>Dahsyatnya Energi Quantum Niat

>

Dari Amīr al-Mu’minīn, Abū Hafsh ‘Umar bin al-Khaththāb ra, dia menjelaskan bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim)

Imam Ibnul Qayyim berkata, ”Niat adalah ruh amal, inti dan sendinya. Amal itu mengikuti niat. Amal menjadi benar karena niat yang benar. Dan amal menjadi rusak karena niat yang rusak.” (I’lamul Muwaqqi’in VI/106, tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan dua kalimat yang sangat dalam maknanya, yaitu, sesungguhnya amal-amal bergantung kepada niat dan seseorang memperoleh apa yang diniatkan. Dalam kalimat pertama, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, amal tidak ada artinya tanpa ada niat. Sedangkan dalam kalimat kedua, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, orang yang melakukan suatu amal, ia tidak memperoleh apa-apa kecuali menurut niatnya. Hal ini mencakup iman, ibadah, da’wah, muamalah, nadzar, jihad, perjanjian dan tindakan apapun. Niat bisa juga disebut sebagai Tujuan daripada dilakukannya sebuah Action/Tindakan.

Perubahan hanya dapat terjadi jika terdapat kekuatan yang cukup besar untuk mulai menggerakkan roda perubahan. Kekuatan yang saya maksud adalah kekuatan niat. Niat adalah komitmen anda untuk menetapkan jalur yang anda akan jalani sebelum mulai meletakan langkah pertama pada jalur tersebut. Kekuatan tersebut sangat besar namun sayangnya tidak dapat digunakan setiap saat, karena ia sangat menyita energi dan perhatian sehingga sangat melelahkan. Jika anda menggunakannya secara bijaksana ia dapat membantu anda untuk memuluskan jalan dalam mewujudkan keinginan.

Betapa hebatnya kekuatan niat, bahwa dengan kita berniat maka dalam hadits tersebut, kita akan sampai kepada apa yang kita niatkan. Bahkan Niat Baik itu sendiri sudah bernilaikan sebuah kebaikan, walaupun belum dikerjakan. Niat merupakan amalan hati. Sedangkan ta’rif (difinisi) iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah diyakini di dalam hati, diucapkan melalui lisan, dan dibuktikan dengan anggota badan dan perbuatan.

Oleh karena itu pula Imam Bukhari meletakkan hadits ini di dalam Kitab Al Iman. “Maka barangsiapa yang bercita-cita hendak mengerjakan kebaikan tetapi belum mengamalkannya, Allah mencatat bagi orang tersebut di sisi-Nya dengan kebaikan yang sempurna.” (MuttafAqun alaih)

  • Tujuan membuat Anda tetap FOKUS.
  • Tujuan memberi Anda sesuatu untuk DIRAIH.
  • Tujuan membuat ide-ide dan SOLUSI terus mengalir.
  • Tujuan membuat Anda ANTUSIAS.
  • Tujuan memberikan gambaran RUTE dalam kehidupan.
  • Tujuan memberikan ARTI dalam hidup Anda.
  • Tujuan membantu Anda untuk tetap PRODUKTIF.
  • Tujuan memberikan KEJELASAN dalam pembuatan keputusan.
  • Tujuan menyediakan ALAT UKUR dalam mempertimbangkan suatu ide.
  • Tujuan membantu Anda untuk tetap TERORGANISIR.
  • Tujuan membantu Anda untuk MEMPROMOSIKAN diri Anda kepada orang lain.
  • Tujuan membantu Anda MENILAI produktifitas dan efektifitas Anda.

Buku Dr Kazuo Murakami, The Divine Message of the DNA, Tuhan dalam Gen Kita, terbitan Mizan 2007 dapat membantu kita dalam menyingkap rahasia kekuatan niat yang diajarkan Rasulullah 1.400 tahun lalu. Ahli genetika terkemuka dunia yang memenangi Max Planck Research Award dan Japan Academy Prize itu menyatakan bahwa pikiran kita memengaruhi cara kerja gen kita.

Lalu, bagaimana pikiran kita bisa memengaruhi gen-gen kita. Sebelum membahas lebih jauh, perlu kita ketahui bahwa setiap kilogram berat badan, kata Dr Murakami, terdiri atas sekitar satu triliun sel. Bayi lahir memiliki sekitar tiga triliun sel. Seorang dengan berat badan 60 kilogram memiliki 60 triliun sel. Di tengah-tengah setiap sel terdapat sebuah nekleus.Nekleus sel mengandung asam deoksiribnukleat atau deoxyribonucleic acid (DNA). DNA yang terdiri atas dua untai berbentuk spiral, yang terdapat molekul-molekul dengan nama yang disingkat dalam empat guruf: A,T, C, dan G. Itulah kode genetik yang menyimpan semua informasi untuk membentuk dan mengatur kehidupan kita. Yang luar biasa bahwa setiap nekleus dari satu buah sel manusia memiliki tiga miliar huruf DNA. Tiga miliar dikalikan dengan 60 triliun. Subhanallah.

Yang sungguh mencengangkan adalah semua kode genetika manusia, yang tersusun dari lebih dari tiga miliar ”huruf kimia”, tersimpan dalam untaian berukuran mikrokospik dengan berat satu per 200 miliar gram dan lebar 1/500.000 milimeter. Untuk memvisualisasi, Dr Murakami mengajak kita membayangkan mengiris sebuah kawat berdiameter satu millimeter secara memanjang menjadi satu per seratus bagian. Hasilnya begitu halus dan akan hancur ditiup angin. Tiap helaian tadi masih ada lima ribu kali lebih tebal daripada sehelai DNA. Jika semua DNA dari seluruh manusia dunia yang lebih enam miliar orang disatukan, kumpulan DNA tersebut hanya akan menjadi seberat satu butir beras. Dunia gen, dunia mikrokosmos yang tak terhingga kecilnya ternyata luar biasa dahsyat pengaruhnya dalam hidup kita.

Lalu, apa hubungan DNA dengan”kekuatan niat”..? Hubungannya sangat erat. Contohnya, saat kita berpuasa di bulan Romadlon. Niat berpuasa digerakkan oleh pikiran sadar kita untuk melaksanakan salah satu perintah Allah SWT. Ibarat perintah dari ”komandan berkuasa penuh”yang menyebabkan seluruh ”prajurit” berjumlah lebih kurang 60 triliun sel tunduk patuh mengikuti perintahnya. Itu sebabnya, ketika kita sudah meniatkan berpuasa, seluruh gen yang menggerakkan rasa lapar untuk sementara di off atau dimatikan sehingga tak memunculkan rasa atau hasrat untuk makan seperti yang biasa kita rasakan.

Jika kita meniatkan untuk berpikir, berbicara, berperilaku positif, serta memberikan yang terbaik dan meninggalkan kebiasaan buruk dalam hidup kita, seluruh alam mikrokosmos (triliunan sel dan DNA kita akan tunduk patuh bekerja mengikuti perintah pikiran dan niat kita), dan makrokosmos akan bekerja mendukung kehendak sadar atau niat kita, dan yakinlah Allah SWT akan memenuhi janji-Nya mengubah nasib kita.

Lingkaran Energi Kuantum NIAT
Manusia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan mahakarya. Kekuatan terbesar dalam diri manusia itu terdapat pada pikiran. Tetapi kita jarang membuktikan kekuatan pikiran tersebut, sebab kita sering terjebak dalam zona nyaman atau kebiasaan tertentu. Sehingga selamanya tidak dapat mencari kemungkinan yang lebih baik atau perubahan nasib yang berarti.

Oleh karena itu milikilah target yang lebih tinggi untuk merangsang kekuatan dalam pikiran tersebut. Sebab target atau sasaran baru yang dipikirkan itu akan menggerakkan diri kita untuk melaksanakan tindakan. Apalagi jika diyakini target tersebut bakal tercapai, maka  diri kita akan lebih siap menghadapi tantangan yang ada.

Setelah tindakan-tindakan baru yang lebih konstruktif dikerjakan hingga berulang-ulang, maka tanpa disadari kita sudah banyak  melakukan hal-hal penting hinga kita tiba di zona baru, dimana kita berhasil mencapai target yang didambakan. Itulah mengapa dikatakan bahwa manusia mempunyai potensi yang sangat besar dalam pikiran bawah sadar. Kekuatan pikiran bawah sadar itu dapat dibangkitkan melalui 2
cara, yaitu: autosuggestion dan visualization.

Autosuggestion
Keinginan-keinginan kita merupakan informasi penting untuk pikiran bawah sadar. Sebab keinginan yang terekam kuat dalam pikiran bawah sadar sangat besar dapat menjadi daya dorong yang akan menggerakkan
diri kita untuk berbuat sesuatu yang luar biasa. Keinginan yang sangat besar dan terekam dalam pikiran bawah sadar itulah yang dinamakan autosuggestion.

Autosuggestion seharusnya dilakukan dengan penuh rasa percaya, melibatkan emosi dalam diri, dilakukan penuh konsentrasi terhadap obyek yang positif, dan berulang-ulang. Selanjutnya, pikiran bawah sadar inilah yang akan mendikte gerak-gerik tubuh kita. Kekuatan yang ditimbulkan oleh pikiran bawah sadar itu sangat dahsyat entah digunakan untuk melakukan perbuatan buruk atau baik. Kadangkala niat untuk melakukan sesuatu secara otomatis muncul dari pikiran bawah sadar.

Autosuggestion akan mengetuk kesadaran (heartknock). Karena dilakukan berulang-ulang dan rutin, suatu ketika kata-kata tersebut akan menembus pikiran bawah sadar. Lalu pikiran bawah sadar itupun memompa
semangat. Energi itu dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan impian hidup kita.

Mungkin kegiatan autosuggestion ini akan dianggap aneh oleh orang lain. Tetapi itulah salah satu cara untuk mengubah diri dari dalam. Biasakan mendengar pola pikir positif dan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang konstruktif. Jadi jangan ragu untuk melakukan budaya-budaya yang potensial, menumbuhkan optimisme dan kreatifitas.

Ada 5 (P) petunjuk dalam melakukan autosuggestion, yaitu;

  1. Positive : pada saat melakukan autosuggestion, pikirkan hal-hal yang positif saja.
  2. Powerful : lakukan dengan penuh keyakinan sebab dapat memberikan kekuatan untuk berbuat sesuatu yang luar biasa.
  3. Precise : keinginan yang hendak dicapai harus sudah dapat dideskripsikan, karena pikiran bawah sadar hanya bisa menyusun berdasarkan kategori.
  4. Present Tense: dalam bentuk keinginan saat ini, bukan keinginan di masa lalu atau akan datang.
  5. Personal : lakukan perubahan positif terhadap diri sendiri terlebih dahulu.

Visualization
Bila kita menginginkan sesuatu maka pikiran bawah sadar akan menggambarkan apa yang didambakan itu. Dengan cara memvisualisasikan impian terlebih dahulu, terciptalah banyak sekali karya-karya spektakuler di dunia ini. Marcus Aurelius Antonius, seorang kaisar Romawi jaman dahulu mengatakan, “A man’s life is what his thought make of it – Kehidupan manusia ialah bagaimana mereka memikirkannya.

Sesuatu yang selalu divisualisasikan manusia akan mudah terekam dalam pikiran bawah sadar. Lalu muncul kekuatan pikiran tersebut, yang berperan sebagai penghubung antara jiwa dengan tubuh. Sehingga tubuhpun bereaksi dengan mengerahkan seluruh potensi yang sebelumnya tidak pernah digunakan, dalam bentuk kreatifitas atau tindakan. Memvisualisasikan impian memungkinkan seluruh impian tercapai oleh pikiran bawah sadar.

Tuhan Yang Maha Esa menganugerahkan potensi yang sama besar kepada manusia. Tidak ada ruginya membayangkan betapa berpotensinya diri kita untuk mencapai impian-impian. Berikut ini beberapa langkah dalam memvisualisasikan impian, yaitu:

1. Mendefinisikan impian
Mendefinisikan impian artinya memberikan batasan atau standar akan impian yang hendak dicapai. Kemudian, gambarkanlah semua impian seolah-olah Anda sudah sepatutnya meraih impian tersebut. Meskipun tindakan ini terkesan sederhana, tetapi dari gambaran impian itulah kita akan mencoba berbuat sesuatu untuk melakukan perubahan dan akhirnya dapat meraih cita-cita.

2. Menentukan target waktu
Dambakan impian itu terwujud sesuai target yang telah ditentukan, sebab impian tanpa target waktu hanya akan menjadi mimpi sesaat. Impian dengan target waktu akan menggerakkan kesadaran untuk tidak
segan-segan melakukan perubahan. Maka mulailah dari sekarang, Be the best, do the best, and then let God take care the rest – Jadilah yang terbaik, lakukan yang terbaik, biarlah Tuhan yang menentukan. Potensi yang kita miliki kelihatannya sangat sayang jika tidak dioptimalkan.

3. Melakukan berulang-ulang
Melakukan ulangan artinya mengkondisikan diri kita untuk lebih sering ingat akan impian kita. Jika sering ingat, maka perlahan-lahan impian itu akan tertanam di alam pikiran bawah sadar. Bila pesan sudah diterima oleh SCM (sub conscience mind), maka dia akan menggerakkan diri kita untuk menciptakan keputusan atau menjadikan kita lebih kreatif.

Jika impian lebih sering diimajinasikan ternyata dapat melipatgandakan kekuatan dari pikiran bawah sadar. Imajinasi yang diulang-ulang ini akan secara tidak langsung merangsang ilusi akan kenyataan yang luar biasa tentang potensi kita sebagai umat manusia. Sehingga diri kita akan berusaha keras mencapai impian yang divisualisasikan. Begitulah seterusnya kekuatan pikiran bawah sadar bekerja dan dibangkitkan, hingga perubahan besar terjadi dalam diri kita pada suatu waktu.

Iklan

>Dahsyatnya Energi Quantum Niat

>

Dari Amīr al-Mu’minīn, Abū Hafsh ‘Umar bin al-Khaththāb ra, dia menjelaskan bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim)

Imam Ibnul Qayyim berkata, ”Niat adalah ruh amal, inti dan sendinya. Amal itu mengikuti niat. Amal menjadi benar karena niat yang benar. Dan amal menjadi rusak karena niat yang rusak.” (I’lamul Muwaqqi’in VI/106, tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan dua kalimat yang sangat dalam maknanya, yaitu, sesungguhnya amal-amal bergantung kepada niat dan seseorang memperoleh apa yang diniatkan. Dalam kalimat pertama, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, amal tidak ada artinya tanpa ada niat. Sedangkan dalam kalimat kedua, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, orang yang melakukan suatu amal, ia tidak memperoleh apa-apa kecuali menurut niatnya. Hal ini mencakup iman, ibadah, da’wah, muamalah, nadzar, jihad, perjanjian dan tindakan apapun. Niat bisa juga disebut sebagai Tujuan daripada dilakukannya sebuah Action/Tindakan.

Perubahan hanya dapat terjadi jika terdapat kekuatan yang cukup besar untuk mulai menggerakkan roda perubahan. Kekuatan yang saya maksud adalah kekuatan niat. Niat adalah komitmen anda untuk menetapkan jalur yang anda akan jalani sebelum mulai meletakan langkah pertama pada jalur tersebut. Kekuatan tersebut sangat besar namun sayangnya tidak dapat digunakan setiap saat, karena ia sangat menyita energi dan perhatian sehingga sangat melelahkan. Jika anda menggunakannya secara bijaksana ia dapat membantu anda untuk memuluskan jalan dalam mewujudkan keinginan.

Betapa hebatnya kekuatan niat, bahwa dengan kita berniat maka dalam hadits tersebut, kita akan sampai kepada apa yang kita niatkan. Bahkan Niat Baik itu sendiri sudah bernilaikan sebuah kebaikan, walaupun belum dikerjakan. Niat merupakan amalan hati. Sedangkan ta’rif (difinisi) iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah diyakini di dalam hati, diucapkan melalui lisan, dan dibuktikan dengan anggota badan dan perbuatan.

Oleh karena itu pula Imam Bukhari meletakkan hadits ini di dalam Kitab Al Iman. “Maka barangsiapa yang bercita-cita hendak mengerjakan kebaikan tetapi belum mengamalkannya, Allah mencatat bagi orang tersebut di sisi-Nya dengan kebaikan yang sempurna.” (MuttafAqun alaih)

  • Tujuan membuat Anda tetap FOKUS.
  • Tujuan memberi Anda sesuatu untuk DIRAIH.
  • Tujuan membuat ide-ide dan SOLUSI terus mengalir.
  • Tujuan membuat Anda ANTUSIAS.
  • Tujuan memberikan gambaran RUTE dalam kehidupan.
  • Tujuan memberikan ARTI dalam hidup Anda.
  • Tujuan membantu Anda untuk tetap PRODUKTIF.
  • Tujuan memberikan KEJELASAN dalam pembuatan keputusan.
  • Tujuan menyediakan ALAT UKUR dalam mempertimbangkan suatu ide.
  • Tujuan membantu Anda untuk tetap TERORGANISIR.
  • Tujuan membantu Anda untuk MEMPROMOSIKAN diri Anda kepada orang lain.
  • Tujuan membantu Anda MENILAI produktifitas dan efektifitas Anda.

Buku Dr Kazuo Murakami, The Divine Message of the DNA, Tuhan dalam Gen Kita, terbitan Mizan 2007 dapat membantu kita dalam menyingkap rahasia kekuatan niat yang diajarkan Rasulullah 1.400 tahun lalu. Ahli genetika terkemuka dunia yang memenangi Max Planck Research Award dan Japan Academy Prize itu menyatakan bahwa pikiran kita memengaruhi cara kerja gen kita.

Lalu, bagaimana pikiran kita bisa memengaruhi gen-gen kita. Sebelum membahas lebih jauh, perlu kita ketahui bahwa setiap kilogram berat badan, kata Dr Murakami, terdiri atas sekitar satu triliun sel. Bayi lahir memiliki sekitar tiga triliun sel. Seorang dengan berat badan 60 kilogram memiliki 60 triliun sel. Di tengah-tengah setiap sel terdapat sebuah nekleus.Nekleus sel mengandung asam deoksiribnukleat atau deoxyribonucleic acid (DNA). DNA yang terdiri atas dua untai berbentuk spiral, yang terdapat molekul-molekul dengan nama yang disingkat dalam empat guruf: A,T, C, dan G. Itulah kode genetik yang menyimpan semua informasi untuk membentuk dan mengatur kehidupan kita. Yang luar biasa bahwa setiap nekleus dari satu buah sel manusia memiliki tiga miliar huruf DNA. Tiga miliar dikalikan dengan 60 triliun. Subhanallah.

Yang sungguh mencengangkan adalah semua kode genetika manusia, yang tersusun dari lebih dari tiga miliar ”huruf kimia”, tersimpan dalam untaian berukuran mikrokospik dengan berat satu per 200 miliar gram dan lebar 1/500.000 milimeter. Untuk memvisualisasi, Dr Murakami mengajak kita membayangkan mengiris sebuah kawat berdiameter satu millimeter secara memanjang menjadi satu per seratus bagian. Hasilnya begitu halus dan akan hancur ditiup angin. Tiap helaian tadi masih ada lima ribu kali lebih tebal daripada sehelai DNA. Jika semua DNA dari seluruh manusia dunia yang lebih enam miliar orang disatukan, kumpulan DNA tersebut hanya akan menjadi seberat satu butir beras. Dunia gen, dunia mikrokosmos yang tak terhingga kecilnya ternyata luar biasa dahsyat pengaruhnya dalam hidup kita.

Lalu, apa hubungan DNA dengan”kekuatan niat”..? Hubungannya sangat erat. Contohnya, saat kita berpuasa di bulan Romadlon. Niat berpuasa digerakkan oleh pikiran sadar kita untuk melaksanakan salah satu perintah Allah SWT. Ibarat perintah dari ”komandan berkuasa penuh”yang menyebabkan seluruh ”prajurit” berjumlah lebih kurang 60 triliun sel tunduk patuh mengikuti perintahnya. Itu sebabnya, ketika kita sudah meniatkan berpuasa, seluruh gen yang menggerakkan rasa lapar untuk sementara di off atau dimatikan sehingga tak memunculkan rasa atau hasrat untuk makan seperti yang biasa kita rasakan.

Jika kita meniatkan untuk berpikir, berbicara, berperilaku positif, serta memberikan yang terbaik dan meninggalkan kebiasaan buruk dalam hidup kita, seluruh alam mikrokosmos (triliunan sel dan DNA kita akan tunduk patuh bekerja mengikuti perintah pikiran dan niat kita), dan makrokosmos akan bekerja mendukung kehendak sadar atau niat kita, dan yakinlah Allah SWT akan memenuhi janji-Nya mengubah nasib kita.

Lingkaran Energi Kuantum NIAT
Manusia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan mahakarya. Kekuatan terbesar dalam diri manusia itu terdapat pada pikiran. Tetapi kita jarang membuktikan kekuatan pikiran tersebut, sebab kita sering terjebak dalam zona nyaman atau kebiasaan tertentu. Sehingga selamanya tidak dapat mencari kemungkinan yang lebih baik atau perubahan nasib yang berarti.

Oleh karena itu milikilah target yang lebih tinggi untuk merangsang kekuatan dalam pikiran tersebut. Sebab target atau sasaran baru yang dipikirkan itu akan menggerakkan diri kita untuk melaksanakan tindakan. Apalagi jika diyakini target tersebut bakal tercapai, maka  diri kita akan lebih siap menghadapi tantangan yang ada.

Setelah tindakan-tindakan baru yang lebih konstruktif dikerjakan hingga berulang-ulang, maka tanpa disadari kita sudah banyak  melakukan hal-hal penting hinga kita tiba di zona baru, dimana kita berhasil mencapai target yang didambakan. Itulah mengapa dikatakan bahwa manusia mempunyai potensi yang sangat besar dalam pikiran bawah sadar. Kekuatan pikiran bawah sadar itu dapat dibangkitkan melalui 2
cara, yaitu: autosuggestion dan visualization.

Autosuggestion
Keinginan-keinginan kita merupakan informasi penting untuk pikiran bawah sadar. Sebab keinginan yang terekam kuat dalam pikiran bawah sadar sangat besar dapat menjadi daya dorong yang akan menggerakkan
diri kita untuk berbuat sesuatu yang luar biasa. Keinginan yang sangat besar dan terekam dalam pikiran bawah sadar itulah yang dinamakan autosuggestion.

Autosuggestion seharusnya dilakukan dengan penuh rasa percaya, melibatkan emosi dalam diri, dilakukan penuh konsentrasi terhadap obyek yang positif, dan berulang-ulang. Selanjutnya, pikiran bawah sadar inilah yang akan mendikte gerak-gerik tubuh kita. Kekuatan yang ditimbulkan oleh pikiran bawah sadar itu sangat dahsyat entah digunakan untuk melakukan perbuatan buruk atau baik. Kadangkala niat untuk melakukan sesuatu secara otomatis muncul dari pikiran bawah sadar.

Autosuggestion akan mengetuk kesadaran (heartknock). Karena dilakukan berulang-ulang dan rutin, suatu ketika kata-kata tersebut akan menembus pikiran bawah sadar. Lalu pikiran bawah sadar itupun memompa
semangat. Energi itu dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan impian hidup kita.

Mungkin kegiatan autosuggestion ini akan dianggap aneh oleh orang lain. Tetapi itulah salah satu cara untuk mengubah diri dari dalam. Biasakan mendengar pola pikir positif dan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang konstruktif. Jadi jangan ragu untuk melakukan budaya-budaya yang potensial, menumbuhkan optimisme dan kreatifitas.

Ada 5 (P) petunjuk dalam melakukan autosuggestion, yaitu;

  1. Positive : pada saat melakukan autosuggestion, pikirkan hal-hal yang positif saja.
  2. Powerful : lakukan dengan penuh keyakinan sebab dapat memberikan kekuatan untuk berbuat sesuatu yang luar biasa.
  3. Precise : keinginan yang hendak dicapai harus sudah dapat dideskripsikan, karena pikiran bawah sadar hanya bisa menyusun berdasarkan kategori.
  4. Present Tense: dalam bentuk keinginan saat ini, bukan keinginan di masa lalu atau akan datang.
  5. Personal : lakukan perubahan positif terhadap diri sendiri terlebih dahulu.

Visualization
Bila kita menginginkan sesuatu maka pikiran bawah sadar akan menggambarkan apa yang didambakan itu. Dengan cara memvisualisasikan impian terlebih dahulu, terciptalah banyak sekali karya-karya spektakuler di dunia ini. Marcus Aurelius Antonius, seorang kaisar Romawi jaman dahulu mengatakan, “A man’s life is what his thought make of it – Kehidupan manusia ialah bagaimana mereka memikirkannya.

Sesuatu yang selalu divisualisasikan manusia akan mudah terekam dalam pikiran bawah sadar. Lalu muncul kekuatan pikiran tersebut, yang berperan sebagai penghubung antara jiwa dengan tubuh. Sehingga tubuhpun bereaksi dengan mengerahkan seluruh potensi yang sebelumnya tidak pernah digunakan, dalam bentuk kreatifitas atau tindakan. Memvisualisasikan impian memungkinkan seluruh impian tercapai oleh pikiran bawah sadar.

Tuhan Yang Maha Esa menganugerahkan potensi yang sama besar kepada manusia. Tidak ada ruginya membayangkan betapa berpotensinya diri kita untuk mencapai impian-impian. Berikut ini beberapa langkah dalam memvisualisasikan impian, yaitu:

1. Mendefinisikan impian
Mendefinisikan impian artinya memberikan batasan atau standar akan impian yang hendak dicapai. Kemudian, gambarkanlah semua impian seolah-olah Anda sudah sepatutnya meraih impian tersebut. Meskipun tindakan ini terkesan sederhana, tetapi dari gambaran impian itulah kita akan mencoba berbuat sesuatu untuk melakukan perubahan dan akhirnya dapat meraih cita-cita.

2. Menentukan target waktu
Dambakan impian itu terwujud sesuai target yang telah ditentukan, sebab impian tanpa target waktu hanya akan menjadi mimpi sesaat. Impian dengan target waktu akan menggerakkan kesadaran untuk tidak
segan-segan melakukan perubahan. Maka mulailah dari sekarang, Be the best, do the best, and then let God take care the rest – Jadilah yang terbaik, lakukan yang terbaik, biarlah Tuhan yang menentukan. Potensi yang kita miliki kelihatannya sangat sayang jika tidak dioptimalkan.

3. Melakukan berulang-ulang
Melakukan ulangan artinya mengkondisikan diri kita untuk lebih sering ingat akan impian kita. Jika sering ingat, maka perlahan-lahan impian itu akan tertanam di alam pikiran bawah sadar. Bila pesan sudah diterima oleh SCM (sub conscience mind), maka dia akan menggerakkan diri kita untuk menciptakan keputusan atau menjadikan kita lebih kreatif.

Jika impian lebih sering diimajinasikan ternyata dapat melipatgandakan kekuatan dari pikiran bawah sadar. Imajinasi yang diulang-ulang ini akan secara tidak langsung merangsang ilusi akan kenyataan yang luar biasa tentang potensi kita sebagai umat manusia. Sehingga diri kita akan berusaha keras mencapai impian yang divisualisasikan. Begitulah seterusnya kekuatan pikiran bawah sadar bekerja dan dibangkitkan, hingga perubahan besar terjadi dalam diri kita pada suatu waktu.

>Bangkitnya Kesadaran Sejati & Nur Muhammad

>

SIKAP
Semakin lama saya hidup, semakin saya sadar
Akan pengaruh sikap dalam kehidupan

Sikap lebih penting daripada ilmu,
daripada uang, daripada kesempatan,
daripada kegagalan, daripada keberhasilan,
daripada apapun yang mungkin dikatakan
atau dilakukan seseorang.

Sikap lebih penting
daripada penampilan, karunia, atau keahlian.
Hal yang paling menakjubkan adalah
Kita memiliki pilihan untuk menghasilkan
sikap yang kita miliki pada hari itu.

Kita tidak dapat mengubah masa lalu
Kita tidak dapat mengubah tingkah laku orang
Kita tidak dapat mengubah apa yang pasti terjadi

Satu hal yang dapat kita ubah
adalah satu hal yang dapat kita kontrol,
dan itu adalah sikap kita.

Saya semakin yakin bahwa hidup adalah
10 persen dari apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita,
dan 90 persen adalah bagaimana sikap kita menghadapinya.

Akhirnya:
Seluruh pilihan terletak di tangan Anda,
tidak ada kata-kata “JIKA” atau “TETAPI”.
Andalah pengemudinya.
Andalah yang menentukan JALAN HIDUP ANDA…!

Secara fitrah manusia menginginkan “kesatuan dirinya” dengan Tuhan, karena itulah pergerakan dan perjalanan hidup manusia adalah sebuah evolusi spiritual menuju dan mendekat kepada Sang Pencipta. Tujuan mulia itulah yang akhirnya akan mengarahkan dan mengaktualkan potensi dan fitrah tersembunyi manusia untuk digunakan sebagai sarana untuk mencapai “spirituality progress”.

Di masa modern sekarang agama adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa lupakan, bahkan tidak sesaat-pun manusia mampu meninggalkan agamanya, yang mana agama adalah pandangan hidup dan praktik penuntun hidup dan kehidupan, sejak lahir sampai mati, bahkan sejak mulai tidaur sampai kembali tidur agama selalu akan memberikan bimbingan, demi menuju hidup sejahtera dunia dan akhirat.

Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de Chardin,
“Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi.”

Manusia bukanlah “makhluk bumi” melainkan “makhluk langit”. Kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita di bumi. Tubuh kita sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi, tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan ”rumah” untuk mencari ”rumah” yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.

Perhatikan Sabda Rasulullah ini :

مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
Permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti orang yang hidup dan mati.” (HR. Al-Bukhariy no.6407 bersama Fathul Bari 11/208 dan Muslim 1/539 no.779)

Untuk dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah menjadi SADAR. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan “tertidur”. Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan “tertidur”. Bahkan Rasulullah tidak hanya mengistilahkan tertidur, Beliau bahkan menyebutnya sebagai orang yang “Mati” walau jasmaninya hidup.

Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. Anda tahu di mana menyimpan uang. Anda pun tahu persis nomor pin Anda. Dan Andapun menyerahkan uang Anda pada orang tidak dikenal. Anda tahu, tapi tidak sadar. Karena itu, Anda bergerak bagaikan robot-robot yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang, dan harta benda.

Pengertian menyadari amat berbeda dengan mengetahui. Anda tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Anda tidak juga melakukannya. Anda tahu memperjualbelikan jabatan itu salah, tapi Anda menikmatinya. Anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan keluarga, tapi Anda tidak dapat menahan godaan. Itulah contoh tahu tapi tidak sadar!

Ada dua hal yang dapat membuat orang menjadi sadar. Pertama, peristiwa-peristiwa pahit dan musibah. Musibah sebenarnya adalah “rahmat terselubung” karena dapat membuat kita bangun dan sadar. Anda baru sadar pentingnya kesehatan kalau Anda sakit. Anda baru sadar pentingnya olahraga kalau kadar kolesterol Anda mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Anda baru sadar nikmatnya bekerja kalau Anda di-PHK. Seorang wanita karier baru menyadari bahwa keluarga jauh lebih penting setelah anaknya terkena narkoba. Seorang sopir taksi pernah bercerita bahwa ia baru menyadari bahayanya judi setelah hartanya habis.

Kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita. Banyak tokoh terkenal meninggal begitu saja. Mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal, berjuang meraih jabatan, lalu tiba-tiba saja meninggal. Bayangkan kalau Anda sedang menonton film di bioskop. Pertunjukan sedang berlangsung seru ketika tiba-tiba listrik padam. Petugas bioskop berkata, “Silakan Anda pulang, pertunjukan sudah selesai!”

Anda protes, bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali. Tapi, si penjaga hanya berkata tegas, “Pertunjukan sudah selesai, listriknya tidak akan pernah hidup kembali.”

Itulah analogi sederhana dari kematian. Kematian orang yang kita kenal, apalagi kerabat dekat kita sering menyadarkan kita pada arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita pada betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa bodohnya kita menimbun kekayaan yang tidak sempat kita nikmati.

Hidup ini seringkali menipu dan meninabobokan orang. Untuk menjadi bangun kita harus sadar mengenai tiga hal, yaitu siapa diri kita, darimana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Untuk itu kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi.

Coba Anda resapi paragraf-paragraf diatas dalam-dalam. Badan kita akan mati, tapi jiwa kita tetap hidup. Kalau Anda menyadari hal ini, Anda tidak akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya. Bila Anda sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup!

Buat apa sibuk mengumpul-ngumpulkan kekayaan — apalagi dengan menyalahgunakan jabatan — kalau hasilnya tidak dapat Anda nikmati selama-lamanya. Apalagi Anda sudah merusak jiwa Anda sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal, jiwa inilah milik kita yang abadi.

Lantas, apakah kita perlu mengalami sendiri peristiwa-peristiwa yang pahit tersebut agar kita sadar? Jawabnya: ya! Tapi kalau Anda merasa cara tersebut terlalu mahal, ada cara kedua yang jauh lebih mudah:

Belajarlah MENDENGARKAN.
Dengarlah dan belajarlah dari pengalaman orang lain. Bukalah mata dan hati Anda untuk mengerti, mendengarkan, dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma Anda. Sayang, banyak orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka sendiri, bukannya untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat mereka sebelumnya. Orang yang seperti ini masih tertidur dan belum sepenuhnya bangun.

KESADARAN MUHAMMAD
Banyak Siswa NAQS yang dalam perjalanan spiritualnya sudah mendapatkan karunia yang banyak. Termasuk di antaranya adalah terbukanya kesadaran untuk melihat alam ghaib atau dimensi alam vibrasi energi quanta yang berada di balik selubung alam materi ini, dan bahkan dapat berkelana di alam ghaib dengan meraga sukma, dsb.

Namun itu belumlah dapat dikatakan sudah mencapai KESADARAN SEJATI atau MAKRIFATULLAH, itu baru pada terbukanya pengalaman hidup pada dimensi kehidupan yang lebih halus. Itu baru tahap awal saja, masih jauh perjalanan kita untuk memurnikan diri dalam menggapai derajat “manusia sempurna” (al Insanul Kamil) atau Hakikat Muhammad (al-Haqiqah al- Muhammadiyah).

Seseorang baru dapat dikatakan mencapai KESADARAN SEJATI bila dalam pemurnian dirinya sudah mencapai pada tingkat kualitas ruhaniyah yang suci. Yaitu Ruhaniyah yang mampu memancarkan pancaran-pancaran Cahaya Ilahi dengan sempurna. Ruhaniyahnya mampu memantulkan Cahaya Ilahi dengan sempurna untuk menerangi hidup dan kehidupannya, sehingga nampaklah sifat-sifat terpuji yang melekat pada dirinya. Itulah Ruhaniyah yang sudah manunggal dengan Nur Muhammad yang merangkum sifat-sifat Muhammadiyah (Terpuji). Inilah manusia yang telah mencapai derajat SPIRITUAL INSAN KAMIL yang bisa menjadi Rahmat Bagi Sekalian Alam.

Allah SWT berfirman:

  • “Tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi Rahmat bagi sekalian alam.” (Quran s. al- Anbiya : 107)
  • “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)
  • “Sungguh dalam dirimu terdapat akhlaq yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)


Rasulullah bersabda :

  • “Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan budipekerti yang mulia.”(H.R.Ahmad)
  • “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (H.R.Ahmad)
  • “Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Dan Aisyah pernah berkata ketika ditanya kepadanya tentang akhlaq nabi saw, beliau berkata: “Akhlaq nabi adalah Al-Qur’an”. (HR Muslim)

Ibn ‘Arabi mengemukakan teori tentang “manusia sempurna” (al Insanul Kamil) atau Hakikat Muhammad (al-Haqiqah al- Muhammadiyah), manusia sempurna adalah cermin dari alam seluruhnya. Karena Allah ingin melihat substansinya dalam alam seluruhnya, yang meliputi seluruh hal yang ada, yaitu karena hal ini bersifat wujud serta kepada Nya itu Dia mengemukakan rahasia Nya. Maka kemunculan manusia sempurna, menurut Ibn ‘Arabi adalah esensi kecemerlangan cermin alam. Ibn ‘Arabi membedakan manusia sempurna menjadi dua. Pertama, manusia sempurna dalam kedudukannya sebagai manusia baru. Kedua, manusia sempurna dalam kedudukannya sebagai manusia abadi. Karena itu, dalam deskripsi Ibn ‘Arabi, manusia sempurna adalah : Manusia baru yang abadi yang muncul, bertahan, dan abadi. (konteks abadi ini bukan berarti abadi dalam konteks sama dengan keabadian Allah.)

Nah, Warga NAQS DNA yang dirahmati Allah. Sudah jelaskah kemana arah tujuan perjalanan spiritual kalian bukan…? Yaitu mengikuti jejak langkah dan mengambil suri tauladan dari Nabi Muhammad SAW. Beliaulah model atau cermin diri bagi pengembangan diri kita. Kesempurnaan perjalanan spiritual kita baru tercapai, bila kita telah secara sempurna dapat me-“MODEL”-kan karakter dan keruhanian Rasulullah dengan sempurna. Jadi Janganlah terjebak pada Faham Manunggaling Kawulo Gusti yang tidak jelas jluntrungannya. Atau terjebak pada faham mistik ghoibiyah yang juga tidak jelas arahnya, bahkan banyak yang jauh melenceng dari jalan Shirothol Mustaqiem. Bila mengehendaki untuk bisa berMakrifatullah maka Nur Muhammad adalah satu-satunya jalan, tak ada jalan lain.

Setiap muslim dan muslimah memiliki kewajiban untuk meneladani Rasulullah saw dalam berbagai aspek kehidupan mereka, karena perkara tersebut merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai keamanan dan kebahagiaan di dunia serta keberuntungan dan nikmat di akhirat.

NUR MUHAMMAD

  1. Jabir ibn `Abd Allah r.a. berkata kepada Rasullullah s.a.w: “Wahai Rasullullah, biarkan kedua ibubapa ku dikorban untuk mu, khabarkan perkara yang pertama Allah jadikan sebelum semua benda.” Baginda berkata: “Wahai Jabir, perkara yang pertama yang Allah jadikan ialah cahaya Rasulmu daripada cahayaNya, dan cahaya itu tetap seperti itu di dalam KekuasaanNya selama KehendakNya, dan tiada apa, pada masa itu.” ( Hr : al-Tilimsani, Qastallani, Zarqani ) `Abd al-Haqq al-Dihlawi mengatkan bahwa hadist ini sahih
  2. Aku adalah cahaya dihadapan Tuhanku selama empat belas ribu tahun sebelum Dia menjadikan Adam a.s.” ( HR Imam Ahmad, Dhahabi dan al-Tabari )
  3. Bila Tuhan menjadikan Adam, Dia menurunkan aku dalam dirinya (Adam). Dia meletakkan aku dalam Nuh semasa di dalam bahtera dan mencampakkan aku ke dalam api dalam diri Ibrahim. Kemudian meletakkan aku dalam diri yang mulia-mulia dan memasukkan aku ke dalam rahim yang suci sehingga Dia mengeluarkan aku dari kedua ibu-bapa ku. Tiada pun dari mereka yang terkeluar.” ( HR : Hakim, Ibn Abi `Umar al-`Adani )

Beberapa kalangan dalam ummat Islam mempersoalkan konsep Nur Muhammad (Cahaya Muhammad atau Ruh Muhammad) sebagai suatu konsep yang tidak memiliki dasar dalam ‘aqidah Islam. Padahal, konsep Nur Muhammad adalah suatu konsep ‘aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang diterima dan diakui oleh ijma’ (konsensus) ulama ilmu kalam dan ulama’ tasawwuf (awliya’ Allah) dalam kurun waktu yang panjang, sebagai suatu konsep yang memiliki sumber dalilnya dari Quran dan Hadits Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Konsep ‘aqidah Nur Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam menyatakan antara lain bahwa cahaya atau ruh dari Nabi Besar Muhammadsall-Allahu ‘alayhi wasallam adalah makhluq pertama yang diciptakan sang Khaliq, Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang kemudian darinya, Ia Subhanahu wa Ta’alamenciptakan makhluq-makhluq lainnya. Pada artikel ini, insha Allah akan dijelaskan, dalil-dalil qath’i (bukti yang pasti) berupa ayat-ayat Al Quran yang menyebutkan atribut Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam sebagai Nur (cahaya) yang dikaruniakan Allah Ta’ala bagi segenap alam semesta. Akan kita dapati pula, penjelasan dari berbagai ulama ahli tafsir (mufassir) akan makna ayat-ayat tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala sendirilah yang menyebut Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam sebagai Nuur (cahaya), atau sebagai “Siraajan Muniiran” (makna literal: Lampu yang Bercahaya).

Hal ini dapat kita perhatikan dari ayat-ayat berikut:

1. dalam QS. Al-Maidah 5:15
Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.”(QS. 5:15)

2. dalam QS.An-Nur 24:35
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. 24:35)

3. dalam QS. Al-Ahzab 33: 45-46

  • “Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,” (QS. 33:45)
  • “dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS. 33:46)

TAFSIR DAN INTERPRETASI AYAT

I. Mengenai ayat pertama (5:15)

  • Qadi ‘Iyad berkata, “Beliau (Nabi) dinamai cahaya (Nuurun) karena kejelasan perkaranya dan karena fakta bahwa Nubuwwahnya (Kenabiannya) telah dijadikan amat jelas, dan juga karena menerangi cahaya orang-orang mukmin dan ‘arif billah dengan apa yang beliau bawa.”
  • Suyuti dalam Tafsir al-Jalalayn, Fayruzzabadi dalam Tafsir Ibn ‘Abbas berjudul Tanwir al-Miqbas (hlm. 72), Shaykh al-Islam, Imam Fakhr al-Din ar-Razi, Mujaddid abad keenam, dalam Tafsir al-Kabir-nya (11:189), Qadi Baydawi dalam Tafsirnya yang berjudul Anwar al-Tanzil, al-Baghawi dalam Tafsir-nya berjudul Ma’aalim al-Tanzil (2:23), Imam al-Shirbini dalam Tafsirnya berjudul al-Siraj al-Munir (hlm. 360), pengarang Tafsir Abi Sa’ud (4:36), dan Thana’ullah Pani Patti dalam Tafsir al-Mazhari-nya (3:67) berkata: “Apa yang dimaksudkan sebagai suatu Cahaya (Nuurun) adalah: Muhammad, sallalLahu ‘alayhi wasallam.”
  • Ibn Jarir al-Tabari dalam Tafsir Jami’ al-Bayan-nya (6:92) berkata: “Telah datang padamu Cahaya (Nuurun) dari Allah: Ia maksudkan dengan Cahaya adalah: Muhammad, sallalLahu ‘alayhi wasallam, dengan mana Allah telah menerangi kebenaran, membawa Islam maju dan memunahkan kesyirikan. Karena itu beliau (Nabi) adalah suatu cahaya (nuurun) bagi mereka yang telah tercerahkan oleh beliau dan oleh penjelasannya akan kebenaran.”
  • al-Khazin dalam Tafsir-nya (2:28) mengatakan serupa: “Telah datang padamu Cahaya (Nuurun) dari Allah bermakna: Muhammad, sallalLahu ‘alayhi wasallam. Allah menyebut beliau cahaya tidak dengan alasan apa pun melainkan karena seseorang terbimbing olehnya (Muhammad SallAllahu ‘alayhi wasallam) dengan cara yang sama seperti seseorang terbimbing oleh cahaya dalam kegelapan.”
  • Sayyid Mahmud al-Alusi dalam tafsirnya berjudul Tafsir Ruhul Ma’ani (6:97) secara serupa berkata: “Telah datang padamu suatu cahaya (Nuurun) dari Allah: adalah, suatu cahaya yang amat terang yaitu cahaya dari cahaya-cahaya dan yang terpilih dari semua Nabi, sallalLahu ‘alayhi wasallam.”
  • Isma’il al-Haqqi dalam komentarnya atas Alusi berjudul Tafsir Ruh al-Bayan (2:370) secara serupa juga berkata: “Telah datang padamu Cahaya (Nuurun) dari Allah dan suatu Kitab yang menjelaskan segala sesuatu: dikatakan bahwa makna yang awal (yaitu NUUR) adalah Rasulullah, sallalLahu ‘alayhi wasallam, dan yang berikutnya (Kitabun Mubin, penerj) adalah Quran….

Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam disebut Cahaya (Nuurun) karena yang pertama yang dibawa keluar dari kegelapan kelalaian dengan cahaya dari kekuatan-Nya, adalah cahaya (Nuur) Muhammad, sallalLahu ‘alayhi wasallam, sebagaimana beliau (Nabi Sall-Allahu ‘alayhi wasallam) pernah bersabda: ‘Hal pertama yang Allah ciptakan adalah cahayaku.”

Riwayaat ini berkenaan dengan pertanyaan Jabir ibn ‘Abd Allah yang bertanya tentang apa yang diciptakan Allah pertama kali sebelum segala sesuatu lainnya.

Riwayat ini diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq (wafat 211H) dalam Musannaf-nya, menurut Imam Qastallani dalam al-Mawahib al-Laduniyya (1:55) dan Zarqani dalam Syarah al-Mawahib (1:56 dari edisi Matba’a al-’amira di Kairo). Tidak ada keraguan akan Abd Razzaq sebagai rawi (periwayat Hadits). Bukhari mengambil 120 riwayat darinya, Muslim 400. Riwayat ini dinyatakan pula sahih oleh Abd al-Haqq ad-Dihlawi (wafat 1052), ahli hadits India, juga disebut oleh ‘Abd al-Hayy al-Lucknawi (wafat 1304 H) ahli hadits kontemporer India. Demikian pula oleh Al-Alusi dan Bayhaqi dengan matan [redaksi susunan kata hadits, penerj.] yang berbeda, dan juga oleh beberapa ulama lain.

Sebagai suatu catatan khusus adalah suatu fakta bahwa kaum Mu’tazili [kaum yang terlalu mengandalkan ra’yu atau logika akal, penerj.] berkeras bahwa Cahaya dalam ayat 5:15 merefer hanya pada Quran dan tidak pada Nabi. Alusi berkata dalam kelanjutan kutipan di atas: “Abu ‘Ali al-Jubba’i berkata bahwa cahaya/nuurun berkaitan dengan Quran karena Quran membuka dan memberikan jalan petunjuk dan keyakinan. al-Zamakhshari (dalam al-Kasysyaf 1:601) juga puas dengan penjelasan ini.” Penjelasan yang lebih dalam akan dua pendapat ini dijelaskan oleh Shah ‘Abd al-’Aziz al-Multani dalam al-Nabras (hlm. 28-29): “al-Kasysyaf memproklamasikan dirinya sebagai Bapak Mu’tazilaa… Abu ‘Ali al-Jubba’i adalah seperti Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab-nya kaum Mu’tazila Basra.” Kesamaan antara pendapat Mu’tazila dengan Wahhabi dan “Salafi” modern ditekankan oleh Imam Kawtsari di banyak tempat di kitab Maqalat-nya, di mana beliau menunjukkan bahwa seperti halnya Mu’tazilah, penolakan kaum Wahhabi (dan juga Salafi modern, penerj.) atas karakteristik awliya’ adalah kamuflase atas penolakan (karakteristik) yang sama dari diri para Nabi.

Ada suatu penjelasan yg patut dicatat di antara Ahlus Sunnah yang mendeskripsikan makna Nabi baik kepada Cahaya (Nuurun) maupun Kitab, al-Sayyid al-Alusi berkata dalam Ruh al-Ma’aani (6:97): “Saya tidak menganggapnya dibuat-buat bahwa yang dimaksud baik dengan Cahaya (Nuurun) maupun Kitabun Mubin adalah sang Nabi, konjungsi dengan cara yang sama seperti yang dikatakan al-Jubba’i (bahwa baik Cahaya maupun Kitab adalah Quran). Tidak ada keraguan bahwa dapat dikatakan semua merefer ke Nabi. Mungkin Anda akan ragu utk menerima ini dari sudut pandang ‘ibara (ekspresi); tapi cobalah dari sudut pandang ‘isyarah.”

– Al-Qari berkata dalam Syarah al-Shifa’ (1:505, Mecca ed), bahwa “Telah pula dikatakan bahwa baik Cahaya maupun Kitab merefer pada Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam, karena beliau adalah suatu cahaya yang cemerlang dan sumber dari segala cahaya, beliau adalah pula suatu kitab/buku yang mengumpulkan dan memperjelas segala rahasia.” Ia juga berkata (1:114, Madina ed.): “Dan keberatan apa untuk mempredikatkan kedua kata benda itu pada Nabi, karena beliau secara hakikat adalah Cahaya yang Terang karena kesempurnaan penampilannya (tajallinya) di antara semua cahaya, dan beliau adalah suatu Kitab Nyata karena beliau mengumpulkan keseluruhan rahasia dan membuat jelas seluruh hukum, situasi, dan alternatif.”

II. Mengenai ayat kedua (QS. 24:35)

  • Imam Suyuti berkata dalam al-Riyad al-Aniqa: Ibn Jubayr dan Ka’b al-Akhbar berkata: “Apa yang dimaksud dengan cahaya (nuurun) kedua (dalam ayat tersebut, penerj.) adalah Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam karena beliau adalah Rasul dan Penjelas dan Penyampai dari Allah apa-apa yang memberi pencerahan dan kejelasan.” Ka’b melanjutkan: “Makna dari ‘Minyaknya hampir-hampir bercahaya’ adalah karena kenabian Nabi akan dapat diketahui orang sekalipun beliau tidak mengatakan bahwa beliau adalah seorang Nabi, sebagaimana minyak itu juga akan mengeluarkan cahaya tanpa tersentuh api.”
  • Ibn Kathir mengomentari ayat ini dalam Tafsir-nya dengan mengutip suatu laporan via Ibn ‘Atiyya dimana Ka’b al-Ahbar menjelaskan firman-firman Allah: “…yakadu zaytuha yudhi-u wa law lam tamsashu nar…”, sebagai bermakna: “Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam sudah hampir jelas sebagai seorang Nabi bagi orang-orang, sekalipun beliau tidak mengumumkannya.”
  • Qadi ‘Iyad berkata dalam al-Syifa’ (edisi English p. 135): Niftawayh berkata berkaitan dengan kata-kata Allah: “…minyaknya hampir-hampir bercahaya sekalipun api tidak menyentuhnya…” (24:35): “Ini adalah perumpamaan yang Allah berikan berkaitan dengan Nabi-Nya. Ia berkata bahwa makna ayat ini adalah bahwa wajah ini (wajah Rasulullah SAW, pen.) telah hampir menunjukkan kenabiannya bahkan sebelum beliau menerima wahyu Quran, sebagaimana Ibn Rawaha berkata: “Bahkan jika seandainya tidak ada tanda-tanda nyata di antara kami, wajahnya telah bercerita padamu akan berita-berita.”
  • Di antara mereka yang berkata bahwa makna “matsalu nuurihi” — perumpamaan Cahaya-Nya — adalah Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam adalah: Ibn Jarir at-Tabari dalam Tafsir-nya (18:95), Qadi ‘Iyad dalam al-Syifa’, al-Baghawi dalam Ma’alim al-Tanzil (5:63) dalam catatan al-Khazin, dari Sa’id ibn Hubayr dan ad-Dahhak, al-Khazin dalam Tafsir-nya (5:63), Suyuti dalam ad-Durr al-Mantsur (5:49), Zarqani dalam Syarah al-Mawahib (3:171), al-Khafaji dalam Nasim ar-Riyad (1:110, 2:449).
  • al-Nisaburi dalam Ghara’ib al-Quran (18:93) berkata: “Nabi adalah suatu cahaya (Nuurun) dan suatu lampu yang memancarkan cahaya.”
  • al-Qari dalam Syarah al-Shifa’ berkata: “Makna yang paling jelas adalah untuk mengatakan bahwa yang dimaksud dengan cahaya (Nuur) adalah Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam.”

III. Mengenai ayat ketiga (QS. 33: 45-46)

– Qadi al-Baydawi berkata dalam Tafsir-nya: “Itu adalah matahari berdasarkan firman-Nya: “Telah Kami jadikan matahari sebagai suatu lampu”; atau, itu mungkin berarti suatu lampu”.

– Ibn Kathir menyatakan dalam Tafsirnya: “Firman-Nya: ‘…dan suatu lampu yang bersinar’, adalah: statusmu (Wahai Nabi, penj) nampak dalam kebenaran yang telah kau bawa sebagaimana matahari nampak saat terbitnya dan bercahaya, yang tak bisa disangkal siapa pun kecuali yang keras-kepala.”

– Raghib al-Asfahani dalam al-Mufradat (1:147) berkata: “kata itu (lampu) digunakan untuk segala sesuatu yang mencahayai.”

– al-Zarqani dalam Syarah al-Mawahib (3:171) berkata: “Beliau dinamai Lampu karena dari satu lampu muncul
banyak lampu, dan cahayanya tidak berkurang.”

– `Abd Allah ibn Rawaha al-Ansari cucu dari penyair Imru’ al-Qays berkata tentang Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam:  law lam takun fihi ayatun mubina lakana manzaruhu yunabbi’uka bi al-khabari. “Bahkan seandainya, tidak ada ayat (tanda) berkenaan dengan ia (SAW), yang nyata dan jelas sungguh memandangnya saja sudah bercerita padamu akan khabar/berita”

Ibn Hajar meriwayatkannya dalam al-Isaba (2:299) dan berkata: “Ini adalah syair terindah dengan mana Nabi pernah dipuji.” Ibn Sayyid al-Nas berkata tentang Ibn Rawaha ini dalam Minah al-Madh (hlm.. 166):

“Ia terbunuh sebagai syahid di perang Mu’ta pada 8 Jumadil Awwal sebelum Fathu Makkah (Penaklukan Makkah). Di hari itu ia adalah salah satu dari komandan. Ia adalah salah seorang dari penyair yang berbuat kebaikan dan biasa menangkis segala bahaya yang menyerang Rasulullah. Adalah berkenaan dengan dia dan dua temannya Hassan (ibn Tsabit) dan Ka’b (ibn Zuhayr) yang disinggung dalam ayat “Kecuali mereka yang beriman dan berbuat kebajikan dan bedzikir pada Allah sebanyak-banyaknya.” (As-Syu’ara 26:227).”

– Dan sebagai atribut dari Allah adalah Dzu al-Nur yang berarti Sang Pencipta cahaya, dan Penerang langit dan bumi dengan cahaya-cahaya-Nya, juga sebagai Penerang qalbu orang2 mukmin dengan petunjuk/hidayah. Imam Nawawi berkata Syarah Sahih Muslim, dalam komentarnya atas doa Nabi yang dimulai dengan: “Ya Allah, Engkaulah Cahaya Langit dan bumi dan milik-Mu lah segala puji…” (Kitab Salat al-Musafirin #199):

“Para ulama berkata bahwa makna “Engkau adalah cahaya langit dan bumi” adalah: Engkaulah Dzat Yang menyinari mereka (langit dan bumi) dan Pencipta cahaya mereka. Abu ‘Ubayda berkata: “Maknanya adalah bahwa dengan cahaya-Mu penduduk langit dan bumi memperoleh hidayah.”

al-Khattabi berkata dalam komentarnya atas nama Allah an-Nur: “Itu berarti Ia yang dengan cahaya-Nya yang buta dapat melihat, dan yang tersesat dapat terbimbing, di mana Allah adalah cahaya langit dan bumi, dan adalah mungkin bahwa makna al-Nur adalah: Dzu al-Nur, dan adalah tidak benar bahwa al-Nur adalah atribut dari Zat Allah, karena itu hanyalah atribut dari aksi (sifatu fi’li), yaitu: Ia adalah Pencipta dari cahaya.” Yang lain berkata: “Makna cahaya langit dan bumi adalah: Sang Pengatur matahari dan bulan dan bintang-bintang mereka (langit dan bumi).””

Penutup

Kebenaran adalah dari Tuhanmu, dan janganlah kau termasuk mereka yang ragu” (kutipan maknawi dari Quran).

Sumber Tulisan Nur Muhammad : Tulisan Maulana Shaykh Hisham Muhammad Kabbani dan Shaykh Dr. G.F. Haddad

>Suka Memaafkan & Lapang Dada Adalah Ciri Khas Warga NAQS DNA (Zona Quantum Ikhlas)

>

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah r, kepada keluarga, shahabat serta kepada orang-orang yang menjadikan mereka sebagai panutan…Amma ba’du

Diantara akhlak yang derajatnya paling agung adalah memberikan maaf dikala mampu, inilah ibadah yang banyak ditinggalkan. Selain itu, ia merupakan bagian dari sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya yang mulia. Dialah Allah Yang Maha suci dari segala kekurangan yang memiliki nama Al-Afu dan Al-Qodir, yaitu Zat Yang Maha Memberikan maaf setelah Dia mampu membalas perbuatan dosa dan memberikan siksa atas segala kemaksiatan.

Memberikan maaf dengan tanpa kemampuan bisa jadi karena faktor kelemahan dan paksaan, akan tetapi memaafkan yang di sertai dengan kemampuan untuk membalas tidak di ragukan lagi bahwa inilah sifat yang agung yang dimiliki Allah, dimana terkandung di dalamnya sifat kesempurnaan, Dia dzat Allah yang Maha suci yang mencintai sifat memaafkan, Dia juga mencintai bila melihat hamba-Nya memberikan maaf atas kesalahan yang dilakukan manusia.

Keutamaan memberikan maaf

Allah (swt) berfirman tentang keutamaan memaafkan:

وإن تعفوا وتصفحوا وتغفروا فإن الله غفور الرحيم
Dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang” (Qs. At Taghobun: 14)

Dan Allah  berfirman:

وليعفوا وليصفحوا ألا تحبون أن يغفر الله لكم والله غفور رحيم
Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah akan mengampuni kalian? Dan sesungguhnya Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang” (Qs. An Nur: 22)

Nabi r bersabda:
Barangsiapa menahan kemarahan padahal ia mampu memuntahkannya, maka Allah U kelak akan memanggilnya di hadapan makhluk-makhluk hingga Allah memperkenankan kepadanya untuk memilih bidadari yang dikehendakinya” (HR.Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah)

Hendaknya seorang muslim mengetahui bahwa dengan memberikan maaf ia akan mendapatkan kemuliaan dari Allah, dan semua orang akan menghormatinya serta orang yang menjelekkan akan datang kepadanya untuk meminta maaf.

ادفع بالتي هي أحسن فإذا الذي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-oleh telah menjadi teman setia” (Qs. Fussilat: 34)

Nabi r bersabda:

ما نقصت صدقة من مال, وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا, وما تواضع عبد لله إلا رفعه الله 
Tidaklah shodaqoh itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan sifat memaafkan kecuali kemuliaan, serta tidaklah seorang hamba merendahkan diri karena Allah melainkan Allah meninggikan derajatnya“. (HR. Muslim)

Dan Allah telah mendidik atau mengajari Rasul-Nya kepada akhlak yang agung ini, Allah berfirman kepada Rasul-Nya:

خذ العفو وأمر بالمعرف وأعرض عن الجاهلين
Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang-orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (Qs.Al A’rof: 199)

Allah  berfirman:

فمن عفا وأصلح فأجره على الله
Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah”. (Qs. As Syuro: 40)

Rasulullah r telah memberikan kabar gembira kepada seseorang selama tiga hari berturut-turut bahwa ia akan masuk surga, padahal dia bukanlah orang memiliki banyak sholat, puasa dan shodaqoh, ia juga tidak banyak melaksanakan sholat sunnah pada malam hari juga sholat sunnah-shalat sunnah lainnya, akan tetapi ia diberitahukan bahwa dia akan masuk surga dan ia mendengar berita tersebut secara langsung. Ketika Ibnu Umar t meneliti kebenaran kabar tersebut, ia mendapatkan bahwa orang tersebut tidak tidur melainkan ia telah memaafkan kesalahan manusia semuanya, ia berkata:

اللهم إني قد تصدقت بعرضي على الناس وعفوت عمن ظلمني
Ya Allah, sesungguhnya aku telah mensodaqohkan kehormatanku kepada manusia dan aku maafkan orang yang telah berbuat zalim kepadaku“.

Hendaknya seorang muslim rendah hati, lemah lembut, murah hati, bertaqwa, mudah memaafkan, dekat dengan manusia, menyintai mereka, dermawan, memberi nasehat, menyadari uzur-uzur setiap orang lain melakukan kesalahan terhadap dirinya sambil berkata: Bilamana terdapat tindakan orang lain yang menimbulkan kemarahan bagi dirinya, maka hal dari syetan bukan dari mereka, bahkan syetanlah yang membujuknya dan dia juga yang mendorong terjadinya hal tersebut. Barangsiapa yang berusaha mendidik dirinya dengan ibadah seperti ini maka ia akan hidup tenang, tidur dan bangun dalam keadaan lega.

Imam Ibnu Qoyyim berkata: Wahai Anak Adam!. Sesungguhnya diantara Allah dan dirimu terdapat berbagai kesalahan dan dosa-dosa yang mana tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan sesungguhnya engkau senang apabila Allah mengampuni (dosa-dosa tersebut) bagimu, bilamana engkau senang jika Allah mengampuni (dosa-dosa tersebut) bagimu, maka maafkanlah kesalahan hamba-hambaNya. Bilamana engkau senang jika Allah mengampuni dosa-dosamu, maka ampunilah kesalahan hamba-hambaNya, sebab suatu balasan akan sesuai dengan jenis amal perbuatan….. jika engkau memberikan ampunan disini maka engkau akan diampuni di sana… bila engkau dendam di sini maka akan di balas di sana, bila engkau meminta hak disini maka dirimu akan dituntut di sana.

Bilamana Islam telah menetapkan hak bagi orang yang didzolimi untuk membalas orang yang berbuat dzalim, yaitu sebuah kejahatan dibalas dengan balasan yang sesuai dengan tuntutan keadilan, maka memberikan ampun dan maaf tanpa terdorong untuk membelas kedzaliman dan menuntut secara terus-menerus, maka itu lebih mulia dan lebih penyayang. Allah  berfirman:

والذين إذا أصابتهم البغي هم ينتصرون, وجزاء سيئة سيئة مثلها فمن عفا وأصلح فأجره على الله, إنه لا يحب الظالمين, ولمن انتصر بعد ظلمه فأولئك ما عليهم من سبيل, إنما السبيل على الذين يظلمون الناس ويبغون في الأرض بغير الحق أولئك لهم عذاب أليم, ولمن صبر وغفر إن ذلك من عزم الأمور
Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka di perlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di atas bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan“. (Qs. As Syuro:39-43)

Maka firman Allah  “Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka di perlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa”. Merupakan pembenaran terhadap hak orang-orang mukmin dalam membela diri-diri mereka bilamana mereka dizalimi, kemudian dilanjutkan dengan meletakkan batasan yang mengikat wujud bentuk membela diri ini, yaitu sebuah batasan tidak boleh dilanggar.

Kemudian Allah memperlihatkan kedudukan ihsan bahkan memberikan semangat untuk mengerjakannya, Allah berfirman: “Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah”. lalu diikuti dengan pemberitaan terhalangnya orang-orang zalim dengan tidak mendapatkan kecintaan dari Allah: “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”.

Setelah itu nash atau ayat kembali memberitahukan hak orang-orang yang di zalimi untuk membela diri mereka, juga memberitahukan dengan sangat akan pentingnya orang-orang zalim mendapatkan balasan di dunia dan siksa yang pedih di akhirat.

Allah berfirman: ” Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di atas bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih”.

Lalu ayat ini juga tidak meninggalkan untuk menjelaskan tingkatan keadilan, dimana semua pandangan secara umum tertuju kepadanya, bahkan mendorong untuk kedua kalinya kepada tingkatan ihsan dengan cara bersabar dan memaafkan, di mana dijelaskan bahwa tindakan itu termasuk perkara diutamakan. “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”.

Begitulah sifat ini diceritakan di dalam nas dengan gambaran yang sangat yang saling terkait dan berhubungan, di dalamnya terdapat penjelasan yang sangat indah dan menarik. Terlihat bahwa ayat tersebut sedang menanggulangi gelombang kejiwaan dengan sapaan yang lembut, pengarahan yang halus sambil mempertimbangkan penderitaan orang yang dizalimi, dan memandang keji dan kejam kepada orang yang zalim. Dan setelah itu ayat di atas menjelaskan tentang keberhakan orang yang dizalimi untuk membela diri mereka dengan hak, lalu kembali mendorong mereka dengan lembut untuk bersabar dan menganjurkan untuk memberikan maaf. Semua peristiwa di atas dibingkai dalam nilai keadilan dan ihsan.

Kemudian di dalam yang ayat lain, Al Qur’an menjelaskan tentang pahala bagi mereka yang memaafkan manusia di akhirat kelak:

وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموات والأرض أعدت للمتقين, الذين ينفقون في السراء والضراء والكاظمين الغيظ والعافين عن الناس والله يحب المحسنين
Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan-mu dan kepada surga yang luasnya seperti seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maipun di kala sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Qs. Ali Imron: 133-134)

Memaafkan merupakan bukti bagi kemuliaan jiwa

Sesungguhnya orang-orang yang dermawan dalam memberikan maaf maka dia adalah seorang hamba, yang jiwanya mulia, semangatnya tinggi, dan memiliki sifat sabar dan santun yang besar. Muawiyah t berkata: “Hendaklah kalian bersikap santun dan bersabar sehingga kesempatan tersebut terbuka bagi kalian, bila aku memberikan kekuasaan kepada kalian, maka hendaklah kalian membekali diri dengan suka memberi maaf dan bersikap dermawan (dengan kebaikan).

Pada saat didatangkan kepada Abdul Malik bin Marwan beberapa tawanan Ibnu Atsasy, semasa terjadinya fitnah, Abdul Malik berkata kepada Roja’ bin Hayawah: Bagaimana pendapatmu?”. Ia menjawab: “Sesungguhnya Allah telah memberikan bagimu apa yang engkau senangi dari kemenangan, maka persembahkanlah kepada Allah apa yang Dia senangi dari pemberian memberi maaf (kepada para tawanan), lalu beliau mengampuni mereka semua“.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata:

Mereka berkata: kau diam, kau dimusuhi. Ku katakan bagi mereka
Sesungguhnya membalas suatu kejelekan merupakan sebuah pintu
Sesungguhnya memaafkan orang bodoh atau tolol itu termasuk adab
Benar, sebab dengannya kemuliaan diri terjaga dan dapat diperbaiki
Sesungguhnya singa-singa itu sangat ditakuti padahal mereka terdiam
Walau anjing menjulurkan lidahnya, tetap di lempar saat menggonggong

Sesungguhnya tanda seorang mu’min yang sholeh, mudah mema’afkan, lemah lembut, menghendaki keridoan Allah dan balasan di akhirat, adalah senantiasa membersihkan jiwanya dari egoisme dan kepentingan-kepentingan pribadinya, mengutamakan keridhoaan Tuhannya, sangat ingin diampuni dosa-dosanya, dima’afkan kesalahan-kesalahannya. Maka dengan demikian ia telah diberi anugrah jiwa yang dirido’i, mendahulukan balasan dimasa yang akan datang (akhirat) dari balasan di masa sekarang (dunia), menembus dengan kekuatan menusuk hati manusia yang dalam, sehingga ia meminpin mereka untuk menegakkan kebenaran dan mempertahankannya, tegak berdiri dengan memuliakan dan mengagungkan orang yang senantiasa menjadikan ini sebagai petunjuk dan agamanya.

Wahai pemilik hati yang bersih, engkau adalah pilihan Allah, para shahabat telah bertanya kepada Rasulullah r tentang orang yang paling utama, beliau menjawab:

كل مخموم القلب صدوق اللسان, قالوا: صدوق اللسان نعرفه: فما مخموم القلب؟ قال: التقي النقي الذي لا إثم فيه ولا بغى ولا غل ولا حسد.
“Setiap hati yang bersih, jujur lidahnya, Mereka berkata: Kami mengetahui orang yang jujur lidahnya: apa yang disebut dengan hati yang bersih? Beliau menjawab: Hati yang bertaqwa, suci, yang tidak ada dosa di dalamnya, tidak ada aniaya, iri dan dengki” (Dishohihkan oleh Al Albani dalam kitab As silsilah (2))

Kemudian kami katakan: Sesungguhnya selamatnya hati merupakan salah satu sebab yang agung bagi diterimanya amal sholeh. Nabi r bersabda:

تعرض الأعمال كل يوم اثنين وخميس فيغفر الله U في ذلك اليوم لكل امرئ لا يشرك بالله شيئا إلا امرؤ كانت بينه وبين أخيه شحناء, فيقول: أنظروا هذين حتى يصطلحا
Amal perbuatan diperlihatkan (dihadapan Allah) setiap hari senin dan kamis, kemudian pada hari itu Allah U mengampuni dosa setiap orang yang tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun kecuali orang yang terdapat diantara dia dan saudaranya permusuhan, Allah berfirman: Tangguhkanlah dari kedua orang ini hingga keduanya berdamai“. (HR.Muslim)

Lihatlah!, berapa banyak kebaikan yang hilang dari diri orang yang menyimpan di dalam hatinya rasa dendam, iri dan dengki?!!!

DR. A’id Al Qorni berkata di dalam salah satu makalahnya: “Hendaklah setiap orang berusaha memberikan maaf secara umum menjelang tidurnya pada setiap malam bagi setiap orang yang telah berbuat buruk kepada dirinya sepanjang siang, baik berbuat buruk dengan perkataan, tulisan, ghibah, cacian atau dengan berbagai bentuk tindakan yang menyakitkan. Dengan cara ini, seseorang akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman lahir batin serta pengampunan dari Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Memberikan maaf secara umum kepada setiap orang yang berbuat kejahatan adalah obat yang paling utama di dunia, obat ini keluar dari apotek wahyu: “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik”. “Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.

Wahai orang yang menghendaki kehidupan dengan warnanya yang paling menarik dan perhiasannya yang paling indah, cucilah hatimu tujuh kali dengan suka memberi maaf lalu oleskan yang ke delapannya dengan pemaafan. Seseorang berdiri mencela Abu Bakar Siddiq t dengan mengatakan: “Demi Allah sungguh aku akan mencacimu dengan celaan yang akan kau bawa sampai ke dalam kuburanmu, Abu Bakar menjawab: Bahkan engkaulah akan memikulnya ke dalam kuburmu”. Seseorang mencela Imam As Sya’bi, lalu As Sya’bi mejawab: “Bilamana engkau berbohong, semoga Allah mengampunimu, namun bila engkau benar, semoga Allah mengampuniku”. Sesungguhnya mengalihkan hati kepada ular-ular kedendaman, taring-taring kedengkian, racun-racun berbisa sifat hasad merupakan bukti nyata atas kelemahan iman dan dangkalnya kecemburuan serta buruknya perhitungan terhadap suatu perkara, sebagaimana yang diceritakan oleh Syaksabir: Janganah engkau menyalakan api kemarahan dalam dadamu di hadapan musuhmu yang mana engkau akan terbakar sendiri di dalamnya, alangkah baiknya hati yang suci dan bersih, alangkah bahagianya orang yang memilikinya, alangkah sejuk kehidupannya alangkah nyenyak tidurnya, alangkah bersih jiwanya, lalu adakah diusia yang pendek ini ruang waktu untuk membereskan pelbagai perhitungan dengan lawan, dan membalas catatan-catatan permusuhan bersama orang yang berbeda-beda? Sesungguhnya usia ini lebih pendek dari itu, dan orang yang ingin membalas setiap manusia yang berbuat jelek kepadanya, serta dendam kepada setiap orang yang berbuat salah kepadanya akan mengakibatkan hilangnya pahala, bertambahnya dosa, sempitnya dada, menimbulkan kebingungan serta radang di dalam lambung, tekanan darah tinggi, bahkan terkadang menyebabkan setruk secara tiba-tiba atau terhentinya aliran darah ke otak yang menyebabkan orang tersebut harus dirawat di ruang gawat darurat (UGD) untuk mendapatkan perawatan yang intensif, dan menambah jumlah daftar orang-orang yang meninggal karena menderita penyakit dalam yang disebabkan oleh kegemukan setelah memakan makanan tradisional yang mematikan.

Sesungguhnya dokter yang paling baik di dunia ada tiga: Pertama dokter kesenangan, spesialisasinya kesenangan, kegembiraan, pengampunan dan pemberi maaf. Kedua dokter ketenangan, spesialisasinya memutuskan sesuatu dengan tenang, membalas dengan yang lebih baik. Ketiga dokter pengutuk, spesialisasinya berbuat sesuatu untuk mengekang badan guna mencegahnya dari setiap kerusakan juga mencegah dari berbagai kehendak hawa nafsu, sebagai umpanan syetan yang terkutuk.

Wahai umat manusia: Sesungguhnya hidup ini indah, tidaklah engkau melihat siang hari yang terang benderang, mataharinya bersinar, paginya elok, sorenya memikat dan waktu awal malamnya mempesona, mengapa engkau tidak meniru keindahan alam semesta, tertawa seperti bintang-bintang, memiliki pengharapan yang tinggi seperti burung-burung, ramah seperti angin sepoi-sepoi, lemah-lembut seperti hujan gerimis, hidup ini indah bilamana engkau mengeluarkan syetan darinya, mengeluarkan keburukan, keraguan, cacian, perasaan sial, roman muka yang jelek, Masalahnya adalah sebagaian diantara kita selalu berputus asa jika engkau engkau tampil dihadapan mereka dengan muka seperti matahari, dia mengeluhkan kepanasannya, jika engkau mempersembahkan sekuntum bunga baginya mereka memperlihatkan durinya di hadapanmu, jika menunjuk bintang-bintang di malam hari maka dia mengeluh dengan kegelapan malamnya. Oleh karenanya aku menyerankan kepadamu agar mengeluarkan sebuah keputusan yang tersirat di malam hari dengan memberikan maaf kepada setiap orang yang berbuat jahat kepadamu, barulah setelah itu engkau akan tidur malam dengan senang hati dimana belum pernah melewati suatu malam yang lebih indah darinya, sebagai mana di utarakan oleh temanku As Syarif Ar Ridho:

Wahai malam bertaburnya maaf tidakkah engkau kembali untuk kedua kalinya?
Menyiram masamu dengan hujan yang gerimis

Selamat bagi orang yang memberikan maaf kepada orang-orang, peluk ciuman bagi orang yang menahan amarahnya, sekuntum bunga mawar bagi yang memberi ampun dan memperbaiki hubungan. Serta ucapan terima kasih yang banyak kepada seorang Kanada yang bertopi, dimana ia bertutur kata:

Tidaklah aku membawa kedengkian yang lama terhadap mereka
Dan bukanlah mulia, orang yang membawa dendam

Manusia yang seimbang dan seorang mukmin yang cerdas terhindar dari lemak beracun, dia terbebas (darinya) karena akhlaknya yang mulia, dimana pada keningnya tertera sebuah motto “siapa yang mengampuni dan berbuat baik maka pahala kepada Allah”, semoga Allah mengampuni dosa kita atas keburukan yang kita perbuat kepada orang lain, dan semoga pula Allah mengampuni orang yang berbuat jahat kepada kita, esok lusa kita akan ketemu di surga insya Allah dibawah satu atap “Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada di hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan”. Dan aku telah mengatakan di dalam sebuah sya’ir gubahanku:

Wahai segenap manusia marilah bersahabat
Lebih berbuat baik dari ibu yang memeluk dan menaruh cinta kasih sayang
Kemarilah!, kita kembalikan hubungan yang penuh dengan keberkahan
Jadikanlah aku sebagai saudaramu jika aku berbapak Adam
Jika engkau sosok Qobil yang menebar permusuhan dan kejahatan
Sesungguhnya aku sosok Habil dalam berpendapat dan bermadzhab

Keselamatan hati:

Dengan selamatnya hati, manusia akan dianugrahkan kejujuran, sebab orang yang selalu jujur kepada Allah disetiap urusannya, maka Allah akan menjadikan baginya seperti apa yang diperbuat kepada yang lainnya.

Dengan selamatnya hati, manusia akan mencurahkan sifat santun, dan tidaklah termsuk santun jika seseorang berbuat zalim kemudian bertindak sebagai penyantun, sehingga bilamana ia mampu maka dia akan memberikan maaf karena didorong oleh keselamatan hatinya.

Dengan selamatnya hati, manusia akan diberi sifat senang berkorban, bersenda gurau dengan teman dan cinta memberikan sesuatu, semua prilaku ini tidak akan terpancar melainkan dari hati yang selamat, dan tidak cukup hanya dengan pengakuan sebab hal itu akan cepat terbongkar.

Dengan selamatnya hati, manusia akan diberi sifat tawadu’ atau rendah hati, suatu rasa bahwa semua yang ada lebih utama darinya, semua yang ada lebih baik darinya. Al Hasan pernah ditanya tentang tawadu’ beliau menjawab: “Engkau keluar dari rumahmu lalu tidaklah engkau ketemu dengan seseorang melainkan engkau melihatnya bahwa ia lebih utama dari pada dirimu”.

Abu Ubadah berkata: Tidaklah aku duduk dengan seseorang sedikitpun melainkan aku berhayal bahwa diriku akan berkunjung kepadanya.

Dengan selamatnya hati, manusia akan diberi jiwa yang lemah lembut, dengannya seseorang mendapatkan apa-apa yang tidak didapatkannya dengan kekerasan, kelembutan bagaikan air dalam kelenturannya, memecahkan batu (dengan mudah) bagaimanapun kerasnya.

Dikatakan kepada Muhlib: Bagaimana engkau dan aku mengetahui sesuatu? Beliau berkata: Dengan ilmu, dikatakan kepadanya: Sesugguhnya orang selainmu lebih banyak pengetahuannya daripada pengetahuan yang engkau miliki, namun orang lain tidak mendapatkan seperti apa yang yang kau dapatkan? Ia menjawab: Itu pengetahuan yang dipikul dan ini ilmu yang diamalkan.

Selamatnya hati merupakan bagian dari amal-amal dan budi pekerti, ia tidak bisa dipisahkan dari kenyataan, dan tidak ada manfaatnya bila berwujud sekedar pernyataan dan kata-kata akan tetapi ia ada untuk dipraktekkan dan dikerjakan.

Selamatnya hati merupakan penyelamat dimasa kita ini, dimana kesempatan selamat hampir padam di dalamnya.

Sesungguhnya tegar dalam menjaga keselamatan hati lalu kontinyu dalam menitinya, merupakan perisai utama pada hari ini di dalam kehidupan seorang mu’min, dan aku memandang, bahwa dia mengulang-ulanginya sekalipun hati mengingkarinya:

Aku terheran dengan hatimu bagimana bisa berubah
Padahal kau telah mencintainya, kenapa dia bisa sirna
Dan yang lebih mengherankan dari ini dan ini bahwa aku
Melihatmu dengan mata keredhaan pada saat amarah

Maka hendaklah seseorang menjaga hatinya sehingga menjadi selamat sehingga terwujdulah apa yang disebutkan di dalam pengecualian Robbani “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada semua shahabat-shahabatnya.

Kuantum Cahaya ILAHI

Allah berfirman di dalam QS Al Hadiid (57) Ayat 12 , bahwa orang orang beriman ketika dibangkitkan di akhirat nanti akan mengeluarkan cahaya di wajah dan di sebelah kanannya.

“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”

Bagaimana hal ini bisa dijelaskan?
Seperti telah saya sampaikan sebelumnya, bahwa tubuh manusia mengandung milyaran bio elektron, yang tersusun dalam sebuah sistem energi yang memiliki simpul utama jantung atau qolbu.

Dalam sebuah jaringan PLN, pusatnya adalah sebuah mesin pembangkit listrik. Dari mesin pembangkit ini, listrik disebarkan kepada gardu gardu induk, dilanjutkan ke gardu yang lebih kecil, dan akhirnya menuju ke rumah kita. Di rumah kita jaringan listrik itu masih kita pecah untuk berbagai keperluan seperti lampu, AC, pompa air, mesin cuci dan lain sebagainya.

Jaringan tubuh kita juga memiliki sistem jaringan energi yang hampir sama. Dari simpul utama di jantung, jaringan itu menuju ke organ-organ tubuh lainnya, seperti otak, ginjal, paru, dan sebagainya. Di dalam organ tersebut jaringan terpecah menuju sel-sel. Di dalam sel-sel, jaringan listrik itu dipecah lagi menuju molekul-molekul berjumlah jutaan molekul. Dan akhimya seluruh jaringan itu berujung pada elektron-elektron yang berjumlah milyaran.

Hanya saja, sistem ini memiliki perbedaan dengan sistem dalam jaringan PLN. Pada jaringan listrik PLN, pusatnya adalah mesin pembangkit listrik. Disanalah listrik itu dihasilkan, kemudian di distribusikan. Tetapi dalam jaringan energi tubuh manusia, justru sebaliknya. Penghasil listrik yang sesungguhnya ada pada unit terkecil yaitu bioelektron. Dari milyaran elektron itulah muncul sistem kelistrikan yang menjurus ke molekul-molekul, lantas mengisi sistem sel, mengaliri sistem organ, dan akhirnya membentuk sistem energi di seluruh tubuh manusia. Jantung atau hati menjadi simpul utama, semacam pusat kendalinya.

Dengan sistem energi yang demikian terstruktur itu, maka tubuh manusia memang harus dilihat dalam pandangan yang komprehensif. Setiap terjadi perubahan pada salah satu strukturnya, maka perubahan itu akan mengimbas ke seluruh sistem energinya.

Gangguan pada organ seperti ginjal, paru, atau apalagi jantung, akan menyebabkan keseimbangan energinya juga terganggu.

Tentu saja, yang paling vital adalah jantung, sebagai salah satu simpul energi yang paling dominan. Salah satu fakta yang menarik adalah lewat jantung ini kita bisa mengukur denyutan listrik yang terkait dengan gerak hati atau jiwa kita. Pengukuran lewat ECG (Electric Cardio Graph) akan memberikan informasi kepada kita apakah seseorang sedang marah, sedih atau sedang tenang. Jantung adalah cermin dari sikap, hati kita. Jadi, kembali kepada persoalan semula, bahwa seluruh sistem energi tubuh kita itu bisa kita pengaruhi dari sisi mana saja. Bisa kita stimulasi lewat organ, lewat sel, maupun lewat bio elektron. Dan yang paling mendasar adalah bahwa sistem itu memiliki frekuensi tertentu.

Jika seseorang sedang marah, maka seluruh sistem energi dalam tubuh kita itu akan bergetar dengan frekuensi kemarahan tersebut. Yang mula-mula terserang adalah jantung hati kita. Jantung akan berdetak detak dengan frekuensi yang kasar.

Getaran jantung itu lantas akan menyebar ke seluruh organ tubuh, menjalar ke jutaan sel dalam tubuh kita, dan akhirnya menggetarkan milyaran. Bio elektron di dalam tubuh kita. Karena itu, ketika seseorang marah, maka bukan hanya jantungnya yang berdenyut tidak beraturan, melainkan juga seluruh tubuhnya gemetaran.

Demikian pula sebaliknya., orang yang sedang dalam kondisi kejiwaan yang stabil. Orang yang sedang tenang hatinya, maka denyut jantungnya juga akan tenang, stabil dan lembut. Getaran itu juga akan mengimbas ke seluruh tubuhnya lewat organ, sel-sel dan Bio elektron. Karena itu Allah mengatakan di dalam Al. Quran, “Yaitu orang-orang yang beriman dan tenang hatinya ketika mengingat Allah, ketahuilah sesungguhnya dengan mengingat Allah itu hatimu kan menjadi tenang.” (QS. Ar Ra’duu: 28)

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (Mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikebendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (QS. Az Zumar: 23)

Betapa jelasnya Allah mengatakan dalam ayat-ayat di atas, bahwa hati manusia yang tentram itu akan mengimbas sampai ke kulitnya. Kulitnya akan ikut ‘tenang’ dan lembut. Hal ini bisa kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang-orang yang rileks dan tentram, kulitnya akan terasa lembut dan cerah di wajahnya.

Sebaliknya orang yang stress, tegang dan marah, maka kulitnya akan ikut tegang. Juga roman wajahnya. Maka relaksasi biasanya dilakukan dengan cara pemijatan untuk mengendurkan otot-otot dan kulit yang tegang. Kulit yang tegang juga bisa menjadi indikasi terjadinya ketidak seimbangan energi dalam tubuh seseorang. Pemijatan yang benar akan bisa mengembalikan ketidak seimbangan itu.

Yang lebih menarik, Allah mengatakan bahwa ketentraman itu bisa diperoleh lewat Dzikir-dzikir kepada Allah. Dengan kata lain, keseimbangan energi dalam tubuh dan kelembutan serta kesehatan kulit kita bisa kita dapatkan lewat dzikir kepada Allah.

Kenapa dzikir bisa menghantarkan kita pada ketenangan dan kesehatan?

Allah menceritakan dalam beberapa ayat bahwa berdzikir dan membaca Quran itu sama dengan melakukan stimulasi berupa resonansi getaran – getaran elektromagnetik kepada sistem energi tubuh kita.

Firman Allah di atas mengatakan kepada kita bahwa jika ayat-ayat Al Quran ini dibaca berulang-ulang akan bisa menyebabkan munculnya gelombang elektro magnetik yang menggetarkan kulit kita, dan menenangkan hati. Asalkan waktu membaca itu kita dalam keadaan yang khusyuk dan penuh ketakwaan.

Kenapa demikian?
Karena sesungguhnyalah ayat-ayat Al Quran itu mengandung energi yang dahsyat bagi mereka yang mengimaninya. Memang kuncinya adalah keimanan alias keyakinan. Dengan keyakinan itu, energi yang tersimpan di dalam Al Quran akan bisa dikeluarkan dan mengimbas ke segala benda yang ada di sekitar kita. Sebaliknya orang yang tidak yakin, tidak akan bisa mengeluarkan energi itu.

Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” ( QS Ar ra’du: 31)

Sungguh dahsyat gambaran Allah di dalam ayat tersebut. Energi itu bukan hanya bisa berpengaruh pada diri kita, tetapi gunung, bumi dan manusia yang sudah meninggalkan pun bisa distimulasi oleh energi Al Quran itu. Sungguh ini kekuatan yang luar biasa dahsyatnya.

Tetapi sekali lagi, energi itu hanya bisa dikeluarkan oleh orang orang yang sudah sangat dekat dengan Allah. Seperti yang dilakukan oleh Musa ketika membelah Laut Merah dengan tongkat mukjizatnya : Atau dilakukan oleh Ibrahim ketika mendinginkan api yang membakar dirinya. Atau dilakukan nabi Muhammad saat memancarkan air dari sela sela jari tangannya.

Namun demikian, dalam skala yang jauh lebih kecil kita bisa memohon energi itu untuk kemaslahatan kita. Di antaranya adalah untuk menentramkan hati dan pengobatan misalnya. Allah memberikan jaminan secara universal kepada setiap manusia yang mau berdzikir kepada Allah dan membaca Al Quran berulang-ulang, maka tubuh dan hatinya akan terimbas oleh gelombang elektromagnetik yang bersifat positif.

Wahai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.” (QS An Nisaa :174)

Dialah yang menurunkan kepada hamba-bambaNya ayat-ayat yang terang supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan menuju pada cahaya.” (QS Al Hadiid : 9)

Dalam ayat-ayat di atas, Allah mengatakan bahwa ayat-ayat Quran itu sebenarnya adalah cahaya. Karena cahaya memiliki frekuensi, maka cahaya ini bisa memberikan resonansi kepada hati kita. Artinya, jika kita membaca ayat Quran berulang-ulang maka frekuensinya akan mengimbas kepada hati kita. Apa Akibatnya? Hati kita akan ikut bergetar dengan frekuensi cahaya yang dihasilkan oleh ayat-ayat Quran itu.

Telah kita bahas di depan bahwa hati yang kasar memiliki frekuensi rendah, sedangkan hati yang baik dan lembut memiliki frekuensi yang sangat tinggi. Kita tahu bahwa frekuensi cahaya adalah frekuensi tinggi, yang menghasilkan getaran di sekitar frekuensi 10 pangkat 14 hertz. Getaran ini sangatlah tinggi dan lembut. Frekuensi 10 pangkat 14 Hz adalah frekuensi cahaya tampak. Sedangkan frekuensi di bawah dan di atasnya menghasilkan cahaya-cahaya yang tidak kasat mata, seperti Sinar X, Infra Merah, sinar alfa, Beta, Gama, dan Ultra violet.

Jadi kalau hati kita terimbas oleh cahaya Quran, maka hati kita sedang terimbas oleh frekuensi yang sangat tinggi dan lembut. Karena itu, kenapa orang yang banyak membaca ayat-ayat Quran hatinya akan ikut menjadi lembut, ini karena proses resonansi itu. Dan jika proses resonansi tersebut sering dilakukan, maka hati yang lembut itu akan meresonansi seluruh Bio elektron yang ada di seluruh tubuhnya. Kulitnya akan ikut lembut. Dan keluarlah aura dari wajah dan badan orang tersebut. Ini juga bisa menjelaskan, kenapa seorang ahli ibadah biasanya memiliki roman wajah yang menyejukkan.

Selain membaca ayat-ayat Quran, berdzikir dan menyebut Nama Allah juga akan menghasilkan cahaya di hati dan seluruh tubuh kita. Dengan demikian menyebut nama Allah sama saja dengan memancarkan cahaya dari mulut kita, yang kemudian meresonansi hati dan milyaran Bio elektron di tubuh kita. Allah berfirman di dalam Al Quran,

“Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, dan kaca itu seakan akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak yang banyak berkahnya, (yaitu) Pohon zaitun yang tumbuh tidak sebelah timur, dan tidak pula di sebelab barat, yang minyaknya hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah mengetahui segala sesuatu.” (QS. An Nuur: 35)

Ayat di atas menggambarkan bahwa Allah sendiri memancarkan cahaya dari seluruh eksistensiNya. Menyebut nama Allah akan menghasilkan resonansi cahaya. Karena itu perbanyaklah berdzikir menyebut nama Allah, karena bisa melembutkan hati kita sesuai dengan energi yang tersimpan di dalam setiap Namanya.

Dan secara umum, Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang menjalankan agama Islam dengan baik, akan memperoleh cahaya dari berbagai aktivitas peribadatannya. Hal ini disampaikan Allah dibawah ini.

Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah hatinya untuk agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan Orang-orang yang membatu hatinya)? (QS. Az Zumar: 22)

Karena. itu, kita lantas bisa memahami ayat terdahulu yang mengatakan bahwa orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan akan dibangkitkan oleh Allah di akhirat nanti dalam keadaan yang bercahaya. Itu disebabkan oleh peribadatan sepanjang hidupnya yang telah menghasilkan aura positip di sekujur tubuh dan hatinya.

by. GAGAK MAS (www.gagakmas.org)

Ekspresikan Aksimu, Jangan Takut Salah

Jangan takut gagal sebelum mencoba !
jangan takut jatuh sebelum melangkah !
Kesuksesan milik orang yang berani mencoba.
Ingat!
Apa yang tidak mungkin , seringkali belum pernah di coba.
(Andrie Wongso)

Selama ini, ada sebuah mindset di dalam benak orang, yakni merupakan aib bila melakukan kesalahan. Mungkin ada benarnya juga juga pemikiran seperti ini. Dengan demikian, setiap orang akan bertindak hati-hati dalam melakukan sesuatu. Orang akan sangat malu apabila melakukan sesutu, karena takut salah, dan ternoda nama baiknya. Namun, efek dari pemikiran tersebut akan membelenggu daya kreativitas, maupun menanamkan kragu-raguan orang dalam bertindak. Akibatnya, orang itu tidak akan berkembang karena tidak berani melakukan inovasi dan terobosan baru.

Diantara hal yang membuat kita terpuruk adalah bahwa kita selalu dihantui oleh rasa takut yang tidak beralasan. Takut salah. Padahal, kita punya ide-ide yang matang dan jitu untuk menyelesaikan problem yang kita hadapi. Ide yang kita pikirkan terkadang merupakan solusi yang baik atau yang terbaik dari masalah yang ada, yang sama sekali tidak terpikirkan atau terbayangkan oleh orang lain. Tetapi perasaan lemah, pikiran sempit dan tidak berani berkomentar atau berbuat rupanya mengalahkan akal sehat yang kita miliki. Kita takut untuk memberikan solusi jangan sampai ditertawakan atau dicemohkan. Perasaan ini muncul karena kita merasa minder. Dan terkadang kita turut menyalahkan hasil-hasil yang dicapai oleh rekan-rekan karena mereka gagal dalam mencapai tujuan. Lalu kita terkadang merasa bangga dengan pemikiran atau ide kita yang tidak terungkap.

Inilah hal yang mesti diperbaiki. Sebenarnya, bukan rekan-rekan kita yang berbuatlah yang gagal. Tetapi yang gagal itu adalah kita yang tidak pernah mau berbuat, yang tidak pernah mau beraksi mengemukakan apa yang kita pikirkan dan melaksanakanapa yang kita pikirkan. Tidak pernah mengekspresikan hasil-hasil pemikiran kita. Makanya perasaan-perasaan seperti ini mesti dihilangkan didalam benak kita. Jangan biarkan dia nyenyak dalam diri kita. Perasaan takut mengeluarkan pendapat ini harus segera dihilangkan demi kemajuan bersama. Maju untuk menyelesaikan problem-problem kehidupan. Bangkit untuk memperbaiki tatanan kehidupan kita kearah yang lebih baik. Merugilah orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Dan beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Thomas D. Kuczmarski, seorang konsultan pengembangan produk baru di Chicago, mengusulkan diadakannya “pesta kegagalan“. Hal itu merupakan bentuk pengakuan atas kesalahan sebagai bagian dari proses kreatif. (BusinessWeek Edisi Indonesia/19 Juli 2006)

Kutipan di atas merupakan sebuah pemikiran baru, yang perlu ditanamkan ke dalam benak setiap orang. Sebuah pengakuan atas kegagalan yang kita perbuat, adalah langkah-langkah awal sebuah keberhasilan. Dari kesalahan itulah, orang akan belajar untuk mencapai kesempurnaan. Kalimat ini terdengar klise, namun memiliki makna yang dalam. Mungkin kalimat ini yang bisa membuat seorang Bill Gates dapat mengelola Microsoft menjadi sebuah perusahaan raksasa, seorang Thomas Alva Edison dapat menemukan berbagai macam alat yang membantu kehidupan manusia sehari-hari.

Banyak di antara kita pasti bisa mengendarai sepeda atau kendaraan roda dua. Masih ingatkah bagaimana indahnya masa-masa itu. Masa kanak-kanak ketika kita merasa begitu bebas dan merdeka menjelajahi pelosok kampung kita, atau malah ke kampung-kampung tetangga, dengan bersepeda.

Masih ingatkah tentang segala hal yang dialami sebelum masa-masa indah itu bisa kita nikmati?

Saat kita baru belajar menaiki sepeda. Saat itu, kita melakukan begitu banyak kesalahan. Jatuh ke selokan, menabrak pagar rumah orang, menyelonong keluar dari gang dan menyeruduk mobil lewat, menabrak sepeda teman, terpeleset pasir, rem blong. Banyak luka yang terjadi: lecet dan keseleo, lutut memar, tulang kering luka dan terkelupas, sikut carut-marut, benjol juga jidat, dimarahi orang, menangis, atau berkelahi berebut sepeda, dan diomeli orang tua atau tetangga.

Apakah semua kesalahan dan luka itu, membuat kita berhenti belajar naik sepeda? Mengapa? Ya! Tepat sekali. Kita ingin bisa. “The power of dream!”

Kekuatan impianlah yang membuat kita tetap berjuang dan belajar keras. Sampai bisa. Kini, masa-masa itu, justru menjadi bagian dari keindahan itu sendiri.

Kok bisa ya, kekuatan impian begitu besarnya?
Ini rahasianya. Ketika kecil, kita masih polos, belum banyak dicekoki dan “diracuni” oleh berbagai pengertian dan pemahaman tentang benar atau salah, dan tentang baik atau buruk. Saat itu, kita yakin dalam menyikapi segala kesalahan yang terjadi, adalah semata-mata “kesalahan teknis”.

Sejalan dengan usia dan pendidikan, kita mulai menyusun dan mengorganisir berbagai konsep dan pemahaman tentang salah, benar, baik, dan buruk. Tentang moralitas dan idealisme kehidupan. Sampai hari ini. Ternyata, tanpa disadari, kita mulai merumuskan sebuah konsepsi baru tentang kesalahan, yaitu “kesalahan moral”. Dan yang sangat sering terjadi, adalah kekurangwaspadaan dalam memisahkan dua macam kesalahan itu.

Maka mulai sekarang, perhatikanlah.
Jika mau melakukan sesuatu, dan kemudian menemukan berbagai kemungkinan kesalahan dan luka yang mungkin akan terjadi, jangan langsung berhenti. Uji dahulu semua itu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:

Apakah jika kesalahan atau luka itu terjadi, akankah: membuat kita berdosa, membuat kita masuk neraka, membuat masuk penjara, mencederai moralitas dan keyakinan kita, melukai orang-orang yang kita cintai, merugikan khalayak?

Jika jawabannya atau kita bisa menjawab “tidak”, maka segala kesalahan itu semata-mata hanya “teknis” sifatnya. Dan “kesalahan teknis” semacam ini, selalu merupakan “pembelajaran” , penting dan bernilai. Jangan berhenti.

Coba pertimbangkan hal-hal ini.
Kita mau membuka warung kelontong, dan tetangga seberang rumah sudah lebih dahulu membuka warung di garasinya. Kita ingin sekali, tapi kita membatalkannya, karena “tidak enak hati”. Padahal di Mangga Dua sana, ratusan toko elektronik berjajar rapi menjual barang yang identik dan persis sama. Rejeki ada yang mengatur!

Kita mau mengejar cita-cita, kemudian sekitar kita memberi masukan negatif. Akankah kita berhenti? Akankah kita bilang, “apa kata orang nanti?”. Jika kita mampu menjawab “tidak”, lakukan saja!

“People often think that they’re being de-motivated by their situations. No, they’re just being disconnected from their dreams.”

Dari berbagai sumber.