>Samurai Tanpa Pedang

>“Kau pasti terkejut saat mendapati bahwa keberhasilanku dalam meraih kepemimpinan dibangun atas dasar-dasar yang terdengar lumrah seperti pengabdian, penghargaan, kerja keras dan tindakan tegas.”

“Aku tidak pernah mahir dalam seni berpedang. Bahkan ronin kelas tiga sanggup mengalahkanku dalam perkelahian jalanan! Aku sadar aku harus lebih menggunakan otak daripada tubuh, khususnya jika aku ingin kepalaku masih menempel di leher” [hal 8]

Lahir dari orang tua petani dan lingkungan yang miskin tidak membuat Hideyoshi berhenti bermimpi. Pria yang bernama asli Kinoshita Tōkichirō ini memiliki impian dan tekad menjadi seorang Samurai. Akan tetapi mengingat tidak adanya darah samurai mengalir dalam dirinya, maka hal tersebut bukan lah sesuatu yang mudah. Apalagi dengan kondisi fisiknya kecil yang tidak memungkinkannya untuk bergerak di dunia militer, sehingga membuatnya tidak memiliki kemampuan berkelahi. Menyerah, kata yang sama sekali tidak pernah mendekam dalam kamus kehidupan pria yang berjulukan si Monyet atau Tikus Botak. Berbekal tekad, keberanian dan kecerdikannya menciptakan peluang, Hideyoshi menunjukkan bahwa orang biasa dapat menjadi luar biasa.

Toyotomi Hideyoshi. Sebuah nama yang sangat terkenal di zaman peperangan antar klan, Zaman Sengoku. Pria ini memiliki perawakan mirip kurcaci botak dengan badan tak karuan, yang oleh beberapa orang diberi predikat sebagai pemimpin berwajah paling jelek dalam sejarah Jepang. Akan tetapi kondisi fisiknya tidak terlalu berpengaruh, mengingat perannya yang hingga saat ini menjadikan sosok menyejarah di mata generasi muda.

Setelah diusir dari keluarga Matsuhito, karena fitnah. Dia tidak menyerah dan terus berupaya untuk mewujudkan keinginannya. Keberaniannya menciptakan peluang di saat krisis lah yang menjadi awal perjalanan hidupnya. Sebuah langkah berani diambilnya saat Hideyoshi dengan berani menghadang Lord Nobunaga ketika akan memasuki gerbang seorang bangsawan, dengan resiko dibunuh di tempat dia menyampaikan tekadnya untuk mengabdi pada Klan Oda.

“Kau pasti terkejut saat mendapati bahwa keberhasilanku dalam meraih kepemimpinan dibangun atas dasar-dasar yang terdengar lumrah seperti pengabdian, penghargaan, kerja keras dan tindakan tegas.” [hal 6]

Bergabung dengan Klan Oda menjadi titik balik kehidupan Hideyoshi untuk meraih kepemimpinan. Bermula menjadi kacung rendahan Lord Nobunaga, dia menunjukkan banyak loyalitas dan dedikasi tertinggi, bahkan ketika membawakan sandal sang Lord, Hideyoshi mendekapnya demi menjaga kehangatan walaupun saat itu dirinya sendiri dalam kondisi kedinginan. Pengabdiannya yang luar biasa membuat Nobunaga tidak segan menaikkan pangkat Hideyoshi dengan signifikan. Hingga akhirnya Hideyoshi menjadi salah satu orang kepercayaan Lord Nobunaga.

Kematian Lord Nobunaga karena adanya pengkhianatan, menimbulkan perebutan kekuasaan dan bibit perpecahan. Keadaan ini mengharuskan Hideyoshi mengambil tindakan tepat dan cepat untuk mengatasi kondisi yang semakin memanas. Tidak sekadar kecerdikan dan ketangkasan yang akhirnya mampu membungkam sengketa, tetapi kepercayaan diri Hideyoshi membuat kondisi krisis ini menjadikannya seorang pemimpin. Setelah membalas dendam atas kematian Lord Nobunaga, Hideyoshi berusaha melanjutkan perjuangan Lord Nobunaga, yaitu mempersatukan wilayah Jepang.

Kitami Masao, si penulis buku ini, mengurai sejarah kehidupan Hideyoshi menjadi poin-poin motivasi. Tidak salah memang memilih Hideyoshi sebagai sosok pemimpin yang menginspirasi, bukan hanya karena sifat-sifatnya, tetapi juga aksi yang digunakannya terbilang unik, untuk zaman sengoku. Di saat sebagian penguasa menggunakan pedang untuk memperluas daerah jajahannya, Hideyoshi lebih memilih jalan diplomasi. Ketika sebuah wilayah berhasil didapatkan, Hideyoshi tidak menyingkirkan para penguasanya, tetapi mengendalikan. Dan taktik yang tidak biasa ini ternyata malah sangat menguntungkannya.

“Untuk menggenggam musuh dalam tangan dan tidak meremasnya sampai hancur, untuk menahan pasukan yang mabuk kemenangan tidak kelepasan, ini adalah ciri kepemimpinan yang sebenarnya” [h.108]

Dengan menggunakan aku sebagai subyek pencerita, buku biografi ini menuturkan totalitas Hideyoshi sebagai pemimpin. Sesuai dengan arti Samurai, yaitu orang yang melayani, Hideyoshi benar-benar menerapkan bahwa tugas seorang pemimpin adalah melayani bukan dilayani. Kerendahan-hatinya terlihat dari bagaimana dia memaknai kedudukannya dengan baik, yang selalu mencamkan pada diri sendiri bahwa untuk tetap menjadi seorang pemimpin, bukan atasan.

“Setiap orang memiliki kelebihan, maka tugas seorang pemimpin adalah membantu bawahan menemukan bidang keahlian masing-masing yang paling mungkin untuk dimanfaatkan secara efektif” [h.145]

“Rendah hati, melakukan penghargaan dengan hal yang mungkin dianggap sepele. “Salah satu cara untuk mengenali kinerja—dan mendemonstrasikan empatimu—adalah menulis surat sendiri dengan tulisan tangan” [h.168]

Tidak salah jika buku ini menginspirasi banyak pihak, termasuk Redline Publishing untuk terus berkembang di dunia penerbitan, karena perjalanan hidup Hideyoshi tidak hanya memuat kesuksesan, tetapi juga kesuraman masa pemerintahannya. Tidak ada yang sempurna. Dan ketidak-sempurnaan inilah yang menjadi semacam peringatan untuk lebih mengekang obsesi dan memperhatikan langkah-langkah yang diambil. Sekali lagi, tugas seorang pemimpin adalah melayani bukan dilayani.

Judul : The Swordless Samurai, Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI
Penulis : Kitami Masao
Penerjemah : Mardohar S.
Penerbit : Redline Publishing
Tahun : Februari 2009
Genre : Biografi-Motivasi
Tebal : 262 halaman
Harga : Rp. 49.800,-
ISBN : 978-979-19337-0-4

>Indahnya Shalat

>SHALAT itu indah sebagaimana Al-Quran yang dihiasi dengan ungkapan bahasa yang juga indah. Ajakan shalat yang dikemundangkan muazzin, diungkapkan dengan bahasa yang sangat indah, hayya alla sholah, hayya alla falaah, marilah sholat dan anda akan mendapatkan suatu keberuntungan.

Ungkapan yang sangat tidak memaksa, tetapi diberikan sesuatu rahasia bahwa anda akan merasakan suatu keberuntungan. Dilanjutkan dengan ungkapan, Assholatu khorumminannaum , sholat itu lebih baik daripada tidur. Ungkapan rahasia ini sebenarnya tidak rahasia lagi. Sebagaimana yang diungkapkan dalam Al-Quran, yaitu, dengan selalu menegakan shalat, kita akan terhindar perbuatan keji dan mungkar.Shalat menjadi sebuah terapi terhadap fenomena kejahatan yang kian hari kian mewabah. Kejahatan muncul karena lebih banyak diawali oleh stress, tekanan hidup yang menghimpit. Maka, terjadilah berbagai kekacauan di masyarakat, korupsi, perampokan hingga pembunuhan. Lantas, Shalat dijadikan sebagai obat berbagai kemelut kehidupan ini. Shalat bahkan mampu mencegah sebelum kejahatan itu terjadi.

Ketika kita melakukan suatu gerakan ruku maupun sujud, itu adalah awal bagaimana Allah mencegah dari perbuatan stress, yaitu menjadikan tubuh mengalami relaksasi. Orang bisa tercegah dari stresnya dengan adanya relaksasi, otak itu dikendorkan dengan gerakan ruku maupun gerakan sujud.

Tak hanya itu, shalat juga membentuk karakter yang baik, yaitu akhlakul karimah, dengan lebih dulu memproses otak hingga ke alam bawah sadar. Karena, dalam bacaan shalat penuh dengan doa dan bacaan-bacaan yang indah dan positif. Inilah yang akan terekam dalam otak, yang akan menjadi suatu gerakan secara otomatis yaitu autogenic.

Dalam shalat, kita mengucapkan kata-kata subhana robbil azimi wabihamdih atau Allahuakbar yang terus diulang-ulang. Kalimat Allahuakbar, Allahuakbar, masuk dalam penghayatan hingga menjadi suatu kesadaran yang penuh bahwa Allah Maha Besar. Dalam sebuah penelitian, seseorang mengucapkan kata-kata bunuh diri, aku mau mati, aku mau mati, aku mati dengan penghayatan yang sangat dalam itu akan masuk ke bawah sadar. Dan, terbukti ia akhirnya bunuh diri. Nah, kekuatan pikiran inilah yang akan menjadi sesuatu yang akhirnya menjadi suatu perbuatan negatif.

Kenapa dalam shalat kata-kata takbir dan doa diucapkan terus berulang. Karena, disitulah kekuatannya. Seperti dalam sebuah iklan produk, yang terus diulang-ulang, akan direkam dalam memori, hingga pelanggan dengan mudah mengingat kemudian membeli produk tersebut. Inilah yang disebut The Power of Repetition

Nah, kalau sholat itu hanya dibaca dengan sekedarnya, maka dia tidak akan menghasilkan apa pun. Dalam konteks psikologi modern bahwa manusia dibentuk oleh kepribadian ketaksadaran kolektif atau collective unconsciousness. Bahwa manusia dibentuk oleh “ketaksadarannya” . Ketaksadarannya ini masuk ke alam bawah sadar. Apa yang dilakukannya sebagai sebuah kebiasan yang berulang, akan membentuk sebuah karakter.
Oleh karena itu, sholat merupakan pembentukan ahlaqul karimah. Ahlaqul karimah diproses oleh Allah, baik mulai gerakan yang diulang-ulang, bacaan yang diulang-ulang, maka bisa dipastikan secara ilmiah, orang itu akan berubah total menjadi orang baik.

Dengan gerakan, katakanlah 100 hari sholat dengan yang sempurna, orang itu otomatis tubuhnya akan reflek,autogenic . Akan reflek melakukan apa yang dia ucapkan. Ketika ia menundukan wajahnya, pikirannya, dan hatinya yang diulang-ulang, pasti akan merasakan suatu ketenangan, yaitu ketenangan yang terus menerus ketika berzikir. Zikir yang menenangkan, masuk ke dalam hatinya akan direspon oleh otak. Dalam otak itu akan direspon dalam memorinya, maka orang itu diulang-ulang mendapat ketenangan.

Sebagai contoh sederhana, orang yang takut berjalan di malam hari di tempat gelap, Karena memorinya tanpa sadar, merekam berita dari orang lain bahwa kalau malam hari itu hantu-hantu keluar. Maka informasi yang diulang-ulang, padahal orang itu tidak pernah melihat hantu sendiri. Tanpa sadar, tapi secara otomatis, otak kita juga bekerja dan mengeluarkan hormon takut. Sehingga jantung berdetak kencang, kemeringet akibat informasi yang masuk ke otak dan memerintahkan seluruh syaraf kita dan hormon kita mengalami ketakutan.

Coba anda bandingkan, dengan petugas forensik yang biasa ke kamar mayat.Mungkin orang lain ketakutan melihat mayat, tapi bagi dia biasa saja. Bagi ahli forensik yang sudah otaknya diseting, atau pengalaman berulang-ulang, dia tidak menemukan apa-apa, maka otaknya akan mengatakan tidak ada apa-apa. Begitu tidak ada apa-apa, perintah otaknya tidak akan melaksanakan perintah terhadap organ tubuhnya sehingga tidak ada hormon ketakutan.

Inilah yang perlu kita ciptakan dalam shalat. Indahnya sholat, karena sangat indah cara penanganannya. selama ini kita menggunakan tidak indah dengan kata-kata kasar, diperintah, digebuk, dipukul, tapi orang tidak diproses untuk menerima itu. Sehingga adanya proses yang tidak baik terhadap sholat, maka sudah tidak indah lagi karena sholat ditolak oleh bawah sadarnya. Sehingga ketika berdiri sholat, takbir Allahuakbar Allahuakbar, langsung tubuh kita langsung merespon untuk menolaknya. Maka terjadilah ketidakkhusyuan.

Bawah sadar kita tidak mau adanya sholat sehingga kita melakukan suatu gerakan sholat dengan terburu-buru. Itu menunjukan bahwa tubuh kita sudah menolak pekerjaan yang tidak disukainya. sholat itu adalah berdialog dengan tuhan. Kalau anda berbicara dengan tuhan, tidak ada orang yang tidak sholat khusyu.

Assolatubimakna addua.., sholat itu bermakna doa. Berarti ketika baca al-fatihah, engkau mengerti artinya, lalu engkau ucapkan dengan benar, misalkan dalam kalimat : iyya kana’ budu, waiyya kanastain. Disitukan ada permohonan, kepada engkau ya Allah, aku bersembah dan kepada engkau, aku minta pertolongan. Berarti ada dialog. Begitu pula, ketika engkau ucapkan dengan niat, pasti khusyu. Contoh : robbighfirli, warhamni, wajburni, warfa’ni, warjughni, wahdini, waafini wa’fuani.

Kebanyakan kita hanya membaca, padahal disitu artinya : aku minta maaf kepada Allah. Coba engkau sadarkan, bahwa engkau salah, bahwa engkau harus minta maaf kepada Allah. Apa yang engkau lakukan ? Seolah-olah engkau meminta maaf kepada ibu anda. Ketika kita minta maaf kepada ibu anda, dari rumah sudah ada terasa bahwa saya akan minta maaf sama ibu saya, Berarti ada niat, ada niat berarti ada dorongan dari dalam. Ketika saya mintakan, …bu..kalau memang anda salah, pasti akan keluar air mata, ketika mengucapkan ibu.., maafkan saya, bu, kasihani saya bu…

Selama ini kita sholat, tidak ada niat minta maaf. Padahal awal daripada sholat ini didasarnya adalah niat.Innamal a’malu binniat. Apa niat itu ?.. Niat itu harus dilakukan dengan sengaja. Berarti kalau kau sengaja, pasti khusyu. Ketika engkau mengatakan robbiqfirli, tidak mungkin cepat-cepat, pasti ada perasaan salah. Orang yang punya perasaan salah, pasti akan mengatakan robbiqfirliiiiiii. .. Dan itu akan bergetar kalau diucapkan dengan benar. Kalau disampaikan dengan hajat yang benar.

Kalau itu dirasakan, anda akan pasti bergetar. kalau minta maaf. Kalau engkau hanya membaca , tidak akan terasa apa-apa. Jika engkau mengatakan robbiqfirli. ., warhamni.., itu akan bergetar. Setiap kata bergetar, lalu pada akhirnya kita akan mengatakan warjuqni. Kalau engkau memang sengaja minta rezeki, sengaja engkau memohon, pastilah kalimatnya agak lama, karena ada dialog antara hamba dan tuhannya.Dan kalau engkau minta sehat, pasti engkau ucapkan benar. Kalau engkau sakit, katakan : wa afini. Akan lebih terhayati ketika engkau sakit

JIka, engkau niatkan, ada daya yang mengalir, bergetarkan hati, dari situ ada sambutan ilahi begitu kita ucapkan robbiqfirli, warhamni, wajburni, warfa’ni, warjuqni, wahdini, wa afini, wa’fuani. Inilah intinya keindahan shalat. Siapa pun akan mengalami kekhusyuan jika shalatnya sudah benar, karena ia sedang berdialog dengan Allah, zat yang Maha Besar dan Maha Suci

Abu Sangkan

sumber : http://shalatcenter.org/buah-pikiran-menarik/117-indahnya-shalat.html

>Berguru Kepada Allah

>
Buku “Berguru Kepada Allah” Menghidupkan Kecerdasan Emosional dan Spiritual

Ada banyak sekali pertanyaan pada benak kita, namun terkadang jawabannya tidak mewakili keinginan kita. Pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan selalu mendapat jawaban yang tidak sederhana. Kita duduk di bangku sekolah untuk mendapatkan pengertian tentang sebuah ilmu. Namun para guru memberikan definisi dan teori untuk memahamkan muridnya. Sekali lagi, kefahaman itu tidak mampu dicerna oleh semua muridnya.

Kita banyak melupakan sejarah belajar dan menerima pengajaran para nabi dan orang-orang alim masa lampau. Mereka menerima kefahaman terlebih dahulu baru mengajarkan sebuah ilmu. Dimasa kita masih balita, apakah yang kita dapatkan dari seorang ibu ? sebuah pengajaran dan belajar yang sangat unik dan ajaib. Beliau mengajarkan bagaimana menerima pengajaran tanpa kata-kata (parenting), sangat sederhana dan mudah difahami secara utuh (holistic). Ibu tidak pernah mendefinisikan bagaimana rasa kasih sayang dan cinta itu, tidak pula mengajarkan bagaimana cara menghisap air susu. Kita hanya diam untuk memahami sebuah pengertian yang mengalir begitu saja. Kefahaman yang utuh !! Kita menggeliat di pembaringan berbulan-bulan, merangkak, mencoba berdiri lalu jatuh, berdiri, lalu jatuh lagi, ribuan kali ! Ibuku menyaksikan proses itu … kita hanya diajarkan untuk memahami yang terjadi dalam jiwa kita, sebuah naluri yang merasuk dalam sukma. Mengerti itu adalah sebuah fenomena yang unik dan sederhana. Selama ini konsep kita terbalik !! kita belajar sebuah “pengertian” dari definisi, uraian, penjelasan dan perumpamaan, akhirnya kita tetap tidak mengerti secara utuh.

Bagaimana Allah mengajarkan sesuatu kepada makhluknya? Melalui Apa? Sebuah kefahaman yang bisa dimengerti oleh apa saja dan siapa saja, sangat mudah dan tidak njelimet. Yaitu Sebuah kata tanpa suara (shaut) dan tanpa huruf (harf). Adalah kata-kata Tuhan yang paling sederhana dan mudah kita terjemahkan kedalam bahasa verbal. Kita sudah menerima itu semua, baik berupa ilham baik (taqwa) maupun ilham buruk (fujur). Tanpa mengenal bahasa-Nya, kita akan mengatakan:

– Mengapa Shalat khusyu’ itu sulit dilakukan?
– Mengapa berbuat jahat itu lebih mudah sedangkan berbuat baik memerlukan upaya yang luar biasa?
– Mengapa setiap berdoa sulit memahami jawabannya?

>Khusyu ( Abu Sangkan Ensiklopedia Islam )

>
Khusyu Hampir semua umat beragama mencari atau berlomba-lomba mencari kekhusyuan dalam ibadahnya, bahkan bila mungkin juga khusyu dalam kehidupannya, namun apa dan dimana serta bagaimanakah khusyu itu sebenarnya, banyak orang berusaha konsentrasi dalam ibadahnya, ada juga yang berusaha menyatu dengan alam agar mendapatkan apa yang dinamakan khusyu tersebut, namun kenyataannya apa yang terjadi, mengapa sang khusyu tiada kunjung tiba, sehingga orang akhirnya ada yang merasa frustasi karena tidak pernah berhasil mencapainya, tentu saja akibat dari rasa frustasi ini akan sulit diperkirakan akibatnya.

Benarkah hingga sedemikian sulitnya untuk mendapatkan apa yang dinamakan khusyu tersebut?, Ataukah disebabkan oleh ketidak tahuan bahwa sebenarnya khusyu adalah hadiah, sehingga tidak akan didapatkan dengan cara memaksakan, melainkan harus ditunggu kedatangannya dengan sabar, syukur, berserah diri serta tertib. Jika khusyu adalah hadiah, mengapa ada sebagian orang yang konsentrasi dengan cara-cara shalat panjang ataupun dengan berdzikir panjang ternyata dapat juga mencapai khusyu, walaupun dengan pengorbanan yang besar baik itu dari segi waktu maupun tenaga, sekiranya untuk mendapatkan khusyu haruslah sedemikian besar pengorbanannya, tentu akan sulitlah bagi orang-orang biasa yang mempunyai kesibukan keseharian yang cukup banyak, sedangkan khusyu itu sendiri adalah hak bagi semua orang.

Bagi mereka yang berkeluangan waktu dan tenaga, mereka dapat melakukan pengkonsentrasian dengan melakukan shalat taupun dzikir panjang, sehingga dengan terkurasnya tenaga hingga habis maka tanpa terasa mereka telah bersih diri, sabar serta berserah diri, sehingga khusyu bisa didapatkan walaupun mereka hanya mendapatkan khusyu ibadah dan bukan khusyu kehidupan. Sedangkan mereka yang berusaha menyatu dengan alam, mereka merasakan mendapatkan ketenangan jiwa yang mereka anggap kekhusyuan walaupun sebenarnya adalah bukan, semua itu dikarenakan menyatu dengan alam adalah menyatukan jiwa dengan bumi, ataupun sejauh-jauhnya menyatukan jiwa dengan alam semesta, yang kedua-duanya masih termasuk hitungan dunia. Sedangkan khusyu kaitannya adalah dengan akhirat, kesalahan-kesalahan tersebut memang umum terjadi, tentu saja penyebabnya adalah kesulitan dalam membedakan yang mana mata bathin dengan yang mana mata terbuka hijab ghaib, mata terbuka hijab ghaib adalah mata yang dapat melihat mahluk ghaib, tentu saja yang terlihat bukanlah yang Maha Ghaib, ataupun akhirat yang jauh diluar alam semesta, sedangkan mata bathin tentu saja tidak melihat melalui kedua matanya itu, karena pada saat mata bathin terbuka, semua panca indera tetap berfungsi seperti biasanya dan tidaklah seperti orang yang kehilangan kesadarannya.

Sekarang pertanyaannya adalah, jadi dapatkah dan atau bagaimanakah kita sebagai orang-orang biasa saja dapat mencapai apa yang dinamakan khusyu beribadah, bahkan khusyu dalam kehidupan, jawabannya tentu saja dapat, sedangkan masalah bagaimananya, kita harus menelaah lebih dahulu dasar-dasar pendukung pemberian hadiah khusyu itu sendiri, pada dasarnya islam adalah pola hidup yang harus di dukung oleh kesadaran yang setinggi-tingginya, oleh karena itulah maka umat islam diwajibkan melaksanakan shalat lima waktu sebagai pembentukan pola beribadah, yang harus dilakukan dengan kesadaran sepenuhnya, sehingga sangat tidak disarankan kita shalat sambil menutup mata, bahkan pergerakannya pun haruslah dilakukan dengan setertib-tertibnya agar lisan maupun pergerakan shalat itu senantiasa tetap terjaga niat, arti serta tujuannya, tidak menjadi susut dimakan lalai karena sudah terbiasa atau begitu rutinnya, karena segala sesuatu perbuatan manusia itu, yang pertama-tama di lihat adalah niatnya, seperti yang sudah umum kita lihat dalam keseharian, bagaimana salam yang begitu sering di ucapkan menjadi berubah fungsi dan artinya menjadi say halo saja, padahal saling memberi salam itu sebenarnya adalah saling mendo’a kan, sehingga niat bersalam itu niat mendo’akan orang, tujuannya adalah agar orang yang dido’akan tersebut selamat dunia akherat, mendapat rahmat serta berkah dari Allah, hukumnya bagi orang yang mendo’akan akan mendapat yang sama, tanpa mengurangi sedikitpun dari orang yang dido’akannya, adapun dalam kehidupan keseharian kita di ajarkan untuk membaca Basmallah setiap kali hendak melakukan sesuatu, serta do’a-do’a harian yang dapat menjadi pagar kehidupan kita, asalkan semuanya itu dilakukan dengan selalu menyadari sepenuhnya akan niat, maksud serta tujuan setiap segala sesuatu yang kita lakukan.

Oleh karena itu, dalam melaksanakan shalat usahakanlah senantiasa melaksanakannya penuh dengan kesadaran serta ketertiban, tertib dalam setiap gerakan serta lisan, tidak kehilangan niat, maksud, tujuan serta melakukannya hanya karena Allah, demikian pula dalam melaksanakan kehidupan keseharian kita, lakukanlah semua karena Allah serta jelas niat, maksud, tujuannya, jadikanlah segala sesuatu dalam kehidupan kita menjadikan kita mengingat Allah, mengejar pahala karena di suruh Allah melalui rosulnya, menghindari dosa karena dilarang Allah melalui rosulnya, berdo’a meminta kepada Allah yang maha kaya serta maha pengasih lagi penyayang kata rosulnya, Basmallah menempatkan Allah menemani serta mengawasi kita begitulah yang disampaikan rosul Allah tentang keseharian, ingatlah bahwa mengingat Allah dan rosulnya akan senantiasa memperkuat Syahadat kita, sedangkan pola hidup islami akan membuat kita otomatis berdzikir mengingat Allah pada saat berdiri, duduk dan tidur.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dengan melakukan ibadah yang penuh dengan kesadaran dan ketertiban, ditambah hidup dengan pola islami, tawadhu, sabar serta pandai bersyukur dan senantiasa berprasangka baik pada Allah, istiqomah dalam menjalankan semua itu, InsyaAllah hadiah khusyu dalam beribadah maupun khusyu dalam keseharian yang didambakan akan kita didapatkan.

Ciri-ciri khusyu, bila kita mendapatkannya adalah terbukanya mata bathin kita, yang dapat dirasakan sebagai rasa haru yang sangat, apabila kita sedang mengingat Allah, akhirat, surga, Rasulullah, dosa-dosa yang telah lalu serta lain-lain hal yang berkaitan dengan ruhani kita, rasa haru tersebut membuat kita merasa hati tergores rindu, menetes airmata, banjir airmata bahkan bisa sampai menangis tersedu-sedu. Sebagai catatan tambahan, dalam keseharian kita di jalanan baik dalam berkendaraan maupun berjalan kaki, seringkali tanpa disadari kita menghancurkan pola hidup islami kita dengan menghinakan diri menjadi preman bahkan menjadi perampok, yang merampas atau merampok hak orang lain dengan memotong, memepet, mengambil jalan orang lain, menghalangi, menyebrang dengan berlambat-lambat, saling memaki atau mengumpat serta lain-lain perangai tidak terpuji yang kita lakukan, perlu kita sadari bahwa semua orang ingin cepat sampai ke tujuan dengan tenang, tentram dan aman di jalan, menjalin dan menjaga silaturahmi sangatlah di sarankan bagi orang Islam.

Abu Sangkan