Semua Kekuatan Untuk Meraih Semua Impian Sudah Ada Di Dalam Diri Kita

“Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.”
( QS. Ali Imran 3:171 )

Betapa sering kita mengagumi berbagai hal di sekeliling kita. Kita mengagumi ciptaan Tuhan, seperti alam semesta dengan segala isinya: gunung-gunung, lautan, sungai, hutan, dan segala keindahan ciptaanNya yang menakjubkan. Kita juga bahkan mengagumi keindahan dan kecanggihan ciptaan manusia, seperti gedung-gedung tinggi, komputer, peralatan komunikasi, pesawat luar angkasa bahkan berbagai simbol kemewahan seperti: baju Ralph Laurent, sepatu Bally, pena Mont Blanc, dasi Giorgio Armani, dan berbagai jenis mobil mewah seperti Mercedez Benz, BMW, Jaguar, dan sebagainya.

Kita seringkali dibuat takjub oleh hal-hal yang berada di luar kita tersebut. Tetapi di sisi lain kita justru sering tidak menyadari dan tidak pernah mengucap syukur atas ciptaan Tuhan yang luar biasa dan yang merupakan maha karya (master piece) Tuhan yang paling sempurna (the ultimate creation) dari seluruh ciptaanNya yang lain, yaitu kita, manusia. Setiap kita adalah sangat berharga, bernilai tinggi, unik, dan sangat indah serta jauh lebih berharga dibandingkan apa pun di dunia ini.

Pernahkah kita menyadari bahwa tubuh kita terdiri atas 200 bentuk tulang yang berbeda yang terangkai dan tersusun secara sempurna; dibungkus dengan milyaran serat otot dan dikoordinasikan oleh jaringan syaraf yang panjangnya tidak kurang dari 10 kilometer. Jantung kita adalah sebuah pompa mekanik yang mengagumkan, yang berdenyut rata-rata 36 juta kali setiap tahunnya sepanjang hidup kita, tanpa pernah beristirahat. Sedangkan otak kita merupakan komputer canggih yang mengendalikan lebih dari seratus tugas (super multi tasking) secara bersamaan dalam sistem tubuh kita.

Pernahkah pula kita sadari bahwa setiap kita adalah unik dan setiap kita berbeda dibandingkan dengan orang lain. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang identik atau sama, bahkan saudara kembar identik pun tidak. Artinya sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna, setiap kita juga memiliki kelebihan dan kekuatan yang berbeda satu sama lain. Keyakinan itulah yang harus mendasari setiap pergumulan dan upaya kita meraih hal-hal terbaik dalam kehidupan ini.

Pernahkah kita menyadari bahwa seorang tukang parkir yang berdiri di samping sebuah mobil Mercy S700, adalah jauh lebih mengagumkan dan luar biasa dibandingkan dengan mobil tersebut. Sang tukang parkir adalah ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa, sedangkan mobil mewah adalah ciptaan manusia; tetapi kita justru lebih mengagumi mobil tersebut dibandingkan seorang manusia yang tercipta dalam kesempurnaan ilahi.

Trilogi Keyakinan
Kita tidak akan pernah dapat mencapai hal-hal terbaik dalam kehidupan jika kita tidak terlebih dulu meyakini,

  • Pertama bahwa betapa kita adalah ciptaan yang sempurna dari Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta (God creates you).
  • Hal Kedua adalah meyakini bahwa Tuhan tinggal dalam diri kita (God resides in you). Seperti sejak semula pada waktu penciptaan manusia, Tuhan meniupkan napas kehidupan atau RohNya ke dalam diri manusia.
  • Keyakinan ketiga adalah bahwa kita diberi wewenang untuk menggunakan kuasa Tuhan sebagai co-creator atas setiap realitas kehidupan yang kita inginkan.

Ketiga keyakinan inilah yang kami gunakan sebagai dasar untuk meraih hal-hal terbaik dari setiap impian kita. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya kita dapat mewujudkan setiap keinginan, setiap impian kita menjadi realitas. Bagaimana caranya mendayagunakan setiap anugerah atau kekuatan yang kita miliki untuk mewujudkan impian atau keinginan tersebut.

Empat Anugerah Ilahi
Menurut Stephen Covey, ada empat anugerah Tuhan kepada manusia yang spesifik tidak dimiliki oleh ciptaanNya yang lain. Ke empat anugerah ilahi itulah yang membuat manusia unik dan memiliki daya untuk menjadi co-creator bagi kehidupannya. Anugerah tersebut adalah

  1. Pertama, kesadaran diri, yaitu kemampuan untuk berpikir tentang proses berpikir kita sendiri. Ini yang menjadi alasan mengapa manusia memiliki kekuasaan atas semua benda di dunia ini dan mengapa manusia dapat membuat kemajuan penting dari generasi ke generasi.
  2. Kedua adalah kita memiliki imajinasi, yaitu kemampuan untuk mencipta di dalam benak kita di luar realitas kita saat ini. 
  3. Ketiga kita mempunyai suara hati, yaitu kesadaran batin yang dalam tentang yang benar dan yang salah, tentang prinsip-prinsip yang mengatur perilaku kita, dan pengertian tentang tingkat di mana pikiran dan tindakan kita selaras dengan prinsip-prinsip tersebut. 
  4. Keempat kita memiliki kehendak bebas, yaitu kemampuan untuk bertindak berdasarkan kesadaran diri kita, bebas dari semua pengaruh lain.

Dengan keempat anugerah ilahi tersebut berarti sesungguhnya kapasitas manusia tidak terbatas. Hal ini karena kita memiliki semua hal yang diperlukan untuk mencipta (imajinasi) berdasarkan tuntunan atau panduan suara hati yang mewujud atas kesadaran diri dan terdorong oleh kehendak bebas dalam diri kita.

Kalau kita perhatikan sekeliling kita, semua benda ciptaan manusia, tidak ada satu pun yang tercipta tanpa terlebih dulu melalui proses imajinasi dan upaya yang tidak kenal lelah untuk mewujudkannya (kehendak bebas) dan berdasarkan tuntunan intuisi, ilham atau inspirasi. Artinya setiap kita juga memiliki kemampuan unik tersebut untuk mencipta dan mewujudkan setiap imajinasi atau gambaran mental yang ada dalam pikiran kita menjadi realitas fisik atau kenyataan.

Analogi Gunung Es dan Kekuatan Tersembunyi Kita
Setiap manusia pada dasarnya tidak menyadari kekuatan yang dimilikinya, sampai akhirnya pada suatu titik ketika beberapa orang yang sukses dapat menemukan rahasia tersebut dan menjadi dan atau memperoleh apa pun yang mereka impikan dan inginkan selama ini. Kekuatan tersebut adalah seperti bagian gunung es yang tidak kelihatan dan tersembunyi di bawah permukaan laut.

Apa yang kelihatan di permukaan adalah apa yang selama ini kita yakini tentang diri kita. Mungkin Anda adalah seorang yang merasa rendah diri karena wajah anda tidak terlalu menarik, atau suara anda gagap, atau secara fisik anda merasa kurang sempurna, anda tidak terlalu cerdas, kurang pergaulan, atau anda merasa bahwa status sosial anda berada pada lapisan bawah. Betapa banyak alasan yang akan kita pakai untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kita tidak mampu untuk meraih semua impian atau hal-hal terbaik dalam kehidupan kita. Kita menggunakan berbagai alasan tersebut untuk menghibur diri atas ketidakmampuan kita. Sesungguhnya yang terjadi adalah kita tidak pernah mau mencoba untuk mendayagunakan seluruh potensi dan kekuatan kita sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna.

David J. Schwartz dalam bukunya The Magic of Thinking Big mengemukakan empat alasan atau dalih mengapa banyak orang tidak mencapai impian atau kesuksesan. Dalih tersebut antara lain adalah dalih kesehatan, dalih usia, dalih intelegensi dan dalih nasib. Ke empat hal itulah yang sering digunakan manusia untuk meyakinkan dirinya bahwa kesuksesan dan kehidupan yang luar biasa adalah bukan untuknya. Kita adalah sebatas pikiran kita. Pernyataan ini sangat tepat untuk menunjukkan bahwa apa pun jadinya kita, apa pun yang kita miliki semuanya tergantung dari apa yang kita pikirkan dan kita yakini.

Tujuh Kekuatan Utama Manusia
Dalam tuisan ini saya akan mencoba menguraikan tujuh kekuatan utama manusia (berdasarkan trilogi keyakinan dan anugerah ilahi yang kita miliki) yang jika digunakan dengan penuh keyakinan dan konsistensi akan membawa kita kepada kehidupan yang berkelimpahan.

1. Kekuatan Impian (The Power of Dreams)
Untuk memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupan ini, setiap kita harus memiliki impian dan tujuan hidup yang jelas. Setiap kita harus berani memimpikan hal-hal terindah dan terbaik yang kita inginkan bagi kehidupan kita dan kehidupan orang-orang yang kita cintai. Tanpa impian, kehidupan kita akan berjalan tanpa arah dan akhirnya kita tidak menyadari dan tidak mampu mengendalikan ke mana sesungguhnya kehidupan kita akan menuju.

2. Kekuatan dari Fokus (The Power of Focus)
Fokus adalah daya (power) untuk melihat sesuatu (termasuk masa depan, impian, sasaran atau hal-hal lain seperti: kekuatan/strengths dan kelemahan/weakness dalam diri, peluang di sekitar kita, dan sebagainya) dengan lebih jelas dan mengambil langkah untuk mencapainya. Seperti sebuah kacamata yang membantu seorang untuk melihat lebih jelas, kekuatan fokus membantu kita melihat impian, sasaran, dan kekuatan kita dengan lebih jelas, sehingga kita tidak ragu-ragu dalam melangkah untuk mewujudkannya.

3. Kekuatan Disiplin Diri (The Power of Self Discipline)
Pengulangan adalah kekuatan yang dahsyat untuk mencapai keunggulan. Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Menurut filsuf Aristoteles, keunggulan adalah sebuah kebiasaan. Kebiasaan terbangun dari kedisiplinan diri yang secara konsisten dan terus-menerus melakukan sesuatu tindakan yang membawa pada puncak prestasi seseorang. Kebiasaan kita akan menentukan masa depan kita. Untuk membangun kebiasaan tersebut, diperlukan disiplin diri yang kokoh. Sedangkan kedisiplinan adalah bagaimana kita mengalahkan diri kita dan mengendalikannya untuk mencapai impian dan hal-hal terbaik dalam kehidupan ini.

4. Kekuatan Perjuangan (The Power of Survival)
Setiap manusia diberikan kekuatan untuk menghadapi kesulitan dan penderitaan. Justru melalui berbagai kesulitan itulah kita dibentuk menjadi ciptaan Tuhan yang tegar dalam menghadapi berbagai kesulitan dan kegagalan. Seringkali kita lupa untuk belajar bagaimana caranya menghadapi kegagalan dan kesulitan hidup, karena justru kegagalan itu sendiri merupakan unsur atau bahan (ingredient) yang utama dalam mencapai keberhasilan atau kehidupan yang berkelimpahan.

5. Kekuatan Pembelajaran (The Power of Learning)
Salah satu kekuatan manusia adalah kemampuannya untuk belajar. Dengan belajar kita dapat menghadapi dan menciptakan perubahan dalam kehidupan kita. Dengan belajar kita dapat bertumbuh hari demi hari menjadi manusia yang lebih baik. Belajar adalah proses seumur hidup. Sehingga dengan senantiasa belajar dalam kehidupan ini, kita dapat terus meningkatkan taraf kehidupan kita pada aras yang lebih tinggi.

