Perbedaan Mendidik dan Mengajar

Assalamu’alaikum Wa Rohmatullahi Wa Barokatuh..

Sahabat NAQS, mengajarkan ilmu kepada murid itu mudah. Namun mendidiknya agar tumbuh menjadi pribadi yang Unggul luar dalam itu perlu proses yang tidak singkat.

NAQS DNA adalah sebuah sarana pendidikan pemberdayaan dan pengembangan diri manusia yang Holistik untuk meningkatkan derajat manusia meraih kesempurnaan dirinya sebagai manusia INSAN KAMIL yang RAHMATAN LIL ‘ALAMIN, dan bukan sekadar sarana pengajaran ilmu metafisika & spiritual.

Lalu apa bedanya mendidik dan mengajar?
Apa beda antara menerbangkan pesawat besar A380 500 penumpang dengan pesawat kecil twin otter 6 penumpang? Dua-duanya bisa terbang, bahkan twin otter lebih cepat terbang. Tapi muatannya lebih banyak pesawat besar, tentu saja. Bedanya adalah pada panjang landasan. Pesawat kecil landasannya pendek, pesawat besar harus panjang.

Mengapa cobek batu jauh lebih murah daripada keramik cina? Perbandingan harganya bisa mencapai ribuan kali lipat. Mengapa? Karena proses pembuatan keramik cina lebih sulit. Namun hasil keramik cina jauh lebih bermutu tinggi.

Itulah beda mengajar dengan mendidik. Mendidik memerlukan landasan yang panjang dan ketelatenan proses yang sulit. Agar hasilnya mampu mengangkat beban berat dan berkualitas tinggi.

Pada prinsipnya PENDIDIKAN menjalankan tiga fungsi sekaligus :

  • Pertama, mempersiapkan generasi muda untuk untuk memegang peranan-peranan tertentu pada masa mendatang.
  • Kedua, mentransfer pengetahuan, sesuai dengan peranan yang di harapkan.
  • Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup masyarakat dan peradaban.

Butir kedua dan ketiga di atas memberikan pengertian bahwa Mendidik bukan hanya “Transfer of Knowledge” tetapi juga “Transfer of Value”. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi helper bagi umat manusia. Sementara Mengajar hanya sampai pada tataran Transfer of Knowledge.

Dan lebih dalam dari itu dalam pelajaran spiritual, siswa akan diberikan Transmitter Energy dari alam KeTuhanan yaitu Transfer Energi Cahaya Ilahi Nur Muhammad, lengkap beserta The Way of Life System yang diperlukan untuk menumbuhkan Sistem Kultivasi di dalam diri siswa.

Sistem Kultivasi ini merupakan sebuah Sistem Sukses Otomatis yang akan membimbing Hati Nurani siswa agar meraih keselamatan dan kesuksesan selama hidup di dunia dan di akhirat. Walaupum sistem ini berasal dari Tradisi Agama Islam sebagai Agama saya, namun aplikasinya bersifat Universal dan dapat digunakan oleh siapa saja. Asal dia mau menjalani Syarat Rukun atau Tata Cara yang berlaku dalam pendidikan Spiritual yang saya berikan. Karena sistem ini berdasarkan Fitrah Dasar Manusia serta berdasarkan Sunnatullah (Hukum Universal Alam Semesta).

“Education is not preparation for life; education is life itself“
Pendidikan bukanlah persiapan untuk menghadapi kehidupan, pendidikan adalah kehidupan itu sendiri -John Dewey-

Secara umum, PENDIDIKAN meliputi 3 hal pokok yang dituju bagi siswanya, yakni Afektif, Kognitif dan Psikomotorik.

  1. Afektif yakni yang berkaitan dengan sikap, moral, etika, akhlak, manajemen emosi, dll.
  2. Kognitif yakni yang berkaitan dengan aspek pemikiran, transfer ilmu, logika, analisis, dll.
  3. Psikomotorik adalah yang berkaitan dengan praktek atau aplikasi apa yang sudah diperolehnya melalui jalur kognitif.

Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga belajar tetapi lebih ditentukan oleh instingnya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga mereka akan mendidik anak-anaknya, begitu juga di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar oleh guru dan dosen.

Menurut Paulo Freire, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, sedangkan John Dewey mengatakan bahwa pendidikan adalah proses yang dilakukan agar ada perubahan dalam masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses transfer dan pencarian nilai yang terjadi di level individu maupun masyarakat yang mengarah kepada perubahan kondisi ke arah yang lebih baik. Maka sejatinya pendidikan adalah juga proses pembebasan manusia dari insting hewaniahnya.

Terdapat perbedaan mendasar antara mendidik dan mengajar, beberapa orang mungkin terjebak antara definisi mendidik dengan mengajar. Padahal, terdapat perbedaan yang mendasar antara keduanya. Mengajar merupakan kegiatan teknis keseharian seorang guru. Semua persiapan guru untuk mengajar bersifat teknis. Hasilnya juga dapat diukur dengan instrumen perubahan perilaku yang bersifat verbalistis. Tidak seluruh pendidikan adalah pembelajaran, sebaliknya tidak semua pembelajaran adalah pendidikan. Perbedaan antara mendidik dan mengajar sangat tipis, secara sederhana dapat dikatakan mengajar yang baik adalah mendidik. Dengan kata lain mendidik dapat menggunakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil yang maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan

Mendidik lebih bersifat kegiatan berkerangka jangka menengah atau jangka panjang. Hasil pendidikan tidak dapat dilihat dalam waktu dekat atau secara instan. Pendidikan merupakan kegiatan integratif olah pikir, olah rasa, dan olah karsa yang bersinergi dengan perkembangan tingkat penalaran peserta didik.

Mengajar yang diikuti oleh kegiatan belajar-mengajar secara bersinergi sehingga materi yang disampaikan dapat meningkatkan wawasan keilmuwan, tumbuhnya keterampilan dan menghasilkan perubahan sikap mental/kepribadian, sesuai dengan nilai-nilai absolute dan nilai-nilai nisbi yang berlaku di lingkungan masyarakat dan bangsa bagi anak didik adalah kegiatan mendidik. Mendidik bobotnya adalah pembentukan sikap mental/kepribadian bagi anak didik , sedang mengajar bobotnya adalah penguasaan pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu yang berlangsung bagi semua manusia pada semua usia. Contoh seorang guru matematika mengajarkan kepada anak pintar menghitung, tapi anak tersebut tidak penuh perhitungan dalam segala tindakannya, maka kegiatan guru tersebut baru sebatas mengajar belum mendidik.

Tidak setiap guru mampu mendidik walaupun ia pandai mengajar, untuk menjadi pendidik guru tidak cukup menguasai materi dan keterampilan mengajar saja, tetapi perlu memahami dasar-dasar agama dan norma-norma dalam masyarakat, sehingga guru dalam pembelajaran mampu menghubungkan materi yang disampaikannya dengan sikap dan kepribadiaan yang harus tumbuh sesuai dengan ajaran agama dan norma-norma dalam masyarakat.

Proses dalam pendidikan seharusnya dapat menjadi proses pembebasan manusia dari penindasan. Sejarah membuktikan telah begitu banyak proses penindasan terjadi terhadap manusia, bahkan hingga saat ini. Karena baik si penindas, maupun yang tertindas, sama-sama mengalami proses dehumanisasi (kehilangan kemanusiannya) karena menyalahi kodrat manusia itu sendiri. Sejatinya manusia harus dipandang dan diperlakukan sebagai seorang manusia yang memiliki hak dan kewajiban serta sama harkat dan martabatnya dengan manusia lain. Pendidikan pun seharusnya tidak menempatkan guru/pengajar sebagai subjek dan murid/peserta belajar sebagai objek, namun, menempatkan guru/pengajar sebagai subjek (dalam hal ini fasilitator) dan murid/perserta belajar sebagai subjek pula. Sehingga pendidikan kritis pun dapat terwujud dan menghasilkan manusia yang kritis dan mampu membawa perubahan dalam masyarakat ke arah yang lebih baik.

Jadi, jika hasil pengajaran dapat dilihat dalam waktu singkat atau paling lama tiga tahun, keluaran pendidikan tidak dapat dilihat sebagai satu hasil yang segmentatif. Hasil pendidikan tercermin dalam sikap, sifat, perilaku, tindakan, gaya menalar, gaya merespons, dan corak pengambilan keputusan peserta didik atas suatu perkara.

Konsep Pendidikan Rasulullah SAW.

Huwalladzii ba’atsa fii al-ummiyyiina rasuulamminhum yatluu ‘alayhim aayaatihi wayuzakkiihim wa yu’allimuhumulkitaaba walhikmata wa-in kaanuu min qablu lafii dhalaalin mubiinin
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (Al-Jumu’ah: 2)

Dari ayat di atas, para mufassirin menerangkan bahwa di antara tugas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam kepada umatnya adalah:

  1. Membacakan ayat-ayat Allah
  2. MenTazkyiyah Nafs (mengKultivasi) atau mensucikan mereka
  3. Mengajarkan kitab dan Himah kepada mereka.

Dan dari ayat di atas juga bisa diketahui bahwa umat manusia sebelum datangnya Rasulullah, dalam keadaan sesat yang nyata, yang berupa kemusyrikan, kemerosotan akhlak dan mereka dalam puncak Perubahan besar yang dibentuk Rasulullah saw di tengah-tengah kehidupan manusia tidak pernah ada tandingannya sepanjang sejarah. Meski dalam keadaan yang sangat sulit, sarana dan prasarana seadanya, dan dukungan massa terbatas. Tak ada kata putus asa. Hingga beliau saw mampu mengikis akar pemikiran dan tradisi jahiliyah kaumnya yang. Usaha keras Rasulullah saw berhasil membongkar pohon jahiliyah yang tertanam kuat di dalam hati kaum jahiliyah.

Beliau saw berhasil membangun peradaban dan budaya pencerahan yang gemilang. Islam berdiri tegak di atas puing-puing kejahiliyahan dan kondisi sosial primitif yang berkepanjangan.

Hal itu tidak lain, karena beliau saw memiliki metode pendidikan dan pengajaran yang tepat dan brilian. Metode yang menyinergikan akhlak mulia dengan ilmu pengetahuan, mengedepankan praktek daripada teori, bertahap dan berkesinambungan, mengorelasikan teori pengetahuan dengan percobaan. Kesuksesan itu karena metode yang dikawal dari Allah SWT yang ilmu-Nya meliputi segala tempat dan zaman.

Beliau telah meretas jalan sukses dalam bidang pendidikan dan pengajaran. sehingga mampu para sahabatnya sebagai generasi yang sanggup memikul amanah. Para sahabat radiallahu anhum kepada generasi berikutnya, melestarikan peradaban Islam yang rahmatan lil alamin. Meski Rasulullah saw wafat menghadap Tuhan semesta alam.

Hakekat dan Tujuan Pendidikan Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT adalah seorang pendidik (al-Jumu’ah: 2; al-Baqarah 151). Kedua ayat tersebut menjelaskan bahwa misi dan tugas Nabi sebagai seorang Rasul adalah membacakan ayat-ayat-Nya (tilawah), mensucikan jiwa (tazkiyah) yang diartikan dengan mendidik, serta mengajarkan al-Kitab dan al-hikmah (ta’lim), yang berarti proses mengajar untuk membekali seseorang dengan berbagai ilmu pengetahuan, baik yang terkait dengan alam nyata maupun metafisika, yang tetap bersandar pada al-Qur’an an as-sunnah. Tujuan pembacaan, penyucian dan pengajaran tersebut adalah pengabdian kepada Allah, sejalan dengan tujuan penciptaan manusia. Ketiga tugas tersebut dapat diidentikkan dengan fungsi pendidikan dan pengajaran yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pendidik. Jadi, pendidikan yang baik dan ideal harus mengandung ketiga unsur tersebut.

Rasulullah dengan cara di atas telah sukses mendidik para sahabatnya menjadi masyarakat yang berbudi tinggi dan mulia, dari masyarakat jahiliyah menjadi bangsa yang berbudaya, bermoral, serta berpengetahuan. Jadi, pendidikan tidak hanya menekankan pada orientasi intelektualitas semata, tetapi juga menekankan pada pembentukan kepribadian yang utuh, yang tercerminkan dalam aktifitas tilawah, tazkiyah, dan ta’lim. Pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya, sehingga mampu mengemban tugas sebagai ‘Abdullah dan Khalifatullah adalah tujuan pendidikan Qur’ani.

Selain itu, al-Baqarah 31 menunjukkan proses ta’lim, yaitu ketika Allah SWT mengajarkan (‘allama) nama-nama kepada Nabi Adam. Allah mengajari Nabi Adam nama-nama benda seluruhya, yakni pengetahuan tentang nama-nama benda serta menjelaskan fungsi-fungsinya. Dengan demikian, secara spesifik maka ta’lim berarti bimbingan yang menekankan kepad aspek peningkatan intelektualitas peserta didik, itu tersirat dalam proses penciptaan Nabi Adam, dimana Allah mengajarkan kepadanya nama-nama sebagai bekal menjadi khalifah.

Tujuan pendidikan adalah untuk menjadi hamba Allah SWT yang taat (adz-Dzaariyaat: 56; al-An’am, 162). Jadi, tujuan pendidikan tidak hanya berorientasi pada kepandaian akal semata, tetapi untuk memperoleh hidayah dan kesucian hati. Ilmu pengetahuan harus menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, sehingga ilmu harus dipenuhi dengan nilai-nilai ketuhanan (bismi rabbika).

Al-Qur’an menggambarkan profil hamba Allah yang ideal, yang tentunya menjadi orientasi pendidikan Qur’ani. Mereka adalah orang-orang yang berakidah lurus, beribadah secara istiqomah dan penuh ketundukan, serta mempunyai akhlak yang luhur. Mereka memiliki sikap rendah hati, tidak sombong, berbicara dengan kata-kata yang baik, dan tidak menanamkan kebencian, serta jika mereka dicela, dibalasnya dengan cara yang baik. Mereka orang-orang yang menghabiskan sebagian malamnya untuk melakukan shalat serta ‘amal shalih lainnya, selalu memohon dihindarkan dari adzab neraka, dan proporsional dalam membelanjakan harta. Mereka juga tidak berlaku syirik, membunuh, ataupun berzina, tidak memberikan kesaksian palsu dan tidak melakukan hal-hal yang tercela. (al-Furqan 63-77)

Tujuan pendidikan Qur’ani adalah membentuk generasi rabbaniyyiin (ali Imran 79). Yaitu orang-orang yang berilmu, namun tetap ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT, bertakwa, mawas diri dalam berbicara dan bertindak, memadukan antara ilmu dan amal, serta mengabdikan dirinya untuk mengajarkan manusia sesuatu yang bermanfaat. Ilmu pengetahuan, pengajaran, dan proses belajar seharusnya mengantarkan seseorang kepada tingkat rabbaniy. Jadi, pendidikan moral untuk mencapai akhlak yang sempurna adalah jiwa pendidikan Islam. Pengetahuan seharusnya membawa para ilmuwan Muslim untuk beriman, tunduk dan ada rasa takut (khasyyah) kepada Allah SWT (al-Fatir 28).

Kurikulum Pendidikan
Ayat-ayat yang menceritakan pesan-pesan Luqman kepada putranya, yang terangkum dalam QS. 31:16 bisa menjadi acuan untuk menjadi materi (kurikulum) pendidikan. Dalam rangkaian ayat tersebut, Luqman mewasiatkan kepada putranya agar bersyukur, tidak menyekutukan Allah, berbuat baik kepada orang tua, bertindak dengan berdasarkan ilmu, senantiasa merasa diawasi Allah, mendirikan shalat, melakukan amar ma’ruf nahy mungkar, tidak menyombongkan diri, sederhana dalam berjalan dan bersuara. Jika dirangkum, ada tiga pesan penting dalam wasiat-wasiat tersebut; pertama adalah penanaman tauhid, akidah yang lurus, dan pengenalan akan keagungan Allah SWT. Jadi, fokus utama pendidikan Qur’ani adalah pendidikan iman.

Sebab jika iman sudah benar dan tertancap kuat dalam hati, maka akan luruslah semua aspek kehidupan seseorang. Kedua, penegasan untuk mentaati perintah-perintah Allah SWT (syari’at). Ketiga pengajaran tentang etika sosial berupa sifat sabar, gemar berterima kasih, cara berjalan yang baik, merendahkan suara, dan tidak sombong. Semua itu sejalan dengan perintah al-Qur’an yang lain bagi para orang tua sebagai pendidik, seperti perintah untuk mendirikan shalat (Thaha:132), dan perintah menjaga anggota keluarga dari api neraka (at-Tahrim:6).

Meskipun fokus utama materi pendidikan al-Qur’an adalah terkait dengan akidah, ibadah, dan akhlak, tetapi bukan berarti aspek-aspek lainnya diabaikan. Materi yang sudah disebutkan di atas, diberi perhatian lebih awal karena ia akan menjadi pondasi pembentukan karakter seorang mu’min yang berakidah lurus dan kokoh, beribadah benar dan istiqomah, serta berakhlak terpuji yang mendarah daging. Banyak ayat lain dalam al-Qur’an yang berulang-kali meminta manusia menggunakan akal dan panca inderanya untuk membaca tanda-tanda alam sebagai bentuk kekuasaan Allah (Yunus: 101; an-Nahl:78 ; al-Jatsiyah: 13 dan al-Baqarah: 31).

Jadi al-Qur’an tidak hanya mendorong belajar ilmu akidah, syari’ah dan akhlak saja. Al-Qur’an juga mendorong manusia untuk menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan lainnya. Al-Qur’an menetapkan alam semesta ini adalah ‘buku’ yang harus dibaca untuk menuju ma’rifatullah. Al-Qur’an mendorong pembelajaran dalam konteks yang seluas-luasnya. Jadi, seorang muslim wajib belajar sains, karena sains menjadi salah satu alat untuk membuktikan kekuasaan Allah, selain ayat-ayat tanziliyah (wahyu).

Potret manusia yang ingin dihasilkan oleh pendidikan Qur’ani adalah Ulil Albab, “Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka jagalah kami dari siksa api neraka.” (Ali Imran 191). Itulah cermin manusia seutuhnya yang menggunakan hati dan fikirannya untuk selalu berdzikir kepada Allah, bertafakkur, dan mengamati alam semesta. Kurikulum pendidikan Qur’ani tidak memisahkan secara dikotomis antara pendidikan ‘agama’ dan pendidikan ‘umum’. Sebab pada dasarnya semua yang ada di alam semesta ini, sebagaimana Wahyu bersumber dari Allah SWT.

Berbeda dengan objek ilmu di Barat- pengetahuan versi al-Qur’an tidak terbatas pada apa yang bisa diindera saja, melainkan mencakup juga apa yang tidak bisa diindera (al-Haqqah: 38-39). Yang tidak bisa diindera ini (al-ghayb) tentunya hanya bisa diterima dengan pendekatan keimanan, yang dalam prakteknya biasanya bisa dipelajari dan diperoleh dengan meningkatkan kualitas ketakwaan, kesungguhan serta istiqomah dalam beribadah.

Jadi, antara wahyu dan akal, atau iman dan ilmu tidak boleh dipisahkan, karena akan menurunkan martabat manusia itu sendiri. Iman tanpa ilmu akan menimbulkan keterbelakangan, takhayul dan kebodohan. Sebaliknya, ilmu tanpa iman akan mengumbar nafsu, kesombongan, kerakusan, penindasan dan penipuan. Konsep pendidikan Qur’ani menawarkan sesuatu yang holistik yang memadukan agama dan sains dan menekankan aspek ukhrawi dan duniawi. Tidak mungkin manusia bisa mencapai kebahagiaan akhirat tanpa melalui jalan dunia. Sebaliknuya, tanpa pengetahuan ‘ukhrawi’ niscaya kehidupan seseorang di dunia akan hampa tanpa tujuan. Kebahagiaan dunia akan tidak berguna, jika kelak di akhirat sengsara (al-Qasash: 77 dan al-Baqarah: 201).

Kesimpulannya, konsep pendidikan menurut al-Qur’an diarahkan untuk mengembangkan berbagai potensi manusia semaksimal mungkin, sehingga akan bermanfaat dan juga menghasilkan rasa takut kepada Allah SWT.

Semoga bermanfaat

REFERENSI :
Kompasiana
Djimodji Communication

Manajemen Niat Ala NLP

Setiap amal itu tergantung pada niatnya.
Demikian ajaran agama menelusup dalam diri saya, yang juga begitu sering saya dengar dari banyak orang. Saya lansir, ia merupakan salah satu ajaran yang paling populer di kalangan orang awam. Meskipun, saya pun yakin bahwa makna aslinya banyak yang belum dipahami secara tepat.

Betapa tidak? Kalimat,”Yang penting kan niatnya baik” cukup sering saya dapati ketika seseorang berusaha menasihati orang lain, namun justru ditanggapi dengan kurang menyenangkan. Meski saya sepakat bahwa situasi seperti ini mungkin saja terjadi, seringkali saya pahami bahwa kesalahpaman ini terjadi lebih disebabkan oleh sang pemberi nasihat yang belum menggunakan cara yang tepat saja. Alhasil, alih-alih bermanfaat, nasihat baik ini malah mubazir.

Lalu, apa sebenarnya konteks yang tepat untuk menerapkan ajaran di atas?

Saya mohon maaf, sebab saya bukan ahli agama, maka penjelasan saya berikut ini tentu masih amat jauh dari layak untuk dianggap sebagai kebenaran. Namun sebab saya meyakini bahwa menyebarkan sebuah ilmu akan membukakan jalan pada ilmu baru, saya kuatkan diri saya untuk menuliskan jua pemahaman saya soal niat.

Niat dan State
Bagaimana ceritanya nih? Begini. Mari kita cermati kejadian berikut ini.
Anda adalah seorang manajer yang baru saja merekrut karyawan baru. Saat wawancara, Anda sudah menegaskan pertanyaan penting berikut ini, “Jadi, Anda betul-betul berniat untuk berkarir di bidang keuangan?”

Kontan, dengan senyum merekah, sang calon karyawan pun menjawab lugas, “Ya! Niat saya sudah bulat!”

Maka rangkaian wawancara pun Anda tutup dengan syukur, berharap Anda sudah menjatuhkan pilihan pada orang yang tepat.

Hari berikutnya, sang karyawan baru pun menjalani hari pertamanya. Ia penuh gairah, belajar dengan semangat, bertanya kesana dan kemari dengan wajah antusias. Setiap tugas yang Anda berikan ia lahap seketika, meski tak jarang ia mengalami beberapa kesulitan. Maklum, karyawan baru.

Berlalu 3 hari. Anda agak merasa aneh, sebab sang karyawan ini menunjukkan gelagat yang berbeda. Ya, baru tiga hari, dan Anda mendapati gairahnya menurun. Ia mulai kesulitan menjalankan instrukti Anda. Wajah yang sebelumnya ceria kini banyak murung. Tak sampai seminggu untuk mendapatinya sulit dicari di ruangan. Bahkan di minggu kedua, ia sempat bolos sehari tanpa izin dan alasan yang jelas.

Minggu ketiga, juga masih aneh. Sehari semangat, sehari loyo. Begitu terus berlangsung, hingga Anda sudah tak tahan lagi.

Nah, menghadapi kondisi seperti ini, apa kiranya yang Anda akan ucapkan tentang karyawan baru itu?

Ah, jika Anda sama seperti beberapa orang yang saya temui di negeri ini, kalimat ini mungkin sama—mungkin juga tidak—dengan Anda, “Gimana sih anak ini? Niat kerja nggak sih?”

Hehe… Anda boleh kok punya versi yang berbeda.
Nah, apa sebenarnya makna kata ‘niat’ pada kalimat di atas? Jelas bukan sesuatu yang diucapkan di depan saat wawancara, bukan?

Ya! Niat memang bukan sesuatu yang diucapkan dengan lisan semata. Maka bagi seorang Muslim, mengucapkan niat secara lisan dalam shalat bukan merupakan kewajiban. Niat dalam rangkaian shalat adalah perbuatan hati.

Kembali ke kata ‘niat’ yang diucapkan oleh Anda di atas, bukankah Anda sepakat bahwa ia lebih merupakan konsistensi daripada hanya sebuah kondisi hati yang sekali muncul sudah itu mati?

Aha! Maka jadi masuk akal jika agama pun mengajarkan kita untuk selalu meluruskan niat. Kok meluruskan ya? Berarti niat bisa bengkok atau melenceng donk?

Ya, memang demikian lah adanya. Niat adalah sebuah kondisi menyengaja dalam diri, yang sangat mungkin untuk berubah, dan karenanya harus senantiasa dipantau dan dikendalikan.

Maka menggunakan kerangka NLP, niat sejatinya adalah sebuah proses mengakses state alias kondisi pikiran-perasaan yang tepat untuk memunculkan perilaku yang diinginkan. Dan selayaknya sebuah state, ia jelas tidak statis, melainkan dinamis, keluar dari yang satu berganti menjadi yang lain.

Semisal, kita ingin bersedekah. Kita pun mengakses kondisi ikhlas, yakni kondisi dimana pikiran dan perasaan tertuju semata hanya mengharapkan ridha Allah. Jika terbersit sebuah keinginan untuk dilihat, baik itu dalam bentuk film dalam pikiran atau suara, kita pun segera mematikan atau menggantinya. Dengan demikian, perilaku sedekah kita pun menjadi bersih. Mengeluarkan uang terbaik yang kita miliki, lalu melakukannya dengan diam-diam.

Cukupkah?

Jelas tidak. Sebab sudah berperilaku seperti itu pun, seringkali niat ini berubah. Misalnya, ketika seseorang tiba-tiba melihat dan memuji apa yang kita lakukan. Sebuah suara barangkali muncul, “Wah, hebat juga ya, aku bersedekah seperti itu.” Jika kita jeli, seketika kita pun awas, dan segera mematikan suara tersebut, mengubah senyum bangga menjadi wajah penuh harap agar Allah masih sudi menerima sedekah kita tadi.

Demikianlah, Niat adalah sebuah State. Sebab ia state,maka ia menaungi rangkaian perilaku yang ada di dalamnya. State senang akan memunculkan perilaku senyum tulus dengan lebih mudah, dibanding state sedih. State percaya diri akan menghadirkan perilaku bicara meyakinkan dengan lebih cepat dibanding state ragu-ragu.

Ah, bukankah jadi lebih jelas mengapa agama ajarkan kita untuk memulai sesuatu dengan meluruskan niat? Sebab tanpa niat yang lurus, perilaku tulus pun sulit untuk muncul. Alih-alih tulus, yang ada adalah perilaku hitung-hitungan. Tidak memberi jika pujian sedikit. Tidak mengajar jika honor kecil. Dan seterusnya.

Sementara niat yang tulus, menghadirkan segenap pikiran hanya soal meraih ridha Allah, melahirkan segenap rasa yakin akan pembalasan Allah, akan menghadirkan perilaku yang murni, apapun respon yang didapat. Dicaci ketika menasihati, kita justru tersenyum, sebab yakin bahwa cacian kan berbuah pahala. Rugi ketika menerima kembali barang dagangan yang dikembalikan pembeli karena cacat, kita justru lega, sebab dihindarkan dari perhitungan di Hari Akhir kelak.

Dan berbekal NLP, ia adalah proses mengelola representasi internal alias film dalam pikiran, dan gerakan tubuh.

Ingin mendapat ilmu yang berlimpah? Niatkan untuk belajar dengan penuh takzim pada seorang guru.

Caranya?

Selidiki apa yang sedang diputar dalam pikiran. Dan ganti gambarnya dengan gambaran positif tentang sang guru, ilmunya yang luas, manfaatnya yang banyak. Putar suara dalam pikiran tentang nasihat untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Kecilkan suara-suara sumbang orang lain tentang sang guru, yang teringat. Dan rasakan diri ini begitu takzim, sehingga memudahkan ilmu baru masuk.

Takkan hadir ilmu, pada diri yang memelihara kesombongan.

Ingin bekerja dan mendapat rezeki berlimpah nan halal? Niatkan untuk bekerja tanpa pamrih.

Caranya?

Selidiki film yang kita putar dalam pikiran. Jika muncul pikiran tentang mendapat keuntungan lewat cara yang tidak halal, ganti segera! Munculkan ingatan tentang orang-orang jujur yang sukses, dan betapa berkah hidup mereka. Jika muncul bisikan-bisikan untuk bekerja seadanya, malas-malasan, kecilkan suaranya! Munculkan suara penyemangat, nasihat pembangkit inspirasi, hingga terasa semangat menggelora untuk persembahkan yang terbaik.

Selalu ada hasil, pada tiap kesungguhan.

Seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Ibnu Umar ra, pernah berujar, “Seandainya ada satu saja sujudku yang diterima, niscaya itu sudah cukup buatku.”

Wah, sahabat Nabi sekelas beliau saja tak yakin bahwa sujudnya yang buanyak itu diterima? Bagaimana dengan kita?

Inilah bukti bahwa niat harus terus diluruskan, dikelola. Ini pulalah sebab mengapa kita diajar untuk berdoa agar hati yang memang tabiatnya senang berbolak-balik ini senantiasa diteguhkan di jalan Tuhan.

Apa Itu STATE..??
State di kamus punya makna beragam. State bisa diartikan wilayah. Istilah state digunakan di kalangan psikologi pertama kali adalah dalam Transactional Analysis untuk menggambarkan keadaan pemikiran , perasaan dan kecenderungan untuk bertindak. Dalam NLP ,STATE atau lengkapnya STATE OF MIND adalah keadaan menyeluruh antara tubuh dengan keadaan neurologisnya yang berupa pikiran, perasaan dan kecenderungan untuk bertindak bahkan tindakan.

STATE ini akan saling mempengaruhi dengan Posisi Tubuh, Pikiran, Perasaan dan Tindakan yang dilakukan.

Perhatikanlah Kondisi Fisik (Raga) orang yang sedang gembira, kecewa, marah, menahan geram, sedih, menangis, putus asa. Setiap STATE ternyata mempunyai kapling raganya masing-masing. Karena itu para aktor dan aktris professional mudah untuk mendapatkan STATE tertentu hanya dengan mengubah dan meng-Olah Raga saja.

Mari kita bereksperimen mengenai STATE ini.
Experiment 1 :

  • Pikirkanlah pengalaman saat Anda bahagia . Lihatlah wajah Anda di cermin .
  • Pikirkanlah pengalaman saat Anda sedih. Lihatlah wajah Anda di cermin.

Experiment 2 :

  • Buatlah wajah Anda seperti yang terlihat di cermin saat Anda merasa bahagia. Lalu rasakanlah perasaan yang muncul
  • Buatlah wajah Anda seperti yang terlihat di cermin saat Anda merasa sedih. Lalu rasakanlah perasaan yang muncul.

Jadi……
Mengubah posisi tubuh akan mengubah STATE. Melakukan gerak akan mengubah STATE. Berolah raga mengubah STATE, Menari mengubah STATE, berjoget mengubah STATE, Yoga mengubah STATE, Meditasi mengubah STATE , Silat mengubah STATE , Berdoa dan Sholat mengubah STATE.

Mengatur pikiran akan mempengaruhi STATE. Memunculkan pikiran damai menghasilkan STATE . Memunculkan pikiran rusuh menelurkan STATE. Mengendalikan pikiran sama dengan mengendalikan STATE.

Terserah Anda mau mulai dari mana. Anda dapat mengubah State dengan merasakan perasaan , menciptakan pikiran atau melakukan gerak tertentu.

Di salah satu sekolah kepribadian yang mengajarkan membangkitkan rasa percaya diri. Latihannya justru bukan dengan mengelola pikiran peserta. Peserta dilatih berjalan santai, wajah menatap ke depan, nafas lancar dan energi mantap di seluruh tubuh dan beban terbagi imbang ke kaki kanan dan kiri. Latihan berulang-ulang. Dan ajaib, peserta jadi Pede abis.

Di ketentaraan , para calon prajurit dilatih pede, sigap dan cekatan dengan baris berbaris , hadap kiri , hadap kanan, jalan di tempat, maju jalan, serong kiri, serong kanan dan hormat .

Bagaimanakah State Anda saat ini ? 
Sadarilah gerak tubuh dan mimik wajah Anda.

Bagaimanakah gerak tubuh dan mimik wajah Anda saat ini? 
Sadarilah itulah State Anda.

by. Indonesia NLP Society

Keyakinan & Kepercayaan Diri

Sahabat NAQS DNA dimanapun berada. Keteguhan & Keyakinan Hati memegang peranan sangat penting di saat kita melakukan terapi kepada Client/Pasien. Pasien anda boleh ragu-ragu ataupun kurang yakin, namun anda tidak boleh begitu. Anda haruslah dalam kondisi Haqqul Yakin dan Pasrah serta Ikhlas sepenuhnya. Sehingga keyakinan yang ada di dalam hati anda akan menular ke dalam hati pasien, dan proses terapi dapat berjalan sesuai dengan syarat rukunnya sehingga hasil yang diperolehpun memuaskan kedua belah fihak. Ingatlah bahwa segala Atom dan partikel yang ada di alam semesta ini tunduk dan patuh kepada hati manusia yang Yakin.

Allah s.w.t telah menyatakan dengan firman-Nya:
“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” (QS. Al-Jaatsiah; 13)

Sebuah contoh kasus tentang seseorang yang sedang mencari kerja. Agar mendapatkan pekerjaannya, orang itu harus yakin dengan hatinya bahwa Allah akan benar- benar menolongnya, tidak perduli betapa mustahilnya itu menurut akal sehat manusia. Namun pada faktanya akal sehat bukanlah sesuatu yang selalu bisa dipercaya.

Ada kekuatan luar biasa di balik akal sehat yang mengendalikan semesta ini. Namun memang terkadang akal sehat inilah yang selalu membuat keragu-raguan dalam hati kita. Sehingga saat partikel di alam ini mulai membentuk komponen- komponen dari apa yang hati kita yakini tersebut (semisal lapangan pekerjaan), maka buru – buru akal sehat membantah “keyakinan hati” ini, sehingga menimbulkan keraguan – raguan.

Ah mana mungkin kamu bisa mendapatkan pekerjaan, pengangguran dimana – mana, sedangkan lapangan kerja pun sedikit.

Itulah bantahan akal sehat kepada kita sehingga menimbulkan keraguan – raguan dalam diri, keragu – raguan ini menyebabkan partikel – partikel alam semesta – yang tadinya akan membentuk sebuah lapangan pekerjaan – (atas perintah hati kita) menghentikan proses pembentukan tersebut. Namun seandainya hati kita benar – benar yakin akan hal tersebut dapat kita peroleh. Maka Insya Allah apa yang kita inginkan tersebut dapat tercapai.

Keyakinan hati (iman) yang kuat dapat membantu terjadinya keajaiban; laksana pikiran yang membutuhkan konsentrasi luar biasa dan ketekunan. Itulah sesungguhnya salah satu jalan yang utama. Sebagian besar dari kita memiliki kepercayaan dan keyakinan tertentu: pada diri sendiri, pada seseorang, agama, filosofi atau ilmu pengetahuan. Kepercayaan memberikan diri kita sebuah pegangan. Dengan demikian memungkinkan otak ini bebas memusatkan perhatian untuk kerja yang lain. Tanpa keyakinan kita cenderung mempertanyakan segala sesuatu, membuang-buang energi dan memory otak. Keyakinan memberikan stabilitas dan rasa aman kepada diri kita dan menolongnya melangkah maju, memberikan tujuan dan makna hidup. Keyakinan dapat membuat rasa takut hilang lenyap. Inilah inti dari keimanan dimana keyakinan yang dalam pada Tuhan memberikan rasa aman yang luar biasa.

Keyakinan adalah juga faktor pendorong yang hebat. Banyak karya besar umat manusia di dorong oleh keyakinan, baik menyangkut mahakarya seperti Piramid, Taj Mahal, candi-candi yang luar biasa, gereja, masjid atau bahkan pengiriman manusia ke bulan.

Kekuatan ini harus diarahkan untuk perbaikan kehidupan umat manusia. Keyakinan hati sangat menentukan masa depan yang akan kita dapatkan. Maka kalau Anda ingin meraih kesuksesan, pertama-tama arahkan hati anda untuk memiliki impian indah tentang keberhasilan. Dengan mengarahkan hati memiliki impian indah kesuksesan, maka otak akan memprosesnya dan memerintahkan panca indra untuk mewujudkan keberhasilan yang anda impikan.

Jangan remehkan keyakinan hati Anda. Ketika anda mampu mengarahkan keyakinan hati anda hanya pada hal-hal yang positif, maka itulah yang akan anda dapatkan. Ketika anda mengarahkan keyakinan hati anda pada keberhasilan, kehidupan yang lebih baik, kehidupan yang bermakna, maka itulah yang nanti akan anda dapatkan. Konsekuensinya adalah kesempatan untuk menjadi berhasil dan sukses sesuai kehendak hatinya akan terbuka lebar baginya.

Michael Dell adalah seorang pendiri dan CEO Perusahaan komputer raksasa DELL yang memproduksi PC (Personal Computer) dan Note book yang terbesar di dunia. Bagaimana Dell memulai kesuksesannya ? Ketika masih berusia 19 tahun, Dell memulai usahanya sebagai seorang salesman computer. Kemudian ia mulai merakit dan menjualnya di kampus. Meskipun akhirnya dia tidak berhasil menyelesaikan studinya, namun hanya dalam waktu yang relatif singkat Dell berhasil mengembangkan usahanya dan menguasai penjualan PC didunia.

Dell mampu membangun perusahaannya dan bahkan mengalahkan perusahaan raksasa dibidang computer lainnya, seperti HP dan Compaq yang telah berumur lebih dari 50 tahun. Keberhasilannya ini mengantarkan Michael Dell yang ketika itu baru berumur 29 tahun sudah masuk dalam daftar 100 orang terkaya di dunia. Kini Michael Dell, tercatat sebagai salah seorang yang sukses dan menjadi bagian dari 10 orang terkaya di dunia saat ini yang berumur 39 tahun dari Amerika Serikat. Dengan kekayaan pribadinya mencapai puluhan milyard US Dolar.

Mengapa Michael Dell mampu berprestasi begitu luar biasa?
Jawabannya adalah karena Dell memiliki keyakinan hati untuk berhasil. Ya, Dell memiliki keyakinan hati yang sangat kuat, bahwa dia mampu menjadi yang terbaik. Dia memiliki keyakinan mampu meraih keberhasilan yang diinginkannya. Meskipun ia memulai usaha pada usia yang masih sangat muda, belum memiliki banyak pengalaman, namun hal ini tidak membuat dirinya takut gagal atau takut bersaing dengan perusahaan yang lebih hebat. Bagi Dell usia muda berarti memiliki waktu yang lebih panjang untuk mencoba agar berhasil. Memiliki kesempatan untuk menjadi yang terbaik. Itulah “Keyakinan Hati” yang mampu mendorong motivasi meraih keberhasilan.

Keberhasilan, kesuksesan maupun kegagalan itu dimulai dari dalam hati kita sendiri. Dengan mengarahkan dorongan “drive” dari dalam hati selalu kepada hal-hal positif dan indah tentang kesuksesan, itulah yang akan kita dapatkan dalam kehidupan.

Ketika kita belajar dari orang-orang Sukses, para achiever, mereka yang meraih prestasi tertinggi maupun para pemimpin kehidupan, kita akan menemukan bahwa mereka memiliki keyakinan hati meraih yang terbaik sesuai bidangnya. Mereka mengarahkan hatinya untuk meyakini hal-hak positif tentang masa depannya. Mereka mampu memberdayakan potensi kekuatan hatinya untuk meraih prestasi puncak dalam karir maupun kehidupan.

Bagaimana agar dapat menciptakan keyakinan hati ?
Keyakinan hati manusia itu dapat tercipta melalui beberapa hal dibawah ini:

  1. IMAN, Kepercayaan Kepada ke-Maha Kuasaan Tuhan.
  2. ILMU, Ilmu pengetahuan, seperti meyakini bahwa bumi, bulan dan matahari berputar pada porosnya dalam garis edar keseimbangan. Kita meyakini karena teorinya mengatakan demikian.
  3. Pengalaman sendiri, sudah melihatnya sendiri. Keyakinan berdasarkan pengalaman tercipta ketika Anda sudah melakukannya sendiri, membuktikannya sendiri atau sudah melihatnya sendiri.
  4. Pengalaman Orang Lain, referensi atau contoh dari orang lain. Keyakinan karena referensi atau contoh orang lain tercipta karena Anda sudah melihat orang lain melakukannya atau orang lain sudah membuktikannya. Bila ada satu saja orang yang berhasil melakukan sesuatu, maka orang lainpun punya potensi untuk bisa melakukan hal yang sama.

Bagaimana dengan diri Anda ? Sudahkah Anda memiliki keyakinan dari dalam hati bahwa Anda memiliki potensi untuk meraih kesuksesan dan keagungan dalam hidup ini ?.

Arahkanlah pilihan hati hanya pada keyakinan positif. Salah satunya dengan mengambil contoh pengalaman orang lain. Maka setiap orang dapat mengambil pelajaran dari keberhasilan orang-orang sukses, seperti Michael Dell misalnya. Kita dapat belajar kesuksesan mereka, belajar menjadi pribadi yang positif, menjadi pribadi yang berkualitas, berani meraih kesuksesan dan menghasilkan karya terbaik bagi orang lain. Untuk tujuan itulah sesungguhnya manusia dilahirkan dan hidup di dunia.

10 Rahasia Mendapatkan Rasa Percaya Diri Dalam Hitungan Detik
Banyak cara yang bisa anda lakukan untuk meningkatkan kepercayaan diri anda dalam jangka panjang, namun terkadang kita juga memerlukan langkah-langkah meningkatkan rasa percaya diri dalam waktu singkat. Anda rasanya tak bisa berjalan menuju sebuah pertemuan penting sambil membaca buku panduan mengenai kepercayaan diri, atau menelepon mentor anda pada menit-menit terakhir.

Jadi dibawah ini saya mencoba mensharingkan kepada anda beberapa tips yang dapat meningkatkan rasa percaya diri anda dengan cepat dalam hitungan detik :

  1. Tersenyum.
    Tersenyum merupakan tips 1 detik jika anda merasa gugup dan tidak percaya diri. Anda tidak hanya tersenyum jika anda merasa senang dan percaya diri, sebaliknya anda bisa tersenyum untuk membuat diri anda merasa lebih baik. Tersenyum berhubungan erat dengan perasaan positif sehingga hampir tidak mungkin anda merasa tidak enak ketika anda tersenyum.

    Tersenyum lebih dari sekedar menunjukkan ekspresi pada wajah anda. Tersenyum melepaskan hormon endorphin yang membuat anda merasa lebih baik, meningkatkan sirkulasi darah di wajah anda, membuat anda merasa nyaman dengan diri anda sendiri dan tentunya dapat meningkatkan rasa percaya diri anda. Anda juga akan tampak lebih percaya diri di hadapan orang lain ketika anda tersenyum.

  2. Tatap Mata Lawan Bicara Anda.
    Sama halnya dengan tersenyum, tataplah mata semua orang di dalam ruangan. Berikan senyum anda dan dapat dipastikan mereka akan membalas senyuman anda; dan senyum yang diberikan orang lain dapat meningkatkan rasa percaya diri anda dengan cepat. Sama halnya dengan tersenyum, kontak mata menunjukkan bahwa anda percaya diri. Menatap sepatu anda atau meja mendorong perasaan anda menjadi ragu-ragu dan malu. Tips ini sangat berguna untuk situasi kerja; buatlah kontak mata dengan orang yang mewawancarai anda, atau orang-orang yang menghadiri presentasi anda.

    “Kontak mata membantu anda untuk menghilangkan rasa takut jika anda sedang berbicara di depan umum dan semakin mendekatkan anda dengan lawan bicara anda. Stress merupakan perasaan yang datang dari sesuatu yang asing dan tidak dapat dikendalikan. Kontak mata memberikan pembicara gambaran dari kenyataan yang tidak lain adalah lawan bicara itu sendiri. Kontak mata juga membantu menarik minat lawan bicara anda.” (Confident Eye Contact, Unlimited Confidence)

  3. Ubahlah Suara Dalam Diri Anda.
    Kebanyakan dari kita memiliki suara dalam diri yang mengatakan bahwa kita bodoh, tidak cukup mampu, terlalu gendut, kurus, berisik, pendiam, dll. Kemampuan merubah suara di dalam diri anda merupakan kunci untuk memperoleh kepercayaan diri dari dalam. Buat suara dalam diri anda menjadi teman pendukung yang paling mengenal anda dan mengetahui bakat anda, serta menginginkan anda untuk mencapai yang terbaik.
  4. Lupakan Standar Yang Ditetapkan Orang Lain.
    Terlepas dari situasi yang membuat anda mengalami krisis percaya diri, anda bisa membantu diri anda sendiri dengan berpegang pada standar yang anda miliki. Orang lain memiliki nilai yang berbeda dengan anda, dan sekeras apa pun anda mencoba, anda tidak pernah bisa memuaskan semua orang setiap saat. Jangan khawatir jika orang-orang menyebut anda gendut, kurus, pemalas, membosankan, pelit, konyol, dll.. Bertahanlah pada standar yang anda miliki, bukan pada standar yang dimiliki orang lain. Ingatlah nilai-nilai dan standar-standar yang dimiliki umumnya berbeda dalam masyarakat; anda tidak harus menerima nilai dan standar tersebut hanya karena orang-orang di sekitar anda menerimanya.
  5. Tampillah Serapih Mungkin.
    Meskipun anda hanya memiliki sedikit waktu, pergilah ke kamar mandi untuk memastikan anda tampil rapih. Sisirlah rambut anda, cucilah muka anda, perbaiki riasan wajah anda, luruskan kerah anda, pastikan tidak ada sisa makanan pada gigi anda. Semua hal ini dapat membuat perbedaan antara rasa percaya diri terhadap penampilan anda dan rasa takut anda terhadap penampilan anda.

    ”Sempurnakan penampilan fisik anda; sudah merupakan fakta bahwa penampilan seseorang memainkan peranan penting dalam membangun rasa percaya diri. Meskipun kita tahu apa yang kita miliki dalam diri kitalah yang penting, penampilan fisik anda menentukan impresi orang terhadap diri anda.” (Building Blocks to Self-Confidence, Complete Wellbeing)

  6. Berdoalah Atau Bermeditasi Sejenak.
    Jika anda percaya pada Yang Maha Kuasa, mengucapkan doa bisa meningkatkan rasa percaya diri anda (anda juga bisa melakukan meditasi selain berdoa). Langkah ini membantu anda untuk mundur sesaat dari situasi yang serba cepat dan mencari bantuan dari Yang Maha Kuasa. Berikut adalah sebuah contoh doa, namun anda bisa menulis hal serupa yang sesuai dengan agama atau kepercayaan anda:
    “Ya Tuhan, terima kasih karena Kau telah mencintai dan menerimaku apa adanya.. bantulah aku untuk melakukan hal yang sama.. dan bantulah aku untuk tumbuh menjadi sesuai dengan kehendakMu sehingga rasa percaya diriku akan bertambah; semuanya demi keagungan namaMu dan bukan namaku. Terima kasih karena Engkau telah mendengarkan dan menjawab doaku. Amin.” (Daily Encounter, Strengthen Your Self-Confidence, Acts International)
  7. Reka Ulang.
    Jika sesuatu terjadi diluar dugaan anda, hal ini cukup mudah menggoyahkan rasa percaya diri anda. Mungkin anda menumpahkan minuman anda, terlambat hadir di sebuah pertemuan penting karena macet, atau seseorang yang ingin anda ajak bicara memberikan tanggapan dingin. Cobalah untuk “mereka ulang” situasi tersebut dan tempatkan pada situasi yang lebih positif. Seringkali suatu kejadian menjadi negatif karena persepsi kita sendiri.
  8. Tentukan Langkah Anda Selanjutnya.
    Jika anda tidak yakin dengan apa yang harus anda lakukan, temukan satu langkah sederhana yang bisa membantu anda untuk terus maju. Hal ini mungkin saja bisa dilakukan dengan melakukan kontak mata pada sebuah pesta, memperkenalkan diri anda pada orang asing, memecahkan kebekuan dalam sebuah rapat, atau menanyakan orang yang mewawancarai anda untuk menunjukkan pengetahuan anda terhadap industri dan perusahaan mereka.

    Mulailah bertindak meskipun anda tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai apa yang seharusnya anda lakukan. Bergeraklah menuju sasaran anda. Koreksi diri anda di lain kesempatan.

  9. Bicaralah Perlahan.
    Sebuah tips sederhana agar anda terlihat atau menjadi lebih percaya diri adalah dengan bicara perlahan. Jika anda bicara terlalu cepat, anda akan merasa tidak enak karena anda sadar anda bicara terlalu cepat. Bicara perlahan memberi anda kesempatan untuk memikirkan apa yang anda akan katakan selanjutnya. Jika anda sedang berbicara atau melakukan presentasi, berhentilah sesaat pada akhir sebuah frase atau kalimat untuk membantu orang lain mencerna apa yang anda katakan.

    Berbicara perlahan menunjukkan kepercayaan diri seseorang. Seseorang yang merasa tidak layak didengarkan akan berbicara dengan cepat, karena ia tidak mau membuat orang lain menunggu hal-hal yang tidak layak didengarkan.

  10. Ikut Ambil Bagian.
    Pernahkah anda duduk seharian di dalam kelas atau di sebuah rapat tanpa mengucapkan satu patah kata pun? Pernahkah anda pergi bersama teman-teman anda di malam hari dimana teman-teman anda berbincang dengan gembira sementara anda hanya duduk dan menatap minuman anda? Kemungkinan yang terjadi adalah anda merasa tidak terlalu percaya diri pada saat itu – dan mungkin saja anda akan merasa lebih tidak enak sesudah malam tersebut. Apapun situasi anda, berusahalah untuk ikut ambil bagian. Meskipun anda merasa tidak banyak yang bisa anda katakan, pikiran dan perspektif anda sangat berharga bagi orang-orang di sekitar anda.