>Gusti Allah Mboten Sare ( Filosofi Ayat Kursi )

>

Keistimewaan al Qur’an antara lain adalah bahwa membacanya dinilai sebagai ibadah meski tidak faham artinya, berbeda dengan doa yang harus difahami artinya.. Anjuran untuk bertadarus banyak sekali dijumpai dalam ajaran Islam. Al Qur’an sendiri menyebut dirinya sebagai hudan (petunjuk), syifa (obat), rahmah (wujud kasih sayang), zikr (peringatan), tibyanan (penjelasan). Disamping itu hadis Nabi banyak menyebut keutamaan dan khasiat membaca surat atau ayat tertentu.

Oleh karena itu tidak aneh jika muncul persepsi orang Islam yang menempatkan ayat al Qur’an bagaikan mantra. Hadis tentang khasiat ayat Kursi misalnya menyebutkan, : Jika ayat Kursi dibaca di rumah, maka syaitan terhalang tiga hari dan tukang sihir terhalang 40 hari tidak bisa masuk ke dalamnya. Hadis lain menyebut bahwa barang siapa membaca ayat Kursi setiap habis salat fardu maka ia layak masuk sorga, dan hanya orang jujur dan ahli ibadah yang bisa melakukannya, barang siapa yang membacanya setiap akan tidur maka Allah memberikan rasa aman kepada dirinya dan kepada tetangga di sekelilingnya. Nabi sendiri pada waktu perang Badar selalu membaca ayat ini, terutama pada bagian ya Hayyu ya Qoyyum.

Kandungan Makna Ayat Kursiy

Terjemahan ayat Kursiy adalah sebagai berikut :
Allah, tiada Tuhan selain Dia, yang Hidup dan terus menerus mengurus (makhluk Nya), tidak mengenal ngantuk, apalagi tidur, bagi Nya segala apa yang ada di langit dan di bumi, tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin Nya, Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan apa-apa yang ada di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah kecuali apa yang dikehendaki Nya, Kursi Allah meliputi langit dan bumi, dan Allah tidak repot mengurusi keduanya, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Dari ayat itu sekurangnya ada empat hal bisa didalami maknanya.

  1. Bahwa Allah itu hayyun dan qayyum, yakni hidup dan aktip mengurusi alam semesta 
  2. Allah memiliki dan menguasai langit dan bumi dengan segala isinya, 
  3. Allah mengetahui se detail-detailnya tentang apa dan siapa, dan 
  4. Manusia tidak dapat menggapai ilmu Allah kecuali sekedar yang dikehendaki oleh Nya. Diantara yang penting untuk difahami dari kandungan ayat Kursiy adalah batasan ilmu manusia dan kehendak Allah.

Tentang Ilmu Manusia
Manusia adalah makhluk yang berfikir, merasa dan berkehendak. Pengetahuan yang dimiliki manusia datang dari berbagai jalan, instink, indera, fikiran (logika) dan intuisi (ilham). Tingkat pengetahuan manusia sangat beragam, dari yang terendah hingga yang tertinggi. Tingkatan pengetahuan manusia yang tertinggi juga ada
yang bersifat rational dan falsafi, dan ada yang bersifat intuitip, “gaib” atau suprarational. Meski demikian sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk yang terbatas, yang tidak sempurna, ilmu manusia juga terbatas, karena manusia tidak bisa menghindar dari distorsi-distorsi; instink, indera, pemikiran, maupun distorsi intuisi. Disamping problem distorsi, ilmu manusia dibatasi oleh ruang dan waktu. Apa yang telah lalu banyak yang luput dari pengamatan manusia, apa yang akan terjadi di masa depan, meski manusia bisa memprediksi dengan menggunakan hukum sunnatullah, atau dengan ramalan “gaib” tetapi ruang lingkupnya sangat terbatas. Apa yang akan terjadi di muka lebih banyak merupakan area kegelapan bagi ilmu manusia. Semakin banyak hal yang diketahui manusia, maka semakin tahu ia bahwa hal yang belum diketahui justeru lebih banyak lagi.

Adapun ilmu Tuhan tak terbatasi oleh ruang dan waktu, oleh karena itu tidak ada satupun fenomena yang luput dari akses Tuhan, yang dulu, yang sedang terjadi ataupun yang akan datang, semuanya berada dalam ilmu Tuhan. Al Qur’an mengibaratkan, selembar daun yang jatuhpun (yang dulu jatuh, yang sedang jatuh, dan yang akan jatuh nanti) kesemuanya berada dalam akses Tuhan. Dalam Al Qur’an, disebutkan bahwa Tuhan mengetahui yang nampak dan yang tidak nampak (`alim al ghoibi wa as syahadah) dan senantiasa mengetahuinya (`allam al ghuyub). Tuhan menurunkan ilmu Nya kepada manusia melalui dua jalan, pertama melalui taqdir atau qadar dalam sunnatullah yang bisa dipelajari hukumnya oleh akal, kedua melalui ilham dan wahyu.

Kehendak Allah
Kalimat al hayyu al qayyum mengandung arti bahwa Allah itu hidup dan selalu aktip mengurusi makhluknya, artinya Tuhan mempunyai kehendak dan tidak ada satupun persoalan yang terlewat atau terlupakan. Semua ciptaan Tuhan, baik yang bersifat fisik maupun yang bersifat makna didesain dengan tujuan dan maksud. Al Qur’an mengajarkan doa, Robbana ma kholaqta haza batila, ya Tuhan, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia tanpa makna. Hal-hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan manusia, kesemuanya dimaksud positip, yakni menguji manusia keputusan apa yang akan diambil ketika mengalaminya, langkah positip atau negatip (liyabluwakum ayyukum ahsanu `amala). Secara teologis, krisis multi dimensi yang sedang kita alami juga tak lepas dari kehendak Allah mewujudkan taqdir sunnatullah Nya, dan menguji bangsa ini respond apa yang akan diambil.

Dari Ilmu Kalam, lahir dua pandangan mensikapi kehendak Allah, yaitu faham Jabbariah (predestination) dan Qadariyah (free will).  Yang pertama memandang bahwa kehendak Allah akan berjalan secara mutlak sehingga manusia tidak memiliki kekuasaan atas kehendaknya, manusia bagaikan wayang yang didalangi Tuhan.  Faham kedua (qadariyah) memandang bahwa manusia memiliki kekuasaan untuk menentukan perbuatannya, meski harus mengikuti taqdir sunnatullah Nya.  Yang pertama menekankan doa Kepada Tuhan, karena amal tidak menentukan, yang menentukan adalah keputusan Tuhan, orang masuk surga bukan karena amalnya tetapi karena rahmat Tuhan.. Yang kedua menekankan bekerja, karena keputusan Tuhan akan didasarkan pada sifat adil Nya, Tuhan tidak mungkin menyia-nyiakan orang yang beramal. Dua faham ini  melahirkan faham kompromi, yakni faham sunny, yang menekankan bahwa manusia wajib berikhtiar, tetapi taqdir sepenuhnya milik Allah.

SIFAT-SIFAT ALLAH
Pertama, Sifat Allah sebagaimana yang dijelaskan pada ayat ini adalah bahwa hanya Dia-lah yang berhak untuk disembah. Dan konsideran dari hal tersebut adalah pertama, karena hanya Allah SWT saja yang hidup (al-hay) dalam arti yang sebenarnya. Makhluk selain Allah dikatakan hidup, akan tetapi kehidupannya hanyalah merupakan ma’na pinjaman (majazi) dari kehidupan Allah.

Kedua, Sifat Allah yang kedua adalah Al-Qoyyum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai ‘Yang mengatur urusan makhluknya’, dengan sebenar-benarnya mengatur (lil mubalaghoh). Oleh karena itu jangan sampai kita terjebak dengan filsafatnya kaum sekuler yang mengatakan maa lillahi lillah, wa maa lil qoishor lil qoishor (apa saja yang untuk Allah berikanlah kepada Allah, dan apa saja yang untuk kaisar atau pemimpin maka berikanlah kepada kaisar atau pemimpin). Dari filsafat yang dipahami orang-orang sekuler ini berarti bahwa seorang pemimpin atau seorang presiden bisa semaunya saja dalam membuat aturan di negaranya, dan ia sama sekali tidak terikat dengan norma yang diberikan oleh Allah. Namun tidak demikian dalam pandangan Islam. Dalam Islam, seluruh aktivitas ummat manusia tidak boleh bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah, karena Allah mempunyai sifat Al-Qoyyum.

Oleh karena itu jangan sampai manusia berbuat curang, dimana mereka melokalisir keimanannya kepada Allah SWT. Misalnya dalam masalah yang berkaitan dengan masalah rizki, mereka ia percaya bahwa semua itu ada di bawah kekuasaan Allah. Namun yang berkaitan dengan pribadi, rumah tangga, dan negara, mereka tidak percaya kepada kekuasaan Allah, dan menganggap dirinya lebih mengetahui. Ini adalah sebuah kecurangan dalam ‘aqidah, dan sekaligus merupakan penyimpangan atas keyakinan yang dalam diri seorang hamba.

Pemikiran sekuler yang memisahkan antara hak Allah dengan hak pemimpin semacam ini diawali oleh pemikiran seorang filosof bernama Aristoteles. Ia mempunyai sebuah pendapat, dan pendapatnya ini akhirnya menstruktur dalam pemikiran para cendekiawan sekuler tersebut. Aristoteles mengatakan bahwa Allah itu laa yufakkiru fii ghoiri dzaatihi (Allah tidak akan memikirkan kepada selain dzatNya). Atau dengan kata lain dikatakan bahwa Allah laa yufakkiru fii makhluqotihi (Allah tidak memikirkan dan tidak mengatur makhluknya). Jadi menurut pemikiran Aristoteles, makhluk yang ada di jagad raya ini berjalan sendiri tanpa diatur oleh Allah SWT dalam menjalankan kehidupannya.

Dan pemikiran seperti ini kalau dikembangkan, akan menghasilkan pemahaman bahwa untuk mengetahui yang benar dan yang salah, yang haq dan yang bathil, manusia tidak memerlukan wahyu Allah, tetapi cukup dengan mengandalkan akalnya saja. Menurut pemikiran ini, dengan akalnya manusia bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk. Dan pemikiran inilah yang menjadi salah satu pokok pemahaman ajaran mu’tazilah. Kesalahan pemahaman masalah ‘aqidah seperti ini disebabkan mereka tidak mengikuti jalan (manhaj) yang telah digariskan Allah SWT dan RasulNya dalam memahaminya.

Ketiga, sifat Allah selanjutnya yang menjadi argumentasi mengapa tidak ada yang berhak disembah selain Allah adalah (tidak mengantuk dan tidak tidur). Bahwa Allah tidak mengantuk dan tidak tidur, menunjukkan bahwa ilmu Allah sangat lengkap, universal dan absolut. Kenapa ? Karena kalau seseorang mengantuk atau tidur maka ilmunya tidak berfungsi. Bahkan orang yang bangun tidur seperti orang yang baru bangun dari kematian karena ruhnya baru saja dikembalikan oleh Allah SWT. Ketika orang sedang tidur, ia tidak bisa mengetahui apa pun yang terjadi di sekitarnya. Oleh karena itu ketika kita bangun dari tidur, Rasulullah SAW memberi contoh agar kita mengucapkan do’a yang berbunyi “Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da maa amatana wa ilaihin nusyuur (segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah kematian kami)”.

Karena hanya Allah-lah Dzat yang tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur, maka sudah sewajarnya kalau hanya Allah saja yang wajib kita sembah. Sungguh suatu perbuatan yang ‘ajib (mengherankan dan aneh) ketika orang-orang kufar quraisy menyembah asnam (berhala), yang sama sekali tidak hidup dan tidak memberi sedikitpun manfaat maupun mudlorot. Berhala-berhala yang mereka buat sendiri, dan kemudian mereka sembah sendiri. Dan berkenaan dengan masalah asnam ini, di jaman kufar quraisy memang sangat sederhana dan terbuat dari kayu, batu atau pun bahan makanan, akan tetapi asnam pada jaman kita sekarang ini tidak seperti itu, karena kalau tetap seperti itu, maka tidak akan populer.

Asnam sekarang bisa berwujud adalah tokoh-tokoh masyarakat yang dikultuskan sehingga kesalahan apa pun yang dilakukannya akan tetap dicarikan pembenaran, undang-undang yang disucikan dan dikeramatkan sehingga tidak berani menggantinya sekali pun telah terbukti dengan nyata bahwa undang-undang itu tidak lagi sesuai dengan perkembangan jaman. Jadi walaupun wujudnya berbeda, namun asnam pada masa lalu dengan masa sekarang esensinya sama saja. Persamaannya adalah bahwa keduanya sama-sama makhluk, sama-sama dibuat sendiri oleh manusia, sama-sama dikeramatkan dan ditakuti sendiri. Manusia sekarang untuk menghukum, untuk memberi penghargaan, dan sebagainya diukur dengan peraturan yang mereka buat sendiri. Kalau sebuah bangsa atau masyarakat sudah terjebak dengan pemahaman semacam ini, yang terjadi adalah kesesatan dalam seluruh aktivitas kehidupannya. Allah berfirman :Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 14:36).

Sifat Allah yang tidak mengantuk dan tidak tidur ini menunjukkan bahwa Allah SWT mempunyai ilmu yang sangat lengkap. Ketika sesuatu masih merasakan ngantuk atau tidur, ia tidak mungkin mempunyai kesempurnaan, sehingga tidak mungkin bisa mengatur sesuatu dengan sempurna. Karena hanya Allah-lah yang tidak pernah ngantuk dan tidak pernah tidur, maka hanya Allahlah yang berhak disembah.

Keempat, sifat Allah selanjutnya yang menjadi argumentasi bahwa hanya Allah-lah yang patut disembah adalah (Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi). Dalam penggalan ini ada kekhususan tata bahasa yang dipergunakan, yaitu adanya at-taqdim wat-ta’khir (ada bagian kalimat yang didahulukan dari yang seharusnya diakhirkan, dan ada yang diakhirnya dari yang seharusnya didahulukan), yaitu didahulukannya kata lahu daripada penggalan yang berbunyi maa fis samaawaati wamaa fil ardl, padahal dalam tata bahasa yang biasa, umumnya kata lahu diakhirkan. Dan kalau ada ayat-ayat Al-Qur’an yang mempunyai uslub (cara peyampaian) seperti ini, menunjukkan adanya lil hasr yang artinya ‘hanya’.

Dari penggalan ini bisa kita pahami bahwa hanya bagi Allah-lah apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan kita juga mengetahui bahwa maa adalah asymalu mausulat (isim mausul yang paling integral). Yang termasuk isim mausul ada beberapa macam seperti maa, alladzi, allati dan semua turunannya. Dan kalau semua isim mausul itu dikumpulkan, maka yang paling integral adalah maa. Karena kekuasaan Allah meliputi apapun yang ada di langit dan yang ada di bumi, maka selalu dita’birkan (diekpresikan) dengan isim mausul yang berbunyi maa (apa saja).

Sifat Allah ini jangan sampai hanya dipahami sebagai suatu ‘aqidah secara salbiyah (secara pasif) saja, akan tetapi aqidah ini harus mengkristal dalam diri setiap muslim dan harus bersifat aplikatif. Artinya, kalau ‘aqidah kita mengatakan bahwa Allah Maha Mengetahui (Al-’Alim) apapun yang ada di bumi dan apapun yang ada di langit, maka seluruh aktivitas yang kita lakukan harus kita kembalikan pada ‘ilmullah, karena hanya dengan demikianlah apapun yang kita kerjakan mempunyai nilai yang benar. Dan sistem nilai yang dikeluarkan Allah ini akan tetap eksis dan tidak akan berubah selama-lamanya. Jangan sampai kita memahami bahwa Allah Maha ‘Alim (Maha Mengetahui), akan tetapi perbuatan kita tidak mau mengikuti ajaran Allah. Kalau demikian, sama saja kita membohongi pemahaman kita sendiri. Jadi ketika kita memahami bahwa Allah Maha ‘Alim (Maha Mengetahui), berarti seluruh aktivitas dalam kehidupan kita harus benar-benar kembali kepada ajaran Allah Yang Maha ‘Alim.

Manusia adalah bagian kecil dari kosmos jagad raya ciptaan Allah yang besar. Jadi kita merupakan bagian kecil dari sekian banyak ciptaan Allah. Kalau makhluk-makhluk Allah yang lainnya yang besar seperti langit, bumi dan sebagainya, semuanya tunduk kepada aturan Allah SWT, sementara kita yang merupakan bagian darinya tidak mau taat kepada aturan Allah, berarti kita telah menyimpang dari nidhomun namus (menyimpang dari ketentuan Allah yang berlaku di jagad raya ini). Dan ketika kita bersimpangan dengan aturan Allah yang ada di jagad raya ini, maka akan terjadi tasaddum (akan terjadi tabrakan-tabrakan) dalam diri kita sendiri. Kalau masyarakat tidak mau menegakkan aturan Allah dalam kehidupannya, maka akan terjadi tabrakan antara masyarakat dengan realita kehidupannya sendiri. Na’udzubillahi min dzalik.

Wallohu a`1amu bis sawab.

Sumber :

  1. Agus Syafi’i
  2. Gerakan Cinta Al-Quran
Iklan

>Gusti Allah Mboten Sare & Khasiat Ayat Kursi

>

اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” ( Al Baqarah :255)

Gusti Allah Mboten Sare ~ Allah SWT tak pernah tidur ~

Kalimat itu selalu terhujam kuat. Bahwa Ia tak pernah lalai dalam penglihatan-Nya, dalam pengawasan-Nya, dalam pemeliharaanNya. Bahkan sering saya selipkan dalam doa suatu kalimat yang sangat saya yakini kebenarannya, “Ya Allah, hamba sedang bermunajat. Engkau yang Maha Melihat dan sedang melihat hamba. Engkau Yang Maha Mendengar dan sedang Mendengar hamba,…”.

Kalimat itu sunguh menambah keyakinan saya bahwa Allah tak pernah mengacuhkan hamba-Nya. Terhadap hal ini, apatah lagi yang sesungguhnya harus kembali membuat hati ini kadang tak tenang, kadang ragu, kadang terlalu khawatir. Allah…, betapa ini menjadi bukti bahwa memang benar adanya bahwa Engkau Maha Berkuasa sedang kami tak berkuasa, bahwa Engkau Maha Tahu sedang kami tidak tahu. Ya, tentang langkah-langkah yang sering kita jalani, Allah lebih tahu bukan? Dan kita akan semakin tersenyum dengan cara-cara-Nya yang membuat molekul kasih ini semakin tertarik kuat pada-Nya. Berbagai cara yang Ia tunjukkan. Dengan kebahagian, kesedihan, keraguan, kekhawatiran, dan segalanya yang membuat kita akan semakin bertanya-tanya, “Allah kenapa ini? Allah, ada apa dengan semua ini? Allah, bagaimana ini? Robb………kerdil sekali kami ini.” Dan dengan berbagai pertanyaan itu, akan semakin tenang rasanya ketika berdekatan dan mencurahkan segalanya dengan Ia Yang Maha Kasih.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah tidur. Segala hal yang menimpa diri kita, jika itu menyenangkan dan membahagiakan, bersyukurlah, tetapi jika musibah atau masalah menghampiri kita, bersabarlah, karena segala hal itu datangnya/ berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb yang Menciptakan kita dan segala sesuatu yang melekat pada diri kita. Begitu indah hidup yang sesaat ini jika disikapi dengan kelapangan hati karena semua hal yang disikapi dengan husnudzon (prasangka baik) kepada-Nya, niscaya bernilai ibadah, dan sebagai mana semua orang tahu, ibadah adalah penghantar manusia mendapatkan rahmat dan ridha-Nya.

sebagaimana bunyi sebuah hadits : Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

Sebuah Kisah Inspiratif dari blog hanifelsalsabila.wordpress.com
Malam kian larut seiring pekatnya mendung menutupi cahaya rembulan. Kini waktu menunjukkan pukul 23.43. Pekerjaan organisasi yang menumpuk membuat saya harus meniggalkan sekretariat selarut ini. Ah, hari yang melelahkan dan menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berkendara dengan laju sepeda motor, langit tampak kian menghitam, rintik hujan mulai turun, lupa bawa jas hujan lagi. Lengkap sudah. Badan yang lelah, ditambah acara “kehujanan”.

Akhirnya saya putuskan untuk berteduh saat melihat sebuah tenda sederhana dengan sebuah lampu patromak. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian, sedang merokok dan ditemani nyala redup lampu patromak. Dia menyilahkan saya duduk, “Disini saja dulu, dik. Dari pada kehujanan.” Begitulah katanya, sambil tersenyum saat saya meminta ijin berteduh.

Benar saja. Hujan makin deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang pekat.Karena tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya, saya memesan mie rebus. Sang bapak tersenyum dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia nampak sibuk, bumbu dan penggorengan telah siap. Tampaklah pertunjukan sebuah pengalaman yang tidak dapat diraih dalam waktu sebentar.Tangannya cekatan sekali meraih bumbu, mie, dan semuanya. Segera saja, mie rebus yang mengepul telah siap tersaji. Keadaan yang canggung mulai pudar. Basa basi, saya bertanya; “wah, hujannya tambah deras, pak. Orang-orang tidak keluar, ya pak?” Bapak itu menoleh ke arah saya, sambil (lagi-lagi) tersenyum, dia berkata; “Iya, dik. Jadi sepi dagangan saya.” Katanya sambil menghirup rokok dalam-dalam.

“Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli, yapak.” Kata saya. “Wah, rezekinya berkurang, ya pak?” Duh, pertanyaan yang bodoh. Tentu saja tak banyak yang membeli kalau hujan seperti ini. Tentunya, pertanyaan itu hanya akan membuat bapak itu tambah sedih. Namun, ternyata saya keliru.

“Gusti Allah, ora sare dik, (Allah itu tidak pernah istirahat), begitu katanya. “Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Kalau hujan, saya dan istri pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun nggak lebar, tapi lumayan lah tanahnya.” Bapak itu melanjutkan, “Cucian motor anak saya juga tambah laku kalau besok masih hujan…..”.


Degh. Dduh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, “Gusti Allah ora sare”. Allah Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya. Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya (sebagai sorang mahasiswa dan guru), tampak tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. Makna nya terlampau dalam, membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan.

Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi banyak hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa materi, dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya cuma harus bersabar. Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung, atau mendorong mobil yang mogok.

Hmm…saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie rebus itu. Beribu pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak di benak saya. “Ya Allah, Engkau Memang Tak Pernah Beristirahat” Untunglah, hujan telah reda, dan sayapun telah selesai makan.

Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang teringat, Gusti Allah Ora Sare….. Gusti Allah Ora Sare…..

Begitulah, saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan saya. Allah memang selalu punya banyak rahasia, dan mengingatkan kita dengan cara yang tak terduga. Selalu saja, Dia memberikan Cinta kepada saya lewat hal-hal yang sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat saya menjadi semakin banyak belajar.

Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia, harus ada hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya ingin ada hal yang menakjubkan saya lakukan. Namun, rupanya tahun ini Allah punya rencana lain buat saya. Dalam setiap doa saya, sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah kehidupan. Dan kali ini Allah pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar dan istimewa.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan hidaya, rahmat, dan ridha-Nya kepada kita semua. Insya Allah, amin.

Lampiran Penjelasan Ayat Kursi :

Ayat Kursi diturunkan pada suatu malam selepas Hijrah. Menurut riwayat, ketika ayat kursi diturunkan disertai dengan beribu-ribu malaikat sebagai penghantarnya, kerana kebesaran dan kemuliaannya.

Syaitan dan Iblis menjadi gempar kerana adanya suatu alamat yang menjadi perintang dalam perjuangan nya.

Rasulallah s.a.w segera memerintah kepada penulis alQuran iaitu Zaid bin Thabit agar segera menulisnya dan menyebarkannya.

Ada terdapat sembilan puluh lima buah hadis yang menjelaskan fazilat ayat kursi. Sebabnya ayat ini disebut ayat KURSI kerana di dalam nya terdapat perkataan KURSI, ertinya tempat duduk yang megah lagi yang mempunyai martabat.

Perlu di ingat, bukan yang di maksudkan dengan KURSI ini tempat duduk tuhan, tetapi adalah KURSI itu syiar atas kebesaran Tuhan.

Khasiat Ayat Kursi:

  1. Sesiapa yang membaca ayat Kursi dengan istikamah setiap kali selesai sembahyang fardhu, setiap pagi dan petang, setiap kali masuk kerumah atau kepasar, setiap kali masuk ke tempat tidur dan musafir, insyaallah akan diamankan dari godaan syaitan dan kejahatan raja-raja (pemerintah) yang kejam, diselamatkan dari kejahatan manusia dan kejahatan binatang yang memudharatkan. Terpelihara dirinya dann keluarganya, anak-anak nya, hartanya, rumahnya dari kecurian, kebakaran dan kekaraman.
  2. Terdapat keterangan dalam kitab Assarul Mufidah, barang siapa yang mengamalkan membaca ayat kursi, setiap kali membaca sebanyak 18 kali, inyaallah ia akan hidup berjiwa tauhid, dibukakan dada dengan berbagai hikmat, dimudahkan rezekinya, dinaikkan martabatnya, diberikan kepadanya pengaruh sehingga orang selalu segan kepadanya, diperlihara dari segala bencana dengan izin Allah s.w.t.
  3. Salah seorang ulama Hindi mendengar dari salah seorang guru besarnya dari Abi Lababah r.a, membaca ayat Kursi sebanyak anggota sujud (7 kali) setiap hari ada benteng pertahanan Rasulallah s.a.w.
  4. Syeikh Abul ‘Abas alBunni menerangkan: “Sesiapa membaca ayat Kursi sebanyak hitungan kata-katanya (50 kali), di tiupkan pada air hujan kemudian diminumnya, maka inysyaallah tuhan mencerdaskan akalnya dan memudahkan faham pada pelajaran yang dipelajari.
  5. Sesiapa yang membaca ayat Kursi selepas sembahyang fardhu, Tuhan akan mengampunkan dosanya. Sesiapa yang membacanya ketika hendak tidur, terpelihara dari gangguan syaitan, dan sesiapa yang membacanya ketika ia marah, maka akan hilang rasa marahnya.
  6. Syeikh alBuni menerangkan: Sesiapa yang membaca ayat Kursi sebanyak hitungan hurufnya (170 huruf), maka insyaallah, Tuhan akan memberi pertolongan dalam segala hal dan menunaikan segala hajatnya, dam melapangkan fikiranyan, diluluskan rezekinya, dihilangkan kedukaannya dan diberikan apa yang dituntutnya.
  7. Barang siapa membaca ayat Kursi ketika hendak tidur, maka Tuhan mewakilkan dua malaikat yang menjaga selama tidurnya sampai pagi.
  8. Abdurahman bin Auf menerangkan bahawa, ia apabila masuk kerumahnya dibaca ayat Kursi pada empat penjuru rumahnya dan mengharapkan dengan itu menjadi penjaga dan pelindung syaitan.
  9. Syeikh Buni menerangkan: sesiapa yang takut terhadap serangan musuh hendaklah ia membuat garis lingkaran denga nisyarat nafas sambil membaca ayat Kuris. Kemudian ia masuk bersama jamaahnya kedalam garis lingkaran tersebut menghadap kearah musuh, sambil membaca ayat Kursi sebayak 50 kali, atau sebanayk 170 kali, insyaallah musuh tidak akan melihatnya dan tidak akan memudharatkannya.
  10. Syeikul Kabir Muhyiddin Ibnul Arabi menerangkan bahawa; sesiapa yang membaca ayat Kursi sebayak 1000 kali dalam sehari semalam selama 40 hari, maka demi Allah, demi Rasul, demi alQuran yang mulia, Tuhan akan membukakan baginya pandangan rohani, dihasilkan yang dimaksud dan diberi pengaruh kepada manusia. (dari kitab Khawasul Qur’an)

>MALAIKAT DAN JIN BUKAN GHAIB

>

Assalaamu ‘alaikum wr. wb.

Dalam karyanya, al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun, ber kata bahwa ada empat obyek utama para sufi:

  • Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta introspeksi diri
  • Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, misalnya: sifat-sifat rabbani, ‘arsy, kursi, malaikat, wahyu, ruh, hakikat realitas segala yang wujud, yang baib maupun yang tampak, dan susunan kosmos, Pencipta serta penciptanya.
  • Peristiwa dalam alam maupun kosmos yang berpengaruh pada berbagai bentuk karomah dan keluarbiasaan.
  • Penciptaan ungkapan yang pengertiannya samar (syathahiyyat), reaksi masyarakat awam berupa mengingkarinya, menyetujui, menginterpretasikannya.

Tersingkapnya hakikat realitas yang wujud, iluminasi, Ibnu Khaldun menungkapkan bahwa, para sufi melakukan latihan rohaniah dengan mematikan kekuatan syahwat serta menggairahkan ruh dengan jalan menggiatkan dzikir. Dengan dzikir, jiwa bisa mengalami hakikat realitas tersebut, jika hal ini tercapai, maka yang wujud pun telah terkonsentrasikan dalam dalam pemahaman seseorang, yang berarti ia berhasil menyingkap seluruh realitas yang wujud. Menurut Ibnu Kaldun Ketersingkapan yang seperti ini timbul dari kelurusan jiwa, yang seperti cermin rata dan dapat memantulkan gambar.

DEFINISI GHAIB
Di dalam Al Qur’an banyak sekali ayat yang memberikanketerangan masalah ghoib yaitu dikatakan bahwa hanya Allah sajalah yang tahu masalah ghoib,bahwa hanya Allahswt dan Rosul yang diridlai-Nya sajalah yang mengerti tentang ghoib (QS. Jin: 26-27).
“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yg ghaib, maka Diatidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridlai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya“.

Dalam hal ini saya akan mengambil sampel tentang bangsa Jin untuk menggambarkan definisi dari ghaib itu sendiri.Mari kita tinjau tentang bangsa Jin itu sebetulnya ghaib atau bukan.

