Dari Sahabat Di Kelantan

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh…
Buat Sejiwa qu..Knjeng Edi…
testimoninya udah qu rasakan selama masa persahabatan dengannya hampir setahun nan lalu…sebelum hadirnya Naqs group…qu bertambah matang,berkeyakinan pada potensi diri qu berkat dokongan ,nasihat sejiwa qu ini ,juga bertambah penghayatan pada jalan kerohanian qu bertharikat Samaniah,juga menekuni didalam gabungan method keilmuan kebatinan,pencak,pengobatan juga disiplin method keilmuan dari guru2 sesepuh diperjalanan nyata qu,pencak gerak jurus makrifat..,menjadi takdir dan asbabNya bila qu niatkan pemula hadir dif b,,qu kuncikan bersama Ittikad dalam makrifat.ketemu pak Edi….itu lah sobat…kemana mana hadirnya ditemasya fb..aqu ada juga hadirnya.sama,bercanda,santai,serius seperti sobat2 lainnya,jika ada yang menvonis sobat qu ini,aqulah yang jadi galang gantinya…hehehe..Subhanalloh..

Rupanya sejiwa qu ini pengasas Naqs method ,bilang pada qu mahu menubuhkan Group Naqs akhirnya…itulah sebuah pengalaman,makasih juga buat Pak Edi kerna memperkenalkan sobat qu ,satu aliran rantaian guru yang sama dengan qu..Pak wiyoto Krido Santoyo,pendiri dan guru besar “Rajakawasa”dari aliran sesepuh Syeikh Subandari,Khori,madi…Hmm…Testimoninya…kebiasaannya bicara qu mungkin tegas pada focus bicara serius ,mungkin melambangkan sikap qu yang suka mengambil risiko..maka terpalit juga pada energy perlawanan pada batin dari serangan mereka yang dikira mahu ngetes atau memudaratkan diri qu….maka bertemporlah aqu seperti dulu2nya…terkena juga energynya..,

kini Alhamdulillah,ngak ada..kisah lama aja tuh..^__^..namun selepas qu hayati,qu gabungan ,qu ikhlas menerima transfer energy murni dari Pak Edi..aqu bertambah tambah sihat,bertambah tenang dalam berkarya..,ngak terasa lagi gigitan2 serangga atau nyamuk berenergy negatif ditujukan pada qu….atau aqu terpaksa menghunus senjata perisai tempor qu….

Alhamdulillah…bertambah tambah mantap perjalanan kerohanian qu bersama keyakinan,mendapat energy method tambahan,qu terima setiap waktu juga ,dokongan spiritual dari sejiwa qu Pak Edi tanpa qu tinggalkan pelajaran dan sekalian wasilah diterima mursyid perjalanan Tharikat qu dulu…inilah sedikit pengalaman qu kongsikan,walau ngak bisa untuk qu lakarkan satu persatu…bertambah tambah nikmat kaya jiwa…nikmat mana lagi yang mahu di dustakan…qu Ikhlas melakarkan testimoninya dari sahabat buat sahabat ..makasih sejiwa qu Pak Edi…Wallahu’alam…salam penyejuk jiwa……………..Tingg!!!

Dari Kang Mung Ali – Kelantan -Malaysia

Iklan

>Al-Qur’an On Line

>

http://m.alquran-indonesia.com/mquran/index.php/quran

>Dan Siapakah Yang Melihat Ketika Kamu Melihat..?

>

Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu tanpa mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Surat An-Nahl: 78)

Proses penglihatan terjadi secara bertahap. Saat mata melihat benda, kumpulan cahaya (foton) bergerak dari benda menuju mata. Cahaya ini menembus lensa mata yang selanjutnya membiaskannya dan menjatuhkannya secara terbalik di retina mata – bagian belakang mata. Sinar yang jatuh di retina mata ini di ubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan diteruskan oleh syaraf-syaraf neuron ke sebuah bintik kecil di bagian belakang otak yang disebut pusat penglihatan. Di dalam pusat penglihatan inilah, sinyal listrik ini diterima sebagai sebuah bayangan setelah mengalami sederetan proses. Dalam bintik kecil inilah sebenarnya penglihatan terjadi, di bagian belakang otak yang sama sekali gelap dan terlindung dari cahaya.

Saat mengatakan “kita melihat”, sebenarnya kita hanya melihat efek-efek impuls yang sampai ke mata kita dan diteruskan ke otak kita setelah diubah menjadi sinyal-sinyal listrik. Jadi, saat kita mengatakan “kita melihat”, sebenarnya kita hanya melihat sinyal-sinyal listrik di dalam otak kita.

Buku yang sedang Anda baca serta pemandangan yang terbentang di kaki langit termuat dalam ruang kecil di dalam otak ini. Hal yang serupa terjadi dengan persepsi lain yang Anda tangkap melalui keempat indra lainnya.

Seluruh informasi yang kita miliki tentang dunia luar, sampai kepada kita melalui kelima indra kita. Dunia yang kita tahu terdiri dari apa yang kita lihat dengan mata, yang kita dengar lewat telinga, yang kita cium dengan hidung, yang kita rasa dengan lidah, dan yang kita rasa lewat sentuhan kulit. Riset modern mengungkapkan bahwa persepsi kita hanyalah respons-respons otak terhadap sinyal-sinyal listrik. Berdasarkan hal ini, orang yang kita lihat, warna-warna, rasa keras melalui sentuhan, dan segala sesuatu yang kita miliki dan yang kita terima sebagai dunia luar, hanyalah sinyal-sinyal listrik yang sampai ke otak kita.

Contohnya sebuah apel: Sinyal-sinyal listrik yang berkenaan dengan rasa, bau, rupa dan kekerasan buah apel sampai ke otak kita melalui syaraf-syaraf dan membentuk gambarannya di dalam otak. Jika syaraf menuju otak terputus, persepsi yang berkenaan dengan buah apel ini akan lenyap. Yang kita indra sebagai apel, sebenarnya merupakan kumpulan persepsi-persepsi yang sampai ke otak kita. Kita tak pernah bisa memastikan bahwa “kumpulan persepsi-persepsi” ini benar-benar ada di luar kita. Kita tak memiliki kesempatan untuk bisa keluar dari otak kita dan menyentuh sesuatu yang ada di luar: yang kita miliki hanyalah persepsi-persepsi kita.

Kita tak pernah tahu apakah dunia luar benar-benar ada, karena setiap benda hanyalah kumpulan persepsi-persepsi. Dan persepsi-persepsi ini hanya ada dalam pikiran kita. Maka, satu-satunya dunia yang benar-benar ada adalah dunia persepsi-persepsi. Satu-satunya dunia yang kita tahu hanyalah dunia yang ada dalam pikiran kita; dunia yang dirancang, direkam, dan hidup di sana. Pendek kata, dunia yang diciptakan dalam pikiran kita. Itulah satu-satunya dunia yang kita yakini keberadaannya.

Benar, kita tertipu dengan keyakinan pada persepsi-persepsi tanpa ada korelasi material yang nyata. Demikian ini karena kita tak pernah bisa membuktikan bahwa persepsi-persepsi yang kita tangkap melalui otak memiliki korelasi material. Persepsi-persepsi itu bisa saja timbul dari suatu sumber “buatan”. Kita sering mengalaminya dalam mimpi kita. Kita seolah mengalami suatu kejadian, melihat orang-orang, benda dan susunan-susunan yang seolah nyata. Padahal kenyataanya tidak ada, hanya persepsi-persepsi saja. Tak ada perbedan mendasar antara mimpi dan “dunia nyata”; keduanya sama-sama dialami dalam otak.

Karena otak kita pun merupakan bagian dari dunia fisik seperti halnya tangan, kaki, atau benda lainnya, maka otak pun merupakan persepsi seperti yang lainnya. Mimpi merupakan contoh yang baik untuk menjelaskan masalah ini. Anggaplah kita sedang melihat sebuah mimpi. Dalam mimpi itu, kita memiliki tubuh khayalan, tangan khayalan, mata khayalan, dan otak khayalan. Jika dalam mimpi ini, kita ditanya, “Di mana Anda melihat?” Kita akan menjawab “saya melihat dalam otak saya”. Padahal sebenarnya, tidak ada otak di sana, melainkan hanya kepala dan otak khayalan. Wujud yang melihat bukanlah otak khayalan dalam mimpi, melainkan “wujud” yang derajatnya jauh lebih tinggi dari itu.

Sejauh ini, kita meyakini bahwa yang melakukan pengindraan adalah otak. Namun jika kemudian kita analisis otak ini, yang kita dapatkan hanyalah molekul-molekul lemak dan protein, yang juga ada pada organisme-organisme hidup lain. Artinya bahwa di dalam gumpalan daging yang kita sebut sebagai “otak” ini, tak ada sesuatu apapun yang bisa mengamati, yang memiliki kesadaran, atau yang menciptakan wujud yang kita sebut sebagai “diri pribadi”.

Jelas bahwa wujud yang melihat, mendengar dan merasakan ini bersifat supra-material. Wujud ini “hidup” dan tidak berupa materi ataupun gambaran dari materi. Wujud ini bersekutu dengan persepsi-persepsi di depannya dengan menggunakan gambaran tubuh kita.

Wujud ini adalah “Ruh”

Allah menyatakannya dalam Al-Qur’an: Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Allah. Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan tentangnya melainkan sedikit. (Surat Al-Isra’: 85)

Karena dunia material yang kita indra hanyalah persepsi-persepsi yang dilihat oleh ruh, lalu apa yang menjadi sumber persepsi-persepsi ini?

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, materi tidak memiliki wujud yang dapat mengatur dirinya sendiri. Materi hanyalah sebuah persepsi, sesuatu yang sifatnya “artifisial” (buatan). Karenanya, persepsi-persepsi ini mestinya disebabkan oleh kekuatan lain. Dengan kata lain, persepsi adalah sesuatu yang diciptakan. Jelas bahwa ada Sang Pencipta. Yang menciptakan seluruh alam material, yakni kumpulan persepsi-persepsi, yang diciptakanNya tanpa henti. Pencipta ini adalah Allah Yang Maha Kuasa. Fakta bahwa langit dan bumi bukanlah sesuatu yang stabil, dan keberadaanya hanyalah karena diciptakan Allah. Semuanyanya akan lenyap setelah Dia menghentikan penciptaannya. Hal ini dijelaskan dalam ayat berikut ini:

Allah lah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. 
Sungguh jika keduanya lenyap, tak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya kecuali Allah. Sungguh Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. 
(Surat Fatir: 41)

Materi tersusun hanya dari persepsi-persepsi. Satu-satunya wujud nyata dan mutlak hanyalah Allah. Artinya, hanya Allah lah yang ada; segala sesuatu selain dia hanyalah wujud semu. Karenanya Allah “ada dimana-mana” dan meliputi segala sesuatu. Segala yang ada merupakan gambaran yang Allah proyeksikan kepada kita.

Karena setiap wujud material merupakan persepsi, maka ia tak dapat melihat Allah. Sebaliknya, Allah melihat seluruh materi yang diciptakannya dalam berbagai bentuknya. Artinya, kita tak dapat menangkap wujud Allah dengan mata kita, namun Allah meliputi kita dari dalam, dari luar, dalam pandangan dan pikiran. Kita tak mampu mengucapkan perkataan apapun selain dengan pengetahuan dan ijinNya, bahkan tanpa Dia bernafaspun tidak akan bisa.

Meskipun kita melihat persepsi-persepsi ini di sepanjang hidup kita, wujud terdekat kepada kita bukanlah salah satu di antaranya, melainkan Allah sendiri. Rahasia ayat berikut tersembunyi dalam kenyataan ini:

“Dia lah yang menciptakan manusia, dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya; karena Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (sendiri). (Surat Qaf: 16)

Jika manusia berpikiran bahwa tubuhnya hanya terdiri dari “materi”, ia tidak akan dapat memahami fakta penting ini. Jika ia menganggap otaknya sebagai “dirinya”, maka letak dunia luar adalah 20-30 cm dari dirinya. Namun jika dia mengerti bahwa materi hanya lah imajinasi, maka pengertian luar, dalam, jauh ataupun dekat tak memiliki arti sama sekali. Allah meliputi dirinya dan Dia “sangat dekat” kepada dirinya. [www.harunyahya.com]

>Dari Sahabat Di Kelantan

>

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh…
Buat Sejiwa qu..Knjeng Edi…
testimoninya udah qu rasakan selama masa persahabatan dengannya hampir setahun nan lalu…sebelum hadirnya Naqs group…qu bertambah matang,berkeyakinan pada potensi diri qu berkat dokongan ,nasihat sejiwa qu ini ,juga bertambah penghayatan pada jalan kerohanian qu bertharikat Samaniah,juga menekuni didalam gabungan method keilmuan kebatinan,pencak,pengobatan juga disiplin method keilmuan dari guru2 sesepuh diperjalanan nyata qu,pencak gerak jurus makrifat..,menjadi takdir dan asbabNya bila qu niatkan pemula hadir dif b,,qu kuncikan bersama Ittikad dalam makrifat.ketemu pak Edi….itu lah sobat…kemana mana hadirnya ditemasya fb..aqu ada juga hadirnya.sama,bercanda,santai,serius seperti sobat2 lainnya,jika ada yang menvonis sobat qu ini,aqulah yang jadi galang gantinya…hehehe..Subhanalloh..

Rupanya sejiwa qu ini pengasas Naqs method ,bilang pada qu mahu menubuhkan Group Naqs akhirnya…itulah sebuah pengalaman,makasih juga buat Pak Edi kerna memperkenalkan sobat qu ,satu aliran rantaian guru yang sama dengan qu..Pak wiyoto Krido Santoyo,pendiri dan guru besar “Rajakawasa”dari aliran sesepuh Syeikh Subandari,Khori,madi…Hmm…Testimoninya…kebiasaannya bicara qu mungkin tegas pada focus bicara serius ,mungkin melambangkan sikap qu yang suka mengambil risiko..maka terpalit juga pada energy perlawanan pada batin dari serangan mereka yang dikira mahu ngetes atau memudaratkan diri qu….maka bertemporlah aqu seperti dulu2nya…terkena juga energynya..,

kini Alhamdulillah,ngak ada..kisah lama aja tuh..^__^..namun selepas qu hayati,qu gabungan ,qu ikhlas menerima transfer energy murni dari Pak Edi..aqu bertambah tambah sihat,bertambah tenang dalam berkarya..,ngak terasa lagi gigitan2 serangga atau nyamuk berenergy negatif ditujukan pada qu….atau aqu terpaksa menghunus senjata perisai tempor qu….

Alhamdulillah…bertambah tambah mantap perjalanan kerohanian qu bersama keyakinan,mendapat energy method tambahan,qu terima setiap waktu juga ,dokongan spiritual dari sejiwa qu Pak Edi tanpa qu tinggalkan pelajaran dan sekalian wasilah diterima mursyid perjalanan Tharikat qu dulu…inilah sedikit pengalaman qu kongsikan,walau ngak bisa untuk qu lakarkan satu persatu…bertambah tambah nikmat kaya jiwa…nikmat mana lagi yang mahu di dustakan…qu Ikhlas melakarkan testimoninya dari sahabat buat sahabat ..makasih sejiwa qu Pak Edi…Wallahu’alam…salam penyejuk jiwa……………..Tingg!!!

Dari Kang Mung Ali – Kelantan -Malaysia

Apakah Cuci Otak (brainwash) itu?

Terdapat berbagai macam teknik untuk melakukan cuci otak, yang umumnya dilakukan saat subyek terisolasi dari kehidupan sosialnya, dengan menerapkan konsep penghargaan dan hukuman atas setiap tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan. Apabila subyek menolak untuk bekerjasama, ia akan menerima hukuman baik secara fisis maupun psikis, termasuk memutus kontak sosial, makan, tidur, hingga siksaan fisik.

Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, sebaiknya kita mendefinisikan terlebih dahulu, apa itu yang disebut sebagai cuci otak (brainwash). Cuci otak adalah sebuah upaya rekayasa pembentukan ulang tata berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu menjadi sebuah tata nilai baru, praktik ini biasanya merupakan hasil dari tindakan indoktrinasi, dalam psikopolitik diperkenalkan dengan bantuan penggunaan obat-obatan dan sebagainya. Brainwash atau lebih dikenal sebagai cuci otak sudah dikenal semenjak lama, bahkan sebelum perang dunia ke II. Teknologi ini banyak digunakan saat itu oleh tentara Jerman.

Untuk apa? 
Untuk membangun semangat para prajurit dari semenjak masih remaja, untuk membentuk mental prajurit yang tahan banting, loyal, dan sejiwa dengan haluan partai NAZI saat itu. Teknik yang digunakan merupakan sebuah metode yang saat itu dikembangkan secara ilmiah oleh para pakar psikologi dan pikiran manusia, dimana para pakar jerman saat itu juga melakukan berbagai percobaan terhadap pikiran manusia (semasa holocaust di jerman).

Semua metode yang digunakan untuk melakukan brainwash saat itu, biasanya menggunakan waktu yang cukup panjang, untuk menanamkan sebuah program atau ide tertentu dalam pikiran seseorang. Waktu yang cukup panjang merupakan sebuah proses supaya program baru yang ditanamkan tersebut masuk ke pikiran bawah sadar seseorang.

Tujuan utama brainwash saat itu adalah lebih cenderung untuk membangun mental dan kesetiaan para prajurit Jerman.

Metode utama yang digunakan adalah dengan memasukkan informasi/dogma2 secara audio dan visual secara waktu berkala dan panjang, dan bersifat terfokus.

Nah, bagaimana brainwash itu dilakukan? 
Sekali lagi, sebuah informasi yang ditekankan dan dimasukkan secara terfokus, dengan akses audio maupun visual, dan dilakukan secara terus menerus, mampu menggiring persepsi dan pola pikir maupun perasaan seseorang sedikit demi sedikit. Inilah yang kita sebut sebagai memasukkan nilai di bawah sadar seseorang.

Ketika sebuah nilai telah tertanam cukup kuat di dalam bawah sadar seseorang, maka nilai itu lama kelamaan semakin kuat, berakar, dan permanent. Inilah yang kemudian disebut sebagai hasil dari brainwash itu, dan merupakan tujuan utama dilakukan hal tersebut.

Semua teknologi berpotensi menjadi sesuatu yang berbahaya (nuklir, dinamit, senjata, dll), sedangkan efek dari brainwash tidak selamanya mengerikan. Mengerikan jika (sekali lagi) teknologi dan tujuan brainwash ini disalah gunakan (contoh: utk kegiatan terorisme). Yang menarik adalah, apakah semua orang bisa di brainwash? Jawabannya, BISA… kalau nilai dasar individu yang di brainwash, tidak bertentangan dengan nilai yang dimasukkan dengan metode brainwash ini.

Maksudnya gimana?
Misalnya, saya memiliki nilai dasar atau sistem belief tentang perjuangan. Saya merupakan seseorang yang menganut bahwa saya dapat memberikan lebih banyak untuk bangsa dan negara maupun agama ketika saya hidup. Saya adalah individu yang lebih mengedepankan perjuangan dengan suara dan pikiran saya. Saya tidak menganut faham bahwa dengan bunuh diri, saya bisa dikenang dan berbuat banyak demi bangsa, negara, dan agama. Saya menganggap bahwa kehidupan ini indah, dan saya punya banyak orang yang saya cintai di sekeliling saya. Ini semua yang disebut sebagai nilai dasar dan sistem belief.

Misalnya ada sebuah nilai baru yang mau dimasukkan ke dalam pikiran saya, sebuah nilai tentang membela bangsa, negara, dan agama dengan meledakkan diri, di tengah-tengah orang-orang yang tidak secara langsung bersalah pada saya ataupun kepentingan yang saya bawa, dan teknik yang digunakan adalah metode brainwash.

Apa yang terjadi?
Yang terjadi adalah terjadi ”pertarungan” didalam pikiran saya. Dimana nilai dasar yang telah lebih dahulu ada, berhadapan dengan nilai dan sistem belief yang baru, yang dicoba ditanamkan pada pikiran saya.

Siapa yang menang?
Nilai dasar yang sudah ada, ketika telah terbentuk selama bertahun tahun, merupakan sebuah sistem yang sangat kuat. Ketika nilai baru mencoba menginfiltrasi pikiran saya, maka perlawanan yang diberikan oleh sistem nilai lama sangatlah kuat. Tentu nilai baru bisa saja (seolah-olah) menguasai pikiran saya di permukaan, menjadi nilai dan sistem belief baru. Tetapi, ketika program yang berusaha di tanamkan tersebut hendak di jalankan (misalkan. Untuk meledakkan diri di keramaian), maka program itu pasti terganggu dengan nilai dan sistem belief lama yang ada.

Lalu?
Program baru tersebut gagal untuk bekerja! Sistem nilai yang sudah ada sebelumnya di pikiran bawah sadar kita lebih kuat daripada sistem nilai yang baru, yang secara ”instant” diprogram ke dalam pikiran saya.

Jadi, bagaimana cara supaya program itu bekerja seperti yang diinginkan?
Tentu membutuhkan seseorang yang memang memiliki nilai dasar yang tidak bertentangan sebelumnya.

Mengapa?
Karena pada dasarnya brainwash ”hanya” mempertajam nilai yang telah ada sebelumnya, serta membangun keberanian dan kekuatan untuk melakukan sebuah aksi atau tindakan atas ”nilai” atau ”kepercayaan” yang telah ada sebelumnya.

Sejarah cuci otak (brainwash)
Proses cuci otak sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Istilah ini muncul pertama kali pada tahun 1950 saat perang antara Korea Utara dan Korea Selatan berlangsung. Saat itu Republik Rakyat Cina (RRC) ikut berperang membela Korea Utara, dengan Amerika Serikat dan PBB di pihak Korea Selatan. Brainwash atau cuci otak merupakan istilah yang digunakan di Amerika Serikat untuk menjelaskan fenomena banyaknya tentara Amerika Serikat yang berubah pihak membela Korea Utara setelah menjadi tahanan mereka. Dan semenjak itu, Central Intelligence Agency (CIA) dan Departemen Pertahanan Amerika Serikat terus mengadakan penelitian untuk mengembangkan teknik cuci otak ini.

Selain itu, teknik cuci otak juga banyak digunakan saat perang dunia I dan II untuk membangun semangat para prajurit sejak mereka masih remaja, yang terutama diterapkan kepada para prajurit NAZI.

Tujuannya adalah untuk membentuk mental prajurit yang tahan banting dan setia terhadap keyakinan para pemimpin atau partai yang mereka anut. Dan dewasa ini banyak isu yang beredar bahwa teknik cuci otak juga telah disalah gunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk membangun suatu aliran agama baru atau membuat propaganda terhadap suatu keyakinan tertentu, termasuk dalam kasus Noordin M. Top dan motif “bom bunuh diri yang dilakukan oleh para “pengantin”. Suatu hal yang kebenarannya masih dipertanyakan dan hangat dibicarakan di berbagai lapisan masyarakat.

Metoda cuci otak (brainwash)
Terdapat berbagai macam cara untuk melakukan cuci otak, mulai dari persuasi secara vokal (sugesti), visual, bantuan obat-obatan, hingga siksaan baik secara fisis maupun psikis. Prinsipnya adalah dengan melakukan metoda tersebut sambil memasukkan suatu program atau ide tertentu ke dalam pikiran seseorang secara berkepanjangan hingga memasuki alam bawah sadarnya.

Ketika sebuah nilai telah tertanam cukup kuat di alam bawah sadar seseorang, maka semakin lama nilai itu akan semakin kuat, berakar, dan permanen. Inilah yang kemudian disebut sebagai hasil dari cuci otak, dan merupakan tujuan utama dilakukannya hal tersebut.

Cara yang paling halus adalah dengan persuasi secara vokal atau visual untuk memasukkan sugesti. Hal ini dapat dilakukan dengan cara hipnosis, hingga teknik persuasi dalam sebuah pidato atau presentasi.

Hipnosis
Hipnosis merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memasukkan sugesti ke dalam pikiran seseorang. Dengan hipnosis, akses ke alam bawah sadar akan terbuka sehingga memudahkan seseorang untuk menerima sugesti yang diberikan. Hipnosis sendiri pada awalnya digunakan sebagai salah satu metoda pengobatan di Mesir dan Yunani, kemudian menyebar ke wilayah Eropa. Seorang dokter Austria bernama Sigmund Freud menggunakan hipnosis untuk mengatasi masalah mental para prajurit saat perang dunia I dan II. Kini, teknik hipnosis juga telah digunakan sebagai salah satu pengobatan komplementer untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan.

Persuasi dalam sebuah pidato atau presentasi
Pernahkah Anda merasa bersemangat atau memiliki sebuah pola pikir baru setelah Anda mengikuti sebuah seminar atau pelatihan? Ataukah Anda pernah merasa sangat tertarik terhadap sebuah produk multilevel marketing (MLM) yang sedang dipresentasikan padahal Anda baru saja membeli produk yang sejenis? Apabila jawabannya adalah iya, berarti tanpa disadari Anda pernah menjadi subyek cuci otak.

Metoda ini sebenarnya tidak dapat benar-benar dikatakan sebagai cuci otak, tetapi lebih kepada manipulasi pikiran seseorang dengan sugesti. Bagian otak kiri manusia mengolah bagian rasio dan analisis, sedangkan otak kanan mengolah sisi kreatif dan imajinasi. Inti dari metoda ini adalah bagaimana cara menyibukan otak kiri sehingga otak kanan dapat diakses untuk menanamkan suatu pola pikir tanpa harus melalui proses analisis terlebih dahulu.

Bagaimanapun, apabila diterapkan terus-menerus secara periodik, teknik ini juga dapat memasukkan ide-ide dalam pikiran bawah sadar seseorang hingga menjadi suatu nilai yang berakar dan permanen (cuci otak).

Penerapan teknik penghargaan dan hukuman
Teknik ini merupakan teknik pertama yang dilakukan saat perang Korea pada tahun 1950. Prinsipnya adalah dengan mengisolasikan subyek cuci otak dari kehidupan sosialnya. Subyek akan diperlakukan sesuai tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukannya. Apabila subyek menolak untuk bekerjasama, ia akan menerima hukuman baik secara fisis maupun psikis, termasuk memutus kontak sosial, makan, tidur, hingga siksaan fisik. Namun apabila subyek bersedia untuk bekerjasama, maka ia akan menerima sebuah penghargaan dalam berbagai bentuk. Bentuk yang paling sering dari penerapan teknik ini adalah outbond, pelatihan militer, dan penggemblengan murid atau mahasiswa baru saat masa orientasi.

Kemudian, benarkah terdapat korelasi antara terorisme dan cuci otak?
Saat ini, terdapat dugaan bahwa cuci otak merupakan salah satu alasan yang kuat di balik kenekatan sikap para “pengantin bom bunuh diri” yang telah meneror Indonesia selama beberapa waktu terakhir. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa cuci otak umumnya dilakukan untuk tujuan militer, politik, dan religius. Ketika dianalogikan dengan pemberitaan yang ada, memang terdapat kemungkinan adanya korelasi antara terorisme dan cuci otak ini.

Dengan dalih outbond dan ceramah agama yang dilakukan secara periodik, sang mastermind dapat mendoktrin para pengikutnya untuk meruntuhkan apa yang mereka yakini untuk sebuah keyakinan baru. Namun cuci otak bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan begitu saja, perlu waktu yang cukup lama untuk menanamkan ide-ide baru dalam pikirian bawah sadar seseorang sehingga kegiatan ini umumnya dilakukan terus-menerus secara periodik di sebuah area yang terpencil untuk memutus kontak sosial. Selain itu, hipnosis juga dapat dilakukan untuk memudahkan proses penerimaan sugesti.

Bagaimanapun, Anda tidak harus setuju dengan analisa kami. Pilihan tetap ada di tangan Anda. Yang terpenting kita tidak boleh membiarkan siapapun memecah-belah bangsa Indonesia, tidak juga teroris. Tidak perduli banyaknya budaya dan agama yang kita miliki, kita harus semakin kuat dan bekerjasama untuk melawan musuh bangsa ini dan propaganda yang dilakukan oleh para teroris.

Hipnotis bisa menjadi baik atau buruk, tergantung penghipnotis. Menjadi buruk ketika hipnotis digunakan untuk tujuan buruk, misalnya menghipnotis orang untuk membunuh atau menyakiti orang lain. Akan baik, ketika digunakan untuk tujuan yang baik pula, misalanya penyelesaian masalah atau menterapi pasien gangguan psikologis. Satu hal yang pasti, bahwa ini merupakan sebuah metode yang berlandaskan sebuah dasar ilmiah, dan mampu membawa manfaat bagi banyak orang, ketika digunakan untuk sebuah keperluan yang memang positif, dan sesuai dengan nilai dari individu-individu yang membutuhkan bantuan dari metode ini.

Korban Cuci Otak NII Bisa Gila.!

Pelaku cuci otak mampu membuat korbannya menderita. Bila tidak segera dipulihkan, korban cuci otak mengalami depresi berkepanjangan. Bahkan tidak sedikit jiwanya terganggu.

Kalau kelompok NII gadungan, rata-rata korbannya depresi usai berhasil keluar dari kelompok. Bisa gila!” ujar Adnan Fahrullah (40), mantan pencuci otak yang pernah gabung NII KW 9 sejak 1989 hingga 2004. Adnan ditemui wartawan di sebuah tempat di Kota Bandung, Kamis (21/4/2011).

Yang menyebabkan korban depresi itu karena di bawah ancaman. Lalu ditargetkan pimpinannya mencari uang serta wajib menyetor. Ancamannya memang dibunuh, tapi semua itu gertakan saja. Soalnya tidak ada yang pernah dibunuh karena keluar dari NII. Kalau hanya didatangi ke rumah sih memang benar,” ujarnya.

Setelah berhasil keluar dari kelompok NII dan menyatakan tobat, penderitaan mereka masih membekas. Apalagi, kata Adnan, mantan-mantan NII yang keluar itu bingung karena tidak punya penghasilan tetap. Sebab, dahulunya saat masuk NII, para korban itu meninggalkan pekerjaannya.

“Butuh dua hingga tiga tahun untuk memulihkan para cuci otak ala NII gadungan itu. Ada dengan pendekatan keislaman dengan benar dan cara lainnya,” papar Adnan.

Berbeda cuci otak yang dilakukan NII sempalan. Menurut dia, para pelakunya memang mantan NII KW 9 yang membentuk kelompok lain. Cara cuci otak NII sempalan ini ada menggunakan gaya saat dahulu jadi anggota. Intinya pola kerjanya sama dengan gaya NII KW 9 merekrut korban.

“Tapi perkembangannya kini, NII sempalan menggunakan cara hipnotis,” ungkap Adnan.

Meski begitu, sambung pris berkumis ini, cuci otak yang selama ini dilakukan NII sempalan tidak berbahaya. Sebab, NII sempalan hanya bersifat sementara. Motifnya kriminal dengan alasan impitan ekonomi.

“Korban cuci otak dari NII sempalan ini tidak terlalu berbahaya. Para korbanya paling hanya lupa ingatan dalam waktu yang tidak panjang. Ya, paling seminggu dan langsung pulih,” jelasnya.

Pelaku Cuci Otak NII Mengintai Kampus dan Mal
Pelaku cuci otak dari kelompok Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW 9) diyakini masih berkeliaran mencari korban. Pola ini digunakan NII gadungan dan sempalan. Mereka mengintai kampus hingga menelusuri mal untuk mencari korban.

Hal tersebut diungkapkan mantan aktivis NII KW 9, Adnan Fahrullah (40) saat berbincang dengan wartawan di salah satu tempat di Kota Bandung, Kamis (21/4/2011). Adnan sejak 1989 hingga 2004 menjadi pelaku cuci otak ribuan korban di wilayah Jawa Barat.

“Para kelompok NII gadungan dan sempalan ini dibekali ilmu tentang Islam. Mereka sudah siap merekrut orang atau sekadar menipu korbannya. Yang saya tahu karena pernah melakukan cuci otak, mereka mendatangi kampus dan mal,” ujar Adnan yang terakhir menjabat sebagai Kepala Bagian Pembinaan NII KW 9 Provinsi Jawa Barat.

Cara seperti itu, kata Adnan, masih dianggap jitu oleh para pelaku cuci otak. NII gadungan lebih mencari korban yang siap hijrah dan nantinya dibina. Sementara NII sempalan hanya sebatas mengelabui korban dengan niat hanya menipu, memeras dan menguras uang. Tetapi NII sempalan tidak berlarut-larut menjadikan korbannya ‘mesin ATM’.

“Yang paling ideal itu, pelaku mencari calon korban di lingkungan masjid kampus, perpustakaan kampus atau masjid umum. Perkembangan saat ini, pelaku memburu targetnya dengan datang ke mal-mal,” ujar Adnan.

Adnan menuturkan, para pelaku cuci otak ini tanpa canggung mendekati orang yang sedang seorang diri. Bila terlihat labil dan memenuhi kategori, mereka bakal mengajak korban untuk berjumpa kembali esok harinya.

“Target calon korban itu yang usianya 30 tahun ke bawah. Ada mahasiswa dan pekerja. Intinya, pelaku membidik korban yang berduit. Mereka berpedoman pada Alquran dan ‘menjual’ hadist agar calon korban terberdaya serta percaya,” paparnya.

Jika sudah terlihat korban mulai terpengaruh, para korban dibawa ke suatu tempat. Lokasinya itu bisa kos atau kontrakan korban, atau sebaliknya. Bisa juga tempat sepi yang tidak diketahui korban.

“Kalau NII gadungan itu tidak melakukan cuci otak dengan cara hipnotis. Tapi cara mereka mampu membuat kosong pikiran korban. NII sempalan yang lebih bermotif kriminal, ada yang pakai hipnotis dan tidak untuk cuci otak korban,” jelas Adnan.

Dia menuturkan, NII gadungan kebanyakannya dari pengikut ajaran Panji Gumilang. Menurut Adnan, kelompok binaan Panji Gumilang tetap eksis hingga detik ini. Sementara NII sempalan ialah bekas anak buah Panji Gumilang yang sakit hati lalu membentuk berbagai kelompok tersendiri yang pola kerjanya dilatari faktor ekonomi pribadi.

Lima belas tahun bergabung dengan NII KW 9, Adnan Fahrullah (40), mengaku telah mencuci otak 5 ribu orang, sehingga akhirnya mereka bergabung. Ribuan orang yang dia rekrut pun kini sudah keluar. Sayangnya banyak yang luntang lantung tak punya pekerjaan. Demi menyambung hidup, lima mantan anggota NII yang ia kenal, kini memilih menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK).

Menurutnya hanya 15 persen saja dari 5 ribu yang telah sadar itu kini memiliki pekerjaan. Ada yang jadi sopir, guru dan profesi lainnya. Menurut Adnan kenapa hal itu terjadi, sebab pada saat mereka bergabung dengan NII, mereka meninggalkan pekerjaan dan juga keluarga mereka.

“Tapi ada juga yang bekerja terpaksa demi kehidupan anak-anaknya. Contohnya saat ini ada wanita mantan NII yang menjadi PSK. Ya, jumlahnya tidak lebih dari lima dan berdomisili di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Untuk domisili yang sama, tercatat ada sekitar 50 orang depresi, dua di antaranya menjadi gila dan berkeliaran di jalan,” ungkap Adnan saat berbincang di sebuah tempat di kawasan Bandung Selatan, Kamis (21/4/2011).

Setelah memutuskan keluar dari kelompok NII KW 9 pimpinan Panji Gumilang, lanjut Adnan, ia bertobat dan sering menangani para korban NII. Sebagai orang yang pernah malang melintang di NII KW 9, ia mengaku sedih dengan kondisi para korban.

“Saya memang merasa dosa saat merekrut ribuaan korban kala itu. Saya cuci otaknya. Tapi ada racun, pasti ada penawarnya juga. Maka itu, ada cara dan trik untuk memulihkan korban NII,” ujaranya yang keberatan membeberkan penawar yang dimaksud.

“Mereka yang dulu pernah saya cuci otaknya, sudah kembali ke jalan Islam sebenarnya. Dari 5 ribu orang atau kepala keluarganya itu, di anataranya berasal dari Rancaekek, Cicalengka, Lembang hingga Subang,” tambah dia.

Adnan menyatakan apa yang dilakukan NII gadungan dan sempalan itu tak dibenarkan dalam ajaran Islam. Maka itu, ia meminta aparat terkait serta pemerintah untuk membantu keberlangsungan hidup mereka.

Yang dibutuhkan saat ini, jelas Adnan, perlunya diberikan pekerjaan bagi mantan korban NII. Selain itu, polisi harus bertindak tegas terhadap NII gadungan dan sempalan yang hingga kini masih berkeliaran mencari calon korban.

Waspada Gerakan NII KW 9 Masuki Sekolah di Jabar
Gerakan kelompok Negara Islam Indonesia (NII) KW 9 bergerak masuk lingkungan sekolah di Jawa Barat. Salah satu contoh, sebanyak 11 siswa SMAN 1 Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, nyaris dibaiat NII KW 9.

Kasus tersebut membuktikan kalau aktivitas NII KW 9 bergerilya membidik kalangan pelajar untuk direkrut. Mantan anggota NII KW 9, Ahmad (38) mengatakan, perekrutan pada kalangan pelajar merupakan pola lama. Namun, kata Ahmad, kasus seperti di SMAN 1 Cikalong Wetan, mesti diwaspadai oleh pihak sekolah.

“Jelas hal seperti itu mesti diantisipasi. Pelajar diincar karena mudah dipengaruhi. Selai itu, pelajar ini disiapkan untuk menjadi bibit baru di kemudian hari,” jelas Ahmad saat berbincang dengan detikbandung via telepon, Kamis (5/5/2011).

Pria yang pernah gabung NII KW 9 ini menambahkan, perekrut atau pelaku cuci otak melancarkan modusnya tetap sama. Perekrut mengajak hijrah kepada calon anggotanya.

“Yang berbeda hanyalah cara mengajak dan membina. Kalau ke pelajar, para perekrut lebih memperkenalkan pengetahuan Islam yang lebih ringan dan mudah dimengerti, contohnya soal fungsi diri serta pengertian ibadah,” kata Ahmad yang terakhir di NII KW 9 menjabat Kepala Desa di salah satu wilayah Jakarta Timur.

Menurut mantan perekrut ini, gerak gerik perekrut perlu dikenali oleh pihak sekolah. Biasanya, kata Ahmad, perekrut awalnya menawarkan diri menjadi mentor untuk kegiatan kajian Islam di lingkungan sekolah. Perekrut itu bisa dari kalangan alumni sekolah ataupun tidak.

Selain itu, sambung Ahmad, para perekrut jumlahnya antara satu hingga tiga orang. Yang masuk ke sekolah pada umumnya hanya satu atau dua orang.

“Maka itu, guru agama di sekolah mesti mengawasi atau ikut saat ada pihak dari luar yang mengajarkan pengetahuan Islam kepada para siswa. Jangan sembarangan pula menerima mentor dari luar sekolah. Diimbau juga para pelajar segera sadar kalau ternyata ada ajaran yang tidak sesuai dengan kaidah Islam,” papar Ahmad yang gabung di NII KW 9 sejak 1997 dan keluar pada 2001.

“Nah, cara terbaiknya, para siswa harus sering berkonsultasi dengan guru agama atau ulama setelah mendapat ilmu dari mentornya. Ini untuk memastikan benar atau tidak ajaran yang disampaikan dari mentor itu,” tambahnya.

Ahmad juga berpesan kepada pelajar untuk tidak masuk ke organisasi terkesan tertutup di lingkungan dalam dan luar sekolah. Sebab, aktivis NII KW 9 lebih senang mengincar calon korban di organisasi seperti itu.

“Kalau aktivitas organisasinya terbuka dan tiadak eklusif, perekrut itu menjadi takut. Enggak bakal berani masuk,” ungkapnya.

Pada Rabu (4/5/2011), Ahmad menjadi narasumber acara dialog ‘Bahaya NII Alzyatun’ yang dilaksanakan di SMAN 1 Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat. Dalam kegiatan tersebut terungkap adanya 11 siswa di SMAN 1 Cikalong Wetan yang nyaris dibaiat NII KW 9. (Bandung.detik.com).*