>7 karakter Sukses

>

Setiap orang ingin sukses, bagaimanapun caranya. Ada yang berkerja giat, belajar kepada orang yang sukses, mengikuti pelatihan-pelatihan, atau membaca buku. Dibutuhkan perjuangan untuk meraih sukses yang kita damba-dambakan. Tetapi untuk mewujudkannya, ada baiknya Anda mencontoh tujuh hal yang melekat pada pribadi orang-orang sukses. Philip Humbert menjelaskannya kepada kita, mari kita lihat..

1. Tingkat pemahaman mereka
Hal pertama yang mengagumkan dari orang-orang sukses adalah tingkat pemahaman mereka atas diri atau pribadi mereka sendiri. Mereka pun merasa sangat nyaman dengan pilihan yang mereka buat dalam hidup mereka. Mereka tahu nilai-nilai dan tujuan hidup mereka. Ketika mereka melakukan kesalahan maka mereka akan menyesalinya, namun mereka mampu berdamai dengan masa lalu. Mereka juga optimis, penuh gairah, dan percaya diri dalam memandang masa depan.

2. Tujuan yang jelas
Orang-orang yang sukses memiliki tujuan tertulis, rencana jangka panjang tertulis, apa yang harus mereka lakukan mulai dari 30 hari hingga 10 tahun kedepan. Contohnya, para atlit yang sukses memiliki target untuk mencapai skor tertentu. Sedangkan pemimpin bisnis menuliskan target penjualan mereka. Mereka semua juga memiliki tujuan pribadi dan tujuan keluarga yang dituliskan secara detail sebagaimana tujuan profesional mereka. Saran yang kita semua pernah dengar : Tulislah tujuan Anda, benar-benar bekerja dan bermanfaat.

3. Hubungan yang kuat
Mereka semua memahami jaringan hubungan teman dan kolega mereka. Mereka memberikan penghargaan & apresiasi kepada pelatih atau teman yang pernah mengajari mereka segala sesuatu. Mereka juga membuka pintu kesempatan yang diperlukan. Mereka sangat berterimakasih dan menghargai bahwa kesuksesan adalah buah dari jalinan kemitraan dengan banyak orang yang berbeda selama bertahun-tahun.

4. Idealisme yang mengagumkan
Hal yang cukup menonjol dari orang-orang sukses adalah idealisme mereka. Mereka semua ingin melakukan suatu perubahan, mengisi hidup ini dengan penuh tujuan dan makna, atau meraih sebuah mimpi. Mereka dimotivasi dengan gairah untuk menciptakan dunia yang lebih baik, menyumbangkan sesuatu, dan menolong orang lain.

5. Pragmatisme yang luar biasa
Seimbang dengan idealisme mereka, orang-orang yang luar biasa sukses ini ternyata juga amat praktis. Mereka fokus pada pemecahan masalah, menggunakan teknologi, informasi, dan keterampilan untuk meraih tujuan-tujuan terpenting. Mereka tidak tertarik pada teori-teori atau mempertahankan pilihan-pilihan masa lalu atau tradisi-tradisi tua. Mereka menginginkan cara-cara praktis untuk menolong mereka sendiri untuk meraih tujuan.

6. Rasa ingin tahu yang dalam
Mereka mongobservasi budaya, membaca surat kabar, membaca tentang industri mereka. Mereka pun mempelajari segala hal yang ada di sekitar mereka. Mereka membaca tentang politik dan agama. Mereka ingin tahu tentang bursa saham dan belajar memasak. Saya terkejut bahwa sebagian besar diantara mereka bukanlah ahli dibidang-bidang yang tersebut tetapi mereka amat terdidik, cerdas, dan penuh rasa ingin tahu.

7. Disiplin pribadi
Mereka tidak mau mebuang-buang waktu dan membohongi diri mereka sendiri. Mereka tidak membesar-besarkan atau mengecil-ngecilkan suatu masalah. Mereka tidak menggeneralisir. Orang-orang ini amat sangat tepat saat mereka berbicara mengenai usia, hubungan, usaha atau impian-impian mereka. Angka dan tanggal, dollar dan sen, detail amat penting bagi mereka. Mereka mudah untuk diajak bicara dan jelas dalam berkomunikasi.

Setiap keterampilan diatas memang bisa dipelajari oleh semua orang. Tidak ada rahasia sukses. Sedangkan bakat, keluarga atau keberuntungan hanya sebagian kecil saja dari semua ini. Mengenai hal ketujuh, pada kalimat akhir (Mereka sangat berterimakasih dan menghargai bahwa kesuksesan adalah buah dari jalinan kemitraan dengan banyak orang yang berbeda selama bertahun-tahun), saya jadi teringat ketika menonton acara pak Mario Teguh di salah satu stasiun televisi. Diakhir acara beliau mengatakan sebuah kalimat yang luar biasa…

Kesuksesan bukan diukur dari besarnya materi yang kita miliki, tetapi seberapa bermanfaatnya kita bagi orang lain..

