>Pengembangan Diri Ala Samurai Sejati

>

Oleh: Risfan Munir*

Kisah sukses ekonomi atau industrialisasi Jepang selalu dikaitkan dengan budaya bangsa itu, di mana spirit samurai menjadi salah satu kekuatannya. Oleh karena itu akan bermanfaat sekali untuk mempelajari spirit samurai itu. Dan, salah satu sumber maupun simbol etos samurai adalah Miyamoto Musashi. Dialah pendekar samurai tiada tara yang menulis buku The Book of Five Rings (Go Rin No Sho). Ini adalah hasil renungan atau kontemplasinya setelah menjadi samurai tak terkalahkan.

Musashi memberikan penjelasan singkat pemilihan judul itu: BUMI, simbol pandangan dasarnya tentang seni bela diri; AIR, terkait gayanya yang dilandasi sifat mengalir dan kejernihan; API, atau peperangan, dikaitkan dengan energi dan kemampuannya berubah; ANGIN, terkait pengamatan atau kritiknya atas atas macam-macam gaya dari perguruan lain; KEHAMPAAN, ini bagian yang sangat filosofis, bahwa ujung kesempurnaan adalah kehampaan jua.

Meski media buku ini adalah panduan teknik samurai, tetapi intinya adalah tentang “permainan pikiran” juga. Bagi Musashi, seni bela diri adalah sebuah pendekatan (psikologi) pada Jalan (disiplin, destiny) yang sesuai untuk dijadikan panduang pengembangan diri.

Ada beberapa prinsip yang menjadi benang merah kelima Bab, yaitu:
(1) Pentingnya timing, yang mesti selalu diserasikan dengan ritme lawan dan situasinya.
(2) Pentingnya pengetahuan yang menyeluruh atas diri sendiri dan lawan, mirip analisis SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, threats).
(3) Pentingnya permainan “persepsi”, agar betul-betul bertindak berdasar fakta, bukan persepsi, dugaan, agar tak mudah diprovokasi, dan dikelabuhi.
(4) Berikutnya, pentingnya mengendalikan “pikiran lawan”, dengan tipuan, pengecohan, gertak, provokasi, dan taktik lainnya.
(5) Akhirnya ialah pentingnya praktik, praktik dan praktik, kalau mau mahir. Ukuran keberhasilan belajar bukan lulus ujian oleh guru, tetapi keberhasilan menaklukkan lawan.

Memahami ajaran Musashi tentu tidak untuk belajar samurai, karena kalau mau belajar seni bela diri apa pun ya lebih praktis ikut kursus. Sekali lagi, ini bertujuan untuk menggali spirit samurai yang katanya mampu memompakan etos maju bangsa Jepang.

Pada Kitab Bumi, Musashi menganalogikan belajar samurai seperti kerja tukang kayu yang harus menguasai aneka alat (gergaji, palu, penyerut, dst), menguasai banyak teknik (memotong, menyambung, meluruskan), serta memilih kayu yang tepat untuk pilar, palang, kusen, pintu, dst. Di samping mahir secara pribadi juga mahir memimpin pasukan dalam pertempuran. Ini juga seperti tukang kayu yang harus mampu memilih tukang, mengorganisir, dan disiplin mengikuti blue-print.

Pada Kitab Air dia meggarisbawahi pentingnya mengikuti watak air yang “jernih dan fleksibel.” Jernih menilai lawan, tak tertipu oleh persepsinya sendiri. Dan, fleksibel atau lentur. “Tanaman yang fleksibel hidup, tanaman kaku adalah tanaman mati.”

Kitab Api, membahas aspek taktik duel dan strategi pertempuran. Di antaranya ada dua strategi yang menarik bagi saya. Pertama, taktik meminjam tenaga lawan. Seorang samurai tua bisa menghadapi lawan yang muda, dengan taktik gerak tipuan untuk membuat lawan bertindak sia-sia, sibuk kelelahan. Kedua, strategi “menyeberang sungai”, saat kita menjalankan rencana, kadang tak terhindarkan harus menentang arus desar. Pada titik itu tak ada pilihan kecuali kerja keras mendayung untuk sampai ke seberang.

Kitab Angin, dalam kitab ini Musashi banyak membandingkan do-jo-nya (perguruan) dengan do-jo lain yang dia kritik sebagai mengembangkan seni akrobat, kembangan, daripada seni pedang sesungguhnya yang tujuannya semata mengalahkan lawan.

Musashi juga mengajarkan agar taktik dan serangan yang dilakukan “tidak terbaca”. Karena sering melakukan serangan “di luar pakem”, atau yang konvensional” tujuannya agar lawan tak bisa menebak, atau bisa diprovokasi. Contohnya, saat duel dengan musuh bebuyutannya Sasaki Kojiro, di perahu menuju pantai tempat duel, dia buat pedang kayu dari dayung cadangan. Datangnya pun terlambat , ini pantangan bagi disiplin samurai. Akibatnya Kojiro heran dan tersinggung emosional. Di situ dia terpecah pikirannya dan Musashi pegang kendali dan menang.

Kitab Kehampaan, ini bab paling tipis. Sesuai dengan judulnya, isinya sangat filosofis. Mengingatkan kita untuk melihat “fakta sesungguhnya”, atau hakikat. Karena kita umumnya terbiasa melihat “label” daripada “realita objektifnya”. Kalau disebut kata “laut”, seketika terbayang “luas dan biru.”

Dalam duel, dalam pengambilan keputusan, subjektivitas, persepsi dini, juga prejudice, stereotyping, bisa mengecoh diri sendiri. Apalagi kalau lawan tahu pikiran bias dan preferensi kita, mereka bisa sengaja mengecoh kita. Maka Musashi menyarankan “kosongkan pikiran”, hadapi lawan (realitas) apa adanya, bebaskan dari asumsi, praduga. Pahami realita apa adanya. Ini sulit, tetapi alangkah indahnya kalau kita bisa selalu berpikiran “jernih”, tak dikacaukan, dipusingkan dan dibikin rancu oleh persepsi dan preferensi, judgement tertentu, yang seringkali tanpa fakta objektif.

Apalagi di era informasi ini, tiap hari kita dicekoki oleh berita televisi, koran, gosip yang lebih banyak “opini”-nya daripada faktanya.”Bersihkan pikiran dari bias dan ego, bebaskan pandangan dari mode, tekanan teman, prakonsep, maka Anda akan melihat (fakta atau) kebenaran sejati.”

Ketajaman mengobservasi adalah salah satu rahasia kekuatan Musashi. Mengamati semua hal, tanpa terkecoh oleh pesona, godaan ataupun provokasi dari yang diamatinya. Kuncinya, dia katakan, adalah “persepsi”. Kita harus bisa malihat situasi apa adanya. Sering kali “hasrat” dan “ketakutan” kita yang mendominasi pikiran, sehingga kita tak bisa melihat sesuatu apa adanya.

Dari pesan sang Samurai saya berkaca, betapa seringnya saya membaca, mendengar, mengamati banyak hal dengan “frame” saya sendiri. Lalu dengan cepat prejudice, menghakimi. Akibatnya kita tidak banyak belajar dari orang lain. Dan, sering salah menilai maupun salah mengambil keputusan. Sebagai fasilitator, trainer, metode partisipatif juga menghendaki kita untuk tidak “datang membawa jawaban”, tetapi betul-betul terbuka terhadap aspirasi audiens. Para manajer masa kini juga diajar untuk lebih banyak mendengar sebelum bicara. Kata Covey,”first seek to understand, then to be understood.” Jernihkan persepsi, memahami dulu aspirasi audiens, baru minta dimengerti.[rm]

http://www.andaluarbiasa.com/pengembangan-diri-ala-samurai-sejati

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: