Spirit Hari Raya Qurban : Taqorrub

Assalamu ‘Alaikum Wa Rohmatullahi Wa Barokatuh..

Sahabat, Perintah berqurban bagi mereka yang diberi kelebihan rizki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin, mengandung pesan penting “bahwa Kita bisa dekat dengan Allah swt (Taqorrub ilallah) hanya ketika Kita bisa mendekati dan menolong saudara-saudara kita yang serba kekurangan”.

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Hajj :37 )

Idul Adha dan peristiwa kurban yang setiap tahun dirayakan umat muslim di dunia seharusnya tak hanya dimaknai sebatas proses ritual, tetapi juga diletakkan dalam konteks peneguhan nilai-nilai ketauhidan, sosial, kemanusiaan, dan spirit keadilan, sebagaimana pesan tekstual utama agama.

QURBAN”, yang secara etimologi berarti “pendekatan”, mengandung pesan tentang upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jalan mempersembahkan hidup kita untuk perjuangan membela nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kebajikan ibadah qurban bukan terletak pada persembahan daging hewan qurban, melainkan ketakwaan dan ketulusan (QS al-Hajj: 37).

Sejarah pelaksanaan ibadah qurban ini bermula dari pengujian kesetiaan Ibrahim terhadap Tuhannya. Pada usianya yang telah mencapai 85-an tahun, Ibrahim belum dikaruniai keturunan. Sebagai ijabah dari permohonannya, Tuhan kemudian mengaruniakan seorang keturunan yang kemudian diberi nama Ismail (Tafsir al-Azhar, juz 23: 218). Lima tahun kemudian, Ibrahim bermimpi menyembelih Ismail. Setelah dimusyawarahkan, kemudian keduanya sepakat bahwa mimpi tersebut merupakan perintah dari Tuhan yang harus dilaksanakan. Di akhir kisah, Ismail diganti dengan seekor domba besar yang kemudian disembelih Ibrahim (QS. 37: 100-107).

Sejatinya Ibadah qurban adalah perintah Tuhan untuk mengorbankan dan menyembelih sifat egois, mementingkan diri sendiri, rakus dan serakah yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah swt yang diwujudkan dalam bentuk solidaritas dan kerja-kerja sosial. Kecintaan pada Allah swt ditunjukkan Nabi Ibrahim dengan kesediaan menyembelih putra kesayangannya Ismail. Sesungguhnya Tuhan menyuruh Ibrahim menyembelih putranya, yang disampaikan melalui mimpi, di samping ujian keimanan juga sarat pesan-pesan sosial kemanusiaan. Kepekaan sosial, keberpihakan kepada kaum lemah dan dilemahkan (mustadh’afin) adalah nilai sekaligus moral sosial yang terkandung dalam ibadah qurban.

Ibadah qurban hakikatnya mengajarkan kita untuk menolak segala bentuk egoisme dan keserakahan. Karena kedua sifat itu hanya akan merampas hak dan kepentingan kaum dhuafa (lemah) dan mustadh’afin (dilemahkan) . Di sisi lain ibadah qurban dapat menjadi solusi terhadap berbagai bentuk ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang masih mewarnai di sekitar kita.

Perintah berqurban bagi mereka yang diberi kelebihan rizki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin, mengandung pesan penting “bahwa Kita bisa dekat dengan Allah swt hanya ketika Kita bisa mendekati dan menolong saudara-saudara kita yang serba kekurangan”. Semangat menyembelih hewan qurban yang dagingnya dibagikan kepada kaum fuqara dan masakin (fakir dan miskin), jelas dimaksudkan agar terjadi solidaritas dan tolong-menolong antar-anggota masyarakat. Yang kaya menolong si miskin dan sebaliknya yang miskin menolong si kaya. Sikap solidaritas ini diharapkan akan mengurangi kesenjangan sosial dan kondusif bagi pemberdayaan masyarakat.

Meski perayaan ‘idul qurban di rayakan setahun sekali, namun semangat berqurban tersebut seharusnya tidak hanya muncul ketika datang ‘Idul Adha. Ia harus terus -menerus hidup dalam diri kita. Tentu saja, di luar ‘Idul Adha, berqurban itu tidak harus berbentuk penyembelihan hewan. Ia dapat berupa apa saja yang bisa mendorong terwujudnya masyarakat yang berdaya, bermartabat yang selalu menjunjung nilai-nilai keadilan.

Kita sangat berharap dengan perayaan ‘Idul Adha akan muncul semangat berqurban di masyarakat, apalagi pemerintah. Semangat berqurban ini sangat penting artinya dalam membangun masa depan bangsa dan negara ke arah yang lebih maju, lebih baik, dan lebih sejahtera. Makna utama ibadah qurban yang berupa kesediaan untuk berkorban sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dapat dijadikan inspirasi bagaimana kita bisa saling berbagi dan memberdayakan sesama umat manusia, terutama mereka yang kurang beruntung.

TAQORRUB ILALLAH
Berkaitan dengan bab taqarrub ilallah, Imam Ibnu Hajar berkata: “termasuk dalam lafadz tersebut adalah seluruh kewajiban baik fardlu ain maupun fardlu kifayah. Sehingga bisa pula diambil pengertian darinya bahwa pelaksanaan perbuatan-perbuatan yang fardlu adalah aktifitas yang paling disukai Allah SWT, mulai dari pelaksanaan shalat, pembayaran zakat, berbakti kepada orang tua, menuntut ilmu, berjihad fi sabilillah, beramar makruf nahi munkar, bersikap jujur dan ikhlas lillahi taala dalam berperilaku, beristiqamah dalam beramal, memakan makanan yang halal lagi baik, menutup aurat perempuan – laki-laki, sampai pelaksanaan hukum-hukum hudud oleh negara atas tindakan kriminal (jarimah) seperti zina, liwath (homoseksual), pencurian, riddah (keluar dari Islam), pembunuhan dan kewajiban-kewajiban lainnya. Semua itu termasuk dalam aktifitas yang akan dapat mendekatkan diri seorang hamba yang mukmin kepada Rabnya.”

Aktifitas taqarrub ilallah dapat dikelompokkan menjadi:

Pertama: Pelaksanaan kewajiban.
Diantara pelaksanaan kewajiban yang utama adalah menuntut ilmu, sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Abdil Barr)

Nabi juga memberi dorongan agar setiap orang mukmin melaksanakan kewajiban ini melalui sabda Beliau SAW:

“Barang siapa pergi menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.” (HR. AbuDawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al Baihaqi )

Selain itu yang juga dianggap sebagai qurbah adalah infaq fi sabilillah, maksudnya untuk urusan jihad. Al Quran menegaskan bahwa infaq fi sabilillah ini sebagai bentuk qurbah yang besar yang diberikan oleh seorang hamba mukmin kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:

“Diantara orang-orang Arab Badui ada orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan menjadikan harta yang ia nafkahkan (dalam jihad fi sabilillah) sebagai pendekatan di sisi Allah dan jalan untuk mendapatkan doa Rasulullah. Ketahuilah itu memang merupakan pendekatan bagi mereka. Allah akan memasukkan ke dalam rahmat-Nya (surga). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS.At Taubah[9]: 99)

Begitu juga dengan dakwah, merupakan aktifitas wajib yang dapat mendekatkan seorang mukmin kepada Allah SWT. Bahkan, berdakwah disebut sebagai perkataan yang paling baik. Allah SWT berfirman:

”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan baik.” (An Nahl [16]: 125)

”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah.” (QS. Fushshilat [41]: 33)

Kedua: Pelaksanaan sunnah-sunnah nafilah atau mandubat.
Nabi SAW bersabda:
”Tak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah nafilah hingga Aku mencintainya. Kalau Aku sudah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya. Dan Aku akan menjadi penglihatannya yang ia melihat dengannya. Dan Aku akan menjadi tangannya yang ia berbuat dengannya. Dan Aku akan menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku niscaya akan Aku beri. Dan jika ia memohon perlindungan pada-Ku niscaya akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Amal-amal nafilah adalah setiap aktifitas yang merupakan tambahan dari amal-amal yang wajib, baik berupa shadaqah, dzikir, shalat sunnah, puasa sunnah, iktikaf, qiraatul quran dan lain-lain. Melalui pelaksanaan amal-amal nafilah tersebut, seorang mukmin akan terangkat derajatnya di sisi Allah SWT. Karena itu, dorongan untuk melaksanakannya begitu besar, sebagaimana sabda Nabi SAW:

”Jika seorang hamba bertaqarrub kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari.” (HR. Bukhari)

Ketiga: Pelaksanaan ketaatan-ketaatan lainnya.
Bentuk-bentuk ketaatan lain selain melaksanakan yang fardlu dan yang sunnah adalah meninggalkan apa saja yang diharamkan Allah SWT. Diantaranya adalah meninggalkan riba, judi, zina, khamer, dan sebagainya. Allah berfirman:

”Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al Baqarah [2]: 278)

”Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah [5]: 90)

Orang-orang yang bertaqarrub ilallah, mendekatkan diri kepada Allah, mereka akan menjadi kekasih-Nya. Jika seorang hamba telah menjadi kekasih Allah, maka dia berhak untuk mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari-Nya, doa dan permintaannya akan dikabulkan, serta akan diberi kecukupan rizki oleh Allah SWT. Para kekasih Allah inilah yang akan menjadi penghantar kebaikan dan pencegah dari keburukan. Bahkan kalau sebuah negeri penduduknya menjadi kekasih Allah, dengan keimanan dan ketakwaannya, maka Allah akan membukakan barakah-Nya dari langit dan bumi. Sebagaimana firman-Nya:

”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami itu maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya,” (QS. Al A’raf [7]: 96)

Sahabat, salah satu cara untuk menghindar dari berbagai keburukan itu adalah dengan menjadikan para penduduk negeri ini sebagai orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah, sebagai kekasih Allah, yang senantiasa melakukan aktifitas taqarrub, pendekatan diri kepada Allah melalui pelaksanaan berbagai kewajiban, amal-amal nafilah serta bentuk-bentuk ketaatan lain seperti meninggalkan larangan-larangan Allah. Dengan kata lain, kita harus mencetak pribadi-pribadi yang memiliki karakter sebagai orang yang beriman sekaligus beramal shalih. Sehingga rahmat, barakah dan pertolongan akan senantiasa diberikan Allah kepada kita. Amin, Ya Rabbal Alamin.

Wallahu’alam bi al-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: