>Amplop Untuk Pak Kyai Dan Pak Ustadz

>

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…

Sahabat, janganlah hatimu mudah termakan fitnah manusia yang anti dengan ISLAM. Salah satu isu yang sering dilontarkan adalah menjuluki para DA’I dengan istilah KYAI AMPLOP. Sebenarnya dalam hal ini, sang kyai menjalankan dua peranan yaitu sebagai juru dakwah dan sebagai pengajar [guru]. Sebagai guru dia berhak mendapat upah yang wajar.

Sahabat, bukankah semua amal ibadah kembali kepada diri masing-masing sesuai dengan niatnya… dan setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri… jadi biasakanlah diri kita untuk berhusnudzdzon pada orang lain…. kalau memang orang lain mensyaratkan uang sebagai nilai pengganti untuk layanan yang dia berikan, lalu kenapa tidak….. itu haknya dia.. Uang hanyalah sebuah nilai tukar atas sebuah kerjasama yang saling menguntungkan atas dasar saling membutuhkan….. sebagai bentuk suatu pertukaran energi yang selaras dengan hukum alam…..

UANG HANYALAH SEBUAH BENTUK LAIN DARI PERWUJUDAN ENERGI……….
MANUSIA YANG HANYA MENEMPATKAN DIRI SEBAGAI PIHAK YANG MENERIMA DAN TIDAK PERNAH MEMBERI, BUKANKAH ITU SIKAP YANG SANGAT TERCELA. KARENA ITU TAK UBAHNYA KITA MENDIDIK ORANG LAIN AGAR MENJADI PENGEMIS DAN MENJADI MANUSIA YANG BAKHIL. SEDANGKAN MENGEMIS ADALAH HARAM DAN BAKHIL JUGA MERUPAKAN SIFAT YANG TERCELA.

Berikut ini adalah Jawaban Habib Munzir Al Musawa Seputar Upah Bagi Guru Mengaji dan Bagaimana Sebaiknya Sikap Seorang Da’i (Penyeru Ke Jalan Allah)
Sumber: Forum Tanya Jawab Majelis Rasulullah

Jawaban 1:

Habib Munzir Al Musawa

Saudaraku yg kumuliakan,

Boleh boleh saja mengambil bayaran dari mengajar agama, hal ini tidak disebut menjual agama, karena yg disebut menjual agama adalah menukar kebenaran dg kebatilan dengan iming iming bayaran dari fihak tertentu. Rasul saw bersabda : “Yang paling berhak untuk diambil upahnya adalah dari Kitabullah” (Shahih Bukhari Juz 2 hal 795).

berkata Assyu’biy menanggapi hadits ini : “tidak disyaratkan pada seorang pengajar apa apa selain menerima apa apa yg diberikan padanya bila diberi (Shahih Bukhari Juz 2 hal 795). maka jelaslah bahwa menerima bayaran atas pengajarannya itu dibenarkan oleh rasul saw dan diakui oleh syariah, bahkan Rasul saw dg tegas menjelaskan bahwa dari apa apa yg diambil upahnya berupa jasa, maka pengajar agama lah yg paling berhak untuk dberi upah.

Dan Rasul saw bersabda : “Sebaik baik manusia dan sebaik baik yg melangkah dimuka bumi adalah para Guru (guru agama), karena mereka itu bila agama ini rusak mereka memperbaikinya, maka berilah mereka dan jangan kalian sewa mereka, sungguh seorang guru bila mengajari seorang anak mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim hingga anak itu bisa mengucapkannya maka Allah tuliskan bagi anak itu pengampunan, bagi guru itu pengampunan, dan bagi kedua ayah ibunya pengampunan” (HR Tirmidzi).

Namun sepantasnya seorang guru apalagi Da’i, untuk tidak mengandalkan nafkahnya dari mengajar, karena itu dirisaukan akan membuatnya tak ikhlas dalam berdakwah dan mengajar, namun sebaiknya ia mempunyai mata pencaharian lain, berdagang, atau lainnya dan menjadikan pemasukan dana dari hasil dakwahnya tuk kemajuan dakwah itu sendiri, maka dalam hal ini sungguh merupakan kemuliaan yg jelas, karena dana ditarik dari muslimin dan dikembalikan untuk dakwah muslimin.

Link Sumber Jawaban 1: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid&func=view&catid=9&id=4491&lang=id#4491

Jawaban 2:

Dalam hukum syariah tidak ada larangan bagi guru pengajar untuk menerima hadiah atau menetapkan bayaran, hal itu boleh boleh saja berlandaskan Nash hadits Rasul saw : “Sungguh yg paling berhak dibalas dg bayaran adalah Kitabullah” (Shahih Bukhari hadits no.5405). Hadits ini menunjukkan bahwa Rasul saw sangat memuliakan Ilmu syariah, maka sebagaimana orang orang membalas jasa seseorang dg bayaran, misalnya pegawai, penulis, penerima tamu, maka Rasul saw menjelaskan dari semua jasa, maka yg paling berhak untuk diberi balasan adalah para pengajar agama.

Diriwayatkan pula ketika suatu ketika seorang Ahli makrifah memberi uang 1000 dinar pada guru yg mengajari anaknya, maka guru itu berkata : “ini terlalu banyak!”, maka orang itu berkata : “harta sebanyak apapun kuberikan padamu tak bisa menyaingi jasamu mengajari anakku ilmu Allah.”

Nah.. pembahasan di atas adalah secara hukum syariah, namun dikembalikan antara dia dengan Allah maka tergantung niatnya, bila niatnya adalah untuk memperkaya diri maka ia tak dapat apa apa di akhirat kelak, rugi dengan 1000 kerugian karena telah menjual ilmunya didunia dg keduniawian dan harta, di akhirat ia pailit dan bangkrut.

Imam Ghazali rahimahullah menjelaskan mengenai hal ini dalam kitab nya Bidayatul hidayah, bahwa orang yg mempelajari ilmu hanya karena ingin keduniawian, ingin punya banyak pengikut, ingin kaya raya dg memanfaatkan ilmunya, menjualnya dg menghalallkan segala cara dg dalil dalil yg disambung potong, yg penting bisa menghasilkan uang dan kekayaan, maka orang seperti ini akan wafat dalam su’ul khatimah, seburuk buruknya keadaan, inilah yg dikatakan oleh Rasul saw : “aku daripada dajjal lebih takut lagi pada fitnah Ulama Su’ (ulama jahat), yaitu mereka yg mencari cara agar mendapatkan keduniawian dg cara menghalalkan yg haram dan mengharamkan yg halal, dg dalil dalil sambung potong agar orang awam percaya dan mengikutinya.

Mengenai kaya atau miskin kita tak bisa menilai dan menuduh sebelum kita memastikan bahwa hal itu ia dapatkan dari menjual agamanya, bisa saja Allah luaskan rizkinya dengan Allah jadikan murid muridnya kaya raya dan selalu mendukungnya, atau keluarganya mendukungnya, atau teman temannya ada yg maju dalam usaha dan membantunya untuk termudahkan dalam dakwahnya, ini semua bisa saja terjadi dengan kehendak dan anugerah Allah swt.

Link Sumber Jawaban 2: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=9&id=1886&lang=id#1886

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: