Ninja Mind Control

[Wikipedia]~ Ninja atau Shinobi (忍者 atau 忍び?) (dalam bahasa Jepang, secara harfiah berarti “Seseorang yang bergerak secara rahasia”) adalah seorang mata – mata zaman feodal di Jepang yang terlatih dalam seni ninjutsu (secara kasarnya “seni pergerakan sunyi”) Jepang. Ninja, seperti samurai, mematuhi peraturan khas mereka sendiri, yang disebut ninpo. Menurut sebagian pengamat ninjutsu, keahlian seorang ninja bukanlah pembunuhan tetapi penyusupan. Ninja berasal dari bahasa Jepang yang berbunyi nin yang artinya menyusup. Jadi, keahlian khusus seorang ninja adalah menyusup dengan atau tanpa suara.

Definisi
Ninja biasanya segera dikaitkan dengan sosok yng terampil beladiri, ahli menyusup dan serba misterius seperti yang tampak di dalam film atau manga (komik Jepang). Kata ninja terbentuk dari dua kata yaitu nin (忍?) dan sha (者?) yang masing-masing artinya adalah “tersembunyi” dan “orang”. Jadi ninja adalah mata-mata profesional pada zaman feudal jepang. Sejarah ninja juga sangat sulit dilacak. Info mengenai keberadaan mereka tersimpan rapat-rapat dalam dokumen-dokumen rahasia.

Ninja juga bisa diartikan sebagai nama yang diberikan kepada seseorang yang menguasai dan mendalami seni bela diri ninjutsu. Nin artinya pertahanan dan jutsu adalah seni atau cara. Kata ninja juga diambil dari kata ninpo. Po artinya adalah falsafah hidup atau dengan kata lain ninpo adalah falsafah tertinggi dari ilmu beladiri ninjutsu yang menjadi dasar kehidupan seorang ninja. Jadi ninja akan selalu waspada dan terintregasi pada prinsip ninpo.

Ninja adalah mata-mata profesional di zaman ketika para samurai masih memegang kekuasaan tertinggi di pemerintahan Jepang pada abad ke-12. Pada abad ke-14 pertarungan memperebutkan kekuasaan semakin memanas, informasi tentang aktivitas dan kekuatan lawan menjadi penting, dan para ninja pun semakin aktif. Para ninja dipanggil oleh daimyo untuk mengumpulkan informasi, merusak dan menghancurkan gudang persenjataan ataupun gudang makanan, serta untuk memimpin pasukan penyerbuan di malam hari. Karena itu ninja memperoleh latiham khusus. Ninja tetap aktif sampai Zaman Edo (1600-1868), dimana akhirnya kekuasaan dibenahi oleh pemerintah di Zaman Edo.

Asal-usul ninja
Kemunculan ninja pada tahun 522 berhubungan erat dengan masuknya seni nonuse ke Jepang. Seni nonuse inilah yang membuka jalan bagi lahirnya ninja.

Seni nonuse atau yang biasa disebut seni bertindak diam-diam adalah suatu praktik keagamaan yang dilakukan oleh para pendeta yang pada saat itu bertugas memberikan info kepada orang-orang di pemerintahan. Sekitar tahun 645, pendeta-pendeta tersebut menyempurnakan kemampuan bela diri dan mulai menggunakan pengetahuan mereka tentang nonuse untuk melindungi diri dari intimidasi pemerintah pusat.

Pada tahun 794-1192, kehidupan masyarakat Jepang mulai berkembang dan melahirkan kelas-kelas baru berdasarkan kekayaan. Keluarga kelas ini saling bertarung satu sama lain dalam usahanya menggulingkan kekaisaran. Kebutuhan keluarga akan pembunuh dan mata-mata semakin meningkat untuk memperebutkan kekuasaan. Karena itu permintaan akan para praktisi nonuse semakin meningkat. Inilah awal kelahiran ninja. Pada abad ke-16 ninja sudah dikenal dan eksis sebagai suatu keluarga atau klan di kota Iga atau Koga. Ninja pada saat itu merupakan profesi yang berhubungan erat dengan intelijen tingkat tinggi dalam pemerintah feodal para raja di jepang. Berdasarkan hal itu, masing-masing klan memiliki tradisi mengajarkan ilmu beladiri secara rahasia dalam keluarganya saja. Ilmu beladiri yang kemudian dikenal dengan nama ninjutsu. Dalah ilmu yang diwariskan dari leluhur mereka dan atas hasil penyempurnaan seni berperang selama puluhan generasi. Menurut para ahli sejarah hal itu telah berlangsung selama lebih dari 4 abad. Ilmu itu meliputi filsafat FUDOSHIN, spionase, taktik perang komando, tenaga dalam, tenaga supranatural, dan berbagai jenis bela diri lain yang tumbuh dan berkembang menurut zaman.

Namun ada sebuah catatan sejarah yang mengatakan bahwa sekitar abad ke-9 terjadi eksodus dari Cina ke Jepang. Hal ini terjadi karena runtuhnya dinasti Tang dan adanya pergolakan politik. Sehingga banyak pengungsi yang mencari perlindungan ke jepang.sebagian dari mereka adalah jendral besar, prajurit dan biksu. Mereka menetap di provinsi Iga, di tengah pulau Honshu. Jendral tersebut antara lain Cho Gyokko, Ikai Cho Busho membawa pengetahuan mereka dan membaur dengan kebudayaan setempat. Strategi militer, filsafat kepercayaan, konsep kebudayaan, ilmu pengobatan tradisional, dan falsafah tradisional. Semuanya menyatu dengan kebiasaan setempat yang akhirnya membentuk ilmu yang bernama ninjutsu.

Bela diri ninjutsu
Gerakan beladiri ninjutsu hanya tendangan, lemparan, patahan, dan serangan. Kemudian dilengkapi dengan teknik pertahanan diri seperti bantingan, berputar dan teknik bantu seperti meloloskan diri, mengendap, dan teknik khusus lainnya. Namun, dalam praktiknya ninja menghindari kontak langsung dengan lawannya, oleh karena itu berbagai alat lempar, lontar, tembak, dan penyamaran lebih sering digunakan. Berbeda dengan seni beladiri lain, ninjutsu mengajarkan teknik spionase, sabotase, melumpuhkan lawan, dan menjatuhkan mental lawan. Ilmu tersebut digunakan untuk melindungi keluarga ninja mereka. Apa yang dilakukan ninja memang sulit dimengerti. Pada satu sisi harus bertempur untuk melindungi, di sisi lain ninja harus mengutamakan kecerdikan saat menggunakan jurus untuk menghadapi lawan. Di sisi lain ajaran ninpo memberi petunjuk bahwa salah satu tujuan ninjutsu adalah mengaktifkan indra keenam mereka. paduan intuisi dan kekuatan fisik pada jangka waktu yang lama memungkinkan para ninja untuk mengaktifkan indra keenamnya. Sehingga dapat mengenal orang lain dengan baik dan mengerti berbagai persoalan dalam berbagai disiplin ilmu.

Di dalam ninpo terdapat teknik beladiri tangan kosong (taijutsu), teknik pedang (kenjutsu), teknik bahan peledak dan senjata api (kajutsu), teknik hipnotis (saimonjutsu), dan teknik ilusi(genjutsu). Pada aliran Togakure Ryu dikenal adanya latihan olah energi yang disebut Kuji Kiri. Prinsipnya adalah penggabungan antara kekuatan fisik dan mental. Penyaluran energi yang tepat dari tenaga kuji kiri dapat bersifat menghancurkan, namun di sisi lain jika digunakan untuk olah pikir dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang pelik.

Ninjutsu akan sia-sia jika ninja tidak memiliki mental dan spiritual yang kuat. Untuk itu ninja harus menguasai Kuji-in, yaitu kekuatan spiritual dan mental berdasarkan simbol yang terdapat di telapak tangan yang dipercaya menjadi saluran energi. Simbol di tangan di ambil dari praktik pada massa awal penyebaran agama Buddha. Kuji-in digunakan untuk membangun kepercayaan diri dan kekuatan seorang ninja. Kuji-in mampu meningkatkan kepekaan terhadap keadaan bahaya dan mendeteksi adanya kematian.

Dari 81 simbol yang ada, hanya 9 yang utama, yaitu rin(memberi kekuatan tubuh), hei (memberi kekuatan menyamarkan kehadiran seseorang), Toh (menyeimbangkan bagian padat dan cair pada tubuh), sha (kemampuan menyembuhkan), kai(memberi kontrol menyeluruh terhadap fungsi tubuh), jin(meningkatkan kekuatan telepati), retsu (memberi kekuatan telekinetik), zai (meningkatkan keselarasan terhadap alam), dan zen (memberi pencerahan pikiran dan pemahaman). Seorang ninja akan menjadi master sejati dengan menguasai simbol-simbol ini.

Walaupun terdapat banyak keluarga ninja di Jepang, baru sekitar tahun enam puluhan keluarga ninja baru dapat di dekati oleh orang luar. Pada tahun 1960 televisi jepang menayangkan laporan dokumentasi dan sejarah ninja. Setelah itu salah satu aliran yang dapat membuka diri dan memperkenalkan ninja ke dunia luar adalah aliran togakure-ryu dengan pewaris dari generasi ke 34, masaaki hatsumi,.yang profesi sehari-harinya adalah seorang tabib ahli penyembuhan dan pengobatan tulang. Pada tahun 1978 ninjutsu berhasil di publikasikan dan diajarkan ke amerika oleh stephen k. hayes. Sejak saat itu ninjutsu menjadi cabang beladiri yang paling banyak diminati.

Peralatan ninja
Ninja diharuskan untuk bisa bertahan hidup di tengah alam, karena itu mereka menjadi terlatih secara alamiah untuk mampu membedakan tumbuhan yang bisa dimakan, tumbuhan racun, dan tumbuhan obat. Mereka memiliki metode cerdik untuk mengetahui waktu dan mata angin. Ninja menggunakan bintang sebagai alat navigasi mereka ketika menjalankan misi di malam hari.mereka juga mahir memasang perangkap, memasak hewan, membangun tempat berlindung, menemukan air dan membuat api.

Ninja memakai baju yang menutup tubuh mereka kecuali telapak tangan dan seputar mata. Baju ninja ini disebut shinobi shozoko. shinobi shozoko memiliki 3 warna. Baju warna hitam biasanya dipakai ketika melakukan misi di malam hari dan bisa juga sebagai tanda kematian yang nyata bagi sang target. Warna putih digunakan untuk misi di hari bersalju. Warna hijau sebagai kamuflase agar mereka tidak terlihat dalam lingkungan hutan.

Shinobi shozoko memiliki banyak kantong di dalam dan luarnya. Kantong ini digunakan untuk menyimpan peralatan kecil dan senjata yang mereka butuhkan, seperti racun, shuriken, pisau, bom asap dan lain-lain. Ninja juga membawa kotak P3K kecil tradisional, yang diisi dengan cairan dan minuman. Ninja juga memakai tabi yang mirip sepatu boot. Celah yang memisahkan jempol kaki dengan jari lainnya memudahkan ninja saat memanjat tali atau dinding.

Ninja wanita atau kunoichi yang biasanya bekerja dengan menggunakan kefemininan mereka ketika melakukan pendekatan pada sang target menggunakan manipulasi kejiwaan dan perang batin sebagai senjata mereka. mereka bisa mendekati target dan membunuhnya tanpa jejak. Kunoichi memiliki misi yang berbeda dengan ninja laki-laki. Mereka lebih sering dekat dengan target, sehingga mereka juga lebih sering menggunakan senjata jarak dekat seperti metsubishi, racun, golok, tali, dan tessen. Selain itu senjata-senjata tersebut juga praktis dibawa tanpa kelihatan.

Ninja memiliki senjata dalam berbagai jenis, bentuk, dan ukuran. Senjata yang biasanya dipakai adalah katana (pedang) dan sering diletakkan di punggung.[1] Senjata lempar seperti pisau kecil, atau cakram berbentuk bintang, dikenal sebagai shuriken. Peralatan canggih ninja lainnya adalah sabit berantai yang disebut kusarigama,[2] kaginawa (jangkar bertali) untuk memanjat dinding, ashiaro untuk membuat jejak kaki palsu agar tidak terlacak saat menjalankan misi, metsubushi (cangkang telur yang diisi dengan pasir dan serbuk logam, biasanya juga kotoran tikus) yang berfungsi untuk membutakan lawan.

Pelatihan
Pada saat anak-anak ninja telah dilatih untuk waspada dan dididik dalam kerahasiaan dan tradisi ilmu mereka. Pada umur 5-6 tahun mereka diperkenalkan dengan permainan ketangkasan dan keseimbangan tubuh. Anak-anak disuruh berjalan di atas papan titian yang sangat kecil, mendaki papan yang terjal, dan melompati semak-semak yang berduri. Pada umur 9 tahun mereka dilatih untuk kelenturan otot. Anak-anak berlatih berguling dan meloncat. Setelah itu anak-anak diajarkan teknik memukul dan menendang pada target jerami yang di ikat. Setelah itu pelatihan meningkat ke seni bela diri tanpa senjata dan setelahnya dasar-dasar menggunakan pedang dan tongkat.

Pada masa remaja mereka diajari cara menggunakan senjata khusus. Melempar pisau, penyembunyian senjata, teknik tali, berenang, taktik bawah air, dan teknik menggunakan alam untuk mendapat informasai atau untuk menyembunyikan diri. Waktu mereka dihabiskan dalam ruang tertutup atau bergelantungan di pohon untuk membangun kesabaran, daya tahan, dan stamina. Terdapat pula latihan gerak tanpa suara dan lari jarak jauh. Mereka juga diajarkan teknik melompat dari pohon ke pohon atau atap ke atap.

Pada masa akhir remaja ninja belajar menjadi aktor dan psikologi melalui tingkah laku mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Mereka mulai mengerti cara bekerja jiwa manusia, menggunakan kelemahan orang lain untuk keuntungan mereka. Mereka juga belajar membuat obat-obatan, mendapatkan jalan masuk rahasia ke dalam sebuah bangunan, cara memanjat dinding, melewati atap, mencuri di bawah rantai, mengikat musuh, cara kabur, dan menggambar peta, rute, petunjuk jalan, serta wajah.

Filosofi ninja
Filosofi ninja adalah meraih hasil maksimal dengan tenaga minimum. Muslihat dan taktik lebih sering dilakukan daripada konfrontasi langsung.

Ninja tidak memiliki status mulia seperti samurai, sehingga ninja bebas melakukan apapun untuk mengatasi masalah tanpa terikat oleh nama baik keluarga dan kehormatan.

Ninja Mudra – The Ninja Secret Healing

Mudra adalah sebuah gerak tubuh yang bermakna spiritual. Gerak tubuh ini bisa meliputi seluruh tubuh, tapi lazimnya dilakukan dengan tangan dan jari jemari tangan. Agama Hindu dan Buddha dalam literatur spiritualnya banyak menyertakan mudra sebagai sebuah simbol, perlambang, pemberian berkat, dll

Dalam yoga, mudra digunakan secara luas menyertai praktek asanas, pranayama, kriya, bandha dan meditasi. Terutama dipakai dalam praktek pranayama (teknik bernafas dengan benar) karena mudra dipercaya dapat memerlancar masuknya aliran prana (energi) dalam tubuh. Tidak hanya dipraktekkna dalam yoga, mudra juga dikenal dalam teknik martial arts, terutama ninjutsu. Pasti sobat2 yang suka nonton film kartun Naruto familiar dengan Ninja Mudra atau Kuji-In

Jika anda adalah penggemar film laga Asia Timur seperti Kung Fu dan Ninja, mungkin anda tidak asing lagi dengan berbagai gerakan tangan yang mereka lakukan dalam usahanya menyembuhkan luka dan cidera fisik yang mereka alami setelah bertempur. Disamping itu, sikap-sikap tangan tersebut juga mereka gunakan untuk mengeluarkan jurus-jurus tertentu yang terlihat ganjil dari sudut pandang kita saat ini. Berbagai gerakan tangan ini juga di kenal dengan istilah Kuji-In. Menurut mereka setiap gerakan tangan yang divisualisasikan dalam bentuk-bentuk tertentu melangbangkan unsur-unsur yang ada di alam dan dengan melakukan gerakan-gerakan tersebut akan dapat mengendalikan unsur-unsur alam termasuk menstimulus sel-sel tubuh abnormal kembali menjadi normal. Dalam prakteknya, teknik Kuji-In ini dapat divisualisasikan dalam sembilan bentuk sikap tangan.

Kesembilan sikap tersebut yaitu:

  1. CHU (Rin) yang melambangkan kekuatan pikiran dan badan
  2. SHEN (Kyo) yang melambangkan arah dari energi
  3. KAI (Toh) yang melambangkan keselarasan dalam alam semesta
  4. TAI (Sha) yang melambangkan penyembuhan diri dan orang lain
  5. SHA (Kai) yang melambangkan kewaspadaan terhadap bahaya
  6. JEN (Jin) yang melambangkan mengetahui tindakan orang lain
  7. TUNG (Retsu) yang melambangkan penguasaan ruang dan waktu
  8. HUA (ZAI) yang melambangkan kontrol terhadap element-elemen alam
  9. TAO (ZEN) yang melambangkan pencerahan

Teknik ini awalnya juga diterapkan oleh para rohaniawan Buddha, Tao, Sinto dan agama-agama rumpun Asia Timur baik pada saat meditasi maupun pada saat melakukan terapi pengobatan. Menurut lontar-lontar (manuskrip) yang diwarisi perguruan silat Seruling Dewata yang berkembang di daerah Watu Karu, Tabanan, Bali, pada jaman dahulu hampir semua pemuka dan penyebar agama Hindu maupun Buddha disamping menguasai filsafat ketuhanan mereka juga sangat ahli dalam berbagai seni beladiri dan ilmu-ilmu yang bersifat gaib.

Para penyebar filsafat Veda ini akhirnya menjadikan Watu Karu sebagai base cam dan tempat tirta yatra utama. Disamping itu terdapat indikasi bahwa ilmu silat-ilmu silat yang berkembang di asia timur seperti kung-fu, jurus-jurus ninja, taekwon-do, ninjutsu dan sejenisnya berawal dari ilmu silat yang berkembang di Watu Karu. Dalam lontar-lontar juga dikatakan bahwa Langkapura, Jambu Dwipa, Tionggoan , Tibet, Butan, Kuroyewu, Jepun dan negeri-negeri lainnya pernah merasakan kehebatan Ilmu Silat Bali Kuno yang berlandaskan Veda ini, bahkan ada suatu kesepakatan tidak tertulis diantara para pesilat terdahulu bahwa jangan pernah merasa hebat sebelum mencoba kehebatan pesilat-pesilat Gunung Watukaru.

Apa korelasi teknik-teknik yang memperlihatkan sikap tangan seperti Kuji-In dengan basic-nya Veda? Mudra adalah jawabannya. Meski saat ini Mudra (sikap tangan) dalam kebudayaan Veda baik di India maupun di Indonesia lebih banyak dipahami sebagai sikap-sikap tangan yang ditujukan untuk pudja atau ritual keagamaan, namun ternyata Mudra pada dasarnya juga tidak lepas dari aspek fisik dan psikis praktisi Mudra tersebut. Sehingga sangatlah beralasan jika Mudra juga banyak diterapkan dalam teknik meditasi, tarian klasik, bharatanatyam, mohiniattam dan beladiri. Beberapa sikap-sikap mudra tersebut adalah sebagai berikut;

  1. Gyan Mudra – Mudra Ilmu pengetahuan
    Sikap Mudra ini dilakukan dengan menyentuhkan ujung telunjuk dengan ujung ibu jari dan ketiga jari yang lainnya dalam posisi lurus. Ujung jari memiliki pusat kelenjar hipofisis dan endokrin. Ketika menekan pusat-pusat ini dengan kedua ujung jari, maka kedua kelenjar Sikap Mudra ini dapat mempertajam ingatan, meningkatkan konsentrasi dan mencegah insomnia. Dengan melakukan sikap mudra ini secara teratur akan dapat menyembuhkan semua gangguan psikologis seperti depresi, sikap pemarah, histeris dan trauma.
  2. Prithvi Mudra – Mudra Bumi
    Dilakukan dengan menyentuhkan ujung jari manis ke ujung ibu jari dengan jari yang lain diluruskan. Mudra ini bermanfaat untuk mengurangi semua kelemahan-kelemahan fisik, menaikkan berat badan bagi orang yang kurus, dan juga mencerahkan kulit.
  3. Varuna Mudra – Mudra air
    Dilakukan dengan menyentuhkan ujung kelingking ke ujung ibu jari dengan dengan ketiga jari yang lainnya diluruskan. Mudra ini bermanfaat mencegah Gastroenteritis, penyusutan otot dan semua penyakit yang berhubungan dengan ketidak seimbangan kadar air dalam tubuh.
  4. Vayu Mudra – Mudra udara
    Mudra ini dilakukan dengan meletakkan ibu jari dan telunjuk dalam posisi ibu jari menekan ruas bagian tengah telunjuk dan ketiga jari yang lain lurus. Mudra ini mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan ketidakseimbangan tubuh terhadap udara/gas yang terdapat dalam tubuh. Dengan melakukan mudra ini selama 45 menit dalam sehari selama dua bulan secara teratur akan dapat mengatasi Rematik, Arthritis, Asam urat, Parkinson dan juga masalah pada serviks Spondilytis.
  5. Shunya Mudra – Mudra kekosongan
    Dilakukan dengan menekan ruas jari tengah dengan ibu jari dan ketiga jari yang lainnya diluruskan dan dilakukan selama 40 sampai 60 menit setiap harinya. Mudra ini sangat untuk mengatasi masalah mental dan tuli yang tidak disebabkan oleh faktor bawaan.
  6. Surya Mudra – Mudra Matahari
    Dilakukan dengan menekan ruas jari manis dengan ibu jari dan meluruskan ketiga jari yang lainnya. Dengan melakukan mudra ini selama dua kali dalam sehari masing-masing selama 5-15 menit akan dapat menjaga fungsi kelenjar tiroid bekerja normal sehingga dapat mengatasi kadar kolesterol, mengurangi berat badan, mengatasi tekanan mental dan masalah pencernaan.
  7. Prana Mudra – Mudra kehidupan
    Dilakukan dengan menekuk jari manis dan kelingking samai menyentuh ujung ibu jari dan menjaga kedua jari yang lainnya tetap lurus. Mudra ini dapat menjaga kekuatan fisik seseorang, melancarkan peredaran darah, meningkatkan kekebalan tubuh, mengatasi penyakit mata yang terkait dengan kelelahan dan vitamin.
  8. Apana Mudra – Mudra pencernaan
    Mudra ini dilakukan dengan cara menyentuhkan ujung jari tengah dan ujung jari manis dengan ujung ibu jari dan dalam posisi jari yang lainnya terlentang lurus. Mudra ini bermanfaat dalam menangani masalah ekskresi, mengatasi diabetes, sembelit dan membantu buang air besar secara normal. Untuk mendapatkan hasil yang baik, mudra ini dilakukan setidaknya selama 45 menit setiap harinya.
  9. Apana Vayu Mudra – Mudra Jantung
    Dilakukan dengan menyentuhkan ujung jari tengah dan jari manis dengan ujung ibu jari, sedangkan telunjuk menyentuh pangkal ibu jari. Dan kelingking tetap diluruskan. Mudra ini bermanfaat untuk jantung, menurunkan serangan jantung, mengatasi kelainan denyut jantung dan sistem ekskresi pada lambung. Untuk mendapatkan hasil yang optimal dianjurkan melakukannya paling tidak dua kali dalam sehari masing-masing minimal selama 15 menit.
  10. Linga Mudra – Mudra jantung dan energi
    Dilakukan dengan mengaitkan jari-jari kedua tangan dengan ibu jari tangan kiri lurus vertikal sementara ibu jari dan telunjuk tangan kanan mengelilingi ibu jari tangan kiri. Mudra ini merangsang panas dalam tubuh dan bermanfaat untuk menghentikan produksi dahak berlebih, menanggulangi infeksi paru-aru dan bronhitis. Mudra ini dapat dipraktekkan kapan saja jika kita inginkan, hanya saja tidak dianjurkan melakukannya terlalu sering karena efek penghasil panas tubuhnya. Bahkan Mudra ini dapat membuat seorang praktisi berkeringat meski saat cuaca sangat dingin. Untuk mendapatkan hasil optimal dari mudra ini, dapat dibarengi dengan mengkonsumsi susu, ghee, banyak minum air putih dan jus buah. Disamping Mudra-Mudra di atas, masih terdapat ratusan sikap Mudra yang lainnya. Dalam ritual Tantra digunakan 108 mudra, dalam bharatanatyam digunakan setidaknya 200 mudra dimana satu mudra dengan mudra yang lainnya memiliki arti dan manfaat tersendiri. 

Referensinya: