Cosinergy NAQS DNA, Mikrokosmos, Makrokosmos, Mahakosmos

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah  dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Q.S. 41:53)”

Cosinergy NAQS DNA, Cosmic Energy Neuro Atomic Quanta System Deo Nadi Adham atau Nuurun ‘Ala Nuurin adalah Energi Cahaya Ilahi Yang meliputi langit dan bumi. Energi Kosmik adalah spektrum energi cahaya yang mempunyai gelombang (vibrasi) dimensi tinggi.  Energi Alam Semesta (Cosmos) pada dasarnya terbagi menjadi 3 kelompok :

  1. Energi Mikro Kosmos, adalah energi alam kecil yang berada di dalam diri manusia. Contoh dari energi-energi yang termasuk dalam kelompok ini adalah : Shakti, Kundalini, Cakra, Tenaga Dasar, Tenaga Dalam Hikmah, Tenaga Dalam Inti, Inti Ruh, dll.
  2. Energi Makro Kosmos, adalah energi alam semesta atau alam besar.  Contoh dari energi-energi yang termasuk dalam kelompok ini adalah : Reiki, Ling Chi, Karuna, Seichim, Prana (Choa Kok Sui), Drisana, Neriya, Golden Triangle, Ra-Sheeba, Energi Pusaka, Jin,  Khodam,  Energi Sinar kosmik, Tachyon, dll.
  3. Energi Maha Kosmos, adalah energi Suci dari Alam Ke-Tuhanan. Contoh : Energi Nur Ilahi, Energi Nur Muhammad, Energi Kalam Tuhan, Energi Asma Tuhan, Energi Kultivasi, dll.

Kosmos dan Keberadaannya (cahaya-semesta.com)
Kosmos adalah keteraturan yang ada di semesta. Kosmos, dalam pengertian yang paling umum, adalah suatu sistem yang teratur atau berada dalam harmoni. Berasal dari kata bahasa Yunani κόσμος yang berarti “keteraturan, susunan yang teratur, hiasan”, kosmos merupakan konsep antitesis dari khaos. Ilmu yang mempelajari kosmos disebut dengan kosmologi. Kosmologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek. Kosmologi dipelajari dalam astronomi, filosofi, dan agama.

Sebagaimana yang banyak dipahami oleh kita, bahwa ada Dua Tingkatan kosmos di semesta ini, pertama MIKROKOSMOS, dan kedua MAKROKOSMOS. Namun kami berusaha membuatnya menjadi lebih konprehensif dengan menambahkan unsur yang ketiga (baca : yang utama), yang tak terlihat dan yang paling dahsyat, yang bertanggung jawab penuh atas keberadaan kedua kosmos tersebut, yaitu MAHAKOSMOS.

Disebut sebuah keteraturan adalah karena adanya “keotomatisan” semesta yang berlangsung dalam alam yang luas ini. Siapapun yang gerak-geriknya selaras dengan sistem semesta yang berlangsung, insya Allah otomatis ia menjadi orang sukses. Karena itu, orang-orang sukses adalah orang-orang yang hidupnya teratur.

Sahabat Semesta, kita sebagai individu (Mikrokosmos) harus mengikuti keteraturan yang ada di alam semesta (Makrokosmos). Namun demikian, karena rahasia keteraturan Makrokosmos ini masih sangat banyak yang belum terungkap, maka kita ering kesulitan untuk hidup menselaraskan diri dengan alam semesta. Itu mengapa Allah SWT memberikan kemudahan kepada hamba-hamba-Nya dengan cara menyuruh hamba-hamba-Nya mengikuti aturan yang telah dibuat-Nya. Itulah keteraturan versi Mahakosmos, sebuah keteraturan yang langsung dipandu oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman.

Jika hari ini kita mengikuti keteraturan Mahakosmos, maka otomatis Mikrokosmos kita sudah selaras dengan keteraturan yang ada di dalam Makrokosmos. Itu sebabnya, sangat wajar, orang-orang yang beriman, yang hidupnya teratur maka ia berhak mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan keteraturan yang ada di semesta ini disebut sebagai SUNNATULLAH.

Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. (Q.S. 48 : 23)”

Sahabat Semesta, izinkan saya bertanya, apa pandangan Anda terhadap orang-orang yang hidupnya tidak mau mengikuti aturan yang berlaku di sekitarnya. Contoh, tidak ikut aturan RW, tidak ikut aturan Lurah, tidak ikut aturan dalam bernegara, juga bahkan tidak pernah mengikuti aturan berlalulintas. Kira-kira, apa yang akan terjadi kepada orang-orang yang berlaku demikian? Ya, tentu saja, sebuah kehancuran yang dahsyat, baik bagi dirinya dan juga berdampak kepada orang-orang di sekitarnya.

Itulah orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya belaka, ingin hidup bahagia tapi tidak mengerti arti dari kebahagiaan. Ingin hidup dihormati, tapi tidak mengerti mengapa hadir sebuah penghormatan. Ya, hawa nafsu hanya membawa kehancuran di semesta ini.

Nah, berikutnya, Sahabat Semesta, kalau saja di sebuah negara ada ATURAN MAIN yang berlaku, maka tentu saja di ALAM SEMESTA ini juga ada ATURAN MAIN yang berlaku. Dan barang siapa yang hidupnya teratur sesuai dengan aturan yang ada di ALAM SEMESTA maka kehidupannya akan sukses bahagia, tetapi barang siapa yang tidak mau mengikuti aturan di semesta, maka hidupnya akan hancur binasa dan membinasakan apapun yang ada di semestanya.

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (Q.S. 23 : 71).

Mikrokosmos
Mikrokosmos adalah unsur-unsur mikro yang ada di alam semesta. Sebenarnya batasan besaran mikro itu relatif. Mikro bisa dimulai dari quark, inti atom, elektron, proton, molekul, sel DNA, individu manusia, pohon, gunung, batu, laptop, bumi, planet dan benda-benda lainnya. Semakin mikro maka semakin tak terlihat, dan benda yang tak terlihat ini bisa disebut sebagai Quanta.

Semakin tambah kemikroan kita, maka semakin “hilanglah” kita, lalu menembus alam Maha. Laa haula walaa Quwwata illaa billaah. Inilah alam super mikro (manusia super) yang sebenarnya karena ia merasa tiada memiliki kekuatan selain kekutan dari Allah SWT.

Anda adalah Mikrokosmos di alam semesta ini. Karena alam semesta memiliki prinsip-prinsip aturan main kehidupan, maka agar Anda hidup relatif sukses, Anda harus bisa menyelaraskan diri dengan prinsip-prinsip aturan semesta di Makrokosmos yang sudah pasti selaras dengan aturan di Mahakosmos.

Insya Allah, sinergi yang selaras antar Mikrokosmos yang terjadi di alam semesta ini akan membuat bumi dan alam semesta ini menjadi “awet muda” tidak cepat letih, tidak mudah marah, dan tidak sering sakit-sakitan.

Hari ini kita melihat, selain sudah mulai tua dan sering sakit-sakitan, kini bumi pun sudah mulai mudah emosional, buktinya bencana alam pun akhirnya terjadi di mana-mana. Sebenarnya, dalam bahasa yang sederhana, maka terjadinya Bencana Alam ini adalah karena adanya hubungan yang tidak sinergis antar Mikrokosmos yang ada, termasuk hubungan antara Mikrokosmos dengan Mahakosmos, sehingga mengakibatkan secara otomatis memburuknya hubungan Mikrokosmos dan Makrokosmos, setelah itu menjadi berantakan, lalu hancurlah sebagian dari bumi ini.

Makrokosmos
Nah, gabungan dan sinergisasi individu-individu di level Mikrokosmos inilah yang disebut sebagai Makrokosmos. Jadi Makrokosmos adalah alam yang lebih bersifat “berjamaah” dan “sinergis”, saling ketergantungan, saling mempengaruhi, dan saling terkait erat dengan SUNNATULLAH yang berlaku.

Makrokosmos bekerja dengan taat sesuai “kontrak” yang telah dibuatnya di hadapan Tuhan-Nya. Alam Makro ini bergerak “apa adanya” dan “otomatis”. Jika kita memperlakukannya dengan perlakuan X maka akan berakibat Y dan seterusnya. Memang sudah demikian terprogram tanpa adanya praktek pilih kasih.

Artinya siapa pun yang bekerja dan hidup sesuai dengan keteraturan yang ada di alam Makro (Maaf, walaupun mungkin saja ia tidak ber-Tuhan, atau ia ber-Tuhan tapi tidak beragama), maka kehidupannya akan semakin ringan dan tenang. Dan barang siapa yang “melanggar” aturan yang ada di Makrokosmos maka ia akan celaka di dunia ini.

Contoh, dalam aturan Makrokosmos disebutkan bahwa apapun benda yang memiliki massa, yang dilepas dari ketinggian tertentu maka ia akan terjatuh. Walaupun “benda” tersebut adalah seorang manusia yang rajin pergi ke masjid, tetap saja secara “sunnatullah” dia akan terjatuh ketika ia melompat atau terlepas dari ketinggian gedung lantai sepuluh. Dia tidak akan terbang.

Memang, pada kasus-kasus tertentu atau “Post Majeur”, ada kontrak yang dibuat antara alam semesta ini dengan Allah yang kita tidak mudah memahaminya. Misal, kasus Isro’ dan Mi’raj-nya nabi Muhammad saw. Hal ini sunnatullahnya lebih special. Berlaku hanya untuk orang-orang tertentu, yakni orang-orang yang special di hadapan Allah.

Berikutnya, dalam alam Makrokosmos ini ada dua model Sunnatullah yang bisa kita pahami. Pertama Sunnatullah yang Visible (Nyata/Fisika), dan kedua Sunnatullah yang Invisible (Ghoib/Metafisika). Untuk hidup selaras dengan Sunnatullah yang bersifat VISIBLE/FISIK relatif jauh lebih mudah dibandingkan untuk hidup selaras dengan Sunnatullah yang bersifat INVISIBLE/METAFISIK.

Misalanya, kasus “aturan gravitasi” adalah sebuah hukum Fisika, tetapi untuk kasus seperti “aturan bahwa orang yang bersyukur itu bertambah nikmatnya”, maka perlu pengetahuan aturan yang Metafisik. Dan, percaya atau tidak, ternyata bahwa akses Metafisik yang paling dahsyat adalah kitabullah yang bernama Al-Quran.

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman (yakin dan menurut) kepada yang ghaib (metafisik), yang mendirikan shalat (habluminallah), dan menafkahkan sebahagian rezki (hablumminannas) yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Q.S. 2 : 2-4).

Begitulah alam Makrokosmos, ia bekerja secara Sunnatullah, dan bekerja sesuai dengan instruksi dari Allah SWT. Itu sebabnya, tiada yang tidak Sunnatullah, semuanya adalah Sunnatullah, dan semuanya bisa dipahami dengan Qolbu kita, yakni dengan Akal kita, selama kita dekat dengan Allah SWT. Sahabat Semesta, semua adalah sunnatullah-Nya, maka tiada satupun yang dibuat kebetulan, dan tiada satu pun yang terjadi dalam kehidupan Anda berlabel KEBETULAN.

Jadi, di alam Makrokosmos ini, Allah telah membuat hukum-hukum alam yang tidak pernah berubah karena Allah selalu menepati janji-janji-Nya. Nah, agar kehidupan sang Mikrokosmos itu selamat, maka setiap Mikrokosmos yang ada harus patuh total terhadap aturan-aturan yang terdapat di alam Makrokosmos. Dan aturan-aturan itu bisa disimak secara jelas lewat pedoman-pedoman suci versi Mahakosmos.

Mahakosmos
Pada penjelasan S3 ini, istilah MAHAKOSMOS dihadirkan sebagai suatu tempat yang MAHATERATUR, sebagi SUMBER dari KETERATURAN yang ada di seluruh semesta ini, dimana disana bersamayam ZAT YANG MAHA MENGATUR (kita tidak perlu membayangkan bagaimana CARA DIA berSEMAYAM di ARSY-pen.), yang mengatur seluruh peristiwa di alam semesta tanpa merasa lelah, ngantuk, apalagi sampai tertidur.

Bagi Muslim, istilah MAHAKOSMOS ini terkait erat dengan ARSY-NYA ALLAH SWT atau DAERAH KEKUASAAN ALLAH SWT. Karena Daerah Kekuasaan Allah ini meliputi langit, bumi dan seluruh alam semesta, maka ARSY-NYA Allah meliputi semuanya yang ada di alam semesta ini. Adapun, bentuk fisik dari ARSY itu tidak perlu dibayangkan, karena bentuknya belum tentu fisik sebagaimana yang bisa kita bayangkan. Begitupun perihal perdebatan lebih besar mana antara Allah, Arsy, dan Alam semesta, tidaklah perlu kita bahas, karena hal itu semua bukanlah sebuah pembahasan yang bakal ditemukan solusinya, dan membahas hal itu sama sekali tidak akan meningkatkan mutu ketaqwaan kita kepada Allah SWT, malahan bisa menurunkannya. Kita hanya perlu MEYAKINI bahwa ALLAH itu MAHA BESAR.

Yang jelas, pada pembahasan ini, ketika kami menyebutkan istilah MAHAKOSMOS, maka maksud intinya adalah ALLAH beserta seluruh KEMAUAN, KEMAMPUAN, dan KEKUASAANNYA, termasuk DAERAH KEKUASAANNYA. Dan semuanya adalah DAERAH KEKUASANNYA, sehingga tidak ada yang bukan Daerah Kekuasaan-Nya. Memang hal ini tidak mudah untuk dimengerti, tapi saya berharap dan yakin bahwa Anda bisa memahami apa yang dimaksud dengan istilah Mahakosmos. Yang jelas, Mahakomos itu meliputi Mikrokosmos dan Makrokosmos.

Sahabat Semesta, rupanya alam Mahakosmos ini pun tidak jauh dari Anda. Justru ia sangat dekat. Bahkan lebih dekat dari urat leher Anda. Ia lebih dalam dari apa yang paling dalam dari Anda. Jika Anda mengatakan bahwa dalamnya laut itu dapat diukur, dan dalamnya hati itu siapa yang tahu, maka alam Mahakosmos jauh lebih dalam dari hati Anda yang terdalam.

Itulah DIA, saking dekatnya sehingga kita sering melupakannya. Allah Maha Dekat, mari rasakan kedekatannya mulai saat ini, DIA tidak pergi kemana-mana, ia ada di dalam hati yang lebih dalam dari hati terdalam Anda. Ia mengenggam hati Anda, ia selalu bersama Anda. Syaratnya sederhana, yakini saja kedekatan itu dan nikmati selalu saat-saat kebersamaan Anda bersamaNya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” {Q.S. 2: 186}.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”{Q.S. 50: 16}.

Pada level yang lebih membumi, maka realitas Mahakosmos dihadirkan sebagai buku panduan suci dari Ilahi yang mengatur kehidupan kita. Dan buku panduan itu kita sebut sebagai Al-Quran dengan pendamping utamanya adalah As-Sunnah. Al-Quran dan As-Sunnah inilah sebagai kamus Mahakosmos yang hadir di muka bumi.

wallahu a’lam

>Cosinergy NAQS DNA, Mikrokosmos, Makrokosmos, Mahakosmos

>

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah  dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Q.S. 41:53)”

Cosinergy NAQS DNA, Cosmic Energy Neuro Atomic Quanta System Deo Nadi Adham atau Nuurun ‘Ala Nuurin adalah Energi Cahaya Ilahi Yang meliputi langit dan bumi. Energi Kosmik adalah spektrum energi cahaya yang mempunyai gelombang (vibrasi) dimensi tinggi.  Energi Alam Semesta (Cosmos) pada dasarnya terbagi menjadi 3 kelompok :

  1. Energi Mikro Kosmos, adalah energi alam kecil yang berada di dalam diri manusia. Contoh dari energi-energi yang termasuk dalam kelompok ini adalah : Shakti, Kundalini, Cakra, Tenaga Dasar, Tenaga Dalam Hikmah, Tenaga Dalam Inti, Inti Ruh, dll.
  2. Energi Makro Kosmos, adalah energi alam semesta atau alam besar.  Contoh dari energi-energi yang termasuk dalam kelompok ini adalah : Reiki, Ling Chi, Karuna, Seichim, Prana (Choa Kok Sui), Drisana, Neriya, Golden Triangle, Ra-Sheeba, Energi Pusaka, Jin,  Khodam,  Energi Sinar kosmik, Tachyon, dll.
  3. Energi Maha Kosmos, adalah energi Suci dari Alam Ke-Tuhanan. Contoh : Energi Nur Ilahi, Energi Nur Muhammad, Energi Kalam Tuhan, Energi Asma Tuhan, Energi Kultivasi, dll.

Kosmos dan Keberadaannya (cahaya-semesta.com)
Kosmos adalah keteraturan yang ada di semesta. Kosmos, dalam pengertian yang paling umum, adalah suatu sistem yang teratur atau berada dalam harmoni. Berasal dari kata bahasa Yunani κόσμος yang berarti “keteraturan, susunan yang teratur, hiasan”, kosmos merupakan konsep antitesis dari khaos. Ilmu yang mempelajari kosmos disebut dengan kosmologi. Kosmologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek. Kosmologi dipelajari dalam astronomi, filosofi, dan agama.

Sebagaimana yang banyak dipahami oleh kita, bahwa ada Dua Tingkatan kosmos di semesta ini, pertama MIKROKOSMOS, dan kedua MAKROKOSMOS. Namun kami berusaha membuatnya menjadi lebih konprehensif dengan menambahkan unsur yang ketiga (baca : yang utama), yang tak terlihat dan yang paling dahsyat, yang bertanggung jawab penuh atas keberadaan kedua kosmos tersebut, yaitu MAHAKOSMOS.

Disebut sebuah keteraturan adalah karena adanya “keotomatisan” semesta yang berlangsung dalam alam yang luas ini. Siapapun yang gerak-geriknya selaras dengan sistem semesta yang berlangsung, insya Allah otomatis ia menjadi orang sukses. Karena itu, orang-orang sukses adalah orang-orang yang hidupnya teratur.

Sahabat Semesta, kita sebagai individu (Mikrokosmos) harus mengikuti keteraturan yang ada di alam semesta (Makrokosmos). Namun demikian, karena rahasia keteraturan Makrokosmos ini masih sangat banyak yang belum terungkap, maka kita ering kesulitan untuk hidup menselaraskan diri dengan alam semesta. Itu mengapa Allah SWT memberikan kemudahan kepada hamba-hamba-Nya dengan cara menyuruh hamba-hamba-Nya mengikuti aturan yang telah dibuat-Nya. Itulah keteraturan versi Mahakosmos, sebuah keteraturan yang langsung dipandu oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman.

Jika hari ini kita mengikuti keteraturan Mahakosmos, maka otomatis Mikrokosmos kita sudah selaras dengan keteraturan yang ada di dalam Makrokosmos. Itu sebabnya, sangat wajar, orang-orang yang beriman, yang hidupnya teratur maka ia berhak mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan keteraturan yang ada di semesta ini disebut sebagai SUNNATULLAH.

Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. (Q.S. 48 : 23)”

Sahabat Semesta, izinkan saya bertanya, apa pandangan Anda terhadap orang-orang yang hidupnya tidak mau mengikuti aturan yang berlaku di sekitarnya. Contoh, tidak ikut aturan RW, tidak ikut aturan Lurah, tidak ikut aturan dalam bernegara, juga bahkan tidak pernah mengikuti aturan berlalulintas. Kira-kira, apa yang akan terjadi kepada orang-orang yang berlaku demikian? Ya, tentu saja, sebuah kehancuran yang dahsyat, baik bagi dirinya dan juga berdampak kepada orang-orang di sekitarnya.

Itulah orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya belaka, ingin hidup bahagia tapi tidak mengerti arti dari kebahagiaan. Ingin hidup dihormati, tapi tidak mengerti mengapa hadir sebuah penghormatan. Ya, hawa nafsu hanya membawa kehancuran di semesta ini.

Nah, berikutnya, Sahabat Semesta, kalau saja di sebuah negara ada ATURAN MAIN yang berlaku, maka tentu saja di ALAM SEMESTA ini juga ada ATURAN MAIN yang berlaku. Dan barang siapa yang hidupnya teratur sesuai dengan aturan yang ada di ALAM SEMESTA maka kehidupannya akan sukses bahagia, tetapi barang siapa yang tidak mau mengikuti aturan di semesta, maka hidupnya akan hancur binasa dan membinasakan apapun yang ada di semestanya.

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (Q.S. 23 : 71).

Mikrokosmos
Mikrokosmos adalah unsur-unsur mikro yang ada di alam semesta. Sebenarnya batasan besaran mikro itu relatif. Mikro bisa dimulai dari quark, inti atom, elektron, proton, molekul, sel DNA, individu manusia, pohon, gunung, batu, laptop, bumi, planet dan benda-benda lainnya. Semakin mikro maka semakin tak terlihat, dan benda yang tak terlihat ini bisa disebut sebagai Quanta.

Semakin tambah kemikroan kita, maka semakin “hilanglah” kita, lalu menembus alam Maha. Laa haula walaa Quwwata illaa billaah. Inilah alam super mikro (manusia super) yang sebenarnya karena ia merasa tiada memiliki kekuatan selain kekutan dari Allah SWT.

Anda adalah Mikrokosmos di alam semesta ini. Karena alam semesta memiliki prinsip-prinsip aturan main kehidupan, maka agar Anda hidup relatif sukses, Anda harus bisa menyelaraskan diri dengan prinsip-prinsip aturan semesta di Makrokosmos yang sudah pasti selaras dengan aturan di Mahakosmos.

Insya Allah, sinergi yang selaras antar Mikrokosmos yang terjadi di alam semesta ini akan membuat bumi dan alam semesta ini menjadi “awet muda” tidak cepat letih, tidak mudah marah, dan tidak sering sakit-sakitan.

Hari ini kita melihat, selain sudah mulai tua dan sering sakit-sakitan, kini bumi pun sudah mulai mudah emosional, buktinya bencana alam pun akhirnya terjadi di mana-mana. Sebenarnya, dalam bahasa yang sederhana, maka terjadinya Bencana Alam ini adalah karena adanya hubungan yang tidak sinergis antar Mikrokosmos yang ada, termasuk hubungan antara Mikrokosmos dengan Mahakosmos, sehingga mengakibatkan secara otomatis memburuknya hubungan Mikrokosmos dan Makrokosmos, setelah itu menjadi berantakan, lalu hancurlah sebagian dari bumi ini.

Makrokosmos
Nah, gabungan dan sinergisasi individu-individu di level Mikrokosmos inilah yang disebut sebagai Makrokosmos. Jadi Makrokosmos adalah alam yang lebih bersifat “berjamaah” dan “sinergis”, saling ketergantungan, saling mempengaruhi, dan saling terkait erat dengan SUNNATULLAH yang berlaku.

Makrokosmos bekerja dengan taat sesuai “kontrak” yang telah dibuatnya di hadapan Tuhan-Nya. Alam Makro ini bergerak “apa adanya” dan “otomatis”. Jika kita memperlakukannya dengan perlakuan X maka akan berakibat Y dan seterusnya. Memang sudah demikian terprogram tanpa adanya praktek pilih kasih.

Artinya siapa pun yang bekerja dan hidup sesuai dengan keteraturan yang ada di alam Makro (Maaf, walaupun mungkin saja ia tidak ber-Tuhan, atau ia ber-Tuhan tapi tidak beragama), maka kehidupannya akan semakin ringan dan tenang. Dan barang siapa yang “melanggar” aturan yang ada di Makrokosmos maka ia akan celaka di dunia ini.

Contoh, dalam aturan Makrokosmos disebutkan bahwa apapun benda yang memiliki massa, yang dilepas dari ketinggian tertentu maka ia akan terjatuh. Walaupun “benda” tersebut adalah seorang manusia yang rajin pergi ke masjid, tetap saja secara “sunnatullah” dia akan terjatuh ketika ia melompat atau terlepas dari ketinggian gedung lantai sepuluh. Dia tidak akan terbang.

Memang, pada kasus-kasus tertentu atau “Post Majeur”, ada kontrak yang dibuat antara alam semesta ini dengan Allah yang kita tidak mudah memahaminya. Misal, kasus Isro’ dan Mi’raj-nya nabi Muhammad saw. Hal ini sunnatullahnya lebih special. Berlaku hanya untuk orang-orang tertentu, yakni orang-orang yang special di hadapan Allah.

Berikutnya, dalam alam Makrokosmos ini ada dua model Sunnatullah yang bisa kita pahami. Pertama Sunnatullah yang Visible (Nyata/Fisika), dan kedua Sunnatullah yang Invisible (Ghoib/Metafisika). Untuk hidup selaras dengan Sunnatullah yang bersifat VISIBLE/FISIK relatif jauh lebih mudah dibandingkan untuk hidup selaras dengan Sunnatullah yang bersifat INVISIBLE/METAFISIK.

Misalanya, kasus “aturan gravitasi” adalah sebuah hukum Fisika, tetapi untuk kasus seperti “aturan bahwa orang yang bersyukur itu bertambah nikmatnya”, maka perlu pengetahuan aturan yang Metafisik. Dan, percaya atau tidak, ternyata bahwa akses Metafisik yang paling dahsyat adalah kitabullah yang bernama Al-Quran.

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman (yakin dan menurut) kepada yang ghaib (metafisik), yang mendirikan shalat (habluminallah), dan menafkahkan sebahagian rezki (hablumminannas) yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Q.S. 2 : 2-4).

Begitulah alam Makrokosmos, ia bekerja secara Sunnatullah, dan bekerja sesuai dengan instruksi dari Allah SWT. Itu sebabnya, tiada yang tidak Sunnatullah, semuanya adalah Sunnatullah, dan semuanya bisa dipahami dengan Qolbu kita, yakni dengan Akal kita, selama kita dekat dengan Allah SWT. Sahabat Semesta, semua adalah sunnatullah-Nya, maka tiada satupun yang dibuat kebetulan, dan tiada satu pun yang terjadi dalam kehidupan Anda berlabel KEBETULAN.

Jadi, di alam Makrokosmos ini, Allah telah membuat hukum-hukum alam yang tidak pernah berubah karena Allah selalu menepati janji-janji-Nya. Nah, agar kehidupan sang Mikrokosmos itu selamat, maka setiap Mikrokosmos yang ada harus patuh total terhadap aturan-aturan yang terdapat di alam Makrokosmos. Dan aturan-aturan itu bisa disimak secara jelas lewat pedoman-pedoman suci versi Mahakosmos.

Mahakosmos
Pada penjelasan S3 ini, istilah MAHAKOSMOS dihadirkan sebagai suatu tempat yang MAHATERATUR, sebagi SUMBER dari KETERATURAN yang ada di seluruh semesta ini, dimana disana bersamayam ZAT YANG MAHA MENGATUR (kita tidak perlu membayangkan bagaimana CARA DIA berSEMAYAM di ARSY-pen.), yang mengatur seluruh peristiwa di alam semesta tanpa merasa lelah, ngantuk, apalagi sampai tertidur.

Bagi Muslim, istilah MAHAKOSMOS ini terkait erat dengan ARSY-NYA ALLAH SWT atau DAERAH KEKUASAAN ALLAH SWT. Karena Daerah Kekuasaan Allah ini meliputi langit, bumi dan seluruh alam semesta, maka ARSY-NYA Allah meliputi semuanya yang ada di alam semesta ini. Adapun, bentuk fisik dari ARSY itu tidak perlu dibayangkan, karena bentuknya belum tentu fisik sebagaimana yang bisa kita bayangkan. Begitupun perihal perdebatan lebih besar mana antara Allah, Arsy, dan Alam semesta, tidaklah perlu kita bahas, karena hal itu semua bukanlah sebuah pembahasan yang bakal ditemukan solusinya, dan membahas hal itu sama sekali tidak akan meningkatkan mutu ketaqwaan kita kepada Allah SWT, malahan bisa menurunkannya. Kita hanya perlu MEYAKINI bahwa ALLAH itu MAHA BESAR.

Yang jelas, pada pembahasan ini, ketika kami menyebutkan istilah MAHAKOSMOS, maka maksud intinya adalah ALLAH beserta seluruh KEMAUAN, KEMAMPUAN, dan KEKUASAANNYA, termasuk DAERAH KEKUASAANNYA. Dan semuanya adalah DAERAH KEKUASANNYA, sehingga tidak ada yang bukan Daerah Kekuasaan-Nya. Memang hal ini tidak mudah untuk dimengerti, tapi saya berharap dan yakin bahwa Anda bisa memahami apa yang dimaksud dengan istilah Mahakosmos. Yang jelas, Mahakomos itu meliputi Mikrokosmos dan Makrokosmos.

Sahabat Semesta, rupanya alam Mahakosmos ini pun tidak jauh dari Anda. Justru ia sangat dekat. Bahkan lebih dekat dari urat leher Anda. Ia lebih dalam dari apa yang paling dalam dari Anda. Jika Anda mengatakan bahwa dalamnya laut itu dapat diukur, dan dalamnya hati itu siapa yang tahu, maka alam Mahakosmos jauh lebih dalam dari hati Anda yang terdalam.

Itulah DIA, saking dekatnya sehingga kita sering melupakannya. Allah Maha Dekat, mari rasakan kedekatannya mulai saat ini, DIA tidak pergi kemana-mana, ia ada di dalam hati yang lebih dalam dari hati terdalam Anda. Ia mengenggam hati Anda, ia selalu bersama Anda. Syaratnya sederhana, yakini saja kedekatan itu dan nikmati selalu saat-saat kebersamaan Anda bersamaNya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” {Q.S. 2: 186}.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”{Q.S. 50: 16}.

Pada level yang lebih membumi, maka realitas Mahakosmos dihadirkan sebagai buku panduan suci dari Ilahi yang mengatur kehidupan kita. Dan buku panduan itu kita sebut sebagai Al-Quran dengan pendamping utamanya adalah As-Sunnah. Al-Quran dan As-Sunnah inilah sebagai kamus Mahakosmos yang hadir di muka bumi.

wallahu a’lam

>Cosinergy NAQS DNA, Mikrokosmos, Makrokosmos, Mahakosmos

>

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah  dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Q.S. 41:53)”

Cosinergy NAQS DNA, Cosmic Energy Neuro Atomic Quanta System Deo Nadi Adham atau Nuurun ‘Ala Nuurin adalah Energi Cahaya Ilahi Yang meliputi langit dan bumi. Energi Kosmik adalah spektrum energi cahaya yang mempunyai gelombang (vibrasi) dimensi tinggi.  Energi Alam Semesta (Cosmos) pada dasarnya terbagi menjadi 3 kelompok :

  1. Energi Mikro Kosmos, adalah energi alam kecil yang berada di dalam diri manusia. Contoh dari energi-energi yang termasuk dalam kelompok ini adalah : Shakti, Kundalini, Cakra, Tenaga Dasar, Tenaga Dalam Hikmah, Tenaga Dalam Inti, Inti Ruh, dll.
  2. Energi Makro Kosmos, adalah energi alam semesta atau alam besar.  Contoh dari energi-energi yang termasuk dalam kelompok ini adalah : Reiki, Ling Chi, Karuna, Seichim, Prana (Choa Kok Sui), Drisana, Neriya, Golden Triangle, Ra-Sheeba, Energi Pusaka, Jin,  Khodam,  Energi Sinar kosmik, Tachyon, dll.
  3. Energi Maha Kosmos, adalah energi Suci dari Alam Ke-Tuhanan. Contoh : Energi Nur Ilahi, Energi Nur Muhammad, Energi Kalam Tuhan, Energi Asma Tuhan, Energi Kultivasi, dll.

Kosmos dan Keberadaannya (cahaya-semesta.com)
Kosmos adalah keteraturan yang ada di semesta. Kosmos, dalam pengertian yang paling umum, adalah suatu sistem yang teratur atau berada dalam harmoni. Berasal dari kata bahasa Yunani κόσμος yang berarti “keteraturan, susunan yang teratur, hiasan”, kosmos merupakan konsep antitesis dari khaos. Ilmu yang mempelajari kosmos disebut dengan kosmologi. Kosmologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek. Kosmologi dipelajari dalam astronomi, filosofi, dan agama.

Sebagaimana yang banyak dipahami oleh kita, bahwa ada Dua Tingkatan kosmos di semesta ini, pertama MIKROKOSMOS, dan kedua MAKROKOSMOS. Namun kami berusaha membuatnya menjadi lebih konprehensif dengan menambahkan unsur yang ketiga (baca : yang utama), yang tak terlihat dan yang paling dahsyat, yang bertanggung jawab penuh atas keberadaan kedua kosmos tersebut, yaitu MAHAKOSMOS.

Disebut sebuah keteraturan adalah karena adanya “keotomatisan” semesta yang berlangsung dalam alam yang luas ini. Siapapun yang gerak-geriknya selaras dengan sistem semesta yang berlangsung, insya Allah otomatis ia menjadi orang sukses. Karena itu, orang-orang sukses adalah orang-orang yang hidupnya teratur.

Sahabat Semesta, kita sebagai individu (Mikrokosmos) harus mengikuti keteraturan yang ada di alam semesta (Makrokosmos). Namun demikian, karena rahasia keteraturan Makrokosmos ini masih sangat banyak yang belum terungkap, maka kita ering kesulitan untuk hidup menselaraskan diri dengan alam semesta. Itu mengapa Allah SWT memberikan kemudahan kepada hamba-hamba-Nya dengan cara menyuruh hamba-hamba-Nya mengikuti aturan yang telah dibuat-Nya. Itulah keteraturan versi Mahakosmos, sebuah keteraturan yang langsung dipandu oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman.

Jika hari ini kita mengikuti keteraturan Mahakosmos, maka otomatis Mikrokosmos kita sudah selaras dengan keteraturan yang ada di dalam Makrokosmos. Itu sebabnya, sangat wajar, orang-orang yang beriman, yang hidupnya teratur maka ia berhak mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan keteraturan yang ada di semesta ini disebut sebagai SUNNATULLAH.

Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. (Q.S. 48 : 23)”

Sahabat Semesta, izinkan saya bertanya, apa pandangan Anda terhadap orang-orang yang hidupnya tidak mau mengikuti aturan yang berlaku di sekitarnya. Contoh, tidak ikut aturan RW, tidak ikut aturan Lurah, tidak ikut aturan dalam bernegara, juga bahkan tidak pernah mengikuti aturan berlalulintas. Kira-kira, apa yang akan terjadi kepada orang-orang yang berlaku demikian? Ya, tentu saja, sebuah kehancuran yang dahsyat, baik bagi dirinya dan juga berdampak kepada orang-orang di sekitarnya.

Itulah orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya belaka, ingin hidup bahagia tapi tidak mengerti arti dari kebahagiaan. Ingin hidup dihormati, tapi tidak mengerti mengapa hadir sebuah penghormatan. Ya, hawa nafsu hanya membawa kehancuran di semesta ini.

Nah, berikutnya, Sahabat Semesta, kalau saja di sebuah negara ada ATURAN MAIN yang berlaku, maka tentu saja di ALAM SEMESTA ini juga ada ATURAN MAIN yang berlaku. Dan barang siapa yang hidupnya teratur sesuai dengan aturan yang ada di ALAM SEMESTA maka kehidupannya akan sukses bahagia, tetapi barang siapa yang tidak mau mengikuti aturan di semesta, maka hidupnya akan hancur binasa dan membinasakan apapun yang ada di semestanya.

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (Q.S. 23 : 71).

Mikrokosmos
Mikrokosmos adalah unsur-unsur mikro yang ada di alam semesta. Sebenarnya batasan besaran mikro itu relatif. Mikro bisa dimulai dari quark, inti atom, elektron, proton, molekul, sel DNA, individu manusia, pohon, gunung, batu, laptop, bumi, planet dan benda-benda lainnya. Semakin mikro maka semakin tak terlihat, dan benda yang tak terlihat ini bisa disebut sebagai Quanta.

Semakin tambah kemikroan kita, maka semakin “hilanglah” kita, lalu menembus alam Maha. Laa haula walaa Quwwata illaa billaah. Inilah alam super mikro (manusia super) yang sebenarnya karena ia merasa tiada memiliki kekuatan selain kekutan dari Allah SWT.

Anda adalah Mikrokosmos di alam semesta ini. Karena alam semesta memiliki prinsip-prinsip aturan main kehidupan, maka agar Anda hidup relatif sukses, Anda harus bisa menyelaraskan diri dengan prinsip-prinsip aturan semesta di Makrokosmos yang sudah pasti selaras dengan aturan di Mahakosmos.

Insya Allah, sinergi yang selaras antar Mikrokosmos yang terjadi di alam semesta ini akan membuat bumi dan alam semesta ini menjadi “awet muda” tidak cepat letih, tidak mudah marah, dan tidak sering sakit-sakitan.

Hari ini kita melihat, selain sudah mulai tua dan sering sakit-sakitan, kini bumi pun sudah mulai mudah emosional, buktinya bencana alam pun akhirnya terjadi di mana-mana. Sebenarnya, dalam bahasa yang sederhana, maka terjadinya Bencana Alam ini adalah karena adanya hubungan yang tidak sinergis antar Mikrokosmos yang ada, termasuk hubungan antara Mikrokosmos dengan Mahakosmos, sehingga mengakibatkan secara otomatis memburuknya hubungan Mikrokosmos dan Makrokosmos, setelah itu menjadi berantakan, lalu hancurlah sebagian dari bumi ini.

Makrokosmos
Nah, gabungan dan sinergisasi individu-individu di level Mikrokosmos inilah yang disebut sebagai Makrokosmos. Jadi Makrokosmos adalah alam yang lebih bersifat “berjamaah” dan “sinergis”, saling ketergantungan, saling mempengaruhi, dan saling terkait erat dengan SUNNATULLAH yang berlaku.

Makrokosmos bekerja dengan taat sesuai “kontrak” yang telah dibuatnya di hadapan Tuhan-Nya. Alam Makro ini bergerak “apa adanya” dan “otomatis”. Jika kita memperlakukannya dengan perlakuan X maka akan berakibat Y dan seterusnya. Memang sudah demikian terprogram tanpa adanya praktek pilih kasih.

Artinya siapa pun yang bekerja dan hidup sesuai dengan keteraturan yang ada di alam Makro (Maaf, walaupun mungkin saja ia tidak ber-Tuhan, atau ia ber-Tuhan tapi tidak beragama), maka kehidupannya akan semakin ringan dan tenang. Dan barang siapa yang “melanggar” aturan yang ada di Makrokosmos maka ia akan celaka di dunia ini.

Contoh, dalam aturan Makrokosmos disebutkan bahwa apapun benda yang memiliki massa, yang dilepas dari ketinggian tertentu maka ia akan terjatuh. Walaupun “benda” tersebut adalah seorang manusia yang rajin pergi ke masjid, tetap saja secara “sunnatullah” dia akan terjatuh ketika ia melompat atau terlepas dari ketinggian gedung lantai sepuluh. Dia tidak akan terbang.

Memang, pada kasus-kasus tertentu atau “Post Majeur”, ada kontrak yang dibuat antara alam semesta ini dengan Allah yang kita tidak mudah memahaminya. Misal, kasus Isro’ dan Mi’raj-nya nabi Muhammad saw. Hal ini sunnatullahnya lebih special. Berlaku hanya untuk orang-orang tertentu, yakni orang-orang yang special di hadapan Allah.

Berikutnya, dalam alam Makrokosmos ini ada dua model Sunnatullah yang bisa kita pahami. Pertama Sunnatullah yang Visible (Nyata/Fisika), dan kedua Sunnatullah yang Invisible (Ghoib/Metafisika). Untuk hidup selaras dengan Sunnatullah yang bersifat VISIBLE/FISIK relatif jauh lebih mudah dibandingkan untuk hidup selaras dengan Sunnatullah yang bersifat INVISIBLE/METAFISIK.

Misalanya, kasus “aturan gravitasi” adalah sebuah hukum Fisika, tetapi untuk kasus seperti “aturan bahwa orang yang bersyukur itu bertambah nikmatnya”, maka perlu pengetahuan aturan yang Metafisik. Dan, percaya atau tidak, ternyata bahwa akses Metafisik yang paling dahsyat adalah kitabullah yang bernama Al-Quran.

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman (yakin dan menurut) kepada yang ghaib (metafisik), yang mendirikan shalat (habluminallah), dan menafkahkan sebahagian rezki (hablumminannas) yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Q.S. 2 : 2-4).

Begitulah alam Makrokosmos, ia bekerja secara Sunnatullah, dan bekerja sesuai dengan instruksi dari Allah SWT. Itu sebabnya, tiada yang tidak Sunnatullah, semuanya adalah Sunnatullah, dan semuanya bisa dipahami dengan Qolbu kita, yakni dengan Akal kita, selama kita dekat dengan Allah SWT. Sahabat Semesta, semua adalah sunnatullah-Nya, maka tiada satupun yang dibuat kebetulan, dan tiada satu pun yang terjadi dalam kehidupan Anda berlabel KEBETULAN.

Jadi, di alam Makrokosmos ini, Allah telah membuat hukum-hukum alam yang tidak pernah berubah karena Allah selalu menepati janji-janji-Nya. Nah, agar kehidupan sang Mikrokosmos itu selamat, maka setiap Mikrokosmos yang ada harus patuh total terhadap aturan-aturan yang terdapat di alam Makrokosmos. Dan aturan-aturan itu bisa disimak secara jelas lewat pedoman-pedoman suci versi Mahakosmos.

Mahakosmos
Pada penjelasan S3 ini, istilah MAHAKOSMOS dihadirkan sebagai suatu tempat yang MAHATERATUR, sebagi SUMBER dari KETERATURAN yang ada di seluruh semesta ini, dimana disana bersamayam ZAT YANG MAHA MENGATUR (kita tidak perlu membayangkan bagaimana CARA DIA berSEMAYAM di ARSY-pen.), yang mengatur seluruh peristiwa di alam semesta tanpa merasa lelah, ngantuk, apalagi sampai tertidur.

Bagi Muslim, istilah MAHAKOSMOS ini terkait erat dengan ARSY-NYA ALLAH SWT atau DAERAH KEKUASAAN ALLAH SWT. Karena Daerah Kekuasaan Allah ini meliputi langit, bumi dan seluruh alam semesta, maka ARSY-NYA Allah meliputi semuanya yang ada di alam semesta ini. Adapun, bentuk fisik dari ARSY itu tidak perlu dibayangkan, karena bentuknya belum tentu fisik sebagaimana yang bisa kita bayangkan. Begitupun perihal perdebatan lebih besar mana antara Allah, Arsy, dan Alam semesta, tidaklah perlu kita bahas, karena hal itu semua bukanlah sebuah pembahasan yang bakal ditemukan solusinya, dan membahas hal itu sama sekali tidak akan meningkatkan mutu ketaqwaan kita kepada Allah SWT, malahan bisa menurunkannya. Kita hanya perlu MEYAKINI bahwa ALLAH itu MAHA BESAR.

Yang jelas, pada pembahasan ini, ketika kami menyebutkan istilah MAHAKOSMOS, maka maksud intinya adalah ALLAH beserta seluruh KEMAUAN, KEMAMPUAN, dan KEKUASAANNYA, termasuk DAERAH KEKUASAANNYA. Dan semuanya adalah DAERAH KEKUASANNYA, sehingga tidak ada yang bukan Daerah Kekuasaan-Nya. Memang hal ini tidak mudah untuk dimengerti, tapi saya berharap dan yakin bahwa Anda bisa memahami apa yang dimaksud dengan istilah Mahakosmos. Yang jelas, Mahakomos itu meliputi Mikrokosmos dan Makrokosmos.

Sahabat Semesta, rupanya alam Mahakosmos ini pun tidak jauh dari Anda. Justru ia sangat dekat. Bahkan lebih dekat dari urat leher Anda. Ia lebih dalam dari apa yang paling dalam dari Anda. Jika Anda mengatakan bahwa dalamnya laut itu dapat diukur, dan dalamnya hati itu siapa yang tahu, maka alam Mahakosmos jauh lebih dalam dari hati Anda yang terdalam.

Itulah DIA, saking dekatnya sehingga kita sering melupakannya. Allah Maha Dekat, mari rasakan kedekatannya mulai saat ini, DIA tidak pergi kemana-mana, ia ada di dalam hati yang lebih dalam dari hati terdalam Anda. Ia mengenggam hati Anda, ia selalu bersama Anda. Syaratnya sederhana, yakini saja kedekatan itu dan nikmati selalu saat-saat kebersamaan Anda bersamaNya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” {Q.S. 2: 186}.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”{Q.S. 50: 16}.

Pada level yang lebih membumi, maka realitas Mahakosmos dihadirkan sebagai buku panduan suci dari Ilahi yang mengatur kehidupan kita. Dan buku panduan itu kita sebut sebagai Al-Quran dengan pendamping utamanya adalah As-Sunnah. Al-Quran dan As-Sunnah inilah sebagai kamus Mahakosmos yang hadir di muka bumi.

wallahu a’lam

Perisai Hati

Radar Perbuatan
Pernahkah kita sejenak merenung…bahwa didalam diri ini terdapat sesuatu yang selalu memberi tahu pada kita bahwa yang kita perbuat itu benar atau salah ??? Pernahakah kita mencoba berpikir tiba-tiba kita merasakan perasaan gelisah, resah, senang, bahagia dalam hidup ini ???

Ternyata semua itu dikerjakan oleh ‘hati‘. Sebuah maha karya Sang Pencipta..yang menciptakan manusia begitu sempurna. Selain melengkapinya dengan akal pikiran, manusia diciptakan Allah dengan perlengkapan ‘tempur’ yang memiliki fungsi memindai, menscan setiap amal perbuatan…, ya itulah qolbu atau hati.

Hati bagai sebuah perlengkapan ‘tempur’, ia akan memberitahukan pada pemiliknya bahwa apa yang ia lakukan itu salah dengan memberikan sinyal rasa kegelisahan, keresahan, kegalauan…sehingga sang pemilik hati itu waspada dan segera merubah strategi agar memperbaiki sehingga rasa itu teratasi. Ia akan akan memberikan sinyal rasa senang, bahagia, tentram dan damai pada pemiliknya sehingga pemiliknya itu tahu bahwa strateginya sudah tepat.

Teringat sabda Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasalallam, “Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging, yang apabila daging itu baik maka baik pula seluruh anggota badannya, sebaliknya apabila daging itu rusak maka kotor dan rusak pula anggota badannya. Dan daging yang dimaksud adalah hati

Hati itu radar yang ajaib, ia akan memberi sinyal positif dan negatif, baik dan buruk. Apabila kita berbuat tidak baik atau dosa, apa yang kita rasakan ??? Kegelisahan, cemas, tertekan dan berdebar2 kan ???

Bersyukurlah jika demikian. Berarti hati kita belum mati, sehingga kita lebih waspada dan berhati-hati. Sinyal itu hadir dengan tujuan agar kita segera kembali pada Allah ketika kita berbuat dosa. Ingatlah karena Allah selalu memperhatikan dan tidak pernah meninggalkan kita. Allahu Akbar.

Radar Semesta
Perasaan-perasaan kita adalah suatu mekanisme umpan balik bagi kita mengenai apakah kita sedang berada di jalan yang benar atau tidak, apakah kita sedang berada di dalam jalur atau di luar jalur.

Ingatlah bahwa pikiran-pikiran Anda adalah penyebab utama dari segala sesuatu. Jadi, ketika Anda memikirkan sebuah pikiran secara terus-menerus, pikiran tersebut segera dikirim ke Semesta. Pikiran itu secara magnetis akan merekatkan diri ke frekuensi serupa, dan kemudian dalam hitungan detik mengirim nilai frekuensi itu kembali ke Anda melalui perasaan-perasaan Anda. Dengan kata lain, perasaan-perasaan Anda adalah komunikasi yang dikirim kembali ke Anda oleh Semesta, yang memberitahu frekuensi di mana Anda saat ini berada. Perasaan Anda adalah mekanisme umpan balik frekuensi Anda!

Ketika Anda merasakan perasaan-perasaan yang baik, perasaan itu adalah pantulan komunikasi dari Semesta yang mengatakan, “Anda sedang memikirkan pikiran-pikiran yang baik”. Begitu pula ketika Anda merasa buruk, Anda menerima pantulan komunikasi dari Semesta yang mengatakan, “Anda sedang memikirkan pikiran-pikiran yang buruk.”

Jadi, ketika Anda merasa buruk, ini adalah komunikasi dari Semesta yang berkata,
Peringatan! Ubah pikiran sekarang juga. Tercatat frekuensi negatif. Ubah frekuensi. Mulai menghitung mundur untuk perwujudan. Peringatan!

Lain kali, ketika Anda merasa buruk atau merasakan emosi negatif, dengarkan sinyal yang Anda terima dari Semesta. Pada saat itu juga Anda akan menghalangi kebaikan mendekati Anda karena Anda sedang berada di suatu frekuensi negatif. Ubahlah pikiran Anda dan pikirkan sesuatu yang baik. Ketika perasaan-perasaan yang baik mulai datang, Anda akan mengetahuinya karena Anda sudah memindahkan diri ke suatu frekuensi yang baru, dan Semesta telah mengukuhkannya dengan perasaan yang lebih baik.

Ketika suatu permasalahan muncul, maka secara otomatis radar emosi atau fungsi otak limbik, otak emosional atau amydala akan merespon, tetapi respon itu seringkali tidak terkendali. Respon bisa bersifat positif atau bisa juga bersifat negatif. Tujuan dari pengendalian diri adalah menjaga agar posisi emosi selalu dalam posisi nol, atau pada posisi stabil. Hukum yang berlaku disini adalah rumus “aksi min reaksi”. Artinya, apabila rangsangan luar memberi energi +3, maka radar hati akan memberi respon (tanggapan) sebesar -3. Begitu juga sebaliknya, apabila ada tekanan (tarikan) sebesar -3, maka radar hati akan menanggapi sebesar +3. Tujuan mekanisme ini, agar radar emosi selalu tetap berada pada posisi netral, sehingga IQ dan SQ bisa bekerja secara optimal. Nol adalah lambing sebuah keadaan yang seimbang atau sebagai unsur keseimbangan.

SQ bekerja normal ketika emosi pada amygdale berada dalam pada posisi netral atau nol, ketika emosi berada pada posisi stabil (netral) atau nol, maka God Spot akan bekerja dengan baik. Jadi, ketika rangsangan terjadi, kita harus bekerja untuk membantu radar emosi agar tetap stabil suhunya. Karena pada umumnya, apabila ada rangsangan luar yang sebenarnya hanya -1, seringkali energi yang kita berikan tidak +1, dan besaran angkanya berlebihan (missal +10). Akibatnya, kelebihan energi -9. Kelebihan energi inilah yang kemudian merembet pada amygdale, sehingga menimbulkan kemarahan. Kemudian jika amygdale di tambah -9 lagi sehingga menjadi -18, maka energi negatif sebesar -18 ini langsung mendominasi dan membelenggu God Spot. Maka “sang minus 18” inilah yang kemudian memonopoli untuk mengambil alih komando. Ia, “si energi negatif ini”, memerintah otak untuk bertindak dengan tindakan yang negatif. Inilah mekanisme setan dalam keprofesionalannya bekerja mengganggu dan merusak spiritual manusia, agar senantiasa bertindak negatif dan membuat kerusakan di muka bumi, dengan cara yang paling efektif yaitu dengan “membutakan hati”.

Untuk mengatasi rangsangan agar kita senantiasa pada posisi normal, maka kita perlu mengidentifikasi jenis-jenis rangsangan emosi kita sekaligus obat penawarnya.

Inilah 6 Tablet Ampuh Pengubah Frekwensi Hati & Fikiran kembali ke Frekwensi Ilahi, 
antara lain :
  1. Marah, ucapkanlah Istigfhar, Astagfirullah.
  2. Kehilangan dan sedih, ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raa’jiuun.
  3. Bahagia, ucapkan Alhamdulillah.
  4. Kagum, ucapkan subhanallah.
  5. Takut, ucapkan Allahu Akbar.

>Ruh, Jiwa, dan Akal

>

ANTARA SUKMA NURANI DAN SUKMA DHULMANI

Menurut para sufi, manusia adalah mahluk Allah yang paling sempurna di dinia ini. Hal ini, seperti yang dikatakan Ibnu’Arabi manusia bukan saja karena merupakan khalifah Allah di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya, tetapi juga karena ia merupakan mazhaz (penampakan atau tempat kenyataan) asma dan sifat Allah yang paling lengkap dan menyeluruh.

Allah menjadikan Adam (manusia) sesuai dengan citra-Nya. Setelah jasad Adam dijadikan dari alam jisim, kemudian Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad Adam. Allah berfirman:
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. 15: 29)

Jadi jasad manusia, menurut para sufi, hanyalah alat, perkakas atau kendaraan bagi rohani dalam melakukan aktivitasnya. Manusia pada hakekatnya bukanlah jasad lahir yang diciptakan dari unsur-unsur materi, akan tetapi rohani yang berada dalam dirinya yang selalu mempergunakan tugasnya.

Karena itu, pembahasan tentang jasad tidak banyak dilakukan para sufi dibandingkan pembahasan mereka tentang ruh (al-ruh), jiwa (al-nafs), akal (al-‘aql) dan hati nurani atau jantung (al-qalb).

RUH DAN JIWA (AL-RUH DAN AL-NAFS)

Banyak ulama yang menyamakan pengertian antara ruh dan jasad. Ruh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan jasad sebagai alatnya. Sedangkan jasad berasal dari alam ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi. Tetapi para ahli sufi membedakan ruh dan jiwa. Ruh berasal dari tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke asal semula. Ia selalu dinisbahkan kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci.

Karena ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia tetap suci. Ruh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia. Jika ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan terpuji, maka lain halaya dengan jiwa. Jiwa adalah sumber akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi jiwa pada: jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), jiwa hewani (binatang) dan jiwa insani.


Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal bagi benda alami yang organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan. Adapun jiwa hewani, disamping memiliki daya makan untuk tumbuh dan melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang kecil dan daya merasa, sedangkan jiwa insani mempunyai kelebihan dari segi daya berfikir (al-nafs-al-nathiqah).

Daya jiwa yang berfikir (al-nafs-al-nathiqah atau al-nafs-al-insaniyah). Inilah, menurut para filsuf dan sufi, yang merupakan hakekat atau pribadi manusia. Sehingga dengan hakekat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang khusus, Dzatnya dan Penciptaannya.

Karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani (berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa (nafs) manusia mejadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang tercela pada manusia. Itulah sebabnya jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya.

Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat. Firman Allah, “Sesungguhnya jiwa yang demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat.” (QS. 12: 53)

Apabila jiwa selalu dapat menentang dan melawan sifat-sifat tercela, maka ia disebut jiwa pencela, sebab ia selalu mencela manusia yang melakukan keburukan dan yang teledor dan lalai berbakti kepada Allah. Hal ini ditegaskan oleh-Nya, “Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela.” (QS. 75:2).

Tetapi apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang (al-nafs al-muthmainnah). Dalam hal ini Allah menegaskan, “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke
dalam Surga-Ku.” (QS. 89:27-30)

Jadi, jiwa mempunyai tiga buah sifat, yaitu jiwa yang telah menjadi tumpukan sifat-sifat yang tercela, jiwa yang telah melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan jiwa yangtelah mencapai tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman, yaitu jiwa muthmainnah. Dan jiwa muthmainnah inilah yang telah dijamin Allah langsung masuk surga.

Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang selalu berhubungan dengan ruh. Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan terpuji, dan ia hanya mempunyai satu sifat, yaitu suci. Sedangkan jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen. Allah sampaikan, “Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan.” (QS.91:7-8). Artinya, dalam jiwa terdapat potensi buruk dan baik, karena itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk.

AKAL
Akal yang dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau intelek (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir yang terdapat dalam otak, sedangkan “hati” adalah daya jiwa (nafs nathiqah). Daya jiwa berpikir yang ada pada otak di kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di dada disebut rasa (dzauq). Karena itu ada dua sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan akal (ma’rifat aqliyah) dan pengetahuan hati (ma’rifat qalbiyah). Kalau para filsuf mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih mengunggulkan pengetahuan hati (rasa).

Menurut para filsuf Islam, akal yang telah mencapai tingkatan tertinggi –akal perolehan (akal mustafad)– ia dapat mengetahui kebahagiaan dan berusaha memperolehnya. Akal yang demikian akan menjadikan jiwanya kekal dalam kebahagiaan (sorga). Namun, jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu berpaling, berarti ia tidak berusaha memperolehnya. Jiwa yang demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka).

Adapun akal yang tidak sempurna dan tidak mengenal kebahagiaan, maka menurut al-Farabi, jiwa yang demikian akan hancur. Sedangkan menurut para filsuf tidak hancur. Karena kesempurnaan manusia menurut para filsuf terletak pada kesempurnaan pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh kebahagiaan yang tertinggi, yaitu ketika akan sampai ke tingkat akal perolehan.

HATI SUKMA (QALB)
Hati atau sukma terjemahan dari kata bahasa Arab qalb.Sebenarnya terjemahan yang tepat dari qalb adalah jantung, bukan hati atau sukma. Tetapi, dalam pembahasan ini kita memakai kata hati sebagaimana yang sudah biasa. Hati adalah segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di dada sebelah kiri. Hati dalam pengertian ini bukanlah objek kajian kita di sini, karena hal itu termasuk bidang kedokteran yang cakupannya bisa lebih luas, misalnya hati binatang, bahkan bangkainya.

Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang halus, hati-nurani –daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang disebut dengan rasa (dzauq), yang memperoleh sumber pengetahuan hati (ma’rifat qalbiyah). Dalam kaitan ini Allah berfirman, “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan memahaminya.” (QS. 7:1-79).

Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan sementara, bahwa menurut para filsuf dan sufi Islam, hakekat manusia itu jiwa yang berfikir (nafs insaniyah), tetapi mereka berbeda pendapat pada cara mencapai kesempurnaan manusia. Bagi para filsuf, kesempurnaan manusia diperoleh melalui pengetahuan akal (ma’rifat aqliyah), sedangkan para sufi melalui pengetahuan hati (ma’rifat qalbiyah). Akal dan hati sama-sama merupakan daya berpikir.

Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah atau sumber ma’rifat –suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah bersih dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral dengan latihan jiwa, serta menggantikan moral yang tercela dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa, wara’ serta dzikir yang kontinyu, ilmu ladunni (ilmu Allah) yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat menjadi Sumber atau wadah ma’rifat, dan akan mencapai pengenalan Allah Dengan demikian, poros jalan sufi ialah moralitas.

Latihan-latihan ruhaniah yang sesuai dengan tabiat terpuji adalah sebagai kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh luar hanya akan membuat hilangnya kehidupan di dunia ini saja, sementara penyakit hati nurani akan membuat hilangnya kehidupan yang abadi. Hati nurani ini tidak terlepas dari penyakit, yang kalau dibiarkan justru akan membuatnya berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati dhulmani –hati yang kotor.

Kesempurnaan hakikat manusia (nafs insaniyah) ditentukan oleh hasil perjuangan antara hati nurani dan hati dhulmani. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah orang yang mengotorinya.” (QS. 91:8-9).

Hati nurani bagaikan cermin, sementara pengetahuan adalah pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. Jika cermin hati nurani tidak bening, hawa nafsunya yang tumbuh. Sementara ketaatan kepada Allah serta keterpalingan dari tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati-nurani bersih dan cemerlang serta mendapatkan limpahan cahaya dari Allah Swt.

Bagi para sufi, kata al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada dada seseorang, tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya, ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis terhadap dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengannya, membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya, dan menerima Allah segenap hati. Dan barangsiapa memiliki Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi.

Hati atau sukma dhulmani selalu mempunyai keterkaitan dengan nafs atau jiwa nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu menggoda manusia untuk mengikuti hawa nafsunya. Kesempurnaan manusia (nafs nathiqah), tergantung pada kemampuan hati-nurani dalam pengendalian dan pengontrolan hati dhulmani.

oleh Jalaluddin Rakhmat
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abu al-Wafi aI-Taftazani, Maduhal ila al-Tashawwuf al-Islamiy,
Kairo, 1983.
Ahmad Dandy, Allah dan Manusia Dalam Konsepsi Syeikh Nurudin
al-Raniry Jakarta, Rajawali, 1983.
Al-Farabi, Kitab Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah, Kairo, 1906.
Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, Kairo, 1334 H.
——, Ma’arij al-Quds fi Madarij Ma’rifah al-Nafs, Kairo,
1327 H.
——, Asnan al-Qur’an fi Ihya ‘Ulum al-Din, Kairo.
Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme Islam, Bulan Bintang,
Jakarta, 1978.
Muhyiddin Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, Kairo, 1949.

——————————————–
Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah
Editor: Budhy Munawar-Rachman
Penerbit Yayasan Paramadina

>Perisai Hati

>

Radar Perbuatan
Pernahkah kita sejenak merenung…bahwa didalam diri ini terdapat sesuatu yang selalu memberi tahu pada kita bahwa yang kita perbuat itu benar atau salah ??? Pernahakah kita mencoba berpikir tiba-tiba kita merasakan perasaan gelisah, resah, senang, bahagia dalam hidup ini ???

Ternyata semua itu dikerjakan oleh ‘hati‘. Sebuah maha karya Sang Pencipta..yang menciptakan manusia begitu sempurna. Selain melengkapinya dengan akal pikiran, manusia diciptakan Allah dengan perlengkapan ‘tempur’ yang memiliki fungsi memindai, menscan setiap amal perbuatan…, ya itulah qolbu atau hati.

Hati bagai sebuah perlengkapan ‘tempur’, ia akan memberitahukan pada pemiliknya bahwa apa yang ia lakukan itu salah dengan memberikan sinyal rasa kegelisahan, keresahan, kegalauan…sehingga sang pemilik hati itu waspada dan segera merubah strategi agar memperbaiki sehingga rasa itu teratasi. Ia akan akan memberikan sinyal rasa senang, bahagia, tentram dan damai pada pemiliknya sehingga pemiliknya itu tahu bahwa strateginya sudah tepat.

Teringat sabda Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasalallam, “Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging, yang apabila daging itu baik maka baik pula seluruh anggota badannya, sebaliknya apabila daging itu rusak maka kotor dan rusak pula anggota badannya. Dan daging yang dimaksud adalah hati

Hati itu radar yang ajaib, ia akan memberi sinyal positif dan negatif, baik dan buruk. Apabila kita berbuat tidak baik atau dosa, apa yang kita rasakan ??? Kegelisahan, cemas, tertekan dan berdebar2 kan ???

Bersyukurlah jika demikian. Berarti hati kita belum mati, sehingga kita lebih waspada dan berhati-hati. Sinyal itu hadir dengan tujuan agar kita segera kembali pada Allah ketika kita berbuat dosa. Ingatlah karena Allah selalu memperhatikan dan tidak pernah meninggalkan kita. Allahu Akbar.

Radar Semesta
Perasaan-perasaan kita adalah suatu mekanisme umpan balik bagi kita mengenai apakah kita sedang berada di jalan yang benar atau tidak, apakah kita sedang berada di dalam jalur atau di luar jalur.

Ingatlah bahwa pikiran-pikiran Anda adalah penyebab utama dari segala sesuatu. Jadi, ketika Anda memikirkan sebuah pikiran secara terus-menerus, pikiran tersebut segera dikirim ke Semesta. Pikiran itu secara magnetis akan merekatkan diri ke frekuensi serupa, dan kemudian dalam hitungan detik mengirim nilai frekuensi itu kembali ke Anda melalui perasaan-perasaan Anda. Dengan kata lain, perasaan-perasaan Anda adalah komunikasi yang dikirim kembali ke Anda oleh Semesta, yang memberitahu frekuensi di mana Anda saat ini berada. Perasaan Anda adalah mekanisme umpan balik frekuensi Anda!

Ketika Anda merasakan perasaan-perasaan yang baik, perasaan itu adalah pantulan komunikasi dari Semesta yang mengatakan, “Anda sedang memikirkan pikiran-pikiran yang baik”. Begitu pula ketika Anda merasa buruk, Anda menerima pantulan komunikasi dari Semesta yang mengatakan, “Anda sedang memikirkan pikiran-pikiran yang buruk.”

Jadi, ketika Anda merasa buruk, ini adalah komunikasi dari Semesta yang berkata,
Peringatan! Ubah pikiran sekarang juga. Tercatat frekuensi negatif. Ubah frekuensi. Mulai menghitung mundur untuk perwujudan. Peringatan!

Lain kali, ketika Anda merasa buruk atau merasakan emosi negatif, dengarkan sinyal yang Anda terima dari Semesta. Pada saat itu juga Anda akan menghalangi kebaikan mendekati Anda karena Anda sedang berada di suatu frekuensi negatif. Ubahlah pikiran Anda dan pikirkan sesuatu yang baik. Ketika perasaan-perasaan yang baik mulai datang, Anda akan mengetahuinya karena Anda sudah memindahkan diri ke suatu frekuensi yang baru, dan Semesta telah mengukuhkannya dengan perasaan yang lebih baik.

Ketika suatu permasalahan muncul, maka secara otomatis radar emosi atau fungsi otak limbik, otak emosional atau amydala akan merespon, tetapi respon itu seringkali tidak terkendali. Respon bisa bersifat positif atau bisa juga bersifat negatif. Tujuan dari pengendalian diri adalah menjaga agar posisi emosi selalu dalam posisi nol, atau pada posisi stabil. Hukum yang berlaku disini adalah rumus “aksi min reaksi”. Artinya, apabila rangsangan luar memberi energi +3, maka radar hati akan memberi respon (tanggapan) sebesar -3. Begitu juga sebaliknya, apabila ada tekanan (tarikan) sebesar -3, maka radar hati akan menanggapi sebesar +3. Tujuan mekanisme ini, agar radar emosi selalu tetap berada pada posisi netral, sehingga IQ dan SQ bisa bekerja secara optimal. Nol adalah lambing sebuah keadaan yang seimbang atau sebagai unsur keseimbangan.

SQ bekerja normal ketika emosi pada amygdale berada dalam pada posisi netral atau nol, ketika emosi berada pada posisi stabil (netral) atau nol, maka God Spot akan bekerja dengan baik. Jadi, ketika rangsangan terjadi, kita harus bekerja untuk membantu radar emosi agar tetap stabil suhunya. Karena pada umumnya, apabila ada rangsangan luar yang sebenarnya hanya -1, seringkali energi yang kita berikan tidak +1, dan besaran angkanya berlebihan (missal +10). Akibatnya, kelebihan energi -9. Kelebihan energi inilah yang kemudian merembet pada amygdale, sehingga menimbulkan kemarahan. Kemudian jika amygdale di tambah -9 lagi sehingga menjadi -18, maka energi negatif sebesar -18 ini langsung mendominasi dan membelenggu God Spot. Maka “sang minus 18” inilah yang kemudian memonopoli untuk mengambil alih komando. Ia, “si energi negatif ini”, memerintah otak untuk bertindak dengan tindakan yang negatif. Inilah mekanisme setan dalam keprofesionalannya bekerja mengganggu dan merusak spiritual manusia, agar senantiasa bertindak negatif dan membuat kerusakan di muka bumi, dengan cara yang paling efektif yaitu dengan “membutakan hati”.

Untuk mengatasi rangsangan agar kita senantiasa pada posisi normal, maka kita perlu mengidentifikasi jenis-jenis rangsangan emosi kita sekaligus obat penawarnya.

Inilah 6 Tablet Ampuh Pengubah Frekwensi Hati & Fikiran kembali ke Frekwensi Ilahi, 
antara lain :
  1. Marah, ucapkanlah Istigfhar, Astagfirullah.
  2. Kehilangan dan sedih, ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raa’jiuun.
  3. Bahagia, ucapkan Alhamdulillah.
  4. Kagum, ucapkan subhanallah.
  5. Takut, ucapkan Allahu Akbar.

>Perisai Hati

>

Radar Perbuatan
Pernahkah kita sejenak merenung…bahwa didalam diri ini terdapat sesuatu yang selalu memberi tahu pada kita bahwa yang kita perbuat itu benar atau salah ??? Pernahakah kita mencoba berpikir tiba-tiba kita merasakan perasaan gelisah, resah, senang, bahagia dalam hidup ini ???

Ternyata semua itu dikerjakan oleh ‘hati‘. Sebuah maha karya Sang Pencipta..yang menciptakan manusia begitu sempurna. Selain melengkapinya dengan akal pikiran, manusia diciptakan Allah dengan perlengkapan ‘tempur’ yang memiliki fungsi memindai, menscan setiap amal perbuatan…, ya itulah qolbu atau hati.

Hati bagai sebuah perlengkapan ‘tempur’, ia akan memberitahukan pada pemiliknya bahwa apa yang ia lakukan itu salah dengan memberikan sinyal rasa kegelisahan, keresahan, kegalauan…sehingga sang pemilik hati itu waspada dan segera merubah strategi agar memperbaiki sehingga rasa itu teratasi. Ia akan akan memberikan sinyal rasa senang, bahagia, tentram dan damai pada pemiliknya sehingga pemiliknya itu tahu bahwa strateginya sudah tepat.

Teringat sabda Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasalallam, “Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging, yang apabila daging itu baik maka baik pula seluruh anggota badannya, sebaliknya apabila daging itu rusak maka kotor dan rusak pula anggota badannya. Dan daging yang dimaksud adalah hati

Hati itu radar yang ajaib, ia akan memberi sinyal positif dan negatif, baik dan buruk. Apabila kita berbuat tidak baik atau dosa, apa yang kita rasakan ??? Kegelisahan, cemas, tertekan dan berdebar2 kan ???

Bersyukurlah jika demikian. Berarti hati kita belum mati, sehingga kita lebih waspada dan berhati-hati. Sinyal itu hadir dengan tujuan agar kita segera kembali pada Allah ketika kita berbuat dosa. Ingatlah karena Allah selalu memperhatikan dan tidak pernah meninggalkan kita. Allahu Akbar.

Radar Semesta
Perasaan-perasaan kita adalah suatu mekanisme umpan balik bagi kita mengenai apakah kita sedang berada di jalan yang benar atau tidak, apakah kita sedang berada di dalam jalur atau di luar jalur.

Ingatlah bahwa pikiran-pikiran Anda adalah penyebab utama dari segala sesuatu. Jadi, ketika Anda memikirkan sebuah pikiran secara terus-menerus, pikiran tersebut segera dikirim ke Semesta. Pikiran itu secara magnetis akan merekatkan diri ke frekuensi serupa, dan kemudian dalam hitungan detik mengirim nilai frekuensi itu kembali ke Anda melalui perasaan-perasaan Anda. Dengan kata lain, perasaan-perasaan Anda adalah komunikasi yang dikirim kembali ke Anda oleh Semesta, yang memberitahu frekuensi di mana Anda saat ini berada. Perasaan Anda adalah mekanisme umpan balik frekuensi Anda!

Ketika Anda merasakan perasaan-perasaan yang baik, perasaan itu adalah pantulan komunikasi dari Semesta yang mengatakan, “Anda sedang memikirkan pikiran-pikiran yang baik”. Begitu pula ketika Anda merasa buruk, Anda menerima pantulan komunikasi dari Semesta yang mengatakan, “Anda sedang memikirkan pikiran-pikiran yang buruk.”

Jadi, ketika Anda merasa buruk, ini adalah komunikasi dari Semesta yang berkata,
Peringatan! Ubah pikiran sekarang juga. Tercatat frekuensi negatif. Ubah frekuensi. Mulai menghitung mundur untuk perwujudan. Peringatan!

Lain kali, ketika Anda merasa buruk atau merasakan emosi negatif, dengarkan sinyal yang Anda terima dari Semesta. Pada saat itu juga Anda akan menghalangi kebaikan mendekati Anda karena Anda sedang berada di suatu frekuensi negatif. Ubahlah pikiran Anda dan pikirkan sesuatu yang baik. Ketika perasaan-perasaan yang baik mulai datang, Anda akan mengetahuinya karena Anda sudah memindahkan diri ke suatu frekuensi yang baru, dan Semesta telah mengukuhkannya dengan perasaan yang lebih baik.

Ketika suatu permasalahan muncul, maka secara otomatis radar emosi atau fungsi otak limbik, otak emosional atau amydala akan merespon, tetapi respon itu seringkali tidak terkendali. Respon bisa bersifat positif atau bisa juga bersifat negatif. Tujuan dari pengendalian diri adalah menjaga agar posisi emosi selalu dalam posisi nol, atau pada posisi stabil. Hukum yang berlaku disini adalah rumus “aksi min reaksi”. Artinya, apabila rangsangan luar memberi energi +3, maka radar hati akan memberi respon (tanggapan) sebesar -3. Begitu juga sebaliknya, apabila ada tekanan (tarikan) sebesar -3, maka radar hati akan menanggapi sebesar +3. Tujuan mekanisme ini, agar radar emosi selalu tetap berada pada posisi netral, sehingga IQ dan SQ bisa bekerja secara optimal. Nol adalah lambing sebuah keadaan yang seimbang atau sebagai unsur keseimbangan.

SQ bekerja normal ketika emosi pada amygdale berada dalam pada posisi netral atau nol, ketika emosi berada pada posisi stabil (netral) atau nol, maka God Spot akan bekerja dengan baik. Jadi, ketika rangsangan terjadi, kita harus bekerja untuk membantu radar emosi agar tetap stabil suhunya. Karena pada umumnya, apabila ada rangsangan luar yang sebenarnya hanya -1, seringkali energi yang kita berikan tidak +1, dan besaran angkanya berlebihan (missal +10). Akibatnya, kelebihan energi -9. Kelebihan energi inilah yang kemudian merembet pada amygdale, sehingga menimbulkan kemarahan. Kemudian jika amygdale di tambah -9 lagi sehingga menjadi -18, maka energi negatif sebesar -18 ini langsung mendominasi dan membelenggu God Spot. Maka “sang minus 18” inilah yang kemudian memonopoli untuk mengambil alih komando. Ia, “si energi negatif ini”, memerintah otak untuk bertindak dengan tindakan yang negatif. Inilah mekanisme setan dalam keprofesionalannya bekerja mengganggu dan merusak spiritual manusia, agar senantiasa bertindak negatif dan membuat kerusakan di muka bumi, dengan cara yang paling efektif yaitu dengan “membutakan hati”.

Untuk mengatasi rangsangan agar kita senantiasa pada posisi normal, maka kita perlu mengidentifikasi jenis-jenis rangsangan emosi kita sekaligus obat penawarnya.

Inilah 6 Tablet Ampuh Pengubah Frekwensi Hati & Fikiran kembali ke Frekwensi Ilahi, 
antara lain :
  1. Marah, ucapkanlah Istigfhar, Astagfirullah.
  2. Kehilangan dan sedih, ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raa’jiuun.
  3. Bahagia, ucapkan Alhamdulillah.
  4. Kagum, ucapkan subhanallah.
  5. Takut, ucapkan Allahu Akbar.