>Di Manakah Allah ? Tauhid Tidaklah Sah Sampai Meyakini Allah di Atas Langit

>

Segala puji bagi Allah, Yang Menetap Tinggi Di Atas ‘Arsy-Nya, yang memiliki aswa’ dan shifat yang sempurna nan maha mulia. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
Para pembaca rumaysho.com mudah-mudahan masih mengingat pembahasan kita mengenai “Di manakah Allah?” Sudah sebulan lebih kami tidak melanjutkan pembahasan tersebut dikarenakan kesibukan mengurus artikel lainnya. Dengan meminta pertolongan Allah Ta’ala, kami akan melanjutkan pembahasan tersebut. Saat ini kami akan memaparkan perkataan ulama pada thobaqoh lainnya (para ulama yang hidup sekitar tahun 200 H) seperti Imam Al Bukhari yang kami sarikan dari kitab Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar –karya Adz Dzahabi-. Semoga bermanfaat.
Al Muzanni[1]

أنبأنا ابن سلامة عن أبي جعفر الطرطوسي عن يحيى بن منده حدثنا أحمد بن الفضل أنبأ الياطرقاني سمعت أبا عمر السلمي سمعت أبا حفص الرفاعي سمعت عمرو بن تميم المكي قال سمعت محمد بن إسماعيل الترمذي سمعت المزني يقول لا يصح لأحد توحيد حتى يعلم أن الله على العرش بصفاته قلت مثل أي شيء قال سميع بصير عليم قدير أخرجها ابن منده في تاريخه
Ibnu Salamah telah menceritakan pada kami, dari Abu Ja’far Ath Thurthusi, dari Yahya bin Mandah, Ahmad bin Al Fadhl telah menceritakan kepada kami, Al Yathuqorni telah menceritakan, aku mendengar ‘Umar As Sulami, aku mendengar Abu Hafsh Ar Rifa’i, aku mendengar ‘Amr bin Tamim Al Makki, ia berkata, aku mendengar Muhammad bin Isma’il At Tirmidzi, aku mendengar Al Muzanni berkata,

لا يصح لأحد توحيد حتى يعلم أن الله على العرش بصفاته
“Ketauhidan seseorang tidaklah sah sampai ia mengetahui bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-nya dengan sifat-sifat-Nya.” Aku pun berkata, “Sifat-sifat yang dimaksud semisal apa?” Ia berkata, “Sifat mendengar, melihat, mengetahui dan berkuasa atas segala sesuatu.” Ibnu Mandah mengeluarkan riwayat ini dalam kitab tarikhnya.[2]

Adz Dzahabi rahimahullah mengatakan, “Al Muzanni adalah seorang faqih di negeri Mesir ketika zamannya, dan beliau adalah di antara murid yang cerdas dari Imam Asy Syafi’i.”[3]
Pelajaran penting:
1. Ketauhidan seseorang dipertanyakan jika ia tidak meyakini Allah di atas ‘Arsy-Nya, di atas seluruh makhluk-Nya.
2. Jika murid Imam Asy Syafi’i saja berkeyakinan bahwa Allah ada di atas ‘Arsy, maka sudah barang tentu keyakinan murid sama halnya dengan gurunya. Bahkan sudah dikuatkan pula keyakinan yang sama dari Imam Asy Syafi’i tentang keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana dalam tulisan yang telah lewat. Buah tak mungkin jatuh jauh dari pohonnya.
Muhammad bin Yahya Adz Dzuhliy[4]
قال الحاكم قرأت بخط أبي عمرو المستملي سئل محمد بن يحيى عن حديث عبد الله بن معاوية عن النبي ليعلم العبد أن الله معه حيث كان فقال يريد أن الله علمه محيط بكل ما كان والله على العرش
Al Hakim berkata, “Aku membacakan dengan tulisan pada Abu ‘Amr Al Mustahli, Muhammad bin Yahya ditanya mengenai hadits ‘Abdullah bin Mu’awiyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ليعلم العبد أن الله معه حيث كان
“Supaya hamba mengetahui bahwa Allah bersama dirinya di mana saja ia berada.”
Lantas Adz Dzuhliy mengatakan,
أن الله علمه محيط بكل ما كان والله على العرش
“Ketahuilah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu, namun Allah tetap di atas ‘Arsy-Nya.”[5]
Adz Dzahabi mengatakan, “Adz Dzuhli adalah ulama negeri Khurasan setelah Ishaq, kebenarannya tanpa diragukan lagi. Beliau adalah seorang pemimpin, seorang yang taat, dan seorang yang mulia.”[6]
Pelajaran penting:
Keyakinan Allah di atas ‘Arsy tidaklah bertentangan dengan keyakinan ilmu Allah yang maha luas dan kebersamaan Allah bersama hamba-Nya. Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy sedangkan ilmu-Nya di mana-mana dan bukanlah Dzat-Nya.
Muhammad bin Isma’il Al Bukhari[7]
قال الإمام أبو عبد الله محمد بن إسماعيل في آخر الجامع الصحيح في كتاب الرد على الجهمية باب قوله تعالى وكان عرشه على الماء قال أبو العالية استوى إلى السماء إرتفع وقال مجاهد في استوى علا على العرش وقالت زينب أم المؤمنين رضي الله عنها زوجني الله من فوق سبع سموات
Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il Al Bukhari berkata dalam akhir Al Jaami’ Ash Shohih dalam kitab bantahan kepada Jahmiyah, beliau membawakan Bab firman Allah Ta’ala,
وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
“Dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air.” (QS. Hud : 7)
Abul ‘Aliyah mengatakan bahwa maksud dari ‘istiwa’ di atas langit’ adalah naik. Mujahid mengatakan bahwa istiwa’ adalah menetap tinggi di atas ‘Arsy. Zainab Ummul Mukminin mengatakan, “Allah yang berada di atas langit ketujuh yang telah menikahkanku.”[8]
Pelajaran penting:
Imam pakar hadits yang terkemuka yang semua orang mengakui kitab shahihnya yaitu Al Jaami’ Ash Shohih menyatakan dengan tegas bahwa Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy dengan menukil perkataan ulama salaf. Yang aneh adalah pendapat yang berseberangan dengan Imam Al Bukhari ini.
Abu Zur’ah Ar Rozi[9]
قال أبو إسماعيل الأنصاري مصنف ذم الكلام وأهله أنبا أبو يعقوب القراب أنبأنا جدي سمعت أبا الفضل إسحاق حدثني محمد ابن إبراهيم الأصبهاني سمعت أبا زرعة الرازي وسئل عن تفسير الرحمن على العرش استوى فغضب وقال تفسيره كما تقرأ هو على عرشه وعلمه في كل مكان من قال غير هذا فعليه لعنة الله
Abu Isma’il Al Anshori –penulis Dzammul Kalam wa Ahlih-, Abu Ya’qub Al Qurob menceritakan, kakekku menceritakan pada kami, aku mendengar Abul Fadhl Ishaq, Muhammad bin Ibrohim Al Ash-bahani telah menceritakan padaku, aku mendengar Abu Zur’ah Ar Rozi ditanya mengenai tafsir firman Allah,
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah yang menetap tinggi di atas ‘Arsy .” (QS. Thoha : 5). Beliau lantas marah. Kemudian beliau pun berkata, “Tafsirnya sebagaimana yang engkau baca. Allah di atas ‘Arsy-Nya sedangkan ilmu Allah yang berada di mana-mana. Siapa yang mengatakan selain ini, maka dialah yang akan mendapat laknat Allah.”[10]
أنبأنا أحمد بن أبي الخير عن يحيى بن يونس أنبأنا أبو طالب اليوسعي أنبأنا أبو إسحاق البرمكي أنبأنا علي بن عبد العزيز قال حدثنا عبد الرحمن بن أبي حاتم قال سألت أبي وأبا زرعة رحمهما الله تعالى عن مذهب أهل السنة في أصول الدين وما أدركا عليه العلماء في جميع الأمصار وما يعتقدان من ذلك فقالا أدركنا العلماء في جميع الأمصار حجازا وعراقا ومصرا وشاما ويمنا فكان من مذهبهم أن الله تبارك وتعالى على عرشه بائن من خلقه كما وصف نفسه بلا كيف أحاط بكل شيء علما
Ahmad bin Abul Khoir telah menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Yunus, Abu Tholib menceritakan pada kami, Abu Ishaq Al Barmaki telah menceritakan pada kami, ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz telah menceritakan pada kami, ia berkata bahwa ‘Abdurrahman bin Abu Hatim telah menceritakan pada kami, bahwa dia bertanya pada ayahnya dan Abu Zur’ah mengenai aqidah Ahlus Sunnah dalam ushuluddin dan apa yang dipahami oleh keduanya mengenai perkataan para ulama di berbagai negeri dan apa saja keyakinan mereka.
Abu Hatim dan Abu Zur’ah berkata,
Yang kami ketahui bahwa ulama di seluruh negeri di Hijaz, ‘Iraq, Mesir, Syam, Yaman; mereka semua meyakini bahwa Allah Tabaroka wa Ta’ala berada di atas ‘Arsy-nya, terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana yang Allah sifati pada diri-Nya sendiri dan tanpa kita ketahui hakikatnya. Sedangkan ilmu Allah meliputi segala sesuatu.[11]
Pelajaran penting:
Dari perkataan Abu Zur’ah Ar Rozi, kita dapat menyaksikan para ulama di berbagai negeri sepakat (berijma’) bahwa Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy sedangkan ilmu Allah yang berada di mana-mana. Maka yang harus dibilang aneh adalah orang yang menyelisihi kesepakatan ulama ini. Bahkan Abu Zur’ah menyatakan bahwa siapa saja yang menyelisihi keyakinan ini, dialah yang pantas mendapatkan laknat Allah.
Abu Hatim Ar Rozi[12]
قال الحافظ أبو القاسم الطبري وجدت في كتاب أبي حاتم محمد بن إدريس بن المنذر الحنظلي مما سمع منه يقول مذهبنا وإختيارنا إتباع رسول الله وأصحابه والتابعين من بعدهم والتمسك بمذاهب أهل الأثر مثل الشافعي وأحمد وإسحاق وأبي عبيد رحمهم الله تعالى ولزوم الكتاب والسنة ونعتقد أن الله عزوجل على عرشه بائن من خلقه ليس كمثله شيء وهو السميع البصير
Al Hafizh Abul Qosim Ath Thobari mengatakan bahwa beliau mendapati dalam kitab Abu Hatim Muhammad bin Idris bin Al Mundzir Al Hanzholi, perkataan yang didengar darinya, Abu Hatim mengatakan,
“Pilihan kami adalah mengikuti Rasulullah, para sahabat, para tabi’in dan yang setelahnya. Kami pun berpegang dengan madzhab Ahlus Sunnah semacam Asy Syafi’i, Ahmad , Ishaq, Abu ‘Abdillah rahimahumullah. Kami pun konsekuen dengan Al Kitab dan As Sunnah. Kami meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla menetap tinggi di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya. Tidak ada yang semisal dengan-Nya, Dialah (Allah) yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Lantas Abu Hatim Ar Rozi menyebutkan perkataan,
وعلامة أهل البدع الوقيعة في أهل الأثر وعلامة الجهمية أن يسموا أهل السنة مشبهة
“Di antara tanda ahlul bid’ah adalah berbagai tuduhan keliru yang mereka sematkan pada Ahlus Sunnah. Tanda Jahmiyah adalah mereka menyebut Ahlus Sunnah dengan musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk).”[13]
Pelajaran penting:
Lihatlah bagaimana penjelasan Abu Hatim di sini. Jika kita menyatakan bahwa Allah berada di atas langit atau menetap tinggi di atas ‘Arsy, maka di sini bukan berarti Allah itu berada dalam makhluk (berada dalam langit) atau butuh pada makhluk. Inilah yang banyak disangkakan sebagian orang. Dikira jika kita menyatakan Allah berada di atas langit, itu berarti Allah berada di dalam langit. Ini sungguh sangkaan keliru.
Yahya bin Mu’adz Ar Rozi[14]
قال أبو إسماعيل الأنصاري في الفاروق بإسناد إلى محمد بن محمود سمعت يحيى بن معاذ يقول إن الله على العرش بائن من خلقه أحاط بكل شيء علما لا يشذ عن هذه المقالة إلا جهمي يمزج الله بخلقه
Abu Isma’il Al Anshori berkata dalam Al Faruq dengan sanad sampai ke Muhammad bin Mahmud, aku mendengar Yahya bin Mu’adz berkata, “Sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya. Namun ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Tidak ada yang memiliki perkataan nyleneh selain Jahmiyah. Jahmiyah meyakini bahwa Allah bercampur dengan makhluk-Nya.”[15]
Pelajaran penting:
Perkataan Yahya di atas menunjukkan bahwa pendapat Jahmiyah yang tidak meyakini Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy adalah keyakinan yang nyleneh, alias aneh.
Penutup
Masih banyak lagi perkataan ulama masa silam semacam dari ulama pakar hadits yang belum kami sebutkan. Insya Allah perkataan lainnya akan kami lanjutkan pada tulisan selanjutnya. Semoga Allah mudahkan.
Intinya, pernyataan orang-orang yang menyatakan Allah tidak di atas langit, adalah pernyataan “basi”, pernyataan semacam itu hanyalah mengadopsi pendapat Jahmiyah yang para ulama banyak mencelanya. Semoga dengan perkataan ulama yang kami nukilkan ini bisa membuka hati setiap orang yang masih ragu tentang keberadaan Allah di atas seluruh makhluk-Nya.
Hanya Allah yang beri taufik.
Artikel http://www.rumaysho.com
Panggang-GK, 2 Rajab 1431 H (14/06/2010)
Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal
[1] Al Muzanni meninggal dunia pada tahun 264 H dalam usia 80-an tahun.
[2] Syaikh Al Albani mengatakan, “Dari jalur yang dibawakan oleh penulis (Adz Dzahabi) dengan sanadnya terdapat perowi yang tidak aku kenal semisal ‘Amr bin Tamim Al Makki.” (Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 201)
[3] Lihat Al ‘Uluw, hal. 186 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 201.
[4] Adz Dzuhli meninggal dunia pada tahun 258 H.
[5] Syaikh Al Albani mengatakan, “Riwayat ini dibawakan oleh penulis dari Muhammad bin Nu’aim, aku sendiri tidak mengenalnya.” (Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 202)
[6] Lihat Al ‘Uluw, hal. 186 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 202.
[7] Imam Al Bukhari hidup dari tahun 194-256 H.
[8] Lihat Al ‘Uluw, hal. 186 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 202.
[9] Abu Zur’ah meninggal tahun 264 H.
[10] Lihat Al ‘Uluw, hal. 187-188 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 203.
[11] Lihat Al ‘Uluw, hal. 188 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 204.
[12] Abu Hatim Ar Rozi meninggal dunia tahun 277 H.
[13] Lihat Al ‘Uluw, hal. 189-190 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 206-207.
[14] Yahya bin Mu’adz meninggal dunia tahun 258 H.
[15] Lihat Al ‘Uluw, hal. 190 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 207-208.

http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3082-di-manakah-allah-7.html

>Makam Ki Ageng Selo

>

MAKAM KI AGENG SELO TELETAK DI DESA SELO, KECAMATAN TAWANG HARJO 10 KM SEBELAH TIMUR KOTA PURWODADI. SEBAGAI OBYEK WISATA SPIRITUAL, MAKAM KI AGENG SELO INI SANGAT RAMAI DIKUNJUNGI OLEH PARA PESIARAH PADA MALAM JUM’AT, DENGAN TUJUAN UNTUK MENCARI BERKAH AGAR PERMOHONANNYA DIKABULKAN OLEH TUHAN YME. KI AGENG SELO SENDIRI MENURUT CERITA YANG BERKEMBANG DI MASYARAKAT SEKITAR KHUSUSNYA ATAU MASYARAKAT JAWA UMUMNYA, DIAKUI MEMILIKI KESAKTIAN YANG SANGAT LUAR BIASA SAMPAI – SAMPAI DENGAN KESAKTIANNYA IA DAPAT MENANGKAP PETIR.

KI AGENG SELO DIPERCAYA OLEH MASYARAKAT JAWA SEBAGAI CIKAL BAKAL YANG MENURUNKAN RAJA – RAJA DI TANAH JAWA. BAHKAN PEMUJAAN KEPADA MAKAM KI AGENG SELO SAMPAI SEKARANG MASIH DITRADISIKAN OLEH RAJA – RAJA SURAKARTA DAN YOGYAKARTA. SEBELUM GEREBEG MULUD, UTUSAN DARI SURAKARTA DATANG KE MAKAM KI AGENG SELA UNTUK MENGAMBIL API ABADI YANG SELALU MENYALA DI DALAM MAKAM TERSEBUT. BEGITU PULA TRADISI YANG DILAKUKAN OLEH RAJA – RAJA YOGYAKARTA. API DARI SELA DIANGGAP SEBAGAI API KERAMAT

PETA WISATA KABUPATEN GROBOGAN
JAWA TENGAH INDONESIA

>Serat Pepali Ki Ageng Selo

>Yang menarik dari Serat Pepali ini adalah penulisnya sendiri menjelaskan tafsirannya atas simbolisme yang digunakan dalam karyanya. Jadi, setiap pembaca karyanya dapat mengerti makna simbol dalam karyanya dengan hanya membaca penjelasan dari Ki Ageng Selo sendiri.

* Samudera Besar
* Tempat tak Bertulisan
* Teratai tak Berkelopak
* Lampu Menyala tanpa Sumbu
* Daun Hijau tak Berpohon
* Muazzin tanpa Bedug
* Buku, Bulan Purnama, dan Gerhana Bintang
* Angka Satu

Serat Pepali

Ingkang samodra agung,
Tanpa tepi anerambahi.
Endi kang aran Allah?
Tan roro tetelu.
Kawulane tanna wikan,
Sirna luluh kang aneng datu’llah jati,
Aran sagara Purba.

