Evolusi Spiritual eps : INSAN KAMIL 2

Setiap agama mewajibkan umatnya untuk selalu menjalankan semua aturan main yang jelas, baku , dan bahkan cukup kaku yang tersusun pasti dalam apa yang disebut dengan “Kitab Suci” atau ayat-ayat qauliyah dari Tuhan. Pengakuan keimanan terhadap suatu agama menuntut sang pemilik iman untuk selalu menjadikan aturan main itu sebagai praktik hidupnya menuju Kehadirat-Nya.

Namun agama juga memberikan ruang yang lebih longgar ketika ia mengharap dari setiap umatnya untuk terus menggali dan mengeksplorasi alam semesta (makrokosmos) dan diri (mikrokosmos) yang merupakan ayat-ayat kauniyah dari Tuhan. Yang kedua ini tentunya bersifat lebih universal, karena semesta ini bukanlah monopoli satu keyakinan agama.

Para ilmuwan, terutama para fisikawan, percaya bahwa alam memiliki satuan fundamentalnya sebagai building block bagi struktur keseluruhan alam semesta. Mereka selalu menyebut satuan fundamental alam ini sebagai atom yang diyakini sebagai satuan terkecil yang tak dapat dibagi-bagi lagi. Dengan demikian, mereka menyakini bahwa komponen dunia paling dasar bersifat materi (fisik), berupa atom. Mereka sama sekali tak memberikan ruang bagi realitas-realitas spiritual (metafisik) untuk dipercaya keberadaanya, karena tidak dapat diobservasi secara indrawi.

Namun penelitian-penelitian di bidang fisika quantum telah menggugat pandangan materialistik tersebut. Dikatakan bahwa dalam setiap atom memiliki ruang yang luas dan kosong nonmateri yang terbentang antara inti atom dan orbitnya.

Jadi, ketika kita berbicara tentang keilmiahan metode N-AQS, maka itu berarti kita sedang berbicara dengan sudut pandang yang menyatakan bahwa ternyata semesta tidak hanya berdimensi tunggal, namun di balik dunia materi ini terbentang dunia nonmateri yang lebih luas. Dan, N-AQS akan lebih banyak bermain di ranah tersebut.

Kembali kepada pembahasan ayat-ayat Tuhan yang qauliyah dan yang kauniyah. Dengan pemetaan yang jelas terhadap kapling keduanya, maka dapat saya katakan bahwa secara subtansi (begitu pun dengan detail praktiknya) metode N-AQS tidak dapat dan memang tidak perlu dipertentangkan dengan agama. Sebagai metode pengembangan diri berbasis semesta, N-AQS tidak menyalahi aturan main agama mana pun. N-AQS juga bukan agama dan tidak terkait secara eksklusif dengan agama tertentu. Meskipun jika kita mau mencari basis teologisnya, maka kita dapat menemukan akarnya pada setiap agama, yang mana telah memberikan kita kesempatan untuk terus menggali dan mengungkap lebih jauh rahasia semesta dan diri kita sendiri dan mengembangkannya ke arah yang lebih positif agar kita dapat mengenal (makrifat) Tuhan dengan lebih baik. Siapa yang mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhanya.

Jelas sekali bahwa pengenalan diri secara sempurna dapat menjadi sarana untuk mengenal-Nya. Ini tentu terkait dengan hakikat manusia sempurna yang akan saya coba paparkan secara detail dari sudut pandang teologis mulai dari pembahasan struktur manusia, Insan Ilahi, dan Iblis sebagai musuh nyata. Selanjutnya, konsep-konsep yang saya sebut teologis tersebut akan saya bandingkan dengan konsep N-AQS sebagai wujud dari penggalian dan pengembangan diri dan ayat semesta.

Komposisi dan Struktur Manusia

“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menurut citra-Nya” (H.R. Bukhari dan Ahmad)

Struktur manusia adalah struktur berbagai alam dan bagian-bagiannya. Tentu saja hal ini tidak dalam bentuk penampakannya, tapi lebih pada unsur-unsur penyusunnya, interrelasinya, dan mekanisme hukum yang berlaku di dalamnya di mana alam yang dimaksud tidak hanya meliputi alam fisik indrawi tapi juga alam-alam atas (dimensi halus).

Dalam garis besarnya, struktur manusia terdiri dari tiga aspek: Ruh, Jiwa/Nafsu, dan Jasmani.

Jasmani manusia terbentuk dari berbagai komponen dan unsur yang sanggup ‘membawa’ dan mempertahankan ruh dan jiwanya, yang kemudian menjadi suatu tubuh berpostur yang memiliki wajah, dua tangan dan kaki, serta bisa beraktivitas. Unsur-unsur jasmani tersebut adalah unsur yang sama dengan unsur makrokosmos yaitu air, udara, api dan tanah. Hal ini terlihat dari proses penciptaan jasmani Nabi Adam as yang dilukiskan melalui tahapan ath-thiin (tanah liat kering) dan shalshal (lumpur hitam) di mana kedua jenis tanah liat tersebut merupakan hasil dari perubahan empat unsur tanah, air, udara dan api. (Q.S. Al-Hijr [15]: 28) Bagi anak-cucu Nabi Adam as, proses tersebut tidak transparan lagi karena jasmani mereka terbentuk dalam rahim ibu melalui tahapan-tahapan nuthfah (sperma), ‘alaqah (segumpal darah) dan mudhghah (segumpal daging). (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 12-14) Meski begitu secara hakiki jasmani anak-cucu Adam tetap berasal dari empat unsur tersebut dan akan kembali ke bentuk unsur dasar itu.

Jika diperhatikan lebih jauh, mekanisme kehidupan yang melibatkan bagian-bagian tubuh, akan ditemukan persamaan dengan mekanisme serupa yang melibatkan bagian-bagian alam (makrokosmos) . Hanya saja untuk memetakan persamaan ini dengan lengkap dan rinci, andai pun kita diberi usia yang cukup panjang sampai berabad-abad, tidak akan tuntas untuk menguraikannya. Oleh karenanya, kita diminta untuk berusaha mencoba sendiri meneliti apa yang kita saksikan. Dengan begitu kita dapat menemukan sendiri persamaan makrokosmos dengan mikrokosmos diri kita.
Kemudian manusia juga memiliki Ruh yang merupakan jauhar atau subtansi, yaitu yang berdiri sendiri, tidak berada di tempat mana pun dan juga tidak bertempat pada apa pun. Ruh adalah alam sederhana yang tidak terformulasi dari berbagai unsur (materi) sehingga tidak mengalami kehancuran sebagaimana benda materi. Karena itu, kematian bagi manusia sesungguhnya hanyalah kematian tubuh di mana yang hancur dan terurai kembali ke asalnya adalah tubuh, sedangkan ruh tidak akan hilang dan tetap eksis.

Jadi, hakikat (jauhar) seorang manusia adalah ruhnya. Sesuatu itu disebut jauhar bila ia merupakan substansi dari bentuk-bentuk material. Tapi meski begitu, jauhar bukanlah bagian dari alam material, artinya jauhar itu tidak terdiri dari unsur-unsur materi.

Ruh sebagai jauhar/subtansi dan jasad sebagai jism/materi. Ruh yang memiliki kehendak dan pengetahuan, sedangkan jasad bisa menjadi alat bagi ruh untuk mewujudkan suatu kehendak di alam ciptaan/materi.

Tapi ketika ruh dilekatkan pada jasad, maka muncullah kekuatan-kekuatan diri seperti penglihatan, pendengaran, gerakan, pikiran dan sebagainya sejalan dengan proses pertumbuhan manusia. Kekuatan-kekuatan yang muncul kemudian inilah yang disebut dengan Jiwa, yang sering didefinisikan sebagai sifat dan aksiden yang mewujud seiring dengan bertemunya jauhar dan jism.

Pertemuan antara ruh dengan jasad ini sebenarnya adalah proses yang membutuhkan waktu di mana ruh yang melakukan eksplorasi terhadap jasad sehingga dari struktur alamiah jasad atau materi tersebut, ruh akan berusaha mencari suatu bakat ketika ia sanggup menguasainya. Proses alamiah yang bersifat material inilah yang menjadikan jiwa mamiliki dua sisi; positif dan negatif; yin dan yang. Satu sisi menuju alam ruh (alam tinggi, alamu’ a’la) dan sisi lain menuju alam bawah (rendah, alam materi) di mana dia diperintah agar memelihara dua sisi yang saling berseberangan ini. Dari sisi yang menuju alam tinggi ia mirip dengan malaikat bahkan bisa lebih tinggi dalam berbagai keutamaan dan kedekatan dengan Tuhannya. Sedangkan sisi yang menuju alam bawah membuatnya mampu berinteraksi dengan alam bawah yang terformulasi dari unsur materi (alam fisik). Penguasaan jiwa terhadap alam materi tersebut adalah melalui tubuh fisik (jism).

“Dan demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan (negatif) dan ketakqwaan (positif)-nya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams [91]:7-10)

INSAN KAMIL, ABDULLAH, & KHALIFATULLAH

Sebagaimana kita tahu bahwa Tuhan pada level Dzat adalah Absolut (mutlak) dan tidak mungkin kita pahami. Karena Dia beyond dimensi ruang dan waktu serta alam semesta (inilah yang dalam hadis qudsi Tuhan berfirman: “Aku adalah Harta Karun terpendam, dan aku cinta untuk dikenal, maka Kuciptakan Alam semesta”). Tuhan sebagai Dzat sangatlah tinggi. Dia tidak bisa dilukiskan bagaimana dan seperti apa. Dia hanya bisa diketahui secara negatif, yakni Dia tidak sama dengan apa pun selain-Nya. Dia berbeda dengan apa pun yang kita bayangkan. Hal ini karena, menurut para sufi, pada level tersebut, Tuhan belum lagi menjadi entitas (ghair muta’ayyan). Pada level ini, Tuhan bahkan belum bersifat personal dan belum punya kaitan apa pun dengan alam (bandingkan dengan konsep Impersonal God dalam Budha!).

Namun, pada level sifat atau tahap ta’ayun (proses menjadi entitas), Tuhan tidak lagi sebagai Dzat yang tidak dapat didekati, tetapi sudah bersifat personal dan bisa dikenal secara lebih positif. Konsep Tuhan pada tahapan inilah yang pada umumnya kita kenal, yaitu Tuhan yang memiliki identitas atau sifat-sifat tertentu.

Menurut para sufi, sifat-sifat Tuhan ini punya kaitan yang tak terpisahkan dengan alam, terutama manusia. Karena menurut mereka, sifat-sifat itu tidak lain daripada prototipe atau arketipe dari apa pun yang ada di alam semesta. Dia laksana bentuk terhadap materi atau jiwa, yaitu inti dari keseluruhan manusia. Apa pun yang ada di alam semesta ini adalah manifestasi (tajalliyat) dari sifat-sifat Tuhan tersebut. Inilah makanya alam semesta disebut sebagai cermin, yang dengannya Tuhan melihat gambar diri-Nya.

Setiap tingkat eksistensi makhluk mencerminkan sifat-sifat tertentu Tuhan. Semakin tinggi tingkat suatu wujud semakin banyak sifat-sifat Tuhan yang dipantulkannya. Dan, semua ini berpuncak pada diri manusia yang diciptakan dalam sebaik-baik bentuk (ahsan at-taqwim) atau diciptakan dalam bentuk atau citra-Nya (ala shuratihi).

Seperti telah saya singgung sebelumnya, manusia disebut “mikrokosmos” karena pada diri manusia terkandung seluruh unsur kosmik, dari mulai tingkat mineral sampai tingkat manusia. Bahkan manusia juga mempunyai unsur spiritual, nonmateri. Apabila masing-masing tingkat wujud tersebut memantulkan sifat-sifat tertentu dari Tuhan, alam semesta secara keseluruhan merupakan cermin Tuhan, maka manusia yang memiliki unsur alam semesta berpotensi untuk memantulkan seluruh sifat-sifat ilahi.

Jadi, secara potensial manusia dapat mencerminkan sifat-sifat Tuhan, dan pencerminan itu bisa menjadi aktual saat manusia berhasil mengoptimalkan seluruh potensi kemanusiaannya. Manusia akan mampu memantulkan semua sifat-sifat Tuhan ketika ia telah mencapai tingkat kesempurnaannya, yakni ketika ia mencapai derajat “paripurna” atau insan kamil. Karena kemampuannya memantulkan sifat-sifat keilahian, ia disebut dengan KHALIFATULLAH. Dan ini sama sekali tidak berarti bahwa kita menaikkan derajat manusia menjadi Tuhan. Karena Tuhan tetap Tuhan dan Manusia tetap hamba-Nya yang harus menjalankan tugasnya sebagai wakil Tuhan di dunia.

Bagaimanakah proses kesempurnaan itu terjadi dalam diri manusia? Berikut saya akan coba memetakan prosesnya sesuai ajaran tasawuf yang saya tahu.

Dalam dunia tasawuf, dikenal konsep Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad (dalam setiap agama mungkin mempunyai istilah yang berbeda). Ia adalah ciptaan awal (yang pertama kali diciptakan oleh Allah). Kemudian dari percikan Nur inilah ruh (jauhar/subtansi) manusia berasal.

Ruh insani yang merupakan subtansi dari diri manusia ini berbeda dengan Ruhul Qudus. Dalam diri manusia yang telah disempurnakan Allah sebagai manusia paripurna (insan kamil) terdapat percikan  Nurun ‘Ala Nuurin ‘Cahaya yang berlapis-lapis,’ inilah yang disebut dengan Ruhul Qudus. Ruhul Qudus juga bukan malaikat Jibril as, seperti pendapat beberapa ahli tafsir selama ini. Jibril disebut sebagai Ruhul Amin, bukan Ruhul Qudus. Sementara Ruhul Qudus inilah yang dalam Al-Qur’an disifati sebagai Ruh min Amr Rabbi, atau Ruh dari Amr Allah (Amr = urusan, tanggung jawab, perintah). Dalam agama Kristen disebut Roh Kudus.

Ketika Allah berkehendak untuk memperlengkapi diri seorang manusia dengan Ruhul Qudus, maka inilah yang menyebabkan manusia dikatakan lebih mulia dari makhluk mana pun juga. “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kamu (malaikat) tersungkur dengan sujud kepadanya.” (Q.S. Shad 38:72)

Para Nabi, sebagai orang pilihan, melewati proses pemurnian ini dengan sangat mudah karena bimbingan dan kehendak-Nya. Karena mereka memiliki misi khusus (risalah) dari Tuhan.

Sedang bagi manusia biasa yang tercipta melalui proses alamiah atas kehendak-Nya, juga diberikan perangkat untuk memperoleh anugerah menjadi KHALIFATULLAH. Ruhul Qudus ini baru akan hadir bila ruh insan dan jiwa telah sempurna berproses. Dalam Islam, kesempurnaan proses ini ditandai dengan terwujudnya Jiwa Hening (nafs al-muthmainnah) di mana ia telah ridha akan semua kehendak Allah dan Allah pun ridha denganya.

“Hai jiwa yang tenang/hening . Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba- Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr [89]:27-30)

Saat manusia mencapai keridhaan inilah semua hijab antara dia dan Tuhan tersibak yang dengan mana ia bisa mengakses Kuasa Tuhan secara sempurna tahap demi tahap hingga pada tahapan di mana Tuhan ridha kepada manusia. Dan Tuhanpun menjadi kasih dan sayang kepadanya.

Fadzkuruni adzkurkum..” (Ingatlah aku, Aku akan mengingatmu, Qs. Al-Baqarah [2]:152). Itulah Dzikir Tuhan kepada hamba.

Tidak henti-hentinya hamba-hamba-Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan melakukan ibadah-ibadah nawafil, hingga Aku mencintainya. Kalau Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar; Aku akan menjadi matanya yang dengannya ia melihat; Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang; Aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia bermohon kepada-Ku, Aku akan mengabulkan permohonannya. Jika ia berlindung kepada-Ku, Aku akan melindungi dirinya” (HR. Bukhari).

Jadi, kurang tepat jika kita mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia di alam semesta secara mutlak. Karena manusia baru menjadi makhluk yang paling mulia jika telah berproses  menyempurnakan jiwanya. Jika belum diproses maka kedudukan manusia bisa lebih rendah dari hewan ternak (lihat Q.S. Al-Furqon [25]: 44).

Pencapaian spiritual manusia hingga mencapai derajat Kesucian Ruhani (Ruhul Qudus) yang secara awam dikatakan sebagai ‘manunggaling kawulo gusti’, atau ‘penyatuan hamba dan Tuhannya’ yang sering dilabelkan pada kaum sufi di seluruh dunia. Hakikat sebenarnya tidaklah demikian, Padahal yang terjadi sebenarnya, adalah (tajalliyat) dari sifat-sifat Tuhan pada derajat tertinggi dari kesucian makhluk sehingga sifat-sifat Tuhan tercermin dengan sempurna. Manusia dipenuhi dengan sifat-sifat yang terpuji (al-haqiqah al-Muhammad). Manusia yang sudah mencapai tingkatan ‘abdihi, hamba-Nya (ABDULLAH). Atau dalam istilah Quraish Shihab sebagai INSAN KAMIL.

Manunggaling kawulo gusti dalam artian penyatuan dzat hamba dengan Dzat Tuhannya, adalah sesuatu yang mustahil. Karena sebagai Dzat, Allah dan makhluk mustahil menyatu. Manusia dengan derajat kesempurnaannya ia tetap merupakan makhluk. Yang terjadi adalah manifestasi (tajalli) sifat-sifat Tuhan pada diri manusia.

Abdul Karim al-Jili dalam kitabnya al-Insan al-Kamil fi Ma’rifati al-Awakhir wa al-Awa’il mengatakan, apabila sifat Allah ber-tajalli pada diri hamba, maka hamba tersebut berenang dalam orbit (falak) sifat tersebut. Kalau sifat ilmu tuhan yang bertajalli pada diri hamba, maka ia akan dapat mengetahui objek-objek ilmunya itu secara komprehensif dari awal sampai akhir. Ia mengetahui sesuatu dari sudut kualitasnya, bagaimana keberadaanya, bagaimana akan jadinya. Mengetahui apa yang belum ada dan apa yang tidak akan ada sejauh belum ada… Jika yang bermanifestasi dalah sifat Tuhan “Al-Razaq”, Maha Pemberi Rezeki, maka pada diri manusia tercermin kuasa yang dapat “mempengaruhi” rezeki di dunia ini. Begitu seterusnya.

Jadi, KHALIFATULLAH dipercaya sebagai wakil Allah di alam semesta (khalifatullah fi al-ardh), selain sebagai segel alam semesta juga sebagai pintu bagi alam semesta untuk melihat Sang Pencipta, mengenal-Nya; kehadiran Keindahan dan Kekuasaan Ilahi yang membayang dalam diri Insan Ilahi merupakan jembatan rahmat (penolong) bagi alam semesta untuk berjalan mengenal-Nya, Insan Ilahi adalah tangan Kepemurahan- Nya (shurratur-Rahmaan) yang membawa seluruh alam semesta menjadi peningkat derajatnya. Inilah amanah yang diembankan kepada insan Ilahi yang dipercaya sebagai ruh dan cahaya kehidupan bagi seluruh alam semesta.

Iblis Sebagai Musuh Nyata

Sujudnya Malaikat kepada Adam, karena dalam diri manusia yang telah disempurnakan- Nya (insan kamil) terdapat apa yang disebut ‘Ruh-Ku’ dalam Q.S. Shad [38]:72 tadi. Malaikat bukan sujud kepada sifat jasadiyahnya Adam. Malaikat akan sujud kepada siapa pun yang dalam dirinya ada pantulan ‘citra’ Allah (yang jelas, fokus, dan tidak blur), yaitu dengan kehadiran Ruh-Nya (Ruhul Qudus) dalam jiwa seseorang.

Sementara Iblis tidak mampu melihat ke dalam inti jiwa manusia tempat Ruhul Qudus disematkan Allah, maka ia melihat Adam tidak lebih dalam dari sekadar tanah yang digunakan sebagai bahan jasadnya, sehingga ia enggan bersujud.

Siapakah Iblis? Ia berasal dari bangsa jin yang telah mencapai tingkat kultivasi tinggi dan tinggal di surga. Ia bahkan dapat berkomunikasi langsung Allah. Namun karena kesombongan dan iri hatinya (Q.S. Shad [38]:76), ia jatuh pada level yang dikutuk Tuhan hingga hari pembalasan.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (Q.S. Jin [72]: 50)

Lalu Allah berkata kepadanya,'” Keluarlah dari surga! kamu itu makhluk yang terkutuk. Kutukan-Ku atasmu berlaku sampai hari pembalasan.” (Q.S. Shad [38]:77-78)

Lalu Iblis mengajukan permintaan kepada Allah agar dapat menggoda manusia sampai akhir zaman. Iblis pun diberi kesempatan untuk hidup sampai batas waktu yang telah ditentukan Allah. (lihat Q.S. Shad [38]: 79-81)

Iblis berkata: Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba- Mu yang mukhlashin (yang termurnikan) .” (Q.S. Shaad [38]: 82-83)

Dalam ayat lain diceritakan bahwa Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menghiasi (perbuatan) mereka di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua. Kecuali hamba-hamba- Mu yang Mukhlash (termurnikan) di antara mereka. Allah Berfirman, “Ini adalah jalan yang lurus, ‘kewajiban’ Aku-lah (menjaganya) . Sesungguhnya hamba-hamba- Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Q.S. Al-Hijr [15]: 39-42)

Dari kisah pembangkangan Iblis di atas, kita tahu bahwa ia dan anak-cucunya telah diizinkan Tuhan untuk melakukan apa pun untuk dapat menyesatkan anak-cucu Adam. Dalam salah satu ayat di atas bahkan Iblis mengatakan bahwa ia akan menghiasi amal perbuatan manusia. Banyak orang yang secara lahiriahnya rajin melakukan ibadah dan amal shaleh, namun keterikatan hatinya telah memberikan peluang bagi Iblis dan anak-cucunya untuk masuk dalam relung hati dan jiwanya dan dalam jangka panjang kesadarannya akan dikuasai dan dikontrol oleh Iblis tersebut. Inilah yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut waswas.

Seperti pengakuan Iblis sendiri, bahwa ia tidak akan mampu mengganggu hamba-hamba Allah yang mukhlashin. Kata mukhlashin bentuk jamak dari mukhlash yang merupakan bentuk pasif (maf’ul) dari khalasha. Jika kita buka kembali kamus bahasa Arab, kita akan temukan arti khalasha adalah murni. Mukhlashin berarti orang-orang yang telah termurnikan. Kata mukhlashin juga dapat diartikan orang-orang terpilih.

Jadi, mukhlashin adalah orang-orang yang telah mencapai pemurnian di mana di dalam diri mereka terdapat percikan Nur-Nya. Karena itu, Ikhlas (dengan I besar) adalah kondisi (maqam) diri yang murni dari semua hal yang negatif, baik emosi negatif, dosa (karma negatif) maupun pengaruh Iblis (mungkin ini arti firman Allah di atas: “…kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat.”). Konsep Ikhlas seperti ini berbeda dengan ikhlas (dengan i kecil) yaitu usaha seorang hamba secara sungguh-sungguh untuk menghilangkan apa pun yang mengikat hatinya, kecuali ridha-Nya. Ketika seorang hamba selalu berusaha untuk ikhlas dan Allah meridha-Nya, maka Allah sendiri yang akan memurnikanya (mukhlashin) dengan penganugrahan percikan Nur-Nya.

Intinya, manusia harus terus waspada agar tidak terkena godaan Iblis. Karena Iblis adalah musuh yang nyata bagi kita. Ia sudah berjanji untuk selalu berusaha sekuat tenaga menyesatkan anak-cucu Adam, agar mereka tidak pernah dapat mencapai “kemurniaan” (kesempurnaan) dan menjadi Manusia Ilahi. Karena di saat manusia mencapai kesempurnaan ini, Iblis tidak lagi mempunyai daya kuasa untuk menggodanya.

Manusia tidak diperbolehkan mempercayai Iblis dan keturunannya, apalagi menjadikan mereka sebagai sekutu. “Patutkah kamu mengambil dia (Iblis) dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?” (Q.S. Al-Kahfi [18]: 50)

Pintu masuk yang paling mudah diterobos iblis ialah keterikatan hati dan jiwa-jiwa negatif yang dominan. Karena itu, ikhlas (tidak ada keterikatan hati) adalah sangat penting dan merupakan syarat utama semua amal ibadah diterima oleh Allah.

Sistem Evolusi Spiritual Ilmiah

Fisika Newtonian (para pengikut Newton ) dan kaum positivis lainya menyatakan bahwa bagian terkecil yang menyusun alam alam semesta ini adalah atom, dan atom lebih dipandang sebagai partikel yang solid ketimbang gelombang ataupun superstring. Dengan demikian, orang menyakini bahwa komponen dunia paling dasar bersifat materi (fisik), berupa atom yang tak dapat dibagi-bagi lagi. Bagi mereka, tak ada tempat bagi realitas-realitas spiritual (metafisik) untuk dipercaya keberadaanya karena tidak dapat diobservasi secara indrawi.

Akan tetapi pandangan alam semesta seperti itu kini telah ditinggalkan oleh ahli-ahli fisika modern. Pandangan bahwa atom adalah partikel telah ditentang dan teori baru bermunculan, seperti “teori gelombang” atau superstring oleh Stephen Hawking. Kepercayaan yang menyatakan atom sebagai elemen terkecil yang tak dapat dibagi-bagi lagi sudah lama ditinggalkan, dan fisikawan baru membagi dunia atom ke dalam lima level, yaitu molekul, atom, inti (nucleus), hadron, dan quark. Atom sendiri terdiri dari nucleus (inti) dan orbit. Dalam inti terdapat dua jenis hadron, yaitu neutron dan proton yang keduanya itu terdiri dari quark-quark. Sedangkan pada orbit adalah elektron.

Yang terpenting dari teori ini adalah adanya ruang lebar yang merentang antara inti atom (nucleus) dan orbitnya (elektron). Dikatakan bahwa dalam potongan kuku kita terdapat jutaan atom, dan setiap atom memiliki ruang yang luas dan kosong yang terbentang antara inti atom dan orbitnya. Menurut Brian Haines dalam bukunya God’s Wishper and Creation’s Thunder, jika kita dapat memperbesar inti atom hingga terlihat sebesar kelereng, maka letak elektronya di orbit adalah sejauh 300 meter lebih. Itu artinya ada ruang kosong nonmateri yang merentang luas antara inti dan orbit atom. Jadi, bagian terbesar atom adalah nonmateri, ketimbang materi seperti klaim Newtonian.

Yang lebih menarik, seperti disebutkan Haines, bahwa seandainya kita bisa memadatkan seluruh atom yang ada di tubuh kita, dengan (misalnya) menarik elektron ke dalam inti atom, kita akan tereduksi menjadi hanya seukuran ujung pensil yang sangat lancip. Jika bumi kita dipadatkan seperti di atas, ia akan tereduksi menjadi seukuran kelereng.

Realitas quantum ini bagi saya merupakan kritik yang sangat signifikan bagi pandangan positivisme yang menganggap alam semesta ini tak lebih hanya materi, sehingga mereka kehilangan pijakannya. Mereka keliru dengan menganggap dunia yang luas ini hanya berdimensi tunggal dan itu materi. Kenyataannya adalah bahwa bagian terbesar dari semesta ini adalah nonmateri.

Nah, jika konsep ilmiah ala quantum ini diterima, maka kita akan dapat menerima keilmiahan metode N-AQS. Dalam metode N-AQS proses pencapaian kesempurnaan manusia dilalui secara alami dalam dunia quantum (nonmateri). Dengan energi yang sangat tinggi dan halus hingga mencapai triliunan level di bawah quark, evolusi spiritual manusia dapat dilakukan dengan sangat singkat.

Dalam konsep N-AQS, secara garis besar tubuh manusia juga terdiri dari tubuh fisik (jasmani), tubuh ruh (jauhar/subtansi), dan tubuh jiwa. Dengan energi yang spesifik, ketiga tubuh tersebut dimurnikan dari semua yang mengotorinya seperti, pengaruh kuasa gelap (iblis), karma negatif, dan emosi negatif. Pemurniaan ini disebut dengan kultivasi atau evolusi spiritual.

Kultivasi ruh dalam tradisi Timur dilakukan dengan melatih kundalini. Dengan energi N-AQS yang sangat spesifik, tidak memerlukan untuk mengolah kundalini. Ketika Energi Nurun ‘Ala Nuurin telah mengkultivasi cakra mahkota, maka tabir atau hijab yang selama ini menghalangi diri kita dengan cahaya atau kuasa ilahi akan terbuka. Dengan terbukanya tabir tersebut, kita akan dapat mengakses kuasa ilahi untuk membantu memurnikan ruh kita (beberapa aliran reiki dengan salah kaprah menyakini bahwa energi atau kuasa ilahi ini dapat diakses hanya dengan membuka cakra mahkota. Karenanya, mereka dengan sangat mudah mengidentikkan energi reiki dengan energi ilahi, padahal hakikatnya tidak demikian). Saat ruh telah disempurnakan, saat itulah terjadi evolusi spiritual, di mana ruh kita mencapai tingkatan ruh suci.

TINGKATAN RUH

Alam Rûh (Nafs)
Lâhût Rûh al-Quds Sirr
Jabarût Rûh as-Sulthany Fu’ad
Malakût Rûh ar-Rûhâny Qalbu
Mulki Rûh al-Jismâny Rûh

Kultivasi berikutnya adalah jiwa. Sama dengan konsep jiwa dalam tradisi tasawuf dan teologi yang telah saya singgung di atas, N-AQS juga menyebut jiwa sebagai padanan karakter atau sifat . Manusia mempunyai jiwa atau sifat yang sangat banyak, ada yang positif dan ada yang negatif. Dengan mengembangkan jiwa positif (akhlaq terpuji) berarti kita sedang menyiapkan diri untuk menerima tajalli atau manifestasi dari sifat-sifat Tuhan. Sebaliknya, dengan kita membiarkan jiwa negatif (akhlaq tercela) berkembang (dengan mengikuti nafsu dan ego), maka sama artinya kita membuka pintu untuk masuknya iblis ke dalam diri kita. Sekali ia masuk dalam diri, ia akan terus berusaha menguasai kesadaran kita dan akan menyesatkan kita.

Dalam agama (terutama agama samawi), pemurnian jiwa dilakukan dengan ketundukan total terhadap ajaran Tuhan yang dibawa oleh utusan-Nya. Dengan ketundukan ini, otomatis jiwa negatif pun mengalami pembatasan atau pengekangan pertumbuhannya, sementara jiwa positif terus berkembang seiring dengan keheningan (muthmainnah) dan keikhlasan (terbebas dari keterikatan) hati. Berbanding terbalik dengan perkembangan jiwa-jiwa positif, dengan ketaatan kepada Tuhan, jiwa-jiwa negatif justru semakin melemah dan mengecil.

Dalam N-AQS, dengan energi bervibrasi tinggi dan suci (Nuurun ‘Ala Nuurin) dan spesifik, kultivasi jiwa-jiwa positif dapat dengan mudah dilakukan. Sementara jiwa negatif akan terus melemah atau mengecil seiring dengan level kemurnian jiwa positif .

Tujuh tingkat Jiwa/nafsu menurut ahli tasawuf

  1. Nafsul Amarah
  2. Nafsul Lawwamah
  3. Nafsul Mulhammah
  4. Nafsul Muthmainnah
  5. Nafsul Radhiah
  6. Nafsul Mardhiyah
  7. Nafsul Kamilah

Di N-AQS, proses pencapaian awal INSAN KAMIL didapat dengan proses inisiasi atau attunement yang dilakukan oleh Master yang mempunyai kemampuan untuk itu. Dengan inisiasi tersebut, praktisi tidak hanya mampu mengakses energi N-AQS—yang kelembutan dan ketinggiannya berada triliunan kali lipat di bawah quark—, tetapi ia juga telah mengalami evolusi spiritual pada tubuh ruh dan tubuh jiwanya. Dengan kemampuan tersebut beserta tubuh-tubuh suci dari ruh maupun jiwa, seorang praktisi diharapkan untuk terus melakukan pemurnian dirinya secara terus-menerus dari pengaruh kuasa gelap (iblis), karma negatif, dan emosi-emosi negatif.

Seiring dengan semakin murni diri kita, percikan Nur-Nya pun akan semakin sempurna menyatu dalam diri kita.

Inilah teknologi spiritual yang dapat menjelaskan mekanisme kehidupan yang melibatkan bagian-bagian tubuh (fisik maupun nonfisik) dan alam semesta, di mana ditemukan mekanisme serupa yang melibatkan bagian-bagian alam (makrokosmos) . Hanya saja untuk memetakan persamaan ini dengan lengkap dan rinci dalam satu buku maupun kitab adalah sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karenanya, kita diminta untuk berusaha mencoba, meneliti dan mengalaminya sendiri. Dengan N-AQS, kita dapat menemukan sendiri persamaan makrokosmos dengan mikrokosmos diri kita dan menemukan jati diri kita.

Kesimpulan saya, N-AQS tidak bertentangan dan memang tidak perlu dipertentangkan dengan ajaran agama mana pun. Sebagai metode ilmiah dengan penekanan pada penggalian hakikat semesta dan diri, N-AQS merupakan sistem spiritual yang universal yang dapat dipelajari dan dipraktikkan oleh siapa pun dengan latar belakang kepercayaan dan agama apa pun. Dengan belajar N-AQS seorang praktisi tidak dituntut untuk menanggalkan agama yang telah ia anut. Dengan pemahaman mendalam dan praktik yang tepat terhadap metode N-AQS, justru akan dapat menambah keimanan dan kualitas kedekatan kita dengan Sang Khaliq.

N-AQS adalah berkah bagi para pencari. Inilah metode revolusioner dalam dunia spiritual yang tidak hanya dapat diverifikasi secara ilmiah, namun juga telah terbukti dapat membantu dalam menyeimbangkan hidup praktisinya. Selamat datang di dunia penuh keajaiban. Semoga Allah senantiasa membimbing dan meridhai jalan kita menuju-Nya. Amin.

>Evolusi Spiritual eps : INSAN KAMIL 2

>Setiap agama mewajibkan umatnya untuk selalu menjalankan semua aturan main yang jelas, baku , dan bahkan cukup kaku yang tersusun pasti dalam apa yang disebut dengan “Kitab Suci” atau ayat-ayat qauliyah dari Tuhan. Pengakuan keimanan terhadap suatu agama menuntut sang pemilik iman untuk selalu menjadikan aturan main itu sebagai praktik hidupnya menuju Kehadirat-Nya.

Namun agama juga memberikan ruang yang lebih longgar ketika ia mengharap dari setiap umatnya untuk terus menggali dan mengeksplorasi alam semesta (makrokosmos) dan diri (mikrokosmos) yang merupakan ayat-ayat kauniyah dari Tuhan. Yang kedua ini tentunya bersifat lebih universal, karena semesta ini bukanlah monopoli satu keyakinan agama.

Para ilmuwan, terutama para fisikawan, percaya bahwa alam memiliki satuan fundamentalnya sebagai building block bagi struktur keseluruhan alam semesta. Mereka selalu menyebut satuan fundamental alam ini sebagai atom yang diyakini sebagai satuan terkecil yang tak dapat dibagi-bagi lagi. Dengan demikian, mereka menyakini bahwa komponen dunia paling dasar bersifat materi (fisik), berupa atom. Mereka sama sekali tak memberikan ruang bagi realitas-realitas spiritual (metafisik) untuk dipercaya keberadaanya, karena tidak dapat diobservasi secara indrawi.

Namun penelitian-penelitian di bidang fisika quantum telah menggugat pandangan materialistik tersebut. Dikatakan bahwa dalam setiap atom memiliki ruang yang luas dan kosong nonmateri yang terbentang antara inti atom dan orbitnya.

Jadi, ketika kita berbicara tentang keilmiahan metode N-AQS, maka itu berarti kita sedang berbicara dengan sudut pandang yang menyatakan bahwa ternyata semesta tidak hanya berdimensi tunggal, namun di balik dunia materi ini terbentang dunia nonmateri yang lebih luas. Dan, N-AQS akan lebih banyak bermain di ranah tersebut.

Kembali kepada pembahasan ayat-ayat Tuhan yang qauliyah dan yang kauniyah. Dengan pemetaan yang jelas terhadap kapling keduanya, maka dapat saya katakan bahwa secara subtansi (begitu pun dengan detail praktiknya) metode N-AQS tidak dapat dan memang tidak perlu dipertentangkan dengan agama. Sebagai metode pengembangan diri berbasis semesta, N-AQS tidak menyalahi aturan main agama mana pun. N-AQS juga bukan agama dan tidak terkait secara eksklusif dengan agama tertentu. Meskipun jika kita mau mencari basis teologisnya, maka kita dapat menemukan akarnya pada setiap agama, yang mana telah memberikan kita kesempatan untuk terus menggali dan mengungkap lebih jauh rahasia semesta dan diri kita sendiri dan mengembangkannya ke arah yang lebih positif agar kita dapat mengenal (makrifat) Tuhan dengan lebih baik. Siapa yang mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhanya.

Jelas sekali bahwa pengenalan diri secara sempurna dapat menjadi sarana untuk mengenal-Nya. Ini tentu terkait dengan hakikat manusia sempurna yang akan saya coba paparkan secara detail dari sudut pandang teologis mulai dari pembahasan struktur manusia, Insan Ilahi, dan Iblis sebagai musuh nyata. Selanjutnya, konsep-konsep yang saya sebut teologis tersebut akan saya bandingkan dengan konsep N-AQS sebagai wujud dari penggalian dan pengembangan diri dan ayat semesta.

Komposisi dan Struktur Manusia

“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menurut citra-Nya” (H.R. Bukhari dan Ahmad)

Struktur manusia adalah struktur berbagai alam dan bagian-bagiannya. Tentu saja hal ini tidak dalam bentuk penampakannya, tapi lebih pada unsur-unsur penyusunnya, interrelasinya, dan mekanisme hukum yang berlaku di dalamnya di mana alam yang dimaksud tidak hanya meliputi alam fisik indrawi tapi juga alam-alam atas (dimensi halus).

Dalam garis besarnya, struktur manusia terdiri dari tiga aspek: Ruh, Jiwa/Nafsu, dan Jasmani.

Jasmani manusia terbentuk dari berbagai komponen dan unsur yang sanggup ‘membawa’ dan mempertahankan ruh dan jiwanya, yang kemudian menjadi suatu tubuh berpostur yang memiliki wajah, dua tangan dan kaki, serta bisa beraktivitas. Unsur-unsur jasmani tersebut adalah unsur yang sama dengan unsur makrokosmos yaitu air, udara, api dan tanah. Hal ini terlihat dari proses penciptaan jasmani Nabi Adam as yang dilukiskan melalui tahapan ath-thiin (tanah liat kering) dan shalshal (lumpur hitam) di mana kedua jenis tanah liat tersebut merupakan hasil dari perubahan empat unsur tanah, air, udara dan api. (Q.S. Al-Hijr [15]: 28) Bagi anak-cucu Nabi Adam as, proses tersebut tidak transparan lagi karena jasmani mereka terbentuk dalam rahim ibu melalui tahapan-tahapan nuthfah (sperma), ‘alaqah (segumpal darah) dan mudhghah (segumpal daging). (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 12-14) Meski begitu secara hakiki jasmani anak-cucu Adam tetap berasal dari empat unsur tersebut dan akan kembali ke bentuk unsur dasar itu.

Jika diperhatikan lebih jauh, mekanisme kehidupan yang melibatkan bagian-bagian tubuh, akan ditemukan persamaan dengan mekanisme serupa yang melibatkan bagian-bagian alam (makrokosmos) . Hanya saja untuk memetakan persamaan ini dengan lengkap dan rinci, andai pun kita diberi usia yang cukup panjang sampai berabad-abad, tidak akan tuntas untuk menguraikannya. Oleh karenanya, kita diminta untuk berusaha mencoba sendiri meneliti apa yang kita saksikan. Dengan begitu kita dapat menemukan sendiri persamaan makrokosmos dengan mikrokosmos diri kita.
Kemudian manusia juga memiliki Ruh yang merupakan jauhar atau subtansi, yaitu yang berdiri sendiri, tidak berada di tempat mana pun dan juga tidak bertempat pada apa pun. Ruh adalah alam sederhana yang tidak terformulasi dari berbagai unsur (materi) sehingga tidak mengalami kehancuran sebagaimana benda materi. Karena itu, kematian bagi manusia sesungguhnya hanyalah kematian tubuh di mana yang hancur dan terurai kembali ke asalnya adalah tubuh, sedangkan ruh tidak akan hilang dan tetap eksis.

Jadi, hakikat (jauhar) seorang manusia adalah ruhnya. Sesuatu itu disebut jauhar bila ia merupakan substansi dari bentuk-bentuk material. Tapi meski begitu, jauhar bukanlah bagian dari alam material, artinya jauhar itu tidak terdiri dari unsur-unsur materi.

Ruh sebagai jauhar/subtansi dan jasad sebagai jism/materi. Ruh yang memiliki kehendak dan pengetahuan, sedangkan jasad bisa menjadi alat bagi ruh untuk mewujudkan suatu kehendak di alam ciptaan/materi.

Tapi ketika ruh dilekatkan pada jasad, maka muncullah kekuatan-kekuatan diri seperti penglihatan, pendengaran, gerakan, pikiran dan sebagainya sejalan dengan proses pertumbuhan manusia. Kekuatan-kekuatan yang muncul kemudian inilah yang disebut dengan Jiwa, yang sering didefinisikan sebagai sifat dan aksiden yang mewujud seiring dengan bertemunya jauhar dan jism.

Pertemuan antara ruh dengan jasad ini sebenarnya adalah proses yang membutuhkan waktu di mana ruh yang melakukan eksplorasi terhadap jasad sehingga dari struktur alamiah jasad atau materi tersebut, ruh akan berusaha mencari suatu bakat ketika ia sanggup menguasainya. Proses alamiah yang bersifat material inilah yang menjadikan jiwa mamiliki dua sisi; positif dan negatif; yin dan yang. Satu sisi menuju alam ruh (alam tinggi, alamu’ a’la) dan sisi lain menuju alam bawah (rendah, alam materi) di mana dia diperintah agar memelihara dua sisi yang saling berseberangan ini. Dari sisi yang menuju alam tinggi ia mirip dengan malaikat bahkan bisa lebih tinggi dalam berbagai keutamaan dan kedekatan dengan Tuhannya. Sedangkan sisi yang menuju alam bawah membuatnya mampu berinteraksi dengan alam bawah yang terformulasi dari unsur materi (alam fisik). Penguasaan jiwa terhadap alam materi tersebut adalah melalui tubuh fisik (jism).

“Dan demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan (negatif) dan ketakqwaan (positif)-nya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams [91]:7-10)

INSAN KAMIL, ABDULLAH, & KHALIFATULLAH

Sebagaimana kita tahu bahwa Tuhan pada level Dzat adalah Absolut (mutlak) dan tidak mungkin kita pahami. Karena Dia beyond dimensi ruang dan waktu serta alam semesta (inilah yang dalam hadis qudsi Tuhan berfirman: “Aku adalah Harta Karun terpendam, dan aku cinta untuk dikenal, maka Kuciptakan Alam semesta”). Tuhan sebagai Dzat sangatlah tinggi. Dia tidak bisa dilukiskan bagaimana dan seperti apa. Dia hanya bisa diketahui secara negatif, yakni Dia tidak sama dengan apa pun selain-Nya. Dia berbeda dengan apa pun yang kita bayangkan. Hal ini karena, menurut para sufi, pada level tersebut, Tuhan belum lagi menjadi entitas (ghair muta’ayyan). Pada level ini, Tuhan bahkan belum bersifat personal dan belum punya kaitan apa pun dengan alam (bandingkan dengan konsep Impersonal God dalam Budha!).

Namun, pada level sifat atau tahap ta’ayun (proses menjadi entitas), Tuhan tidak lagi sebagai Dzat yang tidak dapat didekati, tetapi sudah bersifat personal dan bisa dikenal secara lebih positif. Konsep Tuhan pada tahapan inilah yang pada umumnya kita kenal, yaitu Tuhan yang memiliki identitas atau sifat-sifat tertentu.

Menurut para sufi, sifat-sifat Tuhan ini punya kaitan yang tak terpisahkan dengan alam, terutama manusia. Karena menurut mereka, sifat-sifat itu tidak lain daripada prototipe atau arketipe dari apa pun yang ada di alam semesta. Dia laksana bentuk terhadap materi atau jiwa, yaitu inti dari keseluruhan manusia. Apa pun yang ada di alam semesta ini adalah manifestasi (tajalliyat) dari sifat-sifat Tuhan tersebut. Inilah makanya alam semesta disebut sebagai cermin, yang dengannya Tuhan melihat gambar diri-Nya.

Setiap tingkat eksistensi makhluk mencerminkan sifat-sifat tertentu Tuhan. Semakin tinggi tingkat suatu wujud semakin banyak sifat-sifat Tuhan yang dipantulkannya. Dan, semua ini berpuncak pada diri manusia yang diciptakan dalam sebaik-baik bentuk (ahsan at-taqwim) atau diciptakan dalam bentuk atau citra-Nya (ala shuratihi).

Seperti telah saya singgung sebelumnya, manusia disebut “mikrokosmos” karena pada diri manusia terkandung seluruh unsur kosmik, dari mulai tingkat mineral sampai tingkat manusia. Bahkan manusia juga mempunyai unsur spiritual, nonmateri. Apabila masing-masing tingkat wujud tersebut memantulkan sifat-sifat tertentu dari Tuhan, alam semesta secara keseluruhan merupakan cermin Tuhan, maka manusia yang memiliki unsur alam semesta berpotensi untuk memantulkan seluruh sifat-sifat ilahi.

Jadi, secara potensial manusia dapat mencerminkan sifat-sifat Tuhan, dan pencerminan itu bisa menjadi aktual saat manusia berhasil mengoptimalkan seluruh potensi kemanusiaannya. Manusia akan mampu memantulkan semua sifat-sifat Tuhan ketika ia telah mencapai tingkat kesempurnaannya, yakni ketika ia mencapai derajat “paripurna” atau insan kamil. Karena kemampuannya memantulkan sifat-sifat keilahian, ia disebut dengan KHALIFATULLAH. Dan ini sama sekali tidak berarti bahwa kita menaikkan derajat manusia menjadi Tuhan. Karena Tuhan tetap Tuhan dan Manusia tetap hamba-Nya yang harus menjalankan tugasnya sebagai wakil Tuhan di dunia.

Bagaimanakah proses kesempurnaan itu terjadi dalam diri manusia? Berikut saya akan coba memetakan prosesnya sesuai ajaran tasawuf yang saya tahu.

Dalam dunia tasawuf, dikenal konsep Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad (dalam setiap agama mungkin mempunyai istilah yang berbeda). Ia adalah ciptaan awal (yang pertama kali diciptakan oleh Allah). Kemudian dari percikan Nur inilah ruh (jauhar/subtansi) manusia berasal.

Ruh insani yang merupakan subtansi dari diri manusia ini berbeda dengan Ruhul Qudus. Dalam diri manusia yang telah disempurnakan Allah sebagai manusia paripurna (insan kamil) terdapat percikan  Nurun ‘Ala Nuurin ‘Cahaya yang berlapis-lapis,’ inilah yang disebut dengan Ruhul Qudus. Ruhul Qudus juga bukan malaikat Jibril as, seperti pendapat beberapa ahli tafsir selama ini. Jibril disebut sebagai Ruhul Amin, bukan Ruhul Qudus. Sementara Ruhul Qudus inilah yang dalam Al-Qur’an disifati sebagai Ruh min Amr Rabbi, atau Ruh dari Amr Allah (Amr = urusan, tanggung jawab, perintah). Dalam agama Kristen disebut Roh Kudus.

Ketika Allah berkehendak untuk memperlengkapi diri seorang manusia dengan Ruhul Qudus, maka inilah yang menyebabkan manusia dikatakan lebih mulia dari makhluk mana pun juga. “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kamu (malaikat) tersungkur dengan sujud kepadanya.” (Q.S. Shad 38:72)

Para Nabi, sebagai orang pilihan, melewati proses pemurnian ini dengan sangat mudah karena bimbingan dan kehendak-Nya. Karena mereka memiliki misi khusus (risalah) dari Tuhan.

Sedang bagi manusia biasa yang tercipta melalui proses alamiah atas kehendak-Nya, juga diberikan perangkat untuk memperoleh anugerah menjadi KHALIFATULLAH. Ruhul Qudus ini baru akan hadir bila ruh insan dan jiwa telah sempurna berproses. Dalam Islam, kesempurnaan proses ini ditandai dengan terwujudnya Jiwa Hening (nafs al-muthmainnah) di mana ia telah ridha akan semua kehendak Allah dan Allah pun ridha denganya.

“Hai jiwa yang tenang/hening . Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba- Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr [89]:27-30)

Saat manusia mencapai keridhaan inilah semua hijab antara dia dan Tuhan tersibak yang dengan mana ia bisa mengakses Kuasa Tuhan secara sempurna tahap demi tahap hingga pada tahapan di mana Tuhan ridha kepada manusia. Dan Tuhanpun menjadi kasih dan sayang kepadanya.

Fadzkuruni adzkurkum..” (Ingatlah aku, Aku akan mengingatmu, Qs. Al-Baqarah [2]:152). Itulah Dzikir Tuhan kepada hamba.

Tidak henti-hentinya hamba-hamba-Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan melakukan ibadah-ibadah nawafil, hingga Aku mencintainya. Kalau Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar; Aku akan menjadi matanya yang dengannya ia melihat; Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang; Aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia bermohon kepada-Ku, Aku akan mengabulkan permohonannya. Jika ia berlindung kepada-Ku, Aku akan melindungi dirinya” (HR. Bukhari).

Jadi, kurang tepat jika kita mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia di alam semesta secara mutlak. Karena manusia baru menjadi makhluk yang paling mulia jika telah berproses  menyempurnakan jiwanya. Jika belum diproses maka kedudukan manusia bisa lebih rendah dari hewan ternak (lihat Q.S. Al-Furqon [25]: 44).

Pencapaian spiritual manusia hingga mencapai derajat Kesucian Ruhani (Ruhul Qudus) yang secara awam dikatakan sebagai ‘manunggaling kawulo gusti’, atau ‘penyatuan hamba dan Tuhannya’ yang sering dilabelkan pada kaum sufi di seluruh dunia. Hakikat sebenarnya tidaklah demikian, Padahal yang terjadi sebenarnya, adalah (tajalliyat) dari sifat-sifat Tuhan pada derajat tertinggi dari kesucian makhluk sehingga sifat-sifat Tuhan tercermin dengan sempurna. Manusia dipenuhi dengan sifat-sifat yang terpuji (al-haqiqah al-Muhammad). Manusia yang sudah mencapai tingkatan ‘abdihi, hamba-Nya (ABDULLAH). Atau dalam istilah Quraish Shihab sebagai INSAN KAMIL.

Manunggaling kawulo gusti dalam artian penyatuan dzat hamba dengan Dzat Tuhannya, adalah sesuatu yang mustahil. Karena sebagai Dzat, Allah dan makhluk mustahil menyatu. Manusia dengan derajat kesempurnaannya ia tetap merupakan makhluk. Yang terjadi adalah manifestasi (tajalli) sifat-sifat Tuhan pada diri manusia.

Abdul Karim al-Jili dalam kitabnya al-Insan al-Kamil fi Ma’rifati al-Awakhir wa al-Awa’il mengatakan, apabila sifat Allah ber-tajalli pada diri hamba, maka hamba tersebut berenang dalam orbit (falak) sifat tersebut. Kalau sifat ilmu tuhan yang bertajalli pada diri hamba, maka ia akan dapat mengetahui objek-objek ilmunya itu secara komprehensif dari awal sampai akhir. Ia mengetahui sesuatu dari sudut kualitasnya, bagaimana keberadaanya, bagaimana akan jadinya. Mengetahui apa yang belum ada dan apa yang tidak akan ada sejauh belum ada… Jika yang bermanifestasi dalah sifat Tuhan “Al-Razaq”, Maha Pemberi Rezeki, maka pada diri manusia tercermin kuasa yang dapat “mempengaruhi” rezeki di dunia ini. Begitu seterusnya.

Jadi, KHALIFATULLAH dipercaya sebagai wakil Allah di alam semesta (khalifatullah fi al-ardh), selain sebagai segel alam semesta juga sebagai pintu bagi alam semesta untuk melihat Sang Pencipta, mengenal-Nya; kehadiran Keindahan dan Kekuasaan Ilahi yang membayang dalam diri Insan Ilahi merupakan jembatan rahmat (penolong) bagi alam semesta untuk berjalan mengenal-Nya, Insan Ilahi adalah tangan Kepemurahan- Nya (shurratur-Rahmaan) yang membawa seluruh alam semesta menjadi peningkat derajatnya. Inilah amanah yang diembankan kepada insan Ilahi yang dipercaya sebagai ruh dan cahaya kehidupan bagi seluruh alam semesta.

Iblis Sebagai Musuh Nyata

Sujudnya Malaikat kepada Adam, karena dalam diri manusia yang telah disempurnakan- Nya (insan kamil) terdapat apa yang disebut ‘Ruh-Ku’ dalam Q.S. Shad [38]:72 tadi. Malaikat bukan sujud kepada sifat jasadiyahnya Adam. Malaikat akan sujud kepada siapa pun yang dalam dirinya ada pantulan ‘citra’ Allah (yang jelas, fokus, dan tidak blur), yaitu dengan kehadiran Ruh-Nya (Ruhul Qudus) dalam jiwa seseorang.

Sementara Iblis tidak mampu melihat ke dalam inti jiwa manusia tempat Ruhul Qudus disematkan Allah, maka ia melihat Adam tidak lebih dalam dari sekadar tanah yang digunakan sebagai bahan jasadnya, sehingga ia enggan bersujud.

Siapakah Iblis? Ia berasal dari bangsa jin yang telah mencapai tingkat kultivasi tinggi dan tinggal di surga. Ia bahkan dapat berkomunikasi langsung Allah. Namun karena kesombongan dan iri hatinya (Q.S. Shad [38]:76), ia jatuh pada level yang dikutuk Tuhan hingga hari pembalasan.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (Q.S. Jin [72]: 50)

Lalu Allah berkata kepadanya,'” Keluarlah dari surga! kamu itu makhluk yang terkutuk. Kutukan-Ku atasmu berlaku sampai hari pembalasan.” (Q.S. Shad [38]:77-78)

Lalu Iblis mengajukan permintaan kepada Allah agar dapat menggoda manusia sampai akhir zaman. Iblis pun diberi kesempatan untuk hidup sampai batas waktu yang telah ditentukan Allah. (lihat Q.S. Shad [38]: 79-81)

Iblis berkata: Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba- Mu yang mukhlashin (yang termurnikan) .” (Q.S. Shaad [38]: 82-83)

Dalam ayat lain diceritakan bahwa Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menghiasi (perbuatan) mereka di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua. Kecuali hamba-hamba- Mu yang Mukhlash (termurnikan) di antara mereka. Allah Berfirman, “Ini adalah jalan yang lurus, ‘kewajiban’ Aku-lah (menjaganya) . Sesungguhnya hamba-hamba- Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Q.S. Al-Hijr [15]: 39-42)

Dari kisah pembangkangan Iblis di atas, kita tahu bahwa ia dan anak-cucunya telah diizinkan Tuhan untuk melakukan apa pun untuk dapat menyesatkan anak-cucu Adam. Dalam salah satu ayat di atas bahkan Iblis mengatakan bahwa ia akan menghiasi amal perbuatan manusia. Banyak orang yang secara lahiriahnya rajin melakukan ibadah dan amal shaleh, namun keterikatan hatinya telah memberikan peluang bagi Iblis dan anak-cucunya untuk masuk dalam relung hati dan jiwanya dan dalam jangka panjang kesadarannya akan dikuasai dan dikontrol oleh Iblis tersebut. Inilah yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut waswas.

Seperti pengakuan Iblis sendiri, bahwa ia tidak akan mampu mengganggu hamba-hamba Allah yang mukhlashin. Kata mukhlashin bentuk jamak dari mukhlash yang merupakan bentuk pasif (maf’ul) dari khalasha. Jika kita buka kembali kamus bahasa Arab, kita akan temukan arti khalasha adalah murni. Mukhlashin berarti orang-orang yang telah termurnikan. Kata mukhlashin juga dapat diartikan orang-orang terpilih.

Jadi, mukhlashin adalah orang-orang yang telah mencapai pemurnian di mana di dalam diri mereka terdapat percikan Nur-Nya. Karena itu, Ikhlas (dengan I besar) adalah kondisi (maqam) diri yang murni dari semua hal yang negatif, baik emosi negatif, dosa (karma negatif) maupun pengaruh Iblis (mungkin ini arti firman Allah di atas: “…kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat.”). Konsep Ikhlas seperti ini berbeda dengan ikhlas (dengan i kecil) yaitu usaha seorang hamba secara sungguh-sungguh untuk menghilangkan apa pun yang mengikat hatinya, kecuali ridha-Nya. Ketika seorang hamba selalu berusaha untuk ikhlas dan Allah meridha-Nya, maka Allah sendiri yang akan memurnikanya (mukhlashin) dengan penganugrahan percikan Nur-Nya.

Intinya, manusia harus terus waspada agar tidak terkena godaan Iblis. Karena Iblis adalah musuh yang nyata bagi kita. Ia sudah berjanji untuk selalu berusaha sekuat tenaga menyesatkan anak-cucu Adam, agar mereka tidak pernah dapat mencapai “kemurniaan” (kesempurnaan) dan menjadi Manusia Ilahi. Karena di saat manusia mencapai kesempurnaan ini, Iblis tidak lagi mempunyai daya kuasa untuk menggodanya.

Manusia tidak diperbolehkan mempercayai Iblis dan keturunannya, apalagi menjadikan mereka sebagai sekutu. “Patutkah kamu mengambil dia (Iblis) dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?” (Q.S. Al-Kahfi [18]: 50)

Pintu masuk yang paling mudah diterobos iblis ialah keterikatan hati dan jiwa-jiwa negatif yang dominan. Karena itu, ikhlas (tidak ada keterikatan hati) adalah sangat penting dan merupakan syarat utama semua amal ibadah diterima oleh Allah.

Sistem Evolusi Spiritual Ilmiah

Fisika Newtonian (para pengikut Newton ) dan kaum positivis lainya menyatakan bahwa bagian terkecil yang menyusun alam alam semesta ini adalah atom, dan atom lebih dipandang sebagai partikel yang solid ketimbang gelombang ataupun superstring. Dengan demikian, orang menyakini bahwa komponen dunia paling dasar bersifat materi (fisik), berupa atom yang tak dapat dibagi-bagi lagi. Bagi mereka, tak ada tempat bagi realitas-realitas spiritual (metafisik) untuk dipercaya keberadaanya karena tidak dapat diobservasi secara indrawi.

Akan tetapi pandangan alam semesta seperti itu kini telah ditinggalkan oleh ahli-ahli fisika modern. Pandangan bahwa atom adalah partikel telah ditentang dan teori baru bermunculan, seperti “teori gelombang” atau superstring oleh Stephen Hawking. Kepercayaan yang menyatakan atom sebagai elemen terkecil yang tak dapat dibagi-bagi lagi sudah lama ditinggalkan, dan fisikawan baru membagi dunia atom ke dalam lima level, yaitu molekul, atom, inti (nucleus), hadron, dan quark. Atom sendiri terdiri dari nucleus (inti) dan orbit. Dalam inti terdapat dua jenis hadron, yaitu neutron dan proton yang keduanya itu terdiri dari quark-quark. Sedangkan pada orbit adalah elektron.

Yang terpenting dari teori ini adalah adanya ruang lebar yang merentang antara inti atom (nucleus) dan orbitnya (elektron). Dikatakan bahwa dalam potongan kuku kita terdapat jutaan atom, dan setiap atom memiliki ruang yang luas dan kosong yang terbentang antara inti atom dan orbitnya. Menurut Brian Haines dalam bukunya God’s Wishper and Creation’s Thunder, jika kita dapat memperbesar inti atom hingga terlihat sebesar kelereng, maka letak elektronya di orbit adalah sejauh 300 meter lebih. Itu artinya ada ruang kosong nonmateri yang merentang luas antara inti dan orbit atom. Jadi, bagian terbesar atom adalah nonmateri, ketimbang materi seperti klaim Newtonian.

Yang lebih menarik, seperti disebutkan Haines, bahwa seandainya kita bisa memadatkan seluruh atom yang ada di tubuh kita, dengan (misalnya) menarik elektron ke dalam inti atom, kita akan tereduksi menjadi hanya seukuran ujung pensil yang sangat lancip. Jika bumi kita dipadatkan seperti di atas, ia akan tereduksi menjadi seukuran kelereng.

Realitas quantum ini bagi saya merupakan kritik yang sangat signifikan bagi pandangan positivisme yang menganggap alam semesta ini tak lebih hanya materi, sehingga mereka kehilangan pijakannya. Mereka keliru dengan menganggap dunia yang luas ini hanya berdimensi tunggal dan itu materi. Kenyataannya adalah bahwa bagian terbesar dari semesta ini adalah nonmateri.

Nah, jika konsep ilmiah ala quantum ini diterima, maka kita akan dapat menerima keilmiahan metode N-AQS. Dalam metode N-AQS proses pencapaian kesempurnaan manusia dilalui secara alami dalam dunia quantum (nonmateri). Dengan energi yang sangat tinggi dan halus hingga mencapai triliunan level di bawah quark, evolusi spiritual manusia dapat dilakukan dengan sangat singkat.

Dalam konsep N-AQS, secara garis besar tubuh manusia juga terdiri dari tubuh fisik (jasmani), tubuh ruh (jauhar/subtansi), dan tubuh jiwa. Dengan energi yang spesifik, ketiga tubuh tersebut dimurnikan dari semua yang mengotorinya seperti, pengaruh kuasa gelap (iblis), karma negatif, dan emosi negatif. Pemurniaan ini disebut dengan kultivasi atau evolusi spiritual.

Kultivasi ruh dalam tradisi Timur dilakukan dengan melatih kundalini. Dengan energi N-AQS yang sangat spesifik, tidak memerlukan untuk mengolah kundalini. Ketika Energi Nurun ‘Ala Nuurin telah mengkultivasi cakra mahkota, maka tabir atau hijab yang selama ini menghalangi diri kita dengan cahaya atau kuasa ilahi akan terbuka. Dengan terbukanya tabir tersebut, kita akan dapat mengakses kuasa ilahi untuk membantu memurnikan ruh kita (beberapa aliran reiki dengan salah kaprah menyakini bahwa energi atau kuasa ilahi ini dapat diakses hanya dengan membuka cakra mahkota. Karenanya, mereka dengan sangat mudah mengidentikkan energi reiki dengan energi ilahi, padahal hakikatnya tidak demikian). Saat ruh telah disempurnakan, saat itulah terjadi evolusi spiritual, di mana ruh kita mencapai tingkatan ruh suci.

TINGKATAN RUH

Alam Rûh (Nafs)
Lâhût Rûh al-Quds Sirr
Jabarût Rûh as-Sulthany Fu’ad
Malakût Rûh ar-Rûhâny Qalbu
Mulki Rûh al-Jismâny Rûh

Kultivasi berikutnya adalah jiwa. Sama dengan konsep jiwa dalam tradisi tasawuf dan teologi yang telah saya singgung di atas, N-AQS juga menyebut jiwa sebagai padanan karakter atau sifat . Manusia mempunyai jiwa atau sifat yang sangat banyak, ada yang positif dan ada yang negatif. Dengan mengembangkan jiwa positif (akhlaq terpuji) berarti kita sedang menyiapkan diri untuk menerima tajalli atau manifestasi dari sifat-sifat Tuhan. Sebaliknya, dengan kita membiarkan jiwa negatif (akhlaq tercela) berkembang (dengan mengikuti nafsu dan ego), maka sama artinya kita membuka pintu untuk masuknya iblis ke dalam diri kita. Sekali ia masuk dalam diri, ia akan terus berusaha menguasai kesadaran kita dan akan menyesatkan kita.

Dalam agama (terutama agama samawi), pemurnian jiwa dilakukan dengan ketundukan total terhadap ajaran Tuhan yang dibawa oleh utusan-Nya. Dengan ketundukan ini, otomatis jiwa negatif pun mengalami pembatasan atau pengekangan pertumbuhannya, sementara jiwa positif terus berkembang seiring dengan keheningan (muthmainnah) dan keikhlasan (terbebas dari keterikatan) hati. Berbanding terbalik dengan perkembangan jiwa-jiwa positif, dengan ketaatan kepada Tuhan, jiwa-jiwa negatif justru semakin melemah dan mengecil.

Dalam N-AQS, dengan energi bervibrasi tinggi dan suci (Nuurun ‘Ala Nuurin) dan spesifik, kultivasi jiwa-jiwa positif dapat dengan mudah dilakukan. Sementara jiwa negatif akan terus melemah atau mengecil seiring dengan level kemurnian jiwa positif .

Tujuh tingkat Jiwa/nafsu menurut ahli tasawuf

  1. Nafsul Amarah
  2. Nafsul Lawwamah
  3. Nafsul Mulhammah
  4. Nafsul Muthmainnah
  5. Nafsul Radhiah
  6. Nafsul Mardhiyah
  7. Nafsul Kamilah

Di N-AQS, proses pencapaian awal INSAN KAMIL didapat dengan proses inisiasi atau attunement yang dilakukan oleh Master yang mempunyai kemampuan untuk itu. Dengan inisiasi tersebut, praktisi tidak hanya mampu mengakses energi N-AQS—yang kelembutan dan ketinggiannya berada triliunan kali lipat di bawah quark—, tetapi ia juga telah mengalami evolusi spiritual pada tubuh ruh dan tubuh jiwanya. Dengan kemampuan tersebut beserta tubuh-tubuh suci dari ruh maupun jiwa, seorang praktisi diharapkan untuk terus melakukan pemurnian dirinya secara terus-menerus dari pengaruh kuasa gelap (iblis), karma negatif, dan emosi-emosi negatif.

Seiring dengan semakin murni diri kita, percikan Nur-Nya pun akan semakin sempurna menyatu dalam diri kita.

Inilah teknologi spiritual yang dapat menjelaskan mekanisme kehidupan yang melibatkan bagian-bagian tubuh (fisik maupun nonfisik) dan alam semesta, di mana ditemukan mekanisme serupa yang melibatkan bagian-bagian alam (makrokosmos) . Hanya saja untuk memetakan persamaan ini dengan lengkap dan rinci dalam satu buku maupun kitab adalah sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karenanya, kita diminta untuk berusaha mencoba, meneliti dan mengalaminya sendiri. Dengan N-AQS, kita dapat menemukan sendiri persamaan makrokosmos dengan mikrokosmos diri kita dan menemukan jati diri kita.

Kesimpulan saya, N-AQS tidak bertentangan dan memang tidak perlu dipertentangkan dengan ajaran agama mana pun. Sebagai metode ilmiah dengan penekanan pada penggalian hakikat semesta dan diri, N-AQS merupakan sistem spiritual yang universal yang dapat dipelajari dan dipraktikkan oleh siapa pun dengan latar belakang kepercayaan dan agama apa pun. Dengan belajar N-AQS seorang praktisi tidak dituntut untuk menanggalkan agama yang telah ia anut. Dengan pemahaman mendalam dan praktik yang tepat terhadap metode N-AQS, justru akan dapat menambah keimanan dan kualitas kedekatan kita dengan Sang Khaliq.

N-AQS adalah berkah bagi para pencari. Inilah metode revolusioner dalam dunia spiritual yang tidak hanya dapat diverifikasi secara ilmiah, namun juga telah terbukti dapat membantu dalam menyeimbangkan hidup praktisinya. Selamat datang di dunia penuh keajaiban. Semoga Allah senantiasa membimbing dan meridhai jalan kita menuju-Nya. Amin.

Evolusi Spiritual eps : INSAN KAMIL 2

Setiap agama mewajibkan umatnya untuk selalu menjalankan semua aturan main yang jelas, baku , dan bahkan cukup kaku yang tersusun pasti dalam apa yang disebut dengan “Kitab Suci” atau ayat-ayat qauliyah dari Tuhan. Pengakuan keimanan terhadap suatu agama menuntut sang pemilik iman untuk selalu menjadikan aturan main itu sebagai praktik hidupnya menuju Kehadirat-Nya.

Namun agama juga memberikan ruang yang lebih longgar ketika ia mengharap dari setiap umatnya untuk terus menggali dan mengeksplorasi alam semesta (makrokosmos) dan diri (mikrokosmos) yang merupakan ayat-ayat kauniyah dari Tuhan. Yang kedua ini tentunya bersifat lebih universal, karena semesta ini bukanlah monopoli satu keyakinan agama.

Para ilmuwan, terutama para fisikawan, percaya bahwa alam memiliki satuan fundamentalnya sebagai building block bagi struktur keseluruhan alam semesta. Mereka selalu menyebut satuan fundamental alam ini sebagai atom yang diyakini sebagai satuan terkecil yang tak dapat dibagi-bagi lagi. Dengan demikian, mereka menyakini bahwa komponen dunia paling dasar bersifat materi (fisik), berupa atom. Mereka sama sekali tak memberikan ruang bagi realitas-realitas spiritual (metafisik) untuk dipercaya keberadaanya, karena tidak dapat diobservasi secara indrawi.

Namun penelitian-penelitian di bidang fisika quantum telah menggugat pandangan materialistik tersebut. Dikatakan bahwa dalam setiap atom memiliki ruang yang luas dan kosong nonmateri yang terbentang antara inti atom dan orbitnya.

Jadi, ketika kita berbicara tentang keilmiahan metode N-AQS, maka itu berarti kita sedang berbicara dengan sudut pandang yang menyatakan bahwa ternyata semesta tidak hanya berdimensi tunggal, namun di balik dunia materi ini terbentang dunia nonmateri yang lebih luas. Dan, N-AQS akan lebih banyak bermain di ranah tersebut.

Kembali kepada pembahasan ayat-ayat Tuhan yang qauliyah dan yang kauniyah. Dengan pemetaan yang jelas terhadap kapling keduanya, maka dapat saya katakan bahwa secara subtansi (begitu pun dengan detail praktiknya) metode N-AQS tidak dapat dan memang tidak perlu dipertentangkan dengan agama. Sebagai metode pengembangan diri berbasis semesta, N-AQS tidak menyalahi aturan main agama mana pun. N-AQS juga bukan agama dan tidak terkait secara eksklusif dengan agama tertentu. Meskipun jika kita mau mencari basis teologisnya, maka kita dapat menemukan akarnya pada setiap agama, yang mana telah memberikan kita kesempatan untuk terus menggali dan mengungkap lebih jauh rahasia semesta dan diri kita sendiri dan mengembangkannya ke arah yang lebih positif agar kita dapat mengenal (makrifat) Tuhan dengan lebih baik. Siapa yang mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhanya.

Jelas sekali bahwa pengenalan diri secara sempurna dapat menjadi sarana untuk mengenal-Nya. Ini tentu terkait dengan hakikat manusia sempurna yang akan saya coba paparkan secara detail dari sudut pandang teologis mulai dari pembahasan struktur manusia, Insan Ilahi, dan Iblis sebagai musuh nyata. Selanjutnya, konsep-konsep yang saya sebut teologis tersebut akan saya bandingkan dengan konsep N-AQS sebagai wujud dari penggalian dan pengembangan diri dan ayat semesta.

Komposisi dan Struktur Manusia

“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menurut citra-Nya” (H.R. Bukhari dan Ahmad)

Struktur manusia adalah struktur berbagai alam dan bagian-bagiannya. Tentu saja hal ini tidak dalam bentuk penampakannya, tapi lebih pada unsur-unsur penyusunnya, interrelasinya, dan mekanisme hukum yang berlaku di dalamnya di mana alam yang dimaksud tidak hanya meliputi alam fisik indrawi tapi juga alam-alam atas (dimensi halus).

Dalam garis besarnya, struktur manusia terdiri dari tiga aspek: Ruh, Jiwa/Nafsu, dan Jasmani.

Jasmani manusia terbentuk dari berbagai komponen dan unsur yang sanggup ‘membawa’ dan mempertahankan ruh dan jiwanya, yang kemudian menjadi suatu tubuh berpostur yang memiliki wajah, dua tangan dan kaki, serta bisa beraktivitas. Unsur-unsur jasmani tersebut adalah unsur yang sama dengan unsur makrokosmos yaitu air, udara, api dan tanah. Hal ini terlihat dari proses penciptaan jasmani Nabi Adam as yang dilukiskan melalui tahapan ath-thiin (tanah liat kering) dan shalshal (lumpur hitam) di mana kedua jenis tanah liat tersebut merupakan hasil dari perubahan empat unsur tanah, air, udara dan api. (Q.S. Al-Hijr [15]: 28) Bagi anak-cucu Nabi Adam as, proses tersebut tidak transparan lagi karena jasmani mereka terbentuk dalam rahim ibu melalui tahapan-tahapan nuthfah (sperma), ‘alaqah (segumpal darah) dan mudhghah (segumpal daging). (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 12-14) Meski begitu secara hakiki jasmani anak-cucu Adam tetap berasal dari empat unsur tersebut dan akan kembali ke bentuk unsur dasar itu.

Jika diperhatikan lebih jauh, mekanisme kehidupan yang melibatkan bagian-bagian tubuh, akan ditemukan persamaan dengan mekanisme serupa yang melibatkan bagian-bagian alam (makrokosmos) . Hanya saja untuk memetakan persamaan ini dengan lengkap dan rinci, andai pun kita diberi usia yang cukup panjang sampai berabad-abad, tidak akan tuntas untuk menguraikannya. Oleh karenanya, kita diminta untuk berusaha mencoba sendiri meneliti apa yang kita saksikan. Dengan begitu kita dapat menemukan sendiri persamaan makrokosmos dengan mikrokosmos diri kita.
Kemudian manusia juga memiliki Ruh yang merupakan jauhar atau subtansi, yaitu yang berdiri sendiri, tidak berada di tempat mana pun dan juga tidak bertempat pada apa pun. Ruh adalah alam sederhana yang tidak terformulasi dari berbagai unsur (materi) sehingga tidak mengalami kehancuran sebagaimana benda materi. Karena itu, kematian bagi manusia sesungguhnya hanyalah kematian tubuh di mana yang hancur dan terurai kembali ke asalnya adalah tubuh, sedangkan ruh tidak akan hilang dan tetap eksis.

Jadi, hakikat (jauhar) seorang manusia adalah ruhnya. Sesuatu itu disebut jauhar bila ia merupakan substansi dari bentuk-bentuk material. Tapi meski begitu, jauhar bukanlah bagian dari alam material, artinya jauhar itu tidak terdiri dari unsur-unsur materi.

Ruh sebagai jauhar/subtansi dan jasad sebagai jism/materi. Ruh yang memiliki kehendak dan pengetahuan, sedangkan jasad bisa menjadi alat bagi ruh untuk mewujudkan suatu kehendak di alam ciptaan/materi.

Tapi ketika ruh dilekatkan pada jasad, maka muncullah kekuatan-kekuatan diri seperti penglihatan, pendengaran, gerakan, pikiran dan sebagainya sejalan dengan proses pertumbuhan manusia. Kekuatan-kekuatan yang muncul kemudian inilah yang disebut dengan Jiwa, yang sering didefinisikan sebagai sifat dan aksiden yang mewujud seiring dengan bertemunya jauhar dan jism.

Pertemuan antara ruh dengan jasad ini sebenarnya adalah proses yang membutuhkan waktu di mana ruh yang melakukan eksplorasi terhadap jasad sehingga dari struktur alamiah jasad atau materi tersebut, ruh akan berusaha mencari suatu bakat ketika ia sanggup menguasainya. Proses alamiah yang bersifat material inilah yang menjadikan jiwa mamiliki dua sisi; positif dan negatif; yin dan yang. Satu sisi menuju alam ruh (alam tinggi, alamu’ a’la) dan sisi lain menuju alam bawah (rendah, alam materi) di mana dia diperintah agar memelihara dua sisi yang saling berseberangan ini. Dari sisi yang menuju alam tinggi ia mirip dengan malaikat bahkan bisa lebih tinggi dalam berbagai keutamaan dan kedekatan dengan Tuhannya. Sedangkan sisi yang menuju alam bawah membuatnya mampu berinteraksi dengan alam bawah yang terformulasi dari unsur materi (alam fisik). Penguasaan jiwa terhadap alam materi tersebut adalah melalui tubuh fisik (jism).

“Dan demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan (negatif) dan ketakqwaan (positif)-nya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams [91]:7-10)

INSAN KAMIL, ABDULLAH, & KHALIFATULLAH

Sebagaimana kita tahu bahwa Tuhan pada level Dzat adalah Absolut (mutlak) dan tidak mungkin kita pahami. Karena Dia beyond dimensi ruang dan waktu serta alam semesta (inilah yang dalam hadis qudsi Tuhan berfirman: “Aku adalah Harta Karun terpendam, dan aku cinta untuk dikenal, maka Kuciptakan Alam semesta”). Tuhan sebagai Dzat sangatlah tinggi. Dia tidak bisa dilukiskan bagaimana dan seperti apa. Dia hanya bisa diketahui secara negatif, yakni Dia tidak sama dengan apa pun selain-Nya. Dia berbeda dengan apa pun yang kita bayangkan. Hal ini karena, menurut para sufi, pada level tersebut, Tuhan belum lagi menjadi entitas (ghair muta’ayyan). Pada level ini, Tuhan bahkan belum bersifat personal dan belum punya kaitan apa pun dengan alam (bandingkan dengan konsep Impersonal God dalam Budha!).

Namun, pada level sifat atau tahap ta’ayun (proses menjadi entitas), Tuhan tidak lagi sebagai Dzat yang tidak dapat didekati, tetapi sudah bersifat personal dan bisa dikenal secara lebih positif. Konsep Tuhan pada tahapan inilah yang pada umumnya kita kenal, yaitu Tuhan yang memiliki identitas atau sifat-sifat tertentu.

Menurut para sufi, sifat-sifat Tuhan ini punya kaitan yang tak terpisahkan dengan alam, terutama manusia. Karena menurut mereka, sifat-sifat itu tidak lain daripada prototipe atau arketipe dari apa pun yang ada di alam semesta. Dia laksana bentuk terhadap materi atau jiwa, yaitu inti dari keseluruhan manusia. Apa pun yang ada di alam semesta ini adalah manifestasi (tajalliyat) dari sifat-sifat Tuhan tersebut. Inilah makanya alam semesta disebut sebagai cermin, yang dengannya Tuhan melihat gambar diri-Nya.

Setiap tingkat eksistensi makhluk mencerminkan sifat-sifat tertentu Tuhan. Semakin tinggi tingkat suatu wujud semakin banyak sifat-sifat Tuhan yang dipantulkannya. Dan, semua ini berpuncak pada diri manusia yang diciptakan dalam sebaik-baik bentuk (ahsan at-taqwim) atau diciptakan dalam bentuk atau citra-Nya (ala shuratihi).

Seperti telah saya singgung sebelumnya, manusia disebut “mikrokosmos” karena pada diri manusia terkandung seluruh unsur kosmik, dari mulai tingkat mineral sampai tingkat manusia. Bahkan manusia juga mempunyai unsur spiritual, nonmateri. Apabila masing-masing tingkat wujud tersebut memantulkan sifat-sifat tertentu dari Tuhan, alam semesta secara keseluruhan merupakan cermin Tuhan, maka manusia yang memiliki unsur alam semesta berpotensi untuk memantulkan seluruh sifat-sifat ilahi.

Jadi, secara potensial manusia dapat mencerminkan sifat-sifat Tuhan, dan pencerminan itu bisa menjadi aktual saat manusia berhasil mengoptimalkan seluruh potensi kemanusiaannya. Manusia akan mampu memantulkan semua sifat-sifat Tuhan ketika ia telah mencapai tingkat kesempurnaannya, yakni ketika ia mencapai derajat “paripurna” atau insan kamil. Karena kemampuannya memantulkan sifat-sifat keilahian, ia disebut dengan KHALIFATULLAH. Dan ini sama sekali tidak berarti bahwa kita menaikkan derajat manusia menjadi Tuhan. Karena Tuhan tetap Tuhan dan Manusia tetap hamba-Nya yang harus menjalankan tugasnya sebagai wakil Tuhan di dunia.

Bagaimanakah proses kesempurnaan itu terjadi dalam diri manusia? Berikut saya akan coba memetakan prosesnya sesuai ajaran tasawuf yang saya tahu.

Dalam dunia tasawuf, dikenal konsep Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad (dalam setiap agama mungkin mempunyai istilah yang berbeda). Ia adalah ciptaan awal (yang pertama kali diciptakan oleh Allah). Kemudian dari percikan Nur inilah ruh (jauhar/subtansi) manusia berasal.

Ruh insani yang merupakan subtansi dari diri manusia ini berbeda dengan Ruhul Qudus. Dalam diri manusia yang telah disempurnakan Allah sebagai manusia paripurna (insan kamil) terdapat percikan  Nurun ‘Ala Nuurin ‘Cahaya yang berlapis-lapis,’ inilah yang disebut dengan Ruhul Qudus. Ruhul Qudus juga bukan malaikat Jibril as, seperti pendapat beberapa ahli tafsir selama ini. Jibril disebut sebagai Ruhul Amin, bukan Ruhul Qudus. Sementara Ruhul Qudus inilah yang dalam Al-Qur’an disifati sebagai Ruh min Amr Rabbi, atau Ruh dari Amr Allah (Amr = urusan, tanggung jawab, perintah). Dalam agama Kristen disebut Roh Kudus.

Ketika Allah berkehendak untuk memperlengkapi diri seorang manusia dengan Ruhul Qudus, maka inilah yang menyebabkan manusia dikatakan lebih mulia dari makhluk mana pun juga. “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kamu (malaikat) tersungkur dengan sujud kepadanya.” (Q.S. Shad 38:72)

Para Nabi, sebagai orang pilihan, melewati proses pemurnian ini dengan sangat mudah karena bimbingan dan kehendak-Nya. Karena mereka memiliki misi khusus (risalah) dari Tuhan.

Sedang bagi manusia biasa yang tercipta melalui proses alamiah atas kehendak-Nya, juga diberikan perangkat untuk memperoleh anugerah menjadi KHALIFATULLAH. Ruhul Qudus ini baru akan hadir bila ruh insan dan jiwa telah sempurna berproses. Dalam Islam, kesempurnaan proses ini ditandai dengan terwujudnya Jiwa Hening (nafs al-muthmainnah) di mana ia telah ridha akan semua kehendak Allah dan Allah pun ridha denganya.

“Hai jiwa yang tenang/hening . Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba- Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr [89]:27-30)

Saat manusia mencapai keridhaan inilah semua hijab antara dia dan Tuhan tersibak yang dengan mana ia bisa mengakses Kuasa Tuhan secara sempurna tahap demi tahap hingga pada tahapan di mana Tuhan ridha kepada manusia. Dan Tuhanpun menjadi kasih dan sayang kepadanya.

Fadzkuruni adzkurkum..” (Ingatlah aku, Aku akan mengingatmu, Qs. Al-Baqarah [2]:152). Itulah Dzikir Tuhan kepada hamba.

Tidak henti-hentinya hamba-hamba-Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan melakukan ibadah-ibadah nawafil, hingga Aku mencintainya. Kalau Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar; Aku akan menjadi matanya yang dengannya ia melihat; Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang; Aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia bermohon kepada-Ku, Aku akan mengabulkan permohonannya. Jika ia berlindung kepada-Ku, Aku akan melindungi dirinya” (HR. Bukhari).

Jadi, kurang tepat jika kita mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia di alam semesta secara mutlak. Karena manusia baru menjadi makhluk yang paling mulia jika telah berproses  menyempurnakan jiwanya. Jika belum diproses maka kedudukan manusia bisa lebih rendah dari hewan ternak (lihat Q.S. Al-Furqon [25]: 44).

Pencapaian spiritual manusia hingga mencapai derajat Kesucian Ruhani (Ruhul Qudus) yang secara awam dikatakan sebagai ‘manunggaling kawulo gusti’, atau ‘penyatuan hamba dan Tuhannya’ yang sering dilabelkan pada kaum sufi di seluruh dunia. Hakikat sebenarnya tidaklah demikian, Padahal yang terjadi sebenarnya, adalah (tajalliyat) dari sifat-sifat Tuhan pada derajat tertinggi dari kesucian makhluk sehingga sifat-sifat Tuhan tercermin dengan sempurna. Manusia dipenuhi dengan sifat-sifat yang terpuji (al-haqiqah al-Muhammad). Manusia yang sudah mencapai tingkatan ‘abdihi, hamba-Nya (ABDULLAH). Atau dalam istilah Quraish Shihab sebagai INSAN KAMIL.

Manunggaling kawulo gusti dalam artian penyatuan dzat hamba dengan Dzat Tuhannya, adalah sesuatu yang mustahil. Karena sebagai Dzat, Allah dan makhluk mustahil menyatu. Manusia dengan derajat kesempurnaannya ia tetap merupakan makhluk. Yang terjadi adalah manifestasi (tajalli) sifat-sifat Tuhan pada diri manusia.

Abdul Karim al-Jili dalam kitabnya al-Insan al-Kamil fi Ma’rifati al-Awakhir wa al-Awa’il mengatakan, apabila sifat Allah ber-tajalli pada diri hamba, maka hamba tersebut berenang dalam orbit (falak) sifat tersebut. Kalau sifat ilmu tuhan yang bertajalli pada diri hamba, maka ia akan dapat mengetahui objek-objek ilmunya itu secara komprehensif dari awal sampai akhir. Ia mengetahui sesuatu dari sudut kualitasnya, bagaimana keberadaanya, bagaimana akan jadinya. Mengetahui apa yang belum ada dan apa yang tidak akan ada sejauh belum ada… Jika yang bermanifestasi dalah sifat Tuhan “Al-Razaq”, Maha Pemberi Rezeki, maka pada diri manusia tercermin kuasa yang dapat “mempengaruhi” rezeki di dunia ini. Begitu seterusnya.

Jadi, KHALIFATULLAH dipercaya sebagai wakil Allah di alam semesta (khalifatullah fi al-ardh), selain sebagai segel alam semesta juga sebagai pintu bagi alam semesta untuk melihat Sang Pencipta, mengenal-Nya; kehadiran Keindahan dan Kekuasaan Ilahi yang membayang dalam diri Insan Ilahi merupakan jembatan rahmat (penolong) bagi alam semesta untuk berjalan mengenal-Nya, Insan Ilahi adalah tangan Kepemurahan- Nya (shurratur-Rahmaan) yang membawa seluruh alam semesta menjadi peningkat derajatnya. Inilah amanah yang diembankan kepada insan Ilahi yang dipercaya sebagai ruh dan cahaya kehidupan bagi seluruh alam semesta.

Iblis Sebagai Musuh Nyata

Sujudnya Malaikat kepada Adam, karena dalam diri manusia yang telah disempurnakan- Nya (insan kamil) terdapat apa yang disebut ‘Ruh-Ku’ dalam Q.S. Shad [38]:72 tadi. Malaikat bukan sujud kepada sifat jasadiyahnya Adam. Malaikat akan sujud kepada siapa pun yang dalam dirinya ada pantulan ‘citra’ Allah (yang jelas, fokus, dan tidak blur), yaitu dengan kehadiran Ruh-Nya (Ruhul Qudus) dalam jiwa seseorang.

Sementara Iblis tidak mampu melihat ke dalam inti jiwa manusia tempat Ruhul Qudus disematkan Allah, maka ia melihat Adam tidak lebih dalam dari sekadar tanah yang digunakan sebagai bahan jasadnya, sehingga ia enggan bersujud.

Siapakah Iblis? Ia berasal dari bangsa jin yang telah mencapai tingkat kultivasi tinggi dan tinggal di surga. Ia bahkan dapat berkomunikasi langsung Allah. Namun karena kesombongan dan iri hatinya (Q.S. Shad [38]:76), ia jatuh pada level yang dikutuk Tuhan hingga hari pembalasan.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (Q.S. Jin [72]: 50)

Lalu Allah berkata kepadanya,'” Keluarlah dari surga! kamu itu makhluk yang terkutuk. Kutukan-Ku atasmu berlaku sampai hari pembalasan.” (Q.S. Shad [38]:77-78)

Lalu Iblis mengajukan permintaan kepada Allah agar dapat menggoda manusia sampai akhir zaman. Iblis pun diberi kesempatan untuk hidup sampai batas waktu yang telah ditentukan Allah. (lihat Q.S. Shad [38]: 79-81)

Iblis berkata: Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba- Mu yang mukhlashin (yang termurnikan) .” (Q.S. Shaad [38]: 82-83)

Dalam ayat lain diceritakan bahwa Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menghiasi (perbuatan) mereka di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua. Kecuali hamba-hamba- Mu yang Mukhlash (termurnikan) di antara mereka. Allah Berfirman, “Ini adalah jalan yang lurus, ‘kewajiban’ Aku-lah (menjaganya) . Sesungguhnya hamba-hamba- Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Q.S. Al-Hijr [15]: 39-42)

Dari kisah pembangkangan Iblis di atas, kita tahu bahwa ia dan anak-cucunya telah diizinkan Tuhan untuk melakukan apa pun untuk dapat menyesatkan anak-cucu Adam. Dalam salah satu ayat di atas bahkan Iblis mengatakan bahwa ia akan menghiasi amal perbuatan manusia. Banyak orang yang secara lahiriahnya rajin melakukan ibadah dan amal shaleh, namun keterikatan hatinya telah memberikan peluang bagi Iblis dan anak-cucunya untuk masuk dalam relung hati dan jiwanya dan dalam jangka panjang kesadarannya akan dikuasai dan dikontrol oleh Iblis tersebut. Inilah yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut waswas.

Seperti pengakuan Iblis sendiri, bahwa ia tidak akan mampu mengganggu hamba-hamba Allah yang mukhlashin. Kata mukhlashin bentuk jamak dari mukhlash yang merupakan bentuk pasif (maf’ul) dari khalasha. Jika kita buka kembali kamus bahasa Arab, kita akan temukan arti khalasha adalah murni. Mukhlashin berarti orang-orang yang telah termurnikan. Kata mukhlashin juga dapat diartikan orang-orang terpilih.

Jadi, mukhlashin adalah orang-orang yang telah mencapai pemurnian di mana di dalam diri mereka terdapat percikan Nur-Nya. Karena itu, Ikhlas (dengan I besar) adalah kondisi (maqam) diri yang murni dari semua hal yang negatif, baik emosi negatif, dosa (karma negatif) maupun pengaruh Iblis (mungkin ini arti firman Allah di atas: “…kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat.”). Konsep Ikhlas seperti ini berbeda dengan ikhlas (dengan i kecil) yaitu usaha seorang hamba secara sungguh-sungguh untuk menghilangkan apa pun yang mengikat hatinya, kecuali ridha-Nya. Ketika seorang hamba selalu berusaha untuk ikhlas dan Allah meridha-Nya, maka Allah sendiri yang akan memurnikanya (mukhlashin) dengan penganugrahan percikan Nur-Nya.

Intinya, manusia harus terus waspada agar tidak terkena godaan Iblis. Karena Iblis adalah musuh yang nyata bagi kita. Ia sudah berjanji untuk selalu berusaha sekuat tenaga menyesatkan anak-cucu Adam, agar mereka tidak pernah dapat mencapai “kemurniaan” (kesempurnaan) dan menjadi Manusia Ilahi. Karena di saat manusia mencapai kesempurnaan ini, Iblis tidak lagi mempunyai daya kuasa untuk menggodanya.

Manusia tidak diperbolehkan mempercayai Iblis dan keturunannya, apalagi menjadikan mereka sebagai sekutu. “Patutkah kamu mengambil dia (Iblis) dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?” (Q.S. Al-Kahfi [18]: 50)

Pintu masuk yang paling mudah diterobos iblis ialah keterikatan hati dan jiwa-jiwa negatif yang dominan. Karena itu, ikhlas (tidak ada keterikatan hati) adalah sangat penting dan merupakan syarat utama semua amal ibadah diterima oleh Allah.

Sistem Evolusi Spiritual Ilmiah

Fisika Newtonian (para pengikut Newton ) dan kaum positivis lainya menyatakan bahwa bagian terkecil yang menyusun alam alam semesta ini adalah atom, dan atom lebih dipandang sebagai partikel yang solid ketimbang gelombang ataupun superstring. Dengan demikian, orang menyakini bahwa komponen dunia paling dasar bersifat materi (fisik), berupa atom yang tak dapat dibagi-bagi lagi. Bagi mereka, tak ada tempat bagi realitas-realitas spiritual (metafisik) untuk dipercaya keberadaanya karena tidak dapat diobservasi secara indrawi.

Akan tetapi pandangan alam semesta seperti itu kini telah ditinggalkan oleh ahli-ahli fisika modern. Pandangan bahwa atom adalah partikel telah ditentang dan teori baru bermunculan, seperti “teori gelombang” atau superstring oleh Stephen Hawking. Kepercayaan yang menyatakan atom sebagai elemen terkecil yang tak dapat dibagi-bagi lagi sudah lama ditinggalkan, dan fisikawan baru membagi dunia atom ke dalam lima level, yaitu molekul, atom, inti (nucleus), hadron, dan quark. Atom sendiri terdiri dari nucleus (inti) dan orbit. Dalam inti terdapat dua jenis hadron, yaitu neutron dan proton yang keduanya itu terdiri dari quark-quark. Sedangkan pada orbit adalah elektron.

Yang terpenting dari teori ini adalah adanya ruang lebar yang merentang antara inti atom (nucleus) dan orbitnya (elektron). Dikatakan bahwa dalam potongan kuku kita terdapat jutaan atom, dan setiap atom memiliki ruang yang luas dan kosong yang terbentang antara inti atom dan orbitnya. Menurut Brian Haines dalam bukunya God’s Wishper and Creation’s Thunder, jika kita dapat memperbesar inti atom hingga terlihat sebesar kelereng, maka letak elektronya di orbit adalah sejauh 300 meter lebih. Itu artinya ada ruang kosong nonmateri yang merentang luas antara inti dan orbit atom. Jadi, bagian terbesar atom adalah nonmateri, ketimbang materi seperti klaim Newtonian.

Yang lebih menarik, seperti disebutkan Haines, bahwa seandainya kita bisa memadatkan seluruh atom yang ada di tubuh kita, dengan (misalnya) menarik elektron ke dalam inti atom, kita akan tereduksi menjadi hanya seukuran ujung pensil yang sangat lancip. Jika bumi kita dipadatkan seperti di atas, ia akan tereduksi menjadi seukuran kelereng.

Realitas quantum ini bagi saya merupakan kritik yang sangat signifikan bagi pandangan positivisme yang menganggap alam semesta ini tak lebih hanya materi, sehingga mereka kehilangan pijakannya. Mereka keliru dengan menganggap dunia yang luas ini hanya berdimensi tunggal dan itu materi. Kenyataannya adalah bahwa bagian terbesar dari semesta ini adalah nonmateri.

Nah, jika konsep ilmiah ala quantum ini diterima, maka kita akan dapat menerima keilmiahan metode N-AQS. Dalam metode N-AQS proses pencapaian kesempurnaan manusia dilalui secara alami dalam dunia quantum (nonmateri). Dengan energi yang sangat tinggi dan halus hingga mencapai triliunan level di bawah quark, evolusi spiritual manusia dapat dilakukan dengan sangat singkat.

Dalam konsep N-AQS, secara garis besar tubuh manusia juga terdiri dari tubuh fisik (jasmani), tubuh ruh (jauhar/subtansi), dan tubuh jiwa. Dengan energi yang spesifik, ketiga tubuh tersebut dimurnikan dari semua yang mengotorinya seperti, pengaruh kuasa gelap (iblis), karma negatif, dan emosi negatif. Pemurniaan ini disebut dengan kultivasi atau evolusi spiritual.

Kultivasi ruh dalam tradisi Timur dilakukan dengan melatih kundalini. Dengan energi N-AQS yang sangat spesifik, tidak memerlukan untuk mengolah kundalini. Ketika Energi Nurun ‘Ala Nuurin telah mengkultivasi cakra mahkota, maka tabir atau hijab yang selama ini menghalangi diri kita dengan cahaya atau kuasa ilahi akan terbuka. Dengan terbukanya tabir tersebut, kita akan dapat mengakses kuasa ilahi untuk membantu memurnikan ruh kita (beberapa aliran reiki dengan salah kaprah menyakini bahwa energi atau kuasa ilahi ini dapat diakses hanya dengan membuka cakra mahkota. Karenanya, mereka dengan sangat mudah mengidentikkan energi reiki dengan energi ilahi, padahal hakikatnya tidak demikian). Saat ruh telah disempurnakan, saat itulah terjadi evolusi spiritual, di mana ruh kita mencapai tingkatan ruh suci.

TINGKATAN RUH

Alam Rûh (Nafs)
Lâhût Rûh al-Quds Sirr
Jabarût Rûh as-Sulthany Fu’ad
Malakût Rûh ar-Rûhâny Qalbu
Mulki Rûh al-Jismâny Rûh

Kultivasi berikutnya adalah jiwa. Sama dengan konsep jiwa dalam tradisi tasawuf dan teologi yang telah saya singgung di atas, N-AQS juga menyebut jiwa sebagai padanan karakter atau sifat . Manusia mempunyai jiwa atau sifat yang sangat banyak, ada yang positif dan ada yang negatif. Dengan mengembangkan jiwa positif (akhlaq terpuji) berarti kita sedang menyiapkan diri untuk menerima tajalli atau manifestasi dari sifat-sifat Tuhan. Sebaliknya, dengan kita membiarkan jiwa negatif (akhlaq tercela) berkembang (dengan mengikuti nafsu dan ego), maka sama artinya kita membuka pintu untuk masuknya iblis ke dalam diri kita. Sekali ia masuk dalam diri, ia akan terus berusaha menguasai kesadaran kita dan akan menyesatkan kita.

Dalam agama (terutama agama samawi), pemurnian jiwa dilakukan dengan ketundukan total terhadap ajaran Tuhan yang dibawa oleh utusan-Nya. Dengan ketundukan ini, otomatis jiwa negatif pun mengalami pembatasan atau pengekangan pertumbuhannya, sementara jiwa positif terus berkembang seiring dengan keheningan (muthmainnah) dan keikhlasan (terbebas dari keterikatan) hati. Berbanding terbalik dengan perkembangan jiwa-jiwa positif, dengan ketaatan kepada Tuhan, jiwa-jiwa negatif justru semakin melemah dan mengecil.

Dalam N-AQS, dengan energi bervibrasi tinggi dan suci (Nuurun ‘Ala Nuurin) dan spesifik, kultivasi jiwa-jiwa positif dapat dengan mudah dilakukan. Sementara jiwa negatif akan terus melemah atau mengecil seiring dengan level kemurnian jiwa positif .

Tujuh tingkat Jiwa/nafsu menurut ahli tasawuf

  1. Nafsul Amarah
  2. Nafsul Lawwamah
  3. Nafsul Mulhammah
  4. Nafsul Muthmainnah
  5. Nafsul Radhiah
  6. Nafsul Mardhiyah
  7. Nafsul Kamilah

Di N-AQS, proses pencapaian awal INSAN KAMIL didapat dengan proses inisiasi atau attunement yang dilakukan oleh Master yang mempunyai kemampuan untuk itu. Dengan inisiasi tersebut, praktisi tidak hanya mampu mengakses energi N-AQS—yang kelembutan dan ketinggiannya berada triliunan kali lipat di bawah quark—, tetapi ia juga telah mengalami evolusi spiritual pada tubuh ruh dan tubuh jiwanya. Dengan kemampuan tersebut beserta tubuh-tubuh suci dari ruh maupun jiwa, seorang praktisi diharapkan untuk terus melakukan pemurnian dirinya secara terus-menerus dari pengaruh kuasa gelap (iblis), karma negatif, dan emosi-emosi negatif.

Seiring dengan semakin murni diri kita, percikan Nur-Nya pun akan semakin sempurna menyatu dalam diri kita.

Inilah teknologi spiritual yang dapat menjelaskan mekanisme kehidupan yang melibatkan bagian-bagian tubuh (fisik maupun nonfisik) dan alam semesta, di mana ditemukan mekanisme serupa yang melibatkan bagian-bagian alam (makrokosmos) . Hanya saja untuk memetakan persamaan ini dengan lengkap dan rinci dalam satu buku maupun kitab adalah sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karenanya, kita diminta untuk berusaha mencoba, meneliti dan mengalaminya sendiri. Dengan N-AQS, kita dapat menemukan sendiri persamaan makrokosmos dengan mikrokosmos diri kita dan menemukan jati diri kita.

Kesimpulan saya, N-AQS tidak bertentangan dan memang tidak perlu dipertentangkan dengan ajaran agama mana pun. Sebagai metode ilmiah dengan penekanan pada penggalian hakikat semesta dan diri, N-AQS merupakan sistem spiritual yang universal yang dapat dipelajari dan dipraktikkan oleh siapa pun dengan latar belakang kepercayaan dan agama apa pun. Dengan belajar N-AQS seorang praktisi tidak dituntut untuk menanggalkan agama yang telah ia anut. Dengan pemahaman mendalam dan praktik yang tepat terhadap metode N-AQS, justru akan dapat menambah keimanan dan kualitas kedekatan kita dengan Sang Khaliq.

N-AQS adalah berkah bagi para pencari. Inilah metode revolusioner dalam dunia spiritual yang tidak hanya dapat diverifikasi secara ilmiah, namun juga telah terbukti dapat membantu dalam menyeimbangkan hidup praktisinya. Selamat datang di dunia penuh keajaiban. Semoga Allah senantiasa membimbing dan meridhai jalan kita menuju-Nya. Amin.

Evolusi Spiritual eps : INSAN KAMIL

¤ INSAN KAMIL ¤

Diturunkannya Nabi Adam ke dunia bukanlah sebuah hukuman. Namun itu yg memang harus terjadi. Agar manusia dapat melakukan proses evolusi selanjutnya menjadi manusia sempurna Insan Kamil.

INSAN KAMIL Artinya adalah manusia sempurna, berasal dari kata al-insan yang berarti manusia dan al-kamil yang berarti sempurna. Konsepsi filosofid ini pertama kali muncul dari gagasan tokoh sufi Ibnu Arabi. Oleh Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili (1365-1428), pengikutnya, gagasan ini dikembangkan menjadi bagian dari renungan mistis yang bercorak tasawuf filosofis.


Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al Ahzab ayat 21, yang artinya:

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah”.

Nabi Muhammad SAW adalah sebuah contoh manusia ideal. Jati diri Muhammad (al-haqiqah al-Muhammad) yang demikian tidak semata-mata dipahami dalam pengertian Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan, tetapi juga sebagai nur (cahaya) Ilahi yang menjadi pangkal dan poros kehidupan di jagad raya ini. Nur Ilahi kemudian dikenal sebagai Nur Muhammad. Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad.

Nur Muhammad adalah pancaran Nur Allah yang diberikan kepada Para Nabi mulai dari Nabi Adam as sampai dengan Nabi Muhammad SAW, dititipkan dalam dada para Nabi dan Rasul sebagai conductor yang menyalurkan energi Ketuhanan Yang Maha Dasyat dan Maha Hebat. Dengan penyaluran yang sempurna itu pula yang membuat nabi Musa bisa membelah laut, Nabi Isa menghidupkan orang mati dan Para nabi menunjukkan mukjizatnya serta para wali menunjukkan kekeramatannya. Karena Nur Muhammad itu pula yang menyebabkan wajah Nabi Muhammad SAW tidak bisa diserupai oleh syetan.

Nurun ‘Ala Nuurin adalah ikatan spiritual yang sambung menyambung, rantai berantai sampai dengan rohani Rasulullah, karena pancaran yang terus menerus dan yang selalu disalurkan dari Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~ “ Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad, yang diberikanNya pada orang-orang yang dikehendakiNya”

Setelah Rasulullah SAW wafat apakah Nur Muhammad itu ikut hilang?

Tidak! Nur tersebut diteruskan kepada Saidina Abu Bakar Siddiq ra sebagai sahabat Beliau yang utama sebagaimana sabda Nabi:

“ Tidak melebih Abu Bakar dari kamu sekalian dengan karena banyak shalat dan banyak puasa, tetapi (melebihi ia akan kamu) karena ada sesuatu (rahasia) yang tersimpan pada dadanya”

Pada kesempatan yang lain Rasulullah bersabda pula :

“Tidak ada sesuatupun yang dicurahkan Allah ke dadaku, melainkan seluruhnya kutumpahkan pula ke dada Abu Bakar Siddiq”.

Nur Muhammad akan terus berlanjut hingga akhir zaman, dan Nur itu pula yang terdapat dalam diri seorang Mursyid yang Kamil Mukamil yang wajahnya juga tidak bisa diserupai oleh syetan. Memandang wajah Mursyid hakikatnya adalah memandang Nur Muhammad dan sudah pasti memandang Nur Allah SWT.

Nabi SAW bersabda :

La yadhulunara muslimun ra-ani wal man ra-a man ra-ani wala man ra-a man ra-ani ai walau bisab’ina wasithah, fainnahum khulafa-li fi tablighi wal irsyadi, inistaqamu ala syarii’ati.

“Tidak akan masuk neraka seorang muslim yang melihat aku dan tidak juga (akan masuk neraka) yang melihat orang yang telah melihat aku, dan tidak juga (akan masuk neraka) orang yang melihat orang yang telah melihat aku, sekalipun dengan 70 wasithah (lapisan/antara). Sesungguhnya mereka itu adalah para khalifahku dalam menyampaikan (islam/sunahku) mengasuh dan mendidik (orang ramai), sekiranya mereka itu tetap istiqamah didalam syari’atku” (H.R. Al – Khatib bin Abd.Rahman bin Uqbah).

Makna melihat dalam hadist di atas bukan dalam pengertian melihat secara umum, karena kalau kita maknai melihat itu dengan penglihatan biasa maka Abu Jahal dan musuh-musuh nabi juga melihat beliau akan tetapi tetap masuk Neraka. Melihat yang dimaksud adalah melihat Beliau sebagai sosok nabi yang menyalurkan Nur Allah kepada ummatnya, melihat dalam bentuk rabithah menggabungkan rohani kita dengan rohani beliau.

Darimana kita tahu seseorang itu pernah melihat Nabi dan bersambung sampai kepada Beliau? Kalau melihat dalam pengertian memandang secara awam maka para ahlul bait adalah orang-orang yang sudah pasti punya hubungan melihat karena mereka adalah keturunan Nabi.

Akan tetapi karena pengertian melihat itu lebih kepada rabitah atau hubungan berguru, maka yang paling di jamin punya hubungan melihat adalah Para Ahli Silsilah Thariqat yang saling sambung menyambung sampai kepada Rasulullah SAW.

Syukurlah bagi orang-orang yang telah menemukan seorang Guru Mursyid yang silsilahnya bersambung kepada Rasulullah SAW, yang selalu memberikan pencerahan dengan menyalurkan Nur Muhammad sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin, bermohon atas namanya niscaya Allah SWT akan mengabulkan do’a dan dari Mursyid lah Firman Nafsani dari Allah terus berlajut dan tersampaikan kepada hamba-Nya yang telah mendapat petunjuk.

Barulah kita tahu kenapa memandang wajah Mursyid itu bisa mengubah akhlak manusia yang paling bejat sekalipun, karena dalam wajah Mursyid itu adalah pintu langsung kepada Allah SWT.

Makna Insan Kamil
Pertama, insan kamil dalam pengertian konsep pengetahuan mengenai manusia yang sempurna. Dalam pengertian demikian, insan kamil terkail dengan pandangan mengenai sesuatu yang dianggap mutlak, yaitu Tuhan. Yang Mutlak tersebut dianggap mempunyai sifat-sifat tertentu, yakni yang baik dan sempurna. Sifat sempurna inilah yang patut ditiru oleh manusia. Seseorang yang makin memiripkan diri pada sifat sempurna dari Yang Mutlak tersebut, maka makin sempurnalah dirinya.

Kedua, insan kamil terkait dengan jati diri yang mengidealkan kesatuan nama serta sifat-sifat Tuhan ke dalam hakikat atau esensi dirinya. Dalam pengertian ini, nama esensial dan sifat-sifat Ilahi tersebut pada dasarnya juga menjadi milik manusia sempurna oleh adanya hak fundamental, yaitu sebagai suatu keniscayaan yang inheren dalam esensi dirinya. Hal itu dinyatakan dalam ungkapan yang sering terdengar, yaitu Tuhan berfungsi sebagai cermin bagi manusia dan manusia menjadi cermin bagi Tuhan untuk melihat diri-Nya.

Manusia dapat mencapai jati diri yang sempurna melalui latihan rohani dan pendakian spiritual, bersamaan dengan turunnya Yang Mutlak ke dalam manusia melalui berbagai tingkat (Evolusi Spiritual).

Iqbal melihat, insan kamil dicapai melalui beberapa proses.

  1. Ketaatan pada hukum, disiplin pada jalan atau latihan ruhani yang ditempuhnya.
  2. Penguasaan Diri sebagai bentuk tertinggi Kesadaran Diri tentang pribadi.
  3. Kekhalifahan Ilahi (Khalifatullah fil ardli).

Diri (nafs) kita yang hakiki dalah diri yang berwujud ruh (jiwa). Tubuh biologis kita hanyalah cangkang atau wadah bagi diri kita yang sesungghnya, yaitu ruh. Di dalam rûh ada qalbu, di dalam qalbu ada fuâd dan di dalam fuad ada sirr. Sirr adalah rahasia. Sirr berisi rahasia-rahasia Allah untuk orang itu berupa sifat-sifat Allah, rencana dan takdir Allah. Sirr terhubung langsung dengan Allah SWT.

Qalbu adalah lubb bagi ruh. Intinya ruh adalah qalbu, intinya qalbu adalah fu’ad, dan intinya fuad adalah sirr. Sirr adalah inti dari segala inti, yang mengandung rahasia dari segala rahasia, sehingga disebut Sirr al-Asrar (secret of the secrets). Namun untuk tahap permulaan mempelajari tashawuf cukuplah orang memahami ruh dan intinya saja, yaitu qalbu.

Di dalam Qalbu Seorang Insan menampung dua sifat :
1. Raja/khalifah/Aku/Materi ►  karakter dari Hawa Nafsu (EGO)
2. Hamba/abdi/Anti Materi ► karakter dari Ruhaniah

Proses Kultivasi (Tazkiyatun Nafs) terjadi Ketika Nafsu dipertemukan dengan Ruh dan direaksikan dengan Nuurun ‘ala Nuurin di dalam tabung reaksi yang di sebut Qalbu. Di dalam proses kimiawi spiritual yang disebut Meditasi/Dzikir. Maka struktur kimiawi spiritual manusia tersebut akan berubah menjadi seorang Manusia Cahaya. Lahirlah jati diri seorang manusia baru yang disebut INSAN KAMIL. Manusia yang sempurna lahir bathin, manusia yang telah diresapi oleh sifat-sifat Allah di dalam dirinya. Sifat kehambaannya berubah menjadi hamba Allah (Abdullah) dan sifat Rajanya berubah menjadi Khalifatullah. Orbit diri dan inti dirinya hanyalah Allah semata.

“Kemana pun engkau menghadap, disanalah Wajah Allah.”(Al-Baqarah 115)

Q.S. Al A’raaf , Ayat 205 :
“ Sebutlah Tuhanmu dalam hatimu, serta merendahkan diri dan tunduk, dan bukan dengan suara terdengar, waktu pagi dan petang hari, dan janganlah engkau termasuk orang yang tidak berdzikir (tida ingat = lalai)”

(HR. Abu Daud)
Tak dapat memuat Zat-KU, Bumi dan Langit-Ku, yang dapat memuat Zat-KU ialah hati hamba-KU yang mu’min, lunak dan tenang

(HR. Ahmad dari Wahab bin Munabbih)
Sesungguhnya langit dan bumi tak berdaya menjangkau-KU, namun Aku telah dijangkau oleh hati seorang mu’min (Yang Kukasihi)

Resonansi dari Qalbu yang baik itulah kelembutan akan muncul. Bagaikan buluh perindu yang akan menghasilkan suara merdu ketika ditiup. Kenapa? Karena hati yang lembut bagaikan sebuah tabung resonansi yang bagus. Getarannya menghasilkan frekuensi yang semakin lama semakin tinggi. Semakin lembut hati seseorang, semakin tinggi frekuensinya. Pada frekuensi 10 pangkat 8, maka akan menghasilkan gelombang radio. Dan jika frekuensinya lebih tinggi misal 10 pangkat 14, maka akan menghasilkan gelombang cahaya (Mustofa, 2008:153).

Jati Diri yang sempurna Al-Insan Kamil itu bertingkat (berderajat) yang disebut Maqom (Tingkatan derajat), level kesempurnaan ini bertingkat bersamaan dengan turunnya Yang Mutlak ke dalam manusia melalui berbagai tingkat di dalam Evolusi Spiritualnya. Manusia Sempurna Absolut itu tidak ada, karena kesempurnaan yang paling Absolut hanya dimiliki oleh Allah Yang Maha Sempurna.

LAMPIRAN :

1. Teori Annihilasi, proses pengubahan materi menjadi cahaya

Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi. Dan jika materi dipertemukan atau direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bakal lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gama (Mustofa, 2006:20).

Hal ini telah dibuktikan di laboratorium nuklir masih dalam buku yang sama (2006:20), bahwa jika ada partikel proton dipertemukan dengan antiproton, atau elektron dengan positron sebagai antielektronnya, maka kedua pasangan partikel tersebut akan lenyap dan memunculkan dua buah sinar gama, dengan energi masing-masing 0,11 MeV untuk pasangan elektron dan 938 MeVuntuk pasangan partikel proton.

Sebaliknya, jika ada seberkas sinar Gama yang memiliki energi sebesar itu dilewatkan medan inti atom, maka tiba-tiba sinar tersebut lenyap berubah menjadi dua buah pasangan partikel seperti di atas. Hal ini menunjukan bahwa materi memang bisa berubah menjadi cahaya dengan cara tertentu, yang disebut sebagai reaksi Annihilasi.

2. Anti materi

Ini bukan fiksi. Di jagad raya ini ada sesuatu yang disebut antimateri. Tidak seperti namanya, antimateri ini materi juga, cuma muatan listriknya berkebalikan dengan muatan listrik materi. Kalau elektron materi bermuatan negatif, maka elektron antimateri bermuatan positif. Proton materi bermutaan positif, sedangkan proton antimateri bermuatan negatif. Meski neutron secara teori bermuatan listrik netral, muatan neutron antimateri dan materi berkebalikan juga.

Bagaimana kalau antimateri dan materi yang muatan listriknya berkebalikan itu bertemu atau bersentuhan? Bisa ditebak, keduanya akan menimbulkan energi, persis seperti kabel negatif dan positif listrik bertemu. Bedanya, akibat pertemuan itu, dua macam zat itu akan musnah tanpa sisa. Jadi, begitu kedua zat itu bersentuhan, akan timbul ledakan yang akan mengubah seluruh zat itu menjadi energi seluruhnya, tanpa sisa. Booom….lenyap. Tak ada arang, abu, atau asap. Semuanya menjadi nihil. Para fisikawan menyebut fenomena ini sebagai anihilisasi.

Ini bukan cerita fiksi, lo. Adanya pengamatan dan penemuan antimateri membuktikan kebenaran teori relativitas Enstein: E=MC kuadrat. Bagi Enstein, materi adalah energi yang terperangkap. Kalau perangkapnya dilepas, materi akan berubah menjadi energi. Pertemuan materi dan antimateri adalah materi adalah pelepasan perangkap itu. Berhubung seluruh materi dan antimateri berubah menjadi tenaga, maka energi yang timbulpun luar biasa dahsyat, melebihi energi yang dihasilkan fusi nuklir seperti yang terjadi pada matahari.

Menurut teori, antimateri lahir di jagad raya ini bersamaan dengan materi, persis beberapa detik setelah big bang alias dentuman besar. Kebanyakan fisikawan percaya big bang adalah awal mula lahirnya alam semesta. Kitab-kitab suci mengatakan bahwa Tuhan menciptakan sesuatu secara berjodoh-jodoh, seperti siang-malam. Meski tak melulu percaya pada kitab suci, para fisikawan juga percaya bahwa jumlah antimateri yang tercipta pada saat big bang mestinya sama persis dengan jumlah materi.

Masalahnya sekarang: kok tidak ada antimateri dekat-dekat sini. Kalau ada, tentu bakal kita lihat ledakan di mana-mana, bukan? Benar, sebagian besar antimateri itu sudah sirna karena bertemu dengan materi yang menjadi saudara kembarnya. Tapi, mestinya, kalau sekarang masih ada sisa materi (termasuk tubuh kita), mestinya masih ada pula sisa antimateri yang jumlahnya seimbang.

Kenyataan itu sempat menggoyahkan teori tentang keberadaan antimateri. Sampai suatu ketika, ada pengamatan sahih yang membuktikan antimateri itu ada. Asal tahu saja, di antara berbagai cahaya dan partikel yang menerpa bumi, terdapat partikel-partikel yang berembus tidak hanya dari atas (langit) tapi dari seluruh arah. Melihat arah terpaanya, partikel seperti itu bukan berasal dari matahari, ledakan bintang, atau pancaran galaksi lain. Para fisikawan yakin partikel itu merupakan sisa-sisa big bang.

Benar saja, sebagian partikel yang menerpa kita itu ternyata merupakan elektron. Cuma, setelah diamati, elektron itu bermuatan positif alias antielektron. Orang menyebutnya positron. Keberadaan antielektron ini bisa terdeteksi lantaran muncul ledakan-ledakan kecil begitu antielektron itu bersentukan dengan elektron atmosfir yang bermuatan positif. Meski begitu sebagian elektron itu bisa ditangkap dan diteliti di laboratorium. Orang pun bisa menciptakan antielektron.

Kini, beberapa alat kedokteran menggunakan positron untuk melakukan diagnosa. Caranya, positorn yang dicampur dengan zat cair tertentu disuntikkan ke jaringan tubuh. Berhubung antielektron-antielektron itu bersentukan dengan elektron yang ada pada zat cair yang menyelimutinya, maka muncul ledakan-ledakan sepanjang aliran zat itu dalam tubuh. Ledakan-ledakan itulah yang menghasilkan pancaran sinar gamma. Nah, radiasi sinar gamma itulah yang kemudian bisa dipantau dokter lewat monitor.

Kalau ada penyumbatan-penyumbatan pembuluh darah di bagian-bagian tertentu yang berbahaya untuk dideteksi dengan sinar rontgen, seperti otak misalnya, cara ini sangat membantu. Tak ada sisa kecuali zat cair yang mengantar antielektron masuk tubuh. Karena proses anihilisasi, antielektron yang masuk tubuh akan musnah bersama dengan elektron yang ada dalam zat cair tadi. Ledakan yang terjadi juga bisa disetel tidak berbahaya karena pertemuan antielektron dan elektron tidak sampai menghasilkan energi yang bisa merusak jaringan tubuh.

Manusia, melalui sebuah upaya laboratorium juga bisa menciptakan antiproton dan antineutron. Itu berarti tinggal satu langkah lagi bagi manusia bisa menciptakan sebuah antiatom. Bagaimana sebuah antimateri tercipta? Di sinilah letak kebesaran Tuhan atau siapapun namanya. Bukan sulap-bukan sihir, antimateri dan materi tercipta begitu saja dari sebuah ledakan energi yang dahsyat. Melalui ledakan seperti big bang sebuah antimateri dan materi tiba-tiba ada begitu saja, entah darimana asalnya.

Para fisikawan eksperimen pun berupaya menciptakan sebuah big bang buatan. Ledakan sekelas big bang hanya bisa terjadi kalau sebuah partikel ditembakkan dengan kecepatan cahaya pada partikel lain. Agar bisa menembakkan partikel dengan kecepatan itu, perlu sebuah alat yang disebut akselerator. Melalui alat itu, para fisikawan menembakkan satu buah partikel dengan kecepatan cahaya pada sebuah lempengan baja (atau apa gitu….).

Booommmmm…..dalam tempo sepersekian detik setelah ledakan itu…. muncullah secara ajaib antimateri dan materi baru….Subhanallah…!!! Namun, pada saat yang sama mula, dua zat yang baru lahir itu bersentuhan sehingga keduanya lenyap seraya menimbulkan ledakan baru. Ledakan baru itupun menghasilkan materi dan antimateri baru. Begitu terus menerus berulang-ulang, sampai ledakan yang tercipta tak mencapai ambang batas untuk menimbulkan materi dan antimateri baru.

Untungnya, sebelum semuanya lenyap para fisikawan berhasil menawan sebuah antimateri dan mengamankannya agar tak bersentuhan dengan materi sehingga tidak sampai sirna. Dengan teknik pemanfaatan medan magnet, sebuah antimateri bisa dibikin mengambang dalam sebuah tabung yang vacum.

Banyak orang bermimpi mulia, proses pelenyapan antimateri dan materi lewat sebuah ledakan bisa menjadi alternatif energi paling aman. Tak ada polusi karena ledakan itu menghasilkan energi secara sempurna. Dalam kisah Star Trek, pesawat Enterprises diceritakan berbahan bakar antimateri.

Sayangnya, menurut para fisikawan, meski antimateri bisa diciptakan, nilai ekonomisnya tidak sebanding dengan energi yang dihasilkannya. Untuk menciptakan sebutir anti proton, perlu ongkos jutaan dolar. Mereka bahkan pesimis semaju apapaun teknik penciptaan antimateri, nilai ekonomisnya tak akan tercapai. Sekadar gambaran, seluruh antimateri yang tercipta lewat eksperimen selama duapuluh tahun terkahir ini paling-paling hanya cukup untuk menyalakan sebuah bola lampu 100 watt selama 3 menit. Antimateri akan menjadi energi alternatif kalau kita bisa menemukan sebuah tambang antimateri di sebuah pojok jagad raya.

Sia-siakah penemuan dan pembuktian keberadaan antimateri? Bagi saya, tidak. Pembuktian adanya antimateri menjadi sebuah titik terang untuk kembali melacak asal-usul. Mungkinkah ada hubungan antara sedikitnya antimateri yang tersisa di jagad raya dengan keberadaan makluk hidup? Mungkinkah, energi yang membuat jantung berdetak dan pada gilirannya mengalirkan darah ke seluruh tubuh merupakan hasil pertemuan antar antimateri dan materi? Jangan-jangan, selain 90 kg materi, saya juga terdiri 90 kg antimateri?

by. MAJELIS NAQS

>Evolusi Spiritual eps : INSAN KAMIL

>

¤ INSAN KAMIL ¤

Diturunkannya Nabi Adam ke dunia bukanlah sebuah hukuman. Namun itu yg memang harus terjadi. Agar manusia dapat melakukan proses evolusi selanjutnya menjadi manusia sempurna Insan Kamil.

INSAN KAMIL Artinya adalah manusia sempurna, berasal dari kata al-insan yang berarti manusia dan al-kamil yang berarti sempurna. Konsepsi filosofid ini pertama kali muncul dari gagasan tokoh sufi Ibnu Arabi. Oleh Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili (1365-1428), pengikutnya, gagasan ini dikembangkan menjadi bagian dari renungan mistis yang bercorak tasawuf filosofis.


Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al Ahzab ayat 21, yang artinya:

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah”.

Nabi Muhammad SAW adalah sebuah contoh manusia ideal. Jati diri Muhammad (al-haqiqah al-Muhammad) yang demikian tidak semata-mata dipahami dalam pengertian Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan, tetapi juga sebagai nur (cahaya) Ilahi yang menjadi pangkal dan poros kehidupan di jagad raya ini. Nur Ilahi kemudian dikenal sebagai Nur Muhammad. Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad.

Nur Muhammad adalah pancaran Nur Allah yang diberikan kepada Para Nabi mulai dari Nabi Adam as sampai dengan Nabi Muhammad SAW, dititipkan dalam dada para Nabi dan Rasul sebagai conductor yang menyalurkan energi Ketuhanan Yang Maha Dasyat dan Maha Hebat. Dengan penyaluran yang sempurna itu pula yang membuat nabi Musa bisa membelah laut, Nabi Isa menghidupkan orang mati dan Para nabi menunjukkan mukjizatnya serta para wali menunjukkan kekeramatannya. Karena Nur Muhammad itu pula yang menyebabkan wajah Nabi Muhammad SAW tidak bisa diserupai oleh syetan.

Nurun ‘Ala Nuurin adalah ikatan spiritual yang sambung menyambung, rantai berantai sampai dengan rohani Rasulullah, karena pancaran yang terus menerus dan yang selalu disalurkan dari Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~ “ Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad, yang diberikanNya pada orang-orang yang dikehendakiNya”

Setelah Rasulullah SAW wafat apakah Nur Muhammad itu ikut hilang?

Tidak! Nur tersebut diteruskan kepada Saidina Abu Bakar Siddiq ra sebagai sahabat Beliau yang utama sebagaimana sabda Nabi:

“ Tidak melebih Abu Bakar dari kamu sekalian dengan karena banyak shalat dan banyak puasa, tetapi (melebihi ia akan kamu) karena ada sesuatu (rahasia) yang tersimpan pada dadanya”

Pada kesempatan yang lain Rasulullah bersabda pula :

“Tidak ada sesuatupun yang dicurahkan Allah ke dadaku, melainkan seluruhnya kutumpahkan pula ke dada Abu Bakar Siddiq”.

Nur Muhammad akan terus berlanjut hingga akhir zaman, dan Nur itu pula yang terdapat dalam diri seorang Mursyid yang Kamil Mukamil yang wajahnya juga tidak bisa diserupai oleh syetan. Memandang wajah Mursyid hakikatnya adalah memandang Nur Muhammad dan sudah pasti memandang Nur Allah SWT.

Nabi SAW bersabda :

La yadhulunara muslimun ra-ani wal man ra-a man ra-ani wala man ra-a man ra-ani ai walau bisab’ina wasithah, fainnahum khulafa-li fi tablighi wal irsyadi, inistaqamu ala syarii’ati.

“Tidak akan masuk neraka seorang muslim yang melihat aku dan tidak juga (akan masuk neraka) yang melihat orang yang telah melihat aku, dan tidak juga (akan masuk neraka) orang yang melihat orang yang telah melihat aku, sekalipun dengan 70 wasithah (lapisan/antara). Sesungguhnya mereka itu adalah para khalifahku dalam menyampaikan (islam/sunahku) mengasuh dan mendidik (orang ramai), sekiranya mereka itu tetap istiqamah didalam syari’atku” (H.R. Al – Khatib bin Abd.Rahman bin Uqbah).

Makna melihat dalam hadist di atas bukan dalam pengertian melihat secara umum, karena kalau kita maknai melihat itu dengan penglihatan biasa maka Abu Jahal dan musuh-musuh nabi juga melihat beliau akan tetapi tetap masuk Neraka. Melihat yang dimaksud adalah melihat Beliau sebagai sosok nabi yang menyalurkan Nur Allah kepada ummatnya, melihat dalam bentuk rabithah menggabungkan rohani kita dengan rohani beliau.

Darimana kita tahu seseorang itu pernah melihat Nabi dan bersambung sampai kepada Beliau? Kalau melihat dalam pengertian memandang secara awam maka para ahlul bait adalah orang-orang yang sudah pasti punya hubungan melihat karena mereka adalah keturunan Nabi.

Akan tetapi karena pengertian melihat itu lebih kepada rabitah atau hubungan berguru, maka yang paling di jamin punya hubungan melihat adalah Para Ahli Silsilah Thariqat yang saling sambung menyambung sampai kepada Rasulullah SAW.

Syukurlah bagi orang-orang yang telah menemukan seorang Guru Mursyid yang silsilahnya bersambung kepada Rasulullah SAW, yang selalu memberikan pencerahan dengan menyalurkan Nur Muhammad sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin, bermohon atas namanya niscaya Allah SWT akan mengabulkan do’a dan dari Mursyid lah Firman Nafsani dari Allah terus berlajut dan tersampaikan kepada hamba-Nya yang telah mendapat petunjuk.

Barulah kita tahu kenapa memandang wajah Mursyid itu bisa mengubah akhlak manusia yang paling bejat sekalipun, karena dalam wajah Mursyid itu adalah pintu langsung kepada Allah SWT.

Makna Insan Kamil
Pertama, insan kamil dalam pengertian konsep pengetahuan mengenai manusia yang sempurna. Dalam pengertian demikian, insan kamil terkail dengan pandangan mengenai sesuatu yang dianggap mutlak, yaitu Tuhan. Yang Mutlak tersebut dianggap mempunyai sifat-sifat tertentu, yakni yang baik dan sempurna. Sifat sempurna inilah yang patut ditiru oleh manusia. Seseorang yang makin memiripkan diri pada sifat sempurna dari Yang Mutlak tersebut, maka makin sempurnalah dirinya.

Kedua, insan kamil terkait dengan jati diri yang mengidealkan kesatuan nama serta sifat-sifat Tuhan ke dalam hakikat atau esensi dirinya. Dalam pengertian ini, nama esensial dan sifat-sifat Ilahi tersebut pada dasarnya juga menjadi milik manusia sempurna oleh adanya hak fundamental, yaitu sebagai suatu keniscayaan yang inheren dalam esensi dirinya. Hal itu dinyatakan dalam ungkapan yang sering terdengar, yaitu Tuhan berfungsi sebagai cermin bagi manusia dan manusia menjadi cermin bagi Tuhan untuk melihat diri-Nya.

Manusia dapat mencapai jati diri yang sempurna melalui latihan rohani dan pendakian spiritual, bersamaan dengan turunnya Yang Mutlak ke dalam manusia melalui berbagai tingkat (Evolusi Spiritual).

Iqbal melihat, insan kamil dicapai melalui beberapa proses.

  1. Ketaatan pada hukum, disiplin pada jalan atau latihan ruhani yang ditempuhnya.
  2. Penguasaan Diri sebagai bentuk tertinggi Kesadaran Diri tentang pribadi.
  3. Kekhalifahan Ilahi (Khalifatullah fil ardli).

Diri (nafs) kita yang hakiki dalah diri yang berwujud ruh (jiwa). Tubuh biologis kita hanyalah cangkang atau wadah bagi diri kita yang sesungghnya, yaitu ruh. Di dalam rûh ada qalbu, di dalam qalbu ada fuâd dan di dalam fuad ada sirr. Sirr adalah rahasia. Sirr berisi rahasia-rahasia Allah untuk orang itu berupa sifat-sifat Allah, rencana dan takdir Allah. Sirr terhubung langsung dengan Allah SWT.

Qalbu adalah lubb bagi ruh. Intinya ruh adalah qalbu, intinya qalbu adalah fu’ad, dan intinya fuad adalah sirr. Sirr adalah inti dari segala inti, yang mengandung rahasia dari segala rahasia, sehingga disebut Sirr al-Asrar (secret of the secrets). Namun untuk tahap permulaan mempelajari tashawuf cukuplah orang memahami ruh dan intinya saja, yaitu qalbu.

Di dalam Qalbu Seorang Insan menampung dua sifat :
1. Raja/khalifah/Aku/Materi ►  karakter dari Hawa Nafsu (EGO)
2. Hamba/abdi/Anti Materi ► karakter dari Ruhaniah

Proses Kultivasi (Tazkiyatun Nafs) terjadi Ketika Nafsu dipertemukan dengan Ruh dan direaksikan dengan Nuurun ‘ala Nuurin di dalam tabung reaksi yang di sebut Qalbu. Di dalam proses kimiawi spiritual yang disebut Meditasi/Dzikir. Maka struktur kimiawi spiritual manusia tersebut akan berubah menjadi seorang Manusia Cahaya. Lahirlah jati diri seorang manusia baru yang disebut INSAN KAMIL. Manusia yang sempurna lahir bathin, manusia yang telah diresapi oleh sifat-sifat Allah di dalam dirinya. Sifat kehambaannya berubah menjadi hamba Allah (Abdullah) dan sifat Rajanya berubah menjadi Khalifatullah. Orbit diri dan inti dirinya hanyalah Allah semata.

“Kemana pun engkau menghadap, disanalah Wajah Allah.”(Al-Baqarah 115)

Q.S. Al A’raaf , Ayat 205 :
“ Sebutlah Tuhanmu dalam hatimu, serta merendahkan diri dan tunduk, dan bukan dengan suara terdengar, waktu pagi dan petang hari, dan janganlah engkau termasuk orang yang tidak berdzikir (tida ingat = lalai)”

(HR. Abu Daud)
Tak dapat memuat Zat-KU, Bumi dan Langit-Ku, yang dapat memuat Zat-KU ialah hati hamba-KU yang mu’min, lunak dan tenang

(HR. Ahmad dari Wahab bin Munabbih)
Sesungguhnya langit dan bumi tak berdaya menjangkau-KU, namun Aku telah dijangkau oleh hati seorang mu’min (Yang Kukasihi)

Resonansi dari Qalbu yang baik itulah kelembutan akan muncul. Bagaikan buluh perindu yang akan menghasilkan suara merdu ketika ditiup. Kenapa? Karena hati yang lembut bagaikan sebuah tabung resonansi yang bagus. Getarannya menghasilkan frekuensi yang semakin lama semakin tinggi. Semakin lembut hati seseorang, semakin tinggi frekuensinya. Pada frekuensi 10 pangkat 8, maka akan menghasilkan gelombang radio. Dan jika frekuensinya lebih tinggi misal 10 pangkat 14, maka akan menghasilkan gelombang cahaya (Mustofa, 2008:153).

Jati Diri yang sempurna Al-Insan Kamil itu bertingkat (berderajat) yang disebut Maqom (Tingkatan derajat), level kesempurnaan ini bertingkat bersamaan dengan turunnya Yang Mutlak ke dalam manusia melalui berbagai tingkat di dalam Evolusi Spiritualnya. Manusia Sempurna Absolut itu tidak ada, karena kesempurnaan yang paling Absolut hanya dimiliki oleh Allah Yang Maha Sempurna.

LAMPIRAN :

1. Teori Annihilasi, proses pengubahan materi menjadi cahaya

Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi. Dan jika materi dipertemukan atau direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bakal lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gama (Mustofa, 2006:20).

Hal ini telah dibuktikan di laboratorium nuklir masih dalam buku yang sama (2006:20), bahwa jika ada partikel proton dipertemukan dengan antiproton, atau elektron dengan positron sebagai antielektronnya, maka kedua pasangan partikel tersebut akan lenyap dan memunculkan dua buah sinar gama, dengan energi masing-masing 0,11 MeV untuk pasangan elektron dan 938 MeVuntuk pasangan partikel proton.

Sebaliknya, jika ada seberkas sinar Gama yang memiliki energi sebesar itu dilewatkan medan inti atom, maka tiba-tiba sinar tersebut lenyap berubah menjadi dua buah pasangan partikel seperti di atas. Hal ini menunjukan bahwa materi memang bisa berubah menjadi cahaya dengan cara tertentu, yang disebut sebagai reaksi Annihilasi.

2. Anti materi

Ini bukan fiksi. Di jagad raya ini ada sesuatu yang disebut antimateri. Tidak seperti namanya, antimateri ini materi juga, cuma muatan listriknya berkebalikan dengan muatan listrik materi. Kalau elektron materi bermuatan negatif, maka elektron antimateri bermuatan positif. Proton materi bermutaan positif, sedangkan proton antimateri bermuatan negatif. Meski neutron secara teori bermuatan listrik netral, muatan neutron antimateri dan materi berkebalikan juga.

Bagaimana kalau antimateri dan materi yang muatan listriknya berkebalikan itu bertemu atau bersentuhan? Bisa ditebak, keduanya akan menimbulkan energi, persis seperti kabel negatif dan positif listrik bertemu. Bedanya, akibat pertemuan itu, dua macam zat itu akan musnah tanpa sisa. Jadi, begitu kedua zat itu bersentuhan, akan timbul ledakan yang akan mengubah seluruh zat itu menjadi energi seluruhnya, tanpa sisa. Booom….lenyap. Tak ada arang, abu, atau asap. Semuanya menjadi nihil. Para fisikawan menyebut fenomena ini sebagai anihilisasi.

Ini bukan cerita fiksi, lo. Adanya pengamatan dan penemuan antimateri membuktikan kebenaran teori relativitas Enstein: E=MC kuadrat. Bagi Enstein, materi adalah energi yang terperangkap. Kalau perangkapnya dilepas, materi akan berubah menjadi energi. Pertemuan materi dan antimateri adalah materi adalah pelepasan perangkap itu. Berhubung seluruh materi dan antimateri berubah menjadi tenaga, maka energi yang timbulpun luar biasa dahsyat, melebihi energi yang dihasilkan fusi nuklir seperti yang terjadi pada matahari.

Menurut teori, antimateri lahir di jagad raya ini bersamaan dengan materi, persis beberapa detik setelah big bang alias dentuman besar. Kebanyakan fisikawan percaya big bang adalah awal mula lahirnya alam semesta. Kitab-kitab suci mengatakan bahwa Tuhan menciptakan sesuatu secara berjodoh-jodoh, seperti siang-malam. Meski tak melulu percaya pada kitab suci, para fisikawan juga percaya bahwa jumlah antimateri yang tercipta pada saat big bang mestinya sama persis dengan jumlah materi.

Masalahnya sekarang: kok tidak ada antimateri dekat-dekat sini. Kalau ada, tentu bakal kita lihat ledakan di mana-mana, bukan? Benar, sebagian besar antimateri itu sudah sirna karena bertemu dengan materi yang menjadi saudara kembarnya. Tapi, mestinya, kalau sekarang masih ada sisa materi (termasuk tubuh kita), mestinya masih ada pula sisa antimateri yang jumlahnya seimbang.

Kenyataan itu sempat menggoyahkan teori tentang keberadaan antimateri. Sampai suatu ketika, ada pengamatan sahih yang membuktikan antimateri itu ada. Asal tahu saja, di antara berbagai cahaya dan partikel yang menerpa bumi, terdapat partikel-partikel yang berembus tidak hanya dari atas (langit) tapi dari seluruh arah. Melihat arah terpaanya, partikel seperti itu bukan berasal dari matahari, ledakan bintang, atau pancaran galaksi lain. Para fisikawan yakin partikel itu merupakan sisa-sisa big bang.

Benar saja, sebagian partikel yang menerpa kita itu ternyata merupakan elektron. Cuma, setelah diamati, elektron itu bermuatan positif alias antielektron. Orang menyebutnya positron. Keberadaan antielektron ini bisa terdeteksi lantaran muncul ledakan-ledakan kecil begitu antielektron itu bersentukan dengan elektron atmosfir yang bermuatan positif. Meski begitu sebagian elektron itu bisa ditangkap dan diteliti di laboratorium. Orang pun bisa menciptakan antielektron.

Kini, beberapa alat kedokteran menggunakan positron untuk melakukan diagnosa. Caranya, positorn yang dicampur dengan zat cair tertentu disuntikkan ke jaringan tubuh. Berhubung antielektron-antielektron itu bersentukan dengan elektron yang ada pada zat cair yang menyelimutinya, maka muncul ledakan-ledakan sepanjang aliran zat itu dalam tubuh. Ledakan-ledakan itulah yang menghasilkan pancaran sinar gamma. Nah, radiasi sinar gamma itulah yang kemudian bisa dipantau dokter lewat monitor.

Kalau ada penyumbatan-penyumbatan pembuluh darah di bagian-bagian tertentu yang berbahaya untuk dideteksi dengan sinar rontgen, seperti otak misalnya, cara ini sangat membantu. Tak ada sisa kecuali zat cair yang mengantar antielektron masuk tubuh. Karena proses anihilisasi, antielektron yang masuk tubuh akan musnah bersama dengan elektron yang ada dalam zat cair tadi. Ledakan yang terjadi juga bisa disetel tidak berbahaya karena pertemuan antielektron dan elektron tidak sampai menghasilkan energi yang bisa merusak jaringan tubuh.

Manusia, melalui sebuah upaya laboratorium juga bisa menciptakan antiproton dan antineutron. Itu berarti tinggal satu langkah lagi bagi manusia bisa menciptakan sebuah antiatom. Bagaimana sebuah antimateri tercipta? Di sinilah letak kebesaran Tuhan atau siapapun namanya. Bukan sulap-bukan sihir, antimateri dan materi tercipta begitu saja dari sebuah ledakan energi yang dahsyat. Melalui ledakan seperti big bang sebuah antimateri dan materi tiba-tiba ada begitu saja, entah darimana asalnya.

Para fisikawan eksperimen pun berupaya menciptakan sebuah big bang buatan. Ledakan sekelas big bang hanya bisa terjadi kalau sebuah partikel ditembakkan dengan kecepatan cahaya pada partikel lain. Agar bisa menembakkan partikel dengan kecepatan itu, perlu sebuah alat yang disebut akselerator. Melalui alat itu, para fisikawan menembakkan satu buah partikel dengan kecepatan cahaya pada sebuah lempengan baja (atau apa gitu….).

Booommmmm…..dalam tempo sepersekian detik setelah ledakan itu…. muncullah secara ajaib antimateri dan materi baru….Subhanallah…!!! Namun, pada saat yang sama mula, dua zat yang baru lahir itu bersentuhan sehingga keduanya lenyap seraya menimbulkan ledakan baru. Ledakan baru itupun menghasilkan materi dan antimateri baru. Begitu terus menerus berulang-ulang, sampai ledakan yang tercipta tak mencapai ambang batas untuk menimbulkan materi dan antimateri baru.

Untungnya, sebelum semuanya lenyap para fisikawan berhasil menawan sebuah antimateri dan mengamankannya agar tak bersentuhan dengan materi sehingga tidak sampai sirna. Dengan teknik pemanfaatan medan magnet, sebuah antimateri bisa dibikin mengambang dalam sebuah tabung yang vacum.

Banyak orang bermimpi mulia, proses pelenyapan antimateri dan materi lewat sebuah ledakan bisa menjadi alternatif energi paling aman. Tak ada polusi karena ledakan itu menghasilkan energi secara sempurna. Dalam kisah Star Trek, pesawat Enterprises diceritakan berbahan bakar antimateri.

Sayangnya, menurut para fisikawan, meski antimateri bisa diciptakan, nilai ekonomisnya tidak sebanding dengan energi yang dihasilkannya. Untuk menciptakan sebutir anti proton, perlu ongkos jutaan dolar. Mereka bahkan pesimis semaju apapaun teknik penciptaan antimateri, nilai ekonomisnya tak akan tercapai. Sekadar gambaran, seluruh antimateri yang tercipta lewat eksperimen selama duapuluh tahun terkahir ini paling-paling hanya cukup untuk menyalakan sebuah bola lampu 100 watt selama 3 menit. Antimateri akan menjadi energi alternatif kalau kita bisa menemukan sebuah tambang antimateri di sebuah pojok jagad raya.

Sia-siakah penemuan dan pembuktian keberadaan antimateri? Bagi saya, tidak. Pembuktian adanya antimateri menjadi sebuah titik terang untuk kembali melacak asal-usul. Mungkinkah ada hubungan antara sedikitnya antimateri yang tersisa di jagad raya dengan keberadaan makluk hidup? Mungkinkah, energi yang membuat jantung berdetak dan pada gilirannya mengalirkan darah ke seluruh tubuh merupakan hasil pertemuan antar antimateri dan materi? Jangan-jangan, selain 90 kg materi, saya juga terdiri 90 kg antimateri?

by. MAJELIS NAQS

Evolusi Spiritual eps : INSAN KAMIL

¤ INSAN KAMIL ¤

Diturunkannya Nabi Adam ke dunia bukanlah sebuah hukuman. Namun itu yg memang harus terjadi. Agar manusia dapat melakukan proses evolusi selanjutnya menjadi manusia sempurna Insan Kamil.

INSAN KAMIL Artinya adalah manusia sempurna, berasal dari kata al-insan yang berarti manusia dan al-kamil yang berarti sempurna. Konsepsi filosofid ini pertama kali muncul dari gagasan tokoh sufi Ibnu Arabi. Oleh Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili (1365-1428), pengikutnya, gagasan ini dikembangkan menjadi bagian dari renungan mistis yang bercorak tasawuf filosofis.


Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al Ahzab ayat 21, yang artinya:

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah”.

Nabi Muhammad SAW adalah sebuah contoh manusia ideal. Jati diri Muhammad (al-haqiqah al-Muhammad) yang demikian tidak semata-mata dipahami dalam pengertian Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan, tetapi juga sebagai nur (cahaya) Ilahi yang menjadi pangkal dan poros kehidupan di jagad raya ini. Nur Ilahi kemudian dikenal sebagai Nur Muhammad. Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad.

Nur Muhammad adalah pancaran Nur Allah yang diberikan kepada Para Nabi mulai dari Nabi Adam as sampai dengan Nabi Muhammad SAW, dititipkan dalam dada para Nabi dan Rasul sebagai conductor yang menyalurkan energi Ketuhanan Yang Maha Dasyat dan Maha Hebat. Dengan penyaluran yang sempurna itu pula yang membuat nabi Musa bisa membelah laut, Nabi Isa menghidupkan orang mati dan Para nabi menunjukkan mukjizatnya serta para wali menunjukkan kekeramatannya. Karena Nur Muhammad itu pula yang menyebabkan wajah Nabi Muhammad SAW tidak bisa diserupai oleh syetan.

Nurun ‘Ala Nuurin adalah ikatan spiritual yang sambung menyambung, rantai berantai sampai dengan rohani Rasulullah, karena pancaran yang terus menerus dan yang selalu disalurkan dari Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~ “ Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad, yang diberikanNya pada orang-orang yang dikehendakiNya”

Setelah Rasulullah SAW wafat apakah Nur Muhammad itu ikut hilang?

Tidak! Nur tersebut diteruskan kepada Saidina Abu Bakar Siddiq ra sebagai sahabat Beliau yang utama sebagaimana sabda Nabi:

“ Tidak melebih Abu Bakar dari kamu sekalian dengan karena banyak shalat dan banyak puasa, tetapi (melebihi ia akan kamu) karena ada sesuatu (rahasia) yang tersimpan pada dadanya”

Pada kesempatan yang lain Rasulullah bersabda pula :

“Tidak ada sesuatupun yang dicurahkan Allah ke dadaku, melainkan seluruhnya kutumpahkan pula ke dada Abu Bakar Siddiq”.

Nur Muhammad akan terus berlanjut hingga akhir zaman, dan Nur itu pula yang terdapat dalam diri seorang Mursyid yang Kamil Mukamil yang wajahnya juga tidak bisa diserupai oleh syetan. Memandang wajah Mursyid hakikatnya adalah memandang Nur Muhammad dan sudah pasti memandang Nur Allah SWT.

Nabi SAW bersabda :

La yadhulunara muslimun ra-ani wal man ra-a man ra-ani wala man ra-a man ra-ani ai walau bisab’ina wasithah, fainnahum khulafa-li fi tablighi wal irsyadi, inistaqamu ala syarii’ati.

“Tidak akan masuk neraka seorang muslim yang melihat aku dan tidak juga (akan masuk neraka) yang melihat orang yang telah melihat aku, dan tidak juga (akan masuk neraka) orang yang melihat orang yang telah melihat aku, sekalipun dengan 70 wasithah (lapisan/antara). Sesungguhnya mereka itu adalah para khalifahku dalam menyampaikan (islam/sunahku) mengasuh dan mendidik (orang ramai), sekiranya mereka itu tetap istiqamah didalam syari’atku” (H.R. Al – Khatib bin Abd.Rahman bin Uqbah).

Makna melihat dalam hadist di atas bukan dalam pengertian melihat secara umum, karena kalau kita maknai melihat itu dengan penglihatan biasa maka Abu Jahal dan musuh-musuh nabi juga melihat beliau akan tetapi tetap masuk Neraka. Melihat yang dimaksud adalah melihat Beliau sebagai sosok nabi yang menyalurkan Nur Allah kepada ummatnya, melihat dalam bentuk rabithah menggabungkan rohani kita dengan rohani beliau.

Darimana kita tahu seseorang itu pernah melihat Nabi dan bersambung sampai kepada Beliau? Kalau melihat dalam pengertian memandang secara awam maka para ahlul bait adalah orang-orang yang sudah pasti punya hubungan melihat karena mereka adalah keturunan Nabi.

Akan tetapi karena pengertian melihat itu lebih kepada rabitah atau hubungan berguru, maka yang paling di jamin punya hubungan melihat adalah Para Ahli Silsilah Thariqat yang saling sambung menyambung sampai kepada Rasulullah SAW.

Syukurlah bagi orang-orang yang telah menemukan seorang Guru Mursyid yang silsilahnya bersambung kepada Rasulullah SAW, yang selalu memberikan pencerahan dengan menyalurkan Nur Muhammad sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin, bermohon atas namanya niscaya Allah SWT akan mengabulkan do’a dan dari Mursyid lah Firman Nafsani dari Allah terus berlajut dan tersampaikan kepada hamba-Nya yang telah mendapat petunjuk.

Barulah kita tahu kenapa memandang wajah Mursyid itu bisa mengubah akhlak manusia yang paling bejat sekalipun, karena dalam wajah Mursyid itu adalah pintu langsung kepada Allah SWT.

Makna Insan Kamil
Pertama, insan kamil dalam pengertian konsep pengetahuan mengenai manusia yang sempurna. Dalam pengertian demikian, insan kamil terkail dengan pandangan mengenai sesuatu yang dianggap mutlak, yaitu Tuhan. Yang Mutlak tersebut dianggap mempunyai sifat-sifat tertentu, yakni yang baik dan sempurna. Sifat sempurna inilah yang patut ditiru oleh manusia. Seseorang yang makin memiripkan diri pada sifat sempurna dari Yang Mutlak tersebut, maka makin sempurnalah dirinya.

Kedua, insan kamil terkait dengan jati diri yang mengidealkan kesatuan nama serta sifat-sifat Tuhan ke dalam hakikat atau esensi dirinya. Dalam pengertian ini, nama esensial dan sifat-sifat Ilahi tersebut pada dasarnya juga menjadi milik manusia sempurna oleh adanya hak fundamental, yaitu sebagai suatu keniscayaan yang inheren dalam esensi dirinya. Hal itu dinyatakan dalam ungkapan yang sering terdengar, yaitu Tuhan berfungsi sebagai cermin bagi manusia dan manusia menjadi cermin bagi Tuhan untuk melihat diri-Nya.

Manusia dapat mencapai jati diri yang sempurna melalui latihan rohani dan pendakian spiritual, bersamaan dengan turunnya Yang Mutlak ke dalam manusia melalui berbagai tingkat (Evolusi Spiritual).

Iqbal melihat, insan kamil dicapai melalui beberapa proses.

  1. Ketaatan pada hukum, disiplin pada jalan atau latihan ruhani yang ditempuhnya.
  2. Penguasaan Diri sebagai bentuk tertinggi Kesadaran Diri tentang pribadi.
  3. Kekhalifahan Ilahi (Khalifatullah fil ardli).

Diri (nafs) kita yang hakiki dalah diri yang berwujud ruh (jiwa). Tubuh biologis kita hanyalah cangkang atau wadah bagi diri kita yang sesungghnya, yaitu ruh. Di dalam rûh ada qalbu, di dalam qalbu ada fuâd dan di dalam fuad ada sirr. Sirr adalah rahasia. Sirr berisi rahasia-rahasia Allah untuk orang itu berupa sifat-sifat Allah, rencana dan takdir Allah. Sirr terhubung langsung dengan Allah SWT.

Qalbu adalah lubb bagi ruh. Intinya ruh adalah qalbu, intinya qalbu adalah fu’ad, dan intinya fuad adalah sirr. Sirr adalah inti dari segala inti, yang mengandung rahasia dari segala rahasia, sehingga disebut Sirr al-Asrar (secret of the secrets). Namun untuk tahap permulaan mempelajari tashawuf cukuplah orang memahami ruh dan intinya saja, yaitu qalbu.

Di dalam Qalbu Seorang Insan menampung dua sifat :
1. Raja/khalifah/Aku/Materi ►  karakter dari Hawa Nafsu (EGO)
2. Hamba/abdi/Anti Materi ► karakter dari Ruhaniah

Proses Kultivasi (Tazkiyatun Nafs) terjadi Ketika Nafsu dipertemukan dengan Ruh dan direaksikan dengan Nuurun ‘ala Nuurin di dalam tabung reaksi yang di sebut Qalbu. Di dalam proses kimiawi spiritual yang disebut Meditasi/Dzikir. Maka struktur kimiawi spiritual manusia tersebut akan berubah menjadi seorang Manusia Cahaya. Lahirlah jati diri seorang manusia baru yang disebut INSAN KAMIL. Manusia yang sempurna lahir bathin, manusia yang telah diresapi oleh sifat-sifat Allah di dalam dirinya. Sifat kehambaannya berubah menjadi hamba Allah (Abdullah) dan sifat Rajanya berubah menjadi Khalifatullah. Orbit diri dan inti dirinya hanyalah Allah semata.

“Kemana pun engkau menghadap, disanalah Wajah Allah.”(Al-Baqarah 115)

Q.S. Al A’raaf , Ayat 205 :
“ Sebutlah Tuhanmu dalam hatimu, serta merendahkan diri dan tunduk, dan bukan dengan suara terdengar, waktu pagi dan petang hari, dan janganlah engkau termasuk orang yang tidak berdzikir (tida ingat = lalai)”

(HR. Abu Daud)
Tak dapat memuat Zat-KU, Bumi dan Langit-Ku, yang dapat memuat Zat-KU ialah hati hamba-KU yang mu’min, lunak dan tenang

(HR. Ahmad dari Wahab bin Munabbih)
Sesungguhnya langit dan bumi tak berdaya menjangkau-KU, namun Aku telah dijangkau oleh hati seorang mu’min (Yang Kukasihi)

Resonansi dari Qalbu yang baik itulah kelembutan akan muncul. Bagaikan buluh perindu yang akan menghasilkan suara merdu ketika ditiup. Kenapa? Karena hati yang lembut bagaikan sebuah tabung resonansi yang bagus. Getarannya menghasilkan frekuensi yang semakin lama semakin tinggi. Semakin lembut hati seseorang, semakin tinggi frekuensinya. Pada frekuensi 10 pangkat 8, maka akan menghasilkan gelombang radio. Dan jika frekuensinya lebih tinggi misal 10 pangkat 14, maka akan menghasilkan gelombang cahaya (Mustofa, 2008:153).

Jati Diri yang sempurna Al-Insan Kamil itu bertingkat (berderajat) yang disebut Maqom (Tingkatan derajat), level kesempurnaan ini bertingkat bersamaan dengan turunnya Yang Mutlak ke dalam manusia melalui berbagai tingkat di dalam Evolusi Spiritualnya. Manusia Sempurna Absolut itu tidak ada, karena kesempurnaan yang paling Absolut hanya dimiliki oleh Allah Yang Maha Sempurna.

LAMPIRAN :

1. Teori Annihilasi, proses pengubahan materi menjadi cahaya

Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi. Dan jika materi dipertemukan atau direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bakal lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gama (Mustofa, 2006:20).

Hal ini telah dibuktikan di laboratorium nuklir masih dalam buku yang sama (2006:20), bahwa jika ada partikel proton dipertemukan dengan antiproton, atau elektron dengan positron sebagai antielektronnya, maka kedua pasangan partikel tersebut akan lenyap dan memunculkan dua buah sinar gama, dengan energi masing-masing 0,11 MeV untuk pasangan elektron dan 938 MeVuntuk pasangan partikel proton.

Sebaliknya, jika ada seberkas sinar Gama yang memiliki energi sebesar itu dilewatkan medan inti atom, maka tiba-tiba sinar tersebut lenyap berubah menjadi dua buah pasangan partikel seperti di atas. Hal ini menunjukan bahwa materi memang bisa berubah menjadi cahaya dengan cara tertentu, yang disebut sebagai reaksi Annihilasi.

2. Anti materi

Ini bukan fiksi. Di jagad raya ini ada sesuatu yang disebut antimateri. Tidak seperti namanya, antimateri ini materi juga, cuma muatan listriknya berkebalikan dengan muatan listrik materi. Kalau elektron materi bermuatan negatif, maka elektron antimateri bermuatan positif. Proton materi bermutaan positif, sedangkan proton antimateri bermuatan negatif. Meski neutron secara teori bermuatan listrik netral, muatan neutron antimateri dan materi berkebalikan juga.

Bagaimana kalau antimateri dan materi yang muatan listriknya berkebalikan itu bertemu atau bersentuhan? Bisa ditebak, keduanya akan menimbulkan energi, persis seperti kabel negatif dan positif listrik bertemu. Bedanya, akibat pertemuan itu, dua macam zat itu akan musnah tanpa sisa. Jadi, begitu kedua zat itu bersentuhan, akan timbul ledakan yang akan mengubah seluruh zat itu menjadi energi seluruhnya, tanpa sisa. Booom….lenyap. Tak ada arang, abu, atau asap. Semuanya menjadi nihil. Para fisikawan menyebut fenomena ini sebagai anihilisasi.

Ini bukan cerita fiksi, lo. Adanya pengamatan dan penemuan antimateri membuktikan kebenaran teori relativitas Enstein: E=MC kuadrat. Bagi Enstein, materi adalah energi yang terperangkap. Kalau perangkapnya dilepas, materi akan berubah menjadi energi. Pertemuan materi dan antimateri adalah materi adalah pelepasan perangkap itu. Berhubung seluruh materi dan antimateri berubah menjadi tenaga, maka energi yang timbulpun luar biasa dahsyat, melebihi energi yang dihasilkan fusi nuklir seperti yang terjadi pada matahari.

Menurut teori, antimateri lahir di jagad raya ini bersamaan dengan materi, persis beberapa detik setelah big bang alias dentuman besar. Kebanyakan fisikawan percaya big bang adalah awal mula lahirnya alam semesta. Kitab-kitab suci mengatakan bahwa Tuhan menciptakan sesuatu secara berjodoh-jodoh, seperti siang-malam. Meski tak melulu percaya pada kitab suci, para fisikawan juga percaya bahwa jumlah antimateri yang tercipta pada saat big bang mestinya sama persis dengan jumlah materi.

Masalahnya sekarang: kok tidak ada antimateri dekat-dekat sini. Kalau ada, tentu bakal kita lihat ledakan di mana-mana, bukan? Benar, sebagian besar antimateri itu sudah sirna karena bertemu dengan materi yang menjadi saudara kembarnya. Tapi, mestinya, kalau sekarang masih ada sisa materi (termasuk tubuh kita), mestinya masih ada pula sisa antimateri yang jumlahnya seimbang.

Kenyataan itu sempat menggoyahkan teori tentang keberadaan antimateri. Sampai suatu ketika, ada pengamatan sahih yang membuktikan antimateri itu ada. Asal tahu saja, di antara berbagai cahaya dan partikel yang menerpa bumi, terdapat partikel-partikel yang berembus tidak hanya dari atas (langit) tapi dari seluruh arah. Melihat arah terpaanya, partikel seperti itu bukan berasal dari matahari, ledakan bintang, atau pancaran galaksi lain. Para fisikawan yakin partikel itu merupakan sisa-sisa big bang.

Benar saja, sebagian partikel yang menerpa kita itu ternyata merupakan elektron. Cuma, setelah diamati, elektron itu bermuatan positif alias antielektron. Orang menyebutnya positron. Keberadaan antielektron ini bisa terdeteksi lantaran muncul ledakan-ledakan kecil begitu antielektron itu bersentukan dengan elektron atmosfir yang bermuatan positif. Meski begitu sebagian elektron itu bisa ditangkap dan diteliti di laboratorium. Orang pun bisa menciptakan antielektron.

Kini, beberapa alat kedokteran menggunakan positron untuk melakukan diagnosa. Caranya, positorn yang dicampur dengan zat cair tertentu disuntikkan ke jaringan tubuh. Berhubung antielektron-antielektron itu bersentukan dengan elektron yang ada pada zat cair yang menyelimutinya, maka muncul ledakan-ledakan sepanjang aliran zat itu dalam tubuh. Ledakan-ledakan itulah yang menghasilkan pancaran sinar gamma. Nah, radiasi sinar gamma itulah yang kemudian bisa dipantau dokter lewat monitor.

Kalau ada penyumbatan-penyumbatan pembuluh darah di bagian-bagian tertentu yang berbahaya untuk dideteksi dengan sinar rontgen, seperti otak misalnya, cara ini sangat membantu. Tak ada sisa kecuali zat cair yang mengantar antielektron masuk tubuh. Karena proses anihilisasi, antielektron yang masuk tubuh akan musnah bersama dengan elektron yang ada dalam zat cair tadi. Ledakan yang terjadi juga bisa disetel tidak berbahaya karena pertemuan antielektron dan elektron tidak sampai menghasilkan energi yang bisa merusak jaringan tubuh.

Manusia, melalui sebuah upaya laboratorium juga bisa menciptakan antiproton dan antineutron. Itu berarti tinggal satu langkah lagi bagi manusia bisa menciptakan sebuah antiatom. Bagaimana sebuah antimateri tercipta? Di sinilah letak kebesaran Tuhan atau siapapun namanya. Bukan sulap-bukan sihir, antimateri dan materi tercipta begitu saja dari sebuah ledakan energi yang dahsyat. Melalui ledakan seperti big bang sebuah antimateri dan materi tiba-tiba ada begitu saja, entah darimana asalnya.

Para fisikawan eksperimen pun berupaya menciptakan sebuah big bang buatan. Ledakan sekelas big bang hanya bisa terjadi kalau sebuah partikel ditembakkan dengan kecepatan cahaya pada partikel lain. Agar bisa menembakkan partikel dengan kecepatan itu, perlu sebuah alat yang disebut akselerator. Melalui alat itu, para fisikawan menembakkan satu buah partikel dengan kecepatan cahaya pada sebuah lempengan baja (atau apa gitu….).

Booommmmm…..dalam tempo sepersekian detik setelah ledakan itu…. muncullah secara ajaib antimateri dan materi baru….Subhanallah…!!! Namun, pada saat yang sama mula, dua zat yang baru lahir itu bersentuhan sehingga keduanya lenyap seraya menimbulkan ledakan baru. Ledakan baru itupun menghasilkan materi dan antimateri baru. Begitu terus menerus berulang-ulang, sampai ledakan yang tercipta tak mencapai ambang batas untuk menimbulkan materi dan antimateri baru.

Untungnya, sebelum semuanya lenyap para fisikawan berhasil menawan sebuah antimateri dan mengamankannya agar tak bersentuhan dengan materi sehingga tidak sampai sirna. Dengan teknik pemanfaatan medan magnet, sebuah antimateri bisa dibikin mengambang dalam sebuah tabung yang vacum.

Banyak orang bermimpi mulia, proses pelenyapan antimateri dan materi lewat sebuah ledakan bisa menjadi alternatif energi paling aman. Tak ada polusi karena ledakan itu menghasilkan energi secara sempurna. Dalam kisah Star Trek, pesawat Enterprises diceritakan berbahan bakar antimateri.

Sayangnya, menurut para fisikawan, meski antimateri bisa diciptakan, nilai ekonomisnya tidak sebanding dengan energi yang dihasilkannya. Untuk menciptakan sebutir anti proton, perlu ongkos jutaan dolar. Mereka bahkan pesimis semaju apapaun teknik penciptaan antimateri, nilai ekonomisnya tak akan tercapai. Sekadar gambaran, seluruh antimateri yang tercipta lewat eksperimen selama duapuluh tahun terkahir ini paling-paling hanya cukup untuk menyalakan sebuah bola lampu 100 watt selama 3 menit. Antimateri akan menjadi energi alternatif kalau kita bisa menemukan sebuah tambang antimateri di sebuah pojok jagad raya.

Sia-siakah penemuan dan pembuktian keberadaan antimateri? Bagi saya, tidak. Pembuktian adanya antimateri menjadi sebuah titik terang untuk kembali melacak asal-usul. Mungkinkah ada hubungan antara sedikitnya antimateri yang tersisa di jagad raya dengan keberadaan makluk hidup? Mungkinkah, energi yang membuat jantung berdetak dan pada gilirannya mengalirkan darah ke seluruh tubuh merupakan hasil pertemuan antar antimateri dan materi? Jangan-jangan, selain 90 kg materi, saya juga terdiri 90 kg antimateri?

by. MAJELIS NAQS