Agama Itu Nasehat, Sampaikan Kebenaran Walaupun Itu Pahit

Assalamu ‘alaikum wa Rohmatullahi wa Barokatuh…

Sahabat, menyampaikan kebenaran itu memang terkadang menuai konsekwensi yang pahit. Tidak jarang kita kemudian disalah fahami, dan bahkan kemudian menimbulkan kerenggangan dalam hubungan silaturahmi. Walaupun kebenaran itu sudah kita sampaikan dengan lemah lembut dan secara persuasif, akan tetapi tetap efek “MENTAL SHOCK” itu pasti ada. Karena apa yang kita sampaikan berbenturan dengan nilai-nilai yang selama ini dia yakini. Dan itu adalah fenomena yang wajar terjadi. Dan Sebagai Da’i, kita harus siap menghadapinya.

Reaksi dari orang yang mengalami “Mental Shock” atau “psychological shock” itu bisa bermacam-macam, tergantung tingkat ketahanan dan kelenturan mental masing-masing individu. Shock ini menggambarkan kondisi kaget atau merasa tidak menduga. Beberapa karakteristik yang ditampilkan dalam bentuk shock biasanya adalah reaksi-reaksi otomatis dalam tubuh misalnya tiba-tiba kepala pusing, emosi yang meluap-luap dalam bentuk : menangis, marah, kecewa, sakit hati, dendam, tersinggung, dll. Tinggi rendahnya shock yang mungkin dialami oleh individu bisa berbeda-beda dan tergantung pada kesiapan individu itu sendiri.

Nah, menghadapi hal yang demikian tentu kita harus bisa arif dan bijaksana dalam mensikapinya. Walaupun apa yang kita sampaikan itu adalah sebuah kebenaran, akan tetapi kesiapan mental seseorang untuk menerima kebenaran itu berbeda. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kita padanya, karena itu artinya kita sudah dikuasai nafsu dalam menyampaikan kebenaran.

Sehingga dalam aplikasinya ketika kita menyampaikan sebuah nasehat kebenaran kepada seseorang dan ketika kita melihat bahwa yang kita sampaikan itu sudah menyentuh titik batas ketahanan mentalnya dan menimbulkan sedikit guncangan batin padanya, maka sebaiknya kita catat hal itu dan untuk selanjutnya kita pakai sebagai skala untuk mengukur tingkat kemampuan orang tersebut dalam menerima kebenaran. Dan untuk kemudian kita perkuat dulu, dia di skala itu jangan tergesa-gesa untuk menaikkan levelnya. Hingga tiba masanya ketika dia sudah cukup kuat dan siap untuk dinaikkan tahapnya ke tingkat kebenaran yang lebih tinggi.

Imam Baihaqi meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah berpesan kepada Abu Dzar Al Ghifari agar mencintai orang miskin dan lemah dan supaya mengatakan yang benar meskipun pahit.

عَنْ اَبِى ذَرٍّ رض قَالَ: اَوْصَانِى خَلِيْلِى ص بِخِصَالٍ مِنَ اْلخَيْرِ. اَوْصَانِى اَنْ لاَ اَنْظُرَ اِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِى، وَ اَنْ اَنْظُرَ مَنْ هُوَ دُوْنِى. وَ اَوْصَانِى بِحُبِّ اْلمَسَاكِيْنِ وَ الدُّنُوِّ مِنْهُمْ، وَ اَوْصَانِى اَنْ اَصِلَ رَحِمِى وَ اِنْ اَدْبَرَتْ، وَ اَوْصَانِى اَنْ لاَ اَخَافَ فِى اللهِ لَوْمَةَ لاَءِمٍ، وَ اَوْصَانِى اَنْ اَقُوْلَ اْلحَقَّ وَ اِنْ كَانَ مُرًّا، وَ اَوْصَانِى اَنْ اُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ. فَاِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوْزِ اْلجَنَّةِ. الطبرانى و ابن حبان فى صحيحه و اللفظ له، فى الترغيب و الترهيب

Dari Abu Dzarr RA, ia berkata,
“Kekasihku Rasulullah SAW mewashiyatkan kepadaku dengan beberapa kebaikan. :

  1. Beliau mewashiyatkan kepadaku agar tidak melihat kepada orang yang diatasku dan supaya aku melihat kepada orang yang di bawahku. 
  2. Beliau mewashiyatkan kepadaku supaya mencintai orang-orang miskin dan orang-orang yang lemah. 
  3. Beliau mewashiyatkan kepadaku agar aku menyambung hubungan sanak saudaraku meskipun mereka berpaling. 
  4. Beliau mewashiyatkan kepadaku supaya karena Allah aku tidak takut celaan orang yang mencela. 
  5. Beliau mewashiyatkan kepadaku supaya aku mengatakan yang benar meskipun pahit (akibatnya). 
  6. Dan beliau mewashiyatkan kepadaku supaya memperbanyak ucapan “Laa haula walaa quwwata illa billaah” (Tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah), karena ucapan itu merupakan simpanan dari simpanan-simpanan surga”. 

[HR. Thabrani dan Ibnu Hibban di dalam shahihnya dan lafadh ini baginya, dalam Targhib wat Tarhib 3: 337]

Agama itu nasihat.

عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

Ternyata dalam hadits ini rasulullah saw menggambarkan hakekat agama, yakni agama islam hanya dengan redaksi yang terdiri dari dua kata “Ad-dien An-Anasiihah” agama itu adalah nasehat. Kata “an-nasiihah” yang berasal dari kata dasar “an-nushu” yang berarti sesuatu yang bersih dan hubungan yang baik. Maka jika kita mengatakan “nashaha al-`asalu” maknanya madu itu murni bebas dari campuran bahan yang lain. Dan ketika ada seseorang berupaya menjahit bajunya yang robek, maka pekerjaan terebut diungkapkan dengan kata “nashoha”, maka hubungan seorang yang sedang menasehati dengan orang lain yang sedang dinasehatinya seperti orang yang sedang memperbaiki (menjahit) bajunya. Demikianlah kata “An-Nasihah” itu dipakai untuk mengungkapkan sebuah harapan yang baik yang diingkan terjadi pada orang yang dinasehati.

Demikianlah ketika para sahabat mendengar Rasulullah saw mengatakan agama adalah nasehat maka bereka bertanya, “nasehat untuk siapa”, ternyata rasulullah saw menyebutkan sekian banyak obyek nasehat ; Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin umat islam dan seluruh umat islam.

Nasehat untuk para pemimpin dan umat secara umum berarti kehendak baik dari nasih (yang menasehati) kepada mansuh (yang dinasehati), sebagaimana pengertian yang sering dipakai untuk mendefiniskan nasehat. Adapun nasehat untuk Allah ,Kitab dan Rasulullah, sesuai dengan asal katanya, yaitu adanya keserasian hubungan. Dimana seorang muslim yang memegang teguh agamanya akan mempunyai hubungan yang baik dengan Allah, Kitab dan Rasul-NYa.

Maka yang dimaksud nasehat kepada Allah swt adalah beriman kepada-Nya, beribadah tanpa dicampuri dengan aktifitas kemusyrikan, ikhlas dalam melakukan segala ketaatan kepada-Nya, menjahui segala bentuk kemaksiatan, cinta dan benci kepada sesuatu karena DIA, mendukung kebaikan dan orang-orang baik dan begitu pula sebaliknya. Maka jika seorang muslim berpegang teguh dengan nilai-nilai ini manfaat baiknya akan kembali kepadannya baik di dunia maupun di akherat kelak.

Sedangkan Nasehat untuk kitab-Nya Adalah menunaikan hak kitabullah; Al-Qur’an, dengan menyakini bahwa Al-Qur’an kalamullah, mu’jizat terbesar diantara mu’jizat-mu’jizat yang pernah diberikan kepada para rasul, sebagai petunjuk dan cahaya. Selain itu juga membenarkan beritanya dan melaksanakan hukumnya. Maka seorang mukmin yang berpegang dengan nilai agamanya akan melakukakan hal-hal berikut ; membaca dan berusaha menghafal(menjaga)nya, meningkatkan kualitas bacaanya dengan lebih baik, mencoba mentadaburi kandungan maknanya, menunaikan pesan-pesan yang ada di dalamnya serta berupaya mendakwahkannya.

Adapun yang dimaksud nasehat untuk Rasul-Nya. Adalah beriman dan membenarkan apa yang dibawanya, mencintainya , taat kepadanya karena taat kepadanya adalah bagian dari taat kepada Allah swt, mempelajari dan mengajarkan sejarah perjalan hidupnya kepada generasi penerus, berupaya maksimal dalam meneladani beliau dan menegakkan sunnahnya.

Yang dimaksud dengan nasehat untuk para pemimpin, tercakup didalamnya penguasa dan ulama. Nasehat untuk penguasa pada intinya adalah mendukung kebaikan yang dicanangkanya dan sebaliknya mengingatkan mereka jika melanggar nilai-nilai kebenaran; membantunnya agar bisa menegakkan nilai-nilai keadailan dan ikut berusaha menjaga keutuhan umat, mendukungnya dalam menjalankan aturan yang benar serta merevisi aturan yang tidak tepat.

Sedang kepada ulama’ maka seorang muslim yang baik akan mencintai dan menghormati mereka, mendukung dakwahnya di jalan Allah, menyemangati mereka untuk mampu mengingatkan penguasa ketika salah, memberi masukan dan nasehat dengan cara yang baik jika mereka jatuh pada kesalahan, karena mereka juga masih manusia yang mungkin saja salah.

Point terahir yang disebut Rasulullah saw adalah nasehat untuk umat islam secara keseluruhan. Pada intinya kita diminta untuk memiliki kepedulain kepada mereka tidak hanya pada urusan materi tapi juga pada hal yang sifatnya non materi; mengarahkan mereka untuk menjalankan nilai agamanya, menasehati mereka agar tetap berada pada jalan yang lurus, mengembalikan mereka yang tersesat dari jalan kepada jalan yang benar, memberi mereka sumbangan ide-ide kebaikan jika mereka membutuhkan, menyemangati mereka untuk berani menghadapi hidup jika mereka terperosok kepada keputus asaan. Sebagian sahabat Rasul ada yang mengatakan :”jika kalian mau maka aku akan bersumpah atas nama Allah, bahwa hamba yang paling dicintai Allah adalah yang berupaya agar Allah mencintai mereka para hamba yang lain, dan berupaya agar para hamba itu mencintai Allah, mereka mengarungi kehidupan ini dengan senantiasa memberi nasehat”.

Sahabat, Tugas saya dalam mengemban misi dakwah ini memang tidak main-main, NAQS DNA awal berdiri di akhir tahun 2010 dengan warna asli sesuai dengan yg saya peroleh dari guru. Tetapi kemudian dalam perkembangannya, saya juga harus meletakkan Dasar-dasar Kurikulum Pelajaran sebagai Fondasi dalam pendidikan NAQS DNA yang diselaraskan dengan perkembangan zaman serta kondisi masyarakat. Dan itu terjadi selama kurun waktu setahun antara 2010 hingga 2011 ini. Dalam kurun waktu itu hingga kini, saya berjihad mengerahkan segala Tenaga, Harta, daya pemikiran, upaya, intuisi, & ilham fokus untuk menelurkan program-program dan materi dasar kurikulum NAQS DNA.

Apalagi awal kiprah NAQS DNA adalah di dunia maya, sebuah dunia baru yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Di sini manusia dari aliran pemikiran apapun akan bertemu. Dan warna dasar NAQS DNA yang sangat kental aspek ketauhidan dari aliran Tarekat (Tasawuf), tentu menghadapi tantangan dan ujian yang tidak sedikit. baik dari kalangan non muslim yang anti terhadap Islam, maupun dari kalangan Islam sendiri. Baik umat Islam golongan Radikal hingga Umat Islam golongan spiritual.

Dan alhamdulillah, pilar-pilar dasar pendidikan NAQS DNA sudah terbentuk dengan kokoh dan telah teruji lulus menghadapi berbagai tantangan. Serta secara aplikasinya bisa memberikan manfaat untuk masyarakat luas…. Dan Insya Allah tahun 2012, NAQS DNA sudah betul-betul siap untuk tinggal landas………

Sahabat, Di depan badai mungkin menghadang. Namun dengan kebersamaan dan persatuan yang lemah akan menjadi kuat, yang kecil akan menjadi besar, yang berat akan menjadi ringan, dan yang sulit akan menjadi mudah. Dalam kebersamaan yang pahitpun akan terasa menjadi manis. Semoga Allah menguatkan hati kita semua untuk senantiasa berkata yang benar meskipun akibatnya terasa pahit. Amin Ya Robbal ‘Alamin…

Wallahu A’lam…

Berfikir Dengan Jantung

Assalamu ‘alaikum wa Rohmatullahi wa Barokatuh…

Sahabat, tentu anda sudah membaca tulisan saya yang berjudul Qalbu, Pusat Jiwa. Dalam artikel tersebut saya menegaskan bahwa secara metafisika dan spiritual, yang menjadi pusat spiritualitas atau Pusat Utama Jiwa seorang manusia adalah QALBU-nya, dimana dalam dimensi etherik/batiniahnya disebut dengan Lathoif Qalbu sedangkan dalam dimensi fisiknya di sebut dengan jantung. Sedangkan otak adalah pusat jiwa minor atau pusat jiwa kedua setelah jantung. Pendapat saya ini tentu saja bertentangan dengan pengetahuan umum yang ada saat ini, baik pengetahuan yang bersumber dari dunia dunia barat maupun pengetahuan yang bersumber dari dunia timur.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh ilmuwan barat bahwa pusat spiritual atau kecerdasan spiritual manusia itu berpusat di otak yang disebut GOD SPOT. Demikian juga spiritualis dunia timur yang berkiblat dari India & China mengemukakan bahwa pusat spiritualitas itu berada di Cakra Ajna & Cakra Mahkota, yang nota bene merupakan dimensi etherik/bathiniah dari OTAK.

Dalam tulisan kali ini saya akan menyajikan satu lagi karakter istimewa dari Jantung selain sebagai Pusat Jiwa, yaitu kemampuannya untuk memahami atau berfikir.

Allah swt berfirman :

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati (QOLBU / قُلُوبٌ / JANTUNG) yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati (QOLBU / قُلُوبٌ / JANTUNG)yang di dalam dada.” ( QS. Al Hajj : 46 )

Ayat ini menegaskan bahwa jantung (hati) itu berpikir dan sadar. Anehnya, sebagian ilmuwan akhir-akhir ini baru menemukan hubungan antara hubungan hati dengan kesadaran dan berfikir. Para ilmuwan sekarang baru berbicara tentang otak yang berada dalam jantung (hati) yang terdiri dari 40.000 neuron, yaitu yang kita sebut “akal” yang terdapat di pusat jantung. Akal inilah yang bertugas memandu otak untuk melaksanakan fungsinya. Oleh karena itu Allah menjadikan jantung sebagai sarana untuk memahami.

Dari sekian peneliti psychophysiological untuk hubungan otak dan jantung, beberapanya adalah John dan Beatrice Lacey. Melalui 20 tahun penelitian, mereka temukan bahwa jantung berkomunikasi dengan otak dalam cara-cara yang secara signifikan mempengaruhi bagaimana cara kita memandang dan bereaksi terhadap fenomena. Kedua peneliti itu juga menemukan betapa jantung sepertinya punya logika “anehnya” sendiri yang memiliki alur berbeda (dan mandiri) dari arahan dari sistem syaraf tak-sadar (autonomic). Jantung ini tampak selalu mengirimkan pesan sarat-makna kepada otak yang tidak hanya dipahami oleh si otak, namun juga dipatuhi. Maka menariknya, pesan dari jantung tersebut akan berpengaruh pada pilihan perilaku seseorang.

Pada 1991, Dr. J. Andrew Armour memperkenalkan konsep “otak jantung”. Hasil kerjanya menyatakan bahwa jantung memiliki sistem syaraf intrinsik kompleks yang sedemikian rumitnya hingga bisa dikata bahwa dia memiliki “otak kecil”nya sendiri. Jantung memiliki sistem sirkuit yang menjadikannya mampu bertindak independen atas otak – untuk secara mandiri belajar, mengingat, dan bahkan merasa dan mengindera.

Sistem syarat jantung terdiri dari 40.000 neuron yang disebut sensory neurites. Komunikasi antara jantung dan otak dilakukan melalui jalur afferent. Melaluinya, sinyal sakit (pain) dan sensasi rasa lain masuk ke otak, tepatnya yang disebut medulla. Lebih dari itu, ada juga sinyal yang terus masuk lebih dalam ke wilayah otak sedemikian rupa berpengaruh pada persepsi, pengambilan keputusan dan proses kognitif yang lain.

The heart is the most powerful generator of rhythmic information patterns in the human body.

Institute of Heartmath menemukan bahwa manakala pola ritme otak bersifat baik dan koheren, informasi syaraf yang dikirimkan ke otak akan memfasilitasi cortical function. Efek darinya adalah: kejelasan pikiran yang meningkat, kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik, dan meningkatnya daya kreatif. Sebagai tambahan, input yang koheren dan positif dari jantung cenderung akan membentuk cara pandang dan rasa yang baik.

Since emotional processes can work faster than the mind, it takes a power stronger than the mind to bend perception, override emotional circuitry, and provide us with intuitive feeling instead. It takes the power of the heart.”
~Doc Childre, founder, Institute of Heart.

Tentu ada sahabat yang bertanya, bagaimana dengan manusia yang mendapatkan operasi transplantasi Jantung. Atau Jantungnya di ganti dengan Jantung buatan ataupun Jantung Orang lain (Donor). Apakah jiwanya ataupun akalnya juga turut berganti identitas….??

Sahabat, Akal & Jiwa adalah merupakan bagian dari diri manusia yang berada di dimensi batiniyah atau ruhani. Sebagaimana yang sering saya ulas, bahwa sejatinya manusia adalah ruhaninya. Sedangkan tubuh jasmaninya hanyalah merupakan kendaraan bagi manusia selama hidup di dunia semata.

Jadi, walaupun seluruh organ dalam tubuh seorang manusia di gonta-ganti spare partnya. Baik otaknyakah, jantungnyakah, ataukah ginjalnya, dll. Jati Diri (Ruhani) manusia tersebut adalah tetap, hanya saja spare part fisik yang menjadi wadah spare part Ruhani sajalah yang berubah. Hanya saja, karena ada perubahan wadah, maka Karakter Jati diri ruhani kita akan sedikit mengadakan adjustmen dengan wadah yang baru. Dan itu bisa terlihat oleh orang lain sebagai perubahan karakter dan sifat.

Hal ini bisa dianalogikan dengan sebuah komputer. Dimensi ruhani manusia kita analogikan dengan Software komputer, sedangkan dimensi fisik manusia kita analogikan dengan hardware komputer. Nah, pergantian spare part hardware sebuah komputer tentu akan mempengaruhi kemampuan software dalam beroperasi dan menjalankan program-programnya secara optimal seperti biasanya apabila spesifikasi dari sparepart hardware pengganti tersebut tidak jelas atau berbeda spesifikasi sparepartnya dengan yang digantikan.

Bila pada komputer, spesifikasi kapasitas dan kemampuan sebuah spare part hardware adalah sudah jelas dan terukur. Sehingga pelaksanaan pergantian spare part hardware apabila masih dalam spesifikasi yang sama tidak akan mempengaruhi kinerja software. Tetapi bagaimana dengan spesifikasi spare part organ manusia….??? Sudahkah spesifikasi kapasitas dan kemampuan sebuah organ diketahui sepenuhnya oleh tekhnologi buatan manusia….??? Saya yakin belum…. Yang diketahui manusia mengenai spesifikasi organ tubuh manusia belum ada 1% dari kemampuan sesungguhnya organ tersebut.

Nah, bagaimana sebuah organ yang tidak jelas kapasitas spesifikasinya akan menggantikan organ manusia lain yang dalam hal ini sebagaimana sudah diketahui oleh umum bahwa setiap individu manusia adalah unik dan spesial. Mampukah organ pengganti tersebut menggantikan sepenuhnya keunikan dari organ lama…?? Komposisi Mind, Body, & Soul seorang manusia adalah unik. Perubahan dalam komposisinya akan mengakibatkan perubahan penampilannya. Apalagi bila yang digantikan itu adalah sebuah organ vital seperti jantung dan otak.

Pergantian organ akan mempengaruhi kinerja Jati diri manusia tersebut. Walupun organ pengganti itu merupakan organ donor dari organ manusia lain. Sedikit ataupun banyak, kinerja Jati Diri dalam mengaktualisasikan dan mengekspresikan dirinya akan terpengaruh, dan itu berakibat terjadinya perubahan dalam bersikap, berfikir, dan bertindak. Yang akan berbeda sedikit atau banyak dari karakternya dahulu.

Kesimpulannya :

  • Dalam hal proses berfikir dan memahami sesuatu, Jantung mempunyai kecerdasan tersendiri untuk memproses data dan informasi. Dan dalam hal ini, kecerdasan Jantung lebih bersifat ke arah kecerdasan intuitif/Laduni/Kasyaf yang bersumber dari Ilham Tuhan.
  • Operasi penggantian jantung ataupun otak tidak merubah identitas Jati Diri atau Ruhani manusia yang bersangkutan. Namun sedikit banyak akan merubah karakter dan sifat asli atau sifat lama dari manusia yang bersangkutan.

Wallahu A’lam..

Referensi:
Rollin McCraty, The Scientific Role of the Heart in Learning and Performance, Institute of HeartMath, 2003.
Qalbu, Pusat Jiwa Link : http://www.naqsdna.com/2011/10/qalbu-pusat-jiwa.html

Jangan Marah

Memendam kemarahan bagaikan menggenggam sebuah bara panas
dengan niatan untuk melemparkannya ke seseorang.
Sebenarnya dirimu lah yang terbakar.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Berilah saya nasihat.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari). Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.”

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah menasihatkan, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad, Shohih)

Dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, “Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thobrani, Shohih)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh juga mengatakan, “Bukanlah maksud beliau adalah melarang memiliki rasa marah. Karena rasa marah itu bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi maksudnya ialah kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itulah anda bisa melihat kalau orang sedang marah maka kedua matanya pun menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang. Bahkan terkadang rambutnya ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Dan berbagai hal lain yang tidak terpuji timbul di belakangnya. Sehingga terkadang pelakunya merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan.”

Tips Menanggulangi Kemarahan

Syaikh Wahiid Baali hafizhohulloh menyebutkan beberapa tips untuk menanggulangi marah. Diantaranya ialah:

  • Membaca ta’awudz yaitu, “A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim”.
  • Mengingat besarnya pahala orang yang bisa menahan luapan marahnya.
  • Mengambil sikap diam, tidak berbicara.
  • Duduk atau berbaring.
  • Memikirkan betapa jelek penampilannya apabila sedang dalam keadaan marah.
  • Mengingat agungnya balasan bagi orang yang mau memaafkan kesalahan orang yang bodoh.
  • Meninggalkan berbagai bentuk celaan, makian, tuduhan, laknat dan cercaan karena itu semua termasuk perangai orang-orang bodoh.

Syaikh As Sa’di rohimahulloh mengatakan, “Sebaik-baik orang ialah yang keinginannya tunduk mengikuti ajaran Rasul shollallohu ‘alaihi wa sallam, yang menjadikan murka dan pembelaannya dilakukan demi mempertahankan kebenaran dari rongrongan kebatilan. Sedangkan sejelek-jelek orang ialah yang suka melampiaskan hawa nafsu dan kemarahannya. Laa haula wa laa quwwata illa billaah” (lihat Durrah Salafiyah).