alam seisinya
Bukankah menyembah tugasnya hamba
untuk agungkan Nama Pencipta

Apakah yang telah menipumu
Apakah dunia ataukah nafsu
Wahai jiwa, tidakkah kau dengar
teriakan mereka di alam kubur

Tidakkah kau dengar panggilan mereka
agar jangan sama azab menimpa
Selagi masih kau punya waktu
mulya dan agungkan Nama Tuhanmu
Mereka yang menggelepar di alam kubur
Terus disiksa tanpa diundur
Tubuh yang gagah kini telah hancur
Wajah yang cantik kini telah lebur

Tetapi engkau, wahai penghuni dunia
Kesempatan emas berlalu begitu saja
Hatimu lalai karena terlena
gemerlap dunia yang hanya sementara

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. [QS. Adz-Dzariyat: 56]

Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuh-mu. Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu. Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. [QS. Al-Infithar: 1-6]

http://tomygnt-sendiri.blogspot.com/2010/04/allah-nan-maha-agung-mengundang-dan.html