>Negeri Seribu Rumah Suluk Naqsyabandiyah

>

PadangKini.com
Aliran tarekat Naqsyabandiyah yang lebih 1.000 pengikutnya terdapat di Sumatera Barat memiliki ‘keunikan’ dengan berpuasa dan Idul Fitri lebih awal 2 hari dari jadwal Pemerintah.
Seperti apa suasana tarekat ini? Kami membawa Anda ke kantong aliran tarekat Naqsyabandiyah di sepanjang tepian Sungai Rokan, Provinsi Riau. Di sini tempat ribuan rumah suluk yang didirikan jemaah Naqsyabandiyah. Abdul Wahab Rokan, tokoh yang membawa aliran Naqsabandiayah ke Asia Tenggara lahir di situ. Tulisan ini hasil liputan Febrianti dari PadangKini.com beberapa bulan lalu. (Redaksi)

BERSAMA angin yang berhembus, irama puja-puji salawat nabi terdengar merdu memenuhi udara  kampung Rantau Bais di tepian Sungai Rokan.Menghidupkan suasana kampung yang terkesan sunyi.
Salawat yang dinamakan tarahum itu  dilantunkan laki-laki dari sebuah rumah suluk dan sudah menjadi tradisi orang-orang Rokan untuk menjaga waktu salat.

Rumah Suluk Rantau Bais siang itu ramai tidak seperti biasanya. Di halaman rumah suluk, ibu-ibu sibuk memasak dalam kancah besar di atas tungku. Ada yang menanak nasi, mengaduk rendang daging kambing, membuat sup kambing dan gulai nangka.  
Usai salat sebuah pesta kenduri akan dilangsungkan. Makan-makan bersama itu untuk mengakhiri kegiatan suluk yang berlangsung selama 10 hari di rumah suluk itu. Suluk yang dilangsungkan kali ini adalah memperingati maulid Nabi Besar Muhammad SAW, Maret 2008.

Sebelum azan, kaum ibu menyelesaikan tugas masak-memasak dan bergegas mandi ke sungai.
“Nanti ikut kenduri suluk kaki, jangan sampai tidak datang,” kata ibu Asmah, tuan rumah kepada saya. Ia adalah istri Khalifah Ruslan Muhammad Khotib, yang menjadi mursid atau guru di rumah suluk itu.

Suluk sudah menjadi tradisi yang berkembang subur di perkampungan tepian Sungai Rokan. Setiap kampung memiliki lebih dari tiga rumah suluk. Tidak salah bila Rokan dijuluki negeri dengan seribu rumah suluk karena ada lebih seratus kampung yang ada di tepi sungai Rokan.
Yang membawa suluk ke Sungai Rokan adalah Syekh Abdul Wahab Rokan, satu abad yang lalu. Ia lahir pada 28 September 1811 di Kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Rokan Hulu, Riau. Ia penganut aliran Tarekat  Naqsyahbandi yang didapatnya setelah belajar di Mekkah.

Saat di Mekkah, Abdul Wahab Rokan diangkat sebagai khalifah besar. Penabalan itu diiringi dengan bai’at dan pemberian silsilah tarekat Naqsyabandiyah yang berasal dari Nabi Muhammad SAW hingga kemudian diteruskan kepada Abdul Wahab Rokan urutan penerima silsilah yang kedua puluh lima. Ia pun mendapat gelar Al Khalidi Naqsyabandi.

Setelah kembali ke Riau, Abdul Wahab Rokan mendirikan Kampung Mesjid. Ia mengembangkan syiar agama dan tarekat yang dianutnya, hingga Sumatera Utara dan Malaysia. Ia juga mendirikan kampung Babussalam di Langkat, Sumatera Utara di atas tanah yang diserahkan Sultan Musa Al-Muazzamsyah dari Kerajaan Langkat.
Hingga saat ini Babussalam menjadi pusat pengembangan Tarekat Naqsyahbandiah. Namun, walaupun Abdul Wahap Rokan akhirnya menetap dan meninggal dunia di Langkat, Suluk di Rokan tetap hidup di tengah masyarakat.

Persiapan Menghadapi Mati

Bangunan rumah suluk Rantau Bais itu bertingkat dua. Di lantai dua, ada beberapa perempuan tua yang terlihat sibuk mengemasi barang, menggulung dan mengikat erat kasur kapuk dengan selimut dan memasukkan baju-baju mereka ke dalam tas. Kain tirai pembatas tempat tidur  belum dibuka, begitu juga kelambu di dalamnya tempat peserta suluk tidur.

“Ini namanya kubur, jadi di dalamnya kita bisa merenung membayangkan seperti inilah dalam kubur nanti, sendirian, makanya untuk saya ikut suluk adalah mempersiapkan diri menghadapi mati,” kata  Nurlia, 68 tahun, menunjukkan kasur tempat tidurnya yang masih ditutup kelambu putih.

Ia menunjukkan posisi tidur peserta suluk dalam ‘kubur’, tubuh dalam posisi miring dan kaki dilipatkan ke dada, untuk mendapatkan posisi seperta dalam rahim ibu.
“Tempat tidur ini bisa dipakai untuk merenung seusai zikir malam, agar kita merasa benar-benar sendiri dan hanya berserah diri pada Allah, juga membayangkan saat dalam rahim ibu dulu,” katanya.

Ikut suluk punya persyaratan yang cukup berat. Bagi peserta baru, harus ikut tarikat lebih dahulu. Setelah itu sebelum suluk  akan ada sederet  ritual. Awalnya melakukan ‘registrasi’ membawa sebuah limau kapas (jeruk nipis) dan beberapa lembar uang yang sekadarnya yang akan diserahkan ke mursid atau guru suluk. 

Setelah itu peserta mandi di sungai dengan perasan air jeruk untuk mensucikan diri yang disebut mandi tobat. Selama suluk berlangsung tidak boleh pulang ke rumah, termasuk saat sakit. Bila sakit, biasanya keluarga dari  peserta suluk yang datang merawat dan ikut tinggal di sekitar rumah suluk.
Untuk peserta yang ikut pertama kalinya juga tidak boleh menampakkan diri di muka umum, bila hendak keluar mandi ke sungai, kepalanya tubuh dan  wajah harus ditutupi kain. 

Selain itu selama suluk juga tidak boleh memakan hewan bernyawa, mulai dari daging, ikan, ayam, termasuk telurnya. Makanan peserta suluk hanya dari tumbuh-tumbuhan, nasi, sayur, tahu, dan tempe. Makanan yang bernyawa dianggap tidak baik karena membuat pikiran tidak khusuk.

Kegiatan peserta Suluk mulai dari salat subuh, salat sunat, salat tobat berzikir, salat lagi, malam berzikir bersama, mursid atau guru, tahajud bersama dan tidur. Lalu apa lagi yang dikerjakan peserta suluk?

“Itu rahasia, tidak boleh diceritakan semua, cukup kulitnya saja, kalau ingin tahu harus ikut tarekat dan suluk,” kata Asmah.

Walaupun tidak dibatasi umur, kebanyakan yang ikut suluk orang-orang yang telah berusia 40 tahun ke atas. Setiap ada kegiatan suluk, diikuti puluhan hingga ratusan orang.

‘Tapi jangan bilang kami nenek-nenek, kami ini gadis semua,” kata Nenek Toyah, 72 tahun terkekeh dan disambut tawa teman-temannya.

“Kami memang di sini sudah janda semua, ditinggal suami, jadi ya sudah seperti anak-anak gadis,” sahut Nurlia.

Karena hari terakhir bersama-sama, peserta suluk yang biasa berkawan akrab sejak semasa kecil hingga gadis dan masa tua, tampak berat hati mengakhiri kebersamaan.
“Mudah-mudahan kita bertemu lagi di suluk yang akan datang, kalau umur saya masih panjang,” kata Toyah pada teman-temannya yang sedang mengemasi barang.
Untuk orang-orang tua itu, suluk sudah seperti kebutuhan, dalam setahun ada empat kali suluk diadakan, dan mereka selalu ikut kembali.

Bagi Khalifah Ruslan Muhammad Khotib, guru suluk di Rantau Bais, suluk adalah wisata kalbu untuk ketenangan jiwa agar tidak selalu memikirkan duniawi. “Orang yang mengikuti suluk ini penuh kedamaian,” katanya.

Source :

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: