>Menggapai Cahaya Ilahi

>

BUKALAH HATI

Siapa yang hanya hendak mengandalkan rasionya dan tidak mengandalkan Qalbunya, maka dia telah mereduksi kemanusiaannya. Itu persis seseorang yang ingin menikmati musik dengan matanya atau persis seseorang yang ingin berjalan dengan kepalanya. Dan, cahaya Ilahi itu bisa diperoleh melalui pembersihan hati (Qalbu).

Ada perbedaan antara siraman rohani dan uraian ilmiah. Uraian ilmiah itu arahnya ke akal kita serta baru dianggap baik dan sukses kalau ada sesuatu yang baru diterima, berbeda dengan siraman rohani. Siraman rohani itu tertuju ke Qalbu kita, yang bisa saja didengar berulang-ulang karena belum mantap di hati sebelumnya, sehingga pengulangan itu akan memantapkan hatinya, apalagi kalau hati itu terbuka.

Itulah salah satu perbedaan antara uraian ilmiah dan uraian yang bersifat siraman rohani, karena memang ilmu itu berbeda dengan iman. Ilmu itu titik tolaknya akal, sedangkan iman itu titik tolaknya Qalbu; Iman itu menyesuaikan seseorang dengan jati dirinya, sedangkan ilmu itu menyesuaikan seseorang dengan lingkungannya; Ilmu itu mempercepat seseorang sampai ke tujuan, sedangkan iman itu menentukan arah yang dituju seseorang; Iman itu revolusi internal, sedangkan ilmu itu revolusi eksternal; Iman itu memelihara seseorang dari petaka ukhrawi, sedangkan ilmu itu memelihara seseorang dari petaka duniawi; Iman itu diibaratkan dengan air bah yang suaranya sangat germuruh tetapi selalu menenangkan pemiliknya, sedangkan ilmu itu diibaratkan dengan air telaga yang jernih tetapi tidak jarang mengeruhkan hati pemiliknya.

Dalam tulisan yang singkat ini, saya ingin menguraikan tentang Fathullah. “Fath” itu terambil dari kata fataha yang artinya membuka. Sesuatu yang terbuka tadinya tertutup, tidak dibuka kalau dia sudah terbuka, kecuali Qalbu. Bisa saja Qalbu itu sudah terbuka tetapi masih harus dibuka lagi, dalam arti dilebarkan dan dilebarkan lagi, hingga makin banyak cahaya Ilahi yang ditampung. Ketika kita berkata fathullah, maka yang membuka itu adalah Allah. Hati ini dalam bahasa al-Quran biasa dilukiskan dengan kata nafs, biasa dilukiskan dengan kata qalbu, dan biasa juga dilukiskan dengan kata fu’ad.

Nafs adalah sisi dalam manusia, sedangkan qalbu mempunyai tiga tempat, yaitu: 

  1. pertama, mengandung segala sesuatu yang disadari manusia dan dia tidak segan orang lain tahu isinya; 
  2. kedua, segala sesuatu yang disadari manusia tetapi dia enggan diketahui orang lain. Itulah yang dirahasiakan; dan 
  3. ketiga, sesuatu yang pernah diketahui oleh manusia tetapi sudah dilupakan, sehingga dia telah berada di bawah sadar manusia. Fu’ad adalah apa yang disadari.


Allah berfirman, “intajhar bil qaul fainnahu ya’lamu as-sirra wa akhfa”. Kalau engkau berucap dengan ucapan yang jelas, maka Allah mengetahui itu dan mengetahui yang rahasia, mengetahui juga yang lebih rahasia dari rahasia (Qalbu).

Ada juga yang dinamakan al-futuhat al-Ilahiyah dan al fath ar-rabbani, selain istilah fathulllah. “Fath” bisa digunakan untuk terbukanya Qalbu dalam menerima pengetahuan. Pengetahuan terbagi dua, yaitu ada yang diusahakan manusia, yang diisyaratkan dengan ‘allama bil qalam, dan ada yang tidak diusahakan manusia, yang diisyaratkan oleh ‘allama al-insana ma lam ya’lam. Yang terakhir ini puncaknya adalah wahyu dan tingkat yang paling rendah adalah mimpi. Mimpi ada yang merupakan sesuatu yang dipikirkan sebelum tidur dan ada yang merupakan sesuatu yang dialami sewaktu tidur, kemudian melahirkan mimpi, seperti orang yang mimpi tercekik, boleh jadi ada bantal di lehernya. Ada juga mimpi yang bersumber dari Allah Swt, itulah mimpi orang-orang shaleh dan mimpi yang dialami oleh para Nabi, seperti yang dialami Nabi Yusuf As. dan Nabi Ibrahim As. Mimpi ini menjadi salah satu bentuk dari al fath ar-rabbani, terbukanya apa yang tersingkap.

Semua yang bersumber dari Allah Swt. adalah cahaya Ilahi. Cahaya Tuhan itu wahyu Tuhan yang bisa dilukiskan seperti sinar matahari, bukan saat teriknya matahari tetapi saat naiknya matahari sepenggalan. Itulah waktu adh-dhuha. Sinar ini tidak membeda-bedakan objeknya. Siapapun yang bersedia keluar, dia akan mendapatkan sinar itu. Siapapun yang membuka hatinya, niscaya Allah akan mencurahkan cahaya ke dalam hatinya. Tetapi ingat, sinar hanya menembus objek yang transparan. Sinar tidak menembus tembok ini. Tetapi, sinar itu bisa memantul. Bisa saja saya menyampaikan informasi yang tidak mau anda terima, tetapi justru diterima dan dimanfaatkan oleh orang lain. Sinar Ilahi persis seperti itu, tidak membeda-bedakan. Dia akan menjadi al-fath ar-rabbani atau terbukanya hati yang hanya akan dilakukan oleh Allah, apabila hati ini merupakan sebuah tempat yang transparan.

Semua anugerah Allah yang berupa kebajikan itu tidak akan terlaksana kecuali setelah melalui tiga fase, yaitu datang dari Allah Swt, datang dari manusia, dan datang lagi dari Allah. Saya akan berikan contoh, bagaimana al-fath ar-rabbani atau terbukanya hati itu melangkah. Langkah yang pertama adalah memperoleh taubat. Taubat itu adalah stasiun pertama menuju Allah Swt. Taubat tidak bisa terlaksana kecuali kalau Allah terlebih dulu membuka langkah itu. Baca sewaktub Adam As. berdosa, Allah melangkah lebih dulu dengan memberikan kalimat-kalimat kepada Adam As, “fatalaqqa adamu min rabbihi kalimat”. Begitu dia menerima ayat-ayat itu, datang langkah kedua dari Adam dengan membaca doa, “rabbana dzalamna anfusana fain lam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna min al-khasirin”. Setelah itu, baru datang pengabulan taubat Allah sebagai langkah ketiga.

Allah Swt melalui rasulnya sudah melangkah yang pertama bersama rasulnya. Setelah turun ayat-ayat al-Quran ini, terserah kita apa kita sudah siap membuka hati kita. Kalau siap, yakinlah bahwa al-fath ar-rabbani akan datang kepada kita yang telah membuka hatinya. Adapun yang menutup hatinya jangan harap akan memperoleh fathullah itu (al-fath ar-rabbani). Sinar matahari itu bermacam-macam, ada yang dapat kita lihat dengan pandangan mata kita, tetapi ada juga sinar yang tidak terdeteksi oleh mata kita, ada sinar gamma, ada gelombang-gelombang radio, dan ada juga yang dinamakan dengan sinar ultra violet.

Orang-orang yang terbuka hatinya akan menyadari bahwa boleh jadi ada hal-hal dalam kehidupan dunia ini atau dalam firman-firman Allah yang baru masuk ke dalam hati bukan melalui rasio tetapi melalui Qalbu. Ini perlu saya tekankan, apalagi para mahasiswa. Ada orang yang berkata, semua harus bersifat rasional. Saya katakan, siapa yang hanya hendak mengandalkan rasionya dan tidak mengandalkan Qalbunya, maka dia telah mereduksi kemanusiaannya. Orang yang ingin memahami segala sesuatu dengan rasionya, itu persis seseorang yang ingin menikmati musik dengan matanya atau persis seseorang yang ingin berjalan dengan kepalanya.

Ada hal-hal dalam kehidupan kita ini yang baru dapat dipahami hanya dengan melalui Qalbu kita, melalui siraman cahaya Ilahi. Nah, itu diperoleh melalui pembersihan hati ini, bukan diperoleh melalui korekan kuping dan bukan pula diperoleh dengan basuhan mata. Oleh karena itu, hati bisa menjadi wadah dan bisa juga menjadi alat. Ada orang yang hatinya hanya bagaikan kolam diisi dengan pengetahuan dari luar dan ada juga orang yang hatinya seperti sumur.

Di samping sebagai wadah, juga sumur itu adalah sumber datangnya air dari dalam, di mana air yang bersumber dari mata air itu jauh lebih jernih daripada air yang datang dari luar. Dengan demikian, bila ingin mendapatkan fathullah atau al-fath ar-rabbani, jadikanlah Qalbu anda sumur. Untuk membuat sumur, gali batu-batunya dan keluarkan tanah-tanahnya sampai anda menemukan mata air. Dalam arti lain, keluarkan kotoran-kotoran yang ada di dalam hati, niscaya akan datang kepada anda al-futuhat al-Ilahiyah sampai datangnya pengetahuan yang tidak anda usahakan tetapi langsung datang dari Allah Swt. Wallahu A’lam bi ash-Shawab

source : Yan Harlan
( Transcript Ceramah Prof. Quraish Shihab )

>Al-Bâsith ; Yang Maha Melapangkan

>

Keadaan hidup kita tidak mungkin lepas dari dua kemungkinan sebagai akibat dari nama Allah swt al-Qâbidh (Yang Maha Menyempitkan) dan al-Bâsith (Yang Maha Melapangkan) yaitu kelapangan atau kesempitan. Kelapangan melahirkan rasa gembira, kesempitan melahirkan rasa sedih. Ketika lapang kita ingin kelapangan itu langgeng, ketika sempit kita ingin kesempitan itu berakhir. Senang akan kelapangan dan derita akibat kesempitan telah memporakporandakan hati kita sehingga tidak sempat lagi menyaksikan Sang Pembuat lapang dan sempit.

Selama pandangan kita masih seperti ini, hanya terhenti pada persoalan lapang dan sempit saja maka pasti hati kita akan lelah dan sulit untuk meraih kebahagiaan. Seni hidup bahagia adalah bagaimana kita dapat menemukan kegembiraan justru dalam musyahadah (penyaksian mata hati) terhadap perbuatan al-Qâbidh (Yang Menyempitkan) dan al-Bâsith (Yang Melapangkan). Dia yang menempatkan kita dalam himpitan kesempitan adalah Dia yang menempatkan kita dalam lautan kelapangan. Dia yang menghantam kita dengan badai musibah adalah Dia yang membanjiri kita dengan luapan nikmat-Nya. Jika hati kita berhasil merasakan kebahagiaan dengan pandangan ketauhidan murni ini, maka ketahuilah bahwa Allah telah memberikan kita minuman dari perbendaharaan ghaib-Nya yang tidak diberikan kecuali kepada para kekasih-Nya.

Semua orang tidak mungkin lepas dari qadhâ dan qadar Allah Ta’ala, tapi tidak semua orang mampu merasakan manisnya ridhâ menerima ketentuan Allah meskipun ia tahu Allah Ta’ala itu ilmu-Nya, hikmah-Nya dan rahmat-Nya tak bertepi. Memang pengetahuan akal (‘ilm) belum tentu menjadi keaadaan hati (hâl).

Bagi seorang ‘ârif (mengenal Allah secara ‘ilm dan hâl) ucapannya ketika sempit adalah ucapannya di kala lapang, yaitu alhamdulillâh (segala puji hanyalah milik Allah) karena yang ia saksikan adalah keindahan perbuatan Allah. Bersabda Nabi saw:

أَوَّلُ مَنْ يُدْعَى إِلَى الْجَنَّةِ الْحَمَّادُونَ الَّذِينَ يَحْمَدُونَ اللَّهَ عَلَى السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
Yang pertama kali akan dipanggil masuk surga adalah orang Para Pemuji, yaitu orang yang senantiasa memuji Allah di kala lapang maupun sempit.” (HR. Thabranî dari Ibnu ‘Abbâs ra).

Kita sudah terbiasa mengucapkan alhamdulillâh ketika mendapat banyak uang, tetapi kita belum bisa mengucapkan alhamdulillâh ketika kehilangan meski hanya sedikit uang. Banyak dari kita yang mengatakan alhamdulillâh ketika sehat, tapi jarang dari kita yang sanggup menyebut alhamdulillâh ketika sakit. Kita spontan mengatakan alhamdulillâh ketika mengiringi kelahiran anak, tetapi sulit untuk mengatakan alhamdulillâh ketika anak kita meninggal. Bersabda Nabi saw:

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

Apabila putera seorang hamba Allah meninggal dunia, Allah pun berfirman pada malaikat-Nya: Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku? Para malaikat menjawab: benar. Allah berfirman: Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya? Malaikat menjawab: benar. Allah bertanya: Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku itu? Malaikat menjawab: Ia memuji Engkau (alhamdulillâh) dan beristirja’ (innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn). Allah pun berfirman: Buatkan untuk hamba-Ku itu sebuah rumah di surga dan namakan rumah itu Baitul Hamd (rumah pujian).” (HR. al-Tirmidzi dari Abu Musa al-Asy’arî ra, ia berkata hadits hasan gharib).

Bersabda Rasulullah saw:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Alangkah luar biasanya keadaan seorang mukmin. Segala keadaannya selalu baik dan hal ini hanya terjadi pada seorang mukmin. Jika kelapangan menghampirinya ia pun bersyukur maka syukur itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika kesempitan menerpanya ia pun bersabar maka kesabaran itu menjadi kebaikan baginya.
(HR. Muslim dari Shuhaib bin Sinan ra)

Dialah al-Hakîm (Yang Maha Bijaksana), tidak keluar dari-Nya kecuali kebijaksanaan. Dialah al-Rahîm (Yang Maha Pengasih), tidak mengalir dari-Nya kecuali kasih sayang. Dialah al-Barr (Yang Maha Baik), tidak memancar dari-Nya kecuali kebajikan.

Apa pun yang terjadi pada diri-diri kita, kelapangan atau kesempitan, adalah demonstrasi ilmu, hikmah, rahmat, kebajikan dan kekuasaan Allah swt. Tidak ada ucapan yang pantas keluar dari lisan kita dalam menanggapi kebesaran-Nya ini selain ucapan alhamdulillâh (segala puji hanyalah milik Allah). Kita telah terlatih memuji Allah di kala lapang tetapi untuk dapat memuji Allah di kala sempit kita masih harus lebih banyak berlatih.

By. Abdul hakim

RAHASIA SUKSES ABADI LUAR BIASA DAHSYAT (GRATIS)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

ANDA PILIH JALUR MANA…?


RAHASIA BESAR TELAH DIBUKA….
RAIHLAH TICKET MASUK SURGA …..
MURAH MERIAH DAN 100% GUARANTED…..
JADIKAN WAKTU ONLINE ANDA SEBAGAI SEBUAH PENGALAMAN ANDA 
UNTUK BELAJAR INVESTASI BAGI  KESUKSESAN HIDUP YANG ABADI.
JADIKAN HP, LAPTOP, & KOMPUTER ANDA SEBAGAI SARANA MERAIH KESUKSESAN ABADI ANDA.

CARANYA :
BIKINLAH BLOG GRATISAN DI BLOGGER (CTH. http://reikinaqs.blogspot.com) daftarlah di blogger.com ATAU di WORDPRESS.com  (CTH. http://energikultivasi.wordpress.com) dll, juga bikinlah NOTES, STATUS, KOMENT, DLL di situs forum dan jejaring sosial semacam facebook, twitter. koprol. dll. POSTINGLAH ARTIKEL-ARTIKEL YANG MENYUARAKAN SERUAN ILAHI, MENGAJAK MANUSIA UNTUK MERAIH KEBAIKAN, AMAR MAKRUF NAHI MUNKAR…. ATAU TIPS-TIPS RINGAN YANG BERMANFAAT (cth. Amalan Ringan namun besar pahalanya). SERTA JAUHILAH DAN BLOKIRLAH SITUS-SITUS PENYEBAR KEMAKSIATAN….
PANDUAN BIKIN BLOG KLIK DI SINI……..

CARA TERMUDAH
JADILAH MEMBER NAQS DNA
DAFTARNYA GRATIS, NAMUN MANFAATNYA DIJAMIN DAPAT DIRASAKAN DI DUNIA & AKHIRAT.
MANFAAT DUNIA : KETENANGAN BATHIN, TUMBUHNYA KEPERCAYAAN DIRI, JADI MASTER ENERGI DAN MASTER PENGHUSADA SEKELAS MASTER REI KI, DAN LAIN-LAIN.
MANFAAT AKHIRAT : INSYA ALLAH DICINTAI OLEH ALLAH & RASULNYA.
LALU JADILAH AGEN DAKWAH NAQS DNA
SEBARKANLAH NAQS DNA DIMANA SAJA ANDA BERADA

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU DAN MENGAJAK KEPADA KEBAIKAN

Al-Qur’an :

Katakanlah : ‘Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?”’ (QS. Az-Zumur [39]:9)

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS.Al-Mujaadilah [58]:11)

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah para Ulama.” (QS.Faathir [35]:28)

Hadits :

Bukhari-Muslim meriwayatkan dari Mu’awiyah RA, ia berkata bahwa Rasullah SAW bersabda : “Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, niscaya diberi pemahaman agama yang mendalam oleh-Nya.”

Bukhari-Muslim meriwayatkan dari Abu Musa RA, ia berkata bahwa Nabi SAW bersabda : “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus aku untuk mengembannya adalah bak hujan yang jatuh ke tanah. Diantara tanah tersebut ada bagian yang subur, maupun meyerap air dengan baik, lalu menumbuhkan pepohonan dan rerumputan yang banyak. Diantaranya ada yang keras, mampu menampung air sehingga manusia bisa mengambil air darinya untuk keperluan minum, menyirami tanaman, dan untuk irigasi. Dan diantaranya pula ada yang tidak mampu menampung air dan tidak mampu menumbuhkan pepohonan dan rerumputan. Seperti itulah perumpamaan orang yang diberi pemahaman agama yang aku diutus untuk mengembannya : diantara mereka ada yang mampu mendalaminya, lalu mengajarkannya kepada orang lain, dan ada juga diantaranya yang sama sekali tidak mau menerima petunjuk.”

Bukhari-Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d RA, bahwa Nabi SAW pernah bersabda kepada Ali : “Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada satu orang melalui perantaraan dirimu, hal itu jauh lebih baik bagimu daripada kekayaan yang sangat berharga.

Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Amr RA, bahwa Nabi SAW bersabda: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat. Kalian boleh menyampaikan riwayat (yang benar) dari kalangan Bani Israil, namun juga tidak berdosa (jika kalian tidak menyampaikannya). Barang siapa sengaja berdusta dengan mengatasnamakan aku, maka bersiap-siaplah masuk neraka.

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasullah SAW bersabda, : “Barang siapa yang menempuh perjalanan dengan tujuan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya.

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang mengajak orang lain untuk mengikuti petunjuk, niscaya akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.”

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasullah SAW bersabda : “Jika seorang anak Adam meninggal dunia, maka semua (pahala) amalnya terputus, kecuali (pahala) shadaqah jariyah, ilmu bermanfaat, anak shalih yang selalu memanjatkan do’a untuknya.

Bukhari-Muslim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Amr RA, ia berkata : “Aku pernah mendengar Rasulllah SAW bersabda : “Allah tak akan mencabut ilmu secara langsung dari tengah-tengah manusia, melainkan dengan cara mewafatkan para ulama’, sehingga jika sudah tidak ada lagi seorang yang berilmu, manusia akan mengangkat para pemimpin yang bodoh, lalu memberikan fatwa tanpa berdasar ilmu, sehingga mereka semuanya sesat dan menyesatkan.

Dikutip dari : Kitab Riyadush Sholihin karangan Imam Nawawi Al-Bantany

Dahsyatnya mengajak berbuat kebaikan

Islam itu mudah, islam itu indah, penuh keberkahan.

Jika teman-teman bertanya: kenapa harus mengajak berbuat kebaikan?
Kenapa harus menyampaikan hadits Nabi saw?

Atau jika teman-teman memiliki pikiran:
Saya belum mengamalkan, saya ga berani mengajak orang lain…
Saya belum istiqamah dalam mengamalkan, masih angin-anginan, belum konsisten, saya ga berani mengajak orang lain…
Saya bukan muslim yg baik, saya ga pantas mengajak orang lain mengamalkan sesuatu.
Saya bukan ustadz, ga hapal hadits, bukan hak saya utk mengajak berbuat kebaikan.
Ilmu saya masih sedikit, saya ga pantas mengajak berbuat kebaikan.
dll, dll, yg menunda anda, yang menyebabkan anda tidak mengajak utk berbuat kebaikan..

Habib Munzir al Musawwa mengajarkan hadits berikut ini

Barangsiapa yg membuat/mengadakan (membuat hal baru) di dalam islam suatu bimbingan/ajaran yg baik, lalu diamalkan oleh orang orang sesudahnya, maka dituliskan baginya pahalanya sebagaimana yg mengamalkannya, dan tiadalah pahalanya dikurangi sedikitpun, dan barangsiapa yg membuat buat di dalam islam, suatu bimbingan/ajaran yg buruk, dan lalu diamalkan oleh orang orang sesudahnya, maka dituliskan baginya dosanya sebagaimana yg mengamalkannya, dan tiadalah dosanya dikurangi sedikitpun?.
(Shahih Muslim no.1017)

Kemudian ada pertanyaan:
“dari kalangan wahabi/salafy , kata-kata “mengada-adakan hal baik yang baru” adalah salah, karena terjemahannya dari “sanna sunnatan hasanatan”.  Padahal terjemahannya seharusnya menurut mereka adalah “Barang siapa meletakkan sunnah hasanah, maka baginya pahala dan pahala bagi yang mengikutinya”.
Bagaimana pendapat habib mengenai hal ini, apakah mungkin terjadi perbedaan penafsiran.”

Maka saya copas jawaban habibana Munzir al Musawwa seperti berikut ini:
“mengenai tafsiran mereka mengenai hadits itu, itu hanya dangkalnya pemahaman mereka terhadap bahasa arab dan ilmu hadits.

sebagaimana seseorang memahami ilmu hadits mestilah bukan dg tafsiran sempit yg kita miliki, tapi lihat asbab wurudnya, telah dijelaskan oleh Al Imam Al Muhaddits Al hafidh Imam Nawawi rahimahullah bahwa: makna hadits itu adalah dalil dibolehkannya membuat hal baru berupa kebaikan (tak bertentangan dg syariah). dan hadits ini merupakan dalil pengecualian atas hadits “… kullu bid’ah dhalalah wakullu dhalaalah finnar..” (semua bid’ah itu sesat dan semua yg sesat itu di neraka). sungguh yg dimaksud adalah Bid’ah yg buruk, bukan bid’;ah yg baik” (Syarh Nawawi ala shahih Muslim juz 7 hal 104).

dan anda boleh buka kamus mana saja, lihat makna kata : “sanna” yaitu membuat suatu adat, ajaran, kebiasaan.”

Selain itu, salah satu hikmah yg bisa kita ambil dari hadits ini adalah:

Jika kita mengajarkan atau menyampaikan kebaikan (dari Al Quran, hadits Nabi saw, ilmu yg kita terima dari para Ulama, dari guru-guru kita, dll) kepada orang lain kemudian orang tsb mengamalkan jg… maka, dituliskan bagi kita pahala sebagaimana pahala org yg mengamalkannya.

Contohnya bisa berupa mengajak mengajak bersedekah, mengajak shalat dhuha, mengajak shalat berjamaah di mesjid..

Atau bisa juga dengan teladan, misal kita rajin berjemaah ke mesjid, kemudian ada teman atau saudara yg melihat hal ini, kemudian terinspirasi dan mulai rajin berjamaah juga, maka insya Allah kita juga memperoleh pahala dari teman/saudara tsb.. tanpa mengurangi pahala si teman/saudara sedikitpun.

jika kita mengajak 10 orang utk bersedekah 100rb, kemudian semuanya bersedekah 100rb, maka dituliskan bagi kita pahala sebagaimana pahala sedekah 10 orang x 100rb = pahala bersedekah 1 juta

Jika kita rajin membaca shalawat, dan mengajak orang lain membaca shalawat, maka kita insya Allah akan memperoleh pahala, keberkahan, dan Ridho Allah DUA KALI LIPAT.. dari shalawat yg kita baca sendiri.. PLUS dari shalawat yg dibaca orang lain tsb.

Jika yg ikut membaca shalawat 3 org.. maka kita memperoleh 3x-nya.. dst.

Luar biasa.

lalu apakah yg menghalangi kita utk mengajak pada kebaikan?

Mari kita baca lagi hadits dari Imam Muslim ini:

Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Jarir bin ‘Abdillah ia berkata: “Pernah kami berada di sisi Rasulullah pada awal siang, ia berkata: “Maka datanglah suatu kaum yang tak beralas kaki, tidak mengenakan pakaian dan hanya mengenakan mantel, terhunus pedangnya, mayoritas mereka dari Bani Mudhor bahkan keseluruhannya. Memerahlah wajah Rasulullah ketika melihat keadaan mereka yang sangat mengenaskan itu akibat kemiskinan.

Lalu beliau masuk, kemudian keluar dan memerintahkan Bilal untuk adzan dan iqomah, lalu shalat kemudian berkhuthbah (dengan khuthbatul hajat).

Setelah itu seseorang bersedekah dengan dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, gandumnya dan kurmanya. (Sampai ia berkata): “Walaupun dengan separuh buah kurma.”

Ia berkata: “Kemudian datang seorang lelaki dari Anshor dengan bungkusan, hingga tangannya hampir tidak mampu menanggungnya.” Ia berkata: “Kemudian manusia mengikutinya, hingga aku melihat dua tumpukan makanan dan pakaian dan aku perhatikan wajah Rasulullah berseri-seri seakan-akan sepotong emas yang berkilau.

Bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa memberi contoh yang baik dalam Islam, baginya pahala dan pahala orang yang beramal dengannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun “

Dari sini, dapat kita ambil hikmah bahwa:
apabila seorang muslim menghidupkan suatu sunnah dan diikuti oleh orang lain, maka baginya pahala amalan tersebut dan ditambah lagi..baginya pahala orang yang mengikutinya. Jadi dia memperoleh pahalah, keberkahan, ridho Allah berkali-kali lipat.

Dan tidak diragukan lagi, bahwa ini merupakan keutamaan yang besar

Dalam forum tanya jawab di MajelisRasulullah.org, seorang sahabat bertanya:
HAW:
2) apakah baik mengajak teman berbuat kebaikan tetapi ana masih belum istiqomah menjalankan kebaikan itu,ana takut jadi beban buat ana juga..
3) setiap ilmu yang di dapat yang tidak diamalkan akan menjadi beban buat kita di akhirat,bagaimana bib menyikapi ini?ana takut jadinya…

Kemudian Habib Munzir menjawab dalam forum tsb:
2. mengajak orang berbuat kemuliaan walau kita belum mengamalkannya adalah salah satu bentuk pengamalannya, misalnya kita mengajarkan kemuliaan shalat witir, menyampaikan haditsnya, namun kita belum mengamalkannya, maka kita mendapat pahala dg mengajarkannya, dan mendapat dosa jika menyembunyikan ilmu.

mengenai firman Allah swt : “Sangat besar kemurkaan Allah ketika kalian mengatakan/ mengajak pada hal hal yg kalian tidak perbuat”.

ayat itu turun untuk para munafik yg ketika diperintahkan jihad oleh Allah swt mereka tidak mau ikut dg Rasul saw, namun berpura pura baik dg memerintahkan orang lain berjihad.

3. saudaraku, pelajari semua ilmu, amalkan yg mampu kita amalkan, dan sisanya Insya Allah akan datang waktunya kita mampu mengamalkannya, jika tidak maka kita dimaafkan Allah swt karena sudah berbuat semampunya.
http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=25033&catid=9

keren kan… mengajak teman berbuat kemuliaan itu = salat satu bentuk pengamalannya.

Diujung tulisan ini, izinkan saya utk mengajak teman-temanm semua utk memantabkan hati, utk semakin rajin dan bersemangat dalam mengamalkan amalan-amalan wajib..dan semakin giat dan menambah lagi amalan amalan sunnah.

saya mengajak teman-teman semua utk terus melakukan shalat wajib lima waktu dan berusaha utk berjemaah

Saya mengajak teman-teman semua utk memperbanyak membaca shalawat, ayo kita hiasi langkah kita ke mesjid dg membaca shalawat. Ayo kita hiasi langkah kita sepulang dari mesjid dg banyak membaca shalawat.

Daripada ngalamun, nyanyi lagu pop, saat kita berangkat ke kantor, atau pulang dari kantor, ayo membaca shalawat sepanjang perjalanan.

Sabda Nabi saw:
“barangsiapa yang membaca shalawat atasku satu shalawat maka Allah akan menurunkan sepuluh rahmat kepadanya dan menghapus sepuluh kesalahannya” (HR. Nasai).

Saat sedang menunggu, ada waktu lapang, ada waktu senggang.. ayo membaca shalawat.

Ayo kita latih diri kita.. guru-guru, ulama-ulama menganjurkan agar kita melatih diri membaca shalawat minimal 300x setiap hari.

Habib Munzir bershalawat minimal 5000x setiap hari, luar biasa….

Kemudian, di waktu pagi dan sore hari, sebelum atau sesudah shalat subuh, sebelum atau sesudah shalat maghrib, ayo kita budayakan utk membaca Wirdullathif.

Selain itu, tentu saja.. ayo kita budayakan utk membaca Al Qur-an, luangkan waktu barang lima menit sehari utk membaca Al Qur-an.

Wallahu a’lam

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakaatuh

LAMPIRAN :
Allah Ta’ala berfirman: “Dan berdakwahlah menuju jalan Tuhanmu.” (al-Haj 76 atau al-Qashash)

Allah Ta’ala berfirman lagi: “Dan berdakwahlah menuju jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik.” (an-Nahl: 125)

Allah Ta’ala juga berfirman: “Dan tolong menolonglah engkau semua atas kebajikan dan ketaqwaan.” (al-Maidah: 2)

Allah Ta’ala berfirman pula: “Hendaklah ada diantara engkau semua itu suatu golongan yang berdakwah menuju kebaikan.” (Ali-Imran: 104)

174. Dari Abu Mas’ud yaitu ‘Uqbah bin ‘Amral Anshari al-Badri r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang memberikan petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah seperti pahala orang yang melakukan kebaikan itu.” (Riwayat Muslim)

175. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang mengajak ke arah kebaikan, maka ia memperoleh pahala sebagaimana pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikitpun dan dari pahala-pahala mereka yang mencontohnya itu, sedang barangsiapa yang mengajak kearah keburukan, maka ia memperoleh dosa sebagaimana dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedrkitpun dari dosa-dosa mereka yang mencontohnya itu.” (Riwayat Muslim)

176. Dari Abul Abbas yaitu Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda pada hari perang Khaibar: “Sesungguhnya saya akan memberikan bendera ini esok hari kepada seseorang yang Allah akan memberikan kemenangan di atas kedua tangannya. Ia mencintai Allah dan RasulNya dan ia juga dicintai Allah dan RasulNya.” Malam harinya orang-orang -para sahabat- sama bercakap-cakap berbisik-bisik, siapa diantara mereka yang akan diberi bendera itu. Setelah pagi hari menjelma, orang-orang sama pergi ke tempat Rasulullah s.a.w. semuanya mengharapkan agar supaya bendera itu diberikan padanya. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Di manakah Ali bin Abu Thalib?” Kepada beliau dikatakan: “Ya Rasulullah, ia sakit kedua matanya.” Beliau bersabda lagi: “Bawalah ia kemari.” Ali didatangkan dihadapan beliau s.a.w. kemudian Rasulullah s.a.w. berludah ke kedua matanya dan mendoakan untuk kesembuhannya, lalu iapun sembuhlah -kedua matanya-, seolah-olah tidak pernah sakit sebelumnya. Selanjutnya beliau s.a.w. memberikan bendera itu padanya. Ali r.a. berkata: “Ya Rasulullah, apakah saya wajib memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita semua -yakni masuk Islam-?” Beliau s.a.w. menjawab: “Berjalanlah perlahan-lahan -tidak tergesa-gesa-, sehingga engkau datang di halaman perkampungan mereka. Kemudian ajaklah mereka itu untuk masuk Islam dan beritahukanlah kepada mereka apa-apa yang wajib atas diri mereka dari hak-haknya Allah Ta’ala yang perlu dipenuhi. Demi Allah, sesungguhnya jikalau Allah memberikan petunjuk dengan sebab usahamu akan seorang -satu orang saja-, maka hal itu lebih baik bagimu daripada memiliki unta-unta yang merah-merah -kiasan harta yang amat dicintai oleh bangsa Arab-.” (Muttafaq ‘alaih)

177. Dari Anas r.a. bahwasanya seorang pemuda dari suku Aslam berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya ini ingin mengikuti peperangan, tetapi saya tidak mempunyai sesuatu yang saya gunakan sebagai persiapan -bekal-.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Datanglah pada si Fulan itu, sebab ia telah bersiap-siap -dengan bekalnya- tetapi kemudian sakit.” Pemuda itu mendatangi orang tersebut dan berkata: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. mengucapkan salam padamu,” dan pemuda itu berkata lagi: “Berikanlah kepada saya bekal-bekal yang telah Tuan siapkan.” Orang tersebut lalu berkata -kepada istrinya-: “Hai Fulanah, berikanlah pada orang ini apa-apa yang telah saya siapkan untuk bekal -dalam perang-. Janganlah bekal itu engkau tahan sedikitpun, demi Allah, janganlah bekal itu engkau tahan sedikitpun, supaya engkau memperoleh berkah dalam bekal -yang diberikan tadi-.” (Riwayat Muslim)