Arti Sebuah Nama

What’s in a name? That which we call a rose
by any other name would smell as sweet.
~William Shakespeare~

Apalah arti sebuah nama. Mungkin itu yang ada di benak mereka mengutip kata-kata sang pujangga William Shakespeare. Kalau kita hanya melihat sepenggal kalimat tersebut, memang seolah-olah nama bukanlah hal penting. Namun mari kita coba melihat lengkapnya kalimat tersebut.

Apalah arti sebuah nama? Meskipun kita menyebut mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap harum.

Jadi jelas, wangi mawar akan tetap seperti itu meski kita menyebutnya kotoran kuda sekalipun. Nama bisa saja bukan hal yang penting bila kita bandingkan dengan tindakan kita. Orang bisa jadi tidak mengenal nama A, B atau C. Namun kalau tindakan kita baik maka akan ada cap “orang baik” ke kita. Begitu juga sebaliknya.

Tentu saja, nama sebaik apa pun tidak akan membuat sang empunya nama menjadi baik pula. Setidaknya, tidak secara langsung. Dalam konteks ini, sebuah nama hanyalah salah satu tanda untuk mengenali seseorang. Tanda yang digunakan agar seseorang tahu sedang dipanggil oleh orang lain. Tanda untuk absensi saat di sekolah. Tanda dalam kartu pengenal. Tanda yang perlu dicantumkan pada surat undangan pernikahan. Dan masih banyak lagi. Bayangkan betapa sulitnya menunjuk seseorang bila tanpa menggunakan nama. Untuk mengatakan Joko, barangkali orang harus mengatakannya dengan lelaki-berwajah-oval-dan-berhidung-mancung-yang-tinggal-di-belakang-pos-kamling-RW-7. Fiuuuhh..

Tidak ada informasi dengan jelas sejak kapan peradaban manusia pertama kali menggunakan nama. Meskipun setiap kultur di muka bumi ini menggunakan nama, ternyata penggunaannya dapat bervariasi dari masyarakat yang satu ke masyarakat yang lain. Ada yang menggunakan nama dengan sangat sederhana seperti di Indonesia, yang hanya menggunakan satu kata seperti Parto, Paryono, Hamid, dan Soeharto. Namun ada pula yang penggunaan namanya sangat kompleks seperti pada tradisi masyarakat Cina.

Beberapa model nama mengandung informasi tentang silsilah seseorang, semisal nama keluarga atau marga. Biasanya model nama seperti ini diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nama bisa juga mengandung informasi urutan lahir seseorang seperti yang digunakan oleh masyarakat Bali dan juga beberapa kultur di Afrika. Atau given name seperti pada tradisi barat yang merupakan semacam nama pemberian yang diberikan pada suatu waktu setelah seorang anak lahir.

Nama adalah sebuah Doa, Panggilan, sekaligus harapan agar seseorang dapat memenuhi panggilan kita, agar yang dipanggil merasa diangkat derajatnya, bukan sebaliknya. Seyogiyanya umat manusia memberi nama dengan makna yang baik, sekaligus Doa yang baik terhadap anak dan kerabatnya.

Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW:

“Ya Rasulullah, apakah hak anakku terhadapku?” Nabi menjawab: “Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan ia di tempat yang baik”.

“Baguskan namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti,” kata Rasulullah. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hiban).

Nama di dalam Islam tidak hanya berfungsi untuk membedakan satu anak dengan anak yang lainnya. Betul sekali apa yang anda sampaikan, bahwa pada sebuah nama, ada cita-cita, doa dan harapan orang tua yang ingin disematkan pada si anak.

Nama adalah penting, karena nama dapat menunjukkan identitas keluarga, bangsa bahkan aqidah. Secara psikologis nama juga akan berpengaruh pada konsep diri seseorang. Secara tidak sadar seseorang akan didorong untuk memenuhi citra yang terkandung dalam namanya.

Teori Labelling (penamaan) menjelaskan kemungkinan seseorang menjadi jahat karena masyarakat menamainya sebagai penjahat. Memang boleh jadi orang akan berperilaku yang bertentangan dengan namanya.

Seseorang yang bernama Abdullah misalnya, seharusnya rajin beribadah, tapi bisa jadi sering meninggalkan sholat. Mestinya nama itu akan meresahkan batinnya. Ia boleh jadi akan mengubah namanya atau perilakunya.

Keinginan orang tua untuk memberikan nama yang baik pada anaknya tentu harus disertai dengan memahami makna nama tersebut. Nama yang berbau Arab belum tentu tepat kalau tidak mengerti maksudnya, malahan bisa salah dan tidak punya makna.

Ada beberapa hal yang tidak diperbolehkan dalam memberikan nama pada anak. Syekh Abdullah Nashih Ulwan, dalam bukunya Tarbiyatul Aulad fil Islam, mengemukakan beberapa acuan dalam menamai anak.

Pertama: Nama-nama yang khusus untuk Allah SWT karena sifatnya yang mutlak, seperti Ar Rahiim, Al Khaliq dan sebagainya. Tidak diperkenankan bagi orang tua untuk menamai anak-anaknya dengan nama-nama khusus Allah, kecuali dengan menunjukkan secara jelas kedudukannya sebagai hamba Allah.

Jika nama-nama khusus untuk Allah tidak diperbolehkan, nama yang menunjukkan kedudukan sebagai hamba justru disukai. Misalnya Abdullah atau Abdurrahman.

“Sesungguhnya nama-nama kalian yang paling disukai oleh Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha agung adalah Abdullah dan Abdurrahman”. (HR. Muslim).

Kedua: Tidak boleh menggunakan nama yang menunjukkan ketundukan kepada selain Allah, seperti misalnya Abdul Uzza, Abdun Nabi dan sebagainya.

Ketiga: Menjauhi nama-nama yang maknanya terlalu optimistik. Termasuk nama yang optimistik adalah Najieh, Nafi, maupun Aflah.

“Janganlah kamu memberi nama kepada anak laki-lakimu dengan nama Yassar, Rabaah, Najaah, dan juga Aflah… (HR. Muslim).

Keempat: Jangan pernah memberi nama dengan nama yang mempunyai makna mudah lekang, lekas sirna, serta nama-nama yang dapat mnelemahkan jiwa anak. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam memiliki kepribadian khas yang kuat, berbeda dengan umat yang lain.

Berbicara tentang nama, memang tidak ada habisnya. Seperti pepatah mengatakan, “Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan Nama.” Namun pertanyaan penting pula, bagaimana kita meninggalkan nama yang harum bagi generasi di belakang kita?

Jagalah nama anda dengan jejak rekam yang baik selama anda hidup di dunia, tuliskanlah gagasan dan kebijaksaan anda untuk dibagikan pada generasi selanjutnya, dengan demikian nama anda akan dikenang dalam keabadian.

Arti Nama dalam Dunia Bisnis
Di dunia bisnis nama sangat amat diperlukan dan hal yang sangat vital. Istilah nama ini kalau di dunia bisnis sering disebut branding, brand atau merk. Dengan kita memiliki Merk, label branding yang bagus apapun yang kita kerjakan, omongkan dan segala tindak tanduk anda bakalan dipercaya orang, perusahaan ataupun organisasi. Nah kita bakalan diskusi soal bagaimana “membangun sebuah kepercayaan publik” terhadap brand atau merk kamu.

Branding diibaratkan jika kamu bicara A maka orang lain pun ikut bicara A. Aura seseorang atau perusahaan yang sudah memiliki label, branding atau merk yang kuat, meskipun banyak pesaing baru yang muncul dan mencoba menggoyahkannya tapi dominasi ia tak juga goyah. Namun Merk yang kamu miliki bisa saja hancur dan luntur dimakan waktu jika saat awalnya bagus tapi lama kelamaan makin ga profesional dalam pelayanan dan terjadi penurunan kualitas barang atau jasa yang kamu jual.

Nah bagaimana sebenarnya membangun brand atau merk yang kuat itu ?

  1. Pertama adalah Memiliki suatu keunggulan dan bukti-bukti keunggulan anda harus ada. Setelah kamu memiliki keunggulan daripada yang lainnya.
  2. Kedua yang harus kamu bangun adalah komunitas, pertemanan atau jaringan pergaulan yang luas. Dengan jaringan teman yang luas, apapun yang jadi kesulitan kamu bakalan ada solusinya. Selain itu dengan jaringan teman yang luas, kamu juga bisa secara tidak langsung bisa prospek mereka jika ada produk baru.
  3. Ketiga untuk memperkuat branding adalah kamu memiliki pasar yang siap untuk membeli atau menerima produk yang kamu tawarkan. Dengan pasar yang sudah siap, tinggal kamu keluarkan produk yang kamu miliki, maka pasar bakalan siap membeli apa yang kamu jual tersebut.
  4. Keempat untuk memperkuat branding kamu, maka kamu harus peka terhadap produk yang ditawarkan orang lain atau perusahaan lain yang memiliki usaha sejenis dengan kamu. Jadi kalau perusahaan A bikin produk baru dan mutakhir, maka kamu harus bisa paling tidak menyamai atau lebih baik lagi jika bisa lebih dari produk mereka.
  5. Kelima untuk memperkuat branding maka kamu harus giat cari informasi dan sebuah inovasi baru, jika tidak maka siap-siap kamu harus tergeser oleh perusahaan baru yang lebih memiliki inovasi baru dalam bisnis yang kamu geluti sekarang.
  6. Keenam untuk memperkuat branding kamu, maka kamu harus terus meningkatkan layanan kepada konsumen.
  7. Ketujuh dan terakhir untuk memperkuat branding kamu maka kamu coba minta pendapat serta saran dan kritik pada konsumen yang telah memakai produk kamu. Jika memang puas, maka minta bantuan mereka untuk merekomendasikan produk anda ke orang lain. Jadikan konsumen kamu adalah teman anda. Hargai mereka dengan sebaik-baiknya. Maka yang akan terjadi pada konsumen anda adalah ” Saya Puas……Saya Puas…..Saya Puas” .

Nama besar, branding, merk atau label sangat amat diperhitungkan oleh konsumen sebelum mengkonsumsi suatu produk dari seorang produsen. Meskipun membuat branding yang kuat itu susah dan sulit, tapi jika kamu usaha dengan sangat keras, bukan tidak mungkin dalam waktu sekejap bisa menguasai pasar. Tinggal bagaimana daya kreatifitas kamu sebagai seorang yang membawa nama kamu sendiri.

Nama dalam tataran Ilahi 

Kurios (bahasa Yunani) memiliki arti sama dengan Tuhan (Perjanjian Baru). Kata ini sama dengan Yahwe (bahasa Ibrani, Perjanjian Lama). Theos (bahasa Yunani) berarti Allah sama dengan El, Elohim dan Eloah dalam Perjanjian Lama.

Eloah/Elohim diterjemahkan Allah/Allah dalam bentuk jamak. Adonay diterjemahkan Tuan/Tuhan. YHWH diterjemahkan TUHAN.

Kalimat “Allahu Akbar” pun ada dalam kata-kata Sanskerta, “Alla dan Akka”, dua kata panggilan untuk Tuhan.

Kita mengenal adat orang Jahudi yang jumawa, sehingga tanpa dijelaskan pun banyak manusia tidak bersimpati terhadap perilaku orang Jahudi. Namun walaupun begitu, ternyata untuk meyebut nama Tuhan (YHWH) mereka sebut “adonai”. Hal ini semata-mata untuk menghindari menyebut Nama Tuhan dengan serampangan, dan tidak tepat. Karena Asma pasti terkait dengan Dzat, Af’al, dan Sifat dari yang punya Asma. Dengan menyebut Asmanya, maka yang kita maksud adalah memanggil Dzatnya beserta dengan segala sifatNya.

Beriman kepada Allah artinya juga beriman kepada seluruh aspek yang menyertaiNya, Asma, Sifat, Af’al, Dzat, dan juga FirmanNya.

Iman kepada Allah Subhanhu wa ta’alaa adalah satu kalimat yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun demikian, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan iman kepada Allah Subhanahu wa ta’alaa tersebut? Beriman kepada Allah subhanhu wa ta’alaa adalah membenarkan dengan yakin akan adanya Allah subhanhu wa ta’alaa, membenarkan dengan yakin akan keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya menciptakan alam makhluk seluruhnya, maupun dalam menerima ibadat segenap makhluk-Nya, kemudian juga membenarkan dengan yakin, bahwa Allah swt memiliki sifat sempurna, suci dari segala sifat kekurangan dan suci pula dari menyerupai segala yang baru (makhluk). Sebuah pembenaran yang terealisir dalam hati, lisan, dan amal perbuatan.

Beriman kepada Allah subhanahu wa ta’alaa berarti meninggalkan segala bentuk penghambaan, bersandar, dan menyembah kepada selain Allah subhanahu wa ta’alaa. Segala bentuk aktivitas kehidupan, baik yang bersifat lahir maupun bathin, jasmaniah maupun ruhaniah, semuanya hanya ditujukan untuk beribadah kepada Allah subhanhu wa ta’alaa, untuk mendapatkan ridho dan rahmat Allah subhanhu wa ta’alaa.

Adapun dalil-dalil yangberkenaan dengan iman kepada Allah subhanhu wa ta’alaa adalah sebagai berikut:
Firman Allah subhanahu wa ta’alaa:

“Wahai orang yang beriman; berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam ), kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Barangsiapa kafir (tidak beriman) kepada Allah, malaikat-Nya. kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan Hari Akhirat, maka sesungguhnya orang itu sangat jauh tersesat.” (QS. An Nisaa’ (4): 136

“Dan Tuhan itu, Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah (2): 163.)

“Allah itu tunggal, tidak ada Tuhan selain Dia, yang hidup tidak berkehendak kepada selain-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya lah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Bukankah tidak ada orang yang memberikan syafaat di hadapan-Nya jika tidak dengan seizin-Nya? Ia mengetahui apa yang di hadapan manusia dan apa yang di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sedikit jua pun tentang ilmu-Nya, kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Pengetahuannya meliputi langit dan bumi. Memelihara kedua makhluk itu tidak berat bagi-Nya. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Baqarah (2): 255.)

“Dialah Allah, Tuhan Yang Tunggal, yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui perkara yang tersembunyi (gaib) dan yang terang Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak tidak ada Tuhan selain Dia, Raja Yang Maha Suci, yang sejahtera yang memelihara, yang Maha Kuasa. Yang Maha Mulia, Yang Jabbar,lagi yang Maha besar, maha Suci Allah dari segala sesuatu yang mereka perserikatkan dengannya. Dialah Allah yang menjadikan, yang menciptakan, yang memberi rupa, yang mempunyai nama-nama yang indah dan baik. Semua isi langit mengaku kesucian-Nya. Dialah Allah Yang Maha keras tuntutan-Nya, lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Hasyr (59): 22-24 )

“Katakanlah olehmu (hai Muhammad): Allah itu Maha Esa. Dialah tempat bergantung segala makhluk dan tempat memohon segala hajat. Dialah Allah, yang tiada beranak dan tidak diperanakkan dan tidak seorang pun atau sesuatu yang sebanding dengan Dia.” (QS. Al Ikhlash (112): 1-4)

“Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha (20): 14)

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua, agama yang satu dan Aku Tuhan kalian, maka bartakwalah kepada-Ku.” (QS. Al Mukminun (23): 52)

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua agama yang satu dan Aku Tuhan kalian, maka sembahlah Aku.” (QS. Al Anbiya (21): 92)

“Sekiranya ada di langit dan di bumi Tuhan-Tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak, binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai Arasy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al Anbiya’ (21): 22)

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, Malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi…” (QS. Al Baqarah (59): 177)
Sabda RasululIah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

Di antara sejumlah hadits-hadits tersebut, terdapat sebuah hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa Malaikat Jibril pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Iman, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan Hari Akhir, serta beriman kepada qadar yang baik maupun buruk.”

“Katakanlah olehmu (wahai Sufyan, jika kamu benar-benar hendak memeluk Islam): ‘Saya telah beriman akan Allah’, kemudian berlaku luruslah kamu.” (HR. Taisirul Wushul, 1: 18).

“Manusia yang paling bahagia memperoleh syafaat-Ku di hari kiamat, ialah: orang yang mengucapkan kalimat La ilaha illallah.” (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12).

“Barangsiapa mati tidak memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk surga. Dan barangsiapa mati tengah memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk neraka.” (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12)

>Arti Sebuah Nama

>

What’s in a name? That which we call a rose
by any other name would smell as sweet.
~William Shakespeare~

Apalah arti sebuah nama. Mungkin itu yang ada di benak mereka mengutip kata-kata sang pujangga William Shakespeare. Kalau kita hanya melihat sepenggal kalimat tersebut, memang seolah-olah nama bukanlah hal penting. Namun mari kita coba melihat lengkapnya kalimat tersebut.

Apalah arti sebuah nama? Meskipun kita menyebut mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap harum.

Jadi jelas, wangi mawar akan tetap seperti itu meski kita menyebutnya kotoran kuda sekalipun. Nama bisa saja bukan hal yang penting bila kita bandingkan dengan tindakan kita. Orang bisa jadi tidak mengenal nama A, B atau C. Namun kalau tindakan kita baik maka akan ada cap “orang baik” ke kita. Begitu juga sebaliknya.

Tentu saja, nama sebaik apa pun tidak akan membuat sang empunya nama menjadi baik pula. Setidaknya, tidak secara langsung. Dalam konteks ini, sebuah nama hanyalah salah satu tanda untuk mengenali seseorang. Tanda yang digunakan agar seseorang tahu sedang dipanggil oleh orang lain. Tanda untuk absensi saat di sekolah. Tanda dalam kartu pengenal. Tanda yang perlu dicantumkan pada surat undangan pernikahan. Dan masih banyak lagi. Bayangkan betapa sulitnya menunjuk seseorang bila tanpa menggunakan nama. Untuk mengatakan Joko, barangkali orang harus mengatakannya dengan lelaki-berwajah-oval-dan-berhidung-mancung-yang-tinggal-di-belakang-pos-kamling-RW-7. Fiuuuhh..

Tidak ada informasi dengan jelas sejak kapan peradaban manusia pertama kali menggunakan nama. Meskipun setiap kultur di muka bumi ini menggunakan nama, ternyata penggunaannya dapat bervariasi dari masyarakat yang satu ke masyarakat yang lain. Ada yang menggunakan nama dengan sangat sederhana seperti di Indonesia, yang hanya menggunakan satu kata seperti Parto, Paryono, Hamid, dan Soeharto. Namun ada pula yang penggunaan namanya sangat kompleks seperti pada tradisi masyarakat Cina.

Beberapa model nama mengandung informasi tentang silsilah seseorang, semisal nama keluarga atau marga. Biasanya model nama seperti ini diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nama bisa juga mengandung informasi urutan lahir seseorang seperti yang digunakan oleh masyarakat Bali dan juga beberapa kultur di Afrika. Atau given name seperti pada tradisi barat yang merupakan semacam nama pemberian yang diberikan pada suatu waktu setelah seorang anak lahir.

Nama adalah sebuah Doa, Panggilan, sekaligus harapan agar seseorang dapat memenuhi panggilan kita, agar yang dipanggil merasa diangkat derajatnya, bukan sebaliknya. Seyogiyanya umat manusia memberi nama dengan makna yang baik, sekaligus Doa yang baik terhadap anak dan kerabatnya.

Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW:

“Ya Rasulullah, apakah hak anakku terhadapku?” Nabi menjawab: “Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan ia di tempat yang baik”.

“Baguskan namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti,” kata Rasulullah. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hiban).

Nama di dalam Islam tidak hanya berfungsi untuk membedakan satu anak dengan anak yang lainnya. Betul sekali apa yang anda sampaikan, bahwa pada sebuah nama, ada cita-cita, doa dan harapan orang tua yang ingin disematkan pada si anak.

Nama adalah penting, karena nama dapat menunjukkan identitas keluarga, bangsa bahkan aqidah. Secara psikologis nama juga akan berpengaruh pada konsep diri seseorang. Secara tidak sadar seseorang akan didorong untuk memenuhi citra yang terkandung dalam namanya.

Teori Labelling (penamaan) menjelaskan kemungkinan seseorang menjadi jahat karena masyarakat menamainya sebagai penjahat. Memang boleh jadi orang akan berperilaku yang bertentangan dengan namanya.

Seseorang yang bernama Abdullah misalnya, seharusnya rajin beribadah, tapi bisa jadi sering meninggalkan sholat. Mestinya nama itu akan meresahkan batinnya. Ia boleh jadi akan mengubah namanya atau perilakunya.

Keinginan orang tua untuk memberikan nama yang baik pada anaknya tentu harus disertai dengan memahami makna nama tersebut. Nama yang berbau Arab belum tentu tepat kalau tidak mengerti maksudnya, malahan bisa salah dan tidak punya makna.

Ada beberapa hal yang tidak diperbolehkan dalam memberikan nama pada anak. Syekh Abdullah Nashih Ulwan, dalam bukunya Tarbiyatul Aulad fil Islam, mengemukakan beberapa acuan dalam menamai anak.

Pertama: Nama-nama yang khusus untuk Allah SWT karena sifatnya yang mutlak, seperti Ar Rahiim, Al Khaliq dan sebagainya. Tidak diperkenankan bagi orang tua untuk menamai anak-anaknya dengan nama-nama khusus Allah, kecuali dengan menunjukkan secara jelas kedudukannya sebagai hamba Allah.

Jika nama-nama khusus untuk Allah tidak diperbolehkan, nama yang menunjukkan kedudukan sebagai hamba justru disukai. Misalnya Abdullah atau Abdurrahman.

“Sesungguhnya nama-nama kalian yang paling disukai oleh Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha agung adalah Abdullah dan Abdurrahman”. (HR. Muslim).

Kedua: Tidak boleh menggunakan nama yang menunjukkan ketundukan kepada selain Allah, seperti misalnya Abdul Uzza, Abdun Nabi dan sebagainya.

Ketiga: Menjauhi nama-nama yang maknanya terlalu optimistik. Termasuk nama yang optimistik adalah Najieh, Nafi, maupun Aflah.

“Janganlah kamu memberi nama kepada anak laki-lakimu dengan nama Yassar, Rabaah, Najaah, dan juga Aflah… (HR. Muslim).

Keempat: Jangan pernah memberi nama dengan nama yang mempunyai makna mudah lekang, lekas sirna, serta nama-nama yang dapat mnelemahkan jiwa anak. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam memiliki kepribadian khas yang kuat, berbeda dengan umat yang lain.

Berbicara tentang nama, memang tidak ada habisnya. Seperti pepatah mengatakan, “Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan Nama.” Namun pertanyaan penting pula, bagaimana kita meninggalkan nama yang harum bagi generasi di belakang kita?

Jagalah nama anda dengan jejak rekam yang baik selama anda hidup di dunia, tuliskanlah gagasan dan kebijaksaan anda untuk dibagikan pada generasi selanjutnya, dengan demikian nama anda akan dikenang dalam keabadian.

Arti Nama dalam Dunia Bisnis
Di dunia bisnis nama sangat amat diperlukan dan hal yang sangat vital. Istilah nama ini kalau di dunia bisnis sering disebut branding, brand atau merk. Dengan kita memiliki Merk, label branding yang bagus apapun yang kita kerjakan, omongkan dan segala tindak tanduk anda bakalan dipercaya orang, perusahaan ataupun organisasi. Nah kita bakalan diskusi soal bagaimana “membangun sebuah kepercayaan publik” terhadap brand atau merk kamu.

Branding diibaratkan jika kamu bicara A maka orang lain pun ikut bicara A. Aura seseorang atau perusahaan yang sudah memiliki label, branding atau merk yang kuat, meskipun banyak pesaing baru yang muncul dan mencoba menggoyahkannya tapi dominasi ia tak juga goyah. Namun Merk yang kamu miliki bisa saja hancur dan luntur dimakan waktu jika saat awalnya bagus tapi lama kelamaan makin ga profesional dalam pelayanan dan terjadi penurunan kualitas barang atau jasa yang kamu jual.

Nah bagaimana sebenarnya membangun brand atau merk yang kuat itu ?

  1. Pertama adalah Memiliki suatu keunggulan dan bukti-bukti keunggulan anda harus ada. Setelah kamu memiliki keunggulan daripada yang lainnya.
  2. Kedua yang harus kamu bangun adalah komunitas, pertemanan atau jaringan pergaulan yang luas. Dengan jaringan teman yang luas, apapun yang jadi kesulitan kamu bakalan ada solusinya. Selain itu dengan jaringan teman yang luas, kamu juga bisa secara tidak langsung bisa prospek mereka jika ada produk baru.
  3. Ketiga untuk memperkuat branding adalah kamu memiliki pasar yang siap untuk membeli atau menerima produk yang kamu tawarkan. Dengan pasar yang sudah siap, tinggal kamu keluarkan produk yang kamu miliki, maka pasar bakalan siap membeli apa yang kamu jual tersebut.
  4. Keempat untuk memperkuat branding kamu, maka kamu harus peka terhadap produk yang ditawarkan orang lain atau perusahaan lain yang memiliki usaha sejenis dengan kamu. Jadi kalau perusahaan A bikin produk baru dan mutakhir, maka kamu harus bisa paling tidak menyamai atau lebih baik lagi jika bisa lebih dari produk mereka.
  5. Kelima untuk memperkuat branding maka kamu harus giat cari informasi dan sebuah inovasi baru, jika tidak maka siap-siap kamu harus tergeser oleh perusahaan baru yang lebih memiliki inovasi baru dalam bisnis yang kamu geluti sekarang.
  6. Keenam untuk memperkuat branding kamu, maka kamu harus terus meningkatkan layanan kepada konsumen.
  7. Ketujuh dan terakhir untuk memperkuat branding kamu maka kamu coba minta pendapat serta saran dan kritik pada konsumen yang telah memakai produk kamu. Jika memang puas, maka minta bantuan mereka untuk merekomendasikan produk anda ke orang lain. Jadikan konsumen kamu adalah teman anda. Hargai mereka dengan sebaik-baiknya. Maka yang akan terjadi pada konsumen anda adalah ” Saya Puas……Saya Puas…..Saya Puas” .

Nama besar, branding, merk atau label sangat amat diperhitungkan oleh konsumen sebelum mengkonsumsi suatu produk dari seorang produsen. Meskipun membuat branding yang kuat itu susah dan sulit, tapi jika kamu usaha dengan sangat keras, bukan tidak mungkin dalam waktu sekejap bisa menguasai pasar. Tinggal bagaimana daya kreatifitas kamu sebagai seorang yang membawa nama kamu sendiri.

Nama dalam tataran Ilahi 

Kurios (bahasa Yunani) memiliki arti sama dengan Tuhan (Perjanjian Baru). Kata ini sama dengan Yahwe (bahasa Ibrani, Perjanjian Lama). Theos (bahasa Yunani) berarti Allah sama dengan El, Elohim dan Eloah dalam Perjanjian Lama.

Eloah/Elohim diterjemahkan Allah/Allah dalam bentuk jamak. Adonay diterjemahkan Tuan/Tuhan. YHWH diterjemahkan TUHAN.

Kalimat “Allahu Akbar” pun ada dalam kata-kata Sanskerta, “Alla dan Akka”, dua kata panggilan untuk Tuhan.

Kita mengenal adat orang Jahudi yang jumawa, sehingga tanpa dijelaskan pun banyak manusia tidak bersimpati terhadap perilaku orang Jahudi. Namun walaupun begitu, ternyata untuk meyebut nama Tuhan (YHWH) mereka sebut “adonai”. Hal ini semata-mata untuk menghindari menyebut Nama Tuhan dengan serampangan, dan tidak tepat. Karena Asma pasti terkait dengan Dzat, Af’al, dan Sifat dari yang punya Asma. Dengan menyebut Asmanya, maka yang kita maksud adalah memanggil Dzatnya beserta dengan segala sifatNya.

Beriman kepada Allah artinya juga beriman kepada seluruh aspek yang menyertaiNya, Asma, Sifat, Af’al, Dzat, dan juga FirmanNya.

Iman kepada Allah Subhanhu wa ta’alaa adalah satu kalimat yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun demikian, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan iman kepada Allah Subhanahu wa ta’alaa tersebut? Beriman kepada Allah subhanhu wa ta’alaa adalah membenarkan dengan yakin akan adanya Allah subhanhu wa ta’alaa, membenarkan dengan yakin akan keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya menciptakan alam makhluk seluruhnya, maupun dalam menerima ibadat segenap makhluk-Nya, kemudian juga membenarkan dengan yakin, bahwa Allah swt memiliki sifat sempurna, suci dari segala sifat kekurangan dan suci pula dari menyerupai segala yang baru (makhluk). Sebuah pembenaran yang terealisir dalam hati, lisan, dan amal perbuatan.

Beriman kepada Allah subhanahu wa ta’alaa berarti meninggalkan segala bentuk penghambaan, bersandar, dan menyembah kepada selain Allah subhanahu wa ta’alaa. Segala bentuk aktivitas kehidupan, baik yang bersifat lahir maupun bathin, jasmaniah maupun ruhaniah, semuanya hanya ditujukan untuk beribadah kepada Allah subhanhu wa ta’alaa, untuk mendapatkan ridho dan rahmat Allah subhanhu wa ta’alaa.

Adapun dalil-dalil yangberkenaan dengan iman kepada Allah subhanhu wa ta’alaa adalah sebagai berikut:
Firman Allah subhanahu wa ta’alaa:

“Wahai orang yang beriman; berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam ), kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Barangsiapa kafir (tidak beriman) kepada Allah, malaikat-Nya. kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan Hari Akhirat, maka sesungguhnya orang itu sangat jauh tersesat.” (QS. An Nisaa’ (4): 136

“Dan Tuhan itu, Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah (2): 163.)

“Allah itu tunggal, tidak ada Tuhan selain Dia, yang hidup tidak berkehendak kepada selain-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya lah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Bukankah tidak ada orang yang memberikan syafaat di hadapan-Nya jika tidak dengan seizin-Nya? Ia mengetahui apa yang di hadapan manusia dan apa yang di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sedikit jua pun tentang ilmu-Nya, kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Pengetahuannya meliputi langit dan bumi. Memelihara kedua makhluk itu tidak berat bagi-Nya. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Baqarah (2): 255.)

“Dialah Allah, Tuhan Yang Tunggal, yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui perkara yang tersembunyi (gaib) dan yang terang Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak tidak ada Tuhan selain Dia, Raja Yang Maha Suci, yang sejahtera yang memelihara, yang Maha Kuasa. Yang Maha Mulia, Yang Jabbar,lagi yang Maha besar, maha Suci Allah dari segala sesuatu yang mereka perserikatkan dengannya. Dialah Allah yang menjadikan, yang menciptakan, yang memberi rupa, yang mempunyai nama-nama yang indah dan baik. Semua isi langit mengaku kesucian-Nya. Dialah Allah Yang Maha keras tuntutan-Nya, lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Hasyr (59): 22-24 )

“Katakanlah olehmu (hai Muhammad): Allah itu Maha Esa. Dialah tempat bergantung segala makhluk dan tempat memohon segala hajat. Dialah Allah, yang tiada beranak dan tidak diperanakkan dan tidak seorang pun atau sesuatu yang sebanding dengan Dia.” (QS. Al Ikhlash (112): 1-4)

“Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha (20): 14)

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua, agama yang satu dan Aku Tuhan kalian, maka bartakwalah kepada-Ku.” (QS. Al Mukminun (23): 52)

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua agama yang satu dan Aku Tuhan kalian, maka sembahlah Aku.” (QS. Al Anbiya (21): 92)

“Sekiranya ada di langit dan di bumi Tuhan-Tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak, binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai Arasy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al Anbiya’ (21): 22)

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, Malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi…” (QS. Al Baqarah (59): 177)
Sabda RasululIah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

Di antara sejumlah hadits-hadits tersebut, terdapat sebuah hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa Malaikat Jibril pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Iman, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan Hari Akhir, serta beriman kepada qadar yang baik maupun buruk.”

“Katakanlah olehmu (wahai Sufyan, jika kamu benar-benar hendak memeluk Islam): ‘Saya telah beriman akan Allah’, kemudian berlaku luruslah kamu.” (HR. Taisirul Wushul, 1: 18).

“Manusia yang paling bahagia memperoleh syafaat-Ku di hari kiamat, ialah: orang yang mengucapkan kalimat La ilaha illallah.” (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12).

“Barangsiapa mati tidak memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk surga. Dan barangsiapa mati tengah memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk neraka.” (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12)

>Arti Sebuah Nama

>

What’s in a name? That which we call a rose
by any other name would smell as sweet.
~William Shakespeare~

Apalah arti sebuah nama. Mungkin itu yang ada di benak mereka mengutip kata-kata sang pujangga William Shakespeare. Kalau kita hanya melihat sepenggal kalimat tersebut, memang seolah-olah nama bukanlah hal penting. Namun mari kita coba melihat lengkapnya kalimat tersebut.

Apalah arti sebuah nama? Meskipun kita menyebut mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap harum.

Jadi jelas, wangi mawar akan tetap seperti itu meski kita menyebutnya kotoran kuda sekalipun. Nama bisa saja bukan hal yang penting bila kita bandingkan dengan tindakan kita. Orang bisa jadi tidak mengenal nama A, B atau C. Namun kalau tindakan kita baik maka akan ada cap “orang baik” ke kita. Begitu juga sebaliknya.

Tentu saja, nama sebaik apa pun tidak akan membuat sang empunya nama menjadi baik pula. Setidaknya, tidak secara langsung. Dalam konteks ini, sebuah nama hanyalah salah satu tanda untuk mengenali seseorang. Tanda yang digunakan agar seseorang tahu sedang dipanggil oleh orang lain. Tanda untuk absensi saat di sekolah. Tanda dalam kartu pengenal. Tanda yang perlu dicantumkan pada surat undangan pernikahan. Dan masih banyak lagi. Bayangkan betapa sulitnya menunjuk seseorang bila tanpa menggunakan nama. Untuk mengatakan Joko, barangkali orang harus mengatakannya dengan lelaki-berwajah-oval-dan-berhidung-mancung-yang-tinggal-di-belakang-pos-kamling-RW-7. Fiuuuhh..

Tidak ada informasi dengan jelas sejak kapan peradaban manusia pertama kali menggunakan nama. Meskipun setiap kultur di muka bumi ini menggunakan nama, ternyata penggunaannya dapat bervariasi dari masyarakat yang satu ke masyarakat yang lain. Ada yang menggunakan nama dengan sangat sederhana seperti di Indonesia, yang hanya menggunakan satu kata seperti Parto, Paryono, Hamid, dan Soeharto. Namun ada pula yang penggunaan namanya sangat kompleks seperti pada tradisi masyarakat Cina.

Beberapa model nama mengandung informasi tentang silsilah seseorang, semisal nama keluarga atau marga. Biasanya model nama seperti ini diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nama bisa juga mengandung informasi urutan lahir seseorang seperti yang digunakan oleh masyarakat Bali dan juga beberapa kultur di Afrika. Atau given name seperti pada tradisi barat yang merupakan semacam nama pemberian yang diberikan pada suatu waktu setelah seorang anak lahir.

Nama adalah sebuah Doa, Panggilan, sekaligus harapan agar seseorang dapat memenuhi panggilan kita, agar yang dipanggil merasa diangkat derajatnya, bukan sebaliknya. Seyogiyanya umat manusia memberi nama dengan makna yang baik, sekaligus Doa yang baik terhadap anak dan kerabatnya.

Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW:

“Ya Rasulullah, apakah hak anakku terhadapku?” Nabi menjawab: “Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan ia di tempat yang baik”.

“Baguskan namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti,” kata Rasulullah. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hiban).

Nama di dalam Islam tidak hanya berfungsi untuk membedakan satu anak dengan anak yang lainnya. Betul sekali apa yang anda sampaikan, bahwa pada sebuah nama, ada cita-cita, doa dan harapan orang tua yang ingin disematkan pada si anak.

Nama adalah penting, karena nama dapat menunjukkan identitas keluarga, bangsa bahkan aqidah. Secara psikologis nama juga akan berpengaruh pada konsep diri seseorang. Secara tidak sadar seseorang akan didorong untuk memenuhi citra yang terkandung dalam namanya.

Teori Labelling (penamaan) menjelaskan kemungkinan seseorang menjadi jahat karena masyarakat menamainya sebagai penjahat. Memang boleh jadi orang akan berperilaku yang bertentangan dengan namanya.

Seseorang yang bernama Abdullah misalnya, seharusnya rajin beribadah, tapi bisa jadi sering meninggalkan sholat. Mestinya nama itu akan meresahkan batinnya. Ia boleh jadi akan mengubah namanya atau perilakunya.

Keinginan orang tua untuk memberikan nama yang baik pada anaknya tentu harus disertai dengan memahami makna nama tersebut. Nama yang berbau Arab belum tentu tepat kalau tidak mengerti maksudnya, malahan bisa salah dan tidak punya makna.

Ada beberapa hal yang tidak diperbolehkan dalam memberikan nama pada anak. Syekh Abdullah Nashih Ulwan, dalam bukunya Tarbiyatul Aulad fil Islam, mengemukakan beberapa acuan dalam menamai anak.

Pertama: Nama-nama yang khusus untuk Allah SWT karena sifatnya yang mutlak, seperti Ar Rahiim, Al Khaliq dan sebagainya. Tidak diperkenankan bagi orang tua untuk menamai anak-anaknya dengan nama-nama khusus Allah, kecuali dengan menunjukkan secara jelas kedudukannya sebagai hamba Allah.

Jika nama-nama khusus untuk Allah tidak diperbolehkan, nama yang menunjukkan kedudukan sebagai hamba justru disukai. Misalnya Abdullah atau Abdurrahman.

“Sesungguhnya nama-nama kalian yang paling disukai oleh Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha agung adalah Abdullah dan Abdurrahman”. (HR. Muslim).

Kedua: Tidak boleh menggunakan nama yang menunjukkan ketundukan kepada selain Allah, seperti misalnya Abdul Uzza, Abdun Nabi dan sebagainya.

Ketiga: Menjauhi nama-nama yang maknanya terlalu optimistik. Termasuk nama yang optimistik adalah Najieh, Nafi, maupun Aflah.

“Janganlah kamu memberi nama kepada anak laki-lakimu dengan nama Yassar, Rabaah, Najaah, dan juga Aflah… (HR. Muslim).

Keempat: Jangan pernah memberi nama dengan nama yang mempunyai makna mudah lekang, lekas sirna, serta nama-nama yang dapat mnelemahkan jiwa anak. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam memiliki kepribadian khas yang kuat, berbeda dengan umat yang lain.

Berbicara tentang nama, memang tidak ada habisnya. Seperti pepatah mengatakan, “Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan Nama.” Namun pertanyaan penting pula, bagaimana kita meninggalkan nama yang harum bagi generasi di belakang kita?

Jagalah nama anda dengan jejak rekam yang baik selama anda hidup di dunia, tuliskanlah gagasan dan kebijaksaan anda untuk dibagikan pada generasi selanjutnya, dengan demikian nama anda akan dikenang dalam keabadian.

Arti Nama dalam Dunia Bisnis
Di dunia bisnis nama sangat amat diperlukan dan hal yang sangat vital. Istilah nama ini kalau di dunia bisnis sering disebut branding, brand atau merk. Dengan kita memiliki Merk, label branding yang bagus apapun yang kita kerjakan, omongkan dan segala tindak tanduk anda bakalan dipercaya orang, perusahaan ataupun organisasi. Nah kita bakalan diskusi soal bagaimana “membangun sebuah kepercayaan publik” terhadap brand atau merk kamu.

Branding diibaratkan jika kamu bicara A maka orang lain pun ikut bicara A. Aura seseorang atau perusahaan yang sudah memiliki label, branding atau merk yang kuat, meskipun banyak pesaing baru yang muncul dan mencoba menggoyahkannya tapi dominasi ia tak juga goyah. Namun Merk yang kamu miliki bisa saja hancur dan luntur dimakan waktu jika saat awalnya bagus tapi lama kelamaan makin ga profesional dalam pelayanan dan terjadi penurunan kualitas barang atau jasa yang kamu jual.

Nah bagaimana sebenarnya membangun brand atau merk yang kuat itu ?

  1. Pertama adalah Memiliki suatu keunggulan dan bukti-bukti keunggulan anda harus ada. Setelah kamu memiliki keunggulan daripada yang lainnya.
  2. Kedua yang harus kamu bangun adalah komunitas, pertemanan atau jaringan pergaulan yang luas. Dengan jaringan teman yang luas, apapun yang jadi kesulitan kamu bakalan ada solusinya. Selain itu dengan jaringan teman yang luas, kamu juga bisa secara tidak langsung bisa prospek mereka jika ada produk baru.
  3. Ketiga untuk memperkuat branding adalah kamu memiliki pasar yang siap untuk membeli atau menerima produk yang kamu tawarkan. Dengan pasar yang sudah siap, tinggal kamu keluarkan produk yang kamu miliki, maka pasar bakalan siap membeli apa yang kamu jual tersebut.
  4. Keempat untuk memperkuat branding kamu, maka kamu harus peka terhadap produk yang ditawarkan orang lain atau perusahaan lain yang memiliki usaha sejenis dengan kamu. Jadi kalau perusahaan A bikin produk baru dan mutakhir, maka kamu harus bisa paling tidak menyamai atau lebih baik lagi jika bisa lebih dari produk mereka.
  5. Kelima untuk memperkuat branding maka kamu harus giat cari informasi dan sebuah inovasi baru, jika tidak maka siap-siap kamu harus tergeser oleh perusahaan baru yang lebih memiliki inovasi baru dalam bisnis yang kamu geluti sekarang.
  6. Keenam untuk memperkuat branding kamu, maka kamu harus terus meningkatkan layanan kepada konsumen.
  7. Ketujuh dan terakhir untuk memperkuat branding kamu maka kamu coba minta pendapat serta saran dan kritik pada konsumen yang telah memakai produk kamu. Jika memang puas, maka minta bantuan mereka untuk merekomendasikan produk anda ke orang lain. Jadikan konsumen kamu adalah teman anda. Hargai mereka dengan sebaik-baiknya. Maka yang akan terjadi pada konsumen anda adalah ” Saya Puas……Saya Puas…..Saya Puas” .

Nama besar, branding, merk atau label sangat amat diperhitungkan oleh konsumen sebelum mengkonsumsi suatu produk dari seorang produsen. Meskipun membuat branding yang kuat itu susah dan sulit, tapi jika kamu usaha dengan sangat keras, bukan tidak mungkin dalam waktu sekejap bisa menguasai pasar. Tinggal bagaimana daya kreatifitas kamu sebagai seorang yang membawa nama kamu sendiri.

Nama dalam tataran Ilahi 

Kurios (bahasa Yunani) memiliki arti sama dengan Tuhan (Perjanjian Baru). Kata ini sama dengan Yahwe (bahasa Ibrani, Perjanjian Lama). Theos (bahasa Yunani) berarti Allah sama dengan El, Elohim dan Eloah dalam Perjanjian Lama.

Eloah/Elohim diterjemahkan Allah/Allah dalam bentuk jamak. Adonay diterjemahkan Tuan/Tuhan. YHWH diterjemahkan TUHAN.

Kalimat “Allahu Akbar” pun ada dalam kata-kata Sanskerta, “Alla dan Akka”, dua kata panggilan untuk Tuhan.

Kita mengenal adat orang Jahudi yang jumawa, sehingga tanpa dijelaskan pun banyak manusia tidak bersimpati terhadap perilaku orang Jahudi. Namun walaupun begitu, ternyata untuk meyebut nama Tuhan (YHWH) mereka sebut “adonai”. Hal ini semata-mata untuk menghindari menyebut Nama Tuhan dengan serampangan, dan tidak tepat. Karena Asma pasti terkait dengan Dzat, Af’al, dan Sifat dari yang punya Asma. Dengan menyebut Asmanya, maka yang kita maksud adalah memanggil Dzatnya beserta dengan segala sifatNya.

Beriman kepada Allah artinya juga beriman kepada seluruh aspek yang menyertaiNya, Asma, Sifat, Af’al, Dzat, dan juga FirmanNya.

Iman kepada Allah Subhanhu wa ta’alaa adalah satu kalimat yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun demikian, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan iman kepada Allah Subhanahu wa ta’alaa tersebut? Beriman kepada Allah subhanhu wa ta’alaa adalah membenarkan dengan yakin akan adanya Allah subhanhu wa ta’alaa, membenarkan dengan yakin akan keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya menciptakan alam makhluk seluruhnya, maupun dalam menerima ibadat segenap makhluk-Nya, kemudian juga membenarkan dengan yakin, bahwa Allah swt memiliki sifat sempurna, suci dari segala sifat kekurangan dan suci pula dari menyerupai segala yang baru (makhluk). Sebuah pembenaran yang terealisir dalam hati, lisan, dan amal perbuatan.

Beriman kepada Allah subhanahu wa ta’alaa berarti meninggalkan segala bentuk penghambaan, bersandar, dan menyembah kepada selain Allah subhanahu wa ta’alaa. Segala bentuk aktivitas kehidupan, baik yang bersifat lahir maupun bathin, jasmaniah maupun ruhaniah, semuanya hanya ditujukan untuk beribadah kepada Allah subhanhu wa ta’alaa, untuk mendapatkan ridho dan rahmat Allah subhanhu wa ta’alaa.

Adapun dalil-dalil yangberkenaan dengan iman kepada Allah subhanhu wa ta’alaa adalah sebagai berikut:
Firman Allah subhanahu wa ta’alaa:

“Wahai orang yang beriman; berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam ), kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Barangsiapa kafir (tidak beriman) kepada Allah, malaikat-Nya. kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan Hari Akhirat, maka sesungguhnya orang itu sangat jauh tersesat.” (QS. An Nisaa’ (4): 136

“Dan Tuhan itu, Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah (2): 163.)

“Allah itu tunggal, tidak ada Tuhan selain Dia, yang hidup tidak berkehendak kepada selain-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya lah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Bukankah tidak ada orang yang memberikan syafaat di hadapan-Nya jika tidak dengan seizin-Nya? Ia mengetahui apa yang di hadapan manusia dan apa yang di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sedikit jua pun tentang ilmu-Nya, kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Pengetahuannya meliputi langit dan bumi. Memelihara kedua makhluk itu tidak berat bagi-Nya. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Baqarah (2): 255.)

“Dialah Allah, Tuhan Yang Tunggal, yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui perkara yang tersembunyi (gaib) dan yang terang Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak tidak ada Tuhan selain Dia, Raja Yang Maha Suci, yang sejahtera yang memelihara, yang Maha Kuasa. Yang Maha Mulia, Yang Jabbar,lagi yang Maha besar, maha Suci Allah dari segala sesuatu yang mereka perserikatkan dengannya. Dialah Allah yang menjadikan, yang menciptakan, yang memberi rupa, yang mempunyai nama-nama yang indah dan baik. Semua isi langit mengaku kesucian-Nya. Dialah Allah Yang Maha keras tuntutan-Nya, lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Hasyr (59): 22-24 )

“Katakanlah olehmu (hai Muhammad): Allah itu Maha Esa. Dialah tempat bergantung segala makhluk dan tempat memohon segala hajat. Dialah Allah, yang tiada beranak dan tidak diperanakkan dan tidak seorang pun atau sesuatu yang sebanding dengan Dia.” (QS. Al Ikhlash (112): 1-4)

“Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha (20): 14)

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua, agama yang satu dan Aku Tuhan kalian, maka bartakwalah kepada-Ku.” (QS. Al Mukminun (23): 52)

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua agama yang satu dan Aku Tuhan kalian, maka sembahlah Aku.” (QS. Al Anbiya (21): 92)

“Sekiranya ada di langit dan di bumi Tuhan-Tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak, binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai Arasy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al Anbiya’ (21): 22)

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, Malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi…” (QS. Al Baqarah (59): 177)
Sabda RasululIah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

Di antara sejumlah hadits-hadits tersebut, terdapat sebuah hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa Malaikat Jibril pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Iman, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan Hari Akhir, serta beriman kepada qadar yang baik maupun buruk.”

“Katakanlah olehmu (wahai Sufyan, jika kamu benar-benar hendak memeluk Islam): ‘Saya telah beriman akan Allah’, kemudian berlaku luruslah kamu.” (HR. Taisirul Wushul, 1: 18).

“Manusia yang paling bahagia memperoleh syafaat-Ku di hari kiamat, ialah: orang yang mengucapkan kalimat La ilaha illallah.” (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12).

“Barangsiapa mati tidak memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk surga. Dan barangsiapa mati tengah memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk neraka.” (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12)

Cipta Rasa Karsa

VISUALISASI

Bila kita menginginkan sesuatu maka pikiran bawah sadar akan menggambarkan apa yang didambakan itu. Dengan cara memvisualisasikan impian terlebih dahulu, terciptalah banyak sekali karya-karya spektakuler di dunia ini. Marcus Aurelius Antonius, seorang kaisar Romawi jaman dahulu mengatakan,

“ A man ’ s life is what his thought make of it – Kehidupan manusia ialah bagaimana mereka memikirkannya. ”

Sesuatu yang selalu divisualisasikan manusia akan mudah terekam dalam pikiran bawah sadar. Lalu muncul kekuatan pikiran tersebut, yang berperan sebagai penghubung antara jiwa dengan tubuh. Sehingga tubuhpun bereaksi dengan mengerahkan seluruh potensi yang sebelumnya tidak pernah digunakan, dalam bentuk kreatifitas atau tindakan. Memvisualisasikan impian memungkinkan seluruh impian tercapai oleh pikiran bawah sadar.

Tuhan Yang Maha Esa menganugerahkan potensi yang sama besar kepada manusia. Tidak ada ruginya membayangkan betapa berpotensinya diri kita untuk mencapai impian-impian. Berikut ini beberapa langkah dalam memvisualisasikan impian, yaitu:

1. Relaksasi, masuki kondisi meditasi

2. Definisikan impian. 

Mendefinisikan impian artinya memberikan batasan atau standar akan impian yang hendak dicapai. Kemudian, gambarkanlah semua impian seolah-olah Anda sudah sepatutnya meraih impian tersebut. Meskipun tindakan ini terkesan sederhana, tetapi dari gambaran impian itulah kita akan mencoba berbuat sesuatu untuk melakukan perubahan dan akhirnya dapat meraih cita-cita.

3. Tentukan target waktu. 

Dambakan impian itu terwujud sesuai target yang telah ditentukan, sebab impian tanpa target waktu hanya akan menjadi mimpi sesaat. Impian dengan target waktu akan menggerakkan kesadaran untuk tidak segan- segan melakukan perubahan. Maka mulailah dari sekarang, Be the best, do the best, and then let God take care the rest – Jadilah yang terbaik, lakukan yang terbaik, biarlah Tuhan yang menentukan. Potensi yang kita miliki kelihatannya sangat sayang jika tidak dioptimalkan.

4. Lakukan berulang-ulang (Repetition)

Melakukan ulangan artinya mengkondisikan diri kita untuk lebih sering ingat akan impian kita. Jika sering ingat, maka perlahan-lahan impian itu akan tertanam di alam pikiran bawah sadar. Bila pesan sudah diterima oleh SCM (sub-conscience mind), maka dia akan menggerakkan diri kita untuk menciptakan keputusan atau menjadikan kita lebih kreatif. Jika impian lebih sering diimajinasikan ternyata dapat melipatgandakan kekuatan dari pikiran bawah sadar. Imajinasi yang diulang-ulang ini akan secara tidak langsung merangsang ilusi akan kenyataan yang luar biasa tentang potensi kita sebagai umat manusia. Sehingga diri kita akan berusaha keras mencapai impian yang divisualisasikan. Begitulah seterusnya kekuatan pikiran bawah sadar bekerja dan dibangkitkan, hingga perubahan besar terjadi dalam diri kita pada suatu waktu.

Autosugesti

Keinginan-keinginan kita merupakan informasi penting untuk pikiran bawah sadar. Sebab keinginan yang terekam kuat dalam pikiran bawah sadar sangat besar dapat menjadi daya dorong yang akan menggerakkan diri kita untuk berbuat sesuatu yang luar biasa. Keinginan yang sangat besar dan terekam dalam pikiran bawah sadar itulah yang dinamakan autosuggestion.

Autosuggestion seharusnya dilakukan dengan penuh rasa percaya, melibatkan emosi dalam diri, dilakukan penuh konsentrasi terhadap obyek yang positif, dan berulang-ulang. Selanjutnya, pikiran bawah sadar inilah yang akan mendikte gerak-gerik tubuh kita. Kekuatan yang ditimbulkan oleh pikiran bawah sadar itu sangat dahsyat entah digunakan untuk melakukan perbuatan buruk atau baik. Kadangkala niat untuk melakukan sesuatu secara otomatis muncul dari pikiran bawah sadar.

Autosuggestion akan mengetuk kesadaran (heartknock). Karena dilakukan berulang-ulang dan rutin, suatu ketika kata-kata tersebut akan menembus pikiran bawah sadar. Lalu pikiran bawah sadar itupun memompa semangat. Energi itu dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan impian hidup kita.

Mungkin kegiatan autosuggestion ini akan dianggap aneh oleh orang lain. Tetapi itulah salah satu cara untuk mengubah diri dari dalam. Biasakan mendengar pola pikir positif dan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang konstruktif. Jadi jangan ragu untuk melakukan budaya-budaya yang potensial, menumbuhkan optimisme dan kreatifitas.

“Kunci sukses agar sugesti ataupun auto sugesti bekerja dengan baik maka, katakanlah, dengangarkan, dan percaya, berpendirian dan penuh harapan. Dalam pengulangan sugesti akan lebih efektif apabila kata- kata tersebut mempunyai arti tersendiri bagi Anda. ”

Beberapa langka agar sugesti lebih efektif

1. Relaksasi, nasuki kondisi meditasi.

2. Gunakan kalimat positif. 

Sugesti hendaknya menggambarkan apa yang Anda inginkan buan apa yang Anda tidak ingingkan. Gunakan “ Aku percaca diri dan tegas ” jangan gunakan “ Aku bukan pemalu ” . Pikiran bawah sadar tidak dapat memproses pernyataan negatif, hindarkan menggunakan kata “ tidak ” dalam sugesti Anda.

3. Percaya dengan apa yang didengar dan dilihat (Visualisasi). 

Beberapa fakta membuktikan dengan mempercayai apa yang disugestikan akan mempercepat proses realisasi sugesti tersebut, apabila Anda mengalami kesulitan dalam mempercayai sugesti tersebut berpura- puralah Anda percaya, yakinkan diri Anda. Ulang secara terus menerus sampai memberikan sensasi bagi diri Anda, sampai Anda mempercainya.

4. Buat sesederhana mungkin. 

Jangan gunakan kata yang bertele-tele. Sugesti akan lebih efektif apabila Anda menggunakan kata-kata yang pendek dan mudah untuk diucapkan. Buatlah sugesti tersebut tidak melebihi 2 atau 3 kalimat.

5. Gunakan penunjuk waktu sekarang. 

Jangan pernah menggunakan kata “ akan ” , apabila hal ini Anda lakukan maka keinginan Anda dalam sugesti tersebut akan terus berada dimasa depan. Ulanglah sugesti Anda sesering mungkin. Berhati-hatilah, jangan sampai dalam pengulangan sugesti menimbulkan makna yang berbeda dari harapan Anda.

6. Berirama. 

Usahakan pengulangan sugesti selaras dengan keluar masuknya udara dalam paru-paru Anda. Jika Anda menggunakan pola gelombang otak Self-hypnosis selaraskan sugesti Anda dengan beat suara yang sedang didengar.

7. Bersifat pribadi. 

Sugesti yang Anda buat adalah kebenaran bagi bagi Anda, hal ini akan lebih efektif.

>Cipta Rasa Karsa

>VISUALISASI

Bila kita menginginkan sesuatu maka pikiran bawah sadar akan menggambarkan apa yang didambakan itu. Dengan cara memvisualisasikan impian terlebih dahulu, terciptalah banyak sekali karya-karya spektakuler di dunia ini. Marcus Aurelius Antonius, seorang kaisar Romawi jaman dahulu mengatakan,

“ A man ’ s life is what his thought make of it – Kehidupan manusia ialah bagaimana mereka memikirkannya. ”

Sesuatu yang selalu divisualisasikan manusia akan mudah terekam dalam pikiran bawah sadar. Lalu muncul kekuatan pikiran tersebut, yang berperan sebagai penghubung antara jiwa dengan tubuh. Sehingga tubuhpun bereaksi dengan mengerahkan seluruh potensi yang sebelumnya tidak pernah digunakan, dalam bentuk kreatifitas atau tindakan. Memvisualisasikan impian memungkinkan seluruh impian tercapai oleh pikiran bawah sadar.

Tuhan Yang Maha Esa menganugerahkan potensi yang sama besar kepada manusia. Tidak ada ruginya membayangkan betapa berpotensinya diri kita untuk mencapai impian-impian. Berikut ini beberapa langkah dalam memvisualisasikan impian, yaitu:

1. Relaksasi, masuki kondisi meditasi

2. Definisikan impian. 

Mendefinisikan impian artinya memberikan batasan atau standar akan impian yang hendak dicapai. Kemudian, gambarkanlah semua impian seolah-olah Anda sudah sepatutnya meraih impian tersebut. Meskipun tindakan ini terkesan sederhana, tetapi dari gambaran impian itulah kita akan mencoba berbuat sesuatu untuk melakukan perubahan dan akhirnya dapat meraih cita-cita.

3. Tentukan target waktu. 

Dambakan impian itu terwujud sesuai target yang telah ditentukan, sebab impian tanpa target waktu hanya akan menjadi mimpi sesaat. Impian dengan target waktu akan menggerakkan kesadaran untuk tidak segan- segan melakukan perubahan. Maka mulailah dari sekarang, Be the best, do the best, and then let God take care the rest – Jadilah yang terbaik, lakukan yang terbaik, biarlah Tuhan yang menentukan. Potensi yang kita miliki kelihatannya sangat sayang jika tidak dioptimalkan.

4. Lakukan berulang-ulang (Repetition)

Melakukan ulangan artinya mengkondisikan diri kita untuk lebih sering ingat akan impian kita. Jika sering ingat, maka perlahan-lahan impian itu akan tertanam di alam pikiran bawah sadar. Bila pesan sudah diterima oleh SCM (sub-conscience mind), maka dia akan menggerakkan diri kita untuk menciptakan keputusan atau menjadikan kita lebih kreatif. Jika impian lebih sering diimajinasikan ternyata dapat melipatgandakan kekuatan dari pikiran bawah sadar. Imajinasi yang diulang-ulang ini akan secara tidak langsung merangsang ilusi akan kenyataan yang luar biasa tentang potensi kita sebagai umat manusia. Sehingga diri kita akan berusaha keras mencapai impian yang divisualisasikan. Begitulah seterusnya kekuatan pikiran bawah sadar bekerja dan dibangkitkan, hingga perubahan besar terjadi dalam diri kita pada suatu waktu.

Autosugesti

Keinginan-keinginan kita merupakan informasi penting untuk pikiran bawah sadar. Sebab keinginan yang terekam kuat dalam pikiran bawah sadar sangat besar dapat menjadi daya dorong yang akan menggerakkan diri kita untuk berbuat sesuatu yang luar biasa. Keinginan yang sangat besar dan terekam dalam pikiran bawah sadar itulah yang dinamakan autosuggestion.

Autosuggestion seharusnya dilakukan dengan penuh rasa percaya, melibatkan emosi dalam diri, dilakukan penuh konsentrasi terhadap obyek yang positif, dan berulang-ulang. Selanjutnya, pikiran bawah sadar inilah yang akan mendikte gerak-gerik tubuh kita. Kekuatan yang ditimbulkan oleh pikiran bawah sadar itu sangat dahsyat entah digunakan untuk melakukan perbuatan buruk atau baik. Kadangkala niat untuk melakukan sesuatu secara otomatis muncul dari pikiran bawah sadar.

Autosuggestion akan mengetuk kesadaran (heartknock). Karena dilakukan berulang-ulang dan rutin, suatu ketika kata-kata tersebut akan menembus pikiran bawah sadar. Lalu pikiran bawah sadar itupun memompa semangat. Energi itu dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan impian hidup kita.

Mungkin kegiatan autosuggestion ini akan dianggap aneh oleh orang lain. Tetapi itulah salah satu cara untuk mengubah diri dari dalam. Biasakan mendengar pola pikir positif dan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang konstruktif. Jadi jangan ragu untuk melakukan budaya-budaya yang potensial, menumbuhkan optimisme dan kreatifitas.

“Kunci sukses agar sugesti ataupun auto sugesti bekerja dengan baik maka, katakanlah, dengangarkan, dan percaya, berpendirian dan penuh harapan. Dalam pengulangan sugesti akan lebih efektif apabila kata- kata tersebut mempunyai arti tersendiri bagi Anda. ”

Beberapa langka agar sugesti lebih efektif

1. Relaksasi, nasuki kondisi meditasi.

2. Gunakan kalimat positif. 

Sugesti hendaknya menggambarkan apa yang Anda inginkan buan apa yang Anda tidak ingingkan. Gunakan “ Aku percaca diri dan tegas ” jangan gunakan “ Aku bukan pemalu ” . Pikiran bawah sadar tidak dapat memproses pernyataan negatif, hindarkan menggunakan kata “ tidak ” dalam sugesti Anda.

3. Percaya dengan apa yang didengar dan dilihat (Visualisasi). 

Beberapa fakta membuktikan dengan mempercayai apa yang disugestikan akan mempercepat proses realisasi sugesti tersebut, apabila Anda mengalami kesulitan dalam mempercayai sugesti tersebut berpura- puralah Anda percaya, yakinkan diri Anda. Ulang secara terus menerus sampai memberikan sensasi bagi diri Anda, sampai Anda mempercainya.

4. Buat sesederhana mungkin. 

Jangan gunakan kata yang bertele-tele. Sugesti akan lebih efektif apabila Anda menggunakan kata-kata yang pendek dan mudah untuk diucapkan. Buatlah sugesti tersebut tidak melebihi 2 atau 3 kalimat.

5. Gunakan penunjuk waktu sekarang. 

Jangan pernah menggunakan kata “ akan ” , apabila hal ini Anda lakukan maka keinginan Anda dalam sugesti tersebut akan terus berada dimasa depan. Ulanglah sugesti Anda sesering mungkin. Berhati-hatilah, jangan sampai dalam pengulangan sugesti menimbulkan makna yang berbeda dari harapan Anda.

6. Berirama. 

Usahakan pengulangan sugesti selaras dengan keluar masuknya udara dalam paru-paru Anda. Jika Anda menggunakan pola gelombang otak Self-hypnosis selaraskan sugesti Anda dengan beat suara yang sedang didengar.

7. Bersifat pribadi. 

Sugesti yang Anda buat adalah kebenaran bagi bagi Anda, hal ini akan lebih efektif.

>Cipta Rasa Karsa

>VISUALISASI

Bila kita menginginkan sesuatu maka pikiran bawah sadar akan menggambarkan apa yang didambakan itu. Dengan cara memvisualisasikan impian terlebih dahulu, terciptalah banyak sekali karya-karya spektakuler di dunia ini. Marcus Aurelius Antonius, seorang kaisar Romawi jaman dahulu mengatakan,

“ A man ’ s life is what his thought make of it – Kehidupan manusia ialah bagaimana mereka memikirkannya. ”

Sesuatu yang selalu divisualisasikan manusia akan mudah terekam dalam pikiran bawah sadar. Lalu muncul kekuatan pikiran tersebut, yang berperan sebagai penghubung antara jiwa dengan tubuh. Sehingga tubuhpun bereaksi dengan mengerahkan seluruh potensi yang sebelumnya tidak pernah digunakan, dalam bentuk kreatifitas atau tindakan. Memvisualisasikan impian memungkinkan seluruh impian tercapai oleh pikiran bawah sadar.

Tuhan Yang Maha Esa menganugerahkan potensi yang sama besar kepada manusia. Tidak ada ruginya membayangkan betapa berpotensinya diri kita untuk mencapai impian-impian. Berikut ini beberapa langkah dalam memvisualisasikan impian, yaitu:

1. Relaksasi, masuki kondisi meditasi

2. Definisikan impian. 

Mendefinisikan impian artinya memberikan batasan atau standar akan impian yang hendak dicapai. Kemudian, gambarkanlah semua impian seolah-olah Anda sudah sepatutnya meraih impian tersebut. Meskipun tindakan ini terkesan sederhana, tetapi dari gambaran impian itulah kita akan mencoba berbuat sesuatu untuk melakukan perubahan dan akhirnya dapat meraih cita-cita.

3. Tentukan target waktu. 

Dambakan impian itu terwujud sesuai target yang telah ditentukan, sebab impian tanpa target waktu hanya akan menjadi mimpi sesaat. Impian dengan target waktu akan menggerakkan kesadaran untuk tidak segan- segan melakukan perubahan. Maka mulailah dari sekarang, Be the best, do the best, and then let God take care the rest – Jadilah yang terbaik, lakukan yang terbaik, biarlah Tuhan yang menentukan. Potensi yang kita miliki kelihatannya sangat sayang jika tidak dioptimalkan.

4. Lakukan berulang-ulang (Repetition)

Melakukan ulangan artinya mengkondisikan diri kita untuk lebih sering ingat akan impian kita. Jika sering ingat, maka perlahan-lahan impian itu akan tertanam di alam pikiran bawah sadar. Bila pesan sudah diterima oleh SCM (sub-conscience mind), maka dia akan menggerakkan diri kita untuk menciptakan keputusan atau menjadikan kita lebih kreatif. Jika impian lebih sering diimajinasikan ternyata dapat melipatgandakan kekuatan dari pikiran bawah sadar. Imajinasi yang diulang-ulang ini akan secara tidak langsung merangsang ilusi akan kenyataan yang luar biasa tentang potensi kita sebagai umat manusia. Sehingga diri kita akan berusaha keras mencapai impian yang divisualisasikan. Begitulah seterusnya kekuatan pikiran bawah sadar bekerja dan dibangkitkan, hingga perubahan besar terjadi dalam diri kita pada suatu waktu.

Autosugesti

Keinginan-keinginan kita merupakan informasi penting untuk pikiran bawah sadar. Sebab keinginan yang terekam kuat dalam pikiran bawah sadar sangat besar dapat menjadi daya dorong yang akan menggerakkan diri kita untuk berbuat sesuatu yang luar biasa. Keinginan yang sangat besar dan terekam dalam pikiran bawah sadar itulah yang dinamakan autosuggestion.

Autosuggestion seharusnya dilakukan dengan penuh rasa percaya, melibatkan emosi dalam diri, dilakukan penuh konsentrasi terhadap obyek yang positif, dan berulang-ulang. Selanjutnya, pikiran bawah sadar inilah yang akan mendikte gerak-gerik tubuh kita. Kekuatan yang ditimbulkan oleh pikiran bawah sadar itu sangat dahsyat entah digunakan untuk melakukan perbuatan buruk atau baik. Kadangkala niat untuk melakukan sesuatu secara otomatis muncul dari pikiran bawah sadar.

Autosuggestion akan mengetuk kesadaran (heartknock). Karena dilakukan berulang-ulang dan rutin, suatu ketika kata-kata tersebut akan menembus pikiran bawah sadar. Lalu pikiran bawah sadar itupun memompa semangat. Energi itu dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan impian hidup kita.

Mungkin kegiatan autosuggestion ini akan dianggap aneh oleh orang lain. Tetapi itulah salah satu cara untuk mengubah diri dari dalam. Biasakan mendengar pola pikir positif dan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang konstruktif. Jadi jangan ragu untuk melakukan budaya-budaya yang potensial, menumbuhkan optimisme dan kreatifitas.

“Kunci sukses agar sugesti ataupun auto sugesti bekerja dengan baik maka, katakanlah, dengangarkan, dan percaya, berpendirian dan penuh harapan. Dalam pengulangan sugesti akan lebih efektif apabila kata- kata tersebut mempunyai arti tersendiri bagi Anda. ”

Beberapa langka agar sugesti lebih efektif

1. Relaksasi, nasuki kondisi meditasi.

2. Gunakan kalimat positif. 

Sugesti hendaknya menggambarkan apa yang Anda inginkan buan apa yang Anda tidak ingingkan. Gunakan “ Aku percaca diri dan tegas ” jangan gunakan “ Aku bukan pemalu ” . Pikiran bawah sadar tidak dapat memproses pernyataan negatif, hindarkan menggunakan kata “ tidak ” dalam sugesti Anda.

3. Percaya dengan apa yang didengar dan dilihat (Visualisasi). 

Beberapa fakta membuktikan dengan mempercayai apa yang disugestikan akan mempercepat proses realisasi sugesti tersebut, apabila Anda mengalami kesulitan dalam mempercayai sugesti tersebut berpura- puralah Anda percaya, yakinkan diri Anda. Ulang secara terus menerus sampai memberikan sensasi bagi diri Anda, sampai Anda mempercainya.

4. Buat sesederhana mungkin. 

Jangan gunakan kata yang bertele-tele. Sugesti akan lebih efektif apabila Anda menggunakan kata-kata yang pendek dan mudah untuk diucapkan. Buatlah sugesti tersebut tidak melebihi 2 atau 3 kalimat.

5. Gunakan penunjuk waktu sekarang. 

Jangan pernah menggunakan kata “ akan ” , apabila hal ini Anda lakukan maka keinginan Anda dalam sugesti tersebut akan terus berada dimasa depan. Ulanglah sugesti Anda sesering mungkin. Berhati-hatilah, jangan sampai dalam pengulangan sugesti menimbulkan makna yang berbeda dari harapan Anda.

6. Berirama. 

Usahakan pengulangan sugesti selaras dengan keluar masuknya udara dalam paru-paru Anda. Jika Anda menggunakan pola gelombang otak Self-hypnosis selaraskan sugesti Anda dengan beat suara yang sedang didengar.

7. Bersifat pribadi. 

Sugesti yang Anda buat adalah kebenaran bagi bagi Anda, hal ini akan lebih efektif.

Pintu Kesadaran

Manusia pada umumnya, tanpa mereka sadari, hanya menjalani kehidupan dalam koridor penjara pikiran yang sempit yang dibatasi oleh tembok-tembok tinggi persepsi. Dengan bahasa yang lebih sederhana manusia hidup dalam realitas yang ditentukan oleh seperangkat aturan (baca: program pikiran) yang ada dalam pikirannya. Kita tidak melihat segala sesuatu apa adanya. Kita melihat sesuatu apa kita-nya, yaitu setelah melalui seperangkat Filter Program Pikiran yang telah tertanam di dalam diri kita.

Sang Buddha pernah berkata, “Pikiran itu sungguh sukar diawasi. Ia amat halus dan senang mengembara sesuka hati. Karena itu hendaklah orang bijaksana selalu menjaganya. Pikiran yang dijaga dengan baik akan membawa kebahagian. Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap, sulit dijaga dan sulit dikuasai; namun orang bijaksana akan meluruskannya, bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah.”

Salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat menonjol adalah kebutuhan akan konsistensi. Saat pikiran telah memutuskan untuk menerima sesuatu sebagai ”kebenaran” maka ia akan konsisten dengan ”kebenaran” itu. ”Kebenaran” ini belum tentu sejalan dengan ”kebenaran” yang kita setujui kebenarannya. ”Kebenaran” menurut pikiran sejalan dengan pemikiran pikiran itu sendiri yang didukung dengan berbagai pengalaman yang pernah kita alami.

Kebenaran” ini dikenal dengan istilah belief. Jadi, setelah pikiran mengadopsi suatu belief maka selanjutnya belief ini yang mengendalikan pikiran. Tanpa intervensi yang dilakukan secara sadar maka hidup kita sepenuhnya dikendalikan oleh berbagai belief yang telah kita adopsi dan yakini kebenarannya.

Saat kita percaya/belief akan kebenaran sesuatu maka kita tidak akan lagi mempertanyakan keabsahan data atau landasan pijak berpikir yang digunakan sebagai dasar penerimaan suatu belief. Belief kita selalu benar menurut kita. Yang benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Kita akan mati-matian mempertahankan belief kita karena kita yang memutuskan bahwa ”sesuatu” itu adalah hal yang benar. Masa kita meragukan kebenaran yang telah kita putuskan ”kebenarannya”?

Lalu, bagaimana caranya untuk bisa keluar dari perangkap penjara pikiran? Jalan kebebasannya adalah melalui Pintu Kesadaran. Nah, Anda mungkin akan bertanya, ”Mengapa harus melalui pintu kesadaran?”

Hanya melalui pintu kesadaran kita bisa menyadari bahwa kita bukanlah pikiran kita, kita bukanlah perasaan kita, kita bukanlah kebiasaan kita, dan yang lebih penting lagi adalah bahwa kita bukanlah belief kita. Kesadaran membuat kita mampu untuk melakukan disosiasi atau pemisahan yang jelas.

Dengan kesadaran kita mampu melakukan “Metakognisi” atau “Berpikir mengenai pikiran“. Dengan berpikir dan mengamati pikiran maka kita akhirnya mengenal ”sosok” pikiran kita. Kita akan tahu pola atau kebiasaan yang pikiran lakukan. Dengan kesadaran kita dapat memahami bahwa pikiran, walaupun merupakan piranti yang sangat luar biasa, tetap hanyalah sebagian kecil dari kesadaran itu sendiri.

Lalu, bagaimana cara untuk bisa mengamati pikiran?

Oh, caranya mudah sekali. Yang perlu kita lakukan adalah belajar untuk menjadi hening. Kita perlu membiasakan diri ”berjalan” di keheningan. Hanya dengan hening kita baru mampu mengamati pikiran kita dengan jelas.

Setiap hari, selama sekitar 30 menit sampai 60 menit, lakukan meditasi. Duduklah dengan tenang dan mulailah mengamati pikiran Anda. Bagi pemula Anda bisa melatih diri dengan melakukan meditasi 15 menit di pagi hari dan malam hari.

Pengamatan terhadap pikiran akan membawa kita pada pengenalan dan pemahaman mendalam yang kita namakan kebijaksanaan. Nah, kebijaksanaan inilah sebenarnya kunci pembuka pintu kebebasan kita.

Source from : Adi W. Gunawan (www.pembelajar.com)