Mendadak Sakti, The Power Of Kepepet 2

Gemblengan Tenaga Dalam Tingkat Master (Murni Non Jin)
Dengan Mengikuti Program Ini Maka Saudara Akan Bisa Dan Kami Jamin Bisa Tanpa Ada Kata Gagal Dan Tidak Ada Hal Yang Aneh Dalam Pemakaian Keilmuan Ini. Dan Bisa Langsung Anda Buktikan. Di Jamin…….

Dijaman yang seperti sekarang ini, dimana sering kali terjadi tindak kejahatan seperti perampokan, penodongan, pemerkosaan, gendam, hipnotis, dll yang mungkin saja bisa menimpa kita sewaktu-waktu. Demikian juga persaingan hidup semakin ketat, sehingga seringkali manusia memakai hukum serangga yaitu “hidupmu berarti matiku, matimu adalah hidupku”. Walaupun zaman sudah canggih dan modern, tapi masih banyak orang dengki yang panas melihat keberhasilan tetangganya atau pesaing bisnisnya, kemudian diantaranya ada yang menggunakan media ghaib untuk menghancurkan pesaingnya, seperti mengirim santet, guna-guna, dll, kita perlu jaga-jaga membentengi diri, untuk menyelamatkan diri dari pemalakan, perampokan, atau berbagai aksi kejahatan yang mengancam nyawa kita. untuk itulah saya ingin mengijazahkan bagi anda satu ILMU TENAGA DALAM MULTI FUNGSI, sbagai sarana bagi anda untuk membentengi diri dari serangan atau aksi kejahatan yang bersifat nyata maupun ghaib.

Dengan segala kerendahan hati kami membuka 
GEMBLENGAN TENAGA DALAM DAN KANURAGAN 
ILMU “MENDADAK SAKTI” 
Kepada siapapun yang ingin menguasai ilmu tenaga dalam dan kanuragan sebagai benteng diri dari serangan kasar atau halus.

ha..ha…ha…ha…. Sorry Prend…. Sekedar Intermezo…. wkkwkwkwkwkwk…….

Apa sih Hakekat Kesaktian yang sebenarnya..???
Kesaktian Hakikatnya adalah sebuah kemampuan diri untuk menyelesaikan segala permasalahan kehidupan yang dihadapi dengan efektif dan efisien. Baca “Hakekat Kesaktian” atau klik Link ini : http://www.naqsdna.com/2011/08/hakekat-kesaktian.html

“Masalah sudah pasti muncul. Bagaimana kemampuan Anda untuk mengatasinya dan belajar dari masalah itu agar tidak mengulanginya. Hal itu yang akan membawa Anda menjadi Manusia yang SAKTI, Sukses, Kaya, & Berarti”

Ungkapan itulah yang diucapkan Michael Dell, mengenang perjalanan kariernya hingga mencapai sukses sebagai CEO Dell Inc. Dell yang dikenal sebagai pekerja keras sejak kecil selalu belajar mengatasi masalah. Dia berusaha keras mencari jalan keluar dan akhirnya sukses.

Posisi yang diraihnya saat ini bukan diterima begitu saja. Pencapaian itu didapat melalui keringat dan kerja keras. Dell bukanlah anak keluarga miskin. Ibunya adalah seorang pialang saham, dan ayahnya seorang dokter gigi. Karena itu, tidak heran jika ayahnya menginginkan Dell kuliah di bidang kesehatan.

Namun, Dell lebih suka dengan bidang komputer. Hal ini ditunjukkan saat berusia tujuh tahun ketika dia membeli kalkulator pertamanya. Pria kelahiran 23 Februari 1965 ini kemudian mendapatkan mesin teletype saat masih duduk di bangku SMP. Lalu, mesin itu dia program setelah pulang sekolah.

Saat berusia 12 tahun, pria bernama lahir Michael Saul Dell ini bekerja sebagai tukang cuci piring di restoran China di Houston, Texas. Dell menerima upah USD2,30 per jam. Pendapatan yang diterima itu dia kumpulkan untuk membeli prangko. Dell kecil gemar mengoleksi prangko.

Dari kegemarannya ini pula, dia mendapat uang pertamanya sebesar USD1.000 setelah menjual seluruh koleksinya. Dalam usianya yang masih belia, Dell kerap bergonta-ganti pekerjaan mulai menjadi bus boy, bekerja sebagai karyawan di toko prangko dan koin langka, hingga menjadi penjual koran yang menyediakan layanan pemesanan lewat telepon.

Namun, ketertarikan Dell dunia komputer semakin terpatri saat berusia 15 tahun. Setelah bermain dengan komputer di Radio Shack, dia memiliki komputer pertamanya, sebuah Apple II, yang segera dibongkar untuk melihat cara kerjanya. Dell kemudian mencoba merakit kembali komputer yang dibongkarnya.

Dia pun berhasil. Setelah itu, keinginannya pada dunia komputer semakin kuat. Saat berusia 18 tahun, Dell alih profesi. Dia bekerja mencari pelanggan untuk Houston Post. Dell yang saat itu masih sekolah menengah atas menerima gaji sebesar USD18.000 per tahun.

Dell mulai berbisnis komputer pada 1984 saat berusia 19 tahun dan masih menjadi mahasiswa di Universitas Texas, Austin. Dell kuliah dengan harapan menjadi dokter. Namun, ambisi itu dia tinggalkan dan memulai usaha sendiri, jual beli komputer dengan bendera “PC’s Limited” yang dilakukan dari asrama universitas.

Saat itu modal Dell hanya USD1.000 dari hasil penjualan koleksi prangkonya. “Ketika saya mendirikan Dell pada 1984, didasarkan pada premis bahwa Anda bisa menjual komputer langsung kepada pelanggan dengan disesuaikan keinginan mereka. Harganya lebih murah daripada pasar. Itu sudut pandang radikal,” ujar Dell seperti dilansir First Job Institute.

Usaha yang dijalaninya tidak lazim. PC’s Limited memungkinkan pelanggan menyesuaikan komputer mereka sesuai spesifikasi yang diinginkan. Harga yang ditawarkan jauh lebih rendah dibanding harga pasar. Hal ini bisa dimaklumi mengingat PC’s Limited tidak memiliki toko dan tidak perlu membayar perantara.

Semua komputer dijual langsung kepada pelanggan dengan menggunakan formulir pemesanan. “Di Dell, kami terus mengevaluasi bisnis untuk mengetahui bagaimana memperbaiki dan sering kali kami melakukan pendekatan kepada konsumen dengan cara yang sama sekali berbeda,” tukas Dell.

Interaksi langsung dengan konsumen ternyata dapat dijadikan satu langkah efektif, sehingga PC’s Limited diterima baik di masyarakat. Respons ini membuat Dell kewalahan dalam membagi waktu bisnis dan kuliah. Dia pun memutuskan berhenti kuliah dan lebih fokus menjalankan bisnis yang telah dia rintis.

Melihat besarnya antusiasme dari masyarakat membuat Dell melebarkan sayap perusahaannya dengan memproduksi komputer pertama yang diberi nama PC Turbo. Sistem pemasaran dilakukan melalui berbagai majalah komputer dengan menyediakan spesifikasi yang dapat dipilih konsumen.

Cara ini membuat PC’s Limited dapat meraih pendapat kotor sebesar USD73 juta di tahun pertamanya dan menempatkan diri sebagai satu-satunya perusahaan yang sukses dengan sistem pemasaran seperti itu. Lalu pada 1988, PC’s Limited berganti nama menjadi Dell Computer Corporation.

Pada saat itu pula, Dell mulai melakukan sistem layanan di tempat. Pada 1992, kesuksesan Dell menjalankan usaha berhasil membuatnya dinobatkan sebagai CEO termuda dalam sejarah dunia yang memiliki perusahaan besar dan masuk dalam daftar 500 perusahaan top versi majalah Fortune (Fortune 500).

Saat itu Dell berusia 27 tahun. Kemudian pada 2003, Dell Computer Corporation berganti nama menjadi Dell Inc. “Ketika saya memulai perusahaan, sangat banyak ide di luar kebiasaan bisnis konvensional. Jika ada orang yang mengatakan bahwa hal itu tidak akan bisa berhasil, saya tidak benar-benar mendengarkan mereka,” ujarnya.

Pada 2004, Dell mengundurkan diri sebagai CEO dan dia memilih duduk di dewan direksi. Tetapi untuk menyelamatkan perusahaan dari keterpurukan, pada 2007 Dell kembali menjadi CEO, menggantikan Kevin Rolling. Berkat keahlian dan berbagai inovasi yang dilakukannya, produk Dell Inc mengalami banyak perkembangan.

Bukan hanya menjual komputer pribadi (PC), saat ini Dell Inc juga menyediakan layanan penjualan berbagai produk berbasis teknologi informasi seperti laptop, server, media penyimpanan (storage), printer, PDA, MP3, kamera, televisi. Kepiawaian Dell dalam berbisnis tidak perlu diragukan lagi.

Hal ini terbukti dari keberhasilannya menjadikan Dell Inc sebagai salah satu perusahaan komputer terkemuka di dunia, hingga berhasil menduduki peringkat 41 dalam daftar 500 Fortune Companies 2011. Tak hanya itu, Dell juga sukses meraih predikat sebagai salah satu orang terkaya di dunia versi majalah Forbes pada 2011, dengan total kekayaan bersih mencapai USD15 miliar.

SKALA KESAKTIAN
Meminjam istilah dalam teori manajemen, kemampuan seseorang dalam menghadapi problem itu ada skalanya. Skala ini bisa dijelaskan sebagai berikut :

  • Skala nol (0) : Kita menjadi orang yang lebih lemah, lebih buruk, lebih gelap dan lebih rusak akibat problem yang menimpa dalam kurun waktu yang cukup lama. Tidak ada pengetahuan, pengalaman dan pencerahan baru yang kita dapatkan dari problem itu.
  • Skala satu (1) : Kita memang merasakan hal-hal di atas, namun kita cepat menarik diri. Tapi setelah menarik diri, tidak ada perubahan kearah yang lebih baik yang kita gagas. Kita cuek-cuek saja sama problem. Problem itu tidak begitu menggelapkan kita, pun juga tidak begitu mencerahkan kita.
  • Skala dua (2) : Kita memang memberikan reaksi negatif pada problem namun sifatnya hanya sangat sementara ( Just In Time ). Setelah itu kita berusaha mengambil pelajaran penting dari problem itu. Tetapi pelajaran itu terkadang belum kita olah sebagai bahan untuk mengambil keputusan penting dalam praktek hidup kita. Kita memang sudah tercerahkan oleh problem tetapi pencerahan itu sifatnya masih dalam bentuk suasana batin.
  • Skala tiga (3) : Kita sudah mampu menarik pelajaran penting dari problem itu dan menggunakannya sebagai alat penting untuk mengambil keputusan yang bisa kita jalankan dalam kehidupan kita.
  • Skala empat (4) : Kita sudah menjadikan pelajaran itu sebagai bahan keputusan yang bisa kita jalankan dan juga sudah belajar mengantisipasi munculnya problem. Kita sudah belajar memahami apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus kita hindari.
  • Skala lima (5) : Kita sudah bisa mengajarkan orang lain atau memimpin orang lain atau dijadikan contoh dan panutan bagi orang lain dalam hal mengatasi problem.

