>Serat Syeh Siti Jenar – Bagian : 5 (Tamat)

>Kekhalifahan pertama Jawa, yang selama ini dicita-citakan oleh Kaum Putihan berhasil berdiri. Raden Patah atau Tan Eng Hwat dikukuhkan sebagai khalifah pertama Demak Bintara dengan gelar Sultan Syah ‘Alam Akbar Jiem-Boenningrat ( Nama Jiem-Boen, adalah nama China. Saya belum tahu pasti darimana dan mengapa nama itu diambil. : Damar Shashangka )

Praktis, Raden Patah mulai berkuasa dari tahun 1479 Masehi. Begitu naik tahta, wilayah negara Demak Bintara yang dulu diperkirakan kurang lebihnya separuh bekas wilayah Majapahit, terutama wilayah bagian barat yang mayoritas sudah banyak penduduknya yang memeluk Islam, ternyata perkiraan itu salah!

Daerah-daerah yang dapat dikuasai oleh Demak, yang terang-terangan dengan suka rela mengakui kedaulatan Demak Bintara, ternyata hanya sebatas Jawa Tengah sekarang dan pesisir utara Jawa Timur hingga ke Pulau Madura. Selebihnya, tidak ada satu Kadipaten-pun yang mau tunduk tanpa syarat.

Yang sangat mencolok mata, begitu Pangeran Cakrabhuwana meletakkan jabatannya sebagai Akuwu (setingkat Adipati ) di Caruban Larang pada tahun 1479, dan pada tahun itu pula Sunan Gunungjati diangkat sebagai pengganti beliau bahkan dinikahkan dengan putri beliau Nyi Pakungwati, Caruban Larang, secara tegas menolak menjadi wilayah Demak Bintara! Sunan Gunungjati berdalih, secara historis, Caruban Larang dari dulu bukan wilayah Majapahit, tapi wilayah Pajajaran. Dan Caruban Larang berhak menentukan nasibnya sendiri.

Syeh Siti Jenar diam-diam prihatin melihat kekonyolan mereka-mereka yang mengaku sebagai pemimpin umat ini. Namun, ketegangan demi ketegangan yang terjadi antar kaum Putihan sendiri, dita,bah operasi-operasi militer yang harus dilakukan oleh pemerintahan Demak Bintara, membuat Syeh Siti Jenar, sedikit banyak luput dari perhatian Dewan Wali.

Dewan Wali tengah sibuk, tengah kewalahan menghadapi perlawanan-perlawanan sisa-sisa kekuatan Hindhu-Buddha yang beberapa daerah masih nekad melakukan perlawanan. Seandainya Prabhu Brawijaya, mau mengkoordinasikan setiap kekuatan sisa-sisa Majapahit ini, maka Demak Bintara tak akan bertahan lama. Cuma yang dikhawatirkan oleh Sunan Kalijaga, jika memang pengkoordinasian kekuatan itu benar-benar dilakukan, bukan hanya Demak Bintara, bahkan seluruh umat muslim yang kontra Demak-pun jadi terkena imbasnya.

Banjir darah tidak hanya akan terjadi di Jawa, tapi diseluruh wilayah Majapahit, jika sampai Prabhu Brawijaya mengeluarkan komando penyatuan sisa-sisa kekuatan itu. Demi kemanusiaan, yang ‘sadar’, harus mengalah.

Disisi lain-pun, seandainya Raden Patah tidak memandang Dewan Wali Sangha, pasti dia akan melakukan invasi ke Caruban Larang yang kini, setelah dipimpin oleh Sunan Gunungjati, berubah nama menjadi Carbon Girang. Namun mengingat kedudukan kekhalifahan Islam di Jawa masih sangat lemah dan butuh kesatu paduan, untuk sementara Raden Patah memendam niatannya.

Semua dinamika politik ini, tak lepas dari pengamatan Sunan Kalijaga dan Syeh Siti Jenar. Pada awal berdirinya Demak, Sunan Kalijaga yang pernah berjanji kepada Prabhu Brawijaya untuk ikut terjun ke kancah perpolitikan, demi untuk bisa ikut menentukan arah kebijakan Demak Bintara ( baca catatan saya Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka ), pada waktu itu memilih untuk menunggu dan melihat perkembangan dulu. Beliau sekarang lebih terfokus untuk berdakwah keliling, dari satu kota ke kota lain, terutama di pedalaman Jawa demi untuk menghindari sewaktu-waktu Dewan Wali Sangha meminta bantuannya untuk menundukkan daerah tertentu dengan meminjam wibawa beliau.

Sedangkan Syeh Siti Jenar, lebih memfokuskan diri untuk mengajar para santri-santrinya. Terdapat beberapa nama santri beliau yang terkenal, diantaranya Lontang Asmara dan Sunan Panggung.

Waktu berjalan cepat. Pemerintahan Demak Bintara terus disibukkan dengan operasi-operasi militer yang tak kunjung selesai. Praktis, kesejahteraan masyarakat menjadi kurang diperhatikan. Rakyat kecil, yang dulu merasakan taraf hidup yang mapan pada saat Majapahit berkuasa, kini, pelahan-lahan, dibahaw naungan Ke-khalifah-an yang katanya pasti akan memberikan keberkahan, ternyata, malah membawa ke ambang ketidak pastian.

Stabilitas kacau balau. Roda perekonomian-pun terganggu. Banyak investor yang sudah pada hengkang dari Jawa. Jawa setelah Majapahit jatuh, bukannya berubah menjadi surga, namun malah menjadi neraka.

Dan konyolnya, pada tahun 1487 Masehi, Sunan Giri Kedhaton memproklamirkan berdirinya kembali Ke-khalifah-an Giri yang dulu pernah dihancurkan oleh Majapahit ( baca Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka).

Raden Patah, dibuat pusing karenanya.

Carut marut perpolitikan di Jawa membuat Dewan Wali melupakan kasus Syeh Siti Jenar dalam jangka waktu yang lama. Kini ditambah lagi, Carbon Girang mulai ikut-ikutan mencoba menggoyang Pajajaran.

Tahta Pajajaran, telah berganti dari Prabhu Silih Wangi atau Prabhu Niskala Wastu Kancana kepada Prabhu Tohaan sejak tahun 1475. Sunan Gunungjati, mendapati kakeknya, Prabhu Silih Wangi telah lengser, maka kini dia tak lagi sungkan-sungkan untuk mengadakan penyerangan ke wilayah Pajajaran. Namun, Pajajaran sangat kuat dan tertutup. Sehingga, baik invasi militer maupun taktik infiltrasi seperti yang pernah dilakukan kepada Majapahit, tak mampu menembus Pajajaran. Padahal Carbon Girang dibantu oleh Demak Bintara dan Kadipaten Banten. ( Banten adalah wilayah Carbon Girang. Dipimpin oleh Pangeran Sebakingkin, putra Sunan Gunungjati dengan Nyi Kawungten, putri Adipati Banten. Pangeran Sebakingkin kelak dikenal dengan gelar Maulana Hassanuddin. : Damar Shashangka).

Kegagalan taktik infiltrasi sebagian besar dikarenakan di Pajajaran, tidak banyak pejabatnya yang memeluk agama Islam seperti halnya Majapahit dulu. Bahkan diam-diam, beberapa sisa-sisa lasykar Majapahit, menyokong Pajajaran.

Jalan satu-satunya untuk memperlemah Pajajaran hanyalah menguasai pelabuhan-pelabuhan pantai utara Jawa Barat, dimana dari pelabuhan-pelabuhan ini, roda perekonomian Pajajaran sebagian besar tertunjang karenanya. Seluruh pesisir utara Jawa Barat, dikuasai dengan paksa oleh Carbon Girang. Praktis, jika dengan kekuatan militer, Carbon Girang tidak mampu menembus Pajajaran, maka jalan satu-satunya adalah melakukan blokade ekonomi!

Melihat perkembangan politik Caruban Larang yang kini berganti nama Carbon Girang sedemikian panas, Syeh Siti Jenar punya niatan untuk memindahkan pesantrennya ke pedalaman Jawa. Beliau berniat untuk menyingkir ke basis kaum Abangan. Carbon Girang hendak beliau tinggalkan. Namun, Syeh Siti Jnear, bukanlah tokoh yang dekat dengan kekuasaan seperti halnya Sunan Kalijaga. Beliau kesulitan melobi hunian baru untuk tempat kepindahan pesantrennya.

Seandainya beliau tidak memikirkan nasib para pendukungnya, bisa saja beliau meninggalkan Jawa. Namun, itu bukan watak orang yang sudah ‘tercerahkan’.

Menginjak awal tahun 1490 Masehi, ketika Pajajaran diperintah oleh Sang Raja Jayadewata (1482-1521 M), Ki Ageng Kebo Kenanga, atau yang terkenal dengan gelar Ki Ageng Pengging, penguasa daerah Pengging ( sekitar Surakarta, Jawa Tengah, sekarang : Damar Shashangka), yang masih berusia 21 tahun, sangat muda, diam-diam menawarkan daerah Pengging sebagai tempak hunian baru kepindahan pesantren beliau.

Mendengar hal itu, Sunan Kalijaga, yang pernah mendapat amanah agar menjaga trah Pengging dan trah Tarub dari Prabhu Brawijaya ( baca Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka ), segera memperingatkan Syeh Siti Jenar agar menolak tawaran tersebut. Mengingat penguasa Demak Bintara masih menganggap trah Pengging adalah bahaya laten bagi Demak Bintara. Karena memang sesungguhnya tahta Majapahit, harus jatuh ke trah Pengging, bukan ke Raden Patah. Jika sampai pemerintah Demak tahu ada hubungan khusus antara Syeh Siti Jenar dengan Pengging, dapat dipastikan, Syeh Siti Jenar maupun Ki Ageng Pengging, akan dicurigai tengah membangun kembali kekuatan politik Majapahit.

Syeh Siti Jenar yang memang tidak paham peta politik Jawa, segera mempertimbangkan akan hal itu. Dan segera, beliau menolak tawaran Ki Ageng Pengging yang masih muda tersebut. Namun, Syeh Siti Jenar tidak bisa mengelak untuk menyukai sosok Ki Ageng Pengging, yang walaupun masih muda, namun sangat tinggi kedalaman ‘spiritualitas’-nya. Syeh Siti Jenar dibuat kagug karenanya. Tidak hanya beliau, Sunan Kalijaga-pun juga mengagumi pemuda ini.

Walau terpaut usia yang cukup jauh, Syeh Siti Jenar tak segqan-segan mengajak Ki Ageng Pengging berdiskusi masalah ‘spiritualitas’. Walaupun Ki Ageng Pengging pemeluk Shiva Buddha dan Syeh Siti Jenar pemeluk Islam, tapi pada ujung-ujungnya, esensi spiritualitas yang mereka dalami adalah sama.

Seringkali Syeh Siti Jenar memeluk Ki Ageng Pengging dengan penuh kasih. Beliau sudah menganggap, pemuda ini adalah anaknya sendiri, tiada beda dengan Syeh Datuk Pardhun, putra Syeh Siti Jenar sendiri.

Begitu juga Ki Ageng Pengging, juga sudah menganggap Syeh Siti Jenar seolah seperti ayah kandungnya. Maklum, Adipati Handayaningrat IV, ayah kandung Ki Ageng Penggging, memang sudah wafat.

Kedekatan Ki Ageng Pengging dengan Syeh Siti Jenar, menarik minat Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Ngerang dan Ki Ageng Butuh, sahabat-sahabat Ki Ageng Pengging, untuk berguru kepada Syeh Siti Jenar. 

Disini perlu diperjelas, yang menjadi murid Syeh Siti Jenar sebenarnya adalah Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Ngerang dan Ki Ageng Butuh, sedangkan Ki Ageng Pengging, walau dekat dengan Sang Syeh, tapi tetap memeluk Shiva Buddha. Hubungan yang indah antara sahabat, ayah angkat, murid dan Guru ini memang seringkali menimbulkan salah pengertian. Kelak, Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang terkenal dengan gelar Sunan Butuh dan Sunan Ngerang, murid-murid Syeh Siti Jenar.

Namun, gerak-gerik Ki Ageng Pengging, senantiasa dimonitor oleh mata-mata Demak Bintara. Laporan kedekatan Syeh Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging telah masuk ke hadapan Raden Patah, Sultan Demak. Hal ini, perlu diwaspadai. Sebagai seorang pemimpin politik tertinggi Demak, mau tak mau, Raden Patah harus mencurigai kegiatan Ki Ageng Pengging.

Dan laporan serupa, sampai juga ke Kekhalifahan Giri. Sunan Giri, walau telah menjabat sebagai Sultan Giri, namun masih tetap juga menjabat sebagai Pemimpin Dewan Wali Sangha. Kerancauan ini, otomatis membuat Demak Bintara, walau bukan wilayah Giri Kedhaton, namun mau tak mau harus tetap tunduk pada fatwa-fatwa Sunan Giri. Dan fatwa-fatwa Sunan Giri, sangat tipis bedanya dengan perintah-perintah beliau sebagai seorang Sultan. Kalau direnungkan kembali, sebenarnya Raden Patah, tidak memiliki wewenang yang sesungguhnya sebagai Sultan Demak.

Hal inilah yang memicu kelak dikemudian hari, pada masa sesudah Kekhalifahan Demak jatuh, banyak penguasa Kekhalifahan Jawa yang berusaha menyerang Giri Kedhaton dengan kekuatan militer. Karena bagaimanapun juga, sebuah pemerintahan tidak akan bisa mementukan kebijakan secara bebas jika selalu diintervensi penguasa pemerintahan lain dengan berselimutkan fatwa.

Namun, usaha-usaha yang rasional seperti ini, malah dicerca habis-habisan oleh Kaum Putihan dikemudian hari. Mereka menjelek-jelekkan Sultan Hadiwijaya ( Kesultanan Pajang ) dan Panembahan Senopati ( Kesultanan Mataram ) yang menyerang Giri. Pada buku-buku kaum Putihan, yang melimpah ruah dipasaran, kedua penguasa ini sangat-sangat dipersalahkan.

Kelak pada tahun 1679 Masehi, pada saat Kesultanan Mataram diperintah oleh Sunan Amangkurat II, Giri Kedhaton berhasil dihancurkan.

Perkembangan hubungan antara Syeh Siti Jenar dengan Ki Ageng Pengging, terus diawasi oleh Kesultanan Demak Bintara dan Kesultanan Carbon. Menjalang tahun 1497 Masehi, Sunan Giri, atas nama Pemimpin Dewan Wali Sangha, memerintahkan Sultan Syah Alam Akbar, yaitu Sultan Demak dan Sultan Carbon, yang tak lain Sunan Gunungjati, untuk menangkap Syeh Siti Jenar.

Pemerintahan Demak dan Carbon, merespon perintah Dewan Wali tersebut.

Sultan Demak segera menitahkan Sunan Kudus, Senopati Agung Demak Bintara untuk pergi ke Carbon Girang, membawa pasukan sebanyak 700 orang untuk menangkap Syeh Siti Jenar.

Kedatangan pasukan Demak diwilayah Kasultanan Carbon Girang menggegerkan masyarakat sekitar. Pasukan Carbon ikut bergabung dalam barisan pasukan Demak Bintara.

Pasukan gabungan ini lantas menuju Pesantren Krendhasawa, dimana Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar bermukim. Para santri geger melihat kedatangan pasukan gabungan ini. Seluruh santri diultimatum untuk meninggalkan area pondok Pesantren. Namun, perlawanan terjadi. Perlawanan yang takseberapa. Namun jatuh juga korban dipihak santri Syeh Siti Jenar.

Pondok Pesantren Krendhasawa dikepung ketat. Setelah pasukan Demak Bintara dan Carbon berhasil menguasai keadaan, Sunan Kudus, Senopati Demak Bintara, segera masuk ke Dalem Agung, dimana Syeh Siti Jenar tinggal. Kedua ulama yang berseberangan ini bertemu dalam situasi tegang! Sunan Kudus, dengan menunjukkan surat perintah dari Sultan Demak, meminta Syeh Siti Jenar bersedia ditangkap. Syeh Siti Jenar dengan tenang menyatakan kesediaannya untuk ditangkap.

Pondok Pesantren Krendhasawa selama beberapa hari dalam situasi mencekam. Syeh Siti Jenar masih ada didalam sana. Beliautidak diperkenankan keluar dari kediaman beliau. Status beliau sekarang adalah tahanan negara! Beliau akan diadili di Cirebon, dengan tuduhan telah menggalang gerakan makar kepada pemerintahan yang sah dan telah menyebarkan ajaran menyimpang kepada ummat Islam. Ki Ageng Pengging, menyusul kemudian untuk ditangkap!

Tempat pengadilan belum ditentukan, menunggu kedatangan para Wali dari Jawa Timur dan Jawa Tengah yang tengah dalam perjalanan menuju Carbon Girang.

Beberapa hari kemudian Sunan Kalijaga datang lebih dahulu. Diiringi dengan beberapa santri beliau. Sunan Kalijaga, meminta kepada Sunan Kudus agar memperkenankan dirinya bertemu dengan Syeh Siti Jenar. Sunan Kudus tidak memberikan ijin. Tapi, Sunan Gunungjati, meminta Sunan Kudus agar memberikan kelonggaran bagi Sunan Kalijaga. Akhirnya, Sunan Kudus memberikan ijin juga.

Sunan Kalijaga berhasil menemui Syeh Siti Jenar, sosok yang sudah dianggap sebagai kakak kandungnya sendiri. Di Dalem Agung, dimana Syeh Siti Jenar ditahan, mereka berdua berpelukan erat. Meteka berdua bertemu dalam situasi memilukan.

Syeh Siti Jenar, tetap terlihat tegar. Bahkan beliau berpesan kepada Sunan Kalijaga agar terus berjuang menegakkan Islam yang toleran, yang penuh kasih, bukan Islam yang kolot, kaku dan dangkal.

Beberapa hari kemudian, datanglah rombongan Dewan Wali ke Carbon. Mereka langsung menuju ke Istana Pakungwati ( Istana Kasultanan Carbon bernama Pakungwati, mengambil nama dari istri Sunan Gunungjati, Nyi Pakungwati : Damar Shashangka). Dibawah pimpinan Sunan Giri, Para Wali memutuskan untuk mengadili Syeh Lemah Abang dengan mengambil Masjid Agung Sang Ciptarasa sebagai tempatnya.

Syeh Lemah Abang, diiringi Sunan Kalijaga, dengan dikawal pasukan Demak dan Carbon, segera menuju Masjid Agung Sang Ciptarasa. Pengawalan sangat ketat. Seluruh masyarakat Carbon Girang mengawasi dengan hati tercekam.

Ada beberapa kejadian yang tak terduga, beberapa santri Syeh Lemah Abang melakukan perlawanan hendak menerobos blokade militer yang tengah mengawal Sang Syeh. Mereka berhasil ditangkap. Syeh Lemah Abang, ditengah kerumunan pasukan dan masyarakat yang hendak menyaksikan, segera memerintahkan agar seluruh santrinya tenang dan ridlo’. Seluruh pendukungnya diminta agar berserah diri kepada Dzat Penguasa ‘Alam.

Di Masjid Sang Ciptarasa, Sunan Kudus berperan sebagai seorang Jaksa, dan Hakim dipegang oleh Sunan Giri.

Pengadilan berjalan a lot dan lamban. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi disana. Karena pengadilan ini bersifat tertutup. Situasi Masjid Agung Sang Ciptarasa sangat mencekam. Penjagaan ketat terlihat disana-sini. Pasukan Demak, dibantu Pasukan Carbon, melakukan penjagaan berlapis-lapis. Tidak ada yang boleh memasuki areal Masjid. Siapapun juga!

Hampir seharian penuh, tak ada perubahan situasi. Tetap mencekam. Dan menjelang malam tiba, nampak Syeh Lemah Abang, digiring ke halaman Masjid Sang Ciptarasa. Pasukan semakin diperketat.

Dihalaman Masjid Sang Ciptarasa, Sunan Kudus sendiri yang menjalankan eksekusi hukuman mati. Syeh Lemah Abang, dengan senyum dibibirnya, dengan kepasrahan total kepada Dzat Yang Meliputi Semesta, menyambut detik-detik terakhir hidupnya.

Sunan Kudus, memenggal kepala Syeh Siti Jenar. Kepala sudah terlepas dari badan. Darah menyemburat! Dan Syeh Lemah Abang, wafat saat itu juga!

Namun terjadi keganjilan, diareal Masjid Sang Ciptarasa, begitu Syeh Lemah Abang terpenggal kepalanya, mendadak sontak tercium aroma wangi semerbak yang aneh. Wangi yang bukan datang dari alam manusia. Wangi yang menyeruak dari alam Illahi!

Seluruh yang hadir tercekat. Para Wali yang menyaksikan jalannya eksekusi mati keheranan. Sunan Kudus tertegun. Para Pasukan yang bertugas sebagai penjaga pelaksanaan eksekusi, miris dan ketakutan. 

Bahkan lamat-lamat, Para Wali melihat samar dan halus, ditengah-tengah darah yang menggenang disekitar jasad Syeh Siti Jenar, lamat-lamat, muncul empat huruf yang jika dibaca akan berbunyi ALLAH! Cuma sebentar. Dan kejadian gaib ini, sudah membuat beberapa Wali terjajar halus kebelakang!

Kala itulah, mendadak Sunan Kalijaga mengalami ‘Peningkatan Kesadaran’. Batinnya sangat peka. Ada sebuah kekuatan illahi yang menarik ‘Kesadaran’ beliau. Dan Sunan Kalijaga tergetar begitu mendengar suara lamat-lamat, yang syahdu, berasal dari dalam jiwanya. Suara itu adalah suara Syeh Lemah Abang,…

Inilah yang beliau dengar…………..

Kinanti

1.Wau kang murweng don luhung,
atilar wasita jati, 
e manungsa sesa-sesa, 
mungguh ing jamaning pati, 
ing reh pêpuntoning tekad, 
santa-santosaning kapti.

2.Nora saking anon ngrungu,
riringa rêngêt siningit, 
labêt sasalin salaga, 
salugune den-ugêmi, 
yeka pangagême raga, 
suminggah ing sangga runggi.

3.Marmane sarak siningkur,
kêrana angrubêdi, 
manggung karya was sumêlang, 
êmbuh-êmbuh den-andhêmi, 
iku panganggone donya, 
têkeng pati nguciwani.

4.Sajati-jatining ngelmu,
lungguhe cipta pribadi, 
pusthinên pangesthinira, 
ginêlêng dadi sawiji,
wijanging ngelmu jatmika,
neng kaanan ênêng êning.

Terjemahan :

1.Dari yang sampai kepada Jalan Agung,
Meninggalkan Pesan Sejati, 
Wahai manusia semua, 
Pada saat kematian menjelang,
Tekad yang kuat (menggapai Kesempurnaan Sejati ),
Dan keteguhan kehendak (menggapai Kesempurnaan Sejati )..

2.Tidak didapatkan karena hanya mendengar semata,
Terkecoh ajaran berbelit-belit,
Mementingkan keutamaan tubuh (Ilmu Fiqh),
Apa yang tertulis dipercayai begitu saja,
Padahal itu hanya Ilmu Etika,
Belum menyentuh apa yang sesungguhnya.

3.Maka jangan terjebak syari’at,
Sangat-sangat mengganggu pencapaian Kesejatian,
Terlalu menimbulkan keragu-raguan dan ketidak pastian,
Walau tidak yakin benar tetap saja kamu jalani,
(Fiqh) itu Ilmu Duniawi,
Ketika meninggal tidak berguna.

4.Sesungguh-sungguhnya Ilmu,
Berada didalam Kesadaranmu sendiri,
Tingkatkan Kesadaranmu itu,
Satukan dengan Kesadaran Sejati,
Kesempurnaan Ilmu Sesungguhnya,
Akan kamu dapatkan dalam keadaan ENENG ( DIAM ) ENING ( HENING).

Sunan Kalijaga menitikkan air mata haru mendapati fenomena luar biasa itu. Dan segera, beliau memerintahkan pasukan Demak, merawat jasad Sang Kekasih Allah tersebut. 

Sunan Kudus terpaku. Tak mampu berucap sepatah kata-pun.

Jenasah beliau, dikebumikan di Kampung Kemlaten. Namun dikemudian hari, jenasah beliau dipindahkan ke Giri Amparanjati atas perintah Sunan Gunungjati.

Keharuman nama Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar, tidak bisa dihapuskan begitu saja dari benak masyarakat Jawa. Walaupun demikian hebat fitnahan yang dilancarkan kepada beliau sesudah beliau wafat, namun bagi masyarakat Jawa, diam-diam Syeh Siti Jenar tetap sebagai tokoh Agung.

(Tamat)

(13 November 2009, by : Damar Shashangka).

Iklan

>JUBAH ILAHI

>Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary

“Allah mencegahmu untuk mengaku-aku hal-hal yang tidak layak bagi para makhluk. Apakah Allah membolehkan padamu untuk mengaku-aku sifatNya sedangkan Dia adalah Rabbul ‘Alamin?”

Syeikh Zarruq ra menegaskan: Tampilnya Sifat Allah padamu, dan penghiasan Sifat itu padamu bersamaNya adalah kesempurnaan yang layak bagimu, sehingga anda menjadi kaya bersama Allah, mulia bersama Allah, kuasa bersama Allah, kuat bersama Allah swt, hingga anda menjadi “Bismillah” dengan Nama Allah dari dirimu berselaras dengan “Kun” dari Allah, sehingga anda tidak berkehendak sedikit pun melainkan terjadi. Anda tidak butuh pada sesuatu dan tidak terhina oleh sesuatu dan tidak karena sesuatu. Anda tidak lemah karena sesuatu dan tidak berdaya karena sesuatu, bahkan anda mampu atas segala sesuatu bersama Tuhanmu, merasa cukup dengan Allah jauh dari cukup terhadap segalanya, mulia bersama Allah swt, dalam segalanya, kuat bersama Allah di sisi segalanya, sehingga anda pun tidak punya peluang sedikit pun untuk mengaku-aku (mengklaim) semuanya itu.

Justru semuanya itu untuk menguatkan diri anda agar kembali pada sifat asli anda, dan bangkit bersamaNya. Sifat anda itu adalah fakir, hina, tak berdaya dan lemah. Karena yang tampak pada diri anda hanyalah telanjang simbolis, dan yang simbolis itu secara hakiki tidak ada. Maka sesudah niscaya, anda harus terus menerus merasa hina dan butuh kepada Allah swt dalam segala upaya dan perilaku anda. Fahamilah semua itu.

Dalam pencegahan Allah swt, di atas, ada sesuatu yang terjadi secara syar’y, secara harga diri, dan hikmah. Maka diharamkan bagi seseorang untuk mengklaim milik orang lain, karena itu secara harga diri dan jiwa, sangat tidak layak, sehingga menimbulkan kecemburuan luar biasa.

Rasulullah saw, bersabda:

“Tak ada yang lebih cemburu ketimbang Allah.”

Kecemburuan itu dalam HakNya menimbulkan pencegahan, berupa hak atas sifatNya. Dalam hadits Qudsi disebutkan:

“Allah swt, berfirman: Kebesaran itu adalah pakaianKu dan Kesombongan itu adalah BajuKu, siapa yang melepas dariKu atas keduanya, maka Aku lempar ia ke neraka…”

Karena dua sifat itu adalah Sifat khusus bagi Allah Ta’ala. Jika ada yang memakainya, berarti seperti merampas pakaian orang lain.

>Kisah Wali Songo di musium Istana Istambul

>Sekali lagi kisah Walisongo penuh dengan cerita-cerita yang sarat dengan mistik. Namun Widji Saksono dalam bukunya “Mengislamkan Tanah Jawa” telah menyajikan analisis yang memenuhi syarat keilmuan. Widji Saksono tidak terlarut dalam cerita mistik itu, memberi bahasan yang memadai tentang hal-hal yang tidak masuk akal atau yang bertentangan dengan akidah Islamiyah.

Widji Saksono cukup menonjolkan apa yang dialami oleh Raden Rachmat dengan dua temannya ketika dijamu oleh Prabu Brawidjaja dengan tarian oleh penan putri yang tidak menutup aurat. Melihat itu Raden Rachmat selalu komat-kamit, tansah ta’awudz. Yang dimaksudkan pemuda tampan terus istighfar melihat putri-putri cantik menari dengan sebagian auratnya terbuka.

Namun para pengagum Walisongo akan “kecelek” (merasa tertipu, red) kalau membaca tulisan Asnan Wahyudi dan Abu Khalid. Kedua penulis menemukan sebuah naskah yang mengambil informasi dari sumber orisinil yang tersimpan di musium Istana Istambul, Turki. Menurut sumber tersebut, temyata organisasi Walisongo dibentuk oleh Sultan Muhammad I. Berdasarkan laporan para saudagar Gujarat itu, Sultan Muhammad I lalu ingin mengirim tim yang beranggotakan sembilan orang, yang memiliki kemampuan di berbagai bidang, tidak hanya bidang ilmu agama saja.. Untuk itu Sultan Muhammad I mengirim surat kepada pembesar di Afrika Utara dan Timur Tengah, yang isinya minta dikirim beberapa ulama yang mempunyai karomah.

Berdasarkan perintah Sultan Muhammad I itu lalu dibentuk tim beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa pada tahun 1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara dari Turki. Berita ini tertulis di dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudiah dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi.

Secara lengkap, nama, asal dan keahlian 9 orang tersebut adalah sebagai berikut:

1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.

2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.

4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.

5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.

6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.

7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.

8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.

9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni jin jahat (??).

Dengan informasi baru itu terjungkir-baliklah sejarah Walisongo versi Jawa. Ternyata memang sejarah Walisongo versi non-Jawa, seperti telah disebutkan di muka, tidak pemah diekspos, entah oleh Belanda atau oleh siapa, agar orang Jawa, termasuk yang memeluk agama Islam, selamanya terus dan semakin tersesat dari kenyataan yang sebenamya. Dengan informasi baru itu menjadi jelaslah apa sebenamya Walisongo itu. Walisongo adalah gerakan berdakwah untuk menyebarkan Islam. Oleh karena gerakan ini mendapat perlawanan dengan gerakan yang lain, termasuk gerakan Syekh Siti Jenar.

>Dulu Bakul Ikan, Kini Punya 50 Pesawat

>

Susi Pudjiastuti; Dulu Bakul Ikan, Kini Punya 50 Pesawat Jual Cincin untuk Modal, Pinjam Bank Dianggap Gila

AGUS WIRAWAN, Pangandaran ; Sumber : Jawapos, 23 Maret 2010

Keputusannya keluar dari sekolah saat masih berusia 17 tahun sangat disesalkan dua orang tuanya. Namun, berkat keuletan dan kerja kerasnya, kini Susi Pudjiastuti memiliki 50 pesawat dan pabrik pengolahan ikan yang berkualitas untuk melayani kebutuhan ekspor.

ANGIN laut bertiup kencang saat pesawat Cessna yang membawa Jawa Pos mendekati Pantai Pangandaran, Jawa Barat. Setelah berputar sekali di atas perairan biru, pesawat berkapasitas 10 penumpang itu lantas menukik, kemudian mendarat di bibir pantai yang indah.

Konstruksi landasan yang biasa dipakai take-off dan landing itu terbuat dari campuran pasir-batu yang dipadatkan. ”Ini bandara private (milik pribadi). Panjangnya satu kilometer,” ujar wanita paro baya yang menyambut Jawa Pos dengan ramah.

Namanya Susi Pudjiastuti, presiden direktur PT ASI Pudjiastuti yang bergerak di bidang perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation yang merupakan operator penerbangan Susi Air. Rambutnya ikal kemerahan, suaranya serak-serak, namun pembawaannya supel.

Bukan hanya bahasa Inggris fasih yang keluar dari mulutnya saat berbincang dengan para pilotnya yang bule. Susi -panggilan akrabnya- juga menggunakan bahasa Sunda dan sesekali bahasa Jawa kepada pembantu-pembantunya.

”Saya suka belajar bahasa apa aja. Yang penting bisa buat marah dan memerintah. Sebab, dengan itu, saya bisa bekerja,” ujarnya lantas tertawa.

Saat ini, wanita kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965, tersebut memiliki 50 unit pesawat berbagai jenis. Di antaranya, Grand Caravan 208B, Piaggio Avanti II, Pilatus Porter, dan Diamond DA 42. Kebanyakan pesawat itu dioperasikan di luar Jawa seperti Papua dan Kalimantan.

”Ada yang disewa. Namun, ada yang dioperasikan sendiri oleh Susi Air. Biasanya dipakai di daerah-daerah perbatasan oleh pemda atau swasta,” jelas wanita yang betis kanannya ditato gambar burung phoenix dengan ekor menjuntai itu.

Susi tak mematok harga sewa pesawat secara khusus. Sebab, hal itu bergantung pelayanan yang diminta pihak penyewa. Biaya sewanya pun bermacam-macam, tapi rata-rata USD 400-USD 500 per jam.

”Kadang ada yang mau USD 600-USD 700 per jam. Perusahaan minyak mau bayar USD 1.000 karena beda-beda level service yang dituntut. Untuk keperluan terbang, semua peranti disediakan Susi Air. Pesawat, pilot, maupun bahan bakar. Jadi, itu harga nett mereka tinggal bayar,” tegasnya.

Bakat bisnis Susi terlihat sejak masih belia. Pendirian dan kemauannya yang keras tergambar jelas saat usia Susi menginjak 17 tahun. Dia memutuskan keluar dari sekolah ketika kelas II SMA. Tak mau hidup dengan cara nebeng orang tua, dia mencoba hidup mandiri. Tapi, kenyataan memang tak semudah yang dibayangkan.

”Cuma bawa ijazah SMP, kalau ngelamar kerja jadi apa saya. Saya nggak mau yang biasa-biasa saja,” ujarnya.

Kerja keras pun dilakoni saat itu. Mulai berjualan baju, bedcover, hingga hasil-hasil bumi seperti cengkih. Setiap hari, Susi harus berkeliling Kota Pangandaran menggunakan sepeda motor untuk memasarkan barang dagangannya. Hingga, dia menyadari bahwa potensi Pangandaran adalah di bidang perikanan. ”Mulailah saya pengen jualan ikan karena setiap hari lihat ratusan nelayan,” tuturnya.

Pada 1983, berbekal Rp 750 ribu hasil menjual perhiasan berupa gelang, kalung, serta cincin miliknya, Susi mengikuti jejak banyak wanita Pangandaran yang bekerja sebagai bakul ikan. Tiap pagi pada jam-jam tertentu, dia nimbrung bareng yang lain berkerumun di TPI (tempat pelelangan ikan). ”Pada hari pertama, saya hanya dapat 1 kilogram ikan, dibeli sebuah resto kecil kenalan saya,” ungkapnya.

Tak cukup hanya di Pangandaran, Susi mulai berpikir meluaskan pasarnya hingga ke kota-kota besar seperti Jakarta. Dari sekadar menyewa, dia pun lantas membeli truk dengan sistem pendingin es batu dan membawa ikan-ikan segarnya ke Jakarta. ”Tiap hari, pukul tiga sore, saya berangkat dari Pangandaran. Sampai di Jakarta tengah malam, lalu balik lagi ke Pangandaran,” ucapnya mengenang pekerjaan rutinnya yang berat pada masa lalu.

Meski sukses dalam bisnis, Susi mengaku gagal dalam hal asmara. Wanita pengagum tokoh Semar dalam dunia pewayangan itu menyatakan sudah tiga kali menikah. Tapi, biduk yang dia arungi bersama tiga suaminya tak sebiru dan seindah Pantai Pangandaran. Semua karam.

Dari suaminya yang terakhirlah, Christian von Strombeck, si Wonder Woman itu mendapat inspirasi untuk mengembangkan bisnis penerbangan. ”Dia seorang aviation engineer,” lanjutnya.

Christian merupakan seorang ekspatriat yang pernah bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara, sekarang PT DI). Awal perkenalannya dengan lelaki asal Prancis itu terjadi karena Christian sering bertandang ke Restoran Hilmans milik Susi di Pantai Pangandaran. Berawal dari perkenalan singkat, Christian akhirnya melamar Susi. ”Restoran saya memang ramai. Sehari bisa 70-100 tamu,” katanya.

Dengan Christian, Susi mulai berangan-angan memiliki sebuah pesawat dengan tujuan utama mengangkut hasil perikanan ke Jakarta. Satu-satunya jalan, lanjut dia, adalah membangun landasan di desa-desa nelayan. ”Jadi, tangkap ikan hari ini, sorenya sudah bisa dibawa ke Jakarta. Kan cuma sejam,” tegas ibu tiga anak dan satu cucu tersebut.

Berbeda jika harus memakai jalur darat yang bisa memakan waktu hingga sembilan jam. Sesampai di Jakarta, banyak ikan yang mati. Padahal, jika mati, harga jualnya bisa anjlok separo.

”Kami mulai masukin business plan ke perbankan pada 2000, tapi nggak laku. Diketawain ma orang bank dan dianggap gila. Mau beli pesawat USD 2 juta, bagaimana ikan sama udang bisa bayar, katanya,” ujar Susi.

Baru pada 2004, Bank Mandiri percaya dan memberi pinjaman USD 4,7 juta (sekitar Rp 47 miliar) untuk membangun landasan serta membeli dua pesawat Cessna Grand Caravan. Namun, baru sebulan dipakai, terjadi bencana tsunami di Aceh. ”Tanggal 27 kami berangkatkan satu pesawat untuk bantu. Itu jadi pesawat pertama yang mendarat di Meulabouh. Tanggal 28 kami masuk satu lagi. Kami bawa beras, mi instan, air, dan tenda-tenda,” ungkapnya.

Awalnya, Susi berniat membantu distribusi bahan pokok secara gratis selama dua minggu saja. Tapi, ketika hendak balik, banyak lembaga nonpemerintah yang memintanya tetap berpartisipasi dalam recovery di Aceh.

”Mereka mau bayar sewa pesawat kami. Satu setengah tahun kami kerja di sana. Dari situ, Susi Air bisa beli satu pesawat lagi,” jelasnya.

Perkembangan bisnis sewa pesawat terus melangit. Utang dari Bank Mandiri sekitar Rp 47 miliar sekarang tinggal 20 persennya. ”Setahun lagi selesai. Tinggal tiga kali cicilan lagi. Dari BRI, sebagian baru mulai cicil. Kalau ditotal, semua (pinjaman dari perbankan) lebih dari Rp 2 triliun. Return of investment (balik modal) kalau di penerbangan bisa 10-15 tahun karena mahal,” katanya.

Susi tak hanya mengepakkan sayap di bisnis pesawat dan menebar jaring di laut. Sekarang, dia merambah bisnis perkebunan. Meski begitu, dia mengakui ada banyak rintangan yang harus dilalui. ”Perikanan kita sempat hampir rugi karena tsunami di Pagandaran pada 2005. Kami sempat dua tahun nggak ada kerja perikanan,” tuturnya.

Untuk penerbangan rute Jawa seperti Jakarta-Pangandaran, Bandung-Pangandaran, dan Jakarta-Cilacap, Susi menyatakan masih merugi. Sebab, terkadang hanya ada 3-4 penumpang. Dengan harga tiket rata-rata Rp 500 ribu, pendapatan itu tidak cukup untuk membeli bahan bakar. ”Sebulan rute Jawa bisa rugi Rp 300 juta-Rp 400 juta. Tapi, kan tertutupi dari yang luar Jawa. Lagian, itu juga berguna untuk angkut perikanan kami,” ujarnya.

Susi memang harus mengutamakan para pembeli ikannya karena mereka sangat sensitif terhadap kesegaran ikan. Sekali angkut dalam satu pesawat, dia bisa memasukkan 1,1 ton ikan atau lobster segar. Pembelinya dari Hongkong dan Jepang setiap hari menunggu di Jakarta. ”Bisnis ikan serta lobster tetap jalan dan bisnis penerbangan akan terus kami kembangkan. Tahun depan kami harap sudah bisa memiliki 60 pesawat,” katanya penuh optimisme. (c5/leak)

>Nenek Pemungut Daun

>by SufiMuda
Kisah ini di kirim oleh Syrief Nur ke milli : muhibbun_naqsybandi@yahoogroups.com, dia membacanya dari sebuah buku dan tidak dicantumkan nama bukunya. Saya tampilkan disini semoga bisa diambil hikmahnya:
Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapu sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.” Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.
Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.

Kisah ini saya dengar dari Kiai Madura yang bernama Zawawi Imran, membuat bulu kuduk saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah SAW?
Waminallah taufik wal hidayyah

>Miskin di Akhirat

>Mengingat harga-harga barang kebutuhan terus meningkat, seorang pemuda selalu mengeluh karena tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berdiskusi dengan seorang kiai makrifat, pemuda itu pun mengikuti anjurannya untuk menjalankan shalat Hajat serta tetap istiqomah melaksanakan shalat wajib lima waktu.

”Pak Kiai, tiga tahun sudah saya menjalankan ibadah sesuai anjuran Bapak. Setiap hari saya shalat Hajat semata-mata agar Allah SWT melimpahkan rezeki yang cukup. Namun, sampai saat ini saya masih saja miskin,” keluh si pemuda.

“Teruskanlah dan jangan berhenti, Allah selalu mendengar doamu. Suatu saat nanti pasti Allah mengabulkannya. Bersabarlah!” Jawab sang kiai.

”Bagaimana saya bisa bersabar, kalau semua harga kebutuhan serba naik! Sementara saya masih juga belum mendapat rezeki yang memadai. Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan hidup?”

”Ya tentu saja tetap dari Allah, pokoknya sabar, pasti ada jalan keluarnya. Teruslah beribadah.”

”Percuma saja Pak Kiai. Setiap hari shalat lima waktu, shalat Hajat, shalat Dhuha, tapi Allah belum juga mengabulkan permohonan saya. Lebih baik saya berhenti saja beribadah…” jawab pemuda itu dengan kesal.

”Kalau begitu, ya sudah. Pulang saja. Semoga Allah segera menjawab permintaanmu,” timpal kiai dengan ringan.

Pemuda itu pun pulang. Rasa kesal masih menggelayuti hatinya hingga tiba di rumah. Ia menggerutu tak habis-habisnya hingga tertidur pulas di kursi serambi. Dalam tidur itu, ia bermimpi masuk ke dalam istana yng sangat luas, berlantaikan emas murni, dihiasi dengan lampu-lampu terbuat dari intan permata. Bahkan beribu wanita cantik jelita menyambutnya. Seorang permaisuri yang sangat cantik dan bercahaya mendekati si pemuda.

”Anda siapa?” tanya pemuda.

”Akulah pendampingmu di hari akhirat nanti.”

”Ohh… lalu ini istana siapa?”

”Ini istanamu, dari Allah. Karena pekerjaan ibadahmu di dunia.”

”Ohh… dan taman-taman yang sangat indah ini juga punya saya?”

”Betul!”

”Lautan madu, lautan susu, dan lautan permata juga milik saya?”

”Betul sekali.”

Sang pemuda begitu mengagumi keindahan suasana syurga yang sangat menawan dan tak tertandingi. Namun, tiba-tiba ia terbangun dan mimpi itu pun hilang. Tak disangka, ia melihat tujuh mutiara sebesar telor bebek. Betapa senang hati pemuda itu dan ingin menjual mutiara-mutiara tersebut. Ia pun menemui sang kiai sebelum pergi ke tempat penjualan mutiara.

“Pak Kiai, setelah bermimpi saya mendapati tujuh mutiara yang sangat indah ini. Akhirnya Allah menjawab doa saya,” kata pemuda penuh keriangan.

”Alhamdulillah. Tapi perlu kamu ketahui bahwa tujuh mutiara itu adalah pahala-pahala ibadah yang kamu jalankan selama 3 tahun lalu.”

”Ini pahala-pahala saya? Lalu bagaimana dengan syurga saya Pak Kiai?”

”Tidak ada, karena Allah sudah membayar semua pekerjaan ibadahmu. Mudah-mudahan kamu bahagia di dunia ini. Dengan tujuh mutiara itu kamu bisa menjadi miliader.”

”Ya Allah, aku tidak mau mutiara-mutiara ini. Lebih baik aku miskin di dunia ini daripada miskin di akhirat nanti. Ya Allah kumpulkan kembali mutiara-mutiara ini dengan amalan ibadah lainnya sampai aku meninggal nanti,” ujar pemuda itu sadar diri. Tujuh mutiara yang berada di depannya itu hilang seketika. Ia berjanji tak akan mengeluh dan menjalani ibadah lebih baik lagi demi kekayaan akhirat kelak. [dari guyon orang-orang makrifat, wibi ar].

Di kutip dari koran republika

>SHALAT KHUSYUK SALAH KAPRAH

>

Pertanyaan yang sering sekali ditanyakan oleh pengunjung sufimuda kepada saya lewat email adalah bagaimana shalat bisa menjadi khusyuk, apakah kita bisa melaksanakan shalat khusyuk dan ada juga yang berpendapat bahwa hanya nabi Muhammad SAW berserta sahabat-sahabatnya dan ulama salafush shalih saja yang benar-benar bisa melaksanakan shalat dengan khusyuk selain dari mereka tidak ada yang bisa melaksanakan shalat khusyuk.
Terhadap pendapat terakhir saya kurang setuju karena kalau memang cuma Nabi dan para sahabat yang bisa shalat khusyuk maka hampir semua orang dimuka bumi ini akan masuk neraka wail, dengan demikian fungsi Al-Qur’an dan hadist sia-sia, juga peran ulama sebagai penyambung dakwah dan sebagai pewaris ilmu nabi juga tidak akan berguna sama sekali.
Khusyuk menurut Guru Ngaji Saya
Saya masih ingat ketika masih kelas 1 SMP waktu itu masih berumur 12 tahun, saya diajarkan cara shalat khusyuk oleh guru ngaji. Beliau mengatakan untuk bisa mencapai shalat khusyuk kita harus mengetahui makna dari ayat-ayat yang dibaca dalam shalat, kemudian harus kita hayati dalam hati. Antara ucapan dan gerak badan harus selaras, mengucapkan harus benar-benar masuk kedalam hati bukan hanya di bibir saja. Kemudian Beliau memberikan tanda-tanda shalat kita itu sudah khusyuk. Ketika mata kita menatap ke sajadah perhatikan dalam-dalam, nanti akan ada bayangan bulat samara-samar, saat itulah shalat kita menjadi khusyuk. 
Saya meyakini apa yang diajarkan oleh guru ngaji saya, saat muncul bayangan bulat itu saya sangat senang karena saya yakin sekali kalau shalat saya sudah mencapai tahap khusyuk dan ketika bayangan itu tidak muncul maka saya jadi sedih. Saya yakin sekali apa yang diajarkan oleh guru ngaji, karena beliau adalah alumni salah satu pasantren terkenal di daerah saya.
Metode shalat khusyuk yang disampaikan oleh ustad saya itu tidak ada bedanya dengan metode pelatihan shalat khusyuk yang disampaikan oleh ustad Abu Sangkan. Setiap sore saya menyempatkan diri untuk menonton acara di Metro TV tentang pelatihan shalat khusyuk yang dibawakan oleh ustad Abu Sangkan.
Seperti juga guru ngaji saya dulu, Abu Sangkan berkeyakinan bahwa shalat khusyuk itu identik dengan ketenangan dan hilangnya kesadaran. Abu Sangkan mengatakan bahwa ketika bertakbiratul ihram kita harus membuang ingatan kita terhadap apapun. “Tidak ada Guru Mursyid, tidak ada Syekh Tarikat dan tidak ada zikir yang ada hanyalah Allah semata-mata”. Persis sekali yang diajarkan oleh guru ngaji saya, cuma Abu sangkan menyampaikannya lebih lengkap disertai dengan kajian-kajian ilmiah. Apa memang demikian shalat khusyuk?
Shalat khusyuk bukanlah mengosongkan pikiran seperti dalam meditasi yoga, karena kalau kita memaksakan pikiran untuk kosong pada saat itulah timbul nafsu kita dan syetan sangat halus dan sangat lihai untuk menyusup di alam bawah sadar kita. Sama juga orang yang mencapai shalat khusyuk lewat alat-alat elektronik, mendengarkan lagu yang dibuat khusus agar kerja otak menjadi berimbang antara kiri dan kanan. Cara seperti ini memang akan mencapai ketenangan akan tetapi kita juga harus pertanyakan lagi apakah memang ketenangan seperti itu yang dinamakan khusyuk, dan apakah memang demikian yang dikehendaki oleh Allah SWT?
Khusyuk di atas dengan berbagai jenis pelatihan bagaimanapun masih pada tataran akal dan kita merasa khusyuk menurut sendiri. Ustad Abu Sangkan menulis buku dengan judul “Spiritual Salah Kaprah” untuk mengkritik ESQ, pelatihan lewat musik untuk menstimulasi otak yang bersifat instant dan kita tidak pernah bisa mencapai kesempurnaan spiritual yang dilakukan oleh kaum sufi, demikian pendapat Abu Sangkan.
Menurut saya pelatihan shalat khusyuk yang diperkenalkan oleh Abu Sangkan juga masih dalam tataran otak dan pemikiran, karena menafikan sama sekali fungsi Mursyid dan sudah pasti yang di dapat bukan Nur Allah akan tetapi ketenangan yang tidak tahu berasal dari unsur apa. Berbicara masalah rasa (tenang, damai, dll) itu masih bersifat sangat subjektif. Maka saya menyebutkan pelatihan khusyuk ala Abu Sangkan sebagai Shalat Khusyuk Salah Kaprah.
Khusyuk Menurut Sufi
Menurut golongan sufi, khusyuk itu bukan tidak mengingat sesuatu, akan tetapi seseorang dikatakan khusyuk apabila dia terus menerus bisa memandang wajah Allah SWT. Kalau kita ingin menghilangkan pikiran terhadap hal-hal yang bersifat kebendaan bukan berarti kita mengosongkan pikiran sama sekali karena di dunia ini tidak ada yang kosong. Setiap yang kosong itu mesti di isi oleh dua unsur; Haq atau Bathil.
Shalat khusyuk adalah kondisi dimana sang hamba bisa berdialog dengan Tuhannya di alam rabbani, maka disebutkan “Shalat itu adalah Mi’raj bagi orang mukmin”. Pada saat shalat maka rohani kita akan terangkat ke Alam Rabbani, alam yang ada hanya Allah SWT.
Mengingat wajah Muryid dalam shalat bagi seorang pemula jauh lebih terbimbing sebelum seseorang mencapai maqam makrifat dari pada mengosongkan fikiran yang justru sangat mudah disusupi oleh syetan tanpa kita sadari. Wajah Guru Mursyid yang kamil mukamil dan khalis mukhlisin tidak akan bisa ditiru oleh syetan dan kalau ada syetan yang mencoba meniru wajah Mursyid akan langsung terbakar. Jangankan Guru Mursyid, photonya saja tidak akan bisa didekati oleh jin dan sejenisnya termasuk para dukun yang menyembah jin. Kalau seorang Guru Muryid belum mencapai tahap itu berarti kadar dan keotentikan kemursyidannya perlu dipertanyakan lagi.
Kunci pertama untuk bisa mencapai shalat khusyuk adalah Makrifatulllah, mengetahui hakikat Allah sehingga selalu bisa berdialog dalam shalat. Tanpa mencapai tahap makrifat bagaimanapun canggihnya pelatihan shalat tidak akan mencapai shalat khusyuk yang sesungguhnya karena dalam hati masih bersemayang dan berbisik-bisik syetan yang sangat berbahaya seperti yang disebutkan dalam surat An-Naas.
Bagi pengamal Tarikat, bermakrifat kepada mursyid merupakan awal dari tercapainya shalat khusyuk karena sesungguhnya makrifat kepada Mursyid adalah awal dari makrifat kepada Allah. Daripada anda mengeluarkan biaya yang banyak untuk pelatihan shalat khusyuk dan belum tentu mencapai alam Tuhan lebih baik anda berbaiat kepada salah seorang Guru Muryid yang akan membimbing anda kehadirat Allah SWT. Pelatihan shalat khusyuk mungkin diperlukan oleh orang-orang yang tidak menekuni Tarikatullah agar shalatnya lebih tenang. Pelatihan ini tidak diperlukan sama sekali bagi orang yang telah mempunyai Guru Mursyid apalagi yang telah mencapai tahap makrifat. Apabila anda telah bermakrifat (berjumpa) dengan Allah SWT masih perlukah anda berlatih shalat khusyuk? 
Berlatih sopan santun tata cara menghadap Raja hanya diperlukan bagi orang yang akan berjumpa dengan Raja, pelatihan itu tidak diperlukan lagi bagi orang yang telah duduk bercengkerama bersama Raja, karena segala aturan terserah kepada Raja. Mengatur tutur kata berbicara dengan Raja diperlukan oleh orang yang akan menjumpai raja dan tidak akan diperlukan oleh orang yang berulangkali berjumpa dengan raja, karena segala dialog itu terserah kepada kehendak Raja.
Semoga Maharaja Manusia akan selalu memberikan kita kesempatan kepada kita untuk terus bisa singgah di istana-Nya, menikmati perjamuan-Nya dan bisa melayani tamu-Nya. Amien ya Rabbal ‘Alamin