Orang-orang yang sukses ini tahu apa yang mereka inginkan, dn menggunakan hubungan mereka, kerja keras, kesabaran, dan disiplin untuk mencapai hal yang luar biasa. Demikian juga Anda!! Pertanyaan saya, seberapa bermanfaatnya kita bagi orang lain?

by. UJUNGTOMBAK

>Panteisme dan Wahdatul Wujud

>Dunia tasawuf maupun irfan erat kaitannya dengan istilah-istilah. Istilah-istilah ini sangatlah penting demi tercapainya pemahaman yang menyeluruh serta komplit dari suatu pembahasan tasawuf atau pun irfan. Apabila pemahaman kita akan suatu istilah itu salah, konsekuensinya hal itu akan berdampak pada pemahaman kita selanjutnya yang akan membawa kita jauh dari arti yang sebenarnya diinginkan.

Berangkat dari asumsi di atas, pada tulisan ini akan dipaparkan dua istilah atau konsep yang sering digunakan dalam dunia tasawuf, yakni panteisme dan wahdat al-Wujud. Dalam penggunaannya, kedua konsep ini oleh beberapa orang diartikan memiliki arti yang sama. Namun apakah benar kedua konsep ini memiliki arti yang sama? Tulisan di bawah ini mencoba menjelaskan dan membedakan antara kedua konsep tersebut.

Panteisme
Panteisme adalah doktrin yang mengidentikkan Tuhan dengan manusia atau alam. Dengan kata lain bahwa doktrin ini menghilangkan perbedaan antara Tuhan dengan ciptaan-Nya, dan lebih jauh lagi meniadakan transendensi makhluk dengan khalik. Doktrin ini memahami bahwa antara Tuhan dengan makhluk merupakan suatu keserupaan bahkan kesatuan.

Panteisme merupakan istilah yang berasal dari Barat. Istilah ini digunakan oleh mereka guna memahami makna doktrin-doktrin ittihad, hulul, dan wahdat al-wujud. Sebenarnya istilah ini sampai kepada mereka akibat pemahaman yang salah dari sekelompok sarjana seperti Ibn Taymiyyah, al-Biqa’i dan Abd al-Rahman al-Wakil yang menafsirkan wahdat al-wujud sebagai menyamakan Tuhan dengan alam, yakni bahwa wujud Tuhan adalah wujud alam dan wujud alam adalah wujud Tuhan.

Panteisme berasal dari pemahaman tidak lengkap tentang wahdat al-wujud yang terutama hanya melihat satu dari dua sisi dari konsep ini. Sebagaimana yang nanti akan dijelaskan, wahdatul wujud memiliki dua sisi penting, yakni sisi tasybih (keserupaan) dan sisi tanzih (ketidakdapatdibandingkan). Sedangkan panteisme dikatakan tidak lengkap karena hanya melihat sisi tasybih saja , tanpa melihat sisi yang lainnya, yakni sisi tanzih .

Wahdat al-Wujud

Wahdat al-Wujud yang merupakan sebuah doktrin dari Ibn Arabi, secara bahasa bermakna kesatuan wujud. Adapun makna terminologisnya adalah bahwa tidak ada sesuatu pun dalam wujud kecuali Tuhan dan bahwa wujud selain-Nya hanyalah ada dikarenakan manifestasi wujud-Nya. Dengan kata lain bahwa wujud selain-Nya adalah refleksi atau berasal dari wujud Tuhan. Satu-satunya eksistensi sejati adalah milik Yang Satu dan Yang Satu inilah yang tampak dalam semua manifestasi.[1]

Ibn Arabi memandang bahwa dunia dan ciptaan Tuhan yang lainnya merupakan panggung tempat berbagai nama Tuhan dapat mementaskan perannya. Ciptaan ini sengaja Tuhan ciptakan agar manusia tahu betapa berperan dan berkuasanya Ia. Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Aku (Allah) adalah wadah tersembunyi, dan aku cinta untuk diketahui, maka aku ciptakan suatu ciptaan.” Dalam bahasa yang lebih sederhana, Allah ingin melihat diri-Nya dari luar diri-Nya, oleh karena itu Allah menciptakan alam ini. Dengan kata lain bahwa alam ini ibarat cermin yang merefleksikan Tuhan. Sehingga dengan asumsi yang demikian, tak heran jika Ibn Arabi secara positif memandang bahwa alam dan manusia adalah manifestasi (tajalli) Tuhan.

Berangkat dari pemahaman ini, maka timbullah wahdah (kesatuan) wujud. Yakni bahwa walaupun di dalam alam ini terdapat banyak wujud, namun sebenarnya adalah satu, karena kesemuanya berasal dan ada disebabkan wujud-Nya. Oleh karena itu, dalam hal ini yang merupakan wujud hakiki adalah wujud Tuhan, dan selain-Nya hanyalah bayangan-Nya saja. Dan dengan pergertian yang demikian, Ibn Arabi berusaha menyampaikan kita pada sebuah kesimpulan bahwa Tuhan sangatlah dekat dengan makhluknya walaupun tanpa menghilangkan perbedaan antara keduanya. Tentunya hal ini sangatlah berbeda dengan panteisme yang secara jelas dan terang-terangan menghilangkan perbedaan antara keduanya.

Lebih jauh lagi, sebagimana yang sempat disinggung di atas, dalam wahdat al-wujud terdapat tasybih (keserupaan) dan tanzih (ketidakdapatdibandingkan). Keduanya merupakan istilah penting dalam doktrin wahdat al-wujud Ibn Arabi. Tasybih yakni bahwa Tuhan adalah identik, atau lebih tepatnya serupa dan satu dengan alam ~walaupun keduanya tidak setara~ karena Dia, melalui nama-nama-Nya, menampakkan diri-Nya dari dalam. Akan tetapi dilihat dari sisi tanzih, Tuhan sama sekali berbeda dengan alam karena Dia adalah Zat Mutlak yang tidak terbatas di luar alam nisbi yang terbatas.[2] Terkait hal ini, Ibn Arabi memiliki suatu ungkapan yang sarat akan makna, huwa la huwa (Dia dan bukan Dia).

Kesimpulan

Sebenarnya pangkal yang menyebabkan terjadinya dua penafsiran terhadap wahdat al-wujud adalah tidak lengkap dan sempurnanya pandangan beberapa orang terhadap doktrin ini. Yakni bahwa mereka melihat doktrin ini tidak secara utuh dan hanya secara partikular saja. Seperti sempat disinggung di atas, bahwa konsep wahdat al-wujud memiliki dua sisi, yakni; tasybih dan tanzih. Namun mereka hanya melihat satu sisi, yakni sisi tasybih saja. Oleh karena itu, tak heran jika kemudian ~disebabkan hanya berangkat dari pemahaman ini saja~, maka muncul penafsiran yang berbeda. Penafsiran inilah yang kemudian dikenal dengan panteisme.

Lebih jauh lagi, dari sedikit pemaparan di atas, setidaknya kita sudah memperoleh perbedaan esensial dan mendasar antara panteisme dan wahdat al-wujud. Sebagaimana disebutkan di atas, panteisme menafikan transendensi Tuhan dengan meniadakan perbedaan antara Tuhan dengan makhluk, dan pada saat yang sama mengidentikkan antara keduanya. Sedangkan wahdat al-wujud, sebaliknya justru mempertahankan transendensi Tuhan. Perlu diketahui bahwa doktrin wahdat al-wujud menekankan tidak hanya imanensi Tuhan, tetapi juga transendensi-Nya.[3]

Kesatuan antara tasybih dan tanzih yang dalam istilah Ibn Arabi dikenal dengan al-Jam’ bayna al-adhdhad merupakan pemahaman yang benar serta utuh terhadap doktrin wahdat al-wujud, sedangkan pemahaman yang hanya melihat satu sisi, yakni tasybih serta mengabaikan sisi lainnya (tanzih) adalah pemahaman yang cacat.

[1] Stephen Hirtenstein, Dari Keragaman Ke Kesatuan Wujud, PT Raja Grafindo Persada, 2001, h. 27.
[2] Kautsar Azhari Noer, Tasawuf Perenial, Serambi, 2003, h. 27.
[3] Ibid, h. 27.

Daftar Pustaka
Noer, Kautsar Azhari. 2003, Tasawuf Perenial, Jakarta: Serambi.
Hirtenstein, Stephen. 2001, Dari Keragaman Ke Kesatuan Wujud, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Burckhardt, Titus. 1984, Mengenal Ajaran Tasawuf, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.

by :

>Menjual tanpa Memasarkan, the ideavirus

>

Hari gini mau jualan tanpa memasarkan? Ide gila siapa ini? OK, anda boleh menyebutnya ide gila, karena memang pemasaran dan iklan adalah jantung sebuah bisnis. Tapi Seth Godin memiliki pemikiran yang berbeda. Kita bisa tetap menjual tanpa pemasaran, yaitu dengan menyebarkan ide…

—-

Dalam buku The Ideavirus yang ia tulis, Seth Godin memaparkan pemikirannya bahwa ‘virus ide’ atau dari konsumen ke konsumen adalah penyebaran informasi yang paling efektif, yang dapat digunakan semua bisnis untuk dapat sukses tanpa harus berurusan lagi dengan cara pemasaran tradisional.

Apa Itu Virus Ide?

Di sepanjang abad pertama dalam sejarah AS, kekayaan dicapai melalui pertanian. Siapa yang mempunyai tanah paling luas dan menjual kedelai dengan harga tinggi akan menjadi kaya. Abad kedua, orang mulai berpaling pada pabrik. Siapa yang menghasilkan produk yang terpajang di semua supermarket besar akan dibilang sukses. Bagaimana dengan abad ke-3 (jaman ini)? Apa yang dapat membuat kita kaya? Jawabnya: IDE. Nah, untuk membuat kita kaya, ide harus dilepaskan, agar ia bergerak, berkembang dan akhirnya menulari semua orang yang disentuhnya, yang bila dikendalikan dengan baik untuk mencapai pasar yang menjadi targetnya, akan meledak dan menjadi…VIRUS IDE.

Mengapa Virus Ide?

* Hubungan antar manusia kini jauh lebih luas. Internet membuat hubungan kita lebih cepat, luas dan sering.
* Kecenderungan manusia untuk mengetahui hal-hal terbaru dan menjadi yang terdepan (membuat tren).
* Pemasaran tradisional tidak efektif karena sering kurang tepat sasaran dan mahal. Misalnya produk tertentu yang iklannya tersebar dimana-mana belum tentu yang dibutuhkan orang yang melihat.
* Untuk bisa sukses, produk anda harus menjadi yang paling dikenal. Virus ide-lah yang dapat membantu anda mewujudkannya. Contoh: Kalau anda ingin makan nasi pecel, kemana anda akan masuk: kedai A yang harganya lebih murah, tapi sepi? Atau kedai B yang lebih mahal tapi antreannya sampai 2 meter panjangnya? Pasti anda berpikir, wah..pasti enak pecel di kedai B, sampai ngantre-ngantre kayak gitu! Jadi, apa yang mempengaruhi pembelian anda? Bukan pecelnya, tapi pengalamannya. Atau ide akan sebuah pengalaman!

Apa Beda Word of Mouth dan Virus Ide?

Word of mouth menyebar lebih lambat karena hanya beredar dari teman ke teman, ia juga lebih cepat menghilang karena jumlah orang yang berpartisipasi lebih sedikit. Sedang virus ide menyebar lebih cepat dan jauh, dan karenanya bukannya melambat pertambahannya, namun justru semakin berkembang.

Bagaimana Melepaskan Virus Ide?

Jika anda baru membuka kedai eskrim, dan semua orang di kota anda memberitahu 10 orang temannya tentang kedai anda, lalu hari berikutnya ada antrean mengular di depan pintu kedai anda, maka virus ide anda telah sukses. Masalahnya, semudah itukah menularkan virus ide?

Unsur utama atau inti dalam virus ide, tentu saja adalah Penyebar Virus. Ia haruslah orang yang memiliki kredibilitas sehingga ketika ia berbicara kepada 10 atau 100 orang lain, mereka mempercayainya. Ada 2 macam Penyebar Virus:

1. Penyebar Virus Sembarangorang yang menyebarkan virus demi mendapat imbalan. Termasuk di dalamnya agen asuransi, anggota MLM, anggota affiliate dari Amazon, dsb. Uang adalah motivasi mereka.
2. Penyebar Virus Kuatorang-orang yang gaya hidupnya menjadi panutan banyak orang. Tipe ini tidak mendapat imbalan atau perintah, tapi biasanya justru merupakan penyebar virus yang amat kuat pengaruhnya. Contoh: potongan rambut Demi Moore ketika tampil di film ‘Ghost’, menyebabkan banyak cewek cepat-cepat pergi ke salon untuk mengganti hair style mereka.

Adakalanya Penyebar Virus Sembarang tiba-tiba menjadi Penyebar Virus Kuat, yakni saat seseorang yang mendapat imbalan untuk menyebarkan ide melalui suatu media, katakanlah blog, lalu banyak orang membaca dan menyukai ulasan orang tsb.

Bagi pemilik usaha yang ingin menggunakan ‘jasa’ Penyebar Virus Sembarang, ada beberapa tips berguna untuk mengoptimalkan hasilnya,

1. Buatlah janji-janji yang muluk, misalnya kesempatan untuk mengubah gaya hidup atau memberikan penghargaan tertentu.
2. Tunjukkan pada mereka cara meningkatkan volume
3. Gambarkan jalur yang bisa dicapai, dengan menunjukkan bahwa ada cara bagi mereka untuk mengambil keuntungan dari petualangan ini.
4. Saat satu orang sukses, beritahu lainnya.
5. Berikan orang yang sukses itu kiat untuk menunjukkan pada orang yang bukan penyebar virus bahwa cara itu berhasil.

Bagaimana Menangani Virus Jelek

Semua bisnis tidak lepas dari kesalahan. Saat kesalahan itu terungkap publik (virus jelek), cara terbaik untuk menangani dan memperbaikinya adalah bukan dengan memeranginya, atau tutup mulut berharap publik kelak akan tahu bahwa hal itu tidak benar (yang akan mendatangkan kerugian selama penurunan penjualan). Tetapi justru dengan menyebarkan virus lain yang membiarkan publik merasakan pengalaman positif ketika memakai produk anda, atau yang disebut Godin sebagai mengisi kevakuman yang ada. Contoh: saat sebuah merek mobil ‘X’ ditengarai mesinnya berbunyi keras, anda bisa mengadakan acara ‘Jalan-Jalan Gratis Bersama X’. Dengan mengajak orang berkendara dengan mobil itu, mereka akan mengalami sendiri bahwa ternyata mesinnya berbunyi halus.

Apa Yang Menentukan Penyebaran Virus Ide Anda?

1. Berapa banyak orang yang mengetahui tentang produk anda sebelum penyebaran dimulai?
2. Kelancaran penyebaran, dengan membuat virus itu mudah menyebar. Contoh pada e-business, dengan membubuhkan kalimat ‘Klik di sini untuk mengirim artikel ini pada teman’.
3. Mengubah sesuatu yang bersifat coba-coba menjadi tetap.
4. Tak perlu ditekankan lagi, bahwa di masa ini penggunaan internet memberi dampak hebat pada penyebaran virus ide.

Bagaimana Meramu Virus Ide Untuk Bisnis Anda?

5 hal yang harus diperhatikan:

Keuntungan dari segi reputasi bagi Penyebar Virus Kuat karena merekomendasikan suatu virus – Penyebar Virus Kuat memang tak dapat disuap, namun mereka mungkin termotivasi untuk terlihat pintar/up to date di mata orang lain, atau ingin membuat orang lain senang.

Keuntungan dari segi egoisme untuk Penyebar Virus Sembarang karena merekomendasikan virus – Amazon adalah penyedia program afiliasi yang mudah untuk diikuti, dengan skema komisi yang sederhana, dan dukungan prosedur dan tools yang sangat membantu Penyebar Virusnya.

Kelancaran dalam membagi virus itu dengan seorang teman – buatlah agar Penyebar Virus anda mudah dan otomatis dalam melakukan penyebarannya.

Daya penguat yang digunakan untuk menyebarkan kabar dari mulut ke mulut yang positif – Keberhasilan Penyebar Virus untuk mempengaruhi orang lain akan memperkuat virus ide itu tanpa mengeluarkan biaya tambahan.

Frekuensi interaksi di antara para anggota kelompok – Temukan di mana sebuah kelompok tingkat interaksinya paling tinggi, maka disitulah kecepatan virus ide anda akan meningkat drastis. Misalnya produk anda adalah pakaian olahraga, membagikan topi gratis dengan logo anda pada sebuah turnamen akan memperkuat pesan atau ide anda.

Contoh Penyebaran Virus Ide Dalam Kehidupan Masa Kini:

Setelah membaca buku ini, inilah contoh cara penyebaran virus ide dalam era sekarang ini.

1. Paid review di blog (misalnya Alcnect Computer yang sedang mengadakan kontes bagi para blogger untuk mereview produk mereka. Anda sebetulnya adalah para penyebar virus loh!).
2. Konsep yang diusung oleh Amazon.com, yang memungkinkan konsumen mereview produk yang sudah dibelinya, dan dipakai sebagai acuan bagi calon konsumen lain.

Sebenarnya konsep ini memang sedang marak digunakan. Paling tidak, sekarang kita tahu alasan dibalik penggunaan konsep ini, bagaimana sesungguhnya konsep ini bekerja, dan bagaimana dampaknya dalam persaingan bisnis.

Kesimpulannya, cara marketing yang agresif  kini dituntut untuk dapat memenangkan kompetisi. Iklan dan promosi yang pasif kurang efektif karena dunia sudah makin crowded. Bagaimana dengan bisnis anda? Sudahkah anda menerapkan virus ide untuk memenangkan persaingan?

Judul : The Ideavirus
Pengarang : Seth Godin
Penerbit : BIP, 2006
Halaman : 262
Harga : Rp 46.000,-

source : bukufanda

>The Long Tail : Pasar tak terbatas

>

Pada tahun 2006 terbit sebuah buku yang mengangkat sebuah fenomena baru dalam dunia bisnis. Chris Anderson dengan cara memikat membuka wawasan kita akan masa depan dunia ini. Dunia di mana pilihan tak terbatas akan menciptakan permintaan tak terbatas. Buku ini diterbitkan di Indonesia tahun 2007, dan inilah tinjauanku atas pemikiran dan teori Long Tail ini, dan bagaimana teori ini akan membantu hidup dan bisnis kita.

—–

Long Tail atau ekor panjang sejatinya adalah gambaran sebuah kurva pada grafik penjualan suatu produk. Lihat gambar di bawah ini:

Area berwarna merah (kita sebut sebagai kepala) menunjukkan popularitas, sedang area berwarna orange (yang disebut ekor) menunjukkan produk atau omzet. Jadi, bila diterjemahkan, Chris Anderson memandang tendensi bisnis saat ini adalah semakin tinggi popularitas sebuah produk, semakin kecil omzetnya. Sedangkan semakin rendah popularitasnya, semakin besar omzetnya. Bahkan, kalau kita cermati, ujung area orange membentuk panah ke arah timur, yang menggambarkan bahwa di dasar popularitas, terdapat pasar yang tak terbatas. “Apa??”

Anda mungkin terkejut dan tidak setuju dengan teori itu. Kita sudah terbiasa dicekoki oleh ‘the best’ atau ‘hit’ dalam hidup kita. Anda sering mendengarkan radio? Banyak radio yang menayangkan tangga lagu setiap malam Minggu, begitu juga MTV. Artinya, yang disanjung-sanjung adalah selalu ‘the best’, the best movie, the best music, dan the best-the best lainnya. Anda pernah belanja buku atau download musik online? Di situs-nya pasti ada the best, best seller atau top sekian…(ten to one hundred). Dan dapat dibayangkan pasti yang masuk di daftar best seller itu meraup untung yang banyak dari omzet yang besar. Maka popularitas dianalogikan dengan keuntungan, siapa yang paling populer, dialah yang berkuasa. Sampai…Chris Anderson datang membawa idenya yang akan mengubah pandangan anda!

Anda pasti kenal Michael Jackson. Albumnya masuk dalam top 50 penjualan musik di seluruh dunia. Namun, lihat saja di abad 21 ini, berapa orang yang mendownload lagu-lagunya dalam satu bulan terakhir misalnya. Lihat juga pergeseran hiburan bagi kita yang hidup di jaman ini. Penonton jaringan televisi merosot karena banyak yang pindah ke saluran-saluran kabel bertema khusus. Penonton televisi juga mulai lebih suka memelototi internet maupun video games ketimbang acara TV. Jadi, meski fenomena hit masih tetap ada, rating mereka terus turun. Lalu, kemana perginya mantan customer setia itu? Tidak kemana-mana, melainkan terbagi-bagi ke banyak pasar kecil khusus (niche market) yang lebih sesuai dengan selera mereka dan jumlahnya buanyaaaaak…

Dulu kita hanya mempunyai beberapa surat kabar di kota kita dan malahan hanya satu saluran televisi (TVRI) sebelum akhirnya banyak TV swasta yang berkiprah. Sehingga berita yang diterima oleh semua orang sama: yaitu yang disiarkan TV atau dicetak di koran itu. Kalau ada yang bertanya siapa penyanyi favoritmu? Pasti jawabannya adalah penyanyi yang kita tahu karena memang sudah terkenal. Tapi lihatlah apa yang terjadi sekarang!

Anda mungkin sudah familiar dengan iPod. Coba bandingkan isi iPod anda dengan teman-teman, isinya pasti akan sangat beragam. Mungkin malah ada lagu-lagu yang tak pernah anda dengar sebelumnya. Itulah pasar kecil khusus atau niche market.

Terima kasih pada internet, dunia maya yang memberikan pilihan yang tak terbatas pada kita. Niche market yang pada jaman dulu pasti tak akan terlihat, tertutup bayang-bayang para penguasa best seller, kini dapat menemukan dan ditemukan penggemarnya lewat Google dan search engine lainnya. Tapi, bukankah niche market itu jumlahnya kecil sekali? Bagaimana bisa sebuah bisnis hanya mengandalkan niche market? Begitu pula pikirku ketika aku pertama kali berkenalan dengan internet marketing (baik adsense maupun affiliate marketing). Apa akan ada yang mengklik iklan adsense-ku? Atau membeli produk affiliate-ku? Atau bahkan berapa orang yang akan masuk ke website nicheku? Padahal aturan bisnis yang aku ketahui sampai saat itu adalah gelutilah bisnis yang paling banyak dibutuhkan orang, misalnya: makanan. Kan semua orang pasti butuh makan? Makanya bisnis ini kagak ada matinya. Kata siapa?? Banyak resto yang tutup padahal makanannya lumayan enak.

Jadi, kalau bisnis yang pasarnya luas aja bisa bangkrut, apalagi kalau di niche market? Chris Anderson memperkenalkan pada kita yang disebutnya dengan ‘Aturan 98%”. Yaitu hasil pengamatan sebuah perusahaan pembuat digital jukebox. Dari 10.000 album yang tersedia, ada berapa persen yang terjual paling tidak 1 track per triwulan? Kalau di dunia nyata, separo dari 10.000 buku terlaris tidak terjual satupun per triwulan. Sedang di digital jukebox? Siap-siaplah untuk kaget: 98% !! Setelah riset yang panjang, Chris pun memperkenalkan fenomena the Long Tail, si ekor panjang. Karena, ternyata justru produk yang sangat-sangat niche dan jumlahnya sangat banyak itu tetap diminati banyak orang, sehingga kurva itu seolah tanpa akhir. Setiap kali si digital jukebox menambah koleksinya, selalu akan ada penjualan. Jadi, tidak diketahui kan kapan berakhirnya?

Apa penyebab fenomena ini?

Tak lain karena pergeseran budaya. Baik yang menyangkut permintaan: manusia modern yang tak mau lagi didikte. Didikte oleh penjual, oleh selera pasar. Kita semua ingin tampil beda kan? Juga yang menyangkut produksi. Dengan adanya bytes dalam dunia digital dan internet, juga fenomena open source (lihat review buku Wikinomics), ongkos produksi dan distribusi menjadi semakin murah sehingga segala sesuatu menjadi tersedia bagi semua orang. Dengan bantuan Google, kita dapat mencari apapun yang kita butuhkan, berita, makanan, tempat wisata, kursi di pesawat, sampai jodoh…

Bagi penggemar buku, mungkin pernah mendengar tentang print-on-demand, yakni pencetakan buku yang bukan dengan cara massal seperti yang selama ini ada, tetapi sebuah naskah baru akan dicetak begitu ada permintaan (aku sudah pernah membeli buku yang model begini, yakni Old Surehand). Mungkin cara ini masih terbilang mahal, namun potensinya sangat besar untuk menggeser industri percetakan (buku Old Surehand kubeli dengan harga 60.000, bukan harga yang terlalu mahal dibanding buku-buku best seller di toko buku offline!).

Efisiensi produksi itu bukan hanya memperpanjang ekor si Long Tail, tapi juga akan memperbaiki iklim bisnis di area kepala. Lalu bagaimana sebenarnya mekanisme Long Tail itu dapat bertahan? Unsur pertama adalah produksi (yang sudah diulas di atas), kedua: distribusi, dan yang ketiga dan terpenting adalah unsur word of mouth, yang memungkinkan orang menemukan apa yang mereka inginkan di tengah keragaman yang luarbiasa berlimpah itu.

Mungkin kita ini tidak menyadari bahwa kita sedang berada pada titik perubahan besar dalam era manusia. Kita sedang meninggalkan Jaman Informasi untuk memasuki Jaman Rekomendasi. Apa itu Jaman Rekomendasi? Di jaman ini informasi begitu mudah didapat, namun yang sulit adalah untuk membuat keputusan di tengah banjir informasi itu. Nah, rekomendasi-lah jalan pintas menembus hutan informasi itu. Pernahkah anda membeli barang atau sekedar ‘window shopping’ di Amazon??

Bagaimana kultur para pengguna Amazon? Sebelum membeli mereka akan mempelajari fitur produk itu, lalu melihat berapa banyak pengguna lain yang telah memakai produk itu, apa kata mereka tentang produk itu, puas atau tidak. Pada akhirnya, rekomendasi pemakai lainlah yang punya pengaruh besar pada keputusan membeli. Coba kalau kita melihat barang yang belum pernah direkomendasi orang sama sekali. Pasti kita akan berpikir, wah, kok tidak ada yang merekomendasi ya? Jangan-jangan produknya jelek?. Nah, jelas kan apa itu Jaman Rekomendasi?

Mengapa pada 30 tahun yang lalu, misalnya, kita tidak membutuhkan niche atau rekomendasi? Karena kultur manusia sudah berubah. Jika dulu orang ingin ‘I want to be normal’, maka sekarang mereka menuntut ‘I want to be special’. Jika dulu mereka dipaksa menurut selera pasar, alias pasarlah yang mendikte, maka kini customer berbalik menjadi penguasa atas pasar. Customer-lah yang menciptakan pasar. Kita semua dapat mengeksplorasi selera kita tepat seperti yang kita inginkan. Jika dulu, pada jaman toko buku offline, berhubung keterbasan ruang untuk display, maka buku-buku yang best seller-lah yang menguasai ruangan. Kita tak punya pilihan lain. Namun sekarang, ketika biaya penyimpanan dalam bytes hampir nihil, ketersediaan itu menjadi berlimpah. Maka kita disuguhi pilihan yang tak terbatas. Karena melimpahnya pilihan itu, maka kita membutuhkan rekomendasi, yakni rekomendasi dari orang lain dengan kebutuhan dan kondisi yang sangat mirip dengan kita.

Maka, tak dapat dipungkiri bahwa kemajuan pesat teknologi membuat Long Tail tak dapat dihindari. Kultur niche akan menata ulang tatanan sosial kita. Orang-orang akan membentuk kembali kelompok berdasarkan minat yang tidak dipengaruhi lagi oleh kedekatan geografis serta kesamaan tempat kerja. Kalau dulu penduduk sebuah kota kecil dapat dipastikan membaca berita yang sama dari harian lokal yang sama, menonton acara televisi yang sama. Namun kini, anda dan anak anda bisa saja berada di ruang yang sama, namun sibuk dengan hal yang benar-benar berbeda.

Keberadaan blog adalah contoh bisnis yang menganut kultur niche. Seorang blogger bisa mengulas sesuatu niche dengan sangat fokus, berkebalikan dengan media massa yang harus menjangkau semua golongan, sehingga hanya berita-berita terhangat di semua niche-lah yang akan di-cover. Itulah sebabnya blog merupakan ancaman serius bagi industri media.

Lalu bagaimana dengan anda, siapkah anda mengantisipasi ledakan Long Tail ini bagi karir maupun bisnis anda? Hanya anda yang tahu. Yang jelas, bagi yang sedang atau sudah menekuni internet marketing, aku pikir kita sudah berada di jalan yang tepat!

source : BLOG BUKUFANDA

>Tiga keahlian Dasar Salesmanship

>

“Satu-satunya divisi yang menghasilkan Uang, dalam arti kata sebenarnya, adalah divisi sales. Divisi yang lain bisa menghemat biaya, tetapi tetap tidak bisa menciptakan aliran dana masuk. Fokus pada divisi SALES, dapat memberikan pemasukan yang berkesinambungan bagi perusahaan Anda.” [Johny Rusly]

Tiga keahlian dasar yang harus dikuasai seorang salesman yang baik adalah;

-Pengetahuan Produk
-Komunikasi
-Integritas

1. Pengetahuan Produk
Pengetahuan produk yang mendalam, memberikan rasa percaya diri kepada salesman untuk berhadapan langsung dengan pelanggan.

Salesman yang tidak menguasai produk, termasuk salesman senior, cenderung tidak menawarkan produk yang tidak dikuasainya. Kekuatiran tidak bisa menjawab pertanyaan pelanggan membuat mereka menunda atau asal sekedar menawarkan produk tersebut. Kasus ini banyak terjadi pada pengembangan produk baru.

Pengetahuan produk tidak sekadar mencakup pemahaman keunggulan dari sisi kita. Salesman yang baik harus bisa menguasai seluk beluk produk kompetitor, agar dapat menangani keberatan pelanggan dengan baik.

2. Komunikasi
Salesmanship adalah komunikasi. Kita membutuhkan komunikasi, baik dalam hal menyampaikan keunggulan produk kita maupun dalam mencari solusi bagi pelanggan.

Komunikasi hanya dapat dicapai dengan dua cara:
a. Berbicara
b. Menulis

Namun inti dari segala komunikasi sebenarnya bukan disitu. Intisarinya adalah MENGERTI apa yang diinginkan pelanggan. Jadi, belajarlah untuk;
c. Mendengar
d. Menangkap poin

Menguasai cara-cara berkomunikasi yang baik dapat meledakan penjualan kita! Belajarlah Sekarang juga!

3. Integritas
Walk the talk; lakukanlah semua yang telah Anda janjikan! Tidak ada yang lebih mematikan kredibilitas seorang salesman daripada selalu mengingkari janji.

Pelanggan membeli ke kita bukan karena harga kita murah atau produk kita yang terbaik, tetapi lebih karena percaya pada kita.
# Percaya, bahwa kualitas barang yang dikirim akan sesuai dengan contoh.
# Percaya, bahwa kita mengirim barang tepat waktu dan tidak janji-janji melulu
# Dan Percaya, jika ada masalah, Anda dapat ditemui dan tidak sembunyi.

Syukurlah, sifat Integritas dapat dipelajari. Kuasailah sifat tersebut!

Action Plan:
1. Kuasailah segera keahlian / sifat-sifat tersebut.
2. Bergabunglah dengan komunitas-komunitas super yang relevan

Sumbar: 1000 Hari Menuju Sukses