>Intinya Bukan Mursyid & Thariqah, Tapi Apakah Niat Di Hatimu Tulus Mencari Allah..?

>

Sebiji buncis meronta dan terus melompat
hingga hampir melampaui bibir kuali
di mana ia tengah direbus di atas api.

“Kenapa kau lakukan ini padaku?”

Dengan sendok kayunya,
Sang Juru Masak mementungnya jatuh kembali.

“Jangan coba-coba melompat keluar.
Kau kira aku sedang menyiksamu?
Aku memberimu cita rasa!
Sehingga kau layak bersanding dengan rempah dan nasi
untuk menjadi gelora kehidupan dalam diri seseorang.

Ingatlah saat-saat kau nikmati regukan air hujan di kebun.
Saat itu ada untuk saat ini!”

Pertama, keindahan. Lalu kenikmatan,
kemudian kehidupan baru yang mendidih akan muncul.
Setelah itu, Sang Sahabat akan punya sesuatu yang enak untuk dimakan.

Pada saatnya, buncis akan berkata pada Sang Juru Masak,
“Rebuslah aku lagi. Hajar aku dengan sendok adukan,
karena aku tak bisa melakukannya sendirian.

Aku seperti gajah yang melamun menerawang
tentang taman di Hindustan yang dulu kutinggalkan,
dan tidak memperhatikan pawang pengendali arah jalan.
Engkaulah pemasakku, pawangku, jalanku menuju cita rasa kesejatian.
Aku suka caramu membuat masakan.”

“Dulu aku pun seperti engkau,
masih hijau dari atas tanah. Lalu aku direbus matang dalam waktu,
direbus matang dalam jasad. Dua rebusan yang dahsyat.

Jiwa binatang dalam diriku tumbuh kuat.
Kukendalikan dia dengan latihan,
lalu aku direbus lagi, dan direbus lagi.
Pada satu titik aku melampaui itu semua,

dan menjadi gurumu.1”

Seorang Mursyid yang sejati, yang menerima perintah khusus dari Allah untuk menjadi guru bagi para pejalan sufi, bisa tampil dengan berbagai macam wajah. Ada kalanya ia tampak lembut dan sabar, begitu mudah dipahami. Ada kalanya pula ia tampil dengan galak dan keras, begitu membingungkan dan sulit dipahami.

Seorang mursyid akan mendidik murid-muridnya untuk belajar mengendalikan seluruh bala tentara hawa nafsu dan syahwatnya, untuk mengenal segala macam aspek yang ada dalam diri masing-masing, dan untuk memunculkan potensi dirinya yang sesungguhnya. Potensi yang diletakkan Allah dalam qalb masing-masing manusia ketika ia dijadikan.


Dalam tahap pembersihan diri ini, hampir semua murid biasanya meronta. Tentu saja, karena hawa nafsu dalam diri kita pasti meronta jika dipisahkan dari hal-hal yang disukainya. Tapi demi memunculkan diri muridnya yang asli, maka mau tak mau, Sang Mursyid harus melakukannya. Sang Mursyid harus memaksa murid-muridnya untuk belajar mengendalikan seluruh bala tentara hawa nafsu dan syahwat (Rumi menyebutnya sebagai ‘jiwa binatang’) dalam diri masing-masing.

Inilah yang dimaksud Rumi dalam puisinya di atas, bahwa sebenarnya tugas seorang mursyid adalah ‘merebus’ murid-muridnya di atas api, demi memunculkan cita rasanya yang asli dalam diri masing-masing. Pada awalnya, biasanya buncis akan meronta dan bisa jadi, ingin lari. Pada tahap ini, mau tak mau, mursyid kadang perlu ‘mementungnya’ supaya kembali tenggelam dalam rebusan air mendidih. Tapi sekali si murid sudah merasakan manfaat bimbingan Sang Mursyid dalam perkembangan jiwanya, maka ia akan terus-menerus meminta untuk ‘direbus’ kembali.

Apakah ini berarti bahwa seorang murid harus memposisikan dirinya di hadapan gurunya seperti mayat yang dibolak-balik oleh pemandinya?

Nah, ini juga pemahaman yang perlu dikoreksi. Ada beberapa hal yang biasanya diajukan kepada para pejalan sufi yang ber-thariqat maupun yang memiliki mursyid, yang belakangan ini sering mengemuka. Berikut dua contoh representatif ketidaktepatan penilaian yang digeneralisir tersebut.

Pertama, “Saya bukan pengikut tasawuf formal. Saya tidak pernah bersumpah setia di bawah telapak tangan seorang guru spiritual untuk hanya menaati dia seorang, karena saya tidak menyukainya. Saya pikir, tidak ada pemikiran dan kesadaran sehat yang bisa terbangun jika seseorang telah memutuskan untuk berhenti bertanya, dan bersikap kritis.” 2

Kedua, “…Sekurang-kurangnya ada tiga hal penting yang sering dipersoalkan orang mengenai tarekat ini. Pertama, soal otoritas guru yang mutlak tertutup dan cenderung bisa diwariskan. Kedua, soal bai’at yang menuntut kepatuhan mutlak seorang murid kepada sang guru, seperti mayat di depan pemandinya; dan ketiga, soal keabsahan (validitas) garis silsilah guru yang diklaim setiap tarekat sampai kepada Nabi Muhammad Saw…Salah satu ciri utama tasawuf positif adalah rasionalitas. Karena itu, tasawuf positif harus menolak segala bentuk kepatuhan buta kepada seorang manusia—yang bertentangan dengan semangat Islam.” 3

Sekilas, kedua penilaian ‘kritis’ atas mursyid dan thariqah tersebut terkesan memperjuangkan keotonoman individu beserta rasionalitasnya, namun sayangnya terlalu terburu-buru melakukan generalisasi. Terlebih, kedua penilaian ‘kritis’ tersebut lebih merefleksikan prasangka semata ketimbang pembuktian melalui pengalaman menggeluti thariqah.

Posisi seperti itu tak ubahnya seperti komentator sepakbola dengan pemain sepakbola. Seorang komentator sepakbola sangat mahir dalam menganalisis kesalahan pemain, strategi yang sedang dimainkan, kegemilangan permainan, dan lain sebagainya. Namun yang lebih mengetahui dan merasakan realitasnya, bersusah-payah, pontang-panting, senantiasa waspada terhadap setiap serangan lawan, hingga akhirnya menjadi pemilik sejati pengetahuannya adalah si pemain sepakbola itu sendiri.

Sahabat Ali bin Abi Thalib r.a pernah berkata,

“Bila kau merasa cemas dan gelisah akan sesuatu, masuklah ke dalamnya, sebab ketakutan menghadapinya lebih mengganggu daripada sesuatu yang kautakuti itu sendiri.” 4

Namun, di sisi lain, bisa dimaklumi juga bahwa generalisasi bermasalah—karena ketakutan memasuki dunia thariqah secara langsung—seperti terlihat pada kedua penilaian ‘kritis’ di atas, dilandaskan pada perkembangan mutakhir berbagai thariqah klasik. Maka lahirlah penilaian yang digeneralisasi sebagai karakter sejati seluruh tarekat, sehingga luput mengamati prinsip terdasar kemursyidan dan kethariqahan.

Deviasi adalah hal yang lazim terjadi dalam perjalanan sejarah kemanusiaan. Bahkan berbagai kitab suci pun sering mengemukakan bagaimana di setiap masa senantiasa terjadi deviasi ajaran agama sepeninggal sang pembawa risalah atau nubuwahnya. Ini tak ubahnya air yang semakin keruh ketika menjauhi sumber mata airnya, sehingga praktis di hilir hanya akan ditemui air kotor yang sudah tercampur sampah.

Begitu pula halnya dengan thariqah. Ketika sang pendiri atau mursyid sejatinya meninggal, maka hanya kehendak dan izin Allah Ta‘ala semata yang bisa menjamin kemurnian dan keberlanjutan thariqah tersebut, yaitu, dengan menghadirkan mursyid sejati pengganti. Apabila Allah Ta‘ala tidak menghadirkan mursyid sejati pengganti, berarti thariqah tersebut sudah berakhir. Kemursyidan itu adalah misi hidup, dan hanya boleh dipegang oleh mereka yang telah mencapai ma‘rifat dan misi hidupnya adalah mursyid. Tidak semua orang yang telah ma‘rifat boleh serta merta menjadi mursyid. Wali Quthb (pemimpin para wali di suatu zaman) seperti Ibn ‘Arabi pun tidak menjadi mursyid thariqah.

Oleh karena itu, sebagaimana puisi Rumi tadi, seseorang tidak bisa mengangkat dirinya sendiri menjadi seorang guru spiritual sebelum ia sendiri sudah pernah, dan berhasil, melalui semua ’rebusan’, dan kemudian memperoleh pengetahuan dari Allah ta’ala bahwa misi hidupnya memang sebagai seorang mursyid.

Kemursyidan adalah sebuah tugas langsung dari Allah ta’ala (misi hidup). Oleh karena itu, jabatan kemursyidan pun tidak dapat diwariskan, sekalipun dengan landasan senioritas, keluasan pengetahuan, atau bahkan garis keturunan. Lantas, bagaimana dengan para salik yang tersisa apabila Allah Ta‘ala tidak lagi menghadirkan mursyid sejati pengganti di sebuah thariqah? Tetaplah berpegang teguh pada dua hal paling berharga yang ditinggalkan Rasulullah Muhammad Saw, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Jangan mengada-adakan mekanisme regenerasi mursyid hanya karena ikatan emosional pada thariqah sebagai lembaga, sehingga akhirnya menyerahkan ‘amr (urusan) kepada orang yang bukan ahlinya.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, katanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda: “Allah tidak menarik kembali ilmu dengan jalan mencabutnya dari qalb manusia, tetapi dengan jalan mematikan ulama. Apabila ulama telah punah, maka masyarakat akan mengangkat orang-orang bodoh menjadi pemimpin yang akan dijadikan tempat bertanya. Orang-orang bodoh ini akan berfatwa tanpa ilmu; mereka itu sesat dan menyesatkan.” (Al-Hadits)

Mursyid sejati adalah pembimbing spiritual para salik thariqah untuk memurnikan dan menyucikan diri, sebagaimana Rasulullah Saw pun adalah mursyid bagi para sahabat utama yang terpanggil untuk menempuh suluk. Mursyid sejati bertugas membantu saliknya mengenal al-haqq secara bertahap sesuai perkembangan nafs-nya, serta mengembalikannya ke penyembahan yang murni kepada Allah Ta‘ala.

Namun, para salik pun akan dihadapkan pada dilema akan ketidakpercayaan kepada mursyid yang akan menjadi racun dan penyebab kegagalannya dalam bersuluk, tetapi dia pun tidak boleh taklid buta kepada mursyidnya. Kepercayaan tidak bisa dipaksakan. Kepercayaan harus muncul secara alami melalui proses yang alami pula, yang muncul sendirinya dari qalb, sehingga mutlak diperlukan penguatan dengan ‘ilm.

Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah muhtadun*. (QS Yâsîn [36]: 21)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ‘ilm tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan fu‘ad semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al-Isrâ’ [17]: 36)

* Muhtaduun: orang yang telah menerima petunjuk Allah atas segala aspek kehidupannya, dan semua tindakannya semata-mata hanya berdasarkan petunjuk Allah ta’ala kepada dirinya.

Dalam kedua penilaian ‘kritis’ terhadap thariqah dan mursyid di atas, hubungan antara mursyid dengan saliknya dipermasalahkan secara terlampau disederhanakan, karena dianggap menuntut ketaatan seperti mayat dengan pemandinya. Sikap seperti sangat potensial untuk menghambat terbentuknya individu modern otonom. Padahal, hakikatnya tidak pernah ada manusia yang otonom. Manusia hanya terbagi menjadi dua golongan, yaitu, mereka yang diperbudak oleh Allah Ta‘ala atau diperbudak oleh selain Allah Ta‘ala (syahwat dan hawa nafsu).

Benarkah dalam thariqah berlangsung ketaklidan buta tak bersyarat dari seorang salik kepada mursyidnya? Kepatuhan seperti jenazah di hadapan pemandinya? Permasalahannya, bagaimana seorang salik bisa taklid kepada sang Mursyid, sementara perkataan sang Mursyid sendiri ternyata seringkali salah ditafsirkan?

Sebagai contoh, dalam sebuah thariqah, ketika seorang mursyid memerintahkan seorang salik untuk bersiaga menghadapi sebuah serangan sebentar lagi, si salik menafsirkan bahwa ia tengah diajari untuk bersiaga terhadap “serangan” lahiriah seperti perkelahian, sementara sang Mursyid sebenarnya tengah mengajari kesiagaan batiniah terhadap “serangan” masalah kehidupan.

Bagaimana dengan berbagai pertanyaan dalam kepala kita yang muncul dan berlalu-lalang? Setiap pertanyaan yang muncul di benak manusia itu pasti ada hak jawabannya. Itu tak ubahnya seseorang yang tengah menunggu di ruang tamu. Kemudian dari arah dapur tercium olehnya bau masakan. Bersabarlah, karena tepat pada saatnya makanan tersebut akan dihidangkan ke hadapannya.

Tidak semua pertanyaan harus terjawab saat ini juga. Bersabarlah, karena jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul di benak ada hak jawabannya, hanya tinggal masalah waktu saja. Namun, tak jarang manusia begitu arogan sehingga merasa bahwa rasionalitasnya pasti bisa memahami segala hal saat ini juga, dan bisa menghakimi segala perkara dengan bermodalkan ilmu yang kini dimilikinya. Seakan rasionalitas itu tidak punya kelemahan dan batasan.

Biasanya terhadap salik tipe fundamentalis rasional seperti ini, mursyid sejati akan ‘menghajar’ habis-habisan keliaran berpikirnya agar bisa fokus demi kebaikan salik itu sendiri. Hal yang paling sulit adalah menjinakan keliaran pikiran untuk fokus kepada perkara fundamental: misi hidup yang Allah Ta‘ala amanahkan kepada dirinya. Pikiran yang liar memancar kesana-kemari itu seperti lampu pijar 10 watt, hanya cocok dipakai untuk lampu tidur. Namun, apabila cahaya 10 watt tersebut difokuskan menjadi laser, maka besi pun dapat ditembusnya.

Munculnya tawaran seperti tasawuf tanpa tarekat maupun tanpa guru saat ini juga berasalan, namun bukan berarti kritiknya terhadap dunia thariqah yang digeneralisir tersebut tepat sasaran. Semangat untuk mengedepankan akal sehat atau rasionalitas dalam mengkaji tashawwuf merupakan salah satu hal yang penting. Karena Allah Ta‘ala mengaruniakan otak di tubuh manusia, maka cara mensyukurinya adalah memanfaatkannya untuk berpikir maksimal di alam terendah dari seluruh alam ciptaan-Nya, yaitu dunia. Namun, Ad-Diin (Agama) adalah perkara yang baru akan terpahami apabila seluruh bola akal manusia—otak nalar, fu‘ad (bentuk primitif lubb) dan lubb (akal nafs, orang yang telah memiliki lubb disebut sebagai ulil albab)—terbuka keseluruhannya. Sayangnya, sangat sedikit di antara manusia yang telah Allah anugerahkan kemampuan akal paripurna lahir dan batinnya seperti ini.

Di atas semuanya, bukanlah otak yang cerdas dan banyaknya bacaan yang dapat menyelamatkan manusia dari berbagai jebakan syahwat dan hawa nafsu dalam beragama, tetapi niat tulus murni mencari Allah Ta‘ala. Seorang buta huruf pun bisa Allah rahmati menjadi ‘ulil albâb dan ‘arifin (orang yang telah mencapai ma‘rifat), seperti Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen, maupun banyak sufi buta huruf lainnya, semata karena adanya niat tulus murni untuk mencari dan berserah diri kepada Allah Ta‘ala. Niat itu pulalah yang membuat Allah Ta‘ala berkenan menganugrahkan cahaya iman ke dalam qalb.

Misalnya, seseorang menyatakan bahwa karena dia memiliki kecenderungan saintifik, maka dia memerlukan penjelasan ilmiah terlebih dahulu sebelum memutuskan bersuluk. Namun, kebanyakan manusia memiliki mentalitas untuk tergesa-gesa menyimpulkan sebelum tuntas menelaah. Kecenderungan sikap saintifik itu baik, terlebih karena setiap manusia itu unik serta memiliki kebutuhan dan jalan masuk berbeda-beda. Ibaratnya, ada seekor kucing (pertanyaan) yang selalu mengeong dalam rumah (pikiran) kita, karena lapar meminta makanan (jawaban). Apabila kucing (pertanyaan) tersebut tidak diberi makanan (jawaban), maka rumah (pikiran) kita akan berisik oleh suara mengeongnya. Akibatnya, kita pun tidak bisa belajar dengan tenang. Karena itu, berilah makanan (jawaban) yang tepat untuk mengenyangkan kucing (pertanyaan) dalam rumah (pikiran) kita. Penuhilah haknya, sehingga dia bisa diam dan kita pun bisa belajar dengan tenang. Apabila makanan (jawaban) belum ditemukan, bersabarlah, saatnya pasti akan tiba.

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu penyebab munculnya sikap alergi thariqah adalah ekses dari berbagai praktik yang dilakukan thariqah yang telah kehilangan ulamanya (baca: mata airnya). Misalnya, dahulu kala muncul sebuah thariqah. Lazimnya mereka melakukan riyadhah berkala secara bersama-sama. Kebetulan mursyid thariqah tersebut selalu memelihara kucing yang sering mengeong di malam hari karena lapar. Agar suara mengeong kucing tersebut tidak mengganggu riyadhah, maka sang mursyid memerintahkan muridnya untuk memasukkan kucing tersebut ke dalam sebuah ruangan, memberinya makan dan menguncinya. Hal itu berjalan terus selama bertahun-tahun, hingga sang mursyid meninggal.

Sepeninggal sang mursyid, para salik generasi pertama thariqah tersebut tetap memasukkan kucing peliharaan sang mursyid ke dalam sebuah ruangan, memberinya makan dan menguncinya agar tidak mengganggu riyadhah. Namun, para salik generasi kedua dari thariqah tersebut—yang tidak tahu sebab akibat dari perbuatan tersebut—mulai mengira bahwa perbuatan itu adalah sesuatu yang harus dilakukan sebelum mereka riyadhah. Maka, ketika sampai di salik generasi ketiga, muncullah semacam kewajiban baru, yaitu adanya sebuah keharusan sebelum riyadhah untuk mencari kucing yang kemudian harus dimasukkan ke dalam sebuah ruangan, kemudian memberinya makan dan menguncinya. Ketika sampai di salik generasi keempat, muncullah buku tentang makna batin dan hakikat memasukkan kucing ke dalam sebuah ruangan, memberinya makan dan menguncinya sebelum melakukan riyadhah. Dan, di salik generasi kelima hingga seterusnya, perbuatan tadi sudah menebarkan citra ketidakrasionalan dan ketidaksejalanan thariqah tersebut dengan syariat.

Dalam sejarah tashawwuf ada juga tipe sufi yang dinamakan sebagai Uwaysiyyah. Nama ini merujuk kepada seorang tokoh sezaman Rasulullah Saw. yang mengetahui ihwal beliau Saw. tetapi tidak pernah bertemu secara langsung sepanjang hidupnya. Demikian pula Rasulullah Saw., mengetahui Uways Al-Qarni tanpa pernah bertemu dengannya. Hal itu disebabkan karena Uways setibanya di Mekkah tidak bisa menunggu untuk bertemu dengan Rasulullah Saw (yang ketika itu sedang pergi) sebab ia telah berjanji kepada ibunya di kota lain untuk tidak berlama-lama meninggalkannya. Kondisi Uways berbeda dengan Salman Al-Farisi yang Allah Ta‘ala bukakan jalan untuk bisa bertemu dengan Rasulullah Saw., meskipun berasal jauh dari Persia, dan harus dua kali pindah agama sebagai proses pencariannya.

Salah satu sufi yang tergolong Uwaysiyyah adalah seorang Iran, Abu al-Hasan Kharraqani, yang pernah menyatakan: “Aku kagum pada salik-salik yang menyatakan bahwa mereka membutuhkan Mursyid ini dan itu. Kalian tahu bahwa aku tidak pernah diajari manusia manapun. Allah Ta‘ala adalah pembimbingku, kendatipun demikian, Aku menaruh respek besar pada semua Mursyid.”

Dari pernyataan seorang Uwaysiyyah tersebut bisa terlihat bahwa yang menjadi pokok persoalan bukanlah apakah seorang Mursyid diperlukan ataukah tidak, apakah perlu ikut thariqah atau tidak. Tetapi, apakah kita adalah seorang pencari Allah Ta‘ala dan berazam untuk mencari jalan kepada-Nya? Apabila ya, maka biarlah Allah Ta‘ala yang mengalirkan dan membukakan jalan hidup kita, entah itu ikut thariqah atau tidak, apakah akan dipertemukan dengan mursyid sejati di zamannya ataukah Allah Ta‘ala sendiri yang akan mengajari. Bukan dengan menyatakan terlalu dini bahwa thariqah dan Mursyid itu tidaklah diperlukan.

Ketidakberanian mengambil resiko untuk mengarungi lautan (thariqah), terlebih terburu-buru melontarkan pernyataan seolah heroik yang mengisyaratkan keengganan mencari mursyid sejati zamannya, atau senantiasa memilih berjarak ala saintis serta mengandalkan kecerdasan otak untuk bertashawwuf secara wacana, bisa dipastikan mustahil mencapai tingkatan ma‘rifat. Rumi menggambarkan hal itu sebagai berikut:

Ketika kauletakkan muatan di atas palka kapal, usahamu itu tanpa jaminan,

Karena engkau tak tahu apakah engkau bakal tenggelam atau selamat sampai tujuan.

Jika engkau berkata, “Aku takkan berlayar sampai aku yakin akan nasibku,” maka engkau takkan berniaga: lantas rahasia kedua nasib ini takkan pernah terungkap.

Saudagar yang penakut takkan meraih untung maupun rugi; bahkan sesungguhnya ia merugi: orang harus mengambil api agar mendapat cahaya.

Karena seluruh kejadian berjalan di atas harapan, maka hanya Imanlah tujuan terbaik harapan, karena dengan Iman memperoleh keselamatan.5

Amati kisah pencarian Salman Al-Farisi. Sebelum mengenal Tuhannya Muhammad Saw, dia adalah seorang Majusi. Kesadaran yang muncul atas kejanggalan perbuatannya sendiri untuk menjaga agar api yang disembahnya sebagai Tuhan tidak padam, membuat Salman Al-Farisi berani mengambil resiko berpindah ke agama Kristen. Setelah beberapa kali berpindah mengabdi pada beberapa pendeta, dia ditunjuki ihwal keberadaan Nabi akhir zaman. Dan pertemuannya dengan Rasullah Saw, membuat Salman Al-Farisi berani mengambil resiko kedua kalinya untuk berpindah ke agama Islam.

Thariqah adalah wadah pengajaran tashawwuf yang menuntun pemanifestasiannya melalui ujian-ujian kehidupan. Adapun yang dimaksud dengan syariat adalah Al-Islam, yaitu syariat lahir yang lebih dikenal sebagai rukun Islam. Antara syariat dan tashawwuf (keihsanan) tidak boleh dipisahkan, sedangkan thariqah—sebagai manifestasi lahiriah tashawwuf—adalah perbuatan (af’al) Rasulullah Saw dalam kehidupan dunia, yang tiada lain merupakan syariat juga. Apabila syariat adalah permulaan thariqah, maka thariqah adalah permulaan haqiqat. Namun, bukan berarti yang sebelumnya sudah tidak berlaku lagi untuk tahap berikutnya, atau bahkan ditinggalkan begitu saja. Sebagaimana dikatakan oleh Hamzah Fansuri, awal dari thariqah itu adalah taubat.

Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku di malam hari, maka buatlah untuk mereka thariqah yang kering dalam laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut.” (QS Thâhâ [20]: 77)

Thariqah adalah jalan kering dalam lautan, perjalanan seseorang menuju Tuhannya di muka bumi ini tanpa terbasahi oleh lautan duniawi. Tak ubahnya seperti ikan yang hidup di laut asin, tapi tidak menjadi asin karenanya. Thariqah bukanlah berarti seseorang itu harus hidup dengan mengabaikan dunia dan miskin. Manusia tidak mungkin bisa mencapai tingkatan ma‘rifat, yaitu mengenal Tuhannya, menemukan diri sejati serta misi hidupnya, dengan cara menjauhkan diri dan tidak bergaul dengan masyarakat serta tidak berikhtiar untuk penghidupannya dan menghargai syariat. Seseorang boleh saja kaya raya, seperti Nabi Sulaiman, tapi tidak boleh mengisi hatinya dengan kecintaan terhadap dunia. Inilah yang disebut dengan zuhud.

Apakah seseorang bisa menempuh jalan suluk dengan meninggalkan syariat? Nah, ini adalah hal yang mustahil. Jalan tasawuf adalah jalan seseorang untuk mulai belajar bersyariat secara batiniyah. Dan ini hanya bisa ditempuh setelah seseorang melakukan syariat lahiriah. Mustahil mencapai tujuan tasawuf jika seseorang meninggalkan syariat lahiriyah. Ada sebuah kisah nyata yang menarik untuk kita perhatikan berikut ini.

Suatu ketika, mursyid sebuah thariqah di Jawa Barat pernah didatangi beberapa orang lelaki yang ingin bersilaturahmi. Sang Mursyid bertanya, “Dari mana kalian tahu rumah saya?” Mereka menjawab, “Kami bertanya pada orang-orang di masjid agung kota ini, kira-kira siapa ulama yang bisa kami kunjungi untuk bersilaturahmi. Mereka menunjukkan kami ke rumah Bapak.”

Ternyata para lelaki itu telah sekian bulan selalu berpindah-pindah, tinggal dari satu masjid ke masjid lainnya. Sang Mursyid bertanya, “Apa yang kalian lakukan dengan tinggal di masjid-masjid seperti itu?” Mereka menjawab, “Kami mencari Allah, pak.” Sang Mursyid kembali bertanya, “Apakah kalian punya anak dan istri?” Mereka menjawab, “Punya pak?” Dengan keheranan sang Mursyid bertanya lagi, “Lantas bagaimana dengan anak istri kalian? Siapa yang merawat dan menafkahinya?” Mereka menjawab, “Kami telah tawakalkan kepada Allah, pak.”

Maka sang Mursyid berkata, “Bermimpi kalian ini. Bermimpi kalau kalian ingin mencari Allah sementara syariat lahir kalian abaikan. Secara syariat kalian diwajibkan untuk menafkahi istri, mendidik dan merawat anak, dan berbagai kewajiban lainnya sebagai ayah dan suami yang seharusnya ditunaikan. Kalian itu bermimpi kalau mencari Allah Ta‘ala, sementara syariat lahir diabaikan.”

Adapun thariqah itu sendiri mempunyai mempunyai tiga tujuan. Dua tujuan yang pertama adalah mendapatkan dua rahmat dari Allah.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hadid [57]: 28)

Tujuan pertama thariqah adalah mendapatkan rahmat pertama, yaitu cahaya iman dan kesucian bayi seperti pertama kali lahir. Suatu keadaan ketika manusia belum lagi menumpuk dosa. Keadaan ini dinamakan juga dengan al-muththaharûn.

Tujuan kedua dari thariqah adalah mendapatkan rahmat kedua, yaitu berupa Ruhul Quds yang akan mengingatkan manusia ihwal misi hidupnya, mengingatkan ihwal perjanjian primordial dengan Allah Ta‘ala (QS Al-A‘raf [7]: 172) dan membimbingnya dalam menjalankan misi hidup tersebut. Tahap inilah yang dinamakan sebagai ma‘rifat, tahap ketika seseorang setelah mengenal nafs-nya, maka akan mengenal Rabb-nya (tingkatan syuhada).

Sedang tujuan ketiga dari thariqah adalah menjadi hamba-Nya yang didekatkan (qarib). Fungsi mursyid adalah membimbing saliknya hingga sampai pada tujuan kedua dari thariqah, yaitu menjadi syuhada. Setelah itu, yang akan berperan sebagai mursyid adalah Ruhul Quds-nya sendiri untuk ber-dharma sebagai shiddiqiin.

Thariqah merupakan perjalanan kembali kepada Allah untuk menemukan diri sejati dan misi hidup tiap-tiap individu. Namun, perjalanan kembali kepada Allah mewajibkan berbagai ujian berat yang harus dilalui, hingga nafs manusia ditempa menjadi kuat. Tak ubahnya, api yang membakar logam hingga merah membara agar dapat dibentuk menjadi sesuatu yang berguna. Dengan tempaan ujian tersebut, sang hamba akan siap menerima amanah berupa misi hidup dalam posisi percaya dan dipercaya.

Melalui jalan suluk, seorang murid juga akan belajar untuk memperoleh ketenangan. Berbeda dengan anggapan umum bahwa ketenangan adalah hidup menjadi tentram dan tenang, ketenangan dalam tashawwuf adalah tidak goyahnya hati dalam menghadapi setiap permasalahan yang datang, menyambut masalah dan ujian sebagai jubah keagungan. Ujian itu hukumnya wajib bagi para salik yang berjalan mencari Allah Ta‘ala.

Ketenangan hidup yang semu, sebagaimana yang diinginkan banyak orang awam dalam ber-tashawwuf, bagi para sufi lebih merupakan isyarat bahwa Allah Ta‘ala tidak lagi peduli. Ketenangan dan hidup adem ayem, lancar dan tenang tanpa masalah merupakan isyarat bahwa Allah membiarkan seseorang hanya mendapatkan bagian di dunia saja, namun tidak di akhirat nanti. Ketenangan hidup yang semu ini justru membuat seseorang menjadi tidak lagi memiliki stimulus untuk merenung, tidak merasa membutuhkan Allah, dan statis.

Sayangnya, saat ini banyak sekali ungkapan yang menyatakan bahwa kegunaan untuk mempelajari tashawwuf adalah untuk mendapatkan ketenangan dan terapi bagi berbagai masalah kehidupan sehari-hari. Padahal, sejak dulu tashawwuf adalah jalan yang mewajibkan adanya ujian dalam setiap detik kehidupan. Para pengikutnya akan disucikan dan dibersihkan.

Suatu ketika, saat sedang makan siang, seorang salik bertanya kepada mursyidnya, “Pak, apakah tetangga di sekitar ini tahu bahwa Bapak adalah mursyid?” Beliau menjawab, “Ya, mereka tahu. Bahkan banyak di antara mereka yang datang kepada saya.” Kemudian salik itu bertanya kembali, “Lalu mengapa mereka tidak berguru pada Bapak?” Beliau menjawab, “Karena saya mengatakan kepada mereka, bahwa apabila kalian mau menjadi murid-murid saya maka kalian harus siap-siap dibersihkan. Harta-harta yang kalian dapatkan dengan cara yang tidak halal akan dihilangkan dari kalian. Ternyata mereka pun kemudian malah ketakutan dan mundur dengan sendirinya.”

Setelah membaca pracetak buku ‘Guru Sejati dan Muridnya’, melalui pemaparannya dalam buku ini, pembaca bisa melihat bagaimana Allah Ta‘ala membuat seorang sufi buta huruf dari pedalaman Sri Lanka memiliki ilmu sedalam ini. Hal ini menunjukkan bahwa rasionalitas hanyalah salah satu jalan saja—dan bukan yang teristimewa—untuk langkah awal mempelajari dunia tashawwuf. Selain itu, ini yang paling menarik, bahwa setelah Bawa Muhaiyaddeen hijrah ke Amerika, kebanyakan muridnya justru adalah orang kulit putih, yang secara umum dicap sebagai masyarakat paling rasional di muka bumi ini.

Wallahu‘alam bishawwab. []

Catatan Akhir:

  1. SUMBER ARTIKEL : suluk.blogsome.com
  2. Puisi Jalaluddin Rumi, “Chickpea to Cook,” dalam Barks, Coleman (trans.) “The Essential Rumi”. Castle Books, 1997. Dalam tulisan ini, puisi ini diterjemahkan oleh Herry Mardian.
  3. Miranda Risang Ayu, “Mencari Tuhan”, Basis, nomor 03-04, tahun ke-55, Maret-April 2006, hlm. 31, 34.
  4. Haidar Bagir, Buku Saku Tasawuf, Bandung: Mizan, April 2005, hlm. 178, 183-184.
  5. Muhammad Al-Bagir, Mutiara Nahjul Balaghah: Wacana dan Surat-surat Imam Ali R.A., Bandung: Mizan, cetakan ketiga, 1994, hlm. 130.
  6. Nicholson, Reynold A., Jalaluddin Rumi: Ajaran dan Pengalaman Sufi, Jakarta: Pustaka Firdaus, cet. 2, 1996, hlm. 30.

>Menembus Dimensi Ruang & Waktu seri 3 (LORONG WAKTU)

>

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” 
( QS. Al Baqarah 2:255 )

LORONG WAKTU
Teori Wormhole (lubang cacing) merupakan teori jalan pintas melewati ruang dan waktu. Istilah Wormhole diperkenalkan oleh John Archibald Wheeler pada tahun 1957. Teori ini bermula dari teori relativitas Albert Einstein. Dimana, ruang dan waktu adalah entitas tunggal, dalam 4 dimensi, dan gravitasi yang cukup kuat akan melekukkan ruang-waktu.

Melalui suatu model lorong, struktur ruang-waktu yang tertekuk dapat menghubungkan dua tempat dari ruang-waktu yang sangat jauh. Hal ini mencari penjelasan dari partikel fundamental dalam ruang-waktu.

Teori Wormhole dapat terbagi dua, yaitu Intra-universe dan Inter-universe. Intra-universe, yaitu kita dapat masuk ke jalan pintas dan keluar pada tempat lain yang masih berada pada semesta kita, sedangkan Inter-universe, kita dapat masuk ke jalan pintas dan keluar pada tempat yang berada di semesta lain (sesuai teori many world interpretation/Dunia Multi Dimensi).

Tidak ada yang datar atau solid. Jika diperhatikan maka semua materi pasti memiliki lubang atau kerutan di dalamnya. Hal tersebut merupakan prinsip dasar dan bahkan bisa diterapkan pada waktu. Ada kebenaran tentang dimensi keempat, dalam waktu ada sisi kosong, kerutan, lubang maupun celah.

Dengan skala yang amat sangat kecil bahkan lebih kecil dari molekul dan atom, ada sebuah tempat yang disebut dengan buih kuantum, di dalam sanalah keberadaan wormhole. Terowongan kecil atau jalan pintas untuk melewati kanal dan bentuk ruang dan waktu. Dengan tiba-tiba bisa menghilang masuk ke dalam dunia kuantum dan karena terhubung dengan lokasi dan waktu lainnya, maka akan muncul di sana.

[pakar.blogsome.com] Star Trek adalah satu contoh dari sekian banyak Science Fiction Film (film fiksi pengetahuan-ilmiah). Film ini disutradarai oleh Gene Roddenberry, dan bercerita tentang pengembaraan manusia dengan sebuah pesawat super canggih yang secara tidak sengaja masuk ke dalam area kehidupan baru. Pesawat tersebut adalah USS Enterprise dengan beberapa awak di dalam siap mengemban misi kemanusiaan menemukan celah-celah kehidupan.

Suatu ketika, pesawat USS Enterprise terjebak dalam suatu gangguan atau fluktuasi ruang-waktu subspace yang membuatnya memasuki suatu wilayah nan eksotik dan nostalgis: masa lalu. Sedemikian menggetarkannya peristiwa itu, karena USS Enterprise bertemu dengan USS Enterprise generasi sebelumnya yang dalam buku sejarah disebutkan telah hancur lebur dalam suatu peperangan, namun saat itu dalam keadaan utuh. Belum lagi hal mengejutkan lainnya, yakni perjumpaan para awak dengan officer wanita muda, Letnan Tasha Yarr, yang telah mati, tetapi saat itu dalam keadaan sehat-sehat saja alias masih hidup. Luar biasa! USS Enterprise kembali ke masa lalu, bahkan berjumpa dengan orang-orang yang telah mati. Ia telah melakukan perjalanan menembus kematian!

Tentu timbul pertanyaan dalam benak kita, benarkah kita dapat melakukan perjalanan ke masa lalu dan bertemu dengan para nenek moyang kita yang sudah meninggal, mungkin untuk menanyakan kebenaran sejarah yang ditulis saat ini? Atau, apa yang terjadi sekiranya kita dapat kembali ke masa lalu, kemudian membunuh kakek-nenek kita (namun tentu jangan dilakukan) yang belum sempat melahirkan kedua orang tua kita? Adakah kita tetap dalam bentuk seperti sekarang ini? Bukankah tali silsilah telah kita potong? Bagaimana ini, sebab-akibat sedemikian kacaunya!

Biarlah Gene Roddenberry dengan Star Treknya. Toh siapa tahu hal itu dapat terbukti kelak di masa depan. Namun, baiklah kita melihat sisi ilmiah dari satu sampel pemikiran gila ini. Dan bagaimana bila pemikiran ini dikembangkan ke arah kemungkinan-kemungkinan yang lain. Mungkinkah itu terjadi?

EINSTEIN DAN TEORI RELATIVITAS
Dimensi yang selama ini kita kenal sebatas tiga track-sebut saja ruang berdimensi tiga. Namun Albert Einstein dengan pengembaraan otaknya menambahkan sebuah dimensi baru yakni dimensi waktu. Dengan demikian kini dimensi kehidupan fisis alam semesta ini tidak sebatas tiga, tetapi empat dimensi-tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Hakekat waktu merupakan satu bagian dari kajian rumit dalam teori relativitas Einstein. Dan untuk memahami sekelumit teori relativitas Einstein, ada baiknya kita menengok beberapa pertanyaan sederhana berikut ini:

  1. Apakah kita melihat dunia ini menurut hakekatnya ?
  2. Apakah langit itu betul-betul biru..?
  3. Benarkah ladang-ladang itu hijau..?
  4. Benarkah rasa madu itu manis..? dan pare itu pahit ..?
  5. Apakah air itu cair dan es itu padat ?
  6. Benarkah kayu itu benda padat seperti yang indera kita rasakan ?
  7. Benarkah kaca itu benda bening tembus cahaya, dan dinding itu tidak tembus cahaya ?
  8. Dapatkah kita meyakinkan bahwa sebuah benda bergerak sementara benda yang lain diam ?

Menurut khayalan kita, semua pertanyaan di atas pasti dapat kita jawab dengan gamblang, dan para sarjana sejak dulu mengira bahwa hal-hal seperti ini sudah tidak menjadi persoalan lagi. Tetapi, sekarang semua itu berobah menjadi suatu teka-teki. Keyakinan ilmiah ini telah berantakan. Palu godam yang menghancurkan keyakinan ini dan menyingkapkan bahwa seperti ini hanyalah buih adalah otak jenius Einstein..dengan teorinya yang merobah pandangan fondamental tenang alam, teori relativitas.

Teori relativitas, semenjak dicetuskannya tahun 1905 sampai sekarang telah berkembang di atas menara gading yang tak dapat dicapai kecuali oleh sarjana-sarjana tertentu. Mendengar teori relativitas, orang biasa akan merasa ngeri seolah-olah mendengar cerita gaib yang penuh rahasia atau seperti momok, tak berani mendekatinya. Dr. Mousyirifa mengatakan bahwa di dunia ini tak ada manusia yang bisa memahami teoori ini kecuali 10 orang.

Sejarah telah melihat bahwa dengan teori relativitas manusia mampu menciptakan bom atom. Relativitas tidak lagi merupakan sekadar teori, tetapi telah diterapkan; dengan bahayanya yang mengancam wujud umat manusia dan masa depannya di permukaan bumi ini. Toeri relativitas telah keluar dari lingkaran hypotesis dan rumus-rumus matematika, berobah menjadi kenyataan yang menakutkan. Dengan demikian setiap individu perlu mengetahuinya.

Berbagai usaha telah dilakukan oleh para sarjana untuk menyederhanakan teori ini hingga mudah dimengerti. Eddington, James Jean, Edward Berhand, Russel, bahkan Einstein sendiripun telah berusaha untuk menyederhanakan bagian-bagian yang rumit dari teorinya. Dia berpendapat bahwa informasi yang kurang dan hanya dikuasasi oleh sejumlah kecil sarjana, walaupun dengan alasan spesialisasi dan pendalamanan, hanya akan membawa kepada terisolisirnya ilmu pengetahuan, akan melenyapkan roh filsafat rakyat banyak. Einstein membenci pendewaan ilmu dan ilmiah, penyelubungan ilmu dengan teori yang berbelit-belit, tabu ilmiah. Einstein selalu mengatakan bahwa hakekat itu adalah sederhana.

Usahanya terakhir yang diselesaikan tahun 1949 adalah mencari satu hukum terakhir dengan hukum mana dapat deijelaskan seluruh hubungan yang di jagad raya ini. Teori relativitas bukanlah semata-mata merupakan rumus-rumus tetapi juga mengandung segi filsafat. Tentang rumus-rumus matematika, Einstein mengatakan bagwa rumus-rumus itu muncul di otaknya sebagai akibat dari pengembaraan pemikiran dimana dia berusaha menggambarkan bentuk yang dari alam ini.

Baiklah kita berhenti sejenak pada point pengembaraan filsafat ini. Dan rumus-rumus matematika kita serahkan saja kepada yang ahli. Kita mulai dari awal, dari sebelum Einstein, dari soal-soal yang kita sebutkan di permulaan:

Apakah kita betul-betul melihat dunia ini menurut hakekatnya ?
Tidak, kesemuanya itu bukanlah hakekat, semua itu adalah yang kita lihat, kita rasa tapi bukan hakekat. Cahaya putih kita lihat berwarna putih, kalau cahaya putih itu kita lewatkan pada prisma kaca, akan terurai menjadi tujuh warna, yaitu warna spektrum : merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu (violet).

Kalau kita pelajari apa sebenarnya warna-warna itu kita tidak akan memjumpai apa dia, yang ada hanyalah perbedaan panjang gelombang, perbedaan frekuensi, tidak kurang tidak lebih. Tetapi mata kita tidak mampu melihat gelombang ini sebagi gelombang, tidak sanggup merasakan getaran-getaran sebagai gelombang. Yang terjadi adalah, sel-sel syaraf di selaput jala kita terpengaruh oleh macam-macam getaran ini dengan cara berbeda-beda menurut jenis getaran. Pusat syaraf mata di otak akan menerjemahkan berita dari syaraf ini dalam bentuk warna-warna. Tetapi gelombang cahaya itu bukanlah warna, semata-mata gelombang dan getaran, dan otak kita deengan bahasanya sendiri, untuk membedakan satu dari yang lain, memberikan definisi-definisi dalam bentuk tanggapan-tanggapan, itulah warna.

Ladang-ladang yang kita pandang berwarna hijau bukanlah hijau, yang terjadi adalah daun-daun tumbuhan menyerap semua gelombang cahaya kecuali panjang gelombang tertentu yang masuk ke mata kita, mempengaruhi sel-sel mata; pengaruh itu menurut bahasa otak berarti hijau. Demikian pula warna-warna yang lain, sebenarnya bukan warna. Tidak lebih dari pada berkas-berkas sinar yang dianalisa oleh otak, dengan bahasanya sendiri, otaklah yang menyatakan itu adalah warna.

Kekacaubalauan (chaos) ini akan lebih jelas lagi kalau kita lihat contoh yang kedua, yaitu madu. Madu bagi kita terasa manis, namun bagi sejenis cacing tertentu ia terasa lain. Jadi rasa manis bukanlah sifat mutlak yang melekat pada madu, tetapi hanya sifat nisbi, tergantung pada syaraf perasa yang terdapat pada lidah kita dan diterjemahkan menurut istilah khusus sebagai akibat dari pengaruh molekul madu pada lidah kita. Mungkin saja pengaruh pada alat perasa ini antara binatang satu dengan lainnya memberikan rasa yang berbeda-beda, madu dapat terasa pahit.

Kalau kita contoh ketiga dan kita bertanya betulkah air itu cair, dan es itu padat? Persoalannya akan lebih jelas lagi. Air, es dan uap air mempunyai unsur dan susunan kimia yang sama (perbandingan Hidrogen dan Oksigen = 2 : 1). Perbedaannya, bukanlah perbedaan hakekat, hanyalah perbedaan dalam cara. Jika air diletakkan di atas api, berarti kita memberinya panas, atau lebih tepat dikatakan kita memberinya energi. Gerak partikel-partikelnya akan lebih cepat, selanjutnya partikel-partikel itu akan terpisah jauh satu dengan yang lainnya.

Jadilah ia gas (uap air). Jika energi yang diambil dari api itu hilang, maka gerak partikel-partikel itu kembali menjadi pelan dan lemah; satu sama lain akan saling berdekatan sampai pada suatu batas, dimana indera kita mengatakan bahwa partikel-partikel itu sekarang berobah membentuk cairan. Kalau energi itu kita keluarkan lagi, kita dinginkan terus-menerus, maka gerak partikel makin pelan, partikel-partikel lebih berdekatan sampai kepada suatu batas di mana indera kita mengatakan bahwa ia sekarang berbentuk padat (es). Ketiga tingkat wujud zat, gas, cair, dan padat hanyalah berbeda dalam gejala bentuk, berbeda pada jauh dekatnya letak paertikel-partikel dari zat yang satu yaitu air.

Beningnya air dan baurnya salju tidak lain dari letak partikel-partikel air sedemikian rupa sehingga pandangan kita dapat melewati ruang-ruang antar partikel. Itu tidak berarti bahwa partikel-partikel es itu melekat satu sama lain; antar partikel itu tetap terdapat jarak, hanya lehih dekat. Demikian pula partikel atau molekul setiap zat, walaupun zat besi, tetap mempunyai ruang antar moekul, malah molekul-molekul terrdiri dari atom-atom dengan ruang antar atom. Setiap atom tersusun lagi dari proton-proton dan elektron-elektron yang satu dengan lainnya mempunyai jarak yang relatif jauh, seperti jauhnya matahari dari planet-planet tata surya. Benda-benda itu sebenranya kosong, terdiri dari ruang hampa yang di sana-sini bertebaran atom-atom. Sekiranya indera penglihatan kita sempurna, maka pandangan kita akan dapat menembus dinding, karena susunannya yang berlobang, seperti jaring-jaring ayak.

Kalau kita saling melihat dengan mempergunakan sinar-X, bukan dengan sinar biasa, kita akan melihat bahwa tubuh kita ini hanya terdiri dari kerangka, karena sinar-X dapat menembus ruang antar molekul daging, daging akan terlihat bening seperti kaca. Jadi penglihatn kita yang kurang sempurnalah yang menyebabkan pandangan tak bisa menembus dinding, padahal yang sebenarnya bukan dimikian. Dinding itu mempunyai ruang-ruang kosong, tetapi kemampuan organ kita terbatas dan sinar yang dipakai tidak dapat menembusnya, sinat itu malah memantul kembali dipermukaannya,, lalu kita menanggapi sebagai dinding yang membatasi penglihatan kita.

Seluruh tanggapan kita sifatya relatif dan nisbi, jadi bukan hakekat. Alam yang kita lihat bukanlah alam yang sebenarnya, semata-mata istilah yang kita berikan sendiri. Di situ kita hidup dan terkembang oleh rumus-rumus yang diciptakan oleh otak kita sendiri, menggiring kita kepada suatu yang kita tidak mengetahui hakekatnya.

MATERI TERCEPAT
Albert Einstein dalam teori relativitasnya menunjukkan bahwa tak ada objek di alam ini yang dapat mencapai kecepatan cahaya. Kecepatan gerak cahaya sebesar 3 x 108 m/second. Secara teoritik dapat diturunkan, bahwa jika suatu benda bergerak dengan kecepatan cahaya, maka benda tersebut haruslah bergerak di masa kini dan masa depan, tak akan pernah ia bergerak ke masa lalu.

Suatu benda akan kita ketahui keberadaanya dari suatu informasi yang datang daripadanya. Informasi tersebut biasanya dalam bentuk gelombang elektromagnetik yang bergerak dengan kecepatan cahaya. Informasi yang berasal dari benda yang bergerak dengan kecepatan yang lebih kecil dari kecepatan cahaya akan sampai ke kita lebih awal dari kedatangan benda. Namun informasi yang datang dari benda yang memiliki kecepatan lebih tinggi dari kecepatan cahaya akan datang belakangan, benda sampai lebih dahulu. Tetapi karena kita baru mengetahui keberadaan benda itu berdasar informasi yang datang darinya, maka benda itu tak pernah ada bagi kita.

Ilmuwan menamakan sebuah partikel yang mampu bergerak dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya sebagai tachyon..George Sudharsan punya pendapat kontroversial tentang hal ini. Sekalipun Einstein mengatakan bahwa tak ada objek materi yang dapat mencapai kecepatan cahaya, namun teori relativitas Einstein tidak mengatakan bahwa tak ada apapun yang mampu bergerak lebih cepat dari cahaya. Logika Einstein hanya begini; karena tak ada objek yang dapat mencapai kecepatan cahaya, maka tak ada objek apapun yang mempu melebihi kecepatan cahaya. Lalu apa yang terjadi jika sebuah objek telah bergerak dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya sejak objek itu tercipta? Bukankah ia tak pernah muncul dalam realitas – yang kita istilahkan sebagai ‘tak pernah ada’? Maka tachyon pun tak pernah mencapai kecepatan cahaya. Kecepatan cahaya tak pernah dicapai olehnya, karena terlalu pelan baginya.

Di lain pihak, tachyon memiliki massa imajiner. Artinya jika bilangan yang menunjukkan massa tachyon kita kuadratkan, maka hasilnya akan merupakan bilangan negatif-ini sungguh tal cocok dengan realitas. Yang lebih gila lagi, tachyon ini dapat melanggar arah waktu, sehingga dua pengamat bisa tidak sependapat terhadap dua kejadian tachyon yang terjadi lebih dulu. Ini yang disebut sebagai kekacauan sebab-akibat, mana sebab mana akibat.

Sudharsan mengajukan tiga alasan mengapa para fisikawan begitu bersemangat memburu partikel hipotetis ini. Pertama, tak ada alasan untuk percaya bahwa tachyon tak ada. Dia membandingkan alasan ini dengan Paul Dirac yang menghipotesiskan eksistensi partikel dengan energi negatif yang kemudian diketemukan oleh Carl Anderson sebagai positron. Kedua, tachyon tetap muncul dalam penghitungan matematis yang merupakan jantung fisika teori. Ketiga, tachyon dapat memberikan informasi yang dapat mebantu pengungkapan pelbagai misteri dalam fisika partikel, fisika antariksa, dan kosmologi, jika ia muncul. Sesungguhnya, pemunculan tachyon akan banyak menyingkap misteri tentang arah waktu, dan juga imajinasi dalam Star Trek di atas.

Aharon Davidson dari Universitas Ben-Gurion mendapati dalam perhitungannya bahwa semua partikel elementer yang kita kenal dalam alam semesta ‘tiga dimensi’ kita akan menjadi tachyon bila diamati dari sudut pandang ‘empat dimensi’. Davidson juga mendapati bahwa tachyon dimensi tinggi ini juga memberikan penalaran tentang sifat-sifat dimensi keempat yang biasanya hanya berupa asumsi. Dia juga mengatakan bahwa kita tidak mengetahui apa arti kausalitas (hukum sebab-akibat) di dunia ‘empat dimensi’ karena mungkin hal itu bukanlah problem penting seperti di dunia ‘tiga dimensi’ kita.

Namun dunia tachyon ini pulalah yang sering merepotkan para ahli yang menggeluti teori superstring yang saat ini begitu populer sebagai kemungkinan cikal-bakal suatu Theory of Everything. Tachyon dianggap sebagai pembunuh potensial bagi kebanyakan ahli superstring seperti halnya pembagian dengan bilangan nol dalam aljabar atau dalam proses komputasi. Namun ada pula sebagian ahli yang menyimak kemungkian bahwa tachyon merupakan sebuah konsekuensi penting dari teori string ketimbang sebagai suatu penyakit. Hal ini mungkin saja seperti Einstein yang tidak menyadari bahwa teori relativitas umumnya telah mengimplikasikan semesta yang mengembang -tidak statik- sehingga perlu memasukkan tetapan kosmologi agar persamaannya cocok bagi semesta yang statik (maklumlah saat itu orang tidak tahu bahwa alam semesta mengambang, hingga Hubble menginformasikan penemuannya). Einstein pun kemudian mengatakan bahwa pelibatan tetapan kosmologi yang hipotetis itu merupakan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Seluruh tanggapan kita sifanya adalah relatif, jadi bukan hakekat. Alam yang kita lihat bukanlah alam yang sebenarnya, semata-mata istilah yang kita berikansendiri. Di situ kita hidup dan terkembang oleh rumus-rumus yang diciptakan oleh otak kita sendiri, menggiring kita kepada suatu yang kita tidak mengetahui hakekatnya. Benarlah apa yang dilakukan oleh pelukis-pelukis abstrak, mereka berusaha untuk mengekspresikan apa yang mereka lihat. Menurut cara-cara mereka dengan instinknya mereka merasa bahwa apa yang dilihat oleh mata, bukanlah yang sebenarnya, jadi mereka tak merasa terikat, mereka dapat merasakan hakekat sesuatu, bukan dengan mata tetapi dengan akal. Mungkin dengan akal bathin, atau intuisinya, atau rohnya. Sarjana mempunyai cara yang berbeda dengan seniman. Ia memakai rumus-rumus dan hitungan-hitungan, dengan hipotesa dan teori, kemudian membuktikannya dengan percobaan-percobaan.

Sebagian besar dari rumus-rumus yang ditulis Einstein adalah abstrak, jauh dari kenyataan dalam bentuk angka-angka dan rumus-rumus matematika. Usaha sungguh-sungguh dari seorang sarjana yang ingin menghancurkan dan melenyapkan sintesa dan analisa tradisional, menggantinya dengan pandangan tentang hakekat yang tadinya tersembunyi di balik selubung kebiasaan dan tradisi.

Lalu bagaimana dengan terbolak-baliknya sebab-akibat dalam Star Trek di atas? Mungkinkah kita menembus ‘dinding kematian’? Tampaknya dalam dunia ‘tiga dimensi’ kita, hal itu tak mungkin dilakukan. Ada ‘dinding kecepatan cahaya’ yang selalu menghadang. Namun tidak tertutup kemungkinan pelanggaran kausalitas bila kita telah berada dalam dunia ‘empat dimensi’. Hanya sayangnya, hukum sebab-akibat mungkin tak penting lagi dalam dunia ‘empat dimensi’. Imaji tentu bebas mengembara ke wilayah yang ‘belum pernah dikunjungi’, meskipun tetap ada constraint yang tetap harus kita sadari. Tampaknya imajinasi kadang lebih penting dari sains, seperti yang pernah dikatakan Einstein. Paling tidak bagi Gene Roddenberry. Tetapi bagaimanapun kita harus tuduk pada satu hal yang telah pasti, bila kita tidak yakin akan mampu menembus kematian, yakinlah bahwa kematian akan menembus dan menjemput kita walau kita berada di ufuk alam semesta yang yang paling jauh sekalipun.

Demikian kitab suci mengisyaratkan. “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di ujung galaksi yang paling jauh…” QS.4:78.

Wallahu a’lam bish-shawabi

Menembus Dimensi Ruang & Waktu seri 2 (Merubah Masa Lalu)

MERUBAH JEJAK MASA LALU
MENITI MASA KINI
MERAJUT MASA DEPAN

Apa yang terjadi hari ini adalah buah dari perbuatan kita di masa lalu.
Dan apa yang terjadi besok adalah buah dari perbuatan kita di masa kini.
Inilah Lingkaran Karma Kehidupan.
Karena pada umumnya manusia bertindak atas dasar kondisi yang ada saat ini, maka langkah di masa lalu bisa mempunyai efek permanen hingga mempengaruhi masa depan.
Maka terjadilah lingkaran kehidupan yang disebut “Lingkaran Setan” atau “Lingkaran Neraka”  dan “Lingkaran Malaikat” atau “Lingkaran Surga“.

Masa muda adalah masa yang indah untuk berbuat semaunya, tanpa berfikir apa akibatnya di hari depannya nanti. Dan ketika darah muda yang menggejolak lepas tidak terkendali, maka banyak perbuatan negatif atau perbuatan sia-sia yang terjadi di masa  itu. Dan sebagai akibatnya di masa kini adalah kita akan terjebak pada “Lingkaran Neraka” kehidupan yang tidak menentu, terhempas kesana-kemari oleh gelombang kehidupan. Hanya karena kurangnya persiapan dan salah langkah di masa muda.

Nah….Bagaimana kita mau merajut masa depan bila keputusan hari ini ternayata masih juga salah karena bekas masa lalu masih mempengaruhi kita dalam melangkah. Maka cara terbaik adalah kita harus mematahkan lingkaran setan itu dengan merubah peristiwa di masa lalu kita. Bahkan segala peristiwa sejak kita di lahirkan. Dan memulai sebuah lingkaran baru yang positif yaitu Lingkaran Surgawi. Tapi mungkinkah itu bisa dilakukan…???

Mengubah kejadian yang sudah berlalu, jelas tidak mungkin bisa dilakukan. Tapi menghapus jejak negatif atau energi negatif buah masa lalu tentu masih bisa dilakukan. Sehingga jejak negatif  dan pahitnya masa lalu tersebut tidak sampai memunculkan buah yang pahit pula di masa kini & masa depan. Caranya Yaitu dengan memasuki “ZONA KUANTUM ENERGI” dimana batasan Ruang dan waktu menjadi hilang.

Namun anda jangan mengartikan memasuki zona kuantum dengan Perjalanan Astral Ke masa lalu. Karena perjalanan astral tersebut tidak ada pengaruhnya apapun terhadap perbaikan karma negatif. Yang saya maksud adalah kita cukup meresonansikan Energi Ilahi ke masa lalu dan masa depan kita untuk meningkatkan vibrasi energi serta memurnikan keseluruhan jejak energi yang terekam di dalam buku kehidupan kita. Sehingga diperoleh Medan Energi yang tepat untuk bergerak di Lingkaran Malaikat” atau “Lingkaran Surga“.

Jejak Energi atau Karma masa lalu di sebut juga dengan PAHALA & DOSA. 
Jejak Energi Negatif disebut dengan DOSA. 
Dan jejak energi positif disebut dengan PAHALA.

Tekhnik Merubah Karma Negatif ‘Ala Rasulullah SAW :
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Sholat lima waktu dan (sholat) Jum’at ke (sholat) Jum’at serta dari Ramadhan ke Ramadhan semua itu menjadi penghabus (dosanya) antara keduanya selama ia tidak terlibat dosa besar.” (HR Muslim 2/23)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, r.a. bahwa Nabi saw. bersabda:

“Barangsiapa mengucapkan ‘ Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syaarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir‘ seratus kali akan memperoleh ganjaran sebagaimana membebaskan sepuluh budak, dan seratus kebaikan akan dicatatkan atasnya, dan seratus dosa akan dihapuskan dari catatan amalnya, dan ucapan tadi akan menjadi perisai baginya dari Syaithan pada hari itu hingga malam hari, dan tak ada seorangpun yang bisa mengalahkan amal kebaikannya kecuali orang yang melakukan amal yang lebih baik darinya.” [Shahih Bukhari]

Barangsiapa yang membaca Subhanallah sehabis tiap bershalat -wajib- sebanyak tiga puluh tiga kali dan membaca Alhamdudillah sebanyak tiga puluh tiga kali dan pula membaca Allahu Akbar sebanyak tiga puluh tiga kali dan untuk menyempurnakan keseratusnya ia membaca: La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir, maka diampunkanlah untuknya semua kesalahan-kesalahannya, sekalipun banyaknya itu seperti buih lautan.” [Shahih Muslim]

“Siapa yang berhaji lalu tidak berkata keji dan berbuat kefasikan maka kembali seperti hari ibunya melahirkannya” (HR Al Bukhori)

Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman: Sungguh Aku bila menguji seorang hambaKu yang mukmin, lalu ia memujiku atas ujian yang aku timpakan kepadanya, maka ia bangkit dari tempat tidurnya tersebut bersih dari dosa seperti hari ibunya melahirkannya” (HR Ahmad dan dihasankan Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shohihah no. 144).

Puasa hari Arafah ( 9 Dzulhijjah ) menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi Qotadah)

KISAH MENEMBUS RUANG & WAKTU DI ZAMAN RASULULLAH
Ketika Nabi Muhammad saw selesai bermi’raj, beliau menceritakan kejadian2 yang baru saja dialami. Banyak pengalaman dan pemandangan di dimensi lain, dimensi yang ruang dan waktunya berbeda dengan dimensi yang beliau alami. Bagaimana mungkin Nabi yang masih hidup berjumpa dengan Nabi Adam as, Nabi Nuh as, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as dan seluruh Nabi2 yang terdahulu. Semuanya dilakukan hanya dengan memakan waktu satu malam. Menurut logika memang tidak mungkin. Tapi beliau kan Nabi, apa saja boleh terjadi sesuai dengan kehendak dan izin Allah swt, Dzat yang menguasai seluruh dimensi yang ada di jagat raya ini.

Selesai bercerita, sahabat yang percaya kepada Nabi terus saja mengatakan bahwa kejadian itu benar adanya. Bahkan Abu Bakar ra mengatakan bahwa dia percaya lebih daripada itu. Sedangkan kelompok Abu Jahal, Abu Lahab dan konco2nya menolak kejadian itu telah berlaku pada diri Nabi Muhammad saw.

Ada seorang sahabat yang merasa ragu tentang kejadian isra’ mi’raj ini. Tetapi dia diam saja tak memberi komentar apa2. Tuhan telah memberi cobaan pada dia. Ceritanya begini :

Sesampainya di rumah, didapatinya istrinya sedang memasak untuk makan malam. Maka si sahabat ini pun minta izin untuk pergi mandi. Sesampainya di tempat pemandian ia pun terkejut, ia sudah berada di dimensi yang lain, dimensi yang ruang dan waktunya berbeda dengan yang biasa ia alami bersama istrinya. Suasana pemandian begitu terasa asing, tetapi indah dan nyaman.

Tiba2 pula ia telah berubah keadaan tubuhnya. Tubuhnya yang laki2 itu telah diubah oleh Allah menjadi seorang wanita yang cantik dan molek. Singkat cerita akhirnya ia dikawin oleh pemuda di sana di dimensi yang lain itu. Dari perkawinannya itu ia mendapat dua orang anak yang lucu2.

Suatu petang ia pun kembali hendak mandi ditempat yang sama dengan kejadian awal dia datang. Tiba2 suasana pun berubah lagi seperti kejadian yang lama. Kain dan alat mandinya pun masih tersimpan ditempat yang lama juga.

Kemudian ia pun pulang ke rumahnya yang lama. Didapatinya istrinya masih memasak. Apa kata istrinya ? Cepat benar mandinya Bang ! Si suami diam saja, kejadian yang baru di alaminya tidak diceritakan kepada siapapun termasuk kepada istrinya, tidak juga diceritakan kepada Nabi Muhammad saw.

Begitulah cara Allah memberi tahu kepada orang yang meragukan kejadian isra’ mi’raj nya Nabi saw.

Pada suatu ketika ada majelis ta’lim di mesjidnya Nabi Muhammad saw. Tiba2 saja ada seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi, bagaimana rasa sakitnya seorang perempuan melahirkan anak . Dengan senyum Nabi menyilahkan lelaki yang baru dapat pengalaman di dimensi lain menjadi seorang wanita untuk bercerita.

Maka lelaki inipun dengan terpaksa menceritakan pengalaman yang baru dialaminya. Ia meninggalkan istrinya sekitar 10 menit saja, tetapi Allah telah membuat banyak kejadian pada dirinya di dimensi yang lain. Dalam waktu 10 menit ia merasakan waktu sekitar 3 tahun sampai ia melahirkan 2 orang anak.

Betapa banyak dimensi ruang dan waktu yang ada di jagat raya ini hanya Allah yang Maha Tahu. Mungkinkah setiap orang akan mempunyai dimensi ruang dan waktu yang berbeda sesuai dengan amalan masing2. Hanya Allah yang tahu. Ada yang merasa di alam kubur itu hanya semalam saja, ada yang merasa ribuan tahun berada di alam kubur.

Begitu juga di surga nanti, seorang lelaki penduduk surga izin keluar sebentar saja dari bilik istrinya. Di luar bilik, ia bermain2 sampai ratusan tahun, tetapi sekembalinya ia ke bilik istrinya. Kata istrinya, kenapa sebentar sekali ia berjalan2 di surga yang luasnya seluas langit dan bumi ?

Apakah Catatan Amal dan Filsafat Keberadaannya?
[www.telagahikmah.org] Dalam surat Al-Isra’ [17], ayat 13 disebutkan, “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya [sebagaimana tetapnya kalung] pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada Hari Kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. ‘Bacalah kitabmu ….’”

Pertanyaannya, apakah catatan amal ini dan apakah tujuan dari diadakannya?
Dari kumpulan ayat-ayat dan riwayat-riwayat dapat dipahami bahwa seluruh amal manusia secara detail akan tercatat dengan baik di dalam catatan amal mereka. Dan di Hari Kiamat, sekiranya ia telah berbuat kebaikan, ia akan menerima catatan amalnya dengan tangan kanan, dan apabila ia telah melakukan keburukan, ia akan menerima catatan amalnya dengan tangan kiri.

Tanpa syak, catatan amal ini bukan dari jenis kitab dan buku biasa. Oleh karena itu, sebagian mufassir berkata bahwa catatan amal ini tidak lain adalah Ruh Insan yang merekam seluruh amal dan perbuatan manusia.[1] Sebab, setiap amal yang kita perbuat, mau tidak mau, akan menyisakan kesan pada ruh kita. Atau, catatan amal ini adalah anggota tubuh kita, bahkan kulit kita, bahkan tanah, udara, dan ruangan yang di dalamnya kita melakukan amal dan perbuatan. Karena amal kita yang telah lalu berperan pada raga kita dan seluruh atom badan kita, lalu bereaksi pada tanah dan udara. Kendati kesan ini bukanlah sesuatu yang dapat dirasakan, namun jelas sekali bagaiman kuatnya kesan tersebut. Dan kita kelak pada suatu hari dapat melihat dan membacanya.

Kata “membaca” jangan sampai menyelewengkan kita dari apa yang disebutkan oleh tafsir di atas. Sebab, membaca juga memiliki pengertian yang luas; mencakup setiap jenis penyaksian. Umpamanya, dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap berkata: “Dari matanya, aku membaca keputusan apa yang akan diambil”, atau ”Aku melihat dampak amalan yang dilakukan si fulan itu”. Dalam konteks ini, kita juga menggunakan kata membaca. Begitu pula, kini kata ini digunakan umum dalam pengambilan foto dari orang sakit.

Berangkat dari sini, kita membaca di dalam Al-Qur’an bahwa tulisan-tulisan catatan amal ini sama sekali tidak dapat dinegasikan. Karena, semua itu adalah dampak hakiki dan kausal dari amal itu sendiri, ibarat suara manusia atau gambar yang telah direkam dan diambil, atau dampak dari sidik jarinya.

Filsafat Catatan Amal
Tak syak lagi bahwa penjelasan yang luas ihwal catatan amal yang terdapat dalam berbagai ayat dan riwayat, khususnya yang berkaitan dengan seluruh rincian perbuatan, ucapan, dan niat, tercatat secara utuh di dalamnya. Maksud utama dari catatan amal semua itu adalah efek edukatif. Berulang kali telah kami katakan bahwa Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa seluruh ajaran-ajaran hak ini digunakan sebagai media tahdzîb al-Nafs, penyempurnaan ruh, penguatan fondasi-fondasi moral dan takwa. Selain itu, catatan amal juga memberikan peringatan kepada manusia untuk berhati-hati atas ucapan dan perbuatannya, karena segala sesuatunya tercatat, dan kelak pada Hari Kiamat akan ditunjukkan kepadanya secara lengkap dan utuh.

Benar bahwa kekuasan ilmu Tuhan berada di atas semua ini. Barangsiapa yang memiliki iman yang sempurna terhadap kekuasaan ilmu Tuhan dan kehadiran wujud-Nya di segala ruang dan waktu, niscaya ia tidak memerlukan kepada catatan amal. Akan tetapi pada umumnya manusia, hal itu dapat menjadi efek yang positif baginya.

Seseorang yang mengetahui bahwa tape recorder senantiasa menyertai langkahnya, dan sebuah kamera yang senantiasa meneropong dan mengambil gambarnya, baik ketika sepi dan ramai, lahir dan batin, luar dan dalam dirinya, dan akhirnya, seluruh film dan kaset itu menjadi dokumentasi yang hidup dan tidak dapat diingkari, serta akan dibeberkan pada mahkamah besar keadilan, niscaya ia akan selalu berhati-hati dalam ucapan dan perbuatannya. Dengan ini, kekuatan takwa akan berkuasa pada wujudnya, secara lahir maupun batin.

Meyakini adanya catatan amal yang akan mencatat segala perbuatan yang besar dan kecil, iman kepada para malaikat yang siang dan malam bertugas merekam dan mencatat amal perbuatan manusia, dan iman kepada realitas bahwa di Mahsyar, catatan amal ini akan dibentangkan di hadapan seluruh penduduk Masyhar sehingga seluruh dosa yang tersembunyi akan nampak jelas dan hal itu akan mempermalukannya di hadapan kawan dan lawan, iman kepada semua itu dapat menjadi faktor pencegah yang luar biasa terhadap perbuatan dosa.

Sebaliknya, catatan amal orang-orang yang melakukan kebaikan akan menjadi penyebab kehormatan dan kewibawaan mereka. Bahkan, dari perumpamaan kaset dan film yang disebutkan di atas, hal itu lebih utama, tinggi, dan lebih berpengaruh. Motivasi penting semacam ini akan menjadi pendorong perbuatan baik. Akan tetapi, terkadang iman lemah dan terkadang juga hijab lalai akan menjadi penyebab jauhnya manusia dari realitas penting ini. Kalau tidak, iman terhadap kaidah Al-Qur’an ini sudahlah memadai untuk mendidik manusia.[2]

[1] Tafsir ash-Shâfî.
[2] Tafsir Payâm-e Qur’ân, jilid 6, hal. 107.

PUASA HARI LAHIR (PUASA WETON)
Sahabat, ada yang Faham Dengan Puasa Weton ndak…?
Dalam falsafah Jawa, Setiap weton atau hari lahir mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk menetralkan sifat negatif dan membuang “senggkala” atau kesialan dalam kehidupan yang terkait dengan weton kita itulah maka puasa weton dilakukan.

Nabi ditanya tentang puasa hari Senin lalu beliau menjawab, “Itu adalah hari dimana aku dilahirkan, dan hari dimana aku diutuskan sebagai Nabi, atau dimana diturunkannya wahyu pertama padaku”. (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i, sanadnya shahih).

Dalam bahasa Jawa “Weton” berasal dari kata dasar “Wetu” yang bermakna “keluar” atau lahir. Kemudian mendapat akhiran –an yang membentuknya menjadi kata benda. Yang disebut dengan weton adalah gabungan antara hari dan pasaran saat bayi dilahirkan kedunia. Misalnya Senin Pon, Rabu Wage, Jumat Legi atau lainnya. Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon adalah nama-nama pasaran.

Jadi pengertian Puasa Weton adalah puasa yang dilakukan pada hari kelahiran berdasarkan perhitungan kalender Jawa yang berputar selama 35 hari. Artinya diperingati setiap 35 hari sekali. Berbeda dengan acara ulang tahun yang diperingati setahun sekali.

Di kalangan masyarakat muslim dan pesantren, puasa weton ini biasanya dilakukan lebih dari 1 hari, ini untuk memberi solusi bagi mereka yang wetonnya jatuh pada hari-hari yang dilarang berpuasa di hari-hari tertentu seperti hari Jumat tanpa disertai puasa hari yang lain (Al Hadist). Dan itu sah-sah saja. Tidak ada sesepuh yang melarangnya. Selama suatu tradisi membawa manfaat baik, memang harus dilestarikan.

Manfaat Ritual Weton
Dari penghayatan dan pengamalan ritual weton yang luhur ini tentu akan membawa dampak baik bagi para pengamalnya. Antara lain :

  1. Sebagai tanda syukur kepada Tuhan YME dan rasa terimakasih kepada kedua orang tua. Meningkatkan iman kepada Tuhan, dan berbakti kepada orang tua.
  2. Sebagai salah satu momen untuk berintropeksi diri, bermuhasabah mengenal diri sendiri, ingat kembali kepada kodrat dan tugas sebagai manusia di muka bumi.
  3. InsyaAllah, dari pengalaman telah terbukti dapat membawa dampak baik bagi kerejekian para pengamalnya. Akan membuka pintu rejeki yang luas dari segala penjuru mata angin.
  4. Diberikan keselamatan dari segala macam bahaya yang nyata maupun magis (sihir).
  5. Sebagai penebus dosa dan pembebas karma negatif yang pernah dilakukan semasa hidupnya sejak dia mulai dilahirkan.
  6. Dan berbagai manfaat positif lainnya sesuai dengan penghayatan yang bisa dicapai oleh para pengamalnya.
  7. Semua bisa terjadi bila semata-mata ada rahmat dari Tuhan Yang Maha Welas Asih.

►CONTOH AMALAN PUASA WETON
ASMA’ KURUNG ► Amalan Puasa WETON (hari kelahiran)
yang berkhasiat untuk Anti Sihir dan Kejahatan Magis lainnya

Sihir adalah perbuatan yang diluar dari adat kebiasaan yang sengaja dikerjakan dengan jalan bermacam-macam cara (diluar ajaran agama) dengan mendayagunakan bantuan dari JIN dan syetan.

Sihir bisa pula berarti tipuan atau khayalan yang hakekatnya tidak ada sama sekali, sebagaimana yang biasa dikerjakan oleh para tukang sulap. Sedangkan “santet” merupakan bagian dari sihir. Istilah santet lebih dikenal sebagai perbuatan untuk menyakiti atau membinasakan orang lain melalui ilmu ghaib.

Tak sedikit orang yang celaka akibat kekuatan jahat ini. Sehingga bagi orang awam, sihir dan santet dipandang sebagai sesuatu yang sangat ditakuti. Namun karena sihir dan santet adalah batil / sesat / jahat, maka ia dapat ditangkal dengan sesuatu yang Haq (benar) yang datang dari Allah SWT.

Agar kita terhindar dari pengaruh sihir dan kejahatan magis lainnya, selain terus beribadah mendekatkan diri kepada Tuhan YME, anda dapat melakukan amalan Asma Kurung yang disertai Puasa Weton.

Maksud Puasa Weton adalah puasa yang dilakukan pada hari kelahiran anda berdasarkan kalender Jawa. Misalnya Senin Pon, Rabu Wage, Jumat Legi atau lainnya. Untuk selengkapnya bisa anda simak di Kajian Puasa Weton.

AMALAN ASMA’ KURUNG

  • Lakukan Puasa saat tiba Weton anda.
  • Pada malam harinya, tidak boleh tidur hingga terbit matahari (tetapi boleh makan apa saja).
  • Setelah sholat Subuh, bacalah Ayat suci berikut ini (Quran S. At Taubah ayat 128-129) terus menerus hingga matahari terbit :

“Laqod jaa-akuum rosulum min anfusikum Aziizun Alaihi maa Anittum Hariishun Alaikum bil mu’miniina Ro-uufur rohim.
Fain tawallaw faqul Hasbiyallahu la ilaha illa Huwa alaihi tawakaltu wa huwa Robul Arsyil Azhiim.”

Karena khasiat yang dirasakan oleh para pengamal ayat suci ini ternyata dapat mengurungkan segala niat jahat. Maka amalan ini lalu dikenal sebagai Asma Kurung.

Contoh mengamalkan :
Misalnya Weton anda jatuh Selasa Kliwon. Maka pada hari Senin sore (sebelum Maghrib) anda bersuci dengan cara mandi Jinabat (mandi besar). Kemudian terhitung mulai Maghrib itu sampai Matahari terbit dihari Selasa diusahakan tidak tidur. Tetapi boleh makan-minum dan bersahur. Isilah malam tersebut dengan memperbanyak ibadah, dzikir atau tafakur (semedi). Kemudian hari Selasa itu anda berpuasa seperti puasa Ramadhan.

Catatan :

  • Di hari-hari selanjutnya ayat tersebut cukup dibaca 7 kali di Pagi dan Sore (setelah Subuh dan Maghrib).
  • Arti ayat diatas : “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”.
  • Bagi anda yang nonmuslim Rafal Doa Keselamatan bisa diganti lafal doa sesuai ajaran agama anda masing-masing.
  • Jika diamalkan secara rutin, kita akan dijauhkan dan terlindungi dari sihir dan kejahatan magis. Dikaruniai ketentraman dan keharmonisan keluarga serta diberi umur panjang yang barokah. InsyaAllah.
Wallahu a’lam bish-shawabi

Kekuatan Kata-Kata & Bahaya Lisan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Sebuah ayat yang menarik sekali untuk dikaji yang berisi pelajaran agar kita pintar-pintar menjaga lisan. Ayat tersebut terdapat dalam surat Qaaf tepatnya ayat 18.

Allah Ta’ala berfirman,
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 18)

Ucapan yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah yang diucapkan oleh manusia, keturunan Adam. Ucapan tersebut dicatat oleh malaikat yang sifatnya roqib dan ‘atid yaitu senantiasa dekat dan tidak pernah lepas dari seorang hamba. Malaikat tersebut tidak akan membiarkan satu kalimat dan satu gerakan melainkan ia akan mencatatnya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَامًا كَاتِبِينَ (11) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Infithar: 10-12)

Apakah semua perkataan akan dicatat? Apakah hanya yang bernilai pahala dan dosa saja yang dicatat? Ataukah perkataan yang bernilai netral pun dicatat?

Tentang masalah ini para ulama ada dua pendapat. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang dicatat hanyalah yang bernilai pahala dan dosa. Namun jika kita melihat dari tekstual ayat, yang dimaksud ucapan dalam ayat tersebut adalah ucapan apa saja, sampai-sampai ucapan yang mubah sekalipun. Akan tetapi, untuk masalah manakah yang kena hukuman, tentu saja amalan yang dinilai berpahala dan dinilai dosa.

Sebagian ulama yang berpendapat bahwa semua ucapan yang bernilai netral (tidak bernilai pahala atau dosa) akan masuk dalam lembaran catatan amalan, sampai-sampai punya sikap yang cukup hati-hati dengan lisannya. Cobalah kita saksikan bagaimana kisah dari Imam Ahmad ketika beliau merintih sakit.

Imam Ahmad pernah didatangi oleh seseorang dan beliau dalam keadaan sakit. Kemudian beliau merintih kala itu. Lalu ada yang berkata kepadanya (yaitu Thowus, seorang tabi’in yang terkenal), “Sesungguhnya rintihan sakit juga dicatat (oleh malaikat).” Setelah mendengar nasehat itu, Imam Ahmad langsung diam, dan beliau tidak merintih lagi. Beliau takut jika merintih sakit, rintihannya tersebut akan dicatat oleh malaikat.

Coba bayangkan bahwa perbuatan yang asalnya wajar-wajar saja ketika sakit, Imam Ahmad pun tidak ingin melakukannya karena beliau takut perbuatannya tadi walaupun dirasa ringan masuk dalam catatan malaikat. Oleh karena itu, beliau rahimahullah pun menahan lisannya. Barangkali saja rintihan tersebut dicatat dan malah dinilai sebagai dosa nantinya. Barangkali rintihan tersebut ada karena bentuk tidak sabar.

Mampukah kita selalu memperhatikan lisan?
Sungguh nasehat yang amat bagus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya kita bisa resapi dalam-dalam dan selalu mengingatnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988)

Intinya, penting sekali memperhatikan lisan sebelum berucap. An Nawawi rahimahullah menyampaikan dalam kitabnya Riyadhush Sholihin nasehat yang amat bagus, “Ketahuilah bahwa sepatutnya setiap orang yang telah dibebani berbagai kewajiban untuk menahan lisannya dalam setiap ucapan kecuali ucapan yang jelas maslahatnya. Jika suatu ucapan sama saja antara maslahat dan bahayanya, maka menahan lisan untuk tidak berbicara ketika itu serasa lebih baik. Karena boleh saja perkataan yang asalnya mubah beralih menjadi haram atau makruh. Inilah yang seringkali terjadi dalam keseharian. Jalan selamat adalah kita menahan lisan dalam kondisi itu.”

Jika lisan ini benar-benar dijaga, maka anggota tubuh lainnya pun akan baik. Karena lisan adalah interpretasi dari apa yang ada dalam hati dan hati adalah tanda baik seluruh amalan lainnya. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
Bila manusia berada di waktu pagi, seluruh anggota badan akan patuh pada lisan. Lalu anggota badan tersebut berkata pada lisan: Takutlah pada Allah bersama kami, kami bergantung padamu. Bila engkau lurus kami pun akan lurus dan bila engkau bengkok (menyimpang) kami pun akan seperti itu.” (HR. Tirmidzi no. 2407. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). 

Hadits ini pertanda bahwa jika lisan itu baik, maka anggota tubuh lainnya pun akan ikut baik.

Semoga yang singkat ini dari kajian tafsir surat Qaaf bermanfaat. Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu menjaga lisan kami ini agar tidak terjerumus dalam kesalahan.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Referensi:

  • Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Sholihin, Salim bin ‘Ied Al Hilali, Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, 1430 H.
  • Liqo’ Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, kaset no. 11
  • Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, Darul Fawaid dan Dar Ibni Rajab, 4/278.
  • Faedah Tafsir di Malam Kelima Ramadhan, 14 Agustus 2010 di Panggang-Gunung Kidul
  • Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel http://www.rumaysho.com
Wallahu a’lam bish-shawabi

Menembus Dimensi Ruang & Waktu seri 1

Dari masa lalu yang sudah tetap sampai masa kini yang nyata dan masa depan yang belum pasti, seolah-olah waktu mengalir tanpa bisa ditawar. 
Tapi itu ilusi.
Persepsi kita memberitahu bahwa waktu mengalir: yakni, bahwa masa lalu sudah tetap, masa depan tidak bisa dipastikan, dan realitas hidup di masa kini. Tapi, berbagai argumen fisika dan filsafat menyiratkan sebaliknya. Aliran waktu barangkali adalah ilusi. Kesadaran mungkin melibatkan termodinamika atau proses quantum yang memberi kesan momen demi momen yang hidup.

SETELAH ruang ada lagi ruang.
Panjang, lebar dan tinggi, tiga dimensi yang membentuk ruang. Jika ditambah dengan satu satuan lagi maka akan terbentuk dimensi keempat. Dimensi ”Zona Quantum” ini dipercaya eksistensinya oleh para pakar fisika teori. Mereka menyebutnya hyperspace atau hiperspasial.

Ada juga yang menyebut dimensi keempat ini sebagai dimensi kelima. Ini karena waktu dianggap sebagai dimensi keempat dalam realita hidup ini. Namun waktu sejauh ini bersifat linier atau berada pada garis lurus yang tidak akan pernah kembali lagi. Waktu pun tidak membentuk ruang baru yang bisa ditempati oleh entitas yang memiliki dimensi (tiga saja tentunya).

Hiperspasial ini sudah sejak abad 19 dibicarakan para pemikir fisika. Baru pada abad 20 pendapat berbobot mengenai ini dikemukakan oleh ahli matematika Prusia, Theodore Kaluza. Pada tahun 1919, Kaluza menulis surat kepada Albert Einstein yang mengungkapkan bahwa seharusnya ada dimensi keempat. Ia memberi alasan bahwa gravitasi dan radiasi gelombang elektromagnetik merupakan manifestasi yang sama dari suatu entitas ke ruangan yang sama. Baru tiga tahun kemudian Einstein membalas surat Kaluza itu dengan persetujuannya.

Bukti

Bagi masyarakat awam, di luar Einstein dan kawan-kawannya, lebih mudah mengadaptasi konsep gaib dibandingkan teori fisika yang rumit. Kita hanya akan mengamini saja ”alam gaib” dimensi keempat itu, cukup hanya percaya bahwa alam itu ada dan tidak terlihat.

Para pemikir pun setuju bahwa dimensi keempat tidak bisa dilihat oleh kita yang berada dalam tiga dimensi. Ini dijelaskan mereka melalui pengandaian keberadaan kita dalam suatu dimensi. Jika Anda adalah titik dalam suatu garis maka Anda hanya bisa bergerak dari satu ujung garis ke ujung lainnya. Jadi kesadaran Anda mengatakan hanya ada dua titik ekstrem dalam dunia Anda. Begitu pula jika Anda berada dalam dunia dua dimensi, panjang dan lebar. Sebagai titik, Anda bisa bergerak ke luar, ke daerah lebar dan dari sana Anda bisa melihat dimensi pertama yakni garis panjang tadi.

Begitu pula jika berada dalam tiga dimensi di mana terdapat panjang, lebar dan tinggi. Dari dimensi itu suatu titik bisa bergerak ke berbagai arah dan mengamati satu dimensi, dan juga dua dimensi serta menyadari adanya tiga dimensi. Ia bisa melihat bentuk garis, bentuk bidang datar dan bentuk piramida atau kubus. Ini seperti manusia berada dalam ruang dan melihat benda-benda lain, serta bergerak untuk mendapatkan perspektif yang berbeda.

Bagi para pakar teori fisika ini sudah bukti yang cukup. Titik dalam garis yang hanya menyadari adanya dua ekstrem bukanlah bukti bahwa batasan dunianya hanya garis saja. Titik dalam bidang datar bukan berarti dunianya hanya panjang dan lebar. Begitu pula kita yang berada dalam tiga dimensi, bukan berarti tidak ada dimensi keempat.

Itulah mengapa gravitasi dan gelombang elektromagnetik, suatu entitas yang ada dan bergerak di berbagai lokasi ruang, merupakan bukti. Sumber dan sebab gravitasi dan gelombang elektromagnetik belum diketahui dalam realita ruang tiga dimensi yang dikenal sekarang.

Titik pengandaian kita tadi yang berada dalam tiga dimensi bisa bergerak ke dalam dua dimensi dan ke dalam satu dimensi, titik kita itu bisa menjadi bagian dari bidang datar atau dari garis lurus. Kita, manusia yang berada dalam ruang tiga dimensi bisa merangkai diri menjadi garis atau bidang datar. Jadi suatu entitas yang berada dalam empat dimensi tentu bisa bergerak ke tiga dimensi, atau ke dimensi yang lebih rendah. Itulah gelombang elektromagnetik dan gravitasi yang diajukan Theodore Kaluza pada Albert Einstein.

Gurame Gila
Dr. Michio Kaku, profesor fisika teori pada City University di New York memiliki penjelasan ikan gurame terhadap hiperspasial. Michio Kaku lulus summa cum laude dalam ilmu fisika dari Harvard pada tahun 1968 dan mendapatkan doktornya dari Berkeley University tahun 1972. Buku teks untuk tingkat S3 karangannya menjadi bacaan wajib pada laboratorium fisika berbagai universitas.

Michio Kaku mengandaikan, jika seekor gurame dalam kolam menjadi ilmuwan dan dia mulai berteori tentang dunia langit di atas dunia air maka tentu saja si gurame ini akan dibilang gila. Namun ketika hujan turun akan ada lingkaran gelombang akibat tetes air yang bisa disaksikan dari dalam kolam, dunianya para gurame.

Inilah jalan untuk pembuktian teori dunia langit atau dimensi di luar dunia yang mereka lihat itu. Dalam dunia manusia, menurut Dr. Michio Kaku, sinar dan gravitasi merupakan lingkaran gelombang yang berasal dari dimensi keempat yang bisa kita buktikan keberadaanya di dimensi kita.

Seperti apa bentuk hiperspasial masih menjadi perdebatan para pemikirnya. Pada tahun 1926 ahli matematika Swedia, Oskar Klein mengajukan jawaban pragmatis. Menurut dia dimensi keempat ini bentuknya sangat kecil hingga tidak terdeteksi oleh manusia. Gabungan unit keruangan seperti itu disebut botol Kaluza-Klein dan menjadi dasar dari wacana mutakhir yang disebut Teori Benang.

Bayangkan seekor semut hidup di atas benang. Ia hanya akan mengetahui dunianya di depan dan belakangnya saja. Jika melihat benang ini secara rinci maka akan terlihat bagian benang yang menggulung. Di dalamnya terdapat ruang yang tidak akan disadari oleh si semut. Ruang yang tergulung ini yang disebut hiperspasial menurut Kaluza dan muridnya Klein.

Ruang gulungan berupa benang ini jika bergerak akan menghasilkan getaran yang bisa dirasakan di seluruh ruang. Ini sama dengan dawai digetar dan resonansi suara bergetar di seluruh ruang. Getar benang hiperspasial ini adalah gravitasi dan gelombang elektromagnetik.

Kebalikan dari ruang yang sangat kecil ini adalah ruang dimensi keempat yang sangat besar. Ini seperti bertolak belakangnya upaya fisika untuk menjelaskan fisika kuantum dan teori relativitas Einstein. Kuantum berbicara tentang entitas yang makin mengecil, sedangkan teori relativitas menjelaskan tentang sesuatu yang sangat besar, seperti galaksi, kuasar, lubang hitam dan teori Ledakan Akbar.

Dalam hiperspasial, para penghuni dimensi ketiga menjadi tidak sadar karena besar dan bentuknya yang melengkung hingga yang disadari hanya bidang datar di sekelilingnya saja. Ini sama seperti pandangan bahwa bumi itu datar bukannya bulat. Biasanya lengkungan luar biasa besar ini yang menjadi bahan cerita dalam kisah fiksi ilmiah. Ingat pergerakan Starship Entreprise ke hyperspace dengan warp speed? Ini pengejewantahan teori menjadi fiksi.

Fiksi atau ilmiah menjadi dimensi yang tidak berbatas dengan jelas. Jules Verne berkisah tentang kapal selam dan perjalanan ke bulan seratus tahun sebelum benda ini berhasil diciptakan dunia ilmu pengetahuan. Einstein berbicara tentang lengkungan dalam ruang dan waktu yang menghasilkan gravitasi dan gelombang elektromagnetik dalam Teori Relativitas.

Dimensi keempat atau hiperspasial sekarang jadi wahana pakar fisika teori untuk menghasilkan rumus pamungkas yang bisa menjelaskan dari inti atom hingga terbentuknya alam raya. Rumus ini adalah teori tentang segalanya dan segalanya adalah penciptaan alam. Jika kita bisa keluar dari keterbatasan pandangan kita dan melihat dunia luar yang kerap kita sebut gaib, maka pertanyaan besar tentang kreasi alam mungkin bisa terjawab.

Sumber : Cydonia.Knight (kaskus.us)

Wallahu a’lam bish-shawabi