Ana papan ingkang tanpa tulis.
Wujud napi artine punika,
Sampyuh ing solah semune,
Nir asma kawuleku,
Mapan jati rasa sejati.
Ing njro pandugeng taya.
Marang Ing Hyang Agung.
Pangrasa sajroning rasa,
Sayektine kang rasa nunggal lan urip,
Urip langgeng dimulya.

Sasmitane ingkang tunjung putih
Tanpa slaga inggih nyatanira
Rokhilafi satuhune
Datullah ananipun
Yeku sabda ingkang arungsit.
Iku pan bangsa cipta,Hananira iku.
Tandha kang darbe pratandha.

Damar murup tanpa sumbu nenggih
Semunira urup aneng Karsa.
Dat mutlak iku jatine!
Anglir tirta kamanu,
Kadi pulung sarasa jati.
Puniku wujud tunggal,
Aranira iku.

Godhong ijo tanpa wreksa iki,
Semunira ing masalah ing rat,
Lah iya urip jatine.
Dudu napas puniku,
Dudu swara lan dudu osik,
Dudu paningalira,
Dudu rasa perlu,
Dudu cahya kantha warna,
Urip jati iku,
nampani sakalir,
Langgeng tan kena owah.

Pasemone kang modin puniki,
Pan bedhuge muhung aneng cipta,
Iya ciptanira dhewe.
Pan ingaken sulih Hyang Widi.
Cipta iku Muhammad,
Tinut ing tumuwuh.
Wali,
mukmin datan kocap.
Jroning cipta Gusti Allah ingkang mosik,
Unine: rasulullah.
Lamun meneng Muhammad puniki,
Ingkang makmum apan jenengira.
Dene ta genti arane,
Yen imam Allah iku,
Ingkang makmum Muhammad jati.
Iku rahsaning cipta,
Sampurnaning kawruh.
Imam mukmin pan wus nunggal,
Allah samar Allah tetep kang sejati,
Wus campuh nunggal rasa.

sentek pisan wus rampung,
tanggal pisan purnama sidi,
panglong grahana lintang,
Iku semunipun,
kang sampun awas ing cipta.

lawan sastra adi kang linuwih
lawan Qur’an pira sastra nira,
estri priyadi tunggale,
lawan ingkang tumuwuh

Tafsir Simbol-Simbol

Samudera Besar

Bait yang berbunyi ingkang segara agung (samudera besar), dijelaskan maknanya sebagai berikut:

Ingkang samodra agung, Tanpa tepi anerambahi. Endi kang aran Allah? Tan roro tetelu. Kawulane tanna wikan, Sirna luluh kang aneng datu’llah jati, Aran sagara Purba.

(Samudera besar yang tak bertepi, meresapi seluruh alam. Manakah yang disebut Allah? Tak ada lainnya (dua atau tiga). Makhluknya tak ada yang menyadari, Karena musnah terlarut dalam zat Allah sejati, Yang disebut Lautan Purba.)

‘Samudera besar’ menyimbolkan sesuatu yang tak bertepi, tak berbatas, dan melingkupi seluruh alam; agama menyebutnya ‘Tuhan’ atau ‘Allah’. Simbolisme ‘samudera besar’ dipakai untuk menggambarkan ketunggalan zat Allah. Dalam samudera, misalnya, ada organisme-organisme yang hidup dengan cara menggantungkan diri sepenuhnya dengan air samudera. Jika air itu kering, maka organisme-organisme yang di dalamnya akan mati. Begitu pula dengan Allah. Semua ciptaanNya amat bergantung kepadaNya, sama tergantungnya dengan ikan terhadap air. Jika Allah tidak ada, sama dengan tidak adanya air, maka semua ciptaan tidak akan ada (sama dengan tidak adanya ikan tadi). Seluruh ciptaan, karena amat tergantung pada Allah, maka tentu kekuasaannya terbatas; terbatas pada usia, umur, dan kematian. Hanya Allah yang tidak terbatas; Ia senantiasa Abadi, Takterbatas, Luas, Hidup, yang disimbolkan pula dengan ‘Lautan Purba’.

Simbol ‘samudera luas’ atau ‘lautan asal’ juga menggambarkan asal seluruh keberadaan. Allah disebut ‘Lautan Asal’, karena ialah asal mula dari segala penciptaan. Sebelum segalanya tercipta, hanya ada Allah, dan sesudah segalanya tiada, hanya ada Allah. Dalam Al-Quran, kitab Muslim, dikatakan ‘Innaa lillaah wa innaa ilaihi raaji’uun’ (sebenarnya kita adalah milik Allah dan kita kembali kepadaNya), yang amat sinkron dengan simbol ‘lautan purba’ ini.

Tempat tak Bertulisan

Bait lawan papan kang tanpa tulis (dan tempat yang tak bertulis) dijelaskan maknanya dalam pepali berikut ini:

Ana papan ingkang tanpa tulis. Wujud napi artine punika, Sampyuh ing solah semune, Nir asma kawuleku, Mapan jati rasa sejati. Ing njro pandugeng taya. Marang Ing Hyang Agung. Pangrasa sajroning rasa, Sayektine kang rasa nunggal lan urip,Urip langgeng dimulya.

(Ada tempat yang tak bertulisan. Kosong mutlak artinya itu, Dalamnya lenyap terlarut segala gerak dan semu. Hapus sebutan Aku karena Masuk kedalam inti rasa sejati, Didalam tiada bangun (sadar) Kediaman Hyang Agung Perasaan masuk kedalam rasa, Sebenarnya rasa sudah bersatu dengan hidup, Hidup kekal serba nikmat).

Biasanya, tempat (ruang, dimensi) memiliki nama, atau paling tidak, dinamai oleh manusia dengan kata-kata atau bahasa. Tapi disini, Ki Ageng Selo menyebut adanya ruang atau dimensi yang tak sanggup dilukiskan dengan kata-kata atau bahasa manusia. Ruang (dimensi) itulah yang disebut agama sebagai ‘ruang Allah’ (baitullah, ‘rumah Allah’). Maksudnya, bukan baitullah yang ada di Mekkah, Saudi Arabia, yang juga merupakan lambang atau simbol ‘ruang Allah’, tapi maksudnya sungguh-sungguh ‘ruang Allah’, suatu dimensi tersendiri yang tak mampu dinamai kata-kata dan tak mampu disebut dalam bahasa biasa, yang di dalamnya Allah berada. Ki Ageng menyebutnya ‘zat Allah’ atau ‘kekosongan mutlak’ (wujud napi artine punika).

Dalam ‘ruang kosong mutlak’ atau ‘marang ing Hyang Agung’ (kediaman Tuhan Agung), tak ada prinsip ‘gerak’ lagi, sebab ‘gerak’ hanya berlaku bagi ciptaan, sedangkan ‘Si Penggerak’ yaitu Allah, tidak lagi membutuhkan ‘gerak’, justru dari dialah ‘gerak’ bagi ciptaan itu ada dan dia sendiri tidak bergerak. Seperti dalang, dialah yang menggerakkan semua wayang, tapi dia sendiri tidak digerakkan, karena dia itu asalmula ‘gerak’ dan ‘gerak’ itu sendiri. Aristoteles menyebutnya sebagai ‘Sang Penggerak yang tak tergerakkan’ (The Unmoved Mover).

Orang yang ingin memasuki ‘ruang Allah’, dapat memasukinya dengan cara olah-rohani atau ‘jalan mistik’. Dalam ‘jalan mistik’, manusia melenyapkan dirinya (fana’) untuk masuk ke ‘kekosongan mutlak’ itu, masuk ke dalam zat Allah dan melarutkan zatnya dalam zat Allah. Jika seorang berhasil masuk ke zat Allah, maka segala kemanusiaannya untuk sementara lenyap, seperti orang yang mabuk atau orang pingsan. Kesadarannya hilang, diganti dengan bentuk kesadaran lain, yakni ‘rasa nikmat’ (ekstase), seperti rasa nikmat dari anggur yang memabukkan.

Teratai tak Berkelopak

Bait tunjung tanpa selaga (teratai tak berkelopak) dijelaskan maknanya sebagai berikut:
Sasmitane ingkang tunjung putih/Tanpa slaga inggih nyatanira/Rokhilafi satuhune/Datullah ananipun/Yeku sabda ingkang arungsit./Iku pan bangsa cipta,/Hananira iku./Tandha kang darbe pratandha.

(Isyarat teratai putih/Tak berkelopak ialah kenyataan./Ruhilafi sebenarnya./Itu adanya datullah,/Itu, sabda yang sangat pelik./Itu kan perihal cipta,/Yang disebut itu./Sifat yang memiliki segala sifat.)

Ada teratai, tapi tak berkelopak. Dan kalau teratai tak berkelopak, bagaimana orang dapat mengenalinya, sedangkan bunga teratai nampak jelas sebagai teratai apabila ia berkelopak. Ternyata, yang dimaksud Ki Ageng disini bukanlah bunga teratai yang material dan empiris, yang akan nampak jika dilihat oleh mata fisikal manusia. ‘Bunga teratai yang tak berkelopak’ ialah simbol hakikat wujud Tuhan. Hakikat wujud Tuhan mustahil ditangkap oleh mata fisikal; ia hanya dapat disimbolkan dengan daya imajinasi manusia, tapi tentunya dengan simbolisme yang tidak biasa, seperti simbolisme ‘bunga teratai tak berkelopak’ yang sangat di luar kebiasaan itu. Dalam ajaran Sufisme-Jawa, hakikat wujud Tuhan disebut dengan roh ilapi atau ruhilafi. Buku Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa karangan P.J. Zoetmulder sangat membantu untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan ruhilafi disini. Zoetmulder menjelaskan, bahwa ruhilafi ialah ‘…merupakan mata rantai utama antara Tuhan dan dunia. Berulang kali diumpamakan atau disamakan dengan huruf alif, huruf pertama dalam alfabet. Seperti semua huruf merupakan tanda, jadi manifestasi mengenai apa yang dilambangkan, sedangkan huruf alif merupakan huruf pertama, demikian pula roh ilapi merupakan manifestasi utama di antara para manifestasi ilahi. Oleh karena itu dinamakan ‘’ratu semua roh’’ [ratu ning nyawa] atau ‘’ratu segala sesuatu yang nampak [ratu ning salir kumelip]’ (Zoetmulder 1990:192-193). Jadi, ruhilafi ialah roh pertama, manifestasi pertama, wujud pertama, bentuk pertama, atau nampakan pertama dari Tuhan; agar Tuhan dapat dikenali oleh manusia, tentunya lewat ‘mata-batin’, bukannya ‘mata fisikal’. Nampakan pertama Tuhan itu sangat nyata, senyata-nyatanya, sehingga walaupun ia ‘tak berkelopak’, ia masih dapat dikenali sebagai ‘bunga teratai’.

Lampu Menyala tanpa Sumbu

Bait damar murup tanpa sumbu nenggih (lampu menyala tanpa sumbu) dijelaskan artinya sebagai berikut:

Damar murup tanpa sumbu nenggih/Semunira urup aneng Karsa./Dat mutlak iku jatine!/Anglir tirta kamanu,/Kadi pulung sarasa jati./Puniku wujud tunggal,/Aranira iku.

(Lampu menyala tanpa sumbunya/Itu lambang nyala pada Kehendak./Dat Mutlak itu sebenarnya!/Sebagai air yang bercahaya,/Wahyu kesatuan dengan rasa sejati./Itulah bentuk tunggal,/Yang disebut itu.)

Ada lampu, tapi tanpa sumbu. Ini pasti lampu yang luar biasa, sebab mana ada lampu yang dapat menyala tanpa bantuan sumbu. Justru dari sumbu itulah api mengeluarkan cahaya dan cahaya itu dapat menerangi sekelilingnya. Dan keberadaan lampu sangat bergantung pada sumbu yang mengeluarkan cahaya itu. Tapi, lampu ini berbeda; ia bukan lampu material. Ia simbol dari ‘nyala kehendak Tuhan’. Seperti ‘lampu yang nyala tak bersumbu’, kehendak Tuhan menyala-nyala secara absolut dan mandiri; nyalanya bukan karena pribadi lain yang merupakan ‘sumbunya’, tapi menyala karena diriNya sendiri. Ini serupa dengan penjelasan sebelumnya, bahwa Aristoteles memandang Tuhan sebagai ‘Sang Penggerak yang tak tergerakkan’ (The Unmoved Mover), yang bergerak sendiri tanpa bantuan pribadi lain dan merupakan gerak tunggal yang paling pertama dan yang absolut.

