Kesadaran dan Kehadiran Hati

Tanpa Kesadaran dan Kehadiran Hati, cara apa pun tidak akan pernah berhasil membawa kita menuju Hening, dan berbagai pengalaman Esoterik lainnya.

Seorang sahabat lama, sebut saja namanya Andri, berdiskusi dengan saya seputar pencapaian spiritual kami masing-masing, hingga pada topik HENING, ia seolah tak percaya dan berulang kali menanyakan tentang cara , bacaan atau jampi untuk masuk ke kondisi kejiwaan tersebut. Praktisi ilmu Hikmah dan penganut berbagai Tarekat yang belum pernah memasuki kondisi jiwa hening ini berulangkali menanyakan tentang cara atau bacaan untuk memasuki keadaan tersebut, walaupun saya berulangkali pula menjelaskan padanya tentang tidak adanya jampe atau bacaan khusus untuk mencapai kondisi tersebut. “ Hening “ adalah kondisi batiniah yang hanya dapat dicapai dengan RASA yang dalam , penghayatan selanjutnya penjiwaan , hening bukanlah keilmuan tertentu, ujarku berulangkali menjelaskan padanya.

Ya, demikianlah, Andri adalah salah satu dari sekian banyak orang yang terjebak dalam praktek-praktek eksoteris yang sempit. Seperti Andri yang satu ini , terjebak dalam jumlah dan tatacara , sementara banyak juga nun jauh disana “andri-andri yang lain” yang terjebak dalam berbagai belenggu praktek-praktek eksoterik yang sempit, ada yang terjebak dalam tingkatan keilmuan atau aliran reiki tertentu , ada pula yang terjebak dalam ritual-ritual upacara tertentu.

Sama seperti saya dimasa lalu, yang melakukan sholat tanpa henti , tapi tak mencapai ketenangan batin saat melakukan ritual tersebut. Atau kali lainnya, saat melakukan berbagai praktek eksoterik Reiki yang njlimet serba procedural saya dan rekan-rekan praktisi reiki di berbagai belahan dunia seringkali melupakan hakekat energi dan ilmu yang bersumber dari Yang Mutlak, kita tidak merasakan kehadiran dan peran sertaNya, kita disibukan dengan hal-hal bersifat luar seperti symbol yang digunakan, aliran, dan lain sebagainya.

Dalam ritual ibadah pun selama ini kita terjebak dalam dunia eksoterik yang sempit, sibuk pada bacaannya bukan pada penghayatan kita tentang makna bacaan yang kita baca, kita sibuk pada gerakan bukan pada kesadaran bahwa yang menggerakan tubuh kita adalah Dia Yang Maha Sumber. Kita, beribadah tanpa merasakan kehadiran DIA YANG MAHA HADIR . Kita ibarat wujud fisik computer tanpa hardwere, tidak berfungsi sama sekali. Ibadah kita hanya gerak dan kata tanpa makna dan tidak ada manfaat sama sekali.

Tentang hal ini al Qur`an pernah menyinggung, “ Sesungguhnya, sholat mereka di sekitar baitullah itu seperti tepukan dan siulan belaka .” ( Q.S.8 :35 )

Kita seharusnya memuja Dia dengan rasa rindu bukan karena rutinitas semu atau karena takut masuk neraka, atau karena hal-hal rendah lainnya. Seperti perkataan AlHallaj seorang sufi besar, “ Aku tidak akan melakukan sholat ( ritual eksoterik) kecuali dengan menghadirkan rasa syukurku padaNya ( sisi esoterik) .”

Para praktisi energi seperti halnya saya dahulu pun disibukan dengan aspek-aspek prosedural , membuat symbol, nafas, mudra atau postur rubuh tertentu, dan lain sebagainya, tetapi kita melupakan bahwa hakekatnya energi bersumber dari yang MAHA SUCI padahal kita seharusnya selalu dalam keadaan suci saat mengakses energi dari Yang Maha Suci. Tentang hal ini Guru Besar Nampon , Abah H.Sudrajat Handawinata.Ir , mengatakan bahwa untuk mencapai energi Ilahi, kita harus bersih jasad, bersih hati dan bersih fikiran.

Sama persis seperti yang beliau katakan , Ustadz Zakaria (Garut) seorang praktisi spiritual, juga menyatakan bahwa dalam penulisan Hiriz ( orang Jawa menyebutnya isim) yaitu tradisi spiritual-eksoterik yang beliau geluti, seorang harus menulisnya dalam keadaan bersuci, baik lahir maupun batin.Menurut lulusan Hauzah Ilmiah Qum Iran ini, bila hati tidak dalam keadaan ikhlas, dan suci, dipastikan hiriz tersebut tidak barokah, bila terasa ada manfaatnya bagi pengguna dipastikan berisi kekuataan dari alam dimensi rendah yang sudah pasti non Ilahiah, atau beliau biasa menyebutnya dengan khodam jin.

Barangkali itulah sebabnya, mengapa rekan-rekan kita termasuk saya dahulu terjebak dalam energi-energi yang tidak murni (khadam), karena saat berdoa , wiridan, atau bermeditasi kita melupakan DIA YANG MAHA SUCI, kita melupakan aspek-aspek batiniyah atau sisi esoteris seperti : keikhlasan, kesabaran, ketenangan jiwa, dan kerendahan hati.

Semakin dalam pengahayatannya semakin efektif hasilnya

Dalam silaturahmi praktisi Reiki dan Kesadaran semesta 26 Maret kemarin, saya membagikan selembar kertas beserta pensilnya pada para peserta yang hadir, kemudian saya menyuruh peserta menuliskan sebuah angka yaitu 19 pada kertas tersebut. Kemudian saya menjelaskan makna angka 19 yang mereka tulis tersebut, antara lain bahwa Al Qur`an tersusun dari bilangan prima, dan didominasi perkalian 19, bismillahirahmanirahim pun terdiri dari 19 huruf. Saya menjelaskan pula bahwa 19 adalah symbol dari angka tunggal ( satu ) yang melambangkan keEsaan dan angka tertinggi atau bilangan terbesar yaitu sembilan, sehingga 19 bisa diartikan sebagai The Great One , Satu Yang Terbesar atau sebutan lain bagi Tuhan Yang Agung. Beberapa saat usai dijelaskan saya mengajak peserta untuk menuliskan kembali angka tersebut . Setelah itu saya mengajak para peserta untuk mendeteksi dengan telapak tangan kedua angka 19 tersebut, kesimpulannya : angka 19 pertama yang ditulis sekedar hanya karena diperintah tanpa memahami hakekat atau makna yang terkandung di dalamnya ternyata kualitas energinya sangat-sangat rendah dibandingkan angka 19 yang ke 2 yang ditulis dengan pemahaman dan kesadaran akan kebesaran Ilahi.Menurut sebagan besar praktisi yang hadir, angka 19 yang ke2 yaitu yang ditulis dengan penghayatan memiliki tingkat getaran yang kuat , halus merembes ke segala arah, MAHA BESAR ALLAH SUMBER SEGALA SESUATU.

Hal tersebut membuktikan pada kita bahwa kualitas atau efek dari sebuah laku lahir kegiatan spiritual yang mendalami sisi esoteris atau laku batin seperti penghayatan akan makna, kesadaran, cinta, ikhlas, dan seterusnya, lebih dahsyat dari sebuah kegiatan eksoteris dan dilakukan tanpa mendalami sisi , walaupun mungkin dari luar terlihat sama.

Sama seperti pengalaman rekan saya yang membacakan ayat Qursi pada seorang pasien yang sedang kesurupan, setelah dibacakan , pasien tersebut sadar kembali. Usai pembacaan , seorang ajengan mendekati rekan saya tersebut sambil berkata,” padahal yang saya bacakan tadi pada orang ini juga ayat Qursi , tapi kenapa dibacakan oleh saya pasiennya tidak sembuh ya?”.Walaupun keduanya sama-sama membaca ayat yang sama, tetapi ternyata kualitas yang dibacakannya berbeda, barangkali nilainya secara esoteris lebih tinggi ayat yang dibacakan rekan saya tersebut.seperti yang ia ungkapkan sendiri ”Saya membacanya sambil mengingat Allah, dan sama sekali tidak berambisi agar pasien segera sadar, saya pasrah saja pada kehendakNya.” Ujar rekan saya enteng.

Tentang hal tersebut, ustadz Zakaria menceritakan pula pengalamannya ,” Dulu saya sering menulis Hiriz tanpa pendalaman batin, saat dideteksi seorang rekan yang beraliran Mahatma dikatakan bahwa Hiriz yang saya buat dengan tinta za`faron tersebut berisi khodam jin, dan rekan tersebut mencabutnya dan hiriz itu pun kosong kembali.Sepulang dari Iran saya coba membuat Hiriz dengan pendalaman dan penghayatan akan apa yang saya tulis, dan kemudian saya minta agar rekan saya yang pelatih Mahatma tersebut agar mendeteksi dan mencabutnya, walhasil ia tidak bisa mencabutnya dan bahkan tidak bisa mendeskripsikan energi apa yang mengisi hiriz tersebut.”selanjutnya ia menambahkan,” Padahal saya tulis hiriz tersebut hanya dengan pulpen biasa.”

Kalau diibaratkan, eksoteris adalah kulit sementara esoteris adalah isinya, atau dalam analogi lainnya, eksoterik adalah hardwere sementara esoteris adalah softwerenya, wujud fisik computer atau hardwere tidaklah menjalankan fungsinya apabila di dalamnya tidak ada softwerenya, pun sebaliknya, softwere tanpa hardwere maka tidak ada artinya sama sekali, keduanya adalah satu bagian yang tak boleh terpisahkan, sama seperti diri kita yang terdiri dari dua yang tak terpisah, jiwa dan raga.Raga tanpa jiwa hanyalah seonggok bangkai tidak berarti, sebaliknya jiwa tanpa raga tidaklah dapat disebut manusia.

Kembali ke dalam diri

Kembali ke pembahasan diawal tentang HENING tadi, sama saja dengan kita berbicara tentang RINDU, DAMAI HATI, BAHAGIA , dan seterusnya, ada di dimensi esoteris, di dalam diri kita, hakekat yang tersembunyi yang tidak tampak dari luar. Memang ada banyak metode atau Thariqoh untuk mencapai Hening, seperti Ustadz Abu Sangkan dengan Metode Pelatihan Sholat Khusyunya, atau seperti cara yang ditawarkan berbagai macam tarekat atau berbagai tradisi yoga, Nampon, Falun Gong dan lain sebaginya, tetapi tanpa Kesadaran dan Kehadiran Hati, cara apa pun tidak akan pernah berhasil membawa kita menuju Hening, dan berbagai pengalaman Esoterik lainnya.

Seperti yang dikatakan para Arif,” Kesadaran adalah pintu gerbang Irfan ( kebijaksanaan atau sebutan lain dari tasawuf atau spiritualisme) “

Sebagaimana yang dikatakan abah Ajat, panggilan akrab Guru Besar Nampon Sudradjat Handawinata ,Ir, “Kesadaran yang ditunjang mujahadah atau jihadunnafsi menyambungkan kita pada energi spiritual murni atau tertinggi tertinggi dari YANG MUTLAK.” Senada dengan pernyataan Abah, ustadz Zakaria guru saya yang lain menyatakan pula,” Kesadaran adalah awal, selanjutnya ditunjang dengan ilmu ma`rifah dan tazkiyatunnafsi (penyucian jiwa), kita akan mencapai kedalaman batin .”Ya, samudra esoteris yang tak bertepi itu ada di dalam diri kita, dan hanya dapat dicapai dengan kembal ke dalam diri, sesuatu yang selama ini sering kita lupakan. ►kriyasemestafoundation.blogspot.com

>Kesadaran dan Kehadiran Hati

>

Tanpa Kesadaran dan Kehadiran Hati, cara apa pun tidak akan pernah berhasil membawa kita menuju Hening, dan berbagai pengalaman Esoterik lainnya.

Seorang sahabat lama, sebut saja namanya Andri, berdiskusi dengan saya seputar pencapaian spiritual kami masing-masing, hingga pada topik HENING, ia seolah tak percaya dan berulang kali menanyakan tentang cara , bacaan atau jampi untuk masuk ke kondisi kejiwaan tersebut. Praktisi ilmu Hikmah dan penganut berbagai Tarekat yang belum pernah memasuki kondisi jiwa hening ini berulangkali menanyakan tentang cara atau bacaan untuk memasuki keadaan tersebut, walaupun saya berulangkali pula menjelaskan padanya tentang tidak adanya jampe atau bacaan khusus untuk mencapai kondisi tersebut. “ Hening “ adalah kondisi batiniah yang hanya dapat dicapai dengan RASA yang dalam , penghayatan selanjutnya penjiwaan , hening bukanlah keilmuan tertentu, ujarku berulangkali menjelaskan padanya.

Ya, demikianlah, Andri adalah salah satu dari sekian banyak orang yang terjebak dalam praktek-praktek eksoteris yang sempit. Seperti Andri yang satu ini , terjebak dalam jumlah dan tatacara , sementara banyak juga nun jauh disana “andri-andri yang lain” yang terjebak dalam berbagai belenggu praktek-praktek eksoterik yang sempit, ada yang terjebak dalam tingkatan keilmuan atau aliran reiki tertentu , ada pula yang terjebak dalam ritual-ritual upacara tertentu.

Sama seperti saya dimasa lalu, yang melakukan sholat tanpa henti , tapi tak mencapai ketenangan batin saat melakukan ritual tersebut. Atau kali lainnya, saat melakukan berbagai praktek eksoterik Reiki yang njlimet serba procedural saya dan rekan-rekan praktisi reiki di berbagai belahan dunia seringkali melupakan hakekat energi dan ilmu yang bersumber dari Yang Mutlak, kita tidak merasakan kehadiran dan peran sertaNya, kita disibukan dengan hal-hal bersifat luar seperti symbol yang digunakan, aliran, dan lain sebagainya.

Dalam ritual ibadah pun selama ini kita terjebak dalam dunia eksoterik yang sempit, sibuk pada bacaannya bukan pada penghayatan kita tentang makna bacaan yang kita baca, kita sibuk pada gerakan bukan pada kesadaran bahwa yang menggerakan tubuh kita adalah Dia Yang Maha Sumber. Kita, beribadah tanpa merasakan kehadiran DIA YANG MAHA HADIR . Kita ibarat wujud fisik computer tanpa hardwere, tidak berfungsi sama sekali. Ibadah kita hanya gerak dan kata tanpa makna dan tidak ada manfaat sama sekali.

Tentang hal ini al Qur`an pernah menyinggung, “ Sesungguhnya, sholat mereka di sekitar baitullah itu seperti tepukan dan siulan belaka .” ( Q.S.8 :35 )

Kita seharusnya memuja Dia dengan rasa rindu bukan karena rutinitas semu atau karena takut masuk neraka, atau karena hal-hal rendah lainnya. Seperti perkataan AlHallaj seorang sufi besar, “ Aku tidak akan melakukan sholat ( ritual eksoterik) kecuali dengan menghadirkan rasa syukurku padaNya ( sisi esoterik) .”

Para praktisi energi seperti halnya saya dahulu pun disibukan dengan aspek-aspek prosedural , membuat symbol, nafas, mudra atau postur rubuh tertentu, dan lain sebagainya, tetapi kita melupakan bahwa hakekatnya energi bersumber dari yang MAHA SUCI padahal kita seharusnya selalu dalam keadaan suci saat mengakses energi dari Yang Maha Suci. Tentang hal ini Guru Besar Nampon , Abah H.Sudrajat Handawinata.Ir , mengatakan bahwa untuk mencapai energi Ilahi, kita harus bersih jasad, bersih hati dan bersih fikiran.

Sama persis seperti yang beliau katakan , Ustadz Zakaria (Garut) seorang praktisi spiritual, juga menyatakan bahwa dalam penulisan Hiriz ( orang Jawa menyebutnya isim) yaitu tradisi spiritual-eksoterik yang beliau geluti, seorang harus menulisnya dalam keadaan bersuci, baik lahir maupun batin.Menurut lulusan Hauzah Ilmiah Qum Iran ini, bila hati tidak dalam keadaan ikhlas, dan suci, dipastikan hiriz tersebut tidak barokah, bila terasa ada manfaatnya bagi pengguna dipastikan berisi kekuataan dari alam dimensi rendah yang sudah pasti non Ilahiah, atau beliau biasa menyebutnya dengan khodam jin.

Barangkali itulah sebabnya, mengapa rekan-rekan kita termasuk saya dahulu terjebak dalam energi-energi yang tidak murni (khadam), karena saat berdoa , wiridan, atau bermeditasi kita melupakan DIA YANG MAHA SUCI, kita melupakan aspek-aspek batiniyah atau sisi esoteris seperti : keikhlasan, kesabaran, ketenangan jiwa, dan kerendahan hati.

Semakin dalam pengahayatannya semakin efektif hasilnya

Dalam silaturahmi praktisi Reiki dan Kesadaran semesta 26 Maret kemarin, saya membagikan selembar kertas beserta pensilnya pada para peserta yang hadir, kemudian saya menyuruh peserta menuliskan sebuah angka yaitu 19 pada kertas tersebut. Kemudian saya menjelaskan makna angka 19 yang mereka tulis tersebut, antara lain bahwa Al Qur`an tersusun dari bilangan prima, dan didominasi perkalian 19, bismillahirahmanirahim pun terdiri dari 19 huruf. Saya menjelaskan pula bahwa 19 adalah symbol dari angka tunggal ( satu ) yang melambangkan keEsaan dan angka tertinggi atau bilangan terbesar yaitu sembilan, sehingga 19 bisa diartikan sebagai The Great One , Satu Yang Terbesar atau sebutan lain bagi Tuhan Yang Agung. Beberapa saat usai dijelaskan saya mengajak peserta untuk menuliskan kembali angka tersebut . Setelah itu saya mengajak para peserta untuk mendeteksi dengan telapak tangan kedua angka 19 tersebut, kesimpulannya : angka 19 pertama yang ditulis sekedar hanya karena diperintah tanpa memahami hakekat atau makna yang terkandung di dalamnya ternyata kualitas energinya sangat-sangat rendah dibandingkan angka 19 yang ke 2 yang ditulis dengan pemahaman dan kesadaran akan kebesaran Ilahi.Menurut sebagan besar praktisi yang hadir, angka 19 yang ke2 yaitu yang ditulis dengan penghayatan memiliki tingkat getaran yang kuat , halus merembes ke segala arah, MAHA BESAR ALLAH SUMBER SEGALA SESUATU.

Hal tersebut membuktikan pada kita bahwa kualitas atau efek dari sebuah laku lahir kegiatan spiritual yang mendalami sisi esoteris atau laku batin seperti penghayatan akan makna, kesadaran, cinta, ikhlas, dan seterusnya, lebih dahsyat dari sebuah kegiatan eksoteris dan dilakukan tanpa mendalami sisi , walaupun mungkin dari luar terlihat sama.

Sama seperti pengalaman rekan saya yang membacakan ayat Qursi pada seorang pasien yang sedang kesurupan, setelah dibacakan , pasien tersebut sadar kembali. Usai pembacaan , seorang ajengan mendekati rekan saya tersebut sambil berkata,” padahal yang saya bacakan tadi pada orang ini juga ayat Qursi , tapi kenapa dibacakan oleh saya pasiennya tidak sembuh ya?”.Walaupun keduanya sama-sama membaca ayat yang sama, tetapi ternyata kualitas yang dibacakannya berbeda, barangkali nilainya secara esoteris lebih tinggi ayat yang dibacakan rekan saya tersebut.seperti yang ia ungkapkan sendiri ”Saya membacanya sambil mengingat Allah, dan sama sekali tidak berambisi agar pasien segera sadar, saya pasrah saja pada kehendakNya.” Ujar rekan saya enteng.

Tentang hal tersebut, ustadz Zakaria menceritakan pula pengalamannya ,” Dulu saya sering menulis Hiriz tanpa pendalaman batin, saat dideteksi seorang rekan yang beraliran Mahatma dikatakan bahwa Hiriz yang saya buat dengan tinta za`faron tersebut berisi khodam jin, dan rekan tersebut mencabutnya dan hiriz itu pun kosong kembali.Sepulang dari Iran saya coba membuat Hiriz dengan pendalaman dan penghayatan akan apa yang saya tulis, dan kemudian saya minta agar rekan saya yang pelatih Mahatma tersebut agar mendeteksi dan mencabutnya, walhasil ia tidak bisa mencabutnya dan bahkan tidak bisa mendeskripsikan energi apa yang mengisi hiriz tersebut.”selanjutnya ia menambahkan,” Padahal saya tulis hiriz tersebut hanya dengan pulpen biasa.”

Kalau diibaratkan, eksoteris adalah kulit sementara esoteris adalah isinya, atau dalam analogi lainnya, eksoterik adalah hardwere sementara esoteris adalah softwerenya, wujud fisik computer atau hardwere tidaklah menjalankan fungsinya apabila di dalamnya tidak ada softwerenya, pun sebaliknya, softwere tanpa hardwere maka tidak ada artinya sama sekali, keduanya adalah satu bagian yang tak boleh terpisahkan, sama seperti diri kita yang terdiri dari dua yang tak terpisah, jiwa dan raga.Raga tanpa jiwa hanyalah seonggok bangkai tidak berarti, sebaliknya jiwa tanpa raga tidaklah dapat disebut manusia.

Kembali ke dalam diri

Kembali ke pembahasan diawal tentang HENING tadi, sama saja dengan kita berbicara tentang RINDU, DAMAI HATI, BAHAGIA , dan seterusnya, ada di dimensi esoteris, di dalam diri kita, hakekat yang tersembunyi yang tidak tampak dari luar. Memang ada banyak metode atau Thariqoh untuk mencapai Hening, seperti Ustadz Abu Sangkan dengan Metode Pelatihan Sholat Khusyunya, atau seperti cara yang ditawarkan berbagai macam tarekat atau berbagai tradisi yoga, Nampon, Falun Gong dan lain sebaginya, tetapi tanpa Kesadaran dan Kehadiran Hati, cara apa pun tidak akan pernah berhasil membawa kita menuju Hening, dan berbagai pengalaman Esoterik lainnya.

Seperti yang dikatakan para Arif,” Kesadaran adalah pintu gerbang Irfan ( kebijaksanaan atau sebutan lain dari tasawuf atau spiritualisme) “

Sebagaimana yang dikatakan abah Ajat, panggilan akrab Guru Besar Nampon Sudradjat Handawinata ,Ir, “Kesadaran yang ditunjang mujahadah atau jihadunnafsi menyambungkan kita pada energi spiritual murni atau tertinggi tertinggi dari YANG MUTLAK.” Senada dengan pernyataan Abah, ustadz Zakaria guru saya yang lain menyatakan pula,” Kesadaran adalah awal, selanjutnya ditunjang dengan ilmu ma`rifah dan tazkiyatunnafsi (penyucian jiwa), kita akan mencapai kedalaman batin .”Ya, samudra esoteris yang tak bertepi itu ada di dalam diri kita, dan hanya dapat dicapai dengan kembal ke dalam diri, sesuatu yang selama ini sering kita lupakan. ►kriyasemestafoundation.blogspot.com

>Kesadaran dan Kehadiran Hati

>

Tanpa Kesadaran dan Kehadiran Hati, cara apa pun tidak akan pernah berhasil membawa kita menuju Hening, dan berbagai pengalaman Esoterik lainnya.

Seorang sahabat lama, sebut saja namanya Andri, berdiskusi dengan saya seputar pencapaian spiritual kami masing-masing, hingga pada topik HENING, ia seolah tak percaya dan berulang kali menanyakan tentang cara , bacaan atau jampi untuk masuk ke kondisi kejiwaan tersebut. Praktisi ilmu Hikmah dan penganut berbagai Tarekat yang belum pernah memasuki kondisi jiwa hening ini berulangkali menanyakan tentang cara atau bacaan untuk memasuki keadaan tersebut, walaupun saya berulangkali pula menjelaskan padanya tentang tidak adanya jampe atau bacaan khusus untuk mencapai kondisi tersebut. “ Hening “ adalah kondisi batiniah yang hanya dapat dicapai dengan RASA yang dalam , penghayatan selanjutnya penjiwaan , hening bukanlah keilmuan tertentu, ujarku berulangkali menjelaskan padanya.

Ya, demikianlah, Andri adalah salah satu dari sekian banyak orang yang terjebak dalam praktek-praktek eksoteris yang sempit. Seperti Andri yang satu ini , terjebak dalam jumlah dan tatacara , sementara banyak juga nun jauh disana “andri-andri yang lain” yang terjebak dalam berbagai belenggu praktek-praktek eksoterik yang sempit, ada yang terjebak dalam tingkatan keilmuan atau aliran reiki tertentu , ada pula yang terjebak dalam ritual-ritual upacara tertentu.

Sama seperti saya dimasa lalu, yang melakukan sholat tanpa henti , tapi tak mencapai ketenangan batin saat melakukan ritual tersebut. Atau kali lainnya, saat melakukan berbagai praktek eksoterik Reiki yang njlimet serba procedural saya dan rekan-rekan praktisi reiki di berbagai belahan dunia seringkali melupakan hakekat energi dan ilmu yang bersumber dari Yang Mutlak, kita tidak merasakan kehadiran dan peran sertaNya, kita disibukan dengan hal-hal bersifat luar seperti symbol yang digunakan, aliran, dan lain sebagainya.

Dalam ritual ibadah pun selama ini kita terjebak dalam dunia eksoterik yang sempit, sibuk pada bacaannya bukan pada penghayatan kita tentang makna bacaan yang kita baca, kita sibuk pada gerakan bukan pada kesadaran bahwa yang menggerakan tubuh kita adalah Dia Yang Maha Sumber. Kita, beribadah tanpa merasakan kehadiran DIA YANG MAHA HADIR . Kita ibarat wujud fisik computer tanpa hardwere, tidak berfungsi sama sekali. Ibadah kita hanya gerak dan kata tanpa makna dan tidak ada manfaat sama sekali.

Tentang hal ini al Qur`an pernah menyinggung, “ Sesungguhnya, sholat mereka di sekitar baitullah itu seperti tepukan dan siulan belaka .” ( Q.S.8 :35 )

Kita seharusnya memuja Dia dengan rasa rindu bukan karena rutinitas semu atau karena takut masuk neraka, atau karena hal-hal rendah lainnya. Seperti perkataan AlHallaj seorang sufi besar, “ Aku tidak akan melakukan sholat ( ritual eksoterik) kecuali dengan menghadirkan rasa syukurku padaNya ( sisi esoterik) .”

Para praktisi energi seperti halnya saya dahulu pun disibukan dengan aspek-aspek prosedural , membuat symbol, nafas, mudra atau postur rubuh tertentu, dan lain sebagainya, tetapi kita melupakan bahwa hakekatnya energi bersumber dari yang MAHA SUCI padahal kita seharusnya selalu dalam keadaan suci saat mengakses energi dari Yang Maha Suci. Tentang hal ini Guru Besar Nampon , Abah H.Sudrajat Handawinata.Ir , mengatakan bahwa untuk mencapai energi Ilahi, kita harus bersih jasad, bersih hati dan bersih fikiran.

Sama persis seperti yang beliau katakan , Ustadz Zakaria (Garut) seorang praktisi spiritual, juga menyatakan bahwa dalam penulisan Hiriz ( orang Jawa menyebutnya isim) yaitu tradisi spiritual-eksoterik yang beliau geluti, seorang harus menulisnya dalam keadaan bersuci, baik lahir maupun batin.Menurut lulusan Hauzah Ilmiah Qum Iran ini, bila hati tidak dalam keadaan ikhlas, dan suci, dipastikan hiriz tersebut tidak barokah, bila terasa ada manfaatnya bagi pengguna dipastikan berisi kekuataan dari alam dimensi rendah yang sudah pasti non Ilahiah, atau beliau biasa menyebutnya dengan khodam jin.

Barangkali itulah sebabnya, mengapa rekan-rekan kita termasuk saya dahulu terjebak dalam energi-energi yang tidak murni (khadam), karena saat berdoa , wiridan, atau bermeditasi kita melupakan DIA YANG MAHA SUCI, kita melupakan aspek-aspek batiniyah atau sisi esoteris seperti : keikhlasan, kesabaran, ketenangan jiwa, dan kerendahan hati.

Semakin dalam pengahayatannya semakin efektif hasilnya

Dalam silaturahmi praktisi Reiki dan Kesadaran semesta 26 Maret kemarin, saya membagikan selembar kertas beserta pensilnya pada para peserta yang hadir, kemudian saya menyuruh peserta menuliskan sebuah angka yaitu 19 pada kertas tersebut. Kemudian saya menjelaskan makna angka 19 yang mereka tulis tersebut, antara lain bahwa Al Qur`an tersusun dari bilangan prima, dan didominasi perkalian 19, bismillahirahmanirahim pun terdiri dari 19 huruf. Saya menjelaskan pula bahwa 19 adalah symbol dari angka tunggal ( satu ) yang melambangkan keEsaan dan angka tertinggi atau bilangan terbesar yaitu sembilan, sehingga 19 bisa diartikan sebagai The Great One , Satu Yang Terbesar atau sebutan lain bagi Tuhan Yang Agung. Beberapa saat usai dijelaskan saya mengajak peserta untuk menuliskan kembali angka tersebut . Setelah itu saya mengajak para peserta untuk mendeteksi dengan telapak tangan kedua angka 19 tersebut, kesimpulannya : angka 19 pertama yang ditulis sekedar hanya karena diperintah tanpa memahami hakekat atau makna yang terkandung di dalamnya ternyata kualitas energinya sangat-sangat rendah dibandingkan angka 19 yang ke 2 yang ditulis dengan pemahaman dan kesadaran akan kebesaran Ilahi.Menurut sebagan besar praktisi yang hadir, angka 19 yang ke2 yaitu yang ditulis dengan penghayatan memiliki tingkat getaran yang kuat , halus merembes ke segala arah, MAHA BESAR ALLAH SUMBER SEGALA SESUATU.

Hal tersebut membuktikan pada kita bahwa kualitas atau efek dari sebuah laku lahir kegiatan spiritual yang mendalami sisi esoteris atau laku batin seperti penghayatan akan makna, kesadaran, cinta, ikhlas, dan seterusnya, lebih dahsyat dari sebuah kegiatan eksoteris dan dilakukan tanpa mendalami sisi , walaupun mungkin dari luar terlihat sama.

Sama seperti pengalaman rekan saya yang membacakan ayat Qursi pada seorang pasien yang sedang kesurupan, setelah dibacakan , pasien tersebut sadar kembali. Usai pembacaan , seorang ajengan mendekati rekan saya tersebut sambil berkata,” padahal yang saya bacakan tadi pada orang ini juga ayat Qursi , tapi kenapa dibacakan oleh saya pasiennya tidak sembuh ya?”.Walaupun keduanya sama-sama membaca ayat yang sama, tetapi ternyata kualitas yang dibacakannya berbeda, barangkali nilainya secara esoteris lebih tinggi ayat yang dibacakan rekan saya tersebut.seperti yang ia ungkapkan sendiri ”Saya membacanya sambil mengingat Allah, dan sama sekali tidak berambisi agar pasien segera sadar, saya pasrah saja pada kehendakNya.” Ujar rekan saya enteng.

Tentang hal tersebut, ustadz Zakaria menceritakan pula pengalamannya ,” Dulu saya sering menulis Hiriz tanpa pendalaman batin, saat dideteksi seorang rekan yang beraliran Mahatma dikatakan bahwa Hiriz yang saya buat dengan tinta za`faron tersebut berisi khodam jin, dan rekan tersebut mencabutnya dan hiriz itu pun kosong kembali.Sepulang dari Iran saya coba membuat Hiriz dengan pendalaman dan penghayatan akan apa yang saya tulis, dan kemudian saya minta agar rekan saya yang pelatih Mahatma tersebut agar mendeteksi dan mencabutnya, walhasil ia tidak bisa mencabutnya dan bahkan tidak bisa mendeskripsikan energi apa yang mengisi hiriz tersebut.”selanjutnya ia menambahkan,” Padahal saya tulis hiriz tersebut hanya dengan pulpen biasa.”

Kalau diibaratkan, eksoteris adalah kulit sementara esoteris adalah isinya, atau dalam analogi lainnya, eksoterik adalah hardwere sementara esoteris adalah softwerenya, wujud fisik computer atau hardwere tidaklah menjalankan fungsinya apabila di dalamnya tidak ada softwerenya, pun sebaliknya, softwere tanpa hardwere maka tidak ada artinya sama sekali, keduanya adalah satu bagian yang tak boleh terpisahkan, sama seperti diri kita yang terdiri dari dua yang tak terpisah, jiwa dan raga.Raga tanpa jiwa hanyalah seonggok bangkai tidak berarti, sebaliknya jiwa tanpa raga tidaklah dapat disebut manusia.

Kembali ke dalam diri

Kembali ke pembahasan diawal tentang HENING tadi, sama saja dengan kita berbicara tentang RINDU, DAMAI HATI, BAHAGIA , dan seterusnya, ada di dimensi esoteris, di dalam diri kita, hakekat yang tersembunyi yang tidak tampak dari luar. Memang ada banyak metode atau Thariqoh untuk mencapai Hening, seperti Ustadz Abu Sangkan dengan Metode Pelatihan Sholat Khusyunya, atau seperti cara yang ditawarkan berbagai macam tarekat atau berbagai tradisi yoga, Nampon, Falun Gong dan lain sebaginya, tetapi tanpa Kesadaran dan Kehadiran Hati, cara apa pun tidak akan pernah berhasil membawa kita menuju Hening, dan berbagai pengalaman Esoterik lainnya.

Seperti yang dikatakan para Arif,” Kesadaran adalah pintu gerbang Irfan ( kebijaksanaan atau sebutan lain dari tasawuf atau spiritualisme) “

Sebagaimana yang dikatakan abah Ajat, panggilan akrab Guru Besar Nampon Sudradjat Handawinata ,Ir, “Kesadaran yang ditunjang mujahadah atau jihadunnafsi menyambungkan kita pada energi spiritual murni atau tertinggi tertinggi dari YANG MUTLAK.” Senada dengan pernyataan Abah, ustadz Zakaria guru saya yang lain menyatakan pula,” Kesadaran adalah awal, selanjutnya ditunjang dengan ilmu ma`rifah dan tazkiyatunnafsi (penyucian jiwa), kita akan mencapai kedalaman batin .”Ya, samudra esoteris yang tak bertepi itu ada di dalam diri kita, dan hanya dapat dicapai dengan kembal ke dalam diri, sesuatu yang selama ini sering kita lupakan. ►kriyasemestafoundation.blogspot.com

>Meditasi NAQS Kultivasi Ruh | Sikap Alif Lam Mim

>

LANGKAH MEDITASI :

  1. Duduk, diam, mata terpejam.
  2. Rileksasikan seluruh tubuh & fikiran.
  3. Pusatkan konsentrasi pada titik 1.
  4. Resonansikan diri dengan Frekwensi Ilahiah.
MEDITASI KULTIVASI JIWA
TANPA TASBIH 
3 TEKHNIK UTAMA
3 LEVEL LATIHAN

MEDITASI KULTIVASI RUH
DENGAN TASBIH
SIKAP TUBUH ALIF LAM MIM
3 LEVEL LATIHAN
MEDITASI KULTIVASI RUH
PERHATIKAN CARA PEGANG TASBIH
TAMPAK DEPAN
TAMPAK BELAKANG
PELAJARAN KHUSUS

Pusaran Energi Kakbah

Sebagaimana yang dijelaskan Agus Mustofa dalam bukunya Pusaran Energi Ka`bah bahwa Ka`bah merupakan medan energi spiritual yang sangat kuat karena menyimpan energi spiritualnya Nabi Ibrahim (Ismail, Siti hajar hingga Muhammad SAW) , adanya Hajar Aswad yang merupakan batu hitam meteorit yang diyakini memiliki konduktifitas magnetis yang tinggi , ditambah lagi faktor orang-orang yang bertawaf mengelilinginya setiap manusia yang merupakan kumpulan bio elektris mengelilingi satu objek yang ada konduktornya dimana setiap Muslim di seluruh belahan bumi melakukan aktifitas spiritual menghadap pusat tersebut, sehingga wajar saja tempat tersebut memiliki aura spiritual yang dahsyat, ditempat tersebut begitu mudah fikiran dan perasaan untuk memasuki ”Zona Spiritual & Alam Semesta”, berbeda dengan tempat lain di seluruh belahan dunia.
Meditasi Hening 
Selaraskan Diri dengan Kesadaran Semesta
Caranya adalah dengan :

  1. Duduk, diam, mata terpejam dan Tersenyum
  2. Menyaksikan (menggambarkan-visualisasi) apa yang telah Tuhan berikan di hidup ini, sambil tersenyum
  3. Menghadirkan berbagai pengalaman pahit dimasa lalu dan melihatnya dari sudut pandang positif sambil tetap tersenyum, dan bersyukur
  4. Menghadirkan wajah orang-orang yang dibenci, kemudian tersenyum sambil mengatakan dalam hati ” aku memakluminya dan aku memaafkanmu”
  5. Berdoa memohon ampunan dan kasihNya.

Setelah mempraktekan cara-cara diatas , biasanya akan muncul rasa lega.rasa lega itu adalah indikator bahwa atmosfir hati kita sudah mulai membaik, artinya nurani kita sudah mulai memancarkan cahayanya kembali,cahaya murni yang bersumber dari SANG MAHA KASIH sudah kembali aktif, dengan kata lain radar dan pemancar dalam diri kita sudah mulai berfungsi..

Sebagaimana semut yang tanpa berfikir dapat melakukan tugas-tugas yang teratur secara berkelompok, atau sebagaimana bunga sakura yang tanpa berfikir tumbuh apa adanya sebagai bunga sakura, dalam keadaan ”tanpa berfikir” atau yang biasanya disebut kondisi zero mind inilah , kita akan dapat mengerjakan tugas-tugas yang sulit.Seperti seorang empu pembuat keris yang tanpa mengukur , bahkan tanpa penggaris dapat membuat keris dengan akurasi-presisi yang pas sehingga dapat berdiri tanpa disangga, demikian pula halnya dengan kita dalam menyelesaikan berbagai permasalahan hidup diri kita atau manusia lainnya dalam kondisi batin ikhlas atau zero mind semuanya akan teratasi, serba terukur dalam neraca hati , yang harmoni bersama semesta.

Jadi, kesadaran semesta dalam konteks ini adalah kesadaran apa adanya , atau berfikir dan berperasaan murni, sebagaimana seekor semut, rayap atau sekuntum bunga yang tumbuh dan hidup apa adanya . Seperti bayi yang baru dilahirkan, menangis dan bergerak apa adanya, tanpa ego, tanpa banyak berfikir.Seperti semesta yang berjalan apa adanya tanpa banyak berfikir, dengan apa adanya sedang kita sedang bergerak dalam rel yang benar.

Hanya hati yang suci yang dapat terhubung dengan Kekuatan Langit
Demikianlah, berbagai Latihan di atas pada dasarnya merupakan pembiasaan-pembiasaan yang feed backnya diharapkan akan mampu menstimulasi fikiran dan perasaan kita menuju zona spiritual murni yang kita menyebutnya sebagai Kesadaran semesta, yaitu suatu Kesadaran Murni , tenang dan damai, hanyut bersama tasbih Semesta dalam damai Ilahi.Dalam zona inilah inilah kita akan dapat mengakses “Energi Spiritual Murni” sebagaimana sebuah pribahasa Cina kuno mengatakan hanya hati yang sucilah yang dapat terhubung dengan Kekuatan langit. Dengan kata lain, dalam Kesucian hati atau zona Kesadaran Semesta inilah, pancaran “Cahaya Tinggi” atau “Vibrasi Energi Spiritual Murni” yang bersumber dari Dia Yang Rahman kita “serap’ dan kita sebarkan bagi semesta dan seluruh isinya.

Disamping itu, dengan rutinitas latihan-latihan tersebut ditambah intensitas ibadah kita sesuai tuntunan agama, Keadaan Jiwa yang murni dapat dicapai, indikasinya adalah munculnya getaran-getaran rasa damai, dan tenang dalam hati kita, sehingga kita dapat merasakan suara hati yang murni (intuisi) dalam berbagai situasi dalam menghadapi hidup ini.

Selanjutnya, kita sudah tidak lagi “terbelenggu” dalam berbagai tekhnik-tekhnik atau prosedur baku dalam memanfaatkan energi semesta, kita hanya tinggal duduk , diam dan mendengarkan semuanya dari hati kita

>Meditasi NAQS Kultivasi Ruh | Sikap Alif Lam Mim

>

LANGKAH MEDITASI :

  1. Duduk, diam, mata terpejam.
  2. Rileksasikan seluruh tubuh & fikiran.
  3. Pusatkan konsentrasi pada titik 1.
  4. Resonansikan diri dengan Frekwensi Ilahiah.
MEDITASI KULTIVASI JIWA
TANPA TASBIH 
3 TEKHNIK UTAMA
3 LEVEL LATIHAN

MEDITASI KULTIVASI RUH
DENGAN TASBIH
SIKAP TUBUH ALIF LAM MIM
3 LEVEL LATIHAN
MEDITASI KULTIVASI RUH
PERHATIKAN CARA PEGANG TASBIH
TAMPAK DEPAN
TAMPAK BELAKANG
PELAJARAN KHUSUS

Pusaran Energi Kakbah

Sebagaimana yang dijelaskan Agus Mustofa dalam bukunya Pusaran Energi Ka`bah bahwa Ka`bah merupakan medan energi spiritual yang sangat kuat karena menyimpan energi spiritualnya Nabi Ibrahim (Ismail, Siti hajar hingga Muhammad SAW) , adanya Hajar Aswad yang merupakan batu hitam meteorit yang diyakini memiliki konduktifitas magnetis yang tinggi , ditambah lagi faktor orang-orang yang bertawaf mengelilinginya setiap manusia yang merupakan kumpulan bio elektris mengelilingi satu objek yang ada konduktornya dimana setiap Muslim di seluruh belahan bumi melakukan aktifitas spiritual menghadap pusat tersebut, sehingga wajar saja tempat tersebut memiliki aura spiritual yang dahsyat, ditempat tersebut begitu mudah fikiran dan perasaan untuk memasuki ”Zona Spiritual & Alam Semesta”, berbeda dengan tempat lain di seluruh belahan dunia.
Meditasi Hening 
Selaraskan Diri dengan Kesadaran Semesta
Caranya adalah dengan :

  1. Duduk, diam, mata terpejam dan Tersenyum
  2. Menyaksikan (menggambarkan-visualisasi) apa yang telah Tuhan berikan di hidup ini, sambil tersenyum
  3. Menghadirkan berbagai pengalaman pahit dimasa lalu dan melihatnya dari sudut pandang positif sambil tetap tersenyum, dan bersyukur
  4. Menghadirkan wajah orang-orang yang dibenci, kemudian tersenyum sambil mengatakan dalam hati ” aku memakluminya dan aku memaafkanmu”
  5. Berdoa memohon ampunan dan kasihNya.

Setelah mempraktekan cara-cara diatas , biasanya akan muncul rasa lega.rasa lega itu adalah indikator bahwa atmosfir hati kita sudah mulai membaik, artinya nurani kita sudah mulai memancarkan cahayanya kembali,cahaya murni yang bersumber dari SANG MAHA KASIH sudah kembali aktif, dengan kata lain radar dan pemancar dalam diri kita sudah mulai berfungsi..

Sebagaimana semut yang tanpa berfikir dapat melakukan tugas-tugas yang teratur secara berkelompok, atau sebagaimana bunga sakura yang tanpa berfikir tumbuh apa adanya sebagai bunga sakura, dalam keadaan ”tanpa berfikir” atau yang biasanya disebut kondisi zero mind inilah , kita akan dapat mengerjakan tugas-tugas yang sulit.Seperti seorang empu pembuat keris yang tanpa mengukur , bahkan tanpa penggaris dapat membuat keris dengan akurasi-presisi yang pas sehingga dapat berdiri tanpa disangga, demikian pula halnya dengan kita dalam menyelesaikan berbagai permasalahan hidup diri kita atau manusia lainnya dalam kondisi batin ikhlas atau zero mind semuanya akan teratasi, serba terukur dalam neraca hati , yang harmoni bersama semesta.

Jadi, kesadaran semesta dalam konteks ini adalah kesadaran apa adanya , atau berfikir dan berperasaan murni, sebagaimana seekor semut, rayap atau sekuntum bunga yang tumbuh dan hidup apa adanya . Seperti bayi yang baru dilahirkan, menangis dan bergerak apa adanya, tanpa ego, tanpa banyak berfikir.Seperti semesta yang berjalan apa adanya tanpa banyak berfikir, dengan apa adanya sedang kita sedang bergerak dalam rel yang benar.

Hanya hati yang suci yang dapat terhubung dengan Kekuatan Langit
Demikianlah, berbagai Latihan di atas pada dasarnya merupakan pembiasaan-pembiasaan yang feed backnya diharapkan akan mampu menstimulasi fikiran dan perasaan kita menuju zona spiritual murni yang kita menyebutnya sebagai Kesadaran semesta, yaitu suatu Kesadaran Murni , tenang dan damai, hanyut bersama tasbih Semesta dalam damai Ilahi.Dalam zona inilah inilah kita akan dapat mengakses “Energi Spiritual Murni” sebagaimana sebuah pribahasa Cina kuno mengatakan hanya hati yang sucilah yang dapat terhubung dengan Kekuatan langit. Dengan kata lain, dalam Kesucian hati atau zona Kesadaran Semesta inilah, pancaran “Cahaya Tinggi” atau “Vibrasi Energi Spiritual Murni” yang bersumber dari Dia Yang Rahman kita “serap’ dan kita sebarkan bagi semesta dan seluruh isinya.

Disamping itu, dengan rutinitas latihan-latihan tersebut ditambah intensitas ibadah kita sesuai tuntunan agama, Keadaan Jiwa yang murni dapat dicapai, indikasinya adalah munculnya getaran-getaran rasa damai, dan tenang dalam hati kita, sehingga kita dapat merasakan suara hati yang murni (intuisi) dalam berbagai situasi dalam menghadapi hidup ini.

Selanjutnya, kita sudah tidak lagi “terbelenggu” dalam berbagai tekhnik-tekhnik atau prosedur baku dalam memanfaatkan energi semesta, kita hanya tinggal duduk , diam dan mendengarkan semuanya dari hati kita

The Magic Of Grattitude 2

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? ( Ar Rahmaan : 13)

Jika Anda mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup badan, atap di atas kepala, dan tempat untuk tidur, maka Anda lebih kaya daripada 75 persen penduduk dunia! Jika Anda mempunyai tabungan di bank dan uang receh di dompet, maka Anda lebih kaya daripada 92 persen penduduk dunia!

Jika Anda tidak pernah mengalami kesengsaraan karena perang, penjara, penyiksaan, atau kelaparan, maka Anda lebih beruntung daripada 700 juta orang di dunia! Jika Anda dapat menghadiri tempat ibadah atau pertemuan religius tanpa rasa takut akan penyerangan, penangkapan, atau kematian, maka Anda lebih beruntung daripada 3 milyar orang di dunia! Dan jika Anda dapat membaca tulisan saya, maka Anda lebih beruntung daripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang tidak dapat membaca sama sekali!

Betapa zhalimnya manusia, bergelimang nikmat Allah tetapi tidak bersyukur kepada-Nya (Ibrahim: 34). Nikmat yang Allah berikan kepada manusia mencakup aspek lahir (zhaahirah) dan batin (baatinah) serta gabungan dari keduanya. Surat Ar-Rahman menyebutkan berbagai macam kenikmatan itu dan mengingatkan kepada manusia akan nikmat tersebut dengan berulang-ulang sebanyak 31 kali, “Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

Baca dan tadabburilah surat Ar-Rahman. Allah yang Maha Penyayang memberikan limpahan nikmat kepada manusia dan tidak ada satu makhluk pun yang dapat menghitungnya. Dari awal sampai akhir surat Ar-Rahman, Allah merinci nikmat-nikmat itu.

Dimulai dengan ungkapan yang sangat indah, nama Allah, Dzat Yang Maha Pemurah, Ar-Rahmaan. Mengajarkan Al-Qur’an, menciptakan manusia dan mengajarinya pandai berkata-kata dan berbicara. Menciptakan mahluk langit dengan penuh keseimbangan, matahari, bulan dan bintang-bintang. Menciptakan bumi, daratan dan lautan dengan segala isinya semuanya untuk manusia. Dan menciptakan manusia dari bahan baku yang paling baik untuk dijadikan makhluk yang paling baik pula. Kemudian mengingatkan manusia dan jin bahwa dunia seisinya tidak kekal dan akan berakhir. Hanya Allah-lah yang kekal. Di sana ada alam lain, akhirat. Surga dengan segala bentuk kenikmatannya dan neraka dengan segala bentuk kengeriannya. “Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

Ketika Nabi Sulaiman a.s. mendapatkan puncak kenikmatan dunia, beliau berkata,“Ini adalah bagian dari karunia Allah, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur.” (An-Naml: 40).
Ketika Qarun mendapatkan harta yang sangat banyak, dia mengatakan, “Sesungguhnya harta kekayaan ini, tidak lain kecuali dari hasil kehebatan ilmuku.” (Al-Qashash: 78).

Dua kisah yang bertolak belakang di atas menghasilkan akhir kesudahan yang berbeda. Nabi Sulaiman a.s. mendapatkan karunia di dunia dan akhirat. Sedangkan Qarun mendapat adzab di dunia dan akhirat karena kekufurannya akan nikmat Allah.

Demikianlah, fragmen hidup manusia tidak terlepas dari dua golongan tersebut. Golongan pertama, manusia yang mendapatkan nikmat Allah dan mereka mensyukurinya dengan sepenuh hati. Dan golongan kedua, manusia yang mendapatkan banyak nikmat lalu mereka kufur. Golongan pertama yaitu para nabi, shidiqqin, zullada, dan shalihin (An-Nisa’: 69-70). Golongan kedua, mereka inilah para penentang kebenaran, seperti Namrud, Fir’aun, Qarun, Abu Lahab, Abu Jahal, dan para pengikut mereka dari masa ke masa.

Secara umum bahwa kesejahteraan, kedamaian dan keberkahan merupakan hasil dari syukur kepada Allah sedangkan kesempitan, kegersangan dan kemiskinan akibat dari kufur kepada Allah.

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari ni’mat-ni’mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian  kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”(An-Nahl 112)

Rahasia Syukur

Baca buku fenomenal dan kontroversial The Hidden Messages in Water. Sebagaimana telah saya kupas dalam artikel  Air Hexagonal kemarin. Di buku yang direkomendasikan oleh pakar pengembangan diri kelas dunia Anthony Robbins dan John Gray ini dituliskan bahwa air seolah-olah dapat mengerti bahasa manusia. Lebih jauh lagi, kristal air akan memperagakan bentuknya yang paling apik dan menarik apabila diperdengarkan kata ‘syukur’ dan ‘cinta’ -dalam bahasa apapun!

Itu semua, apa artinya sih? Pahamilah, alam semesta berasal dari air. Semua kehidupan juga bermula dari air. Dan yang terpenting, 70 persen tubuh manusia terdiri dari air. Jadi, setiap kali Anda menyebut kata ‘syukur’ atau menyimpan rasa syukur, pada waktu yang sama Anda membekali diri Anda dengan energi-energi positif yang sangat Anda butuhkan untuk menggapai sukses. Tambahan lagi, kata ‘syukur’ dan rasa syukur memendam setumpuk manfaat yang lain, di antaranya menyejukkan hati dan memungkinkan Anda menuai hikmah dari berbagai kejadian.

Tidak mengherankan semua agama menganjurkan dan mengajarkan kita untuk menghafalkan dan melafalkan kata ‘alhamdulillah’, ‘puji Tuhan’ atau yang sejenis sebanyak-banyaknya -bahkan sampai ribuan kali sehari. Ternyata, ini bukan semata-mata soal kalkulasi pahala. Jauh-jauh hari Yang Maha Kuasa telah merancang ini sebagai modal untuk sukses.

Ada dua manfaat besar dari bersyukur. Kedua manfaat ini akan mengubah hidup kita jika kita mendapatkannya.

  1. Pahala dari Allah. Jelas, bersyukur adalah perintah Allah, kita akan mendapatkan pahala jika kita bersyukur dengan ikhlas.
  2. Menciptakan Feeling Good. Dengan bersyukur akan membuat kita lebih bahagia. Perasaan kita menjadi lebih enak dan nyaman dengan bersyukur. Bagaimana tidak, pikiran kita akan fokus pada berbagai kebaikan yang kita terima.

Lalu apa manfaat Feeling Good?

  1. Jika Anda termasuk orang yang percaya dengan Hukum Daya Tarik (law of attraction), feeling good akan Meningkatkan Kekuatan Daya Magnetis Anda dalam menarik apa yang Anda inginkan. Kekuatan hukum ini akan sebanding dengan keyakinan dan perasaan positif. Sementara semakin banyak kita bersyukur, akan semakin banyak perasaan positif pada diri kita.
  2. Motivasi akan muncul dari kondisi emosi yang positif. Sementara bersyukur akan menciptakan emosi yang positif karena kita fokus apda hal-hal yang positif. Semakin banyak Anda bersyukur akan semakin besar motivasi yang Anda miliki.
  3. Bersyukur akan membentuk pola pikir sukses. Pola pikir sukses adalah keyakinan dalam mendapatkan. Saat kita bersyukur, maka pikiran kita secara tidak sadar diberikan suatu “pola” mendapatkan, sehingga akan terbentuk pola sukses.

Dengan melihat ketiga manfaat dari feeling good, kita bisa menyimpulkan bahwa feeling good adalah mungkin menjadi salah satu cara Allah memberikan nikmat tambahan kepada kita. Jika orang baru ribut dengan manfaat syukur pada kahir-akhir ini, Al Quran sudah 14 abad yang lalu. Sungguh suatu nikmat Allah yang diberikan kepada kita, sayang jika kita mengabaikannya.

Cara Meningkatkan Syukur

  1. Saya yakin, Anda yang mau membaca artikel ini adalah orang-orang yang pandai bersyukur. Namun bukan berarti kita tidak perlu meningkatkan. Setinggi apa pun Anda menjadi hamba yang bersyukur, Anda masih tetap perlu meningkatkan syukur Anda. Jika Anda baru bersyukur saat mendapatkan nikmat berupa materi, ini adalah baru tahap awal menjadi hamba yang pandai bersyukur.
  2. Untuk meningkatkan rasa bersyukur, kita harus lebih jeli dan peka terhadap berbagai nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Kurangnya kepekaan terhadap nikmat Allah akan mengurangi syukur kita, sebab kita merasa tidak ada yang perlu disyukuri lagi. Meningkatkan kepekaan bisa dilakukan dengan melakukan perenungan terhadap apa yang terjadi pada hidup kita sehari-hari. Luangkan waktu Anda setiap hari untuk merenungkan nikmat setiap harinya.
  3. Setiap saat, kita mendapatkan nikmat baru. Satu detik waktu berlalu berarti kita mendapatkan nikmat hidup selama satu detik. Nafas kita, penglihatan kita, penciuman kita, detak jantung kita dan sebagainya yang tidak mungkin disebutkan disini.
  4. Selalu ada hikmah dari setiap kejadian, baik kejadian pad diri sendiri maupun orang lain. Sementara setiap saat selalu ada kejadian, berarti selalu ada hikmah yang bisa kita ambil. Sementara hikmah adalah suatu nikmat. Syukurilah.

>The Magic Of Grattitude 2

>

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? ( Ar Rahmaan : 13)

Jika Anda mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup badan, atap di atas kepala, dan tempat untuk tidur, maka Anda lebih kaya daripada 75 persen penduduk dunia! Jika Anda mempunyai tabungan di bank dan uang receh di dompet, maka Anda lebih kaya daripada 92 persen penduduk dunia!

Jika Anda tidak pernah mengalami kesengsaraan karena perang, penjara, penyiksaan, atau kelaparan, maka Anda lebih beruntung daripada 700 juta orang di dunia! Jika Anda dapat menghadiri tempat ibadah atau pertemuan religius tanpa rasa takut akan penyerangan, penangkapan, atau kematian, maka Anda lebih beruntung daripada 3 milyar orang di dunia! Dan jika Anda dapat membaca tulisan saya, maka Anda lebih beruntung daripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang tidak dapat membaca sama sekali!

Betapa zhalimnya manusia, bergelimang nikmat Allah tetapi tidak bersyukur kepada-Nya (Ibrahim: 34). Nikmat yang Allah berikan kepada manusia mencakup aspek lahir (zhaahirah) dan batin (baatinah) serta gabungan dari keduanya. Surat Ar-Rahman menyebutkan berbagai macam kenikmatan itu dan mengingatkan kepada manusia akan nikmat tersebut dengan berulang-ulang sebanyak 31 kali, “Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

Baca dan tadabburilah surat Ar-Rahman. Allah yang Maha Penyayang memberikan limpahan nikmat kepada manusia dan tidak ada satu makhluk pun yang dapat menghitungnya. Dari awal sampai akhir surat Ar-Rahman, Allah merinci nikmat-nikmat itu.

Dimulai dengan ungkapan yang sangat indah, nama Allah, Dzat Yang Maha Pemurah, Ar-Rahmaan. Mengajarkan Al-Qur’an, menciptakan manusia dan mengajarinya pandai berkata-kata dan berbicara. Menciptakan mahluk langit dengan penuh keseimbangan, matahari, bulan dan bintang-bintang. Menciptakan bumi, daratan dan lautan dengan segala isinya semuanya untuk manusia. Dan menciptakan manusia dari bahan baku yang paling baik untuk dijadikan makhluk yang paling baik pula. Kemudian mengingatkan manusia dan jin bahwa dunia seisinya tidak kekal dan akan berakhir. Hanya Allah-lah yang kekal. Di sana ada alam lain, akhirat. Surga dengan segala bentuk kenikmatannya dan neraka dengan segala bentuk kengeriannya. “Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

Ketika Nabi Sulaiman a.s. mendapatkan puncak kenikmatan dunia, beliau berkata,“Ini adalah bagian dari karunia Allah, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur.” (An-Naml: 40).
Ketika Qarun mendapatkan harta yang sangat banyak, dia mengatakan, “Sesungguhnya harta kekayaan ini, tidak lain kecuali dari hasil kehebatan ilmuku.” (Al-Qashash: 78).

Dua kisah yang bertolak belakang di atas menghasilkan akhir kesudahan yang berbeda. Nabi Sulaiman a.s. mendapatkan karunia di dunia dan akhirat. Sedangkan Qarun mendapat adzab di dunia dan akhirat karena kekufurannya akan nikmat Allah.

Demikianlah, fragmen hidup manusia tidak terlepas dari dua golongan tersebut. Golongan pertama, manusia yang mendapatkan nikmat Allah dan mereka mensyukurinya dengan sepenuh hati. Dan golongan kedua, manusia yang mendapatkan banyak nikmat lalu mereka kufur. Golongan pertama yaitu para nabi, shidiqqin, zullada, dan shalihin (An-Nisa’: 69-70). Golongan kedua, mereka inilah para penentang kebenaran, seperti Namrud, Fir’aun, Qarun, Abu Lahab, Abu Jahal, dan para pengikut mereka dari masa ke masa.

Secara umum bahwa kesejahteraan, kedamaian dan keberkahan merupakan hasil dari syukur kepada Allah sedangkan kesempitan, kegersangan dan kemiskinan akibat dari kufur kepada Allah.

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari ni’mat-ni’mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian  kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”(An-Nahl 112)

Rahasia Syukur

Baca buku fenomenal dan kontroversial The Hidden Messages in Water. Sebagaimana telah saya kupas dalam artikel  Air Hexagonal kemarin. Di buku yang direkomendasikan oleh pakar pengembangan diri kelas dunia Anthony Robbins dan John Gray ini dituliskan bahwa air seolah-olah dapat mengerti bahasa manusia. Lebih jauh lagi, kristal air akan memperagakan bentuknya yang paling apik dan menarik apabila diperdengarkan kata ‘syukur’ dan ‘cinta’ -dalam bahasa apapun!

Itu semua, apa artinya sih? Pahamilah, alam semesta berasal dari air. Semua kehidupan juga bermula dari air. Dan yang terpenting, 70 persen tubuh manusia terdiri dari air. Jadi, setiap kali Anda menyebut kata ‘syukur’ atau menyimpan rasa syukur, pada waktu yang sama Anda membekali diri Anda dengan energi-energi positif yang sangat Anda butuhkan untuk menggapai sukses. Tambahan lagi, kata ‘syukur’ dan rasa syukur memendam setumpuk manfaat yang lain, di antaranya menyejukkan hati dan memungkinkan Anda menuai hikmah dari berbagai kejadian.

Tidak mengherankan semua agama menganjurkan dan mengajarkan kita untuk menghafalkan dan melafalkan kata ‘alhamdulillah’, ‘puji Tuhan’ atau yang sejenis sebanyak-banyaknya -bahkan sampai ribuan kali sehari. Ternyata, ini bukan semata-mata soal kalkulasi pahala. Jauh-jauh hari Yang Maha Kuasa telah merancang ini sebagai modal untuk sukses.

Ada dua manfaat besar dari bersyukur. Kedua manfaat ini akan mengubah hidup kita jika kita mendapatkannya.

  1. Pahala dari Allah. Jelas, bersyukur adalah perintah Allah, kita akan mendapatkan pahala jika kita bersyukur dengan ikhlas.
  2. Menciptakan Feeling Good. Dengan bersyukur akan membuat kita lebih bahagia. Perasaan kita menjadi lebih enak dan nyaman dengan bersyukur. Bagaimana tidak, pikiran kita akan fokus pada berbagai kebaikan yang kita terima.

Lalu apa manfaat Feeling Good?

  1. Jika Anda termasuk orang yang percaya dengan Hukum Daya Tarik (law of attraction), feeling good akan Meningkatkan Kekuatan Daya Magnetis Anda dalam menarik apa yang Anda inginkan. Kekuatan hukum ini akan sebanding dengan keyakinan dan perasaan positif. Sementara semakin banyak kita bersyukur, akan semakin banyak perasaan positif pada diri kita.
  2. Motivasi akan muncul dari kondisi emosi yang positif. Sementara bersyukur akan menciptakan emosi yang positif karena kita fokus apda hal-hal yang positif. Semakin banyak Anda bersyukur akan semakin besar motivasi yang Anda miliki.
  3. Bersyukur akan membentuk pola pikir sukses. Pola pikir sukses adalah keyakinan dalam mendapatkan. Saat kita bersyukur, maka pikiran kita secara tidak sadar diberikan suatu “pola” mendapatkan, sehingga akan terbentuk pola sukses.

Dengan melihat ketiga manfaat dari feeling good, kita bisa menyimpulkan bahwa feeling good adalah mungkin menjadi salah satu cara Allah memberikan nikmat tambahan kepada kita. Jika orang baru ribut dengan manfaat syukur pada kahir-akhir ini, Al Quran sudah 14 abad yang lalu. Sungguh suatu nikmat Allah yang diberikan kepada kita, sayang jika kita mengabaikannya.

Cara Meningkatkan Syukur

  1. Saya yakin, Anda yang mau membaca artikel ini adalah orang-orang yang pandai bersyukur. Namun bukan berarti kita tidak perlu meningkatkan. Setinggi apa pun Anda menjadi hamba yang bersyukur, Anda masih tetap perlu meningkatkan syukur Anda. Jika Anda baru bersyukur saat mendapatkan nikmat berupa materi, ini adalah baru tahap awal menjadi hamba yang pandai bersyukur.
  2. Untuk meningkatkan rasa bersyukur, kita harus lebih jeli dan peka terhadap berbagai nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Kurangnya kepekaan terhadap nikmat Allah akan mengurangi syukur kita, sebab kita merasa tidak ada yang perlu disyukuri lagi. Meningkatkan kepekaan bisa dilakukan dengan melakukan perenungan terhadap apa yang terjadi pada hidup kita sehari-hari. Luangkan waktu Anda setiap hari untuk merenungkan nikmat setiap harinya.
  3. Setiap saat, kita mendapatkan nikmat baru. Satu detik waktu berlalu berarti kita mendapatkan nikmat hidup selama satu detik. Nafas kita, penglihatan kita, penciuman kita, detak jantung kita dan sebagainya yang tidak mungkin disebutkan disini.
  4. Selalu ada hikmah dari setiap kejadian, baik kejadian pad diri sendiri maupun orang lain. Sementara setiap saat selalu ada kejadian, berarti selalu ada hikmah yang bisa kita ambil. Sementara hikmah adalah suatu nikmat. Syukurilah.