KUNCI SUKSES MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH

Manusia memiliki dua tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan baik, yaitu: Pertama, manusia sebagai hamba (‘abid), di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara vertikal dengan Tuhan; Kedua, manusia sebagai khalifah, di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara horizontal dengan sesama mahluk. Tidak akan sukses sebagai hamba, jika seseorang gagal dalam menjalani tugasnya sebagai khalifah. Begitu juga sebaliknya, tidak akan sukses sebagai khalifah, jika seseorang gagal menjalin hubungan sebagai hamba dengan Tuhan. Manusia yang paripurna atau manusia seutuhnya (insan kamil) adalah orang yang sukses sebagai hamba juga sebagai khalifah.

Tidak dibenarkan orang yang taat kepada Allah, sementara dia mengabaikan problematika sosial kemasyarakatan. Demikian juga, tidak dibenarkan orang yang selalu memperhatikan urusan sosial kemasyarakatan, sementara dia tidak pernah menjalin hubungan personal dengan Tuhannya. Islam menghendaki umatnya agar memiliki hubungan kepada Allah yang baik, juga memiliki perhatian terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan.

Kekhawatiran Malaikat
Malaikat memberikan peringatan kepada kita bahwa sekufur apapun seorang manusia itu tidak akan pernah menjadi kafir mutlak. Sekufur apapun seorang atheis, pasti dalam jiwanya ada sisi-sisi ketuhanan. Oleh karena itu, malaikat tidak meragukan apakah manusia itu bisa berhubungan langsung kepada Tuhan atau tidak, karena itu sebuah kemutlakan. Akan tetapi, malaikat menyangsikan kemampuan manusia akan bisa sukses menjadi khalifah di muka bumi ini.

Allah Swt. menyatakan: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di dalamnya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Ayat di atas menjelaskan bahwa ketika Tuhan menyampaikan maksudnya akan menciptakan mahluk pendatang baru (manusia), maka Malaikat langsung merasa keberatan terhadap dua hal, yaitu: Pertama, bukankah manusia itu bisa menyebabkan perusakan lingkungan di muka bumi; Kedua, bukankah manusia itu bisa melahirkan pertumpahan darah antar sesamanya.

Ayat ini agaknya cukup relevan dengan kondisi saat ini. Bencana alam dan problematika sosial kemasyarakatam yang terjadi agaknya membenarkan kekhawatiran Malaikat itu. Kita baru saja menyaksikan peristiwa longsor dan banjir di sebagian wilayah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, gempa bumi di sebagian pulau Bali dan Nusa Tenggara baru-baru ini, konflik yang tiada henti di propinsi Aceh, dan berbagai konflik etnis di sebagian daerah Indonesia lainnya beberapa tahun yang lalu. Semua itu sedikit banyak membenarkan apa yang disampaikan Malaikat di atas.

Kata Kunci Sukses
Bagaimana menciptakan manusia yang sukses, baik dalam menjalankan tugasnya sebagai hamba maupun sebagai khalifah. Ada sebuah statement yang seringkali dihafal dan dibaca oleh kita sebagai kata kunci untuk sukses, yakni lafadz bismillahirrahmanirrahim (basmalah).

Rasulullah bersabda, apapun yang akan kita lakukan hendaknya membaca basmalah. Bahkan, tidak hanya Rasulullah, para Nabi sebelumnya pun sangat akrab dengan basmalah. Ketika membuat perahu di atas bukit, di mana saat itu belum ada mesin, Nabi Nuh As. membaca basmalah, yakni bismillahi majraha wa mursaha, dan langsung perahu itu meluncur. Dalam riwayat lain disebutkan, pegangan tongkat Nabi Musa As. terdapat ukiran yang bertuliskan bismillahirrahmanirrahim. Ketika menghidupkan orang mati, Nabi Isa As. membaca basmalah. Begitu juga, yang digunakan oleh Nabi Sulaiman As. untuk menundukkan jiwa Ratu Balqis adalah basmalah, dan Ratu Balqis pun langsung takluk.

Intisari Basmalah
Jika kita melakukan sesuatu dengan menyebut nama Allah, berarti kita mengatasnamakan perbuatan kita kepada-Nya, jadi seakan-akan kita mewakili Allah. Ini sesuai dengan arti khalifah sendiri, yaitu representasi Tuhan di muka bumi. Satu-satunya mahluk yang diciptakan khusus untuk menjadi wakil (representasi) Tuhan di alam raya ini adalah manusia, bukan malaikat, jin, dan bukan pula mahluk lainnya. Itulah rahasia manusia sebagai ahsan at-taqwim, mahluk yang termulia.

Oleh karena itu, kita harus hati-hati setiap melakukan sesuatu. Sebab, apapun yang kita lakukan itu mengatasnamakan Allah Swt. Apapun yang kita lakukan hendaknya mengimplementasikan lafadz basmalah, misalnya dalam menentukan sebuah keputusan yang diambil. Jadi, bismillahirrahmanirrahim adalah satu kunci sukses yang diajarkan oleh agama kita, baik sebagai hamba (‘abid) maupun sebagai khalifah.

Dalam buku-buku tasawuf dijelaskan bahwa kandungan pokok al-Quran terdapat pada surat al-Fatihah. Pada surat itu, kalimat yang paling penting adalah bismillahirrahmanirrahim. Dalam kalimat itu, kata yang paling inti adalah ar-rahman dan ar-rahim. Dua kata tersebut berakar dari kata yang sama, yaitu rahima yang berarti “cinta kasih”. Dengan demikian, makna dibalik lafadz basmalah adalah “kerjakanlah semua perbuatan itu dengan penuh cinta kasih”. Sebab, di dalam “cinta kasih” pasti terkandung unsur keikhlasan, niat yang baik, ketenangan, tidak ada dendam, tidak ada pamrih yang berlebihan, dan tidak atas dasar motivasi yang berjangka pendek, tetapi mengupayakan yang abadi dan universal.

Allah ternyata menggunakan lafadz basmalah, tidak dengan sebutan lafadz-lafadz lain, seperti al-‘aziz, al-ghafar, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa dalam mengelola alam raya, sebagai konsekuensi sebagai khalifah, kita harus menyandarkan pada lafadz basmalah, yakni dengan penuh kasih sayang.

Kita seringkali tidak melandaskan pada kasih sayang dalam menentukan keputusan. Begitu melihat pohon raksasa di tengah-tengah hutan, yang terbayang dalam benak kita berapa meter kubik kayu yang bisa diambil dan berapa dollar yang bisa diraup jika diekspor, dengan tanpa pernah mempertimbangkan berapa banyak habitat hewan dan tumbuhan yang hidupnya tergantung pada pohon tersebut. Begitu pula ketika kita melihat hamparan tanah kosong daerah resapan air, yang terlintas di pikiran kita berapa kavling rumah yang bisa dibangun dan berapa juta yang didapat bila dijual atau disewakan, dengan tanpa pernah sedikitpun mempertimbangkan efeknya terhadap keseimbangan ekosistem di lingkungan tersebut, sehingga terjadi banjir suatu waktu karena tanah tidak lagi bisa meresapkan air hujan yang turun.

Inti bismillahirrahmanirrahim adalah bagaimana kita bisa menginternalisasikan sifat kasih sayang Tuhan dalam setiap perbuatan. Kenapa Tuhan tidak begitu saja menyiksa orang-orang yang kafir terhadap-Nya? Tiada lain, karena Tuhan lebih dominan menunjukkan diri-Nya sebagai Maha Penyayang daripada Maha Pembalas Dendam. Nilai inilah yang patut ditiru.

Akhirnya, posisi kita sebagai khalifah di muka bumi hendaknya berpegang teguh pada konsep basmalah. Sebuah konsep yang tidak saja meniscayakan sekedar ucapan biasa, tetapi implementasi dalam setiap perbuatan kita. Bârakallâhu lî wa lakum, wallâhu a’lam bishshawwâb.

Sumber :
Ditulis oleh Ustadz Nasaruddin Umar.

Iklan

>KUNCI SUKSES MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH

>

Manusia memiliki dua tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan baik, yaitu: Pertama, manusia sebagai hamba (‘abid), di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara vertikal dengan Tuhan; Kedua, manusia sebagai khalifah, di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara horizontal dengan sesama mahluk. Tidak akan sukses sebagai hamba, jika seseorang gagal dalam menjalani tugasnya sebagai khalifah. Begitu juga sebaliknya, tidak akan sukses sebagai khalifah, jika seseorang gagal menjalin hubungan sebagai hamba dengan Tuhan. Manusia yang paripurna atau manusia seutuhnya (insan kamil) adalah orang yang sukses sebagai hamba juga sebagai khalifah.

Tidak dibenarkan orang yang taat kepada Allah, sementara dia mengabaikan problematika sosial kemasyarakatan. Demikian juga, tidak dibenarkan orang yang selalu memperhatikan urusan sosial kemasyarakatan, sementara dia tidak pernah menjalin hubungan personal dengan Tuhannya. Islam menghendaki umatnya agar memiliki hubungan kepada Allah yang baik, juga memiliki perhatian terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan.

Kekhawatiran Malaikat
Malaikat memberikan peringatan kepada kita bahwa sekufur apapun seorang manusia itu tidak akan pernah menjadi kafir mutlak. Sekufur apapun seorang atheis, pasti dalam jiwanya ada sisi-sisi ketuhanan. Oleh karena itu, malaikat tidak meragukan apakah manusia itu bisa berhubungan langsung kepada Tuhan atau tidak, karena itu sebuah kemutlakan. Akan tetapi, malaikat menyangsikan kemampuan manusia akan bisa sukses menjadi khalifah di muka bumi ini.

Allah Swt. menyatakan: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di dalamnya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Ayat di atas menjelaskan bahwa ketika Tuhan menyampaikan maksudnya akan menciptakan mahluk pendatang baru (manusia), maka Malaikat langsung merasa keberatan terhadap dua hal, yaitu: Pertama, bukankah manusia itu bisa menyebabkan perusakan lingkungan di muka bumi; Kedua, bukankah manusia itu bisa melahirkan pertumpahan darah antar sesamanya.

Ayat ini agaknya cukup relevan dengan kondisi saat ini. Bencana alam dan problematika sosial kemasyarakatam yang terjadi agaknya membenarkan kekhawatiran Malaikat itu. Kita baru saja menyaksikan peristiwa longsor dan banjir di sebagian wilayah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, gempa bumi di sebagian pulau Bali dan Nusa Tenggara baru-baru ini, konflik yang tiada henti di propinsi Aceh, dan berbagai konflik etnis di sebagian daerah Indonesia lainnya beberapa tahun yang lalu. Semua itu sedikit banyak membenarkan apa yang disampaikan Malaikat di atas.

Kata Kunci Sukses
Bagaimana menciptakan manusia yang sukses, baik dalam menjalankan tugasnya sebagai hamba maupun sebagai khalifah. Ada sebuah statement yang seringkali dihafal dan dibaca oleh kita sebagai kata kunci untuk sukses, yakni lafadz bismillahirrahmanirrahim (basmalah).

Rasulullah bersabda, apapun yang akan kita lakukan hendaknya membaca basmalah. Bahkan, tidak hanya Rasulullah, para Nabi sebelumnya pun sangat akrab dengan basmalah. Ketika membuat perahu di atas bukit, di mana saat itu belum ada mesin, Nabi Nuh As. membaca basmalah, yakni bismillahi majraha wa mursaha, dan langsung perahu itu meluncur. Dalam riwayat lain disebutkan, pegangan tongkat Nabi Musa As. terdapat ukiran yang bertuliskan bismillahirrahmanirrahim. Ketika menghidupkan orang mati, Nabi Isa As. membaca basmalah. Begitu juga, yang digunakan oleh Nabi Sulaiman As. untuk menundukkan jiwa Ratu Balqis adalah basmalah, dan Ratu Balqis pun langsung takluk.

Intisari Basmalah
Jika kita melakukan sesuatu dengan menyebut nama Allah, berarti kita mengatasnamakan perbuatan kita kepada-Nya, jadi seakan-akan kita mewakili Allah. Ini sesuai dengan arti khalifah sendiri, yaitu representasi Tuhan di muka bumi. Satu-satunya mahluk yang diciptakan khusus untuk menjadi wakil (representasi) Tuhan di alam raya ini adalah manusia, bukan malaikat, jin, dan bukan pula mahluk lainnya. Itulah rahasia manusia sebagai ahsan at-taqwim, mahluk yang termulia.

Oleh karena itu, kita harus hati-hati setiap melakukan sesuatu. Sebab, apapun yang kita lakukan itu mengatasnamakan Allah Swt. Apapun yang kita lakukan hendaknya mengimplementasikan lafadz basmalah, misalnya dalam menentukan sebuah keputusan yang diambil. Jadi, bismillahirrahmanirrahim adalah satu kunci sukses yang diajarkan oleh agama kita, baik sebagai hamba (‘abid) maupun sebagai khalifah.

Dalam buku-buku tasawuf dijelaskan bahwa kandungan pokok al-Quran terdapat pada surat al-Fatihah. Pada surat itu, kalimat yang paling penting adalah bismillahirrahmanirrahim. Dalam kalimat itu, kata yang paling inti adalah ar-rahman dan ar-rahim. Dua kata tersebut berakar dari kata yang sama, yaitu rahima yang berarti “cinta kasih”. Dengan demikian, makna dibalik lafadz basmalah adalah “kerjakanlah semua perbuatan itu dengan penuh cinta kasih”. Sebab, di dalam “cinta kasih” pasti terkandung unsur keikhlasan, niat yang baik, ketenangan, tidak ada dendam, tidak ada pamrih yang berlebihan, dan tidak atas dasar motivasi yang berjangka pendek, tetapi mengupayakan yang abadi dan universal.

Allah ternyata menggunakan lafadz basmalah, tidak dengan sebutan lafadz-lafadz lain, seperti al-‘aziz, al-ghafar, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa dalam mengelola alam raya, sebagai konsekuensi sebagai khalifah, kita harus menyandarkan pada lafadz basmalah, yakni dengan penuh kasih sayang.

Kita seringkali tidak melandaskan pada kasih sayang dalam menentukan keputusan. Begitu melihat pohon raksasa di tengah-tengah hutan, yang terbayang dalam benak kita berapa meter kubik kayu yang bisa diambil dan berapa dollar yang bisa diraup jika diekspor, dengan tanpa pernah mempertimbangkan berapa banyak habitat hewan dan tumbuhan yang hidupnya tergantung pada pohon tersebut. Begitu pula ketika kita melihat hamparan tanah kosong daerah resapan air, yang terlintas di pikiran kita berapa kavling rumah yang bisa dibangun dan berapa juta yang didapat bila dijual atau disewakan, dengan tanpa pernah sedikitpun mempertimbangkan efeknya terhadap keseimbangan ekosistem di lingkungan tersebut, sehingga terjadi banjir suatu waktu karena tanah tidak lagi bisa meresapkan air hujan yang turun.

Inti bismillahirrahmanirrahim adalah bagaimana kita bisa menginternalisasikan sifat kasih sayang Tuhan dalam setiap perbuatan. Kenapa Tuhan tidak begitu saja menyiksa orang-orang yang kafir terhadap-Nya? Tiada lain, karena Tuhan lebih dominan menunjukkan diri-Nya sebagai Maha Penyayang daripada Maha Pembalas Dendam. Nilai inilah yang patut ditiru.

Akhirnya, posisi kita sebagai khalifah di muka bumi hendaknya berpegang teguh pada konsep basmalah. Sebuah konsep yang tidak saja meniscayakan sekedar ucapan biasa, tetapi implementasi dalam setiap perbuatan kita. Bârakallâhu lî wa lakum, wallâhu a’lam bishshawwâb.

Sumber :
Ditulis oleh Ustadz Nasaruddin Umar.

>KUNCI SUKSES MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH

>

Manusia memiliki dua tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan baik, yaitu: Pertama, manusia sebagai hamba (‘abid), di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara vertikal dengan Tuhan; Kedua, manusia sebagai khalifah, di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara horizontal dengan sesama mahluk. Tidak akan sukses sebagai hamba, jika seseorang gagal dalam menjalani tugasnya sebagai khalifah. Begitu juga sebaliknya, tidak akan sukses sebagai khalifah, jika seseorang gagal menjalin hubungan sebagai hamba dengan Tuhan. Manusia yang paripurna atau manusia seutuhnya (insan kamil) adalah orang yang sukses sebagai hamba juga sebagai khalifah.

Tidak dibenarkan orang yang taat kepada Allah, sementara dia mengabaikan problematika sosial kemasyarakatan. Demikian juga, tidak dibenarkan orang yang selalu memperhatikan urusan sosial kemasyarakatan, sementara dia tidak pernah menjalin hubungan personal dengan Tuhannya. Islam menghendaki umatnya agar memiliki hubungan kepada Allah yang baik, juga memiliki perhatian terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan.

Kekhawatiran Malaikat
Malaikat memberikan peringatan kepada kita bahwa sekufur apapun seorang manusia itu tidak akan pernah menjadi kafir mutlak. Sekufur apapun seorang atheis, pasti dalam jiwanya ada sisi-sisi ketuhanan. Oleh karena itu, malaikat tidak meragukan apakah manusia itu bisa berhubungan langsung kepada Tuhan atau tidak, karena itu sebuah kemutlakan. Akan tetapi, malaikat menyangsikan kemampuan manusia akan bisa sukses menjadi khalifah di muka bumi ini.

Allah Swt. menyatakan: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di dalamnya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Ayat di atas menjelaskan bahwa ketika Tuhan menyampaikan maksudnya akan menciptakan mahluk pendatang baru (manusia), maka Malaikat langsung merasa keberatan terhadap dua hal, yaitu: Pertama, bukankah manusia itu bisa menyebabkan perusakan lingkungan di muka bumi; Kedua, bukankah manusia itu bisa melahirkan pertumpahan darah antar sesamanya.

Ayat ini agaknya cukup relevan dengan kondisi saat ini. Bencana alam dan problematika sosial kemasyarakatam yang terjadi agaknya membenarkan kekhawatiran Malaikat itu. Kita baru saja menyaksikan peristiwa longsor dan banjir di sebagian wilayah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, gempa bumi di sebagian pulau Bali dan Nusa Tenggara baru-baru ini, konflik yang tiada henti di propinsi Aceh, dan berbagai konflik etnis di sebagian daerah Indonesia lainnya beberapa tahun yang lalu. Semua itu sedikit banyak membenarkan apa yang disampaikan Malaikat di atas.

Kata Kunci Sukses
Bagaimana menciptakan manusia yang sukses, baik dalam menjalankan tugasnya sebagai hamba maupun sebagai khalifah. Ada sebuah statement yang seringkali dihafal dan dibaca oleh kita sebagai kata kunci untuk sukses, yakni lafadz bismillahirrahmanirrahim (basmalah).

Rasulullah bersabda, apapun yang akan kita lakukan hendaknya membaca basmalah. Bahkan, tidak hanya Rasulullah, para Nabi sebelumnya pun sangat akrab dengan basmalah. Ketika membuat perahu di atas bukit, di mana saat itu belum ada mesin, Nabi Nuh As. membaca basmalah, yakni bismillahi majraha wa mursaha, dan langsung perahu itu meluncur. Dalam riwayat lain disebutkan, pegangan tongkat Nabi Musa As. terdapat ukiran yang bertuliskan bismillahirrahmanirrahim. Ketika menghidupkan orang mati, Nabi Isa As. membaca basmalah. Begitu juga, yang digunakan oleh Nabi Sulaiman As. untuk menundukkan jiwa Ratu Balqis adalah basmalah, dan Ratu Balqis pun langsung takluk.

Intisari Basmalah
Jika kita melakukan sesuatu dengan menyebut nama Allah, berarti kita mengatasnamakan perbuatan kita kepada-Nya, jadi seakan-akan kita mewakili Allah. Ini sesuai dengan arti khalifah sendiri, yaitu representasi Tuhan di muka bumi. Satu-satunya mahluk yang diciptakan khusus untuk menjadi wakil (representasi) Tuhan di alam raya ini adalah manusia, bukan malaikat, jin, dan bukan pula mahluk lainnya. Itulah rahasia manusia sebagai ahsan at-taqwim, mahluk yang termulia.

Oleh karena itu, kita harus hati-hati setiap melakukan sesuatu. Sebab, apapun yang kita lakukan itu mengatasnamakan Allah Swt. Apapun yang kita lakukan hendaknya mengimplementasikan lafadz basmalah, misalnya dalam menentukan sebuah keputusan yang diambil. Jadi, bismillahirrahmanirrahim adalah satu kunci sukses yang diajarkan oleh agama kita, baik sebagai hamba (‘abid) maupun sebagai khalifah.

Dalam buku-buku tasawuf dijelaskan bahwa kandungan pokok al-Quran terdapat pada surat al-Fatihah. Pada surat itu, kalimat yang paling penting adalah bismillahirrahmanirrahim. Dalam kalimat itu, kata yang paling inti adalah ar-rahman dan ar-rahim. Dua kata tersebut berakar dari kata yang sama, yaitu rahima yang berarti “cinta kasih”. Dengan demikian, makna dibalik lafadz basmalah adalah “kerjakanlah semua perbuatan itu dengan penuh cinta kasih”. Sebab, di dalam “cinta kasih” pasti terkandung unsur keikhlasan, niat yang baik, ketenangan, tidak ada dendam, tidak ada pamrih yang berlebihan, dan tidak atas dasar motivasi yang berjangka pendek, tetapi mengupayakan yang abadi dan universal.

Allah ternyata menggunakan lafadz basmalah, tidak dengan sebutan lafadz-lafadz lain, seperti al-‘aziz, al-ghafar, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa dalam mengelola alam raya, sebagai konsekuensi sebagai khalifah, kita harus menyandarkan pada lafadz basmalah, yakni dengan penuh kasih sayang.

Kita seringkali tidak melandaskan pada kasih sayang dalam menentukan keputusan. Begitu melihat pohon raksasa di tengah-tengah hutan, yang terbayang dalam benak kita berapa meter kubik kayu yang bisa diambil dan berapa dollar yang bisa diraup jika diekspor, dengan tanpa pernah mempertimbangkan berapa banyak habitat hewan dan tumbuhan yang hidupnya tergantung pada pohon tersebut. Begitu pula ketika kita melihat hamparan tanah kosong daerah resapan air, yang terlintas di pikiran kita berapa kavling rumah yang bisa dibangun dan berapa juta yang didapat bila dijual atau disewakan, dengan tanpa pernah sedikitpun mempertimbangkan efeknya terhadap keseimbangan ekosistem di lingkungan tersebut, sehingga terjadi banjir suatu waktu karena tanah tidak lagi bisa meresapkan air hujan yang turun.

Inti bismillahirrahmanirrahim adalah bagaimana kita bisa menginternalisasikan sifat kasih sayang Tuhan dalam setiap perbuatan. Kenapa Tuhan tidak begitu saja menyiksa orang-orang yang kafir terhadap-Nya? Tiada lain, karena Tuhan lebih dominan menunjukkan diri-Nya sebagai Maha Penyayang daripada Maha Pembalas Dendam. Nilai inilah yang patut ditiru.

Akhirnya, posisi kita sebagai khalifah di muka bumi hendaknya berpegang teguh pada konsep basmalah. Sebuah konsep yang tidak saja meniscayakan sekedar ucapan biasa, tetapi implementasi dalam setiap perbuatan kita. Bârakallâhu lî wa lakum, wallâhu a’lam bishshawwâb.

Sumber :
Ditulis oleh Ustadz Nasaruddin Umar.

Gong Xi Fa Chai ~ Semoga Nasib Baik Beserta Kita Semua

Nasib Baik Berasal dari Kebajikan, bukan Keberuntungan

Selama masa dinasti Ming, ada seorang pria bernama Zhang Weiyan dari provinsi Jiangsu. Dia adalah seorang penulis yang terampil dan cukup terkenal. Pada tahun Jiawu, Dia mengikuti ujian di pengadilan tapi gagal. Sambil berdiri ditempat pengumuman dia memaki-maki para hakim yang mengeluarkan hasil ujian itu, merasa para hakim tidak bisa mengenali mereka yang memiliki bakat.

Bersamaan saat itu, ada seorang Pendeta Tao lewat dan mendengarnya. Sambil tersenyum Dia berkata, “ Saya bisa memastikan bahwa tulisan Anda sangatlah buruk,” Mendengar itu, Zhang kemudian melampiaskan kemarahannya pada Pendeta Tao.

“ Mengapa menertawakan tulisanku, Anda belum membacanya bagaimana bisa tahu kalau itu buruk? “ Pendeta Tao Menjawab, “ Kunci untuk menulis adalah hati harus tenang dan terus menjaganya untuk tetap tenang. Sekarang Anda memaki-maki Hakim dan sangat marah, bagaimana bisa menghasikan karya yang baik? “ Zhang sangat terkejut dan menyadari kesalahanya, akhirnya dia meminta bantuan kepada Pendeta Tao itu.

“Tulisan tentu harus baik, tapi jika ditakdirkan untuk gagal, keterampilan sebaik apapun tidak akan membantu Anda, Jalan terbaik adalah mengubah sikap dan perilaku,” jelas Pendeta Tao.

Zhang bertanya, “ Bagaimana cara untuk mengubahnya? ” Pendeta Tao menjawab, “ Jika mengikuti ajaran Sang Pencipta dan melakukan perbuatan baik, apa yang tidak bisa Anda dapatkan? “

Zhang sambil mendesah berkata, “Saya hanya seorang sarjana miskin. Dimana bisa menemukan cukup uang untuk melakukan perbuatan baik? “

Pendeta Tao menjawab, “Jadilah orang yang penuh belas kasih dan mengultivasi sifat baik, Hal yang paling penting adalah hati. Setiap saat menanamkan kebaikan dalam hati. Rendah hati dan selalu siap membantu orang lain dengan hati yang benar-benar tulus. Ikuti ajaran Tuhan, orang tidak perlu uang untuk melakukan perbuatan baik. Mengapa tidak sebaiknya intropeksi diri daripada memaki hakim tersebut.” Zhang Weiyan mengerti, sambil mengucapkan terima kasih lalu dia pergi.

Sejak saat itu Zhang Weiyan sangat baik pada semua orang dan ketat mematut dirinya. Berkultivasi kebaikan dan menjadi orang yang bermoral tinggi. Dia mendirikan sekolah, menghimbau penduduk untuk bersekolah. Mengajar tiap orang tidak melakukan perbuatan menyimpang dan melakukan perbuatan baik tak peduli betapa kecil situasinya. Dia sangat dipuji oleh penduduk.

Nasib baik dari Kebajikan

Tiga tahun berlalu, suatu hari Zhang Weiyan bermimpi memasuki sebuah rumah besar. Ada sebuah buku, di dalam buku tersebut ada daftar nama dan halaman kosong. Dia bertanya pada orang didekatnya mengenai buku tersebut. Orang itu menjawab,” Dalam buku ini ada daftar nama-nama yang diterima pada musim gugur ini. Jika nama muncul dan orang tersebut tidak melakukan kesalahan, namanya akan tetap disimpan. Halaman kosong adalah mereka yang terhapus namanya karena mereka telah melakukan kesalahan. Nama Anda telah tersimpan di buku ini karena tiga tahun terakhir ini Anda baik terhadap semua orang.”

Tahun itu Zhang Weiyan lulus ujian pengadilan. Dia tetap rendah hati, membantu orang yang membutuhkan dan terus mengultivasi hati dengan prinsip-prinsip langit. (Erabaru/ngrh)

Seorang Guru berkumpul dgn murid-muridnya.
Lalu beliau mengajukan 6 pertanyaan :

Pertanyaan ke 1.
Apa yg paling dekat dgn diri kita di dunia ini ?
Muridnya ada yg menjawab,, “orang tua”, “guru”, “teman”, & “kerabat”..

Yg paling dekat dgn kita adalah “kematian”.
Sebab kematian adalah PASTI.

Pertanyaan ke 2.
Apa yg paling jauh dari diri kita ?
Muridnya ada yg menjawab : “Negara Amerika”, “bulan”, “matahari”.

Yg paling benar adalah “masa lalu”.
Siapa pun kita,,, bagaimana pun kita dan betapa kayanya kita… tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu.
Sebab itu kita harus menjaga hari ini & hari-hari yg akan datang.

Pertanyaan ke  3.
Apa yg paling besar di dunia ini ?
Muridnya ada yg menjawab “gunung”, “bumi” & “matahari”,,

Yg paling besar dari yg ada di dunia ini adalah “nafsu”
Banyak manusia menjadi celaka karena menuruti hawa nafsunya…
Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi..
Karena itu, kita hrs hati-hati dgn hawa nafsu ini

Pertanyaan ke 4.
“Apa yg paling berat di dunia ini ?”
Di antara muridnya ada yg menjawab, : “baja”,”besi”&”gajah”
Yg paling berat adalah “memegang amanah”

Pertanyaan yg ke 5.  
“Apa yg paling ringan di dunia ini ?”
Ada yg menjawab “kapas”, “angin”, “debu”&”daun-daunan”
Yg paling ringan di dunia ini adalah “Meninggalkan Ibadah”

Lalu pertanyaan ke 6.
“Apakah yg paling tajam di dunia ini ?”
Muridnya menjawab dgn serentak… “PEDANG !”
Yg paling tajam adalah “lidah manusia”
Krn melalui lidah, manusia dgn mudahnya menyakiti hati,,, & melukai perasaan…

>Gong Xi Fa Chai ~ Semoga Nasib Baik Beserta Kita Semua

>

Nasib Baik Berasal dari Kebajikan, bukan Keberuntungan

Selama masa dinasti Ming, ada seorang pria bernama Zhang Weiyan dari provinsi Jiangsu. Dia adalah seorang penulis yang terampil dan cukup terkenal. Pada tahun Jiawu, Dia mengikuti ujian di pengadilan tapi gagal. Sambil berdiri ditempat pengumuman dia memaki-maki para hakim yang mengeluarkan hasil ujian itu, merasa para hakim tidak bisa mengenali mereka yang memiliki bakat.

Bersamaan saat itu, ada seorang Pendeta Tao lewat dan mendengarnya. Sambil tersenyum Dia berkata, “ Saya bisa memastikan bahwa tulisan Anda sangatlah buruk,” Mendengar itu, Zhang kemudian melampiaskan kemarahannya pada Pendeta Tao.

“ Mengapa menertawakan tulisanku, Anda belum membacanya bagaimana bisa tahu kalau itu buruk? “ Pendeta Tao Menjawab, “ Kunci untuk menulis adalah hati harus tenang dan terus menjaganya untuk tetap tenang. Sekarang Anda memaki-maki Hakim dan sangat marah, bagaimana bisa menghasikan karya yang baik? “ Zhang sangat terkejut dan menyadari kesalahanya, akhirnya dia meminta bantuan kepada Pendeta Tao itu.

“Tulisan tentu harus baik, tapi jika ditakdirkan untuk gagal, keterampilan sebaik apapun tidak akan membantu Anda, Jalan terbaik adalah mengubah sikap dan perilaku,” jelas Pendeta Tao.

Zhang bertanya, “ Bagaimana cara untuk mengubahnya? ” Pendeta Tao menjawab, “ Jika mengikuti ajaran Sang Pencipta dan melakukan perbuatan baik, apa yang tidak bisa Anda dapatkan? “

Zhang sambil mendesah berkata, “Saya hanya seorang sarjana miskin. Dimana bisa menemukan cukup uang untuk melakukan perbuatan baik? “

Pendeta Tao menjawab, “Jadilah orang yang penuh belas kasih dan mengultivasi sifat baik, Hal yang paling penting adalah hati. Setiap saat menanamkan kebaikan dalam hati. Rendah hati dan selalu siap membantu orang lain dengan hati yang benar-benar tulus. Ikuti ajaran Tuhan, orang tidak perlu uang untuk melakukan perbuatan baik. Mengapa tidak sebaiknya intropeksi diri daripada memaki hakim tersebut.” Zhang Weiyan mengerti, sambil mengucapkan terima kasih lalu dia pergi.

Sejak saat itu Zhang Weiyan sangat baik pada semua orang dan ketat mematut dirinya. Berkultivasi kebaikan dan menjadi orang yang bermoral tinggi. Dia mendirikan sekolah, menghimbau penduduk untuk bersekolah. Mengajar tiap orang tidak melakukan perbuatan menyimpang dan melakukan perbuatan baik tak peduli betapa kecil situasinya. Dia sangat dipuji oleh penduduk.

Nasib baik dari Kebajikan

Tiga tahun berlalu, suatu hari Zhang Weiyan bermimpi memasuki sebuah rumah besar. Ada sebuah buku, di dalam buku tersebut ada daftar nama dan halaman kosong. Dia bertanya pada orang didekatnya mengenai buku tersebut. Orang itu menjawab,” Dalam buku ini ada daftar nama-nama yang diterima pada musim gugur ini. Jika nama muncul dan orang tersebut tidak melakukan kesalahan, namanya akan tetap disimpan. Halaman kosong adalah mereka yang terhapus namanya karena mereka telah melakukan kesalahan. Nama Anda telah tersimpan di buku ini karena tiga tahun terakhir ini Anda baik terhadap semua orang.”

Tahun itu Zhang Weiyan lulus ujian pengadilan. Dia tetap rendah hati, membantu orang yang membutuhkan dan terus mengultivasi hati dengan prinsip-prinsip langit. (Erabaru/ngrh)

Seorang Guru berkumpul dgn murid-muridnya.
Lalu beliau mengajukan 6 pertanyaan :

Pertanyaan ke 1.
Apa yg paling dekat dgn diri kita di dunia ini ?
Muridnya ada yg menjawab,, “orang tua”, “guru”, “teman”, & “kerabat”..

Yg paling dekat dgn kita adalah “kematian”.
Sebab kematian adalah PASTI.

Pertanyaan ke 2.
Apa yg paling jauh dari diri kita ?
Muridnya ada yg menjawab : “Negara Amerika”, “bulan”, “matahari”.

Yg paling benar adalah “masa lalu”.
Siapa pun kita,,, bagaimana pun kita dan betapa kayanya kita… tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu.
Sebab itu kita harus menjaga hari ini & hari-hari yg akan datang.

Pertanyaan ke  3.
Apa yg paling besar di dunia ini ?
Muridnya ada yg menjawab “gunung”, “bumi” & “matahari”,,

Yg paling besar dari yg ada di dunia ini adalah “nafsu”
Banyak manusia menjadi celaka karena menuruti hawa nafsunya…
Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi..
Karena itu, kita hrs hati-hati dgn hawa nafsu ini

Pertanyaan ke 4.
“Apa yg paling berat di dunia ini ?”
Di antara muridnya ada yg menjawab, : “baja”,”besi”&”gajah”
Yg paling berat adalah “memegang amanah”

Pertanyaan yg ke 5.  
“Apa yg paling ringan di dunia ini ?”
Ada yg menjawab “kapas”, “angin”, “debu”&”daun-daunan”
Yg paling ringan di dunia ini adalah “Meninggalkan Ibadah”

Lalu pertanyaan ke 6.
“Apakah yg paling tajam di dunia ini ?”
Muridnya menjawab dgn serentak… “PEDANG !”
Yg paling tajam adalah “lidah manusia”
Krn melalui lidah, manusia dgn mudahnya menyakiti hati,,, & melukai perasaan…

>Gong Xi Fa Chai ~ Semoga Nasib Baik Beserta Kita Semua

>

Nasib Baik Berasal dari Kebajikan, bukan Keberuntungan

Selama masa dinasti Ming, ada seorang pria bernama Zhang Weiyan dari provinsi Jiangsu. Dia adalah seorang penulis yang terampil dan cukup terkenal. Pada tahun Jiawu, Dia mengikuti ujian di pengadilan tapi gagal. Sambil berdiri ditempat pengumuman dia memaki-maki para hakim yang mengeluarkan hasil ujian itu, merasa para hakim tidak bisa mengenali mereka yang memiliki bakat.

Bersamaan saat itu, ada seorang Pendeta Tao lewat dan mendengarnya. Sambil tersenyum Dia berkata, “ Saya bisa memastikan bahwa tulisan Anda sangatlah buruk,” Mendengar itu, Zhang kemudian melampiaskan kemarahannya pada Pendeta Tao.

“ Mengapa menertawakan tulisanku, Anda belum membacanya bagaimana bisa tahu kalau itu buruk? “ Pendeta Tao Menjawab, “ Kunci untuk menulis adalah hati harus tenang dan terus menjaganya untuk tetap tenang. Sekarang Anda memaki-maki Hakim dan sangat marah, bagaimana bisa menghasikan karya yang baik? “ Zhang sangat terkejut dan menyadari kesalahanya, akhirnya dia meminta bantuan kepada Pendeta Tao itu.

“Tulisan tentu harus baik, tapi jika ditakdirkan untuk gagal, keterampilan sebaik apapun tidak akan membantu Anda, Jalan terbaik adalah mengubah sikap dan perilaku,” jelas Pendeta Tao.

Zhang bertanya, “ Bagaimana cara untuk mengubahnya? ” Pendeta Tao menjawab, “ Jika mengikuti ajaran Sang Pencipta dan melakukan perbuatan baik, apa yang tidak bisa Anda dapatkan? “

Zhang sambil mendesah berkata, “Saya hanya seorang sarjana miskin. Dimana bisa menemukan cukup uang untuk melakukan perbuatan baik? “

Pendeta Tao menjawab, “Jadilah orang yang penuh belas kasih dan mengultivasi sifat baik, Hal yang paling penting adalah hati. Setiap saat menanamkan kebaikan dalam hati. Rendah hati dan selalu siap membantu orang lain dengan hati yang benar-benar tulus. Ikuti ajaran Tuhan, orang tidak perlu uang untuk melakukan perbuatan baik. Mengapa tidak sebaiknya intropeksi diri daripada memaki hakim tersebut.” Zhang Weiyan mengerti, sambil mengucapkan terima kasih lalu dia pergi.

Sejak saat itu Zhang Weiyan sangat baik pada semua orang dan ketat mematut dirinya. Berkultivasi kebaikan dan menjadi orang yang bermoral tinggi. Dia mendirikan sekolah, menghimbau penduduk untuk bersekolah. Mengajar tiap orang tidak melakukan perbuatan menyimpang dan melakukan perbuatan baik tak peduli betapa kecil situasinya. Dia sangat dipuji oleh penduduk.

Nasib baik dari Kebajikan

Tiga tahun berlalu, suatu hari Zhang Weiyan bermimpi memasuki sebuah rumah besar. Ada sebuah buku, di dalam buku tersebut ada daftar nama dan halaman kosong. Dia bertanya pada orang didekatnya mengenai buku tersebut. Orang itu menjawab,” Dalam buku ini ada daftar nama-nama yang diterima pada musim gugur ini. Jika nama muncul dan orang tersebut tidak melakukan kesalahan, namanya akan tetap disimpan. Halaman kosong adalah mereka yang terhapus namanya karena mereka telah melakukan kesalahan. Nama Anda telah tersimpan di buku ini karena tiga tahun terakhir ini Anda baik terhadap semua orang.”

Tahun itu Zhang Weiyan lulus ujian pengadilan. Dia tetap rendah hati, membantu orang yang membutuhkan dan terus mengultivasi hati dengan prinsip-prinsip langit. (Erabaru/ngrh)

Seorang Guru berkumpul dgn murid-muridnya.
Lalu beliau mengajukan 6 pertanyaan :

Pertanyaan ke 1.
Apa yg paling dekat dgn diri kita di dunia ini ?
Muridnya ada yg menjawab,, “orang tua”, “guru”, “teman”, & “kerabat”..

Yg paling dekat dgn kita adalah “kematian”.
Sebab kematian adalah PASTI.

Pertanyaan ke 2.
Apa yg paling jauh dari diri kita ?
Muridnya ada yg menjawab : “Negara Amerika”, “bulan”, “matahari”.

Yg paling benar adalah “masa lalu”.
Siapa pun kita,,, bagaimana pun kita dan betapa kayanya kita… tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu.
Sebab itu kita harus menjaga hari ini & hari-hari yg akan datang.

Pertanyaan ke  3.
Apa yg paling besar di dunia ini ?
Muridnya ada yg menjawab “gunung”, “bumi” & “matahari”,,

Yg paling besar dari yg ada di dunia ini adalah “nafsu”
Banyak manusia menjadi celaka karena menuruti hawa nafsunya…
Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi..
Karena itu, kita hrs hati-hati dgn hawa nafsu ini

Pertanyaan ke 4.
“Apa yg paling berat di dunia ini ?”
Di antara muridnya ada yg menjawab, : “baja”,”besi”&”gajah”
Yg paling berat adalah “memegang amanah”

Pertanyaan yg ke 5.  
“Apa yg paling ringan di dunia ini ?”
Ada yg menjawab “kapas”, “angin”, “debu”&”daun-daunan”
Yg paling ringan di dunia ini adalah “Meninggalkan Ibadah”

Lalu pertanyaan ke 6.
“Apakah yg paling tajam di dunia ini ?”
Muridnya menjawab dgn serentak… “PEDANG !”
Yg paling tajam adalah “lidah manusia”
Krn melalui lidah, manusia dgn mudahnya menyakiti hati,,, & melukai perasaan…

Latihan Kepekaan 2 : Mempertajam Intuisi

“Ketika akan membuat keputusan sangat penting, entah dalam menentukan pasangan hidup atau pilihan profesi, keputusan harus datang dari bawah sadar”, demikian nasihat tokoh legendaris Sigmund Freud.

Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Sepertinya pemahaman itu tiba-tiba saja datangnya dari dunia lain dan diluar kesadaran. Misalnya saja, seseorang tiba-tiba saja terdorong untuk membaca sebuah buku. Ternyata, didalam buku itu ditemukan keterangan yang dicari-carinya selama bertahun-tahun. Atau misalnya, merasa bahwa ia harus pergi ke sebuah tempat, ternyata disana ia menemukan penemuan besar yang mengubah hidupnya. Namun tidak semua intuisi berasal dari kekuatan psi. Sebagian intuisi bisa dijelaskan sebab musababnya.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang berada dalam jajaran puncak bisnis atau kaum eksekutif memiliki skor lebih baik dalam eksperimen uji indera keenam dibandingkan dengan orang-orang biasa. Penelitian itu sepertinya menegaskan bahwa orang-orang sukses lebih banyak menerapkan kekuatan psi dalam kehidupan keseharian mereka, halmana menunjang kesuksesan mereka. Salah satu bentuk kemampuan psi yang sering muncul adalah kemampuan intuisi. Tidak jarang, intuisi yang menentukan keputusan yang mereka ambil.

Intuisi ternyata merupakan sarana ampuh untuk memecahkan masalah, baik karir maupun kehidupan pribadi. Terbukti, para pengambil keputusan jitu, yang berhasil mengambil keputusan secara efisien, efektif, dan bijaksana, selalu mengkombinasi kekuatan intuisi dengan berpikir analitisnya. Sampai saat ini dipercaya bahwa intuisi yang baik dan tajam adalah syarat agar seseorang dapat sukses dalam bisnis. Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak buku-buku mengenai kiat-kiat sukses selalu memasukkan strategi mempertajam intuisi.

Pernahkah anda ragu-ragu dalam melangkah, seperti apakah hari Minggu akan keluar rumah atau tidak. Sering terjadi niat yang semula begitu menggebu ingin keluar rumah (misalkan: untuk berbelanja, atau ketemu saudara) menjadi batal di saat-saat terakhir, karena kita merasa ragu, tidak nyaman, atau merasa bahwa keperluan pergi keluar tersebut sebetulnya bisa ditunda. Orang-orang tua mengatakan bahwa hal tersebut semacam “firasat”, yang pada umumnya lebih banyak menghinggapi kaum wanita.

Pada kenyataannya, intuisi hadir secara merata baik dalam diri laki-laki maupun perempuan. Biasanya perempuan lebih intuitif dalam pemahaman mereka terhadap orang lain, sementara laki-laki sering lebih intuitif dalam bidang pekerjaan mereka.

Sebenarnya, intuisi adalah perasaan yang tenang dan impersonal. Perempuan terbiasa hidup dengan perasaan, lebih dalam bentuk emosi, sementara itu laki-laki cenderung lebih impersonal. Kombinasi dari dua sifat inilah yang menghasilkan intuisi.

Intuisi adalah kekuatan yang dengan cepat menyadari bahwa “ada sesuatu” di balik situasi & peristiwa yang dihadapi. Hal tersebut dilakukan tanpa intervensi dari berbagai proses yang masuk akal. Tidak ada langkah-langkah induktif atau deduktif yang masuk akal. Tidak ada analisa yang wajar dari situasi tersebut, tidak ada bantuan dari imajinasi. Hanya sekilas dan tiba-tiba muncul. Anda hanya tahu ada yang tidak sesuai.

Mempercayai intuisi anda.

Intuisi merupakan suatu kebutuhan, karena tidak semua masalah dapat dijelaskan hanya dengan logika. Misal: Pada saat membaca laporan yang disodorkan oleh anak buah, anda dihinggapi perasaan kurang nyaman, bahwa laporan yang dibuat oleh anak buah anda tidak benar, atau anda mempunyai perasaan bahwa bawahan anda akan berbuat curang.

Langkah apakah yang akan anda lakukan? Tentunya anda harus melakukan penelitian, check dan re check , apa yang ada dibalik laporan tersebut, dan melakukan probing dengan orang-orang yang ada hubungannya dengan laporan tersebut, sampai anda merasa yakin bahwa feeling anda benar atau tidak. Ada memang orang yang intuisi nya sangat kuat, dan sering apa yang dirasakan akan benar-benar terjadi.

Kalau anda sekarang cenderung untuk lebih berhati-hati dan memberikan status yang lebih terhadap intuisi dalam berpikir, anda telah mengambil langkah pertama untuk menggunakan intuisi tersebut dengan lebih baik. Selanjutnya adalah belajar untuk mempercayai kekuatan intuisi anda. Ini tidak berarti selalu, juga tidak berarti kadang-kadang, karena seseorang tidak bisa menyamakan tentang seberapa seringnya. Tetapi anda sebaiknya bersiap untuk memberikan intuisi anda keuntungan dari keraguan, anda harus membangun hubungan yang hangat dan akrab terhadap bagian pikiran anda, yang siap menawarkan pelayanan unik ini.

Bagaimana intuisi tersebut digunakan dalam bidang pekerjaan? Saya pernah mendapatkan pelatihan, yang antara lain bagaimana agar peserta dapat lebih memperdalam rasa dalam mengartikan intuisinya. Apabila anda bekerja sebagai teller, misalnya, saat ada nasabah yang ingin mencairkan uang di Bank, pertama-tama anda akan melihat apakah tanda tangannya cocok dengan yang ada pada dokumen contoh tanda tangan, kemudian apakah saldo mencukupi. Namun bilamana hati anda merasa was-was, tidak yakin, maka anda harus mengulangi pengecekan tersebut, dan membandingkan kembali dengan dokumen yang ada, serta melakukan klarifikasi melalui telepon terhadap orang yang menandatangani cek tersebut, apakah benar dia telah mengeluarkan cek nomor seri xxxx dengan nilai Rp. y.000,-. Anda harus mengikuti intusisi tersebut, yang sebenarnya merupakan alarm dari hati anda, bahwa ada sesuatu yang kurang wajar.

Mengapa? Bagi seorang pemalsu tanda tangan, setiap goresan, ketajaman atau tebal tipisnya garis pada tanda tangan, akan sama persis dengan yang ada pada contoh tanda tangan. Sedangkan bagi penulis tanda tangan asli, setiap tanda tangan akan berbeda, baik goresannya, tebal tipisnya, dan kadang bentuknya tak sama persis. Anda tak percaya? Silahkan di coba. Dari pelatihan tersebut peserta dapat memahami, bahwa intuisi yang muncul, harus ditindak lanjuti, karena sebetulnya merupakan alarm adanya ketidak beresan.

Emosi dan intuisi

Emosi dan intuisi memiliki sumber yang dekat sekali di kedalaman otak. Mungkin sekali syaraf-syarafnya saling bersilangan. Emosi yang negatif dari ketakutan dan kegelisahan bisa mengekspresikan dan muncul dalam intuisi. Seorang penumpang yang gugup mungkin mempunyai intuisi bahwa penerbangannya ke Paris akan mengalami kecelakaan dan ia pindah pesawat lain. Tingkat keberhasilan dari intuisi kegelisahan ini bisa dikatakan rendah. Emosi yang positif juga bisa menghasilkan intuisi yang diharapkan. Seorang laki-laki dan perempuan yang sedang jatuh cinta bisa memiliki intuisi tentang karakter dari kekasih yang dicintainya, yang berubah menjadi irasional.

Seorang pemikir yang mengandalkan hanya pada intuisi , sebagaimana dilakukan oleh banyak pemikir yang efektif, harus sehat secara fisik dan emosional. Anda hanya diharuskan untuk mempunyai sedikit rasa sakit untuk mengetahui bagaimana influensa itu mempengaruhi emosi anda. Anda mungkin menjadi lebih mudah marah dan tertekan, fokus anda terhadap kepentingan jatuh ke perut, anda merasakan kesakitan, anda mungkin hampir yakin bahwa mungkin anda akan meninggal dunia.

Stres dan kelelahan pikiran atau tubuh bisa menyebabkan malapetakan dalam intuisi para pemikir yang memahami dengan cepat situasi yang sebenarnya. Para pendaki gunung menyadari bahwa keputusan yang diambil dalam kondisi lelah sangat tidak berkualitas. Kalau anda lelah, yang terbaik adalah berpikir secara logis apa yang harus dilakukan, dan tidak mengandalkan intuisi anda.

Area yang mengunakan intuisi untuk pengambilan keputusan, sebagai berikut:

  • Corporate Strategy Planning 79,9%
  • Human Resources Development 78,6%
  • Marketing 76,8%
  • Research & Development 71,6%
  • Finance 31,1%
  • Production & Operation 27,7%

Dari ilustrasi di atas, nampak bahwa untuk aspek yang mudah dikuantifikasi seperti bidang keuangan, produksi dan operasi jarang sekali menggunakan intuisi sebagai landasan membuat keputusan.

Mengambil keputusan berdasar intuisi adalah merupakan ketrampilan yang dapat dipelajari dari pengalaman, yang diperoleh dari proses berpikir, dengan cara mengolah informasi yang akurat dan relevan.

Intuisi berasal dari alam bawah sadar kita yang merupakan bagian dari diri yang lebih tinggi dan merupakan bagian dari seluruh makhluk hidup. Alam ini merupakan kekuatan intelijen yang bekerja melalui kesadaran akan semua hal, dan mampu menanggapi pikiran setiap manusia.

Dalam menggunakan tuntunan yang sejati, kita perlu memahami bahwa intuisi merupakan kondisi kewaspadaan yang secara terus-menerus berevolusi dan selalu beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan kita.

Berikut ini adalah beberapa hal penting yang bisa membantu Anda dalam mengikuti intuisi Anda demi mendapatkan hasil yang terbaik:

KESEDIAAN UNTUK BERTINDAK
Kebanyakan orang takut untuk bertindak sebelum menerima kepastian definitif bahwa tuntunan mereka sangat benar. Keraguan ini cenderung menghalangi aliran intuisi, sehingga tuntunan itu akhirnya semakin mengering. Bertindak berdasarkan intuisi layaknya mengambil air dari sumber air alami. Semakin Anda terus menggunakannya, semakin besar salurannya dan semakin melimpah aliran airnya.

INTUISI MUNCUL DENGAN CARA-CARA TAK TERDUGA
Ketika Anda sungguh-sungguh berusaha untuk mengikuti tuntunan batin, alam bawah sadar akan membantu Anda dengan cara-cara yang luar biasa. Mungkin ketika Anda sedang istirahat atau berjalan-jalan, intuisi itu muncul secara tiba-tiba. Segeralah ambil secarik kertas dan tuangkan semua ide Anda seketika itu juga, karena momen tesebut tidak akan kembali untuk kedua kalinya.

JANGAN PUTUS ASA KARENA RINTANGAN
Pertama kalinya ketika berusaha mengikuti intuisi, Anda mungkin akan menghadapi banyak rintangan dan kesulitan. Anda mungkin berpikir: “Saya rasa tidak seharusnya saya melakukan hal ini,” tetapi semua rintangan itu sebenarnya adalah ujian yang berharga bagi Anda. Cobalah untuk melihat penghalang langkah Anda sebagai kesempatan untuk mengerahkan lebih banyak energi ke arah pencapaian tujuan Anda.

DENGARKAN SETIAP LANGKAH DARI INTUISI
Jika Anda tidak merasakan kejelasan yang kuat dari intuisi Anda, jangan bertindak dengan kekuatan penuh. Melangkahlah satu per satu. Tetapi jika langkah Anda tidak terasa benar, jangan melangkah terlalu banyak. Untuk menyeimbangkan kekuatan intuisi, berilah kesempatan pada diri Anda melakukan koreksi secara teratur.

GUNAKAN PENGUJIAN AKAL SEHAT
Saat bekerja dengan intuisi, jangan mengabaikan perintah-perintah sederhana dari penilaian Anda sendiri, karena alam semesta diatur oleh hukum-hukum yang perlu diperhatikan. Jadi jika intuisi meminta Anda untuk loncat dari atas tebing, gunakanlah akal sehat dan taatilah hukum gravitasi sampai petunjuk lebih lanjut datang.

BEKERJASAMA DENGAN ORANG LAIN
Jangan memaksakan intuisi Anda pada orang lain dalam melakukan sesuatu, karena mereka juga memiliki tuntunan sendiri. Ketika bekerja bersama orang lain, bagikanlah tuntunan batin Anda sebagai suatu kemungkinan alternatif daripada sebagai sesuatu yang mutlak. Dengan menyimpannya di dalam hati, tuntunan Anda akan tumbuh semakin kuat sepanjang waktu.

Jadi jangan pernah ragu untuk selalu melakukan segala sesuatu berdasarkan intuisi. Bahkan jika tindakan kita mengarah ke jalur yang salah, namun bila kita dengan tulus meminta tuntunan batin, niscaya kita akan diarahkan kembali ke jalan yang benar.

Untuk menyelaraskan diri kita dengan aliran alam bawah sadar, kita harus hidup dengan cara yang berani dan gigih. Kita juga harus menyeimbangkan upaya kita dengan kerendahan hati dan keterbukaan pada segala sesuatu.

Dasar Pengembangan Kemampuan Intuisi

Rupanya, awal dari segalanya adalah keyakinan. Yakini bahwa Anda mempunyai intuisi dan menghargai intuisi itu. Yakini Anda mampu mengetuk intuisi itu, dan benar-benar berniat mengembangkannya. Yakini, informasi yang diperlukan akan Anda peroleh dari intuisi Anda.

Berlatih relaksasi.
Ketika tubuh dalam keadaan santai, pikiran pun akan mengendur. Ini memungkinkan frekuensi gelombang otak diperlambat, sehingga pikiran bawah sadar akan berfungsi lebih aktif.

Cari waktu dan tempat untuk menyendiri pada saat-saat tertentu supaya “suara hati” bisa lebih terdengar.
Lepaskan segala perasaan dan pikiran negatif yang memblokade energi. Buat diri Anda berpikir positif. Ganti pikiran negatif dengan pernyataan atau khayalan yang lebih positif.

Meditasi
Ini membantu Anda memasuki kondisi kesadaran yang lebih dalam, di mana jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Anda akan datang lebih mudah. Anda bisa bersemedi lewat berbagai sarana, misal api lilin, mantra, ungkapan tanpa arti, atau bahkan nama Anda sendiri.

Intuisi menghubungkan kita ke suatu database raksasa. Karenanya, untuk memperoleh jawaban spesifik pertanyaan yang diajukan pun harus spesifik.

Beberapa teknik pemecahan masalah

Memprogram mimpi.
Katakan pada diri sendiri, “Saya ingin bermimpi tentang informasi yang akan memecahkan masalah ini”, dan “Saya akan bermimpi tentang itu, akan mengingatnya dan memahaminya.” Mimpi biasanya datang dalam bahasa atau perlambang yang dapat dimengerti. Amati rangkaian peristiwa dalam mimpi itu, dan perasaan Anda di saat mimpi itu berakhir dan Anda terjaga. Catat pertanda-pertanda yang terjadi dalam diri Anda maupun yang eksternal, yang terjadi keesokan harinya.

Bikin catatan mimpi.
Luangkan waktu sekitar 20 menit untuk menuliskan segala sesuatu yang ingin, telah atau sedang dikerjakan. Ciptakan orang, perasaan, dan tempat yang ingin dikunjungi. Anggap semuanya serba mungkin. Tak perlu mempertimbangkan soal keamanan atau finansial. Perhatikan apa tema-tema besar yang muncul dalam mimpi Anda setelah itu.

Bikin gambar coretan (Mind Mapping/Brainstorming).
Tuliskan pertanyaan yang ingin Anda ketahui jawabannya. Di bawah pertanyaan itu, gambarlah apa pun yang terlintas pada pikiran Anda dan yang mengalir begitu saja lewat tangan Anda. Terus menggambar hingga tak ada lagi yang ingin ditambahkan. Kini lihat makna di balik gambar dan simbol itu. Catat urutan pembuatan gambar dan simbol itu. Perhatikan pikiran dan perasaan Anda saat mengamati gambar.

Memprogram sukses sehari.
Santai di tempat tidur sebelum bangun pagi. Bayangkan di layar batin, sehari yang penuh dengan kesuksesan. Pasang jam pada layar itu dan secara batin gerakkan jarumnya jam demi jam dari pagi hingga hari berakhir. Mainkan “bioskop batin” itu, dengan Anda sebagai sutradaranya. Dalam bioskop digambarkan bagaimana segala sesuatu berjalan dengan lancar dan sukses. Gunakan teknik ini untuk berlatih secara mental sebelum menjalani wawancara untuk suatu pekerjaan atau hal lain yang diidamkan.

Buat catatan harian.
Setiap hari catatlah gagasan, perasaan, dan firasat Anda. Perhatikan apa yang ditulis dan perasaan Anda saat menulisnya. Catat pikiran dan perasaan yang muncul saat Anda selesai. Anda akan mengetahui beda antara firasat berdasarkan intuisi dan gagasan berdasarkan perhitungan.

Latihan amat perlu.
Makin banyak Anda berusaha mendengarkan dan memperhatikan intuisi, semakin tinggi kemampuan Anda untuk mendengarnya. Maka luangkan waktu barang lima menit setiap hari untuk mendengarkan intuisi. Mintalah bantuan, dukungan, petunjuk, apa pun, kepada intuisi Anda. Percayalah, Anda akan memperoleh jawaban.