Kaidah Hukum Resonansi Energi Sukses

Alam semesta adalah lautan energi yang gelombangnya memantul kemana-mana, termasuk akan memantul kembali kepada kita sendiri. Itulah yang diajarkan Allah SWT dalam firman-Nya:“Barang siapa berbuat kebaikan maka (hasilnya) untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa berbuat kejahatan maka (akibatnya) untuk dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sekali-kali tidaklah menganiaya hamba-hamba-Nya” (Q. S Fushilat (41): 46)

Kaidah resonansi mengatakan bahwa: setiap benda dan makhluk hidup di dunia ini memiliki gelombang getaran. Kita semua berkomunikasi melalui gelombang getaran itu. Melalui efek resonansi kita mengirimkan pesan-pesan kita berupa keinginan, cita-cita, impian, ketakutan, kecemasan kita, atau apapun, ke setiap sudut alam semesta melalui getaran pikiran kita. Apa yang kita kirimkan itulah yang akan kita tarik ke dalam hidup kita.

Setiap manusia, benda, atau kejadian, tidak mampu menolak getaran yang kita hasilkan jika mereka beresonansi dengan frekuensi kita. Kita berkomunikasi dengan orang lain, maupun dengan benda-benda di sekitar kita melalui efek resonansi. Telah ditemukan secara ilmiah bahwa DNA kita senantiasa berkomunikasi dengan DNA orang lain tanpa dibatasi waktu dan tempat. Dalam kaidah resonansi: anggaplah diri Anda sebagai stasiun pemancar yang mengirim dan menerima informasi baik dari orang lain maupun alam semesta.

Setiap benda bergetar dengan frekuensi yang berbeda. Ada beberapa yang bergetar dalam frekuensi yang sama atau hampir sama. Siapa pun tidak bisa menolak medan gelombang getaran yang kita hasilkan jika mereka beresonansi dengan frekuensi yang kita hasilkan.

Artinya semua yang mempunyai frekuensi sama dengan yang kita pancarkan, tidak akan bisa menolak untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Baik itu berupa benda, manusia, maupun kejadian. Artinya semua pengalaman hidup kita baik yang berhubungan dengan karier, kekayaan, kepemimpinan, kehidupan sosia, kasih sayang, atau apapun yang kita miliki sekarang, merupakan hasil resonansi kita sendiri.

Kita bertanggung jawab terhadap resonansi kita. Kita sendiri yang menarik segala pengalaman untuk masuk kedalam hidup kita melalui resonansi yang kita kirimkan.

Apa yang menjadi sumber resonansi kita? Jawabnya adalah pikiran kita. Pikiran kita merupakan bentuk energi yang sangat halus, terus bergerak, dengan tingkatan frekuensi yang sangat tinggi. Pikiran kita akan menarik benda dan pengalaman sesuai dengan isi pikiran kita. Jika pikiran kita positif, resonansi kita positif. Jika pikiran kita negatif, maka resonansi kita negatif. Kita dapat mengatur resonansi kita dengan dengan mengatur pikiran kita. Resonansi kita menentuk jenis pengalaman kita.

Karena itu, sangat penting untuk mengetahui resonansi yang kita hasilkan. Caranya mengetahui resonansi kita antara lain dengan melihat siapa teman-teman sepergaulan kita atau melihat melihat kualitas hidup kita saat ini.

Kaya atau miskin, sedih atau bahagia, itulah cermin dari pikiran-pikiran yang kita resonansikan selama ini. Maka untuk meningkatkan kualitas hidup Anda, tingkatkanlah resonansi Anda dengan meningkatkan kualitas berpikir Anda. Anda tidak dapat mengubah hidup Anda sebelum mengubah pikiran Anda terlebih dahulu.

Berani dalam berbisnis
Dalam berbisnis mutlak diperlukan keberanian. Penentuan langkah awal untuk berbisnis merupakan perpaduan harmonis antara perhitungan matematis tentang laba/rugi, pengetahuan, naluri bisnis, dan KEBERANIAN. Bahkan yang terakhir, secara ekstrim bisa disebut “KENEKADAN”.

When you see a successful business, it means someone has made a courageous decision!” (Bilamana Anda melihat bisnis yang sukses, berarti telah ada seseorang yang telah mengambil keputusan dengan berani). Demikian pendapat begawan ekonomi, Peter Drucker.

Ada sebuah kekuatan yang sering tidak disadari oleh kebanyakan orang. Kekuatan itu adalah IMPIAN. The Power of Dream. Sebuah impian, harapan, cita-cita akan menjadi sumber inspirasi dan motivasi untuk meraih kesuksesan. Setiap orang bisa dipastikan punya impian. Masalahnya, bisakah ia menjadikan impiannya itu sebagai sebuah kekuatan?

Setelah impian ditancapkan, langkah berikutnya kita harus bisa mengelola potensi diri kita. Hilangkan rasa takut gagal, kelemahan, kekecewaan, pesimisme dan berbagai hal negatif lainnya. Munculkan ENERGI POSITIF kita, semangat, kekuatan, optimisme, dsb. Di sinilah kita perlu memahami potensi diri kita secara mendalam. Manusia mengalami manifestasi yang bersesuaian dengan pemikiran, perasaaan, perkataan, dan tindakan yang dominan. Pemikiran seseorang (baik sadar maupun bawah sadar), emosi, kepercayaan, dan tindakan akan menarik kejadian yang bersesuaian, baik yang positif maupun negatif, melalui resonansi dari getaran energi tersebut. Dikatakan bahwa “kita mendapat apa yang kita pikirkan, pikiran kita menentukan nasib kita“. Jadi, berpikir positiflah selalu.

Berani adalah menjalani sesuatu yang ditakuti. Jika kita melakukan sesuatu yang ditakuti berarti kita: BERANI. Berbisnis, bagi sebagian besar orang Indonesia dianggap menakutkan. Kebanyakan orang tua biasanya enggan mengenalkan bisnis pada anak-anaknya semasa kecil. Dengan dalih gengsi, memalukan, kasihan, dsb. Orientasi mereka hanyalah sekolah setinggi mungkin dan mencari pekerjaan sebagus mungkin. (Tidak salah memang… tapi kalo sampai melarang anaknya belajar bisnis… hmm… sungguh tidak bijaksana).

Begitu pula, kebiasaan orang tua yang terlalu protektif dengan melarang anak untuk berkreasi (hal-hal yang positif), telah mengakibatkan anak-anak mereka menjadi anak-anak penakut. Tidak memiliki keberanian untuk mengambil resiko. Mau ini takut, mau itu takut. Mau berkreasi pun takut.

Bagaimana cara menumbuhkan keberanian dalam berbisnis?

  • Pertama, tanamkan dalam diri kita keyakinan bahwa dalam berbisnis, Allah telah membukakan 9 dari 10 pintu rezeki. Dengan kata lain, 90 persen pintu rezeki terdapat dalam dunia bisnis. Dengan demikian, kesempatan kita untuk mendapatkan rezeki sangatlah luas.
  • Kedua, tepis dan hapuslah anggapan bahwa para pelaku bisnis adalah orang-orang golongan kedua (setelah pekerjaan-pekerjaan lain). Pada dasarnya, bisnis merupakan bagian dari pekerjaan yang (kurang lebih) sama dengan pekerjaan-pekerjaan lainnya, seperti menjadi karyawan swasta, PNS, dll. Namun, akhir-akhir ini justru tren orang-orang (Indonesia) mulai banyak berubah, mereka beranggapan bahwa berbisnis justru lebih menjanjikan daripada menjadi karyawan. Dengan kata lain, “Menjadi TDA Lebih Mulia Daripada Menjadi TDB”.
  • Ketiga, hilangkan anggapan bahwa dalam berbisnis penuh resiko. Ingatlah bahwa resiko adalah bagian dari hidup. Resiko bukanlah hanya milik pebisnis. Dalam pekerjaan lain pun pasti ada resiko. Karyawan swasta, ada resiko perusahaannya collaps dan di-PHK, PNS bisa saja dimutasi atau diturunkan jabatan, dll.

Satu hal terpenting yang perlu diingat adalah bahwa dalam berbisnis juga dikenal “Hukum Kekekalan Energi” seperti halnya dalam Ilmu Fisika. Kita berbisnis, jika sukses = kekayaan, jika gagal = pengalaman/ilmu. Jadi, pada hakekatnya, tidak ada kegagalan atau resiko, karena sebenarnya ia mengalami perubahan “energi” menjadi “pengalaman/ilmu” yang sama nilainya dengan modal yang kita investasikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: