Apakah Guru Harus Sudah Sempurna..??

Assalamu ‘alaikum Wa Rohmatullahi Wa Barokatuh…

Kadang ada sahabat yang datang dengan penuh keraguan kemudian bertanya: apakah Anda sudah tercerahkan sampai berani-beraninya mengajarkan pencerahan?

Meminjam pengalaman para tetua, ada 3 jenis guru pencerahan.

  • Pertama, guru tipe raja.
  • Kedua, guru yang menyerupai kapten kapal.
  • Ketiga, guru yang belajar menjadi penggembala domba.

Maknanya :

  • Dalam tipe raja, seseorang hanya boleh mengajarkan pencerahan bila sudah tercerahkan.
  • Namun dalam kelompok guru kapten kapal lain lagi. Guru dan murid sama-sama menaiki kapal yang sama. Nanti ketika sampai di seberang, keduanya mengalami pencerahan secara bersamaan.
  • Dan dalam kelompok guru penggembala domba, yakin dulu dombanya sudah bisa makan secara aman nyaman, baru kemudian penggembalanya boleh makan. Artinya, murid yang mengalami pencerahan dulu, kemudian baru gurunya boleh terbang ke alam pencerahan.

Dengan kata lain, tidak selalu harus tercerahkan dulu baru boleh mengajarkan pencerahan. Penggembala domba tampaknya paling mulya. Ia tidak memikirkan pencerahan dirinya sendiri. Hanya membimbing, membimbing dan membimbing orang lain. Setelah tugasnya selesai, kemudian ia baru boleh memikirkan terbang ke alam pencerahan.

Di dalam Tarekat, seorang Guru Mursyid diharuskan mempunyai sifat KAMIL MUKAMIL, “sempurna dan menyempurnakan”. Dalam konteks pemahaman umum, seorang guru yang sempurna terkadang di sebutkan sebagai sebuah sosok makhluk yang suci seperti malaikat. Sebagian yang lain menyebutkan guru yang sempurna adalah seorang manusia yang sangat ahli di segala bidang, Fiqih dan tasawufnya haruslah sempurna. Sebagian yang lain menilai seorang Guru yang sempurna adalah sebagai sosok makhluk yang Maha Shakti, “Ora Tedas Tapak Palune Pandhe Sisane Gurinda, di tumbak lakak-lakak, dibedil mecicil”. Tidak mempan segala jenis senjata tajam dan peluru senapan. Waskito lan sidik peningal, weruh sakdurunge winarah.  Bermata tajam, tahu sebelum terjadi. DLL.

Adanya berbagai kriteria yang melangit terhadap seorang guru tersebut, justru pada akhirnya membuat umat banyak yang salah arah dan kebingungan dalam mencari seorang pemimpin dan pembimbing bagi perjalanan kesadaran ruhaninya. Sehingga pada suatu ketika dia telah dipertemukan dengan seorang Guru yang sebenarnya sudah tepat, tetapi karena tidak sesuai dengan standard yang dia pegang. Maka diapun menolak berguru kepada orang tersebut.

Jangankan umat yang masih awam, bahkan para ahli spiritualpun tidak sedikit pula,  yang mengejar kualitas-kualitas tersebut di atas sebagai sebuah jubah kebesaran agar dirinya disebut dan di angkat orang lain sebagai seorang Guru, seorang Syekh, atau seorang Mursyid, dll….

Dan di situlah letak kesalahan dan kekeliruan umat serta beberapa guru spiritual tersebut. Karena akhirnya yang menjadi tujuan dan yang dipandang adalah sosok manusianya atau jubah kebesarannya. Dan bukan kepada yang Maha Sempurna yang telah menciptakan dirinya.

Hakikat sejatinya manusia itu tiada yang sempurna dan tiada yang mencapai kesempurnaan yang betul-betul paripurna. Jadi bila kita meletakkan pandang kepada sosok manusianya, maka kita akan menjadi salah dalam menghadap dan tersesat dalam melangkah.

KAMIL MUKAMIL, atau Sempurna dan menyempurnakan itu sejatinya adalah fiil sifat yang datangya Dari sisi Tuhan Yang Maha Sempurna. Itulah Nuurun ‘ala Nuurin, Cahaya Di Atas Cahaya. Jadi yang bersifat Sempurna dan dapat menyempurnakan diri guru serta murid-muridnya itu adalah Cahaya Allah swt yang berada di dalam sisi terdalam dari ruhaniah sang Guru. Jadi yang sempurna dan menyempurnakan itu bukanlah sisi Zahiriyah guru, akan tetapi sisi Ruhaniyah Guru yang telah mewarisi Cahaya Nur Muhammad dari Rasulullah. Dalam bahasa jawa, sosok guru tersebut telah memperoleh anugrah Wahyu Dyatmiko.

Jadi dalam hal ini, seorang Guru Mursyid yang Kamil Mukammil dalam konsep yang sebenarnya adalah sebagaimana di gambarkan di awal tulisan ini. Yaitu seorang guru yang bertype Kapten Kapal. Dia dan murid-muridnya menaiki bahtera yang sama, dan sama-sama memperoleh penerangan dan pencerahan dari Cahaya Allah. Bagaikan sebuah kafilah yang sedang berjalan berombongan menempuh jalan yang lurus menuju kepada cahaya. Bukankah perjalanan Rasulullah SAW juga demikian, pemimpin umat yang senantiasa berbaur di tengah umat…???  Dan bukankah semua sahabat dan umat Islam semuanya rindu untuk berkumpul dengan beliau di Surga nantinya…?? Bersama-sama di dunia dan di akherat dengan Rasulullah adalah dambaan semua umat Islam yang beriman. Right…??

Sahabat, Ketika sesuatu itu telah mencapai titik puncak tertingginya. Kemana lagikah dia bergerak…??? Tidak ada bukan..?? Artinya itu sudah berhenti atau mandeg…

Nah, perjalanan spiritual dalam mencapai pencerahan dan menggapai kesempurnaan itu tidak ada titik puncaknya. Manusia yang telah menggapai kesempurnaan diri Itu pertanda dia telah selesai dan paripurna dalam proses penyempurnaan dirinya. Dan tidak lama kemudian dia akan meninggalkan dunia yang fana ini untuk melanjutkan perjalanan ke fase berikutnya di akhirat.

Mari kita ingat FAKTA SEJARAH ini, ketika Rasulullah telah dinyatakan oleh Allah swt telah sempurna agamanya (Spiritualitas beliau) dalam firmanNya :

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS. Al Maidah ayat 3 )

Masa turunnya wahyu dinyatakan berakhir setelah Nabi menerima wahyu terakhir yaitu surat Al-Maidah ayat 3 di atas yang diturunkan saat Nabi berada di padang Arafah guna melaksanakan haji wada’ (haji perpisahan) pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 H.

Maka, tidak lama kemudian beliupun wafat berlindung ke haribaan Ilahi Robby…….bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijrah.

Maka, bila ada manusia yg mengklaim dirinya telah sempurna. Sedangkan jatah hidupnya masih panjang. Maka pada hakikatnya itu hanyalah omong kosong belaka. Yang menandakan orang tersebut telah mengalami kemandegan spiritualitasnya…. Right…???

Pencerahan: Tujuan versus Perjalanan
Ada orang yang memandang pencerahan sebagai tujuan. Ia serupa dengan perjalanan panjang yang berat, susah dan jauh. Setelah melewati berbagai rintangan dan cobaan, kemudian ada kemungkinan terbukanya pintu pencerahan.

Dalam klasifikasi pencerahan sebagai tujuan, ada berbagai macam tanda dan ciri-ciri pencapaian meditasi. Dan tentu saja semua layak dihormati. Bagusnya tanda-tanda ini, ia bisa menjadi semacam pedoman perjalanan bagi banyak orang. Bahayanya tanda-tanda, ia bisa menjadi jebakan yang mencelakakan. Terutama karena di tingkatan tertentu, pencerahan dan pembebasan sesungguhnya tanpa kerangka, tanpa kriteria apa lagi konsep.

Namun untuk memenuhi dahaga sekelompok pencari yang memerlukan tanda-tanda (pencerahan sebagai tujuan), sejumlah guru Meditasi kerap menyebut 2 jenis pencerahan sebagai tujuan.

  1. Pertama, pencerahan dalam hidup ini. Ia ditandai oleh sudah berjumpanya seseorang dengan 3 jenis samadhi (konsentrasi). Dari samadhi of suchness (semua terlihat sempurna apa adanya), samadhi of illumination (semua kegelapan kebingungan mengalami keruntuhan menyisakan kehidupan yang terang benderang), serta samadhi of seed syllable (seseorang sudah mendengar, melihat dan meletakkan aksara suci di dalam batinnya).
  2. Kedua, pencerahan di akhir hayat. Setelah menjalankan praktek kesadaran yang dalam dan panjang, orang-orang jenis ini nasibnya serupa anak burung garuda. Kematian seperti pecahnya telur, begitu telurnya pecah langsung terbang ke alam pencerahan. Tentu saja ini hanya mungkin terjadi bila seseorang sudah melakukan persiapan latihan meditasi panjang dalam hidupnya.

Disamping pencerahan sebagai tujuan, pencerahan juga mungkin ditemukan dalam setiap perjalanan kekinian. Ada yang menyebutnya sebagai pencerahan-pencerahan kecil. Bila dikumpulkan bisa menjadi modal untuk mencapai pencerahan besar sebagaimana penjelasan pencerahan sebagai tujuan.

Dalam kelompok pencerahan sebagai perjalanan, juga tersedia 3 ciri yang layak direnungkan.

  1. Pertama, senantiasa belajar untuk memandang secara mendalam (semua mau bahagia, semua tidak mau menderita sehingga disarankan untuk banyak menyayangi, bila tidak bisa menyayangi cukup tidak menyakiti).
  2. Kedua, melakukan semua langkah keseharian dengan penuh kesadaran.
  3. Ketiga, apa pun yang terjadi dalam keseharian, semua hanya gelombang yang naik turun. Seperti gelombang samudera, ada gelombang besar ada gelombang kecil. Baik yang besar maupun kecil pada waktunya akan merunduk rendah hati mencium bibir pantai yang bernama kematian. Dan kematian, ia bukan perpisahan, melainkan arus balik memeluk kembali samudera pencerahan.

Siapa saja yang sudah menyatukan keseharian dengan meditasi (mingling life with meditation), akan mengerti pesan seorang guru: Enlightenment is so close, that’s why people don’t see it. Enlightenment is so simple that’s why people don’t believe it. Pencerahan sesungguhnya sangat dekat. Namun seperti buku, karena terlalu dekat orang tidak bisa membacanya. Pencerahan sebenarnya amat sederhana, namun karena pikiran menyukai kerumitan, maka orang pun tidak mempercayainya.

Tatkala cahaya pencerahan menyala, terlihat terang benderang bahwa apa yang selama ini dicari-cari dan ditakuti ternyata hanya mimpi. Dan Anda pun tersenyum karena pernah lama dicengkeram mimpi.

Merenda Tujuan dan Perjalanan
Kendati kedua pendekatan pencerahan sebagai tujuan dan perjalanan ini terlihat berbeda, namun ada benang merah yang bisa menyatukan keduanya. Keduanya sama-sama menggarisbawahi the awakened mind (batin yang sudah bangun dari tidur panjang seolah-olah gonjang-ganjing pikiran itulah kehidupan), dan hasil langsung dari batin yang sudah terbangunkan adalah the infinite compassion (kasih sayang tidak terbatas kepada semua mahluk).

Dalam bahasa yang lebih terang, keheningan (the awakened mind) yang tidak dipeluk kasih sayang tidak pernah diajarkan sebagai jalan pencerahan. Di jalan pencerahan, keheningan baru sempurna bila diisi dengan kasih sayang. Kasih sayang baru sempurna jika dilakukan dalam keheningan.

Sebagai akibatnya, setiap langkah keseharian (dari mandi, makan pagi, kerja, berdoa sampai dimaki orang) yang diterangi oleh kesadaran sekaligus kasih sayang, ia menjadi langkah-langkah pencerahan.

Pertama-tama, dalam kesadaran mendalam terlihat jelas bahwa gonjang-gonjing kehidupan (naik-turun, sukses-gagal, sehat-sakit) hanyalah putaran alamiah. Ia sesederhana malam yang berganti siang. Melawan putaran kehidupan, itulah penderitaan. Mengalir sempurna dengan putaran kehidupan, itulah pencerahan.

Begitu cahaya pencerahan muncul, semua hal yang membuat manusia menderita (ketakutan, keraguan, kekhawatiran), mirip dengan tali di tengah kegelapan. Karena gelap, kemudian rasa takut akan ular muncul. Begitu cahaya lampu dinyalakan, ketakutan menghilang. Itu sebabnya, salah satu lambang pencerahan adalah singa karena tidak memiliki rasa takut. Termasuk tidak takut akan kematian.

Uniknya, dalam terang cahaya pencerahan (di mana terlihat jelas semuanya hanya serangkaian saling ketergantungan sempurna yang kerap disebut kosong), keakuan (ego) sebagai sumber penderitaan lenyap, sekaligus memunculkan rasa lapar untuk senantiasa menyayangi. Bukan menyayangi karena ingin disebut suci, bukan menyayangi karena lapar dengan sebutan baik. Sekali lagi bukan!. Namun karena sifat alami mahluk tercerahkan itu penyayang.

Ia sesederhana kambing dan serigala. Bila kambing dikasi daging, secara alami ia menolak. Tanpa mencaci bahwa vegetarian itu baik, makan daging itu dosa. Jika serigala diberi rumput, secara alami ia menghindar. Tanpa mengumpat bahwa vegetarian itu bodoh, makan daging itu enak. Mahluk tercerahkan juga serupa, ia menyayangi bukan karena takut neraka serta serakah sama surga. Namun seperti halnya kambing dan serigala, sifat alami mahluk tercerahkan memang penuh kasih sayang.

Dan sekedar sebagai pedoman dalam mencari guru, sekaligus menjadi bahan untuk melihat ciri manusia yang ketempatan Cahaya Ilahi, dalam tradisi tua disebutkan bahwa mahluk tercerahkan itu mempunyai salah satu atau semua ciri sbb :

  1. Pacifying (ajaran dan kesehariannya menenangkan, menentramkan, mendamaikan), 
  2. Enriching (memperkaya wawasan dan pemahaman),
  3. Magnetizing (menjadi magnet yang menarik banyak manusia untuk berbuat baik, berbagi kasih sayang, berlatih meditasi/Zikrullah),
  4. Subjugating (bila harus menaklukkan orang lain, ia menaklukkannya dengan kasih sayang).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: