>Belajarlah Mati sebelum kematian itu datang

>“Belajarlah Mati sebelum kematian itu datang”. Kata-kata itu sepertinya hanya sebuah kata iseng yang diucapkan. Tetapi jika kita telaah dan pahami secara rinci, kata-kata itu mengandung makna yang sangat dalam dan sarat ilmu.

Belajar mati disini bukanlah dalam artian kita harus bunuh diri untuk bisa mengecap sebuah kematian. Tetapi arti kata belajar mati di sini adalah mematikan segala bentuk hawa nafsu untuk bisa bertemu dengan Sang Khaliq.

Orang yang beragama Islam juga memiliki kata-kata seperti itu yakni “Sholatlah kamu sebelum kamu disholati orang lain”. Artinya, bagi orang yang beragama Islam harus menjalankan sholat yang sejati. Bukan sholat yang hanya sekedar “gugur kewajiban” saja. Tetapi sholat disini adalah mengenal, menghadap, menyembah Allah. Dengan sholat, kita bisa mengenali Allah. Dengan Sholat kita bisa berbicara dan berkomunikasi dengan Allah. Seusai sholat, kita akan bisa merasakan kenikmatan dalam berkomunikasi dengan Allah.

Kembali pada pokok bahasan belajar mati. Dalam hal ini, belajar mati adalah berdiam diri (meditasi/samadhi) dengan mematikan hawa nafsu, pancaindera dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nafsu. Semata-mata yang bergerak adalah hati dan rasa. Rasa sejati dengan bimbingan dari Gusti ALLAH lewat Guru Sejati. Dengan samadhi/meditasi, maka seseorang bisa mematikan diri sendiri dan berkontemplasi, konsentrasi menghadap khusuk pada Gusti ALLAH.

Dengan samadhi/meditasi, kita meninggalkan dunia ini untuk sementara waktu dan memasuki alam lain yakni alam jabarut, malakut hingga alam ilahiah. Dengan memasuki berbagai alam ini kita akan bisa melihat kebesaran dari Gusti ALLAH akan semua makhluk ciptaannya. Jika hal itu sering kita lakukan, maka sewaktu-waktu jika kita dipanggil oleh Gusti ALLAH (meninggal dunia), kita sudah siap.

Mengetuk Pintu Gusti ALLAH

Tidak ada bedanya tatakrama ketika kita bertamu dengan ketika kita menghadap pada Gusti ALLAH. Kalau kita bertamu ke rumah rekan atau sahabat, tentunya harus mengetuk pintu terlebih dulu sebelum siempunya rumah keluar. Demikian pula ketika hendak menghadap pada Gusti ALLAH. Kita harus mengetuk pintuNYA.

Mengetuk pintuNYA itu tidak dalam artian yang sebenarnya. Tetapi dalam artian meminta ijinNYA untuk bisa masuk ke alamnya. Manusia tidak akan bisa masuk dengan sendirinya tanpa mengetuk pintu Gusti ALLAH itu. Cara mengetuk pintu tersebut adalah dengan doa yang disebut dengan doa kunci.

Doa tersebut hendaknya dibaca tujuh kali dengan menahan napas setiap kali membacanya. Doa tersebut berbunyi:

Gusti Ingkang Moho Suci
Kulo Nyuwun Pangapuro Dhumateng Gusti Ingkang Moho Suci
Sirrullah, Dzatullah, Sifatullah
Kulo Sejatining Satrio Nyuwun Panguoso
Kulo Nyuwun Kanggo Tumindhake Satrio Sejati
Kulo Nyuwun Kanggo Anyirnakake Tumindak Ingkang Luput.

Dengan mengetuk pintu Gusti ALLAH tersebut, maka kita sudah bisa melanglang buana milik ALLAH yang tidak semua orang bisa memasukinya. Tentu saja, semua itu atas izin dari Gusti ALLAH sendiri sebagai pemilik alam semesta. Mudah-mudahan artikel tersebut dapat berguna. Rahayu…Rahayu….Rahayu

>Rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Pangruwa Ting Diyu

>Dalam lakon wayang Purwa, kisah Ramayana bagian awal diceritakan asal muasal keberadaan Dasamuka atau Rahwana tokoh raksasa yang dikenal angkara murka, berwatak candala dan gemar menumpahkan darah. Dasamuka lahir dari ayah seorang Begawan sepuh sakti linuwih gentur tapanya serta luas pengetahuannya yang bernama Wisrawa dan ibu Dewi Sukesi yang berparas jelita tiada bandingannya dan cerdas haus ilmu kesejatian hidup. Bagaimana mungkin dua manusia sempurna melahirkan raksasa buruk rupa dan angkara murka ? Bagaimana mungkin kelahiran “ sang angkara murka “ justru berangkat dari niat tulus mempelajari ilmu kebajikan yang disebut Serat Sastrajendra.

Ilmu untuk Meraih Sifat Luhur Manusia.

Salah satu ilmu rahasia para dewata mengenai kehidupan di dunia adalah Serat Sastrajendra. Secara lengkap disebut Serat Sastrajendrahayuningrat Pangruwatingdiyu. Serat = ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian. Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan. Pengertiannya bahwa Serat Sastrajendra adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.

Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk yang tidak sesempurna manusia. Misal kisah prabu Salya yang malu karena memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi, istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti keburukan atau kejahatan). Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat tersendiri yang disebut “ Kayangan Setragandamayit “. Wujud Betari Durga adalah raseksi yang memiliki taring dan gemar membantu terwujudnya kejahatan.

Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan. Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna. Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya. Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud. Sekalipun manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).

Namun ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Diyu.

Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu. Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.

Sifat Manusia Terpilih.

Sebelum memutuskan siapa manusia yang berhak menerima anugerah Sastra Jendra, para dewata bertanya pada sang Betara Guru. “ Duh, sang Betara agung, siapa yang akan menerima Sastra Jendra, kalau boleh kami mengetahuinya. “

Bethara guru menjawab “ Pilihanku adalah anak kita Wisrawa “. Serentak para dewata bertanya “ Apakah paduka tidak mengetahui akan terjadi bencana bila diserahkan pada manusia yang tidak mampu mengendalikannya. Bukankah sudah banyak kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua”

Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.

Seolah menegur para dewata sang Betara Guru menjawab “Hee para dewata, akupun mengetahui hal itu, namun sudah menjadi takdir Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ilmu rahasia hidup justru diserahkan pada manusia. Bukankah tertulis dalam kitab suci, bahwa malaikat mempertanyakan pada Tuhan mengapa manusia yang dijadikan khalifah padahal mereka ini suka menumpahkan darah“. Serentak para dewata menunduk malu “ Paduka lebih mengetahui apa yang tidak kami ketahui”

Kemudian, Betara Guru turun ke mayapada didampingi Betara Narada memberikan Serat Sastra Jendra kepada Begawan Wisrawa.

“ Duh anak Begawan Wisrawa, ketahuilah bahwa para dewata memutuskan memberi amanah Serat Sastra Jendra kepadamu untuk diajarkan kepada umat manusia”

Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “ Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.

Betara Narada mengatakan “ Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 2 (dua). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “ Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.

Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya.

Nun jauh, negeri Ngalengka yang separuh rakyatnya terdiri manusia dan separuh lainnya berwujud raksasa. Negeri ini dipimpin Prabu Sumali yang berwujud raksasa dibantu iparnya seorang raksasa yang bernama Jambumangli. Sang Prabu yang beranjak sepuh, bermuram durja karena belum mendapatkan calon pendamping bagi anaknya, Dewi Sukesi. Sang Dewi hanya mau menikah dengan orang yang mampu menguraikan teka teki kehidupan yang diajukan kepada siapa saja yang mau melamarnya. Sebelumnya harus mampu mengalahkan pamannya yaitu Jambumangli. Beribu ribu raja, wiku dan satria menuju Ngalengka untuk mengadu nasib melamar sang jelita namun mereka pulang tanpa hasil. Tidak satupun mampu menjawab pertanyaan sang dewi. Berita inipun sampailah ke negeri Lokapala, sang Prabu Danaraja sedang masgul hatinya karena hingga kini belum menemukan pendamping hati. Hingga akhirnya sang Ayahanda, Begawan Wisrawa berkenan menjadi jago untuk memenuhi tantangan puteri Ngalengka.

Pertemuan Dua Anak Manusia.

Berangkatlah Begawan Wisrawa ke Ngalengka, hingga kemudian bertemu dengan dewi Suksesi. Senapati Jambumangli bukan lawan sebanding Begawan Wisrawa, dalam beberapa waktu raksasa yang menjadi jago Ngalengka dapat dikalahkan. Tapi hal ini tidak berarti kemenanmgan berada di tangan. Kemudian tibalah sang Begawan harus menjawab pertanyaan sang Dewi. Dengan mudah sang Begawan menjawab pertanyaan demi pertanyaan hingga akhirnya, sampailah sang dewi menanyakan rahasia Serat Sastrajendra. Sang Begawan pada mulanya tidak bersedia karena ilmu ini harus dengan laku tanpa “ perbuatan “ sia sialah pemahaman yang ada. Namun sang Dewi tetap bersikeras untuk mempelajari ilmu tersebut, toh nantinya akan menjadi menantunya.

Luluh hati sang Begawan, beliau mensyaratkan bahwa ilmu ini harus dijiwai dengan niat luhur. Keduanya kemudian menjadi guru dan murid, antara yangf mengajar dan yang diajar. Hari demi hari berlalu keduanya saling berinteraksi memahamkan hakikat ilmu. Sementara di kayangan, para dewata melihat peristiwa di mayapada. “ Hee, para dewata, bukankah Wisrawa sudah pernah diberitahu untuk tidak mengajarkan ilmu tersebut pada sembarang orang “.

Para dewata melaporkan hal tersebut kepada sang Betara Guru. “ Bila apa yang dilakukan Wisrawa, bisa nanti kayangan akan terbalik, manusia akan menguasai kita, karena telah sempurna ilmunya, sedangkan kita belum sempat dan mampu mempelajarinya “.

Sang Betara Guru merenungkan kebenaran peringatan para dewata tersebut. “ tidak cukup untuk mempelajari ilmu tanpa laku, Serat Sastrajendra dipagari sifat sifat kemanusiaan, kalau mampu mengatasi sifat sifat kemanusiaan baru dapat mencapai derajat para dewa. “ Tidak lama sang Betara menitahkan untuk memanggil Dewi Uma.untuk bersama menguji ketangguhan sang Begawan dan muridnya.

Hingga sesuatu ketika, sang Dewi merasakan bahwa pria yang dihadapannya adalah calon pendamping yang ditunggu tunggu. Biar beda usia namun cinta telah merasuk dalam jiwa sang Dewi hingga kemudian terjadi peristiwa yang biasa terjadi layaknya pertemuan pria dengan wanita. Keduanya bersatu dalam lautan asmara dimabukkan rasa sejiwa melupakan hakikat ilmu, guru, murid dan adab susila. Hamillah sang Dewi dari hasil perbuatan asmara dengan sang Begawan. Mengetahui Dewi Sukesi hamil, murkalah sang Prabu Sumali namun tiada daya. Takdir telah terjadi, tidak dapat dirubah maka jadilah sang Prabu menerima menantu yang tidak jauh berbeda usianya.

Tergelincir Dalam Kesesatan.

Musibah pertama, terjadi ketika sang senapati Jambumangli yang malu akan kejadian tersebut mengamuk menantang sang Begawan. Raksasa jambumangli tidak rela tahta Ngalengka harus diteruskan oleh keturunan sang Begawan dengan cara yang nista. Bukan raksasa dimuliakan atau diruwat menjadi manusia. Namun Senapati Jambumangli bukan tandingan, akhirnya tewas ditangan Wisrawa. Sebelum meninggal, sang senapati sempat berujar bahwa besok anaknya akan ada yang mengalami nasib sepertinya ditewaskan seorang kesatria.

Musibah kedua, Prabu Danaraja menggelar pasukan ke Ngalengka untuk menghukum perbuatan nista ayahnya. Perang besar terjadi, empat puluh hari empat puluh malam berlangsung sebelum keduanya berhadapan. Keduanya berurai air mata, harus bertarung menegakkan harga diri masing masing. Namun kemudian Betara Narada turun melerai dan menasehati sang Danaraja. Kelak Danaraja yang tidak dapat menahan diri, harus menerima akibatnya ketika Dasamuka saudara tirinya menyerang Lokapala.

Musibah ketiga, sang Dewi Sukesi melahirkan darah segunung keluar dari rahimnya kemudian dinamakan Rahwana (darah segunung). Menyertai kelahiran pertama maka keluarlah wujud kuku yang menjadi raksasi yang dikenal dengan nama Sarpakenaka. Sarpakenaka adalah lambang wanita yang tidak puas dan berjiwa angkara, mampu berubah wujud menjadi wanita rupawan tapi sebenarnya raksesi yang bertaring. Kedua pasangan ini terus bermuram durja menghadapi musibah yang tiada henti, sehingga setiap hari keduanya melakukan tapa brata dengan menebus kesalahan. Kemudian sang Dewi hamil kembali melahirkan raksasa kembali. Sekalipun masih berwujud raksasa namun berbudi luhur yaitu Kumbakarna.

Akhir Yang Tercerahkan.

Musibah demi musibah terus berlalu, keduanya tidak putus putus memanjatkan puaj dan puji ke hadlirat Tuhan yang Maha Kuasa. Kesabaran dan ketulusan telah menjiwa dalam hati kedua insan ini. Serat Sastrajendra sedikit demi sedikit mulai terkuak dalam hati hati yang telah disinari kebenaran ilahi. Hingga kemudian sang Dewi melahirkan terkahir kalinya bayi berwujud manusia yang kemudian diberi nama Gunawan Wibisana. Satria inilah yang akhirnya mampu menegakkan kebenaran di bumi Ngalengka sekalipun harus disingkirkan oleh saudaranya sendiri, dicela sebagai penghianat negeri, tetapi sesungguhnya sang Gunawan Wibisana yang sesungguhnya yang menyelamatkan negeri Ngalengka. Gunawan Wibisana menjadi simbol kebenaran mutiara yang tersimpan dalam Lumpur namun tetap bersinar kemuliaannya. Tanda kebenaran yang tidak larut dalam lautan keangkaramurkaan serta mampu mengalahkan keragu raguan seprti terjadi pada Kumbakarna. Dalam cerita pewayangan, Kumbakarna dianggap tidak bisa langsung masuk suargaloka karena dianggap ragu ragu membela kebenaran.

Melalui Gunawan Wibisana, bumi Ngalengka tersinari cahaya ilahi yang dibawa Ramawijaya dengan balatentara jelatanya yaitu pasukan wanara (kera). Peperangan dalam Ramayana bukan perebutan wanita berwujud cinta namun pertempuran demi pertempuran menegakkan kesetiaan pada kebenaran yang sejati

>MANUNGGALING KAWULO LAN GUSTI, Menggapai Wahyu Dyatmiko

>Berikut sebagian dari artikel Kejawen yang berjudul : Menggapai Wahyu Dyatmiko karya Ki Sondang Mandali untuk menambah pengetahuan kita.

Dalam ajaran Kejawen ada istilah “Manunggaling Kawula Gusti”. Hal ini sering diartikan bahwa menyatunya manusia (kawula) dengan Tuhan (Gusti). Anggapan bahwa Gusti sebagai personifikasi Tuhan kurang tepat. Gusti (Pangeran, Ingsun) yang dimaksud adalah personifikasi dari Dzat Urip (Kesejatian Hidup), derivate (emanasi, pancaran, tajali) Tuhan.

Hal ini bisa dilihat dari “Wirid 8 Pangkat Kejawen”:

Wejangan panetepan santosaning pangandel, yaiku bubuka-ning kawruh manunggaling kawula-gusti sing amangsit pikukuh anggone bisa angandel (yakin) menawa urip pribadi kayektene rinasuk dening dzate Pangeran (Dzat Urip, Sejating Urip). Pangeran iku ya jumenenge urip kita pribadi sing sejati. Roroning atunggal, sing sinebut ya sing anebut. Dene pangertene utusan iku cahya kita pribadi, karana cahya kita iku dadi panengeraning Pageran. Dununge mangkene : “Sayekti temen kabeh tumeka marang sira utusaning Pangeran metu saka awakira, mungguh utusan iku nyembadani barang saciptanira, yen angandel yekti antuk sih pangapuraning Pangeran”. Menawa bisa nampa pituduh sing mangkene diarah awas ing panggalih, ya urip kita pribadi iki jumenenging nugraha lan kanugrahan. Nugraha iku gusti, kanugrahan iku kawula. Tunggaal tanpa wangenan ana ing badan kita pribadi.

Terjemahannya:

Ajaran pemantapan keyakinan, yaitu pembukanya kawruh (ilmu) “Manunggaling Kawula Gusti” yang memberikan wangsit (petunjuk) keteguhan untuk bisa yakin bahwa hidup kita pribadi sesungguhnya dirasuki Dzatnya Pangeran Pangeran (Dzat Urip, Sejatining Urip). Pangeran itu bertahtanya pada hidup kita yang sejati. Dwitunggal (roroning atunggal) yang disebut dan yang menyebut. Sedangkan pengertian utusan itu cahaya hidup kita pribadi, karena cahaya hidup kita itu menjadi pertanda adanya Pangeran. Maksudnya : “Sesungguhnya nyata semua datang kepada kamu utusan Pangeran (memancar) keluar dari dirimu sendiri. Sebenarnya utusan itu mencukupi semua yang kamu inginkan, kalau percaya pasti mendapatkan pengampunan dari Pangeran”. Bila bisa menerima petunjuk yang seperti ini supaya awas dan hati-hati, ya hidup kita ini bertahtanya nugraha dan anugrah. Nugraha itu gusti (tuan) sedang anugrah itu kawula (abdi). Bersatu tanpa batas pemisah dalam badan kita sendiri.

BAB

WIRID WOLUNG PANGKAT #1

Kepercayaan Jawa yang asli menyatakan bahwa Dzat Tuhan yang disebut dengan Sang Hyang Wenang (Sang Hyang Wisesa, Sang Hyang Widdhiwasa, Hyang Agung) adalah “tan kena kinayangapa” artinya tidak bisa dibayangkan dengan akal, rasa, dan daya spiritual manusia. Namun ada dan menciptakan jagad seisinya dari antiga (telur, wiji/benih) di alam suwung. Penciptaannya dengan meremas (membanting) antiga tersebut hingga tercipta tiga hal :

Langit dan bumi (alam semesta).

Teja dan cahya, teja merupakan cahaya yang tidak bisa diindera sedangkan cahya merupakan cahaya yang bisa diindera.

Manikmaya, yaitu “Dzat Urip” atau “Sejatining Urip” (Kesejatian Hidup, Suksma, Roh).

Ketiganya masing-masing merupakan derivate (turunan, emanasi, pancaran, tajali, titah) Tuhan. Melingkupi seluruh semesta yang tiada batas ini.

Menurut Kejawen (Mitologi Jawa), maka seluruh semesta seisinya adalah ciptaan Sang Hyang Wisesa di dalam haribaan-Nya sendiri. Artinya, Tuhan murba wasesa (melingkupi dan memuat serta menguasai dan mengatur) seluruh semesta yang luasnya tiada batas dan seluruh isinya.

Di dalam kesemestaan tersebut ada materi (bumi dan langit), ada sinar dan medan kosmis (teja dan cahya), dan ada Dzat Urip (Manikmaya, Sejatining Urip, Kesejatian Hidup) sebagai derivate (emanasi, pancaran, tajali) Dzat Tuhan.

Dalam Kejawen, Dzat Tuhan “tan kena kinayangapa”, yang mampu dihampiri akal, rasa dan daya sepiritual (kebatinan) adalah Dzat Urip, yang kemudian disebut : Pangeran, Gusti, atau Ingsun. Keterangan tentang hal itu bisa disimak lewat wejangan pertama dalam “wirid wolung pangkat ” sebagai berikut :

Wejangan pituduh wahananing Pangeran :

Sajatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhihin iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsun sajatining kang urip luwih suci, anartani warna, aran, lan pakartining-Sun (dzat, sipat, asma, afngal).

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

Ajaran petunjuk keberadaan Pangeran (Dzat Urip) :

Sesungguhnya tidak ada apa-apa, sejak masih awang-uwung (suwung, alam hampa) belum ada suatu apapun, yang ada pertama kali adalah Ingsun, tidak ada Pangeran kecuali Aku (Ingsun) sejatinya hidup yang lebih suci, mewakili pancaran dzat, sifat, asma dan afngal-Ku (Ingsun).

Selanjutnya, marilah kita renungkan kesemestaan yang ada. Maka sungguh Maha Sempurna Tuhan yang telah menciptakan semesta ini. Luasnya tiada terhingga dan semuanya teratur, selaras, dan sempurna. Disebut dalam mitologi Jawa, bahwa semesta tercipta dalam keadaan hayu (elok, indah, selaras dan sempurna).

Dalam tata semesta yang hayu tadi, bisa kita sadari kalau planet bumi yang kita tempati hanya bagian yang sangat kecil dari kesemestaan alam ciptaan Tuhan. Manusia hanyalah salah satu titah dumadi (mahluk hidup) yang ditempatkan di planet bumi bersama milyaran titah dumadi lainnya. Semua titah dumadi disemayami dzat urip sebagai derivate dzat Tuhan. Kiranya bisa disimak wejangan kedua “wirid 8 pangkat Kejawen” sebagai berikut :

Wejangan pambuka kahananing Pangeran :

Satuhune Ingsun Pangeran Sejati, lan kawasa anitahake sawiji-wiji, dadi ana padha sanalika saka karsa lan pepesthening-Sun, ing kono kanyatahane gumelaring karsa lan pakartining-Sun kang dadi pratandha:

Kang dhihin, Ingsun gumana ing dalem alam awang-uwung kang tanpa wiwitan tanpa wekasan, iya iku alaming-Sun kang maksih piningit.

Kapindho, Ingsun anganakake cahya minangka panuksmaning-Sun dumunung ana ing alam pasenedaning-Sun.

Kaping telu, Ingsun anganakake wawayangan minangka panuksma lan rahsaning-Sun, dumunung ana ing alam pambabaring wiji.

Kaping pat, Ingsun anganakake suksma minangka dadi pratandha kauripaning-Sun, dumunung ana alaming herah.

Kaping lima, Ingsun anganakake angen-angen kang uga dadi warnaning-Sun ana ing sajerone alam kang lagi kena kaupamakake.

Kaping enem, Ingsun anganakake budi kang minangka kanyatahan pencaring angen-angen kang dumunung ana ing sajerone alaming badan alus.

Kaping pitu, Ingsun anggelar warana (tabir) kang minangka kakandhangan paserenaning-Sun. Kasebut nem prakara ing ndhuwur mau tumitah ing donya, yaiku

Sajatining Manungsa.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

Ajaran membuka pemahaman keadaan Pangeran :

Sesungguhnya Aku adalah Pangeran Sejati, dan berkuasa menitahkan sesuatu, menjadi ada dengan seketika karena kehendak dan takdir-Ku, disitu kenyataan tergelarnya kehendak dan titah (pakarti)-Ku yang menjadi pertandanya :

Yang pertama, Aku berada di alam kehampaan (awang-uwung) yang tiada awal dan tiada akhir, yaitu alam-Ku yang masih tersembunyi.

Yang kedua, Aku mengadakan cahaya sebagai penuksmaan-Ku berada di alam keberadaan-Ku.

Ketiga, Aku mengadakan bayangan sebagai panuksma dan rahsa-Ku, berada di alam terjadinya benih.

Keempat, Aku mengadakan suksma (ruh) sebagai tanda kehidupan-Ku, berada di alam herah (jaringan sel).

Kelima, Aku mengadakan angan-angan yang juga sebagai warna-Ku berada di alam yang baru bisa diumpamakan.

Keenam, Aku mengadakan budi (gerak) yang menjadi kenyataan berpencarnya angan-angan yang berada di dalam alam badan halus (rohani).

Ketujuh, Aku menggelar tabir (hijab) yang sebagai tempat persemayaman-Ku. Tersebut enam perkara diatas tadi tertitahkan di dunia, yaitu Sejatinya Manusia.

Semua “titah dumadi” memiliki kewajiban sebagaimana makna diciptakan. Manusia diciptakan Tuhan dan ditempatkan di planet bumi (bawana/buwana, jw.), maka kewajibannya memayu hayuning bawana (memelihara keselarasan bumi).

WIRID WOLUNG PANGKAT #2

Mitologi Jawa (Kejawen) memberikan suatu tuntunan untuk memahami jatidiri manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya dibanding titah dumadi yang lain. Ketinggian derajat tersebut berkaitan dengan operasionalnya Dzat Urip (Kesejatian Hidup) sebagai derivate Dzat Tuhan dalam diri manusia. Artinya, pada manusia diberikan suatu kesadaran akal, rasa dan spirituil untuk lebih memahami dirinya

sebagai titah mulia (dalam Islam disebut kalifah Tuhan di muka bumi). Untuk itu mari kita renungkan wejangan ketiga “Wirid 8 pangkat Kejawen” :

Wejangan gegelaran kahananing Pangeran :

Sajatining manungsa iku rahsaning-Sun, lan Ingsun iki rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake wiji kang cacamboran dadi saka karsa lan panguwasaning-Sun, yaiku sasamaning geni bumi angin lan banyu, Ingsun panjingi limang prakara, yaiku : cahya, cipta, suksma (nyawa), angen-angen lan budi. Iku kang minangka embanan panuksmaning-Sun sumarambah ana ing dalem badaning manungsa.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

Ajaran pemahaman tergelarnya keadaan Pangeran :

Sesungguhnya manusia itu rahsa-Ku dan Aku ini rahsanya manusia, karena Aku menitahkan benih cacamboran (campuran berbagai unsur) yang terjadi karena kehendak

dan kuasa-Ku, yaitu berasal dari api tanah angin dan air, Aku resapi lima perkara, yaitu : cahaya, cipta, suksma (nyawa), angan-angan dan budi (gerak). Itulah yang menjadi cangkok (embanan) merasuknya suksma-Ku rata menyeluruh dalam badannya manusia.

Lebih mendalam lagi penjelasan tentang “purba wasesa” (kekuasaan mutlak) Tuhan melalui “derivate”-nya (Dzat Urip) dalam diri manusia sebagaimana disebutkan dalam wejangan keempat, lima, dan enam dari “Wirid 8 pangkat Kejawen” sebagai berikut :

Wejangan keempat :

Wejangan kayektening Pangeran amurba ciptane (nalare) manungsa : Sajatine Ingsun anata palenggahan parameyaning-Sun (baitul makmur) dumunung ana ing sirahing manungsa, kang ana sajroning sirah iku utek, kang gegandhengan ana ing antarane utek iku manik (telenging netra aran pramana), sajroning manik iku cipta (nalar), sajroning cipta iku budi, sajroning budi iku napsu (angen-angen), sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana Pangeran anging Ingsun, Sejatining Urip kang anglimputi sagunging kahanan.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

Ajaran kuasanya Pangeran pada akal (cipta, nalar) manusia : Sesungguhnya Aku telah mengatur tempat keramaian-Ku (baitul makmur) berada di dalam kepalanya manusia, yang ada di dalam kepala itu otak, yang berkaitan antara otak itu manik (pusat penglihatan/mata dinamakan pramana), di dalam manik itu akal, di dalam akal itu budi (gerak), di dalam budi itu nafsu (angan-angan), di dalam nafsu itu suksma, di dalam suksma itu rahsa, di dalam rahsa itu Aku. Tidak ada Pangeran kecuali Aku. Sejatinya Hidup yang meliputi seluruh swasana.

Wejangan kelima :

Wejangan kayektening Pangeran amurba rasa pangrasaning manungsa : Sajatine Ingsun anata palenggahan laranganing-Sun (baitul haram) dumunung ana dhadhaning manungsa, ing sajroning dhadha iku ati lan jantung, kang gegandhengan ing antarane ati lan jantung iku rasa pangrasa, ing sajroning rasa pangrasa iku budi, ing sajroning budi iku jinem (angen-angen, napsu), sajroning jinem iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana Pangeran anging Ingsun, Sejatining Urip kang anglimputi saguning kahanan.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

Ajaran kuasa Pangeran pada perasaannya manusia :

Sesungguhnya Aku telah mengatur tempat larangan-Ku (baitul haram) berada di dadanya manusia, di dalam dada itu hati dan jantung, yang berkaitan di antara hati dan jantung itu rasa perasaan, di dalam rasa perasaan itu budi (gerak), di dalam budi itu jinem (angan-angan, nafsu), di dalam jinem itu suksma, di dalam suksma itu rahsa, di dalam rahsa itu Aku. Tidak ada Pangeran kecuali Aku, Sejatinya Hidup yang meliputi seluruh swasana.

Wejangan keenam :

Wejangan kayektening Pangeran amurba tuwuhing wiji uripe manungsa: Sajatine Ingsun anata palenggahan pasucianing-Sun (baitul kudus) kang dumunung ana kontholing (wadon : baganing) manungsa, kang ana ing sajroning konthol (wadon : baga) iku pringsilan (wadon : purana), kang ana ing antaraning pringsilan (wadon : purana) iku mani (wadon : reta), sajroning mani (wadon : reta) iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana Pangeran anging Ingsun, Sajatining Urip kang anglimputi saliring tumitah, jumeneng dadi wiji kang piningit, tumurun mahanani sesotya kang dhingin kahanan kabeh maksih dumunung ana alaming wiji, laju manggon ana alam pambabaring wiji, laju tumurun ana alaming suksma (iya iku rah), laju tumurun ana ing alam kang durung

kahanan (alam kang ingaran upama), laju tumurun marang alam donya (alaming manungsa urip), iya iku sajatine warnaning-Sun.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

Ajaran kuasa Pangeran pada terjadinya benih kehidupan manusia :

Sesungguhnya Aku telah mengatur tempat kesucian-Ku (baitul kudus) yang berada di dalam konthol manusia laki-laki (perempuan : baga), yang ada di dalam konthol (perempuan : baga) itu buah pelir (perempuan : purana = indung telur), yang ada di antara buah pelir (perempuan : indung telur) itu mani/sperma (perempuan : reta = sel telur), di dalam mani (perempuan : sel telur) itu madi. Di dalam madi itu wadi, di dalam wadi itu manikem, di dalam manikem itu rahsa, di dalam rahsa itu Aku. Tidak ada Pangeran kecuali Aku, Sejatinya Hidup yang meliputi seluruh titah, berujud benih yang tersembunyi (piningit), turun menjadikan permata (sesotya) yang awal semua suasana masih berada di alam benih, terus bersemayam di alam terjadinya benih, terus turun di alam suksma (yaitu jaringan sel hidup), terus turun di alam yang belum berujud (alam yang disebut upama), terus turun di alam dunia (alamnya manusia hidup), yaitu sesungguhnya warna-Ku.

Wirid 8 Pangkat #3

Renungan kita lanjutkan pada Wejangan ke tujuh dari “Wirid Wolung Pangkat” berikut :

7. Wejangan panetepan santosaning pangandel :

yaiku bubuka-ning kawruh manunggaling kawula-gusti sing amangsit pikukuh anggone bisa angandel (yakin) menawa urip kita pribadi kayektene rinasuk dening dzate Pangeran (Dzat Urip, Sejatining Urip). Pangeran iku ya jumenenge urip kita pribadi sing sejati. Roroning atunggal, sing sinebut ya sing anebut. Dene pangertene utusan iku cahya kita pribadi, karana cahya kita iku dadi panengeraning Pangeran. Dununge mangkene : “Sayekti temen kabeh tumeka marang sira utusaning Pangeran metu saka awakira, mungguh utusan iku nyembadani barang saciptanira, yen angandel yekti antuk sih pangapuraning Pangeran”. Menawa bisa nampa pituduh sing mangkene diarah awas ing panggalih, ya urip kita pribadi iki jumenenging nugraha lan kanugrahan. Nugraha iku gusti, kanugrahan iku kawula. Tunggal tanpa wangenan ana ing badan kita pribadi.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

7. Ajaran pemantapan keyakinan :

yaitu pembukanya kawruh (ilmu) “Manunggaling kawula-gusti” yang memberikan wangsit (petunjuk) keteguhan untuk bisa yakin bahwa hidup kita pribadi sesungguhnya dirasuki Dzatnya Pangeran (Dzat Urip, Sejatining Urip). Pangeran itu bertahtanya pada hidup kita yang sejati. Dwitunggal (roroning atunggal) yang disebut dan yang menyebut. Sedangkan pengertian utusan itu cahaya hidup kita pribadi, karena cahaya hidup kita itu menjadi pertanda adanya Pangeran. Maksudnya : “Sesungguhnya nyata semua datang kepada kamu utusan Pangeran (memancar) keluar dari dirimu sendiri. Sebenarnya utusan itu mencukupi semua yang kamu inginkan, kalau percaya pasti mendapatkan pengampunan dari Pangeran”. Bila bisa menerima petunjuk yang seperti ini supaya awas dan hati-hati, ya hidup kita ini bertahtanya nugraha dan anugerah. Nugraha itu gusti (tuan) sedang anugerah itu kawula (abdi). Bersatu tanpa batas pemisah dalam badan kita sendiri.

Wejangan ketujuh ini menjelaskan bahwa konsep Jawa tentang adanya utusan Tuhan berbeda dengan yang diajarkan agama-agama. Dalam konsep keber-Tuhan-an Jawa, sebagaimana diajarkan “Wirid wolung Pangkat”, menyatakan bahwa yang disebut “utusan Tuhan” adalah “kesejatian hidup” manusia sendiri. Yaitu “Dzat Urip” yang bertahta dan bersemayam dalam diri manusia.

Selanjutnya kita renungkan wejangan ke delapan dari”Wirid Wolung Pangkat” sebagai berikut :

8. Wejangan paseksen :

yaiku wejangan jumenenge urip kita pribadi angakoni dadi warganing Pangeran kang sejati kinen aneksekake marang sanak sedulur kita, yaiku : bumi, langit, srengenge, rembulan, lintang, geni, angin, banyu, lan sakabehing dumadi kang gumelar ing jagad.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

8. Ajaran kesaksian :

yaitu ajaran bertahtanya hidup kita pribadi mengakui jadi warganya (titahnya) Pangeran yang sejati, disuruh mempersaksikan kepada seluruh sanak saudara kita, yaitu : bumi, langit, matahari, bulan, bintang, api, angin, air, dan seluruh mahluk yang tergelar di jagad (alam semesta).

Wejangan dalam “Wirid 8 pangkat Kejawen” merupakan suatu ajaran Kejawen tentang kejatidirian manusia sebagai titah Tuhan Yang Maha Kuasa serta hubungannya dengan alam semesta dan seluruh isinya. Maka wejangan tersebut bisa dijadikan pijakan untuk membangun kesadaran kosmisnya. Melalui kesadaran kosmis tersebut dicapai kesadaran ber-Tuhan yang paripurna menurut Jawa.

“Wirid Wolung Pangkat” ini merupakan “wacana” yang digulirkan oleh para Pujangga Jawa di masa Kerajaan Surakarta (Mataram Kartosuro). Diantaranya tercantum dalam Serat Centhini (Suluk Tambanglaras), Serat Wirid Hidayat Jati (R.Ng. Ranggawarsito), dan Primbon Adammakna.

Sistim keber-Tuhan-an Jawa merupakan bagian dari Tata Peradaban Jawa yang menjadi perhatian serius para Pujangga dalam rangka mengupayakan merebut kembali “kedaulatan spirituil” Jawa yang terpuruk sejak runtuhnya Majapahit. Oleh karena itu, oleh kalangan Islam, “wirid wolung pangkat” ini sering dinyatakan sebagai ajaran yang sesat.

Yang menarik justru pengantar ajaran tersebut yang diwacanakan oleh para Pujangga. Konon dirangkum dari ajaran para Wali Sanga yang konon pula bertolak dari “Wejangan” Nabi Muhammad SAW kepada adik sepupu dan menantunya, Sayidina Ali.

Boleh jadi “benar”, namun bisa juga merupakan suatu strategi para Pujangga Jawa yang berniat melakukan “rekonstruksi” sistim keber-Tuhan-an Jawa. Maka, marilah kita jadikan bahan untuk ber-”bawarasa” bersama

>WEJANGAN SAKA PARA GURU

>Ing mengko amratelakake wewejanganing guru sawiji-sawiji, iku ing pamedare rahsaning ngelmu kang kawejangake awarna-warna, iya pada angestokake urut-urutaning kekiyasan saka Dalil pangandikane Pangeran Kang Amaha Suci, kang kadawuhaken marang Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah kasebut ing ngisor iki.

1. Ana wewejanging guru kang amedarake rahsaning ngelmu Wisikan Ananing Dzat, kekiyasan saka Dalil sapisan.

2. Ana wewejanganing guru kang amedarake rahsaning ngelmu Wedaran Wahananing Dzat, kekiyasan saka Dalil kapindo.

3. Ana wewejanganing guru kang amedarake rahsaning ngelmu Gelaran Kahananing Dzat, kekiyasan saka Dalil kaping telu.

4. Ana wewejanganing guru kang amedarake rahsaning ngelmukayektening kahanan, kekiyasan saka Dalil kaping pat, ayat kang kapisan Pambukaning Tata-malige ing dalem Bail al makmur, terkadang ayat kapindo Pambukaning Tata-malige ing dalem Bait al muharram, terkadang ayat kaping telu Pambukaning Tata-malige ing dalem Bait al mukaddas.

5. Ana wewejanganing guru kang amedarake rahsaning ngelmu saka Santosane Iman abebuka sahadat jati, utawa saka Sasahidan.

Mungguh surasane kabeh iku iya pada bae, mula pepangkataing ngelmu mau katata dadi sawiji, kang supaya mupakat ing surasane, kajaba amung pepangkataning ngelmu Talek, kara ngelmu Fatah, yen pangiwane ngelmu panitisan, iku pada mawa empan sarta papan dewe, tegesing ngelmu Talek, iku ngelmu ametokake kaelokan kehe pitung prakara :

1. Ngelmu Sepi.
2. Ngelmu Mungin.
3. Ngelmu Mubin.
4. Ngelmu Ahyan.
5. Ngelmu Barayan.
6. Ngelmu Mahbut.
7. Ngelmu Gaibulguyub.

Kabeh iku panganggone amung piranti amujudake pepangkataning kaelokan, kang dadi tandaning tontonan ing lahiriyah bae, tegese ngelmu Fatah iku ngelmu sorogan, kehe sangang prakara :

1. Ngelmu Makdum Sarpin.
2. Ngelmu Satariyah.
3. Ngelmu Sirasab.
4. Ngelmu Charajek.
5. Ngelmu Majalin.
6. Ngelmu Fatakurrahman.
7. Ngelmu Sufi.
8. Ngelmu Khak.
9. Ngelmu Nakisbandiyah, diarani Nakisbandiyatulchak.

Kabeh iku panganggone amung piranti amujudake malaekat kang dadi tandaning badan alus ana ing dunya bae, ora mupakat karo rahsaning ngelmu kasampurnan, upama katunggalake karo pepangkataning ngelmu kang sajati, mangka salah surupe kang angrasakake, bokmanawa anekakake pamaido, pamaido iku mundak dadi padu, para padon iku isih kekurangan, kekurangan iku kang amarakake kepanasan, kepanasan iku amarakake para bantah karo sesualan, para sesualan iku pakolehe amung rebut unggul ing pangawruh, rebut unggul ing pangawruh iku ora wurung andadekake pasulayan, mulane para sujana kang putus temenan iku ora sedya sesualan, amarga ora darbe ati kepanasan, jatmika rehne wis amumpuni saliring pangawruh, dene manawa ana kang sumedya amadoni muga dikalahana bae, aja nganti lumawan mundak kabarabeyan, ing wekasan kalonglongan, manawa meksa kaburu asengadiya isih kekurangan surup, mangkaono bae wis cukup

>SERAT CIPTA WASKITHA

>Kapethik saking Serat Cipta Waskitho, Anggitanipun Ingkang Sinuhun Pakubuwana IV

PUPUH I
DHANDHANGGULA

– 01 –

Sakamatyan kuma bangkit-bangkit, lir sarkara warsitaning sastra, sasmiteng karaharjane, mring sagung anak, putu, ingkang karsa angrancang kapti, Sira puruhitaa, Saniskareng kawruh, mring jana kang wus nimpuna, ing surasa saraseng kamuksan kaki, kanggo ing kene kana.

Artinya :
Suatu petunjuk untuk kebahagian, bagaikan cahaya yang tersirat dan tersurat, petunjuk untuk bahagia, terhadap segenap anak cucu, yang hendak menempuh suatu cita-cita, pergilah engkau berguru, segala macam pengetahuan, kepada manusia yang sudah berilmu tinggi, terhadap arti ilmu kamuksan, berguna di sini dan disana.

– 02 –

Lamun sira puruhita kaki, den sumandha mamrih wahyeng gita, sadarganen turidane, ywa kongsi keneng sirung, marang ingkang sigra guroni, mandar anoring raga, way kongsi kalimput, sang gya suraseng kang nyata, dimen sira antuk wilasa kang Sidhi, wasitaning Pandhita.

Artinya :

Pabila Ananda berguru, tekunlah agar tercapai seirama kehendakmu, perhatikan segala perbuatanya, agar kau tidak terlena, terhadap gurumu, malah mecitainya, janganlah terlena, cepatlah mencari kebenaran yang hakiki, agar kau mendapatkan perkenan Hyang Widhi, sabdanya Pandita.

– 03 –

Dedalane kawruh ana dhingin, patang prakara sira wiletna, away kasusu kalapne, gagasan rasanipun, yen tumpangsuh asalah dalih, kalimput kaliru tampa, temah salah surup, kang kaliru surupena, supayane wruh lunggyane ala becik, ywa kongsi katlajukan.

Artinya :

Pengertian ilmu adalah, perhatikanlah empat macam, jangan tergesa-gesa dan telaahlah, perhatikan maknanya, bila kacau balu simpang siur maknanya, yang salah perhatikan kesalahannya itu, agar tahu kedudukannya salah dan benar, jangan sampai berkepanjangan.

– 04 –

Lan dununge kang kawan prakawis, abang ireng kuning lawan pethak, pangwasane dhewe-dhewe, kang telu murung laku, kang sawiji iku proyogi, yen telu binuwanga, jagad yekti suwung, kang siji kalawan apa, jumenenge yen tan ana kang ngrusuhi, marmane kawruhana.

Artinya :

Dan kedudukannya yang empat perkara, merah hitam kuning dan putih, kekuasaaaaaaaannya berbeda-beda, yang tiga menggoda, yang satu itu benar, kalau tiga dibuang, dunia pasti kosong, yang satu dengan siapa, bertahtanya kalau tidak ada yang mengganggu, maka fahamilah.

– 05 –

Wong neng donya kang lumrah tan mikir, Allah iku dedalaning mulya, lamun bener pangetrape, bongsa triprakareku, gung aniksa marang sawiji, amuwus kinawruhan, anggepe angratu, nanging kang durung nyurasa, ala iku liwat nora sudi, tuna ing uripira.

Artinya :

Orang didunia yang wajar tanpa berpikir, Allah menunjukkan jalan bahagia, bila menempuh jalan yang benar, adapun tiga perkara itu, mempunyai perbedaan besar dengan yang satunya, memutuskan suatu pengertian, merasa dirinya Raja, tetapi belum mempunyai pengertian apapun, tak seorangpun mau dengan sifat jelek.

– 06 –

Nanging poma dipun awasi kaki, rehning mengko akeh wong kang bisa, babasan bebangun bae, angungasake catur, tutur liyane nora pinikir, mung cature priyanggo, lumaku rinungu, carita patang prakar, Edad Sipat Asma afngal lan mailh, bang, ireng, kuning, pethak.

Artinya :

Rugi hidupnys, tetapi berhati-hatilah, berhubung sekarang banyak orang yang dapat, bagaikan membangun saja, mengutamakan bicara, omongan orang lain tiada terfikir, hanya pembicaraannya pribadi, supaya didengar, cerita empat perkara, Dzat, Sifat Asma Agngal, dan lagi, merah, hitam, Kuning, Putih.

– 07 –

Lan dununge kang sawiji-wiji, nora montro-montro yen genaha, gunem ngelmu ngalih rame, balik rasaning ngelmu, nora kena sira kukuhi, endi ingkang andadr, iya iku suwung, yen wong anom mengkonora, rebut unggul guneme angalah isin, ngukuhi kawruhira.

Artinya :

Dan kedudukan satu persatu, sama sekali tidak benar, pembicaraan ilmu berganti rame, tetapi maknanya ilmu, tak dapat dipergunakan sebagai pedoman, mana yang ngelantur, itulah kosong, bila itu anak muda, berebut menang mengalah malu, berpegang teguh.

– 08 –

Layak bae kang mangkana kaki, sabab gurune kaya mangkana, wirang yen kalah ngelmune, pan gaibing Hyang Agung, ika nora nganggo pinikir, mung ngelmu garejegan, sasad nglurug padu, iku kang padha ginulang, wetara ku yen padha rerasan ngelmu, ing wekasan sulaya.

Artinya :

Tentu saja berbuat begitu, karena Gurunya pun begitu juga, malu kalau kalah ilmunya, terhadap gaibnya Hyang Agung, itu tiada terpikirkan, hanya ilmu perselisihan, seolah datang untuk berdebat, hanya itu yang dipelajarinya, bersamaan dengan itu kalau membicarakan ilmu, akhirnya terjadi perselisihan dan perdebatan.

– 09 –

Salin guneme ngilmu wus lali, ngetokake wicaksananira, anuruti kuwanene, anginger keris cancut, saliranya lir metu agni, bisa warna sakawan, bungah yen ginungung, kadya Raden Jayajatra, yen ginunggung prapteng pejah den andhemi, iku guru samangkya.

Artinya :

Berganti pembicaraan ilmu sudah terlupakan, mengeluarkan pendapatnya, menurutkan keberaniannya, memutar keris dan siaga tempur, tubuhnya bagaikan menyala-nyala, dpat memancarkan empat warna, bangga kalau disanjung, bagaikan Raden Jayajatra, kalau disanjung nyawapun direlakan, itulah Guru jaman sekarang.

– 10 –

Lamun sira durung anglakoni, ing pratingkah kaya mangkana, nanging sireku ywa kaget, gagasen rahsanipun, aja dumeh iku tan becik, sayekti becik uga, yen sira wus surup, mangkas-mangkasipun sapa, lawan sapa kang bisa amalih warni, nyatakna kang waspada.

Artinya :

Kalau engkau belum berbuat, perbuatan seperti tersebut tadi, tetapi jaganlah engkau terperanjat, berfikirlah akan maknanya, jangan karena itu tidak baik, tetapi sebenarnya baik juga, bila kau telah memahaminya, siapa yang sebenarnya dibalik itu, siapa pula yang berubah warna, perhatikan dengan seksama.

– 11 –

Ingkang bisa bawana-bawani, owah gingsiring sariranira, siya yen tan wruh iku, tunggal dhapur kang den kawruhi, kang bisa malih warna, sayekti mung iku, aranana loro nyata, aranana sawiji temen sawiji, mung limput linimputan.

Artinya :

Yang dapat berubah-ubah, mengubah diri, tercelalah kalau tidak pada tempatnya, padahal yang tahu itu, menyatu dalam dirinya, yang dapat mengubah warna, benar-benar hanya itu, katakanlah dua kenyataan, katakanlah saty benar-benar satu, hanya saling selubung menyelubungi.

– 12 –

Kang akarya iku kang nglimputi, enggonira aneng kalimputan, sulap padhanging Srengenge, upamane sireku, anom sorotinon Hyang Rawi, kang mangkana iku sulap, dadi lamuk-lamuk, mangkono upamanira, wong nyurasa rerasan, kang den rasani, ingkang melu rerasa.

Artinya :

Yang menciptakan adalah yang menyelubungi, tempatmu pada terselubung, silaunya sinar mentari, adaikan itu kamu, menyaksikan cahaya-NYA Hyang Widhi, padahal sagat silau, maka tampak kabur, begitulah ibaratnya, mengartikan sesuatu yang masih kabur, kabur pula pengertiannya.

– 13 –

Pasabane sok anggung nasabi, Roh Ilapi kang wanuh wus lawas, datan wruh lamun uripe, malah Ki Alip Tansur, yang lumaku anggung anjawil, nanging datan uninga, yen iku Hyang Agung, marma padha binudiya, ing wong urip aja katungkul sireki, wruha ing uripira.

Artinya :

Tujuanya terkadang tertuju, Roh Ilapi sudah lama dikenalnya, tiada tahu kalau itu adalah hidupnya, maka Ki Alip Tansur, kalau berjalan bersenggolan, tetapi tiada tahu, kalau itu adalah Hyang Agung, maka belajarlah dengan tekun, dalam kehidupan ini jangan lengah, ketahuilah pada hidupmu.

– 14 –

Uripira sapa kang nguripi, lamun sira nora ngawruhana, siya-siya ing uripe, sayektine Hyang Agung, nora pisah mring sarira tri, lumaku lenggah nendra, tan benggang sarambut, aja maneh kaya sira, nadyan kutu-kutu lan wong taga sami, rineksa Hyang Sumana.

Artinya :

Hidupmu siapa yang menghidupkan, kalau kau tidak mengetahui, percuma dalam hidup ini, yang sebenarnya Hyang Widhi, tidak terpisah dari tiga perbuatan, berjalan, duduk, tidur, tiada terpisah walau selembar rambut, apalagi seperti engkau, selagi serangga dan kehidupan lainnya, dipelihara oleh Hyang Sukma.

– 15 –

Rehning ananira kang nganani, ananira saking nora nana, nanging ana kahanane, anane tanpa wujud, wujudira ingkang mujudi, duk sira durung ana, anane andhanu, yen sira ayun uninga, pasemone wujuding Hyang Maha Suci, tingkahe wong sembahyang.

Artinya :

Berhubung kau ada yang mengadakan, kau ada dari tiada, tetapi ada keadaannya, adanya tak berwujud, perwujudanmu yang mewujudkan, tatkala kau belum ada, adanya dalam kelam, bial kau hendak mengetahui, gambaran perwujudan Hyang Maha Suci, tingkah lakunya orang yang sedang Sembahyang.

– 16 –

Utamane wong urip puniki, nglakonane srengat Nabi kita, Salat Jakat wruh Islame, lan sarake Jeng Rasul, sira padha wajib nglakoni, lamun tan ngawruhana, dadi nora manut, wirayate Sri Narendra, lawan sapa kang arsa agawe napi, prayoga sembahyanga.

Artinya :

Yang utama bagi orang hidup itu, menjalani sareat Nabi kita, Solat Zakat mengetahui hukum Islamnya, dan saraknya Rasulullah, kau semua wajib menjalani, bila tidak mengetahui, maka tidak dapat menjalaninya, tersebutlah Sang Maha Raja, kepada siap yang akan berbuat sesuatu, lebih baik dirikanlah Solat.

– 17 –

Kaping lima sadina sawengi, lan pantese sira ngilingana, marang uripira dhewe, takbir miwah yen sujud, wruha ingkang sujudi, yen sira wisuh toya, aja pijer wisuh, weruha kang jeneng toya, aja sira katungkul amuji dhikir, puji katur mring sapa.

Artinya :

Lima kali dalam sehari semalam, dan ingatlah akan dirimu, terhadap hidupmu sendiri, takbir dan bila sujud, ketahuilah kau sujud kepada siapa, bila kau menyuci dengan air, jangan berkali-kali mencuci, ketahuilah air itu apa sebenarnya, janganlah kau berzikir berlebihan, pujian itu teruntuk siapa.

– 18 –

Lwan sira aja gawe napi, ing unining kitap rasakena, aja pijer ngunekake, yen tan wruh rasanipun, tanpa gawe sira angaji, angur sira macaa, prenesan wong ayu, balik sira maca kitab, becik bisa lapal makna amuradi, kaping pat rasanira.

Artinya :

Lagi pula janganlah kau sembrana, raskanlah segala isinya kitab, jangan hanya melaflkannya, bila tiada tahu rasanya, tak berarti kau mengaji, lebih baik kau membaca, yang mengambarkan tentang wanita cantik, bila kau membaca kitab, baik sekali bila dapat lafal dan maknanya, keempatnya menghayati dan mengamalkannya.

– 19 –

Nadyan lapalira sundul langit, yen tan bisa maknane punika, sanadyan bisa maknane, kapriye muradipun, nadyan sira bisa muradi, yen tan wruh rasanira, yekti nanjuk-nanjuk, lapal makna murad rasa, papat iku kasebut ing dalem dalil, pantoge aneng rasa.

Artinya :

Walaupun pandai melafalkannya setinggi langit, bila tak dapat mengerti maknanya, walau dapat mengerti maknanya, bagaimana mengahayati, bila tidak tahu rasanya, akan tersesat jalan meraba-raba, lapal, makna pengahatan dan rasa, empat itulah yang tersebut di dalam dalil, berakhir pada rasa.

– 20 –

Rasa iku kang luhur pribadi, nanging aja katungkul mring rasa, weruha kang ngrasakake, den bisa karya ukum, kukum iku kawan prakawis, sapisan hukum wenang, pindo wajibiku, kaping telu kukum ngadat, kaping pate kukum mokal iku kaki, tan kena piniliha.

Artinya :

Rasa adalah yang paling tinggi, tetapi jangan terpaku hanya pada rasa, fahamilah yang merasakannya, dapatlah berbuat hukum, hukum berjumlah empat macam, pertama hukum Wenang, kedua Wajib, ketiga hukum Adat, keempat hukum Mokal, tak dapat dipilih.

– 21 –

Siya-siya lamun sira pilih, kukum papat pan wus darbekira, sira tan wruh pangukume, mangkene liring kukum, hukum wenang punika kaki, hiy Jeng Nabi kita, wakiling Hyang Agung, winenang ngaku Hyang Sukma, lan winenang murba misesa sakalir, gemah rusaking badan.

Artinya :

Sia-sia kalau dipilih, keempat hukum itu adalah milikmu, kau tidak mengetahui menghukumnya, beginilah arti hukum itu, hukum wenang itu, adalah Kanjeng Nabi kita, yang mewakili Hyang Agung, berwenang mengaku Hyang Sukma, yang diwenangkan menghukum apa pun, bahkan sampai rusaknya phisik.

– 22 –

Kaping pindho ingkang hukum wajib, Nabi kita wajib ngawruhana, marang ingkang menangake, utawane aweruh, iya ingkang nebut Hyang Widhi, dene kang hukum ngadad, punika liripun, Nabi kita ngawruhana, mring adate Abubakar Ngumar Ngali, kapat Begendha Ngusman.

Artinya :

Hukum yang kedua adalah hukum wajib, Nabi kita wajib mengetahui, terhadap yang memenangkan, atau mengetahui, yalah yang disebut Hyang Widhi, adapun yang dinamakan hukum adad, itu adalah, Nabi kita agar mengetahui, terhadap adadnya Abubakar Umar Ali, keempatya Baginda Usman.

– 23 –

Iku lamun ora den kawruhi, sayektine ambubrah Sarengat, yen wus kawruhan kabeh, ya iku kang sinebut, ing jenenge weruh Jeng Nabi, dene kang hukum mokal, punika liripun, mokal telu yen owaha, upamane ilanga salah sawiji, jumeneng lawan apa.

Artinya :

Bila hal itu tidak diketahui, akhirnya akan merusak Syareat, bila telah diketahui semuanya, itulah yang disebut, yang dinamakan tahu Kanjeng Nabi, adapun yang disebut hukum mokal, itu adalah, tak mungkin ketiganya akan berubah, bila hilang salah satu, bertahta dengan apa.

– 24 –

Mula ana martabat premati, telung prakara kehing martabat, kukum telu kono nggone, hukum mokal puniku, mung kinarya mratandhani, ptraping tri prakara, ywa kongsi kalimput, mangkono upamanira, nadyan silih jumenenge Sri Bupatri, kukum patang prakara.

Artinya :

Maka ada martabat yang muskil, martabat itu berjumlah tiga macam, dalam ketiga hukumlah tempatnya, hukum mokal itu, hanya sebagai pertanda, patrapnya tiga perkara, janganlah terlena, begitulah umpamanya, walaupun berganti kedudukan sebagai Bupati, hukum empat perkara.

– 25 –

Dununging hukum kawan prakawis, nora metu kang patang prakara, kukum kang wenang tablege, Ngalam Arwah puniku, wenang nganggo ala lan becik, kukum wajibing Alam, ijesam dumunung, kuwajiban tur uninga, pan sabarang Pangeran gone miyarsi, ing kono marganira.

Artinya :

Kadudukanya keempat macam hukum, tidak menyimpang dari empat perkara, hukum yang berwenang pelaksanaannya, Alam Arwah itu, berwenang mempergunakan jelek dan baik, hukum wajib Alam, mayatlah tempatnya, kewajiban dan mengetahui yang dilihatnya, disitulah jalannya.

– 26 –

Kukum ngadad ingkang andarbeni, mapan iya ana Ngalam Misal, ameruhana adate, sabarang kang dinulu, warna rupa reh kang dumadi, lamun ora weruha, tuna ing pandulu, kaping pate kukum mokal, dumununge aneng Ngalam Insan Kamil, kamil cahyaning Sukma.

Artinya :

Hukum adad yang mempunyainya, memang berada pada alam fikiran, mengetahui adadnya, segenap yang dilihatnya, warna rupa pendidikan yang ada, bila tidak mengetahui, rugi dalam penglihatan, keempatnya Hukum mokal, kedudukannya dalam Alam Insan Kamil, Kamil cahayanya Sukma.

– 27 –

Lawan mokal lamun den uripi, lawan mokal yen tan nguripana, mapanta ana tandhane, mungguh tininggaliku, badanira tan bisa mosik, mokal yen nguripana, Kiyageng Liptamsur, nyatane ana kang karya, sayektine Kamil iku akekasih, mokal yen sinetuwa.

Artinya :

Dan lagi mokal kalau dihidupkan, dan lagi mokal kalau tidak menghidupkannya, terpisah-pisah ada tandanya, bila ditinggalkannya, tubuhmu tidak dapat bergerak, tidak akan (mokal) kalau menghidupkan, Ki Aeng Liptamsur, terbukti ada yang menciptakannya, sebenarnya Kamil adalah sebuah nama, tak akan (mokal) dituakan.

– 28 –

Marang hukum sira aja pangling, sabab ana unine kang kitab, patang prakara cacahe, batal karam puniku, ingkang aran najis lan suci, sukur yen wus uninga, lamun durung weruh, takono para Ngulama, aja sira kalayu melu ngarani, den gambuh kawruhira.

Artinya :

Terhadap hukum janganlah kau melupakannya, sebab tersebut di dalam kitab, berjumlah empat perkara, Batal Karam itu, yang disebut Najis dan Suci, syukurlah kalau sudah mengetahuinya, bila belum mengetahuinya, tanyakanlah kepada para Ulama, janganlah kau ikut-ikutan mengatakannya, dalam persamaan pengertianmu.

PUPUH II
G A M B U H

– 01 –

Tegese karam iku, dudu wong kang mangan Celeng Bulus, nadyan Kurma Pitik Iwen Kebo Sapi, yen tansah pamanganipun, iku karam ingkang mangnon.

Artinya :

Arinya haram itu, bukanya orang yang makan Babi hutan atau kura-kura, walaupun Kurma Ayam Kerbau dan sapi, kalau selalu berlebihan memakannya, itulah hukumnya haram.

– 02 –

tegese batal iku, dudu wong kang sembahyang kapentut, Sembahyang yen durung wruh jroning batin, iku batal tegesipun, wis mupusa becik turon.

Artinya :

Artiya batal itu, bukan orang selagi sholat kentut, sholat kalau belum mengetahui di dalam batin, hal itulah yang dinamakan batal, kalu begitu lebih baik tidur saja.

– 03 –

Maknane najis iku, dudu wong kang kagepok ing asu, nadyan sira kaki kawutahan warih, iku luwih najis agun, apa kang ginawe wisuh.

Artinya :

Artinya najis itu, bukan orang yang memegang Anjing, walaupun engkau terkena tumpahan air, hal itu termasuk najis besar, lalu apa yang dipakai mensucikannya.

– 04 –

Iya wisuh banyu, aja banyu kang metu ing watu, nenuwuna mring malekat Jabarail, iku sira nggowa wisuh, sampurnane teka kono.

Artinya :

Mencucinya pun juga dengan air, jangan air yang keluar dari batu, mohanla kepada Malaekat Jibril, itulah yang harus kau pakai mencuci, sempurnannya dari situ.

– 05 –

Lamun sira panguh, lan Malekat Jabrail tumurun, saratana busana kang sarwa langkung, patige toya lir ebun, iku banjur nggone wisuh.

Artinya :

Pabila kau ingin bertemu, agar Malaekat Jibril turun, usahakanlah memakai pakaian yang serba hitam, pemberiannya air bagaikan embun, itulah yang harus kau pakai mencuci diri.

– 06 –

Lamun sira wus wisuh, poma kang ngati-ati den emut, aja nganti kapecak ing banyu malih, manawa sira kajegur, kali banjir pasthi layon.

Artinya :

Bila kau sudah mencuci diri, berhati-hatilah dan selalu waspada, jangan sampai terkena air lagi, bila kau terjebur, sungai banjir kau akan mati.

– 07 –

Pitutur kang satuhu, poma sira aywana katungkul, pakumpulan geguyon rahina wengi, jroning ngguyu dipun emut, den sukur marang Hyang Manon.

Artinya :

Nasehat yang sejati, janganlah kau terlena, perkumpulan bergurau siang dan malam, dalam tertawa selalu ingatlah, bersyukurlah kepada Hyang Widhi.

– 08 –

Guyu kang tan tuwajuh, iku ngedohake marang wahyu, basa wahyu nugraha kang Maha Suci, tumrap neng raga kang wujud, poma sira den waspaos.

Artinya :

Tertawa yang berlebihan, itu menjauhkan dari wahyu, artinya adalah Anugrah dari Hyang Maha Suci, terhadap tubuh phisik, selalu waspadalah.

– 09 –

Wruha kang tunggal wujud, anedya awidagda ing kalbu, aja bungah ginunggung marang sasami, wateke wong karem gunggung, maledhung saengga dheyot.

Artinya :

Ketahuilah yang menyatu didalam phisik, terwujudnya suatu kepandaian diri, jangan senang dipuji, sombong membusungkan dada hingga celaka.

– 10 –

Apa lire maledhung, kayadene wong kang adol gendhung, nedheng padha jagongan sami lalinggih, tan wigih wus ngrasa unggul, tan wruh jugule angradon.

Artinya :

Apa artinya membusungkan dada, bagaikan orang menjual obrolan, pada orang yang sedang santai berkumpul, merasa dirinyalah yang paling pandai, tak mengetahui kebodohannya telah tersebar.

– 11 –

Dene kang padha gunggung, saking wegah mulat polahipun, tanrinasa panggunggunge mawa wadi, wadine wong akeh lumuh, pangrasane iku kawon.

Artinya :

Adapun yang menyanjungnya, karena sudah muak menyaksikan tingkahnya, tidak dirasakan makna sanjungan itu, makna sindiran bagi orang jahil, pendapatnya bahwa itu kalah.

– 12 –

Nuli agawe amuk, sila tumpang kandhane agupruk, tutur nempil anggepe weruh pribadi, sakeh ngelmu-ngelmu dudu, kawruh dhewe salah tonton.

Artinya :

Lalu menyombongkan diri, duduk bersila dengan sikap sombong dan besar mulut, kata-katanya hanya menirukan tetapi merasa serba tahu, segala macam ilmu tipuan, pengetahuan sendiri ditinggalkannya.

– 13 –

Polahe nora patut, nusahake wong kang sandhing lungguh, wong mangkono tan pantes dipun cedhaki, becik singkirana iku, jer maido mring Hyang Manon.

Artinya :

Tingkah lakunya tercela, menyusahkan bagi orang yang duduk berdampingan, orang yang semacam itu tidak pantas didekati, lebih baik dijauhi saja, karena tidak percaya kepada Hyang Manon.

– 14 –

Sandyan iku weruh, kena uga ingaranan durung, titikane aneng solah muna muni, angakuwa bisa mabur, yektine neng ngisor palon.

Artinya :

Walaupun diketahuinya, dapat juga dikatan belum, tanda-tandanya pada tata cara berbicara, walaupun mengaku dapat terbang, ternyata hanya dibawah landasan palu.

– 15 –

Lelabuhan ingkang wus, kanggo ing jaman kuna rumuhun, nora ana wong mangkana antuk Gaib, nanging ana pantesipun, wong mangkono jaga obrol.

Artinya :

Kalau dikaji yang sudah-sudah, sejak jaman kuno dahulu, tak ada orang semacam itu dapat Gaib, tetapi pantas juga, orang semacam itu untuk menjaga obrolan.

– 16 –

Marma wong ngurip iku, den padha wruh marang ing panuju, ing tegese panuju kang wruh ing liring, yen tan enak rasanipun, ywa age-age linakon.

Artinya :

Oleh karenanya, pahamilah sesuatu maksut, artinya maksut adalah tahu terhadap situasi, pabila menurut perasaan tak enak, janganlah mengerjakan sesuatu.

– 17 –

Manawa keneng siku, marang pawong sanak liyanipun, luwih abot tan nganggo sasami-sami, wong mangkono lamun lampus, pantes tinabela ing ron.

Artinya :

Bila terkena cela, terhadap orang lain, lebih berat tanpa ambpun, orang yang berbuat demikian, pantas ditutup dengan daun.

– 18 –

Puniku nyatanipun, wong kang kena dukaning Hyang Agung, cinemplungaken sajroning naraka agni, aja naraka ing besuk, iku naraka kang katon.

Artinya :

Itulah suatu kenyataan, orang yang mendapat marah dari Hyang Agung, dimasukkan kedalam Neraka Agni, janganlah Neraka di kemudian hari, tetapi Neraka yang terlihat.

– 19 –

Polah kang nora patut, nora pantes lamun sira turut, nora wurung rusak awake pribadi, mulane wong urip iku, sabarang dipun was paos.

Artinya :

Tingkah yang tidak pantas, tidak pantas kalau ditiru, akibatnya akan merusak pribadimu, oleh karenanya orang hidup itu, segala harus dipertimbangkan lebih dahulu.

– 20 –

Polah kang nora jujur, iku wajib lamun sira singkur, ungkurena aywa kongsi bisa kawijil, ujubena kang tuwajuh, kang wajib weruh Hyang Manon.

Artinya :

Watak yang tidak jujur, wajib dihindari, hindarilah jangan sampai terpengaruh, buktikanlah dengan kesengguhan hati, yang seharusnya diketahui Hyang Manon.

– 21 –

Mula wong urip iku, den padha akarep marang ngelmu, ala becik ngelmu iku den kawruhi, karana atunggal wujud, mung kacek emel lan batos.

Artinya :

Maka orang hidup itu, janganlah berhenti belajar, baik dan buruk Ilmu itu harus diketahui, karena sebenarnya adalah satu, hanya berbeda lafal dan batinnya.

– 22 –

Dene ingkang wus weruh, datan arsa panggawe kang luput, sabab urip siji kanggo wong sabumi, tarlen andhap sarta luhur, kacek uga kang wus weruh.

Artinya :

Adapun bagi yang mereka yang sudah mengetahui, takkan mau berbuat yang bukan-bukan, karena hidup hanya satu untuk orang sedunia, tidak berbeda yang rendah maupun yang tinggi, hanya berbeda bagi yang telah mengetahuinya.

– 23 –

Maknane kang wis weruh, kang andulu liya kang dinulu, upamane ron suruh amung sawiji, nadyan seje warnanipun, ginigit tunggal saraos.

Artinya :

Artinya bagi yang sudah tahu, yang melihat lain dari yang dilihatnya, umpama selembar daun sirih, walaupun warnanya ada yang berbeda, tetapi kalau digigit sama rasanya.

– 24 –

Iku pralambangipun, kalamun sira arsa satuhu, tumameng nganeng madyanireng jaladri, apa kang katon sireku, wawasan ingkang sayektos.

Artinya :

Begitulah ibaratnya, bila kau mempunyai kemauan yang keras, biasakanlah berada dalam kancahnya sangdera, apapun yang kau saksikan, perhatikanlah dengan kesungguhan hatimu.

– 25 –

Yen sira dulu alun, dudu iku ingkang sira dulu, becik uga ombaking ngalun pinikir, wong iku den kaya ngalun, gumulung tan pisah enggon.

Artinya :

Bika kau menyaksikan badai, bukan itu yang sebenarnya kau saksikan, tetapi fikiranlah alunan gelombangnya badai itu, bergulung-gulung tiada terpisah tempatnya.

– 26 –

Jembaring samodragung, tanpa tepi anglangut kadulu, suprandene maksih gung manungsa iki, alas jurang kali gunung, neng raganira wus katon.

Artinya :

Luasnya samudra raya, tiada bertepi dan sejauh mata memandang, tetapi masih besar adanya manusia ini, hutan jurang sungai gunung, di dalam diri manusia.

– 27 –

Tana prabedanipun, jagad katon lan jagadireku, wus tinimbang jagad gedhe jagad cilik, suprandene wong puniku, sok sesak sasamining wong.

Artinya :

Tiada berbeda, dunia yang terlihat dan dunia dalam dirimu, sudah ditimbang adanya jagad besar dan jagad kecil, walu begitu orang itu, terkadang penuh oleh syak terhadap sesamanya.

– 28 –

Apa margane iku, luwih abot tan bisa lumebu, sabab kebak kabebeg kaleban agni, singa mara pan katunu, luwih nistha wong mangkono.

Artinya :

Apakah sebenarnya semua itu, lebih berat kalau tidak dapat masuk, karena penuh tercemar oleh api, siapun yang mendekat pasti rugi, rendah yang serendahnya orang yang begitu.

– 29 –

Yen sira durung surup, tegese jagad cilik lan agung, jagad cilik jenenge manungsa iki, iya batinira iku, yen jagad gedhe Hyang Manon.

Artinya :

Bila engkau belum mengetahui, arti bawana alit dan bawan ageng, bawana alit namanya manusia ini, adalah batinmu, bila bawana ageng adalah Hyang Manon.

– 30 –

Manungsa kang wus putus, jagad gedhe cilik kawengku, njaba njero ngisor ndhuwur andarbeni, yen Maha Sih milaya iku, semang-semang mring Hyang Manon.

Artinya :

Manusia yang sudah pandai, bawana ageng dan alit sudah dikuasainya, luar dalam bawah dan atas dikuasainya, bila Maha Kasih menghidupkannya, takut kepada Hyang Manon.

– 31 –

Mangkana kang wus putus, patraping wong kang anggilut mring ngelmu, iya patang prakara kang den rasani, winanuhken alanipun, kang becik kininra awon.

Artinya :

Begitulah bagi mereka yang telah berilmu, suatu cara bagi orang yang mendalami suatu ilmu, adalah empat perkara yang dibicarakannya, perkenalkanlah jeleknya, yang baikpun akan dikira jelek.

– 32 –

Yen sira apanuju, padon lan wong mondrosudibyanung, lan sang gyaning Ngatapa tuwin Maharsi, myang pawong sanak sadulur, kang kaprenah tuwa anom.

Artinya :

Bila kau sedang, berdebat dengan orang ahli bertapa dan Maha Resi, kepada siapun handai taulan sanak saudara, baik yang tua maupun muda.

– 33 –

Kang wuswaspadeng semu, pituture rum ris rinangu, lir mangremih aruming rerasan ngelmi, pamipradonggo munyawus, kandhih dening ngesnya kang wong.

Artinya :

Bagi yang telah faham terhadap isyarat, kata-katanya enak didengar dan mengetarkan hati, bagaikan menyiratkan bau harumnya berbicara tentang ilmu, andaikan bunyi nyanyian katak suaranya sudah, suaranya lenyap oleh keasikannya.

– 34 –

Dene kang padha ngrungu, kang wus karem rosing siji iku, kekes tyase rumasa luhira mijil, kemutan pratingkahipun, neng donya sok gawe awon.

Artinya :

Adapun yang mendengarkannya, yang sudah senang rasanya yang satu itu, bergetar hatinya dan tak terasa terurai air mata, teringat berbagai perbuatannya, di dunia sering berbuat jahat dan kesalahan.

– 35 –

Panggawe ala iku. Donya kerat yen ngati kapatuh, tangeh lamun nemuwa pitutur becik, mring Pengerane tan wanuh, tangeh weruha Hyang Manon.

Artinya :

Perbuatan jelek itu, kalau terlanjur akan diderita dunia dan akhirat, tidak akan mendengarkan petunjuk yang baik, takkan tahu siapakah Tuhannya, tidak akan mengetahui Hyang Manon.

– 36 –

Lali yen tunggal dhapur, pan kalingan mring ki tukang padu, pan katarik mring semang tukang manasi, rara melikan kang nuntun, nuduhken sang gawe awon.

Artinya :

Lupa Kalau satu wadah, karena terhalang oleh ki tukang bertengkar, juga terlibat dalam bujukan tukang membuat gara-gara, rasa serakah yang menuntunnya, menunjukkan caranya berbuat jelek.

– 37 –

Jaman mangkana iku, uga padha karsaning Hyang Agung, nanging dudu dedununge den lakoni, Hyang Sukma paring pituduh, nanging maksih salah dunong.

Artinya :

Jaman yang tersebut itu, tetapi juga kehendak Hyang Agung, tetapi perbuatan yang tidak pada tempatnya, Hyang Sukma memberikan petunjuk, tetapi masih juga salah menempatkannya.

– 38 –

Ana dumukanipun, donya kerat iki tegesipun, wewalesan bae babo dipun eling, rehning wong ngurip puniku, tan wurung nemahi layon.

Artinya :

Ada petunjuknya, dunia dan akherat itu artinya, merupakan pembalasan haruslah diiangat-ingat, berhubung manusia hidup itu, pada akhirnya pun akan mati.

– 39 –

Ala becik puniku, apan iya metu sing sireki, anambaka alaning liyan sireki, balik alane wong ngelmu, tan metu saka ing kono.

Artinya :

Buruk dan baik itu, sebenarnya terlahir dari dirimu sendiri, batasilah diri dari kejelekan dari orang lain, tetapi sebaliknya dari kejelekannya orang berilmu, tidak keluar dari itu.

– 40 –

Kapriye pratingkahmu, yen sira tinggal lakuning ngelmu, nora wurung kalurung gonira urip, sanadyan sira wus ngelmu, yen tan laku dadi awon.

Artinya :

Bagaimana prakarsamu, bila kau meninggalkan sarananya ilmu, akhirnya akan tersesat hidupmu, walaupun kau telah berilmu, bila tanpa sarana lampah jadi jelek.

– 41 –

Basa kang aran laku, dudu wong kang cegah mangan turu, pan wong cegah turu wateke yen lami, kancilen salin pandulu, tan wurung asalah tonoton.

Artinya :

Arti kata lampah, bukan orang yang mengurangi makan dan tidur, adapun orang yang mengurangi tidur kalau kelamaan, mata terbelalak sukar tidur dan berganti penglihatan, akhirnya salah pula yang dilihat.

– 42 –

Kang cegah mangan iku, lin Pandhita dahar kayu gapuk, apa sira milik dadi uler turi, suwargane dadi kupu, tan wurung binadhog bidho.

Artinya :

Kalau mencegah dan mengurangi makan, bagaikan Pendeta makan kayu lapuk, apakah kau ingin menjadi ulat pohan turi, surganya menjadi kupu-kupu, akhirnya dimakan burung elang.

– 43 –

Dene kang cegah turu, dudu meleking netra satuhu, iya netra kang aneng telenging batin, iku melek sajegipun, prapteng sujalma yen layon.

Artinya :

Adapaun yangmencegah tidur, bukan terbukanya mata semata, adalah mata yang berada di dalam batin, mata batin itulah yang harus terbuka selamanya, sampai akhir hayatnya.

– 44 –

Kang cegah dhahar iku, datan arsa panggawe kang rusuh, bab kang patang prakara dipun nastiti, tutupana kang barukut, ywa nganti bisa kawiyos.

Artinya :

Begitu pula mencegah makan, artinya tidak akan berbuat semaunya, empat rahasia hidup harus terjaga benar, tutupilah dengan rapat, jangan sampai keluar.

PUPUH III
M I J I L

– 01 –

Kawedhara iku bilaheni, memurung lelakon, angrerusak sabarang panggawe, lir reksasa krura angajrihi, sabarang kaeksi, temah tan rinengu.

Artinya :

Bila dibicarakan itu berbahaya, membatalkan suatu rencana, merusak semua perbuatan, bagaikan Raksasa kejam menakutkan, semua yang dikehendaki, tidak akan diragukan lagi.

– 02 –

Poma kekeren dipun aremit, dunungna kang manggon, ywa sulaya priyen kawedhare, ujubena sariranireki, wayang aneng kelir, gyanira lumaku.

Artinya :

Maka haruslah dijaga dengan ketat, tempatkanlah pada tempat yang sebenarnya, jangan sampai simpang siur penjabarannya, ketahuilah akan dirimu, wyang yang tergelar di layar, bagaimana caranya berjalan.

– 03 –

Lamun ana asikireng galih, kaki den was paos, obah osik ana kang agawe, iku sira ulatana kaki, dununge kang osik, dene bisa kapangguh.

Artinya :

Bila timbul hasrat hati, haruslah berhati-hati, segala perbuatan ada yang membuat, hal itu haruslah kau perhatikan, kedudukannya yang disebut kehendak, usahakan sampai berhasil.

– 04 –

Pralambange osikireng batin, yektine tanpa doh, lah badhenen tetulisan kiye, ingkang aran sah iku kang endi, ingkang ireng mangsi, kertas ingkang pingul.

Artinya :

Gambaran suatu kehendak, sebenarnya tidak jauh, sekarang tebaklah tulisan ini, yang bernama sah itu yang mana, yang hitam tinta, yang berbingkai itu kertas.

– 05 –

Dene iya ingkang mengkoni, jro tulis kang katon, ulatana sapucuking epen, kang durung wruh wruhana lamun mangsi, kang uningeng gaib, gumawang andulu.

Artinya :

Adapun yang menjadi bingkainya, di dalam tulis yang tampak, perhatikan pada ujung pena, yang belum tahu berilah pengertian bahwa itulah tinta, yang telah mengetahui gaib, jelas sekali kelihatan.

– 06 –

Nanging tanpa gatra tanpa warni, tan kenging ginepok, mung satengu binubut gedhere, suprandene bisa angebaki, warata sabumi, iya tanpa dunung.

Artinya :

Tetapi tak berbentuk tak berwarna, tak dapat terpegang tangan, besarnya hanya sebesar kuman dibubut, walaupun begitu dapat memenuhi, merata di dunia, juga tidak bertempat.

– 07 –

Sayektine barang kang kaeksi, kono nggone manggon, ngalih enggon tan ana enggone, sakedhepan ngalih ping sakethi, tegese mung siji, apan iya iku.

Artinya :

Sebenarnya apapun yang diinginkannya, disitulah tempat tinggalnya, berpindah tempat tak ada lagi tempatnya, dalam sekejap berpindah seribu kali, artinya hanyalah satu, yalah hanya itu.

– 08 –

Lan sing prapta kang siratingali, tan kakung tan wadon, aranana wanita yektine, baya wanita endah ing warni, yen sira arani, lanang yekti kakung.

Artinya :

Yang datang adalah yang kau lihat, bukan priya maupun wanita, katakanlah sebenarnya adalah wanita, bila wanita sangatlah cantik, bila kau duga, priya pastilah dia lelaki.

– 09 –

Luwih guna lawan luwih sekti, kamantyan was paos, samubarang terang paninggale, nora kena kumleset wus uning, nadyan jroning batin, Hyang Sukma wus weruh.

Artinya :

Lebih berguna dan lebih sakti, sesuatu petunjuk untuk menghargainya, semua barang terang terlihat, tidak akan luput karena semua sudah tahu, walaupun di dalam batin, Hyang Sukma sudah melihat.

– 10 –

Tanpa cidra dennya wruh ing batin, tan netya yen anon, tanpa karmaning pamiyarsane, tanpa grana mambu ganda sidik, lawan bisa angling, iya tanpa tutuk.

Artinya :

Tanpa cipta untuk mengetahui batin orang, bukanlah mata kalau tidak dapat melihat, mendengar tanpa telinga, mencium bau harum tetapi tanpa hidung, dapt bercumbu, juga tanpa mulut.

– 11 –

Kang den anggo wus aneng sireki, sira tan rumaos, pangrasamu darbekira dhewe, nora weruh kang sira ulati, siyang lawan ratri, jumeneng ngriku.

Artinya :

Yang dipergunakan sudah ada pada dirimu, kau tidak merasa, perasaanmu milikmu sendiri, tidak melihat yang kau lihat, siang maupun malam, berada disitu.

– 12 –

Yen tan lawan karsaning Hyang Widhi, obah osiking wong, kaya priye nggone matrapake, yekti kaya reca neng Wadari, pralambanging urip. Lir angganing prau.

Artinya :

Bila tidak atas kehendak Hyang Widhi, gerak gerikny manusia, bagaimana caranya, pastilah seperti arca di Wedari, gambarannya hidup, bagaikan perwujudan perahu.

– 13 –

Ingkang aneng tengahing jaladri, lalakone kono, prau iku sapa nglakokake, yekti saking karsaning Hyang Widhi, nadyan sikemudhi, pan manut ing banyu.

Artinya :

Yang berada di tengah laut, perjalanannya itu, perahu tersebut siapa yang menjalankan, tentu dari kehendak Hyang Wdhi, walaupun si juru mudi, takkan menurut pada kehendak air.

– 14 –

Pasthi kaya mangkono wong urip. Yen sira maido, nyatakena iya prau kuwe, entasana saking jroning warih, yekti nora mosik, mung kari nggalundhang.

Artinya :

Tentulah semacam itu orang hidup, bila kau tidak percaya, buktikanlah dalam perahu itu, angkatlah dari dalam air, pastikanlah tak akan bergerak, tinggallah tergeletak.

– 15 –

Lamun sira anggeguru kaki, mawanga ponang wong, kang wus ana sairib liribe, piwulange kang ngampat mring Gaib, solah muna-muni, panengeran agung.

Artinya :

Bila kau berguru, perhatikanlah orang itu, yang sudah jelas keadaannya, ajarannya yang menyangkut tentang ilmu gaib, perbuatan dan tutur katanya, pertanda keagungan.

– 16 –

Mapan akeh ngelmune Hyang Widhi, tan kena den uwor, warna-warna manungsa kawruhe, upamane Sang Nata tinangkil, duk prapta ing kori, angungak andulu.

Artinya :

Memang banyak ilmunya Hyang Widhi, tak dapat diukur, bermacam-macam pengetahuan manusia, diumpamakan Sang Raja sedang bersidang, ketika tiba di pintu, disaksikan diduga.

– 17 –

Mantri ingkang jaga aneng kori, tinarka Sang Katong, ajrih mulat sanget sumungkeme, weneh ana mulat mring Bupati, tinarka Sang Aji, sembahe sumrikut.

Artinya :

Mantri yang menjaga di pintu, diduganya Sang Raja, karena takut memperhatikan bertatap mata lalu menunduk, ada pula yang lain menyaksikan Sang Bupati, diduganya Sang Raja, menyembahnyapun dengan takjim.

– 18 –

Wenenh ana mulat Ki Patih, ing ngayap ponang wong, ginarebeg sagung punggawane, panyanane Sang Sri Narapati, kang mangkana kaki, medem marang kawruh.

Artinya :

Yang lainnya ada pula yang menyaksikan Ki Patih, terlihat sekilas orang tersebut, giringkan segenap anak buahnya, diduga adalah Sang Narpati, hal demikian itu, mabuk ilmu.

– 19 –

Kang ngulati marang Sri Bupati, wong jroning Kadhaton, dadak metu ngulati Ratune, nora weruh yen Sri Narapati, tunggal jroning puri, dheweke wus wanuh.

Artinya :

Yang menyaksikan kepada Sang Bupati, orang yang berada di dalam keraton, mereka keluar untuk menyaksikan Rajanya, tidak mengetahui di dalam puri itu juga, merakapun telah mengenalnya.

– 20 –

Pamangkana yen wong ngulah ngelmi, keh salah padudon, dudu padon dadakan dinaleh, nora weruh kang sira ulati, siyang lawan ratri, wus aneng sireku.

Artinya :

Apakah begitu kalau orang mempelajari ilmu, banyak kesalahan dan bertengkar, bukannya pertengkaran penyebab untuk mendapatkan sesuatu, tidak mengetahui yang dilihatnya, siang maupun malam, sudah berada pada dirimu.

– 21 –

Satuhu kawruh kang sayekti, tan tinggal Hyang Manon, datan ana tilase uwangi, anglimputi ing reh kang dumadi, tan kena pinilih, ika iki iku.

Artinya :

Sebenarnya pengetahuan yang sejati, tidak akan meniadakan Hyang Manon, tidak berbekas dan tidak meninggalkan wanginya, meliputi dalam pelajaran kehidupan, tidak dapat dipilih, sana, sini, situ.

– 22 –

Sabab lamun sira milih kaki, nora bisa dados, bali marang asalira dhewe, tilitinen den bisa kapanggih, poma sira kaki, ywa mutung ing kalbu.

Artinya :

Karena seandainya kau memilih, tak akan dapat jadi, kembali ke asalnya, telitilah dengan seksama agar dapat bertemu, camkanlah itu, janganlah berputus asa.

– 23 –

Lan dununge kang kawan prakawis, takokna kang manggon, aja kongsi kaliru surupe, keh arane kang kawan prakawis, karana yen sisip pamurunging laku.

Artinya :

Adapun makna dan kedudukan yang empat perkara, tanyakanlah kepada yang berada padanya, jangan sampai salah pegertian, banyak sebutannya untuk yang empat perkara itu, karena kalau salah, menggagalkan upaya.

– 24 –

Ingkang abang upamane geni, murub angengobong, yen tan bisa kaki panyirepe, jagad iki sayekti kabesmi, Malekat Ngijroil, nunggil karsanipun.

Artinya :

Merah yang melambangkan api, menyala dan dapat membakar apa saja, bila tidak dapat memadamkannya, dunia ini akan terbakar habis, Malaikat Ijroil, berada padanya.

– 25 –

Ingkang sidik iya aji kuning, kasengsem mring wadon, mamilikan ing kana margane, ambebawur ing cipta kang becik, Malekat Mikail, nunggil karsanipun.

Artinya :

Yang menyengsamkan hati adalah Aji Kuning, terbuai kepada keindahan dan wanita, mengutamakan keinginan itulah jalannya, bercampur aduk pada cipta hati yang mulia, Malaikat Mikail, menyatu dalam kehendak.

– 26 –

Dene iya ati ingkang langking, santosa kinaot, mung ngrerusak sabarang panggawe, datan arsa panggawe kang becik, Malekat Jabrail, kang nunggal jumunung.

Artinya :

Adalah warna hitam, mempunyai sifat perkasa, namun sifatnya merusak, tidak mau berbuat yang baik, Malaikat Jibril, yang menyatu dalam sifat itu.

– 27 –

Dene iya ati ingkang putih, sayektine kinaot, ati jinem terang saciptane, kalestaren panggawe kang becik, Malekat Isropil, kang nunggal jumurung.

Artinya :

Adapun sifat yang berwarna putih, benar-benar berbeda keadaannya, sifat damai dan terang segala perbuatannya, selalu melakukan perbuatan yang baik, Malaikat Isrofil, yang menyatu dalam kehendak.

– 28 –-

Poma sagung anak putu mami, den samya rumaos, rubedeng tyas kawruh ana kabeh, datan liyan mung catur prakawis, poma den nastiti, ywana salah surup.

—————————————————————————————————————————–

by :

>Wirausaha Online Modal Nol Rupiah

>

Wirausaha Berteknologi
Bisa internet anda bisa jadi pengusaha. Teknologi jangan hanya dibuat konsumtif tapi juga harus menghasilkan uang.  

Teknologi bisa menghasilkan uang untuk kita, Teknologi diciptakan untuk membuat hidup lebih mudah, maka cari uang dengan teknologi pun bisa lebih mudah.

PROFIL PERUSAHAAN

PT Technopreneur Indonesia atau singkatnya PT.TI, merupakan perusahaan penyedia layanan informasi online di Indonesia. Kami menyediakan informasi online mulai dari produk iklan baris mobil, iklan baris rumah, kontak jodoh, hingga informasi produk & bisnis.

Produk-produk kami saat ini telah ternama dan dikunjungi puluhan ribu pengunjung setiap harinya :

http://www.MobilRaya.com Informasi Mobil Bekas Online !
Fitur & keunggulan :
– Pasang iklan sampai laku cuma Rp 100.000,-
– Pasang photo resolusi tinggi, maksimal 6 photo.
– Bisa ubah harga, spesifikasi, photo, meskipun iklan sedang tayang.
– Ribuan pencari mobil di MobilRaya setiap hari, datang dari Google dan Yahoo.
– Customer support online 7 hari seminggu.
– Menjangkau informasi sampai tingkat kecamatan.

Mobil bekas

http://www.RumahRaya.com Informasi Rumah /Properti Online !
Fitur & keunggulan :
– Pasang iklan sampai laku cuma Rp 100.000,-
– Pasang photo resolusi tinggi, maksimal 6 photo.
– Bisa ubah harga, spesifikasi, photo, meskipun iklan sedang tayang.
– Ribuan pencari property di RumahRaya setiap hari, datang dari Google dan Yahoo.
– Customer support online 7 hari seminggu.
– Menjangkau informasi sampai tingkat kecamatan.
Rumah dijual

http://www.AyoNikah.com Informasi Kontak Jodoh Online !
Fitur & keunggulan :
– Keanggotaan berlaku sampai dapat jodoh hanya Rp 100.000,-
– Chating dan bisa WebCam untuk melihat calon pasangan anda.
– Melihat nomor HP dan telephone.
– Berkirim pesan ke sesama anggota.
– Gratis SMS pemberitahuan ke HP bila ada pesan dari sesama anggota.
Kontak jodoh

Serta terus bertambah produk PT.TI lainnya yang saat ini masih dalam riset dan pengembangan oleh team Research and Development kami.

Visi dan Misi PT.TI

Kami sangat professional dalam mengutamakan pelayanan kepada customer. Kami telah menyediakan staff-staff terlatih untuk melayani customer kami, mereka selalu siaga online 7 hari dalam seminggu setiap jam kerja. Kami memiliki cita-cita yang yakin optimis akan kami capai :

* Menjadi media penyedia informasi online terbesar di Indonesia.
* Menguasai informasi dari seluruh pelosok daerah /regional di Indonesia.
* Menyediakan pelayanan yang cepat akurat serta professional.
* Memiliki mitra agen informasi dan promosi di setiap daerah di Indonesia. Sekaligus menciptakan kesempatan wirausaha bagi banyak orang yg menjadi mitra kami.

Didukung dengan infrastructure & hardware yang terpilih, system kami online 24 jam nonstop setiap hari. Mampu menangani jutaan data dan menampilkannya dalam hitungan sepersekian detik. Dengan komitmen dan konsentrasi pada pelayanan terhadap customer, produk – produk dari PT. Technopreneur Indonesia optimis akan berhasil menjadi layanan paling professional dan terpercaya di Indonesia di bidang layanan penyedia informasi secara Online.

Wirausaha Online Modal Nol Rupiah

PT.Technopreneur Indonesia menawarkan program “Wirausaha Online Modal Nol Rupiah“.

Yang kami tawarkan kepada anda adalah sebuah bisnis online menjadi Mitra Keagenan dengan sistem bagi hasil. Sistem Mitra Keagenan dapat dilakukan perseorangan. Sebagai seorang agen anda memiliki hak untuk menjual produk dan jasa kami, dengan komisi yang telah disepakati.

Anda berhak menjual produk-produk kami, dan mendapat komisi jika penjualan tersebut adalah dari hasil referensi anda :

http://www.MobilRaya.com
* Harga jual iklan mobil adalah Rp 100.000, komisi untuk anda adalah Rp 50.000,
Mobil bekas

http://www.RumahRaya.com
* Harga jual iklan rumah adalah Rp 100.000, komisi untuk anda adalah Rp 50.000,
Rumah dijual

http://www.AyoNikah.com
* Harga jual keanggotaan kontak jodoh adalah Rp 100.000, komisi untuk anda adalah Rp 50.000,
Kontak jodoh

(Klik disini… , jika anda belum mengenal produk kami.)

Bagaimana bisa modal Rp 0,- (nol rupiah) ?
Berbeda dengan bisnis Off-Line (bisnis makanan, pakaian dll) yang membutuhkan biaya. Sebaliknya produk kami, dengan produk On-Line dan sistem yang ter-Komputerisasi dan sangat effisien, tidak perlu ada biaya yang perlu dibebankan kepada anda.

Yang dimaksud modal nol rupiah adalah, anda tidak perlu membayar kepada kami sejumlah uang untuk memperoleh hak menjual produk kami. Justru kami akan membayar komisi kepada anda jika anda berhasil melakukan transaksi penjualan produk-produk kami.

Dalam menjalankan usaha menjadi agen ini setidaknya anda membutuhkan perlengkapan berikut :
– Komputer atau Laptop
– Internet (adsl, gsm, wifi, HP, warnet, apa saja asalkan koneksi internet)
– Kamera digital atau HP berkamera. (tidak harus ada)
– Printer. (tidak harus ada)
– Selanjutnya tentu skill wirausaha dan kemampuan menjual.

Apa yang saya dapat ?
Kami ingin menjalin kemitraan yang fair (adil) dan Win-Win Solution untuk kami dan anda. Tentunya kami menawarkan uang komisi yang sangat menarik 50% : 50 % untuk setiap penjualan yg terjadi atas referensi anda. Karena produk kami Online, maka telah tersedia sistem komputerisasi, sehinga setiap penjualan secara otomatis tercatat dan komisi otomatis juga ditambahkan ke dalam account anda.

Persentase menarik, pembayaran setiap bulan.

Komisi bagi hasil penjualan 50% : 50 % . Komisi bisa dicairkan jika saldo komisi telah mencapai sedikitnya Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah) di akhir bulan. Komisi ditransfer paling lambat setiap tanggal 5 pada periode awal bulan berikutnya.

wirausaha online

Passive & Active Income.

Passive Income adalah penghasilan yang diterima secara berkala, dengan sedikit usaha yang diperlukan untuk memperolehnya.

Cara Passive Income:
Menunggu untuk “link mitra”milik anda di klik orang lain, kemudian orang tersebut membeli produk kami sehingga anda mendapatkan komisi.

Cara Active Income:
Bila anda menginginkan hasil yang tidak terbatas. Kami mensarankan agar anda untuk lebih berani action dengan menjadi mitra informasi dan pemasaran kami tidak hanya dunia online tapi juga lewat offline. Mulailah cari disekitar anda orang-orang yang membutuhkan produk kami.

Penghasilan tidak Terbatas.
Jadilah bos untuk diri anda sendiri. Tentukan target dan hasil yang anda peroleh sendiri

>Cari Jodoh di Internet Makin Ramai di Arab

>

Cari jodoh secara konvensional, terutama lewat keluarga hingga kini memang masih dominan di Arab, sehingga terkesan kedua mempelai tinggal terima jadi. Namun, Internet menjadi ajang yang makin ramai untuk perjodohan modern.

Ada kalanya memang kebetulan akhirnya sama-sama cinta, atau bahkan sebaliknya. Namun, karena sudah dijodohkan, maka biasanya kedua pasangan menerima pasrah.

Sejalan dengan makin banyaknya laman (situs Internet) pencarian jodoh, para pencari pasangan lewat Internet juga kian ramai, sebagai salah satu alternatif dalam mencari pendamping hidup, untuk memecahkan tradisi lama perjodohan keluarga.

Dalam setahun terakhir ini ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan pelanggan rutin membuka situs pencari jodoh sebagai sarana mencari pendamping hidup, meskipun pro-kontra nikah lewat alam maya itu masih tetap mencuat di masyarakat Arab.

“Saat ini sebanyak 260 ribu orang pelanggan kami di kalangan muda-mudi Arab yang 70 persen di antaranya berasal dari Saudi,” kata Abdullah Al-Jauhar, seperti dikutip harian Arab, Al-Watan edisi Selasa (12/6).

Pemilik dan pendiri laman “Zaujati” (istriku) yang didirikannya tujuh tahun lalu itu menambahkan, sebagian orang tua mendaftarkan anak gadisnya. “Kami menyebarkan informasi tentang setiap pasangan setelah mendapat izin dari yang bersangkutan,” ujarnya.

Zaujati merupakan laman pencari jodoh pertama di Arab. Pada mulanya, sedikit sekali pelanggannya, karena saat itu mencari pasangan lewat alam maya belum menggejala seperti akhir-akhir ini, kata Al-Jauhar.

Saat ini terdapat ratusan situs serupa di dunia Arab yang memberi jaminan kepada langganannya akan kredibilitas informasi yang disiarkan. Hal ini dimaksudkan untuk meyakinkan pasangan bahwa mencari jodoh lewat internet sebagai alternatif.

Untuk Saudi, setiap pelanggan dikenakan tarif yang berbeda-beda sesuai dengan jenis keanggotaannya. Tarif untuk pelanggan biasa sekitar 37 riyal (Rp88.000), pelanggan perak 50 riyal (Rp120.000) dan emas 100 riyal (Rp240.000) per bulan.

“Ide cari jodoh lewat internet adalah ide tepat yang dapat memberikan keleluasaan bagi muda mudi untuk mencari jodoh terutama di perkotaan yang berpenduduk padat,” kata Mohamed Bin Fahd, seorang imam masjid di Khabar, Saudi.

Meskipun demikian, ia mengakui bahwa banyak juga situs serupa yang tidak serius melayani pelanggan alias hanya mencari keuntungan materi semata. “Bagi masyarakat Muslim perlu pelayanan seperti ini sesuai syariat,” katanya lagi.

Untuk mengatasi kemungkinan permaian data pelanggan, biasanya pihak pengelola rutin melakukan pengawasan. “Kami tidak ingin situs seperti ini dianggap sebagai tempat yang tidak bermakna,” kata Abdul Hay Abu Hasna, direktur situs Zawaj (pernikahan) yang memiliki 900.000 pelanggan.

Meskipun demikian, pro-kontra cari jodoh lewat alam maya itu masih tetap mencuat belakangan ini.

“Kredibilitasnya masih diragukan karena terkesan pengelolanya hanya ingin mencari keuntungan materi,” kata Sarah Mohamed, seorang mahasiswi.

“Masih banyak kekuarangan bila mencari jodoh lewat internet. Data-data yang ada belum tentu benar sehingga banyak yang malas mencobanya,” kata Umm Fajr, seorang ibu rumah tangga.

Abu Hasna meminta kepada mereka yang tidak setuju perjodohan lewat internet untuk melihat hasilnya terlebih dahulu.

“Umumnya mereka yang masih kontra disebabkan tidak mengetahui secara rinci prosedur perjodohan lewat alam maya,” kata pengelola situs Zawaj itu.

Sebagian lainnya setuju dengan situs tersebut, tapi dengan syarat seperti yang dikemukakan pemuda Bandar Al-Dakhil. “Cara ini bagus untuk mengurangi angka perawan tua dengan syarat keluarganya mengetahui dengan pasti perkembangan data calon pelamar anaknya,” katanya.

Imam masjid, Mohamed Bin Fahd, mengingatkan bahwa Internet adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan ekonomi dan sosial budaya. “Pelayanan jodoh lewat sarana ini juga merupakan kebutuhan asalkan dilaksanakan secara Islami,” katanya.

Terlepas dari pro-kontra nikah lewat alam maya itu, yang jelas masyarakat Arab sudah mulai ramai mencoba alternatif ini, minimal untuk mendobrak tradisi perjodohan melalui keluarga selama ini. (*sumber :antara.co.id)

AyoNikah.com adalah kontak jodoh khusus bagi yang serius dan ingin menikah. Segeralah menjadi anggota dan nikmati fitur :
– Pencarian jodoh dengan foto.
– Melihat nomor HP dan telephone.
– Mengirim pesan ke sesama anggota.
– Chating dan bisa WebCam untuk melihat calon pasangan anda.
– Gratis SMS pemberitahuan bila ada pesan dari sesama anggota.

Keanggotaan berlaku selamanya, sampai mendapat jodoh.
Daftar sekarang juga, Klik disini.!! Atau Klik Gambar…

Kontak jodoh