>Ho’oponopono : Testimony Jusuf Jenny

>Kurang-lebih satu tahun lalu, saya mengikuti sebuah retreat meditasi di mana instrukturnya adalah sahabat saya sendiri. Dalam sesi pembuka dari retreat yang berlangsung selama empat hari itu, ia mengajak seluruh peserta melakukan Ho’oponopono, sebuah teknik penyembuhan berbasis meditasi yang berasal dari Hawaii.

Ho’oponopono terdiri dari empat kalimat singkat “I’m sorry”, “Please forgive me”, “I love you”, dan “Thank you” yang diucapkan secara berurutan sambil menyadari masalah yang sedang dihadapi. Setiap peserta bebas mengucapkan apa pun yang menjadi ganjalan batinnya dan mengakhiri curhat singkat itu dengan empat kalimat tadi.

Bukan hal mudah bagi saya untuk melakukan teknik sederhana itu. Saya sedang menjalani proses penyembuhan dari perpisahan yang saya alami berbulan-bulan sebelumnya—perpisahan menyakitkan yang diiringi banyak air mata dan membuat saya menangis hampir setiap hari. Saya kecewa. Saya marah. Saya terluka. Saya menyalahkan. Dan kini saya harus mengucapkan “I’m sorry, please forgive me…”? Tidak bisa.

Saya bergumul selama sesi berlangsung. Beberapa minggu setelah retreat, dalam pertemuan pribadi dengan sahabat saya, saya berkata terus terang, “Saya tidak sanggup berkata ‘I’m sorry’ dan ‘Please forgive me’ dengan tulus karena apa yang terjadi bukan kesalahan saya. Sayalah yang terluka. Sayalah yang menjadi korban. Saya bahkan belum bisa memaafkannya, bagaimana mungkin saya harus minta maaf kepadanya?”

Sahabat saya menjawab dengan tenang, “Ho’oponopono tidak ada hubungannya dengan orang yang menyakiti kamu. Kamu tidak sedang meminta maaf kepadanya. Teknik ini baru akan berhasil ketika dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa kita memiliki andil dalam setiap penderitaan kita.”

Saya menatapnya dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin saya memiliki andil dalam penderitaan saya sendiri—atau dengan kata lain, saya turut bertanggungjawab atas penderitaan ini? Jelas-jelas bukan saya yang salah. Jelas-jelas saya disakiti. Jelas-jelas sayalah korbannya. Konsep itu sama sekali tidak masuk akal.

Butuh satu tahun bagi saya untuk bisa betul-betul memahami esensi dari pernyataan tersebut.

Butuh satu tahun bagi saya untuk bisa menyadari bahwa orang lain memang tidak bisa membuat saya menderita. Harapan dan ketakutan sayalah yang membuat saya menderita.

Untuk sadar bahwa orang lain bisa melakukan hal yang paling nista terhadap saya, namun saya bertanggungjawab atas setiap kemarahan, ketakutan, kekhawatiran, harapan, rasa tidak aman, dan banyak hal lain yang timbul dari batin saya sendiri.

Untuk sadar bahwa ketika saya menuntut orang lain untuk berubah menjadi seperti yang saya inginkan, tidak peduli label apa yang saya lekatkan di atasnya, itu bukanlah cinta.

Untuk sadar bahwa saya tidak pernah memiliki kendali atas hidup orang lain. Saya tidak bisa mengubah satu orang pun, dan akhirnya saya tersakiti bukan oleh tindakannya, melainkan oleh pengharapan saya sendiri.

Untuk sadar bahwa setiap pilihan mengandung resiko dan konsekuensi, namun saya tidak perlu mencicil keduanya lebih awal hanya karena saya hidup dalam harapan dan kekhawatiran.

Untuk memahami bahwa cinta memang tidak bersanding dengan harapan dan ketakutan. Ada perbedaan yang sangat besar di antara tiga hal tersebut, sekalipun saya teramat sering mencampurkan ketiganya dan menyebutnya cinta.

Untuk sadar bahwa cinta tidak pernah tumbuh dari masa lalu atau terkubur di masa depan. Ia hanya ada di sini dan sekarang.

Untuk sadar bahwa cinta tidak perlu dicangkangi. Seperti kita tak berusaha mewadahi awan atau mengandangi sinar mentari.

***

Hari ini, ketika saya menuliskan artikel ini, setitik air mata jatuh perlahan.

Untuk rasa syukur karena saya tak lagi perlu menyalahkan orang lain atas apa yang saya alami. Untuk hidup yang telah memberi begitu banyak keajaiban dengan caranya sendiri; yang telah mengizinkan saya untuk mengalaminya, bersentuhan dengannya, dan bertumbuh darinya.

Untuk mereka yang menangis karena suami yang berselingkuh, kekasih yang abusif, pacar yang semena-mena, sahabat yang mengkhianati kepercayaan, anak yang berlaku kurang ajar, orang tua yang tak pernah menunjukkan rasa sayang, dan banyak lagi.

Untuk harapan-harapan yang tak pernah mati dan kekhawatiran yang datang menghantui setiap malam. Bagaimana jika dia kembali berselingkuh. Bagaimana kalau dia sedang bersama wanita lain. Bagaimana kalau dia menyakiti saya lagi. Bagaimana jika dia ternyata belum berubah. Bagaimana jika saya dikhianati lagi. Dan sejuta ‘bagaimana’ lain.

Untuk kekecewaan yang hadir tatkala harapan tidak terpenuhi dan getir yang merampok batin ketika ketakutan benar-benar menjelma nyata.

Untuk mereka yang berjuang keras mencinta dan mempertahankan cinta.

Untuk setiap luka.

Untuk setiap pedih.

Untuk setiap harapan.

Dan ketakutan.

“I’m sorry.”
“Please forgive me.”
“I love you.”
“Thank you.”

Bukan tentang ‘apa’, ‘siapa’, atau ‘mengapa’. Tapi tentang kita.

—–

*Sebuah catatan yang diinspirasi oleh tulisan ini.
Diposting oleh Jenny Jusuf di 2:30 PM
jennyjusuf.blogspot.com/2010/02/hooponopono.html

>Ho’oponopono part 1 : “Rahasia yang Hilang”

>Semua dari Anda termasuk saya menginginkan kemakmuran, kebahagiaan, kekayaan, kesehatan dan banyak lagi. Kita menginginkan kesempurnaan dalam hidup. Berbagai macam buku, pelatihan, seminar dan sarana apapun yang bisa membantu mencapai tujuan ditempuh. Mungkin Anda juga demikian, saya pun demikian.

Pada tahun 2008, saya menemukan buku Zero Limits yang ditulis oleh Joe Vitale dan Ihaleakala Hew Len, Ph.D. Salah satu artikel yang menarik perhatian saya dalam buku itu adalah tentang seorang psikolog yang membantu menyembuhkan sebangsal penuh narapidana yang sakit jiwa—tanpa pernah melihat seorang pun dari mereka secara professional. Ia menggunakan metode penyembuhan dari Hawaii yang luar biasa. Artikel itu merambah internet dan diperkirakan sekitar lima juta orang melihat artikel itu.

Cerita tersebut membuat saya penasaran.

Sekarang, izinkan saya berbagi dengan Anda.

Di akhir tahun 2006, Dr.Joe mengajar sebuah seminar. Dalam acara itu, setiap orang diminta menyebutkan semua cara yang mereka ketahui untuk mewujudkan atau menarik sesuatu dalam kehidupan mereka. Mereka menyebutkan hal-hal seperti afirmasi, visualisasi, keinginan, metode kesadaran jasmani, merasakan hasil akhir, menulis, teknik kebebasan emosi atau membuka jalan, dan banyak, banyak lagi. Setelah itu, Dr.Joe bertanya kepada mereka apakah cara-cara itu senantiasa bekerja, tanpa perkecualian.

Namun kenyataannya semua orang sepakat bahwa cara-cara itu tidak selalu berhasil.

”Baiklah, kenapa tidak?” tanya Dr.Joe.

Tak seorang pun dapat mengatakannya secara pasti alasannya.

Kemudian Dr.Joe membenturkan mereka dengan observasinya:

”Semua cara itu memiliki batasan,” dia menjelaskan. “Semua itu adalah mainan yang dimainkan pikiran Anda untuk tetap membuat Anda berpikir bahwa Anda-lah yang memegang kendali. Yang benar adalah Anda tidak memegang kendali dan keajaiban nyata datang saat Anda melepaskan mainan-mainan itu serta memercayai sebuah tempat dalam diri Anda di mana ada perbatasan nol.”

Dia menambahkan, ”Tempat di mana Anda ingin berada dalam kehidupan ada di balik semua mainan itu, yang ada di balik celotehan pikiran bersama apa yang kita sebut Sang Ilahi. Dari situlah keajaiban-keajaiban yang mengherankan terjadi—hampir tanpa Anda usahakan.”

Ia mewawancarai seorang pakar tujuan yang telah menulis selusin buku dan menjualnya sebanyak jutaan eksemplar. Orang tersebut mengetahui cara mengajari orang cara menetapkan tujuan. Dr.Joe bertanya kepadanya apa sarannya kalau seseorang tidak dapat menemukan motivasi untuk menetapkan tujuan, apalagi meraihnya.

”Kalau saya mengetahuinya,” ia mulai berkata.”Saya pasti dapat memecahkan sebagian besar masalah di dunia.”

“Anda perlu menjadi lapar untuk mencapai sebuah tujuan. Kalau tidak, Anda tidak akan mempertahankan kedisiplinan yang dibutuhkan untuk tetap berfokus padanya dan mengusahakannya.”

”Namun, bagaimana kalau Anda tidak cukup lapar?” tanya Joe.

”Anda tidak akan meraih tujuan Anda.”

”Bagaimana Anda membuat diri Anda lapar atau termotivasi?”

Ia tak dapat menjawab.

Dan itulah kesulitannya. Pada suatu titik tertentu, semua program self-help dan penetapan tujuan gagal. Hal itu disebabkan fakta yang menyulitkan bahwa kalau seseorang tidak siap meraih sesuatu, mereka tidak akan mempertahankan energi yang dibutuhkan untuk mewujudkannya. Mereka akan berhenti. Setiap orang mengenal pengalaman menetapkan resolusi pada 1 januari dan melupakannya pada 2 januari. Niat baiknya ada. Namun, sesuatu yang lebih dalam tidaklah sejajar dengan keinginan-keinginan yang disadari.

Jadi, bagaimana Anda mengatasi keadaan lebih dalam yang tidak ”lapar” itu?

Itulah sebabnya metode Hawaii yang akan Anda pelajari ini menjadi berguna. Metode ini membantu membersihkan yang tidak disadari, tempat hambatan terletak. Hal itu membantu melarutkan program-program tersembunyi yang menghalangi Anda mencapai keinginan-keinginan Anda, baik kesehatan, kekayaan, kebahagiaan, dan lainnya.

Semua itu terjadi dalam diri Anda.

Ketahuilah bahwa tujuan saya membuat blog ini bersumber dari rasa kasih dan kepedulian saya terhadap banyaknya orang yang menginginkan kehidupan yang sempurna. Sekali Anda berhasil, Anda akan berada pada tempat yang disebut perbatasan nol, tempat dimana inspirasi Sang Ilahi bekerja di dalam diri Anda melalui keajaiban-keajaiban.

Agar sepenuhnya memahami Ho’oponopono I-Dentitas Diri ini, Anda perlu menghadiri sebuah pelatihan untuk mengalaminya sendiri. Saya sangat antusias mengetahui bahwa kelak banyak dari Anda yang menceritakan keajaiban-keajaiban setelah Anda pelajari cara penggunaannya.

Memutuskan untuk mempelajari teknik Hawaii ini akan membantu Anda mengenali sebuah rahasia tentang kekuatan yang lebih besar yang akan membuat Anda tercengang tak henti-hentinya menerima keajaiban-keajaiban dan keadaan menakjubkan mulai sekarang dan seterusnya.

Inilah sebuah frasa yang mengungkap rahasia alam semesta yang paling tinggi:

”Saya mengasihi Anda”

Bersiaplah terpesona dengan kehidupan Anda.

Best Regards,

Inka Marisayu (thehooponopono.blogspot.com)

>Ho’oponopono part 2

>Kebenaran Menakjubkan Tentang Ho’oponopono

Saya tidak menyangka akan ada begitu banyak orang tertarik pada Ho’oponopono ini. Banyak rekan-rekan saya yang berbagi cerita atau mengajukan pertanyaan tentang teknik ini. Mereka ingin mengetahui lebih banyak dan hal itulah yang mendorong saya untuk berbagi dengan semua orang. Jadikan tulisan saya dalam blog ini sebagai sarana yang dapat membantu Anda mempelajari metode Ho’oponopono I-Dentitas Diri lebih dalam.

This Gift for you…..

Ketika pertama kali saya mendengar teknik rahasia Hawaii ini, untuk mengejanya saja saya membutuhkan beberapa kali mengucapkannya dengan benar.

”Apa itu Ho’oponopono ?”

”Apa luar biasanya teknik ini ?”

”Bagaimana saya bisa menggunakan teknik ini untuk memperoleh kekayaan, kesehatan, dan kedamaian ?” seperti yang dituliskan di halaman depan buku itu, membuat saya benar-benar penasaran.

Mari kita mulai membuka kebenaran rahasia ini.

Seorang Pencipta dan guru besar Ho’oponopono I-Dentitas Diri bernama Morrnah Nalamaku Simeona. Ia seorang ”pekerja keajaiban” yang memberi ceramah di perguruan tinggi, rumah sakit, dan bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia telah wafat bulan februari 1992. Dan sampai menjelang ajalnya, ada seseorang yang selalu bersamanya dan menerima pelatihan dari Morrnah selama satu dasawarsa, dialah Dr. Ihaleakala Hew Len, salah satu pengarang buku Zero Limits. Sejak saat itu hingga sekarang, Dr. Hew Len lah yang meneruskan penyebaran Ho’oponopono I-Dentitas Diri ini ke berbagai belahan dunia. Anda dapat melihat situs resminya di http://www.hooponopono.org.

Morrnah Nalamaku Simeona

Dr. Hew Len menjelaskan, ”Secara sederhana arti Ho’oponopono adalah ’membetulkan’ atau ’meralat sebuah kekeliruan’. Menurut orang Hawaii kuno, kekeliruan timbul dari pikiran-pikiran yang dicemari kenangan yang menyakitkan dari masa lalu. Ho’oponopono menawarkan sebuah cara untuk melepaskan energi pikiran yang menyakitkan atau kekeliruan ini, yang mengakibatkan ketidakseimbangan dan penyakit.”
Dalam bahasa Hawaii, ho’o berarti ”menyebabkan” dan ponopono berarti ”kesempurnaan”. Singkatnya definisi Ho’oponopono adalah sebuah proses pelepasan energi yang bersifat racun dalam diri Anda untuk mengizinkan munculnya dampak gagasan, kata, perbuatan, dan tindakan Sang Ilahi.
Sang Ilahi disini dapat digambarkan sebagai Allah, Kehidupan, Alam Semesta, atau istilah lain apa pun untuk kekuatan kolektif yang lebih tinggi.
Satu hal yang membuka pikiran, adalah: ”I-Dentitas Diri melalui Ho’oponopono melihat setiap masalah bukan sebagai cobaan berat, melainkan kesempatan. Masalah hanyalah kenangan masa lalu yang bermunculan kembali untuk memberi kita satu kesempatan lagi guna melihat dengan mata KASIH dan bertindak berdasarkan inspirasi.”
Pendeknya, Ho’oponopono semata merupakan sebuah proses pemecahan masalah. Namun hal itu seluruhnya dilakukan dalam diri Anda.



