Melu Handarbeni atau Rasa Memiliki "Sense Of Belonging"

Indonesia sebenarnya memiliki beberapa Adagium indah yang syarat Makna sebagai pegangan atau Filosofi Hidup dalam bertindak, salah satunya adalah :

Tri Dharma Amerta” semboyan Pangeran Mangkunegara III

  1. Rumangsa Melu Handarbeni atau Rasa Memiliki,
  2. Rumangsa Melu Hangrungkebi atau Rasa Bertanggungjawab,
  3. Mulat Sariro Hangroso Wani atau Mawas Diri.

Ketiga Ajaran tersebut sangatlah terkait erat dan tidak bisa dipisahkan. Rumangsa Melu Handarbeni haruslah diikuti oleh Rumangsa Melu Hangrungkebi. Kalau hanya satu yang dilaksanakan dan Meninggalkan yang lain, keseimbangan akan goyah sehingga kedamaian yang diimpi-impikanpun tidak akan tercapai.

Dalam sebuah rapat di sebuah  perusahaan, terjadi ketegangan menghadapi kerugian yang tidak bisa terelakkan. Pelanggan menuntut ganti rugi, sementara perusahaan harus mengeluarkan banyak uang bila meluluskannya. Saat tanggung jawab terasa tidak seratus persen di tangan diri pribadi atau divisi, semua orang diam, tidak berinisiatif mengambil risiko. Tidak ada yang berusaha mengambil kendali yang pada dasarnya adalah akuntabilitas bersama.

Pada saat-saat seperti ini, barulah terasa bahwa seringkali ada beban tanggung jawab yang lebih besar dan lebih luas menghadang di depan mata. Kita punya pilihan: Apakah akan diam di saat perusahaan terancam? Apakah pada saat perusahaan krisis, kita sekedar ingin menjadi komponen atau berdiri di depan? Apakah anak buah korupsi, ada atasan muncul dan mengakuinya sebagai kesalahan dirinya yang kurang pengawasan? Apakah saat terjadi ambruknya jembatan, ada pejabat yang tidak sekedar membuat alasan dan penjelasan, tapi langsung menyatakan rasa bersalah? Kekuatan memilih untuk memperbesar beban tanggung jawab dan memperluas jangkauan akuntabilitas inilah yang sering disebut-sebut orang sebagai ‘rasa memiliki’ atau ‘sense of belonging’.

Menguji Sense of Belonging
‘Rasa memiliki’ bisa terasah dan teruji dalam banyak situasi. Melalui kampanye dan kelompok-kelompok yang punya kesamaan rasa dan pemikiran misalnya, kita lihat beramai-ramai orang mendukung aksi: “Aku bangga jadi orang Indonesia”. Di perusahaan, untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas, banyak pihak bersuara lantang dalam meeting dan brainstorming mengenai solusi, inovasi, kebijakan dan cara bagi tim dan perusahaan untuk bisa tetap kompetitif. Ini memang ekspresi rasa memiliki. Namun, rasa memiliki yang lebih jauh, justru teruji bila kesalahan, kerugian, resiko besar juga “dimiliki” individu secara konkrit, dalam bentuk tindakan.

Slogan-slogan perlu teruji dengan realita betapa kita langsung menyingsingkan lengan baju membantu korban bencana tanpa banyak analisa dan komentar. Dalam situasi keuangan perusahaan yang seret, apa reaksi kita saat gaji dipangkas dan fasilitas dipotong? Saat dibutuhkan untuk berkorban, misalnya anggaran unit dipotong, fasilitas dipangkas, terkadang keluar pernyataan: ‘Kenapa Saya?’. Individu yang punya ownership yang baik, sebetulnya akan spontan berkata: ‘Kalau bukan saya, siapa lagi?’ Di sinilah kebesaran jiwa, keberanian akan tercermin dalam akuntabilitas yang otomatis, tanpa pikir panjang.

Haruskah Menyalahkan Cuaca?
Sebuah perusahaan yang sedang menggalakkan program kepemimpinan, mengeluhkan macetnya program pengembangan karyawan. Saat didiskusikan akar permasalahannya, banyak karyawan menyebutkan bahwa pimpinan perusahaan yang sangat dominan, cerdas, jeli namun tidak banyak mengayomi-lah yang menyebabkan buruknya situasi. Banjir keluhan bahkan komentar sinis yang sedikit-sedikit ditujukan ke pimpinan perusahaan, akhirnya berdampak buruk terhadap pengembangan individu sendiri. Dengan berfokus pada buruknya situasi, pusat kontrol dalam diri individu terhambat. Individu cepat merasa tidak berdaya. Sebagai akibat, motor yang menggerakkan diri untuk merasakan ‘sense of urgency’ serta ambisi untuk menjadi lebih baik, lumpuh.

Kita memang bisa menyalahkan cuaca, membaca ‘angin’ dan mencium atmosfir, tetapi motor penggerak dalam diri kita sebagai individu perlu kita hidupkan bahkan kita optimalkan agar tidak aus. Mencari kambing hitam dalam situasi bekerja ataupun dalam hubungan suami isteri, justru menutup kemungkinan kita untuk mengembangkan diri secara jangka panjang.

Mengaku Salah, bukan Mengaku Kalah
Saat Alan Greenspan didesak di hadapan Kongres Amerika dan secara langsung ditanya: “Apakah Anda bersalah?” atas terjadinya krisis global, ia menjawab: “Ya, sebagian saja”. Kita lihat betapa pamornya yang bertahun-tahun dikagumi dunia karena pemikiran-pemikirannya yang cemerlang, sirna karena jawabannya yang seakan berusaha tidak mengalokasikan kesalahannya lebih lebar daripada tindakan kongkritnya. Andaikan saja seorang bernama besar seperti itu bisa mengambil tanggung jawab dan menganggap bahwa krisis sebagian besar adalah kesalahannya, dunia justeru akan lebih bersimpati dan menghormatinya. Pengakuan atas kesalahan pribadi atau kelalaian, tidak sekonyong-konyong menjatuhkan pamor, malahan bisa menjadi tindakan ksatria yang bisa membangun kredibilitas, rasa percaya dan bisa membawa tim untuk mengambil tindakan perbaikan diri bersama. Rasa memiliki bukan saja terasa kalau lembaga atau Negara sedang aman-aman saja, tapi justru pada saat seseorang memilih untuk maju dan mengatakan :”Ini salah saya”.

Mengaku salah, kadang berat karena seolah-olah mengaku kalah. Namun, pasang badang mengaku salah, sebenarnya sangat erat hubungannya dengan ‘sense of belonging’ yang sering didengung-dengungkan orang. Kita lihat betapa banyak pimpinan atau mantan pimpinan berlomba-lomba mengklaim sukses yang ia buat di masanya, namun saling lempar tanggung jawab bila diangkat mengenai kesalahan kebijakan atau pengambilan keputusan yang ia buat.

Bila seseorang bisa mengakui kesalahan, ia secara otomatis akan lebih berupaya mengambil tindakan atas masalah yang berada dalam ‘jangkauannya’, lebih bebas mengalokasi perbaikan dan mengganti arah untuk sukses selanjutnya. Tentu saja permintaan maaf juga tidak kita harapkan tanpa penghayatan, tanpa ketulusan atau bahkan sebagai suatu alat untuk menghindari terbukanya kesalahan yang lebih dalam. Permintaan maaf, terutama yang keluar dari seorang pemimpin adalah bukti atau praktik penalarannya. Dibuka dengan pernyataan pengakuan atas tanggung jawabnya, seorang pemimpin sebetulnya lebih mudah mengelola resiko, membuka pikiran orang di sekitarnya, membuka diskusi yang lebih dalam, terbuka dan jujur demi “corrective actions”.

Ho’o ponopono Mengaktifkan Sense Of Belonging
Ho’oponopono mengajarkan kita untuk Bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan kita, baik kehidupan kita sendiri maupun terhadap segala peristiwa di dunia yang beritanya masuk ke dunia persepsi kita.

Dengan mempraktekkan Ho’oponopono, maka diri serta pikiran kita akan terus menerus diingatkan sehingga pikiran kita secara otomatis selalu menyensor dan membersihkan pikiran-pikiran negative yang muncul. Ya, pikiran-pikiran negative seperti kekhawatiran, menghakimi, dan melarutkan diri dalam masalah yang dihadapi, dan lain sebagainya. Sebenarnya dengan membiarkan diri kita hidup dalam pikiran-pikiran negative itu, dan mengakumulasinya dari hari ke hari, ini akan menyebabkan diri kita semakin jauh dari Tuhan, ini artinya seakan-akan kita mengatakan pada Tuhan bahwa kita tidak membutuhkan bantuan-Nya.

Mempraktekkan Ho’oponopono akan membantu kita untuk belajar melepaskan “ikatan” kita pada setiap pikiran negative dan permasalahan yang kita hadapi. Karena seperti yang kita ketahui, ketika kita larut dalam pikiran negative kita, misalnya kekhawatiran, maka sebenarnya kita semakin menambahkan kekhawatiran itu dalam memori kita alih-alih menghilangkan dan melenyapkannya.

Dengan mempraktekan Ho’oponopono, maka Ho’oponopono akan selalu membantu kita untuk selalu percaya dan memasrahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan. Ya, karena kita percaya bahwa kehendak Tuhanlah yang terbaik.

Ya, setiap kali mempraktekkan Ho’oponopono, maka turut membantu menghapus memori yang terakumulai di dunia ini.

Bagaimana Cara Mempraktekkan Ho’oponopono untuk Membersihkan Memori Negatif?

Sangatlah mudah untuk mempraktekkan Ho’oponopono dan membantu membersihkan berbagai memori yang ada di dunia ini. Kita dapat mengafirmasikan dan mengulang-ulang kalimat-kalimat sebagai berikut :

“Saya Menyesal” atau “I am Sorry”,
“Maafkan Saya” atau “Forgive Me”,
“Terima kasih” atau “Thank You”,
“Saya Mencintaimu” atau “I Love You”

Ya, sesederhana itu untuk melakukan perubahan dalam hidup kita. Setiap kali kita mengulang-ulang baik salah satu saja maupun seluruh kalimat itu, ini artinya kita sedang melepaskan ingatan-ingatan negative dari pikiran kita. Dan tindakan selanjutnya adalah memasrahkan diri dan percaya sepenuhnya dengan ikhlas kepada Tuhan, biarkan Tuhan dengan kuasa-Nya yang ajaib dan mengagumkan menghapus berbagai memori-memori negative dari pikiran kita.

Iklan

>Melu Handarbeni atau Rasa Memiliki "Sense Of Belonging"

>Indonesia sebenarnya memiliki beberapa Adagium indah yang syarat Makna sebagai pegangan atau Filosofi Hidup dalam bertindak, salah satunya adalah :

Tri Dharma Amerta” semboyan Pangeran Mangkunegara III

  1. Rumangsa Melu Handarbeni atau Rasa Memiliki,
  2. Rumangsa Melu Hangrungkebi atau Rasa Bertanggungjawab,
  3. Mulat Sariro Hangroso Wani atau Mawas Diri.

Ketiga Ajaran tersebut sangatlah terkait erat dan tidak bisa dipisahkan. Rumangsa Melu Handarbeni haruslah diikuti oleh Rumangsa Melu Hangrungkebi. Kalau hanya satu yang dilaksanakan dan Meninggalkan yang lain, keseimbangan akan goyah sehingga kedamaian yang diimpi-impikanpun tidak akan tercapai.

Dalam sebuah rapat di sebuah  perusahaan, terjadi ketegangan menghadapi kerugian yang tidak bisa terelakkan. Pelanggan menuntut ganti rugi, sementara perusahaan harus mengeluarkan banyak uang bila meluluskannya. Saat tanggung jawab terasa tidak seratus persen di tangan diri pribadi atau divisi, semua orang diam, tidak berinisiatif mengambil risiko. Tidak ada yang berusaha mengambil kendali yang pada dasarnya adalah akuntabilitas bersama.

Pada saat-saat seperti ini, barulah terasa bahwa seringkali ada beban tanggung jawab yang lebih besar dan lebih luas menghadang di depan mata. Kita punya pilihan: Apakah akan diam di saat perusahaan terancam? Apakah pada saat perusahaan krisis, kita sekedar ingin menjadi komponen atau berdiri di depan? Apakah anak buah korupsi, ada atasan muncul dan mengakuinya sebagai kesalahan dirinya yang kurang pengawasan? Apakah saat terjadi ambruknya jembatan, ada pejabat yang tidak sekedar membuat alasan dan penjelasan, tapi langsung menyatakan rasa bersalah? Kekuatan memilih untuk memperbesar beban tanggung jawab dan memperluas jangkauan akuntabilitas inilah yang sering disebut-sebut orang sebagai ‘rasa memiliki’ atau ‘sense of belonging’.

Menguji Sense of Belonging
‘Rasa memiliki’ bisa terasah dan teruji dalam banyak situasi. Melalui kampanye dan kelompok-kelompok yang punya kesamaan rasa dan pemikiran misalnya, kita lihat beramai-ramai orang mendukung aksi: “Aku bangga jadi orang Indonesia”. Di perusahaan, untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas, banyak pihak bersuara lantang dalam meeting dan brainstorming mengenai solusi, inovasi, kebijakan dan cara bagi tim dan perusahaan untuk bisa tetap kompetitif. Ini memang ekspresi rasa memiliki. Namun, rasa memiliki yang lebih jauh, justru teruji bila kesalahan, kerugian, resiko besar juga “dimiliki” individu secara konkrit, dalam bentuk tindakan.

Slogan-slogan perlu teruji dengan realita betapa kita langsung menyingsingkan lengan baju membantu korban bencana tanpa banyak analisa dan komentar. Dalam situasi keuangan perusahaan yang seret, apa reaksi kita saat gaji dipangkas dan fasilitas dipotong? Saat dibutuhkan untuk berkorban, misalnya anggaran unit dipotong, fasilitas dipangkas, terkadang keluar pernyataan: ‘Kenapa Saya?’. Individu yang punya ownership yang baik, sebetulnya akan spontan berkata: ‘Kalau bukan saya, siapa lagi?’ Di sinilah kebesaran jiwa, keberanian akan tercermin dalam akuntabilitas yang otomatis, tanpa pikir panjang.

Haruskah Menyalahkan Cuaca?
Sebuah perusahaan yang sedang menggalakkan program kepemimpinan, mengeluhkan macetnya program pengembangan karyawan. Saat didiskusikan akar permasalahannya, banyak karyawan menyebutkan bahwa pimpinan perusahaan yang sangat dominan, cerdas, jeli namun tidak banyak mengayomi-lah yang menyebabkan buruknya situasi. Banjir keluhan bahkan komentar sinis yang sedikit-sedikit ditujukan ke pimpinan perusahaan, akhirnya berdampak buruk terhadap pengembangan individu sendiri. Dengan berfokus pada buruknya situasi, pusat kontrol dalam diri individu terhambat. Individu cepat merasa tidak berdaya. Sebagai akibat, motor yang menggerakkan diri untuk merasakan ‘sense of urgency’ serta ambisi untuk menjadi lebih baik, lumpuh.

Kita memang bisa menyalahkan cuaca, membaca ‘angin’ dan mencium atmosfir, tetapi motor penggerak dalam diri kita sebagai individu perlu kita hidupkan bahkan kita optimalkan agar tidak aus. Mencari kambing hitam dalam situasi bekerja ataupun dalam hubungan suami isteri, justru menutup kemungkinan kita untuk mengembangkan diri secara jangka panjang.

Mengaku Salah, bukan Mengaku Kalah
Saat Alan Greenspan didesak di hadapan Kongres Amerika dan secara langsung ditanya: “Apakah Anda bersalah?” atas terjadinya krisis global, ia menjawab: “Ya, sebagian saja”. Kita lihat betapa pamornya yang bertahun-tahun dikagumi dunia karena pemikiran-pemikirannya yang cemerlang, sirna karena jawabannya yang seakan berusaha tidak mengalokasikan kesalahannya lebih lebar daripada tindakan kongkritnya. Andaikan saja seorang bernama besar seperti itu bisa mengambil tanggung jawab dan menganggap bahwa krisis sebagian besar adalah kesalahannya, dunia justeru akan lebih bersimpati dan menghormatinya. Pengakuan atas kesalahan pribadi atau kelalaian, tidak sekonyong-konyong menjatuhkan pamor, malahan bisa menjadi tindakan ksatria yang bisa membangun kredibilitas, rasa percaya dan bisa membawa tim untuk mengambil tindakan perbaikan diri bersama. Rasa memiliki bukan saja terasa kalau lembaga atau Negara sedang aman-aman saja, tapi justru pada saat seseorang memilih untuk maju dan mengatakan :”Ini salah saya”.

Mengaku salah, kadang berat karena seolah-olah mengaku kalah. Namun, pasang badang mengaku salah, sebenarnya sangat erat hubungannya dengan ‘sense of belonging’ yang sering didengung-dengungkan orang. Kita lihat betapa banyak pimpinan atau mantan pimpinan berlomba-lomba mengklaim sukses yang ia buat di masanya, namun saling lempar tanggung jawab bila diangkat mengenai kesalahan kebijakan atau pengambilan keputusan yang ia buat.

Bila seseorang bisa mengakui kesalahan, ia secara otomatis akan lebih berupaya mengambil tindakan atas masalah yang berada dalam ‘jangkauannya’, lebih bebas mengalokasi perbaikan dan mengganti arah untuk sukses selanjutnya. Tentu saja permintaan maaf juga tidak kita harapkan tanpa penghayatan, tanpa ketulusan atau bahkan sebagai suatu alat untuk menghindari terbukanya kesalahan yang lebih dalam. Permintaan maaf, terutama yang keluar dari seorang pemimpin adalah bukti atau praktik penalarannya. Dibuka dengan pernyataan pengakuan atas tanggung jawabnya, seorang pemimpin sebetulnya lebih mudah mengelola resiko, membuka pikiran orang di sekitarnya, membuka diskusi yang lebih dalam, terbuka dan jujur demi “corrective actions”.

Ho’o ponopono Mengaktifkan Sense Of Belonging
Ho’oponopono mengajarkan kita untuk Bertanggung jawab sepenuhnya atas kehidupan kita, baik kehidupan kita sendiri maupun terhadap segala peristiwa di dunia yang beritanya masuk ke dunia persepsi kita.

Dengan mempraktekkan Ho’oponopono, maka diri serta pikiran kita akan terus menerus diingatkan sehingga pikiran kita secara otomatis selalu menyensor dan membersihkan pikiran-pikiran negative yang muncul. Ya, pikiran-pikiran negative seperti kekhawatiran, menghakimi, dan melarutkan diri dalam masalah yang dihadapi, dan lain sebagainya. Sebenarnya dengan membiarkan diri kita hidup dalam pikiran-pikiran negative itu, dan mengakumulasinya dari hari ke hari, ini akan menyebabkan diri kita semakin jauh dari Tuhan, ini artinya seakan-akan kita mengatakan pada Tuhan bahwa kita tidak membutuhkan bantuan-Nya.

Mempraktekkan Ho’oponopono akan membantu kita untuk belajar melepaskan “ikatan” kita pada setiap pikiran negative dan permasalahan yang kita hadapi. Karena seperti yang kita ketahui, ketika kita larut dalam pikiran negative kita, misalnya kekhawatiran, maka sebenarnya kita semakin menambahkan kekhawatiran itu dalam memori kita alih-alih menghilangkan dan melenyapkannya.

Dengan mempraktekan Ho’oponopono, maka Ho’oponopono akan selalu membantu kita untuk selalu percaya dan memasrahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan. Ya, karena kita percaya bahwa kehendak Tuhanlah yang terbaik.

Ya, setiap kali mempraktekkan Ho’oponopono, maka turut membantu menghapus memori yang terakumulai di dunia ini.

Bagaimana Cara Mempraktekkan Ho’oponopono untuk Membersihkan Memori Negatif?

Sangatlah mudah untuk mempraktekkan Ho’oponopono dan membantu membersihkan berbagai memori yang ada di dunia ini. Kita dapat mengafirmasikan dan mengulang-ulang kalimat-kalimat sebagai berikut :

“Saya Menyesal” atau “I am Sorry”,
“Maafkan Saya” atau “Forgive Me”,
“Terima kasih” atau “Thank You”,
“Saya Mencintaimu” atau “I Love You”

Ya, sesederhana itu untuk melakukan perubahan dalam hidup kita. Setiap kali kita mengulang-ulang baik salah satu saja maupun seluruh kalimat itu, ini artinya kita sedang melepaskan ingatan-ingatan negative dari pikiran kita. Dan tindakan selanjutnya adalah memasrahkan diri dan percaya sepenuhnya dengan ikhlas kepada Tuhan, biarkan Tuhan dengan kuasa-Nya yang ajaib dan mengagumkan menghapus berbagai memori-memori negative dari pikiran kita.

>Membuka Rahasia Huruf Hijaiyah

>

بسم الله الرحمن الرحم
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam- penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang- orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. AL-FATH ayat 29)

Ada dua puluh sembilan huruf Hijaiyah. Awalnya adalah alif, kemudian ba, kemudian ta, dan akhirnya adalah ya. Huruf kedua, Ba, merangkum semua pengetahuan tentang wujud semesta. Ba adalah Bahr, Samudera. Setiap wujud sejatinya meng-ada di dalam “samudera” abadi ini. Renungkanlah perlahan sekali…

Ba-Bahr Al Qudrah-Samudera Kehendak
Tubuh kita dan segala benda-benda, air yang kita teguk dan udara yang kita hirup, segala yang kita lihat sentuh dan rasakan, padat cair dan gas, semuanya terbangun dari atom-atom. Kita semua sudah tahu itu. Meski atom bukanlah elemen terkecil dari benda-benda, sebagaimana telah ditunjukkan oleh para ahli fisika kuantum, mari kita batasi perjalanan kita hanya sampai di atom ini. Inti atom (nucleus) merupakan pusat atom. Seberapa besar inti atom ini? Jika kita perbesar ukuran sebiji atom menjadi sebesar bola berdiameter 200 meter, maka besarnya inti atom adalah sebesar sebutir debu di pusatnya.

Hebatnya, sebutir debu ini membawa 99,95% massa atom seluruhnya yang dipadatkan oleh strong nuclear force ke dalam partikel proton. Sementara elektron-elektron sangatlah ringan dan bergerak mengelilingi proton pada jarak yang jauh sekali. Seberapa jauh? Jika kita perbesar ukuran elektron menjadi sebesar biji kelereng, maka jarak antara elektron ini ke inti atom adalah sejauh satu kilometer! Ada apa di antara elektron dengan proton? Tidak ada apa-apa. Hanya ruang kosong semata sepanjang jarak satu kilometer itu!

Sebutir garam terdiri dari banyak sekali atom. Jika kita bisa menghitung satu milyar atom dalam sedetik, maka kita membutuhkan lebih dari lima ratus tahun untuk menghitung jumlah seluruh atom di dalam sebutir garam saja! Atom-atom itu secara rapi membangun wujud sebutir garam. Dan di dalamnya terbentang ruang kosong di antara atom-atomnya. Sebagaimana samudera. Sebutir garam mewujud di dalamnya. Ia “berenang” dan meng-ada di dalamnya. Juga kita dan semua benda-benda.

Wujud kita sejatinya selalu berada di dalam samudera ruang kosong….di dalam samudera atomis gaya-gaya….di dalam samudera kehendakNya (Bahr al-Qudrah)…

Kaf Ha Yaa ‘Ain Shood Yaa Siin Alif Lam Miim

Dari Husein bin Ali bin Abi Thalib as. :
Seorang Yahudi mendatangi Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as bersama Nabi.
Yahudi itu berkata kepada Nabi Muhammad SAW : “apa faedah dari huruf hijaiyah ?”
Rasulullah SAW lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib as, “Jawablah”.
Lalu Rasulullah SAW mendoakan Ali, “ya Allah, sukseskan Ali dan bungkam orang Yahudi itu”.
Lalu Ali berkata : “Tidak ada satu huruf-pun kecuali semua bersumber pada nama-nama Allah swt”.
Kemudian Ali berkata :

  1. “Adapun Alif artinya tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup dan Kokoh,
  2. Adapun Ba artinya tetap ada setelah musnah seluruh makhluk-Nya.
  3. Adapun Ta, artinya yang maha menerima taubat, menerima taubat dari semua hamba-Nya,
  4. adapun Tsa artinya adalah yang mengokohkan semua makhluk “Dialah yang mengokohkan orang-orang beriman dengan perkataan yang kokoh dalam kehidupan dunia”
  5. Adapun Jim maksudnya adalah keluhuran sebutan dan pujian-Nya serta suci seluruh nama-nama-Nya.
  6. Adapun Ha adalah Al Haq, Maha hidup dan penyayang.
  7. Kha maksudnya adalah maha mengetahui akan seluruh perbuatan hamba-hamba-Nya.
  8. Dal artinya pemberi balasan pada hari kiamat,
  9. Dzal artinya pemilik segala keagungan dan kemuliaan.
  10. Ra artinya lemah lembut terhadap hamba-hamba-Nya.
  11. Zay artinya hiasan penghambaan.
  12. Sin artinya Maha mendengar dan melihat. 
  13. Syin artinya yang disyukuri oleh hamba-Nya.
  14. Shad maksudnya adalah Maha benar dalam setiap janji-Nya.
  15. Dhad artinya adalah yang memberikan madharat dan manfaat.
  16. Tha artinya Yang suci dan mensucikan,
  17. Dzha artinya Yang maha nampak dan menampakan seluruh tanda-tanda.
  18. Ayn artinya Maha mengetahui hamba-hamba-Nya.
  19. Ghayn artinya tempat mengharap para pengharap dari semua ciptaan-Nya.
  20. Fa artinya yang menumbuhkan biji-bijian dan tumbuhan.
  21. Qaf artinya adalah Maha kuasa atas segala makhluk-Nya
  22. Kaf artinya yang Maha mencukupkan yang tidak ada satupun yang setara dengan-Nya, Dia tidak beranak dan tidak diperanakan.
  23. Adapun Lam maksudnya adalah maha lembut terhadap hamba-nya.
  24. Mim artinya pemilik semua kerajaan.
  25. Nun maksudnya adalah cahaya bagi langit yang bersumber pada cahaya arasynya.
  26. Adapun waw artinya adalah, satu, esa, tempat bergantung semua makhluk dan tidak beranak serta diperanakan.
  27. Ha artinya Memberi petunjuk bagi makhluk-Nya.
  28. Lam alif artinya tidak ada tuhan selain Allah, satu-satunya serta tidak ada sekutu bagi-Nya.
  29. Adapun ya artinya tangan Allah yang terbuka bagi seluruh makhluk-Nya”. 

Rasulullah lalu berkata “Inilah perkataan dari orang yang telah diridhai Allah dari semua makhluk-Nya”.
Mendengar penjelasan itu maka yahudi itu masuk Islam.

Dari Ibrahim bin Khuttab, dari Ahmad bin Khalid, dari Salamah bin Al Fadl, dari Abdullah bin Najiyah, dari Ahmad bin Badil Al Ayyamy, dari Amr bin Hamid hakim kota ad Dainur, dari Farat bin as Saib dari Maimun bin Mahran, dari Ibnu Abbas dan sanadnya Rosulullah SAW, ia berkata: “Segala sesuatu ada penjelasan (tafsir)nya yang diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya”.

Kandungan empat unsur alam  semesta dalam huruf hijaiyah, yaitu:

  1. Unsur api : alif, haa’, tha’, shad, mim, fa’, syin.
  2. Unsur udara : ba’, wawu, ya’, nun, shat, ta’, dha’.
  3. Unsur air : jim, za’, kaf, sin, qaf, tsa’, zha’.
  4. Unsur tanah : ha’, lam, ‘ain, ra’, kha’, ghain.

30 kunci huruf hijaiyah yang berada di tubuh manusia yaitu:
1. alif = hidung
2. ba” = mata
3. ta” = tempat mata(lubang tempat mata)
4. tsa” = bahu kanan
5. jim = bahu kiri
6. ha = tangan kanan
7. kha = tangan kiri
8. dal = telapak tangan kanan dan kiri
9. dzal = kepala dan rambut
10. ro” = rusuk kanan
11. zai = rusuk kiri
12. sin = dada kanan
13. syin = dada kiri
14. shod = pantat kanan
15. dhod = pantat kiri
16. tho” = hati
17. zho” = gigi
18. ain = paha kanan
19. ghoin = paha kiri
20. fa” = betis kanan
21. kof = betis kiri
22. kaf = kulit
23. lam = daging
24. mim = otak
25. nun = nur/cahaya
26. wau = telapak kaki kanan dan kiri
27. HA” = sungsum tulam
28. lam alif = manusia utuh
29. hamzah = memenuhi segala
30. ya” = mulut/manusia

Affirmasi:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan ……………….

contoh:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan ALIF
contoh:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan Hamzah

30 kunci dipakai untuk membersihkan bagian bagian tubuh dari hal -hal yang negatif.sehingga tubuh dapat berfungsi normal.dan tentunya meningkatkan tingkat kita dalam hal dunia dan spiritual..

Nb.
Artikel ini sekedar sebagai referensi bahan kajian untuk seluruh praktisi QUANTUM TRANCEFORMASI  NAQS DNA. Dan sebenarnya masih banyak lagi kajian mengenai ilmu huruf ini, yaitu diantaranya mengenai ilmu khodam huruf dan lain sebagainya Yang mana kajian itu tidak saya tampilkan di sini karena sudah terlalu jauh dari prinsip dasar NAQS DNA.

Huruf hijaiyah itu adalah Intisari Asma-asma Allah Ta’ala. Hanya Allah swt, saja yang Maha Mengetahui rahasianya. Bila ada seorang Ulama Sufi dibukakan rahasia huruf, itu pun masih sebagian kecil sekali, dibanding samudera rahasia huruf itu sendiri.

Allah swt, tidak memerintahkan kita agar menyelidiki rahasia-rahasia ghaib yang tersembunyi dibalik huruf-huruf hijaiyah. Kecuali jika Allah swt, menghendaki hambaNya untuk mengetahuinya, Allah swt membukakan hijab huruf itu. Dan itu pun hanya kurang dari setetes samuderaNya hakikat huruf yang tiada hingga. Oleh karena itu, janganlah kita membatasi diri terhadap rahasia & karunia ilmu dari Allah swt.

INILAH BEBERAPA PRINSIP DASAR METHODE NAQS DNA :

  • Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)
  • Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra`: 82)
  • “Katakanlah: ‘(Al-Qur`an) itu adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman’.” (Fushshilat: 44)
  • Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur`an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21)
  • Dari Syifa` bintu Abdullah radhiallahu ‘anha:
    أَنَّهَا كَانَتْ تُرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا جَاءَ اْلإِسْلاَمُ، قَالَتْ: لاَ أَرْقِي حَتَّى اسْتَأْذَنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَتَيْتُهُ فَاسْتَأْذَنْتُهُ. فَقَالَ عَنْهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ارْقِي مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهَا شِرْكٌ

    Dahulu dia meruqyah di masa jahiliyyah. Setelah kedatangan Islam, maka dia berkata: ‘Aku tidak meruqyah hingga aku meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu dia pun pergi menemui dan meminta izin kepada beliau. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Silahkan engkau meruqyah selama tidak mengandung perbuatan syirik’.” (HR. Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan yang lainnya. Al-Huwaini berkata: “Sanadnya muqarib.” Ibid, hal. 220). 

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapat satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. At-Tirmidziy 5/175, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/9 serta Shahiihul Jaami’ Ash-Shaghiir 5/340)