>Secercah Cahaya Allah

>

Siapa yang hanya hendak mengandalkan rasionya dan tidak mengandalkan kalbunya, maka dia telah mereduksi kemanusiaannya. Itu persis seseorang yang ingin menikmati musik dengan matanya atau persis seseorang yang ingin berjalan dengan kepalanya. Dan, cahaya Ilahi itu bisa diperoleh melalui pembersihan hati (kalbu).

Ada perbedaan antara siraman rohani dan uraian ilmiah. Uraian ilmiah itu arahnya ke akal kita serta baru dianggap baik dan sukses kalau ada sesuatu yang baru diterima, berbeda dengan siraman rohani. Siraman rohani itu tertuju ke kalbu kita, yang bisa saja didengar berulang-ulang karena belum mantap di hati sebelumnya, sehingga pengulangan itu akan memantapkan hatinya, apalagi kalau hati itu terbuka.

Itulah salah satu perbedaan antara uraian ilmiah dan uraian yang bersifat siraman rohani, karena memang ilmu itu berbeda dengan iman. Ilmu itu titik tolaknya akal, sedangkan iman itu titik tolaknya kalbu; Iman itu menyesuaikan seseorang dengan jati dirinya, sedangkan ilmu itu menyesuaikan seseorang dengan lingkungannya; Ilmu itu mempercepat seseorang sampai ke tujuan, sedangkan iman itu menentukan arah yang dituju seseorang; Iman itu revolusi internal, sedangkan ilmu itu revolusi eksternal; Iman itu memelihara seseorang dari petaka ukhrawi, sedangkan ilmu itu memelihara seseorang dari petaka duniawi; Iman itu diibaratkan dengan air bah yang suaranya sangat germuruh tetapi selalu menenangkan pemiliknya, sedangkan ilmu itu diibaratkan dengan air telaga yang jernih tetapi tidak jarang mengeruhkan hati pemiliknya.


Dalam tulisan yang singkat ini, saya ingin menguraikan tentang Fathullah. “Fath” itu terambil dari kata fataha yang artinya membuka. Sesuatu yang terbuka tadinya tertutup, tidak dibuka kalau dia sudah terbuka, kecuali kalbu. Bisa saja kalbu itu sudah terbuka tetapi masih harus dibuka lagi, dalam arti dilebarkan dan dilebarkan lagi, hingga makin banyak cahaya Ilahi yang ditampung. Ketika kita berkata fathullah, maka yang membuka itu adalah Allah. Hati ini dalam bahasa al-Quran biasa dilukiskan dengan kata nafs, biasa dilukiskan dengan kata qalbu, dan biasa juga dilukiskan dengan kata fu’ad.

Nafs adalah sisi dalam manusia, sedangkan qalbu mempunyai tiga tempat, yaitu: pertama, mengandung segala sesuatu yang disadari manusia dan dia tidak segan orang lain tahu isinya; kedua, segala sesuatu yang disadari manusia tetapi dia enggan diketahui orang lain. Itulah yang dirahasiakan; dan ketiga, sesuatu yang pernah diketahui oleh manusia tetapi sudah dilupakan, sehingga dia telah berada di bawah sadar manusia. Fu’ad adalah apa yang disadari.

Allah berfirman, “intajhar bil qaul fainnahu ya’lamu as-sirra wa akhfa”. Kalau engkau berucap dengan ucapan yang jelas, maka Allah mengetahui itu dan mengetahui yang rahasia, mengetahui juga yang lebih rahasia dari rahasia (kalbu).

Ada juga yang dinamakan al-futuhat al-Ilahiyah dan al fath ar-rabbani, selain istilah fathulllah. “Fath” bisa digunakan untuk terbukanya kalbu dalam menerima pengetahuan. Pengetahuan terbagi dua, yaitu ada yang diusahakan manusia, yang diisyaratkan dengan ‘allama bil qalam, dan ada yang tidak diusahakan manusia, yang diisyaratkan oleh ‘allama al-insana ma lam ya’lam. Yang terakhir ini puncaknya adalah wahyu dan tingkat yang paling rendah adalah mimpi. Mimpi ada yang merupakan sesuatu yang dipikirkan sebelum tidur dan ada yang merupakan sesuatu yang dialami sewaktu tidur, kemudian melahirkan mimpi, seperti orang yang mimpi tercekik, boleh jadi ada bantal di lehernya. Ada juga mimpi yang bersumber dari Allah Swt, itulah mimpi orang-orang shaleh dan mimpi yang dialami oleh para Nabi, seperti yang dialami Nabi Yusuf As. dan Nabi Ibrahim As. Mimpi ini menjadi salah satu bentuk dari al fath ar-rabbani, terbukanya apa yang tersingkap.

Semua yang bersumber dari Allah Swt. adalah cahaya Ilahi. Cahaya Tuhan itu wahyu Tuhan yang bisa dilukiskan seperti sinar matahari, bukan saat teriknya matahari tetapi saat naiknya matahari sepenggalan. Itulah waktu adh-dhuha. Sinar ini tidak membeda-bedakan objeknya. Siapapun yang bersedia keluar, dia akan mendapatkan sinar itu. Siapapun yang membuka hatinya, niscaya Allah akan mencurahkan cahaya ke dalam hatinya. Tetapi ingat, sinar hanya menembus objek yang transparan. Sinar tidak menembus tembok ini. Tetapi, sinar itu bisa memantul. Bisa saja saya menyampaikan informasi yang tidak mau anda terima, tetapi justru diterima dan dimanfaatkan oleh orang lain. Sinar Ilahi persis seperti itu, tidak membeda-bedakan. Dia akan menjadi al-fath ar-rabbani atau terbukanya hati yang hanya akan dilakukan oleh Allah, apabila hati ini merupakan sebuah tempat yang transparan.

Semua anugerah Allah yang berupa kebajikan itu tidak akan terlaksana kecuali setelah melalui tiga fase, yaitu datang dari Allah Swt, datang dari manusia, dan datang lagi dari Allah. Saya akan berikan contoh, bagaimana al-fath ar-rabbani atau terbukanya hati itu melangkah. Langkah yang pertama adalah memperoleh taubat. Taubat itu adalah stasiun pertama menuju Allah Swt. Taubat tidak bisa terlaksana kecuali kalau Allah terlebih dulu membuka langkah itu. Baca sewaktub Adam As. berdosa, Allah melangkah lebih dulu dengan memberikan kalimat-kalimat kepada Adam As, “fatalaqqa adamu min rabbihi kalimat”. Begitu dia menerima ayat-ayat itu, datang langkah kedua dari Adam dengan membaca doa, “rabbana dzalamna anfusana fain lam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna min al-khasirin”. Setelah itu, baru datang pengabulan taubat Allah sebagai langkah ketiga.

Allah Swt melalui rasulnya sudah melangkah yang pertama bersama rasulnya. Setelah turun ayat-ayat al-Quran ini, terserah kita apa kita sudah siap membuka hati kita. Kalau siap, yakinlah bahwa al-fath ar-rabbani akan datang kepada kita yang telah membuka hatinya. Adapun yang menutup hatinya jangan harap akan memperoleh fathullah itu (al-fath ar-rabbani). Sinar matahari itu bermacam-macam, ada yang dapat kita lihat dengan pandangan mata kita, tetapi ada juga sinar yang tidak terdeteksi oleh mata kita, ada sinar gamma, ada gelombang-gelombang radio, dan ada juga yang dinamakan dengan sinar ultra violet.

Orang-orang yang terbuka hatinya akan menyadari bahwa boleh jadi ada hal-hal dalam kehidupan dunia ini atau dalam firman-firman Allah yang baru masuk ke dalam hati bukan melalui rasio tetapi melalui kalbu. Ini perlu saya tekankan, apalagi para mahasiswa. Ada orang yang berkata, semua harus bersifat rasional. Saya katakan, siapa yang hanya hendak mengandalkan rasionya dan tidak mengandalkan kalbunya, maka dia telah mereduksi kemanusiaannya. Orang yang ingin memahami segala sesuatu dengan rasionya, itu persis seseorang yang ingin menikmati musik dengan matanya atau persis seseorang yang ingin berjalan dengan kepalanya.

Ada hal-hal dalam kehidupan kita ini yang baru dapat dipahami hanya dengan melalui kalbu kita, melalui siraman cahaya Ilahi. Nah, itu diperoleh melalui pembersihan hati ini, bukan diperoleh melalui korekan kuping dan bukan pula diperoleh dengan basuhan mata. Oleh karena itu, hati bisa menjadi wadah dan bisa juga menjadi alat. Ada orang yang hatinya hanya bagaikan kolam diisi dengan pengetahuan dari luar dan ada juga orang yang hatinya seperti sumur.

Di samping sebagai wadah, juga sumur itu adalah sumber datangnya air dari dalam, di mana air yang bersumber dari mata air itu jauh lebih jernih daripada air yang datang dari luar. Dengan demikian, bila ingin mendapatkan fathullah atau al-fath ar-rabbani, jadikanlah kalbu anda sumur. Untuk membuat sumur, gali batu-batunya dan keluarkan tanah-tanahnya sampai anda menemukan mata air. Dalam arti lain, keluarkan kotoran-kotoran yang ada di dalam hati, niscaya akan datang kepada anda al-futuhat al-Ilahiyah sampai datangnya pengetahuan yang tidak anda usahakan tetapi langsung datang dari Allah Swt. Wallahu A’lam bi ash-Shawab .

BY. Prof. Quraish Shihab
http://www.spiritualsharing.net/read/detail/326/menggapai-cahaya-cahaya-ilahi

>Kuantum Cahaya ILAHI

>

Allah berfirman di dalam QS Al Hadiid (57) Ayat 12 , bahwa orang orang beriman ketika dibangkitkan di akhirat nanti akan mengeluarkan cahaya di wajah dan di sebelah kanannya.

“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”

Bagaimana hal ini bisa dijelaskan?
Seperti telah saya sampaikan sebelumnya, bahwa tubuh manusia mengandung milyaran bio elektron, yang tersusun dalam sebuah sistem energi yang memiliki simpul utama jantung atau qolbu.

Dalam sebuah jaringan PLN, pusatnya adalah sebuah mesin pembangkit listrik. Dari mesin pembangkit ini, listrik disebarkan kepada gardu gardu induk, dilanjutkan ke gardu yang lebih kecil, dan akhirnya menuju ke rumah kita. Di rumah kita jaringan listrik itu masih kita pecah untuk berbagai keperluan seperti lampu, AC, pompa air, mesin cuci dan lain sebagainya.

Jaringan tubuh kita juga memiliki sistem jaringan energi yang hampir sama. Dari simpul utama di jantung, jaringan itu menuju ke organ-organ tubuh lainnya, seperti otak, ginjal, paru, dan sebagainya. Di dalam organ tersebut jaringan terpecah menuju sel-sel. Di dalam sel-sel, jaringan listrik itu dipecah lagi menuju molekul-molekul berjumlah jutaan molekul. Dan akhimya seluruh jaringan itu berujung pada elektron-elektron yang berjumlah milyaran.

Hanya saja, sistem ini memiliki perbedaan dengan sistem dalam jaringan PLN. Pada jaringan listrik PLN, pusatnya adalah mesin pembangkit listrik. Disanalah listrik itu dihasilkan, kemudian di distribusikan. Tetapi dalam jaringan energi tubuh manusia, justru sebaliknya. Penghasil listrik yang sesungguhnya ada pada unit terkecil yaitu bioelektron. Dari milyaran elektron itulah muncul sistem kelistrikan yang menjurus ke molekul-molekul, lantas mengisi sistem sel, mengaliri sistem organ, dan akhirnya membentuk sistem energi di seluruh tubuh manusia. Jantung atau hati menjadi simpul utama, semacam pusat kendalinya.

Dengan sistem energi yang demikian terstruktur itu, maka tubuh manusia memang harus dilihat dalam pandangan yang komprehensif. Setiap terjadi perubahan pada salah satu strukturnya, maka perubahan itu akan mengimbas ke seluruh sistem energinya.

Gangguan pada organ seperti ginjal, paru, atau apalagi jantung, akan menyebabkan keseimbangan energinya juga terganggu.

Tentu saja, yang paling vital adalah jantung, sebagai salah satu simpul energi yang paling dominan. Salah satu fakta yang menarik adalah lewat jantung ini kita bisa mengukur denyutan listrik yang terkait dengan gerak hati atau jiwa kita. Pengukuran lewat ECG (Electric Cardio Graph) akan memberikan informasi kepada kita apakah seseorang sedang marah, sedih atau sedang tenang. Jantung adalah cermin dari sikap, hati kita. Jadi, kembali kepada persoalan semula, bahwa seluruh sistem energi tubuh kita itu bisa kita pengaruhi dari sisi mana saja. Bisa kita stimulasi lewat organ, lewat sel, maupun lewat bio elektron. Dan yang paling mendasar adalah bahwa sistem itu memiliki frekuensi tertentu.

Jika seseorang sedang marah, maka seluruh sistem energi dalam tubuh kita itu akan bergetar dengan frekuensi kemarahan tersebut. Yang mula-mula terserang adalah jantung hati kita. Jantung akan berdetak detak dengan frekuensi yang kasar.

Getaran jantung itu lantas akan menyebar ke seluruh organ tubuh, menjalar ke jutaan sel dalam tubuh kita, dan akhirnya menggetarkan milyaran. Bio elektron di dalam tubuh kita. Karena itu, ketika seseorang marah, maka bukan hanya jantungnya yang berdenyut tidak beraturan, melainkan juga seluruh tubuhnya gemetaran.

Demikian pula sebaliknya., orang yang sedang dalam kondisi kejiwaan yang stabil. Orang yang sedang tenang hatinya, maka denyut jantungnya juga akan tenang, stabil dan lembut. Getaran itu juga akan mengimbas ke seluruh tubuhnya lewat organ, sel-sel dan Bio elektron. Karena itu Allah mengatakan di dalam Al. Quran, “Yaitu orang-orang yang beriman dan tenang hatinya ketika mengingat Allah, ketahuilah sesungguhnya dengan mengingat Allah itu hatimu kan menjadi tenang.” (QS. Ar Ra’duu: 28)

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (Mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikebendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (QS. Az Zumar: 23)

Betapa jelasnya Allah mengatakan dalam ayat-ayat di atas, bahwa hati manusia yang tentram itu akan mengimbas sampai ke kulitnya. Kulitnya akan ikut ‘tenang’ dan lembut. Hal ini bisa kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang-orang yang rileks dan tentram, kulitnya akan terasa lembut dan cerah di wajahnya.

Sebaliknya orang yang stress, tegang dan marah, maka kulitnya akan ikut tegang. Juga roman wajahnya. Maka relaksasi biasanya dilakukan dengan cara pemijatan untuk mengendurkan otot-otot dan kulit yang tegang. Kulit yang tegang juga bisa menjadi indikasi terjadinya ketidak seimbangan energi dalam tubuh seseorang. Pemijatan yang benar akan bisa mengembalikan ketidak seimbangan itu.

Yang lebih menarik, Allah mengatakan bahwa ketentraman itu bisa diperoleh lewat Dzikir-dzikir kepada Allah. Dengan kata lain, keseimbangan energi dalam tubuh dan kelembutan serta kesehatan kulit kita bisa kita dapatkan lewat dzikir kepada Allah.

Kenapa dzikir bisa menghantarkan kita pada ketenangan dan kesehatan?

Allah menceritakan dalam beberapa ayat bahwa berdzikir dan membaca Quran itu sama dengan melakukan stimulasi berupa resonansi getaran – getaran elektromagnetik kepada sistem energi tubuh kita.

Firman Allah di atas mengatakan kepada kita bahwa jika ayat-ayat Al Quran ini dibaca berulang-ulang akan bisa menyebabkan munculnya gelombang elektro magnetik yang menggetarkan kulit kita, dan menenangkan hati. Asalkan waktu membaca itu kita dalam keadaan yang khusyuk dan penuh ketakwaan.

Kenapa demikian?
Karena sesungguhnyalah ayat-ayat Al Quran itu mengandung energi yang dahsyat bagi mereka yang mengimaninya. Memang kuncinya adalah keimanan alias keyakinan. Dengan keyakinan itu, energi yang tersimpan di dalam Al Quran akan bisa dikeluarkan dan mengimbas ke segala benda yang ada di sekitar kita. Sebaliknya orang yang tidak yakin, tidak akan bisa mengeluarkan energi itu.

Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” ( QS Ar ra’du: 31)

Sungguh dahsyat gambaran Allah di dalam ayat tersebut. Energi itu bukan hanya bisa berpengaruh pada diri kita, tetapi gunung, bumi dan manusia yang sudah meninggalkan pun bisa distimulasi oleh energi Al Quran itu. Sungguh ini kekuatan yang luar biasa dahsyatnya.

Tetapi sekali lagi, energi itu hanya bisa dikeluarkan oleh orang orang yang sudah sangat dekat dengan Allah. Seperti yang dilakukan oleh Musa ketika membelah Laut Merah dengan tongkat mukjizatnya : Atau dilakukan oleh Ibrahim ketika mendinginkan api yang membakar dirinya. Atau dilakukan nabi Muhammad saat memancarkan air dari sela sela jari tangannya.

Namun demikian, dalam skala yang jauh lebih kecil kita bisa memohon energi itu untuk kemaslahatan kita. Di antaranya adalah untuk menentramkan hati dan pengobatan misalnya. Allah memberikan jaminan secara universal kepada setiap manusia yang mau berdzikir kepada Allah dan membaca Al Quran berulang-ulang, maka tubuh dan hatinya akan terimbas oleh gelombang elektromagnetik yang bersifat positif.

Wahai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.” (QS An Nisaa :174)

Dialah yang menurunkan kepada hamba-bambaNya ayat-ayat yang terang supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan menuju pada cahaya.” (QS Al Hadiid : 9)

Dalam ayat-ayat di atas, Allah mengatakan bahwa ayat-ayat Quran itu sebenarnya adalah cahaya. Karena cahaya memiliki frekuensi, maka cahaya ini bisa memberikan resonansi kepada hati kita. Artinya, jika kita membaca ayat Quran berulang-ulang maka frekuensinya akan mengimbas kepada hati kita. Apa Akibatnya? Hati kita akan ikut bergetar dengan frekuensi cahaya yang dihasilkan oleh ayat-ayat Quran itu.

Telah kita bahas di depan bahwa hati yang kasar memiliki frekuensi rendah, sedangkan hati yang baik dan lembut memiliki frekuensi yang sangat tinggi. Kita tahu bahwa frekuensi cahaya adalah frekuensi tinggi, yang menghasilkan getaran di sekitar frekuensi 10 pangkat 14 hertz. Getaran ini sangatlah tinggi dan lembut. Frekuensi 10 pangkat 14 Hz adalah frekuensi cahaya tampak. Sedangkan frekuensi di bawah dan di atasnya menghasilkan cahaya-cahaya yang tidak kasat mata, seperti Sinar X, Infra Merah, sinar alfa, Beta, Gama, dan Ultra violet.

Jadi kalau hati kita terimbas oleh cahaya Quran, maka hati kita sedang terimbas oleh frekuensi yang sangat tinggi dan lembut. Karena itu, kenapa orang yang banyak membaca ayat-ayat Quran hatinya akan ikut menjadi lembut, ini karena proses resonansi itu. Dan jika proses resonansi tersebut sering dilakukan, maka hati yang lembut itu akan meresonansi seluruh Bio elektron yang ada di seluruh tubuhnya. Kulitnya akan ikut lembut. Dan keluarlah aura dari wajah dan badan orang tersebut. Ini juga bisa menjelaskan, kenapa seorang ahli ibadah biasanya memiliki roman wajah yang menyejukkan.

Selain membaca ayat-ayat Quran, berdzikir dan menyebut Nama Allah juga akan menghasilkan cahaya di hati dan seluruh tubuh kita. Dengan demikian menyebut nama Allah sama saja dengan memancarkan cahaya dari mulut kita, yang kemudian meresonansi hati dan milyaran Bio elektron di tubuh kita. Allah berfirman di dalam Al Quran,

“Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, dan kaca itu seakan akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak yang banyak berkahnya, (yaitu) Pohon zaitun yang tumbuh tidak sebelah timur, dan tidak pula di sebelab barat, yang minyaknya hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah mengetahui segala sesuatu.” (QS. An Nuur: 35)

Ayat di atas menggambarkan bahwa Allah sendiri memancarkan cahaya dari seluruh eksistensiNya. Menyebut nama Allah akan menghasilkan resonansi cahaya. Karena itu perbanyaklah berdzikir menyebut nama Allah, karena bisa melembutkan hati kita sesuai dengan energi yang tersimpan di dalam setiap Namanya.

Dan secara umum, Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang menjalankan agama Islam dengan baik, akan memperoleh cahaya dari berbagai aktivitas peribadatannya. Hal ini disampaikan Allah dibawah ini.

Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah hatinya untuk agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan Orang-orang yang membatu hatinya)? (QS. Az Zumar: 22)

Karena. itu, kita lantas bisa memahami ayat terdahulu yang mengatakan bahwa orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan akan dibangkitkan oleh Allah di akhirat nanti dalam keadaan yang bercahaya. Itu disebabkan oleh peribadatan sepanjang hidupnya yang telah menghasilkan aura positip di sekujur tubuh dan hatinya.

by. GAGAK MAS (www.gagakmas.org)

>Kuantum Cahaya ILAHI

>

Allah berfirman di dalam QS Al Hadiid (57) Ayat 12 , bahwa orang orang beriman ketika dibangkitkan di akhirat nanti akan mengeluarkan cahaya di wajah dan di sebelah kanannya.

“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”

Bagaimana hal ini bisa dijelaskan?
Seperti telah saya sampaikan sebelumnya, bahwa tubuh manusia mengandung milyaran bio elektron, yang tersusun dalam sebuah sistem energi yang memiliki simpul utama jantung atau qolbu.

Dalam sebuah jaringan PLN, pusatnya adalah sebuah mesin pembangkit listrik. Dari mesin pembangkit ini, listrik disebarkan kepada gardu gardu induk, dilanjutkan ke gardu yang lebih kecil, dan akhirnya menuju ke rumah kita. Di rumah kita jaringan listrik itu masih kita pecah untuk berbagai keperluan seperti lampu, AC, pompa air, mesin cuci dan lain sebagainya.

Jaringan tubuh kita juga memiliki sistem jaringan energi yang hampir sama. Dari simpul utama di jantung, jaringan itu menuju ke organ-organ tubuh lainnya, seperti otak, ginjal, paru, dan sebagainya. Di dalam organ tersebut jaringan terpecah menuju sel-sel. Di dalam sel-sel, jaringan listrik itu dipecah lagi menuju molekul-molekul berjumlah jutaan molekul. Dan akhimya seluruh jaringan itu berujung pada elektron-elektron yang berjumlah milyaran.

Hanya saja, sistem ini memiliki perbedaan dengan sistem dalam jaringan PLN. Pada jaringan listrik PLN, pusatnya adalah mesin pembangkit listrik. Disanalah listrik itu dihasilkan, kemudian di distribusikan. Tetapi dalam jaringan energi tubuh manusia, justru sebaliknya. Penghasil listrik yang sesungguhnya ada pada unit terkecil yaitu bioelektron. Dari milyaran elektron itulah muncul sistem kelistrikan yang menjurus ke molekul-molekul, lantas mengisi sistem sel, mengaliri sistem organ, dan akhirnya membentuk sistem energi di seluruh tubuh manusia. Jantung atau hati menjadi simpul utama, semacam pusat kendalinya.

Dengan sistem energi yang demikian terstruktur itu, maka tubuh manusia memang harus dilihat dalam pandangan yang komprehensif. Setiap terjadi perubahan pada salah satu strukturnya, maka perubahan itu akan mengimbas ke seluruh sistem energinya.

Gangguan pada organ seperti ginjal, paru, atau apalagi jantung, akan menyebabkan keseimbangan energinya juga terganggu.

Tentu saja, yang paling vital adalah jantung, sebagai salah satu simpul energi yang paling dominan. Salah satu fakta yang menarik adalah lewat jantung ini kita bisa mengukur denyutan listrik yang terkait dengan gerak hati atau jiwa kita. Pengukuran lewat ECG (Electric Cardio Graph) akan memberikan informasi kepada kita apakah seseorang sedang marah, sedih atau sedang tenang. Jantung adalah cermin dari sikap, hati kita. Jadi, kembali kepada persoalan semula, bahwa seluruh sistem energi tubuh kita itu bisa kita pengaruhi dari sisi mana saja. Bisa kita stimulasi lewat organ, lewat sel, maupun lewat bio elektron. Dan yang paling mendasar adalah bahwa sistem itu memiliki frekuensi tertentu.

Jika seseorang sedang marah, maka seluruh sistem energi dalam tubuh kita itu akan bergetar dengan frekuensi kemarahan tersebut. Yang mula-mula terserang adalah jantung hati kita. Jantung akan berdetak detak dengan frekuensi yang kasar.

Getaran jantung itu lantas akan menyebar ke seluruh organ tubuh, menjalar ke jutaan sel dalam tubuh kita, dan akhirnya menggetarkan milyaran. Bio elektron di dalam tubuh kita. Karena itu, ketika seseorang marah, maka bukan hanya jantungnya yang berdenyut tidak beraturan, melainkan juga seluruh tubuhnya gemetaran.

Demikian pula sebaliknya., orang yang sedang dalam kondisi kejiwaan yang stabil. Orang yang sedang tenang hatinya, maka denyut jantungnya juga akan tenang, stabil dan lembut. Getaran itu juga akan mengimbas ke seluruh tubuhnya lewat organ, sel-sel dan Bio elektron. Karena itu Allah mengatakan di dalam Al. Quran, “Yaitu orang-orang yang beriman dan tenang hatinya ketika mengingat Allah, ketahuilah sesungguhnya dengan mengingat Allah itu hatimu kan menjadi tenang.” (QS. Ar Ra’duu: 28)

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (Mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikebendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (QS. Az Zumar: 23)

Betapa jelasnya Allah mengatakan dalam ayat-ayat di atas, bahwa hati manusia yang tentram itu akan mengimbas sampai ke kulitnya. Kulitnya akan ikut ‘tenang’ dan lembut. Hal ini bisa kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang-orang yang rileks dan tentram, kulitnya akan terasa lembut dan cerah di wajahnya.

Sebaliknya orang yang stress, tegang dan marah, maka kulitnya akan ikut tegang. Juga roman wajahnya. Maka relaksasi biasanya dilakukan dengan cara pemijatan untuk mengendurkan otot-otot dan kulit yang tegang. Kulit yang tegang juga bisa menjadi indikasi terjadinya ketidak seimbangan energi dalam tubuh seseorang. Pemijatan yang benar akan bisa mengembalikan ketidak seimbangan itu.

Yang lebih menarik, Allah mengatakan bahwa ketentraman itu bisa diperoleh lewat Dzikir-dzikir kepada Allah. Dengan kata lain, keseimbangan energi dalam tubuh dan kelembutan serta kesehatan kulit kita bisa kita dapatkan lewat dzikir kepada Allah.

Kenapa dzikir bisa menghantarkan kita pada ketenangan dan kesehatan?

Allah menceritakan dalam beberapa ayat bahwa berdzikir dan membaca Quran itu sama dengan melakukan stimulasi berupa resonansi getaran – getaran elektromagnetik kepada sistem energi tubuh kita.

Firman Allah di atas mengatakan kepada kita bahwa jika ayat-ayat Al Quran ini dibaca berulang-ulang akan bisa menyebabkan munculnya gelombang elektro magnetik yang menggetarkan kulit kita, dan menenangkan hati. Asalkan waktu membaca itu kita dalam keadaan yang khusyuk dan penuh ketakwaan.

Kenapa demikian?
Karena sesungguhnyalah ayat-ayat Al Quran itu mengandung energi yang dahsyat bagi mereka yang mengimaninya. Memang kuncinya adalah keimanan alias keyakinan. Dengan keyakinan itu, energi yang tersimpan di dalam Al Quran akan bisa dikeluarkan dan mengimbas ke segala benda yang ada di sekitar kita. Sebaliknya orang yang tidak yakin, tidak akan bisa mengeluarkan energi itu.

Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” ( QS Ar ra’du: 31)

Sungguh dahsyat gambaran Allah di dalam ayat tersebut. Energi itu bukan hanya bisa berpengaruh pada diri kita, tetapi gunung, bumi dan manusia yang sudah meninggalkan pun bisa distimulasi oleh energi Al Quran itu. Sungguh ini kekuatan yang luar biasa dahsyatnya.

Tetapi sekali lagi, energi itu hanya bisa dikeluarkan oleh orang orang yang sudah sangat dekat dengan Allah. Seperti yang dilakukan oleh Musa ketika membelah Laut Merah dengan tongkat mukjizatnya : Atau dilakukan oleh Ibrahim ketika mendinginkan api yang membakar dirinya. Atau dilakukan nabi Muhammad saat memancarkan air dari sela sela jari tangannya.

Namun demikian, dalam skala yang jauh lebih kecil kita bisa memohon energi itu untuk kemaslahatan kita. Di antaranya adalah untuk menentramkan hati dan pengobatan misalnya. Allah memberikan jaminan secara universal kepada setiap manusia yang mau berdzikir kepada Allah dan membaca Al Quran berulang-ulang, maka tubuh dan hatinya akan terimbas oleh gelombang elektromagnetik yang bersifat positif.

Wahai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.” (QS An Nisaa :174)

Dialah yang menurunkan kepada hamba-bambaNya ayat-ayat yang terang supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan menuju pada cahaya.” (QS Al Hadiid : 9)

Dalam ayat-ayat di atas, Allah mengatakan bahwa ayat-ayat Quran itu sebenarnya adalah cahaya. Karena cahaya memiliki frekuensi, maka cahaya ini bisa memberikan resonansi kepada hati kita. Artinya, jika kita membaca ayat Quran berulang-ulang maka frekuensinya akan mengimbas kepada hati kita. Apa Akibatnya? Hati kita akan ikut bergetar dengan frekuensi cahaya yang dihasilkan oleh ayat-ayat Quran itu.

Telah kita bahas di depan bahwa hati yang kasar memiliki frekuensi rendah, sedangkan hati yang baik dan lembut memiliki frekuensi yang sangat tinggi. Kita tahu bahwa frekuensi cahaya adalah frekuensi tinggi, yang menghasilkan getaran di sekitar frekuensi 10 pangkat 14 hertz. Getaran ini sangatlah tinggi dan lembut. Frekuensi 10 pangkat 14 Hz adalah frekuensi cahaya tampak. Sedangkan frekuensi di bawah dan di atasnya menghasilkan cahaya-cahaya yang tidak kasat mata, seperti Sinar X, Infra Merah, sinar alfa, Beta, Gama, dan Ultra violet.

Jadi kalau hati kita terimbas oleh cahaya Quran, maka hati kita sedang terimbas oleh frekuensi yang sangat tinggi dan lembut. Karena itu, kenapa orang yang banyak membaca ayat-ayat Quran hatinya akan ikut menjadi lembut, ini karena proses resonansi itu. Dan jika proses resonansi tersebut sering dilakukan, maka hati yang lembut itu akan meresonansi seluruh Bio elektron yang ada di seluruh tubuhnya. Kulitnya akan ikut lembut. Dan keluarlah aura dari wajah dan badan orang tersebut. Ini juga bisa menjelaskan, kenapa seorang ahli ibadah biasanya memiliki roman wajah yang menyejukkan.

Selain membaca ayat-ayat Quran, berdzikir dan menyebut Nama Allah juga akan menghasilkan cahaya di hati dan seluruh tubuh kita. Dengan demikian menyebut nama Allah sama saja dengan memancarkan cahaya dari mulut kita, yang kemudian meresonansi hati dan milyaran Bio elektron di tubuh kita. Allah berfirman di dalam Al Quran,

“Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, dan kaca itu seakan akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak yang banyak berkahnya, (yaitu) Pohon zaitun yang tumbuh tidak sebelah timur, dan tidak pula di sebelab barat, yang minyaknya hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah mengetahui segala sesuatu.” (QS. An Nuur: 35)

Ayat di atas menggambarkan bahwa Allah sendiri memancarkan cahaya dari seluruh eksistensiNya. Menyebut nama Allah akan menghasilkan resonansi cahaya. Karena itu perbanyaklah berdzikir menyebut nama Allah, karena bisa melembutkan hati kita sesuai dengan energi yang tersimpan di dalam setiap Namanya.

Dan secara umum, Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang menjalankan agama Islam dengan baik, akan memperoleh cahaya dari berbagai aktivitas peribadatannya. Hal ini disampaikan Allah dibawah ini.

Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah hatinya untuk agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan Orang-orang yang membatu hatinya)? (QS. Az Zumar: 22)

Karena. itu, kita lantas bisa memahami ayat terdahulu yang mengatakan bahwa orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan akan dibangkitkan oleh Allah di akhirat nanti dalam keadaan yang bercahaya. Itu disebabkan oleh peribadatan sepanjang hidupnya yang telah menghasilkan aura positip di sekujur tubuh dan hatinya.

by. GAGAK MAS (www.gagakmas.org)

>Ekspresikan Aksimu, Jangan Takut Salah

>

Jangan takut gagal sebelum mencoba !
jangan takut jatuh sebelum melangkah !
Kesuksesan milik orang yang berani mencoba.
Ingat!
Apa yang tidak mungkin , seringkali belum pernah di coba.
(Andrie Wongso)

Selama ini, ada sebuah mindset di dalam benak orang, yakni merupakan aib bila melakukan kesalahan. Mungkin ada benarnya juga juga pemikiran seperti ini. Dengan demikian, setiap orang akan bertindak hati-hati dalam melakukan sesuatu. Orang akan sangat malu apabila melakukan sesutu, karena takut salah, dan ternoda nama baiknya. Namun, efek dari pemikiran tersebut akan membelenggu daya kreativitas, maupun menanamkan kragu-raguan orang dalam bertindak. Akibatnya, orang itu tidak akan berkembang karena tidak berani melakukan inovasi dan terobosan baru.

Diantara hal yang membuat kita terpuruk adalah bahwa kita selalu dihantui oleh rasa takut yang tidak beralasan. Takut salah. Padahal, kita punya ide-ide yang matang dan jitu untuk menyelesaikan problem yang kita hadapi. Ide yang kita pikirkan terkadang merupakan solusi yang baik atau yang terbaik dari masalah yang ada, yang sama sekali tidak terpikirkan atau terbayangkan oleh orang lain. Tetapi perasaan lemah, pikiran sempit dan tidak berani berkomentar atau berbuat rupanya mengalahkan akal sehat yang kita miliki. Kita takut untuk memberikan solusi jangan sampai ditertawakan atau dicemohkan. Perasaan ini muncul karena kita merasa minder. Dan terkadang kita turut menyalahkan hasil-hasil yang dicapai oleh rekan-rekan karena mereka gagal dalam mencapai tujuan. Lalu kita terkadang merasa bangga dengan pemikiran atau ide kita yang tidak terungkap.

Inilah hal yang mesti diperbaiki. Sebenarnya, bukan rekan-rekan kita yang berbuatlah yang gagal. Tetapi yang gagal itu adalah kita yang tidak pernah mau berbuat, yang tidak pernah mau beraksi mengemukakan apa yang kita pikirkan dan melaksanakanapa yang kita pikirkan. Tidak pernah mengekspresikan hasil-hasil pemikiran kita. Makanya perasaan-perasaan seperti ini mesti dihilangkan didalam benak kita. Jangan biarkan dia nyenyak dalam diri kita. Perasaan takut mengeluarkan pendapat ini harus segera dihilangkan demi kemajuan bersama. Maju untuk menyelesaikan problem-problem kehidupan. Bangkit untuk memperbaiki tatanan kehidupan kita kearah yang lebih baik. Merugilah orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Dan beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Thomas D. Kuczmarski, seorang konsultan pengembangan produk baru di Chicago, mengusulkan diadakannya “pesta kegagalan“. Hal itu merupakan bentuk pengakuan atas kesalahan sebagai bagian dari proses kreatif. (BusinessWeek Edisi Indonesia/19 Juli 2006)

Kutipan di atas merupakan sebuah pemikiran baru, yang perlu ditanamkan ke dalam benak setiap orang. Sebuah pengakuan atas kegagalan yang kita perbuat, adalah langkah-langkah awal sebuah keberhasilan. Dari kesalahan itulah, orang akan belajar untuk mencapai kesempurnaan. Kalimat ini terdengar klise, namun memiliki makna yang dalam. Mungkin kalimat ini yang bisa membuat seorang Bill Gates dapat mengelola Microsoft menjadi sebuah perusahaan raksasa, seorang Thomas Alva Edison dapat menemukan berbagai macam alat yang membantu kehidupan manusia sehari-hari.

Banyak di antara kita pasti bisa mengendarai sepeda atau kendaraan roda dua. Masih ingatkah bagaimana indahnya masa-masa itu. Masa kanak-kanak ketika kita merasa begitu bebas dan merdeka menjelajahi pelosok kampung kita, atau malah ke kampung-kampung tetangga, dengan bersepeda.

Masih ingatkah tentang segala hal yang dialami sebelum masa-masa indah itu bisa kita nikmati?

Saat kita baru belajar menaiki sepeda. Saat itu, kita melakukan begitu banyak kesalahan. Jatuh ke selokan, menabrak pagar rumah orang, menyelonong keluar dari gang dan menyeruduk mobil lewat, menabrak sepeda teman, terpeleset pasir, rem blong. Banyak luka yang terjadi: lecet dan keseleo, lutut memar, tulang kering luka dan terkelupas, sikut carut-marut, benjol juga jidat, dimarahi orang, menangis, atau berkelahi berebut sepeda, dan diomeli orang tua atau tetangga.

Apakah semua kesalahan dan luka itu, membuat kita berhenti belajar naik sepeda? Mengapa? Ya! Tepat sekali. Kita ingin bisa. “The power of dream!”

Kekuatan impianlah yang membuat kita tetap berjuang dan belajar keras. Sampai bisa. Kini, masa-masa itu, justru menjadi bagian dari keindahan itu sendiri.

Kok bisa ya, kekuatan impian begitu besarnya?
Ini rahasianya. Ketika kecil, kita masih polos, belum banyak dicekoki dan “diracuni” oleh berbagai pengertian dan pemahaman tentang benar atau salah, dan tentang baik atau buruk. Saat itu, kita yakin dalam menyikapi segala kesalahan yang terjadi, adalah semata-mata “kesalahan teknis”.

Sejalan dengan usia dan pendidikan, kita mulai menyusun dan mengorganisir berbagai konsep dan pemahaman tentang salah, benar, baik, dan buruk. Tentang moralitas dan idealisme kehidupan. Sampai hari ini. Ternyata, tanpa disadari, kita mulai merumuskan sebuah konsepsi baru tentang kesalahan, yaitu “kesalahan moral”. Dan yang sangat sering terjadi, adalah kekurangwaspadaan dalam memisahkan dua macam kesalahan itu.

Maka mulai sekarang, perhatikanlah.
Jika mau melakukan sesuatu, dan kemudian menemukan berbagai kemungkinan kesalahan dan luka yang mungkin akan terjadi, jangan langsung berhenti. Uji dahulu semua itu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:

Apakah jika kesalahan atau luka itu terjadi, akankah: membuat kita berdosa, membuat kita masuk neraka, membuat masuk penjara, mencederai moralitas dan keyakinan kita, melukai orang-orang yang kita cintai, merugikan khalayak?

Jika jawabannya atau kita bisa menjawab “tidak”, maka segala kesalahan itu semata-mata hanya “teknis” sifatnya. Dan “kesalahan teknis” semacam ini, selalu merupakan “pembelajaran” , penting dan bernilai. Jangan berhenti.

Coba pertimbangkan hal-hal ini.
Kita mau membuka warung kelontong, dan tetangga seberang rumah sudah lebih dahulu membuka warung di garasinya. Kita ingin sekali, tapi kita membatalkannya, karena “tidak enak hati”. Padahal di Mangga Dua sana, ratusan toko elektronik berjajar rapi menjual barang yang identik dan persis sama. Rejeki ada yang mengatur!

Kita mau mengejar cita-cita, kemudian sekitar kita memberi masukan negatif. Akankah kita berhenti? Akankah kita bilang, “apa kata orang nanti?”. Jika kita mampu menjawab “tidak”, lakukan saja!

“People often think that they’re being de-motivated by their situations. No, they’re just being disconnected from their dreams.”

Dari berbagai sumber.

>Ekspresikan Aksimu, Jangan Takut Salah

>

Jangan takut gagal sebelum mencoba !
jangan takut jatuh sebelum melangkah !
Kesuksesan milik orang yang berani mencoba.
Ingat!
Apa yang tidak mungkin , seringkali belum pernah di coba.
(Andrie Wongso)

Selama ini, ada sebuah mindset di dalam benak orang, yakni merupakan aib bila melakukan kesalahan. Mungkin ada benarnya juga juga pemikiran seperti ini. Dengan demikian, setiap orang akan bertindak hati-hati dalam melakukan sesuatu. Orang akan sangat malu apabila melakukan sesutu, karena takut salah, dan ternoda nama baiknya. Namun, efek dari pemikiran tersebut akan membelenggu daya kreativitas, maupun menanamkan kragu-raguan orang dalam bertindak. Akibatnya, orang itu tidak akan berkembang karena tidak berani melakukan inovasi dan terobosan baru.

Diantara hal yang membuat kita terpuruk adalah bahwa kita selalu dihantui oleh rasa takut yang tidak beralasan. Takut salah. Padahal, kita punya ide-ide yang matang dan jitu untuk menyelesaikan problem yang kita hadapi. Ide yang kita pikirkan terkadang merupakan solusi yang baik atau yang terbaik dari masalah yang ada, yang sama sekali tidak terpikirkan atau terbayangkan oleh orang lain. Tetapi perasaan lemah, pikiran sempit dan tidak berani berkomentar atau berbuat rupanya mengalahkan akal sehat yang kita miliki. Kita takut untuk memberikan solusi jangan sampai ditertawakan atau dicemohkan. Perasaan ini muncul karena kita merasa minder. Dan terkadang kita turut menyalahkan hasil-hasil yang dicapai oleh rekan-rekan karena mereka gagal dalam mencapai tujuan. Lalu kita terkadang merasa bangga dengan pemikiran atau ide kita yang tidak terungkap.

Inilah hal yang mesti diperbaiki. Sebenarnya, bukan rekan-rekan kita yang berbuatlah yang gagal. Tetapi yang gagal itu adalah kita yang tidak pernah mau berbuat, yang tidak pernah mau beraksi mengemukakan apa yang kita pikirkan dan melaksanakanapa yang kita pikirkan. Tidak pernah mengekspresikan hasil-hasil pemikiran kita. Makanya perasaan-perasaan seperti ini mesti dihilangkan didalam benak kita. Jangan biarkan dia nyenyak dalam diri kita. Perasaan takut mengeluarkan pendapat ini harus segera dihilangkan demi kemajuan bersama. Maju untuk menyelesaikan problem-problem kehidupan. Bangkit untuk memperbaiki tatanan kehidupan kita kearah yang lebih baik. Merugilah orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Dan beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Thomas D. Kuczmarski, seorang konsultan pengembangan produk baru di Chicago, mengusulkan diadakannya “pesta kegagalan“. Hal itu merupakan bentuk pengakuan atas kesalahan sebagai bagian dari proses kreatif. (BusinessWeek Edisi Indonesia/19 Juli 2006)

Kutipan di atas merupakan sebuah pemikiran baru, yang perlu ditanamkan ke dalam benak setiap orang. Sebuah pengakuan atas kegagalan yang kita perbuat, adalah langkah-langkah awal sebuah keberhasilan. Dari kesalahan itulah, orang akan belajar untuk mencapai kesempurnaan. Kalimat ini terdengar klise, namun memiliki makna yang dalam. Mungkin kalimat ini yang bisa membuat seorang Bill Gates dapat mengelola Microsoft menjadi sebuah perusahaan raksasa, seorang Thomas Alva Edison dapat menemukan berbagai macam alat yang membantu kehidupan manusia sehari-hari.

Banyak di antara kita pasti bisa mengendarai sepeda atau kendaraan roda dua. Masih ingatkah bagaimana indahnya masa-masa itu. Masa kanak-kanak ketika kita merasa begitu bebas dan merdeka menjelajahi pelosok kampung kita, atau malah ke kampung-kampung tetangga, dengan bersepeda.

Masih ingatkah tentang segala hal yang dialami sebelum masa-masa indah itu bisa kita nikmati?

Saat kita baru belajar menaiki sepeda. Saat itu, kita melakukan begitu banyak kesalahan. Jatuh ke selokan, menabrak pagar rumah orang, menyelonong keluar dari gang dan menyeruduk mobil lewat, menabrak sepeda teman, terpeleset pasir, rem blong. Banyak luka yang terjadi: lecet dan keseleo, lutut memar, tulang kering luka dan terkelupas, sikut carut-marut, benjol juga jidat, dimarahi orang, menangis, atau berkelahi berebut sepeda, dan diomeli orang tua atau tetangga.

Apakah semua kesalahan dan luka itu, membuat kita berhenti belajar naik sepeda? Mengapa? Ya! Tepat sekali. Kita ingin bisa. “The power of dream!”

Kekuatan impianlah yang membuat kita tetap berjuang dan belajar keras. Sampai bisa. Kini, masa-masa itu, justru menjadi bagian dari keindahan itu sendiri.

Kok bisa ya, kekuatan impian begitu besarnya?
Ini rahasianya. Ketika kecil, kita masih polos, belum banyak dicekoki dan “diracuni” oleh berbagai pengertian dan pemahaman tentang benar atau salah, dan tentang baik atau buruk. Saat itu, kita yakin dalam menyikapi segala kesalahan yang terjadi, adalah semata-mata “kesalahan teknis”.

Sejalan dengan usia dan pendidikan, kita mulai menyusun dan mengorganisir berbagai konsep dan pemahaman tentang salah, benar, baik, dan buruk. Tentang moralitas dan idealisme kehidupan. Sampai hari ini. Ternyata, tanpa disadari, kita mulai merumuskan sebuah konsepsi baru tentang kesalahan, yaitu “kesalahan moral”. Dan yang sangat sering terjadi, adalah kekurangwaspadaan dalam memisahkan dua macam kesalahan itu.

Maka mulai sekarang, perhatikanlah.
Jika mau melakukan sesuatu, dan kemudian menemukan berbagai kemungkinan kesalahan dan luka yang mungkin akan terjadi, jangan langsung berhenti. Uji dahulu semua itu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:

Apakah jika kesalahan atau luka itu terjadi, akankah: membuat kita berdosa, membuat kita masuk neraka, membuat masuk penjara, mencederai moralitas dan keyakinan kita, melukai orang-orang yang kita cintai, merugikan khalayak?

Jika jawabannya atau kita bisa menjawab “tidak”, maka segala kesalahan itu semata-mata hanya “teknis” sifatnya. Dan “kesalahan teknis” semacam ini, selalu merupakan “pembelajaran” , penting dan bernilai. Jangan berhenti.

Coba pertimbangkan hal-hal ini.
Kita mau membuka warung kelontong, dan tetangga seberang rumah sudah lebih dahulu membuka warung di garasinya. Kita ingin sekali, tapi kita membatalkannya, karena “tidak enak hati”. Padahal di Mangga Dua sana, ratusan toko elektronik berjajar rapi menjual barang yang identik dan persis sama. Rejeki ada yang mengatur!

Kita mau mengejar cita-cita, kemudian sekitar kita memberi masukan negatif. Akankah kita berhenti? Akankah kita bilang, “apa kata orang nanti?”. Jika kita mampu menjawab “tidak”, lakukan saja!

“People often think that they’re being de-motivated by their situations. No, they’re just being disconnected from their dreams.”

Dari berbagai sumber.