>Suluk Wujil Sunan Bonang Part 2

>6
Sang Ratu Wahdat mesem ing lathi
Heh ra Wujil kapo kamangkara
Tan samanya pangucape
Lewih anuhun bendu
Atunira taha managih
Dening geng ing sakarya
Kang sampun alebu
Tan padhitane dunya
Yen adol warta tuku warta ning tulis
Angur aja wahdat

7
Kang adol warta tuhu warti
Kumisum kaya-kaya weruha
Mangke ki andhe-andhene
Awarna kadi kuntul
Ana tapa sajroning warih
Meneng tan kena obah
Tinggalipun terus
Ambek sadu anon mangsa
Lirhantelu outihe putih ing jawi
Ing jro kaworan rakta

8
Suruping arka aganti wengi
Pun Wujil anuntu maken wraksa
Badhi yang aneng dagane
Patapane sang Wiku
Ujung tepining wahudadi
Aran dhekeh ing Benang
Saha-saha sunya samun
Anggaryang tan ana pala boga
Ang ing ryaking sagara nempuki
Parang rong asiluman

9
Sang Ratu Wahdat lingira aris
Heh ra Wujil marangke den enggal
Tur den shekel kukuncire
Sarwi den elus-elus
Tiniban sih ing sabda wadi
Ra Wujil rungokna
Sasmita katenggun
Lamun sira kalebua
Ing naraka isung dhewek angleboni
Aja kang kaya sira

… 11
Pangestisun ing sira ra Wujil
Den yatna uripira neng dunya
Ywa sumambar angeng gawe
Kawruhana den estu
Sariranta pon tutujati
Kang jati dudu sira
Sing sapa puniku
Weruh rekeh ing sariri
Mangka saksat wruh sira
Maring Hyang Widi
Iku marga utama

Artinya lebih kurang:

6
Ratu Wahdat tersenyum lembut
“Hai Wujil sungguh lancang kau
Tuturmu tak lazim
Berani menagih imbalan tinggi
Demi pengabdianmu padaku
Tak patut aku disebut Sang Arif
Andai hanya uang yang diharapkan
Dari jerih payah mengajarkan ilmu
Jika itu yang kulakukan
Tak perlu aku menjalankan tirakat

7
Siapa mengharap imbalan uang
Demi ilmu yang ditulisnya
Ia hanya memuaskan diri sendiri
Dan berpura-pura tahu segala hal
Seperti bangau di sungai
Diam, bermenung tanpa gerak.
Pandangnya tajam, pura-pura suci
Di hadapan mangsanya ikan-ikan
Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
Namun isinya berwarna kuning

8
Matahari terbenam, malam tiba
Wujil menumpuk potongan kayu
Membuat perapian, memanaskan
Tempat pesujudan Sang Zahid
Di tepi pantai sunyi di Bonang
Desa itu gersang
Bahan makanan tak banyak
Hanya gelombang laut
Memukul batu karang
Dan menakutkan

9
Sang Arif berkata lembut
“Hai Wujil, kemarilah!”
Dipegangnya kucir rambut Wujil
Seraya dielus-elus
Tanda kasihsayangnya
“Wujil, dengar sekarang
Jika kau harus masuk neraka
Karena kata-kataku
Aku yang akan menggantikan tempatmu”

11
“Ingatlah Wujil, waspadalah!
Hidup di dunia ini
Jangan ceroboh dan gegabah
Sadarilah dirimu
Bukan yang Haqq
Dan Yang Haqq bukan dirimu
Orang yang mengenal dirinya
Akan mengenal Tuhan
Asal usul semua kejadian
Inilah jalan makrifat sejati”

Dalam bait-bait yang telah dikutip dapat kita lihat bahwa pada permulaan suluknya Sunan Bonang menekankan bahwa Tuhan dan manusia itu berbeda. Tetapi karena manusia adalah gambaran Tuhan, maka ’pengetahuan diri’ dapat membawa seseorang mengenal Tuhannya. ’Pengetahuan diri’ di sini terangkum dalam pertanyaan: Apa dan siapa sebenarnya manusia itu? Bagaimana kedudukannya di atas bumi? Dari mana ia berasal dan kemana ia pergi setelah mati? Pertama-tama, ‘diri’ yang dimaksud penulis sufi ialah ‘diri ruhani’, bukan ‘diri jasmani’, karena ruhlah yang merupakan esensi kehidupan manusia, bukan jasmaninya. Kedua kali, sebagaimana dikemukakan dalam al-Qur’an, surat al-Baqarah, manusia dicipta oleh Allah sebagai ‘khalifah-Nya di atas bumi’ dan sekaligus sebagai ‘hamba-Nya’.
Itulah hakikat kedudukan manusia di muka bumi. Ketiga, persoalan dari mana berasal dan kemana perginya tersimpul dari ucapan ”Inna li Allah wa inna li Allahi raji’un” (Dari Allah kembali ke Allah).
Demikianlah sebagai karya bercorak tasawuf paling awal dalam sastra Jawa, kedudukan Suluk Wujil dan suluk-suluk Sunan Bonang yang lain sangatlah penting. Sejak awal pengajarannya tentang tasawuf, Sunan Bonang menekankan bahwa konsep fana’ atau persatuan mistik dalam tasawuf tidak mengisyaratkan kesamaan manusia dengan Tuhan, yaitu yang menyembah dan Yang Disembah.
Seperti penyair sufi Arab, Persia dan Melayu, Sunan Bonang – dalam mengungkapkan ajaran tasawuf dan pengalaman keruhanian yang dialaminya di jalan tasawuf – menggunakan baik simbol (tamsil) yang diambil dari budaya Islam universal maupun dari budaya lokal. Tamsil-tamsil dari budaya Islam universal yang digunakan ialah burung, cermin, laut, Mekkah (tempat Ka’bah atau rumah Tuhan) berada, sedangkan dari budaya lokal antara lain ialah tamsil wayang, lakon perang Kurawa dan Pandawa (dari kisah Mahabharata) dan bunga teratai. Tamsil-tamsil ini secara berurutan dijadikan sarana oleh Sunan Bonang untuk menjelaskan tahap-tahap perjalanan jiwa manusia dalam upaya mengenal dirinya yang hakiki, yang melaluinya pada akhirnya mencapai makrifat, yaitu mengenal Tuhannya secara mendalam melalui penyaksian kalbunya.
Tasawuf dan Pengetahuan Diri
Secara keseluruhan jalan tasawuf merupakan metode-metode untuk mencapai pengetahuan diri dan hakikat wujud tertinggi, melalui apa yang disebut sebagai jalan Cinta dan penyucian diri. Cinta yang dimaksudkan para sufi ialah kecenderungan kuat dari kalbu kepada Yang Satu, karena pengetahuan tentang hakikat ketuhanan hanya dicapai tersingkapnya cahaya penglihatan batin (kasyf) dari dalam kalbu manusia (Taftazani 1985:56).
Tahapan-tahapan jalan tasawuf dimulai dengan‘penyucian diri’, yang oleh Mir Valiuddin (1980;1-3) dibagi tiga:
Pertama, penyucian jiwa atau nafs (thadkiya al-nafs);
kedua, pemurnian kalbu (tashfiya al-qalb);
ketiga, pengosongan pikiran dan ruh dari selain Tuhan (takhliya al-sirr). 
Istilah lain untuk metode penyucian diri ialah mujahadah, yaitu perjuangan batin untuk mengalahkan hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungan buruknya. Hawa nafsu merupakan representasi dari jiwa yang menguasai jasmani manusia (‘diri jasmani’). Hasil dari mujahadah ialah musyahadah dan mukasyafah. Musyahadah ialah mantapnya keadaan hati manusia sehingga dapat memusatkan penglihatannya kepada Yang Satu, sehingga pada akhirnya dapat menyaksikan kehadiran rahasia-Nya dalam hati. Mukasyafah ialah tercapainya kasyf, yaitu tersingkapnya tirai yang menutupi cahaya penglihatan batin di dalam kalbu.
Penyucian jiwa dicapai dengan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Termasuk ke dalam ibadah ialah melaksanakan salat sunnah, wirid, zikir, mengurangi makan dan tidur untuk melatih ketangguhan jiwa. Semua itu dikemukakan oleh Sunan Bonang dalam risalahnya Pitutur Seh Bari dan juga oleh Hamzah Fansuri dalam Syarab al-`Asyiqin (“Minuman Orang Berahi”). Sedangkan pemurnian kalbu ialah dengan membersihkan niat buruk yang dapat memalingkan hati dari Tuhan dan melatih kalbu dengan keinginan-keinginan yang suci. Sedangkan pengosongan pikiran dilakukan dengan tafakkur ataumeditasi, pemusatan pikiran kepada Yang Satu. Dalam sejarah tasawuf ini telah sejak lama ditekankan, terutama oleh Sana’i, seorang penyair sufi Persia abad ke-12 M. Dengan tafakkur, menurut Sana’i, maka pikiran seseorang dibebaskan dari kecenderungan untuk menyekutuhan Tuhan dan sesembahan yang lain (Smith 1972:76-7).
Dalam Suluk Wujil juga disebutkan bahwa murid-muridnya menyebut Sunan Bonang sebagai Ratu Wahdat. Istilah ‘wahdat’ merujuk pada konsep sufi tentang martabat (tingkatan) pertama dari tajalli Tuhan atau pemanifestasian ilmu Tuhan atau perbendaharaan tersembunyi-Nya (kanz makhfiy) secara bertahap dari ciptaan paling esensial dan bersifat ruhani sampai ciptaan yang bersifat jasmani.
Martabat wahdat ialah martabat keesaan Tuhan, yaitu ketika Tuhan menampakkan keesaan-Nya di antara ciptaan-ciptaan-Nya yang banyak dan aneka ragam. Pada peringkat ini Allah menciptakan esensi segala sesuatu (a’yan tsabitah) atau hakikat segala sesuatu (haqiqat al-ashya). Esensi segala sesuatu juga disebut ‘bayangan pengetahuan Tuhan’ (suwar al-ilmiyah) atau hakikat Muhammad yang berkilau-kilauan (nur muhammad). Ibn `Arabi menyebut gerak penciptaaan ini sebagai gerakan Cinta dari Tuhan, berdasar hadis qudsi yang berbunyi, “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku cinta (ahbabtu) untuk dikenal, maka aku mencipta hingga Aku dikenal” (Abdul Hadi W. M. 2002:55-60). Maka sebutan Ratu Wahdat dalam suluk ini dapat diartikan sebagai orang yang mencapai martabat tinggi di jalan Cinta, yaitu memperoleh makrifat dan telah menikmati lezatnya persatuan ruhani dengan Yang Haqq.

bersambung….

by. Sastra Pesisir Jawa Timur: Suluk-suluk Sunan Bonang
Oleh Dr.Abdul Hadi W. M.
(Sastrawan-Budayawan, Dosen ICAS-Jakarta, Universitas Paramadina & Univ.Indonesia)

Serial Suluk-Suluk Sunan Bonang dalam Blog Sief :

>Jadilah Gelas Kosong

>

Sebuah analogi sederhana namun kaya makna.
Jika kita memiliki gelas kosong, maka kita dapat mengisinya dengan air jernih sampai gelas itu penuh. Namun jika gelas yang kita miliki sudah penuh, kita tidak dapat mengisinya lagi. Karena jika kita paksakan, maka kita akan mendapati air yang bertumpahan. Begitupun jika gelas yang kita miliki hanya kosong separuh, maka air yang dapat kita isi hanyalah separuh sisanya.

Dan jika analogi ini kita lihat dari sudut pandang menuntut ilmu ataupun mencari nasehat, maka kita harus memposisikan diri kita sebagai gelas kosong. Yang siap diisi oleh ilmu, oleh nasehat, oleh kebaikan, ataupun oleh kebenaran. Sehingga apa-apa yang di berikan tidak tumpah, melainkan selalu terserap. Jadilah gelas kosong sepanjang kelas kehidupan berlangsung.

Tidak berarti kita menjadi orang yang apatis dan menerima segalanya, sehingga mudah disetir. Sama sekali bukan seperti itu. Pasanglah antivirus di dalam akal kita, yang akan menyaring semua keabnormalan ide. Melindungi akal dan hati kita dari keburukan yang berbaju indah, yang di sodorkan kepada kita. Jadilah kritis namun jangan pesimis. Setelah menerima apa yang ditawarkan, segeralah latih akal untuk berfikir dan menggali maknanya. Tarik semua pembelajaran dan hikmah.

Jangan pula menjadi orang yang penuh prasangka terhadap ide-ide baru yang tidak familiar, terhadap nasehat-nasehat yang tidak diharapkan, atau kebenaran yang tidak menyenangkan. Sehingga walau gelas memang sudah kosong, tetapi air tidak bisa masuk, karena terhalang oleh sebuah ‘tutup gelas’.

Kita bisa melihat orang-orang semacam itu di seminar/ pelatihan/ kelas/ pengajian. Ketika banyak orang-orang yang menjadi cerah wajahnya dengan ilmu yang baru di terima, mereka justru selalu saja dapat menemukan hal-hal negatif untuk di bicarakan. Ketika orang-orang lain menjadi bersemangat untuk segera menerapkan ilmu baru, mereka justru merasa menyesal telah datang.

Bayangkan perbedaannya pada saat kita menjadi gelas kosong, gelas separuh kosong, dan gelas penuh. Itulah keberagaman jenis orang yang hadir di sebuah lingkaran ilmu. Sehingga di akhir majlis, ada orang-orang yang menjadi tercerahkan dan memahami hampir semua materi, ada orang yang separuh paham, namun ada pula orang yang malah bingung dan sama sekali tidak mengerti.

Sang guru sedang menuang ilmunya di majlis itu. Ilmu yang berupa gabungan dari nasehat, hukum, kebenaran, dll. Hanya gelas yang kosong yang dapat menampung semua itu.
Coba kita tanya diri kita sendiri, berapa kali kita menghadiri pelatihan/ seminar/ pengajian, namun akhlak kita belum berubah ? Apa itu karena kita belum ikhlas menerima semua ilmu itu, sehingga kita tidak meluruskan niat dan benar-benar berusaha menjadi gelas kosong yang bisa menampung semua ilmu. Atau malah, kita memang sengaja tidak mengosongkan gelas dan malah memasang tutup, sehingga semua ilmu itu tertolak.

Apakah di saat itu kita sedang sombong ? Karena yang di maksud sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia ( HR. Muslim ).

Mungkin tutup yang terpasang erat, adalah upaya kita untuk menolak melihat kebenaran yang di bawa oleh ilmu itu?

Mungkin juga kah, penolakan kita untuk mengosongkan gelas dan menampung semua ilmu yang akan datang, adalah dari sikap kita yang meremehkan sang guru, meremehkan jenis ilmu yang di berikan, meremehkan tempatnya, dll.

Astaghfirullahal’adzhim.

Padahal jika kita tidak sesombong itu, dan kita bersedia mengosongkan –setidaknya-sebagian dari gelas kita untuk menampung kucuran air yang jernih,
Walau setengah bagian dari gelas kita saat itu hanya terisi oleh air yang keruh.
Namun ketika kita sudah tidak sombong lagi, dan bersedia menerima ilmu. Maka,
Air jernih akan mengucur dan mengisi ruang gelas yang kosong hingga penuh. Bercampur dengan air keruh di dalam gelas. Kekeruhan air itu memudar karena tercampur oleh air bersih. Lalu ketika kita terus menerima , maka air didalam gelas akan mulai meluap dan tumpah. Dan tahukah, air seperti apa yang terbuang pada saat itu ? Ya benar, air yang terbuang dari gelas kita adalah air keruh itu. Sehingga yang tertinggal di dalam gelas kita hanyalah air yang jernih.

***
Bagaimana jika kita yang menjadi orang yang membagi ilmu, menjadi orang yang menuangkan air, menjadi si pemberi nasehat ?

Orang-orang yang di kirimkan kepada kita yang membagi masalahnya kepada kita, ada yang datang hanya ingin bercerita tanpa berharap nasehat, dan ada pula yang berharap solusi.

Sehingga kita harus pandai-pandai melihat, apakah gelas yang kita hadapi tertutup, kosong, atau terisi sebagian. Karena dengan mengetahui keadaaan orang yang bersangkutan, kita akan mampu mengatur tingkat pengharapan kita. Tingkat pengharapan ; adanya respon positif terhadap nasehat kita, diterimanya nasehat kita, dijalankannya solusi-solusi yang kita berikan, dll.

Memang jika orang yang tersebut adalah orang yang dekat dengan kita, yang kita sayangi, maka kita akan menjadi sangat subjektif. Kita akan berusaha sekuat mungkin untuk menolongnya. Tingkat pengharapan kita kepadanya akan sangat tinggi. Kita terus berharap agar orang yang bersangkutan akan berubah. Dan ketika orang yang di harapkan untuk berubah, ternyata tetap melakukan hal yang sama atau bahkan lebih buruk, maka kita akan sangat kecewa. Hal itu karena harapan kita kepadanya sangatlah tinggi, sehingga sakit rasanya ketika jatuh.

Namun inilah tantangannya. Setiap dari kita memang wajib mengingatkan, wajib saling memberi nasehat, namun kita tidak akan di minta pertanggung jawabannya terhadap hasil nya kelak. Bahkan Rasulullah saw pun hanya bertugas sebagai pemberi peringatan dan sebagai suri tauladan.

Salah satu cara untuk me’manage’ pengharapan kita, maka kita harus jeli melihat. Jika orang itu datang membawa gelas kosong dan kita bisa mengisi penuh gelas itu, maka kita dapat berharap lebih dari orang yang membawa gelas yang hanya setengah kosong. Dan jika orang itu membawa gelas yang terpasangi tutup, kita dapat menyadarinya dan terhindar dari kekecewaan.

Bukankah kita telah di ajari, bahwa jika kita melihat ketidakbenaran terjadi; maka kita dapat merubahnya dengan tangan kita. Jika tidak bisa , maka kita dapat berusaha merubahnya dengan lisan kita, dan jika kita tidak mampu, maka kita dapat menolaknya dengan hati kita, walau itu adalah selemah-lemahnya iman.

Kita dapat merubah seseorang/ lingkungan dengan tangan kita, pada saat kita memiliki kewenangan / kekuasaan terhadap mereka. Dimana kita dapat memberi konsekuensi terhadap keburukan yang terjadi, dan di harapkan dengan konsekuensi itu, orang/ lingkungan menjadi kapok dan berubah.

Namun lebih seringnya, kita hanya mampu menasehati dengan lisan, ataupun hanya mampu tuk mendoakan di dalam hati. Dan karenanyalah kita harus mampu mengontrol tingkat pengharapan kita. Karena ketidak mampuan mengontrol pengharapan kita, dapat berbuah menjadi rasa kecewa yang berlipat-lipat, dan dapat berakhir dengan rasa cuek terhadap apapun yang terjadi dengan orang yang bersangkutan. Kita menjadi apatis.

Berbeda ketika kita sudah mampu mengelola pengharapan kita. Kita akan ikhlas memberi ilmu, menasehati, menolong, tanpa berfikir tentang di terima dan dijalankannya nasehat-nasehat kita. Jika di jalankan, maka insyaAllah kita akan terhindar dari sikap puas diri, dan kalaupun di tolak kita akan terhindar dari sikap berputus asa. Pada saat itu kita bukanlah bersikap cuek kepada orang yang bersangkutan, namun kita bersikap tawakkal. Menyerahkan segala sesuatunya kembali kepada Allah.

Namun jika orang yang bersangkutan, kelak menyadari semua kesalahannya, datang kembali meminta nasehat, meminta tolong agar di bantu, dan ber azzam ingin berubah. Maka saat itu kita wajib untuk kembali menasehati, kembali mengingatkan kepada kebaikan. Kembali berada di sisinya , sebagai saudara/i sesame muslim. Sebagai sebuah bangunan utuh.

Wallahu’alam

By: yunieza ( 100210).
Sedikit berbagi nasehat-nasehat yang di berikan oleh guruku, ibu Ania dan beberapa pemikiran dari Mario teguh, serta sedikit dari renunganku. Semoga bermanfaat.
Sesungguhnya semua kebenaran itu berasal dari Allah swt, dan segala kesalahan itu berasal dari hawa nafsuku dan juga syetan.

>Haqiqat Ilmu

>

Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily ra.
Aku melihat seakan-akan diriku berada di hadapan Allah Azza wa-Jalla, lalu Dia berfirman: “Janganlah engkau merasa aman dari makarku

sedikitpun walaupun Aku menjaminmu. Sebab ilmu-Ku tidak bisa dijangkau oleh orang yang menjangkau. Demikian pula kondisi mereka. Janganlah engkau menoleh pada ilmu, amal dan pertolongan. Jadikan dirimu bersama-Ku dan bagi-Ku dalam seluruh (ilmu, amal, pertolongan) selamanya.”

Janganlah engkau sebarkan ilmumu agar engkau dibenarkan oleh manusia. Namun sebarkanlah ilmumu agar Allah membenarkan dirimu, walaupun ada sebab yang mencercamu. Maka sebab yang ada diantara dirimu dan Allah dimana datangnya dari arah perintah-Nya kepadamu itu lebih baik bagimu daripada sebab yang ada diantara dirimu dan manusia, dari sisi, dimana Allah melarangmu.

Suatu sebab yang engkau bisa kembali kepada Allah lebih baik dari sebab yang memutuskan dirimu dengan Allah. Untuk tujuan itulah Allah mengaitkan dirimu dengan pahala dan siksa. Sebab tak ada yang diharapkan dan ditakuti kecuali dari sisi Allah. Allah cukup sebagai Pendamping dan Pembenar.
Hendaknya engkau selalu bersama Allah sebagai orang yang alim dan pengajar. Cukuplah Allah sebagai Penunjuk, Penolong dan Kekasih. Yakni Penunjuk yang memberi petunjuk padamu, dan menunjukkan bersamamu dan kepadamu; Penolong yang menolongmu, menolong bersamamu dan tidak menolong yang membuatmu sengsara; sebagai Kekasih yang mengasihimu, mengasihi bersamamu dan tidak mengasihi yang mencelakakanmu.

Ilmu-ilmu ini mengandung beberapa firasat dan penjelasan dalam obyek-obyek jiwa, dalam bisikan-bisikan, cobaan dan kehendak jiwa. Hati, harus melakukan analisa, penentraman dan pendasaran menurut jalan tauhid dan syariat, dengan kejernihan mahabbah dan keikhlasan demi agama dan sunnah.
Setelah itu, mereka mendapatkan tambahan-tambahan dalam tahap-tahap yaqin: berupa zuhud, sabar, syukur, harapan, ketakutan, tawakkal, ridha dan sebagainya, dari tahap-tahap yaqin. Inilah jalan para penempuh amal bagi Allah.

Sedangkan Ahlullah dan kalangan khusus-Nya, adalah kaum yang ditarik dari keburukan dan prinsip-prinsipnya. Mereka diperamalkan untuk kebajikan dan cabang-cabangnya. Mereka dicintakan untuk khalwat, dan dibukakan pintu jalan munajat. Allah memperkenalkan diri pada mereka, sehingga merekapun kenal Dia. Allah memberikan kecintaan kepada mereka sehingga mereka mencintai-Nya.

Allah menunjukkan jalan dan mereka menempuh jalan itu. Mereka selalu bersama-Nya dan bagi-Nya. Mereka tidak dibiarkan untuk yang lain-Nya, dan mereka tidak ditutupi dari-Nya. Namun justru mereka tertutup —bersama-Nya— dari selain-Nya. Mereka tidak mengenal selain Dia dan tidak pula mencintai selain Dia. ”Mereka adalah orang-orang yang oleh Allah diberi petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang memiliki hati nurani.”

Aku pernah melihat Nabi saw. bersama Nuh as, dan seorang Malaikat ada diantara beliau berdua. Lalu Nabi saw, bersabda, ”Seandainya Nuh mengetahui kaumnya sebagaimana Muhammad —‘alaihis shalatu wassalam— mengetahui kaumnya, tentu Nuh tidak akan berdoa atas kaumnya, dengan ucapannya, “Tuhanku, janganlah engkau biarkan seorang pun diantara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (Q.s. Nuh: 26-27). Inilah posisi ilmu hakiki yang tidak bisa dirubah.

Seandainya Muhammad —‘alaihis shalatu wasssalam— mengetahui kaumnya sebagaimana pengetahuan Nuh —‘alaihis salam— ia tidak akan menangguhkan sekejap mata pun, tetapi ia mengetahui bahwa dalam tulang punggung mereka ada orang yang beriman kepada-Nya dan menyiapkan (diri) untuk bertemu Tuhan-Nya, — lalu Nabi saw. bersabda, — “Ya Allah ampunilah dosa kaumku, sebab mereka sesungguhnya tidak mengetahui.”

Semua di dasarkan pengetahuan dan bukti dari Allah. Maka setiap masing-masing harus menetapi apa yang ada dari do’a. Kemudian Nabi saw. bersabda, “Bukankah demikian?” Mereka berdua menjawab, “Benar.” Lalu Nabi saw. bersabda, ”Barangsiapa memerangi diri sendiri, hawa nafsunya, syetan dan syahwatnya serta dunianya, lantas ia kalah, berarti ia tertolong dan diberi pahala. Dan barangsiapa memerangi semua itu, lalu ia kalah ia tergolong diampuni dan diterima syukurnya, sepanjang tidak terus menerus berbuat dosa, atau rela pada aib, atau gugur dalam rasa ketakutan dalam batin. Barang siapa berada dalam salah satu tiga kategori di atas dan ia tahu bahwa ia punya Tuhan Yang Maha Pengampun dosa dan menyiksa akibat dosa itu, serta ia iman terhadap seluruh qadar dan takut dari dosanya, merasa takut kepada Tuhannya, maka rahmat akan datang lebih cepat kepadanya dibanding tetes hujan yang jatuh ke bumi-Nya.” Dan Allah pun berfirman, ”Yang paling Kukasihi pada hamba-Ku, manakala ia usai menghadap-Ku, dan paling agung di sisi-Ku jika hamba-Ku menghadap pada-Ku.”

Sementara orang yang hancur adalah orang yang bergembira dengan maksiatnya manakala diberikan peluang padanya, dan susah gelisah manakala ia tidak bermaksiat. Ia merasa bangga dengan tindakan maksiat itu, dan tidak mau menutupinya. Maka kita mohon perlindungan dari Allah, dan ia berada dalam kehendak Allah.

Hakikat ilmu itu disebut baik manakala ia tenteram dalam kebajikan ilmu. Sedangkan hakikat ilmu itu disebut buruk manakala, ia keluar dari ilmu itu. Ilmu itu bagi hati ibarat dirham-dirham dan dinar-dinar di tangan. Bisa bermanfaat bagimu bisa pula membahayakanmu.

Ada tujuh kategori, hendaknya hatimu engkau hindarkan dari tujuh perkara itu:
1) Tak ada ilmu dan,
2) tak ada amal,
3) tak ada keistmewaan,
4) dan tak ada titipan ruhani,
5) tak ada tempat-tempat singgah jiwa,
6) dan tak ada bisikan-bisikan ruhani,
7) tak ada hakikat-hakikat yang bisa menyelamatakan dirimu dari takdir Allah swt.
Ilmu yang hakiki adalah ilmu yang tidak dicampuri oleh kontradiksi dan bukti-bukti yang menafikan contoh dan keraguan, sebagaimana Ilmu Rasul saw, Ilmu orang yang benar, serta ilmu Wali. Siapa pun yang memasuki medan tersebut ibaratnya seperti orang yang tenggelam dalam samudera, kemudian ia ditelan oleh ombak, lalu kontradiksi manakah yang muncul (dalam situasi seperti itu) yang bisa didapatkan, dicampurkan, didengar atau dilihat. Sedangkan siapa yang tidak memasuki medan tersebut ia sangat membutuhkan ayat “Tiada satu pun yang menyamai-Nya”.

Jika engkau bermajlis dengan para Ulama, janganlah bicara dengan mereka kecuali dengan ilmu-ilmu Naqliyah dan riwayat hadits yang shahih. Bisa jadi engkau memberi manfaat terhadap mereka atau sebaliknya engkau bisa meraih manfaat dari mereka. Itulah keuntungan terbesar dari mereka.

Namun, jika engkau bermajlis dengan para ahli ibadah dan ahli zuhud, maka duduklah dengan mereka di atas tikar zuhud dan ibadah. Itu membuat mereka mudah memberikan solusi atas lintasan ketetapannya dan membuat mudah apa yang menjadi kesulitannya, serta rasa kema’rifatan mereka sepanjang mereka belum merasakannya.

Apabila engkau bermajlis dengan kaum Shiddiqin, maka pisahkan apa yang engkau ketahui, maka engkau akan mendapatkan ilmu yang terpendam.
source : SUFINEWS