Sekarang inilah yang menarik perhatian saya.

Dr. Hew Len pernah bekerja di Rumah Sakit Negara Bagian Hawaii selama tiga tahun. Bangsal tempat mereka merawat penjahat yang gila sangat berbahaya. Setiap bulan selalu ada psikolog yang mengundurkan diri. Banyak karyawan tidak masuk kerja dengan alasan sakit, atau semata mengundurkan diri. Orang-orang berjalan di bangsal dengan punggung menempel dinding, khawatir diserang pasien. Bukan tempat yang menyenangkan untuk ditinggali, dikunjungi, atau dijadikan tempat kerja.

Ia tak pernah melihat pasien dalam pekerjaannya. Ia bersedia memeriksa catatan-catatan mereka. Sementara melihat catatan-catatan tersebut, ia akan membenahi dirinya. Ketika ia membenahi dirinya, para pasien mulai menjadi sembuh.

Anda pasti takjub membaca yang berikut:
“Setelah beberapa bulan, pasien yang dirantai diperbolehkan berjalan-jalan dengan bebas. Pasien lain yang diobati dengan banyak obat dikurangi obatnya. Mereka yang sebelumnya dianggap tidak memiliki kesempatan dilepaskan telah dibebaskan.”
Tidak hanya itu…lanjut Dr. Len
“Para karyawan mulai senang datang ke tempat kerja. Ketidakhadiran dan arus keluar masuk karyawan tidak tampak. Akhirnya kami memiliki lebih banyak karyawan daripada yang kami butuhkan karena para pasien dilepaskan dan seluruh karyawan datang bekerja. Sekarang ruangan itu ditutup.”



Saya sempat berpikir , “Apa iya cerita ini betul-betul terjadi ? Sepertinya tidak mungkin.”
Mungkin Anda juga sempat terlintas pikiran demikian. Namun, memang itulah kenyataannya. Dr. Hew Len hanya membersihkan bagiannya yang dibagi dengan para pasien itu.
Ia pun menjelaskan: “Untuk menjadi seorang pemecah masalah yang efektif, si terapis harus mau bertanggung jawab 100 persen karena telah menciptakan situasi masalah, yaitu ia harus mau melihat bahwa sumber masalahnya adalah pikiran-pikiran yang salah dalam dirinya,bukan dalam diri kliennya. Dengan menggunakan pendekatan Ho’oponopono, sebuah proses pertobatan dan pengampunan memungkinkan si terapis bekerja langsung dengan Sumber Asal yang dapat mengubah pikiran-pikiran salah menjadi KASIH.”
Taukah Anda apa yang dilakukannya?
“Ketika memeriksa catatan pasien, saya merasakan kepedihan dalam diri saya. Ini merupakan kenangan yang dibagi. Programlah yang mengakibatkan pasien bertingkah laku seperti itu. Mereka tidak punya kendali. Mereka terperangkap dalam sebuah program. Ketika merasakan program ini, saya membersihkannya,” ia menuturkan.
Dia akan menanyai dirinya,” Apa yang terjadi dalam diri saya yang menyebabkan masalah ini, dan bagaimana saya dapat memperbaiki masalah dalam diri saya ?”
Ia melihat catatan pasien dan sambil melakukannya, di dalam batin ia berkata kepada Sang Ilahi, ”Saya Mengasihimu”, ”Saya Menyesal”, ”Maafkan Saya” dan ”Terima Kasih”. Ia melakukan apa yang diketahuinya untuk menolong mengembalikan pasien ke keadaan perbatasan nol. Ketika Dr. Hew Len melakukan hal itu dalam dirinya, para pasien sembuh.
”Saya tahu ini membingungkan, bagaimana mungkin hanya dengan mengatakan empat frase tersebut bisa menyembuhkan para pasien ?” Itulah yang ada dalam benak saya pertama kali membacanya.
Lalu saya menemukan ini: ”Ada dua cara untuk menjalani kehidupan,” Dr. Hew Len menjelaskan. ”Melalui kenangan atau melalui inspirasi. Kenangan adalah program-program lama yang dijalankan lagi. Inspirasi adalah pesan yang diberikan Sang Ilahi kepada Anda. Cara satu-satunya untuk mendengar suara Sang Ilahi dan menerima inspirasi adalah dengan membersihkan semua kenangan. Satu-satunya hal yang perlu Anda lakukan adalah membersihkan.”
Rupanya metode penyembuhan dari dalam ke luar ini adalah apa yang disebut Ho’oponopono I-Dentitas Diri.
Hanya ada empat pernyataan yang perlu Anda katakan berulang-ulang tanpa henti, yang ditujukan kepada Sang Ilahi.
”Saya mengasihimu.”
”Saya menyesal.”
”Mohon Maafkanlah saya.”
”Terima kasih.”
Dr. Hew Len menjelaskan “Bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan Anda berarti segala sesuatu dalam kehidupan Anda—semata karena hal itu berada dalam kehidupan Anda—merupakan tanggung jawab Anda. Dalam pengertian harfiah, seluruh dunia adalah ciptaan Anda.”
“Anda bertanggung jawab sepenuhnya berarti menerima semuanya—bahkan orang yang memasuki kehidupan Anda dan masalah mereka karena masalah mereka adalah masalah Anda. Mereka ada di dalam kehidupan Anda, dan kalau Anda mengambil tanggung jawab penuh atas kehidupan Anda, Anda juga harus mengambil tanggung jawab penuh atas apa yang mereka alami. Data itu ada dalam diri Anda. Anda harus menghapusnya untuk kembali ke batas nol, dimana tempat datangnya inspirasi Sang Ilahi sehingga mereka pun kembali ke keadaan nol dan mereka pun menerima inspirasi,” kata Dr. Hew Len.
Itu berarti teroris, presiden, ekonomi apa pun yang Anda alami atau tidak Anda sukai—sudah saatnya Anda sembuhkan. Sesungguhnya mereka tidak ada, selain sebagai proksidari dalam diri Anda,” Jelas Dr Joe.
“Masalahnya tidak ada dalam diri mereka, tapi dalam Anda.”
“Dan untuk mengubahnya, Anda harus mengubah diri Anda.”
Menarik bukan ? Ini adalah konsep baru yang saya temukan dan ini membuat otak saya kewalahan menerima konsep ini, Dulu.
Banyak dari kita pada awalnya akan merasa sulit memahami dan menerima atau skeptis terhadap hal itu, lebih mudah menyalahkan orang lain untuk segala sesuatunya daripada bertanggung jawab sepenuhnya.
Namun, begitu Anda menerimanya, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mengubah diri Anda supaya seluruh dunia juga berubah.

Satu-satunya cara yang pasti adalah dengan “SayaMengasihimu.”
Itulah kode yang membuka kunci penyembuhan. Namun, Anda menggunakannya pada diri Anda, bukan pada orang lain. Ingatlah masalah mereka adalah masalah Anda maka membenahi mereka tidak akan membantu Anda. Mereka tidak memerlukan penyembuhan, Anda-lah yang memerlukannya. Anda harus menyembuhkan diri Anda. Anda-lah sumber semua pengalaman itu.
Nah, ini baru awal perjalanan. Sekarang Anda sadar bahwa Anda menciptakan realitas Anda sendiri.
Tidak masalah jika Anda masih bingung atau berpikir bahwa menurut Anda ini tidak masuk akal. Jangan biarkan Anda hanya mengetahuinya sampai disini.
Sekarang, mari kita mulai perjalanan selanjutnya.

“Saya Mengasihi Anda.”