Menebar Kasih Menuai Rahmat Allah

Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (Yunus: 58)

Di antara kebutuhan asasi manusia adalah kasih sayang. Setiap orang memerlukannya, tanpa kecuali. Setiap saat dan setiap waktu kita sangat merindukan kasih sayang orang lain, khususnya orang-orang yang terdekat. Namun banyak di antara kita yang tidak sadar bahwa yang paling menyayangi kita adalah Allah Yang Maha Pencipta. Sifat utama Allah dalam rangkaian Al Asma-ul Husna (Nama-nama Allah yang baik) adalah Ar- Rahmaanir-rohiim (Yang Maha pemurah lagi Maha Penyayang). Allah telah menetapkan dalam dirinya kasih sayang. Kasih sayang Allah telah meliputi murkanya sehingga kemarahan Allah pun sebenarnya dalam rangka sayangnya kepada kita.

Allah Sumber Kasih Sayang
Allah merupakan sumber kasih sayang di alam semsta Kasih sayang Allah disebut dengan rahmat. Ada dua bentuk kasih sayang Allah. Pertama yang gratis tanpa diminta dan kedua kasih sayang Allah yang diberikan karena Allah menghargai upaya manusia tersebut. Yang pertama datang dari sifat Ar rahmaan (Allah yang Maha Pemurah) sedang yang kedua dari sifat Allah Ar Rahiim (Yang Maha Penyayang).

Kasih sayang Allah yang gratis sungguh banyak sehingga kita tidak dapat menghinggakan jumlahnya. Itulah ni’mat yang tak terhitung oleh kita rinciannya. Cobalah kita merenung sejenak. Memikirkan berapa banyak ni’mat yang telah Allah berikan kepada kita. Hidup kita, yang tadinya tiada menjadi ada. Jasad kita dari ujung rambut sampai ujung jari kaki; lengkap dengan seluruh unsurnya. Milyaran desahan nafas yang kita hirup, trilyunan detak jantung yang berdegup di dada kita. Kesehatan jasmani yang sangat mahal meliputi seluruh sel tubuh kita. Allah pun melengkapi hidup kita dengan beraneka ragam sarana yang tiada terkira banyaknya; keluarga, teman, rumah, sekolah, pekerjaan dan lain-lain…

Rahmat Allah bentuk kedua jauh lebih banyak lagi. Meliputi kasih sayang Dunia dan Akhirat diberikan kepada hama-hamba Allah yang beriman dan beramal saleh sepanjang dia menjalani hidupnya sesuai tuntunan imannya itu. Salahsatunya dengan memperbanyak dzikrullah. Firman Allah Ta’ala.

Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan Malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (Al Ahzab: 41-43)

Dengan rahmat Allah, seorang mukmin merasa bahagia karena hidupnya mendapat naungan cinta dan kasih sayang yang tiada putusnya. Kendati demikian, orang mu-min tidak boleh ghurur (tertipu) dengan amal perbuatan yang diusahakannya Karena amal itu sesungguhnya tidak dapat memasukkan dirinya ke dalam syurga sebagaimana dikatakan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam, “Bersungguh-sungguh, bersegera, dan bergembiralah karena tiada seorang pun akan masuk syurga karena amalnya”. Seorang sahabat bertanya, “Apakah juga Anda ya Rasulullah”. Jawab Nabi, “Betul saya juga. Tetapi Allah telah meliputi diri saya dengan rahmat-Nya”. (Mutafaq Alaih)

KARENA KASIH SAYANG
Sahabat Rasulullah, Jabir Radliyallahu Anhu – berkisah, “Suatu ketika Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam keluar menjumpai kami seraya berkata, “Tadi Jibril sahabatku datang menemuiku. Dia berkata, “Hai Muhammad, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran. Ada seorang hamba di antara hamba-hamba Allah telah beribadat kepada Allah selama 500 tahun di puncak gunung yang terletak di suatu pulau di tengah samudera, lebar dan tingginya 30 kali 30 hasta.

Dikelilingi oleh lautan seluas 4000 farsakh dari setiap sisinya. Allah mengeluarkan mata air baginya selebar ibu jari yang memancarkan air tawar yang mengggenang di bawah gunung itu. Dan Allah pun menumbuhkan bagi si abid tadi sebatang pohon delima yang tiap-tiap malam mengeluarkan sebuah delima.Sepanjang hari ia hanya beribadat dan menjelang sore ia berwudlu lalu memetik buah delima itu lalu memakannya. Setelah itu ia mengerjakan sholat kembali. Ia memohon kepada Rabbnya agar bila ajalnya telah tiba dia dimatikan dalam keadaan sujud dan agar bumi serta serangga tidak dapat merusak tubuhnya hingga ia dibangkitkan kelak. Ia ingin berjumpa Allah dalam keadaan sujud”.

Jibril melanjutkan ceritanya, “Permohonannya itu dikabulkan Allah. Dan kami (para Malaikat) melaluinya ketika kami turun atau naik. Kami dapatkan ia dalam ilmu, bahwa tatkala ia dibangkitkan pada hari kiamat ia dihadapkan kepada Allah. Lantas Allah berkata kepada Malaikat-Nya, “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam syurga dengan rahmat-Ku!”
Si Abid tadi menyelak, “Ya Rabb, bahkan dengan amalku?” Allah berkata, “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam syurga dengan rahmat-Ku!” Si Abid tadi berkata lagi, “Ya Rabb, bahkan dengan amalku?” Kemudian Allah berkata, “Timbanglah berat ni’mat-ni’mat-Ku kepadanya, dan bandingkan dengan amal perbuatannya!”

Maka setelah Malaikat menimbang didapatkan bahwa selama lima ratus tahun ibadatnya hanya mencukupi ni’mat mata saja. Sedangkan ni’mat jasad lainnya belum tertebus dengan amalnya. Maka Allah memerintahkan, “Masukkan hamba-Ku itu ke dalam neraka!” Ia pun digiring ke dalam neraka. Lantas si Abid berteriak, “”Ya Allah, dengan rahmat-Mu, masukkanlah aku ke dalam syurga!”Allah berkata, “Kembalikanlah ia!” Kemudian ia dihadapkan kembali kepada Allah yang bertanya kepadanya, “Hai hamba-Ku. Siapakah yang telah menciptakanmu sebelum engkau ada?”

Dia menjawab, “Engkau ya Tuhanku” “Siapakah yang telah memberimu kekuatan untuk beribadat selama lima ratus tahun”, tanya Allah lagi, “Engkau ya Tuhanku”, jawabnya. “Siapakah yang telah menempatkanmu di puncak gunung di tengah-tengah samudera dan mengeluarkan untukmu air tawar dan air asin, dan mengeluarkan sebuah delima setiap malam padahal delima itu hanya keluar sekali setahun” “Engkau Ya Tuhanku”.

Lantas Allah melanjutkan, “Itu semua adalah dengan rahmat-Ku. Dan dengan rahmat-Ku pula engkau Kumasukkan ke dalam syurga. Nah masukkan hamba-Ku ke dalam syurga”. Akhirnya Jibril berkata, “Sesungguhnya segala sesuatu itu hanya dengan rahmat Allah, Ya Muhammad”. (HR. Al Mundziry)

Imam Al Ghozali telah dimimpikan dalam tidur lalu dikatakan kepadanya: “Apakah yang diperlakukan oleh Allah SWT kepadamu?”

Beliau berkata: “Aku telah dihadapkan kehadapan Allah SWT seraya Allah SWT berfirman kepadaku: “Sebab apa engkau dihadapkan kepada-Ku?” Maka aku mulai menyebutkan amal-amalku.

Kemudian Allah SWT berfirman: “Aku tidak menerima amal-amal tersebut. Sesungguhnya yang Aku terima dari kamu hanyalah pada suatu hari ada sekor lalat yang hinggap pada tinta penamu untuk meminum tinta tersebut, sedangkan engkau tengah menulis, lalu engkau berhenti menulis karena sayangmu pada lalat tersebut sehingga lalat tersebut dapat mengambil bagiannya”.

Allah SWT berfirman: “Wahai para malaikat, bawalah hamba-Ku Al Ghozali ini ke dalam surga!”

MENEBAR KASIH SAYANG
Rasulullah SAW diutus ke dunia ini untuk menebarkan rahmat ke seluruh alam semesta. Sebagaimana yang dinyatakan Allah SWT. “Tidakkah kami utus engkau (Muhammad) kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (QS. Al Anbiya’ 107). Rahmat yang dipancarkan ajaran-ajaran Islam yang dibawanya ini tidak saja diperuntukkan kepada manusia saja akan tetapi menyelimuti seluruh makhluk ciptaan Allah. Beliau pernah bersabda yang artinya:”Orang-orang yang menebarkan rahmat (kasih sayang) akan dilimpahi rahmat oleh Allah. Oleh sebab itu tebarkanlah kasih sayang kepada semua yang di bumi ini supaya dianugerahi kasih sayang oleh yang ada di langit.” (HR.Ahmad, Al Hakim, Abu Daud, Turmudzy)

Para penyayang itu akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Sayangilah olehmu sekalian makhluk yang ada di bumi, niscaya akan menyayangi kamu sekalian makhluk yang ada di langit. [HR. Abu Daud dan Tarmidzi]

Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya penduduk langit pun akan menyayangi kalian. [HR. Ahmad]

Pengertian dari hadits ini adalah bahwa orang-orang yang sayang kepada makhluk yang ada di bumi dari manusia dan binatang yang tidak diperintah membunuhnya dengan berbuat baik kepadanya, maka Dzat Yang Maha Penyayang akan berbuat baik kepada mereka. Sayangilah olehmu sekalian siapa saja yang kamu sekalian mampu menyayangi mereka dari jenis-jenis makhluk Allah ta’ala, meskipun makhluk yang tidak berakal, dengan mengawsihi mereka dan berdoa bagi mereka dengan rahmat dan ampunan, niscaya para malaikat akan memohonkan ampun bagi kamu sekalian.

Termasuk apa yang di bumi adalah segala tanaman dan juga makhluq tak bernyawa seperti tanah, batu, air, dan udara. Jika kita menyayangi itu semua, maka Allah pun menyayangi kita. Jika Allah menyayangi kita, maka seluruh malaikat pun akan menyayangi kita, dan kemudian diilhamkan kepada makhluq yang di bumi agar menerima kita.

Apabila Allah mencintai seorang hamba-Nya, Dia menyeru Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai si anu maka cintailah dia.” Maka jibril mencintai hamba itu lalu Jibril berseru kepada penduduk langit: “Sesungguhnya Allah mencintai si anu, maka cintailah dia.” Maka seluruh penduduk langit mencintai hamba itu, kemudian orang itu pun dijadikan bisa diterima oleh penduduk bumi. [HR. Bukhari dari Abu Hurairah]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: