Memancarkan Gelombang Energi Ta’awudz

Oleh : Akbar Kuspriadi, Garnd Master of Reiki
Dan jika engkau membaca al-Qur’an,
hendaklah engkau berlindung kepada Allah dari setan-setan ar-rajim
An-Nahl (16 : 98)
Aku memohon perlindungan untuknya serta anak- anak keturunannya
kepada (pemeliharaan dan pendidikan) Engkau dari setan-setan ar-rajim
Ali Imran (3 : 36)

Sebuah pesan singkat ( SMS) saya baca melalui HP saya, dari seorang teman, isinya kurang lebih tentang kebingungannya menjawab sebuah pertanyaan dari seseorang yang katanya mendalami sebuah tarekat, sebuah pertanyaan sederhana namun cukup sulit dijawab, tentang mengapa harus ta’awudz (mohon perlindungan pada Allah dari godaan Syetan)bila kita sudah bersama Allah.

Membaca SMS tersebut, saya jadi teringat kembali pernyataan salah seorang rekan yang juga katanya mendalami sebuah tarekat tertentu,Dalam sebuah diskusi di rumahnya daerah Buah batu Bandung, mahasiswa asal kalimantan itu berujar” Bukankah Innallaha ma’ana (Allah bersama kita), kalau sudah bersama Allah , masa sih setan berani mendekat, dan bukankah kita harus yakin bahwa Allah melindungi kita selama kita bersamaNya, artinya selama kita bersama Allah mengapa kita masih harus ragu akan perlindungan Allah dari segala bentuk godaan.Jadi untuk apa lagi kita ta’awudz bila kita sudah bersama Allah Dan kita harus yakin akan penjagaan Allah.”

Dalam hati saya berkata , Itulah sebabnya barangkali mengapa Imam Ali Khamenei mengharamkan mengikuti Tharekat, karena selain mayoritas tarekat yang berkembang sudah melenceng dari tujuan sebenarnya, banyaknya kesimpangsiuran pemikiran yang berkembang, sebagian menjurus ke kesesatan dan kebingungan.barangkali itupula sebabnya mengapa Nahdhatul Ulama membatasi diri dengan hanya membolehkan pengikutnya untuk mempelajari tarekat-tarekat yang mu’tabarah saja.

Ta’awudz adalah sebuah lafadz doa yang biasa dibacakan terutama sebelum membaca Qur’an ,lafadz tersebut berbunyi ” A’udzubillahi minassyaithonirrojim” artinya kurang lebih “Aku melindungkan diriku pada Allah dari (segala bentuk pengaruh atau gangguan )syetan yang terkutuk.Ta’awudz Asal katanya `aa’uudzu – ya’uwdzu – `uwdzan – `iyaadzan – ma’aadzan Arti nya Berlindung, minta terpelihara artinya berlindung atau bernaung, seperti seorang yang bernaung atau berlindung pada rimbunnya pohon dari sengatan matahari, seorang yang berta’awudz harus menyadari bahwa dirinya sedang berlindung pada sesuatu dari sesuatu yang ia hindari.

Ta`awudz artinya berlindung dari syetan yaitu segala kekuatan atau pengaruh yang menjauhkan kita dari kebenaran ,asal kata syetan-syaithon = Syathana – yasythunu – syathnan = menyalahinya / menjauhi dari kebenaran atau orang / sesuatu yang jahatDalam konteks batin ( emosional-mental-spiritual), seorang yang berta’awudz melindungkan keterbatasan atau kekurangan dirinya pada kesempurnaan atau kecukupan dari Yang maha Sumber, dengan jalan mengucapkan nama-nama Ilahi .Saat berta’awudz misalnya seseorang yang sedang gelisah melindungkan dirinya pada ketentraman Ilahi, dengan ataupun tanpa ia sadari Getaran Spiritual dari nama Allah yang ia sebutkan akan menghilangkan gelombang-gelombang energi kegelisahannya, hati pun menjadi tentram.Saat seorang sedang pesimis, berkecil hati, kemudian berta’awudz , getaran spiritual dari lafadz Allah yang ia ucapkan akan memancarkan gelombang energi positif yang akan menghilangkan getaran-getaran negatif dalam diri pembacanya hingga hati pun terasa lapang.

Dalam True Power of Waternya Dr.Masaru Emoto, ada disebutkan bahwa fikiran-fikiran atau perasaan buruk memancarkan gelombang energi buruk .Bila kita sering memancarkan gelombang energi negatif hasil bentukan fikiran dan perasaan negatif, lambat laun kita akan diliputi oleh gelombang energi negatif yang akan merusak sistem energi kita, dan menurut ilmuwan Jepang yang satu ini,organ-organ tubuh manusia pun akan terganggu karena endapan-endapan energi negatif tersebut.

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, bahwa kata-kata positif itu memiliki Hado yang memancarkan gelombang energi positif. menurut Dr.Masaru Emoto, Orang yang sering marah harus sering mengucapkan kata-kata yang berlawanan dengan marah yaitu Sabar. Menurutnya , sabar memancarkan getaran energi yang panjang gelombangnya sesuai untuk menetralisir gelombang energi buruk dari kemarahan. Demikian pula dengan gelisah atau takut, dapat dinetralisir dengan banyak-banyak mengucapkan kata Tentram atau tenang atau aman.pun demikian dengan Dendam misalnya, saat seseorang menyimpan atau dikuasai oleh dendam , dengan banyak-banyak menyebut kata Maaf ( memafkan) atau pengampunan , gelombang energi negatif dari dendam yang menguasai dan merusak tubuh, fikiran singkatnya sistem energi pendendam tersebut akan ternetralisir dengan kata Maaf.

Dalam tradisi Islam ada dikenal dengan istilah Asma ulhusna, Asmaul husna merupakan nama-nama Tuhan yang bermakna positif.Kata-kata positif saperti Maaf, sabar , keluasan hati, dst , ada di dalam Asma ulHusna.Al Afuwu dalam Asma ulHusna bermakna yang maha memaafkan, Al Ghafur dalam asma ulhusna bermakna yang maha mengampuni , Asshobur dalam Asma-ul Husna bermakna Yang maha sabar, Allathief dalam asma ul husna bermakna kelembutan, dan seterusnya.Dengan kata lain, Memaafkan, Kesabaran, Kelapangan hati, dan sifat-sifat positif lainnya adalah bersumber dari Dia yang Esa, sang Penyebab segala sebab.Dengan menyebut salah satu dari namaNya atau dengan menyebut namaNya, , ALLAH

Ada lagi rekan-rekan disebagian tarekat yang menyatakan bahwa kita sudah tidak perlu berdoa atau meminta karena segala sudah Tuhan berikan di dalam diri kita , dengan mengambil ayat berikut,” dan ketika kami telah sempurnakan bentuk kejadiannya, kemudian Aku tiupkan ruhKu. (Q.S 15: 29) ” Menurut mereka bahwa ruh Tuhan sudah ada dalam diri kita, rezeki sudah diberikan, semuanya sudah lengkap, atas dasar itu , untuk apa kita meminta.Menurut Selanjutnya untuk apa kita mohon perlindungan pada Allah, bukankah Allah sudah melindungi kita.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan mengambil analogi komputer,manusia ibarat sebuah komputer super canggih yang super lengkap, di dalamnya sudah dipersiapkan segala sesuatunya oleh penciptanya, termasuk untuk menangkal dan memprotek dirinya dari serangan virus sudah disiapkan perangkat antivirus .Tetapi sehebat apa pun anti virus yang ada dalam komputer tersebut, kita harus sering-sering mengupdatenya , dan saat virus menyerang kita, kita harus mengaktifkannya, menscan lalu menghancurkan virusnya, tanpa itu semua apa gunanya anti virus.

Demikian pula dengan diri manusia, Sang Pencipta melengkapi kita dengan peralatan super canggih, kita memiliki perangkat detektor yang bernama hati, kita diliputi oleh aura yang akan melindungi kita dari gelombang-gelombang negatif eksternal.Saat kita menyebut namaNya, berta’awudz, sebenarnya kita sedang mengaktifkan sistem antivirus yang Tuhan simpan dalam diri kita agar aktif bekerja.Dengan alat EEG bisa dibuktikan bahwa gelombang otak manusia yang tadinya kacau tidak beraturan dapat kembali tenang ( 4-8 Hertz )beberapa saat setelah seseorang berdzikir, artinya antivirus tersebut memang benar-benar bekerja saat kita menyebut namaNya.

Dalam menghadapi samudera kehidupan, tidak jarang virus-virus atau getaran-getaran energi negatif (syaithoni) menyerang dan merusak sistem pertahanan kita.Pada saat virus-virus atau getaran-getaran kasar syetan tersebut masuk, hati sebagai radarnya akan dapat menangkap keberadaan virus tersebut, biasanya muncul rasa tidak nyaman dalam hati kita.Dan saat kita berta’awudz , gelombang energi positif yang halus akan muncul dari lubuk hati kita, semakin lama semakin kuat, gelombang-gelombang energi negatif diahalau keluar dan getaran-getaran halus dari “sifat-sifat” Ilahi akan menormalisir kembali getaran-getaran halus hati kita sehingga jernih murni lagi seperti sediakala.

Saya punya sebuah cerita lain yang barangkali akan menguatkan kembali argumen tentang mengapa harus berta’awudz, sebuah kisah tentang seorang anak yang berjalan dengan ayahnya yang Arif.dalam perjalanan mereka ke suatu tempat, anak itu melihat sebuah batu yang tergeletak di jalan yang dilewatinya.” Aku ingin menyingkirkan batu itu karena bisa membuat orang yang sedang lewat tersandung, terjatuh atau bahkan terluka.” Kata anak tersebut pada sang ayah.”Silakan nak, bila kau sanggup.”jawab ayahnya.

Anak kecil itu kemudian berusaha mengangkat batu itu, ia berjuang keras, berkeringat mengeluarkan seluruh tenaganya. Akhirnya ia gagal mengangkat batu itu.Denga kesal ia berkata pada ayahnya,” Aku telah berusaha melakukan yang terbaik dan yang kulakukan ini pun adalah hal yang baik, tapi mengapa aku gagal.”

Sang ayahnya yang bijaksana ini menjawab,”tapi dimana usaha terbaikmu? Bukankah ayah berdiri disampingmu, ayah ada didekatmu, yang kau butuhkan adalah berbalik dan meminta campurtangan ayah untukmembantumu mengangkat batu itu, maka kekuatan ayah menjadi kekuatanmu, usaha ayah menjadi usahamu, dan kamu akan mengangkat batu tersebut dengan mudah bersama ayah.”

Ya, Dia memang selalu bersama kita sepanjang waktu ,tanpa meminta perlindungan padaNya dari segala godaan keberadaanNya disisi kita barangkali tidak berarti apa-apa, kita hanya tinggal berbalik dan meminta padaNya kekuatanNya akan menjadi kekuatan kita, bersama kekuatanNya segala batu yang mengganggu dan merintangi akan dienyahkan dari hidup kita.

Selanjutnya, ta’awudz ( berlindung pada Allah) Dalam perspektif sosial, bisa berarti melindungkan diri pada keteraturan Ilahi, melindungkan diri dari perselisihan pada cinta kasih antar sesama manusia, dari perpecahan pada persatuan Ummat , dari kekacauan pada Wilayah atau kepemimpinan , dari kerusakan moral pada akhlaqul karimah, singkatnya dari hal-hal negatif pada hal-hal positif.

( dari naskah saya yang berjudul : Menggali Potensi Tak Terbatas dalam Diri Manusia dengn KEKUATAN KATA – http://kriyasemestafoundation.blogspot.com )

Iklan

>Memancarkan Gelombang Energi Ta’awudz

>

Oleh : Akbar Kuspriadi, Garnd Master of Reiki
Dan jika engkau membaca al-Qur’an,
hendaklah engkau berlindung kepada Allah dari setan-setan ar-rajim
An-Nahl (16 : 98)
Aku memohon perlindungan untuknya serta anak- anak keturunannya
kepada (pemeliharaan dan pendidikan) Engkau dari setan-setan ar-rajim
Ali Imran (3 : 36)

Sebuah pesan singkat ( SMS) saya baca melalui HP saya, dari seorang teman, isinya kurang lebih tentang kebingungannya menjawab sebuah pertanyaan dari seseorang yang katanya mendalami sebuah tarekat, sebuah pertanyaan sederhana namun cukup sulit dijawab, tentang mengapa harus ta’awudz (mohon perlindungan pada Allah dari godaan Syetan)bila kita sudah bersama Allah.

Membaca SMS tersebut, saya jadi teringat kembali pernyataan salah seorang rekan yang juga katanya mendalami sebuah tarekat tertentu,Dalam sebuah diskusi di rumahnya daerah Buah batu Bandung, mahasiswa asal kalimantan itu berujar” Bukankah Innallaha ma’ana (Allah bersama kita), kalau sudah bersama Allah , masa sih setan berani mendekat, dan bukankah kita harus yakin bahwa Allah melindungi kita selama kita bersamaNya, artinya selama kita bersama Allah mengapa kita masih harus ragu akan perlindungan Allah dari segala bentuk godaan.Jadi untuk apa lagi kita ta’awudz bila kita sudah bersama Allah Dan kita harus yakin akan penjagaan Allah.”

Dalam hati saya berkata , Itulah sebabnya barangkali mengapa Imam Ali Khamenei mengharamkan mengikuti Tharekat, karena selain mayoritas tarekat yang berkembang sudah melenceng dari tujuan sebenarnya, banyaknya kesimpangsiuran pemikiran yang berkembang, sebagian menjurus ke kesesatan dan kebingungan.barangkali itupula sebabnya mengapa Nahdhatul Ulama membatasi diri dengan hanya membolehkan pengikutnya untuk mempelajari tarekat-tarekat yang mu’tabarah saja.

Ta’awudz adalah sebuah lafadz doa yang biasa dibacakan terutama sebelum membaca Qur’an ,lafadz tersebut berbunyi ” A’udzubillahi minassyaithonirrojim” artinya kurang lebih “Aku melindungkan diriku pada Allah dari (segala bentuk pengaruh atau gangguan )syetan yang terkutuk.Ta’awudz Asal katanya `aa’uudzu – ya’uwdzu – `uwdzan – `iyaadzan – ma’aadzan Arti nya Berlindung, minta terpelihara artinya berlindung atau bernaung, seperti seorang yang bernaung atau berlindung pada rimbunnya pohon dari sengatan matahari, seorang yang berta’awudz harus menyadari bahwa dirinya sedang berlindung pada sesuatu dari sesuatu yang ia hindari.

Ta`awudz artinya berlindung dari syetan yaitu segala kekuatan atau pengaruh yang menjauhkan kita dari kebenaran ,asal kata syetan-syaithon = Syathana – yasythunu – syathnan = menyalahinya / menjauhi dari kebenaran atau orang / sesuatu yang jahatDalam konteks batin ( emosional-mental-spiritual), seorang yang berta’awudz melindungkan keterbatasan atau kekurangan dirinya pada kesempurnaan atau kecukupan dari Yang maha Sumber, dengan jalan mengucapkan nama-nama Ilahi .Saat berta’awudz misalnya seseorang yang sedang gelisah melindungkan dirinya pada ketentraman Ilahi, dengan ataupun tanpa ia sadari Getaran Spiritual dari nama Allah yang ia sebutkan akan menghilangkan gelombang-gelombang energi kegelisahannya, hati pun menjadi tentram.Saat seorang sedang pesimis, berkecil hati, kemudian berta’awudz , getaran spiritual dari lafadz Allah yang ia ucapkan akan memancarkan gelombang energi positif yang akan menghilangkan getaran-getaran negatif dalam diri pembacanya hingga hati pun terasa lapang.

Dalam True Power of Waternya Dr.Masaru Emoto, ada disebutkan bahwa fikiran-fikiran atau perasaan buruk memancarkan gelombang energi buruk .Bila kita sering memancarkan gelombang energi negatif hasil bentukan fikiran dan perasaan negatif, lambat laun kita akan diliputi oleh gelombang energi negatif yang akan merusak sistem energi kita, dan menurut ilmuwan Jepang yang satu ini,organ-organ tubuh manusia pun akan terganggu karena endapan-endapan energi negatif tersebut.

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, bahwa kata-kata positif itu memiliki Hado yang memancarkan gelombang energi positif. menurut Dr.Masaru Emoto, Orang yang sering marah harus sering mengucapkan kata-kata yang berlawanan dengan marah yaitu Sabar. Menurutnya , sabar memancarkan getaran energi yang panjang gelombangnya sesuai untuk menetralisir gelombang energi buruk dari kemarahan. Demikian pula dengan gelisah atau takut, dapat dinetralisir dengan banyak-banyak mengucapkan kata Tentram atau tenang atau aman.pun demikian dengan Dendam misalnya, saat seseorang menyimpan atau dikuasai oleh dendam , dengan banyak-banyak menyebut kata Maaf ( memafkan) atau pengampunan , gelombang energi negatif dari dendam yang menguasai dan merusak tubuh, fikiran singkatnya sistem energi pendendam tersebut akan ternetralisir dengan kata Maaf.

Dalam tradisi Islam ada dikenal dengan istilah Asma ulhusna, Asmaul husna merupakan nama-nama Tuhan yang bermakna positif.Kata-kata positif saperti Maaf, sabar , keluasan hati, dst , ada di dalam Asma ulHusna.Al Afuwu dalam Asma ulHusna bermakna yang maha memaafkan, Al Ghafur dalam asma ulhusna bermakna yang maha mengampuni , Asshobur dalam Asma-ul Husna bermakna Yang maha sabar, Allathief dalam asma ul husna bermakna kelembutan, dan seterusnya.Dengan kata lain, Memaafkan, Kesabaran, Kelapangan hati, dan sifat-sifat positif lainnya adalah bersumber dari Dia yang Esa, sang Penyebab segala sebab.Dengan menyebut salah satu dari namaNya atau dengan menyebut namaNya, , ALLAH

Ada lagi rekan-rekan disebagian tarekat yang menyatakan bahwa kita sudah tidak perlu berdoa atau meminta karena segala sudah Tuhan berikan di dalam diri kita , dengan mengambil ayat berikut,” dan ketika kami telah sempurnakan bentuk kejadiannya, kemudian Aku tiupkan ruhKu. (Q.S 15: 29) ” Menurut mereka bahwa ruh Tuhan sudah ada dalam diri kita, rezeki sudah diberikan, semuanya sudah lengkap, atas dasar itu , untuk apa kita meminta.Menurut Selanjutnya untuk apa kita mohon perlindungan pada Allah, bukankah Allah sudah melindungi kita.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan mengambil analogi komputer,manusia ibarat sebuah komputer super canggih yang super lengkap, di dalamnya sudah dipersiapkan segala sesuatunya oleh penciptanya, termasuk untuk menangkal dan memprotek dirinya dari serangan virus sudah disiapkan perangkat antivirus .Tetapi sehebat apa pun anti virus yang ada dalam komputer tersebut, kita harus sering-sering mengupdatenya , dan saat virus menyerang kita, kita harus mengaktifkannya, menscan lalu menghancurkan virusnya, tanpa itu semua apa gunanya anti virus.

Demikian pula dengan diri manusia, Sang Pencipta melengkapi kita dengan peralatan super canggih, kita memiliki perangkat detektor yang bernama hati, kita diliputi oleh aura yang akan melindungi kita dari gelombang-gelombang negatif eksternal.Saat kita menyebut namaNya, berta’awudz, sebenarnya kita sedang mengaktifkan sistem antivirus yang Tuhan simpan dalam diri kita agar aktif bekerja.Dengan alat EEG bisa dibuktikan bahwa gelombang otak manusia yang tadinya kacau tidak beraturan dapat kembali tenang ( 4-8 Hertz )beberapa saat setelah seseorang berdzikir, artinya antivirus tersebut memang benar-benar bekerja saat kita menyebut namaNya.

Dalam menghadapi samudera kehidupan, tidak jarang virus-virus atau getaran-getaran energi negatif (syaithoni) menyerang dan merusak sistem pertahanan kita.Pada saat virus-virus atau getaran-getaran kasar syetan tersebut masuk, hati sebagai radarnya akan dapat menangkap keberadaan virus tersebut, biasanya muncul rasa tidak nyaman dalam hati kita.Dan saat kita berta’awudz , gelombang energi positif yang halus akan muncul dari lubuk hati kita, semakin lama semakin kuat, gelombang-gelombang energi negatif diahalau keluar dan getaran-getaran halus dari “sifat-sifat” Ilahi akan menormalisir kembali getaran-getaran halus hati kita sehingga jernih murni lagi seperti sediakala.

Saya punya sebuah cerita lain yang barangkali akan menguatkan kembali argumen tentang mengapa harus berta’awudz, sebuah kisah tentang seorang anak yang berjalan dengan ayahnya yang Arif.dalam perjalanan mereka ke suatu tempat, anak itu melihat sebuah batu yang tergeletak di jalan yang dilewatinya.” Aku ingin menyingkirkan batu itu karena bisa membuat orang yang sedang lewat tersandung, terjatuh atau bahkan terluka.” Kata anak tersebut pada sang ayah.”Silakan nak, bila kau sanggup.”jawab ayahnya.

Anak kecil itu kemudian berusaha mengangkat batu itu, ia berjuang keras, berkeringat mengeluarkan seluruh tenaganya. Akhirnya ia gagal mengangkat batu itu.Denga kesal ia berkata pada ayahnya,” Aku telah berusaha melakukan yang terbaik dan yang kulakukan ini pun adalah hal yang baik, tapi mengapa aku gagal.”

Sang ayahnya yang bijaksana ini menjawab,”tapi dimana usaha terbaikmu? Bukankah ayah berdiri disampingmu, ayah ada didekatmu, yang kau butuhkan adalah berbalik dan meminta campurtangan ayah untukmembantumu mengangkat batu itu, maka kekuatan ayah menjadi kekuatanmu, usaha ayah menjadi usahamu, dan kamu akan mengangkat batu tersebut dengan mudah bersama ayah.”

Ya, Dia memang selalu bersama kita sepanjang waktu ,tanpa meminta perlindungan padaNya dari segala godaan keberadaanNya disisi kita barangkali tidak berarti apa-apa, kita hanya tinggal berbalik dan meminta padaNya kekuatanNya akan menjadi kekuatan kita, bersama kekuatanNya segala batu yang mengganggu dan merintangi akan dienyahkan dari hidup kita.

Selanjutnya, ta’awudz ( berlindung pada Allah) Dalam perspektif sosial, bisa berarti melindungkan diri pada keteraturan Ilahi, melindungkan diri dari perselisihan pada cinta kasih antar sesama manusia, dari perpecahan pada persatuan Ummat , dari kekacauan pada Wilayah atau kepemimpinan , dari kerusakan moral pada akhlaqul karimah, singkatnya dari hal-hal negatif pada hal-hal positif.

( dari naskah saya yang berjudul : Menggali Potensi Tak Terbatas dalam Diri Manusia dengn KEKUATAN KATA – http://kriyasemestafoundation.blogspot.com )

>Memancarkan Gelombang Energi Ta’awudz

>

Oleh : Akbar Kuspriadi, Garnd Master of Reiki
Dan jika engkau membaca al-Qur’an,
hendaklah engkau berlindung kepada Allah dari setan-setan ar-rajim
An-Nahl (16 : 98)
Aku memohon perlindungan untuknya serta anak- anak keturunannya
kepada (pemeliharaan dan pendidikan) Engkau dari setan-setan ar-rajim
Ali Imran (3 : 36)

Sebuah pesan singkat ( SMS) saya baca melalui HP saya, dari seorang teman, isinya kurang lebih tentang kebingungannya menjawab sebuah pertanyaan dari seseorang yang katanya mendalami sebuah tarekat, sebuah pertanyaan sederhana namun cukup sulit dijawab, tentang mengapa harus ta’awudz (mohon perlindungan pada Allah dari godaan Syetan)bila kita sudah bersama Allah.

Membaca SMS tersebut, saya jadi teringat kembali pernyataan salah seorang rekan yang juga katanya mendalami sebuah tarekat tertentu,Dalam sebuah diskusi di rumahnya daerah Buah batu Bandung, mahasiswa asal kalimantan itu berujar” Bukankah Innallaha ma’ana (Allah bersama kita), kalau sudah bersama Allah , masa sih setan berani mendekat, dan bukankah kita harus yakin bahwa Allah melindungi kita selama kita bersamaNya, artinya selama kita bersama Allah mengapa kita masih harus ragu akan perlindungan Allah dari segala bentuk godaan.Jadi untuk apa lagi kita ta’awudz bila kita sudah bersama Allah Dan kita harus yakin akan penjagaan Allah.”

Dalam hati saya berkata , Itulah sebabnya barangkali mengapa Imam Ali Khamenei mengharamkan mengikuti Tharekat, karena selain mayoritas tarekat yang berkembang sudah melenceng dari tujuan sebenarnya, banyaknya kesimpangsiuran pemikiran yang berkembang, sebagian menjurus ke kesesatan dan kebingungan.barangkali itupula sebabnya mengapa Nahdhatul Ulama membatasi diri dengan hanya membolehkan pengikutnya untuk mempelajari tarekat-tarekat yang mu’tabarah saja.

Ta’awudz adalah sebuah lafadz doa yang biasa dibacakan terutama sebelum membaca Qur’an ,lafadz tersebut berbunyi ” A’udzubillahi minassyaithonirrojim” artinya kurang lebih “Aku melindungkan diriku pada Allah dari (segala bentuk pengaruh atau gangguan )syetan yang terkutuk.Ta’awudz Asal katanya `aa’uudzu – ya’uwdzu – `uwdzan – `iyaadzan – ma’aadzan Arti nya Berlindung, minta terpelihara artinya berlindung atau bernaung, seperti seorang yang bernaung atau berlindung pada rimbunnya pohon dari sengatan matahari, seorang yang berta’awudz harus menyadari bahwa dirinya sedang berlindung pada sesuatu dari sesuatu yang ia hindari.

Ta`awudz artinya berlindung dari syetan yaitu segala kekuatan atau pengaruh yang menjauhkan kita dari kebenaran ,asal kata syetan-syaithon = Syathana – yasythunu – syathnan = menyalahinya / menjauhi dari kebenaran atau orang / sesuatu yang jahatDalam konteks batin ( emosional-mental-spiritual), seorang yang berta’awudz melindungkan keterbatasan atau kekurangan dirinya pada kesempurnaan atau kecukupan dari Yang maha Sumber, dengan jalan mengucapkan nama-nama Ilahi .Saat berta’awudz misalnya seseorang yang sedang gelisah melindungkan dirinya pada ketentraman Ilahi, dengan ataupun tanpa ia sadari Getaran Spiritual dari nama Allah yang ia sebutkan akan menghilangkan gelombang-gelombang energi kegelisahannya, hati pun menjadi tentram.Saat seorang sedang pesimis, berkecil hati, kemudian berta’awudz , getaran spiritual dari lafadz Allah yang ia ucapkan akan memancarkan gelombang energi positif yang akan menghilangkan getaran-getaran negatif dalam diri pembacanya hingga hati pun terasa lapang.

Dalam True Power of Waternya Dr.Masaru Emoto, ada disebutkan bahwa fikiran-fikiran atau perasaan buruk memancarkan gelombang energi buruk .Bila kita sering memancarkan gelombang energi negatif hasil bentukan fikiran dan perasaan negatif, lambat laun kita akan diliputi oleh gelombang energi negatif yang akan merusak sistem energi kita, dan menurut ilmuwan Jepang yang satu ini,organ-organ tubuh manusia pun akan terganggu karena endapan-endapan energi negatif tersebut.

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, bahwa kata-kata positif itu memiliki Hado yang memancarkan gelombang energi positif. menurut Dr.Masaru Emoto, Orang yang sering marah harus sering mengucapkan kata-kata yang berlawanan dengan marah yaitu Sabar. Menurutnya , sabar memancarkan getaran energi yang panjang gelombangnya sesuai untuk menetralisir gelombang energi buruk dari kemarahan. Demikian pula dengan gelisah atau takut, dapat dinetralisir dengan banyak-banyak mengucapkan kata Tentram atau tenang atau aman.pun demikian dengan Dendam misalnya, saat seseorang menyimpan atau dikuasai oleh dendam , dengan banyak-banyak menyebut kata Maaf ( memafkan) atau pengampunan , gelombang energi negatif dari dendam yang menguasai dan merusak tubuh, fikiran singkatnya sistem energi pendendam tersebut akan ternetralisir dengan kata Maaf.

Dalam tradisi Islam ada dikenal dengan istilah Asma ulhusna, Asmaul husna merupakan nama-nama Tuhan yang bermakna positif.Kata-kata positif saperti Maaf, sabar , keluasan hati, dst , ada di dalam Asma ulHusna.Al Afuwu dalam Asma ulHusna bermakna yang maha memaafkan, Al Ghafur dalam asma ulhusna bermakna yang maha mengampuni , Asshobur dalam Asma-ul Husna bermakna Yang maha sabar, Allathief dalam asma ul husna bermakna kelembutan, dan seterusnya.Dengan kata lain, Memaafkan, Kesabaran, Kelapangan hati, dan sifat-sifat positif lainnya adalah bersumber dari Dia yang Esa, sang Penyebab segala sebab.Dengan menyebut salah satu dari namaNya atau dengan menyebut namaNya, , ALLAH

Ada lagi rekan-rekan disebagian tarekat yang menyatakan bahwa kita sudah tidak perlu berdoa atau meminta karena segala sudah Tuhan berikan di dalam diri kita , dengan mengambil ayat berikut,” dan ketika kami telah sempurnakan bentuk kejadiannya, kemudian Aku tiupkan ruhKu. (Q.S 15: 29) ” Menurut mereka bahwa ruh Tuhan sudah ada dalam diri kita, rezeki sudah diberikan, semuanya sudah lengkap, atas dasar itu , untuk apa kita meminta.Menurut Selanjutnya untuk apa kita mohon perlindungan pada Allah, bukankah Allah sudah melindungi kita.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan mengambil analogi komputer,manusia ibarat sebuah komputer super canggih yang super lengkap, di dalamnya sudah dipersiapkan segala sesuatunya oleh penciptanya, termasuk untuk menangkal dan memprotek dirinya dari serangan virus sudah disiapkan perangkat antivirus .Tetapi sehebat apa pun anti virus yang ada dalam komputer tersebut, kita harus sering-sering mengupdatenya , dan saat virus menyerang kita, kita harus mengaktifkannya, menscan lalu menghancurkan virusnya, tanpa itu semua apa gunanya anti virus.

Demikian pula dengan diri manusia, Sang Pencipta melengkapi kita dengan peralatan super canggih, kita memiliki perangkat detektor yang bernama hati, kita diliputi oleh aura yang akan melindungi kita dari gelombang-gelombang negatif eksternal.Saat kita menyebut namaNya, berta’awudz, sebenarnya kita sedang mengaktifkan sistem antivirus yang Tuhan simpan dalam diri kita agar aktif bekerja.Dengan alat EEG bisa dibuktikan bahwa gelombang otak manusia yang tadinya kacau tidak beraturan dapat kembali tenang ( 4-8 Hertz )beberapa saat setelah seseorang berdzikir, artinya antivirus tersebut memang benar-benar bekerja saat kita menyebut namaNya.

Dalam menghadapi samudera kehidupan, tidak jarang virus-virus atau getaran-getaran energi negatif (syaithoni) menyerang dan merusak sistem pertahanan kita.Pada saat virus-virus atau getaran-getaran kasar syetan tersebut masuk, hati sebagai radarnya akan dapat menangkap keberadaan virus tersebut, biasanya muncul rasa tidak nyaman dalam hati kita.Dan saat kita berta’awudz , gelombang energi positif yang halus akan muncul dari lubuk hati kita, semakin lama semakin kuat, gelombang-gelombang energi negatif diahalau keluar dan getaran-getaran halus dari “sifat-sifat” Ilahi akan menormalisir kembali getaran-getaran halus hati kita sehingga jernih murni lagi seperti sediakala.

Saya punya sebuah cerita lain yang barangkali akan menguatkan kembali argumen tentang mengapa harus berta’awudz, sebuah kisah tentang seorang anak yang berjalan dengan ayahnya yang Arif.dalam perjalanan mereka ke suatu tempat, anak itu melihat sebuah batu yang tergeletak di jalan yang dilewatinya.” Aku ingin menyingkirkan batu itu karena bisa membuat orang yang sedang lewat tersandung, terjatuh atau bahkan terluka.” Kata anak tersebut pada sang ayah.”Silakan nak, bila kau sanggup.”jawab ayahnya.

Anak kecil itu kemudian berusaha mengangkat batu itu, ia berjuang keras, berkeringat mengeluarkan seluruh tenaganya. Akhirnya ia gagal mengangkat batu itu.Denga kesal ia berkata pada ayahnya,” Aku telah berusaha melakukan yang terbaik dan yang kulakukan ini pun adalah hal yang baik, tapi mengapa aku gagal.”

Sang ayahnya yang bijaksana ini menjawab,”tapi dimana usaha terbaikmu? Bukankah ayah berdiri disampingmu, ayah ada didekatmu, yang kau butuhkan adalah berbalik dan meminta campurtangan ayah untukmembantumu mengangkat batu itu, maka kekuatan ayah menjadi kekuatanmu, usaha ayah menjadi usahamu, dan kamu akan mengangkat batu tersebut dengan mudah bersama ayah.”

Ya, Dia memang selalu bersama kita sepanjang waktu ,tanpa meminta perlindungan padaNya dari segala godaan keberadaanNya disisi kita barangkali tidak berarti apa-apa, kita hanya tinggal berbalik dan meminta padaNya kekuatanNya akan menjadi kekuatan kita, bersama kekuatanNya segala batu yang mengganggu dan merintangi akan dienyahkan dari hidup kita.

Selanjutnya, ta’awudz ( berlindung pada Allah) Dalam perspektif sosial, bisa berarti melindungkan diri pada keteraturan Ilahi, melindungkan diri dari perselisihan pada cinta kasih antar sesama manusia, dari perpecahan pada persatuan Ummat , dari kekacauan pada Wilayah atau kepemimpinan , dari kerusakan moral pada akhlaqul karimah, singkatnya dari hal-hal negatif pada hal-hal positif.

( dari naskah saya yang berjudul : Menggali Potensi Tak Terbatas dalam Diri Manusia dengn KEKUATAN KATA – http://kriyasemestafoundation.blogspot.com )

Reiki Dalam Pandangan Ulama

Oleh : Ustadz Toto Yati Iskandar
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikam Lembang,
Ketua Majelis Ulama Indonesia Cisarua Lembang

Alam semesta beserta seluruh misteri di dalamnya adalah simbol kemaha adaan Allah Sang Khaliq Yang Maha Ada, Maha Pencipta yaitu Tuhan kita Allah SWT, semakin direnung dan difikirkan maka akan semakin terasa kebesaran Allah serta menjadi pelajaran yang sangat berharga, Allah berfirman dalam surat Albaqoroh: 164

Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, peredaran malam dan siang, kapal yang berlayar dilautan membawa barang-barang yang berfaedah bagi manusia, hujan yang diturunkan Allah dari langit yang dengannya (dengan air hujan tersebut) dihidupkanNya dengannya bumi yang telah mati dan berkeliaran atasnya tiap-tiap yang melata , angin yang bertiup dan awan yang terbentang antara langit dan bumi, Sesungguhnya semua itu merupakan ayat-ayat / simbol-simbol/ tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

Manusia adalah sebuah alam dari seluruh alam ciptaanNya.hanya kepada manusialah Allah menyerahkan seluruh alam semesta ciptaanNya untuk diolah, dimanfaatkan karena manusia adalah makhluk yang termulia di muka bumi ini.

Sebagai makhluk termulia dan sebagai pengemban amanat Ilahi di atas alam ini, banyak pekerjaan yang harus dikerjakan manusia beserta seluruh persoalannya,.Dari kemuliaannya menghadapi persoalan yang harus diselesaikan, banyak sekali nilai hidup yang suit diucapkan dengan (simbol berupa) kata-kata,banyak aktifitas hidup dan kehidupan yang sulit dinyatakan dengan indera kita, tetapi mudah dilukiskan dalam bentuk simbol.

“Manusia adalah makhluk yang bersimbol, makhluk yang pandai menggunaaakan simbol untuk menyatakan perasaannya.” ( Depag : Hkmah Ibadah Haji : Halaman 6)

Sebagai contoh : negara-negara di dunia ini mempunyai bendara, lambang negara dst, bila ada yang mengatakan bahwa simbol-simbol termasuk bendera adalah musyrik, maka izinkan saya bertanya, adakah benda yang musyrik? Syirik adalah sifat yang melekat pada seseorang, musyrik adalah subjeknya, dan yang bisa musyrik itu manusianya, bukan benda, bahkan Ka`bah bagi umat Islam merupakan simbol persatuan dan kesatuan , Huruf hijaiyah merupakan hasil budi daya manusia (ciptaan manusia) dan bila dituliskan Alif lam Lam Ha menjadi nama yang sangat berarti bagi kaum muslimin di seluruh dunia , semuanya merupakan simbol, apakah ini musyrik ?

Selain itu, dalam ajaran tasawwuf ada tatacara tawajjuh dengan wuquf qolbi, kesemuanya merupakan riyaddloh atau ajang pelatihan hati menuju kejernihan hati, dan kesemuanya menggunakan meditasi, simbol, dan visualisasi, untuk lebih jelasnya kami akan kutip buku Ilmu Ketuhanan karya KH.Haderamie HN, hal 89-94 :

“ Siapa yang menghadapkan (tawajjuh) ( fokus/konsentrasi) pada dirinya sendiri niscaya akan terbuka baginya apa yang ada pada Hidrat keTuhanan dari segala rahasia.Maka ia akan sampai kepada ma`rifat Tuhannya dengan ma`rifat Syuhudi (penyaksian akan keagungan Ilahi / seperti saat Musa pingsan melihat “cahaya “Alah) karena pada hekekatnya ruh – kemanusiaan adalah cermin bagi Hidrat keTuhanan itu yang padanya terdapat quwwatul aqliyyah (kekuatan fikiran murni) yang merupakan Jauhar Ilahi……..dst

Cara melaksanakan Wukuf Qolbi : Seorang Salik harus kosongkan dahulu semua pemikiran-pemikiran kemudian melemaskan seluruh kekuatannya dan pengindraannya dari semua alat pengindraan .Lalu melepaskan nafsunya untuk menggerakan organ tubuh.Setelah itu pandangan mata hatinya berhadap kepada hakekat hati menurut ajaran istighroq (tenggelam) istihlak (sirna) secara terus menerus, maka kita tawajjuhnya meningkat kepada hakekat hati itu, bertambah pulalah ma`rifat kepada Tuhan Yang Maha Suci.

Cara yang lain tentang wukuf Qolbu: seorang salik bertawajjuh (mengarahkan pandangan mata hatinya ) pada daerah hati (menyadari keberadaan hati.pen),setelah ia mengosongkan segala macam kesibukan, keruwetan, lalu memeandang/ mengamati tubuhnya, dari daerah hati, bayangkan cahaya seperti bola, dan selanjutnya dia khaaayalkan ruhnya menembus lapisan-lapisan langit dan bumi……………..dst

…………..Seseorang salik berhadap kepada hatinya sendiri kemudian tergambar ruhnya pada hatinya berupa cahaya putih, bersih cemerlang tiada terhingga , tergambar pula pada hakekat ruhnya berupa cahaya (sampai)kepada rupa alam seperti burung diudara, ………..”

Dari kutipan di atas difahami bahwa seorang sufi untuk musyahadah (penyaksian) diawal dengan kaifiyah(tata cara) latihan musyahadah yaitu : pertama mengosongkan keinginan/fikiran/ pengindraan, kemudian konsentrasi, berikutnya membuat gambaran (visualisasi) sebuah atau beberapa simbol (cahaya, bola putih, burung, dst), kemudian dia pasrah/ membiarkan dari akibat kaifiyah tersebut.

Pengertian REIKI menurut buku panduan Reiki Kriya Semesta adalah terdiri dari dua kata : Rei yang artinya alam semesta, dan Ki yang artinya Energi, Jadi Reiki adalah sebuah ilmu untuk mengakses energi alam semesta menjadi sebuah alat yang terkontrol dan terkoordinir melalui beberapa tanda /simbol sebagai penghubung dengan beberapa karakter tenaga alam semesta untuk mencapai tujuan yang bermaslahat bagi ummat manusia .

Reiki ditemukan bukan oleh seorang muslim, tetapi karena Reiki merupakan ilmu ( lahir dari teori kemudian eksperimen-eksperiense, pelatihan,dst) , maka kedudukan Reiki bersifat Netral, tergantung siapa yang menggunakan.

Dalam hal ini sebuah Hadis menyatakan ,” Diriwayatkan dari Auf bin Malik Al Anshory ra. “Kami biasa menggunakan mantera (ruqyah) pada masa jahiliyah, kemudian kami bertanya kepada Rasulullah, “ Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu tentang mantera?” beliau menjawab,” Peragakan kepadaku manteramu itu!”kemudian beliau menjawab,” Mantera tidak ada salahnya selagi tidak mengandung syirik!” (H.R.Muslim hadist nomor 2063)

Kemudian hadist lainnya, dari Jabir r.a. katanya ,” Ya Rasulullah, keluarga kami mempunyai mantera untuk gigitan kalajengking tetapi (kami mendengar) anda melarang mantera, bagaimana itu ?” Lalu mereka memperagakan mantera mereka dihadapan Rasulullah.Sabda beliau,” Tidak ada jeleknya, siapa yang sanggup diantara kalian memanfaatkan mantera untuk menolong saudaranya, hendaklah dimanfaatkan.” “ (H.R. Muslim, hadist nomor 2062)

Hadist senada Diriwatakan oleh Jabir bin Abdulah r.a. katanya,” Rasululah membolehkan keluarga Hazm memanterai bekas gigitan ular.” Dan beliau bertanya kepada Asma` binti Umais,” kelihatannya tubuh anak saudaraku ini kurus kering.Apakah mereka kurang makan?” Jawab Asma`,” Tidak ! mereka terkena penyakit pengaruh pandangan mata” Sabda nabi padaku,” Manterailah mereka!” Lalu kuminta agar nabilah yang memanterai mereka, tetapi beliau mengatakan,” manterailah mereka oleh kalian!” (H.R.Muslim, Hadist nomor 2060)

Hadist lainnya, dari Aisyah r.a. katanya,” Apabila seseorang mengadukan suatu penyakit yang dideritanya kepada Rasulullah s.a.w seperti bisul, kudis atau luka maka nabi berucap sambil menggerakan anak jarinya seperti ini- sufyan meletakan telunjuknya ke tanah, kemudian mengangkatnya- sambil membaca ,’ Dengan nama
Allah tanah bumi kami, dengan sebagian air ludah kami, semoga sembuhlah penyakit kami dengan izin Allah.” ( H.R.Muslim , Hadist nomor ; 2056)

Hadist senada diriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi pernah memantrai orang sakit dengan debu, tanah, dan air ludah ( H.R Bukhari Hadist nomr 1922, )

Jadi, alam semesta merupakan anugrah dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT, semuanya untuk kemasahatan umat manusia bagi Ulul Albab/ Ahlil Fikri, dan bukankah manusia itu sendiri bagian kecil dari alam semesta, yang kesemuanya itu merupakan ayat-ayat Allah (simbol-simbol) yang hanya dapat di”baca” dan dimengerti oeh kaum yang berfkir, lalu mengapa tidak kita sebagai kholifah fil ardli (penguasa alam semesta) mengadakan kontak/ hubungan dengan alam semesta dalam rangka ibadah kepada Allah?Bukankah Allah memerintahkan kita untuk tadabur pada alam kemudian akhirnya tasyakur ?

Perhatikan firman Allah dalam Alqur`an Surat al anfal ayat 17:
Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar tetapi sesungguhnya Allahlah yang melempar………………………………”

Dari ayat tersebut nampaklah bahwa perbuatan manusia hanyalah mazzhar (objek perbuatan) Allah, yang pada hakekatnya mazzhar itu hanyalah bayangan semata-mata.
Berkenaan dengan ayat tersebutTafsir Ibnu Kasir dan dapat pula dilihat dalam kitab Asbabun Nuzul Imam Suyuthi ,” Ibnu Abbas berkata bahwa ketika perang badar, Rasulullah berdoa ,” Ya Tuhan, jika Engkau binasakan rombongan ini, maka tidak akan disembah lagi Engkau di muka bumi ini untuk selama-lamanya, “ Kemudian Jibril berkata ,” Ambilah segenggam tanah dan lemparkanlah pada mereka!” Maka Nabi mengambil segenggam tanah dan melemparkannnya,”

Itulah hadist yang menjadi Asbabunnuzul turunnya Surat Al Anfal ayat 17, sehingga menjadi pedoman bagi kita bahwa semua yang ada di alam semesta bisa dijadikan media untuk mencapai tujuan yang diharapkan, dan sudah tentu semua itu bagi orang yang bertauhid tidak menjadi syirik.

Ditulis di Cisarua Lembang,2007
http://kriyasemestafoundation.blogspot.com

>Reiki Dalam Pandangan Ulama

>Oleh : Ustadz Toto Yati Iskandar
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikam Lembang,
Ketua Majelis Ulama Indonesia Cisarua Lembang

Alam semesta beserta seluruh misteri di dalamnya adalah simbol kemaha adaan Allah Sang Khaliq Yang Maha Ada, Maha Pencipta yaitu Tuhan kita Allah SWT, semakin direnung dan difikirkan maka akan semakin terasa kebesaran Allah serta menjadi pelajaran yang sangat berharga, Allah berfirman dalam surat Albaqoroh: 164

Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, peredaran malam dan siang, kapal yang berlayar dilautan membawa barang-barang yang berfaedah bagi manusia, hujan yang diturunkan Allah dari langit yang dengannya (dengan air hujan tersebut) dihidupkanNya dengannya bumi yang telah mati dan berkeliaran atasnya tiap-tiap yang melata , angin yang bertiup dan awan yang terbentang antara langit dan bumi, Sesungguhnya semua itu merupakan ayat-ayat / simbol-simbol/ tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

Manusia adalah sebuah alam dari seluruh alam ciptaanNya.hanya kepada manusialah Allah menyerahkan seluruh alam semesta ciptaanNya untuk diolah, dimanfaatkan karena manusia adalah makhluk yang termulia di muka bumi ini.

Sebagai makhluk termulia dan sebagai pengemban amanat Ilahi di atas alam ini, banyak pekerjaan yang harus dikerjakan manusia beserta seluruh persoalannya,.Dari kemuliaannya menghadapi persoalan yang harus diselesaikan, banyak sekali nilai hidup yang suit diucapkan dengan (simbol berupa) kata-kata,banyak aktifitas hidup dan kehidupan yang sulit dinyatakan dengan indera kita, tetapi mudah dilukiskan dalam bentuk simbol.

“Manusia adalah makhluk yang bersimbol, makhluk yang pandai menggunaaakan simbol untuk menyatakan perasaannya.” ( Depag : Hkmah Ibadah Haji : Halaman 6)

Sebagai contoh : negara-negara di dunia ini mempunyai bendara, lambang negara dst, bila ada yang mengatakan bahwa simbol-simbol termasuk bendera adalah musyrik, maka izinkan saya bertanya, adakah benda yang musyrik? Syirik adalah sifat yang melekat pada seseorang, musyrik adalah subjeknya, dan yang bisa musyrik itu manusianya, bukan benda, bahkan Ka`bah bagi umat Islam merupakan simbol persatuan dan kesatuan , Huruf hijaiyah merupakan hasil budi daya manusia (ciptaan manusia) dan bila dituliskan Alif lam Lam Ha menjadi nama yang sangat berarti bagi kaum muslimin di seluruh dunia , semuanya merupakan simbol, apakah ini musyrik ?

Selain itu, dalam ajaran tasawwuf ada tatacara tawajjuh dengan wuquf qolbi, kesemuanya merupakan riyaddloh atau ajang pelatihan hati menuju kejernihan hati, dan kesemuanya menggunakan meditasi, simbol, dan visualisasi, untuk lebih jelasnya kami akan kutip buku Ilmu Ketuhanan karya KH.Haderamie HN, hal 89-94 :

“ Siapa yang menghadapkan (tawajjuh) ( fokus/konsentrasi) pada dirinya sendiri niscaya akan terbuka baginya apa yang ada pada Hidrat keTuhanan dari segala rahasia.Maka ia akan sampai kepada ma`rifat Tuhannya dengan ma`rifat Syuhudi (penyaksian akan keagungan Ilahi / seperti saat Musa pingsan melihat “cahaya “Alah) karena pada hekekatnya ruh – kemanusiaan adalah cermin bagi Hidrat keTuhanan itu yang padanya terdapat quwwatul aqliyyah (kekuatan fikiran murni) yang merupakan Jauhar Ilahi……..dst

Cara melaksanakan Wukuf Qolbi : Seorang Salik harus kosongkan dahulu semua pemikiran-pemikiran kemudian melemaskan seluruh kekuatannya dan pengindraannya dari semua alat pengindraan .Lalu melepaskan nafsunya untuk menggerakan organ tubuh.Setelah itu pandangan mata hatinya berhadap kepada hakekat hati menurut ajaran istighroq (tenggelam) istihlak (sirna) secara terus menerus, maka kita tawajjuhnya meningkat kepada hakekat hati itu, bertambah pulalah ma`rifat kepada Tuhan Yang Maha Suci.

Cara yang lain tentang wukuf Qolbu: seorang salik bertawajjuh (mengarahkan pandangan mata hatinya ) pada daerah hati (menyadari keberadaan hati.pen),setelah ia mengosongkan segala macam kesibukan, keruwetan, lalu memeandang/ mengamati tubuhnya, dari daerah hati, bayangkan cahaya seperti bola, dan selanjutnya dia khaaayalkan ruhnya menembus lapisan-lapisan langit dan bumi……………..dst

…………..Seseorang salik berhadap kepada hatinya sendiri kemudian tergambar ruhnya pada hatinya berupa cahaya putih, bersih cemerlang tiada terhingga , tergambar pula pada hakekat ruhnya berupa cahaya (sampai)kepada rupa alam seperti burung diudara, ………..”

Dari kutipan di atas difahami bahwa seorang sufi untuk musyahadah (penyaksian) diawal dengan kaifiyah(tata cara) latihan musyahadah yaitu : pertama mengosongkan keinginan/fikiran/ pengindraan, kemudian konsentrasi, berikutnya membuat gambaran (visualisasi) sebuah atau beberapa simbol (cahaya, bola putih, burung, dst), kemudian dia pasrah/ membiarkan dari akibat kaifiyah tersebut.

Pengertian REIKI menurut buku panduan Reiki Kriya Semesta adalah terdiri dari dua kata : Rei yang artinya alam semesta, dan Ki yang artinya Energi, Jadi Reiki adalah sebuah ilmu untuk mengakses energi alam semesta menjadi sebuah alat yang terkontrol dan terkoordinir melalui beberapa tanda /simbol sebagai penghubung dengan beberapa karakter tenaga alam semesta untuk mencapai tujuan yang bermaslahat bagi ummat manusia .

Reiki ditemukan bukan oleh seorang muslim, tetapi karena Reiki merupakan ilmu ( lahir dari teori kemudian eksperimen-eksperiense, pelatihan,dst) , maka kedudukan Reiki bersifat Netral, tergantung siapa yang menggunakan.

Dalam hal ini sebuah Hadis menyatakan ,” Diriwayatkan dari Auf bin Malik Al Anshory ra. “Kami biasa menggunakan mantera (ruqyah) pada masa jahiliyah, kemudian kami bertanya kepada Rasulullah, “ Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu tentang mantera?” beliau menjawab,” Peragakan kepadaku manteramu itu!”kemudian beliau menjawab,” Mantera tidak ada salahnya selagi tidak mengandung syirik!” (H.R.Muslim hadist nomor 2063)

Kemudian hadist lainnya, dari Jabir r.a. katanya ,” Ya Rasulullah, keluarga kami mempunyai mantera untuk gigitan kalajengking tetapi (kami mendengar) anda melarang mantera, bagaimana itu ?” Lalu mereka memperagakan mantera mereka dihadapan Rasulullah.Sabda beliau,” Tidak ada jeleknya, siapa yang sanggup diantara kalian memanfaatkan mantera untuk menolong saudaranya, hendaklah dimanfaatkan.” “ (H.R. Muslim, hadist nomor 2062)

Hadist senada Diriwatakan oleh Jabir bin Abdulah r.a. katanya,” Rasululah membolehkan keluarga Hazm memanterai bekas gigitan ular.” Dan beliau bertanya kepada Asma` binti Umais,” kelihatannya tubuh anak saudaraku ini kurus kering.Apakah mereka kurang makan?” Jawab Asma`,” Tidak ! mereka terkena penyakit pengaruh pandangan mata” Sabda nabi padaku,” Manterailah mereka!” Lalu kuminta agar nabilah yang memanterai mereka, tetapi beliau mengatakan,” manterailah mereka oleh kalian!” (H.R.Muslim, Hadist nomor 2060)

Hadist lainnya, dari Aisyah r.a. katanya,” Apabila seseorang mengadukan suatu penyakit yang dideritanya kepada Rasulullah s.a.w seperti bisul, kudis atau luka maka nabi berucap sambil menggerakan anak jarinya seperti ini- sufyan meletakan telunjuknya ke tanah, kemudian mengangkatnya- sambil membaca ,’ Dengan nama
Allah tanah bumi kami, dengan sebagian air ludah kami, semoga sembuhlah penyakit kami dengan izin Allah.” ( H.R.Muslim , Hadist nomor ; 2056)

Hadist senada diriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi pernah memantrai orang sakit dengan debu, tanah, dan air ludah ( H.R Bukhari Hadist nomr 1922, )

Jadi, alam semesta merupakan anugrah dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT, semuanya untuk kemasahatan umat manusia bagi Ulul Albab/ Ahlil Fikri, dan bukankah manusia itu sendiri bagian kecil dari alam semesta, yang kesemuanya itu merupakan ayat-ayat Allah (simbol-simbol) yang hanya dapat di”baca” dan dimengerti oeh kaum yang berfkir, lalu mengapa tidak kita sebagai kholifah fil ardli (penguasa alam semesta) mengadakan kontak/ hubungan dengan alam semesta dalam rangka ibadah kepada Allah?Bukankah Allah memerintahkan kita untuk tadabur pada alam kemudian akhirnya tasyakur ?

Perhatikan firman Allah dalam Alqur`an Surat al anfal ayat 17:
Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar tetapi sesungguhnya Allahlah yang melempar………………………………”

Dari ayat tersebut nampaklah bahwa perbuatan manusia hanyalah mazzhar (objek perbuatan) Allah, yang pada hakekatnya mazzhar itu hanyalah bayangan semata-mata.
Berkenaan dengan ayat tersebutTafsir Ibnu Kasir dan dapat pula dilihat dalam kitab Asbabun Nuzul Imam Suyuthi ,” Ibnu Abbas berkata bahwa ketika perang badar, Rasulullah berdoa ,” Ya Tuhan, jika Engkau binasakan rombongan ini, maka tidak akan disembah lagi Engkau di muka bumi ini untuk selama-lamanya, “ Kemudian Jibril berkata ,” Ambilah segenggam tanah dan lemparkanlah pada mereka!” Maka Nabi mengambil segenggam tanah dan melemparkannnya,”

Itulah hadist yang menjadi Asbabunnuzul turunnya Surat Al Anfal ayat 17, sehingga menjadi pedoman bagi kita bahwa semua yang ada di alam semesta bisa dijadikan media untuk mencapai tujuan yang diharapkan, dan sudah tentu semua itu bagi orang yang bertauhid tidak menjadi syirik.

Ditulis di Cisarua Lembang,2007
http://kriyasemestafoundation.blogspot.com

>Reiki Dalam Pandangan Ulama

>Oleh : Ustadz Toto Yati Iskandar
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikam Lembang,
Ketua Majelis Ulama Indonesia Cisarua Lembang

Alam semesta beserta seluruh misteri di dalamnya adalah simbol kemaha adaan Allah Sang Khaliq Yang Maha Ada, Maha Pencipta yaitu Tuhan kita Allah SWT, semakin direnung dan difikirkan maka akan semakin terasa kebesaran Allah serta menjadi pelajaran yang sangat berharga, Allah berfirman dalam surat Albaqoroh: 164

Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, peredaran malam dan siang, kapal yang berlayar dilautan membawa barang-barang yang berfaedah bagi manusia, hujan yang diturunkan Allah dari langit yang dengannya (dengan air hujan tersebut) dihidupkanNya dengannya bumi yang telah mati dan berkeliaran atasnya tiap-tiap yang melata , angin yang bertiup dan awan yang terbentang antara langit dan bumi, Sesungguhnya semua itu merupakan ayat-ayat / simbol-simbol/ tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

Manusia adalah sebuah alam dari seluruh alam ciptaanNya.hanya kepada manusialah Allah menyerahkan seluruh alam semesta ciptaanNya untuk diolah, dimanfaatkan karena manusia adalah makhluk yang termulia di muka bumi ini.

Sebagai makhluk termulia dan sebagai pengemban amanat Ilahi di atas alam ini, banyak pekerjaan yang harus dikerjakan manusia beserta seluruh persoalannya,.Dari kemuliaannya menghadapi persoalan yang harus diselesaikan, banyak sekali nilai hidup yang suit diucapkan dengan (simbol berupa) kata-kata,banyak aktifitas hidup dan kehidupan yang sulit dinyatakan dengan indera kita, tetapi mudah dilukiskan dalam bentuk simbol.

“Manusia adalah makhluk yang bersimbol, makhluk yang pandai menggunaaakan simbol untuk menyatakan perasaannya.” ( Depag : Hkmah Ibadah Haji : Halaman 6)

Sebagai contoh : negara-negara di dunia ini mempunyai bendara, lambang negara dst, bila ada yang mengatakan bahwa simbol-simbol termasuk bendera adalah musyrik, maka izinkan saya bertanya, adakah benda yang musyrik? Syirik adalah sifat yang melekat pada seseorang, musyrik adalah subjeknya, dan yang bisa musyrik itu manusianya, bukan benda, bahkan Ka`bah bagi umat Islam merupakan simbol persatuan dan kesatuan , Huruf hijaiyah merupakan hasil budi daya manusia (ciptaan manusia) dan bila dituliskan Alif lam Lam Ha menjadi nama yang sangat berarti bagi kaum muslimin di seluruh dunia , semuanya merupakan simbol, apakah ini musyrik ?

Selain itu, dalam ajaran tasawwuf ada tatacara tawajjuh dengan wuquf qolbi, kesemuanya merupakan riyaddloh atau ajang pelatihan hati menuju kejernihan hati, dan kesemuanya menggunakan meditasi, simbol, dan visualisasi, untuk lebih jelasnya kami akan kutip buku Ilmu Ketuhanan karya KH.Haderamie HN, hal 89-94 :

“ Siapa yang menghadapkan (tawajjuh) ( fokus/konsentrasi) pada dirinya sendiri niscaya akan terbuka baginya apa yang ada pada Hidrat keTuhanan dari segala rahasia.Maka ia akan sampai kepada ma`rifat Tuhannya dengan ma`rifat Syuhudi (penyaksian akan keagungan Ilahi / seperti saat Musa pingsan melihat “cahaya “Alah) karena pada hekekatnya ruh – kemanusiaan adalah cermin bagi Hidrat keTuhanan itu yang padanya terdapat quwwatul aqliyyah (kekuatan fikiran murni) yang merupakan Jauhar Ilahi……..dst

Cara melaksanakan Wukuf Qolbi : Seorang Salik harus kosongkan dahulu semua pemikiran-pemikiran kemudian melemaskan seluruh kekuatannya dan pengindraannya dari semua alat pengindraan .Lalu melepaskan nafsunya untuk menggerakan organ tubuh.Setelah itu pandangan mata hatinya berhadap kepada hakekat hati menurut ajaran istighroq (tenggelam) istihlak (sirna) secara terus menerus, maka kita tawajjuhnya meningkat kepada hakekat hati itu, bertambah pulalah ma`rifat kepada Tuhan Yang Maha Suci.

Cara yang lain tentang wukuf Qolbu: seorang salik bertawajjuh (mengarahkan pandangan mata hatinya ) pada daerah hati (menyadari keberadaan hati.pen),setelah ia mengosongkan segala macam kesibukan, keruwetan, lalu memeandang/ mengamati tubuhnya, dari daerah hati, bayangkan cahaya seperti bola, dan selanjutnya dia khaaayalkan ruhnya menembus lapisan-lapisan langit dan bumi……………..dst

…………..Seseorang salik berhadap kepada hatinya sendiri kemudian tergambar ruhnya pada hatinya berupa cahaya putih, bersih cemerlang tiada terhingga , tergambar pula pada hakekat ruhnya berupa cahaya (sampai)kepada rupa alam seperti burung diudara, ………..”

Dari kutipan di atas difahami bahwa seorang sufi untuk musyahadah (penyaksian) diawal dengan kaifiyah(tata cara) latihan musyahadah yaitu : pertama mengosongkan keinginan/fikiran/ pengindraan, kemudian konsentrasi, berikutnya membuat gambaran (visualisasi) sebuah atau beberapa simbol (cahaya, bola putih, burung, dst), kemudian dia pasrah/ membiarkan dari akibat kaifiyah tersebut.

Pengertian REIKI menurut buku panduan Reiki Kriya Semesta adalah terdiri dari dua kata : Rei yang artinya alam semesta, dan Ki yang artinya Energi, Jadi Reiki adalah sebuah ilmu untuk mengakses energi alam semesta menjadi sebuah alat yang terkontrol dan terkoordinir melalui beberapa tanda /simbol sebagai penghubung dengan beberapa karakter tenaga alam semesta untuk mencapai tujuan yang bermaslahat bagi ummat manusia .

Reiki ditemukan bukan oleh seorang muslim, tetapi karena Reiki merupakan ilmu ( lahir dari teori kemudian eksperimen-eksperiense, pelatihan,dst) , maka kedudukan Reiki bersifat Netral, tergantung siapa yang menggunakan.

Dalam hal ini sebuah Hadis menyatakan ,” Diriwayatkan dari Auf bin Malik Al Anshory ra. “Kami biasa menggunakan mantera (ruqyah) pada masa jahiliyah, kemudian kami bertanya kepada Rasulullah, “ Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu tentang mantera?” beliau menjawab,” Peragakan kepadaku manteramu itu!”kemudian beliau menjawab,” Mantera tidak ada salahnya selagi tidak mengandung syirik!” (H.R.Muslim hadist nomor 2063)

Kemudian hadist lainnya, dari Jabir r.a. katanya ,” Ya Rasulullah, keluarga kami mempunyai mantera untuk gigitan kalajengking tetapi (kami mendengar) anda melarang mantera, bagaimana itu ?” Lalu mereka memperagakan mantera mereka dihadapan Rasulullah.Sabda beliau,” Tidak ada jeleknya, siapa yang sanggup diantara kalian memanfaatkan mantera untuk menolong saudaranya, hendaklah dimanfaatkan.” “ (H.R. Muslim, hadist nomor 2062)

Hadist senada Diriwatakan oleh Jabir bin Abdulah r.a. katanya,” Rasululah membolehkan keluarga Hazm memanterai bekas gigitan ular.” Dan beliau bertanya kepada Asma` binti Umais,” kelihatannya tubuh anak saudaraku ini kurus kering.Apakah mereka kurang makan?” Jawab Asma`,” Tidak ! mereka terkena penyakit pengaruh pandangan mata” Sabda nabi padaku,” Manterailah mereka!” Lalu kuminta agar nabilah yang memanterai mereka, tetapi beliau mengatakan,” manterailah mereka oleh kalian!” (H.R.Muslim, Hadist nomor 2060)

Hadist lainnya, dari Aisyah r.a. katanya,” Apabila seseorang mengadukan suatu penyakit yang dideritanya kepada Rasulullah s.a.w seperti bisul, kudis atau luka maka nabi berucap sambil menggerakan anak jarinya seperti ini- sufyan meletakan telunjuknya ke tanah, kemudian mengangkatnya- sambil membaca ,’ Dengan nama
Allah tanah bumi kami, dengan sebagian air ludah kami, semoga sembuhlah penyakit kami dengan izin Allah.” ( H.R.Muslim , Hadist nomor ; 2056)

Hadist senada diriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi pernah memantrai orang sakit dengan debu, tanah, dan air ludah ( H.R Bukhari Hadist nomr 1922, )

Jadi, alam semesta merupakan anugrah dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT, semuanya untuk kemasahatan umat manusia bagi Ulul Albab/ Ahlil Fikri, dan bukankah manusia itu sendiri bagian kecil dari alam semesta, yang kesemuanya itu merupakan ayat-ayat Allah (simbol-simbol) yang hanya dapat di”baca” dan dimengerti oeh kaum yang berfkir, lalu mengapa tidak kita sebagai kholifah fil ardli (penguasa alam semesta) mengadakan kontak/ hubungan dengan alam semesta dalam rangka ibadah kepada Allah?Bukankah Allah memerintahkan kita untuk tadabur pada alam kemudian akhirnya tasyakur ?

Perhatikan firman Allah dalam Alqur`an Surat al anfal ayat 17:
Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar tetapi sesungguhnya Allahlah yang melempar………………………………”

Dari ayat tersebut nampaklah bahwa perbuatan manusia hanyalah mazzhar (objek perbuatan) Allah, yang pada hakekatnya mazzhar itu hanyalah bayangan semata-mata.
Berkenaan dengan ayat tersebutTafsir Ibnu Kasir dan dapat pula dilihat dalam kitab Asbabun Nuzul Imam Suyuthi ,” Ibnu Abbas berkata bahwa ketika perang badar, Rasulullah berdoa ,” Ya Tuhan, jika Engkau binasakan rombongan ini, maka tidak akan disembah lagi Engkau di muka bumi ini untuk selama-lamanya, “ Kemudian Jibril berkata ,” Ambilah segenggam tanah dan lemparkanlah pada mereka!” Maka Nabi mengambil segenggam tanah dan melemparkannnya,”

Itulah hadist yang menjadi Asbabunnuzul turunnya Surat Al Anfal ayat 17, sehingga menjadi pedoman bagi kita bahwa semua yang ada di alam semesta bisa dijadikan media untuk mencapai tujuan yang diharapkan, dan sudah tentu semua itu bagi orang yang bertauhid tidak menjadi syirik.

Ditulis di Cisarua Lembang,2007
http://kriyasemestafoundation.blogspot.com

>Assalamu ‘alaikum ; Penulisan Lafazh Salam

>

Pembaca kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, ucapan salam adalah sunah yang diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi sebagian kaum muslimin salah dalam mengucapkannya, sebagian salah dalam menuliskan atau melafazhkan, sebagiannya lagi salah dalam mengucapkan salam dengan meringkasnya menjadi kata yang tidak lagi menjadi salam.

Dalam bahasa arab, tulisan salam secara lengkap adalah seperti ini,

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pembacaannya adalah “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”, kalau mau terperinci panjang pendeknya di tulis “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh”, perhatikan panjang dan pendeknya…

Makna kalimat salam tersebut di antaranya adalah, “Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkah-Nya tercurah kepadamu.”

Ucapan salam di atas adalah bentuk salam yang paling sempurna, adapun bentuk pengucapan lain bisa dengan mengucapkan,


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

“Assalamu ‘alaikum warahmatullah”

Atau,


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

“Assalamu ‘alaikum”

Dasarnya adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- : عَشْرٌ . ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ : عِشْرُونَ . ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ : ثَلاَثُونَ

Dari Imran Ibn Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengucapkan “Assalamu ‘alaikum”. Nabi menjawab salam itu, lalu orang itu duduk. Nabi berkata, “sepuluh (kebaikan)”. Kemudian datang orang lain dan mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”. Nabi menjawabnya, lalu orang itu duduk dan Nabi berkata, “Dua puluh (kebaikan)”. Kemudian datang orang lain lagi dan mengucapkan “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh”. Nabi membalas salamnya lalu dia duduk dan Nabi berkata, “Tiga puluh (kebaikan).” (HR. Abu Daud)

Membalas Salam

Adapun bentuk membalas salam adalah berdasarkan firman Allah ta’ala dalam surat an-Nisa,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An Nisa’: 86)

Dalam ayat ini Allah ta’ala memerintahkan kita untuk membalas salam dengan yang lebih baik, sehingga kalau yang memberi salam mengucapkan,

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

“Assalamu ‘alaikum”

Maka minimal kita jawab dengan mengucapkan,

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ

“Wa ‘alaikumus salam”

Kalau kita ingin membalas dengan yang lebih lengkap dengan mengucapkan,


وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ

“Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah”

Atau,

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

“Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullahi wabarakatuh”

Maka ini lebih baik.

Jadi apabila yang memberi salam mengucapkan lafazh yang lengkap, maka sepantasnya kita untuk membalas dengan ucapan salam yang lengkap juga.

Perhatian!!

Kesalahan yang sering ditemui dalam pengucapan salam adalah penyingkatan salam dengan tulisan “ass”, “ass.wr.wb”, “asw” atau yang lainnya, maka ucapan seperti ini bukanlah salam, hendaknya ketika menulis komentar, sms atau media lainnya kita tidak menuliskan seperti itu. Tulislah dengan lafazh yang benar seperti “assalamu ‘alaikum”, atau kalau memang tergesa-gesa tidak di tulis juga tidak apa-apa.

Semoga bermanfaat…