>N-Generation | CERMIN HATI

>

Tanggalkan kekhawatiranmu
dan jadilah bersih hati,
bagaikan permukaan sebuah cermin
yang tiada ada bercaknya.

Bila ‘kau dambakan cermin yang bening,
lihatlah kepada dirimu sendiri,
dan tengoklah kebenaran apa adanya,
yang dipantulkan oleh cermin.

Bila besi bisa digosok
hingga berkilau bagai cermin
gerangan penggosok macam apa
yang cermin hatimu butuhkan ?

Antara cermin dan hati
ada satu perbedaan nyata:
hati menyimpan rahasia
sedangkan cermin tidak.

…. di bawah ini adalah interpretasi dan terjemah saya terhadap salah satu bab dari buku ‘The Secret of Secrets‘ yang adalah interpretasi dan terjemah Syaikh Tosun Bayrak al-Jerrahi al-Halveti ke bahasa Inggris terhadap kitab Sirr Al-Asraar yang ditulis oleh Syaikh Abd’ al-Qadir al-Jilany ra. yang mashur itu.

Selamat membaca dan semoga bermanfaat bagi sahabat.

DITUJUKAN KEPADA PARA PEMBACA
Kutipan dari Sepucuk Surat Hadrat Abd’ al-Qadir al-Jilany ra.

Hati [qalb] -mu adalah sebuah cermin yang berkilau. Engkau harus membersihkannya dari debu dan kotoran yang telah terkumpul dan melekat di permukaannya karena sesungguhnya ia ditakdirkan untuk memantulkan cahaya ‘Rahasia-Rahasia Ilaahiyyah’.

Manakala cahaya dari … Allah (Yang) adalah cahaya petala langit dan bumi … mulai menerpa seluruh bagian dari hati-mu, pelita hatimu akan mulai menyala. Pelita hati itu … berada di dalam kaca [az-zujajah], dan kaca itu seakan-akan kaukabun [1] yang berkilau …

Selanjutnya di dalam hati-mu itu, sambaran-sambaran petir dan kilat Pengetahuan Ilahiyyah akan dimulai. Sambaran-sambaran ini datang dari awan-awan yang mengandung hujan sebagai makna dari … yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat … dan menerangi pohon pemahaman, cahayanya sangat murni, jernih dan … menerangi walaupun tidak disentuh api [2].

Selanjutnya pelita di hati-mu itu akan menyala dengan sendirinya karena apakah mungkin ada sesuatu yang akan tetap tidak menyala manakala Cahaya dari Rahasia-Rahasia Allah Ta’ala telah menerpanya.

Hanya jika cahaya Rahasia Ilaahiyyah telah menerpanya, kegelapan malam dari Rahasia-Rahasia akan diterangi oleh ribuan bintang yang berkilau … dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk [3] … Bukan bintang itu yang memandu perjalanan melainkan Cahaya itu lah yang memandu. Sebagaimana … Allah telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang [4]… Manakala Pelita Rahasia Ilaahiyyah telah menyala di dalam jiwa mu maka yang selebihnya akan datang, apakah kesemuanya datang secara bersama atau sedikit demi sedikit. Sebagiannya ada yang telah kalian mengerti dan sedangkan yang belum kalian mengerti akan dijelaskan disini.

Bacalah, perhatikanlah, cobalah untuk mengerti.

Kegelapan langitmu oleh sebab ketiadaan pengetahuanmu akan sirna dengan adanya ‘Kehadiran Ilaahiyyah’ dan kedamaian dan keindahan cahaya purnama, yang terbit dari ufuk dan menyalakan … cahaya di atas cahaya [5], merayap di langit mengikuti garis-edarnya sebagaimana yang telah Allah Ta’ala tetapkan [6], sampai kepada puncak kejayaannya di tengah-tengah langit, membubarkan segala kemalasan dan ketidakacuhan. … (Aku bersumpah) demi malam apabila telah sunyi [7] … demi waktu matahari sepenggalah naik [8] … gelapnya malam akibat dari keterlenaanmu akan segera berganti dengan siang hari yang cerah.

Selanjutnya engkau akan menghirup harumnya kesadaran dan pengetahuan akan Allah Ta’ala dan bermohon ampun di waktu sahur [9] atas keterlenaanmu selama ini dan menyesali hidupmu yang telah engkau lalui hanya dengan terlena yang seperti tertidur. Engkau juga akan menikmati lantunan kidung pagi hari dan mendengar mereka mendendangkan:

Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar [10]….. Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki [11]

Selanjutnya dari kaki-langit ‘Pengetahuan Ilahiyyah’ engkau akan menemukan matahari hikmah yang mulai terbit. Dan itu adalah matahari untukmu sebab engkau adalah yang dipilih dan … ditunjuki (oleh) Allah dan engkau … berada di jalan yang benar dan bukan termasuk golongan orang-orang … yang dibiarkan-Nya sesat [12].

Selanjutnya engkau akan memahami rahasia bahwa:

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya [13]

Sampai akhirnya, belenggu yang membelitmu akan terurai sebagaimana … Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu [14] dan kerak-kerak dirimu akan luruh, kepompong yang melingkupimu akan tersingkap untuk menampilkan kehalusan yang selama ini tersembunyi di balik jasadmu; selanjutnya kebenaran sejati [al-haqq] akan menampakkan wajahnya.

Awal dari semuanya ini adalah saat dimana cermin hatimu telah terbersihkan. Cahaya dari ‘Rahasia-Rahasia Ilaahiyyah’ akan menerpanya, sejalan dengan kemauanmu, dan sejalan dengan permohonanmu kepada-Nya karena bersumber hanya dari Dia Ta’ala semata, jika dan hanya jika engkau bersama-Nya.

Catatan Kaki :

1. Kata kaukabun, sering di-alih-bahasa-kan sebagai ‘bintang’ atau ‘bintang-bintang’ akan tetapi sesungguhnya secara pengertian berbeda. Bintang adalah benda langit yang menjadi sumber cahaya sedangkan kaukabun adalah benda langit yang tidak memiliki cahaya sendiri. Ia berpendar karena memantulkan cahaya yang diterimanya dari benda langit lainnya, dengan demikian kaukabun adalah seperti sebuah planet. Sedangkan bintang dalam bahasa arab adalah an-najm dan gugusan bintang-bintang adalah al-buruj. Bulan adalah al-qamar dan matahari adalah asy-syam.
2. Ayat Cahaya, QS.[24]:35
3. QS.[16]:16
4. QS.[37]:6
5. QS.[24]:35
6. QS.[36]:39
7. QS.[93]:2
8. QS.[93]:1
9. QS.[3]:17
10. QS.[51]:17-18
11. QS.[24]:35
12. QS.[7]:178
13. QS.[36]:40
14. QS.[24]:35

Bandung, 20 April 2009 – update 19 Juni 2009
Sumber: The Secrets of Secrets, an interpretation by Syaikh Tosun Bayrak al-Jerrahi al-Halveti of Hadrat Abd’ al-Qadir al-Jilany’s “Sirr Al-Asraar”, The Islamic Text Society, Cambridge, 1992. BY.berandasuluk.blogsome.com

Iklan

>N-Generation | CERMIN HATI

>

Tanggalkan kekhawatiranmu
dan jadilah bersih hati,
bagaikan permukaan sebuah cermin
yang tiada ada bercaknya.

Bila ‘kau dambakan cermin yang bening,
lihatlah kepada dirimu sendiri,
dan tengoklah kebenaran apa adanya,
yang dipantulkan oleh cermin.

Bila besi bisa digosok
hingga berkilau bagai cermin
gerangan penggosok macam apa
yang cermin hatimu butuhkan ?

Antara cermin dan hati
ada satu perbedaan nyata:
hati menyimpan rahasia
sedangkan cermin tidak.

…. di bawah ini adalah interpretasi dan terjemah saya terhadap salah satu bab dari buku ‘The Secret of Secrets‘ yang adalah interpretasi dan terjemah Syaikh Tosun Bayrak al-Jerrahi al-Halveti ke bahasa Inggris terhadap kitab Sirr Al-Asraar yang ditulis oleh Syaikh Abd’ al-Qadir al-Jilany ra. yang mashur itu.

Selamat membaca dan semoga bermanfaat bagi sahabat.

DITUJUKAN KEPADA PARA PEMBACA
Kutipan dari Sepucuk Surat Hadrat Abd’ al-Qadir al-Jilany ra.

Hati [qalb] -mu adalah sebuah cermin yang berkilau. Engkau harus membersihkannya dari debu dan kotoran yang telah terkumpul dan melekat di permukaannya karena sesungguhnya ia ditakdirkan untuk memantulkan cahaya ‘Rahasia-Rahasia Ilaahiyyah’.

Manakala cahaya dari … Allah (Yang) adalah cahaya petala langit dan bumi … mulai menerpa seluruh bagian dari hati-mu, pelita hatimu akan mulai menyala. Pelita hati itu … berada di dalam kaca [az-zujajah], dan kaca itu seakan-akan kaukabun [1] yang berkilau …

Selanjutnya di dalam hati-mu itu, sambaran-sambaran petir dan kilat Pengetahuan Ilahiyyah akan dimulai. Sambaran-sambaran ini datang dari awan-awan yang mengandung hujan sebagai makna dari … yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat … dan menerangi pohon pemahaman, cahayanya sangat murni, jernih dan … menerangi walaupun tidak disentuh api [2].

Selanjutnya pelita di hati-mu itu akan menyala dengan sendirinya karena apakah mungkin ada sesuatu yang akan tetap tidak menyala manakala Cahaya dari Rahasia-Rahasia Allah Ta’ala telah menerpanya.

Hanya jika cahaya Rahasia Ilaahiyyah telah menerpanya, kegelapan malam dari Rahasia-Rahasia akan diterangi oleh ribuan bintang yang berkilau … dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk [3] … Bukan bintang itu yang memandu perjalanan melainkan Cahaya itu lah yang memandu. Sebagaimana … Allah telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang [4]… Manakala Pelita Rahasia Ilaahiyyah telah menyala di dalam jiwa mu maka yang selebihnya akan datang, apakah kesemuanya datang secara bersama atau sedikit demi sedikit. Sebagiannya ada yang telah kalian mengerti dan sedangkan yang belum kalian mengerti akan dijelaskan disini.

Bacalah, perhatikanlah, cobalah untuk mengerti.

Kegelapan langitmu oleh sebab ketiadaan pengetahuanmu akan sirna dengan adanya ‘Kehadiran Ilaahiyyah’ dan kedamaian dan keindahan cahaya purnama, yang terbit dari ufuk dan menyalakan … cahaya di atas cahaya [5], merayap di langit mengikuti garis-edarnya sebagaimana yang telah Allah Ta’ala tetapkan [6], sampai kepada puncak kejayaannya di tengah-tengah langit, membubarkan segala kemalasan dan ketidakacuhan. … (Aku bersumpah) demi malam apabila telah sunyi [7] … demi waktu matahari sepenggalah naik [8] … gelapnya malam akibat dari keterlenaanmu akan segera berganti dengan siang hari yang cerah.

Selanjutnya engkau akan menghirup harumnya kesadaran dan pengetahuan akan Allah Ta’ala dan bermohon ampun di waktu sahur [9] atas keterlenaanmu selama ini dan menyesali hidupmu yang telah engkau lalui hanya dengan terlena yang seperti tertidur. Engkau juga akan menikmati lantunan kidung pagi hari dan mendengar mereka mendendangkan:

Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar [10]….. Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki [11]

Selanjutnya dari kaki-langit ‘Pengetahuan Ilahiyyah’ engkau akan menemukan matahari hikmah yang mulai terbit. Dan itu adalah matahari untukmu sebab engkau adalah yang dipilih dan … ditunjuki (oleh) Allah dan engkau … berada di jalan yang benar dan bukan termasuk golongan orang-orang … yang dibiarkan-Nya sesat [12].

Selanjutnya engkau akan memahami rahasia bahwa:

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya [13]

Sampai akhirnya, belenggu yang membelitmu akan terurai sebagaimana … Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu [14] dan kerak-kerak dirimu akan luruh, kepompong yang melingkupimu akan tersingkap untuk menampilkan kehalusan yang selama ini tersembunyi di balik jasadmu; selanjutnya kebenaran sejati [al-haqq] akan menampakkan wajahnya.

Awal dari semuanya ini adalah saat dimana cermin hatimu telah terbersihkan. Cahaya dari ‘Rahasia-Rahasia Ilaahiyyah’ akan menerpanya, sejalan dengan kemauanmu, dan sejalan dengan permohonanmu kepada-Nya karena bersumber hanya dari Dia Ta’ala semata, jika dan hanya jika engkau bersama-Nya.

Catatan Kaki :

1. Kata kaukabun, sering di-alih-bahasa-kan sebagai ‘bintang’ atau ‘bintang-bintang’ akan tetapi sesungguhnya secara pengertian berbeda. Bintang adalah benda langit yang menjadi sumber cahaya sedangkan kaukabun adalah benda langit yang tidak memiliki cahaya sendiri. Ia berpendar karena memantulkan cahaya yang diterimanya dari benda langit lainnya, dengan demikian kaukabun adalah seperti sebuah planet. Sedangkan bintang dalam bahasa arab adalah an-najm dan gugusan bintang-bintang adalah al-buruj. Bulan adalah al-qamar dan matahari adalah asy-syam.
2. Ayat Cahaya, QS.[24]:35
3. QS.[16]:16
4. QS.[37]:6
5. QS.[24]:35
6. QS.[36]:39
7. QS.[93]:2
8. QS.[93]:1
9. QS.[3]:17
10. QS.[51]:17-18
11. QS.[24]:35
12. QS.[7]:178
13. QS.[36]:40
14. QS.[24]:35

Bandung, 20 April 2009 – update 19 Juni 2009
Sumber: The Secrets of Secrets, an interpretation by Syaikh Tosun Bayrak al-Jerrahi al-Halveti of Hadrat Abd’ al-Qadir al-Jilany’s “Sirr Al-Asraar”, The Islamic Text Society, Cambridge, 1992. BY.berandasuluk.blogsome.com

N-Generation | REALITAS KOSMOS

Di film The Matrix, ada dialog antara Morpheus dengan Thomas A. Anderson yang nama panggilannya adalah Neo perihal apa itu ‘kenyataan’ (reality).

Bila yang dimaksudkan dengan ‘kenyataan’ (reality) adalah hal-hal yang bisa disentuh dengan anggota badan atau yang bisa dicium baunya atau yang bisa dikecap dengan lidah atau yang bisa dilihat dengan mata maka yang dimaksud dengan ‘kenyataan’ (reality) tidak lain hanya sekadar impuls-impuls elektrik yang diinterpretasikan oleh akal-pikiran manusia (human-mind). Sebab itu bagi mereka, yang dianggap sebagai ‘kenyataan’ (reality) adalah dunia-matriks (the matrix’s world) yang melingkupinya karena hanya itu yang bisa ditangkap oleh otak mereka.

Tidak lebih dari itu !

Hmm, apa mau dikata …

THE THREE REALITIES
The Tao of Islam, a book by Sachiko Murata

Dalam sebagian besar teks-teks Islam, ada tiga realitas dasar yang selalu dipegang: Allah, kosmos atau makrokosmos, dan manusia atau mikrokosmos. Kita bisa menggambarkan ketiganya ini sebagai tiga sudut dari sebuah segitiga. Yang secara khusus menarik ialah hubungan yang terjalin di antara ketiga sudut. Allah, [admin: Realitas Mutlak – Al Wujud] yang berada di puncak, merup­akan sumber yang menciptakan kedua sudut yang ada di bawah, karena baik makrokosmos maupun mikrokosmos adalah realitas-realitas derivatif. Setiap sudut bisa dikaji dalam hub­ungannya dengan satu atau dua sudut lain­ya.

Gambar segitiga menjadi lebih kompleks lagi oleh fakta bahwa masing-masing dari ketiga realitas itu mempunyai dua dimensi dasar dan bisa dilukiskan sebagai sebuah salib. Sumbu vertikal menggambarkan satu jenis hubungan, dan sumbu horizontal melukriskan jenis hubungan lainnya. Di puncak, sumbu vertikal dibentuk oleh perbedaan antara Esensi Ilahi dan sifat-sifat Ilahi, sementara sumbu horizontal mencerminkan berbagai hubungan antara nama-nama Ilahi komplementer, seperti yang Maha Memuliakan dan yang Maha Menghinakan atau yang Maha Menghidupkan dan yang Maha Mematikan. Bisa ditarik perbedaan-perbedaan paralel baik dalam mikrokosmos maupun makrokosmos. “Langit dan Bumi” atau “Jiwa dan Raga” meng­gambarkan sumbu vertikal, sementara kesal­ing· hubungan antara berbagai realitas pada setiap tataran dan arasy membentuk sejumlah sumbu horizontal. Untuk sementara, penting kiranya memunculkan struktur segitiga dasar dari keseluruhan realitas. Bab-bab berikutnya akan membahas hubungan-hubungan internal dan eksternal.

Tanda-tanda di Cakrawala dan Jiwa

Istilah-istilah paling umum dalam teks-­teks yang ada pada kami uutuk makrokosmos dan mikrokosmos adalah terjemahan literal atau harfiah dalam bahasa Arab atas ungkap­an-ungkapan Yunani: al-’alam al-kabir, “alam besar,” dan al-’alam al-shaghir, “alam kecil”. Sering kali kata ‘lebih besar’ dan ‘lebih kecil’ digunakan sebagai ganti kata ‘besar’ dan ‘kecil’. Ter­kadang, keutamaan diberikan kepada manu­sia. Maka, makrokosmos pun menjadi “ma­nusia besar” (al-insan al-kabir) dan mikro­kosmos menjadi “manusia kecil” (al-insan al-­shaghir) [1]. Istilah makrokosmos sinonim de­ngan dunia atau kosmos, yang biasanya di­definisikan sebagai “segala sesuatu selain Allah.” Manakala pengarang-pengarang kami menggunakan istilah makrokosmos pengganti kosmos, mereka berbuat demikian untuk membuat kontras dengan mikrokosmos. Mi­krokosmos adalah individu manusia, yang melambangkan seluruh kualitas yang dijum­pai dalam shifat-shifat dan asma-asma Allah dan makrokosmos.

Banyak pengarang menyinggung-nying­gung makrokosmos dan mikrokosmos mela­lui ungkapan “cakrawala dan jiwa” (al-afaq wa al-anfus). Ungkapan ini kembali kepada ayat Al-Quran, “Kami akan memperlihatkan tanda-tanda Kami di segenap cakrawala dan dalamjiwa mereka sendiri, sampaijelas bagi mereka bahwa Dia adalah Mahabenar” (QS [41]: 53). “Tanda-tanda” (aayaat) Allah yang di­jumpai baik di dalam maupun di luar diri manusia, merupakan salah satu tema yang di­ulang-ulang dalam AI-Quran. Kitab tersebut menggunakan istilah tanda dalam bentuk tunggal atau jamak sebanyak 288 kali dalam beberapa makna yang berkaitan erat. Sebuah tanda adalah fenomena yang memberitahukan ihwal Allah. Tanda itu bisa berupa seorang nabi, risalah nabi, mukjizat nabi, atau berbagai hal yang ada di dalam alam. Ia bisa bertalian dengan alam lahiriah, makrokosmos, atau alam batiniah, mikrokosmos. “Dan di atas bumi ada tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan juga dalam dirimu. Apakah tiada kamu perhatikan ?” (QS[ 51]: 20-21). Singkat kata, segala sesuatu di alam semesta adalah tanda Allah.

Banyak ayat Al-Quran mengungkapkan gagasan bahwa semua objek alam adalah tanda-tanda Allah. Sangatlah penting mema­hami gagasan ini sebagai fondasi pemikiran Islam, karena ia menetapkan hubungan antara Allah dan kosmos dalam terma-terma yang pasti. Di samping itu, ayat-ayat yang menggu­nakan istilah itu biasanya menyebut-nyebut bagaimana sebaiknya manusia menanggapi tanda-tanda Allah: mengingat, memahami, melihat, bersyukur, merenung, menggunakan akal, beriman dan bertakwa kepada Allah, dan sebagainya. Saya mengutip beberapa contoh untuk men­jelaskan hal ini secara lebih jelas:

Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, supaya kamu pergunakan sebagai pe­nunjuk jalan dalam kegelapan di darat dan di laut. telah Kami jelaskan tanda-tanda (kebe­saran) Kami bagi orang-orang yang mengetahui dan paham” (QS.[6]:97).

Dan tanah yang baik keluarlah darinya tanaman (subur) dengan seizin Rabbnya. Tapi (tanah) yang buruk hanya keluar darinya tanaman yang merana. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kebesaran Kami kepada kaum yang bersyukur” (QS.[S]: 58 ).

Dalam silih berganti malam dan siang, (dalam) segala yang Allah ciptakan di langit dan d bumi, ada tanda-tanda (kebesaran) -Nya bagi orang-orang yang bertakwa (kepada-Nya).” (QS.[10]:6).

Dan segala yang diciptakan-Nya bagimu di bumi yang aneka ragam warnanya, semua itu merupakan tanda (kekuasaan) Allah bagi orang-orang yang menerima peringatan” (QS.[16]:13).

Tiadakah mereka melihat burung-burung terbang patuh di ruang angkasa ? Tiada yang menahan kecuali Allah. Sungguh, semua itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi orang-orang yang beriman” (QS[16]:79)

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran) -­Nya ialah bahwa Dia memperlihatkan kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan. Dia menurunkan hujan dari langit dan -de­ngan itu- memberi hidup kepada bumi se­sudah ia mati. Sungguh, dalam yang demikian itu, ada tanda-tanda bukti bagi orang-orang yang menggunakan akalnya” (QS[30]:24).

Allah mengambil jiwa orang waktu mati­nya, dan jiwa (orang) yang (belum mati), diam­bil-Nya waktu tidurnya. Ditahan-Nya jiwa (orang) yang telah ditentukan kematiannya. Sungguh, semua itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi orang-orang yang menggunakan pikiran” (QS.[39]:42).

Manakala Al-Quran memerintahkan ma­nusia untuk melihat segala sesuatu sebagai tanda-tanda Allah, maka ini berarti bahwa Al­Quran mendorong manusia untuk menggunakan “sebuah proses mental” tertentu yang tidak ditujukan semata-mata pada obyek, hal-hal, atau data. Sebaliknya, Al-Quran menga­takan kepada kita bahwa kita mesti memahami segala sesuatu bukan melulu tentang objeknya sendiri, melainkan juga tentang apa yang da­pat diterangkannya mengenai sesuatu di luar dirinya. Segala sesuatu itu seperti ibarat, per­umpamaan, dan simbol-sirnbol. Sebagaimana dikatakan Lane dalam kamus Arab klasiknya, seraya mengutip seorang otoritas kuno, kata aayah “secara tepat bermakna sesuatu yang tampak adalah tak terpisahkan oleh sesuatu yang tak tampak, sehingga ketika seseorang memahami yang tampak, maka dia tahu bah­wa dia memahami yang tak tampak, di mana yang tak tampak tidak bisa dipahami dengan dirinya sendiri.”Menurut definisi, Allah ti­daklah tampak. Namun, jejak-jejak dan isya­rat-isyarat dari ciptaan-Nya yang mengagum­kan, bisa menghasilkan pemahaman tentang Allah, jika kita memang merenungkannya.

Catatan kaki:
[1] Kadang-kadang manusia dipandang sebagai realitas lebih besar disebabkan keunggulan kualitatif tertentu yan gberkaitan dengan kekholifahan manusia. Kemudian, manusia adalah makrokosmos, dan kosmos adalah mikrokosmos. Misalnya Sam’aanii (Rawh Al-Arwaah 180) menulis, ”Sekalipun struktur manusia itu kecil dari sudut pandang penglihatan Anda, dalam batasan makna, kemuliaan, khazanah dan misteri yang ada di dalamnya, ia adalah kosmos yang lebih besar (’alam-i akbar’).”

(Bandung – 16/02/2009 ….. Source: The Tao of Islam, page 23-26, Sachiko Murata, edisi terjemahan tanpa perubahan redaksional. Kalau berminat bisa membaca secara teks aslinya secara online di link-ini atau di link-ini )

>N-Generation | REALITAS KOSMOS

>

Di film The Matrix, ada dialog antara Morpheus dengan Thomas A. Anderson yang nama panggilannya adalah Neo perihal apa itu ‘kenyataan’ (reality).

Bila yang dimaksudkan dengan ‘kenyataan’ (reality) adalah hal-hal yang bisa disentuh dengan anggota badan atau yang bisa dicium baunya atau yang bisa dikecap dengan lidah atau yang bisa dilihat dengan mata maka yang dimaksud dengan ‘kenyataan’ (reality) tidak lain hanya sekadar impuls-impuls elektrik yang diinterpretasikan oleh akal-pikiran manusia (human-mind). Sebab itu bagi mereka, yang dianggap sebagai ‘kenyataan’ (reality) adalah dunia-matriks (the matrix’s world) yang melingkupinya karena hanya itu yang bisa ditangkap oleh otak mereka.

Tidak lebih dari itu !

Hmm, apa mau dikata …

THE THREE REALITIES
The Tao of Islam, a book by Sachiko Murata

Dalam sebagian besar teks-teks Islam, ada tiga realitas dasar yang selalu dipegang: Allah, kosmos atau makrokosmos, dan manusia atau mikrokosmos. Kita bisa menggambarkan ketiganya ini sebagai tiga sudut dari sebuah segitiga. Yang secara khusus menarik ialah hubungan yang terjalin di antara ketiga sudut. Allah, [admin: Realitas Mutlak – Al Wujud] yang berada di puncak, merup­akan sumber yang menciptakan kedua sudut yang ada di bawah, karena baik makrokosmos maupun mikrokosmos adalah realitas-realitas derivatif. Setiap sudut bisa dikaji dalam hub­ungannya dengan satu atau dua sudut lain­ya.

Gambar segitiga menjadi lebih kompleks lagi oleh fakta bahwa masing-masing dari ketiga realitas itu mempunyai dua dimensi dasar dan bisa dilukiskan sebagai sebuah salib. Sumbu vertikal menggambarkan satu jenis hubungan, dan sumbu horizontal melukriskan jenis hubungan lainnya. Di puncak, sumbu vertikal dibentuk oleh perbedaan antara Esensi Ilahi dan sifat-sifat Ilahi, sementara sumbu horizontal mencerminkan berbagai hubungan antara nama-nama Ilahi komplementer, seperti yang Maha Memuliakan dan yang Maha Menghinakan atau yang Maha Menghidupkan dan yang Maha Mematikan. Bisa ditarik perbedaan-perbedaan paralel baik dalam mikrokosmos maupun makrokosmos. “Langit dan Bumi” atau “Jiwa dan Raga” meng­gambarkan sumbu vertikal, sementara kesal­ing· hubungan antara berbagai realitas pada setiap tataran dan arasy membentuk sejumlah sumbu horizontal. Untuk sementara, penting kiranya memunculkan struktur segitiga dasar dari keseluruhan realitas. Bab-bab berikutnya akan membahas hubungan-hubungan internal dan eksternal.

Tanda-tanda di Cakrawala dan Jiwa

Istilah-istilah paling umum dalam teks-­teks yang ada pada kami uutuk makrokosmos dan mikrokosmos adalah terjemahan literal atau harfiah dalam bahasa Arab atas ungkap­an-ungkapan Yunani: al-’alam al-kabir, “alam besar,” dan al-’alam al-shaghir, “alam kecil”. Sering kali kata ‘lebih besar’ dan ‘lebih kecil’ digunakan sebagai ganti kata ‘besar’ dan ‘kecil’. Ter­kadang, keutamaan diberikan kepada manu­sia. Maka, makrokosmos pun menjadi “ma­nusia besar” (al-insan al-kabir) dan mikro­kosmos menjadi “manusia kecil” (al-insan al-­shaghir) [1]. Istilah makrokosmos sinonim de­ngan dunia atau kosmos, yang biasanya di­definisikan sebagai “segala sesuatu selain Allah.” Manakala pengarang-pengarang kami menggunakan istilah makrokosmos pengganti kosmos, mereka berbuat demikian untuk membuat kontras dengan mikrokosmos. Mi­krokosmos adalah individu manusia, yang melambangkan seluruh kualitas yang dijum­pai dalam shifat-shifat dan asma-asma Allah dan makrokosmos.

Banyak pengarang menyinggung-nying­gung makrokosmos dan mikrokosmos mela­lui ungkapan “cakrawala dan jiwa” (al-afaq wa al-anfus). Ungkapan ini kembali kepada ayat Al-Quran, “Kami akan memperlihatkan tanda-tanda Kami di segenap cakrawala dan dalamjiwa mereka sendiri, sampaijelas bagi mereka bahwa Dia adalah Mahabenar” (QS [41]: 53). “Tanda-tanda” (aayaat) Allah yang di­jumpai baik di dalam maupun di luar diri manusia, merupakan salah satu tema yang di­ulang-ulang dalam AI-Quran. Kitab tersebut menggunakan istilah tanda dalam bentuk tunggal atau jamak sebanyak 288 kali dalam beberapa makna yang berkaitan erat. Sebuah tanda adalah fenomena yang memberitahukan ihwal Allah. Tanda itu bisa berupa seorang nabi, risalah nabi, mukjizat nabi, atau berbagai hal yang ada di dalam alam. Ia bisa bertalian dengan alam lahiriah, makrokosmos, atau alam batiniah, mikrokosmos. “Dan di atas bumi ada tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan juga dalam dirimu. Apakah tiada kamu perhatikan ?” (QS[ 51]: 20-21). Singkat kata, segala sesuatu di alam semesta adalah tanda Allah.

Banyak ayat Al-Quran mengungkapkan gagasan bahwa semua objek alam adalah tanda-tanda Allah. Sangatlah penting mema­hami gagasan ini sebagai fondasi pemikiran Islam, karena ia menetapkan hubungan antara Allah dan kosmos dalam terma-terma yang pasti. Di samping itu, ayat-ayat yang menggu­nakan istilah itu biasanya menyebut-nyebut bagaimana sebaiknya manusia menanggapi tanda-tanda Allah: mengingat, memahami, melihat, bersyukur, merenung, menggunakan akal, beriman dan bertakwa kepada Allah, dan sebagainya. Saya mengutip beberapa contoh untuk men­jelaskan hal ini secara lebih jelas:

Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, supaya kamu pergunakan sebagai pe­nunjuk jalan dalam kegelapan di darat dan di laut. telah Kami jelaskan tanda-tanda (kebe­saran) Kami bagi orang-orang yang mengetahui dan paham” (QS.[6]:97).

Dan tanah yang baik keluarlah darinya tanaman (subur) dengan seizin Rabbnya. Tapi (tanah) yang buruk hanya keluar darinya tanaman yang merana. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kebesaran Kami kepada kaum yang bersyukur” (QS.[S]: 58 ).

Dalam silih berganti malam dan siang, (dalam) segala yang Allah ciptakan di langit dan d bumi, ada tanda-tanda (kebesaran) -Nya bagi orang-orang yang bertakwa (kepada-Nya).” (QS.[10]:6).

Dan segala yang diciptakan-Nya bagimu di bumi yang aneka ragam warnanya, semua itu merupakan tanda (kekuasaan) Allah bagi orang-orang yang menerima peringatan” (QS.[16]:13).

Tiadakah mereka melihat burung-burung terbang patuh di ruang angkasa ? Tiada yang menahan kecuali Allah. Sungguh, semua itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi orang-orang yang beriman” (QS[16]:79)

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran) -­Nya ialah bahwa Dia memperlihatkan kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan. Dia menurunkan hujan dari langit dan -de­ngan itu- memberi hidup kepada bumi se­sudah ia mati. Sungguh, dalam yang demikian itu, ada tanda-tanda bukti bagi orang-orang yang menggunakan akalnya” (QS[30]:24).

Allah mengambil jiwa orang waktu mati­nya, dan jiwa (orang) yang (belum mati), diam­bil-Nya waktu tidurnya. Ditahan-Nya jiwa (orang) yang telah ditentukan kematiannya. Sungguh, semua itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi orang-orang yang menggunakan pikiran” (QS.[39]:42).

Manakala Al-Quran memerintahkan ma­nusia untuk melihat segala sesuatu sebagai tanda-tanda Allah, maka ini berarti bahwa Al­Quran mendorong manusia untuk menggunakan “sebuah proses mental” tertentu yang tidak ditujukan semata-mata pada obyek, hal-hal, atau data. Sebaliknya, Al-Quran menga­takan kepada kita bahwa kita mesti memahami segala sesuatu bukan melulu tentang objeknya sendiri, melainkan juga tentang apa yang da­pat diterangkannya mengenai sesuatu di luar dirinya. Segala sesuatu itu seperti ibarat, per­umpamaan, dan simbol-sirnbol. Sebagaimana dikatakan Lane dalam kamus Arab klasiknya, seraya mengutip seorang otoritas kuno, kata aayah “secara tepat bermakna sesuatu yang tampak adalah tak terpisahkan oleh sesuatu yang tak tampak, sehingga ketika seseorang memahami yang tampak, maka dia tahu bah­wa dia memahami yang tak tampak, di mana yang tak tampak tidak bisa dipahami dengan dirinya sendiri.”Menurut definisi, Allah ti­daklah tampak. Namun, jejak-jejak dan isya­rat-isyarat dari ciptaan-Nya yang mengagum­kan, bisa menghasilkan pemahaman tentang Allah, jika kita memang merenungkannya.

Catatan kaki:
[1] Kadang-kadang manusia dipandang sebagai realitas lebih besar disebabkan keunggulan kualitatif tertentu yan gberkaitan dengan kekholifahan manusia. Kemudian, manusia adalah makrokosmos, dan kosmos adalah mikrokosmos. Misalnya Sam’aanii (Rawh Al-Arwaah 180) menulis, ”Sekalipun struktur manusia itu kecil dari sudut pandang penglihatan Anda, dalam batasan makna, kemuliaan, khazanah dan misteri yang ada di dalamnya, ia adalah kosmos yang lebih besar (’alam-i akbar’).”

(Bandung – 16/02/2009 ….. Source: The Tao of Islam, page 23-26, Sachiko Murata, edisi terjemahan tanpa perubahan redaksional. Kalau berminat bisa membaca secara teks aslinya secara online di link-ini atau di link-ini )

>N-Generation | REALITAS KOSMOS

>

Di film The Matrix, ada dialog antara Morpheus dengan Thomas A. Anderson yang nama panggilannya adalah Neo perihal apa itu ‘kenyataan’ (reality).

Bila yang dimaksudkan dengan ‘kenyataan’ (reality) adalah hal-hal yang bisa disentuh dengan anggota badan atau yang bisa dicium baunya atau yang bisa dikecap dengan lidah atau yang bisa dilihat dengan mata maka yang dimaksud dengan ‘kenyataan’ (reality) tidak lain hanya sekadar impuls-impuls elektrik yang diinterpretasikan oleh akal-pikiran manusia (human-mind). Sebab itu bagi mereka, yang dianggap sebagai ‘kenyataan’ (reality) adalah dunia-matriks (the matrix’s world) yang melingkupinya karena hanya itu yang bisa ditangkap oleh otak mereka.

Tidak lebih dari itu !

Hmm, apa mau dikata …

THE THREE REALITIES
The Tao of Islam, a book by Sachiko Murata

Dalam sebagian besar teks-teks Islam, ada tiga realitas dasar yang selalu dipegang: Allah, kosmos atau makrokosmos, dan manusia atau mikrokosmos. Kita bisa menggambarkan ketiganya ini sebagai tiga sudut dari sebuah segitiga. Yang secara khusus menarik ialah hubungan yang terjalin di antara ketiga sudut. Allah, [admin: Realitas Mutlak – Al Wujud] yang berada di puncak, merup­akan sumber yang menciptakan kedua sudut yang ada di bawah, karena baik makrokosmos maupun mikrokosmos adalah realitas-realitas derivatif. Setiap sudut bisa dikaji dalam hub­ungannya dengan satu atau dua sudut lain­ya.

Gambar segitiga menjadi lebih kompleks lagi oleh fakta bahwa masing-masing dari ketiga realitas itu mempunyai dua dimensi dasar dan bisa dilukiskan sebagai sebuah salib. Sumbu vertikal menggambarkan satu jenis hubungan, dan sumbu horizontal melukriskan jenis hubungan lainnya. Di puncak, sumbu vertikal dibentuk oleh perbedaan antara Esensi Ilahi dan sifat-sifat Ilahi, sementara sumbu horizontal mencerminkan berbagai hubungan antara nama-nama Ilahi komplementer, seperti yang Maha Memuliakan dan yang Maha Menghinakan atau yang Maha Menghidupkan dan yang Maha Mematikan. Bisa ditarik perbedaan-perbedaan paralel baik dalam mikrokosmos maupun makrokosmos. “Langit dan Bumi” atau “Jiwa dan Raga” meng­gambarkan sumbu vertikal, sementara kesal­ing· hubungan antara berbagai realitas pada setiap tataran dan arasy membentuk sejumlah sumbu horizontal. Untuk sementara, penting kiranya memunculkan struktur segitiga dasar dari keseluruhan realitas. Bab-bab berikutnya akan membahas hubungan-hubungan internal dan eksternal.

Tanda-tanda di Cakrawala dan Jiwa

Istilah-istilah paling umum dalam teks-­teks yang ada pada kami uutuk makrokosmos dan mikrokosmos adalah terjemahan literal atau harfiah dalam bahasa Arab atas ungkap­an-ungkapan Yunani: al-’alam al-kabir, “alam besar,” dan al-’alam al-shaghir, “alam kecil”. Sering kali kata ‘lebih besar’ dan ‘lebih kecil’ digunakan sebagai ganti kata ‘besar’ dan ‘kecil’. Ter­kadang, keutamaan diberikan kepada manu­sia. Maka, makrokosmos pun menjadi “ma­nusia besar” (al-insan al-kabir) dan mikro­kosmos menjadi “manusia kecil” (al-insan al-­shaghir) [1]. Istilah makrokosmos sinonim de­ngan dunia atau kosmos, yang biasanya di­definisikan sebagai “segala sesuatu selain Allah.” Manakala pengarang-pengarang kami menggunakan istilah makrokosmos pengganti kosmos, mereka berbuat demikian untuk membuat kontras dengan mikrokosmos. Mi­krokosmos adalah individu manusia, yang melambangkan seluruh kualitas yang dijum­pai dalam shifat-shifat dan asma-asma Allah dan makrokosmos.

Banyak pengarang menyinggung-nying­gung makrokosmos dan mikrokosmos mela­lui ungkapan “cakrawala dan jiwa” (al-afaq wa al-anfus). Ungkapan ini kembali kepada ayat Al-Quran, “Kami akan memperlihatkan tanda-tanda Kami di segenap cakrawala dan dalamjiwa mereka sendiri, sampaijelas bagi mereka bahwa Dia adalah Mahabenar” (QS [41]: 53). “Tanda-tanda” (aayaat) Allah yang di­jumpai baik di dalam maupun di luar diri manusia, merupakan salah satu tema yang di­ulang-ulang dalam AI-Quran. Kitab tersebut menggunakan istilah tanda dalam bentuk tunggal atau jamak sebanyak 288 kali dalam beberapa makna yang berkaitan erat. Sebuah tanda adalah fenomena yang memberitahukan ihwal Allah. Tanda itu bisa berupa seorang nabi, risalah nabi, mukjizat nabi, atau berbagai hal yang ada di dalam alam. Ia bisa bertalian dengan alam lahiriah, makrokosmos, atau alam batiniah, mikrokosmos. “Dan di atas bumi ada tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan juga dalam dirimu. Apakah tiada kamu perhatikan ?” (QS[ 51]: 20-21). Singkat kata, segala sesuatu di alam semesta adalah tanda Allah.

Banyak ayat Al-Quran mengungkapkan gagasan bahwa semua objek alam adalah tanda-tanda Allah. Sangatlah penting mema­hami gagasan ini sebagai fondasi pemikiran Islam, karena ia menetapkan hubungan antara Allah dan kosmos dalam terma-terma yang pasti. Di samping itu, ayat-ayat yang menggu­nakan istilah itu biasanya menyebut-nyebut bagaimana sebaiknya manusia menanggapi tanda-tanda Allah: mengingat, memahami, melihat, bersyukur, merenung, menggunakan akal, beriman dan bertakwa kepada Allah, dan sebagainya. Saya mengutip beberapa contoh untuk men­jelaskan hal ini secara lebih jelas:

Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, supaya kamu pergunakan sebagai pe­nunjuk jalan dalam kegelapan di darat dan di laut. telah Kami jelaskan tanda-tanda (kebe­saran) Kami bagi orang-orang yang mengetahui dan paham” (QS.[6]:97).

Dan tanah yang baik keluarlah darinya tanaman (subur) dengan seizin Rabbnya. Tapi (tanah) yang buruk hanya keluar darinya tanaman yang merana. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kebesaran Kami kepada kaum yang bersyukur” (QS.[S]: 58 ).

Dalam silih berganti malam dan siang, (dalam) segala yang Allah ciptakan di langit dan d bumi, ada tanda-tanda (kebesaran) -Nya bagi orang-orang yang bertakwa (kepada-Nya).” (QS.[10]:6).

Dan segala yang diciptakan-Nya bagimu di bumi yang aneka ragam warnanya, semua itu merupakan tanda (kekuasaan) Allah bagi orang-orang yang menerima peringatan” (QS.[16]:13).

Tiadakah mereka melihat burung-burung terbang patuh di ruang angkasa ? Tiada yang menahan kecuali Allah. Sungguh, semua itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi orang-orang yang beriman” (QS[16]:79)

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran) -­Nya ialah bahwa Dia memperlihatkan kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan. Dia menurunkan hujan dari langit dan -de­ngan itu- memberi hidup kepada bumi se­sudah ia mati. Sungguh, dalam yang demikian itu, ada tanda-tanda bukti bagi orang-orang yang menggunakan akalnya” (QS[30]:24).

Allah mengambil jiwa orang waktu mati­nya, dan jiwa (orang) yang (belum mati), diam­bil-Nya waktu tidurnya. Ditahan-Nya jiwa (orang) yang telah ditentukan kematiannya. Sungguh, semua itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi orang-orang yang menggunakan pikiran” (QS.[39]:42).

Manakala Al-Quran memerintahkan ma­nusia untuk melihat segala sesuatu sebagai tanda-tanda Allah, maka ini berarti bahwa Al­Quran mendorong manusia untuk menggunakan “sebuah proses mental” tertentu yang tidak ditujukan semata-mata pada obyek, hal-hal, atau data. Sebaliknya, Al-Quran menga­takan kepada kita bahwa kita mesti memahami segala sesuatu bukan melulu tentang objeknya sendiri, melainkan juga tentang apa yang da­pat diterangkannya mengenai sesuatu di luar dirinya. Segala sesuatu itu seperti ibarat, per­umpamaan, dan simbol-sirnbol. Sebagaimana dikatakan Lane dalam kamus Arab klasiknya, seraya mengutip seorang otoritas kuno, kata aayah “secara tepat bermakna sesuatu yang tampak adalah tak terpisahkan oleh sesuatu yang tak tampak, sehingga ketika seseorang memahami yang tampak, maka dia tahu bah­wa dia memahami yang tak tampak, di mana yang tak tampak tidak bisa dipahami dengan dirinya sendiri.”Menurut definisi, Allah ti­daklah tampak. Namun, jejak-jejak dan isya­rat-isyarat dari ciptaan-Nya yang mengagum­kan, bisa menghasilkan pemahaman tentang Allah, jika kita memang merenungkannya.

Catatan kaki:
[1] Kadang-kadang manusia dipandang sebagai realitas lebih besar disebabkan keunggulan kualitatif tertentu yan gberkaitan dengan kekholifahan manusia. Kemudian, manusia adalah makrokosmos, dan kosmos adalah mikrokosmos. Misalnya Sam’aanii (Rawh Al-Arwaah 180) menulis, ”Sekalipun struktur manusia itu kecil dari sudut pandang penglihatan Anda, dalam batasan makna, kemuliaan, khazanah dan misteri yang ada di dalamnya, ia adalah kosmos yang lebih besar (’alam-i akbar’).”

(Bandung – 16/02/2009 ….. Source: The Tao of Islam, page 23-26, Sachiko Murata, edisi terjemahan tanpa perubahan redaksional. Kalau berminat bisa membaca secara teks aslinya secara online di link-ini atau di link-ini )