MEDITASI

Masalah utama dalam perkembangan spiritual manusia jaman modern sekarang ini adalah bahwa banyak orang yang tidak mempunyai waktu untuk berdiam diri, hening dalam doa. Mereka begitu sibuk dengan berbagai acara, baik yang bersifat rekreatif maupun bisnis.

Banyak orang merasa bahwa waktu tujuh hari dalam seminggu selalu tidak cukup untuk tugas mereka. Bahkan seringkali waktu sehari dalam dua puluh empat jam pun dirasa masih kurang. Maka sering kali mereka tidak mempunyai waktu untuk keluarga, untuk diri sendiri dan apa lagi untuk Tuhan.

Pulang kerja sudah malam, lagi pula lelahnya badan membuat tidak mungkin duduk berdiam dengan tenang. Langsung tidur itulah solusi yang paling banyak dilakukan. Menurut para ahli spiritualitas, hidup tanpa refleksi itu menjadi kosong dan kering. Karena kedalaman hidup rohani sangat dipengaruhi oleh kemampuan seseorang untuk memperdalam kepekaan dan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup dan rahmat yang diterima sehari-hari.

Dan semua ini dimungkinkan bila seseorang mempunyai waktu untuk refleksi diri dalam hening dan tenang bersama Tuhan dalam doa. Meditasi adalah salah satu ‘cara’ di mana seseorang mampu menciptakan keheningan itu dan ketenangan bersama Tuhan.

Bila setiap orang beriman mempunyai kesempatan seperti ini, maka akan semakin jarang kita temui diantara kita, orang yang merasa tahu banyak ajaran agamanya, tetapi menjadi fanatik buta. Atau orang-orang yang ‘cuek’ dan tidak merasa perlu berdoa dan pergi ke beribadah, karena toh.. Tuhan bisa ditemukan dimana-mana. Atau orang yang berpendapat keselamatan toh tidak ditentukan oleh aktifnya seseorang berdoa atau pergi ke beribadah.

Kata meditasi berarti terus menerus memberikan perhatian atau menghentikan pemikiran pada satu pokok pikiran. Master berkata (dan telah dibuktikan dalam pengalaman) bahwa kita menjadi apa yang kita pikirkan pada saat meditasi. Dengan kata lain kita memperoleh sifat dasar, kwalitas atau keadaan atas obyek yang kita meditasikan.

Oleh karena itu ketika kita meditasi pada sesuatu yang Maha Ghaib yaitu Tuhan, kita akan menghilangkan kekotoran kita dan mendapatkan kehalusanNYA dan kemudian menjadi seperti DIA. Hanya dengan demikian kita dapat menjadi satu dengan DIA, sehingga tujuan tertinggi dalam kehidupan, jadi memungkinkan untuk dicapai.. Dan ini hanya bisa didapat melalui praktek terus menerus meditasi setiap hari dengan ketaatan yang tulus ikhlas.

Menurut paham “Raja Yoga’ atau lebih dikenal dengan sebutan “Patanjali Yogasustras”, meditasi atau Dhyana adalah suatu kesadaran terus menerus akan kehadiran Tuhan dalam hidup. Meditasi adalah ‘ an unbroken flow of thoughts towards the object of concentration’.

Dalam meditasi ini kita ingin masuk dalam pengalaman akan Allah, bersatu dan menyatu dalam kehadiranNya, bukan hanya sekedar memikirkan dan merasakan Allah. Berdasarkan pemahaman ini menurut Swamy Devaprasad ada bebeapa manfaat meditasi yang sangat membantu manusia untuk menemukan kedamaian, kebahagiaan dan keharmonisan hidup sejati.

Manfaat dari meditas itu adalah:

  1. Meditasi membantu mengeluarkan dari hidup manusia penyakit mental, psikosomatik. Meditasi ini juga memurnikan pikiran, mengendalikan bicara dan menuntun tindakan.
  2. Meditasi mampu menguatkan budi, hati, pikiran dan badan, dan ini merupakan usaha preventif melawan berbagai macam penyakit.
  3. Meditasi membantu menghilangkan atau meredakan segala ketegangan dan mampu membuat seseorang merasa santai dan tenang.
  4. Karena keheningan sejati dan kedamaian hati yang dialami, meditasi membantu perkembangan hubungan interpersonal, baik dengan sesama maupun dengan Tuhan.

Bila kita mempunyai waktu secara teratur, setiap hari dari hanya lima menit hingga setengah jam, alangkah besar manfaat dari meditasi ini. Ketenangan hidup dan kedamaian yang dirindukan setiap orang tidak perlu dicari dimana-mana, tetapi ditemukan dalam meditasi ini.

Pada prinsipnya metode meditasi NAQS adalah sebuah metode meditasi Islami yang intinya adalah berdzikir mengagungkan Asma Allah SWT. Tidak hanya ketika setelah selesai sholat. Tapi juga di setiap denyut jantung kita dan di setiap tarikan nafas kita selama 24 jam kita isi dengan dzikir. Tanpa adanya suatu latihan yang intensif, teratur, dan istiqomah tidaklah mungkin kita bisa melakukan dzikir yang terus menerus atau berkekalan dengan Dzikrullah dan mencapai Rasa Hadlir di saat berdzikir.

MEDITASI adalah MERESONANSI HATI & PIKIRAN dengan Frekwensi Khusus

Pengertian Resonansi :
Jika kita amati senar sebuah gitar, jika di petik maka senar akan bergetar, dan mengeluarkan bunyi dengan frekuensi tertentu (misal 440 Hz). Sebaliknya jika bunyi dengan frkewensi 440 Hz di lantunkan dekat senar tadi. Maka senar yang bersangkutan akan ‘terganggu’ sehingga ikut bergetar, atau istilah bakunya Senar gitar BERESONANSI terhadap frekwensi lingkungan. Frekwensi 440 pada contoh diatas dikatakan sebagai frekwensi Pribadi.

Untuk gendang telinga ternyata bisa beresonansi dengan rentang frekuensi yang cukup lebar mulai dari 40 HZ hingga 20 KHz. Sehingga dalam waktu yang bersamaan bisa mendeteksi banyak sekali frekwensi. Gendang telinga sebetulnya menerima semua frekwensi tersebut secara proporsional, tetapi otak kemudian melakukan seleksi sehinga hanya frekwensi tertentu yang diinginkan saja diperhatikan oleh otak.

Ini memungkinkan kita tetap bisa bercakap ditengah bising lalulintas misalnya.

Bagimana caranya supaya gendang telinga hanya mendengar sedikit frekwensi saja?
Atau bagaimana supaya bisa mendengan diatas 20KHz ?
Hanya ada satu cara, gendang telinga tersebut harus di ‘Adjust’ sehingga frekwensi pribadinya berubah dan daerah resonansi-nya berubah.

Analogi dengan gendang telinga, Otak juga mempunyai frekwensi pribadi yang sangat lebar. Contohnya, ketika kita sedang melamun segala macam gambaran bisa muncul.

Jika dikaitkan dengan Holografik Universe, dan Teori kesetimbangan bagian kesetimbangan informasi/pola,
Maka di setiap titik di alam semesta akan mewarisi semua informasi. Termasuk di dalam Otak kita.

Sel Otak akan beresonansi dalam rentang tertentu saja. Ini berarti di setiap sel otak juga terdapat Informasi tentang seluruh alam semesta, pada rentang tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari bagian filter pada Otak akan menyeleksi Informasi mana saja yang dianggap perlu, Informasi hasil filter itulah yang kemudian muncul kepermukaan sebagai aktifitas pikiran.

Bagaimana cara nya supaya kita bisa mendapatkan informasi yang lainnya?

  1. Fungsi Filter harus diredam.
  2. Dipilih supaya daerah resonansi begeser.

Untuk meredam fungsi filter maka ritme aktivitas kehidupan harus diturunkan sehingga tingkat kesiapan dari si filter akan menurun dan tidak mudah bereaksi. Untuk menurunkan aktifitas tersebut, caranya adalah dengan relaksasi, dan seterusnya. Sehingga kesiagaan filter akan menurun. Kegiatan ini adalah awal mula memasuki tahap Meditasi.

Pada keadaan relaks sempurna ini maka segala bentuk frekuensi informasi akan masuk tanpa ada filter lagi, akibatnya akan terjadi over-lap dan interferensi sehingga tidak bisa lagi dibedakan antara informasi-yang satu dengan yang lain. Acak-acakan, mungkin muncul ini mungkin muncul itu, mungkin tidak muncul apa-apa. Inilah gambar-gambar yang terlihat dalam Mimpi !

Setelah segala macam frekuensi bisa masuk, Sekarang tugas kita adalah bagaimana supaya Pikiran hanya beresonansi pada satu frekuensi saja. Dengan resonansi pada daerah frekwensi yang sempit, maka kita bisa mengarahkan dan memilih informasi sesuai dengan yang diinginkan saja.

Inilah tahap kedua dari meditasi setelah relaks, Kita melakukan ‘adjustment’ agar daerah resonansi menjadi sempit, biasaya dilakukan dengan memperhatikan hal tertentu, misalnya memperhatikan aliran napas atau detak jantung. Pada tahap ini penerima untuk frekuensi yang lain akan berhenti, sehingga terasa seperti berhentinya Pikiran.

Tetapi Otak akan tetap mempunyai frekuensi pribadi, hanya saja lebar daerah resonansinya menjadi sangat sempit (Fokus), Dengan demikian sensitifitas pada daerah frekwensi sempit tersebut menjadi sangat-sangat tinggi!

Maka hal-hal yang biasanya tidak terasa menjadi terdeteksi. Pada kondisi ini, tergantung frekuensi apa yang dipilih. Jika awalnya diniatkan untuk mendapat ilmu silat, maka informasi mengenai ilmu itu yang akan diperoleh.

Jika awalnya diniatkan untuk mendapat pencerahan, maka frekwensi pencerahan yang akan diperoleh. Jika ingin mengendalikan nafsu hiper seks, bisa sembuh seketika. Dsb.

Tentu saja hanya dengan Niat, jika dengan keinginan maka filter mulai lagi bekerja, jadi harus dengan Niat. Selebihnya relaks dan relaks. Kemudian menyelaraskan pikiran untuk mulai menyempitkan daerah frekuensi sehingga bisa beresonansi.

Tetapi tunggu dulu, ada hal yang harus dikaji ulang :

Untuk merubah frekuensi pribadi senar gitar misalnya maka harus memodifikasi zat atau sifat fisik senar tersebut. Demikian pula, untuk bisa ‘adjustment’ sel otak maka harus memodifikasi struktur sel tersebut.

So, apakah mungkin ?
Lalu frekwensi yang dipilih hanyalah dengan niat, (begitu kenyataan empirisnya),
Maka apakah zat-zat real seperti sel otak bisa dipengaruhi hanya dengan niat ?

Maka dalam hal ini Otak yang saya uraikan diatas, bukanlah hanya otak secara kasar, tetapi menyangkut sisi imaginer dari Otak yaitu Chakra Mahkota.

Inilah sebetulnya yang disebut Meditasi, yaitu suatu aktifitas untuk meresonansikan Otak + Chakra Mahkota agar menjadi sensitif dalam menerima frekwensi tertentu. Sehingga Pikiran sebagai substansi yang ‘sadar’ bisa mengenali sesuatu yang disebut ‘pencerahan’

Meditasi NAQS
Pelatihan dalam bentuk Meditasi NAQS adalah sebuah jalan yang ditawarkan oleh NAQS Methode atas pengendalian pikiran dan kesadaran. Untuk memperoleh ketenangan bathin dan Fikiran serta sebagai sarana untuk pendekatan diri kepada Tuhan dan melakukan penyempurnaan jiwa dengan menyelaraskan atau meresonansikan vibrasi energi pribadinya dengan vibrasi Frekwensi Energi Ilahiah NAQS (Nuurun ‘ala nuurin) sehingga terjadilah sebuah proses Evolusi yang Holistik yang meliputi Body, Mind, & Spirit (Jasmani, Jiwa, & Ruh).

Karena meditasi NAQS menggunakan tekhnik resonansi dengan energi Kultivasi NAQS, maka hasilnya tentu tidak sama dengan tekhnik meditasi yang lain. Tahapan-tahapan yang ditempuhnyapun berbeda. Oleh karena itu belajar NAQS Methode tanpa memahami intisari pelajaran ini, maka si pelajar tidak akan memperoleh suatu hasil yang maksimal. Yang perlu di ingat adalah NAQS adalah sebuah sistem, anda tidak akan memperoleh manfaat yang banyak bila anda setengah-setengah dalam mengikutinya.

Jika dikelompokkan, meditasi NAQS dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu Meditasi Konsentrasi dan Meditasi Kesadaran. Meditasi konsentrasi adalah suatu cara mengarahkan pikiran agar berkonsentrasi hanya pada suatu objek tunggal. Sedangkan meditasi kesadaran adalah meditasi yang selalu sadar untuk menyadari apa yang sedang dilakukan pikiran, namun tidak berkonsentrasi pada suatu objek yang sedang dipikirkan. Meditasi Kultivasi Jiwa dan Meditasi Kultivasi Ruh dalam NAQS Methode termasuk kategori meditasi konsentrasi. Sedangkan Meditasi LI (Liqo’illah) dan Meditasi EW (Eling lan Waspodo) dalam NAQS Methode bisa dikategorikan sebagai meditasi kesadaran.

Penelitian ilmuwan menunjukkan bahwa seseorang yang sedang meditasi berada dalam gelombang alfa. Artinya bahwa seseorang yang sering melatih meditasinya, akan mudah menenangkan dirinya ketika ada respon yang akan membuatnya cemas atau gelisah. Pada beberapa meditator juga ditemukan gelombang theta yang biasanya terukur hanya pada saat awal-awal tidur sebelum otak menuju gelombang delta yang sangat tenang yang muncul ketika tidur nyenyak. Jadi bisa dikatakan bahwa semakin dalam seseorang bermeditasi, gelombang yang terukur di otaknya akan semakin rendah atau menuju keadaan istirahat (seperti dalam tidur), walau sadar sepenuhnya.

Meditasi yang dikembangkan dalam Ilmu NAQS ada kemiripan dengan metode meditasi yang dikenal orang pada umumnya. Hanya saja meditasi NAQS tidak mengharuskan para praktisi untuk melakukan suatu sikap tubuh tertentu. Meditasi NAQS bisa dilakukan sambil duduk bersila di atas lantai, atau duduk bersandar di kursi, sambil tiduran, dll.

JENIS MEDITASI NAQS :

  1. MEDITASI KULTIVASI JIWA
  2. MEDITASI KULTTIVASI RUH
  3. MEDITASI LI
  4. MEDITASI EW
  5. MEDITASI NAFAS

Bagaimana saya menyiapkan diri untuk meditasi harian saya ?

Cara menyiapkan diri untuk meditasi diberikan seperti di bawah ini :

  1. Sikat gigi dan cuci muka.
  2. Mandi suci (disarankan bahwa kamu mulai meditasi sepagi mungkin tanpa menghabiskan waktu pada aktivitas-aktivitas rutin seperti minum teh, baca koran, olahraga dan sebagainya).
  3. Pakai pakaian yang longgar dan enak dipakai.
  4. Tentukan satu waktu dan tempat khusus untuk meditasi setiap hari.
  5. Beritahu anggota keluarga yang lain untuk tidak mengganggumu selama meditasi.
  6. Mulailah dengan meditasi selama 30 menit. Tambah waktunya setelah kamu merasa cocok dan lakukan itu menjadi satu jam. Kalau kamu membuka mata sebelum waktunya, kamu dapat menutup matamu lagi dan meneruskan meditasi.
  7. Duduk yang enak, santai tetapi punggung dan kepala tetap tegak. Kamu bisa duduk di lantai, di bangku, dengan punggung (bukan kepala) bersandar pada tembok. Kalau kepalamu tertunduk setelah kamu mulai meditasi (disebabkan karena kehilangan kesadaran), kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Tiduran tidak diijinkan karena terlalu mengasyikkan sehingga dapat membuat kamu tidur.
  8. Harap dimengerti bahwa meditasi atas Tuhan yang ada di dalam hatimu adalah pemujaan oleh karenanya mulai dengan doa dalam batin ((ILAHI ANTA MAQSUDI WARIDLOKA MATHLUBI) untuk meninggikan spiritual dengan hati penuh cinta dan pengabdian.

Pada umumnya di menit-menit pertama tafakkur, anda belum bisa mencapai keheningan yang cukup dalam. Banyak lintasan-lintasan hati dan fikiran yang mengganggu konsentrasi anda. Terutama mengenai masalah sehari-hari dan masalah-masalah yang sangat mengganggu kehidupan anda. Serta memory-memory masa lalu yang terpendam akan muncul semua. Hal itu adalah wajar, jangan risaukan hal itu. Lanjutkan saja meditasi anda. Sehingga semua gangguan itu hilang dan anda dapat memasuki keheningan dan ketenangan yang cukup dalam. Berdiamlah dalam keheningan itu sampai anda merasa cukup untuk mengakhiri meditasi anda.

Dan disinilah rahasia dari meditasi anda yang dapat memecahkan segala masalah yang menimpa anda.

Yaitu di saat ingatan akan semua masalah dan kenangan itu muncul ke permukaan kesadaran anda di alam meditasi. Biarkan saja itu semua muncul, karena gelombang fikiran dan masalah yang mengganggu anda itu nantinya akan di perbaiki dan di sucikan oleh energy Nur Sirrullah. Sehingga aura gelap yang selama ini menyelimuti diri anda akan tersucikan. Sehingga hati dan fikiran anda yang selama ini terasa buntu dan suntuk akan menjadi jernih dan tenang. Dan anda akan merasakan kesegaran yang luar biasa ketika selesai bermeditasi.

Apa yang harus saya lakukan jika pikiran-pikiran saya mengganggu selama meditasi ?

Kamu harus menganggapnya seperti pikiran tersebut adalah pikiran orang lain. Jadi ciptakan jarak antara dirimu dengan pikiran yang muncul. Master menasehati kita untuk memperlakukannya sebagai tamu yang tidak diundang – mereka akan pergi kalau kamu tidak memberikan perhatian pada pikiran tersebut. Kalau kamu mendapatkan dirimu terlalu terlibat dengan pikiran tersebut, kamu disarankan untuk perlahan-lahan melepaskan pikiran tersebut dan membawanya kembali ke suasana awal (UCAPKAN DOA : ILAHI ANTA MAQSUDI WARIDLOKA MATHLUBI).

Bagaimanapun ini hanyalah persoalan yang sementara. Dengan meditasi setiap hari secara teratur dan sitting secara periodik dengan Preceptor, kamu akan menemukan bahwa pikiran tersebut kehilangan bebannya dan berhenti untuk mengganggu perasaan yang menginginkan ketenangan dan kesentosaan di dalam hatimu.

Jika engkau belum mempunyai ilmu, 
hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
kerana Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata wang palsumu!
Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!
Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayuhlah datang, dan datanglah lagi!
Kerana Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu, kerana Akulah jalan itu.”

~ Jalaluddin Rumi ~

===
The Secret (Menu Rahasia Nih..) HOLISTIC PERSON ( INSAN KAMIL ) Alam Semesta Bertasbih Dan Evolusi Spiritual Spektrum Energi Cahaya Ilahi NAQS Manajemen Qalbu Getaran Hati MEDITASI Meditasi dan Kuantum Energi Hukum Resonansi, Bioenergi, & Meditasi NAQS NAQS Methode Sinergi Otak dan Hati Rahasia Sentuhan Tangan Reiki N-AQS Melatih Kepeka’an BOLA ENERGI SAPU JAGAD REIKI NAQS NIAT dan AFFIRMASI REIKI NAQS Senam Pernafasan Bioenergi NAQS Alif Lam Mim NAQS Detoxifikasi Total Seri 1 Senam Mata NAQS Terapi Refleksi Kaki NAQS

Iklan

>MEDITASI

>

Masalah utama dalam perkembangan spiritual manusia jaman modern sekarang ini adalah bahwa banyak orang yang tidak mempunyai waktu untuk berdiam diri, hening dalam doa. Mereka begitu sibuk dengan berbagai acara, baik yang bersifat rekreatif maupun bisnis.

Banyak orang merasa bahwa waktu tujuh hari dalam seminggu selalu tidak cukup untuk tugas mereka. Bahkan seringkali waktu sehari dalam dua puluh empat jam pun dirasa masih kurang. Maka sering kali mereka tidak mempunyai waktu untuk keluarga, untuk diri sendiri dan apa lagi untuk Tuhan.

Pulang kerja sudah malam, lagi pula lelahnya badan membuat tidak mungkin duduk berdiam dengan tenang. Langsung tidur itulah solusi yang paling banyak dilakukan. Menurut para ahli spiritualitas, hidup tanpa refleksi itu menjadi kosong dan kering. Karena kedalaman hidup rohani sangat dipengaruhi oleh kemampuan seseorang untuk memperdalam kepekaan dan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup dan rahmat yang diterima sehari-hari.

Dan semua ini dimungkinkan bila seseorang mempunyai waktu untuk refleksi diri dalam hening dan tenang bersama Tuhan dalam doa. Meditasi adalah salah satu ‘cara’ di mana seseorang mampu menciptakan keheningan itu dan ketenangan bersama Tuhan.

Bila setiap orang beriman mempunyai kesempatan seperti ini, maka akan semakin jarang kita temui diantara kita, orang yang merasa tahu banyak ajaran agamanya, tetapi menjadi fanatik buta. Atau orang-orang yang ‘cuek’ dan tidak merasa perlu berdoa dan pergi ke beribadah, karena toh.. Tuhan bisa ditemukan dimana-mana. Atau orang yang berpendapat keselamatan toh tidak ditentukan oleh aktifnya seseorang berdoa atau pergi ke beribadah.

Kata meditasi berarti terus menerus memberikan perhatian atau menghentikan pemikiran pada satu pokok pikiran. Master berkata (dan telah dibuktikan dalam pengalaman) bahwa kita menjadi apa yang kita pikirkan pada saat meditasi. Dengan kata lain kita memperoleh sifat dasar, kwalitas atau keadaan atas obyek yang kita meditasikan.

Oleh karena itu ketika kita meditasi pada sesuatu yang Maha Ghaib yaitu Tuhan, kita akan menghilangkan kekotoran kita dan mendapatkan kehalusanNYA dan kemudian menjadi seperti DIA. Hanya dengan demikian kita dapat menjadi satu dengan DIA, sehingga tujuan tertinggi dalam kehidupan, jadi memungkinkan untuk dicapai.. Dan ini hanya bisa didapat melalui praktek terus menerus meditasi setiap hari dengan ketaatan yang tulus ikhlas.

Menurut paham “Raja Yoga’ atau lebih dikenal dengan sebutan “Patanjali Yogasustras”, meditasi atau Dhyana adalah suatu kesadaran terus menerus akan kehadiran Tuhan dalam hidup. Meditasi adalah ‘ an unbroken flow of thoughts towards the object of concentration’.

Dalam meditasi ini kita ingin masuk dalam pengalaman akan Allah, bersatu dan menyatu dalam kehadiranNya, bukan hanya sekedar memikirkan dan merasakan Allah. Berdasarkan pemahaman ini menurut Swamy Devaprasad ada bebeapa manfaat meditasi yang sangat membantu manusia untuk menemukan kedamaian, kebahagiaan dan keharmonisan hidup sejati.

Manfaat dari meditas itu adalah:

  1. Meditasi membantu mengeluarkan dari hidup manusia penyakit mental, psikosomatik. Meditasi ini juga memurnikan pikiran, mengendalikan bicara dan menuntun tindakan.
  2. Meditasi mampu menguatkan budi, hati, pikiran dan badan, dan ini merupakan usaha preventif melawan berbagai macam penyakit.
  3. Meditasi membantu menghilangkan atau meredakan segala ketegangan dan mampu membuat seseorang merasa santai dan tenang.
  4. Karena keheningan sejati dan kedamaian hati yang dialami, meditasi membantu perkembangan hubungan interpersonal, baik dengan sesama maupun dengan Tuhan.

Bila kita mempunyai waktu secara teratur, setiap hari dari hanya lima menit hingga setengah jam, alangkah besar manfaat dari meditasi ini. Ketenangan hidup dan kedamaian yang dirindukan setiap orang tidak perlu dicari dimana-mana, tetapi ditemukan dalam meditasi ini.

Pada prinsipnya metode meditasi NAQS adalah sebuah metode meditasi Islami yang intinya adalah berdzikir mengagungkan Asma Allah SWT. Tidak hanya ketika setelah selesai sholat. Tapi juga di setiap denyut jantung kita dan di setiap tarikan nafas kita selama 24 jam kita isi dengan dzikir. Tanpa adanya suatu latihan yang intensif, teratur, dan istiqomah tidaklah mungkin kita bisa melakukan dzikir yang terus menerus atau berkekalan dengan Dzikrullah dan mencapai Rasa Hadlir di saat berdzikir.

MEDITASI adalah MERESONANSI HATI & PIKIRAN dengan Frekwensi Khusus

Pengertian Resonansi :
Jika kita amati senar sebuah gitar, jika di petik maka senar akan bergetar, dan mengeluarkan bunyi dengan frekuensi tertentu (misal 440 Hz). Sebaliknya jika bunyi dengan frkewensi 440 Hz di lantunkan dekat senar tadi. Maka senar yang bersangkutan akan ‘terganggu’ sehingga ikut bergetar, atau istilah bakunya Senar gitar BERESONANSI terhadap frekwensi lingkungan. Frekwensi 440 pada contoh diatas dikatakan sebagai frekwensi Pribadi.

Untuk gendang telinga ternyata bisa beresonansi dengan rentang frekuensi yang cukup lebar mulai dari 40 HZ hingga 20 KHz. Sehingga dalam waktu yang bersamaan bisa mendeteksi banyak sekali frekwensi. Gendang telinga sebetulnya menerima semua frekwensi tersebut secara proporsional, tetapi otak kemudian melakukan seleksi sehinga hanya frekwensi tertentu yang diinginkan saja diperhatikan oleh otak.

Ini memungkinkan kita tetap bisa bercakap ditengah bising lalulintas misalnya.

Bagimana caranya supaya gendang telinga hanya mendengar sedikit frekwensi saja?
Atau bagaimana supaya bisa mendengan diatas 20KHz ?
Hanya ada satu cara, gendang telinga tersebut harus di ‘Adjust’ sehingga frekwensi pribadinya berubah dan daerah resonansi-nya berubah.

Analogi dengan gendang telinga, Otak juga mempunyai frekwensi pribadi yang sangat lebar. Contohnya, ketika kita sedang melamun segala macam gambaran bisa muncul.

Jika dikaitkan dengan Holografik Universe, dan Teori kesetimbangan bagian kesetimbangan informasi/pola,
Maka di setiap titik di alam semesta akan mewarisi semua informasi. Termasuk di dalam Otak kita.

Sel Otak akan beresonansi dalam rentang tertentu saja. Ini berarti di setiap sel otak juga terdapat Informasi tentang seluruh alam semesta, pada rentang tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari bagian filter pada Otak akan menyeleksi Informasi mana saja yang dianggap perlu, Informasi hasil filter itulah yang kemudian muncul kepermukaan sebagai aktifitas pikiran.

Bagaimana cara nya supaya kita bisa mendapatkan informasi yang lainnya?

  1. Fungsi Filter harus diredam.
  2. Dipilih supaya daerah resonansi begeser.

Untuk meredam fungsi filter maka ritme aktivitas kehidupan harus diturunkan sehingga tingkat kesiapan dari si filter akan menurun dan tidak mudah bereaksi. Untuk menurunkan aktifitas tersebut, caranya adalah dengan relaksasi, dan seterusnya. Sehingga kesiagaan filter akan menurun. Kegiatan ini adalah awal mula memasuki tahap Meditasi.

Pada keadaan relaks sempurna ini maka segala bentuk frekuensi informasi akan masuk tanpa ada filter lagi, akibatnya akan terjadi over-lap dan interferensi sehingga tidak bisa lagi dibedakan antara informasi-yang satu dengan yang lain. Acak-acakan, mungkin muncul ini mungkin muncul itu, mungkin tidak muncul apa-apa. Inilah gambar-gambar yang terlihat dalam Mimpi !

Setelah segala macam frekuensi bisa masuk, Sekarang tugas kita adalah bagaimana supaya Pikiran hanya beresonansi pada satu frekuensi saja. Dengan resonansi pada daerah frekwensi yang sempit, maka kita bisa mengarahkan dan memilih informasi sesuai dengan yang diinginkan saja.

Inilah tahap kedua dari meditasi setelah relaks, Kita melakukan ‘adjustment’ agar daerah resonansi menjadi sempit, biasaya dilakukan dengan memperhatikan hal tertentu, misalnya memperhatikan aliran napas atau detak jantung. Pada tahap ini penerima untuk frekuensi yang lain akan berhenti, sehingga terasa seperti berhentinya Pikiran.

Tetapi Otak akan tetap mempunyai frekuensi pribadi, hanya saja lebar daerah resonansinya menjadi sangat sempit (Fokus), Dengan demikian sensitifitas pada daerah frekwensi sempit tersebut menjadi sangat-sangat tinggi!

Maka hal-hal yang biasanya tidak terasa menjadi terdeteksi. Pada kondisi ini, tergantung frekuensi apa yang dipilih. Jika awalnya diniatkan untuk mendapat ilmu silat, maka informasi mengenai ilmu itu yang akan diperoleh.

Jika awalnya diniatkan untuk mendapat pencerahan, maka frekwensi pencerahan yang akan diperoleh. Jika ingin mengendalikan nafsu hiper seks, bisa sembuh seketika. Dsb.

Tentu saja hanya dengan Niat, jika dengan keinginan maka filter mulai lagi bekerja, jadi harus dengan Niat. Selebihnya relaks dan relaks. Kemudian menyelaraskan pikiran untuk mulai menyempitkan daerah frekuensi sehingga bisa beresonansi.

Tetapi tunggu dulu, ada hal yang harus dikaji ulang :

Untuk merubah frekuensi pribadi senar gitar misalnya maka harus memodifikasi zat atau sifat fisik senar tersebut. Demikian pula, untuk bisa ‘adjustment’ sel otak maka harus memodifikasi struktur sel tersebut.

So, apakah mungkin ?
Lalu frekwensi yang dipilih hanyalah dengan niat, (begitu kenyataan empirisnya),
Maka apakah zat-zat real seperti sel otak bisa dipengaruhi hanya dengan niat ?

Maka dalam hal ini Otak yang saya uraikan diatas, bukanlah hanya otak secara kasar, tetapi menyangkut sisi imaginer dari Otak yaitu Chakra Mahkota.

Inilah sebetulnya yang disebut Meditasi, yaitu suatu aktifitas untuk meresonansikan Otak + Chakra Mahkota agar menjadi sensitif dalam menerima frekwensi tertentu. Sehingga Pikiran sebagai substansi yang ‘sadar’ bisa mengenali sesuatu yang disebut ‘pencerahan’

Meditasi NAQS
Pelatihan dalam bentuk Meditasi NAQS adalah sebuah jalan yang ditawarkan oleh NAQS Methode atas pengendalian pikiran dan kesadaran. Untuk memperoleh ketenangan bathin dan Fikiran serta sebagai sarana untuk pendekatan diri kepada Tuhan dan melakukan penyempurnaan jiwa dengan menyelaraskan atau meresonansikan vibrasi energi pribadinya dengan vibrasi Frekwensi Energi Ilahiah NAQS (Nuurun ‘ala nuurin) sehingga terjadilah sebuah proses Evolusi yang Holistik yang meliputi Body, Mind, & Spirit (Jasmani, Jiwa, & Ruh).

Karena meditasi NAQS menggunakan tekhnik resonansi dengan energi Kultivasi NAQS, maka hasilnya tentu tidak sama dengan tekhnik meditasi yang lain. Tahapan-tahapan yang ditempuhnyapun berbeda. Oleh karena itu belajar NAQS Methode tanpa memahami intisari pelajaran ini, maka si pelajar tidak akan memperoleh suatu hasil yang maksimal. Yang perlu di ingat adalah NAQS adalah sebuah sistem, anda tidak akan memperoleh manfaat yang banyak bila anda setengah-setengah dalam mengikutinya.

Jika dikelompokkan, meditasi NAQS dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu Meditasi Konsentrasi dan Meditasi Kesadaran. Meditasi konsentrasi adalah suatu cara mengarahkan pikiran agar berkonsentrasi hanya pada suatu objek tunggal. Sedangkan meditasi kesadaran adalah meditasi yang selalu sadar untuk menyadari apa yang sedang dilakukan pikiran, namun tidak berkonsentrasi pada suatu objek yang sedang dipikirkan. Meditasi Kultivasi Jiwa dan Meditasi Kultivasi Ruh dalam NAQS Methode termasuk kategori meditasi konsentrasi. Sedangkan Meditasi LI (Liqo’illah) dan Meditasi EW (Eling lan Waspodo) dalam NAQS Methode bisa dikategorikan sebagai meditasi kesadaran.

Penelitian ilmuwan menunjukkan bahwa seseorang yang sedang meditasi berada dalam gelombang alfa. Artinya bahwa seseorang yang sering melatih meditasinya, akan mudah menenangkan dirinya ketika ada respon yang akan membuatnya cemas atau gelisah. Pada beberapa meditator juga ditemukan gelombang theta yang biasanya terukur hanya pada saat awal-awal tidur sebelum otak menuju gelombang delta yang sangat tenang yang muncul ketika tidur nyenyak. Jadi bisa dikatakan bahwa semakin dalam seseorang bermeditasi, gelombang yang terukur di otaknya akan semakin rendah atau menuju keadaan istirahat (seperti dalam tidur), walau sadar sepenuhnya.

Meditasi yang dikembangkan dalam Ilmu NAQS ada kemiripan dengan metode meditasi yang dikenal orang pada umumnya. Hanya saja meditasi NAQS tidak mengharuskan para praktisi untuk melakukan suatu sikap tubuh tertentu. Meditasi NAQS bisa dilakukan sambil duduk bersila di atas lantai, atau duduk bersandar di kursi, sambil tiduran, dll.

JENIS MEDITASI NAQS :

  1. MEDITASI KULTIVASI JIWA
  2. MEDITASI KULTTIVASI RUH
  3. MEDITASI LI
  4. MEDITASI EW
  5. MEDITASI NAFAS

Bagaimana saya menyiapkan diri untuk meditasi harian saya ?

Cara menyiapkan diri untuk meditasi diberikan seperti di bawah ini :

  1. Sikat gigi dan cuci muka.
  2. Mandi suci (disarankan bahwa kamu mulai meditasi sepagi mungkin tanpa menghabiskan waktu pada aktivitas-aktivitas rutin seperti minum teh, baca koran, olahraga dan sebagainya).
  3. Pakai pakaian yang longgar dan enak dipakai.
  4. Tentukan satu waktu dan tempat khusus untuk meditasi setiap hari.
  5. Beritahu anggota keluarga yang lain untuk tidak mengganggumu selama meditasi.
  6. Mulailah dengan meditasi selama 30 menit. Tambah waktunya setelah kamu merasa cocok dan lakukan itu menjadi satu jam. Kalau kamu membuka mata sebelum waktunya, kamu dapat menutup matamu lagi dan meneruskan meditasi.
  7. Duduk yang enak, santai tetapi punggung dan kepala tetap tegak. Kamu bisa duduk di lantai, di bangku, dengan punggung (bukan kepala) bersandar pada tembok. Kalau kepalamu tertunduk setelah kamu mulai meditasi (disebabkan karena kehilangan kesadaran), kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Tiduran tidak diijinkan karena terlalu mengasyikkan sehingga dapat membuat kamu tidur.
  8. Harap dimengerti bahwa meditasi atas Tuhan yang ada di dalam hatimu adalah pemujaan oleh karenanya mulai dengan doa dalam batin ((ILAHI ANTA MAQSUDI WARIDLOKA MATHLUBI) untuk meninggikan spiritual dengan hati penuh cinta dan pengabdian.

Pada umumnya di menit-menit pertama tafakkur, anda belum bisa mencapai keheningan yang cukup dalam. Banyak lintasan-lintasan hati dan fikiran yang mengganggu konsentrasi anda. Terutama mengenai masalah sehari-hari dan masalah-masalah yang sangat mengganggu kehidupan anda. Serta memory-memory masa lalu yang terpendam akan muncul semua. Hal itu adalah wajar, jangan risaukan hal itu. Lanjutkan saja meditasi anda. Sehingga semua gangguan itu hilang dan anda dapat memasuki keheningan dan ketenangan yang cukup dalam. Berdiamlah dalam keheningan itu sampai anda merasa cukup untuk mengakhiri meditasi anda.

Dan disinilah rahasia dari meditasi anda yang dapat memecahkan segala masalah yang menimpa anda.

Yaitu di saat ingatan akan semua masalah dan kenangan itu muncul ke permukaan kesadaran anda di alam meditasi. Biarkan saja itu semua muncul, karena gelombang fikiran dan masalah yang mengganggu anda itu nantinya akan di perbaiki dan di sucikan oleh energy Nur Sirrullah. Sehingga aura gelap yang selama ini menyelimuti diri anda akan tersucikan. Sehingga hati dan fikiran anda yang selama ini terasa buntu dan suntuk akan menjadi jernih dan tenang. Dan anda akan merasakan kesegaran yang luar biasa ketika selesai bermeditasi.

Apa yang harus saya lakukan jika pikiran-pikiran saya mengganggu selama meditasi ?

Kamu harus menganggapnya seperti pikiran tersebut adalah pikiran orang lain. Jadi ciptakan jarak antara dirimu dengan pikiran yang muncul. Master menasehati kita untuk memperlakukannya sebagai tamu yang tidak diundang – mereka akan pergi kalau kamu tidak memberikan perhatian pada pikiran tersebut. Kalau kamu mendapatkan dirimu terlalu terlibat dengan pikiran tersebut, kamu disarankan untuk perlahan-lahan melepaskan pikiran tersebut dan membawanya kembali ke suasana awal (UCAPKAN DOA : ILAHI ANTA MAQSUDI WARIDLOKA MATHLUBI).

Bagaimanapun ini hanyalah persoalan yang sementara. Dengan meditasi setiap hari secara teratur dan sitting secara periodik dengan Preceptor, kamu akan menemukan bahwa pikiran tersebut kehilangan bebannya dan berhenti untuk mengganggu perasaan yang menginginkan ketenangan dan kesentosaan di dalam hatimu.

Jika engkau belum mempunyai ilmu, 
hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
kerana Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata wang palsumu!
Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!
Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayuhlah datang, dan datanglah lagi!
Kerana Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu, kerana Akulah jalan itu.”

~ Jalaluddin Rumi ~

===
The Secret (Menu Rahasia Nih..) HOLISTIC PERSON ( INSAN KAMIL ) Alam Semesta Bertasbih Dan Evolusi Spiritual Spektrum Energi Cahaya Ilahi NAQS Manajemen Qalbu Getaran Hati MEDITASI Meditasi dan Kuantum Energi Hukum Resonansi, Bioenergi, & Meditasi NAQS NAQS Methode Sinergi Otak dan Hati Rahasia Sentuhan Tangan Reiki N-AQS Melatih Kepeka’an BOLA ENERGI SAPU JAGAD REIKI NAQS NIAT dan AFFIRMASI REIKI NAQS Senam Pernafasan Bioenergi NAQS Alif Lam Mim NAQS Detoxifikasi Total Seri 1 Senam Mata NAQS Terapi Refleksi Kaki NAQS

>MEDITASI

>

Masalah utama dalam perkembangan spiritual manusia jaman modern sekarang ini adalah bahwa banyak orang yang tidak mempunyai waktu untuk berdiam diri, hening dalam doa. Mereka begitu sibuk dengan berbagai acara, baik yang bersifat rekreatif maupun bisnis.

Banyak orang merasa bahwa waktu tujuh hari dalam seminggu selalu tidak cukup untuk tugas mereka. Bahkan seringkali waktu sehari dalam dua puluh empat jam pun dirasa masih kurang. Maka sering kali mereka tidak mempunyai waktu untuk keluarga, untuk diri sendiri dan apa lagi untuk Tuhan.

Pulang kerja sudah malam, lagi pula lelahnya badan membuat tidak mungkin duduk berdiam dengan tenang. Langsung tidur itulah solusi yang paling banyak dilakukan. Menurut para ahli spiritualitas, hidup tanpa refleksi itu menjadi kosong dan kering. Karena kedalaman hidup rohani sangat dipengaruhi oleh kemampuan seseorang untuk memperdalam kepekaan dan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup dan rahmat yang diterima sehari-hari.

Dan semua ini dimungkinkan bila seseorang mempunyai waktu untuk refleksi diri dalam hening dan tenang bersama Tuhan dalam doa. Meditasi adalah salah satu ‘cara’ di mana seseorang mampu menciptakan keheningan itu dan ketenangan bersama Tuhan.

Bila setiap orang beriman mempunyai kesempatan seperti ini, maka akan semakin jarang kita temui diantara kita, orang yang merasa tahu banyak ajaran agamanya, tetapi menjadi fanatik buta. Atau orang-orang yang ‘cuek’ dan tidak merasa perlu berdoa dan pergi ke beribadah, karena toh.. Tuhan bisa ditemukan dimana-mana. Atau orang yang berpendapat keselamatan toh tidak ditentukan oleh aktifnya seseorang berdoa atau pergi ke beribadah.

Kata meditasi berarti terus menerus memberikan perhatian atau menghentikan pemikiran pada satu pokok pikiran. Master berkata (dan telah dibuktikan dalam pengalaman) bahwa kita menjadi apa yang kita pikirkan pada saat meditasi. Dengan kata lain kita memperoleh sifat dasar, kwalitas atau keadaan atas obyek yang kita meditasikan.

Oleh karena itu ketika kita meditasi pada sesuatu yang Maha Ghaib yaitu Tuhan, kita akan menghilangkan kekotoran kita dan mendapatkan kehalusanNYA dan kemudian menjadi seperti DIA. Hanya dengan demikian kita dapat menjadi satu dengan DIA, sehingga tujuan tertinggi dalam kehidupan, jadi memungkinkan untuk dicapai.. Dan ini hanya bisa didapat melalui praktek terus menerus meditasi setiap hari dengan ketaatan yang tulus ikhlas.

Menurut paham “Raja Yoga’ atau lebih dikenal dengan sebutan “Patanjali Yogasustras”, meditasi atau Dhyana adalah suatu kesadaran terus menerus akan kehadiran Tuhan dalam hidup. Meditasi adalah ‘ an unbroken flow of thoughts towards the object of concentration’.

Dalam meditasi ini kita ingin masuk dalam pengalaman akan Allah, bersatu dan menyatu dalam kehadiranNya, bukan hanya sekedar memikirkan dan merasakan Allah. Berdasarkan pemahaman ini menurut Swamy Devaprasad ada bebeapa manfaat meditasi yang sangat membantu manusia untuk menemukan kedamaian, kebahagiaan dan keharmonisan hidup sejati.

Manfaat dari meditas itu adalah:

  1. Meditasi membantu mengeluarkan dari hidup manusia penyakit mental, psikosomatik. Meditasi ini juga memurnikan pikiran, mengendalikan bicara dan menuntun tindakan.
  2. Meditasi mampu menguatkan budi, hati, pikiran dan badan, dan ini merupakan usaha preventif melawan berbagai macam penyakit.
  3. Meditasi membantu menghilangkan atau meredakan segala ketegangan dan mampu membuat seseorang merasa santai dan tenang.
  4. Karena keheningan sejati dan kedamaian hati yang dialami, meditasi membantu perkembangan hubungan interpersonal, baik dengan sesama maupun dengan Tuhan.

Bila kita mempunyai waktu secara teratur, setiap hari dari hanya lima menit hingga setengah jam, alangkah besar manfaat dari meditasi ini. Ketenangan hidup dan kedamaian yang dirindukan setiap orang tidak perlu dicari dimana-mana, tetapi ditemukan dalam meditasi ini.

Pada prinsipnya metode meditasi NAQS adalah sebuah metode meditasi Islami yang intinya adalah berdzikir mengagungkan Asma Allah SWT. Tidak hanya ketika setelah selesai sholat. Tapi juga di setiap denyut jantung kita dan di setiap tarikan nafas kita selama 24 jam kita isi dengan dzikir. Tanpa adanya suatu latihan yang intensif, teratur, dan istiqomah tidaklah mungkin kita bisa melakukan dzikir yang terus menerus atau berkekalan dengan Dzikrullah dan mencapai Rasa Hadlir di saat berdzikir.

MEDITASI adalah MERESONANSI HATI & PIKIRAN dengan Frekwensi Khusus

Pengertian Resonansi :
Jika kita amati senar sebuah gitar, jika di petik maka senar akan bergetar, dan mengeluarkan bunyi dengan frekuensi tertentu (misal 440 Hz). Sebaliknya jika bunyi dengan frkewensi 440 Hz di lantunkan dekat senar tadi. Maka senar yang bersangkutan akan ‘terganggu’ sehingga ikut bergetar, atau istilah bakunya Senar gitar BERESONANSI terhadap frekwensi lingkungan. Frekwensi 440 pada contoh diatas dikatakan sebagai frekwensi Pribadi.

Untuk gendang telinga ternyata bisa beresonansi dengan rentang frekuensi yang cukup lebar mulai dari 40 HZ hingga 20 KHz. Sehingga dalam waktu yang bersamaan bisa mendeteksi banyak sekali frekwensi. Gendang telinga sebetulnya menerima semua frekwensi tersebut secara proporsional, tetapi otak kemudian melakukan seleksi sehinga hanya frekwensi tertentu yang diinginkan saja diperhatikan oleh otak.

Ini memungkinkan kita tetap bisa bercakap ditengah bising lalulintas misalnya.

Bagimana caranya supaya gendang telinga hanya mendengar sedikit frekwensi saja?
Atau bagaimana supaya bisa mendengan diatas 20KHz ?
Hanya ada satu cara, gendang telinga tersebut harus di ‘Adjust’ sehingga frekwensi pribadinya berubah dan daerah resonansi-nya berubah.

Analogi dengan gendang telinga, Otak juga mempunyai frekwensi pribadi yang sangat lebar. Contohnya, ketika kita sedang melamun segala macam gambaran bisa muncul.

Jika dikaitkan dengan Holografik Universe, dan Teori kesetimbangan bagian kesetimbangan informasi/pola,
Maka di setiap titik di alam semesta akan mewarisi semua informasi. Termasuk di dalam Otak kita.

Sel Otak akan beresonansi dalam rentang tertentu saja. Ini berarti di setiap sel otak juga terdapat Informasi tentang seluruh alam semesta, pada rentang tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari bagian filter pada Otak akan menyeleksi Informasi mana saja yang dianggap perlu, Informasi hasil filter itulah yang kemudian muncul kepermukaan sebagai aktifitas pikiran.

Bagaimana cara nya supaya kita bisa mendapatkan informasi yang lainnya?

  1. Fungsi Filter harus diredam.
  2. Dipilih supaya daerah resonansi begeser.

Untuk meredam fungsi filter maka ritme aktivitas kehidupan harus diturunkan sehingga tingkat kesiapan dari si filter akan menurun dan tidak mudah bereaksi. Untuk menurunkan aktifitas tersebut, caranya adalah dengan relaksasi, dan seterusnya. Sehingga kesiagaan filter akan menurun. Kegiatan ini adalah awal mula memasuki tahap Meditasi.

Pada keadaan relaks sempurna ini maka segala bentuk frekuensi informasi akan masuk tanpa ada filter lagi, akibatnya akan terjadi over-lap dan interferensi sehingga tidak bisa lagi dibedakan antara informasi-yang satu dengan yang lain. Acak-acakan, mungkin muncul ini mungkin muncul itu, mungkin tidak muncul apa-apa. Inilah gambar-gambar yang terlihat dalam Mimpi !

Setelah segala macam frekuensi bisa masuk, Sekarang tugas kita adalah bagaimana supaya Pikiran hanya beresonansi pada satu frekuensi saja. Dengan resonansi pada daerah frekwensi yang sempit, maka kita bisa mengarahkan dan memilih informasi sesuai dengan yang diinginkan saja.

Inilah tahap kedua dari meditasi setelah relaks, Kita melakukan ‘adjustment’ agar daerah resonansi menjadi sempit, biasaya dilakukan dengan memperhatikan hal tertentu, misalnya memperhatikan aliran napas atau detak jantung. Pada tahap ini penerima untuk frekuensi yang lain akan berhenti, sehingga terasa seperti berhentinya Pikiran.

Tetapi Otak akan tetap mempunyai frekuensi pribadi, hanya saja lebar daerah resonansinya menjadi sangat sempit (Fokus), Dengan demikian sensitifitas pada daerah frekwensi sempit tersebut menjadi sangat-sangat tinggi!

Maka hal-hal yang biasanya tidak terasa menjadi terdeteksi. Pada kondisi ini, tergantung frekuensi apa yang dipilih. Jika awalnya diniatkan untuk mendapat ilmu silat, maka informasi mengenai ilmu itu yang akan diperoleh.

Jika awalnya diniatkan untuk mendapat pencerahan, maka frekwensi pencerahan yang akan diperoleh. Jika ingin mengendalikan nafsu hiper seks, bisa sembuh seketika. Dsb.

Tentu saja hanya dengan Niat, jika dengan keinginan maka filter mulai lagi bekerja, jadi harus dengan Niat. Selebihnya relaks dan relaks. Kemudian menyelaraskan pikiran untuk mulai menyempitkan daerah frekuensi sehingga bisa beresonansi.

Tetapi tunggu dulu, ada hal yang harus dikaji ulang :

Untuk merubah frekuensi pribadi senar gitar misalnya maka harus memodifikasi zat atau sifat fisik senar tersebut. Demikian pula, untuk bisa ‘adjustment’ sel otak maka harus memodifikasi struktur sel tersebut.

So, apakah mungkin ?
Lalu frekwensi yang dipilih hanyalah dengan niat, (begitu kenyataan empirisnya),
Maka apakah zat-zat real seperti sel otak bisa dipengaruhi hanya dengan niat ?

Maka dalam hal ini Otak yang saya uraikan diatas, bukanlah hanya otak secara kasar, tetapi menyangkut sisi imaginer dari Otak yaitu Chakra Mahkota.

Inilah sebetulnya yang disebut Meditasi, yaitu suatu aktifitas untuk meresonansikan Otak + Chakra Mahkota agar menjadi sensitif dalam menerima frekwensi tertentu. Sehingga Pikiran sebagai substansi yang ‘sadar’ bisa mengenali sesuatu yang disebut ‘pencerahan’

Meditasi NAQS
Pelatihan dalam bentuk Meditasi NAQS adalah sebuah jalan yang ditawarkan oleh NAQS Methode atas pengendalian pikiran dan kesadaran. Untuk memperoleh ketenangan bathin dan Fikiran serta sebagai sarana untuk pendekatan diri kepada Tuhan dan melakukan penyempurnaan jiwa dengan menyelaraskan atau meresonansikan vibrasi energi pribadinya dengan vibrasi Frekwensi Energi Ilahiah NAQS (Nuurun ‘ala nuurin) sehingga terjadilah sebuah proses Evolusi yang Holistik yang meliputi Body, Mind, & Spirit (Jasmani, Jiwa, & Ruh).

Karena meditasi NAQS menggunakan tekhnik resonansi dengan energi Kultivasi NAQS, maka hasilnya tentu tidak sama dengan tekhnik meditasi yang lain. Tahapan-tahapan yang ditempuhnyapun berbeda. Oleh karena itu belajar NAQS Methode tanpa memahami intisari pelajaran ini, maka si pelajar tidak akan memperoleh suatu hasil yang maksimal. Yang perlu di ingat adalah NAQS adalah sebuah sistem, anda tidak akan memperoleh manfaat yang banyak bila anda setengah-setengah dalam mengikutinya.

Jika dikelompokkan, meditasi NAQS dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu Meditasi Konsentrasi dan Meditasi Kesadaran. Meditasi konsentrasi adalah suatu cara mengarahkan pikiran agar berkonsentrasi hanya pada suatu objek tunggal. Sedangkan meditasi kesadaran adalah meditasi yang selalu sadar untuk menyadari apa yang sedang dilakukan pikiran, namun tidak berkonsentrasi pada suatu objek yang sedang dipikirkan. Meditasi Kultivasi Jiwa dan Meditasi Kultivasi Ruh dalam NAQS Methode termasuk kategori meditasi konsentrasi. Sedangkan Meditasi LI (Liqo’illah) dan Meditasi EW (Eling lan Waspodo) dalam NAQS Methode bisa dikategorikan sebagai meditasi kesadaran.

Penelitian ilmuwan menunjukkan bahwa seseorang yang sedang meditasi berada dalam gelombang alfa. Artinya bahwa seseorang yang sering melatih meditasinya, akan mudah menenangkan dirinya ketika ada respon yang akan membuatnya cemas atau gelisah. Pada beberapa meditator juga ditemukan gelombang theta yang biasanya terukur hanya pada saat awal-awal tidur sebelum otak menuju gelombang delta yang sangat tenang yang muncul ketika tidur nyenyak. Jadi bisa dikatakan bahwa semakin dalam seseorang bermeditasi, gelombang yang terukur di otaknya akan semakin rendah atau menuju keadaan istirahat (seperti dalam tidur), walau sadar sepenuhnya.

Meditasi yang dikembangkan dalam Ilmu NAQS ada kemiripan dengan metode meditasi yang dikenal orang pada umumnya. Hanya saja meditasi NAQS tidak mengharuskan para praktisi untuk melakukan suatu sikap tubuh tertentu. Meditasi NAQS bisa dilakukan sambil duduk bersila di atas lantai, atau duduk bersandar di kursi, sambil tiduran, dll.

JENIS MEDITASI NAQS :

  1. MEDITASI KULTIVASI JIWA
  2. MEDITASI KULTTIVASI RUH
  3. MEDITASI LI
  4. MEDITASI EW
  5. MEDITASI NAFAS

Bagaimana saya menyiapkan diri untuk meditasi harian saya ?

Cara menyiapkan diri untuk meditasi diberikan seperti di bawah ini :

  1. Sikat gigi dan cuci muka.
  2. Mandi suci (disarankan bahwa kamu mulai meditasi sepagi mungkin tanpa menghabiskan waktu pada aktivitas-aktivitas rutin seperti minum teh, baca koran, olahraga dan sebagainya).
  3. Pakai pakaian yang longgar dan enak dipakai.
  4. Tentukan satu waktu dan tempat khusus untuk meditasi setiap hari.
  5. Beritahu anggota keluarga yang lain untuk tidak mengganggumu selama meditasi.
  6. Mulailah dengan meditasi selama 30 menit. Tambah waktunya setelah kamu merasa cocok dan lakukan itu menjadi satu jam. Kalau kamu membuka mata sebelum waktunya, kamu dapat menutup matamu lagi dan meneruskan meditasi.
  7. Duduk yang enak, santai tetapi punggung dan kepala tetap tegak. Kamu bisa duduk di lantai, di bangku, dengan punggung (bukan kepala) bersandar pada tembok. Kalau kepalamu tertunduk setelah kamu mulai meditasi (disebabkan karena kehilangan kesadaran), kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Tiduran tidak diijinkan karena terlalu mengasyikkan sehingga dapat membuat kamu tidur.
  8. Harap dimengerti bahwa meditasi atas Tuhan yang ada di dalam hatimu adalah pemujaan oleh karenanya mulai dengan doa dalam batin ((ILAHI ANTA MAQSUDI WARIDLOKA MATHLUBI) untuk meninggikan spiritual dengan hati penuh cinta dan pengabdian.

Pada umumnya di menit-menit pertama tafakkur, anda belum bisa mencapai keheningan yang cukup dalam. Banyak lintasan-lintasan hati dan fikiran yang mengganggu konsentrasi anda. Terutama mengenai masalah sehari-hari dan masalah-masalah yang sangat mengganggu kehidupan anda. Serta memory-memory masa lalu yang terpendam akan muncul semua. Hal itu adalah wajar, jangan risaukan hal itu. Lanjutkan saja meditasi anda. Sehingga semua gangguan itu hilang dan anda dapat memasuki keheningan dan ketenangan yang cukup dalam. Berdiamlah dalam keheningan itu sampai anda merasa cukup untuk mengakhiri meditasi anda.

Dan disinilah rahasia dari meditasi anda yang dapat memecahkan segala masalah yang menimpa anda.

Yaitu di saat ingatan akan semua masalah dan kenangan itu muncul ke permukaan kesadaran anda di alam meditasi. Biarkan saja itu semua muncul, karena gelombang fikiran dan masalah yang mengganggu anda itu nantinya akan di perbaiki dan di sucikan oleh energy Nur Sirrullah. Sehingga aura gelap yang selama ini menyelimuti diri anda akan tersucikan. Sehingga hati dan fikiran anda yang selama ini terasa buntu dan suntuk akan menjadi jernih dan tenang. Dan anda akan merasakan kesegaran yang luar biasa ketika selesai bermeditasi.

Apa yang harus saya lakukan jika pikiran-pikiran saya mengganggu selama meditasi ?

Kamu harus menganggapnya seperti pikiran tersebut adalah pikiran orang lain. Jadi ciptakan jarak antara dirimu dengan pikiran yang muncul. Master menasehati kita untuk memperlakukannya sebagai tamu yang tidak diundang – mereka akan pergi kalau kamu tidak memberikan perhatian pada pikiran tersebut. Kalau kamu mendapatkan dirimu terlalu terlibat dengan pikiran tersebut, kamu disarankan untuk perlahan-lahan melepaskan pikiran tersebut dan membawanya kembali ke suasana awal (UCAPKAN DOA : ILAHI ANTA MAQSUDI WARIDLOKA MATHLUBI).

Bagaimanapun ini hanyalah persoalan yang sementara. Dengan meditasi setiap hari secara teratur dan sitting secara periodik dengan Preceptor, kamu akan menemukan bahwa pikiran tersebut kehilangan bebannya dan berhenti untuk mengganggu perasaan yang menginginkan ketenangan dan kesentosaan di dalam hatimu.

Jika engkau belum mempunyai ilmu, 
hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
kerana Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata wang palsumu!
Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!
Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayuhlah datang, dan datanglah lagi!
Kerana Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu, kerana Akulah jalan itu.”

~ Jalaluddin Rumi ~

===

The Secret (Menu Rahasia Nih..) HOLISTIC PERSON ( INSAN KAMIL ) Alam Semesta Bertasbih Dan Evolusi Spiritual Spektrum Energi Cahaya Ilahi NAQS Manajemen Qalbu Getaran Hati MEDITASI Meditasi dan Kuantum Energi Hukum Resonansi, Bioenergi, & Meditasi NAQS NAQS Methode Sinergi Otak dan Hati Rahasia Sentuhan Tangan Reiki N-AQS Melatih Kepeka’an BOLA ENERGI SAPU JAGAD REIKI NAQS NIAT dan AFFIRMASI REIKI NAQS Senam Pernafasan Bioenergi NAQS Alif Lam Mim NAQS Detoxifikasi Total Seri 1 Senam Mata NAQS Terapi Refleksi Kaki NAQS

Prinsip Berguru : Kosong dan Isi

Metode NAQS adalah sebuah sistem yang terpadu utuk pengembangan diri manusia secara holistik yang meliputi pengembangan potensi Kesehatan Jasmani, Kesadaran Fikiran, Kecerdasan Hati Nurani, serta Kecerdasan spiritual. Sebagai sebuah sistem, maka metode ini tidak akan bisa tepat mengenai sasaran bila membernya tidak memahami sistem yang ada secara keseluruhan. Atau mengikuti dengan setengah hati, dan tidak sampai tuntas. Di bawah ini ada sebuah kisah menarik tentang prinsip berguru dan mencari ilmu.

Tersebutlah Bruce Lee, seorang legenda kungfu, saat dia pertama kali menemui gurunya untuk belajar ilmu.

Saat dia bertemu dengan gurunya itu dan mulai bertanya dengan semangat 45 tentang ilmu Kungfu, Sang Guru menjawabnya hanya dengan berkali-kali menuangkan air dari sebuah teko kecil yang berisikan teh ke dalam sebuah cangkir kecil yang sudah penuh berisi air teh pula. Berkali-kali Bruce Lee menanyakan ilmu yang ingin dia dapatkan, jawaban Sang Guru juga berkali-kali hanyalah dalam bentuk gerak menuangkan kembali air teh ke dalam cangkir yang sudah penuh itu, sehingga air teh itupun tumpah ruah meluber kemana-mana, membasahi meja kecil di depan mereka berdua. Begitulah, setiap kali ditanya oleh sang calon murid, Bruce Lee, Sang Guru tersebut kembali hanya menumpahkan air ke dalam cangkir yang sudah penuh itu. Lagi…, lagi…, dan lagi…, begitulah yang terjadi berulang kali.

Dipuncak kepenasarannya, sang murid bertanya dengan rasa dongkolnya yang pekat:
“Guru…, saya datang kesini untuk belajar ilmu, akan tetapi setiap pertanyaan yang saya ajukan, guru hanya menjawabnya dengan menuangkan air ke dalam cangkir yang sudah penuh itu sehingga air tersebut tumpah kemana-mana. Kenapa guru…?”.

Sang Guru tersenyum renyah memandang tepat ke mata sang Murid. Lalu dengan lembut dia berkata kepada murid kecilnya itu:

“Bagaimana saya akan mulai mengajarimu nak, sedang kamu datang kepadaku dengan kondisi dada dan otakmu yang sudah penuh dengan ilmumu yang memang sudah hebat. Setiap yang kuajarkan nanti, pastilah akan meloncat keluar lagi dari dalam dada dan otakmu itu, karena kau datang dengan sudah membawa segudang pola rasa dan pikiranmu sendiri nak…. Apapun yang akan kuajarkan nanti, maka kau akan membandingkannya dengan rasa dan isi otakmu yang sudah ada itu. Lalu buat apa aku mengajarimu sesuatu yang baru lagi kalau kau toh hanya akan kembali bertahan dengan isi otakmu yang sudah ada itu…?”.

Sang murid termangu mencerna wejangan gurunya itu. Dan dengan agak kemalu-maluan, sang murid menjawab:

“Benar guru…, saya tadinya datang kepada guru dengan NIAT untuk memantapkan ilmu-ilmu yang sudah ada di dada dan di otak saya selama ini. Saya hanya berfikir bahwa saya, yang selama ini sudah merasa hebat, hanya butuh sedikit sentuhan akhir saja dari guru untuk mematangkan ilmu-ilmu saya ini”.

Sang Guru dalam kelembutan tutur kata dan wajahnya yang teduh menimpalinya:
“Disitulah masalahnya nak…, apapun yang akan kuajarkan nanti pastilah akan kau tarik ke dalam persepsimu sendiri, sehingga kau tidak akan pernah bisa berkembang lebih dari apa yang kau punya sekarang ini. Ilmu-ilmu yang kusampaikan akan kau lepehkan kembali tanpa kau sadari. Karena otak dan dadamu memang sudah kau persiapkan untuk tidak bisa lagi diisi dengan ilmu-ilmu yang lain dari apa yang kau punya saat ini. Setiap jawabanku atas pertanyaan-pertanyaanmu, nantinya kau juga akan menggiringku agar aku menjawabnya seirama dengan isi otakmu itu. Tepatnya, ilmu-ilmuku yang kuajarkan kepadamu dalam kondisi otak dan dadamu masih penuh seperti itu akan luber, melimpah-ruah, keluar dari dada dan otakmu seperti melimpahnya air teh dari cangkir yang sudah penuh itu tadi. Lalu apa lagi yang bisa kuajarkan kepadamu nak…?.

Dengan termangu-mangu sang murid pun berkata perlahan:
“Lalu apa yang harus saya lakukan Guru…?.

Sang Guru tidak langsung menjawabnya dengan kata-kata. Dia hanya menumpahkan isi cangkir yang sudah penuh itu tadi sampai habis kedalam sebuah pot tanaman yang ada di dekat mereka duduk, sehingga cangkir itupun kosong. Sang Guru lalu mengisi cangkir yang sudah kosong itu dengan perlahan sampai penuh. Begitu penuh, Sang Guru kemudian kembali menumpahkan isi cangkir itu ke dalam pot tanaman tadi untuk kemudian dia isi lagi dengan air teh dari teko bulat sebesar buah semangka di depannya. Penuh-kosong…, penuh-kosong…, penuh-kosong…!.

Begitulah Sang Guru selalu membuang air dari cangkir yang sudah diisinya itu sampai habis dan kemudian beliau mengisi cangkir itu kembali sampai penuh dari teko yang dipegangnya dengan tangan kanannya. Sampai suatu saat teko itupun kehabisan air. Air terakhir yang berada didalam cangkir kecil itupun kemudian ditumpahkan pula oleh Sang Guru, sehingga teko dan cangkirpun dua-duanya menjadi kosong.

“Sekarang…, apa yang kau pahami nak…?”, tanya Sang Guru.

“Aaa…, saya sekarang jadi paham Guru…, saat saya datang kepada Guru dalam keadaan dada dan otak saya penuh dengan ilmu yang ada pada saya selama ini, maka ilmu yang akan Guru sampaikan kepada saya akan sama halnya dengan air teh yang luber saat Guru mengisi cangkir kecil yang penuh dengan air teh itu tadi. Diisi bagaimana pun juga air itu akan meluber tak ada gunanya. Akan tetapi, saat saya mau mengosongkan dada dan otak saya dari ilmu masa lalu, persepsi masa lalu, rasa masa lalu, maka saat itulah sebenarnya saya menjadi sebuah wadah yang siap untuk Guru isi dengan ilmu apapun yang Guru punyai”, jawab sang murid dengan penuh semangat.

“Lalu apa lagi yang kau pahami Nak…?”, tanya Sang Guru dengan mata berbinar.

“Guru, begitu saya siap untuk Guru tuangi dengan ilmu dari Guru, maka sebenarnya Gurupun saat itu sedang dalam proses mengosongkan otak dan dada Guru pula dari kepemilikan dan keterikatan Guru dengan ilmu yang Guru punyai saat ini. Dan…, saat itu juga Guru sebenarnya sedang dalam proses siap pula untuk menerima ilmu dari Sang Punya Ilmu, Sang Maha Guru…!. Ya…, ya…, saya sekarang paham Guru”, kata sang murid pula dengan nada gembira…

Sebagai jawabannya, Sang Guru hanya menyeruput seteguk teh hijau di depannya sambil tersenyum.

“Kalau begitu Guru…, tolong ajari saya kembali sejak mulai dari posisi kuda-kuda, dan sikap-sikap dasar lainnya. Saya akan lupakan ilmu-ilmu saya yang lalu itu…, saya siap Guru. Sekarang juga…!”, pinta sang murid dengan penuh semangat.

Tak berapa lama kemudian, terjadilah proses kosong-isi-kosong-isi-kosong alias proses pertukaran ilmu yang sangat intents antara Sang Guru tersebut dengan muridnya. Lalu akhirnya duniapun mencatat di dalam lembaran sejarahnya, bahwa pernah hidup seorang jawara Kung Fu, Jet Kun Do yang sangat tersohor bernama Bruce Lee…

Jadi intinya kalau kita ingin terus belajar, dalam arti belajar apapun itu, baik dalam hal agama maupun pengetahuan lain. Janganlah pernah menyombongkan ilmu yang kita punya atau sudah merasa pintar atau sudah merasa paling benar duluan. Percuma saja, segala ilmu tersebut akan mental saja.
Padahal ilmu Allah itu sangatlah luas, walaupun seluruh air laut dibuat menjadi tinta, gak akan pernah bisa mencatat ke-Maha Luasan ilmu Allah.

>Prinsip Berguru : Kosong dan Isi

>Metode NAQS adalah sebuah sistem yang terpadu utuk pengembangan diri manusia secara holistik yang meliputi pengembangan potensi Kesehatan Jasmani, Kesadaran Fikiran, Kecerdasan Hati Nurani, serta Kecerdasan spiritual. Sebagai sebuah sistem, maka metode ini tidak akan bisa tepat mengenai sasaran bila membernya tidak memahami sistem yang ada secara keseluruhan. Atau mengikuti dengan setengah hati, dan tidak sampai tuntas. Di bawah ini ada sebuah kisah menarik tentang prinsip berguru dan mencari ilmu.

Tersebutlah Bruce Lee, seorang legenda kungfu, saat dia pertama kali menemui gurunya untuk belajar ilmu.

Saat dia bertemu dengan gurunya itu dan mulai bertanya dengan semangat 45 tentang ilmu Kungfu, Sang Guru menjawabnya hanya dengan berkali-kali menuangkan air dari sebuah teko kecil yang berisikan teh ke dalam sebuah cangkir kecil yang sudah penuh berisi air teh pula. Berkali-kali Bruce Lee menanyakan ilmu yang ingin dia dapatkan, jawaban Sang Guru juga berkali-kali hanyalah dalam bentuk gerak menuangkan kembali air teh ke dalam cangkir yang sudah penuh itu, sehingga air teh itupun tumpah ruah meluber kemana-mana, membasahi meja kecil di depan mereka berdua. Begitulah, setiap kali ditanya oleh sang calon murid, Bruce Lee, Sang Guru tersebut kembali hanya menumpahkan air ke dalam cangkir yang sudah penuh itu. Lagi…, lagi…, dan lagi…, begitulah yang terjadi berulang kali.

Dipuncak kepenasarannya, sang murid bertanya dengan rasa dongkolnya yang pekat:
“Guru…, saya datang kesini untuk belajar ilmu, akan tetapi setiap pertanyaan yang saya ajukan, guru hanya menjawabnya dengan menuangkan air ke dalam cangkir yang sudah penuh itu sehingga air tersebut tumpah kemana-mana. Kenapa guru…?”.

Sang Guru tersenyum renyah memandang tepat ke mata sang Murid. Lalu dengan lembut dia berkata kepada murid kecilnya itu:

“Bagaimana saya akan mulai mengajarimu nak, sedang kamu datang kepadaku dengan kondisi dada dan otakmu yang sudah penuh dengan ilmumu yang memang sudah hebat. Setiap yang kuajarkan nanti, pastilah akan meloncat keluar lagi dari dalam dada dan otakmu itu, karena kau datang dengan sudah membawa segudang pola rasa dan pikiranmu sendiri nak…. Apapun yang akan kuajarkan nanti, maka kau akan membandingkannya dengan rasa dan isi otakmu yang sudah ada itu. Lalu buat apa aku mengajarimu sesuatu yang baru lagi kalau kau toh hanya akan kembali bertahan dengan isi otakmu yang sudah ada itu…?”.

Sang murid termangu mencerna wejangan gurunya itu. Dan dengan agak kemalu-maluan, sang murid menjawab:

“Benar guru…, saya tadinya datang kepada guru dengan NIAT untuk memantapkan ilmu-ilmu yang sudah ada di dada dan di otak saya selama ini. Saya hanya berfikir bahwa saya, yang selama ini sudah merasa hebat, hanya butuh sedikit sentuhan akhir saja dari guru untuk mematangkan ilmu-ilmu saya ini”.

Sang Guru dalam kelembutan tutur kata dan wajahnya yang teduh menimpalinya:
“Disitulah masalahnya nak…, apapun yang akan kuajarkan nanti pastilah akan kau tarik ke dalam persepsimu sendiri, sehingga kau tidak akan pernah bisa berkembang lebih dari apa yang kau punya sekarang ini. Ilmu-ilmu yang kusampaikan akan kau lepehkan kembali tanpa kau sadari. Karena otak dan dadamu memang sudah kau persiapkan untuk tidak bisa lagi diisi dengan ilmu-ilmu yang lain dari apa yang kau punya saat ini. Setiap jawabanku atas pertanyaan-pertanyaanmu, nantinya kau juga akan menggiringku agar aku menjawabnya seirama dengan isi otakmu itu. Tepatnya, ilmu-ilmuku yang kuajarkan kepadamu dalam kondisi otak dan dadamu masih penuh seperti itu akan luber, melimpah-ruah, keluar dari dada dan otakmu seperti melimpahnya air teh dari cangkir yang sudah penuh itu tadi. Lalu apa lagi yang bisa kuajarkan kepadamu nak…?.

Dengan termangu-mangu sang murid pun berkata perlahan:
“Lalu apa yang harus saya lakukan Guru…?.

Sang Guru tidak langsung menjawabnya dengan kata-kata. Dia hanya menumpahkan isi cangkir yang sudah penuh itu tadi sampai habis kedalam sebuah pot tanaman yang ada di dekat mereka duduk, sehingga cangkir itupun kosong. Sang Guru lalu mengisi cangkir yang sudah kosong itu dengan perlahan sampai penuh. Begitu penuh, Sang Guru kemudian kembali menumpahkan isi cangkir itu ke dalam pot tanaman tadi untuk kemudian dia isi lagi dengan air teh dari teko bulat sebesar buah semangka di depannya. Penuh-kosong…, penuh-kosong…, penuh-kosong…!.

Begitulah Sang Guru selalu membuang air dari cangkir yang sudah diisinya itu sampai habis dan kemudian beliau mengisi cangkir itu kembali sampai penuh dari teko yang dipegangnya dengan tangan kanannya. Sampai suatu saat teko itupun kehabisan air. Air terakhir yang berada didalam cangkir kecil itupun kemudian ditumpahkan pula oleh Sang Guru, sehingga teko dan cangkirpun dua-duanya menjadi kosong.

“Sekarang…, apa yang kau pahami nak…?”, tanya Sang Guru.

“Aaa…, saya sekarang jadi paham Guru…, saat saya datang kepada Guru dalam keadaan dada dan otak saya penuh dengan ilmu yang ada pada saya selama ini, maka ilmu yang akan Guru sampaikan kepada saya akan sama halnya dengan air teh yang luber saat Guru mengisi cangkir kecil yang penuh dengan air teh itu tadi. Diisi bagaimana pun juga air itu akan meluber tak ada gunanya. Akan tetapi, saat saya mau mengosongkan dada dan otak saya dari ilmu masa lalu, persepsi masa lalu, rasa masa lalu, maka saat itulah sebenarnya saya menjadi sebuah wadah yang siap untuk Guru isi dengan ilmu apapun yang Guru punyai”, jawab sang murid dengan penuh semangat.

“Lalu apa lagi yang kau pahami Nak…?”, tanya Sang Guru dengan mata berbinar.

“Guru, begitu saya siap untuk Guru tuangi dengan ilmu dari Guru, maka sebenarnya Gurupun saat itu sedang dalam proses mengosongkan otak dan dada Guru pula dari kepemilikan dan keterikatan Guru dengan ilmu yang Guru punyai saat ini. Dan…, saat itu juga Guru sebenarnya sedang dalam proses siap pula untuk menerima ilmu dari Sang Punya Ilmu, Sang Maha Guru…!. Ya…, ya…, saya sekarang paham Guru”, kata sang murid pula dengan nada gembira…

Sebagai jawabannya, Sang Guru hanya menyeruput seteguk teh hijau di depannya sambil tersenyum.

“Kalau begitu Guru…, tolong ajari saya kembali sejak mulai dari posisi kuda-kuda, dan sikap-sikap dasar lainnya. Saya akan lupakan ilmu-ilmu saya yang lalu itu…, saya siap Guru. Sekarang juga…!”, pinta sang murid dengan penuh semangat.

Tak berapa lama kemudian, terjadilah proses kosong-isi-kosong-isi-kosong alias proses pertukaran ilmu yang sangat intents antara Sang Guru tersebut dengan muridnya. Lalu akhirnya duniapun mencatat di dalam lembaran sejarahnya, bahwa pernah hidup seorang jawara Kung Fu, Jet Kun Do yang sangat tersohor bernama Bruce Lee…

Jadi intinya kalau kita ingin terus belajar, dalam arti belajar apapun itu, baik dalam hal agama maupun pengetahuan lain. Janganlah pernah menyombongkan ilmu yang kita punya atau sudah merasa pintar atau sudah merasa paling benar duluan. Percuma saja, segala ilmu tersebut akan mental saja.
Padahal ilmu Allah itu sangatlah luas, walaupun seluruh air laut dibuat menjadi tinta, gak akan pernah bisa mencatat ke-Maha Luasan ilmu Allah.

>Prinsip Berguru : Kosong dan Isi

>Metode NAQS adalah sebuah sistem yang terpadu utuk pengembangan diri manusia secara holistik yang meliputi pengembangan potensi Kesehatan Jasmani, Kesadaran Fikiran, Kecerdasan Hati Nurani, serta Kecerdasan spiritual. Sebagai sebuah sistem, maka metode ini tidak akan bisa tepat mengenai sasaran bila membernya tidak memahami sistem yang ada secara keseluruhan. Atau mengikuti dengan setengah hati, dan tidak sampai tuntas. Di bawah ini ada sebuah kisah menarik tentang prinsip berguru dan mencari ilmu.

Tersebutlah Bruce Lee, seorang legenda kungfu, saat dia pertama kali menemui gurunya untuk belajar ilmu.

Saat dia bertemu dengan gurunya itu dan mulai bertanya dengan semangat 45 tentang ilmu Kungfu, Sang Guru menjawabnya hanya dengan berkali-kali menuangkan air dari sebuah teko kecil yang berisikan teh ke dalam sebuah cangkir kecil yang sudah penuh berisi air teh pula. Berkali-kali Bruce Lee menanyakan ilmu yang ingin dia dapatkan, jawaban Sang Guru juga berkali-kali hanyalah dalam bentuk gerak menuangkan kembali air teh ke dalam cangkir yang sudah penuh itu, sehingga air teh itupun tumpah ruah meluber kemana-mana, membasahi meja kecil di depan mereka berdua. Begitulah, setiap kali ditanya oleh sang calon murid, Bruce Lee, Sang Guru tersebut kembali hanya menumpahkan air ke dalam cangkir yang sudah penuh itu. Lagi…, lagi…, dan lagi…, begitulah yang terjadi berulang kali.

Dipuncak kepenasarannya, sang murid bertanya dengan rasa dongkolnya yang pekat:
“Guru…, saya datang kesini untuk belajar ilmu, akan tetapi setiap pertanyaan yang saya ajukan, guru hanya menjawabnya dengan menuangkan air ke dalam cangkir yang sudah penuh itu sehingga air tersebut tumpah kemana-mana. Kenapa guru…?”.

Sang Guru tersenyum renyah memandang tepat ke mata sang Murid. Lalu dengan lembut dia berkata kepada murid kecilnya itu:

“Bagaimana saya akan mulai mengajarimu nak, sedang kamu datang kepadaku dengan kondisi dada dan otakmu yang sudah penuh dengan ilmumu yang memang sudah hebat. Setiap yang kuajarkan nanti, pastilah akan meloncat keluar lagi dari dalam dada dan otakmu itu, karena kau datang dengan sudah membawa segudang pola rasa dan pikiranmu sendiri nak…. Apapun yang akan kuajarkan nanti, maka kau akan membandingkannya dengan rasa dan isi otakmu yang sudah ada itu. Lalu buat apa aku mengajarimu sesuatu yang baru lagi kalau kau toh hanya akan kembali bertahan dengan isi otakmu yang sudah ada itu…?”.

Sang murid termangu mencerna wejangan gurunya itu. Dan dengan agak kemalu-maluan, sang murid menjawab:

“Benar guru…, saya tadinya datang kepada guru dengan NIAT untuk memantapkan ilmu-ilmu yang sudah ada di dada dan di otak saya selama ini. Saya hanya berfikir bahwa saya, yang selama ini sudah merasa hebat, hanya butuh sedikit sentuhan akhir saja dari guru untuk mematangkan ilmu-ilmu saya ini”.

Sang Guru dalam kelembutan tutur kata dan wajahnya yang teduh menimpalinya:
“Disitulah masalahnya nak…, apapun yang akan kuajarkan nanti pastilah akan kau tarik ke dalam persepsimu sendiri, sehingga kau tidak akan pernah bisa berkembang lebih dari apa yang kau punya sekarang ini. Ilmu-ilmu yang kusampaikan akan kau lepehkan kembali tanpa kau sadari. Karena otak dan dadamu memang sudah kau persiapkan untuk tidak bisa lagi diisi dengan ilmu-ilmu yang lain dari apa yang kau punya saat ini. Setiap jawabanku atas pertanyaan-pertanyaanmu, nantinya kau juga akan menggiringku agar aku menjawabnya seirama dengan isi otakmu itu. Tepatnya, ilmu-ilmuku yang kuajarkan kepadamu dalam kondisi otak dan dadamu masih penuh seperti itu akan luber, melimpah-ruah, keluar dari dada dan otakmu seperti melimpahnya air teh dari cangkir yang sudah penuh itu tadi. Lalu apa lagi yang bisa kuajarkan kepadamu nak…?.

Dengan termangu-mangu sang murid pun berkata perlahan:
“Lalu apa yang harus saya lakukan Guru…?.

Sang Guru tidak langsung menjawabnya dengan kata-kata. Dia hanya menumpahkan isi cangkir yang sudah penuh itu tadi sampai habis kedalam sebuah pot tanaman yang ada di dekat mereka duduk, sehingga cangkir itupun kosong. Sang Guru lalu mengisi cangkir yang sudah kosong itu dengan perlahan sampai penuh. Begitu penuh, Sang Guru kemudian kembali menumpahkan isi cangkir itu ke dalam pot tanaman tadi untuk kemudian dia isi lagi dengan air teh dari teko bulat sebesar buah semangka di depannya. Penuh-kosong…, penuh-kosong…, penuh-kosong…!.

Begitulah Sang Guru selalu membuang air dari cangkir yang sudah diisinya itu sampai habis dan kemudian beliau mengisi cangkir itu kembali sampai penuh dari teko yang dipegangnya dengan tangan kanannya. Sampai suatu saat teko itupun kehabisan air. Air terakhir yang berada didalam cangkir kecil itupun kemudian ditumpahkan pula oleh Sang Guru, sehingga teko dan cangkirpun dua-duanya menjadi kosong.

“Sekarang…, apa yang kau pahami nak…?”, tanya Sang Guru.

“Aaa…, saya sekarang jadi paham Guru…, saat saya datang kepada Guru dalam keadaan dada dan otak saya penuh dengan ilmu yang ada pada saya selama ini, maka ilmu yang akan Guru sampaikan kepada saya akan sama halnya dengan air teh yang luber saat Guru mengisi cangkir kecil yang penuh dengan air teh itu tadi. Diisi bagaimana pun juga air itu akan meluber tak ada gunanya. Akan tetapi, saat saya mau mengosongkan dada dan otak saya dari ilmu masa lalu, persepsi masa lalu, rasa masa lalu, maka saat itulah sebenarnya saya menjadi sebuah wadah yang siap untuk Guru isi dengan ilmu apapun yang Guru punyai”, jawab sang murid dengan penuh semangat.

“Lalu apa lagi yang kau pahami Nak…?”, tanya Sang Guru dengan mata berbinar.

“Guru, begitu saya siap untuk Guru tuangi dengan ilmu dari Guru, maka sebenarnya Gurupun saat itu sedang dalam proses mengosongkan otak dan dada Guru pula dari kepemilikan dan keterikatan Guru dengan ilmu yang Guru punyai saat ini. Dan…, saat itu juga Guru sebenarnya sedang dalam proses siap pula untuk menerima ilmu dari Sang Punya Ilmu, Sang Maha Guru…!. Ya…, ya…, saya sekarang paham Guru”, kata sang murid pula dengan nada gembira…

Sebagai jawabannya, Sang Guru hanya menyeruput seteguk teh hijau di depannya sambil tersenyum.

“Kalau begitu Guru…, tolong ajari saya kembali sejak mulai dari posisi kuda-kuda, dan sikap-sikap dasar lainnya. Saya akan lupakan ilmu-ilmu saya yang lalu itu…, saya siap Guru. Sekarang juga…!”, pinta sang murid dengan penuh semangat.

Tak berapa lama kemudian, terjadilah proses kosong-isi-kosong-isi-kosong alias proses pertukaran ilmu yang sangat intents antara Sang Guru tersebut dengan muridnya. Lalu akhirnya duniapun mencatat di dalam lembaran sejarahnya, bahwa pernah hidup seorang jawara Kung Fu, Jet Kun Do yang sangat tersohor bernama Bruce Lee…

Jadi intinya kalau kita ingin terus belajar, dalam arti belajar apapun itu, baik dalam hal agama maupun pengetahuan lain. Janganlah pernah menyombongkan ilmu yang kita punya atau sudah merasa pintar atau sudah merasa paling benar duluan. Percuma saja, segala ilmu tersebut akan mental saja.
Padahal ilmu Allah itu sangatlah luas, walaupun seluruh air laut dibuat menjadi tinta, gak akan pernah bisa mencatat ke-Maha Luasan ilmu Allah.

>Ritual Ruwatan dan Rajah Kala Cakra

>

RITUAL RUWATAN

Dalam masyarakat Jawa,ritual ruwat dibedakan dalam tiga golongan besar yaitu :
1. Ritual ruwat untuk diri sendiri.
2. Ritual ruwat untuk lingkungan.
3. Ritual ruwat untuk wilayah.

Dalam masyarakat Jawa, ruwatan memiliki ketergantungan pada siapa yang akan melaksanakan. Jika ruwatan dilakukan oleh orang yang memang memiliki kemampuan ekonomi yang memadai, maka biasanya dilakukan secara besar-besaran yaitu dengan mengadakan pagelaran pewayangan. Pagelaran pewayangan ini berbeda dengan pagelaran yang pada umumnya dilakukan. Pagelaran pewayangan dilakukan pada siang hari dan khusus dilakukan oleh dalang ruwat.

1. Ruwatan Diri Sendiri
Ruwatan diriRuwatan diri sendiri dilakukan dengan cara-cara tertentu seperti melakukan puasa (ajaran sinkretisme), melakukan selamatan, melakukan tapa brata. Dalam masyarakat Jawa, bertapa merupakan bentuk laku atau sering disebut lelaku. Lelaku sebagai wujud untuk membersihkan diri dari hal-hal yang bersifat gaib negatif (buruk) juga termasuk dalam ruwatan. Dengan memasukan kekuatan gaib dalam diri yang bersifat positif (baik), akan memberikan keseimbangan energi dalam tubuh. Hal ini sering dikemukakan oleh para spiritualis Jawa sebagai bentuk nasehat untuk mempelajari hal-hal yang bersifat baik.

Pada saat ini, ruwatan yang dilakukan oleh sebagaian masyarakat Jawa jauh berbeda dengan kebudayaan peninggalan pada zaman Hindu-Budha. Ruwatan lebih cenderung dilakukan dengan tidak mengatasnamakan ruwatan, tetapi pada dasarnya memiliki tujuan yang sama. Lelaku sebagai wujud atau bentuk dari ruwatan bagi diri sendiri ini juga sering dilakukan oleh sebagian mansyarakat Jawa agar mendapatkan kebersihan jiwa.
Rituan Ruwatan Diri Sendiri Menurut Kitab Primbon Mantrawara III, Mantra Yuda

Jika orang yang merasa selalu sial, dalam kepercayaan Jawa harus melakukan upacara ruwatan terhadap diri sendiri. Ritual ruwatan ini memiliki banyak sebutan, antara lain adalah Ruwatan Anggara Kencana. Kesialan yang ada dalam diri manusia dipercaya timbul dari sedulur papat limo pancer atau sebagai pemicunya berasal dari kekuatan lain (makhluk halus). Btempat keberadaan sedulur papat ini dapat dilakukan pendeteksian.
Pendeteksian yang dilakukan adalah melalui perhitungan (petungan) Jawa yaitu : Ha: 1, Na: 2, Ca: 3, Ra: 4 dan seterusnya. Pendeteksian dilakukan dengan menjumlah neptu orang tuanya dengan orang yang akan melakukan ritual ini.

Jumlah keduanya kemudian dibagi 9 dan diambil sisanya. Jika sisa:
1. Bersemayam di sebelah kiri-kanan mata kanan,
2. Bersemayam di sebelah kiri-kana mata kiri,
3. Bersemayam di telinga kanan,
4. Bersemayam di telinga kiri,
5. Bersemayam di sebelah hidung kanan,
6. Bersemayam di sebelah hidung kiri,
7. Bersemayam di mulut,
8. Bersemayam di sekeliling pusar,
9. Bersemayam di kemaluan,

sebagai syarat dari ritual ini adalah mengambil sedikit darah di sekitar tempat keberadaan bersemayamnya. Darah ini akan dilabuh (dilarung). Cara mengambil darah ini adalah dengan mengunakan duri yang kemudian dioleskan pada kapas puti. Duri dan kapas nantinya akan dilabuh bersama-sama dengan syarat yang lain, berupa :
1. Beras 4 kg,
2. Slawat 1 Dirham (uang senilai emas 1 gram),
3. Ayam,
4. Teklek (sandal dari kayu, atau bisa digantikan sandal biasa),
5. Benang Lawe satu gulung,
6. Telur ayam yang baru saja keluar (belum ada sehari),
7. Gula setangkep (gula Jawa satu pasang), gula pasir 1 kg,
8. Kelapa 1 buah.

Kelapa, benang lawe, telur ayam, beserta kapas dan duri dilabuh sambil membaca mantera: “Ingsung ora mbuwang klapa lan isine, ananging mbuwang apa kang ndadekake apesing awakku”. (Aku tidak membuang kelapa beserta isinya, tetapi aku membuang apa yang menjadikan kesialan bagiku).
Selain beberapa benda yang dilarung atau dilabuh tersebut, dikrarkan untuk disedekahkan kepada siap yang dikehendakinya, sebaiknya sodaqoh kepada orang yang membutuhkan.
2. Ruwatan Untuk Lingkungan
Ruwatan yang dilakukan untuk lingkup lingkungan biasanya dilakukan dengan sebutan mageri atau memberikan pagar gaib pada sebuah lokasi. Sebagai contoh yang sering kita temui dalam masyarakat sekitar kita adalah memberikan pagar gaib. Hal semacam memberikan pagar gaib pada sebuah lokasi (anggap saja rumah) ditujukan untuk beberapa hal, antara lain :Ruwatan2a. Memberikan daya magis yang bersifat menahan, menolak, atau memindahkan daya (energi) negatif yang berada dalam rumah atau hendak masuk kedalam rumah. Metode semacam ini biasanya dilakukan dengan menanam tumbal yang diperlukan, misalnya kepala kerbau atau kepala kambing.

b. Memberikan pagar agar tidak dimasuki oleh orang yang hendak berniat jahat.
c. Memberikan kekuatan gaib yang bersifat mengusir atau mengurung makhluk halus yang berbeda dalam lingkup pagar gaib.

Berbagai cara memberikan pagar gaib ini dapat dilihat pada buku-buku kuno yang menceritakan pemagaran diri manusia, lingkungan dan wilayah yang cukup luas dengan kepercayaan masyarakat Jawa. Tujuan utama dilakukannya pemagaran gaib pada manusia dan pada lingkungannya ini apabila tercapai, menurut kepercayaan Jawa akan menjadikan lingkungan yang aman, sejahtera, jauh dari gangguan makhluk halus.
Pada saat ini, bentuk pemagaran gaib yang sering ditemui dalam masyarakat Jawa sekitar kita berbentuk menanam rajah, menanam tumbal, membaca doa untuk membuat pagar dan masih banyak metede lainnya. Acara atau ritual ruwatan yang ditujukan untuk memagari sebuah lokasi ini kemudian berubah dalam pelaksanaannya karena sebagian masyarakat Jawa sekarang sudah cenderung mempercayai hal-hal yang bersifat ilmiah.

Ritual ruwatan dalam masyarakat Jawa yang masih berlaku biasanya adalah pemagaran gaib yang dilakukan dengan menyediakan berbagai jenis sesaji dan melakukan ritual sendiri. Penerapan ritual ruwatan tidak jauh berbeda antara satu tujuan dengan tujuan yang lain. Pelaksanaan yang umum dilakukan dalam masyarakat Jawa adalah dengan menggelar lakon pewayangan yang berisi tentang ruwatan itu sendiri. Dalang dalam menampilkan pagelarannya menyajikan salah satu dari beberapa jenis lakon.

3. Ruwatan Untuk Desa atau Wilayah Yang Luas
Disini akan dijelaskan contoh ruwatan di Kepatihan Danurejan, dari Babon Primbon Kagungan Dalem KPH Tjakraningrat (Kanjeng Raden hadipati Danureja IV).

Ruwatan
Pada umumnya, pangruwatan Murwa Kala dilakukan dengan pagelaran pewayangan yang membawa cerita Murwa Kala dan dilakukan oleh dalang khusus memiliki kemampuan dalam bidang ruwatan. Pada ritual pangruwatan, bocah sukerta dipotong rambutnya dan menurut kepercayaan masyarakat Jawa, kesialan dan kemalangan sudah menjadi tanggungan dari dalang karena anak sukerta sudah menjadi anak dalang. Karena pagelaran wayang merupakan acara yang dianggap sakral dan memerlukan biaya yang cukup banyak, maka pelaksanaan ruwatan pada zaman sekarang ini dengan pagelaran wayang dilakukan dalam lingkup pedesaan atau pedusunan.

Proses ruwatan seperti yang diterangkan ini bisa ditujukan untuk seseorang yang akan diruwat, namun pelaksanaannya pada siang hari. Sedangkang untuk meruwat lingkup lingkungan, biasanya dilakukan pada malam hari. Perbedaan pemilihan waktu pelaksanaan pagelaran ditentukan melalui perhitungan hari dan pasaran.

Urut-urutan ruwatan sebagai berikut :
a. Dimulai dengan doa pembuka :
“Hong ilaheng, tata winanci awignam mastu samas sidhdhem”

b. Diteruskan dengan pembacaan cerita riwayat Sang Hyang Kala, yang disampaikan dalam bahasa Jawa dan sisampaikan mirip seperti nyanyian, tetapi juga bisa berbentuk seperti kalimat pembukaan sang dalang dalam membuka pagelaran wayang :

“Sinigeg sakathahing para jawata watak nawa sanga, pada retane Sang Hyang Pramesthi Guru kang tiba ing sela sana sewu, bentar kepara sewu, mila dalah samangka watu, dadi sajagad.

Ana sawijine yogane Sang Hyang Pramesthi Guru kang tiba telenging samodra, medal akimplik-kimplik, ing aran Sang Hyang Kamasalah, bisa ngadeg ing aranan Sang Hyang Candhusekti.

Ing kana kaidenan dening Sang Hyang Pramesthi Guru, sakathahe jawata watak nawasanga, kinen nggunturana marang Kamasalah, sakathahe guntur wedang, guntur watu, apa dene guntur geni, pada nurunake, guntur tanana, kang tumama, nora sangsaya suda, malah sangsaya gedhe kalawun-lawun. Ing kana kocap bebandhem, malar dadi pepak dandananing sarira, nulya minggah marang gagana arsa panggih lawan wong tuwanira, iya Sang Hyang Pramesthi Guru”.

c. Diteruskan dengan membaca Pakem Sontheng. Pakem ini dimulai dilagukan :
“Hong ilaheng pra yoganira Sang Hyang Kamasalah tengerannya, kang daging Sang Kemala, kadi gerah suwarane, abra lir mustika murub, amarab”.

d. Setelah Pakem Sontheng selesai, dibacakan :
“Anekak aken prabawa, ketug lindhu lan prahara, geter patertan pantara, alimaku tanpa suku, alembehan tanpa tangan, aningali tanpa netra, amyarsa tanpa karna, ambegan tanpa grana, acelathu tanpa lidah, angan-angan tanpa driya”.

e. Diteruskan dengan pasang tabeik dan membaca Kidung Sastra Pinandhati :
“Hong Ilaheng Tata winanci awighnam astu nammas siddam. Hong Ilaheng pra yoganira, sang bawana sariraku, randhu kepuh pangadhegku, kidang kancil kor tumaku, raiku lemah paesan, mataku socaning manuk, kupingku sang plempengan, cangkemku sangagunging wong, lambeku sang sarapati, utegku sang watu rejeng, ilatku sang lemah polah, janggutku sang watu sumong, guluku sang lemah dedet, selangku sang darmaraja, bauku sang lemah mraju, geger lemah gigir sapi, cangklekan lemah lempit-lempitan, dadaku sang lungka-lungka, wetengku sang lemah mendhak, susuku sang gunung kembar, penthilku sang asri kembar, wangkungku sang pacul tugel, silitku elenging landhak, kempungku tlaga mambeng, plananganku waja glijenm planangan waja binandung, pringsilan waja malela, uyuhku banyu pancuran, sukerke padhas cecuri, entutku mercu dadari, iduku parang teritis, riyakky pulut bendala, wentisku lemah bajangan, delamakanku lemah seta, paturonku lemah bleberan, tindhakku lindhu prahara, geter pater panebaku, awedi kang buta kabeh, sawedana Durga Kala, sawedana kertidara, tumurun ingsung madya, wowor ing dewata muja, ajiku sang ata ati, amaraja nata wuwusku, amahraja ta ajiku, Ya Yamaraja, Ya Jaramaya, Ya Yamarani, Ya Niramaya, Ya Yasilapa, Ya Palasiya, Ya Yamidora, Ya Rodomiya, Ya Yamidosa, Ya Sadomiya, Ya Yadayuda, Ya Dayudaya, Ya Yasiyaca, Ya Cayasiya, Ya Yasihama, Ya Mahasiya.

Yanyangsiyu yusinyangya, yanyangasiyu yusinyangya, yajasiyu yusijaya, yadangsiyu yusidangya, yawangsiyu yusiwangya, yasangsiyu yusisangya, yatangisiyu yusitangya, yadangsiyu yusidangya, yakangsiyu yusikangya, arangsiyu yusirangya, yacangsiyu yusicangya, yanangsiyu yusirangya, yacangsiyu yusicangya, yanangsiyu yusinangya, yahangsiyu yusihangya, yahangsiyu yusihangya”.
Diteruskan dengan membaca atau amateg sastra yang ada di langit-langit mulut (telak) Bethara Kala. Sastra ini menjadi pepingitan (peringatan) di jawata (menjadi hal yang dirahasiakan) tidak boleh dibacakan keras-keras uleh sang dalang. Hal ini dilakukan sambil menundukkan kepala dan tampak seperti mengheningkan cipta dengan menyanyikan lagi dandhanggula.

“Jatiswara, swaraning pamisik, lamun sira miwiti amaca, kawruhana kamulane, kembang cempaka kudhup, sari mulya kang bayu manjing, manjing sang bayu mulya, purnama kang bayu, abali sang bayu mulya, sabda idep-idepa marang kang yogi, ketawang kapigesang”.

f. Diteruskan dengan membaca “Sastra Banyak Dalang” lagu kentrung :
“Sang raja kumitir-kitir, ing ngendi anggonira linggih, den barung lan keli, mangore lunga ngidul, anelasar sruwa sepi, sumun dukuh ulung kembang, bale anyar ginelaran isi kang sumur bandung, toyane ludira muncar, timbane kepala tugel, taline ususe maling, winarna winantu aji, asri dinulu tingkahe kaya nauta, anauta lara raga, lara geng lara wigena, sampurnaning banyak Dalang”.
“Hong Ilaheng pra yoganira.

Sang raja kumitir-kitir anakku si banyak dalang, peksa arep memantuwa kudu bisa angaji, dukuhe ki ulung kembang bale anyar tanpa galar, isi ingkang sumur bandung, toyane ludira muncar, timbane kepala tugel, taline ususe maling, winarna winatu aji, asri dinulu tingkahe, tingkahe kaya nauta, anauta lara raga, lara geng lara wigena, saliring mala trimala, sakehing dendha upata, supatane wong atuwa, ana jaka meneng kembang, denya menek angutapel, wus kebek jejomprangira, dene sekar anelahi, ana ta prawan liwat, dinulu rupane ayu, prawan angaku rara, ya ni mara nini mara, anontana kintel muni, ting caremplung, anggero kang kodok ijo, solahe krangkang rangkang, sedayane kaya nauta, anauta lara raga, lara geng lara wigegna, slirane lara trimala, sakehing dendha upata, supatane wong atuwa, tetangga yen angrung guwa, kidungku si banyak dalang, saben dina pari dadar, sedina yen ana angring yen garing keaadak, ngelu puyeng pilek watuk, kena wisa wutah-wutah, miring murub benceretan, yen angrungu kidung iki, wong asomah padha banyak dalang, miwah yen prawan tuwa, miwah yen jejaka tuwa, dumadakan gelis krama, kang angidung maringa begawan, anonton larung keli, pepitu paring kadulu larunge ki banyak dalang, ajejuluk ki jelarung, garudha cucuke wesi, ora anucuka lara raga, lara geng wigena, salire mala trimala, sakehing dendha upata, supatane wong atuwa, sampurnaning banyak dalang”.

g. Diteruskan dengan membaca Sastra Gumbalageni, Geni, atau api yang datang dari berbagai penjuru angin, yaitu timur, selatan, barat dan utara, disatukan dan ditolak kekuatan negatifnya dan diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat dengan melakukan pembacaan mantera :

“Hong ilaheng pra yoganira.
 Ana geni tekane saka wetan, putih rupane geni, apa pakaryaning geni, angleburna lara ageng lara wigegna, saliring lara trimala, tujuh teluh taregnyana, budhug edan ayan buyan, wus lebur dening si geni, geni teka aneng wetan.

Hong ilaheng pra yoganira.
Ana geni teka saka kidul, abang rupane geni, apa pakaryaning geni, angleburna lara ageng lara wigegna, saliring lara trimala, tujuh teluh taregnyana, budhug edan ayan buyan, wus lebur dening si geni, geni teka ana kidul.

Hong ilaheng pra yoganira.
 Ana geni teka saka kulon, kuning rupane geni, apa pakaryaning geni, angleburna lara ageng lara wigegna, saliring lara trimala, tujuh teluh taregnyana, budhug edan ayan buyan, wus lebur dening si geni, geni teka ana kulon.

Hong ilaheng pra yoganira.
Ana geni teka saka elor, ireng rupane geni, apa pakaryaning geni, angleburna lara ageng lara wigegna, saliring lara trimala, tujuh teluh taregnyana, budhug edan ayan buyan, wus lebur dening si geni, geni teka ana elor.

Hong ilaheng pra yoganira.
Ana geni teka saka tengah, lelima rupane geni, apa pakaryaning geni, angleburna lara ageng lara wigegna, saliring lara trimala, tujuh teluh taregnyana, budhug edan ayan buyan, wus lebur dening si geni, geni teka ana tengah”.

h. Diteruskan dengan Kidung Sastra Puji Bayu :
“Sang Hyang sekti naga nila warna, dadaku sang naga peksa telaleku pembebet jagad, asabung kulinting liman, abebed kuliting singa, acawet angga genitri, liyanan catur wisa, rinejegan rejeg wesi, pinayungan kala akra, kinemiting panca resi, sinongsongan asih-asih, premanaku ing sulasih”.

i. Diteruskan dengan Kidung Sastra Mandalagiri :
“Hong ilaheng pra yoganira.
Sang Hyang Tangkep Bapa kasa, kaliyan ibu pertiwi, mijil yogyanira Sang Hyang Kamasalah, tengerannya kadi daging, swarane kadi gerah, abra lir mustikamurub, urube amarab arab, anekakaken prabawa, ketuk lindhu lan prahara, geter pater tan pantara, kagyat Sang Hyang Amarta arannya, wus ruwat pedhasamengko, yen ana gering kedadak, ngelu puyeng watuk, kena wisa wutah-wutah, miring murup benceretan, kudu lumaku rinuwat iki, anata senajata singwang, aranemandalagiri, Sang Hyang Amarta arannya, wus ruwat padha samengko”.

“Ruwatan dadi pagagan, bale mas sakane dhomas, pinucukan manik putih, rinawe-rawe kumala marbuk miging gandanira cendhana kara, gandhane jebat kasturi, kuning sira kocapa Bethara, ijil Bathara kusika, sang gagra mesi kurusa, umijil Sang Hyang Kuwera, ana sira rupa buta, ana sira rupa ula, kudu lumaku rinuwat anata sanjata ngngwang arane panji kumala, pinaputrakaken gunung, arane mandalagiri, Sang Hyang Ngamarta arannya, wus ruwat padha samengko”.

j. Diteruskan dengan Sastra Kakancingan :
“Kunci nira kunci putih, angruwata metuwa sang, mentu sampir lare kresna, kakrasa kama dindi, langkir tambir pakoninjog, untuing-untuing matu tingting, tunggaking kayu aren, miwah temu pamipisan, tumunem pega pagase, miwah kerubuhan lumbung dandang tanen, kudu lumaku rinuwat, anata sanjataning wang, arane panji kumala, pinaputrak-akengunung arane, Mandalagiri, Sang Hyang Ngamarta arannya, wus ruwat padha samengko”.

Pada proses ini merupakan penguncian kekuatan gaib yang ditimbulkan dengan cara atau ritual ruwat.
k. Diteruskan dengan Sastra Panulak, pada proses ini, kekuatan gaib dari Bethara Kala dibacakan mantera sehingga menurut kepercayaan masyarakat Jawa, kekuatan gaib tersebut akan musnah :
“Tolak tunggul ing dhadhaku, macam putih ing raiku, singa barong ing gigirku, baya nyasar ing cangkemku, sarpa naga ing tanganku, raja tuwa ing sikilku, surya candhra ing paningalku, swaraku lir gelap sewu, nulak sakabehing bilahi, setan balio padha adoh, wong saleksa padha lunga, wong sakethi padha mati, rep sirep sajagad kabeh.

Kuneng Bathara kalawan sira Sang Hyang Bethari Durga, kudu lumaku rinuwat, anata sanjataningwang, arane panji kumala, pinaputrekken gunung, arane Mandhalagir, Sang Hyang Ngamarta arannya, wus ruwat padha samangko.

Nora sira rupa kala, nora sira rupa Durga, atemahan Uma-uma, arep ageweya bala, ana lanang ana wadon, si betapasi betapi, sibrenggala si brenggali, si rahmaya si rahmayi, si kuntara si kuntari, kudu lumaku rinuwat, anata senjataning wang arane panji kumala, pina putrakaken gunung, Mandalagiri, Sang Hyang Ngamarta arannya, wus ruwat padha samengko.

Kala atemahan Guru, Durga atemahan Uma, Umayana umayini, widadara widadari, arep mantuk mring khayangan, Hyang Kala Bethara reswara, amediya swara wija, aweha urip sarasa”.

l. Diteruskan dengan Sastra Ruwat Panggung, dengan dinyanyikan lagu dandhanggula :
“Hong ilaheng prayogganatara.
Sang Hyang Galinggang kalawan sira Sang Hyang Damarjati, kelire Hyang Tinjomaya, Peluntur alimun, kekuping Sang Hyng Kuwera, peracik Sang Retna Adi, deboge Sang Hyang Gebohan, Cangkoke Bethara Gana, alinggih pang kayu Tera Sumbu, awune Bethara Brama, arenge Bethara Wisnu, kewala anonton wayang, Sang Hyang Eyang Guru kang amayang, widadari kang nggameli, anyangang iyang ayine, suu tegang ora wangewang, sehamana maya, katon kang anonton nora katon, kabruk-kabruk katung, pralambe yang ana maya katon, kang tinonton nora katon, kang anonton nora katon”.

Diteruskan dengan Sastra Panengeran, dengan dinyanyikan lagu Dandhanggula :

“Hong ilaheng prayogganatara.
Kang minangka tangeranku, sakti guna nila warna, turuku lindur buwana, salonjorku lungguh wesi, amunjung kayu perbatang, sedhakepku oyod nimang, candi sewu ing dhadhaku, adegku katu kastuba, randhu kepuh ing jengkengku, naga mulat ing guluku, naga peksa tulaleku, gadhingku warna curiga, cangkemku mas untu manik, siyungku Hyang pancanaka, lidahku sang sara sekti, brajapati ning wuwusku, arupa wil panca warna, Sang Hyang Siwah ginugonku, ula minangka alisku, Durga Durgi ngiringaku, netraku Sang Hyang Surya Candhra,sumuluh ing rat bawana, awedi kang buta dengen, awedi kang manungsa kabeh, awedi raksasa kabeh, undun ngudu aliweran, lemah paran lungka-lungka, liman watu rejeng, alas agung anderkara, tetegale angyangan, songing landhak garung-gungan, ajarat lemah tendhesan, slirane kang lemah aeng, paomahane durga yekti, lemah wates jejebangan, lemah setra akil ing wang, kang katungkul manut ingwang, dandang bango salirane, anauta lara raga, lara geng wigena, salire mala trimala, tuju teluh teregnyana, budug edan ayan buyan, tuju teluh tarangyana, supata lawan sengsara, supatane wong atuwa, supatane adi guru, yoga ruwat dening aku, budug ayan buyan, lumpuh wuta tuli bisu, tak usapi tangan kiwa, pan aku pangruwat mala, geter pater pangucapku, ketuk lindhu prabawaku, kilat cleret ing kendhepku, lebda wara mandi sebda, japa mantra kasektenku, kurdaku galudhug gelap, aku kang Hyang Candra sekti, aku Sang Hyang Raja Polah, aku Sang Hyang Nawa Krendha, aku Sang Hyang Sikara Jala, aku Sang Sikara basu, aku Sang Hyang dhundhung mungsuh, aku Sang Hyang ila-ila, aku Sang Hyang Tunjung putih, aku surak tanpa mungsuh, aku tengeraning angin, lesus agung aliweran, prahara kalawan tambur, pangleburan rajamala, ila-ila upadarwa, supata lawan sengsara, supatane wong atuwa, tan tumama saliraku, tuju teluh taragnyana, budhug edan ayan buyan, lebur kabeh musna ilang, aku Sang Hyang Candhusekti, turun sira sakareng, rijajegan rejeg wesi pinayungan kalacakra, kinemiting widadara, kinemiting widadari, Resi dewa sogataku, aku Sang Hyang Jaya pamurus”.

Diteruskan dengan Kidung Panengeran lanjutan, dengan dinyanyikan lagu dandhanggula :

“Hong ilaheng prayogganatara.
Kang minangka tangeranku, Sang Hyang Tiga Pelunguhku, dadaku Sang Ula Naga, Naga Raja selasangku, Naga Mulet ing guluku, Naga Pulet tulaleku, gadhing warna curiga, cangkemku mas untu manik, siyungku mas pancanaka, lidahku sang rasa sekti, brajapatining wuwusku, arupa wil panca warna, Sang Hyang Siwah ginugonku, ula minangka alisku, Durga Durgi ngiringaku, netraku Sang Hyang Surya Candhra, sumuluh ing rat bawono, awedi kang buta dengen, tumingal ing kasektenku, udung-udung ulur-ulur, pilinglung watu tinumpuk, paran limang watu rejeng, lungka-lungka watu putih, sirate lemah tandhesan, agerat kang lemah sangar, alang-alang amelakang, tetegal kang ameyangan, lemah amunuking lembu, lemah aguluning manuk, lemah anggiring sapi, lemah anjilinthing kendhil, lemah ambara bathari, sakehe kang lemah aeng, akehe kang watu aeng, teja-teja ing ulatku, kuwung-kuwung lelathiku, durga galudhug gelap, aku Sang Hyang Nawa Krendha, aku Sang Sikara Jala, aku Sang Sikara basu, aku Sang Hyang dhundhung mungsuh, aku Sang Hyang ila-ila, aku Sang Hyang Tunjung Putih, aku Naganilawarna, aku Sang Hyang Naga Pamolah, aku tengeraning angin, sindhung lesus leliweran, prahara kalawan geter, udang braja salah mangsa, angagem dendha trisula, musala kalawan gadha, senjataku luwih sewu, ngongdokaken mungsuhku bubar, kabeh dewata tumingal kasektenku, aku sang bala sewu, aku Sang Hyang Guru Taya, tumurun aku sekareng, angadheg ing nggonku ring windhu, ajamang akarawistha, asesep angga genitri, trinaya catur bujangga, rinajegan rejen wesi, pinayungan kalacakra, kinemiting pancaresi, sang kusika gagra mestri kurasa, sang Pritanjala, surenggana, surenggini, kinemiting widadara, kinemiting widadari, kinemiting catur loka, endra baruna kuwera, yama luwan bismawana, nguniweh butawilaksa, padha ngreksa padha kemit, rumeksaa mring aku, angastuti maring mami, ya ingsung Sang Hyang Dewa Murti, papaku jati yuswa, sampurna dak tampa mala, niruga nirupa darwa, ya minamuna mas wahak”.

o. Diteruskan dengan Kidung Sastra Pangruwatan, dengan dinyanyikan lagu dandhanggula :

“Hong ilaheng prayogganatara.
Ilanga Sanga Dyrga Durgi, sakehe kang alas seng, randhu kepuh karangan kroya waringin ageng, lemah seta tangkeling wang, kang katungkul manut ing wang, dandang bango salirane, anglebura lara raga, lara geng lara wigegna, slirane lara trimala, supatane wong atuwa, tetangga yen angrung guwa, supata lawan sengsara, supatane Sang Hyang Dewata, supatane awak dhewe, nguni wah buta wiyaksa, kalawan buta wiyaksi, ila-ila upadarwa, budhug edan ayan buyan, budhug edan buyan, mumet mules bencretan, ngelu puyeng pilek watuk, sarta ingkang kena welak, nguni weh padha rawe, tak usapi tangan kiwa, cakra lepas ing tanganku, ke ka ruwat mala, geter pater pangucapku, gerah minangka sabdaku, sabda wara japa mantra, apan iku kasektenku, Sang Hyang Permana ing senenku, ilanga rupa Kala, ilanga sang rupa buta, ilanga sang rupa sasap, ilanga sang rupa jugil, ilanga sang rupa jakat, ilangan sang rupa gendruwa, ilanga sang rupa dusta, durjana kawisayan ulun, durga uta paripurna, nuraga ni rupa dewa, ya minamuna maswahak”.
p. Diteruskan dengan Kidung Pangruwat Pamungkas, dengan dinyanyikan lagu dandhanggula :
“Hong ilaheng prayogganatara.

Ruwata Sang Rupa Durga, ruwata sang rupa Buta, ruwata sang rupa Sasab, ruwata sang rupa Jugil, ruwata sang rupa Jakat, ruwata sang rupa Mercu, ruwata sang rupa Taya, ruwata sang rupa Dusta, ulun ingkang angruwata, ulun ingkang angilangna, Durga yuta paripurna, nuraga nirupa darwa, ya minamuna maswahak”.
Setelah selesai melantunkan Kidung Ruwat Muewakala, rambut anak sukerta dipotong sebagai syarat yang nantinya akan dilarung. Kemudian anak Sukerta tersebut dimandikan air bubga setaman oleh yang meruwat. Setelah itu wong sukerta tadi menjadi anak angkat bagi yang meruwat (dalang). Segala sesaji, kain putih menjadi milik orang yang meruwat (dalang ruwat).

Bila orang yang diruwat adalah orang yang mengalami gangguan kejiwaan (gila), atau sudah lama mengalami kesurupan, maka harus dibacakan Kidung Rumaya, sekar sinom yang menyebutkan adanya lelembut di tanah Jawa sebagai berikut :

Tembang Sinom
Apuranen sun angetang, lelembut ing tanah Jawi, kang rumeksa ing nagara, para ratuning dhedhemit, agung sawahe ugi, yen apal sadayanipun, kena ginawe tulak, kinarya tunggu wong sakit, kayu aeng lemah sangar dadi tawa.

Kang rumiyin ing mbang wetan, Durganeluh Maospahit, lawan Raja Baureksa, iku ratuning dhedhemit, Blambangan winarni, awasta Sang Balabatu, kang rumeksa Blambangan, Buta Locaya Kediri, Prabu Yeksa kang rumeksa Giripura.

Sidakare ing Pacitan, Keduwang si Klentingmungil, Hendrjeksa, ing Magetan, Jenggal si Tunjungpuri, Prangmuka Surabanggi, ing Punggung si Abur-abur, Sapujagad ing Jipang, Madiyun sang Kalasekti, pan si Koreg lelembut ing Panaraga.

Singabarong Jagaraga, Majenang Trenggiling wesi, Macan guguh ing Grobogan, Kaljohar Singasari, Srengat si Barukuping, Balitar si Kalakatung, Buta Kroda ing Rawa, Kalangbret si Sekargambir, Carub awor kang rumeksa ing Lamongan.

Gurnita ing Puspalaya, Si Lengkur ing Tilamputih, si Lancuk aneng Balora, Gambiran sang sang Kaladurgi, Kedunggede Ni Jenggi, ing Batang si Klewr iku, Nglasem Kalaprahara, Sidayu si Dandangmurti, Widalangkah ing Candi kayanganira.

Semarang baratkatiga, Pekalongan Gunturgeni, Pemalang Ki Sembungyuda, Suwarda ing Sokawati, ing Tandes Nyai Ragil, Jayalelana ing Suruh, Buta Tringgiling Tanggal, ing Kendal si Gunting geni, Kaliwungu Gutuk-api kang rumeksa.
Magelang Ki Samaita, Dadung Awuk Brebes nenggih, ing Pajang Buta Salewah, Manda-manda ing Matawis, Paleret Rajeg-wesi, Kutagede Nyai Panggung, Pragota Kartasura, Carebon Setan Kaberi, Jurutaman ingkang aneng Tegallajang.

Genawati ing Siluman, Kemandang Waringin-putih, si Kareteg Pajajran, Sapuregol ing Batawi, waru Suli Waringin, ingkang aneng Gunung Agung, Kalekah Ngawang-awang, Parlapa ardi Merapi, Ni Taluki ingkang aneng ing Tunjungbang.

Setan Karetek ing Sendang, Pamasuhan Sapu Angin, Kres apada ing Rangkutan, Wandansari ing Tarisig, kang aneng Wanapeti, Malangkarsa namanipun, Sawahan Ki Sandungan, Pelabuhan Dudukwarih, Buta Tukang ingkang aneng Pelajangan.

Rara Amis aneng Tawang, ing Tidar si Kalasekti, Maduretna ing Sundara, Jelela ing ardi Sumbing, Ngungrungan Sidamurti, Terapa ardi Merbabu, Lirbangsan ardi Kombang, Prabu Jaka ardi Kelir, Aji Dipa ardi Kendeng kang den reksa.

Ing pasisir Buta Kala, Telacap Ki Kala Sekti, Kala Nadah ing Tojamas, Segaluh aran si Rendil, Banjaran Ki Wesasi, si Korok aneng Lowange, gunung Duk Geniyara, Bok Bereng Parangtaritis, Drembamoa ingkang aneng Purbalingga.

Si Kreta karangbolongan, Kedung Winong Andongsari, ing Jenu si Karungkala, ing Pengging Banjaransari, Pagelan kang winarni, aran Kyai Candralatu, ardi Kendali Sada, Ketek putih kang nenggani, Buta Glemboh ing Ngayah kajanganira.

Rara Denok aneng Demak, si Batitit aneng Tubin, Juwal-pajal ing Talsinga, ing Tremas Kuyang nenggani, Trenggalek Ni Daruni, si Kuncung Cemarasewu, Kala-dadung Bentongan, si Asmara aneng Taji, Bagus-anom ing Kudus kayanganira.

Magiri si Manglar Munga, ing Gading si Puspakati, Cucuk Dandang ing Kartika, Kulawarga Tasikwedi, kali Opak winarni, Sangga Buwana ranipun, Pak Kecek Pejarakan, Cing-cing Goling Kalibening, ing Dahrama Karawelang kang rumeksa.

Kang aneng Warulandeyan, Ki Daruna Ni Daruni, Bagus Karang aneng Roban, Pasujayan Udan riris, Widanangga Dalepih, si Gadung Kedung Garunggung, kang aneng Kabareyan, Citranaya kang neggani, Ganepura ingkang aneng Majaraga.

Logenjang aneng Juwana, ing Rembang si Bajulbali, si Londir ing Wirasaba, Madura Buta Garigis, kang aneng ing Matesih, Jaranpanolih ranipun, si Gober Pecangakan, Danapi ing Jatisari, Abar-abir ingkang aneng Jatimalang.

Arya Tiron ing Lodaya, Sarpabangsa aneng Pening, Parangtandang ing Kesanga, ing Kuwu si Ondar-andir, Setan Telaga pasir, ingkang aran si Jalilung, Kala Ngadang ing Tuntang, Bancuri Kala Bancuring, kang angreksa sukuning ardi Baita.

Rara Dungik Randu Lawang, ing Sendang Retna Pangasih, Buta Kepala Prambanan, Bok Sampur neng ardi Wilis, Raden Galanggang Jati, aneng ardi Gajah Mungkur, si Gendruk ing Talpegat, ing Ngembel Rahaden Panji, Pager Waja Rahaden Kusumayuda.

Si Pentul aneng Kacangan, Pecabakan Dodol Kawit, kalangkung kasektenira, titihane jaran panolih, kalacakra payung neki, larwaja kekemulipun, pan samya rinajegan, respati rajege wesi, cametine pat-upate ula lanang.

Sinabetaken mangetan, ana lara teka bali, tinulak bali mangetan, mangidul panyabet neki, ana lara teka bali, tinulak bali mangidul, ngulon panyabetira, ana lara teka bali, pan tinulak bali mangandap kang lara.
mangalor panyabetira, ana lara teka bali, tinulak ngalor parannya, manginggil panyabet neki, ana lara teka bali, tinulak bali manduwur, mangisor panyabetnya, ana lara teka bali, pan tinulak bali mangandap kang lara.
Demit kang aneng Jepara, kalwan kang aneng Pati, kalangkung kasektenira, keringan samaning demit, ing Ngrema Tambaksuli, Yudapeksa ing Delanggu, si Kluntung ing Jepara, Gambir Anom aneng Pti, si Kecebung Kadilangu kang den reksa.

Rara Duleg ing Mancingan, Guwa Langse Raja Putri, kang rumeksa Parang Wedang, Raden Arya Jayengwesti, kabeh urut pasisir, kula warga Nyai Kidul, sampun pepak sadaya, para pramukaning demit, nungsa Jawa paugeran kang rumeksa, Titi Tamat Angidung Rajah Rumaya”.

Ini adalah doa yang dibacakan pada saat melakukan ritual ruwat secara lengkap dan menurut KPH Tjakraningrat (Kanjeng Raden Hadipati Danureja IV).
Selesai menyanyikan kidung untuk Ruwat Murwakala, selanjutnya dibuatlah Rajah Kalacakra yang ditempelkan pada pintu-pintu rumah yang diruwat. Pembuatan Rajah Kalacakra Balik adalah menulis huruf hanacaraka secara terbalik urutan nya,dimulai dengan nga ta ba ga ma sampai ka ra ca na ha dilakukan dengan cara sebagai berikut :
* Ditulis melingkar diatas lempengan emas,
* Sebelumnya melakukan puasa selama 40 hari, hanya berbuka sekali pada tengah malam saja,
* Pati geni selama sehari semalam penuh,
* Lempengan emas yang sudah menjadi rajah di tanam pada tembok atau ditanam pada tanah. Penanaman ini dilakukan dengan cara sunduk sate.
* Penulisan huruf dengan aksara Jawa.
Rajah Kalacakra ditulis pada kain atau kertas yang berwarna putih kemudian ditempel pada tembok atau pintu depan rumah. Penggunaan warna tinta dengan menggunakan dua warna, misalnya hitam dan merah. Dalam menulis rajah ini, dengan syarat-syarat sebagai berikut :
* Melakukan puasa selama 21 hari,
* Setiap jam 1 malam harus membakar dupa selama puasa,
Contoh Rajah Kalacakra, seperti dibawah ini.

rajah-kalacakra:
Yamaraja-Jaramaya,Yamarani-Niramaya,Yasilapa-Palasiya,Yamidara-Radamiya,Yamidasa-Sadamiya,Yadayuda-Dayudaya,Yasiyaca-Cayasiya,Yasihama-Mahasiya

RUWATAN

Adalah Tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian, atas dosa/kesalahannya yang diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidupnya.

Kebudayaan Jawa sebagai subkultur Kebudayaan Nasional Indonesia, telah mengakar bertahun-tahun menjadi pandangan hidup dan sikap hidup umumnya orang Jawa. Sikap hidup masyarakat Jawa memiliki identitas dan karakter yang menonjol yang dilandasi direferensi nasehat-nasehat nenek moyang sampai turun temurun, hormat kepada sesama serta berbagai perlambang dalam ungkapan Jawa, menjadi isian jiwa seni dan budaya Jawa.

Dalam ungkapan ” Crah Agawe Bubrah – Rukun Agawe Santosa ” menghendaki keserasian dan keselarasan dengan pola pikir hidup saling menghormati. Perlambang dan ungkapan-ungkapan halus yang mengandung pendidikan moral, banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya :

§ Ojo Dumeh : Merasa dirinya lebih

§ Mulat sarira, Hangrasa wani : Mawas diri, instropeksi diri

§ Mikul Duwur, Mendem Jero : Menghargai dan menghormati serta menyimpan – rahasia orang lain.

§ Jer Basuki Mawa Beya : Kesuksesan perlu atau butuh pengorbanan

§ Ajining diri saka obahing lati : Harga diri tergantung ucapannya

Prinsip pengendalian diri dengan ” Mulat Sarira ” suatu sikap bijaksana untuk selalu berusaha tidak menyakiti perasaan orang lain, serta ” Aja Dumeh ” adalah peringatan kepada kita bahwa jangan takabur dan jangan sombong, tidak mementingkan diri sendiri dan lain sebagainya yang masih mempunyai arti sangat luas.

Kepercayaan terhadap keberadaan roh nenek moyang, menyatu dengan kepercayaan terhadap kekuatan alam yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan manusia, menjadi ciri utama dan bahkan memberi warna khususu dalam kehidupan religiusitas serta adat istiadat masyarakat Jawa, yaiku : Sinkretisme, Tantularisme dan Kejawen yang bersifat Toleran, Akomodatif serta Optimistik.

Berbagai ungkapan dan ungkapan Jawa, merupakan cara penyampaian terselubung yang bisa bermakna ” Piwulang ” atau pendidikan moral, karena adanya pertalian budi pekerti dengan kehidupan spiritual, menjadi petunjuk jalan dan arah terhadap kehidupan sejati.

Terkemas hampir sempurna dalam seni budaya gamelan dan gending-gending serta kesenian wayang kulit purwa yang perkembanganya mempunyai warna yang unik, yaitu dari akar yang kuat, berpegang pada kepercayaan terhadap roh nenek moyang, kemudian bertambah maju setelah mengenal segala bentuk kesenian dari India dan menjadi sempurna begitu masuk agama Islam di Pulau Jawa.

Paham mistik Jawa yang berpokok ” Manunggaling Kawula Gusti ” ( persatuan manusia dengan Tuhan ) dan ” Sangkan Paraning Dumadi ” ( asal dan tujuan ciptaan ) bersumber pada pengalaman religius, berawal dari sana manusia itu rindu untuk bersatu dengan yang Illahi, ingin menelusuri arus kehidupan sampai ke sumber muaranya. Perumusan pengalaman religius Jawa dalam sejarahnya tidak lepas dari pengaruh-pengaruh agama besar seperti Hindu, Budha dan Islam beserta dengan mistiknya yang khas, seperti terlihat dalam kitab-kitab Tutur, Kidung dan Suluk.

Wayang sebagai pertunjukan, merupakan ungkapan-ungkapan dan pengalaman religius yang merangkum bermacam-macam unsur lambang, bahasa gerak,suara, warna dan rupa. Dalam wayang terekam ungkapan pengalaman religius yang ” kuno ” seperti tampak bahwa pada tahap perkembangannya dewasa ini, masih berperan pula mitos dan ritus, misalkan pada lakon Ruwat atau Murwa Kala.

Secara tradisional, wayang merupakan intisari kebudayaan masyarakat Jawa yang diwarisi secara turun temurun, tidak hanya sekedar tontonan dan tuntunan bagaimana manusia harus bertingkah laku dalam kehidupannya, namun juga merupakan tatanan yang harus dititeni kanti titis. ( merupakan hukum alam yang maha teratur yang harus diketahui dan disikapi secara bijaksana ) untuk menuju kasunyatan serta mencapai kehidupan sejati. Bagi manusia jawa ( manusia yang mengerti sejati ) wayang merupakan pedoman hidup, bagaimana mereka bertingkah laku dengan sesama dan bagaimana menyadari hakekatnya sebagai manusia serta bagaimana dapat berhubungan dengan sang penciptanya.

Tradisi “upacara /ritual ruwatan” hingga kini masih dipergunakan orang jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. Dalam cerita “wayang“ dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di jawa ( jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah pensucian, yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda, agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit yang mengambil tema/cerita Murwakala.

Dalam tradisi jawa orang yang keberadaannya dianggap mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa, maka untuk mensucikan kembali, perlu mengadakan ritual tersebut. Menurut ceriteranya, orang yang manandang sukerto ini, diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri DewiUma, yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut, akhirnya menjelma menjadi raksasa, yang dalam tradisi pewayangan disebut “Kama salah kendang gumulung “. Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan, oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Atas dasar inilah yang kemudian dicarikan solosi, agar tak termakan Sang Batara Kala ini diperlukan ritual ruwatan. Kata Murwakala/purwakala berasal dari kata purwa (asalmuasal manusia) ,dan pada lakon ini, yang menjadi titik pandangnya adalah kesadaran : atas ketidak sempurnanya diri manusia, yang selalu terlibat dalam kesalahan serta bisa berdampak timbulnya bencana (salah kedaden).

Untuk pagelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala biasanya diperlukan perlengkapan sebagai berikut :

1. Alat musik jawa ( Gamelan )

2. Wayang kulit satu kotak ( komplit )

3. Kelir atau layar kain

4. Blencong atau lampu dari minyak

Selain peralatan tersebut diatas masih diperlukan sesajian yang berupa:

1. Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setudun, yang sudah matang dan baik, yang ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang, daun meja, daun kara, dan daun kluwih yang semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan. Dua kembang mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri, bunga setaman dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara Kala, orang yang diruwat dan lain-lainya.

2. Api (batu arang) di dalam anglo, kipas beserta kemenyan (ratus wangi) yang akan dipergunakan Kyai Dalang selama pertunjukan.

3. Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter, direntangkan dibawah debog (batang pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang, sedangkan di belakang layar sebagai tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih.

4. Gawangan kelir bagian atas (kayu bambu yang merentang diatas layar) dihias dengan kain batik yang baru 5 (lima) buah, diantaranya kain sindur, kain bango tulak dan dilengkapi dengan padi segedeng (4 ikat pada sebelah menyebelah).

5. Bermacam-macam nasi antara lain :

a. Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dan sebagainya.

b. Nasi wuduk dilengkapi dengan; ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, kedele hitam.

c. Nasi kuning dengan perlengkapan; telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana.

6. Bermacam-macam jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur).

7. Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak, sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa, makanan kecil berupa blingo yang diberi warna merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih, kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele, kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen).

8. Benang lawe, minyak kelapa yang dipergunakan untuk lampu blencong, sebab walaupun siang tetap memakai lampu blencong.

9. Yang berupa hewan seperti burung dara satu pasang ayam jawa sepasang, bebek sepasang.

10. Yang berupa sajen antara lain : rujak ditempatkan pada bumbung, rujak edan (rujak dari pisang klutuk ang dicampur dengan air tanpa garam), bambu gading linma ros. Kesemuanya itu diletakan ditampah yang berisi nasi tumpeng, dengan lauk pauknya seperti kuluban panggang telur ayam yang direbus, sambel gepeng, ikan sungai/laut dimasak anpa garam dan ditempatkan di belakang layar tepat pada muka Kyai Dalang.

11. Sajen buangan yang ditunjukkan kepada dhayang yang berupa takir besar atau kroso yang berisi nasi tumpeng kecil dengan lauk-pauk, jajan pasar (berupa buah-buahan mentah serta uang satu sen. ). Sajen itu dibuang di tempat angker disertai doa (puji/mantra) mohon keselematan.

12. Sumur atau sendang diambil airnya dan dimasuki kelapa. Kamar mandi yang untuk mandi orang yang diruwat dimasuki kelapa utuh.

Selesai upacara ngruwat, bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau , kedelai hitam, ikan asin, kluwak, kemiri, telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan.

Yang perlu atau harus di Ruwat

Menurut kepustakaan ” Pakem Ruwatan Murwa Kala “ Javanologi gabungan dari beberapa sumber, antara lain dari Serat Centhini ( Sri Paku Buwana V ), bahwa orang yang harus diruwat disebut anak atau orang ” Sukerta ” ada 60 macam penyebab malapetaka, yaitu sebagai berikut :

1. Ontang-Anting, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan.

2. Uger-Uger Lawang, yaitu dua orang anak yang kedua-duanya laki-laki dengan catatan tidak anak yang meninggal

3. Sendhang Kapit Pancuran, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu laki-laki sedang anak yang ke 2 perempuan

4. Pancuran Kapit Sendhang, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu perempuan sedang anak yang ke 2 laki-laki

5. Anak Bungkus, yaitu anak yang ketika lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus bayi ( placenta )

6. Anak Kembar, yaitu dua orang kembar putra atau kembar putri atau kembar “dampit” yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan ( yang lahir pada saat bersamaan )

7. Kembang Sepasang, yaitu sepasang bunga yaitu dua orang anak yang kedua-duanya perempuan

8. Kendhana-Kendhini, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan

9. Saramba, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki

10. Srimpi, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan

11. Mancalaputra atau Pandawa, yaitu 5 orang anakyang semuanya laki-laki

12. Mancalaputri, yaitu 5 orang anak yang semuanya perempuan

13. Pipilan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki

14. Padangan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 1 orang anak perempuan

15. Julung Pujud, yaitu anak yang lahir saat matahari terbenam

16. Julung Wangi, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari

17. Julung Sungsang, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang

18. Tiba Ungker, yaitu anak yang lahir, kemudian meninggal

19. Jempina, yaitu anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir

20. Tiba Sampir, yaitu anak yang lahir berkalung usus

21. Margana, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan

22. Wahana, yaitu anak yang lahir dihalaman atau pekarangan rumah

23. Siwah atau Salewah, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macem warna, misalnya hitam dan putih

24. Bule, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih ” bule ”

25. Kresna, yaitu anak yang dilahirkan memiliki kulit hitam

26. Walika, yaitu anak yang dilahirkan berwujud bajang atau kerdil

27. Wungkuk, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bengkok

28. Dengkak, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung menonjol, seperti punggung onta

29. Wujil, yaitu anak yang lahir dengan badan cebol atau pendek

30. Lawang Menga, yaitu anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya ” Candikala ” yaitu ketika warna langit merah kekuning-kuningan

31. Made, yaitu anak yang lahir tanpa alas ( tikar )

32. Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan ” Dandhang “ ( tempat menanak nasi )

33. Memecahkan ” Pipisan ” dan mematahkan ” Gandik “ ( alat landasan dan batu penggiling untuk menghaluskan ramu-ramuan obat tradisional).

34. Orang yang bertempat tinggal di dalam rumah yang tak ada ” tutup keyongnya “

35. Orang tidur di atas kasur tanpa sprei ( penutup kasur ).

36. Orang yang membuat pepajangan atau dekorasi tanpa samir atau daun pisang.

37. Orang yang memiliki lumbung atau gudang tempat penyimpanan padi dan kopra tanpa diberi alas dan atap.

38. Orang yang menempatkan barang di suatu tempat ( dandhang – misalnya ) tanpa ada tutupnya.

39. Orang yang membuat kutu masih hidup.

40. Orang yang berdiri ditengah-tengah pintu.

41. Orang yang duduk didepan ( ambang ) pintu.

42. Orang yang selalu bertopang dagu.

43. Orang yang gemar membakar kulit bawang.

44. Orang yang mengadu suatu wadah atau tempat ( misalnya dandhang diadu dengan dandhang )

45. Orang yang senang membakar rambut.

46. Orang yang senang membakar tikar dengan bambu ( galar ).

47. Orang yang senang membakar kayu pohon ” kelor “.

48. Orang yang senang membakar tulang.

49. Orang yang senang menyapu sampah tanpa dibuang atau dibakar sekaligus.

50. Orang yang suka membuang garam.

51. Orang yang senang membuang sampah lewat jendela.

52. Orang yang senang membuang sampah atau kotoran dibawah ( dikolong ) tempat tidur.

53. Orang yang tidur pada waktu matahari terbit.

54. Orang yang tidur pada waktu matahari terbenam ( wayah surup ).

55. Orang yang memanjat pohon disiang hari bolong atau jam 12 siang ( wayah bedhug )

56. Orang yang tidur diwaktu siang hari bolong jam 12 siang.

57. Orang yang menanak nasi, kemudian ditinggal pergi ketetangga

58. Orang yang suka mengaku hak orang lain.

59. Orang yang suka meninggalkan beras di dalam ” lesung ” ( tempat penumbuk nasi )

60. Orang yang lengah, sehingga merobohkan jemuran ” wijen ” ( biji-bijian )

Demikainlah 60 jenis ” Sukerta ” yaitu jenis-jenis manusia yang telah dijanjikan oleh Sang Hyang Betara Guru kepada Batara Kala untuk menjadi santapan atau makananya, bahkan menurut Pustaka Raja Purwa ( jilid I halaman 194 ) karya pujangga R.Ng Ranggawarsito disebutkan ada 136 macam Sukerta.

Menurut mereka yang percaya, orang-orang yang tergolong di dalam kriteria tersebut di atas dapat menghindarkan diri dari malapetaka ( menjadi makanan Betara Kala ) tersebut, jika ia mempergelarkan wayangan atau ruwatan dengan cerita Murwakala.Ada juga lakon ruwatan yang misalanya : Baratayuda, Sudamala,Kunjarakarna dan lain-lain.

Selain Sukerta, terdapat juga ” Ruwat Sengkala atau Sang Kala “ yang artinya menjadi mangsa Sangkala yaitu jalan kehidupannya sudah terbelenggu serta penuh kesulitan,tidak bisa sejalan dengan alur hukum alam ( ruang dan waktu ) ini disebabkan oleh kesalahan-kesalahan perbuatan atau tingkah lakunya pada masa lalu.

Source :