Berguru Pada Laba-Laba

Seekor laba-laba dengan tekunnya menjalin kembali jaringannya yang telah koyak. Mulut dan kaki-kakinya bekerja sama secara sinergis menciptakan kembali beberapa jaringannya yang secara tidak sengaja koyak, karena salah satu ranting pohon di mana jaringannya dikaitkan terpotong. Tanpa mempedulikan saya, ia terus larut dalam aktivitasnya. Tanpa henti dia bekerja, meski di beberapa bagian jaringan yang masih terlihat utuh telah ada beberapa serangga yang telah terjebak dan megap-megap membebaskan diri. Sebentar saja dia berhenti, menyantap salah satu serangga hasil jeratan jaringnya, kemudian ia melanjutkan memintal jaringannya sampai semuanya terlihat utuh seperti semula.

Pikiran saya mulai bekerja. Mengapa ia terus bekerja memperluas jaringan meskipun sudah banyak serangga yang terjebak dan siap disantap? Mengapa mereka memintal seperti itu? Bagi saya, laba-laba juga mempunyai kecerdasan tersendiri. Mereka tahu bahwa jika hanya satu untaian yang dibentuk dari ludahnya saja yang dijadikan sebagai sebagai tempat hidup, sekaligus sebagai alat untuk mencari nafkah, maka sulit untuk menjebak buruan. Hanya dengan membentuk sebuah jaringan besar, maka akan ada banyak serangga yang kebetulan lewat terjebak di dalamnya. Jaringan yang dibangun pun mempunyai satu titik pusat, yang kemudian dari pusat yang sama itulah, ia membentuk lingkaran jaringan di sekelilingnya. Inilah yang menjadi kunci kokohnya jaringan yang dibangun, sehingga serangga yang telah terjebak tidak mudah mengoyakkan jaringan dan bebas. Laba-laba tahu artinya kerja keras dan bagaimana membangun sebuah jaringan kerja sama meski ada satu pusat, untuk mendapatkan hasil.

Hidup manusia merupakan sebuah jaringan atau matarantai sama seperti sebuah jaringan laba-laba. Sama seperti jaringan laba-laba, semua peristiwa dalam hidup saya bukanlah merupakan sebuah kebetulan. Semuanya sebenarnya selalu terkait satu sama lain jika sungguh-sungguh direnungkan. Karena itu, beberapa peristiwa dalam hidup saya yang pada awalnya terlihat sepertinya tidak ada hubungannya sama sekali, pada suatu ketika disadari semuanya terkait satu-sama lain seperti sebuah rangkaian sebab akibat yang tiada pernah putus.

Demikian pun, hidup ini sebenarnya membentuk sebuah jaringan dari yang kecil sampai yang besar, sehingga antara manusia yang satu dan manusia yang lain tetap akan saling membutuhkan sampai kapan pun meski dengan motivasi beragam. Dari jaringan keluarga yang paling kecil, membentuk jaringan keluarga yang lebih besar, sampai membentuk sebuah jaringan pada tingkat yang mendunia. Jaringan ini dibangun karena adanya sifat saling ketergantungan antara makhluk di bawah kolong langit.

Karena hidup manusia juga bergantung pada alam dan terkait seperti sebuah jaringan dengan lingkungan alam sekitarnya, maka ketika alam semesta dirusak manusia juga akan mengalami dampaknya. Dari laba-laba saya belajar apa artinya membangun hidup ini seperti membuat sebuah jaringan. Saya tidak bisa hidup sendiri tanpa pengghargaan yang semestinya kepada sesama dan kepada alam. Ketika saya melukai sesama dan merusak alam sebenarnya saya perlahan-lahan melukai dan merusak diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: