>Pengalaman adalah Guru yang baik.

>Pengalaman adalah Guru yang baik demikian nasehat dari mendiang ayah ku yang selalu aku ingat. Pada awalnya saya tidak memahaminnya namun seiring bertambah umur saya mulai memahaminya. Saya bekerja pertama kali ketika berusia 20tahun sebagai asisten manager dibidang Information technology.Dengan usia yang masih muda ditengah lingkungan pekerja yang lebih berumur saya harus mengajarkan tentang system yang mereka gunakan. Tentunya ini pertama kalinya saya mengenal dunia pekerjaan yang berbeda dengan dunia kuliah.Dimana semua teman sangat manis dan bersahabat.

Sedangkan dalam dunia kerja, kita mengenal 2 sisi kehidupan. Yang digambarkan terkadang rekan kerja kita berbicara manis didepan namun kejam menikam di belakang. Pengalaman pekerjaan saya terus bertambah pada saat saya bekerja di Perusahan Asing. Sungguh luar biasa saya terkejut karena pertama kali saya mengenal yang disebut harassment dalam lingkungan kerja. Rekan kerja saya terus melakukan tindakan penindasan yang tidak terpuji. Dengan leluasa dia dapat memaki bawahannya dengan mengatakan “Engkau dibandingkan binatang, masih lebih pintar binatang “.

Ataupun dengan mengatakan ke beberapa rekan kerja nya dengan sebutan bodoh, tolol. Apa yang dia katakan adalah bentuk penindasan dalam dunia kerja dan politik kotor. Karena seberapapun dia berkata dari pihak atasan tidak ada tindakan selama 2 tahun berturut turut. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk berhenti. Karena apa yang saya anut, pengalaman hidup saya mengajarkan dunia tidak sebesar tempurung kelapa. Beberapa rekan kerja saya memilih untuk tutup mulut karena mereka masih ingin bekerja atau menganggap hinaan itu hal yang wajar dan biarkan Yang Maha Kuasa membalas.Namun tidak bagiku.

Masih banyak lapangan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan saya. Jika saya tidak keluar perlahan lahan hal ini akan membunuh kepribadian saya. Beruntung saya menemukan pekerjaan yang lebih bagus. Namun banyak rekan rekan saya yang tidak bernasib sama. Sayang hukum pekerja di Indonesia masih tidak sebagus diluar dimana kita dapat menuntut orang yang menghina kita atau berkomentar tidak professional.

Pengalaman mengajarkan bahwa tidak ada yang dapat menghina kita ataupun merendahkan kita tanpa seijin kita. karena kita sangat berharga.
lsusanto

braincodenews.com/index.php?mod=article&cat=Motivate&article=86

>7 Kiat Menjadi Seorang Pribadi Yang Disukai

>Kata kunci yang harus diperhatikan dalam berhubungan dengan orang lain adalah harga diri. Begitu pentingnya harga diri, sehingga tidak sedikit orang yang mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan harga dirinya. Untuk menjadi pribadi yang disukai, harus terus belajar memuaskan harga diri orang lain. Karena dengan harga diri yang terpuaskan, orang bisa menjadi lebih baik, lebih menyenangkan, dan lebih bersahabat.

1.ROYALAH DALAM MEMBERI PUJIAN
Pujian itu seperti air segar yang bisa menawarkan rasa haus manusia akan penghargaan. Dan kalau Anda selalu siap membagikan air segar itu kepada orang lain, Anda berada pada posisi yang strategis untuk disukai oleh orang lain. Caranya? Bukalah mata lebar-lebar untuk selalu melihat sisi baik pada sikap dan perbuatan orang lain. Lalu pujilah dengan tulus.

2.BUATLAH ORANG LAIN MERASA DIRINYA SEBAGAI ORANG PENTING
Tunjukkanlah dengan sikap dan ucapan bahwa anda menganggap orang lain itu penting. Misalnya, jangan biarkan orang lain menunggu terlalu lama, katakanlah maaf bila salah, tepatilah janji, dsb.

3.JADILAH PENDENGAR YANG BAIK
Kalau bicara itu perak dan diam itu emas, maka pendengar yang baik lebih mulia dari keduanya. Pendengar yang baik adalah pribadi yang dibutuhkan dan disukai oleh semua orang. Berilah kesempatan kepada orang lain untuk bicara, ajukan pertanyaan dan buat dia bergairah untuk terus bicara. Dengarkanlah dengan antusias, dan jangan menilai atau menasehatinya bila tidak diminta.

4.USAHAKANLAH UNTUK SELALU MENYEBUTKAN NAMA ORANG DENGAN BENAR Nama adalah milik berharga yang bersifat sangat pribadi. Umumnya orang tidak suka bila namanya disebut secara salah atau sembarangan. Kalau ragu, tanyakanlah bagaimana melafalkan dan menulis namanya dengan benar. Misalnya, orang yang dipanggil Wilyem itu ditulisnya William, atau Wilhem? Sementara bicara, sebutlah namanya sesering mungkin. Menyebut Andre lebih baik dibandingkan Anda. Pak Peter lebih enak kedengarannya daripada sekedar Bapak.

5.BERSIKAPLAH RAMAH Semua orang senang bila diperlakukan dengan ramah. Keramahan membuat orang lain merasa diterima dan dihargai. Keramahan membuat orang merasa betah berada di dekat Anda.

6.BERMURAH HATILAH Anda tidak akan menjadi miskin karena memberi dan tidak akan kekurangan karena berbagi. Seorang yang sangat bijak pernah menulis, Orang yang murah hati berbuat baik kepada dirinya sendiri. Dengan demikian kemurahan hati disatu sisi baik buat Anda, dan disisi lain berguna bagi orang lain.

7.HINDARI KEBIASAAN MENGKRITIK, MENCELA ATAU MENGANGGAP REMEH Umumnya orang tidak suka bila kelemahannya diketahui oleh orang lain, apalagi dipermalukan. Semua itu menyerang langsung ke pusat harga diri dan bisa membuat orang mempertahankan diri dengan sikap yang tidak bersahabat.

braincodenews.com/index.php?mod=article&cat=Motivate&article=88

>Make Mistakes are O.K

>

Tidak jarang, suatu kesalahan adalah yang menyebabkan munculnya tantangan – atau istilah lainnya adalah masalah. Untuk memahami kesalahan, Pak Mario memberikan pencerahannya:

Kesalahan kita butuhkan untuk mencapai hasil yang lebih baik, karena timbulnya kesalahan adalah tanda diperlukannya cara-cara yang lebih baik.

Membuat kesalahan dan bahkan gagal dalam melakukan sesuatu yang berguna, adalah lebih baik daripada tidak pernah salah karena tidak melakukan apapun.

Kesalahan yang tidak kita hadapi dan tidak kita pandang tajam di matanya, akan timbul lagi pada tempat dan kesempatan lain.

Pemimpin bisnis yang kemarahannya adalah tentang hal-hal yang sama selama bertahun-tahun, adalah orang yang sedang mempimpin organisasi yang sedang dalam perjalanan turun.

Karena kesalahan selalu memberikan pelajaran untuk mencapai cara-cara yang lebih baik, maka tidak penting apakah itu kesalahan kita atau kesalahan orang lain.

Bila tidak mencapai keberhasilan hebat, masih ada keberhasilan baik, keberhasilan lumayan, keberhasilan cukup, lalu… hampir berhasil, baru kemudian “…nggak apa-apa kok!”

Kita membutuhkan kunci pembuka pintu kesungguhan untuk menghadapkan wajah ini ke wajah kesalahan kita, dan mulai melakukan sesuatu yang akan mengeluarkan kita dari masalah, menuju keadaan yang lebih baik.
( MT – Mistakes are O.K.-able )

It’s fine to celebrate success
but it is more important to heed the lessons of failure.
Adalah wajar untuk merayakan keberhasilan, tapi jauh lebih penting memperhatikan pelajaran dari kegagalan

( Bill Gates – Founder of Microsoft Corporation )

Sumber: Mario Teguh Super Club

>Tipe-tipe Penghambat Kemajuan

>Setiap kali saya mengajar sebuah kelompok ataupun perorangan, saya menjumpai bahwa ada beberapa macam tipe orang yang dapat menghambat proses belajar itu sendiri.

Tipe yang pertama adalah Si “Tapi”. Si Tapi adalah tipe orang yang mudah mengucapkan sesuatu tanpa disertai dengan niat. “Menarik, saya ingin belajar donk.. Tapi nanti saja ya..” adalah contoh kalimat yang biasa dilontarkan Si Tapi. Keinginan sudah ada namun tanpa niat sehingga keinginan tersebut hanya sebatas ucapan mulut. Dan sadar ataupun tidak bahwa kata “tapi” itu adalah penghambat utamanya. “Saya ingin berubah tapi..”, “saya ingin belajar tapi..” … Berulang-ulang Si Tapi hanya berpusat pada kata tapi dan kalimat sesudahnya saja sehingga ia terlalu sibuk dengan ‘tapi’-nya tanpa ada tindakan yang nyata. Ketika orang lain telah mulai belajar, Si Tapi ini tetap masih ‘jalan di tempat’ saja. Jika Si Tapi ini menghubungi dan berkata ingin mempelajari sesuatu dari saya maka saya melihat bahwa sebagian besar dari mereka akan melupakan sendiri niat mereka tersebut.

Tipe yang kedua adalah Si “Memang”. Si Memang adalah tipe orang yang menghambat dirinya dengan men-cap diri dengan sebuah label terlebih dahulu di awal dan selama proses belajar. Contoh perkataan yang biasa dilontarkan Si Memang ini adalah : “Ya habis bagaimana saya ‘kan memang gaptek..”. Mungkin hal tersebut terlihat sepele, namun tanpa disadari bahwa hal tersebut dapat berdampak besar kepada diri orang tersebut. Mayoritas tipe Si Memang ini akan tertahan dan sulit untuk maju. Setiap kali dijelaskan, Si Memang telah menutupi dirinya sendiri dengan ‘tameng’ label tersebut. Seolah-olah karena memang sudah begitu maka mereka mudah melupakan yang telah diajarkan dan malas melakukan usaha untuk mencatat. Di samping itu, Si Memang juga kurang mempunyai keinginan untuk berpikir kritis dan mengembangkan keingintahuannya . Si Memang ingin selalu ‘disuapi’ dengan informasi. Jika saya mengajar tipe Si Memang yang memang telah ‘parah’ dalam artian susah diubah mindset-nya, maka Si Memang akan menderita kerugian lain yaitu ia hanya akan mendapatkan informasi/pelajaran umum saja, tidak mendalam.

Tipe ketiga adalah Si “Sok Tahu”. Si Sok Tahu ini adalah tipe orang yang mempunyai semangat ingin belajar yang tinggi bahkan karena terlalu tingginya hingga tipe orang seperti ini terlalu menganggap sepele hal-hal dasar seperti konsep dkk. Biasanya ditambah dengan besar mulut.Mereka tidak terlalu ingin tahu mengenai konsep dan langsung ingin membuat sebuah hal yang mereka anggap ‘keren/canggih’. Sebagai contoh sederhana saya akan memberikan berdasarkan pengalaman saya. Suatu kali saya berkesempatan untuk mengajar tentang animasi 2 dimensi (2D) di sebuah himpunan mahasiswa. Dari awal saya telah tekankan bahwa mereka harus menguasai konsep terlebih dahulu karena yang namanya animasi itu baik 2D atau 3D akan sangat rawan terjadi kesalahan-kesalahan yang sebetulnya sepele diakibatkan oleh pemahaman konsep yang kurang kuat. Ada seorang mahasiswa yang memburu saya agar terus lanjut saja secara cepat tanpa dia kurang peduli dengan peserta lainnya. Ketika saya menjelaskan konsep dasar, dia terlalu asik dengan aktifitasnya sendiri di komputer. Ketika sudah mulai praktik untuk membuat animasi dasar, Si Sok Tahu ini berulang kali melakukan kesalahan yang sama akibat ketidaktahuan dia akan konsep padahal peserta lainnya yang mengikuti penjelasan konsep dari awal tidak mengalaminya. Dan pada akhirnya Si Sok Tahu ini akan bingung sendiri sehingga saya terpaksa berulang kali menjelaskan penjelasan yang sama terutama tentang konsep. Biasanya apabila Si Sok Tahu ini bertanya maka dia yang akan terakhir saya jawab pertanyaannya setelah pertanyaan peserta lain terjawab, tentu saja hal ini malah akan menghambat dirinya kan?

Tipe yang terakhir adalah Si “Niat Plus” , plus di sini maksudnya adalah orang tersebut selain mempunyai niat yang kuat namun juga memiliki komitmen serta kerendahan hati. Si Niat Plus ini sangat jarang saya jumpai, namun bukan berarti tidak ada. Tipe seperti Si Niat Plus inilah yang sekalipun dia belajar dari nol namun dengan tekadnya yang kuat serta kerendahan hatinya maka ia dapat melampaui tipe-tipe orang sebelumnya. Dan saya sangat menghargai Si Niat Plus ini sekalipun harus mengajarinya dari awal. Karena tipe orang seperti ini mempunyai beberapa keunggulan lain yaitu daya pikirnya yang kritis dan selalu ingin tahu namun tetap terbuka dan rendah hati untuk sharing pengetahuan dari orang lain. Si Niat Plus ini juga mau untuk belajar dari nol,termasuk dari konsep, sehingga Si Niat Plus ini akan lebih kreatif dalam mengembangkan kreatifitasnya. Karena apa? Saya toh berangkat dari tipe ini juga. Selama proses belajar saya yang cenderung otodidak maka saya belajar bahwa semakin kita menjadi tipe Niat Plus, maka orang akan tidak segan-segan untuk sharing ilmu mereka dengan kita. Setelah saya mengajar orang, saya baru menyadari bahwa memang benar bahwa saya menjadi lebih semangat untuk mengajar orang yang mempunyai niat namun rendah hati karena semangat juang mereka beda. Berapakali pun mereka harus mencoba, Si Niat Plus tetap akan terus berusaha mengembangkan kemampuan mereka. Mereka tidak akan mudah menyerah di tengah jalan apabila menemui hambatan ataupun kegagalan. Ketika mereka sudah beranjak pada level selanjutnya, maka jangan heran apabila mereka dapat menghasilkan karya yang seakan-akan rumit namun sebenarnya simple karena mereka mempunyai pemahaman konsep serta teknikal secara bersamaan.

Sekarang.. Yang manakah tipe Anda? Semua itu sebenarnya akan kembali kepada pilihan Anda sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah Anda menjadi maju selain Anda sendiri.

Salam,

Erika
braincodenews.com/index.php?mod=article&cat=Motivate&article=85

>Menikmati Proses

>Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam hidup ini adalah proses. Mengapa? Karena yang bernilai dalam hidup ini ternyata adalah proses dan bukan hasil. Kalau hasil itu Allah SWT yang menetapkan. Kita hanya punya dua kewajiban, yaitu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan dan selalu berusaha menyempurnakan ikhtiar yang dilakukan, selebihnya terserah Allah SWT.

Seperti para mujahidin yang berjuang membela bangsa dan agamanya, sebetulnya bukan kemenangan yang terpenting bagi mereka karena menang kalah itu akan selalu digilir kepada siapapun. Tapi yang paling penting baginya adalah bagaimana selama berjuang itu niatnya benar karena Allah dan selama berjuang itu akhlaknya juga tetap terjaga. Tidak akan rugi orang yang mampu berbuat seperti ini sebab ketika dapat mengalahkan lawan berarti dapat pahala, kalaupun terbunuh berarti bisa jadi syuhada.

Ketika berjualan dalam rangka mencari nafkah untuk keluarga, maka masalah yang terpenting bagi kita bukanlah uang dari jualan itu, karena uang itu ada jalurnya, ada rezekinya dari Allah SWT dan semua pasti mendapatkannya. Karena kalau kita mengukur kesuksesan itu dari untung yang didapat, maka akan gampang sekali bagi Allah SWT untuk memusnahkan untung yang didapat hanya dalam waktu sekejap.

Dibuat musibah menimpanya, dikenai bencana, hingga akhirnya semua untung yang dicari berpuluh-puluh tahun bisa sirna seketika. Walhasil yang terpenting dari bisnis dan ikhtiar yang dilakukan adalah prosesnya. Misal, bagaimana selama berjualan itu kita selalu menjaga niat agar tidak pernah ada satu miligram pun hak orang lain yang terambil oleh kita, bagaimana ketika berjualan itu kita tampil penuh keramahan dan penuh kemuliaan akhlak, bagaimana ketika sedang bisnis benar-benar dijaga kejujuran kita, tepat waktu, janji-janji kita penuhi.

Keuntungan saat berproses dalam mencari nafkah adalah dengan menjaga nilai-nilai perilaku kita. Uang bukanlah hal yang harus selalu dipikirkan, karena Allah Mahatahu kebutuhan kita, lebih tahu dari kita sendiri. Kita sama sekali tidak akan terangkat oleh keuntungan yang kita dapatkan, tapi kita akan terangkat oleh proses mulia yang kita jalani. Hal ini perlu dicamkan baik-baik oleh siapa pun bahwa yang termahal dari kita adalah nilai-nilai yang selalu kita jaga dalam proses.

Termasuk ketika kuliah bagi para pelajar, kalau kuliah hanya menikmati hasil ataupun hanya ingin gelar, bagaimana kalau meninggal sebelum diwisuda? Apalagi kita tidak tahu kapan meninggal. Karena itu, hal terpenting dari perkuliahan adalah selalu bertanya pada diri, mau apa dengan kuliah ini? Apakah sekadar untuk mencari isi perut? Bukankah Imam Ali ra pernah mengatakan, ”Orang yang pikirannya hanya pada isi perut, maka derajat dia tidak akan jauh beda dengan yang keluar dari perutnya.

” Kalau hanya ingin cari uang, hanya tok uang, maka asal tahu saja penjahat juga pikirannya hanya uang. Bagi kita kuliah adalah suatu ikhtiar agar nilai kemanfaatan hidup kita meningkat. Kita menuntut ilmu supaya tambah luas ilmu hingga akhirnya hidup kita bisa lebih meningkat manfaatnya. Ikhtiar dalam meningkatkan kemampuan salah satu tujuannya adalah agar dapat memberi manfaat bagi orang lain. Kita cari nafkah sebanyak mungkin supaya bisa menyejahterakan orang lain.

Dalam mencari rezeki ada dua perkara yang perlu selalu kita jaga, ketika sedang mencari kita sangat jaga nilai-nilainya, dan ketika mendapatkannya kita distribusikan sebanyak-banyaknya. Inilah yang terpenting. Dalam melakukan hal apapun, bertanyalah selalu, untuk apa kita melakukan semua itu. Saat melamar seseorang, kita harus siap menerima kenyataan bahwa yang dilamar itu belum tentu jodoh kita. Mungkin kita sudah datang ke calon mertua, sudah bicara baik-baik, sudah menentukan tanggal, tiba-tiba menjelang pernikahan ternyata ia mengundurkan diri atau akan menikah dengan yang lain.

Sakit hati adalah sesuatu yang wajar dan manusiawi, tapi ingat bahwa kita tidak pernah rugi kalau niatnya dan caranya sudah benar. Mungkin Allah SWT telah menyiapkan calon lain yang lebih cocok bagi kita. Mungkin pula kita sudah daftar ibadah haji, sudah dipotret, sudah manasik, dan sudah siap untuk berangkat, tiba-tiba ada sesuatu hal yang membatalkan kepergian kita, seperti yang terjadi kemarin. Apakah ini suatu kerugian?

Belum tentu! Siapa tahu ini merupakan pertolongan dari Allah SWT, karena kalau jadi berangkat ibadah haji kita belum tentu mabrur. Allah SWT sangat tahu kapasitas keimanan dan keilmuan kita. Oleh sebab itu, sekali lagi jangan terpukau oleh hasil. Hasil yang baik menurut kita belum tentu baik menurut perhitungan Allah SWT. Jika kualifikasi mental kita hanya uang lima puluh juta, maka uang satu milyar bisa menjadi musibah bagi kita. Datangnya rezeki akan efektif kalau keilmuan dan keimanan kita mantap.

Kalau tidak, datangnya uang, gelar, pangkat, atau kedudukan yang tidak dibarengi kualitas pribadi yang bermutu sama dengan datangnya musibah. Ada orang yang hina gara-gara dia punya kedudukan, karena kedudukannya tidak dibarengi dengan kemampuan mental yang baik. Sahabat, selalulah kita menikmati proses. Seperti saat seorang ibu membuat kue lebaran, ternyata kue lebaran yang sangat enak itu telah melewati proses yang begitu panjang dan lama.

Mulai dari mencari bahan, memilah-milahnya, menyediakan peralatan yang pas, hingga memadukannya dengan takaran yang tepat. Begitu pula ketika ibu-ibu punya anak, lihatlah prosesnya. Hamilnya sembilan bulan, sungguh begitu berat, tidur susah, berdiri juga berat, masya Allah. Kemudian saat melahirkannya pun sakit setengah mati. Padahal setelah si anak lahir belum tentu balas budi.

Bayangkanlah kalau semua proses tersebut tidak disertai keikhlasan, apa yang kita dapatkan? Oleh sebab itu, bagi para ibu, nikmatilah proses hamil sebagai ladang amal. Nikmatilah proses mengurus anak, pusingnya, dan rewelnya anak sebagai ladang amal. Nikmatilah proses mendidik anak dengan penuh jerih payah dan tetesan keringat sebagai ladang amal. Jangan pikirkan apakah anak mau balas budi atau tidak, sebab kalau kita ikhlas menjalani proses, insya Allah tidak akan pernah rugi. Rezeki kita bukan apa yang kita dapatkan, tapi apa yang dengan ikhlas dapat kita lakukan. Wallahu a’lam bish-shawab
anynomous

/braincodenews.com/index.php?mod=article&cat=Motivate&article=83

>Imajinasi Kreatif

>Tuhan telah memberi bagi manusia kekuatan untuk berpikir, kekuatan untuk berimajinasi, kekuatan untuk memanfaatkan daya intelektualnya untuk meraih tujuan yang bahkan dianggap tidak realistis.

Imajinasi kreatif adalah kekuatan untuk berinovasi, melakukan terobosan baru ke wilayah yang belum diketahui, kemampuan untuk berubah agar menjadi lebih baik.

Imajinasi jarang diterapkan karena sebagian besar orang lebih senang berada dalam posisi aman, tetapi dalam era yang semakin berubah saat ini yang paling aman adalah terus bertindak menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik.

Perubahan sudah menjadi sesuatu yang normal dalam era informasi. Lebih baik berubah menjadi lebih baik dengan memanfaatkan kekuatan imajinasi kreatif daripada membiarkan diri menjadi korban keadaan. Gunakan imajinasi kreatif untuk menciptakan terobosan baru dalam usaha-usaha yang sedah Anda kerjakan.

Hanya ada satu hal yang konstan di muka bumi ini, yaitu perubahan itu sendiri. Jika Anda tidak berubah, maka otomatis Anda jalan di tempat, dan manusia yang sedang jalan di tempat sedang mengalami kemunduran.

Copyright: Martin W. All Right Reserved.
http://www.cilacapedu.com/2009/06/04/imajinasi-kreatif/

>Harga Sebuah Kesuksesan

>Dalam sebuah seminar, seorang motivator terkenal memulainya dengan mengeluarkan sehelai uang Rp.100.000,-. Ia mengangkat uang tersebut tinggi-tinggi, sambil mengajukan sebuah pertanyaan kepada lebih dari 2.000 peserta seminar. “Siapa yang menginginkan uang ini?”

Tak ayal sebagian besar peserta mengacungkan tangan.

Motivator tersebut melanjutkan kalimatnya, “Baik! Saya akan memberikan uang ini kepada salah satu diantara Anda. Tetapi sebelum itu saya akan melakukan sesuatu.”

Motivator tersebut menggulung uang kertas itu. Sekali lagi ia bertanya kepada hadirin, “Siapa yang masih menginginkan uang ini?” Tak berbeda dengan sebelumnya, hampir semua peserta seminar tersebut mengacungkan tangan, pertanda mereka masih menginginkan uang itu.

Melihat respon peserta yang tidak berubah, motivator tersebut kemudian menginjak-injak uang tersebut dengan kaki kanan lalu dengan kaki kiri. Setelah uang itu menjadi kotor dan lecek, ia kembali bertanya, “Apakah masih ada yang mengingkan uang ini?”

Masih sama dengan sebelumnya, hampir semua peserta mengacungkan tangan. Kemudian dia berkata, “Saudaraku sekalian, dari peragaan tadi saya hanya ingin menunjukkan bahwa siapun ingin memiliki uang itu. Bagaimanapun kondisi uang tersebut tidak akan menurunkan nilainya dari Rp. 100.000,-“

Pesan:

Kisah tersebut menerangkan sebuah kebenaran bahwa kehidupan ini memang sulit. Setiap hari kita menghadapi tantangan kecil, sedang, berat, hingga sangat berat. Tetapi pada dasarnya tantangan kehidupan tidak mengurangi nilai kita sebagai manusia. Sebaliknya tantangan kehidupan sangat diperlukan untuk meningkatkan nilai diri kita.

“The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy. – Nilai seorang manusia tidak dapat diukur disaat ia berada di zona nyaman, melainkan bagaimana ia menghadapi tantangan dan kontrovesi,” kata Martin Luther King Jr.

Tetapi sangat banyak diantara kita yang hanya mengeluhkan kehidupan yang penuh dengan tantangan. Mereka lupa harus belajar sesuatu dari tantangan, rasa sakit dan perjuangan hidup. Karena jika segalanya di dunia ini sempurna, maka kita tidak akan dapat belajar hal baru atau mendapatkan semangat lebih besar untuk berbuat lebih baik dan meningkatkan nilai diri kita sebagai manusia.

Oleh : Andrew Ho
braincodenews.com/index.php?mod=article&cat=Motivate&article=84