>Qalbu dan Hati Nurani

>

Banyak orang bingung dengan pengertian qalbu. Qalbu harus ditulis dengan huruf ‘q’ karena teks Arabnya menggunakan huruf (qaf). Di Indonesia banyak orang menuliskannya dengan huruf ‘k’ sehingga menjadi kalbu. Padahal ‘k’ adalah transliterasi dari (kaf) dan kalau ditulis (kalbu) maknanya adalah anjing. Jadi jauh benar bedanya antara qalbu (hatinurani) dengan kalbu (anjing).

Sebagian orang menerjemahkan qalbu dengan “hati”. Padahal hati (Inggris: liver) adalah organ tubuh yang ada di kanan dada dan fungsinya menyaring racun atau penyakit dari darah. Dalam Bahasa Arab hati disebut dengan ‘kibdun’ atau ‘kibdatun’. Bahasa Arab `Amiyah menyebutnya ‘kabid’. Jadi orang Arab tidak pernah memahami qalbu sebagai hati atau liver.

Hati juga sering dijadikan sebagai terjemahan dari ‘heart’ (Inggris) yang bermakna jantung, karena itu bentuknya sering digambarkan seperti jantung (♥).

Hati digunakan sebagai terjemahan ‘qalb’ (Arab) meskipun bahasa Arab menyebut hati ‘kibd’. Hati digunakan sebagai terjemahan ‘heart’ (Inggris) yang sebenarnya adalah jantung. Lalu hati juga digunakan sebagai terjemahan dari ‘liver’ (Inggris) atau ‘hephar’ (Latin). Jadi sebenarnya apa itu hati, apa itu qalbu?

Dua Macam Qalbu :

1. Qalbu jismani, yaitu jantung
Ada hadits tentang qalbu yang sangat populer di masyarakat, sering diucapkan oleh para ustadz dan muballigh dalam ceramah-ceramah mereka. Tapi sayangnya orang kurang cermat memahami makna qalbu pada hadits ini.

Abu Nu`aym menceritakan bahwa Rasulullah s.a.w. berkata: “Sesungguhnya di dalam jasad ada sebongkah daging; jika ia baik maka baiklah jasad seluruhnya, jika ia rusak maka rusaklah jasad seluruhnya; bongkahan daging itu adalah QALBU”.

Hadits di atas jelas menyebut qalbu sebagai bongkahan daging (benda fisik) yang terkait langsung dengan keadaan jasad atau tubuh manusia. Bongkahan daging mana yang kalau ia sakit atau rusak maka seluruh jasad akan rusak?

Bahasa Arab mengenal qalbu dalam bentuk fisik yang di dalam kamus didefinisikan sebagai ‘organ yang sarat dengan otot yang fungsinya menghisap dan memompa darah, terletak di tengah dada agak miring ke kiri’. Jadi, qalbu adalah jantung. Dokter qalbu adalah dokter jantung. Jantung adalah bongkahan daging yang kalau ia baik maka seluruh jasad akan baik atau sebaliknya kalau ia rusak maka seluruh jasad akan rusak.

2. Qalbu ruhani, yaitu hatinurani.
Ada juga jenis qalbu yang kedua, sebagaimana digambarkan dalam hadits berikut:

“Sesungguhnya orang beriman itu, kalau berdosa, akan akan terbentuk bercak hitam di qalbunya”. (HR Ibnu Majah)

Jadi kalau banyak dosa qalbu akan dipenuhi oleh bercak-bercak hitam, bahkan keseluruhan qalbu bisa jadi menghitam. Apakah para penjahat jantungnya hitam? Apakah para koruptor jantungnya hitam? Tanyakanlah kepada para dokter bedah jantung, apakah jantung orang-orang jahat berwarna hitam? Mereka akan katakan tak ada jantung yang menghitam karena kejahatan dan kemaksiatan yang dibuat. Lalu apa maksud hadits Nabi di atas?
Qalbu yang dimaksud dalam hadits itu adalah qalbu ruhani. Ruh (jiwa) memiliki inti, itulah qalbu. Karena ruh (jiwa) adalah wujud yang tidak dapat dilihat secara visual (intangible) maka qalbu yang menjadi inti (sentral) ruh ini pun qalbu yang tidak kasat mata. Dalam bahasa Indonesia ‘qalbu ruhani’ disebut dengan ‘hatinurani’. Mungkin karena dianggap terlalu panjang dan menyulitkan dalam pembicaraan, maka orang sering menyingkatnya menjadi ‘hati’ saja. Padahal ada perbedaan besar antara ‘hati’ dengan ‘hatinurani’ sebagaimana berbedanya ‘mata’ dengan ‘mata kaki’.

Rupanya, istilah qalbu mirip dengan heart dalam bahasa Inggris, sama-sama memilki makna ganda. Heart dapat bermakna jantung (heart attack, serangan jantung) dapat juga bermakna hatinurani (you’re always in my heart, kamu selalu hadir di hatinuraniku). Maka apabila mendengar perbincangan tentang qalbu perhatikanlah konteksnya. Kalau yang berbicara adalah dokter medis, tentu qalbu yang diucapkannya lebih bermakna jantung. Tapi bila dikaitkan dengan perbincangan tentang moral, iman atau spiritualitas, maka maknanya lebih mengarah pada hatinurani yang wujudnya ruhaniah.

Qalbu orang yang berdosa akan menghitam. Ungkapan ‘menghitam’ di sini adalah ungkapan perumpamaan (majâzi, metaphoric) bukan ungkapan sesungguhnya (haqîqi). Namun bukan berarti karena dosa tak kan nampak bekas-bekas fisiknya lalu kita akan seenaknya saja berbuat dosa. Na`ûdzubillâh min dzâlik…

by. qalbunet

KAJIAN TENTANG HATI

Banyak ahli muslim terutama yang memperhatikan masalah akhlak kepada Allah, mengemukakan bahwa hati manusia merupakan kunci pokok pembahasan menuju pengetahuan tentang Tuhan. Hati, sebagai pintu dan sarana Tuhan memperkenalkan kesempurnaan diri-Nya. “Tidak dapat memuat dzat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali “Hati” hamba-Ku yang mukmin lunak dan tenang ( HR Abu Dawud). Hanya melalui “hati manusialah” keseimbangan sejati antara Tuhan dan kosmos bisa dicapai.

Al Qur’an menggunakan istilah qalb (hati) 132 kali, makna dasar kata itu ialah membalik, kembali, pergi maju mundur, berubah, naik turun. Diambil dari latar belakangnya hati mempunyai sifat yang selalu berubah, sebab hati adalah lokus dari kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan.

Hati adalah tempat dimana Tuhan mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada manusia. Kehadiran-Nya terasa didalam hati, dan wahyu maupun ilham diturun-kan kedalam hati para Nabi maupun wali-Nya.

“Ketahuilah bahwa Tuhan membuat batasan antara manusia dan hatinya, dan bahwa kepada-Nya lah kamu sekalian akan dikumpulkan” (QS 8: 24)

“(Jibril) menurunkan wahyu kedalam hati nuranimu dengan izin Tuhan, membenarkan wahyu sebelumnya, menjadi petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman” (QS 2:97)

Hati adalah pusat pandangan, pemahaman, dan ingatan (dzikir)

“Apakah mereka tidak pernah bepergian dimuka bumi ini supaya hatinya tersentak memikirkan kemusnahan itu, atau mengiang ditelinganya untuk didengarkan, sebenarnya yang buta bukan mata, melainkan ” hati” yang ada didalam dada.” (QS 22:46)

“memang hati mereka telah kami tutup hingga mereka tidak dapat memahaminya, begitu pula liang telinganya telah tersumbat” (QS 18:57)

“Apakah mereka tidak merenungkan isi Al Qur’an? atau adakah hati mereka yang terkunci?” (QS 47:24)

“Janganlah kamu turutkan orang yang hatinya telah Kami alpakan dari mengingat Kami (dzikir), orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya saja, dan keadaan orang itu sudah keterlaluan” (QS 18:28)

“Sesungguhnya telah Kami sediakan untuk penghuni neraka dari golongan jin dan manusia; mereka mempunyai hati, tetapi tidak menggunakannya untuk memaha-mi ayat-ayat Allah, mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat, mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka adalah orang -orang yang alpa (tidak berdzikir) ” (Qs 7:179)

Iman tumbuh dan bersemayam didalam hati,begitu juga kekafiran, kemungkaran serta penyelewengan dari jalan yang lurus. Oleh sebab itu, Allah tetap menegaskan bahwa perilaku seseorang tidak bisa hanya sekedar syarat sah rukun syariat saja, akan tetapi harus sampai kepada pusat iman yaitu ” hati “.

Mungkin kita hampir lupa bahwa peribadatan selalu menuntut pemurnian hati (keikhlasan), sehingga akan menghasilkan sesuatu yang haq serta dampak iman secara langsung.

Iman yang pernah diikrarkan oleh kaum Arab badwi dihadapan Rasulullah bukan kategori iman yang sebenarnya, sehingga seketika itu Allah menurunkan wahyu untuk memperingatkan kepada mereka (Arab badwi)

“Orang-orang Badwi itu berkata: “kami telah beriman “. Katakanlah (kepada mereka) ” Kamu belum beriman “,tetapi katakanlah ” kami telah tunduk “, karena iman itu belum masuk kedalam hatimu (Qs 49:14) .

Iman yang benar mempunyai ciri tersendiri dan diakui oleh al Qur’an. Ia tertegun dan terharu tatkala nama Allah disebut … dan bahkan ia terdorong ingin meluap-kan kegembiraan dan kerinduannya dengan menjerit seraya bersujud dan menangis. Bergetar hatinya dan bertambahlah imannya. Ia begitu kokoh dan mantap dalam setiap langkahnya karena keihsanan bersama dengan Allah yang selalu menjaga. Ia akan selalu berbisik kedalam lubuk hatinya tatkala menghadapi persoalan dan kesulitan didunia, karena disitulah Allah meletakkan ilham sebagai pegangan untuk menentukan sikap. Sehingga kaum beriman akan selalu terjaga dalam hidayah dan bimbingan Allah Swt.

Firman Allah Swt:

“Suatu musibah tidak akan menimpa seseorang kecuali atas izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, tentu Dia akan menunjuki “hatinya”. Dan Tuhan Maha Mengetahui segala-galanya” (Qs 64:11)

“Keimanan telah ditetapkan Allah ke dalam ” hatinya ” serta dikokohkan pula Ruh dari diri-Nya” (Qs 58:22)

“Dan kami tunjang pula mereka dengan petunjuk, dan kami teguhkan hati mereka” (QS 18: 13-14)

“Dialah yang telah menurunkan ketentraman didalam hati orang-orang yang beriman supaya bertambah keimanannya di samping keimanan yang telah ada” (QS 48:4)

Syetan menggantikan kedudukan Allah bersemayam di istana hati manusia yang lalai. Allah akan memalingkan dan menghinakan orang yang lalai akan Allah, Allah akan mengunci dan mematikan hati sehingga ia diberi gelar ” binatang ternak! Bahkan lebih sesat dari itu. Kalau sampai terjadi seperti ini maka tertutuplah hati untuk menerima cahaya dari Allah Swt. Maka tidak heran jika perbuatan nya akan cenderung mengikuti langkah-langkah syetan yang dilarang oleh Allah, syetan menggantikan posisi Allah menduduki hati yang tertutup dan dialah yang akan menasehati dan membimbing kejalan yang sesat. Kekejian itu akan menyeruak kedalam kalbu melalui hembusan ilham sehingga akal fikiran tidak mampu menghalau datangnya petunjuk tersebut. Marah dan benci tidak pernah direncanakan, akan tetapi ia datang langsung kepusat hati, dan tubuh tanpa daya mengikuti kemauan sihir sang iblis . Hati menjadi buta …!!!

Allah berfirman:

“Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan) maka syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertai” (Qs 43: 36)

“Hai orang- orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya niscaya tidak seorangpun dari kamu sekalian bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS 24: 21)

Iman dan kafir terletak didalam hati, Allah telah membeberkan berikut contoh-contohnya antara orang yang dibukakan hatinya dan yang ditutup hatinya, serta perilaku keduanya. Maka keputusannya terletak kepada kebebasan manusia itu sendiri untuk memilih jalan yang sesat ataupun yang lurus. Karena disitu akan mendapatkan bimbingan langsung baik jalan kesesatan maupun jalan ketaqwaan.

Firman Allah:

“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan-Nya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaanya. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan merugilah orang yang mengotorinya”. (Asy Syams 7-10)

Ayat diatas memberikan pengertian atas pentingnya membersihkan jiwa, sehingga apabila hal ini terjadi, maka Allah-lah yang akan membimbing ketaqwaan, keimanan, serta ketulusan. Namun sebaliknya Allah akan menistakan manusia yang melalaikan akan Allah serta mengotori hatinya dengan mengirim musuh Allah sebagai penasehat dan menuntunnya kejalan kesesatan.

Kemudian apa langkah selanjutnya, serta bagaimana terapi untuk mengembalikan hati yang sudah terlanjur karam dilumpur nista?

Pertama kita sudah memahami bahwa, penyebab utama dari ketidak mampuan berbuat baik dan kesulitan menjaga dari perbuatan keji dan mungkar serta tidak didengarnya setiap doa, adalah “tertutupnya mata hati oleh NUR ILAHY”.

Kedua, konsentrasikan masalah mengurus hati dulu, jangan mempersoalkan hal yang lain, karena “hati sedang menderita sakit kronis. Kita harus perhatikan dengan sungguh-sungguh, dan memasrahkan diri kepada Sang Pembuka Hati … Dialah yang menutup hati kita, membutakan, mentulikan, dan mengunci mati dan tidak memberikan kefahaman atas ayat-ayat Allah yang turun kedalam hati.

Mari kita perhatikan kedalam, kita jenguk hati kita yang sedang berbaring tak berdaya, disitu terlihat syetan dengan leluasa memberikan wejangan dan petunjuk bagaimana berbuat keji dan mungkar. Ia menuntun pikiran untuk menerawang keangkasa, mengajaknya mi’raj keangan-angan panjang dan melupakannya ketika badan sedang Shalat, sedang berwudhu’ dan membaca AlQur’an dan ibadah yang lain. Kita sudah beberapaka kali mencoba menepis ajakan itu namun apa daya kekuatan iblis memang luar biasa, kita bukan tandingannya untuk melawan dan mengusir nya. Ia ghaib dan licik … ia berjalan melalui aliran darah manusia, ia bisa menembus tembok ruang dan waktu, ia ada dalam fikiran, dan bahkan bersemayam didalam hati manusia. Cukup sudah usaha kita untuk melawannya, namun gagal dan gagal lagi …

Namun ada yang yang tidak “MATI”, yaitu diri sejati yang selalu melihat keadaan hati kita yang sakit. Ialah “Bashirah” (Al Qiyamah: 14), ia tidak pernah bersekongkol dengan syetan, Ia yang mengetahui kebohongan hati, kejahatan, dan ia selalu mengikuti fitrah Allah, ia jujur, tawadhu’, khusyu’, kasih sayang dan adil (lihat tafsir Sofwatut Tafasir, oleh Prof Ali As Shobuni).

Kita harus cepat mendengarkan suara dia yang selalu mengajaknya ke arah kebajikan, Ia sangat dekat dengan Allah, Ia sangat patuh, Ia penuh iman, Ia berbicara menurut kata Allah (ilham), dan kedudukannya sangat tinggi diatas Syetan dan jin sehingga mereka tidak bisa menembus untuk menggodanya (As Shafat:8) Anda bisa merasakannya sekarang … tatkala anda berbohong, ia berkata lirih … kenapa kamu berbohong … ia tidak tidur tatkala kita tidur … ia melihat tatkala kita bermimpi dikejar anjing … ia melihat ketika jin menggoda dan syetan menyesatkan, namun hati tidak kuasa mengikuti kata bashirah yang oleh Allah digelari “RUH-KU”. Maka beruntunglah orang yang membersihkan jiwanya dan celakalah orang yang mengotorinya (As Syam:9-10)

Kita kembali kepada persoalan hati,

Mari kita perbaiki hati kita dengan cara mendatangi Allah, kita serahkan persoalan ini … kerumitan hati yang selalu ragu-ragu … ketidak mampuan menahan syahwat yang bergolak keras …

Mari kita contoh Nabi Yusuf ketika gejolak nafsu sudah menguasai hatinya, Ia tidak kuasa lagi menahan syahwatnya tatkala Julaiha datang menghampiri untuk mengajaknya berbuat mesum … Ia cepat berpaling dan menghampiri Allah dan mengadukannya keadaan syahwatnya yang terus menerus mengajak kepada keburukan. Kemudian Allah mendatangkan rahmat-Nya dan memalingkan hatinya, mengangkat kekejian didalam hatinya, dan akhirnya Nabi Yusuf terbebas dari perbuatan yang dilaknat Allah Swt.

Allah sendiri yang akan memalingkan hati dari perbuatan keji dan mungkar sehingga terasa sekali sentuhan Ilahy tatkala mengangkat kotoran hati dengan cara menggantikannya dengan perbuatan baik dan ikhlas .

Allah berfirman:

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu, andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih ( ikhlash)” (Yusuf:24)

Mungkin kita masih ragu-ragu … apa mungkin kita bisa mendapatkan burhan dan bimbingan Allah dalam menghindari perbuatan keji dan mungkar? Mari kita hindari prasangka yang buruk terhadap Allah, kita timbulkan rasa percaya bahwa hanya Allah lah yang mampu memberikan hidayah dan bimbingan serta mencabut persoalan yang kita hadapi.

Pada bab penyucian jiwa, telah saya sampaikan praktek berkomunikasi kepada Allah. saya mengharap anda telah melakukannya dengan penuh hudhu’ dan ikhlas, sehingga anda juga akan dibukakan rahmat dan hidayah-Nya. Amin…

Mari kita kembali mecoba berkomunikasi kepada Allah seperti tercantum dalam bab sebelumnya.

Ketika Allah membuka Hidayah kedalam ” Hati “

Hilangkan rasa takut tersesat didalam menempuh jalan ruhani … bekal kita adalah tauhid, lambungkan jiwa melayang menuju Allah … dekatkan dan berbisiklah dengan kemurnian hati … jangan menghadap dengan konsentrasi pikiran, sebab anda akan mengalami pusing dan tegang. Usahakanlah tubuh anda rileks dan pasrah … biarkan hati bergerak menyebut Asma-Nya yang Maha Agung … Ajaklah perasaan dan fikiran untuk hadir bersujud dihadapan-Nya.

Jangan hiraukan kebisingan diluar … usahakan hati tetap teguh menyebut nama Allah berulang-ulang … sampai datang ketenangan dan hening serta rasa dingin didalam kalbu … kalau anda mengalami pusing dan penat … berarti cara berdzikirnya menggunakan kosentrasi didalam fikiran, maka ulangi dengan cara berkomunikasi didalam jiwa/hati …

Mohonlah kepada Allah agar dibukakan hati dan dimudahkan menempuh jalan menuju makrifat …

Biasanya … kalau kita mendapatkan ketenangan dan kekhusyu’an didalam berkomunikasi dengan Allah … mula-mula hati menjadi sangat terang … mudah sekali menangis terharu tatkala kita menyebut Asma-Nya … kita tidak kuasa membendung air mata ketika shalat … membaca AlQur’an dan melihat keagungan Allah yang lain … hati sering bergetar manakala kita berhadapan dengan-Nya … badan turut berguncang dan berat dirasa seakan ada yang mendorong untuk bersujud dan menangis … keihsanan dan tauhid kepada Allah bertambah kuat. Keyakinan bertambah lekat, serta perubahan demi perubahan didalam kalbu semakin terlihat. Perilaku kita akan dibimbing … perilaku hati yang semula kaku dan cenderung kasar berubah dengan sendirinya ..menjadi lembut … Yang semula shalat fikiran turut melayang-layang berubah dengan kekhusyu’an dan terasa nikmatnya … dan seterusnya …

HAL INI TIDAK AKAN PERNAH TERJADI, APABILA KITA HANYA MENJADIKAN ARTIKEL INI SEBAGAI REFERENSI ILMU YANG HANYA UNTUK DIPERDEBATKAN, LALU DISIMPAN DALAM ALMARI …

by. Ustadz Abu Sangkan

>Rumus Kesuksesan by. Supardi Lee

>

Sederhana, tapi tak mudah.

Sukses tercapai oleh sebuah pola sederhana. Siapapun yang bisa menjalankan pola ini, maka sukses jadi niscaya. Siapa yang cepat menjalankan polanya, suksesnya pun diraih cepat. Kondisi awal, memang berpengaruh, tapi tidak lebih menentukan dari proses menjalankan polanya. Orang miskin dan orang kaya lebih cepat mana meraih sukses? Bila hanya menghitung kondisi awal, maka orang kaya jawabannya. Tapi penentunya bukan kondisi awal, tapi proses menjalankan polanya. Orang miskin yang lebih cepat menjalankan pola sukses dari orang kaya, akan meraih sukses lebih cepat pula.

Nah, bagaimana pola sukses itu?

Ada 5 tahap yang membentuk pola sukses, yaitu:

1. Keyakinan Diri yang Positif

Segalanya berawal dari sini. Ini citra diri anda. Self image. Ini berkaitan dengan bagaimana anda meyakini diri anda sendiri? Apakah anda manusia yang dilahirkan untuk sukses atau untuk gagal? Anda orang baik atau orang buruk? Anda ganteng / cantik atau buruk rupa? Anda layak kaya atau layak miskin? Anda merasa sebagai orang kelas bawah, kelas menengah atau kelas atas? Ketika berhadapan dengan orang lain, anda merasa diri anda di atas, sejajar atau di atasnya? Juga berkaitan dengan anda merasa diri anda pengikut yang baik atau pemimpin yang hebat? Merasa punya semua bakat dan potensi yang dibutuhkan atau tidak?

Nah, kesuksesan diawali dari keyakinan positif atas diri sendiri. Anda yakin anda dilahirkan untuk sukses. Anda orang baik. Anda ganteng / cantik. Anda layak kaya dan menjadi orang kelas atas. Anda percaya diri berhadapan dengan orang lain. Tidak rendah diri. Tidak juga sombong. Anda layak menjadi pemimpin hebat. Anda pun yakin sekali anda dianugerahi bakat dan potensi yang cukup untuk meraih sukses yang anda inginkan.

Kenapa ini penting? Karena hanya orang yang yakin bahwa dirinya layak sukses yang akan meraih sukses itu. Iya kan?

2. Melakukan Keharusan.

Langkah kedua adalah melakukan keharusan. Dari keharusan yang mendasar dan sederhana sampai melakukan keharusan yang sulit dan rumit. Keharusan – yang paling sederhana sekalipun – biasanya tidak menyenangkan. Tapi sangat baik bila dilakukan.

Keharusan ini bersifat seperti imunisasi. Bayi harus diimunisasi. Ini sebuah keharusan. Sakit rasanya, tapi menguatkan. Sedih melihatnya, tapi harus melakukannya. Resiko lebih besar harus ditanggung bila keharusan ini tak dilakukan.

Setiap orang harus bangun pagi-pagi. Setiap orang harus berolahraga. Setiap orang harus makan makanan sehat dan bergizi. Setiap orang harus bisa mengurus dirinya sendiri. Setiap orang harus bisa berpikir. Setiap orang harus bisa memecahkan masalah. Setiap orang harus terus belajar. Itulah beberapa keharusan yang mendasar.

Bila anda karyawan, anda harus disiplin. Taat aturan. Betapa pun aturan itu membuat anda kesal. Bila anda pebisnis, anda harus punya nilai lebih. Betapa pun sulitnya memiliki nilai lebih itu. Bila anda atlet, anda harus keras berlatih. Meski itu melelahkan.

Nah, bisakah anda meraih sukses bila anda tak bisa melakukan keharusan anda? Tidak!!! 100% tidak bisa sukses.

3. Membentuk Kebiasaan Positif.

Langkah ketiga adalah hasil langkah kedua yang benar-benar jelas, terus dilakukan berulang-ulang secara konsisten. Setiap orang harus bangun pagi. Maka pagi bisa berarti pukul empat, lima, enam, tujuh, delapan atau bahkan sembilan. Bila anda bangun tidur pukul empat di hari Senin, pukul tujuh di hari Selasa, pukul lima di hari Rabu, pukul delapan di hari Kamis, maka anda baru melakukan keharusan. Keharusan anda belum menjadi kebiasaan. Ketika anda secara konsisten – setiap hari – bangun pukul empat, itulah kebiasaan. Sebuah kebiasaan positif harus benar-benar jelas.

Ketika melihat orang kecelakaan, anda sigap membantu. Anda melakukan keharusan anda. Tapi hal ini tak terjadi setiap hari, kan? Maka ini bukan kebiasaan. Mematikan lampu yang tak digunakan adalah keharusan. Selalu mematikan lampu yang tak digunakan adalah kebiasaan. Nah, keharusan dan kebiasaan dibedakan oleh satu kata saja : selalu. Satu kata yang benar-benar sangat menentukan.

Keyakinan positif, Melakukan keharusan dan Membentuk kebiasaan positif adalah fondasi sukses anda. Ia seperti batu, pasir dan semen dalam fondasi rumah. Salah satu kurang, fondasi tak kuat. Rumah tak bisa dibangun di atas fondasi yang rapuh. Sukses pun begitu. Hanya bisa diraih bila fondasinya kuat.

4. Membentuk Kebiasaan Produktif

Kebiasaan produktif berbeda dengan kebiasaan positif. Kebiasaan positif berarti tidak negatif, tidak merugikan, dan menyenangkan, tapi tidak menghasilkan kemajuan secara langsung. Kesuksesan diraih secara langsung oleh kebiasaan produktif.

Membaca buku itu positif. Apakah produktif? Tidak. Menulis buku lah yang produktif. Hasilnya jelas sebuah buku. Anda mungkin berpendapat, membaca buku kan menghasilkan pengetahuan. Jadi ada hasilnya. Ada produknya. Anda benar. Tapi produknya masih di tahap mental, bukan fisikal. Maka bila baru di tahap mental, belum bisa dikatakan produktif. Secara mental, anda bisa sangat paham tentang penjualan. Produktif? Belum. Jadi produktif bila anda telah menjual sesuatu. Dan sesuatu yang anda jual itu ada yang beli.

Apakah ini membuat produktif lebih penting dari positif? Jelas tidak. Anda akan sangat sulit untuk bisa produktif, bila anda tidak positif.

5. Berkompetisi.

Kebiasaan produktif akan menghantarkan anda pada sukses. Tetapi untuk bisa bertahan dalam kesuksesan, anda harus siap dan mampu berkompetisi. Tanpa ini, sukses hanya sekejap. Orang sukses adalah orang yang senang berkompetisi. Bersemangat ketika ada saingan. Terpacu ketika ada lawan. Tetap rendah hati ketika menang. Segera bangkit ketika dikalahkan. Maka keyakinan, pelaksanaan keharusan, kebiasaan positif dan kebiasaan produktif benar-benar diuji. Inilah ujian sebenarnya dari sebuah kesuksesan.

Meraih sukses sulit. Mempertahankan kesuksesan jauh lebih sulit. Maka sadari lah bahwa semua kesulitan itu memang sebuah kelayakan untuk orang hebat seperti anda. Iya kan?

Bagaimana dengan kegagalan? Ternyata, gagal pun membentuk sebuah pola. Pola yang berkebalikan dari pola sukses. Berarti orang gagal itu:

1. Keyakinan pada dirinya sendiri negatif.
2. Tidak melakukan keharusannya, malah asyik melakukan kesenangan.

3. Terbentuk kebiasaannya yang negatif.

4. Terbentuk kebiasaannya yang merusak.

5. Menyerah kalah sebelum berkompetisi.

Nah, ini jadi bahan introspeksi kita bersama. Berada di pola mana hidup kita? Pola sukses atau pola gagal? Berada di tahap mana pada pola tersebut?

by : Supardi Lee
Supardi Lee adalah seorang entrepreneur sukses, trainer berpengalaman, dan penulis. Bukunya diantaranya The Rich Plan, Achiever, Opportunity Quotient, Kerja Kecil. Setiap Kamis Pkl. 05.00 – 06.00 ia mengisi acara Power of Life di Radio Trijaya 104,6 FM. Ia bisa dihubungi di 0813.1990.8086 dan di supardiku@yahoo.com

>Pohon Eksistensi Ibnu ‘Arabi

>

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan tentang perkataan yang baik sebagai sebuah pohon yang baik, yang akarnya kokoh dan dahan-dahannya menjulang tinggi? (Q.S. Ibrahim, 24)

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah, Yang Tunggal dan Hanya Tunggal dalam Hakikat-Nya serta unik dalam Sifat-sifat-Nya. Maha Suci Dia yang Rahmat-Nya meliputi semua, yang menyebar ke semua arah. Kemurnian-Nya bebas dan bersih dari segala sesuatu yang dapat dilihat dan dibayangkan.

Dia bergerak ke tempat-tempat yang tak terbatasi oleh enam penjuru. Dia melakukan apa yang Dia lakukan tanpa bertindak atau berbuat. Dia melihat segala sesuatu tanpa memandang.

Dia sangat jauh diatas makna dari segala sesuatu ini.
Keunikan-Nya tidak memperkenankan apa pun menyerupai Dia, dan juga tak ada apapun yang bisa memiliki atau melekatkan dirinya pada Nya. Kekuasaan-Nya selalu mencapai tujuannya dan tak pernah sia-sia.

Kehendak-Nya yang mendominasi semua tidaklah memiliki kesamaan dengan hasrat-hasrat rendah sifat manusia, juga Kehendak-Nya senantiasa tidak akan berubah dengan kehendak makhluk-Nya; demikian juga tidak akan menjadi lawan terhadap permohonan makhluk-Nya. Sifat-sifat Ilahiah-Nya, yang Dia manifestasikan pada makhluk-Nya, tidak bertambah atau berkurang ketika dibagi diantara mereka, karena segala Sifat-Nya tidak lain adalah tunggal.

Dia adalah sebab segala sesuatu. Dan ketika Dia berkehendak sesuatu terjadi, semua yang Dia perlu lakukan adalah berkata kun (Jadilah !), maka terjadilah semua yang ada. Semua yang maujud lahir dari makna rahasia terdalam yang tersembunyi dari kata KUN ini. Bahkan semua yang tersembunyi dari mata dan pikiran adalah tidak lain kecuali hasil dari suara misterius ini.

Sebagaimana Allah Ta’alaa berfirman :

Ketika Kami menghendaki sesuatu terjadi, Kami hanyalah berkata kun, maka jadilah ia. (Q.S An-Nahl, 40)

Perkataan-Nya dalam dirinya sendiri adalah Perbuatan.

Sekarang saya memperhatikan alam semesta yang mengelilingi kita dan berpikir bagaimana segala sesuatu terjadi (tercipta) dan berusaha untuk memecahkan misteri yang disandikannya, dan perhatikanlah! saya melihat bahwa seluruh alam semesta ini tidak lain adalah sebuah Pohon.

Pohon yang cahaya kehidupannya datang dari sebuah benih yang pecah ketika Allah berkata kun! Benih dari huruf K dipupuk dengan huruf N dari nahnu (Kami), tercipta ketika Allah berfirman :

Kami lah yang telah menciptakanmu
(Q.S Al-Waqi’ah,57)

Kemudian dari gabungan dua benih ini tumbuh dua tunas yang bersesuaian dengan janji Allah :

Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan fithrahnya
(Q.S Al-Qamar, 49)

Tetapi akar dari dari dua tunas ini hanyalah tunggal.
Akar itu adalah Kehendak Sang Pencipta, dan apa yang menumbuhkannya adalah Kekuasaan-Nya.
Kemudian dari esensi huruf K dari kata ilahiah kun, lahirlah dua makna yang berlawanan :
Kamaliyah, kesempurnaan, sebagaimana disebutkan Allah dalam firman-Nya :

Pada hari ini telah Ku sempurnakan agamamu dan telah Kulengkapkan Rahmat-Ku padamu serta Kupilihkan Islam sebagai agamamu.
(Q.S. Al-Ma’idah,3)

dan kufriyyah, keingkaran (kekufuran), sebagaimana firman Allah:

Maka sebagian dari mereka beriman dan sebagian lagi kufur
(Q.S. Al-Baqarah, 253)

Demikian juga dari hakikat kata N beremanasi makna-makna berlawanan dari nur al-ma’rifah (cahaya pengetahuan) dan nakirah (gelapnya kebodohan). Karena itu ketika Allah mengeluarkan mahluk-Nya dari Harta Tersembunyi ketidakberadaan menuju eksistensi, bersesuaian dengan keadaan dan bentuk yang telah ditetapkan sebelumnya (kodratnya), Dia memancarkan cahaya ilahiah-Nya terhadapnya. Siapapun yang terkena cahaya itu dapat melihat Pohon Eksistensi yang tumbuh dari benih perintah ilahiah kun yang melingkupi seluruh alam semesta. Dan mereka yang tercerahkan ini mengetahui rahasia K dalam kata kuntum (kamu), sebagaimana firman Allah :

Kamu sekalian adalah ummat terbaik yang dilahirkan, yang menyuruh pada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran dan kamu beriman kepada Allah
(Q.S. Ali ‘Imran, 109)

Mereka juga menembus makna tersembunyi dari kata terakhir N dari kun sebagai nur (cahaya), sebagaimana firman Allah :

Apakah dia yang hatinya telah Allah bukakan kepada Islam sehingga dia mengikuti cahaya dari Tuhan-nya (tidak lebih baik dari dia yang keras hatinya)?
(Q.S Az-Zumar,22)

Tetapi mereka yang menyembunyikan dirinya sendiri dari cahaya ilahiah ketika Allah memancarkannya pada mahluk-Nya juga berkewajiban mengetahui makna tersembunyi dari huruf-huruf kata kun sebagaimana Allah mengucapkannya. Barangsiapa yang dirinya tetap ada dalam kegelapan akan gagal mengetahui kebenaran dan membayangkan huruf K singkatan dari kufr, yang maknanya kegelapan dimana mereka berdiri didalamnya, menyembunyikan segala sesuatu dari mata. Mereka akan membayangkan bahwa huruf N singkatan dari nakirah, yang berarti kebodohan. Mereka menjadi putus asa, dan dalam keputusasaannya tidak dapat mempercayai Pencipta-nya.

Dengan demikian banyak dari segala sesuatu yang diciptakan tergantung pada bagian pemahamannya atas misteri dua huruf tersebut, yang menjadi penyebab setiap eksistensi. Buktinya ada dalam kata-kata Rasulullah, yang bersabda :

Sesungguhnya Allah menciptakan mahluk dalam alam kegelapan total, kemudian memancarkan cahaya ilahiah-Nya terhadapnya. Barangsiapa yang terterangi oleh cahaya tersebut akan tercerahkan dan terbimbing dengan baik. Dan barangsiapa tersembunyi dari cahaya tersebut dan tak tersentuh dengannya akan sesat dan rugi.
(Ahmad bin Hanbal)

Ketika bapak kita Adam, manusia pertama yang Allah ciptakan, membuka matanya – ketika Allah meniupkan ruh-Nya padanya- dia memperhatikan eksistensi lainnya. Dan dia melihat bahwa itu adalah sebuah lingkaran. Segala sesuatu berevolusi sekitar lingkaran Kemenjadian dan Kemengadaan. Kenyataannya ada dua lingkaran, yang satu berupa api dan lainnya adalah tanah yang basah. Dan dia melihat bahwa evolusi alam semesta adalah manifestasi dari perintah ilahi kun – sebab, kekuatan, urutan kemenjadian sebab akibat, tanpa gagal dan selamanya datang darinya.

Sebagaimana tidak ada dan tak ada sesuatu pun yang keluar dari lingkaran berputar ini, begitupun tidak ada yang dapat dikecualikan, ia adalah apa yang mereka lihat dan mereka peroleh. Sebagian akan melihat K sebagai Kesempurnaan dan berjuang untuk sempurna, dan sebagian akan melihatnya sebagai Kekufuran dan menjadi orang kafir. Sebagian akan mendapat pencerahan dalam makna huruf N dan menjadi bijak, yang lainnya akan menemukan kenyamanan dalam ketidakpeduliannya dan mengira huruf N sebagai pilihan pada kebodohan atas kesadaran.

Tak ada yang dapat menyelamatkan mereka dari akibat kepercayaannya pada apa yang mereka pandang sebagai kebenaran. Ini ditetapkan oleh Dia yang menciptakan mereka dan apa yang mereka lihat, serta apa yang mereka pahami dari apa yang mereka lihat. Setiap orang terikat untuk tetap dalam keliling lingkaran yang diatasnya mereka berputar. Tak ada yang bisa menjadi selain dari apa yang Dia kehendaki yang berkata Jadilah!, dan semuanya terjadi. Segala sesuatu menghadap ke pusat lingkaran kun dan tergantung padanya dalam segala perwujudannya.

Kemudian engkau juga melihat pada Pohon Eksistensi itu, yang dahan-dahannya melingkupi seluruh alam semesta. Meskipun setiap dahan, setiap daun, setiap buah berbeda, mereka semua berasal dari benih tunggal, benih cinta yang dinamakan kun. Ketika bapak kita Adam dibawa Allah ke sekolah untuk belajar, untuk menjadi manusia yang ditetapkan menjadi khalifah Allah di alam semesta ini, pertama kali dia diajarkan semua nama segala sesuatu yang eksis.

Kemudian dalam kekaguman dia berjumpa dengan kata kun, perintah ilahiah Jadi, sebab dari semua yang ada. Apa artinya? Dia mencari maksud Dia yang membawa semua ini menjadi ada dan melihat bahwa huruf pertama K berhubungan dengan kata kanziyyah (Harta Yang Tersembunyi), ketika Allah berfirman :

Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi dan Aku suka untuk dikenal, maka Aku ciptakan mahluk sehingga dengan demikian Aku dapat dikenal.

Dan dalam kata terakhir N, dia melihat identitas Pencipta, ketika Dia berkata Ana Allah (Aku adalah Allah)

Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku
(Q.S. Thaa Haa, 14)

Kemudian setelah beberapa kejadian, diturunkan padanya bahwa K pada kanziyyah menunjukkan pemberian dari Allah atasnya dan keturunannya dalam kata karam (kemuliaan) Tuhannya, seperti yang dijanjikan dalam firman-Nya:

Dan sesungguhnya Kami memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka jauh diatas kebanyakan mahluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna
(Q.S Bani Isra’il, 70)

Dan juga, K berarti untuk Adam adalah kuntiyyah (menjadi, dari ‘Saya menjadi’) dalam janji Allah, ketika Dia berfirman :

Ketika hamba-Ku yang beriman datang mendekat pada-Ku dengan melakukan ibadah tambahan, dia mencintai-Ku dan Aku mencintainya; dan ketika Aku mencintainya, Aku menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, dan Aku menjadi tangannya yang dengannya dia memegang….

Dan dia memahami bahwa huruf N pada Ana Allah dimaksudkan untuk memancarkan nur, cahaya ilahi, atasnya dan atas mereka yang seperti dia, sebagaimana Allah berfirman :

Apakah sama orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana?
(Q.S. Al-An’am, 122)

Dan N dalam kun menunjuk pada N dalam kata ni’mah, nikmat dari Allah, dalam firman-Nya :

Dia telah memberikan padamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya.
(Q.S. Ibrahim, 34)

Inilah beberapa yang bapak kita Adam pelajari tentang kata ilahiah kun dalam sekolah Allah di surga – bukan semuanya. Kita hanya menyebutkan sedikit dari yang sedikit. Selebihnya akan dibahas kemudian.
Sekarang Setan yang terkutuk pergi ke sekolah yang sama di surga, dan selama empat puluh ribu tahun dia belajar, meneliti rahasia-rahasia dalam huruf-huruf dari kata kun. Tetapi Guru Ilahiah berkehendak bahwa dia semestinya bergantung pada kekuatan dirinya dan merasa yakin dan bisa melakukan sesuatu dengan dirinya sendiri. Maka ketika dia meneliti makna dari huruf K dia menghubungkannya dengan kebergantungannya hanya pada dirinya sendiri dan atas keingkarannya pada setiap kekuatan lain selain dirinya sendiri, sebagaimana yang difirmankan oleh Tuhannya:

Dia dengan bangga menolak untuk tunduk pada Allah dan menyombongkan diri…
(Q.S. Al-Baqarah, 34)

Dan dia melihat dalam huruf N sifat dasar dirinya yang berapi-api dalam kata nar (api), dan dia berkata :

Aku lebih baik daripada Adam: Engkau telah menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.
(Q.S. Al-A’raf, 12)

Dengan begitu kufr yang setan identifikasikan dalam huruf K memaksanya kepada nar yang dengannya dia melihat dalam huruf N, dan ketetapannya serta ketetapan yang seperti dirinya telah ditentukan :

Maka mereka dilemparkan kedalam api Neraka
(Q.S. Asy-Syura, 94)

Ketika bapak kita Adam melihat pada Pohon Eksistensi, dalam keindahan berbagai macam bunga dan buah-buahan yang ada pada sebegitu banyak dahan-dahannya, dia meninggalkan semuanya kecuali berpegangan pada dahan

Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan melainkan Aku
(Q.S Tha Haa, 14)

Dia mengetahui bahwa itu hanyalah satu-satunya yang meyakinkan dan tak dapat diubah. Maka dia berlindung dalam keselamatan dari kesendirian dalam ketunggalan Tuhannya. Sementara dalam keadaan persatuan, berita tanpa suara dan tanpa kata datang kepada keduanya, dia dan ibu kita Hawa:

Wahai Adam, tinggalah kamu dan istrimu di surga dan makanlah dari apa yang kamu suka, tapi janganlah kamu dekati pohon ini
(Q.S Al-A’raaf, 19)

Tetapi Setan yang terkutuk tidak akan tinggal diam. Dia berpegangan pada dahan imajinasi palsu, dia berkehendak untuk menggoda mereka. Dalam kenyataannya dia berhasil, dan membuat Adam dan Hawa makan dari pohon terlarang. Dan mereka melanggar perintah Tuhannya :

…janganlah mendekati pohon ini

Tetapi mereka sadar apa yang telah mereka perbuat adalah salah. Maka ketika mereka tergelincir dari kedamaian persatuan mereka dengan Tuhannya, mereka bergantung pada dahan penyesalan dan berkata :

Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri; dan jika Engkau tidak memaafkan kami atau tidak memberi rahmat pada kami, sungguh kami termasuk orang-orang yang merugi.
(Q.S Al-A’raaf,23)

Dan berpeganganlah pada dahan tersebut, yang menyelamatkannya, mereka menerima perkataan dalam bentuk buah-buahan yang manis yang tumbuh darinya:

Kemudian Adam menerima perkataan dari Tuhannya lalu Dia pun menerima tobatnya; sungguh Dia Maha Penerima tobat, Maha Penyayang
(Q.S Al-Baqarah, 37)

Ada suatu saat yang disebut Hari Penyaksian, dan pada saat itu dibawah semua saksi mata, menyaksikan, setiap jiwa akan mendengar Tuhannya berfirman :

Apakah Aku ini Tuhanmu?
(Q.S Al-A’raaf, 172)

Dan mereka semua berkata :

Ya; kami semua bersaksi.
(Q.S. Al-A’raaf, 172)

Tetapi mereka akan bersaksi sebatas apa yang mereka pernah lihat dan ketahui, meskipun mereka semuanya menjawab dalam persetujuan, dengan berkata, ‘Ya, sesungguhnya’. Mereka yang telah melihat kecantikan Hakikat Tuhannya akan berkata :

Tak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya
(Q.S. Asy-Syura,11)

Mereka yang telah melihat kecantikan Sifat-Sifat Ilahiah-Nya akan berkata :

Dialah Allah, tiada tuhan selain Dia. Maha Raja yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan…
(Q.S Al-Hasyr, 23-24)

Mereka yang hanya berpikir tentang Allah dalam hubungannya dengan keindahan segala sesuatu yang telah Dia ciptakan akan membayangkan Tuhan mereka dengan berbeda, sesuai dengan kesan-kesan mereka atas sesuatu yang mereka lihat. Sebagian akan menempatkan Tuhan dalam kerangka ruang dan waktu yang terbatas. Sebagian bahkan akan berpikir bahwa Dia tidak ada. Dan sebagian akan membuat suatu bentuk dari batu dan menyangkanya sebagai Dia. Celaka bagi mereka yang ketetapannya adalah ini! Dan mereka berkata :

… tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami
(Q.S. At-Taubah,51)

Sungguh kebanyakan mereka juga termasuk diantara segala sesuatu yang terjadi ketika Pencipta melafalkan kata kun dan kata itu menjadi pusat dari semua alam semesta yang tercipta, berputar sekitarnya; dan ketika dari pusatnya tumbuh Pohon Eksistensi, kata kun menjadi benih yang darinya itu tumbuh.

Jika seseorang ingin memvisualisasikan semua, ada suatu kemenyeluruhan- segala sesuatu yang menjadi eksis dan apa yang menyebabkan mereka semua terjadi, perbuatan mereka serta perkataan mereka, hidup mereka, keadaan mereka, dan interaksi mereka – apakah ada perumpamaan yang lebih baik daripada sebuah pohon, Pohon Eksistensi? Pohon yang mengandung semua yang terjadi dalam alam semesta, yang tercipta dari sebuah benih tunggal, terbuat dari kalam Tuhan kita, yang berfirman kun!

Sebagaimana Pohon tumbuh, segala sesuatu muncul darinya. Sesuatu menjadi lebih, sesuatu menjadi kurang, sebagian terlihat, dan sebagian lainnya tersembunyi: keimanan dan kekufuran, buah dari amal-amal yang baik, keadaan kemurnian, suara dan makna dari perkataan yang indah, keinginan-keinginan dan harapan yang baik, sifat yang baik dan perilaku mulia, kepekaan pada keindahan, dan pengetahuan akan realitas adalah sebagian dari daun-daun dan bunga-bunganya. Tingkatan-tingkatan pencapaian kesalehan, persetujuan hak orang-orang yang benar, kedekatan pada Tuhannya dari mereka yang mengenal Tuhannya, dan kesirnaan api cinta dari para pecinta Allah- ini adalah sebagian dari buah-buah Pohon Eksistensi.
Pertama, tiga tunas tumbuh dari benih suci Pohon tersebut. Satu dari tunas-tunas tersebut condong ke kanan dan tumbuh dalam arah tersebut. Itu akan menghasilkan buah-buah

dan golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu! (Q.S Al-Waqi’ah, 27)

Tunas lainnya tumbuh ke kiri

… dan golongan kiri; alangkah sengsaranya golongan kiri itu
(surat Al-Waqi’ah,41)

Tunas yang ketiga tumbuh tegak lurus, menjulang tinggi, dan

Dan orang-orang yang terdahulu, merekalah yang paling dahulu. Mereka itulah orang-orang yang dekat kepada Allah
(Q.S Al-Waqi’ah, 10-11)

Dan Pohon Eksistensi tumbuh, mencapai surga yang jauh. Dahan-dahan yang lebih bawah menjadi alam materi; dahan-dahan yang lebih tinggi menjadi alam ide dan makna dari segala sesuatu. Alam dimana kita hidup hanyalah kulit kayu Pohon tersebut; inti bagian dalam adalah tempat dimana ruh bersemayam. Dan getah yang memberikan kehidupan berjalan dalam pembuluh darahnya, kekuatan yang membuatnya tumbuh dan memberikan bunga dan buah adalah alam yang tidak diciptakan, alam semesta mahakuasa, jabarut, dimana rahasia kata kun tersembunyi. Itu adalah alam dimana hakikat terjaga. Apa yang kita lihat adalah sifat-sifat dan nama-nama, dimana tindakan adalah wakil-wakilnya.

Pohon Eksistensi terlindungi dalam sebuah dinding yang mengelilinginya pada sisi kanan dan sisi kirinya, didepan dan dibelakangnya, diatas dan dibawahnya. Yang paling jelek dari yang terjelek adalah batas terbawahnya; yang paling baik dari yang terbaik adalah pada tingkatan yang paling tinggi. Di sekitar Pohon yang dirahmati ini, sejauh mata memandang, adalah bintang-bintang di langit, segala sesuatu mengelilingi kita, nama-nama yang dengannya mereka dipanggil, cara mereka berperilaku, dan apa yang mereka perbuat terhadap satu sama lain. Tujuh langit adalah seperti daun-daunnya, yang memberi bayangan; bintang-bintangnya seperti bunga-bunganya. Malam dan siang bagaikan dua penutup, salah satunya hitam dan yang lainnya putih, yang dengannya Pohon tertutupi dua kali dalam sehari. Ketika tirai hitam menyelimutinya, maka hilanglah dari pandangan. Ketika terselimuti dengan yang putih, ia akan memberikan cahaya pada mata, yang ingin melihat pemandangan indah.

‘Arsy Ilahi adalah tempat dimana Pohon Eksistensi menerima semua yang diperlukan. Inilah harta yang tak terbatas yang mempertahankan kelangsungan hidupnya; sebuah sumber kekuatan yang tak pernah habis yang melindunginya. Itu adalah tempat dimana para malaikat, para pelayan Pohon Eksistensi, mereka yang memeliharanya, bersemayam.

Dan engkau akan melihat malaikat-malaikat melingkar di sekeliling ‘Arsy, bertasbih sambil memuji Tuhannya…
(Q.S Az-Zumar, 75)

Maka para malaikat menghadap ‘Arsy dan menerima apa saja yang diperlukan. Dimanapun mereka berada, mereka terbang di sekitarnya dan menunjuk ke arahnya.

Kapan saja sesuatu gagal dalam keharmonisan ilahiah dari Pohon eksistensi, kapan saja sesuatu yang tak terduga terjadi, para malaikat mengangkat tangan kepada ‘Arsy, mengharapkan ampunan untuk kegagalan mereka dalam melayani dan memohon pertolongan dari Pembuat Pohon, karena tidak ada tempat kembali selain pada-Nya. Dan Dia yang membuat Pohon tidaklah ada disini atau disana, tapi ada dimana-mana. Dia tidak dapat terlihat atau diketahui – meskipun segala sesuatu yang diketahui, walaupun bukan Dia, adalah dari-Nya. ‘Arsy Ilahi adalah manifestasi dari Kekuatan-Nya, bukan dimana tempat Dia bersemayam.

Bila ‘Arsy bukanlah sebuah arah yang kepadanya para malaikat menghadapkan wajahnya ketika mereka melayani Pohon Eksistensi atas nama-Nya dan untuk kepentingan-Nya, mereka belum akan mengetahui kemana mereka berbalik untuk meminta pertolongan dan memberikan kepatuhannya, dan mereka tidak akan terjerumus dan tersesat. Maka Pencipta segala sesuatu menciptakan ‘Arsy Ilahi, bukan sebagai sebuah tempat untuk Hakikatnya bersemayam, tapi bagaikan sebuah sumber kekuatan untuk ciptaan-Nya berpaling padanya, untuk menerima apa saja yang mereka butuhkan.

Dia menciptakan mahluk, bukan karena Dia membutuhkan padanya, tapi supaya Sifat-sifat-Nya terlihat dan Nama-nama-Nya yang indah diketahui.

Satu dari Nama-nama-Nya adalah yang Maha Pemaaf: karena itu Dia menciptakan sesuatu yang akan menerima maaf-Nya. Satu dari Nama-nama-Nya adalah yang Maha Rahman. Satu dari nama-nama-Nya adalah Yang Maha Rahim. Karena itu Dia menciptakan seseorang yang ada dalam keperluan dan kebutuhan-kebutuhannya: untuk memanifestasikan kasih sayang-Nya pada mereka.

Semua dahan Pohon ini menghasilkan buah yang berbeda. Karena itu setiap yang diciptakan senantiasa berbeda antara satu dan yang lainnya, juga demikian dengan apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka layani. Ini adalah perbedaan-perbedaan dalam penciptaan seperti banyaknya Sifat-sifat Dia yang menciptakannya. Maka segala sesuatu dari Keindahan Nama-Nama dan sifat-sifat-Nya termaterialisasi dan termanifestasi.

Dia menciptakan para pendosa, dan kesalahan yang mereka perbuat, dan taubat mereka, dan dengan demikian termanifestasilah sifat Maha Mengampuni.Dia menciptakan kebaikan dan amal-amal mereka, dan menebarkan rahmat-Nya atas mereka. Dia menciptakan hamba-hamba-Nya yang taat dan melimpahkan Rahmat-Nya pada mereka. Dia memanifestasikan keadilan-Nya kepada para pembangkang dan kemurkaan-Nya atas orang-orang yang tak beriman.

Meskipun manifestasi sifat-sifat-Nya dalam ciptaan-Nya tidak melahirkan kesamaan dengan-Nya atau menempel pada-Nya, bahkan tidak dekat dengan-Nya; semuanya dari Dia, tapi bukan Dia. Dia selalu ada, ketika tiada sesuatu pun yang mengada. Dan ketika Dia menciptakan alam semesta, tidaklah Dia berkembang atau memperoleh sesuatu pun. Jika semua akan sirna, Dia tidak akan kehilangan apa pun. Dia ada sekarang sebagaimana Dia ada dulu dan selamanya akan ada.

Meskipun Dia tidak bersama dengan manifestasi-Nya dalam sifat-sifat sesuatu yang Dia ciptakan, demikian pula Dia tidak terpisah dari sesuatu yang datang dari-Nya. Karena persatuan dan perpisahan adalah tindakan-tindakan milik mahluk yang telah maujud, bukan pada Dia Yang Maha Wujud Yang Kekal, Yang Unik dan Sendirian.Persatuan dan perpisahan melibatkan gerak menuju dan menjauh dari satu dan lainnya. Pergerakan ini melibatkan perubahan ruang dan waktu serta keadaan, dan bahkan ketidakmunculan. Semua ini adalah sifat-sifat ketidaksempurnaan, sedangkan Pencipta semuanya adalah Tunggal, Unik, Kekal dan Sempurna.

Allah menciptakan Lauhul mahfudz dan Pena untuk menuliskan peraturan-peraturan kerajaan-Nya yang universal, yang memuat semua keputusan-keputusan, ketetapan-ketetapan, dan peraturan-Nya tentang segala sesuatu yang telah diciptakan,yang akan diciptakan, yang akan mati dan musnah, yang bertahan, pahala, hukuman yang patut diperoleh dan yang akan menerimanya.

Kemudian Allah membuat batasan yang tak satu mahluk atau pengetahuan pun pernah bisa melampauinya dengan menanam Sidratul Muntaha diatas Tujuh Langit.

…Sidratul mutaha yang paling jauh
(Q.S An-Najm,14)

Semua yang datang dari Allah, dan semua yang dikirim dari bawah, berhenti disini. Sidratul Muntaha adalah dahan yang paling tinggi dari Pohon Eksistensi. Di bawah bayang-bayangnya adalah para malaikat yang menyampaikan apa yang datang dari Allah kepada yang dibawahnya, dan mengirimkan kepada-Nya apapun yang sampai pada mereka dari semua mahkluk dibawahnya. Pada dahan tersebut sebuah salinan dari apa yang tertulis dalam Lauhul mahfudz menggantung. Apapun yang terjadi pada Pohon Eksistensi tidak dapat melampaui titik tersebut. Yang tumbuh, yang matang, yang busuk tetap tinggal dibawahnya.

Semua dalam ciptaan mempunyai maqam, sebuah tempat yang terbatas yang diketahui, suatu bentuk yang telah ditentukan sebelumnya. Semuanya mempunyai takdir yang menuntun kehidupan mereka, karena

Tidak ada satu pun diantara mereka melainkan masing-masing mempunyai kedudukan yang telah ditentukan
(Q.S. Ash-Shaffat, 164)

Tidak ada buah-buahan dari Pohon Eksistensi tersebut yang dapat tumbuh diluar tempat yang telah ditentukan. Apakah itu cantik atau jelek, besar atau tak berarti, mewah atau sederhana, aneh atau biasa, ketentuan dari masing-masing ditulis dalam salinan Lauhul Mahfudz yang menggantung pada dahan tersebut.

Dan diletakkanlah kitab…kitab apakah ini! tidak ada yang tertinggal apakah yang kecil maupun yang besar kecuali tercatat semuanya
(Q.S Al-Kahf, 49)

Tidak ada yang tidak tercatat apa pun yang tumbuh pada Pohon tersebut, juga tidak ada apapun yang terbuang. Maka Tuhan telah menetapkan bahwa buah-buahan Pohon tersebut disimpan dalam dua tempat berbeda, dan menyebutnya dengan Surga dan Neraka. Buah yang murni, yang tidak cacat, dan indah ditempatkan di Surga yang tinggi:

Sesunggunya catatan orang-orang yang benar ada di tempat yang tinggi
(Q.S Al-Mutaffifin, 18)

Dan buah-buahan yang busuk disimpan di Neraka bawah :

Sesungguhnya catatan orang-orang yang durhaka ada di penjara neraka
(Q.S. Al-Mutaffifin, 7)

Surga ada di sisi kanan gunung dimana Tuhan berbicara kepada Musa, dimana Orang-orang yang dirahmati pada sisi kanan bertempat tinggal

Dan Neraka ialah

…pohon Zaqqum, yang merupakan makanan orang berdosa
(Q.S. Ad-Dukhan, 43-44)

…pohon yang terkutuk dalam Al-Qur’an
(Q.S Bani Isra’il, 60)

Dimana orang-orang menderita pada sisi kiri bertempat tinggal.

Dunia yang kita miliki, yang didalamnya kita tinggal, adalah sebuah tempat dimana Tuhan memperlihatkan bunga-bunga pilihan Pohon Eksistensi, setiap orang dipelihatkan hanya untuk sementara saja. Dan Dia telah menciptakan alam berikutnya, Hari Akhir, untuk menyimpan buahnya yang dipelihara dengan abadi. Dinding, batas untuk melindungi Pohon Eksistensi, mengelilinginya, sebagaimana

Sesungguhnya Dia meliputi segala sesuatu
(Q.S. Fusshilat, 54)

Dan Dia meletakkan lingkaran disekitarnya, dengan demikian tidak ada sesuatu pun kecuali Dia yang dapat menyentuhnya.

Sesungguhnya Allah menetapkan apapun yang Dia kehendaki
(Q.S Adz-Dzariyat, 1)

….dan berbuat apa yang Dia kehendaki
(Q.S. Ali ‘Imran, 39)

Ketika kebenaran dari pohon tersebut berakar kuat dan dahan-dahannya telah sepenuhnya terbentuk, tumbuh ke segala arah, karena

Hanya pada Tuhanmu lah tujuan itu
(Q.S An-Nazi’at, 44)

Pohon tersebut tumbuh sehingga bagian depan mencapai bagian belakang, dan ujungnya mencapai permulaannya. Bukankah Allah berkata :

Untuk apa pun yang Kami kehendaki, tidak lain Kami hanya mengatakan Terjadilah (Kun) dan jadilah ia (yakun)
(Q.S. An-Nahl, 40)

Dengan demikian dimulai dengan perintah ilahiah Jadilah, dan diakhiri dengan Menjadi. Tak menjadi masalah seberapa banyak dahan yang ia punyai, ia hanya mempunyai satu akar, tumbuh dari sebuah benih tunggal yang dinamakan kun.

Maka, jika kamu bersungguh-sungguh melihat dan mencari realitas, kamu akan melihat segala sesuatu saling berkaitan dan sesungguhnya satu. Pohon surgawi yang disebut Tuba yang tumbuh di Surga terhubung dengan akarnya pada pohon beracun Zaqqum yang tumbuh di Neraka. Dinginnya angin sepoi-sepoi Qatb bercampur dengan panas api neraka dari angin panas membara Simum. Bayangan maqam terakhir yang menyegarkan di Surga untuk yang terbaik dari kita terhubung dengan asap hitam berkabut Neraka dimana yang terburuk dari kita akan pergi menujunya.

Dengan demikian semua akan menerima apa yang telah ditetapkan bagi mereka dari sumber yang sama. Sebagian minum dari cangkir yang terbaik untuk mereka; sebagian minum dari cangkir yang seharusnya tertutup rapat untuk mereka. Dan ada diantara mereka yang dilarang minum sama sekali.

Ketika seseorang yang telah diberi eksistensi mulai melahirkan eksistensi baru yang datang dari ketiadaan, Allah meniupkan pada mereka Napas Kekuatan-Nya, memberi makan mereka dengan gizi dari Kebijaksanaan-Nya, dan mencuci mereka dengan hujan dari awan-awan Kehendak-Nya. Ketika semua yang dirahmati ini menyentuh Pohon Eksistensi, dahan-dahannya melahirkan buah-buahan yang telah ditetapkan. Kemudian sesuai dengan sifat alamiah mereka, kesehatan dan kesakitan menimpa mereka.

Alam semesta tumbuh dari dua konsonan kata Ilahiah kun. Seseorang mendapatkan cahaya dan lainnya kegelapan. Semua kebaikan datang dari cahaya tersebut dan semua yang jahat datang dari cahaya tersebut, maka hanya kebaikan datang darinya, dan

Mereka tidak mengingkari Allah yang dengannya Dia perintahkan, tapi mereka berbuat sesuai yang diperintahkan.
(Q.S At-Tahrim, 6)

Berikut adalah terjemahan lengkap buku The Tree of Being (Shajarat al-Kawn) An Orde to the Perfect Man karangan Ibn’ Arabi yang diterjemahkan oleh AAUWABDDAM (Ayatullah Al Uzma Wa’Arif Billah Deddy Djuniardi Antafani Masyhadi).
Berikut adalah linknya : Download “POHON EKSISTENSI Ibnu Arabi” (versi lengkap) (PDF)

By. FILSAFAT ISLAM

Agama Islam itu Mudah Allah Membimbing Kepada Cahaya-Nya Siapa Yang Ia Kehendaki Assholatu Mi’rojul Mu’minin Awwaluddin Ma’rifatullah Halqah-halqah dzikir adalah Taman-Taman Syurga Haqiqat Ilmu Hijab Ilmu Ilmu Tasawuf Imam Ghazali dan muridnya Kesaksian Para Ulama Ahli Fiqih Terhadap Tasawuf FITHRAH: Potensi Dasar Spiritualitas Manusia