>Kreativitas Bisnis

>

Kayabukiya, sebuah pub di pinggiran Tokyo, telah merekrut Yat-chan dan Fuku-chan, dua ekor monyet menjadi pelayan. Betul, m-o-n-y-e-t, monyet. Dengan pakaian tradisional, monyet ini hilir-mudik membawakan handuk hangat dan sake dari dapur. Bahkan monyet ini sedikit-sedikit dapat mengerti perintah pelanggan.

Di sana, pelanggan cukup berteriak, maka monyet ini akan datang seketika. Agak berbeda dengan monyet kebanyakan, mereka tidak terlalu suka diiming-imingi kacang biasa. Sebagai gantinya, mereka lebih suka diiming-imingi edamame –semacam kacang kedelai. (Saya langsung teringat kisah seorang agen asuransi yang dikangeni klien-kliennya. Pasalnya? Selalu ada seekor monyet kecil yang bertengger di bahunya.) Kreatif ‘kan?

Menurut konsultan Richard Laermer, dalam dunai bisnis atau marketing, kreativitas berbisnis selalu diletakkan di akhir sebuah proses. Ini keliru! Idealnya, di awal. Mungkin melalui penamaan yang greget, penyajian produk yang greget, promosi yang greget, dan masih banyak lagi. Penyajian produk dengan memanfaatkan monyet adalah salah satu caranya. Barangkali, Anda punya cara yang lainnya ?
inspired by Ippho Santosa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: