>Pengendalian Hawa Nafsu

>Cinta kita kepada Allah SWT dan keyakinan bahwa kehidupan di dunia ini suatu saat akan berakhir dan di akhirat nanti masing-masing kita harus mempertanggungjawabkan setiap detik perjalanan hidup di dunia, memiliki andil yang sangat besar dalam mengendalikan kecenderungan hawa nafsu.

Suatu saat terjadi dialog antara Rasulullah SAW dengan Hudzaifah Ra. Rasulullah Saw bertanya kepada Hudzaifah. Ya Hudzaifah, bagaimana keadaanmu saat ini? Jawab Hudzaifah: “Saat ini saya sudah benar-benar beriman, ya Rasulullah”. Rasul kemudian mengatakan, “Setiap kebenaran itu ada hakikatnya, maka apa hakikat keimananmu, wahai Hudzaifah?” Jawab Hudzaifah: Ada “dua”, ya Rasulullah. Pertama, saya sudah hilangkan unsur dunia dari kehidupan saya, sehingga bagi saya debu dan mas itu sama saja. Dalam pengertian, saya akan cari kenikmatan dunia, lantas andaikata saya dapatkan maka saya akan menikmatinya dan bersyukur kepada Allah SWT. Tapi, kalau suatu saat kenikmatan dunia itu hilang dari tangan saya, maka saya tinggal bersabar sebab dunia bukanlah tujuan. Bila ia datang maka Alhamdulillah, dan bila ia pergi maka, Innalillaahi wa inna ilaihi raji’un. Yang kedua, Hudzaifah mengatakan, “setiap saya ingin melakukan sesuatu, saya bayangkan seakan-akan surga dan neraka itu ada di depan saya. Lantas saya bayangkan bagaimana ahli surga itu me-nikmati kenikmatan surga, dan sebaliknya bagaimana pula ahli neraka itu merasakan azab neraka jahanam. Sehingga terdoronglah saya untuk melakukan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang-Nya”.

Mendengar jawaban Hudzaifah ini, Rasul langsung saja memeluk Hudzaifah dan menepuk punggungnya sambil berkata, “pegang erat-erat prinsip keimananmu itu, ya Hudzaifah, kamu pasti akan selamat dunia akhirat”. Bila kita cermati dialog tersebut, paling tidak, ada “dua” hikmah yang bisa kita petik. Pertama, iman kepada Allah, dengan mencintai Allah itu di atas cinta kepada selain Allah. Dan yang kedua, selalu membayangkan akibat dari setiap perbuatan yang dilakukan di dunia bagi kehidupan yang abadi di akhirat nanti.

Di dalam beberapa ayat, Allah SWT menjelaskan tentang sifat-sifat orang-orang yang muttaqin, mereka di antaranya adalah yang meyakini akan adanya kehidupan akhirat. Orang yang beriman akan adanya kehidupan akhirat, akan membuat dia mampu mengendalikan kecenderungan hawa nafsunya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak meyakini akan adanya kehidupan akhirat, “Mereka tidak pernah takut dengan hisab Kami, dan mereka telah mendustai ayat-ayat Allah dengan dusta yang nyata.” (An Naba’, 78 : 27-28)

Di dalam Alquran, Allah SWT mengisahkan dialog sesama Muslim di akhirat yakni antara Muslim yang ahli surga dengan Muslim berdosa yang masuk dalam neraka jahanam. Muslim yang langsung masuk surga bertanya kepada Muslim berdosa yang masuk ke dalam neraka. “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka ? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan hingga datang kepada kami kematian.” (Al Muddatstsir, 74 : 42-46)

Menurut Alquran, kebanyakan orang-orang yang kufur adalah mereka yang akhir hidupnya penuh dengan kemaksiatan. Ini terjadi karena mereka tidak mengimani bahwa kehidupan mereka akan berakhir di alam akhirat dan mereka harus mempertanggungjawabkan seluruh aspek kehidupan mereka selama di dunia. Demikian pula, Allah SWT mengisahkan kesombongan Fir’aun dan orang-orang yang menyembahnya, “Sombonglah Fir’aun itu dengan seluruh pengikutnya di muka bumi tentu dengan alasan yang tidak benar. Dan mereka mengira, bahwa mereka tidak akan pernah kembali kepada Kami.” (Al Qashash, 28 : 39)

Kesombongan Fir’aun berakhir saat sakaratul maut. Saat dia menyadari bahwa dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Ketika rombongan malaikat yang bengis-bengis itu mendatanginya saat dia sedang berada di tengah laut, yang dikisahkan para malaikat itu langsung memukul wajah dan punggung mereka. Allah SWT berfirman: “..Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (Al An’aam, 6 : 93)

Pada saat sakaratul maut itu, Fir’aun menyatakan: “Sekarang saya benar-benar beriman dengan Tuhannya Nabi Musa dan Harun”. Namun saat sakaratul maut pintu taubat sudah ditutup. Karena sudah tidak ada lagi ujian keimanan, sebab yang ghaib termasuk alam dan makhluk ghaib sudah terlihat nyata. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (Qaaf, 50 : 22)

Orang yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari pembalasan/akhirat, yang diharapkan dapat mengendalikan kecenderungan hawa nafsunya untuk hanya mencintai yang dicintai Allah dan membenci yang dibenci Allah, yang hanya mencintai sesuatu di dunia jika yang dicintainya itu dicintai Allah SWT.

Dalam sebuah hadis dikisahkan, suatu ketika pada siang hari, Sayidana Umar ra. berkunjung ke rumah Rasulullah SAW di mana saat itu Rasul sedang tidut beristirahat, dengan dada telanjang. Ketika beliau bangun tampaklah pada punggungnya garis-garis merah karena kasarnya alas tidur beliau yang dibuat dari pelepah kurma. Melihat pemandangan ini, Sayidina Umar menangis. Beliau yang terkenal keras saat itu luluh hatinya ketika melihat Rasulullah dalam kondisi seperti itu. Rasul bertanya: “Apa yang membuat kamu menangis wahai Sayidina Umar ? “Umar berkata:” saya malu ya Rasulullah, engkau adalah pemimpin kami, engkau adalah Rasul Allah, manusia pilihan, manusia yang dimuliakan-Nya. Engkau adalah pemimpin ummat, namun engkau tidur di atas alas yang kasar seperti ini, sementara kami yang engkau pimpin tidur di atas alas yang empuk. Saya malu ya Rasusulullah, selayaknya engkau mengambil alas tidur yang lebih dari ini”. Rasul menjawab: “Apa urusan saya dengan dunia ini? Tidak ada! Urusan diri saya dengan dunia ini kecuali seperti orang yang sedang mengembara dalam musim panas menempuh sebuah perjalanan yang cukup panjang, lalu sekejap mencoba bernaung di bawah sebuah pohon yang rindang untuk sekejap melepas lelah. Setelah itu dia pun kemudian pergi meninggalkan tempat peristirahatannya”. Kata Rasul: haruskah saya korbankan kehidupan yang abadi hanya untuk bernaung sejenak menikmati itu? (HR. Ahmad, Ibnu Habban, Baihaqi)

Selain kisah di atas, ada kisah lain yang layak kita renungkan di mana suatu ketika Khalifah Umar kedatangan putranya, Abdullah, yang meminta dibelikan baju baru. Secara spontan saja Sayidina Umar langsung marah sambil mengatakan: “Apakah karena kamu seorang anak Amirul Mu’minin lantas kamu ingin bajumu selalu lebih baik dari anak-anak yang lain ? Jawab Abdullah: Tidak! Saya khawatir malah kondisi saya ini akan menjadi fitnah, menjadi bahan cemoohan orang lain di mana anak Amirul mu’minin pakaiannya tidak pernah ganti-ganti, sebab dia hanya memiliki dua baju, di mana bila yang satu dipakai maka yang satu dicuci dan seterusnya. Sayidina Umar berkata: “Baiklah Nak, saya ingin belikan kamu baju baru hanya saja ayah saat ini tidak punya uang. Untuk itu kamu saya utus menemui “Khoolin Baitul Maal’ (bendahara negara), sampaikan kepada beliau salam dari ayah dan katakan pula bahwa ayah bermaksud mengambil gajinya bulan depan untuk membelikan kamu baju baru. Abdullah langsung menemui bendaharawan negara dengan mengatakan: “Ada salam dari ayah. Dan, ayah minta supaya gaji bulan depan bisa diserahkan saat ini untuk membelikan saya baju baru”. Bendaharawan tersebut mengatakan: “Nak, sampaikan kembali salamku kepada ayahmu, dan katakan bahwa aku tidak bersedia mengeluarkan uang itu”. Tanyakan kepada ayahmu, apakah ayahmu yakin sampai bulan depan beliau masih menjabat Amirul Mu’minin, sehingga berani mengambil uang gajinya bulan depan sekarang ? Andaikata dia yakin sampai bulan depan dia masih Amirul Mu’inin, yakinkah sampai besok dia masih hidup, bagaimana kalau besok ia meninggal dunia padahal gajinya bulan depan sudah dikeluarkan. Mendengar jawaban bendahara negara yang demikian itu, pulanglah Abudullah segera menemui ayahnya sambil menyampaikan pesan dari bendaharawan tersebut.

Mendengar penuturan anaknya, Umar langsung menggandeng tangan anaknya sambil mengatakan, antarkan saya menemui bendaharawan tadi. Begitu sampai di hadapan bendaharawan tersebut, Sayidina Umar langsung memeluknya, sambil mengatakan, terima kasih, saudara telah mengingatkan saya terhadap satu keputusan yang nyaris saja salah. Demikianlah kisah Sayidina Umar dan masih banyak lagi kisah lain dari perjalanan hidup para sahabat yang patut kita teladani untuk menghadapi dinamika kehidupan yang terus berkembang mengikuti perputaran zaman.

Allah SWT telah mengingatkan tentang bahayanya manusia-manusia yang menjadikan dunia ini sebagai tujuan hidupnya, “Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya.” (An Naazi’aat, 79 : 39) “Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nyadan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” (An Najm, 53 : 29-30)

Akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat yang sedemikian mulianya bisa terwujud tiada lain karena adanya benteng keimanan yang sangat kuat dan kokoh. Semoga kita bisa meneladani apa yang menjadi perilaku Rasul dan para sahabatnya. Amin!

Wallahu a’lam bish-shawab

source : http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/dakwah/09/10/23/84360-pengendalian-hawa-nafsu

Iklan

>Menyelami Keajaiban Power of Listening

>

Oleh Muhammad Syamlan

Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab berdiri di mimbar seraya berkata, “Wahai manusia, dengarkan dan taatilah apa yang aku katakan.” Tiba-tiba Salman al-Farisi, salah seorang sahabat yang berasal dari Persia, berdiri dan berbicara dengan lantang, “Tidak ada lagi kewajiban bagi kami untuk mendengar dan taat kepada Anda.”

Mendengar pernyataan itu, Umar bin Khattab, seorang pemimpin yang terkenal dengan ketegasannya, menerima protes keras dari Salman al-Farisi yang mantan budak. Umar tidak merasa bahwa kritikan yang disampaikan Salman akan membuatnya terhina. Karena itu, ia menerimanya dengan lapang dada dan mencari akar masalah yang membuat perintahnya tidak ditaati.

“Wahai Salman, apa yang membuatmu tak mau mendengar dan tak mau taat?” Salman pun menjawab, “Kami tak akan mendengar dan tak akan taat, sehingga Engkau menjelaskan bagaimana Engkau mendapatkan bagian dua potong kain, sementara kami semua masing-masing hanya mendapatkan satu potong saja?!”

Umar pun jadi mengerti persoalannya. Dengan tenang dan bijak, Umar memanggil putranya, Abdullah bin Umar, untuk menjelaskan perihal pakaian yang dipakainya.

Abdullah menjelaskan, bahwa pakaian yang dipakai oleh ayahnya, salah satunya adalah milikinya yang ia berikan kepada ayahnya. Hal itu dilakukannya, karena badan Umar yang tinggi besar, sehingga bila hanya satu potong kain, maka hal itu tidak cukup untuk dibuatkan pakaian.

Setelah mendengar penjelasan itu, Salman pun lalu berkata, “Kalau demikian, silakan keluarkan perintah, kami siap mendengar dan siap menaatinya.”

Di lain kesempatan, Umar bin Khattab berkhutbah selepas shalat berjamaah. Dalam khutbahnya itu, Umar membuat batasan mahar (maskawin). Tiba-tiba seorang perempuan tua berdiri menentang intruksi Umar itu.

“Atas dasar apa, Anda membatasi mahar yang berhak diterima kaum perempuan, sedangkan Allah tidak membatasinya, bahkan berfirman, ‘Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedangkan kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak (sebagai mahar), maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata’?” (An-Nisa’ [4]: 20).

Mendengar protes perempuan tua itu, Umar terdiam sejenak, lalu segera berkata, “Umar telah salah dan perempuan itu yang benar.” Umar pun mencabut intruksinya.

Itulah sosok Umar bin Khattab. Pemimpin yang dikenal sangat keras, tegas, dan kuat. Namun, dengan lapang dada, dia sangat terbuka dan lembut, sama sekali tidak antikritik dan tidak marah ketika diprotes. Ketika dia melakukan kesalahan, dengan cepat ia memperbaikinya, kendati protes yang disampaikan dikemukakan di hadapan umum. Ia tidak malu untuk mengakui kesalahannya bila terbukti salah. Alangkah menakjubkannya keteladanan Umar.
source : http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/07/12/124280-menyelami-keajaiban-power-of-listening

>Tazkiyatun Nafs

>Judul buku: Tazkiyatun Nafs
Penulis: Dr Anas Ahmad Karzon
Penerbit: Akbar Media
Cetakan: I, 2010
Tebal: xii + 398 hlm

Manusia apabila mengetahui dengan jelas tujuan hidupnya di dunia, maka ia akan memiliki nilai dan makna. Manusia merupakan makhluk istimewa yang dibekali jiwa oleh Sang Maha Pencipta.

Jiwa merupakan pancaran misteri Ilahi yang tersembunyi di dalam diri manusia. Ia dapat menerima arahan kepada kebaikan dan keburukan, dan memiliki berbagai sifat dan karakter, juga memiliki pengaruh yang nyata pada perilaku manusia.

Jika setiap Muslim mampu menyucikan jiwanya, maka ia akan beruntung dan mendapat kebahagiaan dan kesuksesan dunia dan akhirat. Namun, jika jiwanya kotor, maka ia akan sengsara dihimpit oleh dosa dan menyesal seumur hidup di dunia dan merugi selamanya di akhirat.

Buku yang berasal dari disertasi doctor penulisnya di Universitas Ummul Qura, Makkah Al-Mukarramah, Saudi Arabia ini  membahas mengenai hakikat jiwa manusia, dengan metode ulamasalaf yang berpijak pada Alquran dan Sunnah Rasul sebagai acuan  barometer yang dapat membantu manusia menyucikan jiwanya yang kotor.

Penulis memulai bukunya dengan menjelaskan definisi penyucian jiwa. Ia  menegaskan bahwa “Tazkiyatu Nafs”  adalah menyucikan jiwa dari berbagai kecendrungan buruk dan dosa, dan  mengembangkan fitrah yang baik di dalamnya, yang dapat menegakkan istiqamahnya dan mencapai derajat ihsan.”

Ia juga menegaskan, bahwa yang dimaksud penyucian jiwa bukanlah membasmi  sifat-sifat tercela dari diri kita, karena hal ini bertentangan dengan tabiat jiwa dan sifat-sifatnya, serta karakternya yang diciptakan Allah. Namun yang dimaksud adalah dominannya sifat-sifat  baik, dan menekan sifat buruk, serta mengarahkannya kepada  segala yang diredhai oleh Allah SWT.

Kemudian penulis mengupas jiwa manusia, sifat-sifatnya, kondisi-kondisinya, dan penjelasan mengenai berbagai metode penyuciannya.  Bab berikutnya membahas dasar-dasar akidah untuk penyucian jiwa. Termasuk di dalamnya tauhid, komitmen kepada Alquran dan Sunnah, iman kepada qadha dan qadar, dan iman kepada Hari Akhir.
Bab selanjutnya menguraikan teknik-teknis praktis penyucian jiwa,  antara lain ilmu yang bermanfaat, amal saleh, serta muhasabah dan tobat. Setelah itu penulis membicarakan penyakit-penyakit jiwa, penghalang-penghalang penyucian jiwa, dan terapinya. Kemudian, penulis juga mengemukakan ekstrimitas pada sebagian pemahaman yang terkait dengan penyucian jiwa. Lalu, ditutup dengan pembahasan mengenai hasil-hasil penyucian jiwa dengan metode Islam.

Buku ini sangat perlu dibaca oleh setiap Muslim. Nilai-nilai luhur yang diuraikan penulis dalam buku ini merupakan lentera kalbu yang sangat penting untuk menyucikan jiwa menurut Alquran dan Sunnah Rasul. Tidak hanya untuk saat ini, melainkan juga untuk masa depan, bahkan selama hayat di kandung badan.

Red: taufik rachman
Rep: irwan kelana
source : http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/pustaka/10/07/09/124054-menyucikan-jiwa-menurut-alquran-dan-sunnah

>Cinta dan Keakraban Ilahi

>Keakraban adalah kebersamaan yang dicapai dengan cinta. Begitu banyaknya kesamaan diri kita dengan Allah sehingga kita akan merasakan begitu dekat dengan-Nya. Diri kita memang tidak bisa dipisahkan dengan-Nya karena kita semua berasal dari-Nya, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Seperti laut dan gelombangnya, lampu dan cahayanya, api dan panasnya; berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan. Allah dan makhluk-Nya, berbeda tetapi tak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa laut sama dengan gelombang, lampu sama dengan cahaya, atau api sama dengan bara, demikian pula kita tidak bisa mengatakan bahwa makhluk sama dengan Khaliq.

Lautan cinta pada diri seseorang akan mengimbas pada seluruh ruang. Jika cinta sudah terpatri dalam seluruh jaringan badan kita maka vibrasinya akan menghapus semua kebencian. Sebagai manifestasinya dalam kehidupan, begitu bertemu dengan seseorang, ia tersenyumm, sebagai ungkapan dan tanda rasa cinta.

Nikmat sekali bermesraan dengan Allah SWT. Kadang tidak terasa air mata meleleh. Air mata kerinduan dan air mata tobat inilah yang kelak akan memadamkan api neraka. Air mata cinta akan memutihkan noda-noda hitam dan menjadikannya suci.

Cinta tidak bisa diterangkan, hanya bisa dirasakan. Terkadang terasa tidak cukup kosakata yang tersedia untuk menggambarkan bagaimana nikmatnya cinta. Kosakata yang tersedia didominasi oleh kebutuhan fisik sehingga untuk mencari kata yang bisa memfasilitasi keinginan rohani tidak cukup.

Terminologi dan kota kata yang tersedia lebih banyak berkonotasi cinta kepada fisik materi, tetapi terlalu sedikit kosa kata cinta secara spiritual. Mungkin itulah sebabnya mengapa Allah Swt memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena kosa kata spiritualnya lebih kaya. Kosa kata cinta dalam Al-Qur’an menurut ulama tafsir ada 14 kosa kata, mulai dari cinta monyet sampai kepada cinta Ilahi.

Cinta Allah bersifat primer, sementara cinta hamba sekunder. Primer itu inti, substansi. Yang sekunder itu tidak substansial. Pemilik cinta sesungguhnya hanya Allah SWT. Hakikat cinta yang sesungguhnya adalah unconditional love (cinta tanpa syarat). Tanpa pamrih ini cinta primer. Ini berbeda dengan cinta kita yang memiliki kepentingan.

Ketika sebelum kawin, masya Allah, kita sampai kehabisan kata-kata melukiskan kebaikan pujaan kita. Akan tetapi sesudah kawin, kata-kata paling kasar pun tak jarang kita lontarkan.

Unconditional love pernah ditunjukan Rasulullah Muhammad SAW ketika dilempari batu sampai tumitnya berdarah-darah oleh orang Thaif. Rasul hanya tersenyum. “Aduh umatku, seandainya engkau tahu visi misi yang kubawa, engkau pasti tidak akan melakukan ini”, demikian bisiknya,.

Bahkan ketika datang malaikat penjaga gunung Thaif menawarkan bantuan untuk membalas perbuatan orang Thaif itu, Nabi berucap, “Terima kasih. Allah lebih kuasa daripada makhluk. Jangan diapa-apakan. Mereka hanya tidak tahu. Kelak kalau mereka sadar, mereka akan mencintai saya”.

Nabi Nuh AS pernah menyesal sejadi-jadinya kenapa ia pernah mendoakan umatnya binasa. 950 tahun ia berdakwah mengajak kaumnya ke jalan Allah, namun hanya segelintir yang mengikuti ajakannya. Yang lainnya ingkar sehingga Nabi Nuh berdoa kepada Allah agar dikirimkan bencana kepada kaumnya yang ingkar itu. Maka datanglah banjir besar yang menenggelamkan mereka, sedangkan Nuh dan para pengikutnya sudah mempersiapkan diri dengan membuat perahu.

Ada sebuah ungkapan dari ahli hakekat: “Kalau cinta sudah meliputi, maka tak ada lagi ruang kebencian di dalam diri seseorang. Sejelek apapun dan kasarnya orang lain, ia tak akan membalas dengan kejelekan.”

Banyak ulama besar kita telah mencapai tingkatan itu. Imam Syafi’i pernah “dikerjai” oleh seorang tukang jahit saat memesan pembuatan baju. Lengan kanan baju itu lebih besar/longgar dibanding lengan kirinya yang kecil dan sempit. Imam Syafi’i bukannya komplain dan marah kepada tukang jahit itu, malah berterima kasih.

Kata Imam Syafi’i, “Kebetulan, saya suka menulis dan lengan yang lebih longgar ini memudahkan saya untuk menulis sebab lebih leluasa bergerak”.

Indah hidup ini kalau tidak ada benci. Ini bukan berarti kita harus menahan marah. Yang kita lakukan adalah bagaimana menjadikan diri ini penuh cinta sehingga potensi kemarahan kita berkurang. Kita punya hak untuk marah, dan itu harus diungkapkan dengan proporsional.

Jangan karena makanan sedikit kurang enak lalu marah. Istri salah sedikit marah. Banyak hal yang membuat kita marah. Akan tetapi, selesaikah persoalan dengan marah?

Semakin meningkat kadar cinta maka semakin mesra pula belaian Allah SWT. Bagaimanakah nikmatnya belaian Allah SWT? Bayangkanlah seorang bayi yang dibelai ibunya. Tersenyum, dan sekelilingnya menggoda. Itu baru belaian makhluk. Apalagi belaian Sang Pencipta.

Kita pun akan semakin akrab dengan Allah, dan semakin tipis garis pembatas alam gaib di hadapan kita sehingga semua rahasia akan terkuak dan semakin banyak keajaiban yang kita lihat. Seperti sepasang kekasih yang saling mencintai, masih adakah rahasia antara keduanya?

Ruh sifatnya tinggi dan cenderung dekat dengan Allah. Raga sifatnya rendah dan jauh dari Allah. Ruh itu terang, sedangkan raga gelap. Para sufi mengungkapkan, “Wahai raga, sibukkan dirimu dengan shalat dan puasa. Wahai kalbu, sibukkan dirimu dengan bisikan munajat kepada Allah. Wahai raga, ungkapkan iyyka na’budu. Wahai kalbu, ungkapkan iyyka nasta’în.

Ta’abbud mendaki ke atas, sedangkan isti’nah turun ke bawah. Yang melakukan ta’abbud adalah hamba, sedangkan isti’nah adalah Tuhan. Siapa yang naik akan memancing yang di atas untuk turun menyambut. Kalau tidak pernah naik, jangan harap akan ada yang turun.
Indah perjumpaan itu.

Ada ketakutan dan ada harapan. Kadang kita takut kepada Allah, tetapi juga kita berharap. Ada al-khasya dan ada al-raja’. Di balik ketakutan sehabis berdosa ada harapan bahwa kita akan diampuni, ada keinginan bersama Allah kembali. Maka lahirlah tobat. Seperti pendaki gunung yang tak pernah bosan, naik ke atas, terperosok ke bawah, naik lagi, terperosok, dan naik lagi. Semakin tinggi pendakian itu semakin licin dan sulit. Begitulah cobaan bagi manusia. Semakin tinggi kedudukan seseorang maka cobaannya semakin berat. Namun, cobaan itu jangan membuat kita putus asa. Jika kita terus mendaki, pasti kita akan sampai ke puncak.

Ada ketakjuban dan ada keakraban. Ketakjuban itu ada jarak. Untuk mengagumi suatu objek, kita harus mengambil jarak dari objek itu. Indahnya sebuah lukisan hanya akan terasa jika kita agak jauh dari lukisan itu. Keakraban itu tidak ada jarak, atau sangat dekat sekali. Inilah kita dengan Tuhan. Akrab tetapi takjub.

Ada pemusatan dan ada penyebaran. Allah Maha Esa. Kita fokus ke situ. Akan tetapi, apa yang dilihat pancaindera itu beragam dan beraneka. Namun, semuanya terhubungkan dengan Allah. Warna-warni yang kita lihat di alam semesta ini sumbernya satu, Allah Yang Esa.
Ada kehadiran dan ada ketiadaan. Ini lebih menukik. Satu sisi kita merasakan Allah hadir dalam diri kita, di sisi lain hampa. Kadang kita kosong, kadang penuh. Kadang Dia muncul, kadang tiada. Dia adalah Mahaada, meski tak terlihat. Dan yang terlihat ini sebetulnya adalah manifestasi dari Yang Ada. Ketiadaan di sini bukan berarti menafikan.

Ada kemabukan dan ada kewarasan. Yang bisa memabukkan bukan hanya alkohol dan narkoba. Ada mabuk positif dan ada mabuk negatif. Mabuk bagi seorang sufi adalah supersadar (di atas kesadaran). Kesadaran seperti ini susah dijelaskan. Ketika kita sedang bermesraan dengan Allah, menangis di atas sajadah, terisak-isak, orang lain mungkin melihat kita sedang tidak sadar. Akan tetapi, sebenarnya kita sangat sadar, bahkan kita sedang berada di puncak bersama Allah.

Ketika mencintai seseorang saja kita bisa mabuk, begadang semalaman, membuat surat, dan lain-lain. Berkhayal, berimajinasi, membayangkan si dia hadir bersama kita. Bagaimana mabuknya kalau kita mencintai Allah?

Seorang sufi yang sedang mabuk kepada Allah, suka mengungkapkan ucapan-ucapan yang terdengar aneh di mata orang lain (syathahat). Misalnya “tak ada di dalam jubahku ini selain Allah”. Berarti dalam jubah itu ada dua sosok yang bergumul menjadi satu, hamba dan Tuhan. Atau ungkapan subhnî subhnî (Maha Suci aku). Aku adalah Allah, Allah adalah aku.
Aku ini siapa? Tak ada. Yang ada hanyalah Allah. Hanya Allahlah yang wujud. Selain itu hanya efek dari yang wujud.

Ada penafian dan ada penetapan. Kadang kita ragu, benarkah yang datang di dalam kalbu ini Allah? Jangan-jangan bukan, tetapi hanya imajinasi saja. Di sini terjadi pertentangan antara rasio dan rasa. Maka untuk meyakinkannya, kecilkan rasio dan besarkan rasa. Yakinilah bahwa kita telah mendaki, dan kita sudah sampai puncak. Maka yang kita jumpai pastilah Allah. Maka akan ada penampakan. Dan segala rahasia gaib pun tersibak./taq
Red: Republika Newsroom

source :m.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/tasauf/09/04/22/45691-cinta-dan-keakraban-ilahi

>My Facebook Note

>

Jul 15 Sukma Tahu Kapan Raganya Akan Mati
Jul 15 SALAFIYAH MENJAWAB BUKU DAKWAH SALAFIYAH DAKWAH BIJAK
Jul 12 Sejarah Asli Syeikh Siti Jenar : Wali Kesepuluh
Jul 11 NGLURUK TANPA BALA, SUGIH TANPA BANDA, SAKTI TANPA AJI, MENANG TANPA NGASORAKE
Jul 10 GUNTO : Pedang Samurai Peninggalan Jepang yang sesungguhnya
Jul 10 AWAS PENIPUAN : PEDANG SAMURAI PALSU
Jul 8 Pondok Pesantren Pesulukan Tareqot Agung (Peta) Tulungagung
Jul 7 Akhirnya Aku Buang Ilmu Hikmah dan Kanuragan
Jul 3 Malam minggu yang Asyooooiii Pak Dhe………
Jul 2 Catur Yoga – Jnana Yoga
Jul 2 Jnana-Yoga
Jun 26 Manajemen Cinta
Jun 26 Mutiara Hikmah Awwal
Jun 26 Mutiara Hikmah # 1
Jun 25 DAKWAH/DA’WAH DIBAYAR?
Jun 25 Akar terorisme : Kesalahan fahaman terhadap SURAT al – maidah ayat 44
Jun 24 Aneka Kado Yang Tak Dijual Di Toko
Jun 24 Khutbah Perpisahan Rasul saat Haji Wada’
Jun 24 ISLAM BUKAN ARAB
Jun 18 NAMA PARA NABI TERTULIS DALAM PRASASTI EBLA, 1500 TAHUN LEBIH TUA DARIPADA TAURAT
Jun 18 THE SECRET – LAW OF ATTRACTION MENURUT ALQURAN-ALHADITS Edisi 1
Jun 17 Mau Sukses, Jalani Prosesnya
Jun 15 TEKNIK MENGUBAH POLA PIKIR (MINDSET)
Jun 13 INTISARI AGAMA BUDDHA
Jun 13 Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada dan Mahayana (Budha)
Jun 13 Mursyid, Salik, dan Thariqah
Jun 11 Sekilas Kemunculan Thariqoh
Jun 10 Tersesat Di Surga
Jun 10 Urgensi Mursyid Dalam Tarekat
Jun 9 Muslim boleh minum minuman beralkohol ?!
Jun 9 PRANA Aji Chandra Bairawa (Media Anak Muda Bali)
Jun 8 Pengembangan Diri Ala Samurai Sejati
Jun 7 Materi Pokok Pengajaran Syekh Siti Jenar (Jawi 3)
Jun 7 Tentang Allah, Tauhid dan Manunggaling Kawula Gusti (Jawi 2)
Jun 7 Sukma Sejati (Jawi 1)
Jun 6 LEAK (The Untold Story)
Jun 6 Filosofi Leak Ngendih di Bali
Jun 6 Leak, Pengiwa dan Kundalini (Bali Article)
Jun 6 Hakekat dan Kedudukan Tauhid
Jun 4 NUR MUHAMMAD
Jun 4 KADO BUAT YANG MAU DAN SIAP MENIKAH..BARAKALLAHU !!
Jun 4 KUNCI-KUNCI RIZKI
Jun 3 MUROQOBAH
Jun 3 RAHASIA PERJALANAN MENUJU ALLAH BAB 1.A. TENTANG ILM U
Jun 3 ANTARA THARIQAT SESAT DAN THARIQAT HAQ
Jun 1 Ada Apa Antara Yahudi Dengan Kita
Jun 1 Konsep Fana dalam Irfan
Jun 1 Asal Anda Mau, Anda Pasti Bisa
Jun 1 Dialog Bung Karno dan Kadirun Yahya
May 31 TAFAKUR
May 30 KHALIFAH FIL ARD
May 30 Kerukunan Antar Umat Beragama
May 30 Sunan Kali Jaga dan Kejawen
May 29 ATMAN (HINDU)
May 29 BAWANA AGENG DAN BAWANA ALIT
May 29 KOSMOLOGI PENDIDIKAN BERKEBANGSAAN
May 29 SYEKH SITI JENAR
May 29 SERAT WEDHATAMA
May 27 WAKTU
May 26 ZUHUD YANG SEBENARNYA
May 26 Dewa Ruci – Tirta Pawitra Mahening Suci
May 25 Dahulukan Adab-mu Sebelum Ber-Amal
May 24 Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiah
May 24 Pencarian Salman Al-Farisi
May 24 BELAJAR DARI SVAMI VIVEKANANDA
May 23 MUROD & MURID
May 23 MENTADABURI AYAT-AYAT DZIKIR
May 22 Cinta sejati
May 21 Ikhlas By Kang Mung Ali
May 21 Yakinlah Anda Bisa
May 20 catatanku……..
May 18 ENTREPRENEURSHIP
May 18 SUN-TZU THE ART OF WARFARE
May 18 36 Strategi Sun Tzu
May 16 Wirid Lebih Utama Ketimbang Pahalanya
May 12 Napak Tilas Al Mukaram Al Mujaddid Prof. DR. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya Muhammad Amin
May 10 Dzikir
May 6 TRAINING QUANTUM SPEKTAKULER
May 6 Meditasi Sufi ( Muraqabah & Tafakur )
May 5 Mengolah dan Mempertajam Nurani

source :

>Sukma Tahu Kapan Raganya Akan Mati

>

Secuil kisah yang terjadi pada tanggal 22 April 2010. Tujuan deskriptif di sini jauh dari maksud untuk iklan, adigang adigung, untuk berlagak dan show off. Tidak sama sekali. Saya hanya berusaha mengambil hikmah pelajaran di balik semua peristiwa, agar supaya dapat dijadikan suatu pengetahuan, minimal untuk diri pribadi. Bukankah tuhan selalu membuat pelajaran dalam setiap fenomena dan gejala besar maupun kecil sepanjang waktu. Seluruh yang ada (being) maupun kejadian dalam jagad raya ini selalu tergelar “ayat-ayat” sang Kausa Prima. Semua itu menjadi tugas setiap orang untuk mempelajari agar dapat menjalani hidup lebih sesuai dengan rumus-rumus yang tercantum dalam diktat tuhan. Menjadi manusia bijak dan arif, sinergis, harmonis dengan hukum alam, supaya menjadi mudah meraih kemuliaan.

Selebihnya saya ingin share kepada para pembaca yang budiman dan para sedulur NKRI semua tanpa pandang bulu maupun pilih kasih, sebagai wujud persembahan saya, serta sikap welas asih tanpa pamrih yang selalu saya coba sekuatnya untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Siapa tahu kisah atau pengalaman pribadi ini ada sedikit manfaat untuk bahan perenungan kita bersama dalam memahami makna kehidupan yang sejatinya.

Roh Berpamitan

Pada 22 April 2012, waktu itu kurang lebih jam 15.00 wib saat saya bersama keluarga jalan-jalan dari Sukabumi, dengan route Cianjur, seterusnya melewati Jl Cugeunang, Cipanas, kemudian melewati Puncak Pas ke arah Ciawi Bogor, kemudian jalanan mulai menurun terus. Hari itu sepanjang jalan terjadi hujan rintik, lalu berkabut tipis di Puncak dan terasa lebih dingin dari biasanya, pelan-pelan melaju menikmati pemandangan hijau nan indah kebun teh yang agak disamarkan oleh sapuan kabut tipis. Dan sampailah pada suatu tempat, tepatnya setelah melewati tugu botol kecap pas tikungan sebelah kanan jalan arah menuju Jakarta. Pada saat kendaraan melaju pelan, tepatnya di tikungan kebun teh itu, tiba-tiba samar-samar “hadirlah” sosok wanita cantik putih bersih usianya terkesan masih kurang dari setengah abad (tampak lebih muda dari usia sebenarnya). Waktu itu sambil nyetir saya kurang konsen, sehingga lupa-lupa ingat siapa gerangan sosok (roh) wanita tersebut kok rasanya pernah melihat sebelumnya. Rasa-rasanya saya pernah mengenalnya, wajahnya tak asing bagi saya, tapi siapa namanya saya lupa. Lalu saya membangunkan istri yang sedang tertidur di samping kemudi. “…lihatlah ada (sukma) yang datang menghampiri kita! Kenalkah dengan dirinya? Isteri saya spontan menjawab,” oh..itu Ibu Ainun Habibie. Saat itu istri saya mengucapkan salam kepadanya lalu bertanya,”ada apa gerangan Ibu datang kemari? Adakah sesuatu yang urgent? Beliau menjawab,” …saya hanya ingin berpamitan denganmu nak, karena saya sudah akan pergi !

Hanya itulah dialog singkat yang terjadi di antara kami. Kebetulan isteri saya dulu pernah berdedikasi di Habibie Center Jakarta untuk program kemanusiaan. Pantas saja beliau kemari. Karena peristiwa sukma yang berpamitan (akan meninggal) biasanya terjadi kepada seseorang yang telah saling kenal sebelumnya. Diri saya tidak mengenal secara pribadi dengan beliau, tetapi isteri saya pernah mengenal dekat beliau, sehingga tak aneh bila kemudian Ibu Ainun Habibie berpamitan untuk berpindah ke dimensi kehidupan yang selanjutnya, setelah dimensi bumi ini.

Sesampainya di Jakarta, petang hari setelah kami selesai menghadiri suatu acara, kami sempat keingetan mas Kadaryono, sahabat kita yang sering singgah di gubuk ini juga. Saya sempat SMS ke mas Daryono,” …Mas, Bu Habibie kok “datang” untuk “berpamitan” ya ? Apa beliau sdg sakit parah ? Mas Daryono langsung mereply sms saya,” …Pamitan jam pinten Mas ? Sakniki malem Jumat Legi. Lalu kurang lebih pada Jam 23.00 Mas Daryono sms saya memberi kabar,”Ya…Ibu Ainun Habibi sudah dirawat di Jerman sjk 1 bulan yll, mas sabda. Karena bronkhitis kronis dan komplikasi lain.

Saat itu jam 22.00 kami bersua Mas Roy Suryo di rumah beliau Jakarta yang kebetulan barusan pindahan rumah. Saya sempat cerita ikhwal “pertemuan” dengan Ibu Ainun sewaktu melewati jalan Raya Puncak tadi sore. Dan infonya sama, Ibu Ainun sedang perawatan intensif di Jerman karena komplikasi akut. Kami semua lalu berdoa, maneges untuk jalan terbaik, nyuwun kawelasan kepada Gusti Ingkang Murbeng Gesang untuk Ibu Ainun diberikan jalan terbaik versi tuhan.

Dua Kemungkinan Belas Kasih

Pada saat menghadapi seseorang yang sedang sakit kritis, kami sungguh menyadari, tak tahu mana pilihan yang terbaik buat yang sedang sakit. Maka rasanya tak pantas jika kami dalam maneges mendikte tuhan untuk minta kesembuhan, apalagi mohon supaya lekas saja dipanggil. Walaupun harapan saya pribadi tentu saja yang terbaik menurut versi saya sebagai manusia awam, tentu mengharapkan kesembuhan beliau. Akhirnya kami kembali pada prinsip, “jadi manusia mbok ya jangan suka mendikte tuhan…kalau berdoa yang netral saja. Jika berurusan dengan kekuatan tuhan, maka posisikan kita sebagai manusia yang tak tahu apa-apa. Tak tahu apa rencana terbaik menurut versi tuhan untuk suatu peristiwa yang akan terjadi. Tuhan memang Mahabijaksana, tetapi manusia seringkali tak mampu nggayuh kawicaksananing Gusti. Tak mampu memahami kebijaksanaan tuhan. Manusia seringkali gagal dalam memahami apa “kehendak” dari tuhan, sebagai sumber kekuatan keseimbangan alam, kekuatan hukum dan rumus-rumus alam semesta. Padahal binatang, tumbuhan dan lingkungan alam pun mampu berada dalam koridor keseimbangan alam, harmonisasi dengan kekuatan keseimbangan jagad raya. Boleh dikatakan mereka semua paham betapa rumus-rumus yang ada di alam semesta ini, yang meliputi hukum sebab akibat, semuanya merupakan hukum keseimbangan alam yang tak pernah menyisakan secuil ketidakkeadilan pun. Tapi manusia sok tahu, sok pinter, sok-sok-an lainnya yang justru membuat sikapnya bertentangan hukum alam. Bagi siapapun, golongan apapun, dan agama apapun jika perilaku dan sikapnya menentang hukum alam, tentunya ia berhadapan dengan kekuatan dan kebijaksanaan tuhan alam semesta.

Maka dalam doa, hanya terucap,”duh Gusti …nyuwun kawelasan untuk beliau Ibu Ainun. Terserah tuhan, bentuk kawelasan yang mana menurut versi prerogatif tuhan. Yang jelas wujud kawelasan ada dua kemungkinan, sembuh/sehat kembali atau “pindah” ke dimensi kehidupan yang langgeng tan owah gingsir. Dan dua kemungkinan yang akan terjadi harus kita terima dengan hati yang legowo.

Setiap Sukma Tahu Kapan Raganya Mau Mati

Dari sekian kalinya mengalami peristiwa tak sengaja “dipamiti” roh yang mau meninggalkan dimensi dunia wadag, kiranya cukup bagi saya pribadi untuk mengambil benang merah, bahwa ternyata roh kita tahu kapan waktunya raga akan mati jika timingnya sudah relatif dekat. Lantas kenapa ada orang yang tak tahu manakala mau mati, dan sebagian yang lain mengetahui kapan saatnya ia akan mati. Selain ada dalam ciri-ciri fisik sejak 5 tahun sebelum seseorang mau mati, lebih dari itu, kesadaran sukma sejati dapat mengetahui lebih cepat dan tepat kapan raganya akan mati. Walau tidak sampai mengetahui kapan menit dan detik. Rasanya soal menit dan detik sudah menjadi rahasia hukum alam, rahasia kekuasaan tuhan. Kecuali hanya beberapa menit sebelum seseorang mengalami proses kematian, bisa tahu jam berapa lewat berapa menit dirinya akan mati.

Kesadaran Batin VS Dominasi Raga

Sebagian orang tidak mengetahui kapan dirinya akan mati, namun hal ini bukan berarti sukmanya juga tidak tahu. Melainkan raganya saja yang ndableg, alias mata batinnya tumpul akibat dominasi “mata ragawi” yang ada pada dirinya. Tak ada kesinambungan antara kesadaran sukmanya daya respon raga untuk menerima informasi berupa sinyal-sinyal kematian dari sang sukma. Dapat diperumpamakan setiap orang memiliki “kabel” penyambung antara raga dengan sukmanya, yang berfungsi untuk mengirimkan data informasi “rahasia gaib” dari sang sukma untuk diterima oleh raga melalui kesadaran otak kanan, lalu dicerna oleh otak kiri. Kesadaran rasa-sejati, dikirim kepada sukma sejati, lalu dikirim lagi kepada jiwa, dan diterima oleh raga. Banyak kendala menghambat proses pengiriman informasi tersebut. Di antara penyebab utama tumpulnya kesadaran ragawi atau raga tak mampu membaca sinyal-sinyal dari sang rasa-sejati dan sukma-sejati adalah sbb;

1. Seseorang tidak suka mengolah batin, mempertajam nurani, melatih kawaskitan. Akibatnya kesadarannya didominasi oleh kesadaran ragawi saja. Di satu sisi kekuatan batinnya tidak diberikan kemerdekaan untuk berapresiasi, dan di sisi lain kesadaran batinnya tak bisa berkembang karena telah dibelenggu oleh berbagai kekuatan koloni di antaranya ; referensi “katanya”, jarene, ceunah ceuk ceunah, konon. Hal itu membuat diri pribadi tak pernah sungguh-sungguh merasakan betapa tuhan sungguh LEBIH DARI SEKEDAR Mahapengasih-penyayang, lebih dari sekedar Mahaadil.

2. Mengumbar nafsu ragawi, sehingga bukannya nuruti kareping rahsa (rahsa-sejati), tetapi lebih cenderung nuruti rahsaning karep. Pribadi yang nuruti rahsaning karep/mengumbar nafsu, biasanya berkarakter temperampental, suka jalan kekerasan fisik (okol), pendek akal, mudah emosi, gampang mencaci dan omong kasar, suka merendahkan dan menghina orang lain yang beda pendapat (antitoleran), apalagi jika berhubungan dengan keyakinan. Menyukai 3G, yakni golek menange dewe, golek butuhe dewe, golek benere dewe. Atau 3,5 G, yakni ditambah seneng golek-golek mungsuh.

3. Memiliki skor tinggi dalam menghafal suatu referensi, tetapi salah menafsirkan makna tersirat/hakekat dari referensi itu. Seseorang tanpa sadar memahami suatu ajaran hanya berhenti pada kemampuan hafalan dan harfiahnya saja. Tapi lupa bahwa hafalannya harus dipraketkkan dalam kehidupan sehari-hari kepada seluruh mahluk tanpa pilih-pilih kasih. Akhirnya tipikal pribadi demikian sangat terbiasa mengukur kedalaman ilmu seseorang hanya berdasarkan banyaknya hafalan dan referensi buku yang digunakan. Ini jelas tidak keren. Apalagi saya ini, semakin banyak baca semakin banyak lupa… J

4. Nol besar dalam praktek suatu nilai kebaikan. Atau kebaikan yang dilakukan penuh pamrih (termasuk pamrih pahala dan takut dosa). Bukan atas dasar keikhlasan dan rasa kasih sayang tanpa batas. Sikap kasing sayang kepada tuhan, konsekuensinya harus diwujudkan dalam bentuk sikap penuh kasih sayang kepada seluruh mahlukNya tanpa pilih kasih. Soal keyakinan, beda pendapat sih wajar, tapi manusia tak perlu membunuh dan mencederai orang lain, biarkan saja tuhan Mahahakim yang menghakiminya. Jika hal ini kita terapkan bersama secara kompak dan konsisten dalam praktek kehidupan sehari-hari, maka perang berdarah di muka bumi ini akan segera berubah menjadi kedamaian dan ketentraman dunia. Saya rasa tuhan lebih menyukai ketentraman dan kedamaian daripada peperangan sekalipun si haus perang mengklaim atas nama tuhan. Karena perang sudah menjadi kegemaran si pemilik perusahaan alat-alat perang. Kalau gak ada perang produknya gak laku. Makanya, siapapun pencipta alat perang dan yang menggunakannya atas dalih apapun tentu saja termasuk sikap melawan hukum alam. Bukankah alam semesta ini terjadi oleh suatu hukum keseimbangan alam yang sedemikian harmonis, berbeda-beda tetapi saling membutuhkan dan saling melengkapi. Manusia “bermata dua” agar supaya bisa melihat kebenaran secara lebih obyektif. Agar mau melihat kebenaran dari berbagai sisi dan sudut pandang yang berbeda-beda. Tapi orang yang “bermata satu” alias dajjal, bisa digunakan sebagai kiasan bagi pribadi yang maunya hanya melihat sesuatu dari satu sisi dan satu sudut pandang saja. Orang lain yang berdiri di sisi dan sudut pandang lainnya dianggap musuh. Padahal dimensi planet bumi yang bulat maupun jagad raya ini terdapat milyaran bahkan trilyunan sisi dan sudut pandang yang berbeda-beda. Begitulah kiranya sikap yang lebih menentramkan dalam memahami Kemahaluasan Tuhan yang terasa tiada batasannya. Tapi otak kiri kita bisa saja memungkiri noumena di atas dengan menciptakan konsep ketuhanan menjadi teramat sempit yang terasa menyesakkan dada, pusing kepala, dan bertentangan dengan nurani paling dalam.

Ada orang yang tahu kapan raganya akan mati. Bukan berarti ia harus seorang yang sakti mandraguna. Tidak. Ia masih manusia yang biasa dan wajar-wajar saja, hanya menyadari jika menjalani hidup ini perlu membawa-bawa “kembang kanthil” kemanapun ia pergi. Kanthil sebagai gambaran untuk seseorang yang dalam kehidupan sehari-harinya selalu menerapkan pepatah,”ngelmu iku kalakone Kanthi Laku (kanthil), lekase kalawan kas, kas iku tegese nyantosani”. Senantiasa membuat sentausa (keselarasan, keseimbangan dan harmonisasi) kepada seluruh mahluk dan lingkungan alam. Dengan begitu, “kabel” penghubung antara sukma sejati dengan ragasejati akan turn on. Terjadi sinkronisasi antara tata-batin dengan tata-lahir. Tak berhenti di sini, kita masih harus mengimplementasikan apa yang diketahui sang rasa-sejati ke dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga menjadikan pribadi yang mampu nuruti kareping rahsa. Maka diri kita akan mudah merasakan, mengalami, suatu noumena spiritual yang melampaui dimensi ruang dan waktu, serta mampu memanfaatkan kejernihan mata batin dalam mengupas berbagai persoalan dan peristiwa di dalam wilayah mikrokosmos dan makrokosmos.

Pada masa lampau banyak orang sakti karena mau memahami suatu ajaran kebaikan melalui sisi kesadaran hakekatnya. Sebaliknya generasi zaman sekarang cukup puas pada kesadaran otentik, harfiah, kulit, walau berakibat dinamika kesadarannya menjadi mandeg pada kesadaran ragawi. Yaah…cari amannya saja. Seperti prinsip yang diterapkan oleh pelaku bisnis yang gagal. Daripada tersandung, lebih baik “berpenghasilan” minim sekali, dan sesekali menjadi pengemis dari pada berani berspekulasi menjelajah ke dimensi spiritual, walau buahnya bisa berupa “penghasilan” berlimpah.

Sukma Sejati Sebagai Dasar Kawaskitan

Waskita, atau cermat dan awas dalam penglihatan batin. Memiliki ketepatan dan akurasi tinggi dalam membaca hahasa alam. Semua kemampuan itu tidaklah semata berdasarkan kemampuan ragawi, kemampuan otak. Kita semua mungkin sepakat memahami agama, keyakinan berikut kegaiban tak perlu adanya dominasi otak, nalar, logika, atau apalah sebutannya. Tetapi kita lupa bahwa instrumen otak yang telah mampu mensinkronkan diri dengan kesadaran sukma akan dapat menerima berbagai peristiwa gaib sebagai sesuatu yang sangat masuk akal. Jika masih dianggap mengada-ada tak masuk akal, hal itu dikarenakan otak belum mampu menerima kesadaran sukmawi.

Demikian sebaliknya, jika memahami suatu keyakinan hanya berdasarkan “katanye”, jarene, tentu saja masih akan dicerna dan dikelola oleh otak kiri secara dominan. Akibatnya terjadi stagnansi dalam kesadaran spiritualnya, bahkan yang paling parah adalah tidak sadar jika diri kita sedang tidak sadar. Karenanya, dogma yang hanya dipahami secara mentah-mentah, teksbook, harfiah tanpa adanya upaya pemahaman secara kontekstual, esensial, dan hakekat, ia cenderung membelenggu kesadaran kita. Kesadaran kita bagaikan terperangkap masuk ke dalam “kapsul” kesadaran semu. Alias kesadaran di dalam “goa”, kesadaran yang masih di dalam “tempurung”.

Kesadaran Sukma vs Kesadaran Semu

Kita sadari atau tidak, setiap orang sukmanya tak jarang melakukan aktivitas di luar raganya, bahkan dengan mudahnya mampu menembus suatu “dimensi” di mana hukum ruang dan waktu tak berlaku lagi. Aktivitas sukma tersebut tidak disertai dengan aktivitas raganya, sehingga sebagian orang hanya merasakannya bagaikan mimpi yang seolah nyata, sebagian lainnya tidak menyadari sama sekali. Sukma secara mandiri bisa melakukan aktivitas di luar fisiknya atau wadah/warangkanya, demikian pula raga dapat melakukan aktivitas di luar kendali sang sukma. Raga yang demikian ini yang kita sebut sebagai pribadi yang “nuruti rahsaning karep”, pribadi yang mengumbar nafsu. Beresiko tinggi untuk salah langkah, salah pilih, dan salah kaprah memahami dan menjalani kehidupan ini.

Seperti peristiwa roh yang “berpamitan”, sebagaimana kisah dalam peristiwa di atas merupakan suatu aktivitas sukma tanpa raga. Seringkali saya bertanya langsung secara wadag kepada seseorang yang kebetulan sukmanya barusaja melakukan aktivitas di luar raganya. Perlu belajar ! Karena hanya sedikit saja orang yang benar-benar menyadari apa saja aktivitas yang dilakukan oleh sukmanya sendiri. Dari yang sedikit itu, hanya sebagian orang saja yang sungguh bisa membedakan apakah suatu “mimpi” benar-benar merupakan pengalaman sukmawi, tanpa melibatkan raga. Atau hanya sekedar imajinasi, ilusi, dan kamuflase “alam pikiran bawah sadar” saja. Tak dapat dipungkiri banyak orang merasa dirinya pernah dan tahu suatu dimensi gaib. Tetapi apa yang diketahuinya hanyalah sesuatu yang semu, yang hanya sekedar ilusi, imajinasi, dan merupakan endapan-endapan dari dalam “alam pikiran bawah sadar”. Oleh sebab itu sangatlah bijaksana bila tidak menjadikan peristiwa mimpi sebagai suatu tolok ukur menyimulkan benaran religius. Bukanlah sesuatu yang istimewa sekaligus bukti kebenaran hakiki apabila masing-masing umat agama, pernah mengalami mimpi yang di dalamnya terdapat gambaran-gambaran atau simbol-simbol agama yang dianutnya. Hendaknya jangan lantas buru-buru menyimpulkan bahwa agama yang simbol-simbolnya masuk di dalam “alam mimpi” tersebut merupakan bukti bahwa agama yang dipeluknyalah satu-satunya yang bener.

Kadang antar sukma orang-orang yang masih hidup dapat berjumpa dalam dimensi gaib. Hanya saja masing-masing tidak menyadarinya. Adapula yang salah satu pihak dapat menyadari sementara pihak yang lain belum bisa menyadari aktivitas pertemuan antara dua sukma. Namun begitu, getaran nurani biasanya memiliki kecermatan yang tinggi. Melalui getaran nurani anda bisa merasakan suatu kedekatan batin atau tali rasa yang bisa anda rasakan begitu dekat dengan seseorang. Mungkin hal itu karena antara sukma anda dengan seseorang dimaksud pernah berjumpa dan berinteraksi di dalam dimensi “halus”. Seperti yang peristiwa batin yang terjadi pada Kang SG dengan Mas SHD beberapa minggu yang lalu (lihat komentar dalam Membedah Alam Fikiran SSJ). Seolah-olah hanya sekedar mimpi yang terasa nyata, tapi jika dikroskan pun ternyata cocok dengan keadaan yang sebenarnya. Itulah pertemuan antar sukma.

Bedakan Alam Pikiran Bawah Sadar

Sekalipun sukma melakukan banyak aktivitas namun belum tentu aktivitasnya diketahui oleh kesadaran raganya. Seolah terdapat dinding yang sangat tebal yang memisahkan antara kesadaran sukma (kesadaran rasajati) dengan kesadaran raga. Bagi yang mulai bisa merasakan kesadaran sukma jangan puas dahulu. Karena seringkali alam bawah sadar lah yang sebenarnya muncul. Misalnya, manakala anda mengalami mimpi, di mana di dalam mimpi muncul berbagai simbol-simbol dan atau mengatasnamakan agama. Misalnya anda melihat sukma kakek anda sedang melakukan sembahyang. Jelas..kehidupan sukma sudah tak butuh suatu religi lagi. Kesadaran sukma pun tak perlu lagi identitas dan simbol-simbol religi, karena sudah berada dalam alam kehidupan yang sejati, keadaan yang serba hakekat dan dalam “bahasa” yang bersifat universal. Mimpi seperti merupakan “bunga tidur” karena sudah terpolusi oleh data base yang tersimpan di “alam pikiran bawah sadar” anda sendiri. Alam bawah sadar dapat terinstal suatu gambaran, pelajaran, dan ilmu pengetahuan melalui proses proses belajar/pendidikan, pengalaman fisik inderawi/ragawi, maupun diperoleh melalui indoktrinasi.

Prasangka dan Konsep Berfikir Yang Tak Logis

Seringkali kita dengar kalimat, “jangan mendahului kehendak tuhan, itu larangan & dosa besar!” Sebagai contoh misalnya pada saat kesadaran sukma anda mampu weruh sadurunge winarah, mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang (kejadian futuristik), seringkali orang lain lantas berprasangka buruk, “…wah..itu namanya dosa besar karena mendahului kehendak tuhan!

Hmmm…tuhan yang mana yang kehendaknya bisa didahului oleh mahluk? Kalimat di atas terasa sebagai kalimat sangat bodoh. Walau tidak pernah sekolah, rasanya tuhan tidaklah bodoh, apalagi sesimple pola pikir manusia seperti dalam konsep di atas. Apakah pada saat manusia sudah tahu apa yang akan terjadi, sementara tuhan malah belum tahu karena belum menyusun suatu rencana? Tentu saja tidak. Jika anda weruh sadurunge winarah, hal itu semata karena anda sebagai manusia mau mengolah dan memanfaatkan “perangkat lunak” (software) anugrah tuhan yang ada dalam diri anda. Sehingga anda bisa mengetahui atau menangkap sinyal-sinyal suatu rencana ketetapan tuhan. Jika anda tahu sesuatu akan terjadi di masa mendatang, hal itu bukanlah mendahului kehendak tuhan namanya. Dalam konsep pola pikir “mendahului kehendak tuhan” arti yang tersirat bahwa tuhan belum punya rencana tapi anda sudah menceritakan sesuatu yang akan terjadi kelak di suatu hari. Kesannya tuhan menjadi lebih bodoh dari manusia, bahkan patuh pada manusia. Maknanya menjadi sangat janggal.

Kiranya manusia tak akan bersalah bila memiliki kemampuan mengintip apa rencana tuhan (weruh sadurunge winarah). Kalau memang tuhan tak menghendaki rencananya diintip/diketahui mahluk, pastilah tuhan akan “mengunci dan menutup rapat” mata setiap manusia, agar supaya rencanaNya tetap menjadi X File yang untouchable oleh kesadaran manusia setinggi apapun juga. Logikanya, jika suatu kejadian futuristik dapat diketahui oleh manusia yang mau mengolah dan menajamkan batin, tentu bukanlah merupakan suatu larangan bagi tuhan. Dengan kata lain, tuhan membiarkan manusia mau peduli untuk mengetahui atau cuek-cuek saja akan apa yang terjadi di masa mendatang. Apa untungnya ? Tentu saja bagi orang yang sempat mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang (kejadian futuristik) dapat mempersiapkan diri menentukan langkah antisipatif, mengevaluasi dan mengoreksi diri pribadi beserta lingkungan sosialnya.
source : sabdalangit.wordpress.com/2010/06/15/sukma-tahu-kapan-raganya-akan-mati/#more-1410

>SALAFIYAH MENJAWAB BUKU DAKWAH SALAFIYAH DAKWAH BIJAK

>

BUKU DAKWAH SALAFIYAH DAKWAH BIJAK

Oleh
Ustadz Abu Ahmad As-Salafi

Telah masuk kepada kami dari sebagian pembaca Al-Furqon perihal buku Dakwah Salafiyyah Dakwah Bijak, Meluruskan Sikap Keras Da’i Salafi oleh Abu Abdurrahman Ath-Thalibi yang beredar baru-baru ini.

Melihat judul buku ini seakan-akan kita melihat sosok seorang yang peduli dengan Dakwah Salafiyyah sehingga berusaha membenahi kekurangan yang terjadi dari-da’i-da’i salafi yang bersikap keras tidak pada tempatnya di dalam berdakwah. Tetapi setelah kami cermati isi buku ini, ternyata di dalamnya penuh dengan syubhat-syubhat yang sangat berbahaya dibalik nasehat-nasehat yang dia sampaikan.

Karena itulah, dalam pembahasan kali ini kami berusaha menyingkap syubhat-syubhat tersebut sebagai nasehat kepada kaum muslimin dan pembelaan kepada manhaj yang haq.

PENULIS DAN PENERBIT BUKU INI
Buku ini ditulis oleh Abu Abdirrahman Ath-Thalibi dan diterbitkab oleh HUJJAH PRESS Cibubur Jakarta Timur, cetakan pertama, Februari 2006M

KEDUSTAAN ATAS SYAIKH ROBI BIN HADI AL-MADKHOLI HAFIZHAHULLOH
Dalam Pengantar penerbit tertera :
“Dalam salah satu artikelnya di sebuah situs salafi di Timur Tengah (www.sahab.net) , Dr Rabi Al-Madkhali menulis tentang bid’ah dan menyerang siapapun yang dianggap sebagai ahlu bid’ah secara membabi buta. Mengutip perkataan Yahya bin Yahya yang diriwayatkan Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawanya, Al-Madkhali mengatakan bahwa memerangi ahlu bid’ah lebih utama daripada berjihad fi sabilillah. Lalu dibelakang namanya, Al-Madkhali ini menuliskan gelar untuk dirinya sendiri, “Pemberantas Bid’ah dan Para Pelakunya, Penolong Sunnah dan Pengikutnya, dan Pembela Akidah”. Demikianlah sebagai contoh akhlak seorang tokoh kaum salaf masa kini yang mengaku sebagai penolong Sunnah, dengan bangganya dia labelkan pada dirinya sendiri dengan gelar-gelar yang tidak ada contohnya dari Alloh, Rasul-Nya, dan para ulama salaf”

Kami katakan : Ini adalah kedustaan yang ditimpakan atas Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali hafizhahulloh. Sepanjang penelitian dan pengetahuan kami, beliau tidak pernah menuliskan gelar untuk diri beliau sendiri “Pemberantas Bid’ah dan Para Pelakunya, Penolong Sunnah dan Pengikutnya, dan Pembela Akidah”, meskipun kita semua yakin bahwa beliau adalah pembela Sunnah dan duri bagi ahli bid’ah. Para ulama telah memberikan pujian dan rekomendasi kepada beliau di dalam dakwah dan tulisan-tulisan beliau. Di antara para ulama yang memberikan rekomendasi kepada beliau adalah tiga imam Dakwah Salafiyyah zaman ini : Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Al-Albani, dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. [1]

Beliau menukil perkataan Al-Imam Yahya bin Yahya di atas di dalam kitab beliau yang berjudul Manhaj Ahli Sunnah Fi Naqdi Rijal wa Kutub wa Thowa’if hal. 83 dan penutup, demikian juga dalam kitab beliau yang berjudul Jama’ah Wahidah hal. 83, dalam ketiga nukilan tersebut beliau tidak menyebutkan “gelar” di atas bagi dirinya sendiri. (Untuk mengenal lebih lanjut tentang tulisan-tulisan beliau –yang dimuat oleh http://www.sahab.net dan yang lainnya- silahkan melihat program Maktabah Syaikh Robi bin Hadi Al-Madkhali oleh http://www.islamspirit.com)

Demikian juga, sepanjang kehadiran kami dalam majelis-majelis beliau baik di masjid-masjid, di ruang kuliah di Jami’ah Islamiyyah Madinah, dan di kediaman beliau, kami tidak pernah mendengar beliau melabelkan “gelar-gelar” tersebut bagi diri beliau. Bahkan ketika ada sebagian hadirin menyebut beliau dengan “Samahatusy Syaikh”, beliau menolak seraya mengatakan : “lastu bi shohibi Samahah” (Aku tidak layak disebut Samahah).

Yang kami lihat dari akhlak dari sifat beliau adalah seperti yang ditulis oleh penulis biografi beliau : “Beliau memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) terhadap para saudaranya, para muridnya, para tamu, dan para pengunjungnya. Beliau sederhana dalam tempat tinggal, pakaian, dan kendaraannya, tidak menyukai kemewahan dalam semua hal itu. Beliau selalu ramah dan terbuka, tidak membuat bosan teman duduknya dari pembicaraan beliau, mejelis-mejelis beliau penuh dengna bacaan hadits dan sunnah …” (Dari Tarjamah Syaikh Robi bin Hadi Al-Madkholi dalam http://www.rabee.net)

Kedustaan atas seorang ulama Sunnah seperti yang dilakukan oleh pemilik buku ini [2] bukanlah sikap Ahli Sunnah, tetapi salah satu tanda-tanda ahli bid’ah. Al-Imam Ali bin Harb Al-Maushili rahimahullah berkata : “Setiap pengekor hawa nafsu selalu berdusta dan tidak mempedulikan kedustaannya!” (Diriwayatkan oleh Al-Khothib Al-Baghdadi dalam Al-Kifayah hal. 123)

Kedustaan-kedutaan seperti ini dilakukan oleh ahli bid’ah sebagai tangga untuk menjatuhkan Manhaj Salaf dengan menjatuhkan para ulama Salafiyyin lebih dahulu, dengan menjiplak metode orang-oran Yahudi : “Jika engkau hendak menjatuhkan suatu pemikiran, maka jatuhkanlah para pemikir dan tokoh-tokohnya” (!)

TALBIS SALAFI HAROKI
Penulis berkata (dalam hal.20 dari bukunya ini) :
“Salafi Haroki adalah gerakan dakwah Salafiyyah yang menerapkan metode pergerakan (harakiyyah). Metode tersebut meskipun tidak sama persis, serupa dengan metode yang ditempuh oleh jama’ah-jama’ah dakwah Islam, seperti Ikhwanul Muslimin (IM), Hizbut Tahrir (HT), Jama’ah Tabligh (JT), Jama’at Islam (JI), Negara Islam Indonesia (NII), dll”

Kami katakan : Sebutan “Salafi Haroki’ adalah bentuk talbis (pencampuradukkan antara haq dan bathil) antara manhaj Salaf dengan manhaj Harokah yang bid’ah. Dengan talbis ini mereka hendak memalingkan Salafiyyin –para pengikut salafush sholih- dari manhaj salaf dan menganut manhaj haroki yang bid’ah!.

Syaikh Al-Allamah Sholih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahulloh berkata : “Menamakan diri dengan Salafiyyah tidak apa-apa jika benar-benar demikian keadannya. Adapun jika penamaan tersebut hanya sekedar klaim tanpa bukti, maka tidak boleh menamakan diri dengan Salafiyyah dalam keadaan dia tidak berada di atas manhaj salaf….” Maka tidak akan berkumpul antara Ahli Sunnah wal Jama’ah bersama madzhab orang-orang yang menyelisihi mereka seperti Khowarij, Mu’tazilah, dan hizbiyyin seperti orang yang mereka namakan sebagai Muslim Modern, yaitu orang yang hendak menggabungkan antara kesesatan-kesesatan modern dengan manhaj salaf” (Ajwibah Mufidah hal. 18-19)

Syaikh Al-Allamah Robi bin Hadi Al-Madkhaoli hafizhahulloh berkata : “ Saya menasehati orang yang mengatakan perkataan ini dan yang semisalnya agar bertaqwa kepada Alloh dan menjelaskan kepada kaum muslimin tentang manhaj Salafi yang shohih, janganlah mencampuradukan agama ini dengan manhaj Sayyid Quthub dan yang semisalnya, karena manhaj Salafi dan Manhaj Sayyid Quthub tidaklah keduanya melainkan dua hal yang kontradiktif (bertolak belakang) yang tidak akan bisa bertemu di dalam manhaj dan tidak pula dalam aqidah” (Dari kaset Ajwibah ‘Ala As’ilah Manhajiyyah tanggal 7 Syawwal 1419H) [3]

MENGKOAK-KOTAK SALAFIYYIN
Penulis berkata (dalam hal.10 dari bukunya ini) :
“Tiga Madrasah yang sangat dominan saat ini ialah : Salafiyah di Arab Saudi, Salafiyyah di Yaman dan Salafiyyah di Yordania-Syria (Syam). Masing-masing madrasah memiliki ulama-ulama, majlis-majlis, lembaga pendidikan, media, serta karya-karya buku”

Penulis berkata (dalam hal.10 dari bukunya ini) dengan judul pembahasan Komunitas Salafi Yamani:
“Madrasah Salafiyyah ada di berbagai negara Muslim, bukan hanya di Yaman. Bahkan diYaman sendiri, saya yakin garis Salafiyyah itu tidak satu warna, tetapi beragam. Hanya saja, dibandingkan dengan madrasah-madrasah Salafiyyah, maka madrasah Salafiyyah di Yaman terkenal paling keras sikapnya terhadap ahli bid’ah dan kelompok-kelompok yang menyimpang”.

Kami katakan : Salafiyyah bukanlah Hizbiyyah, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Sholih Al-Fuzan hafizhahulloh ; “Salafiyyah adalah firqotun najiyah (kelompok yang selamat). Mereka adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah, bukan suatu hizb yang dinamakan sekarang sebagai kelompok-kelompok atau partai-partai. Sesungguhnya ia adalah suatu jama’ah, jama’ah yang berjalan diatas sunnah….. maka Salafiyyah adalah jama’ah yang berjalan di atas madzhab salaf dan di atas jalan Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya Radhiyallahu ‘anhum dan dia bukanlah salah satu kelompok dari kelompok-kelompok yang muncul sekarang ini, karena dia adalah jama’ah yang terdahulu dari zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berlanjut terus menerus di atas kebenaran, dan nampak hingga hari kiamat sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihgi wa sallam” (Dari kaset yang berjudul At-Tahdzir Minal Bida) [4]

Penulis mengatakan bahwa dirinya bukan dari kalangan Salafiyyin dengan mengatakan (dalm hal. 23):
“Saya tidak berdiri di salah satu kelompok. Saya bukan dari kalangan Salafi Yamani maupun Haroki”.

Kemudian penulis berkata (dalam hal. 112 dari bukunya ini):
“Persilangan pendapat antara ulama-ulama Salafiyyah di Arab Saudi, Yordania, Syria, dan yang lainnya sudah bukan rahasia lagi. Contohnya, persilangan pendapat antara Syaikh Nashiruddin Al-Albani dengan Syaikh Hamud bin Abdillah At-Tuwajiri. Persilangan itu begitu tajamnya ….”

Kami katakan : Setelah penulis menyatakan bahwa dirinya bukan dari kalangan Salafiyyin, maka merupakan suatu kewajaran jika dia sulit untuk menjaga lisannya dari perkataan yang tidak sopan kepada para ulama Salafiyyin, seperti terhadap dua imam dakwah Salafiyyah Syaikh Al-Albani dan Syaikh Hamud At-Tuwaijiri rahimahumalloh. Untuk menjelaskan hal ini, kami nukilkan perkataan Syaikh Abdullah bin Abdurrahman hafizhahulloh penulis biografi Syaikh Hamud At-Tuwajiri rahimahullah.

“Beliau memiliki beberapa bantahan terhadap tulisan-tulisan Syaikh Al-Albani dan terjadi beberapa pebedaan pendapat antara beliau dengan Syaikh Al-Albani. Kendati demikian, tetapi terjalin ukhuwwah salafiyyah antara beliau dengan Syaikh Al-Albani. Bukti konkrit hubungan-hubungan yang baik antara keduanya, di antaranya.

[a]. Syaikh Hamud, di dalam bantahannya kepada Syaikh Al-Albani, tetap berusaha menjaga kedudukan Syaikh Al-Albani. Suatu misal, ketika beliau sudah hampir mencetak bantahan beliau, tiba-tiba ada seorang yang bersimpati kepada Syaikh Al-Albani datang kepada beliau memprotes beberapa kalimat dalam bantahan tersebut, maka seketika itu juga beliau menghapus kalimat-kalimat tersebut.

[b]. Ketika Syaikh Al-Albani mengunjungi tempat beliau di Riyadh pada tahun 1410H, beliau sangat bersungguh-sungguh dalam berusaha menjamu dan menghormati Syaikh Al-Albani.
[c]. Di dalam batahan-bantahan kepada Syaikh Al-Albani, beliau banyak menyertakan pujian kepada Syaikh Al-Albani dalam kegigihannya membela sunnah dan melawan bid’ah seperti perkataan beliau : “Syaikh Al-Albani sekarang adalah lambang dari sunnah, mencela beliau akan memudahkan pencelaan kepada sunnah”. Pujian ini jelas hanya berlaku bagi para imam ahli sunnah, bukan kepada para gembong ahli bid’ah, sebagaimana yang dikehendaki oleh para pencetus manhaj muwazanah!” (Siroh Al-Allamah Hamud bin Abdullah At-Tuwaijiri hal. 19-20)

PANDANGAN PENULIS TERHADAP SYAIKH MUQBIL BIN HADI AL-WADI’I RAHIMAHULLAH
Penulis berkata (dalam hal. 109 dari bukunya ini):
“Orang-orang yang mau melihat secara jujur dan obyektif pasti setuju bahwa Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah adalah seorang ulama Salafi. Ini adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Beliau mendirkan Markaz Ilmiyyah Darul Hadits di Dammaj Yaman, beliau jug menulis karya-karya penting dalam hadits, beliau mendidik da’i-da’i Salafi, beliau juga berjuang keras menentang siapapun yang tidak sependapat dengan manhaj Salafiyyah. Bila perlu, Syaikh Muqbil bin Hadi akan bersikap keras terhadap musuh-musuhnya yang dianggap menyimpang. Dalam hal terkahir ini Syaikh Muqbil bin Hadi sangat menonjol”

Penulis juga berkata (dalam hal. 111 dari bukunya ini):
“Menurut saya, sebagaimana yang saya ketahui dari berita-berita yang ada, baik lisan atau tulisan, paling tidak ada tiga alasan yang bisa dianggap sebagai latar belakang sikap keras Syaikh Muqbil bin Hadi, yaitu : 1. Tradisi sosial masyarakat Yaman sendiri memang keras… 2. Konflik antar aliran-aliran agama di tengah masyarakat berlangsung keras… 3. Proses pribadi yang dialami Syaikh Muqbil bin Hadi sendiri. Syaikh Muqbil memiliki kebencian besar terhadap Syi’ah, sebab dalam salah satu proses hidupnya, beliau pernah mengalami konflik dengan komunitas Syi’ah di tingkat masyarakat maupun pemerintahan”

Kami katakan : Inilah pandangan penulis terhadap Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah, dan dibawah ini kami nukilkan pandangan Syaikh Al-Allamah Al-Muhadits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah terhadap Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah ketika sebuah pertanyaan dilontarkan kepada Syaikh Al-Albani ; pertanyaan itu berbunyi : “Meskipun jelas sekali sikap Syaikh Robi bin Hadi Al-Madkholi dan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i di dalam berjihad melawan kebid’ahan dan perkataan-perkataan yang menyeleweng, ternyata ada sebagian orang yang meragukan kalau keduanya berada di atas garis Salafi?”

Syaikh Al-Albani rahimahullah menjawab
“Kami –tanpa ada keraguan- bersyukur kepada Alloh Azza wa Jalla yang telah menganugrahkan kepada dakwah yang sholihah ini –yang tegak di atas Kitab dan Sunnah dengan manhaj Salafush Shalih- para da’i berbagai penjuru dunia Islam menegakkan tugas fardu kifayah ini yang jarang sekali menunaikannya pada hari ini. Maka merendahkan dua syaikh ini, Syaikh Robi dan Syaikh Muqbil, yang keduanya menyeru kepada Kitab dan Sunnah serta jalan yang ditempuh oleh salafush shalih, serta memerangi orang-orang yang menyelisihi manhaj yang shohih ini, maka ini –sebagaimana bukan hal yang tersembunyi atas semuanya- muncul dari salah satu di antara dua orang : bisa jadi dia jahil (bodoh) atau pengekor hawa nafsu” (Dari kaset Silsilatul Huda wan Nur no. 851)

Ketika kami menghadiri dars Sunan Nasa’i yang disampaikan oleh Syaikhuna al-Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad hafizhahulloh di Masjid Nabawi, ada sebuah pertanyaan yang disampaikan kepada beliau yaitu bagaimana pandangan beliau tentang Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, maka beliau memuji Syaikh Muqbil rahimahullah di dalam menuntut ilmu, menyampaikan ilmu, dan di dalam berdakwah.[5]

Tentang sikap keras Syaikh Muqbil rahimahullah kepada ahli bid’ah, memang hal ini tidak mengenakkan hati para hizbiyyin sehingga mereka menjadikan hal ini sebagai sasaran celaan mereka kepada beliau. Syaikh Abu Muhammad bin Ali Ash-Shouma’i hafizhahulloh telah menjawab hal ini dengan mengatakan.

“Sikap keras kepada ahli bid’ah merupakan keutamaan dan bukanlah merupakan kekurangan wahai Ibnu Gholib [6]. Sesungguhnya yang membuat kalian memiliki pemahaman terbalik ini adalah manhaj kalian yang jelek dan (akibat) kalian duduk-duduk dengan ahli bid’ah, kalian menghendaki muwazanah dan kelembutan bagi para ahli kebathilan. Dan inilah sebagian atsar dari salafuna tentang kerasnya mereka terhadap ahli bid’ah, barangkali kalian bisa mendapatkan manfaat darinya…

[1]. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata : “Jika engkau melihat seseorang mencela Hammad bin Salamah maka ragukanlah keislamannya, karena Hammad bin Salamah keras terhadap ahli bid’ah (Siyar A’lam Nubala 8/209)
[2]. Al-Imam Baihaqi rahimahullah berkata ; “Adalah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah keras terhadap ahli ilhad dan bid’ah, beliau terang-terangan membenci mereka dan menjauhi mereka. (Siyar A’lam Nubala 7/308)
[3]. Abul Hasan Al-Farro berkata tentang Abdurrohman bin Mandah : ‘Dia keras terhadap ahli bid’ah dan menjauhi mereka. (Thobaqoh Hanabilah 1/538).
(Lihat Nubdzah Yasiroh min Hayati Ahadi A’lamil Jaziroh hal. 74) [7]

PENUTUP
Penulis berkata dalam Kalimat Penutup (hal. 157):
“Tujuan penulisan buku ini ialah menyampaikan nasehat-nasehat kepada sebagian kalangan Salafi yang cenderung bersikap berlebihan di dalam dakwahnya. Nasehat itu disampaikan tentu demi kebaikan dakwah Salafiyah di Indonesia, bukan dalam rangka menyerang atau menjatuhkan nama baik pihak-pihak tertentu. Sebagai hujjah bagi nasehat-nasehat yang disampaikan, saya kemukakan dalil-dalil syar’iyyah, bukti-bukti yang saya ketahui, serta petunjuk-petunjuk referensi. Selain itu, dalam buku ini saya mencoba menghindari kata-kata yang bersifat menghina atau melecehkan. Hanya di beberapa tempat tertentu saya terpaksa mengutarakan ungkapan-ungkapan yang mungkin dianggap sinis”.

Kami katakan : Jika buku ini benar-benar ditulis untuk kebaikan dakwah Salafiyyah, pastilah akan membela para ulama dakwah Salafiyyah dari tuduhan-tuduhan dusta ahli bid’ah, tetapi kenyataannya buku ini justru berisi talbis terhadap manhaj salafi, celaan dan kedustaan tentang para ulama Salafiyyin yang ini semua merupakan cara-cara ahli bid’ah di dalam usaha mereka menjatuhkan Dakwah Salafiyyah

Terakhir, kami sampaikan nasehat kepada penulis agar bertaubat dari talbis, kedustaan dan ungkapan-ungkapan sinis terhadap para ulama Salafiyyin. Hendaklah penulis berusaha mengikuti manhaj yang shahih yaitu manhaj salafi, karena keshohihan manhaj menentukan tempat seseorang di surga atau neraka sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahulloh.

“Keshahihan manhaj menentukan tempat seseorang di surga atau di neraka. Jika manhaj seseorang shahih maka dia akan mauk surga. Jika dia mengikuti manhaj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan manhaj salafush shalih maka dia akan menjadi penghuni surga –dengan izin Allaoh-, dan jika dia berada pada manhaj yang sesat maka dia diancam dengan neraka” (Ajwibah Mufidah hal. 77)

Kepada para pembaca, kami nasehatkan agar tidak menjadikan buku Dakwah Salafiyyah Dakwah Bijak ini sebagai rujkan, berhubung banyaknya syubhat yang ada di dalamnya yang di antaranya telah kami sebutkan di atas. Masih banyak kitab-kitab para ulama yang lebih layak dijadikan sebagai rujukan di dalam manhaj dakwah. Di antara kitab-kitab yang kami anjurkan untuk dijadikan rujukan dalam hal ini ialah : Min Aqwali Syaikh Abdul Aziz bin Baz Fi Da’wah, Ajwibah Mufidah oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan, Da’wah ila Alloh dan Ru’yah Waqi’iyyah lil Manahij Da’awiyah keduanya oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari, serta Manhajul Anbiya fi Da’wah ila Alloh dan Al-Hatstsu ‘alal Mawaddah wal I’tilaf wa Tahdzir minal Furqoh wa Ikhtilaf [8] keduanya oleh Syaikhuna Al-Allamah Robi bin Hadi Al-Madkholi.

Semoga Alloh selalu menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan nasehat dan mengikutinya.

[Disalin dari Majalah Al-Furqon Edisi 08 Tahun VI/Robi’ul Awwal 1428H [April 2007], Diterbitkan Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat Maktabah Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim 61153]
__________
Foote Note
[1]. Lihat kitab Tsana’ Al-badi minal Ulama ala Syaikh Robi oleh Kholid bin Dhohwa Adh-hufairi
[2]. Di akhir Pengantar Penerbit tertera nama Abu Abdillah Al-Mishri, kami tidak tahu ini adalah nama samaran lain dari penulis atau orang lain.
[3]. Untuk membentengi diri kita dari fitnah talbis ini, lihat pembahasan Talbis Salafi Haroki dalam Majalah Al-Furqon Tahun 6 Edisi 6 Rubrik Manhaj
[4]. Lihat pembahasan Salafiyyah Bukan Hizbiyyah dalam Majalah Al-Furqon Tahun 5 Edisi 8 Rubrik Manhaj
[5]. Ucapan beliau ini saya sampaikan maknanya, dan jika ada yang ingin lafazhnya bisa menyimak rekamannya di Tasjilat Masjid Nabawi
[6]. Dia adalah Abdulloh bin Gholib, penulis bait-bait syair yang penuh celaan kepada Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i.
[7]. Untuk mengenal lebih lanjut tentang Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, lihat kemabali Majalah Al-Furqon Tahun 5 edisi 1 Rubrik Tojoh
[8]. Untuk melihat sebagian kandungan kitab ini, silahkan melihat rubrik Manhaj ada edisi ini
source : http://www.almanhaj.or.id/content/2121/slash/0