Efektivitas Pupuk PK dan Frekuensi Pemberian Pupuk K dalam Meningkatkan Serapan Hara dan Produksi

Unsur K sangat penting dalam pembentukan polong dan pengisian biji kacang tanah disamping sangat penting dalam proses metabolisme dalam tanaman. Kadar ion Ca dalam tanah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan tidak efektifnya pemupukan PK sehingga produksi kacang tanah tidak dapat mencapai optimal. Untuk meningkatkan efisiensi pemupukan P dan K di lahan kering Alfisol pada tanaman kacang tanah telah dilakukan penelitian di lahan kering Alfisol, Malang Jawa Timur pada MT 2002 dan MT 2003. Rancangan acak kelompok faktorial, tiga ulangan digunakan dalam penelitian ini. Perlakuan percobaan MT 2002 adalah kombinasi dua jenis pupuk N (Urea dan ZA), tiga dosis pupuk P (0, 50 dan 100 kg SP36/ha) dan tiga frekuensi pemberian pupuk K (diberikan 1x; 2x dan 3x). Perlakuan percobaan MT 2003 adalah kombinasi dua jenis pupuk N (Urea dan ZA), tiga dosis pupuk K (50, 100 dan 150 kg KCl/ha) dan 3 frekuensi pemberian pupuk K seperti pada percobaan MT 2002. Percobaan menggunakan kacang tanah varietas Kelinci yang ditanam dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm dua biji per lubang pada petak perlakuan 4 m x 6 m. Percobaan MT 2002 dan MT 2003 dilaksanakan pada lokasi yang sama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk ZA dapat meningkatkan serapan hara P, K dan S serta meningkatkan hasil polong kering sekitar 51 % dibandingkan dengan yang dipupuk Urea. Pemupukan P kurang efektif dalam meningkatkan hasil kacang tanah. Pemupukan 50 kg SP36/ha hanya dapat meningkatkan hasil polong kering sekitar 10 % daripada yang tanpa pupuk P, dan bila dosisnya ditingkatkan menjadi 100 kg SP36/ha justru menurunkan hasil. Pemupukan 50 kg SP36/ha hanya mampu meningkatkan kadar P dalam tanaman sekitar 15 % dan tidak meningkatkan serapan hara yang lain. Bila dosisnya ditingkatkan menjadi 100 kg SP36/ha, kadar P dalam tanaman meningkat sekitar 7 % daripada yang dipupuk 50 kg SP36/ha. Pemupukan 100 kg KCl/ha meningkatkan hasil kacang tanah secara nyata daripada yang dipupuk 50 kgKCl/ha. Pemberian pupuk KCl satu kali pada saat tanam lebih efektif dan lebih efisien daripada diberikan dua kali, pada saat tanam dan umur satu bulan dalam meningkatkan hasil kacang tanah, dan bila diberikan tiga kali, justru menurunkan hasil. Pemupukan 100 kg KCl/ha dapat meningkatkan kadar K dan P dalam tanaman, masing-masing sekitar 21 dan 15 % bila diberikan bersama 50 kg SP 36/ha, atau masing-masing meningkat 28 % dan 23 % bila diberikan bersama 100 kg SP36/ha, semua itu bila dibandingkan dengan yang tidak disertai pupuk P.
Sumber: Anwar Ispandi dan Abdul Munip

Penentuan Kebutuhan Pupuk P Untuk Tanaman Kedelai, K. Tanah dan K. Hijau Berdasarkan Uji Tanah

Ketersediaan P pada tanah masam umumnya rendah sehingga diperlukan pemupukan P. Pemupukan P yang didasarkan pada status kandungan P dalam tanah dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemupukan. Kebutuhan pupuk dapat diketahui melalui kalibrasi uji tanah. Kalibrasi uji tanah merupakan percobaan tentang tanggap tanaman terhadap pemupukan pada status hara tanah tertentu. Tingkat ketersediaan hara dalam tanah dinyatakan dalam tingkat rendah, sedang, dan tinggi, atau dalam suatu kisaran kandungan hara tertentu. Uji kalibrasi juga dapat dilakukan pada lokasi dengan status hara tanah bervariasi dari rendah sampai tinggi. Kandungan hara P dalam tanah dengan Bray I di lahan kering masam Ultisol termasuk pada kategori rendah untuk tanaman kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau masing-masing adalah <5 ppm P2O5, <9 ppm P2O5, dan <7 ppm P2O5. Metode Bray I dan Bray II adalah metode yang baik untuk menduga tingkat ketersediaan P untuk kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau pada tanah Ultisol.

Kata kunci : P tersedia, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, Ultisol
Sumber: Andy Wijanarko

Jadwal pemupukan bibit kelapa sawit


A. Two stage nursery
Ikuti jadwal pemupukan yang tertera di Table 1 Persiapkan pemberian larutan pupuk pada tahap pertama, larutkan 8, 16 dan 24g NPK 15/15/6/4 kedalam 5 liter air untuk 100 bibit. Pengaplikasian sebaiknya dilakukan dengan menggunakan gembor. Bibit harus disiram 1 jam setelah aplikasi pupuk agar daun tidak ‘terbakar’. Bibit dipindahkan ke polybag besar pada umur 13 minggu. Jika pemindahan tertunda, lanjutkan pemupukan mingguan dengan menggunakan dosis umur 12 minggu
B. Single stage nursery
Ikuti jadwal pemupukan yang tertera di Tabel 2. Persiapkan pemberian larutan pupuk pada bulan pertama, larutkan 8g NPK 15/15/6/4 kedalam 5 liter air untuk 100 bibit. Pengaplikasian sebaiknya dilakukan dengan menggunakan gembor. Penyiraman harus segera dilakukan setelah aplikasi pupuk agar daun tidak terbakar. Jika bibit tidak ditanam ke lapangan setelah umur satu tahun (misalnya untuk sisipan/ APM), lanjutkan pemupukan dengan NPK 12/12/17/2 setiap bulan dan 20 kieserite setiap dua bulan
C. Bibitan satu tahap jika POME tersedia
Tidak ada pemberian pupuk selama 4 bulan pertama. Setelah itu ikuti jadwal pemupukan seperti pada Tabel 2. Jika bibit telah berumur 1 tahun belum dipindah ke lapangan, lanjutkan pemupukan dengan dosis 40g NPK 12/12/17/2 setiap dua bulan
D. Agroblen
Agroblen adalah pupuk komposit lambat tersedia yang sampai saat ini harganya masih relativ mahal dibandingkan dengan pupuk tunggal Penggunaan agroblen akan menurunkan biaya tenaga kerja dan waktu administrasi. Agroblen digunakan bila disarankan

E. Mengatasi Gejala Defisiensi
Kadang-kadang defisiensi salah satu unsur hara dapat terjadi disebabkan tanahnya kurang subur atau hilangnya hara karena curah hujan yang tinggi.
Gejala defisiensi yang sangat umum adalah : N – semua daun berwarna pucat Mg – daun-daun bawah berwarna kekuningan B -daun muda mengeriting / mengkerut
Jika terlihat gejala defisiensi, lakukan tindakan sbb :
N
Pada tahap awal (misalnya 1-3 daun) semprot dengan satu larutan (7g urea + 5 liter air) untuk 100 80 bibit. Untuk bibit bibit yg lebih tua, semprot dgn satu larutan (14g urea + 5 liter air) untuk 100 bibit.
Mg
Untuk bibit bibit muda (kurang dari 3 bulan) semprot dengan satu larutan (20g Garam Inggris + 5 liter air) untuk 100 bibit. Untuk bibit bibit yg lebih tua, tambahankan kieserite dengan dosis 10 gram (umur 3-6 bulan) atau 20 gram (6-12 bulan) per pokok.
B
Semprot dengan satu larutan (10g HGFB + 5 liter air) untuk 100 bibit.
Fe
Semprot dengan satu larutan (10g EDTA atau jika tidak ada, gunakan iron sulphate + 5 liter air) untuk 100 bibit.
Sumber : http://agrodanbisnis.blogspot.com

Pemupukan Kelapa Sawit (4)

Persiapan dan Pelaksanaan Pemupukan

Persiapan

  1. Pembenahan piringan, pasar pikul, rorak, tapak kuda, tapak timbun dan lain-lain.
  2. Penghancuran pupuk yang menggumpal
  3. Takaran pupuk dibuat per jenis dan dosis pupuk. Sapu lidi pendek ( 15 Cm ) berbentuk kipas untuk penebaran pupuk.
  4. Luas areal yang dipremikan maksimal 30 % areal pemupukan hari itu.
  5. Persiapan : Kebutuhan jenis dan dosis pupuk dan jumlah pohon, tenaga penebar, pengecer, pengangkut pupuk, transportasi pupuk ke lapangan.

x
Pemupukan pada areal yang sering tergenang air tidak ada gunanya sebelum adanya perbaikan drainase atau pembangunan tapak timbun

x
Tapak timbun

  1. Formulir AU-58 untuk permintaan pupuk
  2. Membuat rencana harian
  3. Membuat peta rencana pemupukan harian
  4. Membuat Barchart rencana – realisasi pemupukan
  5. Menentukan letak SPB (5 – 10 ha/SPB) dan letak SPK ( > 2 ha/SPK)
  6. Tenaga pemupukan :

– Areal rata : 2 penabur + 1 pengecer

– Areal perengan : 3 penabur + 2 pengecer

  1. Pemupukan diangkut ke lapangan sebelum jam 06.00 wib. Penebaran pupuk dimulai jam 06.30 wib

Faktor Konversi Hara

From

To

Factor

NO3 N 0,226
NH3 N 0,82
(NH4)2 SO4 N 0,212
NH4 NO3 N 0,35
N NO3 4,427
N NH3 1,216
N (NH4)2 SO4 4,716
N NH4 NO3 2,857
K2O K 0,83
K K2O 1,205
KCl K2O 0,632
K2O KCl 1,58
CaO Ca 0,715
Ca CaO 1,399
CaCO3 CaO 0,56
CaO CaCO3 1,78
MgO Mg 0,603
Mg MgO 1,658
MgO Mg SO4 2,986
MgO Mg SO4 H2O 3,432
MgO Mg CO3 2,091

From

To

Factor

Mg SO4 MgO 0,335
Mg SO4 H2O MgO 0,29
Mg SO4 .7H2O MgO 0,16
Mg CO3 MgO 0,478
P2O5 P 0,436
P P2O5 2,291
Ca3(PO4)2 P2O5 0,458
P2O5 Ca3(PO4)2 2,182
SO2 S 0,5
SO3 S 0,4
SO4 S 0,333
Mo SO4 S 0,267
Mo SO4. H2O S 0,23
Mo SO4 .7H2O S 0,13
(NH4)2 SO4 S 0,25
S SO2 1,997
S SO3 2,496
S SO4 2,995
S Mg SO4 3,75
S Mg SO4 H2O 4,31
S Mg SO4 .7H2O 7,68
S (NH4)2 SO4 3,995

SUMBER : /politeknikcitrawidyaedukasi.wordpress.com/2008/06/12/pemupukan-kelapa-sawit-4/

Jenis Dan Sifat Pupuk

Sumber Hara

  1. Tanah
  2. Residu tanaman : Pelepah, Tandan Kelapa Sawit, Abu janjang, Limbah cair dan kacangan penutup tanah.
  3. Pupuk An-Organik : Tunggal, Campur, Majemuk, Majemuk khusus

Pupuk An-Organik

  1. Pupuk tunggal : Mengandung satu hara utama, tidak terlalu mahal per kg hara, mahal dibiaya kerja, mudah diberikan sesuai rekomendasi.

  2. Pupuk Campur : Campuran beberapa pupuk tunggal secara manual, sekali aplikasi, tidak semua pupuk dapat dicampur, keseragaman campuran beragam, sulit untuk diterapkan untuk tanaman menghasilkan.

  3. Pupuk Majemuk : Satu formulasi mengandung beberapa hara utama, harga per kg hara mahal, sekali aplikasi, mudah disimpan, biaya aplikasi murah, sulit diterapkan untuk tanaman menghasilkan.

  4. Pupuk Majemuk Khusus : Pupuk majemuk yang dibuat secara khusus, seperti dalam bentuk tablet atau pelet. Harga per satuan hara lebih mahal dibandingkan pupuk lainnya, efektivitas masih perlu diuji.

Sifat Pupuk

Sifat pupuk sangat beragam sehingga pemilihan pupuk hendaknya mengacu pada Standar Nasional Indonesia ( SNI ) yang telah ada.

Sumber Hara

Hara Utama

N P2O5 K2O MgO CaO B Cu S Cl
1. Pupuk Tunggal
– Urea N 46
– Ammonium Nitrat (AN) N 35
– Sulphate of Ammonia (SOA – ZA) N, S 21 24
– Rock Phosphate (RP) P, Ca 30 45
– Triple Super Phosphate (TSP) P, Ca 46 20
– Single Super Phosphate (SSP) P, Ca, S 18 25 11
– Muriate of Potash (MOP – KCl) K, Cl 60 35
– Sulphate of Potash (SOP-ZK) K, S 50 17
– Kieserite Mg, S 27 23
– Dolomit Mg, Ca 22 30
– Sulfur S 97
– Borate B 11
– Copper Sulphate (CuSO4.H2O) Cu 25 13
– Langbeinite K, Mg, S 22 18 22
2. Pupuk Majemuk
– Diammonium Phosphate (DAP) N, P 18 46
– NPK (12-12-17-2) N,P,K,Mg 12 12 17 2
– NPK (15-15-6-4) N,P,K,Mg 15 15 6 4
– NPK (15-15-15) N,P,K 15 15 16
3. Sisa – sisa Tanaman
– Abu tandan kosong K, Mg, Ca 4 40 6 5
– Tandan kosong N, K 0,1 1,2 0,1 0,1
– Pelepah hasil tunasan N, P, K 0,5 0,1 0,8 0,1 0,1
– Limbah cair PKS N, K, Mg 0,4 0,2 1,3 0,4

Karakteristik Pupuk Urea dan ZA

Keterangan

Jenis Pupuk

Urea Z A
Kadar N (%) 42 – 46 21
Hara lain (%) 24 % S
Kelarutan dalam air (gr/ltr) 1.030 750
Reaksi agak masam masam
Higroskopisitas tinggi kurang
Pencucian/penguapan tinggi sedang
Ketersediaan mudah mudah
Dosis standar (kg/phn/thn)

(umur 9 – 13 thn)

2,75 4,5

Karakteristik Pupuk Phosphate

Keterangan

Jenis Pupuk

RP-Gafsa RP-Maroco CIRP TSP SP-36
P2O5
(larut asam sitrat 2 %)
26,7 33,1 28 46 36
Hara Lain :

– CaO (%)

– Al2O3 + Fe2O3 (%)

– S (%)

49,8

0,2

48,2

0,18

35,7

9,3

18,3

0

5

Kelarutan dalam air
( gr/ltr )
0,125 > 99
Reaksi Netral – basa Netral – basa Netral – basa Masam Agak masam
Higroskopisitas
Kehalusan :

  • Mesh 80 (%)

  • Mesh 100 (%)

63

91

29

80

60

99

Ketersediaan Mudah Mudah Mudah Tidak tersedia Mudah
Dosis standar (kg/phn/thn)

(umur 9 – 13 thn)

1,75 2,25

Karakteristik Pupuk ZK dan KCl/MOP

Keterangan

Jenis Pupuk

ZK MOP/KCl
Kadar K2O (%) 49 – 53 21
Hara lain (%) 18 % S 47 % Cl
Kelarutan dalam air larut larut
Reaksi netral netral
Higroskopisitas
Ketersediaan mudah mudah
Dosis standar (kg/phn/thn)

(umur 9 – 13 thn)

2,25
Karakteristik Pupuk Magnesium

Keterangan

Jenis Pupuk

Kieserite

Dolomit

Dolomit – Lokal

Kadar MgO (%) 27 18 – 22 2,9 – 37,7
Hara lain (%) 22 % S 40 % CaO 0,9 – 48 % CaO

0,04 – 4,21 % Fe2O3

35 – 45 % SiO2

Kelarutan dalam air Agak sukar sukar
Reaksi Agak masam Basa
Higroskopisitas
Kehalusan Bervariasi

> 95 % (mesh 100)

Bervariasi

> 90 % (mesh 80)

Ketersediaan mudah mudah mudah
Dosis standar (kg/phn/thn)

(umur 9 – 13 thn)

1,5 2 – 2,5

Pencampuran Beberapa Jenis Pupuk

Urea Z A R P SP-36 ZK MOP Kieserite Dolomit
Urea a N a a a N
Z A N a N x x a
R P a
SP-36 a N a x a N
ZK a x x a a a
MOP a x a a a a
Kieserite a
Dolomit N a N a a a
Keterangan :

  • a = Dapat dicampur
  • N = Pupuk dapat dicampur segera sebelum digunakan
  • x = Pupuk tidak dapat dicampur

Waktu Dan Frekwensi Pemupukan

Waktu Pemupukan

  1. Pemupukan dilakukan pada waktu hujan kecil, namun > 60 mm/bulan. Pemupukan ditunda jika curah hujan kurang dari 60 mm per bulan.
  2. Pupuk Dolomit dan Rock Phosphate diusahakan diaplikasikan lebih dulu untuk memperbaiki kemasaman tanah dan merangsang perakaran, diikuti oleh MOP (KCl) dan rea/Z A.
  3. Jarak waktu penaburan Dolomit/Rock Phosphate dengan Urea/Z A minimal 2 minggu.
  4. Seluruh pupuk agar diaplikasikan dalam waktu 2 (dua) bulan.

Frekwensi Pemupukan

  1. Pemupukan dilakukan 2 – 3 kali tergantung pada kondisi lahan, jumlah pupuk, dan umur – kondisi tanaman.
  2. Pemupukan pada tanah pasir dan gambut perlu dilakukan dengan frekwensi yang lebih banyak.
  3. Frekwensi pemupukan yang tinggi mungkin baik bagi tanaman, namun tidak ekonomis dan mengganggu kegiatan kebun lainnya

Metode Pemupukan

Cara Pemupukan

  1. Pemupukan dilakukan dengan sistem tebar dan sistem benam (Pocket)
  2. Pada sistem tebar, pupuk ditebarkan di piringan pada jarak 0,5 meter hingga pinggir piringan pada tanaman muda, dan pada jarak 1 – 2,4 meter pada tanaman dewasa.
  3. Pada sistem pocket, pupuk diberikan pada 4 – 6 lubang pada piringan disekeliling pohon. Kemudian lubang ditutup kembali. Sistem pocket disarankan pada areal rendahan, areal perengan ataupun pada tanah pasiran yang mudah tercuci/tererosi.
  4. Pada tapak kuda, 75 % pupuk diberikan pada areal dekat tebing. Untuk mengurangi pencucian, pupuk ini sebaiknya diaplikasikan dengan sistem pocket.

Berdasarkan alat yang digunakan, Pemupukan dapat dilakukan secara manual, mekanis, maupun dengan Pesawat terbang.

  • Pemupukan manual paling umum dan mudah dilakukan.

  • Pemupukan mekanis menggunakan alat (traktor) penebar pupuk untuk areal yang relatif rata. Cara ini banyak diterapkan karena sulitnya memperoleh tenaga kerja pemupuk

  • Aerial spraying sesuai untuk aplikasi pupuk padaareal yang sulit terjangkau dan daerah yangsulit memperoleh tenaga kerja.

Aplikasi sistem tebar Pada areal perengan seperti ini aplikasi pupuk perlu dilakukan dengan sistem pocket.

sumber : politeknikcitrawidyaedukasi.wordpress.com/2008/06/12/pemupukan-kelapa-sawit-3/#comment-218

METODE PEMUPUKAN PADA TANAMAN

Salam Pertanian! Pemupukan merupakan salah satu proses penting dalam budidaya suatu tanaman. Karena proses pemupukan juga akan sangat menentukan keberhasilan produksi tanaman tersebut. Oleh karena itu selain kita harus mengetahui beberapa jenis pupuk dan proses penyerapan pupuk kita juga harus tahu bagaimana cara mengaplikasikan pupuk pada tanaman sehingga proses tersebut bisa lebih efektif dan efisien. Ada dua cara pemupukan yaitu:

1. MEMUPUK MELALUI AKAR TANAMAN
Yaitu segala macam pupuk yang diberikan kepada tanaman lewat akar. Tujuannya tentu sudah jelas, yakni mengisi tanah dengan hara yang dibutuhkan oleh tanaman, supaya tanaman yang ditanam di atasnya tumbuh subur dan memberikan hasil yang memuaskan. Pada umumnya pemberian pupuk melalui akar dapat dilakukan secara:

1. Disebar (broad casting)

Pupuk yang disebarkan merata pada tanah-tanah di sekitar pertanaman atau pada waktu pembajakan/penggaruan terakhir, sehari sebelum tanam, kemudian diinjak-injak agar pupuk masuk ke dalam tanah. Beberapa pertimbangan untuk menggunakan cara ini adalah:

  1. Tanaman ditanam pada jarak tanam yang rapat, baik teratur dalam barisan maupun tidak teratur dalam barisan
  2. Tanaman mempunyai akar yang dangkal atau berada pada dekat dengan permukaan tanah
  3. Tanah mempunyai kesuburan yang relatif baik
  4. Pupuk yang dipakai cukup banyak atau dosis permukaan tinggi
  5. Daya larut pupuk besar, karena bila daya larutnya rendah maka yang diambil tanaman sedikit

Cara pemupukan ini biasanya digunakan untuk memupuk tanaman padi, kacang-kacangan dan lain-lain yang mempunyai jarak tanam rapat. Kerugian cara ini ialah merangsang pertumbuhan rumput pengganggu/gulma dan kemungkinan pengikatan unsur hara tertentu oleh tanah lebih tinggi.

2. Ditempatkan di antara larikan/barisan

Pupuk ditaburkan di antara larikan tanaman dan kemudian ditutup kembali dengan tanah. Untuk tanaman tahunan ditaburkan melingkari tanaman dengan jarak tegak lurus daun terjauh (tajuk daun) dan ditutup kembali dengan tanah. Cara ini dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

  1. Pupuk yang digunakan relatif sedikit
  2. Jarak tanam antara tanaman yang dipupuk cukup jarang dan jarak antara barisan pertanaman cukup jarang
  3. Kesuburan tanah rendah
  4. Tanaman dengan perkembangan akarnya yang sedikit
  5. Untuk tanah tegalan atau darat
  6. Bila mengkhawatirkan akan terjadi pengikatan unsur hara oleh tanah dalam jumlah yang cukup besar

3. Ditempatkan dalam lubang

Pupuk dibenamkan ke dalam lubang di samping batang sejauh kurang lebih 10 cm dan ditutup dengan tanah. Untuk tanaman tahunan pupuk dibenamkan ke dalam lubang pupuk yang melingkari tanaman dengan jarak tegak lurus dan terjauh (tajuk daun) dan ditutup kembali dengan tanah. Cara ini dilakukan dengan pertimbangan sama dengan cara larikan/barisan.


II. MEMUPUK DENGAN CARA DISEMPROTKAN KE DAUN TANAMAN (Spraying)

Pupuk yang dilarutkan ke dalam air dengan konsentrasi sangat rendah kemudian disemprotkan langsung kepada daun dengan alat penyemprot biasa (Hand Sprayer). Pada hamparan yang luas dapat digunakan pesawat terbang.

Sebelum memberikan pupuk ke daun ada beberapa hal yang dianggap mutlak diketahui dulu, yaitu:

  1. Konsentrasi larutan pupuk yang dibuat harus sangat rendah atau mengikuti petunjuk dalam kemasan pupuk. Jangan berlebihan, lebih baik kurang daripada berlebihan. Kalau konsentrasinya lebih rendah dari anjuran maka untuk mengimbanginya frekuensi pemupukan bisa dipercepat, misalnya dianjurkan 10 hari bisa dipercepat jadi seminggu sekali
  2. Pupuk daun disemprotkan ke bagian daun yang menghadap ke bawah. Hal ini disebabkan karena pada kebanyakan daun tanaman, mulut daun (stomata) umumnya menghadap ke bawah atau bagain punggung daun
  3. Pupuk hendaknya disemprotkan ketika matahari tidak sedang terik-teriknya. Paling ideal dilakukan sore atau pagi hari persis ketika matahari belum begitu menyengat. Kalau dipaksakan juga menyemprot ketika panas, pupuk daun itu banyak menguap daripada diserap oleh daun
  4. Penyemprotan pupuk daun jangan dilaksanakan menjelang musim hujan. Resikonya pupuk daun akan habis tercuci oleh air hujan dan lagipula pada saat seperti itu stomata sedang menutup
  5. Biasakanlah untuk membaca keterangan yang ada pada kemasan pupuk, karena disinilah kuncinya.

Pemberian pupuk daun bisa dilakukan bersamaan dengan pemberian pestisida kalau dianggap perlu, atau bersamaan dengan zat perangsang seperti Dekamon atau Atonik berikut zat pebasah. Tetapi jangan sekali-kali memberikan pupuk daun bersamaan dengan pestisida yang mengandung zat perekat. sebab pupuk tersebut akan ikut lengket di permukaan daun tanpa bisa diserap. Akibat lebih lanjut ialah pupuk akan menyerap air daun dan daunpun akan rusak seperti terbakar.

Larangan mnyemprot daun tanaman:

  1. Setelah beberapa kali penyemprotan muncullah tunas baru yang nantinya menjadi ranting dan daun. Bila tunas telah muncul, penyemprotan dihentikan. Sebab tunas muda ini amat peka terhadap pupuk, apalagi kalau dosisnya melebihi dari yang dianjurkan. Tetapi bila nanti tunas baru itu telah berubah menjadi ranting dan daun yang cukup kuat (tak menampakkan gejala menumbuhkan daun muda lagi), barulah tanaman boleh disemprot lagi.
  2. Pada saat bunga mulai mekar penyemprotan harus dihentikan. Kalau tidak bunga bakal buah yang dinanti-nanti akan rontok semua dengan kata lain tanaman tadi akan keguguran. Ketika bunga sudah menjadi pentil, penyemprotan dengan pupuk daun boleh dilakukan lagi terutama hara P-nya tinggi, dengan catatan yang disemprot bukan buahnya tetapi tetap pada daunnya
  3. Satu lagi tanaman yang tidak bisa disemprot pupuk daun ialah tanaman yang baru dipindah ke lapangan. Karena tanaman itu masih terhitung masih muda dan lemas. Baru setelah tanaman mulai segar kembali atau pulih dari pengaruh pemindahan, pupuk daun bisa jalan lagi.
  1. Cara pemupukan dengan penyemprotan melalui daun dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:Unsur hara sulit diambil tanaman melalui akar tanah, misalnya tanaman yang tumbuh pada tanah berpasir atau tanah-tanah yang berbatu
  2. Bila unsur hara dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang sangat sedikit (unsur hara mikro)
  3. Kondisi dan sifat fisik dari pupuk yang buruk
  4. Bila pemakaian pupuk dengan cara pemberian melalui akar tidak berhasil
  5. Pengaruh maksimum dari pupuk terhadap tanaman dapat diperoleh selama musim kering

-BY MASPARY-
gerbangtani.blogspot.com/2010/04/metode-pemupukan-pada-tanaman.html