>Jangan Hanya Jadi Penonton, Jadilah Pemain

>

Suatu hari, seorang pemuda diajak oleh salah seorang temannya untuk menghadiri sebuah pertemuan besar untuk merayakan kemenangan atau prestasi yang sudah dicapai seseorang. Banyak orang yang berduyun-duyun menghadiri pertemuan itu. Dalam pertemuan akbar itu, banyak orang dari berbagai jenis profesi maju ke atas panggung untuk bercerita tentang kisah sukses mereka.
Setelah sampai di ruang pertemuan, mereka mengambil tempat duduk agak di depan. Acara yang dinanti-nantikan akhirnya dimulai. Para hadirin terlihat begitu antusias menyambut acara tersebut karena acara ini dapat memberikan motivasi dan inspirasi yang besar bagi mereka. Dengan mendengarkan kisah sukses mereka yang telah berhasil, mereka berharap dapat mengikuti jejak sukses seorang pemenang.
Tidak lama kemudian, muncul seorang pemuda. Ia naik ke panggung dengan disambut dengan tepuk tangan meriah dari para hadirin. Pemuda ini sukses karena bisnis komputer. Ia menceritakan kisahnya yang berasal dari keluarga yang serba kekurangan yang membuatnya tidak pernah duduk di bangku sekolah. Akan tetapi sekarang dirinya bisa sukses di bisnisnya karena kemauannya untuk belajar. Walaupun tidak berpendidikan, ia tidak mau kalah dengan yang lain sampai akhirnya berhasil seperti sekarang.
Mendengar pengakuan pemuda sukses tersebut, pemuda yang duduk sebagai hadirin tadi berkata pada temannya, “Ahh, zaman sekarang kalau tidak sekolah mana mungkin bisa berhasil. Menurut saya, dia cuma beruntung saja, atau mungkin dibantu temannya.” Temannya tidak berkomentar apa-apa, hanya diam saja.
Berikutnya, tampil seorang ibu rumah tangga yang sukses berkat bisnis pakaian. Ibu ini menceritakan bahwa ia bertekad untuk memperoleh penghasilan sendiri karena ingin membantu ekonomi
keluarganya. Penghasilan dari suaminya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Pada mulanya ia hanya menjahit pakaian. Karena hasil jahitannya bagus dan berkualitas, pesanan semakin banyak yang berdatangan. Bisnisnya semakin besar ketika ia akhirnya membuka butik besar yang menjual pakaian hasil jahitannya sendiri serta pakaian impor merek ternama. Bisnis yang ditekuninya memberikan penghasilan yang cukup banyak bahkan berlebih sehingga kehidupan keluarganya menjadi makmur. Ibu inipun menjadi kaya raya karena berhasil membuka beberapa cabang.
Begitu mendengar kisah sukses ibu tersebut, pemuda tadi lagi-lagi mengkritik, “Ahhh, bagaimana tidak sukses! Ibu-ibu kan memang pandai bicara…” Pemuda ini terus saja mengatakan hal-hal yang negatif dan lagi-lagi, temannya hanya diam.
Berikutnya tampil seorang cacat tanpa kedua tangan yang sukses sebagai seorang salesman terbaik. Banyak orang terharu mendengar kisahnya yang fenomenal. Akan tetapi pemuda itu malah berkata, “Ahhh, saya yakin dia sukses karena orang lain kasihan terhadap dirinya. Melihat dirinya cacat, orang-orang tidak tega menolak apa yang dijualnya, sehingga terpaksa membeli walaupun sebenarnya tidak perlu.”
Satu demi satu orang sukses tampil di panggung untuk memberikan kesaksian dan semangat kepada hadirin. Tapi kritikan demi kritikan terus keluar dari mulut si pemuda itu, seolah-olah semuanya tidak ada yang benar.
Hal ini membuat temannya buka mulut. Temannya langsung berkata, “Tidak peduli seberapa banyak kritikan yang kamu berikan atas kesuksesan yang mereka raih, yang terpenting mereka telah berhasil menjadi pemenang dalam hidup mereka. Tidak seperti kamu yang hanya bisa berkomentar dan mengkritik tapi tidak berbuat apa-apa. Buktikan kamu bisa seperti mereka, jangan hanya jadi penonton saja.”
Pesan kepada pembaca:
Mengkritik jauh lebih mudah dilakukan daripada berbuat. Namun, orang yang selalu mengkritik dan memberikan komentar negatif akan tetap selalu menjadi seorang penonton di sepanjang hidupnya. Mereka hanya bisa melihat kesuksesan orang lain, tetapi tidak mampu menciptakan kesuksesan mereka sendiri.
Lain halnya seorang pemain yang selalu take action untuk meraih kesuksesan. Mereka tahu resiko yang harus mereka hadapi. Ketika mereka gagal, mereka tahu bahwa mereka akan mendapat kritikan pedas dari orang lain. Tapi mereka tidak pernah peduli dengan kritikan tersebut. Mereka tetap fokus dan bangkit kembali sampai berhasil.
Contoh paling mudah adalah pertandingan sepak bola. Misalkan ada adegan penalti yang dilakukan oleh Cristiano Ronaldo. Sayang, tendangannya meleset. Pasti banyak penonton, mungkin Anda, yang mengkritik dan memberi cercaan padanya. Mungkin Anda bilang, “Ahhh, bodoh sekali Ronaldo. Masa begitu saja tidak bisa, padahal anak kecil pun bisa.”
Cobalah tanya diri Anda sendiri apakah kritikan dan cercaan para penonton membuat gajinya dipotong? Apakah makian terhadap dirinya membuat gelar-gelar internasionalnya harus dicopot? Apakah komentar negatif orang lain membuat dirinya miskin?
Sadarilah, meskipun dirinya mendapat ribuan cacian, cemoohan, kritik, dan komentar negatif, Cristiano Ronaldo tetaplah seorang pemain termahal di dunia, tetap memperoleh gaji super besar, tetap menjadi seorang mega bintang sepak bola, tetap kaya raya dan tetap digilai banyak wanita cantik. Ia adalah seorang pemain, bukan penonton yang hanya bisa mengkritik, tetapi tidak pernah mengkritik dirinya sendiri.
Sudah saatnya Anda menjadi seorang pemain. Jangan hanya menjadi penonton yang terpesona dengan kesuksesan orang lain. Jadilah seorang pemain yang suatu saat nanti merayakan kemenangan Anda sendiri. Jangan hanya memilih untuk menjadi penonton yang bersuka cita karena GOL, tetapi jadilah pemain yang berteriak kegirangan karena berhasil mencetak GOL.
 
————–
Penulis : Suhardi
E-mail Contact : csd_suhardi@yahoo.com

SUMBER ARTIKEL : http://www.andriewongso.com/artikel/artikel_tetap/3453/Jangan_Hanya_Jadi_Penonton/

Iklan

>Kekuatan spionase Ala Sun Tzu by Andrie Wongso

>

Penulis : Andrie Wongso
Rating Artikel :
Rabu, 30-Juni-2010

Kekuatan spionase adalah salah satu kunci keberhasilan menggali informasi. Hal sekecil apa pun akan sangat berguna jika kita bisa memaksimalkannya. Salah satu faktor penting untuk meraih kemenangan adalah dengan penguasaan informasi. Karena itu, dalam Kitab Perang-nya yang legendaris, Sun Tzu menekankan pentingnya kekuatan intelijen.
Sekadar mengingatkan, menurut Sun Tzu ada lima jenis agen rahasia, yakni: agen lokal (orang biasa dari negara musuh yang dipekerjakan sebagai intelijen kita), agen dalam (pejabat musuh yang direkrut dan dipekerjakan sebagai intelijen kita), agen ganda (mata-mata musuh yang telah kita ubah agar mau bekerja sebagai intelijen kita), agen celaka (mata-mata kita sendiri yang sengaja dibekali dengan informasi palsu supaya dapat mengelabui musuh), agen hidup (mata-mata kita sendiri yang kembali dengan selamat dari wilayah musuh dengan membawa informasi berharga).
Kelima jenis intelijen tersebut pada zaman sekarang telah menjelma dalam berbagai hal. Baik yang diwujudkan dalam nilai-nilai yang tetap berdasarkan etika dan moral, namun ada pula yang kemudian-atas nama persaingan-justru menghalalkan segala macam cara untuk menggali informasi demi meraih kemenangan. Sudah tentu, hal yang terakhir ini, jika diteruskan hanya akan melahirkan persaingan tidak sehat, yang lama-kelamaan akan terbongkar dan ujungnya, merusak reputasi perusahaan itu sendiri.

Namun, di atas itu semua, apa pun bentuk intelijen yang dilakukan, semua berujung pada masalah informasi. Siapa yang menguasai informasi paling banyak, paling luas, paling tajam, dan paling terpercaya, serta mampu memaksimalkan dalam bentuk strategi dan tindakan yang matang, dialah yang akan jadi pemenang sesungguhnya. Kemampuan penguasaan informasi dan analisis yang matang akan membuat sebuah perusahaan mampu menjalankan berbagai program perencanaan yang akan menghasilkan kesuksesan.

Contoh Kasus
Menilik pentingnya informasi ini, ada sebuah kasus cukup menarik yang saya lihat belakangan ini. Dalam bisnis makanan cepat saji-yang di Indonesia salah satunya dikuasai oleh jaringan Kentucky Fried Chicken (KFC) dan McDonald’s (McD)-ada satu hal yang menggelitik saya untuk melihatnya dari sudut pandang strategi Sun tzu.
Beberapa waktu lalu, ada sebuah informasi berkaitan tentang pengambilalihan McDonald’s oleh produsen yang selama ini dikenal dengan tehnya, yakni Sosro. Produsen teh terbesar di Indonesia itu mengakuisisi hampir semua cabang McDonald’s dari tangan pemilik lama, Bambang Rachmadi.
Uniknya, setelah beberapa saat McD dipegang Sosro-yang membuat semua minuman teh di McD juga harus menggunakan semua produk Sosro-restoran KFC tak lama kemudian mengganti minuman tehnya. Jika selama ini KFC menggunakan teh Botol Sosro, kini mereka menggantinya dengan Frestea yang berasal dari grup Coca Cola Company.
Jika mendasari dari apa yang saya pahami dari strategi intelijen Sun tzu, apa yang dilakukan KFC ini sangat bisa dimengerti. Sebab, jika selama ini Sosro terus mengirimkan ribuan atau jutaan minumannya ke KFC, dengan data yang ada, kemungkinan Sosro bisa menganalisis bagaimana perkembangan “dapur” KFC. Seperti berapa minuman yang laku, berapa yang kembali, berapa cabang, di mana cabang yang paling ramai, dan berbagai informasi lainnya mungkin bisa digali dari adanya kerja sama selama ini.
Karena itu, apa yang dilakukan KFC dengan mengganti kerja sama-entah karena memang sudah habis kontrak atau karena soal kepemilikan McD oleh Sosro-kali ini dengan Frestea, bisa dikatakan langkah yang sangat beralasan. Sebab, informasi yang bisa digali dengan adanya kerja sama semacam itu memang cukup penting untuk perkembangan usaha.
Hal semacam itu memang sangat lazim terjadi. Karena itu, tak jarang, akuisisi sebuah perusahaan akan mengakibatkan terputusnya kerja sama yang sudah dijalin sejak lama. Bukan hanya itu. Perekrutan seseorang dari sebuah perusahaan untuk pindah ke perusahaan pesaing juga acap terjadi. Dengan iming-iming gaji dan fasilitas lebih besar, jika mau pindah, orang tersebut sudah pasti memiliki banyak informasi berharga dari perusahaan lama ke perusahaan baru.
Utamakan Etika dan Moralitas
Begitulah, pentingnya informasi sudah sangat disadari oleh Sun Tzu sejak lebih dari 2400 tahun silam. Maka, sangat mutlak bagi kita yang ingin sukses untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang berguna bagi perkembangan usaha. Dan sebaliknya, sangat penting juga untuk menjaga informasi agar tidak bocor ke pesaing atau ke pihak lain yang mungkin dapat menjegal langkah kita.

Namun, jangan lupa, tetap utamakan etika dan moralitas dalam usaha untuk mendapatkan semua data dan fakta. Sebab, di sanalah integritas kita sebagai pribadi atau perusahaan terpercaya akan diuji! Jangan sampai, reputasi yang sudah dibangun sekian lama, jadi ternoda hanya karena menghalalkan segala cara.
Nari, gali dan jaga informasi. analisis dan olah sebaik mungkin untuk menciptakan kreasi-kreasi tindakan positif yang akan membangun kejayaan bersama.
_______________________
Catatan:
1. Kehidupan sehari-hari, khususnya dunia bisnis, tidak jauh berbeda dengan medan pertempuran. Jika ingin sukses, kita perlu strategi yang tepat! Maka secara rutin setiap bulan, saya dan tim menurunkan tulisan yang membahas strategi perang Sun Tzu, ditambah dengan aplikasinya secara singkat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam bidang bisnis. Selamat menikmati. Salam sukses, luar biasa!!

2. Tulisan ini, dan juga tulisan-tulisan menarik & inspiratif lainnya, dapat dibaca secara penuh di majalah motivasi LuarBiasa. Dapatkan majalahnya di AW Success Shops, Jakarta dan toko-toko buku besar lainnya. Info: (021) 6339523 dan (021) 30303017.

3. Tayangan “Sun Tzu, The Greatest War Strategist” akan hadir di Duta TV, Banjarmasin mulai 1 Juli 2010, setiap Kamis dan Minggu pukul 20.00-21.00 WITA. Saya akan tampil pada awal dan akhir acara untuk memberikan komentar/ulasan singkat. Bagi teman-teman yang berada di sana, saksikan ya. Tentunya banyak manfaat atau pesan yang bisa kita ambil dan praktikkan sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini.

Sumber Artikel :www.andriewongso.com/artikel/artikel_tetap/3457/Kekuatan_Spionase_ala_Sun_Tzu/