6. Kekuatan Pikiran (The Power of Mind)
Pikiran adalah anugerah Tuhan yang paling besar dan paling terindah. Dengan memahami cara bekerja dan mengetahui bagaimana cara mendayagunakan kekuatan pikiran, kita dapat menciptakan hal-hal terbaik bagi kehidupan kita. Dengan melatih dan mengembangkan kekuatan pikiran, selain kecerdasan intelektual dan kecerdasan kreatif kita meningkat, juga secara bertahap kecerdasan emosional dan bahkan kecerdasan spiritual kita akan bertumbuh dan berkembang ke tataran yang lebih tinggi.

7. Kekuatan Kasih (The Power of Love)
Kasih dan kedamaian dalam diri akan muncul dari kerinduan yang terus-menerus untuk memasuki hadirat Tuhan melalui meditasi. Jika dalam berdoa dan penyembahan sesungguhnya kita sedang berbicara kepada Tuhan, sedangkan dalam meditasi kita justru berusaha mendengar dalam diam, keheningan dan kesendirian (stillness – silence and solitude). Ketika kita semakin cerdas secara spiritual, maka dalam batin kita muncul kedamaian diri (inner peace) yang akan mewujud dalam sikap rendah hati (humble) dan hati yang penuh kasih. Kekuatan inilah yang akan dapat mengubah bukan hanya kehidupan kita saja, tetapi juga mengubah kehidupan orang lain di sekitar kita, lingkungan tempat kita bekerja, komunitas di mana kita tinggal, juga bangsa dan bahkan umat manusia pada umumnya.

Ketujuh kekuatan utama ini merupakan kombinasi yang tidak boleh terpisah satu sama lain untuk membawa kita kepada kehidupan yang berkelimpahan. Kelimpahan di sini adalah tidak semata-mata ukuran material (kemakmuran) semata, tetapi termasuk kebahagiaan, sukacita, damai sejahtera, rasa aman, kesehatan, persahabatan, kedamaian dan peranan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Semua dari kita berhak dan memiliki kekuatan untuk mencapai kehidupan yang berkelimpahan dan memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupannya. Semuanya ini adalah produk dari pilihan sadar kita, berdasarkan keyakinan kita, dan bukan dari produk kondisi keberadaan kita di masa lalu dan saat ini. Sebagaimana dikatakan oleh Jack Canfield dalam bukunya The Power of Focus, bahwa kehidupan tidak terjadi begitu saja kepada kita. Kehidupan adalah serangkaian pilihan dan bagaimana kita merespons setiap situasi yang terjadi pada kita.

Akhirnya saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah ungkapan yang ditulis oleh seorang penulis Amerika keturunan Cina, Lim How dalam bukunya Stronger Heart Wiser Mind, yang mengatakan bahwa:

No one is born to lose. Everyone is born to win. And the biggest difference that separates the one from the other is the willingness to learn, to change, and to grow.

Renungan ini tidak akan banyak berarti dan tidak akan pernah dapat menginspirasi kita untuk mencapai hal-hal terbaik dalam kehidupan kita, mencapai kehidupan berkelimpahan, jika setiap kita yang membacanya tidak memiliki kemauan dan hasrat untuk belajar, untuk berubah dan bertumbuh. Doa saya kepada Tuhan adalah kiranya kita semua diberi hati yang terbuka dan keyakinan yang kokoh bahwa kita dan setiap orang yang kita cintai layak memperoleh kehidupan yang berkelimpahan, layak mendapatkan hal-hal terbaik (pendidikan, pelayanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan materi, kebahagiaan lahir dan batin) dalam kehidupan mereka.

Oleh ARIBOWO PRIJOSAKSONO
Sumber : http://www.sinarharapan.co.id

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? “(Qs. Ar Rahmaan :18 )

Wallahu a’lam bish-shawabi
Iklan

>Medan Resonansi Energi Sholat Dapat Menurunkan Angka Kejahatan & Kekerasan

>

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh..

بسم الله الرحمن الرحم
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan fahsya’ dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. 29:45)

MAHARISHI EFEK
Dalam sebuah penelitian pd th 1972, Maharishi Yogi melakukan uji coba di lebih 24 kota di Amerika. Dan dia menemukan bahwa resonansi energi meditasi dpt menurunkan angka kejahatan dan tindak kekerasan di kota tsb. Maharishi Yogi menerangkan bahwa angka kekerasan dan tindak kejahatan akan menurun drastis jika di setiap wilayah (kota) hanya 1% saja dari jumlah penduduknya melakukan sebuah tekhnik khusus meditasi transendental.

Inti dari meditasi adalah untuk menghasilkan rasa tentram dan damai di dalam hati. Maharishi Yogi berpendapat bahwa kedamaian di dalam hati yang dihasilkan oleh penduduk yang melakukan meditasi (yang jumlahnya hanya 1% dari jumlah penduduk tadi), secara otomatis akan dirasakan pula oleh lingkungan di sekitarnya.

Beberapa tahun kemudian, “International Peace Project In The Middle East” melakukan sebuah proyek uji coba yang sama. Hasil yang mengejutkan dari percobaan ini ini kemudian dipublikasikan pada Tahun 1988 dalam “Journal of Conflict Resolution”.

Untuk percobaan ini, para peneliti membawa para peserta test pada hari dan jam tertentu ke wilayah peperangan (Lebanon & Israel). Benar saja, hasilnya sungguh sangat mencengangkan. Selama para peserta tes tenggelam dalam meditasi mereka dan menciptakan kedamaian batin, angka kejahatan dan teror menurun drastis. Bahkan angka kecelakaanpun berkurang dan unit-unit gawat darurat di seluruh rumah sakit berkurang kesibukannya. Tapi begitu seluruh peserta tes tadi mengakhiri meditasi mereka. Maka semuanya kembali berlangsung seperti biasa.

Hal yang paling mengagumkan dari penelitian ini adalah ternyata hanya sedikit sekali orang yang dibutuhkan untuk memancarkan Medan Resonansi Perdamaian. Yaitu :

  • Untuk sebuah kota dengan jumlah penduduk 1 juta orang maka hanya dibutuhkan 100 orang utk melakukan meditasi.
  • Jumlah keseluruhan penduduk dunia saat ini adalah sekitar 6 milyar. Jadi dibutuhkan hanya sekitar 8000 orang saja untuk menciptakan Aura Perdamaian Dunia.

Sumber : Buku The Law Of Resonance Karya Pierre Franckh hal. 309-315

Medan Resonansi Energi Sholat
Tekhnik Meditasi Transendental Islam adalah SHOLAT. Nah, bagaimana dengan Resonansi Energi Sholat berjama’ah kita..? Sudahkah dapat mencegah perbuatan Keji & Munkar dengan radius pengaruh tidak hanya pd diri kita sendiri. Bahkan dapat mengurangi Angka kejahatan & tindak kekerasan di satu kota, negara, hingga dunia…?

Sudahkah sholat kita punya efek itu….? Sudahkah Sholat yang kita lakukan membawa Kedamian hati dan ketentraman batin ke dalam hati kita….?? Yang resonansi kedamaian hati kita itu akhirnya juga dapat terpancar ke lingkungan kita, memberikan nuansa sejuk dan damai ke lingkungan kita….?

LALU KENAPA WAJAH ISLAM SEKARANG IDENTIK DENGAN TERORISME….???
KATAKANLAH ITU HANYA HASIL PROPAGANDA ORANG KAFIR UNTUK MENJATUHKAN IMAGE ISLAM DI MATA DUNIA. TAPI KENYATAANNYA, KENAPA  KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA DI ZONA DAMAI MENGAPA MASIH SERING KITA DENGAR…..???

Padahal jelas sekali Allah menegaskan dalam firmannya :

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan fahsya’ dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 29:45)

Pengertian Fahsya’ dan Mungkar :

Di dalam ayat berbunyi  إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ 
artinya : Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan fakhsya’ dan mungkar.
  • Al-Fahsya’ (الفحشاء ) dalam tafsir DEPAG-RI diartikan dengan perbuatan keji. Arti seperti ini kurang jelas dan tegas. Bila kita buka dalam kamus Al Munawwir, artinya sangat tegas-jelas dan banyak, dari sekian arti tersebut tidak ada yang baik. Al-Fahsya’ adalah suatu sikap/amalan yang buruk, jelek, jorok, cabul, kikir, bakhil, kata-kata kotor, kata yang tidak bisa diterima oleh akal sehat, dan kata fail / pelakunya diartikan zina. naudzubillahi min dzalik. ( Kamus Al Munawwir : hal. 1113)
  • Al-Mungkar (الْمُنكَرِ) dalam tafsir DEPAG-RI diartikan sama, yaitu perbuatan mungkar, mohon perhatian, arti seperti ini kurang bisa difahami. Abdullah Ar-Rojihi dalam kitabnya Al Qoulul bayyin Al Adhhar fiddakwah menyebutkan bahwa Munkar adalah setiap amalan / tindakan yang dilarang oleh syariat Islam, tercela di dalamnya yang mencakup seluruh kemaksiatan dan bid’ah, yang semua itu diawali oleh adanya kemusyrikan. Ada lagi yang mengatakan bahwa Munkar adalah kumpulan kejelekan, apa yang diketahui jelek oleh syariat dan akal, kemusyrikan, menyembah patung dan memutus hubungan silaturrahmi.

Efek pengaruh sholat yang benar, pada pelakunya akan dapat membersihkan segala kotoran-kotoran yang ada di hati, jiwa, & pikirannya. Sebagaimana hadist Nabi yang dikeluarkan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah. Nabi bersabda :  
“Apa pendapat anda jika ada orang mandi di sungai depan anda sebanyak lima kali sehari ? Apakah masih menempel di badanya itu kotoran ? Jawab para Sahabat, Tidak, tidak ada lagi kotoranya ( bersih betul ). Jawab Nabi, itulah contoh sholat lima waktu. Allah menghapus dosa dan kesalahan-kesalahan hamba-Nya.”

Pendapat Para Ulama :

  • Abul Aliyah berkata : Di dalam sholat itu ada tiga unsur penting, yaitu Ikhlas, khosyah ( takut ) dan dzikrullah ( ingat kepada Allah ). Maka jika tiap sholat tidak ada ketiganya, tidaklah disebut sholat. Karena dengan kandungan ikhlas akan mengajak kepada yang ma’ruf, khosy-yah akan mencegah kepada yang mungkar dan dzikrullah akan mencakup makna mengajak ma’ruf dan mencegah mungkar.
  • Ibnu Mas’ud berkata : Tidaklah sholat siapa yang tidak tho’at terhadap sholatnya. Menta’ati sholat adalah mencegah perbuatan fahsya’ dan mungkar.
  • Ibnu Umar berkata : kata Nabi : Siapa telah sholat, lalu tidak beramar ma’ruf dan nahi mungkar, sholatnya tadi tidak akan menambah kecuali jauh dari Allah.
  • Al Hasan berkata : Hai anak Adam, sholat itu hanyalah mencegah keji dan mungkar, jika sholatmu tidak mencegahmu dari keji dan mungkar, maka sesungguhnya kamu tidak sholat.
  • Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Al Hasan dan Al A’masy berkata : siapa yang sholatnya tidak mencegah dari fahsya’ dan mungkar, sholatnya tidak akan menambah kecuali akan jauh dari Allah. ( padahal sholat adalah dalam rangka dekat kepada allah )
  • Al Maroghi sangat tegas mengingatkan : Sesungguhnya Allah telah memerintah kita untuk menegakkan sholat, yaitu dengan mendatanginya secara sempurna, yang memberikan hasil setelah sholat itu pelakunya adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar, baik mungkar yang nampak maupun yang tersembunyi sebagaimana firman Allah tersebut di atas. Maka jika pengaruh itu tidak ada dalam jiwanya, sesunggunya sholat yang ia lakukan itu hanyalah bentuk gerakan dan ucapan-ucapan yang kosong dari ruh ibadah, yang justru menghilangkan ketinggian dan kesempurnaan arti sholat. Allah telah mengancam terhadap pelaku sholat dengan kecelakaan dan kehinaan. Fawailullilmusholliin, alladziinahum fii sholaatihim saahuun, artinya Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.

Dalam kesempatan ini saya akan sedikit mengupas pendapat Abul Aliyah yang berkata bahwa  Di dalam sholat itu ada tiga unsur penting, yaitu Ikhlas, khosyah ( takut ) dan dzikrullah ( ingat kepada Allah ). Dan saya akan mengupas salah satu unsur sholat yaitu Dzikrullah. Karena unsur inilah yang terpenting sehingga sholat yang kita lakukan dapat memancarkan Resonansi Energi Perdamaian bagi dunia.

Efek Dzikir yang pertama adalah memberikan ketentraman di hati :
Allah Swt berfirman :

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” ( Ar Ra’d : 28)

Efek Dzikir Yang Kedua Bagi Dunia bahkan bisa meremajakan kembali bumi dan mencegah kiamat dunia :
Rasulullah bersabda :

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتىَّ لاَ يُقَالَ فِى اْلاَرْضِ : اَلله ….اَلله
“Hari kiamat tidak akan terjadi sampai di atas bumi ini tidak ada lagi orang yang menyebut Allah,… Allah.” (HR. Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)

Efek Dzikir Yang Ketiga adalah menjadikan Manusia sebagai Stasiun Pemancar Energi Ilahi Yang Aktif Dan Full Power, Rasulullah menyebut seorang ahli dzikir sebagai manusia yang “HIDUP”.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
Permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti orang yang hidup dan mati.” (HR. Al-Bukhariy no.6407 bersama Fathul Bari 11/208 dan Muslim 1/539 no.779)

Sholat adalah Dzikir terbesar :
Allah berfirman :

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain).” (QS. 29:45)

Sebenarnya hubungan dzikir dengan ketentraman jiwa dapat dianalisis secara ilmiah. Dzikir secara lughawi artinya ingat atau menyebut. Jika diartikan menyebut maka peranan lisan lebih dominan, tetapi jika diartikan ingat, maka kegiatan berpikir dan merasa (kegiatan psikologis) yang lebih dominan. Dari segi ini maka ada dua alur pikir yang dapat diikuti:

1. Manusia memiliki potensi intelektual. 
Potensi itu cenderung aktif bekerja mencari jawab atas semua hal yang belum diketahuinya. Salah satu hal yang merangsang berpikir adalah adanya hukum kausalitas di muka bumi ini. Jika seseorang melahirkan suatu penemuan baru, bahwa A disebabkan B, maka berikutnya manusia tertantang untuk mencari apa yang menyebabkan B. Begitulah seterusnya sehingga setiap kebenaran yang di temukan oleh potensi intelektual manusia akan diikuti oleh penyelidikan berikutnya sampai menemukan kebenaran baru yang mengoreksi kebenaran yang lama, dan selanjutnya kebenaran yang lebih baru akan ditemukan mengoreksi kebenaran yang lebih lama.

Sebagai makhluk berfikir manusia tidak pernah merasa puas terhadap ‘kebenaran ilmiah’ sampai ia menemukan kebenaran perenial melalui jalan supra rasionalnya. Jika orang telah sampai kepada kebenaran ilahiah atau terpandunya pikir dan dzikir, maka ia tidak lagi tergoda untuk mencari kebenaran yang lain, dan ketika jiwa itu menjadi tenang, tidak gelisah dan tidak ada konflik batin. Selama manusia masih memikirkan ciptaan Allah SWT dengan segala hukum-hukumnya, maka hati tidak mungkin tenteram dalam arti tenteram yang sebenarnya, tetapi jika ia telah sampai kepada memikirkan Sang Pencipta dengan segala keagungannya, maka manusia tidak sempat lagi memikirkan yang lain, dan ketika itulah puncak ketenangan dan puncak kebahagiaan tercapai, dan ketika itulah tingkatan jiwa orang tersebut telah mencapai al- nafs al-muthma’innah.

2.Keinginan Manusia Tidak Terbatas
Manusia memiliki kebutuhan dan keinginan yang tidak terbatas, tidak ada habis-habisnya, padahal apa yang dibutuhkan itu tidak pernah benar-benar dapat memuaskan (terbatas). Oleh karena itu selama manusia masih memburu yang terbatas, maka tidak mungkin ia memperoleh ketentraman, karena yang terbatas (duniawi) tidak dapat memuaskan yang tidak terbatas (nafsu dan keinginan). Akan tetapi, jika yang dikejar manusia itu Allah SWT yang tidak terbatas kesempurnaan-Nya, maka dahaganya dapat terpuaskan. Jadi jika orang telah dapat selalu ingat (dzikir) kepada Allah maka jiwanya akan tenteram, karena ‘dunia’ manusia yang terbatas telah terpuaskan oleh rahmat Allah yang tidak terbatas.

Hanya manusia pada tingkat inilah yang layak menerima panggilan-Nya untuk kembali kepada-Nya dan untuk mencapai tingkat tersebut menurut al-Rozi hanya dimungkinkan bagi orang yang kuat potensinya dalam berpikir ketuhanan atau kuat dalam ‘uzlah dan kontemplasi (tafakkur)-nya.

Jadi al-nafs al-muthma’innah adalah nafs yang takut kepada Allah, yakin akan berjumpa dengan-Nya, ridlo terhadap qodlo-Nya, puas terhadap pemberian-Nya, perasaannya tenteram, tidak takut dan sedih karena percaya kepada-Nya, dan emosinya stabil serta kokoh.

KESIMPULAN :
Islam akan tampil sebagai pembawa perdamaian dunia, bila umat islam sudah dapat melaksanakan sholat dengan benar. Sholat tidak akan benar bila umat Islam tidak tahu cara berdzikir yang benar. Dan cara berdzikir yang benar hanya dapat diperoleh di sekolah-sekolah yang mengkhususkan pendidikan mengenai dzikir. Yaitu TAREKAT (THARIQAH).

Sumber & Bahan Acuan :

  1.  Tafsir Ad-Durrul Mansyur Fit Tafsir Al Ma’tsur, Imam Suyuthi.
  2. Tafsir Al Jami’ Liahkamil Qur’an, Al Qurthubi.
  3. Tafsir Al Qur’anul Adhim, Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir.
  4. Tafsir Al Maroghi, Ahmad Musthofa Al Maroghi
  5. Tafsir Al Qosimi, Muhammad Jamaluddin Al Qosimi
  6. Tafsir Fathul Qodir, Al Imam Asy-Syaukani
  7. Al Asas Fie Tafsir, Said Hawa
  8. Taisir Aly Al Qodir Li-ikhtishor Tafsir Ibnu Katsir, Muhammad Nasib Ar-Rifai
  9. Bada’iut Tafsir Al Jami’ Litafsir Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah, Yasri As-Sayyid Muhammad
  10. BLOG : agussyafii.blogspot.com & maktabah-jamilah.blogspot.com

ARTIKEL TERKAIT :

  1. Inti Dari Metode NAQS adalah Menegakkan Dzikrullah
  2. Macam-Macam Dzikir Dalam Tharekat 
  3. Ringan di Lidah Namun Besar Pahalanya
  4. Do’a dan Dzikir Pelita Hati, Cahaya Bumi dan Langit. 
  5. Arti Dzikir Dalam Tharekat
  6. Intinya Bukan Mursyid & Thariqah, Tapi Apakah Niat Di Hatimu Tulus Mencari Allah..?  
  7. Siapa Yang Tidak Memerlukan Pembimbing (Mursyid)…?
Wallahu A’lam Bish Showab

>Semua Kekuatan Untuk Meraih Semua Impian Sudah Ada Di Dalam Diri Kita

>

“Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.”
( QS. Ali Imran 3:171 )

Betapa sering kita mengagumi berbagai hal di sekeliling kita. Kita mengagumi ciptaan Tuhan, seperti alam semesta dengan segala isinya: gunung-gunung, lautan, sungai, hutan, dan segala keindahan ciptaanNya yang menakjubkan. Kita juga bahkan mengagumi keindahan dan kecanggihan ciptaan manusia, seperti gedung-gedung tinggi, komputer, peralatan komunikasi, pesawat luar angkasa bahkan berbagai simbol kemewahan seperti: baju Ralph Laurent, sepatu Bally, pena Mont Blanc, dasi Giorgio Armani, dan berbagai jenis mobil mewah seperti Mercedez Benz, BMW, Jaguar, dan sebagainya.

Kita seringkali dibuat takjub oleh hal-hal yang berada di luar kita tersebut. Tetapi di sisi lain kita justru sering tidak menyadari dan tidak pernah mengucap syukur atas ciptaan Tuhan yang luar biasa dan yang merupakan maha karya (master piece) Tuhan yang paling sempurna (the ultimate creation) dari seluruh ciptaanNya yang lain, yaitu kita, manusia. Setiap kita adalah sangat berharga, bernilai tinggi, unik, dan sangat indah serta jauh lebih berharga dibandingkan apa pun di dunia ini.

Pernahkah kita menyadari bahwa tubuh kita terdiri atas 200 bentuk tulang yang berbeda yang terangkai dan tersusun secara sempurna; dibungkus dengan milyaran serat otot dan dikoordinasikan oleh jaringan syaraf yang panjangnya tidak kurang dari 10 kilometer. Jantung kita adalah sebuah pompa mekanik yang mengagumkan, yang berdenyut rata-rata 36 juta kali setiap tahunnya sepanjang hidup kita, tanpa pernah beristirahat. Sedangkan otak kita merupakan komputer canggih yang mengendalikan lebih dari seratus tugas (super multi tasking) secara bersamaan dalam sistem tubuh kita.

Pernahkah pula kita sadari bahwa setiap kita adalah unik dan setiap kita berbeda dibandingkan dengan orang lain. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang identik atau sama, bahkan saudara kembar identik pun tidak. Artinya sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna, setiap kita juga memiliki kelebihan dan kekuatan yang berbeda satu sama lain. Keyakinan itulah yang harus mendasari setiap pergumulan dan upaya kita meraih hal-hal terbaik dalam kehidupan ini.

Pernahkah kita menyadari bahwa seorang tukang parkir yang berdiri di samping sebuah mobil Mercy S700, adalah jauh lebih mengagumkan dan luar biasa dibandingkan dengan mobil tersebut. Sang tukang parkir adalah ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa, sedangkan mobil mewah adalah ciptaan manusia; tetapi kita justru lebih mengagumi mobil tersebut dibandingkan seorang manusia yang tercipta dalam kesempurnaan ilahi.

Trilogi Keyakinan
Kita tidak akan pernah dapat mencapai hal-hal terbaik dalam kehidupan jika kita tidak terlebih dulu meyakini,

  • Pertama bahwa betapa kita adalah ciptaan yang sempurna dari Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta (God creates you).
  • Hal Kedua adalah meyakini bahwa Tuhan tinggal dalam diri kita (God resides in you). Seperti sejak semula pada waktu penciptaan manusia, Tuhan meniupkan napas kehidupan atau RohNya ke dalam diri manusia.
  • Keyakinan ketiga adalah bahwa kita diberi wewenang untuk menggunakan kuasa Tuhan sebagai co-creator atas setiap realitas kehidupan yang kita inginkan.

Ketiga keyakinan inilah yang kami gunakan sebagai dasar untuk meraih hal-hal terbaik dari setiap impian kita. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya kita dapat mewujudkan setiap keinginan, setiap impian kita menjadi realitas. Bagaimana caranya mendayagunakan setiap anugerah atau kekuatan yang kita miliki untuk mewujudkan impian atau keinginan tersebut.

Empat Anugerah Ilahi
Menurut Stephen Covey, ada empat anugerah Tuhan kepada manusia yang spesifik tidak dimiliki oleh ciptaanNya yang lain. Ke empat anugerah ilahi itulah yang membuat manusia unik dan memiliki daya untuk menjadi co-creator bagi kehidupannya. Anugerah tersebut adalah

  1. Pertama, kesadaran diri, yaitu kemampuan untuk berpikir tentang proses berpikir kita sendiri. Ini yang menjadi alasan mengapa manusia memiliki kekuasaan atas semua benda di dunia ini dan mengapa manusia dapat membuat kemajuan penting dari generasi ke generasi.
  2. Kedua adalah kita memiliki imajinasi, yaitu kemampuan untuk mencipta di dalam benak kita di luar realitas kita saat ini. 
  3. Ketiga kita mempunyai suara hati, yaitu kesadaran batin yang dalam tentang yang benar dan yang salah, tentang prinsip-prinsip yang mengatur perilaku kita, dan pengertian tentang tingkat di mana pikiran dan tindakan kita selaras dengan prinsip-prinsip tersebut. 
  4. Keempat kita memiliki kehendak bebas, yaitu kemampuan untuk bertindak berdasarkan kesadaran diri kita, bebas dari semua pengaruh lain.

Dengan keempat anugerah ilahi tersebut berarti sesungguhnya kapasitas manusia tidak terbatas. Hal ini karena kita memiliki semua hal yang diperlukan untuk mencipta (imajinasi) berdasarkan tuntunan atau panduan suara hati yang mewujud atas kesadaran diri dan terdorong oleh kehendak bebas dalam diri kita.

Kalau kita perhatikan sekeliling kita, semua benda ciptaan manusia, tidak ada satu pun yang tercipta tanpa terlebih dulu melalui proses imajinasi dan upaya yang tidak kenal lelah untuk mewujudkannya (kehendak bebas) dan berdasarkan tuntunan intuisi, ilham atau inspirasi. Artinya setiap kita juga memiliki kemampuan unik tersebut untuk mencipta dan mewujudkan setiap imajinasi atau gambaran mental yang ada dalam pikiran kita menjadi realitas fisik atau kenyataan.

Analogi Gunung Es dan Kekuatan Tersembunyi Kita
Setiap manusia pada dasarnya tidak menyadari kekuatan yang dimilikinya, sampai akhirnya pada suatu titik ketika beberapa orang yang sukses dapat menemukan rahasia tersebut dan menjadi dan atau memperoleh apa pun yang mereka impikan dan inginkan selama ini. Kekuatan tersebut adalah seperti bagian gunung es yang tidak kelihatan dan tersembunyi di bawah permukaan laut.

Apa yang kelihatan di permukaan adalah apa yang selama ini kita yakini tentang diri kita. Mungkin Anda adalah seorang yang merasa rendah diri karena wajah anda tidak terlalu menarik, atau suara anda gagap, atau secara fisik anda merasa kurang sempurna, anda tidak terlalu cerdas, kurang pergaulan, atau anda merasa bahwa status sosial anda berada pada lapisan bawah. Betapa banyak alasan yang akan kita pakai untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kita tidak mampu untuk meraih semua impian atau hal-hal terbaik dalam kehidupan kita. Kita menggunakan berbagai alasan tersebut untuk menghibur diri atas ketidakmampuan kita. Sesungguhnya yang terjadi adalah kita tidak pernah mau mencoba untuk mendayagunakan seluruh potensi dan kekuatan kita sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna.

David J. Schwartz dalam bukunya The Magic of Thinking Big mengemukakan empat alasan atau dalih mengapa banyak orang tidak mencapai impian atau kesuksesan. Dalih tersebut antara lain adalah dalih kesehatan, dalih usia, dalih intelegensi dan dalih nasib. Ke empat hal itulah yang sering digunakan manusia untuk meyakinkan dirinya bahwa kesuksesan dan kehidupan yang luar biasa adalah bukan untuknya. Kita adalah sebatas pikiran kita. Pernyataan ini sangat tepat untuk menunjukkan bahwa apa pun jadinya kita, apa pun yang kita miliki semuanya tergantung dari apa yang kita pikirkan dan kita yakini.

Tujuh Kekuatan Utama Manusia
Dalam tuisan ini saya akan mencoba menguraikan tujuh kekuatan utama manusia (berdasarkan trilogi keyakinan dan anugerah ilahi yang kita miliki) yang jika digunakan dengan penuh keyakinan dan konsistensi akan membawa kita kepada kehidupan yang berkelimpahan.

1. Kekuatan Impian (The Power of Dreams)
Untuk memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupan ini, setiap kita harus memiliki impian dan tujuan hidup yang jelas. Setiap kita harus berani memimpikan hal-hal terindah dan terbaik yang kita inginkan bagi kehidupan kita dan kehidupan orang-orang yang kita cintai. Tanpa impian, kehidupan kita akan berjalan tanpa arah dan akhirnya kita tidak menyadari dan tidak mampu mengendalikan ke mana sesungguhnya kehidupan kita akan menuju.

2. Kekuatan dari Fokus (The Power of Focus)
Fokus adalah daya (power) untuk melihat sesuatu (termasuk masa depan, impian, sasaran atau hal-hal lain seperti: kekuatan/strengths dan kelemahan/weakness dalam diri, peluang di sekitar kita, dan sebagainya) dengan lebih jelas dan mengambil langkah untuk mencapainya. Seperti sebuah kacamata yang membantu seorang untuk melihat lebih jelas, kekuatan fokus membantu kita melihat impian, sasaran, dan kekuatan kita dengan lebih jelas, sehingga kita tidak ragu-ragu dalam melangkah untuk mewujudkannya.

3. Kekuatan Disiplin Diri (The Power of Self Discipline)
Pengulangan adalah kekuatan yang dahsyat untuk mencapai keunggulan. Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Menurut filsuf Aristoteles, keunggulan adalah sebuah kebiasaan. Kebiasaan terbangun dari kedisiplinan diri yang secara konsisten dan terus-menerus melakukan sesuatu tindakan yang membawa pada puncak prestasi seseorang. Kebiasaan kita akan menentukan masa depan kita. Untuk membangun kebiasaan tersebut, diperlukan disiplin diri yang kokoh. Sedangkan kedisiplinan adalah bagaimana kita mengalahkan diri kita dan mengendalikannya untuk mencapai impian dan hal-hal terbaik dalam kehidupan ini.

4. Kekuatan Perjuangan (The Power of Survival)
Setiap manusia diberikan kekuatan untuk menghadapi kesulitan dan penderitaan. Justru melalui berbagai kesulitan itulah kita dibentuk menjadi ciptaan Tuhan yang tegar dalam menghadapi berbagai kesulitan dan kegagalan. Seringkali kita lupa untuk belajar bagaimana caranya menghadapi kegagalan dan kesulitan hidup, karena justru kegagalan itu sendiri merupakan unsur atau bahan (ingredient) yang utama dalam mencapai keberhasilan atau kehidupan yang berkelimpahan.

5. Kekuatan Pembelajaran (The Power of Learning)
Salah satu kekuatan manusia adalah kemampuannya untuk belajar. Dengan belajar kita dapat menghadapi dan menciptakan perubahan dalam kehidupan kita. Dengan belajar kita dapat bertumbuh hari demi hari menjadi manusia yang lebih baik. Belajar adalah proses seumur hidup. Sehingga dengan senantiasa belajar dalam kehidupan ini, kita dapat terus meningkatkan taraf kehidupan kita pada aras yang lebih tinggi.

6. Kekuatan Pikiran (The Power of Mind)
Pikiran adalah anugerah Tuhan yang paling besar dan paling terindah. Dengan memahami cara bekerja dan mengetahui bagaimana cara mendayagunakan kekuatan pikiran, kita dapat menciptakan hal-hal terbaik bagi kehidupan kita. Dengan melatih dan mengembangkan kekuatan pikiran, selain kecerdasan intelektual dan kecerdasan kreatif kita meningkat, juga secara bertahap kecerdasan emosional dan bahkan kecerdasan spiritual kita akan bertumbuh dan berkembang ke tataran yang lebih tinggi.

7. Kekuatan Kasih (The Power of Love)
Kasih dan kedamaian dalam diri akan muncul dari kerinduan yang terus-menerus untuk memasuki hadirat Tuhan melalui meditasi. Jika dalam berdoa dan penyembahan sesungguhnya kita sedang berbicara kepada Tuhan, sedangkan dalam meditasi kita justru berusaha mendengar dalam diam, keheningan dan kesendirian (stillness – silence and solitude). Ketika kita semakin cerdas secara spiritual, maka dalam batin kita muncul kedamaian diri (inner peace) yang akan mewujud dalam sikap rendah hati (humble) dan hati yang penuh kasih. Kekuatan inilah yang akan dapat mengubah bukan hanya kehidupan kita saja, tetapi juga mengubah kehidupan orang lain di sekitar kita, lingkungan tempat kita bekerja, komunitas di mana kita tinggal, juga bangsa dan bahkan umat manusia pada umumnya.

Ketujuh kekuatan utama ini merupakan kombinasi yang tidak boleh terpisah satu sama lain untuk membawa kita kepada kehidupan yang berkelimpahan. Kelimpahan di sini adalah tidak semata-mata ukuran material (kemakmuran) semata, tetapi termasuk kebahagiaan, sukacita, damai sejahtera, rasa aman, kesehatan, persahabatan, kedamaian dan peranan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Semua dari kita berhak dan memiliki kekuatan untuk mencapai kehidupan yang berkelimpahan dan memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupannya. Semuanya ini adalah produk dari pilihan sadar kita, berdasarkan keyakinan kita, dan bukan dari produk kondisi keberadaan kita di masa lalu dan saat ini. Sebagaimana dikatakan oleh Jack Canfield dalam bukunya The Power of Focus, bahwa kehidupan tidak terjadi begitu saja kepada kita. Kehidupan adalah serangkaian pilihan dan bagaimana kita merespons setiap situasi yang terjadi pada kita.

Akhirnya saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah ungkapan yang ditulis oleh seorang penulis Amerika keturunan Cina, Lim How dalam bukunya Stronger Heart Wiser Mind, yang mengatakan bahwa:

No one is born to lose. Everyone is born to win. And the biggest difference that separates the one from the other is the willingness to learn, to change, and to grow.

Renungan ini tidak akan banyak berarti dan tidak akan pernah dapat menginspirasi kita untuk mencapai hal-hal terbaik dalam kehidupan kita, mencapai kehidupan berkelimpahan, jika setiap kita yang membacanya tidak memiliki kemauan dan hasrat untuk belajar, untuk berubah dan bertumbuh. Doa saya kepada Tuhan adalah kiranya kita semua diberi hati yang terbuka dan keyakinan yang kokoh bahwa kita dan setiap orang yang kita cintai layak memperoleh kehidupan yang berkelimpahan, layak mendapatkan hal-hal terbaik (pendidikan, pelayanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan materi, kebahagiaan lahir dan batin) dalam kehidupan mereka.

Oleh ARIBOWO PRIJOSAKSONO
Sumber : http://www.sinarharapan.co.id

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? “(Qs. Ar Rahmaan :18 )

Wallahu a’lam bish-shawabi

>Tips Mendidik Jiwa

>

Sejatinya, bahwa merubah setiap kebiasaan sama seperti merubah seorang hakim dan penguasa, memerlukan perencanaan yang betul-betul matang, pengawasan intensif, mengerahkan seluruh energi dan kemampuan.

Demikian halnya yang dituturkan Imam Ali as:”Aktifitas yang paling sulit adalah merubah kebiasaan yang ada“.

Manusia merupakan ciptaan yang terdiri dari dua unsure, jasmani dan rohani dimana ketika mengalami kedewasaan berpikir, maka dari kedua unsure tersebut pun muncul keinginan-keinginan yang relative banyak dan terkadang diantara keinginan tersebut terjadi pertentangan. Keinginan-keinginan unsure jiwa dan rohani – menariknya untuk selalu melangkah ke hal-hal yang sifatnya positif dan maqam tinggi (sebaik-baik ciptaan; Qs. At Tin:5) dan tuntutan-tuntutan yang sumbernya dari unsure fisik – senantiasa menyeret ke dunia dan segala kemegahannya yang tak bernilai (Asfala safilin; Qs. At Tin:6). Diantara ini semua, salah satu gejolak batin manusia yang meyakini pada dasar-dasar agama, adalah hubungannya dengan benturan-benturan internal ini; ia senantiasa berusaha untuk meraih kesuksesan dalam medan jihad yang dianggap Nabi saw sebagai jihad dan perjuangan terbesar dan keluar dengan selamat serta sebagai pemenang.

Kalau manusia hendak sukses dalam medan tempur yang cukup dahsyat ini, maka ia harus dengan segenap power[1] dan dengan bersandar pada pemikiran dan keinginan kuat serta menghindari usaha-usaha yang sifatnya pasif, berusaha untuk mengatur dan mendidik jiwanya; yang mana merupakan sebuah perkara yang senantiasa ditegaskan dalam untaian-untaian kalimat para Imam Ma’shum as; dalam sebuah ungkapan yang sangat indah, Imam Shadiq as menuturkan bahwa: “kalau saja umur kalian tinggal dua hari lagi, maka gunakanlah satu hari dari umur kalian itu untuk men-terbiyah diri dan jiwa kalian supaya kalian bisa mendapatkan manfaat ketika pergi meninggalkan kehidupan dunia ini (baca; mati)“.

Ucapan ini dengan jelas menerangkan bahwa kalau manusia dalam berusaha mendidik jiwa, ia menggunakan sebagian dari kapasitasnya, kemampuan dan modal umurnya maka kelak ia akan menemukan kelayakan yang luar biasa.

Dalam kesempatan ini, kami akan menjelaskan tentang tahapan-tahapan bagaimana manajemen dan mendidik jiwa dan nafs sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Imam Ali as. Tentu semuanya sepakat bahwa kajian semacam ini merupakan sesuatu yang cukup luas yang memerlukan waktu dan kesempatan yang lebih. Adapun tahapan-tahapan tentang bagaimana mengatur dan mendidik jiwa ini dalam sabda Imam Ali as adalah diantaranya:

1. Merubah Kebiasaan Buruk
Kalau saja kita sedikit merenungi sikap serta tingkah laku umat manusia, dengan cukup mudah kita akan melihat bahwa sebagian besar dari sikap dan tindakannya itu, siang dan malam, bersumber dari kebiasaan-kebiasaan yang mana muncul dalam kehidupannya; cara bicaranya, jalannya, interaksinya dengan yang lain, cara makannya dan bahkan ibadah-ibadah yang mereka lakukan, itu semua terbentuk dari kebiasaan-kebiasaannya. Kalau saja kebiasaan ini berdasarkan pada program yang sistematis dan bersumber pada aturan-aturan Islam, maka sebagian besar dari kehidupan manusia itu dapat ia control dengan mudah.

Terkait hal ini, para ulama ilmu akhlak memberikan wejangan bahwa manusia pada langkah awal dalam mendidik jiwanya, harus berusaha mengenali seluruh kebiasaan-kebiasaan yang negative itu dan secara bertahap, sesuai dengan perjalanan waktu, menggantikannya dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan positif. Tentunya sangat jelas bahwa merubah kebiasaan buruk itu menjadi kebiasaan baik merupakan hal yang sangat rumit dan sulit dan memerlukan kesabaran dan konsistensi; Imam Ali as bersabda:”kebiasaan dan adat bagi setiap manusia memiliki kekuasaan”.[2]

Sejatinya, bahwa merubah setiap kebiasaan sama seperti merubah seorang hakim dan penguasa, memerlukan perencanaan yang betul-betul matang, pengawasan intensif, mengerahkan seluruh energi dan kemampuan. Demikian halnya yang dituturkan Imam Ali as : “aktifitas yang paling sulit adalah merubah kebiasaan yang ada”.[3] Tahapan ini meskipun sulit, namun kenyataannya bahwa seorang manusia kalau ia tidak bisa melintasi tahapan meninggalkan kebiasaan negative ini, bagaimana mungkin ia bisa menaklukkan nafsunya dan menggiringnya?! Jadi, dengan memohon pertolongan Allah Swt dan dengan perencanaan dan pengawasan yang intensif, mesti mengambil sebuah sikap dan langkah dan perlu kita ketahui bahwa tanpa meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut, manusia tidak akan pernah mencapai derajat-derajat spiritual dimana Imam Ali as menyabdakan : “orang yang tetap mengikuti kebiasaan-kebiasaan dirinya, tidak akan pernah sampai dan mencapai maqam dan derajat maknawi serta spiritual.”[4]

Ketika seorang manusia telah meninggalkan seluruh kebiasaan buruknya dan menggantikannya dengan kebiasaan yang baik dan positif dan seluruh sikap dan ucapannya itu sesuai dengan aturan dan anjuran agama dan mencontoh metode dan cara para Imam Ma’shum as dan berhasil melintasi tahapan ini, maka ia akan sampai pada sebuah maqam dan kedudukan yang mana ia yang memilih kebiasaan itu. Dengan ini, ia tidak akan pernah lagi melakukan sesuatu berdasarkan kebiasaan dan adapt, akan tetapi ia akan memilih setiap perbuatan dengan berdasar pada pilihan dan hasil renungannya dan dalam pengoperasian akan terhindar dari kelalaian yang merupakan bahaya dari kebiasaan-kebiasaan tersebut.

2. Memaksa Diri Untuk Melaksanakan Ketaatan
Setelah melewati tahapan pertama, kita harus memaksa diri dan jiwa ini untuk melaksanakan ketaatan dan penghambaan kepada Allah Swt. Dari ungkapan “memaksa” lahirlah poin ini bahwa nafsu senantiasa bersikeras untuk menghindar dari melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada Allah Swt dan manusia harus memaksanya untuk menerima firman-firman Allah Swt.

Sampainya pada maqam dan kedudukan ketaatan dan penghambaan pada Yang Hak (baca; Allah), merupakan keberhasilan dalam meraih kemuliaan tertinggi bagi manusia di dunia yang fana ini dimana seperti yang dituturkan hamba Allah Swt yang ikhlas, Imam Ali as, ketika bermunajat:”Wahai Tuhan-ku, cukuplah kemuliaan ini bagiku, dimana aku menjadi hamba-Mu dan cukuplah kebanggaan ini pula bagiku, dimana Engkau menjadi Tuhan-ku. Engkau sebagaimana yang aku inginkan, maka jadikanlah diri ini sebagaimana yang Engkau cintai.“[5]

Untuk sampai pada maqam dan kedudukan taat dan penghambaan pada Allah Swt, memerlukan mukaddimah yang dintaranya yang terpenting adalah sebagai berikut:

Pertama: ma’rifat dan mengenal Allah Swt: tahapan pertama yang harus dilalui manusia untuk sampai pada maqam ketaatan dan penghambaan adalah ma’rifat dan mengenal-Nya. Tanpa mengenal bagaimana mungkin ketaatan itu bisa terealisasi?! Kalau tidak demikian, maka ayat Al Qur’an yang bunyinya “Taatilah Allah” tidak akan ditujukan kepada “Orang-orang yang beriman”?![6] hanya orang yang berimanlah yang menjadi lawan bicara Allah Swt.

Seorang manusia yang ingin menduduki maqam ‘Taat’ dan bisa mengendalikan nafsunya ditengah-tengah kehidupan material yang penuh duri ini, ia harus berusaha dengan cara meniti jalan ma’rifat dan mengenal Allah Swt. Ia harus memperkuat setiap saat keimanan dan ma’rifatnya tentang Dia dengan merenungi ayat-ayat dan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt di jagad raya ini. Dimana dalam salah satu firmannya yang sangat indah:”Kami akan memperlihatkan ayat-ayat dan tanda-tanda kami di jagad raya ini dan juga di dalam diri kalian sehingga menjadi jelas bagi mereka bahwa Allah Swt adalah hak dan benar.”[7]

Manusia yang seperti ini harus mengantarkan dirinya kepada pengenalan dan ma’rifat yang berdasar pada hasil tafakkur dengan cara menghindari kepercayaan dan keyakinan yang sifatnya musiman (Qs. Al Ankabut:65) dimana kadang bersama dia dan kadang tidak dan pada hakikatnya keyakinan kepada Tuhan itu digantikan kepada yang lainnya dan juga dengan cara melintasi pengetahuan yang rendah (Qs. Hujurat:14) dimana padanya tidak ada yang bisa mengakar dan hanya menyibukkan dia dengan hal-hal yang bersifat lahiriah dari keyakinan dan kepercayaan tersebut dan juga melepaskan diri dari segala bentuk keyakinan yang sifatnya taklid buta (Qs. Al Baqarah: 170), yang tidak akan mampu membantu manusia dalam menanggung beban penghambaan dan pada puncaknya menjauhi keyakinan yang hanya mengandalkan kebersihan batin tanpa kebersihan lahiriah.(biasanya dalam Al Qur’an kata-kata “orang-orang yang beriman” selalu disertai dengan “amal saleh”). Manusia mukmin mesti mendasari keyakinan dan kepercayaannya itu pada hasil pemikiran dan tafakkur (Qs. Ali Imran:190 dan 191) dan hendaknya pandangannya itu atas jagad ini hanya kepada Allah Swt semata dan ia menganggap-Nya sebagai pemilik segala sifat dan nama-nama yang baik (asmaul husna). (Qs. Thaha:8).

Kedua: memiliki hati yang sehat: hati manusia ketika ia bersih dari segala bentuk penyakit dan akhlak buruk serta kondisinya kembali pada awalnya (sehat dan bersih), maka akan memiliki kesiapan untuk menaati dan melaksanakan seluruh perintah yang datang dari Allah Swt. Imam Ali as dalam sebuah tuturnya yang sangat indah menyabdakan:”Sungguh bahagia orang yang memiliki hati yang sehat, ia akan menaati Tuhan Sang Pemberi Petunjuk, menjauhi setan yang selalu menyesatkan, dengan bimbingan manusia-manusia suci dan langitan, ia mencapai jalan keselamatan dengan penuh kesadaran dan melaksanakan tuntunan pembimbingnya dan bersegera kepada jalan kebahagiaan sebelum pintu-pintu dan wasilahnya tertutup….”[8]

Ketika hati itu bersih dari segala bentuk penyakit batin; yaitu akhlak buruk dan sampai pada keselamatan, maka segala bentuk kebaikan dan kebersihan akan diterimanya. Pada kondisi hati seperti ini, akan nampak dan terasa betapa manis dan nikmatnya taat dan penghambaan diri itu pada Allah Swt. Pada kondisi hati seperti ini, penghambaan pada Allah Swt akan menjadi puncak keagungan manusia. Ketika seorang manusia merasakan manis dan nikmatnya penghambaan itu, maka ia akan senantiasa mempersiapkan dirinya untuk menerima segala biaya dan pengorbanan ketaatan kepada Allah Swt; yaitu menafikan segala sesuatu selain Dia.

Ketiga: menghindari rasa bangga diri: untuk sampai pada maqam “ketaatan” tanpa membuang jauh-jauh sifat “ananiyah”(egois) merupakan sesuatu yang sangat mustahil. Seorang manusia ketika hendak menaati yang lain, harus – setelah mengenal-Nya – menyerahkan diri dan pasrah terhadap-Nya dan pada jalan ini tidak ada lagi artinya melihat sebuah berhala bernama “aku”, apatahlagi menganggap dirinya sebagai pemilik titah.

Para ulama besar dalam bidang akhlak dan irfan menuturkan bahwa: langkah yang paling penting untuk sampai kepada Allah Swt adalah langkah dimana manusia tidak lagi menghiraukan diri, keinginan-keinginan serta segala kecenderungan dirinya dan ia mampu melewati segala kemewahan dunia yang menipu yang sesuai keinginan atau kecenderungan dirinya dan kemudian dengan mudah ia akan terbang ke langit ma’rifat dan ketaatan pada Sang Khaliq. Disini kita perlu merenungi sabda Imam Shadiq as sebagai berikut:”Ketahuilah bahwa antara Allah Swt dan hamba-hamba-Nya, tidak malaikat yang menjadi perantara dan tidak pula nabi serta tak seorang pun, kecuali ketaatannya kepada Allah Swt; jadi berusahalah dalam menaati Allah Swt.”[9]

3. Menebus Masa Lalunya yang Buruk
Manusia di sepanjang umur hidupnya, terkadang tidak bisa menjaga sikap, ucapan dan pikirannya dan betapa banyak orang yang menapaki jalan panjang ini memiliki pelanggaran dan kesalahan dimana untuk bisa memetik buah dari pohon tabiyah tersebut, ia harus menyiapkan dirinya untuk membayar dan mengorbankan segala yang dimilikinya untuk menebus segala pelanggaran dan kesalahannya tersebut serta menanggung kesulitan dan derita yang sementara ini. Untuk melewati tahapan ini, Islam memberikan solusi berupa “Taubat” dan ini merupakan kesempatan emas yang sengaja disiapkan untuk dirinya. Betapa indah untaian hikmah yang dilontarkan Imam Zaenal Abidin as, berikut ini: “Wahai Tuhan-ku, Engkau adalah yang membuka pintu maaf bagi hamba-hamba-Mu yang Engkau menyebutnya dengan ‘At Taubah’ kemudian Engkau berfirman: bertaubatlah kalian kepada Allah Swt dengan sebenar-benarnya taubat. Jadi uzur (halangan) apa gerangan yang membuat orang lalai dari memasuki pintu ini (baca; taubat)?!.“[10]

Kalau seseorang punya maksud dan niat untuk sukses dalam mengatur dan mentarbiyah jiwanya, maka ia harus mencuci segala tindak kebodohan dan masa lalunya itu dengan cara bertaubat dan menjauhi serta membersihkan diri dari segala bentuk kelalaian serta memanfaatkan segala pikiran dan usahanya itu semata untuk mengabdi kepada Allah Swt.

Tentang makna menyeluruh istigfar dan taubat, mesti perlu mengisyaratkan kepada kalam Imam Ali as dimana beliau menjelaskan hakikat istigfar tersebut dalam enam tahapan:

Seseorang ada bersama Imam Ali as dan tanpa perhatian yang semestinya mengatakan:”Astagfirullah”.

Imam Ali as berkata:”hendaknya ibumu menangis karenamu; tahukah kamu arti istigfar itu apa? Istighfar itu merupakan sebuah tingkatan yang tinggi dan memiliki enam makna:

  1. Pertama : menyesal atas apa yang telah kamu lakukan;
  2. Kedua : bertekad untuk tidak mengulangi kembali perbuatan yang lalu;
  3. Ketiga : membayar seluruh hak orang lain serupa mungkin dimana ketika menemui Allah Swt, kamu dalam kondisi yang bersih dan tidak punya beban tanggungan;
  4. Keempat : seluruh kewajiban yang telah kamu tinggalkan, lakukan dan penuhilah dan tunaikanlah sebagaimana mestinya;
  5. Kelima : daging tubuhmu yang mana tumbuh dari yang haram, lelehkanlah dengan cara penyesalan yang luar biasa, sampai betul-betul kulit menempel pada tulang dan daging baru yang tumbuh dari badan kamu;
  6. Keenam : rasakanlah ke tubuh anda akan beratnya ketaatan dan penghambaan tersebut, sebagaimana halnya anda rasakan kepada badan anda bagaimana manisnya berbuat dosa.

Kemudian barulah kamu katakana disini:”Astaghfirullah.”[11]

4. Melakukan Perbuatan Baik
Seorang manusia yang berusaha untuk mendidik dirinya, selain melaksanakan segala kewajiban Ilahi dan taklif, juga harus menciptakan system keamanan atas kewajiban-kewajibannya dari serangan berupa bisikan-bisikan setan dengan cara melaksanakan perbuatan dan amalan mustahab (yang dianjurkan) dan juga amal saleh. Ketika seorang manusia telah menciptakan wilayah keamanan ini dalam bentuk perbuatan yang sifatnya tidak wajib dan perbuatan-perbuatan baik atas beban-beban dan kewajibannya, maka ketika itu anak panah yang dipenuhi racun keraguan dan kemalasan, yang tentunya bersumber dari musuh nyata manusia, setan, (Qs. Fathir:6), akan mengarah kepadanya, dan akan menyibukkannya pada masalah-masalah yang sifatnya sunnat dan mustahab serta akan membuatnya meninggalkan atau bermalas-malasan melaksanakan kewajiban yang mesti dilakukannya.

Menghiasi diri dengan akhlak mulia dan terpuji serta amal saleh, selain menempatkan manusia pada kondisi terjaga dari segala bentuk kesesatan, ia juga akan memperkuat energi manusia dalam melaksanakan penghambaan dan ketaatan kepada-Nya. Rasulullah saw bersabda : “Saya menemukan hasil dari perbuatan baik itu, dimana ia membuat hati bercahaya dan wajah berbinar-binar serta memberikan energi dan kekuatan.“[12]

5. Menjaga dari Melakukan Dosa
Dosa adalah manusia itu tidak menjaga batas dan aturan dan melakukan segala apa yang Allah Swt larang. Dosa adalah sebuah penyakit yang sangat berbahaya dan layaknya hewan yang membangkan dimana kalau seorang manusia mencoba mengendarainya, maka akan dibawanya sampai terjerembab ke dalam neraka; Imam Ali as bersabda:”Ketahuilah bahwa sesungguhnya dosa-dosa itu ibarat kendaraan yang rusak dan membangkan dimana para penunggannya (para pendosa) akan dijerumuskan ke dalam api jahannam.”[13]

Supaya manusia terjaga dari melakukan dosa dan mengobati maksiat dan pembangkangannya itu dalam hidupnya, maka sangat sesuai jika ia melaksanakan ketiga tahapan berikut ini:

pada langkah pertama, manusia harus percaya bahwa dosa merupakan sebuah penyakit dan kekurangan; dalam Al Qur’an dan riwayat-riwayat banyak ditegaskan tentang dosa-dosa tersebut merupakan sebuah penyakit dan sangat jelas bahwa selama seorang manusia tidak menerima bahwa dosa itu adalah sebuah penyakit dan tidak melihatnya sebagai sebuah kekurangan dan kecacatan, maka tak akan pernah ia berpikir untuk mengobatinya. Berobat dan menyelesaikan masalah itu bisa dianggap hanya ketika inti masalah tersebut kita terima. Sebagaimana yang dinyatakan Al Qur’an ketika berbicara kepada para istri Nabi dan juga kepada seluruh kaum wanita. (Qs. Al Ahzab:33). Dalam ayat ini menganggap bahwa ketidak terjagaan (non-iffah) itu merupakan penyakit hati.

Mempercayai adanya pengaruh dari dosa-dosa tersebut; dosa dalam banyak riwayat dianggap memiliki pengaruh yang bermacam-macam dan sangat berbahaya pada kehidupan pribadi manusia, keluarga dan social dimana untuk memiliki motifasi yang cukup dalam mengobati dosa dan mengeluarkan biaya untuknya, maka mesti menerima pengaruh dan dampak serta bahaya dari dosa tersebut. Diantara dampak dan imbas dari dosa tersebut antara lain: dosa seorang manusia itu bisa membawanya kepada mendustai ayat-ayat Allah Swt. (Qs. Rum:10); dosa akan membuat nikmat tersebut berubah (Muhammad Ya’qub Kulaini, Al Kafi, jilid 3, hal. 376); dosa membuat umur manusia menjadi pendek (Abu Ja’far Thusi, Amali, hal. 305 dan Muhammad Baqir Majlisi, Biharul Anwar, jilid 5, hal. 140); dosa menyebabkan tidak terkabulnya doa-doa (Muhammad Ya’qub Kulaini, al Kafi, jilid 2, hal. 271); dosa dapat menyebabkan berkuasanya kejahatan dan kezaliman di tengah masyarakat Islam (Hurra Amili, Wasailus Syi’ah, jilid 11, hal 242); dan lain-lain.

Setelah menerima bahwa dosa itu merupakan sebuah penyakit dan juga mengabulkan bahwa ia memiliki dampak yang bisa merusak, pada langkah ketiga dalam rangka mengobati maka harus ditemukan dalam diri ini penyebab dari dosa tersebut. Kalau seorang manusia percaya dan meyakini akan adanya mabda’ dan ma’ad, menyerahkan diri pada kehidupan duniawi dengan melakukan dosa, pasti memiliki sebab dimana menemukannya itu sangat bisa membatu dia dalam mengobati dirinya. Umumnya bahwa dosa yang dilakukan manusia mungkin saja memiliki sebab yang bermacam-macam, namun pada manusia yang memiliki keyakinan, meskipun itu hanya sedikit saja, terhadap prinsip-prinsip agama, terdapat dua sebab asli mereka bisa melakukan perbuatan dosa dan kalau seorang manusia mampu mengontrol sebab ini yang tentunya dengan sebuah program, maka peluang dosa yang ada dalam dirinya akan terhapuskan. Penyebab pertama adalah kelalaian manusia dan yang kedua adalah kecenderungan-kecenderungan serta instink manusia yang merupakan nikmat pemberian Tuhan kepada diri manusia dan kalau kedua hal ini bisa terkontrol dengan baik dengan cara dan metode yang baik (yang diatur dalam Islam) maka nantinya akan terhindar dari melakukan dan mengulangi perbuatan dosa.

Bahan Bacaan :

  • Sumber Artikel : TELAGA HIKMAH.ORG
  • Al Qur’an.
  • Nahjul Balaghah, terjemahan Muhammad Dasyti.
  • Muhammad bin Ali bin Babwaih, Al Amali, yayasan al Bi’tsah, cetakan pertama 1417 H.
  • Muhammad Baqir MAjlisi, Biharul Anwar, yayasan Al Wafa, Beirut, cetakan kedua 1403 H.
  • Muhammad bin Ya’qub Kulaini, Al Kafi, Darul Kutub al Islamiyah, cetakan ketiga 1388 Syamsi.
  • Muhammad bin Hasan Hurra Amili, Wasailus Syi’ah, Darut Turats al ‘Arabi.
  • Muhammad Rei Syahri, Mizanul Hikmah, Daftar-e tablighat-e Islami Hauzeh Ilmiyah Qom, cetakan keempat 1371 Syamsi.
  • Ali bin Muhammad Laitsi, ‘Uyunul Hikam wal Mawa’izh, Darul Hadits, cetakan pertama 1376 Syamsi.
  • Muhammad bin Ali Karajiki, Kanzul Fuad, Maktabah Al Mushthafawi, Qom, cetakan kedua 1410 H.
  • Abbas Qumi, Mafatihul Jinan, Intisyarat Uswah.
  • Ali bin Hisamuddin Hindi, Kanzul ‘Ummal, yayasan Al Risalah, Beirut.
  • Abul Fadhl Ali Tabarsi, Misykatul Anwar fi Ghuraril Akhbar, Maktabah Al Haidariyah, Najaf, cetakan kedua.
  • Husain Nuri Tabarsi, Mustadrakul Wasail wa Mustambitul Masail, yayasan Alul Bait Li Ihyaitturats, cetakan pertama 1408 H.
  • Abu Ja’far Muhammad bin HAsan Thusi, Al Amali, Daruts Tsaqafah, Qom, cetakan pertama 1414 H.
  • Syeikh Mufid, Al Ikhtishas, Jam’eh Mudarrisin Hauzah Ilmiyah Qom.
  • Sayyid Murtadha, Al Amali, Maktabah Al Mar’asyi al Najafi, cetakan pertama 1403 H.
  • Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, Darul Ihyail Kutub al ‘Arabiyah.
Wallahu a’lam bish-shawabi

Menembus Dimensi Ruang & Waktu seri 3 (LORONG WAKTU)

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” 
( QS. Al Baqarah 2:255 )

LORONG WAKTU
Teori Wormhole (lubang cacing) merupakan teori jalan pintas melewati ruang dan waktu. Istilah Wormhole diperkenalkan oleh John Archibald Wheeler pada tahun 1957. Teori ini bermula dari teori relativitas Albert Einstein. Dimana, ruang dan waktu adalah entitas tunggal, dalam 4 dimensi, dan gravitasi yang cukup kuat akan melekukkan ruang-waktu.

Melalui suatu model lorong, struktur ruang-waktu yang tertekuk dapat menghubungkan dua tempat dari ruang-waktu yang sangat jauh. Hal ini mencari penjelasan dari partikel fundamental dalam ruang-waktu.

Teori Wormhole dapat terbagi dua, yaitu Intra-universe dan Inter-universe. Intra-universe, yaitu kita dapat masuk ke jalan pintas dan keluar pada tempat lain yang masih berada pada semesta kita, sedangkan Inter-universe, kita dapat masuk ke jalan pintas dan keluar pada tempat yang berada di semesta lain (sesuai teori many world interpretation/Dunia Multi Dimensi).

Tidak ada yang datar atau solid. Jika diperhatikan maka semua materi pasti memiliki lubang atau kerutan di dalamnya. Hal tersebut merupakan prinsip dasar dan bahkan bisa diterapkan pada waktu. Ada kebenaran tentang dimensi keempat, dalam waktu ada sisi kosong, kerutan, lubang maupun celah.

Dengan skala yang amat sangat kecil bahkan lebih kecil dari molekul dan atom, ada sebuah tempat yang disebut dengan buih kuantum, di dalam sanalah keberadaan wormhole. Terowongan kecil atau jalan pintas untuk melewati kanal dan bentuk ruang dan waktu. Dengan tiba-tiba bisa menghilang masuk ke dalam dunia kuantum dan karena terhubung dengan lokasi dan waktu lainnya, maka akan muncul di sana.

[pakar.blogsome.com] Star Trek adalah satu contoh dari sekian banyak Science Fiction Film (film fiksi pengetahuan-ilmiah). Film ini disutradarai oleh Gene Roddenberry, dan bercerita tentang pengembaraan manusia dengan sebuah pesawat super canggih yang secara tidak sengaja masuk ke dalam area kehidupan baru. Pesawat tersebut adalah USS Enterprise dengan beberapa awak di dalam siap mengemban misi kemanusiaan menemukan celah-celah kehidupan.

Suatu ketika, pesawat USS Enterprise terjebak dalam suatu gangguan atau fluktuasi ruang-waktu subspace yang membuatnya memasuki suatu wilayah nan eksotik dan nostalgis: masa lalu. Sedemikian menggetarkannya peristiwa itu, karena USS Enterprise bertemu dengan USS Enterprise generasi sebelumnya yang dalam buku sejarah disebutkan telah hancur lebur dalam suatu peperangan, namun saat itu dalam keadaan utuh. Belum lagi hal mengejutkan lainnya, yakni perjumpaan para awak dengan officer wanita muda, Letnan Tasha Yarr, yang telah mati, tetapi saat itu dalam keadaan sehat-sehat saja alias masih hidup. Luar biasa! USS Enterprise kembali ke masa lalu, bahkan berjumpa dengan orang-orang yang telah mati. Ia telah melakukan perjalanan menembus kematian!

Tentu timbul pertanyaan dalam benak kita, benarkah kita dapat melakukan perjalanan ke masa lalu dan bertemu dengan para nenek moyang kita yang sudah meninggal, mungkin untuk menanyakan kebenaran sejarah yang ditulis saat ini? Atau, apa yang terjadi sekiranya kita dapat kembali ke masa lalu, kemudian membunuh kakek-nenek kita (namun tentu jangan dilakukan) yang belum sempat melahirkan kedua orang tua kita? Adakah kita tetap dalam bentuk seperti sekarang ini? Bukankah tali silsilah telah kita potong? Bagaimana ini, sebab-akibat sedemikian kacaunya!

Biarlah Gene Roddenberry dengan Star Treknya. Toh siapa tahu hal itu dapat terbukti kelak di masa depan. Namun, baiklah kita melihat sisi ilmiah dari satu sampel pemikiran gila ini. Dan bagaimana bila pemikiran ini dikembangkan ke arah kemungkinan-kemungkinan yang lain. Mungkinkah itu terjadi?

EINSTEIN DAN TEORI RELATIVITAS
Dimensi yang selama ini kita kenal sebatas tiga track-sebut saja ruang berdimensi tiga. Namun Albert Einstein dengan pengembaraan otaknya menambahkan sebuah dimensi baru yakni dimensi waktu. Dengan demikian kini dimensi kehidupan fisis alam semesta ini tidak sebatas tiga, tetapi empat dimensi-tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Hakekat waktu merupakan satu bagian dari kajian rumit dalam teori relativitas Einstein. Dan untuk memahami sekelumit teori relativitas Einstein, ada baiknya kita menengok beberapa pertanyaan sederhana berikut ini:

  1. Apakah kita melihat dunia ini menurut hakekatnya ?
  2. Apakah langit itu betul-betul biru..?
  3. Benarkah ladang-ladang itu hijau..?
  4. Benarkah rasa madu itu manis..? dan pare itu pahit ..?
  5. Apakah air itu cair dan es itu padat ?
  6. Benarkah kayu itu benda padat seperti yang indera kita rasakan ?
  7. Benarkah kaca itu benda bening tembus cahaya, dan dinding itu tidak tembus cahaya ?
  8. Dapatkah kita meyakinkan bahwa sebuah benda bergerak sementara benda yang lain diam ?

Menurut khayalan kita, semua pertanyaan di atas pasti dapat kita jawab dengan gamblang, dan para sarjana sejak dulu mengira bahwa hal-hal seperti ini sudah tidak menjadi persoalan lagi. Tetapi, sekarang semua itu berobah menjadi suatu teka-teki. Keyakinan ilmiah ini telah berantakan. Palu godam yang menghancurkan keyakinan ini dan menyingkapkan bahwa seperti ini hanyalah buih adalah otak jenius Einstein..dengan teorinya yang merobah pandangan fondamental tenang alam, teori relativitas.

Teori relativitas, semenjak dicetuskannya tahun 1905 sampai sekarang telah berkembang di atas menara gading yang tak dapat dicapai kecuali oleh sarjana-sarjana tertentu. Mendengar teori relativitas, orang biasa akan merasa ngeri seolah-olah mendengar cerita gaib yang penuh rahasia atau seperti momok, tak berani mendekatinya. Dr. Mousyirifa mengatakan bahwa di dunia ini tak ada manusia yang bisa memahami teoori ini kecuali 10 orang.

Sejarah telah melihat bahwa dengan teori relativitas manusia mampu menciptakan bom atom. Relativitas tidak lagi merupakan sekadar teori, tetapi telah diterapkan; dengan bahayanya yang mengancam wujud umat manusia dan masa depannya di permukaan bumi ini. Toeri relativitas telah keluar dari lingkaran hypotesis dan rumus-rumus matematika, berobah menjadi kenyataan yang menakutkan. Dengan demikian setiap individu perlu mengetahuinya.

Berbagai usaha telah dilakukan oleh para sarjana untuk menyederhanakan teori ini hingga mudah dimengerti. Eddington, James Jean, Edward Berhand, Russel, bahkan Einstein sendiripun telah berusaha untuk menyederhanakan bagian-bagian yang rumit dari teorinya. Dia berpendapat bahwa informasi yang kurang dan hanya dikuasasi oleh sejumlah kecil sarjana, walaupun dengan alasan spesialisasi dan pendalamanan, hanya akan membawa kepada terisolisirnya ilmu pengetahuan, akan melenyapkan roh filsafat rakyat banyak. Einstein membenci pendewaan ilmu dan ilmiah, penyelubungan ilmu dengan teori yang berbelit-belit, tabu ilmiah. Einstein selalu mengatakan bahwa hakekat itu adalah sederhana.

Usahanya terakhir yang diselesaikan tahun 1949 adalah mencari satu hukum terakhir dengan hukum mana dapat deijelaskan seluruh hubungan yang di jagad raya ini. Teori relativitas bukanlah semata-mata merupakan rumus-rumus tetapi juga mengandung segi filsafat. Tentang rumus-rumus matematika, Einstein mengatakan bagwa rumus-rumus itu muncul di otaknya sebagai akibat dari pengembaraan pemikiran dimana dia berusaha menggambarkan bentuk yang dari alam ini.

Baiklah kita berhenti sejenak pada point pengembaraan filsafat ini. Dan rumus-rumus matematika kita serahkan saja kepada yang ahli. Kita mulai dari awal, dari sebelum Einstein, dari soal-soal yang kita sebutkan di permulaan:

Apakah kita betul-betul melihat dunia ini menurut hakekatnya ?
Tidak, kesemuanya itu bukanlah hakekat, semua itu adalah yang kita lihat, kita rasa tapi bukan hakekat. Cahaya putih kita lihat berwarna putih, kalau cahaya putih itu kita lewatkan pada prisma kaca, akan terurai menjadi tujuh warna, yaitu warna spektrum : merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu (violet).

Kalau kita pelajari apa sebenarnya warna-warna itu kita tidak akan memjumpai apa dia, yang ada hanyalah perbedaan panjang gelombang, perbedaan frekuensi, tidak kurang tidak lebih. Tetapi mata kita tidak mampu melihat gelombang ini sebagi gelombang, tidak sanggup merasakan getaran-getaran sebagai gelombang. Yang terjadi adalah, sel-sel syaraf di selaput jala kita terpengaruh oleh macam-macam getaran ini dengan cara berbeda-beda menurut jenis getaran. Pusat syaraf mata di otak akan menerjemahkan berita dari syaraf ini dalam bentuk warna-warna. Tetapi gelombang cahaya itu bukanlah warna, semata-mata gelombang dan getaran, dan otak kita deengan bahasanya sendiri, untuk membedakan satu dari yang lain, memberikan definisi-definisi dalam bentuk tanggapan-tanggapan, itulah warna.

Ladang-ladang yang kita pandang berwarna hijau bukanlah hijau, yang terjadi adalah daun-daun tumbuhan menyerap semua gelombang cahaya kecuali panjang gelombang tertentu yang masuk ke mata kita, mempengaruhi sel-sel mata; pengaruh itu menurut bahasa otak berarti hijau. Demikian pula warna-warna yang lain, sebenarnya bukan warna. Tidak lebih dari pada berkas-berkas sinar yang dianalisa oleh otak, dengan bahasanya sendiri, otaklah yang menyatakan itu adalah warna.

Kekacaubalauan (chaos) ini akan lebih jelas lagi kalau kita lihat contoh yang kedua, yaitu madu. Madu bagi kita terasa manis, namun bagi sejenis cacing tertentu ia terasa lain. Jadi rasa manis bukanlah sifat mutlak yang melekat pada madu, tetapi hanya sifat nisbi, tergantung pada syaraf perasa yang terdapat pada lidah kita dan diterjemahkan menurut istilah khusus sebagai akibat dari pengaruh molekul madu pada lidah kita. Mungkin saja pengaruh pada alat perasa ini antara binatang satu dengan lainnya memberikan rasa yang berbeda-beda, madu dapat terasa pahit.

Kalau kita contoh ketiga dan kita bertanya betulkah air itu cair, dan es itu padat? Persoalannya akan lebih jelas lagi. Air, es dan uap air mempunyai unsur dan susunan kimia yang sama (perbandingan Hidrogen dan Oksigen = 2 : 1). Perbedaannya, bukanlah perbedaan hakekat, hanyalah perbedaan dalam cara. Jika air diletakkan di atas api, berarti kita memberinya panas, atau lebih tepat dikatakan kita memberinya energi. Gerak partikel-partikelnya akan lebih cepat, selanjutnya partikel-partikel itu akan terpisah jauh satu dengan yang lainnya.

Jadilah ia gas (uap air). Jika energi yang diambil dari api itu hilang, maka gerak partikel-partikel itu kembali menjadi pelan dan lemah; satu sama lain akan saling berdekatan sampai pada suatu batas, dimana indera kita mengatakan bahwa partikel-partikel itu sekarang berobah membentuk cairan. Kalau energi itu kita keluarkan lagi, kita dinginkan terus-menerus, maka gerak partikel makin pelan, partikel-partikel lebih berdekatan sampai kepada suatu batas di mana indera kita mengatakan bahwa ia sekarang berbentuk padat (es). Ketiga tingkat wujud zat, gas, cair, dan padat hanyalah berbeda dalam gejala bentuk, berbeda pada jauh dekatnya letak paertikel-partikel dari zat yang satu yaitu air.

Beningnya air dan baurnya salju tidak lain dari letak partikel-partikel air sedemikian rupa sehingga pandangan kita dapat melewati ruang-ruang antar partikel. Itu tidak berarti bahwa partikel-partikel es itu melekat satu sama lain; antar partikel itu tetap terdapat jarak, hanya lehih dekat. Demikian pula partikel atau molekul setiap zat, walaupun zat besi, tetap mempunyai ruang antar moekul, malah molekul-molekul terrdiri dari atom-atom dengan ruang antar atom. Setiap atom tersusun lagi dari proton-proton dan elektron-elektron yang satu dengan lainnya mempunyai jarak yang relatif jauh, seperti jauhnya matahari dari planet-planet tata surya. Benda-benda itu sebenranya kosong, terdiri dari ruang hampa yang di sana-sini bertebaran atom-atom. Sekiranya indera penglihatan kita sempurna, maka pandangan kita akan dapat menembus dinding, karena susunannya yang berlobang, seperti jaring-jaring ayak.

Kalau kita saling melihat dengan mempergunakan sinar-X, bukan dengan sinar biasa, kita akan melihat bahwa tubuh kita ini hanya terdiri dari kerangka, karena sinar-X dapat menembus ruang antar molekul daging, daging akan terlihat bening seperti kaca. Jadi penglihatn kita yang kurang sempurnalah yang menyebabkan pandangan tak bisa menembus dinding, padahal yang sebenarnya bukan dimikian. Dinding itu mempunyai ruang-ruang kosong, tetapi kemampuan organ kita terbatas dan sinar yang dipakai tidak dapat menembusnya, sinat itu malah memantul kembali dipermukaannya,, lalu kita menanggapi sebagai dinding yang membatasi penglihatan kita.

Seluruh tanggapan kita sifatya relatif dan nisbi, jadi bukan hakekat. Alam yang kita lihat bukanlah alam yang sebenarnya, semata-mata istilah yang kita berikan sendiri. Di situ kita hidup dan terkembang oleh rumus-rumus yang diciptakan oleh otak kita sendiri, menggiring kita kepada suatu yang kita tidak mengetahui hakekatnya.

MATERI TERCEPAT
Albert Einstein dalam teori relativitasnya menunjukkan bahwa tak ada objek di alam ini yang dapat mencapai kecepatan cahaya. Kecepatan gerak cahaya sebesar 3 x 108 m/second. Secara teoritik dapat diturunkan, bahwa jika suatu benda bergerak dengan kecepatan cahaya, maka benda tersebut haruslah bergerak di masa kini dan masa depan, tak akan pernah ia bergerak ke masa lalu.

Suatu benda akan kita ketahui keberadaanya dari suatu informasi yang datang daripadanya. Informasi tersebut biasanya dalam bentuk gelombang elektromagnetik yang bergerak dengan kecepatan cahaya. Informasi yang berasal dari benda yang bergerak dengan kecepatan yang lebih kecil dari kecepatan cahaya akan sampai ke kita lebih awal dari kedatangan benda. Namun informasi yang datang dari benda yang memiliki kecepatan lebih tinggi dari kecepatan cahaya akan datang belakangan, benda sampai lebih dahulu. Tetapi karena kita baru mengetahui keberadaan benda itu berdasar informasi yang datang darinya, maka benda itu tak pernah ada bagi kita.

Ilmuwan menamakan sebuah partikel yang mampu bergerak dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya sebagai tachyon..George Sudharsan punya pendapat kontroversial tentang hal ini. Sekalipun Einstein mengatakan bahwa tak ada objek materi yang dapat mencapai kecepatan cahaya, namun teori relativitas Einstein tidak mengatakan bahwa tak ada apapun yang mampu bergerak lebih cepat dari cahaya. Logika Einstein hanya begini; karena tak ada objek yang dapat mencapai kecepatan cahaya, maka tak ada objek apapun yang mempu melebihi kecepatan cahaya. Lalu apa yang terjadi jika sebuah objek telah bergerak dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya sejak objek itu tercipta? Bukankah ia tak pernah muncul dalam realitas – yang kita istilahkan sebagai ‘tak pernah ada’? Maka tachyon pun tak pernah mencapai kecepatan cahaya. Kecepatan cahaya tak pernah dicapai olehnya, karena terlalu pelan baginya.

Di lain pihak, tachyon memiliki massa imajiner. Artinya jika bilangan yang menunjukkan massa tachyon kita kuadratkan, maka hasilnya akan merupakan bilangan negatif-ini sungguh tal cocok dengan realitas. Yang lebih gila lagi, tachyon ini dapat melanggar arah waktu, sehingga dua pengamat bisa tidak sependapat terhadap dua kejadian tachyon yang terjadi lebih dulu. Ini yang disebut sebagai kekacauan sebab-akibat, mana sebab mana akibat.

Sudharsan mengajukan tiga alasan mengapa para fisikawan begitu bersemangat memburu partikel hipotetis ini. Pertama, tak ada alasan untuk percaya bahwa tachyon tak ada. Dia membandingkan alasan ini dengan Paul Dirac yang menghipotesiskan eksistensi partikel dengan energi negatif yang kemudian diketemukan oleh Carl Anderson sebagai positron. Kedua, tachyon tetap muncul dalam penghitungan matematis yang merupakan jantung fisika teori. Ketiga, tachyon dapat memberikan informasi yang dapat mebantu pengungkapan pelbagai misteri dalam fisika partikel, fisika antariksa, dan kosmologi, jika ia muncul. Sesungguhnya, pemunculan tachyon akan banyak menyingkap misteri tentang arah waktu, dan juga imajinasi dalam Star Trek di atas.

Aharon Davidson dari Universitas Ben-Gurion mendapati dalam perhitungannya bahwa semua partikel elementer yang kita kenal dalam alam semesta ‘tiga dimensi’ kita akan menjadi tachyon bila diamati dari sudut pandang ‘empat dimensi’. Davidson juga mendapati bahwa tachyon dimensi tinggi ini juga memberikan penalaran tentang sifat-sifat dimensi keempat yang biasanya hanya berupa asumsi. Dia juga mengatakan bahwa kita tidak mengetahui apa arti kausalitas (hukum sebab-akibat) di dunia ‘empat dimensi’ karena mungkin hal itu bukanlah problem penting seperti di dunia ‘tiga dimensi’ kita.

Namun dunia tachyon ini pulalah yang sering merepotkan para ahli yang menggeluti teori superstring yang saat ini begitu populer sebagai kemungkinan cikal-bakal suatu Theory of Everything. Tachyon dianggap sebagai pembunuh potensial bagi kebanyakan ahli superstring seperti halnya pembagian dengan bilangan nol dalam aljabar atau dalam proses komputasi. Namun ada pula sebagian ahli yang menyimak kemungkian bahwa tachyon merupakan sebuah konsekuensi penting dari teori string ketimbang sebagai suatu penyakit. Hal ini mungkin saja seperti Einstein yang tidak menyadari bahwa teori relativitas umumnya telah mengimplikasikan semesta yang mengembang -tidak statik- sehingga perlu memasukkan tetapan kosmologi agar persamaannya cocok bagi semesta yang statik (maklumlah saat itu orang tidak tahu bahwa alam semesta mengambang, hingga Hubble menginformasikan penemuannya). Einstein pun kemudian mengatakan bahwa pelibatan tetapan kosmologi yang hipotetis itu merupakan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Seluruh tanggapan kita sifanya adalah relatif, jadi bukan hakekat. Alam yang kita lihat bukanlah alam yang sebenarnya, semata-mata istilah yang kita berikansendiri. Di situ kita hidup dan terkembang oleh rumus-rumus yang diciptakan oleh otak kita sendiri, menggiring kita kepada suatu yang kita tidak mengetahui hakekatnya. Benarlah apa yang dilakukan oleh pelukis-pelukis abstrak, mereka berusaha untuk mengekspresikan apa yang mereka lihat. Menurut cara-cara mereka dengan instinknya mereka merasa bahwa apa yang dilihat oleh mata, bukanlah yang sebenarnya, jadi mereka tak merasa terikat, mereka dapat merasakan hakekat sesuatu, bukan dengan mata tetapi dengan akal. Mungkin dengan akal bathin, atau intuisinya, atau rohnya. Sarjana mempunyai cara yang berbeda dengan seniman. Ia memakai rumus-rumus dan hitungan-hitungan, dengan hipotesa dan teori, kemudian membuktikannya dengan percobaan-percobaan.

Sebagian besar dari rumus-rumus yang ditulis Einstein adalah abstrak, jauh dari kenyataan dalam bentuk angka-angka dan rumus-rumus matematika. Usaha sungguh-sungguh dari seorang sarjana yang ingin menghancurkan dan melenyapkan sintesa dan analisa tradisional, menggantinya dengan pandangan tentang hakekat yang tadinya tersembunyi di balik selubung kebiasaan dan tradisi.

Lalu bagaimana dengan terbolak-baliknya sebab-akibat dalam Star Trek di atas? Mungkinkah kita menembus ‘dinding kematian’? Tampaknya dalam dunia ‘tiga dimensi’ kita, hal itu tak mungkin dilakukan. Ada ‘dinding kecepatan cahaya’ yang selalu menghadang. Namun tidak tertutup kemungkinan pelanggaran kausalitas bila kita telah berada dalam dunia ‘empat dimensi’. Hanya sayangnya, hukum sebab-akibat mungkin tak penting lagi dalam dunia ‘empat dimensi’. Imaji tentu bebas mengembara ke wilayah yang ‘belum pernah dikunjungi’, meskipun tetap ada constraint yang tetap harus kita sadari. Tampaknya imajinasi kadang lebih penting dari sains, seperti yang pernah dikatakan Einstein. Paling tidak bagi Gene Roddenberry. Tetapi bagaimanapun kita harus tuduk pada satu hal yang telah pasti, bila kita tidak yakin akan mampu menembus kematian, yakinlah bahwa kematian akan menembus dan menjemput kita walau kita berada di ufuk alam semesta yang yang paling jauh sekalipun.

Demikian kitab suci mengisyaratkan. “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di ujung galaksi yang paling jauh…” QS.4:78.

Wallahu a’lam bish-shawabi