Aktivasi DNA ULUL ALBAB ; Kekuatan "Daya Pikir" [Potensi Ajaib Otak Manusia]

Synapsis [Koneksi sel saraf (‘neuron’) di dalam otak]

Perbedaan yang mendasar antara manusia dengan makhluk hidup lainnya di muka bumi ini adalah “akal”. Para filsafat mengartikan akal sebagai kemampuan manusia dalam mengoptimalkan “otak” yang menjadi pusat pengendali seluruh unsur di dalam tubuh manusia. Bahwa sesungguhnya “otak” yang terdiri dari ribuan bahkan jutaan sel syaraf (neuron) yang terhubung secara komplek ternyata mengandung energi yang sangat luar biasa yang biasa disebut dengan “daya pikir”. QT NAQS DNA

Para ahli biasa membagi segmen otak menjadi “otak kanan” dan “otak kiri” yang konon menurut mereka sebagian digunakan untuk mengaktivasi “logika (fisika)” dan sebagian lagi digunakan untuk mengaktivasi “naluri/imajinasi (meta fisika)”. Di dunia metafisika lazim diistilahkan sebagai “daya cipta”.

Sekarang makin marak orang membicarakan atau bahkan mencoba-coba “mempraktekkan” apa yang dinamakan dengan ESQ (Emotional Spiritual Quotion) yang konon katanya adalah semacam teknik untuk “menyeimbangkan diri” sehingga nantinya diharapkan fungsi kerja “otak kanan” dan “otak kiri” bisa seimbang. Kita juga mengenal istilah “mentalist” yaitu orang yang mampu mengoptimalkan kekuatan “jiwa/mental” nya untuk melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan. Ada juga istilah “hypnotist” yaitu orang yang mampu mengoptimalkan kekuatan “daya pikir” nya untuk mempengaruhi orang-orang sekitarnya hingga pada batas hampir seperti mentalist. Adapun istilah “telepati” digunakan untuk para mentalist, hypnotist, atau sejenisnya untuk mengirimkan “sinyal” ke target secara jarak jauh.

Yang menarik di sini adalah baik mentalist, hypnotist, atau sejenisnya ternyata pada intinya mereka telah mampu mengoptimalkan “daya pikir” mereka hingga pada batas yang menurut orang biasa tidak lazim. Mereka meyakini bahwa secara logis telah dibuktikan otak yang terdiri dari ribuan bahkan jutaan sel syaraf pada dasarnya mengandung kombinasi hubungan antar sel yang jumlahnya hampir tak terhingga. Terciptanya hubungan antar sel syaraf ternyata tergantung dari manusia itu sendiri bagaimana mengolahnya. Bila ada lebih dari satu sel syaraf yang terhubung maka terciptalah “synapsis” yang kemudian teraktivasi secara “unik” untuk menghasilkan “sesuatu” sesuai dengan maksud dan tujuannya. QT NAQS DNA

Bayangkan, bila setiap “synapsis” yang tercipta kemudian teraktivasi hingga menjadi “sesuatu”, sementara dengan jumlah sel syaraf yang ribuan bahkan jutaan yang mampu dikombinasi hingga menjadi “synapsis” maka akan tercipta pula kemungkinan terjadinya “sesuatu” yang hampir tak terhingga jumlahnya. Subhanallah …

NEURON

SECARA genetika, otak anak yang terlahir memang tidak bisa diubah lagi, namun bisa direkayasa oleh lingkungan sekitarnya. Dalam makalah yang ditulis Prof Dr Soemarmo Markam SpS, Dr Andre Mayza SpS, dan Dr Herry Pujiasuti SpS, dari bagian Neurologi FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, dijelaskan otak manusia bisa dimaksimalkan fungsinya dengan merekayasa lingkungan sekitarnya.

Menurut Prof Soemarmo, ketika bayi lahir berat otak kurang lebih 350 gram. Pada perkembangannya, terjadi penambahan berat otak bayi. Pada umur tiga bulan berat otak 500 gram, usia enam bulan 650 gram, umur sembilan bulan beratnya mencapai 750 gram, menginjak umur 12 bulan menjadi 925 gram, dan pada umur 18 bulan mencapai 1.000 gram.

Satuan yang membentuk otak ialah sel saraf yang merupakan neurochips, yang jumlahnya sedikitnya 100 miliar buah. Sel saraf ini mempunyai banyak synapsis (sambungan antarneuron). Semakin banyak synapsis, semakin banyak neuron yang menyatu membentuk unit-unit. Kualitas kemampuan otak dalam menyerap dan mengolah informasi tergantung pada banyaknya neuron yang membentuk unit-unit.

Setelah bayi lahir, jumlah sel sarafnys sendiri tidak bertambah lagi, karena sel saraf tidak dapat membelah diri lagi. Tetapi, synapsis–juluran, istilah awamnya mempunyai daya untuk bercabang-cabang dan membuat ranting-ranting hingga usia lanjut.

Keajaiban otak ini bila diprogram dengan cara belajar, maka cabang dan ranting juluran saraf akan tumbuh dan berkembang dan saling menjalin dan membentuk hubungan (networking)

Sebaliknya, apabila tidak digunakan, cabang-cabang ini akan melisut atau mengecil dan dapat menghilang hingga hubungan antarsel menjadi kurang rimbun, atau lebih gersang,” ujar Prof Soemarmo.

Fenomena yang menarik di sini adalah saat kapan manusia melakukan “kombinasi sel syaraf” nya hingga tercipta “sesuatu” dari synapsis yang teraktivasi ? Dengan pasti kita pun seharusnya mampu menjawabnya, dimulai dari pengamatan sederhana kita terhadap bagaimana seorang balita secara perlahan belajar beradaptasi dengan lingkungannya.

Segala sesuatu yang terjadi di alam ini selalu memerlukan apa yang dinamakan sebagai “inisiasi” atau “trigger/pemicu”. Hukum alam yang tidak bisa dihindari oleh manusia selama masih hidup di dunia adalah Hukum Sebab Akibat dan Aksi Reaksi.

  • Seorang bayi akan menangis bila lapar sehingga ia perlu asupan gizi/makanan.
  • Bayi tersebut menangis karena merasa lapar.
  • Ia merasa lapar karena cadangan makanan di tubuhnya sudah habis/mendekati minimal.
  • Cadangan makanan di tubuhnya sudah habis/mendekati minimal karena telah diolah menjadi sel-sel tubuh bagi perkembangan biologisnya.
  • Dan seterusnya.

Untuk lebih jelasnya ada baiknya kita bedah secara ringkas tentang “logika” dan “naluri”. Secara bebas, keduanya dapat diartikan seperti berikut :

Logika
Proses kompleks dan unik dari sekian banyak unsur kepastian yang menghasilkan suatu unsur kepastian juga. (Logis : pasti).

Naluri
Proses kompleks dan unik dari sekian banyak unsur ketidakpastian yang menghasilkan suatu unsur dugaan/perkiraan.

Jadi, logika lebih banyak difungsikan untuk memproses gejala-gejala yang mengandung unsur kepastian. Sedangkan naluri lebih banyak difungsikan untuk memproses gejala-gejala yang mengandung unsur ketidakpastian, ketidakmungkinan (mustahil) dan kemungkinan (probabilitas).

Ilustrasi singkat di bawah ini semoga bisa menjadi contoh yang mewakili makna dari kedua kata di atas.

  • Angka 9 dibagi 3 hasilnya 3. Karena 3 dikali 3 hasilnya 9.
  • Angka 10 dibagi 3 hasilnya 3 1/3 (dugaan hasil : 3,333…). Karena 3 dikali 3 1/3 hasilnya 10 (dugaan hasil : 9,999…).
  • Bila sebuah mata uang logam dilempar satu kali, maka kemungkinan yang keluar adalah “gambar” atau “angka”.
  • Dulunya orang berpikir sangatlah tidak mungkin manusia bisa terbang. Semenjak Wright bersaudara menciptakan pesawat terbang yang pertama, maka gugurlah pernyataan “manusia tidak mungkin terbang”.
  • Di jaman Nabi Muhammad SAW, kaum Qurais tidak percaya dengan berita Muhammad telah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsha (Iraq) dalam satu malam. Sekarang manusia telah mampu melintas antar benua hanya dalam beberapa jam saja dengan menggunakan pesawat jet.

Dari ilustrasi di atas membuktikan bahwa logika memiliki batas wilayah sejauh tangkapan pancaindera secara fisik. Sedangkan naluri/firasat memiliki batas wilayah sejauh tangkapan indera secara meta fisik. Artinya, apapun gejala metafisik yang mengandung unsur ketidakpastian dapat menjadi wilayah logika (fisik) pada saat tangkapan pancaindera telah mampu meluaskan wilayahnya.

Naluri/firasat yang dikembangkan hingga menjadi imajinasi, bila diteruskan dengan tahap-tahap pembuktian yang “cermat dan hati-hati” akan masuk pula ke wilayah logika. Sebaliknya, logika yang tidak diteruskan dengan tahap-tahap pembuktian yang “cermat dan hati-hati” akan menjadi sekedar sebuah imajinasi.

Mari kita coba mengamati perilaku bayi dari lahir hingga menjelang pasca balita. Semua akan mengakui bahwa bayi yang baru dilahirkan tentulah belum memiliki fungsi pancaindera yang sempurna. Bagaimana bayi bisa melewati masa pertumbuhannya ? Jawabannya : naluri. Dengan berjalannya waktu, naluri bayi akan secara perlahan (tapi pasti) mulai memasuki wilayah logika, seiring dengan mulai berfungsinya pancaindera.

Sayangnya, proses beralihnya wilayah naluri ke wilayah logika pada bayi telah diartikan salah oleh sebagian orang. Kata “beralih” bukan berarti “berkurang dari…” kemudian “menambah ke…”. Bila seperti demikian adanya bisa jadi suatu saat nanti entah di umur berapa, manusia akan kehilangan wilayah naluri oleh karena telah beralih ke wilayah logika. Bahwa pada hakekatnya Allah telah menitipkan segala pengetahuan bagi manusia dengan cara yang “multikompleks”. Bila disederhanakan dapatlah kita menganggap bahwa naluri adalah sebersih-bersihnya dan sesempurnanya indera bagi manusia (seperti layaknya bayi). Seiring berjalannya waktu, seharusnya manusia mampu menyeimbangkan potensi naluri dengan potensi logika, seperti proses bayi tumbuh dan berkembang. Bila kondisi ini berhasil dicapai maka tidak ada kata yang tidak mungkin. Maka layaklah hubungan antara otak kanan dan otak kiri kita sebut sebagai “akal jernih”.

“Hati- hatilah dengan firasat orang yang beriman, karena dia melihat dengan cahaya Allah. “(HR Tirmidzi,dalam Al Sunan, Kitab : Tafsir, Bab : Tafsir surat Al Hijr (hadits 3127).
“ Sesungguhnya pada peristiwa itu terdapat tanda- tanda bagi orang – orang yang “ Al Mutawassimin “ (QS Al Hijr: 75).

Al Mutawasimin menurut pengertian ulama adalah orang-orang yang mempunyai firasat, yaitu mereka yang mampu mengetahui suatu hal dengan mempelajari tanda-tandanya.

Sebagaimana firman Allah:
Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu, sehingga kamu benar- benar mengetahui mereka dengan tanda- tandanya.“ (QS Muhammad: 30).

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.“( QS Ali Imran : 190-191)

Sungguh sudah jelas sekali pertunjuk Allah di dalam Al-Quran, bahwa manusia yang paripurna dalam mengoptimalkan KEKUATAN DAYA PIKIR ATAU MIND POWER disebut sebagai ULUL ALBAB yaitu manusia yang mepunyai Kecerdasan yang sempurna karena berpadunya antara zikir dan fikir, yang ketika dia  memikirkan sesuatu selalu melahirkan zikir terhadap yang menciptakan sesuatu Yaitu Allah SWT.

Menurut Prof . Dr. M. Qurash Shihab Kata al-Alba adalah bentuk jamak dari kata “lub” yaitu “sari pati” sesuatu. Kata ulul albab dalam Al-Quran tergantung dalam penggunaannya, bisa mempunyai berbagai arti. Dalam A Corcodance of the Quran (Hanna E. Kassis, 1983), kata ini bisa mempunyai beberapa arti, antara lain:

  1. pertama, orang yang mempunyai pemikiran (mind) yang luas atau mendalam.
  2. Kedua, orang yang mempunyai perasaan (heart) yang peka, sensitif atau yang halus perasaannya.
  3. Ketiga, orang yang mempunyai daya pikir (intellect) yang tajam atau kuat.
  4. Kempat orang yang mempunyai pandangan alam atau wawasan (insight) yang luas, mendalam atau menukik.
  5. Kelima, orang memiliki pengertian (understanding) yang akurat, tepat atau luas. Dan
  6. Keenam, orang yang memiliki kebijakan (wisdom), yakni mendekati kebenaran, dengan pertimbangan-pertimbangan yang terbuka dan adil.

Dari berbagai arti ulul albab di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ulul albab yaitu orang yang berakal, memilki pikiran, perasaan dan hati. Namun bukan hanya sekedar memilikinya akan tetapi mau menggunakannya secara maksimal sehingga ia mampu mendapatkan ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas serta pandangan yang tajam terhadap sesuatu. Penggunaan akal, pikiran dan perasaan ini tentu saja dengan cara yang benar dan dengan tujuan yang baik. Karena banyak orang yang memiliki komponen-komponen ini, namun tidak mau menggunakannya secara maksimal. Begitu juga banyak orang yang menggunakannya namun tidak dengan cara yang benar dan bukan untuk kebaikan, seperti orang yang menggunakan akalnya hanya untuk akal-akalan mencari keselamatan di dunia.

Ulul albab yaitu orang, baik laki-laki mapun perempuan yang selalu berdzikir (mengingat Allah) dengan lisan mapun hati dalam setiap situasi dan kondisi, dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring, sedang bekerja, istirahat atau dalam keadaan apapun ia selalu mengingat Allah. Bukan sebatas ini saja, selain mengingat Allah ulul albab juga berfikir, yaitu memikirkan ayat-ayat Allah yang berupa alam semesta, langit bumi dan segala isinya serta dan perjalanannya yang melahirkan perubahan siang dan malam dan fenomena-fenomena alam lainnya. Setelah berpikir ulul albab akan mengambil kesimpulan dari fenomena-fenomena tersebut. Setelah mengambil hikmah ulul albab akan menjadikannya sebagai sarana untuk memperdalam keimanan dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT dan bukan malah tenggelam di dalam fenomena tersebut.

Dari ayat di atas dapat kita ketahui bahwa obyek dzikir adalah Allah, sedangkan obyek fikir adalah makhluk-makhluk Allah berupa fenomena alam. Ini berarti bahwa pengenalan kepada Allah lebih banyak dilakukan oleh Qalbu, sedang pengenalan alam raya didasarkan pada penggunaan akal, yakni berpikir. Akal memiliki kebebasan seluas-luasnya untuk memikirkan fenomena alam, tetapi ia memiliki keterbatasan dalam memikirkan zat Allah. Hal ini dapat dipahami dari sabda rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim melalui Ibnu Abbas: ”berpikirlah tentang makhluk Allah dan jangan berpikir tentang Allah”.

Semoga ciri-ciri ulul albab di atas sudah ada pada diri kita. Meskipun tidak seluruhnya setidaknya sebagiannya. Dan apabila memang belum ada, marilah melakukan aktivitas-aktivitas yang akan menjadikan kita manusia yang ulul albab yang akan mendapatkan balasan Jannatu ‘adn sebagaimana yang dijanjikan Allah dalam Surat Al-Ra’d ayat 23.

سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ
Salamun ‘alaikum bima shabartum
Artinya: keselamatan atasmu berkat kesabaranmu.
( QS Ar Ra’d : 24 )
Iklan

>QUANTUM SUCCESS POWER

>Rahasia sukses sesungguhnya sederhana.
sukses adalah tindakan.
Karena sukses adalah perjalanan
bukanlah tempat tujuan.

Jadi sukses adalah sebuah ACTION.
Apa yang memicu TINDAKAN ?
Jawabannya adalah PIKIRAN.
Ya .. 
Pikiran memicu PERKATAAN dan 
pikiran memicu TINDAKAN.

Bagaimana untuk bisa sukses jangka panjang?
Rahasianya adalah KEBIASAAN.

Jika anda memikirkan yang buruk dan negatif apa yang terjadi?
Tindakan saya akan buruk dan negatif. Jika ini terus berlangsung akhirnya akan terbentuk kebiasaan. Kebiasaan apa yang dihasilkan oleh mengulang tindakan buruk?
Ya betul… Kebiasaan BURUK yang akan menghasilkan kegagalan.

Bagaimana jika saya memikirkan pikiran baik dan positif?
Tindakan saya akan baik dan positif. Jika ini terus berlangsung akhirnya akan membentuk kebiasaan apa?
Ya .. kebiasaan BAIK yang akan menciptakan kesuksesan.

Jadi sederhananya sukses dan gagal adalah buah dari kebiasaan.
Dan kebiasaan adalah buah dari tindakan.
Tindakan adalah buah dari pikiran.

“BENANG MERAH KEHIDUPAN”
Coba bayangkan ada seutas benang merah yang menjuntai dan ujung-ujungnya terikat satu pada pohon beringin dan satunya lagi ke pohon kamboja.

Benang itu bisa saja terikat dengan tegang, sedikit menjuntai seperti kabel listrik dijalan-jalan, atau bahkan semerawut mengulung disana sini.

Tetapi yang pasti kedua ujungnya tetap dan pasti. Itulah kehidupan kita, kedua ujungnya pasti.

Lahir dan Mati.
Kelahiran dan kematian.
Tapi menjalankan hal diantaranya itulah yang membedakan satu orang dengan orang lain.

Just living is not enough. One must have sunshine, freedom, and a little flower
-Hans Christian Andersen

“Manusia biasa tidak akan berubah dari tabiatnya. Dia tidak akan meninggalkan berbagai kebiasaan yang disukai kecuali dengan latihan yang keras dan pengobatan yang terus-menerus. Maka barangsiapa yang tidak membiasakan jiwanya untuk menerima kebenaran, dia membutuhkan latihan dan pendidikan sehingga jiwanya mencintai al-haq (kebenaran) dan tunduk kepadanya.” (Al-Imam Al-Khaththabi : A’lamul Hadits, 1/218)

>Aktivasi DNA ULUL ALBAB ; Kekuatan "Daya Pikir" [Potensi Ajaib Otak Manusia]

>

Synapsis [Koneksi sel saraf (‘neuron’) di dalam otak]

Perbedaan yang mendasar antara manusia dengan makhluk hidup lainnya di muka bumi ini adalah “akal”. Para filsafat mengartikan akal sebagai kemampuan manusia dalam mengoptimalkan “otak” yang menjadi pusat pengendali seluruh unsur di dalam tubuh manusia. Bahwa sesungguhnya “otak” yang terdiri dari ribuan bahkan jutaan sel syaraf (neuron) yang terhubung secara komplek ternyata mengandung energi yang sangat luar biasa yang biasa disebut dengan “daya pikir”. QT NAQS DNA

Para ahli biasa membagi segmen otak menjadi “otak kanan” dan “otak kiri” yang konon menurut mereka sebagian digunakan untuk mengaktivasi “logika (fisika)” dan sebagian lagi digunakan untuk mengaktivasi “naluri/imajinasi (meta fisika)”. Di dunia metafisika lazim diistilahkan sebagai “daya cipta”.

Sekarang makin marak orang membicarakan atau bahkan mencoba-coba “mempraktekkan” apa yang dinamakan dengan ESQ (Emotional Spiritual Quotion) yang konon katanya adalah semacam teknik untuk “menyeimbangkan diri” sehingga nantinya diharapkan fungsi kerja “otak kanan” dan “otak kiri” bisa seimbang. Kita juga mengenal istilah “mentalist” yaitu orang yang mampu mengoptimalkan kekuatan “jiwa/mental” nya untuk melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan. Ada juga istilah “hypnotist” yaitu orang yang mampu mengoptimalkan kekuatan “daya pikir” nya untuk mempengaruhi orang-orang sekitarnya hingga pada batas hampir seperti mentalist. Adapun istilah “telepati” digunakan untuk para mentalist, hypnotist, atau sejenisnya untuk mengirimkan “sinyal” ke target secara jarak jauh.

Yang menarik di sini adalah baik mentalist, hypnotist, atau sejenisnya ternyata pada intinya mereka telah mampu mengoptimalkan “daya pikir” mereka hingga pada batas yang menurut orang biasa tidak lazim. Mereka meyakini bahwa secara logis telah dibuktikan otak yang terdiri dari ribuan bahkan jutaan sel syaraf pada dasarnya mengandung kombinasi hubungan antar sel yang jumlahnya hampir tak terhingga. Terciptanya hubungan antar sel syaraf ternyata tergantung dari manusia itu sendiri bagaimana mengolahnya. Bila ada lebih dari satu sel syaraf yang terhubung maka terciptalah “synapsis” yang kemudian teraktivasi secara “unik” untuk menghasilkan “sesuatu” sesuai dengan maksud dan tujuannya. QT NAQS DNA

Bayangkan, bila setiap “synapsis” yang tercipta kemudian teraktivasi hingga menjadi “sesuatu”, sementara dengan jumlah sel syaraf yang ribuan bahkan jutaan yang mampu dikombinasi hingga menjadi “synapsis” maka akan tercipta pula kemungkinan terjadinya “sesuatu” yang hampir tak terhingga jumlahnya. Subhanallah …

NEURON

SECARA genetika, otak anak yang terlahir memang tidak bisa diubah lagi, namun bisa direkayasa oleh lingkungan sekitarnya. Dalam makalah yang ditulis Prof Dr Soemarmo Markam SpS, Dr Andre Mayza SpS, dan Dr Herry Pujiasuti SpS, dari bagian Neurologi FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, dijelaskan otak manusia bisa dimaksimalkan fungsinya dengan merekayasa lingkungan sekitarnya.

Menurut Prof Soemarmo, ketika bayi lahir berat otak kurang lebih 350 gram. Pada perkembangannya, terjadi penambahan berat otak bayi. Pada umur tiga bulan berat otak 500 gram, usia enam bulan 650 gram, umur sembilan bulan beratnya mencapai 750 gram, menginjak umur 12 bulan menjadi 925 gram, dan pada umur 18 bulan mencapai 1.000 gram.

Satuan yang membentuk otak ialah sel saraf yang merupakan neurochips, yang jumlahnya sedikitnya 100 miliar buah. Sel saraf ini mempunyai banyak synapsis (sambungan antarneuron). Semakin banyak synapsis, semakin banyak neuron yang menyatu membentuk unit-unit. Kualitas kemampuan otak dalam menyerap dan mengolah informasi tergantung pada banyaknya neuron yang membentuk unit-unit.

Setelah bayi lahir, jumlah sel sarafnys sendiri tidak bertambah lagi, karena sel saraf tidak dapat membelah diri lagi. Tetapi, synapsis–juluran, istilah awamnya mempunyai daya untuk bercabang-cabang dan membuat ranting-ranting hingga usia lanjut.

Keajaiban otak ini bila diprogram dengan cara belajar, maka cabang dan ranting juluran saraf akan tumbuh dan berkembang dan saling menjalin dan membentuk hubungan (networking)

Sebaliknya, apabila tidak digunakan, cabang-cabang ini akan melisut atau mengecil dan dapat menghilang hingga hubungan antarsel menjadi kurang rimbun, atau lebih gersang,” ujar Prof Soemarmo.

Fenomena yang menarik di sini adalah saat kapan manusia melakukan “kombinasi sel syaraf” nya hingga tercipta “sesuatu” dari synapsis yang teraktivasi ? Dengan pasti kita pun seharusnya mampu menjawabnya, dimulai dari pengamatan sederhana kita terhadap bagaimana seorang balita secara perlahan belajar beradaptasi dengan lingkungannya.

Segala sesuatu yang terjadi di alam ini selalu memerlukan apa yang dinamakan sebagai “inisiasi” atau “trigger/pemicu”. Hukum alam yang tidak bisa dihindari oleh manusia selama masih hidup di dunia adalah Hukum Sebab Akibat dan Aksi Reaksi.

  • Seorang bayi akan menangis bila lapar sehingga ia perlu asupan gizi/makanan.
  • Bayi tersebut menangis karena merasa lapar.
  • Ia merasa lapar karena cadangan makanan di tubuhnya sudah habis/mendekati minimal.
  • Cadangan makanan di tubuhnya sudah habis/mendekati minimal karena telah diolah menjadi sel-sel tubuh bagi perkembangan biologisnya.
  • Dan seterusnya.

Untuk lebih jelasnya ada baiknya kita bedah secara ringkas tentang “logika” dan “naluri”. Secara bebas, keduanya dapat diartikan seperti berikut :

Logika
Proses kompleks dan unik dari sekian banyak unsur kepastian yang menghasilkan suatu unsur kepastian juga. (Logis : pasti).

Naluri
Proses kompleks dan unik dari sekian banyak unsur ketidakpastian yang menghasilkan suatu unsur dugaan/perkiraan.

Jadi, logika lebih banyak difungsikan untuk memproses gejala-gejala yang mengandung unsur kepastian. Sedangkan naluri lebih banyak difungsikan untuk memproses gejala-gejala yang mengandung unsur ketidakpastian, ketidakmungkinan (mustahil) dan kemungkinan (probabilitas).

Ilustrasi singkat di bawah ini semoga bisa menjadi contoh yang mewakili makna dari kedua kata di atas.

  • Angka 9 dibagi 3 hasilnya 3. Karena 3 dikali 3 hasilnya 9.
  • Angka 10 dibagi 3 hasilnya 3 1/3 (dugaan hasil : 3,333…). Karena 3 dikali 3 1/3 hasilnya 10 (dugaan hasil : 9,999…).
  • Bila sebuah mata uang logam dilempar satu kali, maka kemungkinan yang keluar adalah “gambar” atau “angka”.
  • Dulunya orang berpikir sangatlah tidak mungkin manusia bisa terbang. Semenjak Wright bersaudara menciptakan pesawat terbang yang pertama, maka gugurlah pernyataan “manusia tidak mungkin terbang”.
  • Di jaman Nabi Muhammad SAW, kaum Qurais tidak percaya dengan berita Muhammad telah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsha (Iraq) dalam satu malam. Sekarang manusia telah mampu melintas antar benua hanya dalam beberapa jam saja dengan menggunakan pesawat jet.

Dari ilustrasi di atas membuktikan bahwa logika memiliki batas wilayah sejauh tangkapan pancaindera secara fisik. Sedangkan naluri/firasat memiliki batas wilayah sejauh tangkapan indera secara meta fisik. Artinya, apapun gejala metafisik yang mengandung unsur ketidakpastian dapat menjadi wilayah logika (fisik) pada saat tangkapan pancaindera telah mampu meluaskan wilayahnya.

Naluri/firasat yang dikembangkan hingga menjadi imajinasi, bila diteruskan dengan tahap-tahap pembuktian yang “cermat dan hati-hati” akan masuk pula ke wilayah logika. Sebaliknya, logika yang tidak diteruskan dengan tahap-tahap pembuktian yang “cermat dan hati-hati” akan menjadi sekedar sebuah imajinasi.

Mari kita coba mengamati perilaku bayi dari lahir hingga menjelang pasca balita. Semua akan mengakui bahwa bayi yang baru dilahirkan tentulah belum memiliki fungsi pancaindera yang sempurna. Bagaimana bayi bisa melewati masa pertumbuhannya ? Jawabannya : naluri. Dengan berjalannya waktu, naluri bayi akan secara perlahan (tapi pasti) mulai memasuki wilayah logika, seiring dengan mulai berfungsinya pancaindera.

Sayangnya, proses beralihnya wilayah naluri ke wilayah logika pada bayi telah diartikan salah oleh sebagian orang. Kata “beralih” bukan berarti “berkurang dari…” kemudian “menambah ke…”. Bila seperti demikian adanya bisa jadi suatu saat nanti entah di umur berapa, manusia akan kehilangan wilayah naluri oleh karena telah beralih ke wilayah logika. Bahwa pada hakekatnya Allah telah menitipkan segala pengetahuan bagi manusia dengan cara yang “multikompleks”. Bila disederhanakan dapatlah kita menganggap bahwa naluri adalah sebersih-bersihnya dan sesempurnanya indera bagi manusia (seperti layaknya bayi). Seiring berjalannya waktu, seharusnya manusia mampu menyeimbangkan potensi naluri dengan potensi logika, seperti proses bayi tumbuh dan berkembang. Bila kondisi ini berhasil dicapai maka tidak ada kata yang tidak mungkin. Maka layaklah hubungan antara otak kanan dan otak kiri kita sebut sebagai “akal jernih”.

“Hati- hatilah dengan firasat orang yang beriman, karena dia melihat dengan cahaya Allah. “(HR Tirmidzi,dalam Al Sunan, Kitab : Tafsir, Bab : Tafsir surat Al Hijr (hadits 3127).
“ Sesungguhnya pada peristiwa itu terdapat tanda- tanda bagi orang – orang yang “ Al Mutawassimin “ (QS Al Hijr: 75).

Al Mutawasimin menurut pengertian ulama adalah orang-orang yang mempunyai firasat, yaitu mereka yang mampu mengetahui suatu hal dengan mempelajari tanda-tandanya.

Sebagaimana firman Allah:
Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu, sehingga kamu benar- benar mengetahui mereka dengan tanda- tandanya.“ (QS Muhammad: 30).

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.“( QS Ali Imran : 190-191)

Sungguh sudah jelas sekali pertunjuk Allah di dalam Al-Quran, bahwa manusia yang paripurna dalam mengoptimalkan KEKUATAN DAYA PIKIR ATAU MIND POWER disebut sebagai ULUL ALBAB yaitu manusia yang mepunyai Kecerdasan yang sempurna karena berpadunya antara zikir dan fikir, yang ketika dia  memikirkan sesuatu selalu melahirkan zikir terhadap yang menciptakan sesuatu Yaitu Allah SWT.

Menurut Prof . Dr. M. Qurash Shihab Kata al-Alba adalah bentuk jamak dari kata “lub” yaitu “sari pati” sesuatu. Kata ulul albab dalam Al-Quran tergantung dalam penggunaannya, bisa mempunyai berbagai arti. Dalam A Corcodance of the Quran (Hanna E. Kassis, 1983), kata ini bisa mempunyai beberapa arti, antara lain:

  1. pertama, orang yang mempunyai pemikiran (mind) yang luas atau mendalam.
  2. Kedua, orang yang mempunyai perasaan (heart) yang peka, sensitif atau yang halus perasaannya.
  3. Ketiga, orang yang mempunyai daya pikir (intellect) yang tajam atau kuat.
  4. Kempat orang yang mempunyai pandangan alam atau wawasan (insight) yang luas, mendalam atau menukik.
  5. Kelima, orang memiliki pengertian (understanding) yang akurat, tepat atau luas. Dan
  6. Keenam, orang yang memiliki kebijakan (wisdom), yakni mendekati kebenaran, dengan pertimbangan-pertimbangan yang terbuka dan adil.

Dari berbagai arti ulul albab di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ulul albab yaitu orang yang berakal, memilki pikiran, perasaan dan hati. Namun bukan hanya sekedar memilikinya akan tetapi mau menggunakannya secara maksimal sehingga ia mampu mendapatkan ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas serta pandangan yang tajam terhadap sesuatu. Penggunaan akal, pikiran dan perasaan ini tentu saja dengan cara yang benar dan dengan tujuan yang baik. Karena banyak orang yang memiliki komponen-komponen ini, namun tidak mau menggunakannya secara maksimal. Begitu juga banyak orang yang menggunakannya namun tidak dengan cara yang benar dan bukan untuk kebaikan, seperti orang yang menggunakan akalnya hanya untuk akal-akalan mencari keselamatan di dunia.