Orang yang punya Skill tingi disini di sebut sebagai orang yang Tangguh/SAKTI (Resilient). Rutter (1987) mendefinisikan “RESILIENCE” ini sebagai sebuah kutub positif dari perbedaan individu dalam meresponi stress atau penderitaan. Ini berarti bahwa menjadi orang yang Resilient/Ulet/Tangguh/Sakti atau tidak, itu murni pilihan kita, bukan bawaan.

Siapapun kita dan apapun latar belakang kita, sama-sama punya kesempatan yang sama untuk menjadi orang resilient asalkan mau belajar.

Kata resiliensi berasal dari kata ”resilience” yang artinya daya lenting atau kepegasan.

Kasur dengan per pegas akan melenting kembali manakala beban badan yang menimpanya menekan per pegas kasur. Daya lenting pada manusia adalah kemampuan beradaptasi dengan tekun dan gigih walaupun keadaan terasa serba salah.

Setiap orang harus memiliki daya lenting karena satu hal yang pasti, dalam hidup selalu terdapat kemalangan yang sering tidak dapat dihindari. Contohnya, masih banyak pekerjaan menumpuk di meja padahal hari kerja sudah menunjukkan pukul 16.45. Contoh lain, terdapat kesalahpahaman dengan pasangan. Anak-anak harus tiba di tempat yang berbeda dalam satu waktu tertentu, padahal lalu lintas macet. Menghadapi peristiwa yang sangat berat, seperti terkena PHK.

Bila memiliki daya lenting yang kuat, kita dapat mengatasi setiap kemalangan dengan cara yang memuaskan dengan hasil optimal. Penelitian ilmiah yang dilakukan para pakar psikologi selama lebih kurang 50 tahun terakhir tentang daya lenting membuktikan bahwa daya lenting merupakan kunci sukses seseorang dalam menjalani hidup.

Bagaimanakah kondisi daya lenting kita?
Setiap orang hendaknya mempertimbangkan perkembangan daya lentingnya demi kenyamanan hidup. Namun, pada kenyataan, kebanyakan orang justru secara emosional dan psikologi tidak siap mengatasi kemalangan. Mereka malahan cenderung bersikap menyerah dan merasa tidak berdaya. Untuk itu, berikut ini adalah langkah yang harus kita telusuri dalam meningkatkan daya lenting:

  • Kenali diri sendiri, bagaimanakah kebiasaan kita dalam bersikap?
  • Hindari terjebak dalam situasi tertentu, seperti menyalahkan diri sendiri.
  • Keyakinan kuat apakah yang selama ini menghambat kemampuan kita untuk bangkit? Tanpa disadari, sering kita dipengaruhi keyakinan kuat tentang hal tertentu, misalnya keyakinan bahwa orang lain dan dunia bersikap dan menginginkan sesuatu dari kita.
  • Tantangan keyakinan, artinya komponen kunci dari daya lenting adalah kemampuan mengatasi masalah. Sejauh mana kemampuan kita dalam mengatasi masalah sehari-hari?
  • Menjaga perspektif dalam hidup, seperti apakah kita sering tenggelam dalam kondisi tertekan dan menghabiskan waktu untuk terus mencemaskan hal yang belum tentu terjadi?
  • Tenang dan tetap menjaga pusat perhatian, jangan sampai kita dikuasai stres dan situasi emosional?
  • Daya lenting dalam hal tenggang waktu, apakah kita selalu dikuasai pikiran negatif yang muncul dalam benak kita sehingga sulit bagi kita menghadapi kenyataan hidup?

Tujuh kapasitas
Ternyata daya lenting seseorang mengandung 7 kapasitas yang berbeda. Ketujuh kapasitas itu bukan bersifat genetik, seperti halnya tinggi badan, melainkan kita bisa berupaya meningkatkan daya lenting tanpa batas. Daya lenting kita berada dalam kendali kita sendiri, seperti halnya kita bisa menjadi pelari cepat dengan cara berlatih walaupun kita tidak akan menjadi pelari olimpiade. Berbagai hal yang perlu kita latih adalah:

1. Regulasi emosi
Regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang dalam keadaan tertekan. Seorang yang memiliki daya lenting tinggi biasanya orang yang terampil dalam mengendalikan emosi, atensi, dan perilaku. Regulasi emosi sangat penting peranannya dalam menjalin relasi yang intim, sukses dalam kerja, dan mempertahankan kesehatan.


2. Kendali impuls
Dapat dipahami bahwa orang yang mampu mengendalikan emosi pasti mampu mengendalikan impuls. Untuk bisa mengendalikan impuls, kita lebih dulu harus mengenali siapa diri kita. Bila kita mampu mengendalikan impuls, kita akan terhindar dari keterpakuan pada pola pikir tertentu sehingga dapat menggiring kita untuk memiliki kemampuan mendeteksi efek negatif dari keyakinan impulsif yang merugikan diri serta menggantikannya dengan yang positif.

3. Optimisme
Orang yang optimistis biasanya memiliki daya lenting yang kuat karena mereka yakin dapat mengendalikan jalan hidup di masa depan.

4. Kemampuan melakukan analisis-kausal
Dengan kemampuan ini, kita dapat menjelaskan hal buruk dan baik yang menimpa diri sehingga kita tidak terjebak pada pikiran buruk dan dapat meningkatkan daya lenting.

5. Empati
Kemampuan memahami orang lain melalui empati akan membuat kita mampu mendeteksi berbagai kemungkinan perilaku orang terhadap diri kita.

6. Kecukupan diri yang optimal
Dengan keyakinan bahwa kita cukup efektif dalam menjalani hidup, hal itu merupakan representasi keyakinan bahwa kita akan bisa mengatasi kesulitan yang akan kita hadapi.

7. Menggapai cita
Pada umumnya, orang merasakan ketidakmampuan secara berlebih sehingga tidak pernah berpikir untuk melakukan sesuatu atau memiliki ambisi yang sebenarnya bisa diraih. Dengan pemanfaatan optimisme dan mencoba menghapus keyakinan negatif yang berpengaruh dalam diri, kita bisa meraih sesuatu yang fantastik, yang bisa saja tidak kita perkirakan sebelumnya. (Reivich, Karen, PhD dan Hazte, Andrew, PhD, 2002).

Nah, mengapa Anda tidak berupaya meningkatkan daya lenting demi peningkatan mutu kehidupan Anda? Ikuti Pelatihan Mendadak Sakti, Pelatihan 8 Jam yang mampu merubah hidup anda menjadi manusia yang SAKTI. Klik Di sini..

Apakah hidup anda terus sulit?
Bagaimana anda menilai hidup anda sekarang, apakah dipenuhi lebih banyak kesulitan atau kemudahan? Bila anda merasa anda selalu dirundung kesulitan, berarti ada satu kesadaran yang harus ditimbulkan : Kemampuan anda tidak meningkat. Dengan kemampuan yang tetap atau malah turun, maka hidup anda memang akan selalu sulit.

Kesadaran ini penting. Karena dengan begitu, anda punya peluang untuk keluar dari kesulitan hidup anda. Tentu anda akan benar-benar keluar dari kesulitan bila anda merubah tindakan anda.

Manusia memiliki otak, yang dapat digunakan untuk berpikir, menganalisis, memecahkan masalah, dan lain-lain. Jadi saat kita menghadapi suatu masalah, maka pikiran kita akan digunakan untuk mencari solusi dari masalah tersebut. Bila masalah tersebut telah dapat diselesaikan berarti kita telah memiliki pengalaman dan pengetahuan baru untuk memecahkan masalah yang seperti itu; artinya kita pun mengalami pertumbuhan dari segi keterampilan dan pengetahuan.

Tetapi bila ada orang yang tidak dapat menyelesaikan masalah sama yang berulang-ulang terus muncul dalam kehidupannya, maka berarti ia tidak pernah belajar untuk menyelesaikan masalah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan orang itu tidak meningkat, ia telah berhenti bertumbuh, artinya ia telah puas dengan kondisi seperti sekarang ini. Dan terjebak di Zona Nyaman (Comfort Zone).

Setelah kesulitan ada kemudahan
”Setelah kesulitan ada kemudahan” berasal dari kitab suci. Untuk meraih kemudahan, anda harus melalui suatu kesulitan. Mudah adalah ketika kemampuan anda lebih hebat dari masalah anda.

Allah berfirman :
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
 Inna Ma’al ‘usri yusroo…..
“sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”(QS. Alam Nasyrah : 6 )

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”(QS. Al-Baqarah: 286) ► Tafsirnya, apapun permasalahan yang membebani anda, hakikatnya itu masih di bawah kekuatan anda untuk menyelesaikannya. Right…???

Jadi, kesulitan dalam konteks ini adalah proses anda dalam meningkatkan kemampuan diri. Kenapa sulit? Karena peningkatan kualitas diri adalah sesuatu yang anda tidak ketahui. Kesulitan berasal dari ketidaktahuan itu. Ketidaktahuan bukan hanya mendatangkan kesulitan, tapi juga ketakutan. Nah, ketika anda berhasil mengatasi ketidaktahuan, kesulitan dan ketakutan itu, maka kemampuan anda pun meningkat. Ketika kemampuan meningkat, anda akan mudah mengatasi masalah yang anda hadapi.

Ingin hidup terus mudah?
Jadi, bila anda ingin terus hidup dalam kemudahan teruslah meningkatkan kemampuan. Atasi kesulitan-kesulitan yang anda rencanakan (terus belajar kemampuan-kemampuan baru). Dengan begitu, anda akan terhindar dari kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan masalah yang datang pada hidup anda. Koq bisa? Karena anda telah punya kemampuan yang lebih dari masalah yang datang tersebut. Itulah salah satu sebab kenapa anda diwajibkan belajar dari buaian sampai liang kubur. Agar kemampuan anda terus meningkat dan membuat tak satu masalah pun menjadi cukup besar untuk mempersulit hidup anda.

Masalah, I Love You
Jadi, bagi anda yang terus belajar, anda akan bilang : ”Masalah, I Love You” bagi setiap masalah yang datang pada anda. Bila masalahnya lebih kecil dari kemampuan, maka anda akan senang dan mudah menyelesaikannya. Bila masalahnya lebih besar dari kemampuan, maka anda akan senang mendapatinya. Kenapa? Karena anda bisa belajar dan membuat kemampuan anda lebih meningkat lagi !!!

Remember…!
Kita harus yakin bahwa masalah & cobaan itu merupakan ekspresi cinta Allah pada hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala memberikan masalah agar kita menjadi lebih dewasa dan matang dalam mengarungi kehidupan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik maka ia diberi-Nya cobaan.” (HR. Bukhari)

Yakinlah bahwa makin besar dan banyak cobaan yang Allah turunkan kepada kita, makin besar pula pahala dan sayang Allah yang akan dilimpahkan kepada kita jika kita bisa menyelesaikan setiap ujian itu secara baik. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya cobaan. Sesungguhnya apabila Allah Ta’ala itu mencintai suatu kaum maka Ia mencobanya. Barang siapa yang rela menerimanya, ia mendapat keridhoan Allah, dan barang siapa yang murka, maka ia pun mendapat murka Allah.” (HR. Tirmidzi)

Yakinlah bahwa setiap ujian itu akan menghapuskan dosa-dosa yang pernah kita kerjakan. Abu Sa’id dan Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang muslim yang tertimpa penderitaan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, gangguan, dan kerisauan, bahkan hanya terkena duri sekalipun, semuanya itu merupakan kafarat (penebus) dari dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim

Senantiasa bersiap siagalah menghadapi masalah yang lain selanjutnya setelah kita menyelesaikan suatu permasalahan.

Allah berfirman :
“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al Insyirah: 7–8).

MANTRA SHAKTI DI BACA 3 KALI SEHARI…
Seperti mendung menghilang berganti hujan
Seperti malam berlalu berganti siang
Seperti itulah kehidupan ini
Setiap masalah ada jalan keluarnya

Tak selamanya badai menerjang
Tak selamanya ombak menghempas keras
Tak selamanya kemarau melanda
Begitu juga dengan masalah tak selamanya menghimpt
Pasti ada penyelesaiannya.

Seperti burung yang berkicau riang
Seperti anak kecil yang tertawa gembira
Begitulah kita di tangan Tuhan
Dipelihara dan dijaga-Nya

Walau jalan ini berliku
Walau jatuh bangun menghiasi hidup
Janganlah berhenti melangkah
Karena masa depan sungguh cerah bagi yang berharap pada-Nya

Tak selamanya langit mendung
Tak selamanya langit cerah
Kehidupan selalu silih berganti
Karena itu jangan berputus asa

Kita tak pernah bisa menghindari masalah
Tetapi kita pasti punya kemampuan mengatasi masalah

Semakin besar masalah yang datang menerpa
Percayalah kemampuan kita mengatasi masalah makin bertambah

Setiap masalah pasti ada hikmahnya
Karena kadang masalah perlu untuk menguji
Sejauh mana kita berharap pada Tuhan

Tuhan tak pernah memberikan cobaan melebihi kekuatan kita
Tetapi Tuhan memberikan kita kemampuan mengatasi masalah
Jangan menyerah.

GEMBLENGAN TENAGA DALAM, ILMU HIKMAH, DAN KANURAGAN 
ILMU “MENDADAK SAKTI” 
Iklan

The Power of Kepepet, Kekuatan dalam Keterdesakan

Ada 2 sebab yang membuat orang tak tergerak untuk berubah :

  1. Impian yang kurang kuat, Atau tidak punya gambaran apapun mengenai masa depan. Alias MADESU, Masa Depan Suram. he..he..he..
  2. Tidak kepepet.

Surga & Neraka, Hadiah & Ancaman, Impian & Ketakutan. Dua hal tersebut yang seringkali mampu memotivasi seseorang untuk mulai bergerak melakukan perubahan. Tetapi terkadang tidak setiap manusia mampu mengkondisikan Hati Dan Fikirannya untuk menghadirkan kedua hal tersebut ke dalam dirinya. Dan Baru Ketika Neraka kehidupan sudah mulai memanas apinya, dan uap panasnya sudah mulai terasa sekali di sekujur tubuhnya. Maka di saat itulah beberapa orang mampu mengeluarkan Daya Refleks yang penuh Kekuatan ajaib akibat adanya kondisi yang mendesak tersebut yang ahirnya membuat dirinya mampu melakukan sebuah keajaiban dan perubahan.

Ambillah sebuah per atau pegas, tekan sekuat-kuatnya beberapa lama, lalu lepaskan! Apa yang terjadi? Per atau pegas tadi akan melenting dengan pesat, bahkan bisa jadi hilang dari pemandangan Anda.

Pernahkah Anda mengalami atau melihat seseorang dikejar anjing, apalagi anjing yang mengejar itu adalah anjing gila. Apa yang Anda lakukan? Anda pasti akan lari sekencang-kencangnya tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan. Bahkan jika di hadapan Anda ada pagar setinggi dua meter, dengan sigap dan dalam hitungan beberapa detik Anda melenting dan bisa melompati pagar setinggi dua meter itu! Aneh? Ya. Juga tidak! Padahal dalam kondisi biasa, jangankan dua meter, setengah meter pun Anda tak bisa melompati pagar itu. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Pernahkah Anda mendengar atau melihat seorang ibu dengan kain yang membebat tubuhnya melesat dengan cepatnya dalam beberapa detik, demi melihat anaknya yang belum genap satu tahun bergelantungan di bagian atas tangga putar, lalu ketika tangan sang anak terlepas dari tangga putar, ibu dengan gegancangan menangkapnya dari bawah, sampai kain yang dipakainya robek-robek? Anak semata wayang itu pun terselamatkan!

Pernahkah Anda menyaksikan atau mendengar kisah seorang ayah yang tanpa gentar menerobos kobaran api yang menyala, demi anaknya yang masih berada di kamar saat kebakaran terjadi? Ketika anak ditemukan dan berada dalam dekapannya, sang ayah pun kembali menerobos kobaran api yang mengamuk itu! Meskipun akhirnya sang ayah menderita luka bakar yang cukup parah, namun ia berhasil menyelamatkan nyawa anaknya…

Mengapa hal itu semua bisa terjadi? Satu kata jawabnya: KEPEPET! Ya karena terdesak! Karena tekanan, karena banyaknya gempuran alangan dan rintangan, kesulitan dan kegagalan. Justru dalam keterdesakan, muncul kreativitas. Kreativitas mendorong kemampuan dan semangat untuk berjuang dengan mengerahkan segala daya dan tenaga! Dan kabar baiknya: PASTI BISA!

Itulah yang disebut The Power of Kepepet. 97% orang termotivasi karena Kepepet, bukan karena iming-iming. Maka dari itu ada pepatah mengatakan bahwa “Kondisi Kepepet adalah motivasi terbesar di dunia!”. Banyak perusahaan mengkampanyekan Visi besarnya kepada seluruh karyawannya. Apa jawab mereka? “Emang gua pikirin!”. Bukannya salah karyawan yang tidak peduli terhadap visi perusahaan, tapi karena visi itu tak terlihat oleh karyawan. Mereka lebih termotivasi oleh sesuatu yang berupa ancaman, baik situasi dimasa mendatang ataupun berupa punishment.

John P. Kotter (Harvard Business Review) mengemukakan ” Establishing Sense of Urgentcy” adalah langkah pertama untuk menggerakkan perubahan dalam suatu organisasi. Dengan melihat ancaman-ancaman terhadap kompetisi dan krisis, membuat mereka tergerak, sebelum mengkomunikasikan “VISI”. “Jika rasa sakit terhadap kondisi sekarang tidak kuat, orang tak akan beranjak untuk berubah”

Jadi analisa kembali kehidupan Anda sekarang ini. Jika Anda tidak mengubahnya, rasa sakit atau kerugian apa yang akan Anda dapatkan dimasa mendatang. Saran saya, jika Anda berada di zona yang sangat nyaman untuk tidak berubah (tidak melihat ancaman), ciptakan sedikit trigger (challenge) misalnya berupa penambahan investasi rumah. Jangan beli rumah yang sesuai dengan kemampuan bayar Anda, tapi ’sedikit lebih’ dari kemampuan Anda sekarang. Nah, dengan begitu Anda mau nggak mau dipaksa untuk mencari penghasilan tambahan atau mengurangi porsi pengeluaran yang tidak penting. Langkah kedua baru pikirkan nilai investasi itu 5 sampai 10 tahun mendatang, mungkin bisa sebagai solusi pembiayaan uang sekolah anak Anda kelak. Dengan meletakkan porsi dan posisi The Power of Kepepet dan Iming-iming secara tepat, InsyaAllah kita akan selalu termotivasi.

Itulah mungkin, sebabnya pak Purdie Chandra, pendiri EU menyarankan berhutang untuk bisnis. Dalam jumlah besar lagi. Hal mana untuk dengan sengaja meningkatkan detak jantung kita semakin tinggi. Deg-deg an nya puoll. Nah klo udah gitu diharapkan pikiran bawah sadar kita terkuak dan memunculkan kreatifitas untuk bisa melunasi hutang tsb.

Tapi, sekali lagi itu perlu latihan dan pengalaman. Bagi pemula hutangnya ya gak mesti langsung besar kecuali memang terlahir sebagai risk taker sejati. Orang kadang menciptakan pressure untuk memunculkan the power of kepepet. Bahkan kalaupun kondisi itu sebenarnya tidak ada, kita bisa cipatakan ‘artificial pressure’. Maksudnya tekanan palsu. Kata mr TDW atau rekan kita etnis Tionghoa, walau mereka sudah kaya tapi anaknya tetap harus naik angkot ke sekolah atau membayar sesuatu yg dibeli di tokonya sendiri, hanya sebagai latihan The Power of Kepepet.

Dan untuk bisa latihan dan mendapatkan pengalaman, maka hanya satu yang harus dilakukan : Action. Ekspresikan Aksimu, Jangan Takut Salah.

Dibalik Fenomena The Power of Kepepet
Selain faktor pertolongan Yang Maha Kuasa tentunya, yang jelas pertolongan Tuhan itu memang sudah ‘built-in’ dalam diri kita ketika kita menghadapi kondisi sedemikian. Kita sejak lahir telah dibekali dua jenis pikiran, sadar dan bawah sadar. Pikiran bawah sadar inilah yang masih menjadi misteri dan penggalian masih terus dilakukan.

Dalam buku “Blink” karya Malcolm Gladwell, terungkap bahwa kemampuan luar biasa itu muncul secara logika karena secara tak sengaja kita telah berhasil mengaktifkan pikiran bawah sadar. Bukan mistis dan gaib. Terungkap bahwa ketika kita berada dalam situasi darurat, apapun itu, maka jantung kita akan berdetak semakin kencang dan cepat.

Dan akhirnya ketika detak jantung itu mencapai angka 175 maka tiba-tiba ada beberapa perubahan baik dalam diri kita maupun di luar kita. Dalam kondisi itu diistilahkan dengan kondisi autis sementara, yaitu kondisi dimana kita seperti kehilangan beberapa panca indera, kehilangan suasana disekeliling dan menjadi super fokus pada kondisi keterdaruratan tadi.

Contoh, pemain basket yang telah mengalami kelelahan dan waktu permainan sudah tinggal beberapa detik lagi, apalagi ditambah jika itu partai final. Maka seperti yg diceritakan kembali oleh seorang pemain basket pro, sekeliling lapangan seperti senyap, semua berjalan begitu lambat, pandangan sekitar menjadi kabur namun digantikan oleh gambaran keranjang basket yang semakin tajam. Segenap fisik dan penglihatan menjadi fokus untuk memasukkan bola kedalam keranjang. Drible sedikit, melompat dan melayangkan lemparan, akhirnya three point pun didapat, dalam jarak yang mustahil.

Namun demikian, kondisi ini selain membawa dampak positif ternyata juga bisa negatif tatkala kita kurang terlatih dalam menggunakannnya. Contoh, polisi ketika mengalami kejadian pengejaran penjahat dan detak jantungnya mencapai angka 175 maka ketika pengejaran berakhir, jika polisi bersama temannya, mereka bisa menghakimi penjahat saat itu juga. Ada kejadian penjahat yang ditembak padahal sudah menyerah dan tak berdaya. Itu karena pada angka tersebut terjadi autis sementara, polisi gak melihat kondisi sebenarnya dari penjahat tsb yg sudah tidak berbahaya, pokoknya ingin marah dan balas dendam.

Nah, agar kita bisa mengendalikan kondisi darurat tadi maka perlu dilatih. Setelah banyak kejadian main hakim sendiri seperti contoh diatas, maka kini polisi dilatih ketika pengejaran untuk berhenti sejenak sambil tetap menodongkan senjata, tidak langsung mendatangi tersangka spt sebelumnya. Hal ini untuk memberikan waktu bagi jantung untuk menurunkan detaknya hingga dibawah 175.

Melatih The Power of Kepepet…!
Kekuatan dalam keterdesakan. CAN DO SPIRIT! SEMANGAT PASTI BISA! Semangat ini dapat kita munculkan pada saat kita membutuhkannya. Lebih gampangnya, semangat ini akan muncul jika kita dalam kondisi terdesak. Lalu, apakah kita perlu menciptakan “kondisi terdesak” itu terus-menerus supaya kita memiliki semangat PASTI BISA? Dalam hal-hal tertentu YA. Jika kita ingin meraih sukses, jika kita ingin menjadi insan luar biasa, jika kita ingin mendapatkan apa yang kita harapkan, jika kita ingin menjadi seperti apa yang kita inginkan!

Konsep ini tentu saja dapat juga diterapkan dalam upaya membangun wirausaha. Banyak wirausahawan yang justru mendulang sukses karena kondisi kepepet ini. Andri Wongso yang justru karena tidak lulus SD, dan setelah kepepet malang melintang jadi penjaga gudang, pengajar kungfu, sampai akhirnya jadi aktor dan setelah babak belur menangani bisnis kartu ucapan, berhasil menjadi wirausahawan, yang bahkan kini menjadi motivator nomor satu di Indonesia. Haji Masagung yang konon hanya sampai kelas 5 SD, setelah kepepet dalam perjuangan panjang akhirnya menjadi perintis toko buku dan penerbitan Gunung Agung. Sandiaga Uno, yang karena semua investasinya ludes akibat krisis moneter, kepepet menumpang di rumah orangtuanya, lalu merintis usaha konsultan jasa keuangan, akhirnya PT Saratoga melejit, sampai dia dijuluki pengusaha muda terkaya. Di Probolinggo, Jatim, konon ada juragan mebel yang buta huruf. Masih banyak lagi kisah sukses karena kepepet oleh kondisi dan situasi, apakah itu korban PHK, kemiskinan dan kemelaratan ataukah penghinaan, pelecehan dan kegagalan.

Dari mancanegara kita dengar kisah-kisah sukses akibat kepepet yang membuat tumbuhnya jiwa dan semangat pantang menyerah sehingga muncul semangat PASTI BISA. Hans Christian Andersen, penulis cerita anak-anak yang sohor itu seumur hidupnya tak punya rumah, namun kisah-kisah fantasinya tinggal nyaman dan damai di dalam “rumah” jiwa setiap anak yang membacanya. Walt Disney, berkat kepepet karena pernah tidur di bengkel yang penuh tikus, dan setelah perusahaan animasinya berkali-kali pailit, akhirnya bangkit dan kini sohor dengan film animasi Micky Mouse, Donald Duck, Pluto, Snow White, Cinderella dan Bambi, serta siapa tak kenal Disney Land di beberapa negara? Kolonel Sander yang kepepet tabungan pensiunnya akan habis mulai menjajalkan resep bumbu masaknya, setelah ditolak ribuan kali, akhirnya dunia mengenalnya sebagai perintis Kentucky Fried Chicken. Demikian pula nama-nama seperti Elvis Presley, Michael Jordan, Beatles, Silvester Stallone, Oprah Winfrey, dan masih banyak lagi, pernah mengalami kondisi “kepepet”. Toh mereka bisa bangkit dan berjaya! Mereka memiliki semangat tidak mudah menyerah dan senantiasa menggelorakan keyakinan: PASTI BISA!

Semangat PASTI BISA itu sesungguhnya sudah tertanam dalam diri kita, sudah “built in”, ada dalam diri kita. Masalahnya kita tidak pernah memanfaatkannya. Lebih celaka lagi kita tidak pernah mengetahui atau memahaminya! Sayang kan! Padahal semangat itu dapat kita manfaatkan untuk mencapai APA SAJA yang kita mau, sehingga salah seorang pakar motivasi mengatakan, di dalam diri kita itu ada RAKSASA TIDUR (Anthony Robin). Oleh karena itu dia menulis buku sohor, Awakening The Giant Within, Bangunkan Raksasa Tidur yang ada dalam Dirimu!

Sebilah pisau jika terus menerus dipakai dan tidak pernah diasah, maka pisau itu menjadi tumpul. Demikian juga kemampuan dan kekuatan kita jika tidak pernah diasah, dilatih, dan digunakan, makin lama kita makin tidak berdaya, tidak kuat, IMPOTEN! Kita dapat kehilangan kekuatan dan kemampuan itu! You use it or you lose it!

Bagaimana kita dapat membangkitkan raksasa yang tidur dalam diri kita sehigga kita memiliki semangat PASTI BISA? Mulailah dari pikiran, lalu lakukan dalam tindakan, hal itu akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi watak atau karakter. Selanjutnya jika Anda masih setia dengan karakter itu lakukan terus-menerus maka akan menjadi NASIB Anda: memiliki SEMANGAT PASTI BISA. Bukankah Samuel Smiles (Shiv Kera) mengatakan: Tanamkan gagasan, petiklah tindakan, tanamkan tindakan petiklah kebiasaan, tanamkan kebiasaan petiklah watak, tanamkan watak petiklah nasib! Nasib Anda di tangan Anda bukan di tangan Mbah Dukun!

Akhirnya, para wirausahawan muda, renungkan kata-kata di bawah ini untuk membangkitkan SEMANGAT PASTI BISA dalam diri Anda. Anda PASTI BISA!

Kisah The Power Of  Kepepet di dunia Gen & DNA.

On-Off atau nyala-padam tidak hanya dialami oleh alat-alat yang berhubungan dengan dunia listrik saja. Begitu juga dengan kondisi kepepet, laksana gejala tanggal tua di kehidupan kita. Ia pun juga dialami oleh materi terkecil dalam tubuh makhluk hidup bernama DNA atau lebih kompleksnya lagi di tingkat gen. Kali ini saya ambil contoh dari peristiwa asal muasal teori On-Off nya Gen yang diamati dari bakteri E. coli. Kalau ndak salah eksperimen ini dijajal pertama kali oleh Francois Jacob dan Jacques Monod (both of them ilmuwan asal Paris) yang akhirnya menjadi sebuah teori mekanisme nyala-padam pada gen.

Jadi begini ceritanya. Para E. coli (banyak lho…) yang biasanya tinggal di usus ini pada umumnya mengkonsumsi glukosa. Walaupun lingkungannya menyediakan glukosa dan laktosa, tapi teteeeep saja mereka lebih memilih glukosa sebagai makanan favoritnya. Alhasil untuk sementara dipikirnya para E. coli itu tidak doyan laktosa. Nah, step selanjutnya, Bung Jacob dan Monod mencobakan untuk memberikan laktosa saja pada segerombolan E. coli itu. Pada awalnya, bakteri-bakteri itu mengadakan protes masal dengan aksi ‘mogok makan’. Laktosa yang telah diberikan tidak disentuh sama sekali. Namun, tak berapa lama aksi tersebut berlangsung mereka mulai mengkonsumsi laktosa dan mulai berkembang biak (tau dong kalo bakteri kan berkembangbiaknya secara eksponensial).

Nah dari hasil eksperimen itu akhirnya ditemukan bahwa sebenarnya E. coli itu memiliki kemampuan untuk mencerna laktosa dengan cara memproduksi enzim laktase (pengurai laktosa). Sayangnya, kemampuannya itu tidak muncul dalam lingkungan dimana glukosa masih ditemukan disana, atau dengan kata lain dikatakan bahwa sebenarnya gen yang memproduksi enzim laktase itu dipadamkan (di off-kan). Lantas ketika E. coli dihadapkan pada kondisi tidak biasa alias ‘kepepet’, yaitu dengan lingkungan yang hanya tersedia laktosa, maka mau-tak mau mereka harus mencernanya jika tak ingin eksistensi dirinya terancam. Akhirnya bakteri-bakteri tersebut secara masal menghentukan aksi mogok makannya dan mulai memproduksi enzim laktase untuk mencerna/memakan laktosa, atau dapat diartikan bahwa mereka mengaktifkan(meng- On kan) gen untuk memproduksi laktase.

Jadi dalam keadaan ‘kepepet’ bukan wangsit atau jurus dari mbah dukun yang dikeluarkan oleh para bakteri, melainkan potensi atau kemampuan diri yang dimiliki selama ini muncul (menyala = On) setelah sekian lama padam (Off) karena tidak distimulus atau diaktifkan agar muncul.

Dari gambaran kisah kepepetnya ala DNA/gen bakteri tersebut dapat dijadikan pengingat bahwa diri kita tak jauh beda dari mereka. Kita yang notabene telah diberi kesempurnaan berupa potensi yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya di muka bumi ini sudah saatnya untuk mulai meng-On kan gen-gen baik yang selama ini tersimpan. Gen-gen baik tersebut dapat berupa potensi luar biasa yag terpendam selama puluhan tahun saking tidak terbiasanya untuk digunakan/dikeluarkan.

Mungkin saja diantara kita ada yang berpotensi menjadi seorang wirausahawan namun karena lingkungan PNS mengelilinginya, maka akhirnya ia terjebak dalam paradigma ‘saya harus jadi PNS juga’. Atau mungkin saja diantara kita ada yang gen baiknya berupa sifat dermawan masih Off karena lingkungannya selama ini mengajarkan teori ‘pelit pangkal kaya’, dan kondisi-kondisi lainnya. Maka tak ada kata terlambat untuk terus menggali potensi diri kita dan bersiap-siaplah untuk menyalakannya walaupun tidak hanya dalam keadaan ‘kepepet’ saja. Lalu, memadamkan gen-gen baik lainnya bukan berarti menghilangkannya dari diri kita. Ia hanya akan disimpan untuk sementara waktu dan suatu ketika disaat kita butuh, barulah kita keluarkan lagi. Keduanya ada dalam diri kita, dan tugas kita hanyalah meyakini keberadaanya dan mulai mencari tahu tentangnya. Maka… mari bersama-sama mencari dan menemukannya.

Untuk mempunyai kemampuan mengeluarkan Kekuatan Daya Refleks di dalam kondisi apapun saja, baik kondisi terdesak ataupun tidak. Ada baiknya anda mempertimbangkan Pelatihan Quantum Success Power Awareness yang kami selenggarakan. Pelatihan ini bermanfaat untuk menggugah kesadaran anda akan Daya Ajaib yang tertidur di dalam diri anda. Mengaktifkan DNA Energi Khalifah dan Kecerdasan Laduni yang masih bersifat Latent di dalam diri anda. Keterangan Selengkapnya Klik Di Sini…

A live is too short, don’t waste your time for doing something you never love it….Jadilah orang yang SAKTI  [Sukses Kaya & BerarTI], Bukan cuma sukses secara materi tapi juga memberi arti bagi sesama.