  1. Ditinjau dari bahan pembuat Jin. Jasad manusia diciptakan dari tanah sedangkan jasad Jin diciptakan oleh Allah SWT dari api. Sekarang kita lihat sifat-sifat dari api. – Apakah api itu sesuatu yang ghaib? Jawabnya tentu bukan. Api adalah sesuatu yang bukan ghaib, karena kita dapat dengan jelas melihat api tersebut dengan mata jasad kita. Lalu apa sifat dari api itu? a. Api itu tidak bisa dipegang, kita hanya bisa memegang yang menimbulkan api saja. Contoh: kita memegang obor. Tentu kita tidak dpt memegang api dari obor itu kan? Tapi kita dapat memegang obornya dan mengendalikan api itu bukan? b. Api tidak dapat dipegang tapi dapat kita rasakan. Rasa dari api adalah panas dan dapat membakar sesuatu yang ada disekitarnya. Jadi kesimpulannya ditinjau dari bahan asalnya bangsa Jin itu adalah bukan sesuatu yang ghaib.
  2. Kita tinjau dari sisi ilmu teknik/fisika. Sebuah contoh mengenai FREKUENSI SUARA yang diterima oleh telinga kita. Telinga manusia hanya mampu mendengar suara yang mempunyai frekuensi (getaran) antara 20 Hz sampai 20 kHz.

Telinga manusia tidak mampu mendengar suara yangmempunyai frekuensi diluar range tersebut(antara 20 Hz sampai 20 kHz). Misal 30 kHz,atau 10 Hz atau frekuensi radio yang mempunyai getaran sampai ratusan mega Hz. Apakah frekuensi (getaran) tersebut suara ghaib ? Jawabnya tentu BUKAN.Contoh lagi: – Sinar infra merah, sinar ini banyak digunakan untuk remote kontrol alat-alat elektronik (TV dll). Bukankah mata kita tidak dapat melihat nya ? Tapi apa dia sesuatu yang ghaib ?. Jawab nya tentu bukan. Begitu juga sinar ultra violet.

  • Kelelawar dapat menghasilkan suara ultrasonic dgn frekuensi diatas 20 kHz yang mana telinga manusia tidak dapat mendengarkannya.
  • Jangkrik dapat mengeluarkan suara intrasonic dengan frekuensi lebih kecil atau sama dengan 20 Hz (<= 20 Hz),dimana sebagian suaranya dpt didengar oleh telinga manusia dan sebagian tdk dapat didengar oleh telinga manusia.

Sekarang mari kita bicara tentang benda:
Kita tahu bahwa setiap benda itu kalau dipecah-pecah menjadi bagian yang lebih kecil disebut MOLEKUL dan molekul ini masih dpt dilihat. Molekul jika dipecah pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi disebut ATOM. Atom terdiri dari INTI ATOM dan ELEKTRON. Inti atom dibagi lagi menjadi dua bagian : PROTON dan NETRON, Proton bermuatan positif (+), netron mempunyai muatan netral dan elektron bermuatan negatif (-). Elektron ternyata hidup dan berputar mengelilingi inti atom dengan kecepatan 300.000.000 meter/detik sama dengan kecepatan cahaya.

Dari teori diatas dapat diambil dua kesimpulan: 

  1. Pada hakekatnya tidak ada benda mati (meja kursi dll) karena apa? Karena elektron selalu berputar/bergerak dengan kecepatan 300.000.000 meter/detik. Siapa yang menggerakkan elektron tersebut?
  2. Elektron berputar mengelilingi inti atom dengan kecepatan 300.000.000 meter/detik, dan itulah yg dapat ditangkap oleh mata kita. Mata kita hanya mampu melihat benda yang mempunyai kecepatan elektron mengelilingi inti atomnya sebesar 300.000.000 m/det saja. Diluar kecepatan itu mata manusia tidak dapat melihatnya.

Konon mata anjing, kerbau, dapat melihat sesuatu benda hidup/mati yg mata manusia tidak mampu melihat benda tersebut. Dalam hal ini mata hewan tersebut mempunyai range yang lebih lebar dibanding range mata manusia, mata hewan tersebut mampu melihat benda yang kecepatan elektron mengelilingi inti atomnya lebih besar atau lebih kecil dari 300.000.000 meter/detik (mungkin 250.000.000 m/det sampai 400.000.000 m/det)

Sebuah contoh:

  • Peluru yang ditembakkan oleh seorang tentara, dengan kecepatan yang sangat tinggi peluru tersebut melesat. Mampukah mata kita melihat peluru tersebut? Tentu tidak. Apakah peluru itu sesuatu yang ghaib? Tentu bukan. 
  • Mampukah mata kita melihat pertumbuhan sebuah pohon atau tanaman yang sangat pelan sekali kecepatan tumbuh per detiknya? Tentu tidak.

Lantas apakah ada benda yang mempunyai kecepatan elektron mengelilingi inti atomnya diatas 300.000.000 m/det atau dibawah 300.000.000 m/det? Jawabnya ada.Alam tersebut paralel dengan dunia kita, dunia manusia. Apakah alam lain tersebut ghaib? Jawabnya BUKAN.

Alam lain tersebut mempunyai benda yang kecepatan elektron mengelilingi inti atomnya diatas 300.000.000 m/det atau dibawah 300.000.000 m/det. Mata jasad manusiatidak dapat melihatnya. Tapi dia bukan ghaib. Mungkin suatu saat nanti dengan adanya kemajuan teknologi yang sangat canggih manusia dapat berkomunikasi dengan alam lain tersebut.

Jadi dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa BANGSAJIN ITU adalah BUKAN SESUATU YANG GHAIB. Perbedaannyadengan alam manusia hanya pada kecepatan elektron mengelilingi inti atomnya saja.

Kemungkinan besar kecepatan elektron mengelilingi inti atom di alam Jin lebih tinggi dibanding dengan kecepatan elektron mengelilingi inti atom di alam manusia sehingga mata jasad manusia tidak mampu melihatnya/menangkapnya.

Harapan saya mudah-mudahan dengan contoh-contoh dan penjelasan yang diuraikan diatas dapat diterima oleh pembaca dan sekaligus dapat menghilangkan perbedaan pendapat antar sesama orang Islam mengenai sesuatu yang selama ini dianggap ghaib.

Dengan tulisan ini bukan maksud saya mengajak pembaca sekalian untuk bersekutu dengan bangsa Jin (apalagi bersekutu dengan syetan dari golongan bangsa Jin)melainkan hanya sekedar menambah wawasan pembaca saja tidak lebih dari itu.

Sebetulnya definisi Ghaib yg sebenarnya telah diterangkan di dalam Al Qur’an Surat An Naml ayat 65-66 yang artinya:
Katakanlah : Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana) malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta dari padanya. ” (Q.S. An-Naml : 65-66)

Jadi definisi ghaib yang sebenarnya adalah DZAT ALLAH sendiri.

MALAIKAT DAN JIN BUKAN GHAIB

  1. MALAIKAT ADALAH BUKAN GHAIB KARENA AYAM JAGO DAPAT MELIHAT MALIAKAT.
  2. JIN (SYETAN) JUGA BUKAN GHAIB KARENA ANJING DAN KELEDAI DAPAT MELIHAT JIN (SYETAN).
  3. YANG GHAIB HANYA ALLAH SWT SAJA.

QS. Jin: 26-27:
“Dia adalah Tuhan Yang Mengetahui yg ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridlai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya”.

Hadist Nabi:
Apabila kamu mendengar ayam jago berkokok (di waktu malam), mintalah anugerah kepada Allah, sesungguhnya ia melihat Malaikat. Tapi apabila engkau mendengar keledai meringkik (di waktu malam), mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguan syaitan, sesungguhnya ia melihat syaitan” (HR. Bukhari dengan Fathul Baari 6/350, Muslim 4/2092 no. 2729. Tambahan yang terdapat dalam kurung diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Adabul Mufrad no 1236, lihat silsilah Adabul Mufrad no. 938 dan Silsilah Ahaadist ash-Shahiihah no. 3183. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.)

Jika kalian mendengar lolongan anjing dan ringkikan keledai pada malam hari maka berlindunglah kepada Allah darinya karena ia melihat apa yang tidak dapat kalian lihat.” (HR. Abu Dawud no. 5103, Ahmad 3/306, 355-356 Shahih al-Adabul Mufrad no. 937 serta Ibnu Sunni no. 311 dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu.)

Antara dalil Al-Qur’an dan dalil Hadist tersebut diatas “seolah olah” bertentangan, padahal tidak.

Meminjam istilah dari spiritual bahwa sebetulnya Malaikat, Jin, alam barzah, alam kubur, surga, neraka, alam siluman, dll (pokoknya sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh panca indra manusia) itu disebut dengan istilah AL-GHUYUB bukan AL-GHAIB.

  1. AL-GHUYUB adalah sesuatu yang ghaib tapi masih bisa dibayangkan oleh pikiran kita, misalkan bentuk Jin, Siluman, wajah malaikat, keadaan neraka/surga, siksa kubur seperti apa, dll.
  2. AL-GHAIB adalah hanya ALLAH SWT saja, yang bentuk-NYA, keadaan-NYA tidak boleh dan tidak bisa dibayangkan oleh pikiran kita . LAISA KAMISLIHI SYAI’UN (QS: Asy Syuura ayat 11).

Jadi ghaib yang dimaksud di Al-Qur’an surat Jin: ayat 26-27 itu adalah AL-GHAIB bukan AL-GHUYUB. Sedangkan yang di maksud di hadist Nabi Muhammad SAW di atas adalah AL-GHUYUB bukan AL-GHAIB.

Di Al-Qur’an surat Jin ayat 26 sampai ayat 27 tersebut diatas dikatakan bahwa yang mengetahui AL-GHAIB adalah hanya Allah SWT dan Rosul yang diridhai saja. Siapa Rosul yang diridhai oleh Allah SWT untuk mengetahui yang ghaib ? Tidak lain Rosul yang diridhaiNya tersebut adalah Nabi Muhammad SAW.

Mengapa?
Karena Nabi Muhammad SAW telah diperjalankan oleh Allah SWT melalui perjalanan Isra’ mi’raj sampai ke langit tertinggi (langit ke 7) dimana mailaikat Jibril AS pun tidak sanggup untuk ke langit tertinggi tersebut.

WaAllahu a’lam (Hanya Allah SWT saja yang paling mengetahui).

Wassalam.

by. Agus Mustofa