Ulul albab yaitu orang, baik laki-laki mapun perempuan yang selalu berdzikir (mengingat Allah) dengan lisan mapun hati dalam setiap situasi dan kondisi, dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring, sedang bekerja, istirahat atau dalam keadaan apapun ia selalu mengingat Allah. Bukan sebatas ini saja, selain mengingat Allah ulul albab juga berfikir, yaitu memikirkan ayat-ayat Allah yang berupa alam semesta, langit bumi dan segala isinya serta dan perjalanannya yang melahirkan perubahan siang dan malam dan fenomena-fenomena alam lainnya. Setelah berpikir ulul albab akan mengambil kesimpulan dari fenomena-fenomena tersebut. Setelah mengambil hikmah ulul albab akan menjadikannya sebagai sarana untuk memperdalam keimanan dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT dan bukan malah tenggelam di dalam fenomena tersebut.

Dari ayat di atas dapat kita ketahui bahwa obyek dzikir adalah Allah, sedangkan obyek fikir adalah makhluk-makhluk Allah berupa fenomena alam. Ini berarti bahwa pengenalan kepada Allah lebih banyak dilakukan oleh Qalbu, sedang pengenalan alam raya didasarkan pada penggunaan akal, yakni berpikir. Akal memiliki kebebasan seluas-luasnya untuk memikirkan fenomena alam, tetapi ia memiliki keterbatasan dalam memikirkan zat Allah. Hal ini dapat dipahami dari sabda rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim melalui Ibnu Abbas: ”berpikirlah tentang makhluk Allah dan jangan berpikir tentang Allah”.

Semoga ciri-ciri ulul albab di atas sudah ada pada diri kita. Meskipun tidak seluruhnya setidaknya sebagiannya. Dan apabila memang belum ada, marilah melakukan aktivitas-aktivitas yang akan menjadikan kita manusia yang ulul albab yang akan mendapatkan balasan Jannatu ‘adn sebagaimana yang dijanjikan Allah dalam Surat Al-Ra’d ayat 23.

سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ
Salamun ‘alaikum bima shabartum
Artinya: keselamatan atasmu berkat kesabaranmu.
( QS Ar Ra’d : 24 )

Menggali Potensi Pikiran Bawah Sadar Dengan Ilmu Hipnotis

Edi Sugianto, C.H. C.Ht.

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…
Sahabat, Banyak yang meremehkan dan apriori atau anti terhadap ilmu hipnotis, tanpa tahu apa sebenarnya ilmu hipnotis tersebut. Apalagi menuduh sesat dan lain sebagainya. Hanya karena mendengar berita dan informasi yang berasal dari orang yang tidak jelas kompetensinya dan tidak tahu sama sekali ilmu hipnotis. Padahal Allah berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi di jalan Allah, maka lakukanlah tabayyun.” ( QS. An Nisa/4: 94)

Pengertian tabayyun dalam ayat tersebut bisa dilihat antara lain dalam Tafsir al Qur’an Departemen Agama, 2004. Kata itu merupakan fi’il amr untuk jamak, dari kata kerja tabayyana, masdarnya at-tabayyun, yang artinya adalah mencari kejelasan hakekat suatu atau kebenaran suatu fakta dengan teliti, seksama dan hati-hati. Perintah untuk tabayyun merupakan perintah yang sangat penting, terutama pada akhir-akhir ini di mana kehidupan antar sesama umat sering dihinggapi prasangka. Allah memerintahkan kita untuk bersikap hati-hati dan mengharuskan untuk mencari bukti yang terkait dengan isu mengenai suatu tuduhan atau yang menyangkut identifikasi seseoranag.

Belakangan ini seringnya gampang orang atau suatu kelompok berprasangka negatif terhadap kelompok lain, atau menuduh sesat golongan lain, dan kadang disertai hujatan, penghakiman secara sepihak, dan sebagainya. Berprasangka tanpa meneliti duduk perkaranya, adalah apriori atau masa bodoh. Mensikapi orang lain hanya berdasar pada sangkaan-sangkaan negatif atau isu-isu yang beredar atau bisikan orang lain. Sikap demikian adalah tidak tabayyun, atau tidak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi..

Perintah tabayyun atau mendalami masalah, merupakan peringatan, jangan sampai umat Islam melakukan tindakan yang menimbulkan dosa dan penyesalan akibat keputusannya yang tidak adil atau merugikan pihak lain. Di dalam al Qur’an, perintah tabayyun juga terdapat pada S. al Hujarat /49 ayat 6.

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [al Hujurot ayat 6]

Dengan mengakomodir tafsir ke 94 Departemen Agama tersebut, tersirat suatu perintah Allah, bahwa setiap mukmin, yang sedang berjihad fi sabilillah hendaknya bersikap hati-hati dan teliti terhadap orang lain. Jangan tergesa-gesa menuduh orang lain, apalagi tuduhan itu diikuti dengan tindakan yang bersifat merusak atau kekerasan.

HIPNOSIS, NLP, DAN POTENSI PIKIRAN MANUSIA
Definisi hipnosis menurut Dave Elman dan sekaligus yang telah diakui oleh dunia dan paling banyak dipakai adalah ► bypass of critical faculty and establishment of selected thinking atau menembus pemikiran kritis dan menciptakan pemikiran yang dipilih. atau dengan kata lain adalah sebuah tekhnik untuk berkomunikasi atau mengakses kemampuan pikiran alam bawah sadar manusia… dimana potensi kemampuan pikiran atau MIND POWER MANUSIA itu 88 persen masih tersimpan di alam bawah sadar manusia…..

Manusia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan mahakarya. Kekuatan terbesar dalam diri manusia itu terdapat pada pikiran. Tetapi kita jarang membuktikan kekuatan pikiran tersebut, sebab kita sering terjebak dalam zona nyaman atau kebiasaan tertentu. Sehingga selamanya tidak dapat mencari kemungkinan yang lebih baik atau perubahan nasib yang berarti.

Oleh karena itu milikilah target yang lebih tinggi untuk merangsang kekuatan dalam pikiran tersebut. Sebab target atau sasaran baru yang dipikirkan itu akan menggerakkan diri kita untuk melaksanakan tindakan. Apalagi jika diyakini target tersebut bakal tercapai, maka diri kita akan lebih siap menghadapi tantangan yang ada.

Setelah tindakan-tindakan baru yang lebih konstruktif dikerjakan hingga berulang-ulang, maka tanpa disadari kita sudah banyak melakukan hal-hal penting hinga kita tiba di zona baru, dimana kita berhasil mencapai target yang didambakan. Itulah mengapa dikatakan bahwa manusia mempunyai potensi yang sangat besar dalam pikiran bawah sadar.

Tentu kita pernah mendengar nama besar Bill Clinton, Andre Aggasy, Lady Diana, Nelson Mandela, Ronald Reagen maupun juga Robert Kiyosaki. Dibalik kisah kesuksesan hidup mereka, ternyata mereka adalah orang-orang yang telah memprogram otak mereka sedemikian rupa untuk mencapai kesuksesan tersebut. Tidak hanya menggali kemampuan otak/pikiran yang berada pada kondisi normal (baca: pikiran sadar), mereka juga menggali dan mengoptimalkan potensi pikiran bawah sadar

“Potensi manusia itu ibarat sebuah fenomena gunung es. Sampai saat ini, kebanyakan orang masih menggunakan potensi dari kekuatan pikirannya hanya sebesar 12% untuk melakukan berbagai hal. Sisanya (88%) adalah pikiran bawah sadar (unconscious) yang masih dapat dimaksimalkan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik, menampilkan kemampuan terbaik setiap saat dalam berbagai situasi, membalik problem & penghalang menjadi penunjang untuk meraih sukses, mempercepat kemampuan belajar dalam segala bidang, mengubah cara berpikir, merasakan dan bertindak, mendeteksi pola-pola perilaku positif dan perilaku yang perlu dihindari, meningkatkan kepekaan dan menggunakan pancaindera secara efisien serta mempelajari cara memodel karakter dan keunggulan dari orang-orang sukses atau menduplikasi keahlian seseorang”

Dapat diibaratkan otak sadar manusia adalah seorang nakhoda sedangkan otak bawah sadar adalah ruang mesin (robot) yang siap melakukan perintah nakhoda. Sungguh ajaib dan sangat menakjubkan potensi otak manusia. Berdasarkan suatu penelitian seorang yang jenius dapat mengoptimalkan cara kerja otak sadarnya sebesar 5-6% dari kapasitas otak sadar manusia pada umumnya yaitu 12%. Salah satunya adalah Albert Einstein, seorang ilmuwan yang sangat tersohor, tapi jenis orang seperti ini tidak banyak hanya ± 100 manusia di dunia ini.

Menurut penelitian, Einstein lebih banyak menggunakan belahan otak kanannya (daya imajinasi yang kuat) sehingga Beliau dapat menghasilkan penemuan-penemuan yang spektakuler. Berdasarkan penelitian terbaru bahwa setiap sel otak yang tersambung dengan sel otak yang lainnya akan membantu proses berpikir. Semakin banyak sambungan sel dalam otak maka akan semakin cerdas otak kita. Dalam hal ini Albert Einstein telah melakukannya. Walaupun tidak ada data yang memastikanberapa banyak sel otaknya yang telah tersambung, yang pasti belum semua kapasitas dari otaknya digunakan. Tapi hasilnya sudah sangat luar biasa! Apalagi jika 100% dari kapasitas fungsi otaknya digunakan, pasti hasilnya lebih luar biasa, bukan?

Sedangkan manusia rata-rata hanya menggunakan kapasitas otak sadar kurang dari 4%. Apakah potensinya bisa ditingkatkan? Jawabannya sudah pasti bisa, asalkan tahu caranya dan mau melatihnya. Hanya ada satu juta orang di dunia ini yang mampu mengoptimalkan cara kerja otak sadarnya mencapai kapasitas 4%. Sudah pasti prestasi mereka sangatlah menakjubkan. Anda mau masuk golongan yang mana?

Bayangkan berat otak manusia pada umumnya hanya seberat 1,5 kg tapi kemampuannya sangat luar biasa. Otak manusia mampu memberikan perintah secara otomatis kepada fungsi syaraf mata untuk membedakan ± 10 juta warna yang ada di dunia ini, selain itu secara otomatis otak manusia mampu memerintah jantung untuk bekerja/memompa sebanyak ± 100.000 kali/hari, otak manusia mampu mengatur pasokan darah dari kerja jantung sehari total ± 25.000 liter sepanjang ± 100.000 km ke seluruh tubuh dengan tanpa kita sadari, dan masih banyak hal luar biasa yang dikerjakan secara otomatis oleh organ tubuh manusia atas perintah otak. Sungguh luar biasa bukan kemampuan otak manusia.

Secara alami Tuhan menciptakan manusia sangat sempurna. Namun banyak diatara kita yang belum menyadari dan mampu mengoptimalkan cara kerja otak kita. Sesungguhnya manusia tidak ada yang bodoh, manusia sebenarnya hanya belum tahu cara mengoptimalkan cara kerja otaknya. Dengan fakta-fakta dan kondisi yang luar biasa ini masih pantaskah kita mengeluh dan terus mengeluh? Sudah sepantasnya kita bersyukur atas rahmat Tuhan yang begitu besar dalam hidup kita.

Dewasa ini banyak pelatihan dan buku-buku yang membantu kalau kita ingin mempelajari cara kerja otak dan mengoptimalkan fungsinya. Salah satu ilmu pengetahuan yang sangat popular adalah Hipnotis, NLP (Neuro Language Program), dan Mind Power, bagi Anda yang tertarik untuk mempelajari lebih lanjut dapat mengikuti seminar-seminar yang berkaitan dengan topik di atas atau minimal Anda mempelajari secara otodidak dengan membaca buku.

Berikut ini perbedaan cara kerja otak kiri dan otak kanan manusia:

Dari sini terlihat jelas bahwa kalau kita cenderung menggunakan fungsi belahan otak kiri lebih dominan maka dalam kehidupan sehari-hari akan tercermin. Misalnya fungsi belahan otak kiri yang dominan biasanya pekerjaannya adalah Accounting atau Computer Programmer. Sebaliknya jika kita menggunakan fungsi belahan otak kanan lebih dominan mungkin profesi kita sebagai Marketing atau Public Relation. Ini hanya berdasakan survei tidak selalu berlaku demikian.

Otak kita merupakan hard ware layaknya seperti perangkat komputer. Yang menentukan kesuksesan hidup kita adalah soft warenya. Soft ware adalah program pikiran yang kita yakini. Memang hard ware perlu dijaga, dirawat dan kinerjanya ditingkatkan. Misalnya dengan latihan, melatih kedua fungsi otak kita. Tujuan melatih otak selain untuk meningkatkan kinerjanya juga untuk menyeimbangkan kerjanya. Jika otak dalam keadaan sehat maka fungsinya akan optimal. Fungsi otak manusia sangat luar biasa jika kita tahu bagaimana mengoptimalkannya. Cari tahu belahan otak mana yang lebih dominan dalam diri Anda dan cobalah uji kemampuan fungsi otak Anda.

Kalau berdasarkan hasil test, saya lebih cenderung menggunakan fungsi belahan otak kiri. Namun dalam keseharian saya senang dengan bidang pelatihan yang selalu bertemu orang banyak dan saya selalu berinteraksi layaknya seorang marketing yang selalu berinteraksi dengan pelanggan. Saya juga berusaha mengoptimalkan fungsi belahan otak sebelah kanan, saya belajar secara otodidak. Sebaiknya Anda juga dapat mengkombinasikan kedua fungsi belahan otak Anda. Tuhan menciptakan kita sedemikian rupa pasti ada maksud baiknya. Oleh sebab itu kalau kita tahu bagaimana mengoptimalkan fungsi otak kita, sukses bisa menjadi kenyataan yang indah.

Sebenarnya tidak ada rahasia dalam menggali potensi dari kekuatan pikiran kita. Kuncinya adalah apa yang masuk ke dalam pikiran kita. Karena apa yang masuk ke dalam pikiran, apa lagi secara berulang-ulang masuk ke dalam pikiran kita maka akan terprogram ke dalam pikiran bawah sadar, sehingga akan menjadi suatu keyakinan. Dalam bahasa lain disebut Believe System. Apa yang telah tertanam dalam otak bawah sadar akan terekam baik dalam memori otak kita. Karena apa yang telah tertanam di otak bawah sadar kita akan menjadi suatu keyakinan. Sebagai contoh kita meyakini kalau mencuri itu adalah perbuatan yang salah (dosa) karena sejak kecil kita diajarkan orang tua kita, begitu banyak ajaran-ajaran yang masuk ke dalam otak kita maka lama kelamaan kita menjadi yakin. Apapun ajarannya yang telah berulang-ulang kita terima dalam otak kita pada akhirnya kita akan meyakininya. Entah itu ajaran yang benar atau yang salah? (karena pada saat anak-anak kita belum dapat membedakannya) Celakanya jika ajaran itu salah atau keliru maka kita menjadi seorang yang mempunyai keyakinan yang keliru pula.

Dalam bahasa lain keyakinan yang keliru lazim disebut sebagai blocking mindset, selama blocking mindset ini tidak dibenahi maka cara pandang kita akan selamanya keliru. Tidak ada cara lain untuk membenahi kekeliruan tersebut selain dengan cara memasukkan terus informasi yang positif dan menghindari informasi negatif. Ingatlah apa yang masuk dalam pikiran kita akan diproses yang menghasilkan output seperti bahan bakunya. Sebagai contoh jika kita melihat orang asing yang bertampang sangar di jembatan penyebrangan ketika malam hari. Apa reaksi dari pikiran kita? Curiga, takut, atau berpikir positif? Saya yakin kecenderungan kita akan berpikir “ah jangan-jangan orang ini akan?” Kita lebih sering menerima berita negatif dibanding dengan berita postif sehingga tidak heran kalau hidup kita sudah terkondisikan degan hal-hal negatif. Akibatnya kita cenderung menjadi takut, curiga dan tidak mudah percaya kepada hal-hal baru. Kembali pada kejadian tadi, karena kita berpikir negatif bisa jadi orang yang bertampang sangar tadi menjadi berniat jahat terhadap kita. Mengapa? Jawabannya, mungkin memang ia benar-benar orang jahat, atau mungkin karena kita mengirim sinyal kepadanya, karena rasa takut kita. Entah apa namanya pikiran kita bisa mengirimkan suatu gelombang yang akan terpancar pada wajah kita. Sekarang terserah kepada Anda, mau bersikap negatif terus atau mau berubah.

Tentunya kita harus tetap waspada tetapi bukan berpikir negatif terus, pasti rugi dech dengan sikap tersebut. Satu tips dari saya kalau Anda terbiasa berpikir negatif silakan minimal Anda berpikiran netral dalam bahasa lainnya disebut Open Mind atau No Mind State. Dengan berpikiran netral diharapkan hidup Anda lebih baik, lebih Happy. Syukur kalau Anda melatih untuk terus berpikiran positif. Sukses diawali dari pikiran yang sehat, jernih dan positif. Jagalah pikiran kita agar tetap sehat, jernih dan positif agar kita juga dapat sukses.

Mempelajari HIPNOTIS dan NLP mirip dengan mempelajari manual cara kerja otak (baca: pikiran) manusia. NLP adalah varian terbaru dari ILMU HIPNOTIS. Dengan NLP tersebut, diharapkan agar kita bisa menjadi “tuan” atas otak kita dan bukan menjadi “budak”nya.

NLP merupakan sebuah integrasi dari berbagai macam disiplin ilmu yang meliputi neurologi, psikologi, linguistik (bahasa), cybernetics, dan teori-teori sistem.

  • NEURO merujuk pada otak, pikiran, proses berpikir, dan bagaimana cara mengorganisir nerid (bagian syaraf pada otak). 
  • LINGUISTIC merupakan bahasa serta cara berkomunikasi yang diharapkan mampu memberikan makna dan pengaruhnya terhadap kehidupan kita, sedang 
  • PROGAMMING adalah terkait dengan urutan proses modifikasi dalam rangka untuk mendapatkan pencapain terbaik.

Salah satu metode NLP adalah The Swish Pattern untuk menghilangkan problem atau perilaku yang negatif dalam diri manusia sehingga didapatkan kondisi yang ideal. Tekhniknya adalah dengan memvisualisasikan gambar diri mereka pada kondisi yang ideal. Kondisi tersebut kemudian ditutup dengan situasi negatif atau problem atau perilaku yang ingin dihilangkan. Kemudian, dalam gambar situasi negatif tersebut dibuat sebuah lubang kecil (semua dilakukan dalam pikiran dengan kondisi mata terpejam) untuk mengintip situasi positif yang diinginkan. Peserta diminta untuk membayangkan membuka mata (dengan kondisi riil mata masih terpejam) dan mevisualisasikan dengan cepat lubang kecil itu membesar dan “Swish!!!” gambar negatif itu hilang dan peserta melihat gambar positifnya tampak jelas. Peserta diminta untuk mengulanginya sebanyak 5-6 kali. Hal ini dengan mudah juga bisa dilakukan untuk menghilangkan kecanduan kita terhadap rokok misalnya. Visualisasikan secara terus menerus rokok tersebut dengan sesuatu yang paling menjijikkan/ penyakit paling berbahaya (misal paru-paru) secara berulang-ulang, sehingga saat kita akan mengambil/memegang rokok maka secara otomatis mata/pikiran akan terkoneksi dengan sesuatu benda menjijikkan/penyakit berbahaya yang tidak kita inginkan hadir dalam diri kita. Dengan demikian secara otomatis pula kita akan membatalkan niat untuk merokok.

Semoga bermanfaat, wallahu a’lam bishshowab.
Wassalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh….