>Akhirnya Aku Buang Ilmu Hikmah dan Kanuragan

>

Badrul Munir / 34 Th – Mantan Guru Kedigdayaan
Jika Anda memiliki pertanyaan, “apa bedanya antara Sufi dan dukun? ”Sodorkan saja pertanyaan itu ke Badrul Munir. Pasalnya lelaki lajang kelahiran Bogor, yang akrab disapa Munir itu, sebelum bertarekat, ia lama berjibaku di dunia

paranormal, kadigdayan atau ilmu hikmah.

Ilmu Supranatural yang dimiliki Munir sebenarnya effect dari kesungguhannya mendalami Silat Cimande, satu dari empat aliran pencak silat tanah Pasundan. Tiga aliran lainnya adalah Cikalong, Sabandar dan Sera. Kemampuannya memperagakan jurus-jurus pencak silat yang sudah dikenalkan oleh seorang pendekar bernama Kahir sejak tahun 1760 ini membuatnya merasa perlu mendalami ilmu kebal dan ilmu kehadiran atau ilmu hikmah.

Berbagai guru dari berbagai daerah seperti Sukabumi, Cianjur dan Banten, dengan berbagai keahlian, didatanginya. Aneka ragam amalan dari yang berbahasa Jawa, Sunda sampai Arab ia dawam-kan dengan tujuan disegani kawan dan tak dapat dijatuhkan lawan.

Kesohoran Munir sebagai guru silat dan hikmah yang “digdaya” mulai menggema gaungnya, setidaknya dilihat dari jumlah muridnya yang mencapai hingga ratusan orang, atau tamu yang sowan kepadanya mulai dari yang minta penglaris, pengasih sampai calon Bupati yang minta dukungan kadigdayan agar dapat memenangkan pemilihan. Terlebih, guru muda ini selalu tampil terdepan disetiap penggerebegan tempat-tempat judi dan maksiat di daerahnya.

Hanya bermodalkan bacaan-bacaan sejenis, Yaahuu jabardas-jabardis yartatas keris Soleman, den kaya keris mengkana landhepe tangan ingsun, lalu tangan menggebrak meja, musuh akan menjadi ciut dan gagu, atau hanya dengan menggebrak tangan kanan diatas tanah, puluhan lawan yang menyerang akan terpelanting, kocar-kacir, tidak keruan.“Praktis. Setiap malam saya tidur hanya dua jam cuma untuk meladeni tamu yang terus berdatangan,” kata Munir mengenang.

Diantara amalan dan wiridan yang dimiliki, Munir lebih tertarik untuk mengamalkan Hizb Khofiy, Hizb Bahr dan Hizb Nashor karya Imam Abul Hasan Asy-Syadziliy. Mungkin karena alasan “kedahsyatan kekuatan” didalamnya, ketiga hizb itu mendapat tempat istimewa dihati Munir. Tidak hanya itu, dalam diri Munir ada dorongan kuat untuk mengenal siapa Imam Abul Hasan Asy-Syadziliy. “Ada sejenis invisible hand yang mendorong saya untuk mengenal lebih jauh sosok Abul Hasan Asy-Syadziliy, penulis ketiga hizb yang sering saya wiridkan tersebut” tutur Munir.

Pucuk dicita ulam tiba. Dari Majalah Cahaya Sufi, Munir menemukan runtutan silsilah Imam Abul Hasan Asy-Syadziliy pada seorang Mursyid Pengasuh Pesulukun Tarekat Agung (PETA) di Tulung Agung Jawa Timur. Tanpa pikir panjang, mantan mahasiswa IAIN Jakarta ini langsung pergi ke Tulung Agung, dengan satu harapan ia dapat mengasah dan mempertajam lagi ketiga hizib yang sudah rutin diwiridkannya. Sepanjang perjalanan menuju Tulung Agung, Munir memimpikan ketiga hizibnya itu, ibarat sebuah sebuah keris, akan dapat lebih memancarkan pamornya, kelak sekembalinya dari Tulung Agung.

Apa yang didapatinya setibanya di pondok PETA ? Munir dianjurkan untuk suluk, berbai-at dan diminta membuang semua ilmu hikmah atau kanuragan yang pernah dipelajarinya. Sebagai gantinya, ia hanya diberitahu tiga hal yang harus dimohonkannya kepada Allah Swt; Terang hati; Tetap Iman; Selamat didunia dan akhirat, termasuk ketika mewiridkan tiga hizb favoritnya itu. “Ach, apa iya ?,” Munir membatin waktu itu.

Tak mudah awalnya bagi Munir menerima anjuran tersebut, terutama ketika dirinya diminta untuk membuang ilmu kanuragan nya. Ia merasa eman sebab ilmu-ilmu itu didapati nya melalui proses yang panjang, berkeringat dan berdarah-darah. Ia malah lebih memilih memperdalam kedigdayaan ketimbang menyelesaikan studi S1 nya. Apalagi jika dilihat dari sisi materi dan status sosial, mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyyah ini telah mendapatkan semuanya dan merasa nyaman dengan ilmu-ilmu beraroma wingit-mistik dan silat Cimandenya, yang bersilsilah dari Kahir, Rangga, Ace Naseha, H. Abdul Shamad, H. Idris, H. Adjid, H. Zarkasih, H. Niftah dan H. R.A. Sutisna, yang dipunyai itu

Mendapat penjelasan bahwa lelaku yang dijalaninya selama ini telah melesat jauh dari hal-hal yang diridlai oleh Allah Swt; berpuasa, tapi tujuannya agar dikunjungi banyak tamu; dapat membuat tubuhnya kebal dari timah panas dan benda-benda tajam. Munir hanya bisa diam, tersipu.

Sesaat kemudian, Munir pun menyadari bahwa ilmu kehadiran yang dipunyainya lebih banyak dibantu oleh kekuatan gaib terutama yang datang dari bangsa jin. Hal ini bisa dilihat ketika ilmu kehadiran nya bekerja, betapa orang yang “dihadiri” (baca; dirasuki), suaranya tiba-tiba berubah menjadi datar tanpa intonasi; kekuatan fisiknya melebihi kekuatan yang sebenarnya; tatapan matanya pun tajam, kosong lurus kedepan; pada tingkatan tertentu orang yang kerasukan mampu berbuat sesuatu yang tak lazim seperti terbang atau melempar benda yang beratnya hingga mencapai ton-tonan hanya dengan sebelah tangan dengan sekali gerakan saja; matanya mendelik hingga hanya terlihat kelopak putihnya saja dan seterusnya. Munir kembali terdiam, tersipu.

Sejak suluk kali pertamanya itulah, ia buang seluruh amalan, semua wiridan yang pernah dipunyainya sebelumnya.
Kini, setelah beberapa kali suluk, Munir mulai memahami pelajaran pertama yang didapatinya ketika baru menapaki Dunia Sufi yakni: Terang hati; Tetap Iman; Selamat didunia dan akhirat. “Tiga hal itu, saya rasa modal pertama dan paling utama untuk setiap manusia yang hidup didunia,” tuturnya. “Tanpa itu semua, manusia akan selalu terjerembab pada jurang-jurang kekonyolan,” tambahnya.

Sesudah beberapa kali mendapat ijazah amalan-amalan tarekat syadziliyyah ia semakin merasakan dirinya bukan apa-apa selain seorang hamba yang lemah, penuh hina dan dina. Ia semakin merasa malu jika ada dorongan halus yang mendorongnya untuk bertanya apakah hatinya sudah bersih dan suci atau sudah di maqom manakah ia kini berada.

Munir juga sangat ketat mewaspadai dirinya dari setiap vested interest yang tanpa disadari bisa merasuki siapa saja termasuk pengamal tarekat sekalipun. Ia tak ingin terperosok pada kekeliruan yang pernah dialaminya, menggunakan “jurus zikir” kepada setiap orang yang datang meminta bantuan batinnya. “Saya geli bercampur sedih ketika melihat ada diantara jamaah tarekat syadziliyyah yang masih sok bergaya dukun, memberi jaminan bahwa kalau dzikir tertentu dibaca sekian kali, maka maksudnya (seperti naik pangkat, ngusir jin, banyak murid atau ramai pembeli) akan tercapai,” ungkap Munir yang kalau saja muak kepada sesama dibolehkan agama ia akan muak (terutama) kepada para pengamal tarekat yang selalu disibukkan oleh urusan-urusan wirid dengan perasaan seolah-olah tengah melakukan kebaikan padahal semua yang dilakukannya itu (sebenarnya merupakan lakulampah dunia para dukun yang) selalu digantungkan pada khasiat, mujarab, bisa begini dan bisa begitu.

Ketika Cahaya Sufi menanyakan kenapa Munir masih mengajarkan Silat Cimande, alasan utama yang disampaikannya karena Guru Ruhaninya, Syeikh Sholahuddin, memintanya untuk terus menularkan kepada orang lain, disamping Silat Cimande yang ada saat ini sudah dibersihkan dari ritual mistik. “Silat Cimande yang saya tularkan sekarang ini tidak lebih dari sebuah amanat dalam membangun dan mengembangkan kepribadian dan karakter mulia anak-anak muda dikampung ini, Mas. Silat itu cuma sebagai sarana mengajak teman-teman (muda) untuk secara bersama-sama “mengunjungi” Allah, Mas,” beber Munir.

Meski sudah lebih dari enam kali bersuluk, sikapnya secara syar’i masih tetap terbilang wajar. Hanya saja memang, ia semakin tegas menjaga jiwa dan nuraninya agar tidak terkotori oleh pengaruh keindahan dan hiruk pikuk dunia. Ia juga selalu menjaga agar tidak berlebihan baik dalam ucapan, tindakan, hasrat dan keinginan.

Yang pasti. berlama-lama bersama Badrul Munir akan membawa kita untuk merenungkan sebuah hadist Nabi Saw: “Betapa banyak amal ibadah yang tampak bersifat ukhrawi tapi sebenarnya duniawi….”

SUFINEWS.COM

Iklan

>Mind Mapping : cara memaksimalkan kerja otak.

>

Buntu menemukan solusi? Macet dalam berkreasi? Cobalah mind mapping. Cara sederhana ini telah banyak membantu saya menyelesaikan pekerjaan.

Tony Buzan, pencipta metode mind map ini, terinspirasi oleh komputer di tahun 1971 yang dilengkapi dengan manual pemakaian hingga ribuan lembar. Dia heran, mengapa otak manusia yang jauh lebih hebat tidak disertai manual penggunaan? Maka dia menciptakan alat mind map sebagai cara memaksimalkan kerja otak.

Prinsipnya sederhana, cukup anda ikuti kemana otak berpikir, apa yang terlintas, apa yang teringat, dan tuliskan di atas kertas dalam bentuk coretan yang berkait-kaitan. Coretan tersebut dimulai dari tengah kertas sebagai pusat, kemudian mengembang keluar ke arah tepi kertas. Inilah konsep radiant thinking.

Mind Map berfungsi sebagai alat bantu untuk memudahkan otak bekerja. Manfaat mind map adalah :

* Mempercepat pembelajaran
* Melihat koneksi antar topik yang berbeda
* Membantu ‘brainstorming’
* Memudahkan ide mengalir
* Melihat gambaran besar
* Memudahkan mengingat
* Menyederhanakan struktur
* .. dan lain-lain

Saya sendiri sudah cukup lama memakai mind mapping untuk membantu membuat materi training. Terkadang mid map digunakan sebagai coretan awal semua ide yang terlintas saat mengembangkan sebuah topik. Di saat lain, mind map digunakan untuk mempelajari bahan training yang disiapkan oleh tim lain. Terkadang materi itu begitu banyaknya sehingga kalau kita pelajari slide demi slide maka akan kehilangan benang merah dari awal hingga akhir. Terkadang pula memang materi yang dikaji masih berupa bahan mentah yang tak beraturan, sehingga perlu disusun ulang, dibuang, maupun ditambah, sehingga menjadi kesatuan materi yang mengalir. Di sinilah mid map membantu saya menemukan ide utama materi dan menyusun slide dengan benang merah yang sesuai.

Bila Anda sering mengalami pusing karena banyak masalah yang terlintas di kepala, atau banyak ide yang tiba-tiba muncul, atau apapun yang kalau tidak direkam akan membebani otak bawah sadar Anda, maka mind map ini bisa menjadi alat buat menuangkan semua gagasan, pikiran, maupun sampah di kepala tersebut.

Cara membuat mind map sangat gampang :

1. Mulai dengan topik utama – di tengah
2. tulis sub-topik penting
3. tambah dan hubungkan dengan sub-sub-topik
4. Ulangi langkah 2 dan 3 hingga ‘outline’ lengkap

Sekarang juga sudah banyak software mind mapping. Saya sendiri lebih suka coretan tangan, karena lebih bebas, artistik, dan menghibur (diri sendiri). Hasilnya jelek juga nggak papa, kan mind map ini terutama ditujukan bagi diri sendiri.

Mind Mapping sebenarnya juga bisa digunakan untuk brainstorming, jembatan diskusi, berbagi ide, bahkan mengerjakan proyek bersama. Anda bisa membuat pemecahan bersama-sama rekan dalam tim (semua ngomong, lalu ada yang menulis di selembar kertas besar), juga bisa menggabungkan mind map dari anggota tim (bikin masing-masing lalu digabungkan), bahkan mind map bisa dipakai sebagai slide presentasi tiap anggota untuk berbagi ide kepada orang lain.

Sabtu tanggal 17 Maret lalu, diadakan pelatihan mind map di ITB untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan masalah kuliah maupun non kuliah. Pelatihan selama 2 jam lebih tersebut diikuti dengan antusias, dan langsung dipraktekkan. Satu hal yang menjadi penekanan pada pelatihan tersebut adalah menunjukkan kepada para mahasiswa bahwa kalau kita menggunakan cara yang benar, maka potensi diri ini bisa dimaksimalkan penggunaannya. Salah satu caranya adalah metode sederhana yang bernama Mind Mapping ini. Mudah bikinnya, dahsyat hasilnya. Cobalah.

>7 KEAJAIBAN REZEKI: REZEKI BERTAMBAH, NASIB BERUBAH, DALAM 99 HARI, DENGAN OTAK KANAN

>

Bagaimana…
  • mengasah otak kanan, kreativitas, imajinasi, dan intuisi.
  • mengambil keputusan 1.000 kali lebih cepat, dengan otak kanan.
  • mengendalikan Law of Attraction dan nasib, dengan otak kanan.
  • melipatgandakan pengaruh dan go national 10 tahun lebih awal.
  • menjual lebih banyak, lebih cepat, dan lebih mahal
  • memahami 19 amal yang melipatgandakan rezeki
  • menguasai pintu-pintu rezeki, dengan otak kanan

Dengan segala kerendahan hati saya sampaikan, buku ini tidak mengupas tentang ’kesuksesan’, melainkan tentang ’mempercepat kesuksesan’. Istilahnya, percepatan-percepatan, lompatan-lompatan, atau keajaibankeajaiban. Di antara belasan buku saya (yang selama ini sudah dibaca jutaan orang di dalam dan luar negeri), saya pribadi menganggap buku 7 Keajaiban Rezeki ini adalah masterpiece saya. Karena, selain orisinil, materi buku ini juga telah saya uji pada diri saya dan ribuan orang selama 10 tahun terakhir. Di buku ini juga disisipkan CD bonus berdurasi 3 jam, memuat sharing dari tokoh-tokoh, seperti Hendy Setiono (Kebab Turki), Roni Yuzirman (TDA), Tom Mc Ifle (Master Coach), dll. Sharing langsung dari mereka! Tentang apa? Yah, bagaimana mereka membuktikan keajaiban-keajaiban itu dalam bisnis dan kehidupan mereka. Nyata! Makanya, khusus untuk buku ini, saya pun berani menjanjikan 100% money-back guarantee, tanpa pertanyaan apapun! Yap, satu-satunya buku di Indonesia dengan garansi begini. Selamat mencoba dan nantikan keajaiban! Sip?
by. Ippho Santosa

>Perlakuan Dengan Mesra

>

Awal Februari 2005, Marketing with Love diterbitkan oleh Gramedia. Uniknya, karya ini sempat diklaim sebagai konsep pemasaran berbentuk cerita yang pertama di Indonesia. Selain itu, konsep pemasaran ini dilengkapi dengan ilustrasi kartun, lagu dan film populer. Hasilnya? Ternyata publik terutama pemasar dan pengusaha pemula cukup menyukainya. Terbukti, Marketing with Love langsung dicetak ulang setelah empat minggu beredar & berhak menyandang predikat national bestseller. Seminarnya pun ditunggu-tunggu.

Sedangkan ide pokoknya adalah hikmah-hikmah yang dipetik dari cinta untuk memanusiawikan pelanggan. Pertama-tama, simaklah tembang I Will Survive-nya The Cake. Ada sepenggal lirik yang berbunyi, “As long as I know how to love, I knowI’ll be alive.” Tak perlu diperdebatkan lagi, lirik itu seratus persen benar, baik dalam cinta maupun dalam bisnis. Jadi, Anda hanya akan survive dan alive di pasar, jika Anda tahu bagaimana mencintai pelanggan-pelanggan Anda. Love them or lose them!

Nah, untuk menjalankan Marketing with Love di bidang penjualan, pemasar hendaklah mematuhi sekurang-kurangnya delapan imperatif yang disebut Salesmanship for Relationship. Kali ini kita coba membahas salah satu imperatif, yakni personalization, yang juga diistilahkan dengan individualization atau customization. Intinya ialah memperlakukan setiap pelanggan secara spesial. Di mana, pendekatan untuk satu individu tidaklah sama dengan pendekatan untuk individu lainnya.

Kok, repot-repot begitu sih? Yah, lantaran setiap individu itu adalah unik. Dengan, personalisasi, itu membolehkan pemasar untuk menjalin hubungan yang lebih erat dan lebih romantis dengan pelanggannya. Mungkin tidak ada gagasan yang lebih pas dalam hal ini, kecuali One-to-One Marketing, tesisnya ahli pemasaran Don Peppers dan Martha Rogers. Mereka berpendapat, pemasaran massal atau pendekatan satu-untuk-semua itu telah berakhir.

Berterimakasihlah kepada teknologi! Dengan adanya e-mail dan SMS, pemasar bisa memberikan sentuhan personal kepada seluruh pelanggan, dengan cara yang tetap efisien (Dengar saja lagu Nokia Girl karya CELEBrand). Namun demikian, penggunaan surat dan kunjungan fisik pun tidak ada salahnya, kendati sedikit lebih mahal.

Katakanlah, memasarkan mobil. Maka, untuk seorang dokter, kirimkan surat untuknya yang menawarkan benefit profesionalisme. Untuk dosen, tawarkanlah benefit intelektualitas. Untuk pejabat, tawarkanlah benefit citra yang positif. Untuk wanita karir, tawarkanlah benefit kemandirian. Itu adalah salah satu contoh kecilnya. Pokoknya, tidak lagi komunikasi broadcasting, pendekatan satu-untuk-semua. Tetapi, lebih mengacu ke komunikasi pointcasting, pendekatan satu-untuk-satu.

Ada pula yang melabelnya dengan pemasaran dasamuka alias pemasaran berwajah sepuluh. Kami rasa, itu sih sah-sah saja, asalkan tidak menipu atau melebih-lebihkan. Perlu dicatat, pendekatan satu-untuk-satu tidak semata-mata berlaku dalam berkomunikasi. Itu akan jauh lebih ‘menggigit’ apabila dimulai dari produk. Customized product, customized promotion. Alangkah sempurnanya! Dell dan Amazon.com adalah beberapa di antaranya.

Sekedar catatan saja, majalah L’Express edisi terakhir di abad 20 sempat memilih C’est Vous atau ‘Anda’ sebagai Men of The Year 2000, yang bermaksud setiap orang secara individual merupakan kekuatan yang layak dipertimbangkan baik dari segi politik, budaya, seni maupun bisnis.

Tidak mau kalah, seorang futuris Thomas Friedman dalam karya lawasnya The World is Flat menegaskan bahwa globalisasi terkini yang ia namakan dengan Globalisasi 3.0 bukan lagi disetir oleh korporasi raksasa atau organisasi berpengaruh layaknya Bank Dunia, melainkan dikendalikan oleh individu. Ini dipertegas dan diperjelas lagi dalam buku The Long Tail karya Chris Anderson.

Sekonyong-konyong kami teringat konsernya The Corrs, grup musik asal Irlandia. Ketika tampil di Kuala Lumpur, tidak henti-hentinya sang vokalis Andrea menggunakan Bahasa Melayu hanya untuk membuat fansnya merasa istimewa. Wow, dampaknya sungguh luar biasa! Kami saksikan sendiri, selain memancing histeris, ia juga sanggup mendapatkan tempat di hati fansnya secara instan dan spontan.

Tak ubahnya seperti hubungan Anda dan kekasih Anda yang tengah kasmaran. Untuk memenangkan hatinya, sudah sepantasnya Anda memperlakukan kekasih Anda berbeda dengan yang teman Anda lainnya. Dalam artian, dia lebih diistimewakan. Lha, di mata Anda, ia ‘kan tidak sama dengan yang lain. Jadi, bagaimana mungkin Anda memperlakukannya sama dengan yang lain? Dalam konteks pemasaran, Anda boleh menyebutnya pelanggan tapi mesra.

Dikutip dari buku WOW! 25 Formula Bisnis Teruji & Terpopuler (bersama Tantowi Yahya).
@www.ipphosantosa.com/Ippho-Santosa-Artikel-Perlakuan-dengan-Mesra.html

>Darah Lebih Kental Daripada Air

>

Hari gini, siapa yang tidak tahu Paris Hilton? Ia adalah anak dari Richard Hilton dan Kathy Richards, yang juga ahli waris dari Hilton Hotels Corporation dan perusahaan real estate ayahnya. Di bukunya Confessions of the Heiress, ia melontarkan sejumlah tips sebagai seorang pewaris, “Pertama, pastikan lahir di keluarga yang tepat. Kedua, miliki nama yang hebat.” Ada pula seabrek tips lainnya yang rasa-rasanya mustahil diamalkan oleh orang kebanyakan. Sering saya bahas seminar-seminar saya bahwa menjadi muda dan kaya adalah sesuatu yang sukar untuk diraih. Bahkan, hampir-hampir mustahil. Hanya ada dua kemungkinan besar, apakah dia menjadi selebriti atau meneruskan bisnis keluarga. Adakah kemungkinan lain yang lebih masuk akal? Kalau memang masih ada, yah, silakan Anda buat buku tentang itu. ah, terkait orang muda yang kaya, banyak orang yang meremehkannya. Tukas orang-orang, “Ah, pantas saja dia kaya. Bisnis moyangnya! Kalau cuma begitu, saya juga bisa.” Kelihatannya memang segampang seperti itu. Padahal anak muda ini juga menghadapi masalah tersendiri yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh entrepreneur yang merintis bisnis dari nol.

Ada beberapa masalah, katakanlah utang yang kadung bertumpuk-tumpuk, SDM yang terlanjur berjubel dan carut-marut, musuh bisnis di delapan penjuru angin, tuntutan idealis dari orangtua, dan masih banyak lagi. Repotnya lagi, itu semua dibebankan ke bahunya secara tiba-tiba jebret! tidak melalui tahapan-tahapan. Beda dengan entrepreneur biasa. Terlepas dari itu, bisnis keluarga, dosakah? Oh, tidak. Menurut saya, itu sih sah-sah saja. Terutama di Asia, yang mana hubungan antar kerabat begitu rapat. Lihat saja para penerus layaknya Anthony Salim, Putera Sampoerna, Sudhamek AWS, dan Rahmat Gobel. Andai saya di posisi mereka, mungkin saya juga melakukan hal yang sama meneruskan bisnis keluarga (Asalkan cocok, tentunya). Ya, iyalah. Ngapain repot-repot mengotak-atik bisnis dari nol yang kemungkinan berhasilnya jauh lebih kecil? Mendingan menggarap bisnis yang telah teruji.

Ambil contoh Chatalia. Ia menangani bisnis yang ia dirikan bersama ayahnya pada 2 Novemer 2002. Perusahaan ini menjadi pengelola ritel sepatu ABS (All ‘Bout Shoes dan Arena Belanja Sepatu) Shoe Warehouse. Kemudian ia mengembangkan ritelnya dengan konsep swalayan di mana pengunjung dapat mencomot sendiri sepatu yang mereka suka. Gerai ABS tersebar di Tangerang, Bandung, dan Bogor. Adapun investasi untuk menegakkan gerai di Bandung mencapai Rp 6 miliar. Serupa dengan Annete. Usai mengumpulkan jam terbang profesional selama lima tahun di Australia, Annete kembali ke tanah air membantu bisnis keluarga Grup Tugu Hotel. Seterusnya lulusan Teknik Komputer Monash University ini mengendalikan bisnis resto Lara Djonggrang & La Bihzad Bar dan Tao Bar & Dapur Babah Elite. Di sini, pemilik nama asli Melati Tanjungsari kelahiran Malang ini mengutamakan ciri khas asli Indonesia. Misinya, demi mengharumkan nama Indonesia ke pentas kuliner dunia. Tidak tanggung-tanggung Megawati Soekarnoputri, Andi Malarangeng dan Murdaya Poo masuk dalam daftar pelanggannya. Pada 2006 Annete merintis Restoran Shanghai Blue dan Samarra.

Nah, jarang disadari oleh kebanyakan orang, bisnis keluarga memendam benih-benih positif tersendiri. Apa saja sih? Pertama, tingkat loyalitas yang lebih tinggi. Si anak pastilah nurut dan ngikut apa saja yang diperintahkan oleh atasannya, yang kebetulan adalah ayah atau pamannya sendiri. Bekerja sampai 12 jam sekalipun tidak masalah. Toh, itu untuk dia dan keluarganya juga. Ada kompetitor atau krisis? Pasti akan dia sikat habis-habisan. Bukan semata-mata karena bisnis, tapi juga demi nama baik keluarga. Kedua, kadar pengenalan yang lebih intens. Buat apa susah-susah merekrut orang lain yang belum jelas karakter dan performance-nya? Penyesuaian dengan orang baru juga bukan perkara gampang. Yah, mendingan ngambil kerabat sendiri yang sudah ketahuan karakter dan performance-nya. Itulah alasan mengapa Sudono Salim melantik putranya, Anthony Salim untuk memerintah seluruh kerajaan bisnisnya. Ternyata dari dulu, yah sudah begitu.

Awal abad 13, tampuk kekuasaan Sang Penakluk Genghis Khan juga diserah-terimakan kepada putranya, Ogadai Khan, yang lalu digilirkan pada keturunan berikutnya, yakni Mangu Khan & Kublai Khan. Dampaknya, pengaruh Genghis Khan dan anak-cucunya terus bersemayam di tanah Asia selama berabad-abad. Suatu tingkat pencapaian yang gagal disamai oleh Alexander Agung sekalipun. Sejarah Genghis Khan barangkali serupa dengan kisah Jackson Five, yang bertunas menjadi megabintang sekaliber Michael Jackson, Janet Jackson, dan La Toya Jackson. Lagi pula agama menganjurkan membantu anggota keluarga terlebih dahulu ketimbang orang lain. Pepatah dari dataran Tiongkok juga mengisyaratkan, “Darah lebih kental daripada air.” Keluarga itu lebih utama daripada pertemanan, apalagi orang lain. Tentunya, jangan sampai menjurus ke nepotisme yang salah kaprah. Ndak benar itu! Janet Jackson saja terpaksa mendepak ayahnya sebagai manajer karena dianggap bermasalah.

Lantas, adakah sisi negatifnya? Ya pastilah. Masak mau enaknya saja? Pertama, tercampurnya persoalan pribadi dengan bisnis. Sepasang suami-istri yang tengah goncang rumah-tangganya, mana bisa ngurusin pekerjaan sama-sama. Iya tho? Belum lagi kerabat-kerabat yang tidak kebagian posisi. Tidak jadi soal apakah mereka kompeten atau tidak, pasti tuh mereka jealous dan ngomel-ngomel. Dan tahukah Anda, berdasarkan fakta sejarah, perang saudara (civil war) itu jauh lebih kejam daripada perang manapun. Selalu seperti itu! Pada akhirnya, hubungan antar anggota keluarga pun bisa retak bahkanberantakan. Begitulah, persoalan keluarga berimbas ke bisnis atau sebaliknya persoalan bisnis merembet ke keluarga. Vice versa.

Sisi negatif lainnya, apabila si orangtua kurang cermat, maka si anak bisa manja, mau enaknya saja, dan ogah berproses. Dahlan Iskan, pentolan Jawa Pos Group, malah melakoni kebalikannya. Beneran! Si anak Azzrul Ananda justru digembleng dan ‘dipaksa’ untuk tumbuh dari bawah di perusahaannya. Nah, itu bagus. Jadi, akarnya kuat. Tidak seperti tanaman cangkokan yang tiba-tiba saja nemplok di atas. Kedua mantan atasan saya di Malaysia juga begitu. Anaknya dibiarin saja berkeringat-keringat mengelola bisnis keluarga. Eh, bukan mereka tidak sayang sama anak. Justru karena mereka sangat sayang. Mereka bersikap begitu, karena ingin mendidik dan mengasah anaknya. Bukan digojlok asal-asalan. Saya setuju itu. Begitulah, darah lebih kental daripada air. Terakhir, saran saya untuk pengelola bisnis keluarga, hormatilah entrepreneur yang merintis bisnis dari nol. Begitu pula entrepreneur, hormatilah pengelola bisnis keluarga. Kedua-duanya memiliki dilema tersendiri yang saya jamin masing-masing pasti terkaget-kaget seandainya bertukar posisi. Percayalah, memang begitulah adanya. Saya sama sekali tidak mengada-ada. Anda pikir saya tukang dongeng?

Saran saya khusus untuk pengelola bisnis keluarga, jangan pernah jadi tumbuhan benalu, yang bisanya cuma morotin induknya. Tidak malu apa? Jadilah pemberi pupuk, di mana Anda turut memelihara bahkan membesarkan bisnis. Kalau orangtua Anda berhasil dengan bisnisnya, berarti Anda harus lebih daripada itu. Bukankah Anda sudah diberitahu ilmunya tidak perlu lagi menjalani sendiri untuk mengetahuinya. Bukankah Anda sudah didukung materi tidak perlu lagi mengais-ngaisnya sendiri.

Dikutip dari buku 10 Jurus Terlarang! Kok Masih Mau Bersaing Cara Biasa?
@/www.ipphosantosa.com/Ippho-Santosa-Artikel-Darah-Lebih-Kental.html

>Bisnis Pelayanan, Bisnis Persiapan

>

Pagi itu di Holiday Inn Bandung, saya berbagi pengalaman untuk Bio Farma, produsen vaksin terkemuka di tanah air yang berusia lebih dari 100 tahun. Esoknya, saya melototin konser Muse, band jenius asal Inggris yang menggemparkan dunia, bersama dengan 7.000-an penonton lainnya di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta. Walau terhitung tidak murah, tetap saja 95 persen tiketnya diborong oleh penonton (dan calo tentunya).

Bagi saya, musik Muse sangat eksentrik dan futuristik. Ah, pokoknya sukar didefinisikan. Namun di atas segalanya, yang membuat saya terperanjat adalah aksi panggung vokalisnya. Wuih, memukau! Sambil menaik-turunkan vokalnya, tangannya tiada henti menyayat-nyayat gitar dengan kecepatan tinggi.

Itu tok? Tidak, tidak. Selain berlari, sesekali ia juga berpose layaknya rocker sejati. Bahkan tanpa beban, ia menukar-nukar instrumen antara gitar dan piano (juga memainkannya). Dalam hati, saya bergumam, “Wow, ini baru show!” Berbeda dengan aksi band Good Charlotte yang saya tonton beberapa waktu sebelumnya menjemukan.

Esok siangnya saya ngobrol berjam-jam dengan seniman senior WS. Rendra dan istrinya di Grand Hyatt Jakarta. Selain bertukar pikiran tentang grup musik saya ANDALUS, kami juga menyinggung soal teater dunianya Rendra. Ia mengaku, untuk sebuah pementasan berdurasi 2 jam saja, ia membutuhkan persiapan sekitar 3 bulan. Sebagai pembicara seminar, saya sih tidak heran. Karena saya juga menggodok persiapan yang kurang-lebih serupa untuk sebuah topik. Dan saya yakin, Muse juga begitu. Paling tidak, untuk penampilan perdana.

Ternyata bisnis berbasis pelayanan tak ubahnya seperti show, yang mana identik dengan persiapan. Katakanlah, rumah sakit, salon, hotel, dan bank. Begitu sebuah bank dibuka jam 8 teng, berarti sebuah show dimulai. Bukan cuma itu, seluruh personil juga dituntut perform sesuai skenario. Ndak boleh akting seenak udel. Untuk berapa lama sih? Setidaknya, sampai 9 jam berikutnya. Nah, agar show berlangsung apik dan menarik, maka persiapan kudu matang. Ya, iyalah. Mana boleh setengah matang? Anda pikir telor mata sapi?

Dan perlu digarisbawahi, kadang kala durasi persiapan itu jauh lebih lama daripada durasi show. Sebenarnya, persiapan sebuah bank memakan waktu bertahun-tahun sebelum beroperasi untuk pertama kalinya. Setelah beroperasi, tetap saja persiapan menjadi suatu keniscayaan. Itu tidak bisa dipungkiri. Bentuknya bisa berupa morning briefing, rapat harian,evaluasi bulanan, pelatihan berkala, koordinasi lapangan, dan masih banyak lagi. Yah, persiapan demi persiapan.

Saya teringat ketika 2 hari berada di Disneyland belum lama ini. Sekedar berbagi cerita, di sana setiap jengkal didesain tidak lain untuk memuaskan indera penglihatan dan indera pendengaran pengunjung-pengunjungnya. Sepertinya, segala khayalan masa kecil dihalalkan di theme park tersebut. Beneran! Dan dapat dikatakan, Disneyland betul-betul berhasil menjamu tamu-tamunya yang berdatangan dari seluruh penjuru bumi.

Siangnya sempat saya menyaksikan pementasan opera Lion King, yang jauh-jauh hari sudah dikenal sebagai film box office. Diperkaya dengan tembang legendaris dari Elton John, Circle of Life dan Can You Feel The Love Tonight, pementasan itu bagaikan dongeng. Betapa tidak? Tanpa diduga-duga, para pemain muncul dari dasar lantai atau dari langit-langit. Belum lagi binatang-binatang tiruan berukuran raksasa yang berakting di tengah-tengah panggung. Dan segudang kejutan lainnya. Dengan pementasan yang begitu mempesona, saya jadi tidak habis pikir betapa melelahkan persiapan mereka.

Malamnya meski gerimis ada pertunjukan penutup yang tidak boleh dilewatkan, yakni atraksi kembang api dan kobaran api di angkasa. Yang satu ini lain lagi serunya. Asal tahu saja, atraksi tersebut menyeruak di sela-sela istana yang megah. Silih-berganti, seolah-olah tiada henti. Ribuan pasang mata dipaksa untuk terbelalak karenanya. Ditambah lagi alunan musik Beauty and The Beast dan A Whole New World yang membahana selama setengah jam. Telinga bak dininabobokan. Kok bisa, ya? Sekali lagi, prinsip dasarnya ialah persiapan.

Seperti yang disinggung sebelumnya, bisnis riil terutama yang berbasis pelayanan juga tidak luput dari faktor persiapan. Pelayanan, mana mungkin dijamah (intangibility), mana mungkin disimpan (inventory absence)? Sudah begitu, produksi dan konsumsi berlangsung serentak pula (inseparability). Dampak pun sukar untuk diseragamkan (inconsistency). Yah, lantaran variabel manusia dan variabel lingkungan. Istilahnya, 4 I’s of Service.

Mengingat keempat ciri tersebut, maka faktor persiapan menjadi kian krusial. Jelas itu! Rasa-rasanya, tidak perlu diperdebatkan lagi. Sebagai pembanding, tengok saja persiapan dan penampilan Muse, Rendra, dan Disneyland. Ringkasnya, gagal mempersiapkan berarti Anda mempersiapkan kagagalan. Camkan itu!

Dikutip dari buku Begini Harusnya Bisnis!
@www.ipphosantosa.com/Ippho-Santosa-Artikel-Bisnis-Pelayanan.html

>Sambutlah Anti Brand

>

Empat kontestan dari Belanda, Portugis, Jepang, dan Indonesia mengikuti perlombaan adu tahan terhadap bau busuk. Sesudah keempat kontestan dimasukkan ke dalam kandang kambing yang luar biasa tengiknya, lantas juri menghitung berapa lama mereka sanggup bertahan di dalamnya. Yang paling lama bertahan, dialah pemenangnya.

Setelah satu jam berlalu, pintu kandang kambing pun terbuka dan keluarlah si Belanda dari kandang tersebut. Setelah dua jam berlalu, pintu kandang kembali terbuka dan keluarlah si Portugis berbarengan dengan si Jepang. Akibat didera bau busuk sekian lama, ketiga-tiganya langsung semaput dan dilarikan ke rumah sakit.

Terus, bagaimana dengan si Indonesia? Jam demi jam dilewati, akan tetapi ia tetap bertahan di dalam. Tepat duabelas jam, akhirnya pintu kandang terbuka. Ternyata yang keluar bukannya si Indonesia, melainkan si kambing! Sambil berjalan sempoyongan, si kambing menggerutu dalam bahasa hewan, “Berani-beraninya manusia nyaingin gue.”

Persaingan, siapa sih yang sanggup menghindar darinya? Dan sudah menjadi hukum alam, begitu mengorbit, merek akan berhadap-hadapan dengan anti-brand. Di tanah air, kesuksesan Flexi dan Indomie mengundang anti-brand namanya Esia dan Mi Sedaap. Hadir pula Filma, anti-brand-nya Bimoli. Indopos, anti-brand-nya Kompas (Konon, inilah babak baru pergulatan antara Dahlan Iskan dan Jakoeb Oetama).

Bagaimana di luar negeri? Yah, kurang-lebih sama saja. Kesuksesan Windows dan PlayStation mengundang anti-brand bernama Linux dan X-Box. Ada pula Warner Bros, anti-brand-nya Walt Disney. Papa John’s, anti-brand-nya Pizza Hut. Seiring perjalanan waktu, gesekan anti-brand pun semakin keras. Undoubtedly!

Persis seperti dunia entertainment, di mana popularitas seorang celeb juga sering dibuntuti tentangan dan tantangan. Perlu contoh? Lihatlah, Britney Spears yang dikecam oleh Christina Aguilera. Boy band Backstreet Boys yang diejek oleh band alternatif Blink 182. Inul Daratista yang dihujat oleh Rhoma Irama. Nah, apakah penolakan-penolakan itu berhasil memudarkan popularitas mereka? Ternyata, apa yang terjadi malah sebaliknya. Siapa sih yang meragukan ketenaran Britney, Backstreet Boys dan Inul? Setidak-tidaknya ketika itu. Dunia politik pun tidak luput dari pengecualian. Pamor SBY justru meroket bahkan menang telak saat pemilu setelah dilecehkan sebagai anak kecil oleh lawan politiknya. Sidang pembaca sekalian, itulah manfaat nomor satu dari anti-brand, yakni melejitkan bahkan melambungkan popularitas.

Hei, tunggu dulu! Jangan salah paham, ya! Di sini saya tidak berkhotbah bahwa anti-brand tidak perlu diwaspadai. Bukan, bukan! Waspada, itu sih harus. Apa yang saya coba ungkapkan di sini adalah sejumlah dampak positif yang jarang diketahui oleh kebanyakan orang.

Di antaranya, mengedukasi & menghimpun konsumen, sehingga pada akhirnya memperluas market size secara keseluruhan. Sebenarnya, perseteruan tiada henti antara Kacang Garuda dan Kacang Dua Kelinci memaksa konsumen untuk lebih aware akan keberadaan kacang ketimbang snack yang lain. Selain itu, anti-brand juga memicu dan memacu potensi diri. Lebih jauh lagi, anti-brand akan menebar citra positif pada seluruh pemain sekaligus menjadi bahan benchmarking.

Jadi, soal musuh, nggak perlu dikuatirkan. Nabi saja punya musuh, apalagi Anda! Justru kemasyhuran Anda patut diragukan, seandainya Anda tidak pernah ditentang dan ditantang. Ada pepatah yang memperingatkan, “Semakin tinggi pohon, semakin kuat anginnya.” Dirangkai dengan, “Kalau Anda tidak ingin diterpa angin, maka jadilah rumput dan relakanlah diri Anda untuk diinjak.” Hm, pilih yang mana? Bagi saya, akan jauh lebih menyenangkan menjadi besar, meskipun untuk itu saya terpaksa digencet oleh anti-brand. Siapapun dia!

Barangkali ada yang bertanya, “Saudara Penulis, apa yang mesti kami perbuat jika nyatanya anti-brand tidak pernah muncul?” Aha! Anda telah bertanya pada orang yang tepat. Jawaban saya, “Ciptakanlah anti-brand bagi merek Anda sendiri!” Terkejut? Ah, kalau begitu, jantung Anda terlalu lemah. Semestinya, Anda tidak perlu terkejut.

Coba cermati dulu Elex Media Komputindo, Grasindo dan BIP yang merupakan seteru sekaligus sepupu dari Gramedia. Fanta, Sprite dan Sarsi yang merupakan saingan terdekat sekaligus saudara terdekat dari Coca Cola. Apa pula kaitan antara Radar Surabaya dan Jawa Pos? Mentari dan Matrix? Citylink dan Garuda? Nissan dan Infiniti? Semua jawabannya sama: anti-brand yang berasal dari satu keluarga besar. Begitulah anti-brand, layak untuk disambut. Hm, ada pertanyaan?

Dikutip dari buku Hot Marketing: Cara Paling Panas Mengorbitkan Merek.
@www.ipphosantosa.com/Ippho-Santosa-Artikel-Sambutlah-Anti-Brand.html