BEBAS DARI PENJARA PIKIRAN MELALUI PINTU KESADARAN

“The human condition: lost in thought.” ~ Eckhart Tolle

Manusia pada umumnya, tanpa mereka sadari, hanya menjalani kehidupan dalam koridor penjara pikiran yang sempit yang dibatasi oleh tembok-tembok tinggi persepsi. Dengan bahasa yang lebih sederhana manusia hidup dalam realitas yang ditentukan oleh seperangkat aturan (baca: program pikiran) yang ada dalam pikirannya. Kita tidak melihat segala sesuatu apa adanya. Kita melihat sesuatu apa kita-nya.

Sang Buddha pernah berkata, “Pikiran itu sungguh sukar diawasi. Ia amat halus dan senang mengembara sesuka hati. Karena itu hendaklah orang bijaksana selalu menjaganya. Pikiran yang dijaga dengan baik akan membawa kebahagian. Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap, sulit dijaga dan sulit dikuasai; namun orang bijaksana akan meluruskannya, bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah.”

Salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat menonjol adalah kebutuhan akan konsistensi. Saat pikiran telah memutuskan untuk menerima sesuatu sebagai ”kebenaran” maka ia akan konsisten dengan ”kebenaran” itu. ”Kebenaran” ini belum tentu sejalan dengan ”kebenaran” yang kita setujui kebenarannya. ”Kebenaran” menurut pikiran sejalan dengan pemikiran pikiran itu sendiri yang didukung dengan berbagai pengalaman yang pernah kita alami.

Kebenaran” ini dikenal dengan istilah belief. Jadi, setelah pikiran mengadopsi suatu belief maka selanjutnya belief ini yang mengendalikan pikiran. Tanpa intervensi yang dilakukan secara sadar maka hidup kita sepenuhnya dikendalikan oleh berbagai belief yang telah kita adopsi dan yakini kebenarannya.

Saat kita percaya/belief akan kebenaran sesuatu maka kita tidak akan lagi mempertanyakan keabsahan data atau landasan pijak berpikir yang digunakan sebagai dasar penerimaan suatu belief. Belief kita selalu benar menurut kita. Yang benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Kita akan mati-matian mempertahankan belief kita karena kita yang memutuskan bahwa ”sesuatu” itu adalah hal yang benar. Masa kita meragukan kebenaran yang telah kita putuskan ”kebenarannya”?

Lalu, bagaimana caranya untuk bisa keluar dari perangkap penjara pikiran? Jalan kebebasannya adalah melalui pintu kesadaran. Nah, Anda mungkin akan bertanya, ”Mengapa harus melalui pintu kesadaran?”

Hanya melalui pintu kesadaran kita bisa menyadari bahwa kita bukanlah pikiran kita, kita bukanlah perasaan kita, kita bukanlah kebiasaan kita, dan yang lebih penting lagi adalah bahwa kita bukanlah belief kita. Kesadaran membuat kita mampu untuk melakukan disosiasi atau pemisahan yang jelas.

Dengan kesadaran kita mampu melakukan metakognisi atau berpikir mengenai pikiran. Dengan berpikir dan mengamati pikiran maka kita akhirnya mengenal ”sosok” pikiran kita. Kita akan tahu pola atau kebiasaan yang pikiran lakukan. Dengan kesadaran kita dapat memahami bahwa pikiran, walaupun merupakan piranti yang sangat luar biasa, tetap hanyalah sebagian kecil dari kesadaran itu sendiri.

Lalu, bagaimana cara untuk bisa mengamati pikiran?

Oh, caranya mudah sekali. Yang perlu kita lakukan adalah belajar untuk menjadi hening. Kita perlu membiasakan diri ”berjalan” di keheningan. Hanya dengan hening kita baru mampu mengamati pikiran kita dengan jelas.

Setiap hari, selama sekitar 30 menit sampai 60 menit, lakukan meditasi. Duduklah dengan tenang dan mulailah mengamati pikiran Anda. Bagi pemula Anda bisa melatih diri dengan melakukan meditasi 15 menit di pagi hari dan malam hari.

Pengamatan terhadap pikiran akan membawa kita pada pengenalan dan pemahaman mendalam yang kita namakan kebijaksanaan. Nah, kebijaksanaan inilah sebenarnya kunci pembuka pintu kebebasan kita.

Source from : Adi W. Gunawan (www.pembelajar.com)

“Ad-Dunya sijnul mukmin wa jannatul kafirin”. (HR Muslim)
Arti hadits di atas adalah dunia itu adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir.
Suatu waktu, ketika Ibnu Hajar Al-Asqalani menjadi Qadi, dengan berkendaraan keledai, pakaian bagus dan penampilan yang meyakinkan, beliau melewati sebuah pasar.
Tiba tiba Yahudi pedagang minyak menghadangnya. Pakaiannya sangat kumal, lusuh dan kotor oleh minyaknya. Ia memegang tali keledai yang dikendarai oleh Ibnu Hajar, lalu berkata:
“Ya Syaikhul Islam, Anda menyatakan bahwa Nabi Anda mengatakan: Dunia itu penjara orang beriman dan surga orang kafir. Dengan penampilan Anda seperti ini, Anda di penjara seperti apa? Dan dengan keadaan saya seperti ini, Saya berada di surga seperti apa?”.
Ibnu Hajar menjawab: “Dengan kondisi seperti ini, Saya dibanding dengan kenikmatan yang Allah janjikan di akhirat, seperti di dalam penjara. Dan anda, dengan kondisi seperti ini, dibanding dengan siksa dan hukuman di akhirat, seolah anda sekarang di dalam surga”.
Mendengar jawaban tersebut, sang Yahudi langsung menyatakan masuk Islam.

>MAGNETISME PRIBADI

>

MAGNET & MAGNETISME
Magnet atau magnit adalah suatu obyek yang mempunyai suatu medan magnet. Kata magnet (magnit) berasal dari bahasa Yunani magnítis líthos yang berarti batu Magnesian. Magnesia adalah nama sebuah wilayah di Yunani pada masa lalu yang kini bernama Manisa (sekarang berada di wilayah Turki) di mana terkandung batu magnet yang ditemukan sejak zaman dulu di wilayah tersebut.

Pada saat ini, suatu magnet adalah suatu materi yang mempunyai suatu medan magnet. Materi tersebut bisa dalam berwujud magnet tetap atau magnet tidak tetap. Magnet yang sekarang ini ada hampir semuanya adalah magnet buatan.

Bagaimana sebuah batang besi bisa menarik benda-benda yang terbuat dari besi? Dengan cara apa sebuah batang besi bisa mengalami magnetisasi? Batang besi yang melekat pada sebuah magnet akan memiliki sifat magnetik. Proses magnetisasi ini dekenal sebagai induksi magnetik. Bagaimana jika magnet yang melekat pada batang besi dilepaskan? Untuk beberapa saat batang besi akan mempertahankan sifat magnetiknya, akan tetapi setelah beberapa saat kemudian, batang besi kehilangan sifat magnetiknya.

Cara membuat magnet dari besi atau baja antara lain:

  1. Digosok dengan magnet lain secara searah.
  2. Induksi magnet.
  3. Magnet diletakkan pada solenoida(kumparan kawat berbentuk tabung panjang dengan lilitan yang sangat rapat) dan dialiri arus listrik searah (DC).

Dalam fisika, magnetisme adalah salah satu fenomena dimana material mengeluarkan gaya menarik atau menolak pada material lainnya. Beberapa material yang memiliki sifat magnet adalah besi, dan beberapa baja, dan mineral lodestone; namun, seluruh material pasti terpengaruh walaupun sedikit saja oleh kehadiran medan magnet, meskipun dalam kebanyakan kasus pengaruhnya sangat kecil untuk dideteksi tanpa alat khusus.

Gaya magnet adalah gaya dasar yang terjadi karena gerakan muatan listrik. Persamaan Maxwell menjelaskan awal dan sifat dari medan yang mengatur gaya-gaya tersebut (lihat hukum Biot-Savart). Oleh karena itu, magnetisme terlihat ketika partikel bermuatan dalam gerak. Ini dapat terjadi baik dari gerakan elektron dalam sebuah arus litrik, menghasilkan “elektromagnetisme”, atau dari gerakan orbital mekanika-kuantum (tidak ada gerakan orbital elektron sekitar nukleus seperti planet sekitar matahari, tetapi ada “kecepatan elektron efektiv”) dan spin dari elektron, menghasilkan apa yang dikenal sebagai “magnet permanen”.

AZAS-AZAS MAGNETISME PRIBADI
[annunaki.wordpress.com] MAGNETISME artinya : suatu pengetahuan tentang soal-soal daya getar tarik = magnet. Jadi bidangnya agak luas, dan meliputi banyak hal yang berhubungan dengan ilmu alam dan teknik, misalnya tentang soal-soal daya tarik bumi, planit-planit, magnet besi berani, listrik dan sebagainya.

MAGNETISME yang dimaksud disini adalah semata-mata tentang daya magnetis yang telah ada dalam diri manusia, cara-cara memperbesar dan mempergunakannya untuk mendapatkan manfaatnya dalam pelbagai keperluan hidup, atau dengan perkataan lain lazim disebut “Magnetisme Pribadi” (persoonlijk magnetisme).

Didalam diri tiap-tiap manusia pada hakekatnya telah ada unsur-unsur daya tarik (magneet), yang dapat menarik perhatian dan mempengaruhi satu sama lain, akan tetapi berbeda-beda dalam kekuatannya, ada yang lemah, dan ada pula yang kuat.

Juga pada sebagian hewan, telah pula ada daya tariknya, misalnya yang terkuat terdapat pada golongan harimau, kucing, ular kobra dan sebagainya.

Sampai sebegitu jauh, zat magnet itu sendiri sebenarnya masih belum dapat diterangkan hakekatnya oleh ilmu pengetahuan yang exact, karena sifatnya yang abstract-potenteeel atau oleh sebagian dianggap meta-energis, tak dapat ditangkap oleh indera atau oleh alat-alatnya.

Akan tetapi kebenaran tentang adanya zat magnetis itu, tak dapat dibantah lagi oleh akal, karena dapat dibuktikan “tenaganya” dengan mata kita, dan dapat dirasai “daya-nya” oleh indera rasa.

Pada harimau dapat kita saksikan tenaga magnetisnya yang besar, sehingga bila “raja hutan” itu berada di bawah pohon kayu, dimana binatang monyet sedang berkeliaran diatasnya, oleh suatu pemusatan tenaga magnetis dari harimau itu, monyet-monyet tersebut bisa berjatuhan ke bawah dalam keadaan tak berdaya, untuk kemudian menjadi mangsa dari harimau itu.

Pada binatang kucing misalnya,kita dapat membuktikan kekuatan magnetisnya bila ia berhadapan dengan calon korbannya, umpamanya tikus atau tupai, sehingga dengan mudah dapat dikuasainya.

Juga pada ular kobra,tidak jarang korban2nya sampai datang menyerahkan diri se-olah2 tak berdaya, dan tak dapat menguasai pikiran dan kemauannya lagi, karenanya oleh sebagian bangsa India binatang tersebut masih “didewakan”, atau dianggap “suci”.

Pada orang2 yang besar pengaruhnya, kita dapat melihat pula tenaga kekuatan magnetisnya. Mungkin Anda sendiri pernah berjumpa dengan orang2 semacam itu, walaupun orangnya tampak sederhana, tenang, tak banyak bicaranya, dan tak ada suatu perbuatan yang ganjil2 atau luar biasa padanya, tetapi namun Anda mengaguminya, dan menaruh respect serta penghargaan kepadanya, se-olah2 ada suatu tenaga kekuatan gaib yang memancar dari diri pribadi orang itu, sehingga lantaran demikian Anda tertarik dan terpengaruh kepadanya, dan dengan tak Anda sadari ketika itu Anda mau saja menuruti kemauan2-nya.

Anda tentu mengenal apa yang disebut “besi magnet”, meskipun ia kelihatannya sepotong besi mati (besi biasa), namun mengandung unsur2 daya tarik, dan besi biasa pun dengan cara2 tertentu, dapat pula dimasukkan orang unsur2 magnetis kedalamnya sehingga mempunyai daya tarik pula.

Dengan tenaga daya tariknya, sepotong besi berani itu dapat menarik logam2 besi lainnya kepada dirinya, Anda letakkan beberapa buah jarum didekatnya, tentu dengan segera jarum2 itu mengejar besi berani tersebut. Bila besi berani itu Anda tarik kekanan, kekiri, kebelakang atau kedepan, jarum2 itu mengikuti pula arahnya.

Bila kita dapat menyaksikan dan mempercayai adanya kekuatan magnetis pada besi2 berani yang dapat menarik logam sejenisnya itu, tentu kita dapat pula meyakini, bahwa didalam diri manusia sebenarnya ada pula suatu tenaga penarik yang dapat mempengaruhi golongan sejenisnya. Keadaan semacam itu dapat kita samakan semacam tenaga magnet yang ada pada besi berani tersebut, dan itulah yang dinamakan “MAGNETISME PRIBADI (persoonlijk magnetisme).

Orang2 besar yang selalu dihormati dan disegani, dimana orang2 didalam lingkungannya menaruh perhatian, simpati, rasa malu, respect dan kagum, mereka jadi terpengaruh dan menuruti saja saran2 yang diberikan olehnya, sebenarnya mereka adalah orang2 yang memiliki atau mempergunakan kekuatan magnetisme pribadinya, sehingga dengan demikian memperoleh sukses dalam kedudukan dan pergaulan hidupnya.

Daya magnetisme pribadi yang kuat sebenarnya dapat diperoleh dengan 3 jalan :

  1. Memang pembawaan sedari lahir (talent).
  2. Se-waktu2 datang secara tiba2 (insidenteel)
  3. Melalui latihan2 magnetisme pribadi (experimenteel)

Pembawaan sedari lahir (talent):
Keadaan semacam ini terdapat pada sebagian orang yang memang sejak lahirnya telah dianugerahi oleh Yang Maha Kuasa kekuatan magnetis, tanpa disadarinya, dilatih atau dipelajarinya lagi. Sebagian terdapat pula pada binatang, antara lain seperti yang telah disebutkan.

Sewaktu2 datang dengan tiba2 (insidenteel):
Dalam beberapa peristiwa adakalanya orang2 dengan tiba2 memiliki kekuatan magnetis, antara lain disebabkan oleh berkobarnya emosi yang me-luap2. Misalnya diwaktu bersemangat, bersimpati,bercinta, berkorban dan sebagainya.

Melalui latihan2 magnetisme (experimenteel)
Untuk memperbesar daya magnetisme pribadi dengan melaluti latihan2 magnetisme pribadi, inilah merupakan cara2 tradisioneel yang paling baik dan efektif. Untuk maksud ini, kiranya cukuplah jika Anda mengikuti petunjuk2 yang praktis dibawah ini.

LATIHAN – LATIHAN MAGNETISME

  • Dengan memohonkan kekuatan magnetis langsung kepada Allah sebagai Maha Daya Semesta Alam yang menjadi sumber segala energy.
  • Dengan mengambil kekuatan magnetis dari alam yang telah tersedia.
  • Dengan memperbesar daya magnetis yang telah ada pada diri sendiri.
  • Dengan jalan latihan memerintah diri sendiri.
  • Dengan bersikap tenang, jujur dan bijaksana dalam segala hal.
  • Jangan membiarkan diri sendiri dipengaruhi orang lain, atau diumbang-ambingkan oleh saran2 (sugesti).
  • Memupuk sifat penyabar, menjauhi sifat pemarah.
  • Menggembleng sifat berani,dan melenyapkan sifat penakut.
  • Menanamkan sifat rendah hati, dan menghilangkan sifat sombong.
  • Membuang sifat dengki dan iri hati.
  • Keras hati dan rajin/giat dalam bekerja melaksanakan tujuan dan cita2.
  • Pantang berputus asa dalam mewujutkan sesuatu maksud.
  • Percaya kepada kesanggupan diri sendiri.
  • Dengan melatih pikiran, pandangan mata dan kemauan.
  • Dengan bertaqwa kepada Allah SWT.

>MAGNETISME PRIBADI

>

MAGNET & MAGNETISME
Magnet atau magnit adalah suatu obyek yang mempunyai suatu medan magnet. Kata magnet (magnit) berasal dari bahasa Yunani magnítis líthos yang berarti batu Magnesian. Magnesia adalah nama sebuah wilayah di Yunani pada masa lalu yang kini bernama Manisa (sekarang berada di wilayah Turki) di mana terkandung batu magnet yang ditemukan sejak zaman dulu di wilayah tersebut.

Pada saat ini, suatu magnet adalah suatu materi yang mempunyai suatu medan magnet. Materi tersebut bisa dalam berwujud magnet tetap atau magnet tidak tetap. Magnet yang sekarang ini ada hampir semuanya adalah magnet buatan.

Bagaimana sebuah batang besi bisa menarik benda-benda yang terbuat dari besi? Dengan cara apa sebuah batang besi bisa mengalami magnetisasi? Batang besi yang melekat pada sebuah magnet akan memiliki sifat magnetik. Proses magnetisasi ini dekenal sebagai induksi magnetik. Bagaimana jika magnet yang melekat pada batang besi dilepaskan? Untuk beberapa saat batang besi akan mempertahankan sifat magnetiknya, akan tetapi setelah beberapa saat kemudian, batang besi kehilangan sifat magnetiknya.

Cara membuat magnet dari besi atau baja antara lain:

  1. Digosok dengan magnet lain secara searah.
  2. Induksi magnet.
  3. Magnet diletakkan pada solenoida(kumparan kawat berbentuk tabung panjang dengan lilitan yang sangat rapat) dan dialiri arus listrik searah (DC).

Dalam fisika, magnetisme adalah salah satu fenomena dimana material mengeluarkan gaya menarik atau menolak pada material lainnya. Beberapa material yang memiliki sifat magnet adalah besi, dan beberapa baja, dan mineral lodestone; namun, seluruh material pasti terpengaruh walaupun sedikit saja oleh kehadiran medan magnet, meskipun dalam kebanyakan kasus pengaruhnya sangat kecil untuk dideteksi tanpa alat khusus.

Gaya magnet adalah gaya dasar yang terjadi karena gerakan muatan listrik. Persamaan Maxwell menjelaskan awal dan sifat dari medan yang mengatur gaya-gaya tersebut (lihat hukum Biot-Savart). Oleh karena itu, magnetisme terlihat ketika partikel bermuatan dalam gerak. Ini dapat terjadi baik dari gerakan elektron dalam sebuah arus litrik, menghasilkan “elektromagnetisme”, atau dari gerakan orbital mekanika-kuantum (tidak ada gerakan orbital elektron sekitar nukleus seperti planet sekitar matahari, tetapi ada “kecepatan elektron efektiv”) dan spin dari elektron, menghasilkan apa yang dikenal sebagai “magnet permanen”.

AZAS-AZAS MAGNETISME PRIBADI
[annunaki.wordpress.com] MAGNETISME artinya : suatu pengetahuan tentang soal-soal daya getar tarik = magnet. Jadi bidangnya agak luas, dan meliputi banyak hal yang berhubungan dengan ilmu alam dan teknik, misalnya tentang soal-soal daya tarik bumi, planit-planit, magnet besi berani, listrik dan sebagainya.

MAGNETISME yang dimaksud disini adalah semata-mata tentang daya magnetis yang telah ada dalam diri manusia, cara-cara memperbesar dan mempergunakannya untuk mendapatkan manfaatnya dalam pelbagai keperluan hidup, atau dengan perkataan lain lazim disebut “Magnetisme Pribadi” (persoonlijk magnetisme).

Didalam diri tiap-tiap manusia pada hakekatnya telah ada unsur-unsur daya tarik (magneet), yang dapat menarik perhatian dan mempengaruhi satu sama lain, akan tetapi berbeda-beda dalam kekuatannya, ada yang lemah, dan ada pula yang kuat.

Juga pada sebagian hewan, telah pula ada daya tariknya, misalnya yang terkuat terdapat pada golongan harimau, kucing, ular kobra dan sebagainya.

Sampai sebegitu jauh, zat magnet itu sendiri sebenarnya masih belum dapat diterangkan hakekatnya oleh ilmu pengetahuan yang exact, karena sifatnya yang abstract-potenteeel atau oleh sebagian dianggap meta-energis, tak dapat ditangkap oleh indera atau oleh alat-alatnya.

Akan tetapi kebenaran tentang adanya zat magnetis itu, tak dapat dibantah lagi oleh akal, karena dapat dibuktikan “tenaganya” dengan mata kita, dan dapat dirasai “daya-nya” oleh indera rasa.

Pada harimau dapat kita saksikan tenaga magnetisnya yang besar, sehingga bila “raja hutan” itu berada di bawah pohon kayu, dimana binatang monyet sedang berkeliaran diatasnya, oleh suatu pemusatan tenaga magnetis dari harimau itu, monyet-monyet tersebut bisa berjatuhan ke bawah dalam keadaan tak berdaya, untuk kemudian menjadi mangsa dari harimau itu.

Pada binatang kucing misalnya,kita dapat membuktikan kekuatan magnetisnya bila ia berhadapan dengan calon korbannya, umpamanya tikus atau tupai, sehingga dengan mudah dapat dikuasainya.

Juga pada ular kobra,tidak jarang korban2nya sampai datang menyerahkan diri se-olah2 tak berdaya, dan tak dapat menguasai pikiran dan kemauannya lagi, karenanya oleh sebagian bangsa India binatang tersebut masih “didewakan”, atau dianggap “suci”.

Pada orang2 yang besar pengaruhnya, kita dapat melihat pula tenaga kekuatan magnetisnya. Mungkin Anda sendiri pernah berjumpa dengan orang2 semacam itu, walaupun orangnya tampak sederhana, tenang, tak banyak bicaranya, dan tak ada suatu perbuatan yang ganjil2 atau luar biasa padanya, tetapi namun Anda mengaguminya, dan menaruh respect serta penghargaan kepadanya, se-olah2 ada suatu tenaga kekuatan gaib yang memancar dari diri pribadi orang itu, sehingga lantaran demikian Anda tertarik dan terpengaruh kepadanya, dan dengan tak Anda sadari ketika itu Anda mau saja menuruti kemauan2-nya.

Anda tentu mengenal apa yang disebut “besi magnet”, meskipun ia kelihatannya sepotong besi mati (besi biasa), namun mengandung unsur2 daya tarik, dan besi biasa pun dengan cara2 tertentu, dapat pula dimasukkan orang unsur2 magnetis kedalamnya sehingga mempunyai daya tarik pula.

Dengan tenaga daya tariknya, sepotong besi berani itu dapat menarik logam2 besi lainnya kepada dirinya, Anda letakkan beberapa buah jarum didekatnya, tentu dengan segera jarum2 itu mengejar besi berani tersebut. Bila besi berani itu Anda tarik kekanan, kekiri, kebelakang atau kedepan, jarum2 itu mengikuti pula arahnya.

Bila kita dapat menyaksikan dan mempercayai adanya kekuatan magnetis pada besi2 berani yang dapat menarik logam sejenisnya itu, tentu kita dapat pula meyakini, bahwa didalam diri manusia sebenarnya ada pula suatu tenaga penarik yang dapat mempengaruhi golongan sejenisnya. Keadaan semacam itu dapat kita samakan semacam tenaga magnet yang ada pada besi berani tersebut, dan itulah yang dinamakan “MAGNETISME PRIBADI (persoonlijk magnetisme).

Orang2 besar yang selalu dihormati dan disegani, dimana orang2 didalam lingkungannya menaruh perhatian, simpati, rasa malu, respect dan kagum, mereka jadi terpengaruh dan menuruti saja saran2 yang diberikan olehnya, sebenarnya mereka adalah orang2 yang memiliki atau mempergunakan kekuatan magnetisme pribadinya, sehingga dengan demikian memperoleh sukses dalam kedudukan dan pergaulan hidupnya.

Daya magnetisme pribadi yang kuat sebenarnya dapat diperoleh dengan 3 jalan :

  1. Memang pembawaan sedari lahir (talent).
  2. Se-waktu2 datang secara tiba2 (insidenteel)
  3. Melalui latihan2 magnetisme pribadi (experimenteel)

Pembawaan sedari lahir (talent):
Keadaan semacam ini terdapat pada sebagian orang yang memang sejak lahirnya telah dianugerahi oleh Yang Maha Kuasa kekuatan magnetis, tanpa disadarinya, dilatih atau dipelajarinya lagi. Sebagian terdapat pula pada binatang, antara lain seperti yang telah disebutkan.

Sewaktu2 datang dengan tiba2 (insidenteel):
Dalam beberapa peristiwa adakalanya orang2 dengan tiba2 memiliki kekuatan magnetis, antara lain disebabkan oleh berkobarnya emosi yang me-luap2. Misalnya diwaktu bersemangat, bersimpati,bercinta, berkorban dan sebagainya.

Melalui latihan2 magnetisme (experimenteel)
Untuk memperbesar daya magnetisme pribadi dengan melaluti latihan2 magnetisme pribadi, inilah merupakan cara2 tradisioneel yang paling baik dan efektif. Untuk maksud ini, kiranya cukuplah jika Anda mengikuti petunjuk2 yang praktis dibawah ini.

LATIHAN – LATIHAN MAGNETISME

  • Dengan memohonkan kekuatan magnetis langsung kepada Allah sebagai Maha Daya Semesta Alam yang menjadi sumber segala energy.
  • Dengan mengambil kekuatan magnetis dari alam yang telah tersedia.
  • Dengan memperbesar daya magnetis yang telah ada pada diri sendiri.
  • Dengan jalan latihan memerintah diri sendiri.
  • Dengan bersikap tenang, jujur dan bijaksana dalam segala hal.
  • Jangan membiarkan diri sendiri dipengaruhi orang lain, atau diumbang-ambingkan oleh saran2 (sugesti).
  • Memupuk sifat penyabar, menjauhi sifat pemarah.
  • Menggembleng sifat berani,dan melenyapkan sifat penakut.
  • Menanamkan sifat rendah hati, dan menghilangkan sifat sombong.
  • Membuang sifat dengki dan iri hati.
  • Keras hati dan rajin/giat dalam bekerja melaksanakan tujuan dan cita2.
  • Pantang berputus asa dalam mewujutkan sesuatu maksud.
  • Percaya kepada kesanggupan diri sendiri.
  • Dengan melatih pikiran, pandangan mata dan kemauan.
  • Dengan bertaqwa kepada Allah SWT.

>BEBAS DARI PENJARA PIKIRAN MELALUI PINTU KESADARAN

>

“The human condition: lost in thought.” ~ Eckhart Tolle

Manusia pada umumnya, tanpa mereka sadari, hanya menjalani kehidupan dalam koridor penjara pikiran yang sempit yang dibatasi oleh tembok-tembok tinggi persepsi. Dengan bahasa yang lebih sederhana manusia hidup dalam realitas yang ditentukan oleh seperangkat aturan (baca: program pikiran) yang ada dalam pikirannya. Kita tidak melihat segala sesuatu apa adanya. Kita melihat sesuatu apa kita-nya.

Sang Buddha pernah berkata, “Pikiran itu sungguh sukar diawasi. Ia amat halus dan senang mengembara sesuka hati. Karena itu hendaklah orang bijaksana selalu menjaganya. Pikiran yang dijaga dengan baik akan membawa kebahagian. Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap, sulit dijaga dan sulit dikuasai; namun orang bijaksana akan meluruskannya, bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah.”

Salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat menonjol adalah kebutuhan akan konsistensi. Saat pikiran telah memutuskan untuk menerima sesuatu sebagai ”kebenaran” maka ia akan konsisten dengan ”kebenaran” itu. ”Kebenaran” ini belum tentu sejalan dengan ”kebenaran” yang kita setujui kebenarannya. ”Kebenaran” menurut pikiran sejalan dengan pemikiran pikiran itu sendiri yang didukung dengan berbagai pengalaman yang pernah kita alami.

Kebenaran” ini dikenal dengan istilah belief. Jadi, setelah pikiran mengadopsi suatu belief maka selanjutnya belief ini yang mengendalikan pikiran. Tanpa intervensi yang dilakukan secara sadar maka hidup kita sepenuhnya dikendalikan oleh berbagai belief yang telah kita adopsi dan yakini kebenarannya.

Saat kita percaya/belief akan kebenaran sesuatu maka kita tidak akan lagi mempertanyakan keabsahan data atau landasan pijak berpikir yang digunakan sebagai dasar penerimaan suatu belief. Belief kita selalu benar menurut kita. Yang benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Kita akan mati-matian mempertahankan belief kita karena kita yang memutuskan bahwa ”sesuatu” itu adalah hal yang benar. Masa kita meragukan kebenaran yang telah kita putuskan ”kebenarannya”?

Lalu, bagaimana caranya untuk bisa keluar dari perangkap penjara pikiran? Jalan kebebasannya adalah melalui pintu kesadaran. Nah, Anda mungkin akan bertanya, ”Mengapa harus melalui pintu kesadaran?”

Hanya melalui pintu kesadaran kita bisa menyadari bahwa kita bukanlah pikiran kita, kita bukanlah perasaan kita, kita bukanlah kebiasaan kita, dan yang lebih penting lagi adalah bahwa kita bukanlah belief kita. Kesadaran membuat kita mampu untuk melakukan disosiasi atau pemisahan yang jelas.

Dengan kesadaran kita mampu melakukan metakognisi atau berpikir mengenai pikiran. Dengan berpikir dan mengamati pikiran maka kita akhirnya mengenal ”sosok” pikiran kita. Kita akan tahu pola atau kebiasaan yang pikiran lakukan. Dengan kesadaran kita dapat memahami bahwa pikiran, walaupun merupakan piranti yang sangat luar biasa, tetap hanyalah sebagian kecil dari kesadaran itu sendiri.

Lalu, bagaimana cara untuk bisa mengamati pikiran?

Oh, caranya mudah sekali. Yang perlu kita lakukan adalah belajar untuk menjadi hening. Kita perlu membiasakan diri ”berjalan” di keheningan. Hanya dengan hening kita baru mampu mengamati pikiran kita dengan jelas.

Setiap hari, selama sekitar 30 menit sampai 60 menit, lakukan meditasi. Duduklah dengan tenang dan mulailah mengamati pikiran Anda. Bagi pemula Anda bisa melatih diri dengan melakukan meditasi 15 menit di pagi hari dan malam hari.

Pengamatan terhadap pikiran akan membawa kita pada pengenalan dan pemahaman mendalam yang kita namakan kebijaksanaan. Nah, kebijaksanaan inilah sebenarnya kunci pembuka pintu kebebasan kita.

Source from : Adi W. Gunawan (www.pembelajar.com)

“Ad-Dunya sijnul mukmin wa jannatul kafirin”. (HR Muslim)
Arti hadits di atas adalah dunia itu adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir.
Suatu waktu, ketika Ibnu Hajar Al-Asqalani menjadi Qadi, dengan berkendaraan keledai, pakaian bagus dan penampilan yang meyakinkan, beliau melewati sebuah pasar.
Tiba tiba Yahudi pedagang minyak menghadangnya. Pakaiannya sangat kumal, lusuh dan kotor oleh minyaknya. Ia memegang tali keledai yang dikendarai oleh Ibnu Hajar, lalu berkata:
“Ya Syaikhul Islam, Anda menyatakan bahwa Nabi Anda mengatakan: Dunia itu penjara orang beriman dan surga orang kafir. Dengan penampilan Anda seperti ini, Anda di penjara seperti apa? Dan dengan keadaan saya seperti ini, Saya berada di surga seperti apa?”.
Ibnu Hajar menjawab: “Dengan kondisi seperti ini, Saya dibanding dengan kenikmatan yang Allah janjikan di akhirat, seperti di dalam penjara. Dan anda, dengan kondisi seperti ini, dibanding dengan siksa dan hukuman di akhirat, seolah anda sekarang di dalam surga”.
Mendengar jawaban tersebut, sang Yahudi langsung menyatakan masuk Islam.

>BEBAS DARI PENJARA PIKIRAN MELALUI PINTU KESADARAN

>

“The human condition: lost in thought.” ~ Eckhart Tolle

Manusia pada umumnya, tanpa mereka sadari, hanya menjalani kehidupan dalam koridor penjara pikiran yang sempit yang dibatasi oleh tembok-tembok tinggi persepsi. Dengan bahasa yang lebih sederhana manusia hidup dalam realitas yang ditentukan oleh seperangkat aturan (baca: program pikiran) yang ada dalam pikirannya. Kita tidak melihat segala sesuatu apa adanya. Kita melihat sesuatu apa kita-nya.

Sang Buddha pernah berkata, “Pikiran itu sungguh sukar diawasi. Ia amat halus dan senang mengembara sesuka hati. Karena itu hendaklah orang bijaksana selalu menjaganya. Pikiran yang dijaga dengan baik akan membawa kebahagian. Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap, sulit dijaga dan sulit dikuasai; namun orang bijaksana akan meluruskannya, bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah.”

Salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat menonjol adalah kebutuhan akan konsistensi. Saat pikiran telah memutuskan untuk menerima sesuatu sebagai ”kebenaran” maka ia akan konsisten dengan ”kebenaran” itu. ”Kebenaran” ini belum tentu sejalan dengan ”kebenaran” yang kita setujui kebenarannya. ”Kebenaran” menurut pikiran sejalan dengan pemikiran pikiran itu sendiri yang didukung dengan berbagai pengalaman yang pernah kita alami.

Kebenaran” ini dikenal dengan istilah belief. Jadi, setelah pikiran mengadopsi suatu belief maka selanjutnya belief ini yang mengendalikan pikiran. Tanpa intervensi yang dilakukan secara sadar maka hidup kita sepenuhnya dikendalikan oleh berbagai belief yang telah kita adopsi dan yakini kebenarannya.

Saat kita percaya/belief akan kebenaran sesuatu maka kita tidak akan lagi mempertanyakan keabsahan data atau landasan pijak berpikir yang digunakan sebagai dasar penerimaan suatu belief. Belief kita selalu benar menurut kita. Yang benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Kita akan mati-matian mempertahankan belief kita karena kita yang memutuskan bahwa ”sesuatu” itu adalah hal yang benar. Masa kita meragukan kebenaran yang telah kita putuskan ”kebenarannya”?

Lalu, bagaimana caranya untuk bisa keluar dari perangkap penjara pikiran? Jalan kebebasannya adalah melalui pintu kesadaran. Nah, Anda mungkin akan bertanya, ”Mengapa harus melalui pintu kesadaran?”

Hanya melalui pintu kesadaran kita bisa menyadari bahwa kita bukanlah pikiran kita, kita bukanlah perasaan kita, kita bukanlah kebiasaan kita, dan yang lebih penting lagi adalah bahwa kita bukanlah belief kita. Kesadaran membuat kita mampu untuk melakukan disosiasi atau pemisahan yang jelas.

Dengan kesadaran kita mampu melakukan metakognisi atau berpikir mengenai pikiran. Dengan berpikir dan mengamati pikiran maka kita akhirnya mengenal ”sosok” pikiran kita. Kita akan tahu pola atau kebiasaan yang pikiran lakukan. Dengan kesadaran kita dapat memahami bahwa pikiran, walaupun merupakan piranti yang sangat luar biasa, tetap hanyalah sebagian kecil dari kesadaran itu sendiri.

Lalu, bagaimana cara untuk bisa mengamati pikiran?

Oh, caranya mudah sekali. Yang perlu kita lakukan adalah belajar untuk menjadi hening. Kita perlu membiasakan diri ”berjalan” di keheningan. Hanya dengan hening kita baru mampu mengamati pikiran kita dengan jelas.

Setiap hari, selama sekitar 30 menit sampai 60 menit, lakukan meditasi. Duduklah dengan tenang dan mulailah mengamati pikiran Anda. Bagi pemula Anda bisa melatih diri dengan melakukan meditasi 15 menit di pagi hari dan malam hari.

Pengamatan terhadap pikiran akan membawa kita pada pengenalan dan pemahaman mendalam yang kita namakan kebijaksanaan. Nah, kebijaksanaan inilah sebenarnya kunci pembuka pintu kebebasan kita.

Source from : Adi W. Gunawan (www.pembelajar.com)

“Ad-Dunya sijnul mukmin wa jannatul kafirin”. (HR Muslim)
Arti hadits di atas adalah dunia itu adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir.
Suatu waktu, ketika Ibnu Hajar Al-Asqalani menjadi Qadi, dengan berkendaraan keledai, pakaian bagus dan penampilan yang meyakinkan, beliau melewati sebuah pasar.
Tiba tiba Yahudi pedagang minyak menghadangnya. Pakaiannya sangat kumal, lusuh dan kotor oleh minyaknya. Ia memegang tali keledai yang dikendarai oleh Ibnu Hajar, lalu berkata:
“Ya Syaikhul Islam, Anda menyatakan bahwa Nabi Anda mengatakan: Dunia itu penjara orang beriman dan surga orang kafir. Dengan penampilan Anda seperti ini, Anda di penjara seperti apa? Dan dengan keadaan saya seperti ini, Saya berada di surga seperti apa?”.
Ibnu Hajar menjawab: “Dengan kondisi seperti ini, Saya dibanding dengan kenikmatan yang Allah janjikan di akhirat, seperti di dalam penjara. Dan anda, dengan kondisi seperti ini, dibanding dengan siksa dan hukuman di akhirat, seolah anda sekarang di dalam surga”.
Mendengar jawaban tersebut, sang Yahudi langsung menyatakan masuk Islam.