Simbolisme ‘lampu menyala tanpa sumbu’ untuk merepresentasi hakikat kehendak Tuhan ternyata terinspirasi dari simbolisme Quranik. Dalam Surat Al-Nur 35 terdapat simbolisme ‘lampu’. Disitu dikatakan: Tuhan (disimbolkan dengan) ‘Cahaya Langit dan Bumi’. CahayaNya dianalogikan sebagai sebuah miskat yang di dalamnya ada lampu besar. Lampu besar itu sendiri ada di dalam kaca, sedangkan kaca itu dianalogikan dengan bintang seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah Timur dan tidak pula di sebelah Barat. Minyak tersebut bisa menerangi sekelilingnya, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Tuhan membimbing orang yang Ia kehendaki menuju cahaya-Nya itu.. Simbol ‘minyak menerangi tanpa api’ ini amat analog dengan simbol ‘lampu menyala tanpa sumbu’ di atas.

Daun Hijau tak Berpohon

Bait Godhong ijo ingkang tanpa wreksa (daun hijau tak berpohon) dijelaskan Ki Ageng Selo sebagai berikut:

Godhong ijo tanpa wreksa iki,//Semunira ing masalah ing rat,//Lah iya urip jatine.//Dudu napas puniku,//Dudu swara lan dudu osik,//Dudu paningalira,//Dudu rasa perlu,//Dudu cahya kantha warna,//Urip jati iku, nampani sakalir,//Langgeng tan kena owah.

(Daun hijau yang tak berpohon,//Itu lambang masalah alam.//Yaitu hidup sejatinya.//Bukan nafas itu,//Bukan suara dan bukan gerak batin,//Bukan pemandangan,//Dan bukan rasa syahwat,//Bukan cahaya, bangun atau warna.//Itulah hidup sejati, yang menerima segala persaksian,//Kekal tak ada ubahnya.)

Ki Ageng menggunakan tumbuhan untuk menjelaskan ajaran esoterisnya. Daun, menurut ilmu biologi, terjadi karena evolusi pertumbuhan sebuah biji. Biji menumbuhkan akar, akar lalu menumbuhkan batang. Batang pohon kemudian menumbuhkan cabang, lalu cabang menumbuhkan ranting, dan ranting akhirnya menumbuhkan buah serta daun. Secara biologis, sebuah daun tidak akan tumbuh tanpa adanya sebuah ‘pohon’ (sebutan untuk keseluruhan organis dari biji, akar, batang, cabang, ranting, buah, dan daun). Tapi jika ada ‘daun yang hidup tanpa pohon’, maka itu sangat ajaib. Ki Ageng menggunakan analogi ‘daun hijau tak berpohon’ ini untuk mengutarakan ajaran ‘hidup esoteris’ (urip jati). Seperti ‘daun hijau yang tak berpohon’, kehidupan yang dijalani oleh seorang ‘esoteris’ tidak lagi dipahaminya sebagai kehidupan orang banyak, yang masih dipenuhi oleh persepsi fisikal seperti ‘nafas’ (jika tidak bernafas, maka orang awam menyebutnya ‘tidak hidup’ alias ‘mati), ‘suara’ (jika tidak bersuara, maka orang awam menyebutnya ‘tidak hidup’ alias ‘mati’), ‘gerak batin’ (jika tidak berperasaan, maka orang awam menyebutnya ‘tidak hidup’ alias ‘mati’), ‘pemandangan’ (jika daya nalar tidak berfungsi, maka orang awam menyebutnya ‘mati’), ‘rasa syahwat’ (jika tidak memiliki daya nafsu, maka disebut ‘mati’), ‘cahaya’, ‘bangun’ serta ‘warna’ (jika indera penglihatan dan indera sentuhan tidak berfungsi, maka orang menyebutnya ‘mati’).

Kehidupan yang hendak dijalani, dinikmati, dan diselesaikan oleh seorang ‘mistikus’ adalah kehidupan yang mengatasi persepsi fisikal yang disebutkan itu semua, dan itu sengaja dilakukannya agar ia mencapai pengetahuan esoteris, yang merupakan dambaannya sendiri.

Seorang mistikus sejati, yang telah menjadi ‘daun hijau tanpa pohon’, memahami kehidupan dunia dengan pemahaman yang lebih tinggi dari yang dimiliki banyak orang. Ia memahami ‘Kehidupan Esensial’, yakni ‘kehidupan asaliah’—kehidupan asli yang belum dihiasi oleh bentuk-bentuk fisik. Kehidupan yang masih berupa esensi. Masih berupa ‘ruh’, belum menjadi ‘badan’. Kehidupan yang ‘belum memerlukan pohon’. Kehidupan yang masih dalam ‘dekapan Tuhan’. Kehidupan itu belum dapat disifati dengan sifat-sifat formal-fisikal seperti ‘mati’, ‘hidup’, ‘asal’, ‘akhir’, ‘bahagia’, atau ‘sengsara’. Kehidupan tanpa ‘ajektif’, dan karenanya ia kekal, tak berubah-ubah. Sebab, perubahan adalah tanda fisikal, sedangkan kehidupan ini ‘belum berbadan’ alias rohaniah. Dalam tradisi Sufisme, kehidupan itu disebut al-hayyu. Bahkan, kata al-hayyu, dalam Sufisme, merupakan salah satu representasi Tuhan, sebagaimana terdapat dalam formula ’99 Nama-Nama Tuhan yang Indah’ (Asmâul-husnâ).

Muazzin tanpa Bedug

Bait Modin tan ana bedhuge (muazzin tanpa bedug) dijelaskan Ki Ageng Selo sebagai berikut:

Pasemone kang modin puniki,//Pan bedhuge muhung aneng cipta,//Iya ciptanira dhewe.//Pan ingaken sulih Hyang Widi.//Cipta iku Muhammad,//Tinut ing tumuwuh.//Wali, mukmin datan kocap.//Jroning cipta Gusti Allah ingkang mosik,//Unine: rasulullah.//Lamun meneng Muhammad puniki,//Ingkang makmum apan jenengira.//Dene ta genti arane,//Yen imam Allah iku,//Ingkang makmum Muhammad jati.//Iku rahsaning cipta,//Sampurnaning kawruh.//Imam mukmin pan wus nunggal,//Allah samar Allah tetep kang sejati,//Wus campuh nunggal rasa.

(Yang dilambangkan oleh muazzin itu,//Karena akal berperanan bedug juga,//Ialah akalmu sendiri.//Akan tetapi kamu itu//Sebenarnya mewakili Hyang Widi juga.//Akal itu Muhammad,//Pemimpin hidupmu.//Wali, mukmin tak disebut,//Dalam akal Tuhan Allah yang bergerak,//Katanya: rasulullah.//Dalam ketenangan Muhammad itu,//Yang makmum ialah kamu sendiri.//Sebaliknya pada yang disebut,//Allah sebagai imam//Yang makmum ialah Muhammad sejati.//Itulah inti-sari akal,//Kesempurnaan ilmu.//Imam mukmin sudah bersatu,//Allah bayangan dan Allah tetap yang sejati,//Sudah campur bersatu rasa.)

Di sini, Ki Ageng memakai simbolisme dari tradisi Islam, yakni ‘shalat’. ‘Shalat’ ialah cara dan alat manusia untuk berkomunikasi dengan Tuhannya. Sebelum ‘shalat’, biasanya dikumandangkan ‘azan’ (panggilan untuk bershalat), dan sebelum azan dilakukan, biasanya menurut tradisi Jawa, dibunyikanlah ‘bedug’ (alat penanda masuk waktu shalat). Setelah ‘bedug’ dibunyikan, maka ‘muazzin’ (orang yang bertugas melakukan azan) mulai bekerja memanggil orang untuk shalat di mesjid. Setelah ‘azan’ dan setelah orang banyak yang masuk mesjid, maka dimulailah shalat. Shalat dipimpin oleh seorang ‘imam’ (pemimpin shalat), dan orang yang mengikuti di belakangnya disebut ‘makmum’ (orang yang dipimpin oleh imam). Semua terma-terma khas dalam tradisi ‘shalat’ Islam ini digunakan Ki Ageng Selo untuk simbolisme ‘ilmu esoteris’.

Kalau seseorang telah berhasil menguasai ‘ilmu esoteris’ (ilmu tentang rahasia-rahasia ketuhanan), yang disimbolkan disini sebagai ‘muazzin’, maka ia tidak lagi tergantung pada alat-alat (seperti penalaran logika dan penginderaan fisikal) untuk berhubungan dengan Tuhan, yang disimbolkan disini dengan ‘bedug’. Ia tidak lagi memerlukan ‘bedug’, karena ia sudah masuk ke tingkatan ‘muazzin’ yang sempurna ilmu esoterisnya. Dan ‘muazzin’ ini, jika ia hendak berhubungan dengan Tuhan (‘shalat’ dalam tradisi Islam), maka ia tinggal mempersilahkan Tuhan sebagai ‘imam’ nya. Ia tidak berimam dengan akalnya. Ia tidak pula berimam pada panca-inderanya. Walaupun akal dan inderanya cukup membantu dalam persepsinya akan Tuhan (di sini disebut ‘Allah bayangan’), seorang ‘muazzin’ yang tanpa ‘bedug’ akan meninggalkan keduanya di belakang, saat ia berimam pada Allah saja (di sini disebut ‘Allah tetap yang sejati’). Persepsi akaliah dan inderawinya akan melebur, bercampur, bersatu dalam rasa. Peleburan ini dalam tradisi Sufisme disebut fana (peniadaan persepsi akaliah dan persepsi inderawi untuk menyaksikan adanya Tuhan).

Buku, Bulan Purnama, dan Gerhana Bintang

Bait-bait sentek pisan wus rampung, tanggal pisan purnama sidi, dan panglong grahana lintang diterangkan oleh Ki Ageng sebagai berikut:

sentek pisan wus rampung,//tanggal pisan purnama sidi,//panglong grahana lintang,//Iku semunipun,//kang sampun awas ing cipta.

(Sekali singgung sudah tamat,//tanggal satu bulan purnama,//tidak kurang gerhana bintang,//itulah lambang,//manusia yang sudah waspada akan ciptanya.)

Ki Ageng menggunakan banyak simbol untuk menjelaskan konsep ‘manusia yang sudah waspada akan ciptanya’, atau dalam terminologi Sufi disebut ‘manusia sempurna’ (Insân Kâmil), yaitu manusia yang telah memahami segala rahasia esoteris. Salah satunya ialah simbol ‘buku’. Orang yang sempurna, yang sudah waspada akan ciptanya diibaratkan Ki Ageng dengan orang yang membaca satu buku. Belum sampai ia membaca bab terakhir dari buku itu, ia sudah ‘tamat’. Ia sudah mengerti keseluruhan isi buku itu dengan sekali ‘singgungan’, dengan sekali baca pada bab pertama. Ia tidak perlu lagi membaca semua bab, karena isi seluruh bab sudah ia pahami pada pembacaannya di bab pertama.

‘Manusia sempurna’ juga disimbolkan oleh Ki Ageng dengan simbol ‘bulan purnama’. ‘Manusia sempurna’ tidak perlu berlama-lama mencari ilmu hingga tua, seperti menunggu ‘bulan purnama’ di akhir bulan, jika ia telah memahami hakikat dan rahasia segala penciptaan di usia mudanya, yang disini disimbolkan dengan “tanggal satu’’ pada awal bulan kalender. ‘Manusia sempurna’, yang merupakan cita-cita hidup kaum rohani (mistik), tidak mengenal kesenioran dalam ilmu esoteris. Baik tua maupun muda, jika ia menimba ilmu esoteris, akan berpotensi untuk mengaktualisasi sebagai ‘manusia sempurna’. Menjadi ‘manusia sempurna’ yang diterangi cahaya hakikat, seperti simbol ‘terangnya bulan purnama’ disini, menurut Ki Ageng, bisa dan mungkin dicapai dalam jangka waktu pencarian yang tidak lama (tanggal satu), asalkan manusia sudah mampu waspada akan ciptanya.

Manusia sempurna’ juga disimbolkan disini sebagai ‘gerhana bintang yang tidak berkurang-kurang’, yang cahaya pengetahuan esoterisnya memancar pada cahaya pengetahuan esoteris lainnya yang juga memancar, sehingga terjadi ‘gerhana esoteris’. Cahaya pengetahuan esoteris yang disebarluaskan oleh ‘manusia sempurna’ dapat menyadarkan manusia lain akan ciptanya, sehingga manusia lain pun mengandung dan memiliki ‘cahaya’ pula. Semua cahaya itupun memancar satu sama lain, sehingga cahayanya menyerupai gerhana

Angka Satu

Bait-bait seperti lawan sastra adi kang linuwih, lawan Qur’an pira sastra nira, estri priyadi tunggale, lawan ingkang tumuwuh tidak diterangkan jelas-jelas oleh Ki Ageng Selo dalam Pepalinya. Jadi, berikut ini adalah tafsiran kami sendiri, yang bisa saja salah dan bisa pula benar. Sebelum menafsirkannya, mari kita lihat terjemahannya lebih dulu, yang sangat piawai dikerjakan oleh R.M. Soetardi Soeryohoedoyo.

(Dan sastra indah-utama, berapakah jumlahnya? Kitab Al-Qur’an, berapakah sastranya? Perempuan dan laki-laki utama, ada berapakah jodohnya? Dan berapakah jumlah yang tumbuh?)

Dalam ketiga bait ini, Ki Ageng memberikan tiga pertanyaan, yang diharapkannya tiga pertanyaan itu dapat dijawab dengan pasti dan tegas sebagai ‘satu’. Jadi, walaupun Ki Ageng bertanya ‘berapa’, sebenarnya yang ia inginkan ialah jawaban ‘angka satu’. Jika ia bertanya ‘berapa jumlah sastra indah-utama?’, maka tentulah yang ia harapkan dijawab dengan ‘satu’, yakni ‘Sastra Mistikal’, sastra yang tengah Ki Ageng Selo sendiri karang. Serat Pepali ialah karangannya sendiri yang mengandung estetika sastrawi yang agung, sekaligus mengandung ajaran esoteris yang amat rahasia.

Jika Ki Ageng Selo bertanya ‘berapa sastra yang ada dalam Al-Quran?’, maka jawaban yang ia minta pasti ialah ‘satu’, yakni ‘Allah’. Bagi kaum mistikus, ‘Allah’ adalah entitas estetis yang Maha Indah, yang keindahannya di atas keindahan fisikal rendahan. Sungguh berbeda dari semua obyek keindahan yang mengilhami semua ‘seniman rendahan’ dalam karya-karya mereka (seperti lukisan-lukisan naturalistik atau sastra mimetik), kaum mistikus mengambil ‘Allah’ sebagai obyek keindahan yang Maha Indah, sehingga lahirlah puisi-puisi mistikal, syair-syair mistikal, novel-novel mistikal, dan cerpen-cerpen mistikal yang kata-katanya sangat mengandung estetika agung. Ini sesuai dengan suatu adagium terkenal di kalangan para Sufi: Innal-laaha jamiilun, yuhibbu-l-jamaal (Allah itu Maha Indah, yang mencintai keindahan).

Jika Ki Ageng Selo bertanya ‘perempuan dan laki-laki utama, ada berapa jodohnya?’, maka jawaban yang ia minta pastilah ‘satu’. Kata-kata ‘perempuan’ dan ‘lelaki’ disini tidaklah dimaksudkannya untuk menyebut pasangan jenis kelamin. Tapi, keduanya ialah simbol-simbol realitas. Dalam Filsafat Taoisme, realitas terbagi menjadi dua, Yin dan Yang. Yin adalah ‘jodohnya’ Yang; Yin tidak memiliki jodoh selain Yang. Dalam Sufisme begitu pula. Realitas ada dua: Anaa (Saya) berjodoh dengan Al-Haq (Allah), atau dalam ajaran Mohammad Iqbal seorang filsuf Pakistan, khudi (ego dengan ‘e’ kecil) berjodoh dengan Khudi (Ego dengan ‘e’ besar). Ki Ageng mungkin hendak menjelaskan dua realitas ini dengan simbol ‘perempuan’ dan ‘lelaki’. ‘Perempuan’ mungkin merupakan simbol ‘makrokosmos’ (Alam Besar) dan ‘lelaki’ mungkin simbol ‘mikrokosmos’ (Alam Kecil). Makrokosmos tentu saja tidak berjodoh selain dengan mikrokosmos.

Jika Ki Ageng Selo bertanya ‘lalu berapa jumlahnya yang tumbuh?’, maka lagi-lagi jawaban yang dimintanya ialah ‘satu’. Dari dua realitas yang berbeda itu, makrokosmos dan mikrokosmos, akan tumbuh dan berkembang apa yang dinamakan ‘kesatuan’ (union). Dua menjadi satu. Dualitas menjadi unitas. Dualitas yang saling berkembang, akan tumbuh menjadi unitas. Makrokosmos (yang disebut ‘agama’ sebagai ‘Allah’) dan mikrokosmos (yang disebut ‘agama’ sebagai ‘manusia’), jika keduanya berkembang dan tumbuh (dalam artian, saling mendekatkan diri), maka akan berbaur dan menyatu. Kaum mistikus memiliki cara khusus untuk ‘menyatu dengan Allah’ itu, yakni dengan olah-rohani (mistisisme). ‘Kesatuan realitas’, yang juga di Jawa sering disebut sebagai manunggaling kawulo gusti dan yang sering disebut Filsafat Eksistensialisme sebagai dialog Aku-Engkau (I-Thou), akan tercapai setelah dualitas itu dapat diatasi lewat jalur rohaniah (jalan mistikal).

id.wikibooks.org/wiki/Tafsir_Simbol-Simbol