>Ujian dan Cobaan

>

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar”. (QS. al-Baqarah: 155)

Sesungguhnya dunia adalah ‘darul-bala’ (tempat ujian). Siapa yang tidak mendapat ujian atau musibah dalam hartanya, akan diuji jasadnya. Siapa yang tidak diuji jasadnya akan diuji anak-anaknya. Maka sudah merupakan sunnatullah bahwa setiap insan pastilah akan mendapatkan ujian dan cobaan baik berupa keburukan atau kebaikan. Allah Ta’ala berfiman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah” (al-Balad: 4).

Abdul Malik bin Abhar berkata, “Tidak ada seorang manusia pun, melainkan akan diuji dengan kesehatan untuk melihat apakah ia mensyukurinya. Atau diuji dengan musibah untuk melihat apakah ia bersabar atasnya”.

Allah telah menjelaskan bahwa kehidupan di dunia ini adalah ujian dan cobaan sebagaimana firmanNya, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (al-Mulk: 2)

Setelah yakin bahwa manusia tidak akan terhindar dari ditimpanya cobaan atau ujian, maka kita harus siapkan diri untuk bisa bersikap sabar jika mendapati ujian keburukan. Dan apabila ujian itu berupa kebaikan maka harus senantiasa siap untuk bersyukur.

Sesungguhnya kebenaran iman seseorang tidak akan tampak dengan jelas, kecuali ketika ia tertimpa suatu musibah, maka saat itulah akan terlihat secara jelas perbedaan orang yang sabar dan orang yang murka (terhadap musibah tersebut). Antara orang yang beriman dan orang yang ragu-ragu.

Karena ujian & cobaan ini tidak bisa kita hindari maka yang harus diatur/diperhatikan adalah bagaimana kondisi kita dalam menerima ujian.

Kondisi menerima ujian ada 2 macam, menerima dalam kondisi beriman dan menerima dalam kondisi tidak beriman. inilah yang membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya. hamba yang menerima dalam kondisi beriman tentu saja melewati ujian dengan baik, memohon bantuan kepada Allah SWT, dan mencari solusi sesuai dengan yang tertulis di Al-Qur’an dan Hadis. sedangkan hamba yang menerima ujian dalam kondisi tidak beriman menggunakan cara yang salah, tidak berserah diri pada Allah, atau bahkan mencari jalan ke jalan yang salah.

Nah, inilah tugas kita untuk senantiasa menjaga diri kita dalam kondisi beriman, dalam suasana normal, dan juga pada suasana ujian/cobaan.

sebagai catatan, ujian bukan hanya berupa kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan, misal: kemiskinan, sakit, dll. namun kondisi yang menyenangkan juga merupakan sebuah ujian. misal: harta yang berlimpah, hal ini merupakan ujian, seorang hamba bisa menjalani dengan baik bila mendapatkan harta tersebut dari jalan yang benar dan menggunakan untuk keperluan yang benar, serta tidak lupa membayar kewajiban, zakat. namun manusia bisa menjalani ujian berupa harta dengan tidak baik, misal digunakan untuk berjudi, atau untuk hal-hal yang tidak baik lainnya.

Semoga kita semua bisa istiqomah serta ikhlas untuk selalu beriman di jalan Allah & Rasul-Nya, jalan Islam, jalan yang lurus

1. Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)

2. Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari)

3. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?” Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)

4. Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari)

5. Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani)

6. Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi)

7. Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad)

8. Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari)

9. Seorang mukmin meskipun dia masuk ke dalam lobang biawak, Allah akan menentukan baginya orang yang mengganggunya. (HR. Al Bazzaar)

10. Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

11. Bukanlah dari (golongan) kami orang yang menampar-nampar pipinya dan merobek-robek bajunya apalagi berdoa dengan doa-doa jahiliyah. (HR. Bukhari)

Penjelasan:
Dilakukan pada saat kematian anggota keluarga pada jaman jahiliyah.

12. Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani)

13. Salah seorang dari mereka lebih senang mengalami ujian dan cobaan daripada seorang dari kamu (senang) menerima pemberian. (HR. Abu Ya’la)

14. Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka Allah tidak akan memberinya berkah. (HR. Ahmad)

17. Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya. (HR. Ath-Thabrani)

15. Bencana yang paling payah ialah bila kamu membutuhkan apa yang ada di tangan orang lain dan kamu ditolak (pemberiannya). (HR. Ad-Dailami)

16. Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)

>Tips Mendidik Jiwa

>

Sejatinya, bahwa merubah setiap kebiasaan sama seperti merubah seorang hakim dan penguasa, memerlukan perencanaan yang betul-betul matang, pengawasan intensif, mengerahkan seluruh energi dan kemampuan.

Demikian halnya yang dituturkan Imam Ali as:”Aktifitas yang paling sulit adalah merubah kebiasaan yang ada“.

Manusia merupakan ciptaan yang terdiri dari dua unsure, jasmani dan rohani dimana ketika mengalami kedewasaan berpikir, maka dari kedua unsure tersebut pun muncul keinginan-keinginan yang relative banyak dan terkadang diantara keinginan tersebut terjadi pertentangan. Keinginan-keinginan unsure jiwa dan rohani – menariknya untuk selalu melangkah ke hal-hal yang sifatnya positif dan maqam tinggi (sebaik-baik ciptaan; Qs. At Tin:5) dan tuntutan-tuntutan yang sumbernya dari unsure fisik – senantiasa menyeret ke dunia dan segala kemegahannya yang tak bernilai (Asfala safilin; Qs. At Tin:6). Diantara ini semua, salah satu gejolak batin manusia yang meyakini pada dasar-dasar agama, adalah hubungannya dengan benturan-benturan internal ini; ia senantiasa berusaha untuk meraih kesuksesan dalam medan jihad yang dianggap Nabi saw sebagai jihad dan perjuangan terbesar dan keluar dengan selamat serta sebagai pemenang.

Kalau manusia hendak sukses dalam medan tempur yang cukup dahsyat ini, maka ia harus dengan segenap power[1] dan dengan bersandar pada pemikiran dan keinginan kuat serta menghindari usaha-usaha yang sifatnya pasif, berusaha untuk mengatur dan mendidik jiwanya; yang mana merupakan sebuah perkara yang senantiasa ditegaskan dalam untaian-untaian kalimat para Imam Ma’shum as; dalam sebuah ungkapan yang sangat indah, Imam Shadiq as menuturkan bahwa: “kalau saja umur kalian tinggal dua hari lagi, maka gunakanlah satu hari dari umur kalian itu untuk men-terbiyah diri dan jiwa kalian supaya kalian bisa mendapatkan manfaat ketika pergi meninggalkan kehidupan dunia ini (baca; mati)“.

Ucapan ini dengan jelas menerangkan bahwa kalau manusia dalam berusaha mendidik jiwa, ia menggunakan sebagian dari kapasitasnya, kemampuan dan modal umurnya maka kelak ia akan menemukan kelayakan yang luar biasa.

Dalam kesempatan ini, kami akan menjelaskan tentang tahapan-tahapan bagaimana manajemen dan mendidik jiwa dan nafs sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Imam Ali as. Tentu semuanya sepakat bahwa kajian semacam ini merupakan sesuatu yang cukup luas yang memerlukan waktu dan kesempatan yang lebih. Adapun tahapan-tahapan tentang bagaimana mengatur dan mendidik jiwa ini dalam sabda Imam Ali as adalah diantaranya:

1. Merubah Kebiasaan Buruk
Kalau saja kita sedikit merenungi sikap serta tingkah laku umat manusia, dengan cukup mudah kita akan melihat bahwa sebagian besar dari sikap dan tindakannya itu, siang dan malam, bersumber dari kebiasaan-kebiasaan yang mana muncul dalam kehidupannya; cara bicaranya, jalannya, interaksinya dengan yang lain, cara makannya dan bahkan ibadah-ibadah yang mereka lakukan, itu semua terbentuk dari kebiasaan-kebiasaannya. Kalau saja kebiasaan ini berdasarkan pada program yang sistematis dan bersumber pada aturan-aturan Islam, maka sebagian besar dari kehidupan manusia itu dapat ia control dengan mudah.

Terkait hal ini, para ulama ilmu akhlak memberikan wejangan bahwa manusia pada langkah awal dalam mendidik jiwanya, harus berusaha mengenali seluruh kebiasaan-kebiasaan yang negative itu dan secara bertahap, sesuai dengan perjalanan waktu, menggantikannya dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan positif. Tentunya sangat jelas bahwa merubah kebiasaan buruk itu menjadi kebiasaan baik merupakan hal yang sangat rumit dan sulit dan memerlukan kesabaran dan konsistensi; Imam Ali as bersabda:”kebiasaan dan adat bagi setiap manusia memiliki kekuasaan”.[2]

Sejatinya, bahwa merubah setiap kebiasaan sama seperti merubah seorang hakim dan penguasa, memerlukan perencanaan yang betul-betul matang, pengawasan intensif, mengerahkan seluruh energi dan kemampuan. Demikian halnya yang dituturkan Imam Ali as : “aktifitas yang paling sulit adalah merubah kebiasaan yang ada”.[3] Tahapan ini meskipun sulit, namun kenyataannya bahwa seorang manusia kalau ia tidak bisa melintasi tahapan meninggalkan kebiasaan negative ini, bagaimana mungkin ia bisa menaklukkan nafsunya dan menggiringnya?! Jadi, dengan memohon pertolongan Allah Swt dan dengan perencanaan dan pengawasan yang intensif, mesti mengambil sebuah sikap dan langkah dan perlu kita ketahui bahwa tanpa meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut, manusia tidak akan pernah mencapai derajat-derajat spiritual dimana Imam Ali as menyabdakan : “orang yang tetap mengikuti kebiasaan-kebiasaan dirinya, tidak akan pernah sampai dan mencapai maqam dan derajat maknawi serta spiritual.”[4]

Ketika seorang manusia telah meninggalkan seluruh kebiasaan buruknya dan menggantikannya dengan kebiasaan yang baik dan positif dan seluruh sikap dan ucapannya itu sesuai dengan aturan dan anjuran agama dan mencontoh metode dan cara para Imam Ma’shum as dan berhasil melintasi tahapan ini, maka ia akan sampai pada sebuah maqam dan kedudukan yang mana ia yang memilih kebiasaan itu. Dengan ini, ia tidak akan pernah lagi melakukan sesuatu berdasarkan kebiasaan dan adapt, akan tetapi ia akan memilih setiap perbuatan dengan berdasar pada pilihan dan hasil renungannya dan dalam pengoperasian akan terhindar dari kelalaian yang merupakan bahaya dari kebiasaan-kebiasaan tersebut.

2. Memaksa Diri Untuk Melaksanakan Ketaatan
Setelah melewati tahapan pertama, kita harus memaksa diri dan jiwa ini untuk melaksanakan ketaatan dan penghambaan kepada Allah Swt. Dari ungkapan “memaksa” lahirlah poin ini bahwa nafsu senantiasa bersikeras untuk menghindar dari melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada Allah Swt dan manusia harus memaksanya untuk menerima firman-firman Allah Swt.

Sampainya pada maqam dan kedudukan ketaatan dan penghambaan pada Yang Hak (baca; Allah), merupakan keberhasilan dalam meraih kemuliaan tertinggi bagi manusia di dunia yang fana ini dimana seperti yang dituturkan hamba Allah Swt yang ikhlas, Imam Ali as, ketika bermunajat:”Wahai Tuhan-ku, cukuplah kemuliaan ini bagiku, dimana aku menjadi hamba-Mu dan cukuplah kebanggaan ini pula bagiku, dimana Engkau menjadi Tuhan-ku. Engkau sebagaimana yang aku inginkan, maka jadikanlah diri ini sebagaimana yang Engkau cintai.“[5]

Untuk sampai pada maqam dan kedudukan taat dan penghambaan pada Allah Swt, memerlukan mukaddimah yang dintaranya yang terpenting adalah sebagai berikut:

Pertama: ma’rifat dan mengenal Allah Swt: tahapan pertama yang harus dilalui manusia untuk sampai pada maqam ketaatan dan penghambaan adalah ma’rifat dan mengenal-Nya. Tanpa mengenal bagaimana mungkin ketaatan itu bisa terealisasi?! Kalau tidak demikian, maka ayat Al Qur’an yang bunyinya “Taatilah Allah” tidak akan ditujukan kepada “Orang-orang yang beriman”?![6] hanya orang yang berimanlah yang menjadi lawan bicara Allah Swt.

Seorang manusia yang ingin menduduki maqam ‘Taat’ dan bisa mengendalikan nafsunya ditengah-tengah kehidupan material yang penuh duri ini, ia harus berusaha dengan cara meniti jalan ma’rifat dan mengenal Allah Swt. Ia harus memperkuat setiap saat keimanan dan ma’rifatnya tentang Dia dengan merenungi ayat-ayat dan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt di jagad raya ini. Dimana dalam salah satu firmannya yang sangat indah:”Kami akan memperlihatkan ayat-ayat dan tanda-tanda kami di jagad raya ini dan juga di dalam diri kalian sehingga menjadi jelas bagi mereka bahwa Allah Swt adalah hak dan benar.”[7]

Manusia yang seperti ini harus mengantarkan dirinya kepada pengenalan dan ma’rifat yang berdasar pada hasil tafakkur dengan cara menghindari kepercayaan dan keyakinan yang sifatnya musiman (Qs. Al Ankabut:65) dimana kadang bersama dia dan kadang tidak dan pada hakikatnya keyakinan kepada Tuhan itu digantikan kepada yang lainnya dan juga dengan cara melintasi pengetahuan yang rendah (Qs. Hujurat:14) dimana padanya tidak ada yang bisa mengakar dan hanya menyibukkan dia dengan hal-hal yang bersifat lahiriah dari keyakinan dan kepercayaan tersebut dan juga melepaskan diri dari segala bentuk keyakinan yang sifatnya taklid buta (Qs. Al Baqarah: 170), yang tidak akan mampu membantu manusia dalam menanggung beban penghambaan dan pada puncaknya menjauhi keyakinan yang hanya mengandalkan kebersihan batin tanpa kebersihan lahiriah.(biasanya dalam Al Qur’an kata-kata “orang-orang yang beriman” selalu disertai dengan “amal saleh”). Manusia mukmin mesti mendasari keyakinan dan kepercayaannya itu pada hasil pemikiran dan tafakkur (Qs. Ali Imran:190 dan 191) dan hendaknya pandangannya itu atas jagad ini hanya kepada Allah Swt semata dan ia menganggap-Nya sebagai pemilik segala sifat dan nama-nama yang baik (asmaul husna). (Qs. Thaha:8).

Kedua: memiliki hati yang sehat: hati manusia ketika ia bersih dari segala bentuk penyakit dan akhlak buruk serta kondisinya kembali pada awalnya (sehat dan bersih), maka akan memiliki kesiapan untuk menaati dan melaksanakan seluruh perintah yang datang dari Allah Swt. Imam Ali as dalam sebuah tuturnya yang sangat indah menyabdakan:”Sungguh bahagia orang yang memiliki hati yang sehat, ia akan menaati Tuhan Sang Pemberi Petunjuk, menjauhi setan yang selalu menyesatkan, dengan bimbingan manusia-manusia suci dan langitan, ia mencapai jalan keselamatan dengan penuh kesadaran dan melaksanakan tuntunan pembimbingnya dan bersegera kepada jalan kebahagiaan sebelum pintu-pintu dan wasilahnya tertutup….”[8]

Ketika hati itu bersih dari segala bentuk penyakit batin; yaitu akhlak buruk dan sampai pada keselamatan, maka segala bentuk kebaikan dan kebersihan akan diterimanya. Pada kondisi hati seperti ini, akan nampak dan terasa betapa manis dan nikmatnya taat dan penghambaan diri itu pada Allah Swt. Pada kondisi hati seperti ini, penghambaan pada Allah Swt akan menjadi puncak keagungan manusia. Ketika seorang manusia merasakan manis dan nikmatnya penghambaan itu, maka ia akan senantiasa mempersiapkan dirinya untuk menerima segala biaya dan pengorbanan ketaatan kepada Allah Swt; yaitu menafikan segala sesuatu selain Dia.

Ketiga: menghindari rasa bangga diri: untuk sampai pada maqam “ketaatan” tanpa membuang jauh-jauh sifat “ananiyah”(egois) merupakan sesuatu yang sangat mustahil. Seorang manusia ketika hendak menaati yang lain, harus – setelah mengenal-Nya – menyerahkan diri dan pasrah terhadap-Nya dan pada jalan ini tidak ada lagi artinya melihat sebuah berhala bernama “aku”, apatahlagi menganggap dirinya sebagai pemilik titah.

Para ulama besar dalam bidang akhlak dan irfan menuturkan bahwa: langkah yang paling penting untuk sampai kepada Allah Swt adalah langkah dimana manusia tidak lagi menghiraukan diri, keinginan-keinginan serta segala kecenderungan dirinya dan ia mampu melewati segala kemewahan dunia yang menipu yang sesuai keinginan atau kecenderungan dirinya dan kemudian dengan mudah ia akan terbang ke langit ma’rifat dan ketaatan pada Sang Khaliq. Disini kita perlu merenungi sabda Imam Shadiq as sebagai berikut:”Ketahuilah bahwa antara Allah Swt dan hamba-hamba-Nya, tidak malaikat yang menjadi perantara dan tidak pula nabi serta tak seorang pun, kecuali ketaatannya kepada Allah Swt; jadi berusahalah dalam menaati Allah Swt.”[9]

3. Menebus Masa Lalunya yang Buruk
Manusia di sepanjang umur hidupnya, terkadang tidak bisa menjaga sikap, ucapan dan pikirannya dan betapa banyak orang yang menapaki jalan panjang ini memiliki pelanggaran dan kesalahan dimana untuk bisa memetik buah dari pohon tabiyah tersebut, ia harus menyiapkan dirinya untuk membayar dan mengorbankan segala yang dimilikinya untuk menebus segala pelanggaran dan kesalahannya tersebut serta menanggung kesulitan dan derita yang sementara ini. Untuk melewati tahapan ini, Islam memberikan solusi berupa “Taubat” dan ini merupakan kesempatan emas yang sengaja disiapkan untuk dirinya. Betapa indah untaian hikmah yang dilontarkan Imam Zaenal Abidin as, berikut ini: “Wahai Tuhan-ku, Engkau adalah yang membuka pintu maaf bagi hamba-hamba-Mu yang Engkau menyebutnya dengan ‘At Taubah’ kemudian Engkau berfirman: bertaubatlah kalian kepada Allah Swt dengan sebenar-benarnya taubat. Jadi uzur (halangan) apa gerangan yang membuat orang lalai dari memasuki pintu ini (baca; taubat)?!.“[10]

Kalau seseorang punya maksud dan niat untuk sukses dalam mengatur dan mentarbiyah jiwanya, maka ia harus mencuci segala tindak kebodohan dan masa lalunya itu dengan cara bertaubat dan menjauhi serta membersihkan diri dari segala bentuk kelalaian serta memanfaatkan segala pikiran dan usahanya itu semata untuk mengabdi kepada Allah Swt.

Tentang makna menyeluruh istigfar dan taubat, mesti perlu mengisyaratkan kepada kalam Imam Ali as dimana beliau menjelaskan hakikat istigfar tersebut dalam enam tahapan:

Seseorang ada bersama Imam Ali as dan tanpa perhatian yang semestinya mengatakan:”Astagfirullah”.

Imam Ali as berkata:”hendaknya ibumu menangis karenamu; tahukah kamu arti istigfar itu apa? Istighfar itu merupakan sebuah tingkatan yang tinggi dan memiliki enam makna:

  1. Pertama : menyesal atas apa yang telah kamu lakukan;
  2. Kedua : bertekad untuk tidak mengulangi kembali perbuatan yang lalu;
  3. Ketiga : membayar seluruh hak orang lain serupa mungkin dimana ketika menemui Allah Swt, kamu dalam kondisi yang bersih dan tidak punya beban tanggungan;
  4. Keempat : seluruh kewajiban yang telah kamu tinggalkan, lakukan dan penuhilah dan tunaikanlah sebagaimana mestinya;
  5. Kelima : daging tubuhmu yang mana tumbuh dari yang haram, lelehkanlah dengan cara penyesalan yang luar biasa, sampai betul-betul kulit menempel pada tulang dan daging baru yang tumbuh dari badan kamu;
  6. Keenam : rasakanlah ke tubuh anda akan beratnya ketaatan dan penghambaan tersebut, sebagaimana halnya anda rasakan kepada badan anda bagaimana manisnya berbuat dosa.

Kemudian barulah kamu katakana disini:”Astaghfirullah.”[11]

4. Melakukan Perbuatan Baik
Seorang manusia yang berusaha untuk mendidik dirinya, selain melaksanakan segala kewajiban Ilahi dan taklif, juga harus menciptakan system keamanan atas kewajiban-kewajibannya dari serangan berupa bisikan-bisikan setan dengan cara melaksanakan perbuatan dan amalan mustahab (yang dianjurkan) dan juga amal saleh. Ketika seorang manusia telah menciptakan wilayah keamanan ini dalam bentuk perbuatan yang sifatnya tidak wajib dan perbuatan-perbuatan baik atas beban-beban dan kewajibannya, maka ketika itu anak panah yang dipenuhi racun keraguan dan kemalasan, yang tentunya bersumber dari musuh nyata manusia, setan, (Qs. Fathir:6), akan mengarah kepadanya, dan akan menyibukkannya pada masalah-masalah yang sifatnya sunnat dan mustahab serta akan membuatnya meninggalkan atau bermalas-malasan melaksanakan kewajiban yang mesti dilakukannya.

Menghiasi diri dengan akhlak mulia dan terpuji serta amal saleh, selain menempatkan manusia pada kondisi terjaga dari segala bentuk kesesatan, ia juga akan memperkuat energi manusia dalam melaksanakan penghambaan dan ketaatan kepada-Nya. Rasulullah saw bersabda : “Saya menemukan hasil dari perbuatan baik itu, dimana ia membuat hati bercahaya dan wajah berbinar-binar serta memberikan energi dan kekuatan.“[12]

5. Menjaga dari Melakukan Dosa
Dosa adalah manusia itu tidak menjaga batas dan aturan dan melakukan segala apa yang Allah Swt larang. Dosa adalah sebuah penyakit yang sangat berbahaya dan layaknya hewan yang membangkan dimana kalau seorang manusia mencoba mengendarainya, maka akan dibawanya sampai terjerembab ke dalam neraka; Imam Ali as bersabda:”Ketahuilah bahwa sesungguhnya dosa-dosa itu ibarat kendaraan yang rusak dan membangkan dimana para penunggannya (para pendosa) akan dijerumuskan ke dalam api jahannam.”[13]

Supaya manusia terjaga dari melakukan dosa dan mengobati maksiat dan pembangkangannya itu dalam hidupnya, maka sangat sesuai jika ia melaksanakan ketiga tahapan berikut ini:

pada langkah pertama, manusia harus percaya bahwa dosa merupakan sebuah penyakit dan kekurangan; dalam Al Qur’an dan riwayat-riwayat banyak ditegaskan tentang dosa-dosa tersebut merupakan sebuah penyakit dan sangat jelas bahwa selama seorang manusia tidak menerima bahwa dosa itu adalah sebuah penyakit dan tidak melihatnya sebagai sebuah kekurangan dan kecacatan, maka tak akan pernah ia berpikir untuk mengobatinya. Berobat dan menyelesaikan masalah itu bisa dianggap hanya ketika inti masalah tersebut kita terima. Sebagaimana yang dinyatakan Al Qur’an ketika berbicara kepada para istri Nabi dan juga kepada seluruh kaum wanita. (Qs. Al Ahzab:33). Dalam ayat ini menganggap bahwa ketidak terjagaan (non-iffah) itu merupakan penyakit hati.

Mempercayai adanya pengaruh dari dosa-dosa tersebut; dosa dalam banyak riwayat dianggap memiliki pengaruh yang bermacam-macam dan sangat berbahaya pada kehidupan pribadi manusia, keluarga dan social dimana untuk memiliki motifasi yang cukup dalam mengobati dosa dan mengeluarkan biaya untuknya, maka mesti menerima pengaruh dan dampak serta bahaya dari dosa tersebut. Diantara dampak dan imbas dari dosa tersebut antara lain: dosa seorang manusia itu bisa membawanya kepada mendustai ayat-ayat Allah Swt. (Qs. Rum:10); dosa akan membuat nikmat tersebut berubah (Muhammad Ya’qub Kulaini, Al Kafi, jilid 3, hal. 376); dosa membuat umur manusia menjadi pendek (Abu Ja’far Thusi, Amali, hal. 305 dan Muhammad Baqir Majlisi, Biharul Anwar, jilid 5, hal. 140); dosa menyebabkan tidak terkabulnya doa-doa (Muhammad Ya’qub Kulaini, al Kafi, jilid 2, hal. 271); dosa dapat menyebabkan berkuasanya kejahatan dan kezaliman di tengah masyarakat Islam (Hurra Amili, Wasailus Syi’ah, jilid 11, hal 242); dan lain-lain.

Setelah menerima bahwa dosa itu merupakan sebuah penyakit dan juga mengabulkan bahwa ia memiliki dampak yang bisa merusak, pada langkah ketiga dalam rangka mengobati maka harus ditemukan dalam diri ini penyebab dari dosa tersebut. Kalau seorang manusia percaya dan meyakini akan adanya mabda’ dan ma’ad, menyerahkan diri pada kehidupan duniawi dengan melakukan dosa, pasti memiliki sebab dimana menemukannya itu sangat bisa membatu dia dalam mengobati dirinya. Umumnya bahwa dosa yang dilakukan manusia mungkin saja memiliki sebab yang bermacam-macam, namun pada manusia yang memiliki keyakinan, meskipun itu hanya sedikit saja, terhadap prinsip-prinsip agama, terdapat dua sebab asli mereka bisa melakukan perbuatan dosa dan kalau seorang manusia mampu mengontrol sebab ini yang tentunya dengan sebuah program, maka peluang dosa yang ada dalam dirinya akan terhapuskan. Penyebab pertama adalah kelalaian manusia dan yang kedua adalah kecenderungan-kecenderungan serta instink manusia yang merupakan nikmat pemberian Tuhan kepada diri manusia dan kalau kedua hal ini bisa terkontrol dengan baik dengan cara dan metode yang baik (yang diatur dalam Islam) maka nantinya akan terhindar dari melakukan dan mengulangi perbuatan dosa.

Bahan Bacaan :

  • Sumber Artikel : TELAGA HIKMAH.ORG
  • Al Qur’an.
  • Nahjul Balaghah, terjemahan Muhammad Dasyti.
  • Muhammad bin Ali bin Babwaih, Al Amali, yayasan al Bi’tsah, cetakan pertama 1417 H.
  • Muhammad Baqir MAjlisi, Biharul Anwar, yayasan Al Wafa, Beirut, cetakan kedua 1403 H.
  • Muhammad bin Ya’qub Kulaini, Al Kafi, Darul Kutub al Islamiyah, cetakan ketiga 1388 Syamsi.
  • Muhammad bin Hasan Hurra Amili, Wasailus Syi’ah, Darut Turats al ‘Arabi.
  • Muhammad Rei Syahri, Mizanul Hikmah, Daftar-e tablighat-e Islami Hauzeh Ilmiyah Qom, cetakan keempat 1371 Syamsi.
  • Ali bin Muhammad Laitsi, ‘Uyunul Hikam wal Mawa’izh, Darul Hadits, cetakan pertama 1376 Syamsi.
  • Muhammad bin Ali Karajiki, Kanzul Fuad, Maktabah Al Mushthafawi, Qom, cetakan kedua 1410 H.
  • Abbas Qumi, Mafatihul Jinan, Intisyarat Uswah.
  • Ali bin Hisamuddin Hindi, Kanzul ‘Ummal, yayasan Al Risalah, Beirut.
  • Abul Fadhl Ali Tabarsi, Misykatul Anwar fi Ghuraril Akhbar, Maktabah Al Haidariyah, Najaf, cetakan kedua.
  • Husain Nuri Tabarsi, Mustadrakul Wasail wa Mustambitul Masail, yayasan Alul Bait Li Ihyaitturats, cetakan pertama 1408 H.
  • Abu Ja’far Muhammad bin HAsan Thusi, Al Amali, Daruts Tsaqafah, Qom, cetakan pertama 1414 H.
  • Syeikh Mufid, Al Ikhtishas, Jam’eh Mudarrisin Hauzah Ilmiyah Qom.
  • Sayyid Murtadha, Al Amali, Maktabah Al Mar’asyi al Najafi, cetakan pertama 1403 H.
  • Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, Darul Ihyail Kutub al ‘Arabiyah.
Wallahu a’lam bish-shawabi

>Rendah hati (tawadhu – 3)

>

Dalam Dunia Pewayangan di Indonesia terutama Jawa, Sunda dan Bali terdapat tokoh khusus yang dinamakan Punakawan. Para tokoh dalam kelompok Punakawan ini memiliki karakter yang menarik karena mewakili simbol kerendah hatian dan penebar hikmah.

Bismillahirrahmanirrahiim
Andaikata kita benar-benar bisa menempatkan diri secara tepat sekali dalam hidup ini, niscaya hidup akan lebih ringan, lebih indah, dan lebih barokah. Sayang kita kadang tidak cukup waktu untuk mengenal diri sehingga kita merasa lebih dari kenyataan atau merasa lebih rendah dari karunia yang Allah berikan. Setidaknya inilah hikmah yang akan kita simak dalam kajian kitab Hikam kali ini.

“Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan. Sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak di tanam, maka tidak sempurna hasil buahnya.”

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang merendah diri, maka Allah akan memuliakannya. Dan siapa yang sombong, besar diri, Allah akan menghinanya.”

Saudaraku, akar yang menghujam ke dalam tanah membuat pohon kian kokoh. Tapi pohon yang akarnya jauh dari tanah, disiram air, pohon bisa rontok. Makin kokoh menghujam, dihempas badai, diterjang topan, ditiup angin, tidak goyah. Tampaknya, orang-orang yang benar-benar menikmati hidup buah dari amal adalah orang yang tawadhu; orang-orang yang rendah hati.

Saudara-saudaraku, banyak beramal tidak berarti langsung selamat. Sebelum amal terlaksana, tipu dayanya adalah enggan beramal dan niat yang salah yaitu ingin dipuji amal-amalnya sebagai kebaikan. Ketika sedang beramal, cobaannya adalah enggan menyempurnakan amal. Dan ketika selesai beramal, ada lagi cobaannya, yaitu menjadi ujub, merasa diri paling beramal dan merasa diri lebih dari orang lain. Semua ini benar-benar butuh perjuangan. Imam Ibnu Atailah menganjurkan agar kita tawadhu dengan menanam di bumi kerendahan hati agar sempurna amal-amal kita.

Jika kita benar-benar ingin menikmati tawadhu, beberapa rahasianya adalah,
pertama : kita harus selalu sadar bahwa yang membuat kita beramal bukan kita tapi taufik Allah. Kita bisa bersodaqoh, uangnya dari mana kalau tidak dititipi rejeki dari Allah. Andai kita punya uang, tapi Allah tidak memberikan jalan bagi kita karena orang-orang di sekitar kita tidak butuh, tidak akan keluar itu uang. Setelah ada rejeki, oleh Allah digerakkan untuk bertemu dengan orang yang perlu pembangunan masjid, ada yang perlu dilunasi hutang, itu Allah yang mengatur. Setelah kita bisa bersodaqoh, diringankan hati kita. Kan ada yang sodaqoh tapi hati jadi kesal. Oleh karena itu kita harus tahu rangkaian semua amal ini hanya Allah-lah yang berbuat. Tidak usah diingat-ingat, tidak usah di sebut-sebut amal kita karena Allah-lah sebetulnya yang membuat kita bisa beramal.

Seperti mutiara hikmah dari Syekh Ibrahim bin Asyam, “Tidak benar-benar bertujuan kepada Allah siapa yang ingin masyhur atau terkenal.”

Bahkan Syekh Ayyub Asy Syahtiani berkata, “Demi Allah, tiada seorang hamba yang sungguh-sungguh ikhlas kepada Allah, melainkan ia merasa senang, gembira, jika ia tidak mengetahui kedudukan dirinya.”

Ciri-ciri kita kurang ikhlas adalah, andaikata kita sudah merasa beramal. Apalagi kita merasa ikhlas. Orang yang merasa ikhlas, dia ingin diketahui oleh orang lain keikhlasannya, berarti belum ikhlas. Karena dia masih membutuhkan orang lain agar tahu bahwa dirinya ikhlas dan dia senang ketika dia diketahui ikhlas. Berarti dia belum ikhlas. Oleh karena itu orang-orang yang ingin menikmati ketawadhuan, lupakan siapa diri kita. Kalau kita seorang sarjana, jangan diingat-ingat kesarjanaan kita. Disisi Allah bukan kesarjanaan yang penting, tapi amal yang ikhlas. Kalau kita seorang yang sudah pernah bersodaqoh sebanyak apapun, lupakan! Kalau kita ingat-ingat, kita menjadi butuh diakui, butuh ditulis, butuh disebut-sebut, itu bisa merusak. Inilah cara yang kedua, yakni dengan melupakan jasa diri sendiri.

Makin kita mengingat-ingat otoritas kita, kedudukan kita, amal kita, makin kita ingat makin kita butuh diakui oleh makhluk, makin tidak ikhlas. Sesuatu yang layak kita ingat agar kita tawadhu, adalah ingat akan dosa-dosa kita. Berlatihlah untuk tawadhu dengan mengingat kekurangan kita.

Cara lainnya supaya kita tawadhu, sesudah yakin semua milik Allah dan tidak mengingat kebaikan jasa diri sendiri, maka cara yang ketiga adalah tidak melihat orang lain lebih rendah dari diri kita. Setiap melihat orang, cari titik kelebihannya.

Ketika melihat anak-anak, subhanallah mereka dosanya masih sedikit. Melihat ibunya, ingatlah tetesan darah, keringat, pengorbanan dan air mata, mungkin inilah yang akan mengangkat derajat seorang ibu walaupun amalnya masih terbatas. Melihat orang yang lebih tua, subhanallah, bapak-bapak ini tentu amalnya lebih banyak dari kita. Melihat orang yang baru belajar baca Quran, siapa tahu baru belajar tapi lebih takut kepada Allah daripada perasaan takut kita kepada Allah. Melihat pedagang kecil, siapa tahu dalam pandangan Allah dia mulia karena kejujurannya walaupun dagangannya sederhana. Melihat seorang guru, mungkin dia mengajar dengan ikhlas, sehingga boleh jadi muridnyalah yang kelak akan menjadi benteng bagi agama dan bangsa ini. Pendek kata, ketika melihat orang lain, lihatlah kelebihan dan kebaikannya. Makin senang melihat kelebihan dan jasa orang lain, kita akan makin senang menghormat orang dan jauh dari kesombongan. InsyaAllah makin tawadhu.

Nabi Muhammad SAW adalah orang yang memiliki puncak kemuliaan, puncak kedudukan. Beliau adalah seorang nabi dan rasul terakhir. Beliau adalah seorang pemimpin yang tangguh, tapi beliau adalah seorang yang sangat rendah hati. Beliau menyapa dengan ramah dan lembut kepada siapa pun penuh dengan rasa hormat. Tiada seorang pun yang berjumpa kepada beliau kecuali beliau menatap dengan wajah penuh senyuman dan cerah bagai purnama. Subhanallah! Beliau tidak membeda-bedakan tamu kaya dan miskin. Beliau menerima undangan walau hanya makanan yang amat sederhana. Beliau berjalan dengan suka cita walaupun diundang oleh sekedar hamba sahaya. Beliau tidak menjadi bangga dengan naik unta yang bagus dan tidak pernah malu dan minder dengan menunggang keledai walaupun hanya dibonceng. Di rumah nabi Muhammad yang amat sederhana, beliau menjahit sendiri terompahnya, merapikan kamarnya, memeras susu tanpa ingin menjadi beban. Jikalau beliau ke pasar, beliau lebih menyukai jika beliau membawa sendiri belanjaannya.

Jika beliau datang ke sebuah majelis, beliau tidak menyukai andaikata orang-orang berdiri untuk menyambutnya. Beliau ingin diperlakukan sama. Jikalau beliau berjalan, beliau tidak ingin dikawal agar kelihatan menjadi berwibawa. Nabi Muhammad tidak mengharapkannya. Jika mau masuk ke sebuah masjid dan beliau tidak kebagian tempat duduk, beliau tidak menginginkan duduk yang utama. Beliau duduk di mana saja. Bahkan beliau jika menyapa seseorang berusaha mendahului sapaannya. Menjawab dengan sempurna. Mengantar tamu sampai ke depan rumahnya. Beliau adalah orang yang setiap siapapun yang berjumpa dengannya selalu merasa puas akan sikapnya yang penuh kemuliaan dan rendah hati.

Tidak ada jalan bagi kesombongan untuk menjadi mulia. Kemuliaan, ketinggian hanyalah milik orang yang tawadhu.

Semoga Allah yang Maha Agung menjauhkan kita dari segala kesombongan yang amat hina dan memalukan. Tidak ada contoh kesombongan kecuali kesombongan yang dicontohkan oleh iblis yang akhirnya terkutuk. Oleh Firaun yang akhirnya terlaknat. Abu Jahal dan Abu Lahab yang akhirnya menjadi orang yang dihinakan dunia wal akhirat.

Laa ilaaha illa anta, subhaanaka innii kuntu minadz dzoolimiin.

Duhai yang Maha Mendengar, ampuni jikalau selama ini kami termasuk amat sombong dalam pandangan-Mu. Ampuni jikalau kami sering menbesar-besarkan diri kami dan meremehkan keagungan-Mu. Ampuni jika kami sering mendustakan kebenaranMu. Ampuni jikalau kami meremehkan agama-Mu ya Allah. Ampuni jikalau Engkau saksikan kami enggan menerima nasehat.

Saudara-saudaraku, alangkah indahnya jikalau kita termasuk orang yang ditatap oleh Allah. Apa yang harus kita sombongkan pada diri kita? Mudah-mudahan kerendahan hati kita memacu amal kebajikan yang kita lakukan. Menjadi amal yang diterima oleh Allah dan memperkokoh kehidupan kita. Selamat menikmati hidup dengan rendah hati.

Kajian Kitab Al-Hikam [www.mmmojolangu.co.cc]

>Mari Belajar Mengakui Kelebihan Orang lain (Tawadhu’ – 2)

>

Assalamu’alaikum wa rohmarullahi wa barokatuh….

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan hati sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berlaku zhalim atas yang lain.” 
(H.R. Muslim no. 2588)

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” 
(HR. Muslim no. 91 dari hadits Abdullah bin Mas’ud )

Fudhail bin ‘Iyadh, seorang ulama’ terkemuka ditanya tentang tawadhu’, maka beliau menjawab:
“Ketundukan kepada kebenaran dan memasrahkan diri kepadanya serta menerimanya dari siapapun yang mengucapkannya.”
(Madarijus Salikin 2/329)

Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin, Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa’ala aalihi washahbihii ajmai’iin. Saudaraku yang budiman, kualitas seseorang dapat dilihat dari kesanggupannya melihat kelebihan orang lain, mengenang jasa baik dan juga mengakui orang yang lebih berprestasi dari dirinya.

Mengakui kelebihan orang lain ternyata tidak semudah mengucapkannya. Karena mengakui kelebihan orang lain berarti benar benar menekan ego kita untuk menghargai suatu hal yang orang lain punya dan tidak kita punya.

Tantangan terbesarnya adalah karena setiap kali kita tidak mengakui kesuksesan orang lain, setiap kali itu juga kita tidak bisa belajar dari orang itu, dan setiap kali itu juga kita memberikan sebuah rasa nyaman dalam diri kita dengan memberikan alasan pembenaran kepada diri kita sendiri, mengapa kita tidak bisa mencapai hal itu, rasa nyaman yang memberikan sensasi ketenangan, namun membuat kita terus meringkuk di dalam zona nyaman kita yang pasti akan terus mengerut dan akhirnya semakin sempit.

Susah mengalahkan ego? ego adalah seperti hal lainnya yang bermata 2. di satu sisi dia akan menjadi sumber kekuatan yang tak berhingga, dan di sisi lain dia juga akan melakukan segala cara untuk mempertahankan harga dirinya. Dan salah satu caranya adalah pembenaran akan tindakan yang kita lakukan, pembenaran akan masalah yang kita buat sendiri, pembenaran akan keadaan sulit yang kita alami, dan pembenaran akan kesengsaraan akibat perbuatan kita sendiri.

Sebegitu sulitkah mengakui kelebihan orang lain? hal ini akan sangat sulit. Namun sekali saja kita merendahkan ego kita untuk orang lain, maka kebenaran yang dia ucapkan akan dapat kita tangkap. Kebenaran yang melimpah dan berserakan di semua ciptaannNya. mungkin kau kan dapatkan kebenaran dari anak kecil yang mengais ngais receh di lampu merah, atau mungkin dari seorang junkie yang mewasiatkan kita agar meninggalkan barang yang sedang dia nikmati, atau mungkin alkoholik yang melarang kita untuk mencoba minuman keras. Dengarkan, dengarkan…..

All you have to do is listen…
Tundukkan egomu, maka akan kau lihat kebenaran di segala sesuatu.
Dan kau kan menjadi manusia unggul yang ahli berintrospeksi….

Ketahuilah, bergaul dengan sesama manusia tidak akan ternikmati sepanjang kita tidak bisa menerima kenyataan ada orang yang lebih dari kita. Kita harus belajar menikmati bahwa kelebihan orang adalah karunia dari Allah untuk kita juga.

Kita bisa belajar dari orang-orang yang diberikan kelebihan oleh Allah dan kita harus belajar mengakui ada orang yang berjasa kepada kita. Sungguh aib orang yang ditolong tapi tidak pernah tahu berterima kasih. Kemuliaan seseorang bisa diukur dari bagaimana dia membalas budi baik orang lain, dan tidak mungkin kita membalas kebaikan orang kecuali kita mengawali dengan senang mengingat jasa baik orang lain.

Oleh karena itu jika kita ingin menikmati hidup dan ingin menikmati pergaulan, segeralah bersiap untuk menikmati kelebihan orang lain, bersiaplah untuk mengakui dan menghargai prestasi orang lain dan bersiaplah untuk selalu mengakui ada jasa-jasa orang lain kepada kita.

Kita tidak akan rugi dengan ikut berbahagia dan kita tidak akan rugi dengan menghormati jasa baik orang lain kepada kita bahkan sebaliknya kita akan beruntung jikalau merasa keuntungan dan kesuksesan orang lain menjadi bagian dari keberuntungan dan kesuksesan kita. Selamat menikmati kelebihan, jasa, dan prestasi saudara-saudara kita lainnya. Wallahu a’lam

Wassalamu’alaikum wa rohmarullahi wa barokatuh….

Oleh : Manajemen Qolbu Online – Komunitas Bening Hati

DOWNLOAD FILE pdf  MANAJEMEN QALBU

>Rendah hati (tawadhu)

>

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ , وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا , وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ ِللهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ
Tidak akan berkurang suatu harta karena dishadaqahkan, dan Allah tidak akan menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan dan tidaklah seseorang merendahkan hatinya karena Allah, melainkan Allah angkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 556 dari hadits Abu Hurairah )
  1. Rendah hati (tawadhu) adalah suatu kenikmatan yang tidak dimengerti oleh orang yang dengki.
  2. Sombong terhadap orang-orang yang sombong adalah tawadhu itu sendiri.
  3. Rendah hati termasuk salah satu cara mendapatkan kemuliaan.
  4. Rendah hati membawa kepada keselamatan.
  5. Tidak ada nasab (yang lebih mulia) seperti rendah hati.
  6. Buah dari rendah hati adalah (mendapatkan) kecintaan.
  7. Kerendahhatian seseorang di saat dia memiliki kedudukan menjadi perlindungan baginya ketika dia mengalami kejatuhan.
  8. Temuilah orang-orang ketika mereka butuh kepadamu dengan keceriaan dan kerendahhatian. Maka, jika engkau terkena suatu musibah dan keadaan buruk menimpamu, lalu engkau bertemu dengan mereka, maka engkau telah aman dan terlepas dari bahaya kehinaan karena kerendahhatianmu itu.[/*]
  9. Orang-orang golongan atas, jika mereka terdidik, mereka rendah hati; dan jika mereka menjadi miskin, mereka menyerang.
  10. Imam ‘Ali a.s. berkata kepada seseorang yang memuji-mujinya secara berlebihan, sementara kesetiaannya kepada beliau diragukan, “Aku tidak seperti yang kaukatakan, dan ‘di atas’ apa yang engkau sembunyikan di dalam hatimu.”
  11. Orang yang rendah hati seperti jurang yang di dalamnya berhimpun air hujan dan air hujan lainnya, sedangkan orang yang sombong seperti bukit yang tidak menetap di dalamnya air hujannya dan air hujan yang lainnya.
  12. Jika engkau telah melakukan segala sesuatu, maka jadilah seperti orang yang tidak melakukan apa pun.

Rendah hati (tawadhu’) merupakan sifat yang sangat terpuji di sisi Allah dan bahkan sangat didambakan oleh kita semua. Tawadhu’ akan melahirkan berbagai sikap-sikap mulia, seperti menghargai pihak lain, tidak memotong suatu pembicaraan, saling menjaga dan menghormati perasaan masing-masing, anak kecil bersikap sopan santun kepada yang lebih berusia darinya, orang dewasa/tua pun bersikap kasih sayang kepada yang dibawahnya, serta merasa bahwa diri ini tidak ada yang sempurna, semua serba kurang dan tidak mungkin hidup sendiri-sendiri tanpa bekerja sama dengan selainnya. Bila sikap tawadhu’ ini tercermin pada diri kita niscaya akan terwujud sebuah kehidupan yang diliputi mawaddah wa rahmah (kehidupan sakinah yang penuh cinta kasih).

Hal ini sebagaimana petuah Al Imam Asy Syafi’i:

التَّوَاضُعُ يُوْرِثُ الْمَحَبَّةَ
“Sifat tawadhu’ akan melahirkan cinta kasih.”

Seiring dengan semakin tuanya zaman ini, terasa semakin sulit pula mencari dan menikmati suasana yang sakinah (tentram dan nyaman). Oleh karena itu dalam kajian ini akan dikupas secara ringkas tentang betapa urgennya (pentingnya) sikap tawadhu’ dan betapa besar pula pengaruhnya terhadap kemashlahatan (kebaikan) umat.

Perintah Tawadhu’ Sifat tawadhu’ merupakan sifat yang sangat dianjurkan, Allah berfirman (artinya):
“Janganlah kalian memuji diri kalian. Dia lah yang paling tahu tentang orang yang bertaqwa.” (An Najm: 32)

Demikianlah, Allah menutup pintu-pintu yang menjurus kepada takabbur (sombong) dengan melarang dari memuji-muji diri sendiri karena dari sinilah benih takabbur (sombong) datang.

Allah juga memerintahkan Rasul-Nya untuk berhias dengan akhlaq yang mulia ini, sebagaimana firman-Nya yang mulia (artinya):
Rendahkanlah hatimu terhadap orang yang mengikutimu (yaitu) dari kalangan mu’minin.” (Asy Syu’ara’: 215)

Begitu juga Rasulullah , beliau senantiasa memerintahkan para shahabatnya untuk bersikap tawadhu’. Iyad bin Himar menceritakan bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ , وَ لاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan hati sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berlaku zhalim atas yang lain.” (H.R. Muslim no. 2588)

Dari hadits ini kita dapat mengambil faedah yang cukup banyak diantaranya, bahwa tawadhu’ merupakan jembatan menuju keharmonisan, saling menghargai, keadilan dan kebajikan sehingga mewujudkan kondisi lingkungan masyarakat yang lebih dinamis dan kondusif. Hakekat Tawadhu’ Hakekat tawadhu’ adalah tunduk kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya, baik ketika ia suka ataupun duka. Merendahkan hati di hadapan sesamanya dan tidak menganggap dirinya berada di atas orang lain dan tidak pula merasa bahwa orang lain yang butuh kepadanya.

Fudhail bin ‘Iyadh, seorang ulama’ terkemuka ditanya tentang tawadhu’, maka beliau menjawab:
Ketundukan kepada kebenaran dan memasrahkan diri kepadanya serta menerimanya dari siapapun yang mengucapkannya.” (Madarijus Salikin 2/329)

Lawan dari sifat tawadhu’ adalah takabbur (sombong), sifat yang dibenci Allah dan Rasul-Nya . Rasulullah telah mendefinisikan sombong dengan sabdanya:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَ غَمْطُ النَّاسِ

Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91 dari hadits Abdullah bin Mas’ud )

Maka wajib bagi setiap mukmin untuk menerima kebenaran dari siapapun. Walaupun kebenaran itu bertentangan dengan keyakinannya, maka sesungguhnya ini merupakan kemuliaan baginya di sisi Allah dan di sisi makhluq-Nya dan lebih menjaga kehormatannya. Dan jangan sekali-kali beranggapan bahwa kembali kepada kebenaran itu hina, justru dengan demikian akan mangangkat derajat dan menambah kepercayaan orang. Adapun yang enggan dan tetap mempertahankan kesalahannya serta menolak kebenaran, maka ini adalah takabbur. Saudaraku! Marilah kita renungkan kembali kehidupan umat-umat terdahulu. Iblis, apa yang menyebabkannya terkutuk? Begitu juga Fir’aun dan bala tentaranya, serta Qarun beserta anak buahnya dan harta yang selalu dibanggakannya? Mereka adalah orang-orang yang telah dikutuk/dibinasakan oleh Allah disebabkan selalu menentang kebenaran dengan kesombongan dan membuang jauh-jauh sifat tawadhu’.

Pemilik Sifat Tawadhu’ Kemuliaan tawadhu’ sering tercermin pada manusia pilihan baik pada umat ini ataupun umat sebelumnya. Ingatlah ketika Luqman Al Hakim, seorang hamba yang shalih menasehati anaknya (artinya):
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan jangan pula kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang angkuh dan menyombongkan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.” (Luqman: 18-19)

Ulama Ahli Tafsir menerangkan bahwa maksud ’sederhanalah kamu dalam berjalan’ adalah berjalanlah dengan tawadhu’ dan tenang, serta tidak berjalan dengan menyombongkan diri. Begitu juga Rasulullah , sebagai manusia terbaik dan teladan bagi umat manusia, beliau menolak julukan/gelar yang berlebihan untuk diri beliau. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh Anas bin Malik , bahwa orang-orang pernah berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik di antara kami, anak orang yang terbaik di antara kami, wahai junjungan kami, anak junjungan kami.” Maka beliau pun bersabda:

يَآأَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ ، لاَيَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ أَناَ مُحَمَّدٌ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ
Wahai manusia, katakanlah dengan perkataan kalian (yang benar yaitu yang pertama; ‘wahai Rasulullah atau wahai Nabiyullah, -pent). Jangan sampai kalian dijerumuskan syaithan. (Hanyalah) aku ini Muhammad, hamba dan utusan Allah. Aku tidak suka jika kalian mengangkat derajatku di atas derajat yang telah diberikan oleh Allah kepadaku.” (HR. An Nasa’i ) Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan tawadhu’nya Rasulullah .

Dan di antara sifat tawadhu’ Nabi adalah kebiasaan beliau yang senantiasa memberikan pelayanan kepada keluarganya. Aisyah, istri Rasulullah pernah ditanya tentang apa yang dikerjakan beliau ketika di rumah, maka Aisyah menjawab:

يَكُوْنُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ
Beliau selalu berkhidmat kepada keluarganya dan apabila datang waktu shalat, beliau keluar untuk menunaikannya.” (HR. Al Bukhari )

Dan di antara sifat tawadhu’ beliau, sebagaimana yang dikisahkan oleh Anas bin Malik , beliau berkata:

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ يَزُوْرُ الأَنْصَارَ فَيُسَلِّمُ عَلَىصِبْيَانِهِمْ وَيَمْسَحُ بِرُؤُسِهِمْ وَيَدْعُو لَهُمْ
Rasulullah biasa mengunjungi orang-orang Anshar lalu megucapkan salam pada anak-anak mereka, mengusap kepala mereka dan mendo’akan kebaikan untuk mereka.” (HR. An Nasa’i)

Keteladanan yang baik ini juga diikuti oleh shahabatnya. Anas bin Malik pernah melewati kerumunan anak-anak, lalu beliau mengucapkan salam dan mendo’akan mereka. Kemudian beliau mengatakan:

كَانَ النَّبِيُّ يَفْعَلُهُ  
“Nabi biasa melakukannya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Ini merupakan sikap tawadhu’ dan akhlaq yang baik, serta termasuk pendidikan, pengajaran dan termasuk bimbingan kepada anak-anak, disebabkan apabila anak-anak diberi salam, maka mereka akan terbiasa dengannya dan menjadi sesuatu yang tertanam dalam jiwa mereka.” (Syarh Riyadhush Shalihin) Sikap tawadhu’ beliau juga ditunjukkan ketika makan.

Mari kita perhatikan penuturan Anas bin Malik berikut ini: “Apabila Rasulullah makan, beliau menjilati ketiga jari-jarinya.” Kemudian Anas mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Apabila suapan salah seorang di antara kalian jatuh, maka ambillah dan bersihkan kotorannya, serta makanlah dan jangan membiarkan makanan itu dimakan setan.” Anas berkata: “Beliau juga menyuruh agar membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di piring. Beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak tahu, bagian manakah dari makanan tersebut yang mengandung barakah.”(HR. Muslim no. 2034)

Hadits ini disebutkan oleh Al Imam An Nawawi di dalam Riyadhush Shalihin bab At Tawadhu’ dan Merendahkan Hati Terhadap Kaum Mukminin. Begitu banyak teladan yang baik dari orang-orang terbaik yang melambangkan sikap tawadhu’. Semua ini tiada menambah mereka kecuali kemuliaan demi kemuliaan. Tinggallah kembali pada diri kita. Sudahkah kita memilikinya?

Keutamaan Tawadhu’ Sikap tawadhu’ akan menghasilkan buah yang luar biasa baik di dunia maupun di akhirat kelak. Diantaranya:

1. Allah akan meninggikan derajat orang yang tawadhu’.
Sifat tawadhu’ bukanlah suatu kehinaan, justru dengan ketawadhu’an dapat mengangkat derajat seseorang. Kenapa? Karena pada dasarnya setiap manusia menginginkan untuk dihormati, dan diperlakukan sama dengan pihak lainnya. Sehingga bila ada seseorang yang selalu berhias dengan sikap tawadhu’, menghormati orang lain, tidak meremehkannya, menghargai pendapatnya, tentu pihak lainnya pun akan memperlakukan sama bahkan bisa lebih dari itu. Hal ini merupakan suatu realita yang dapat disaksikan dalam kehidupan ini. Seseorang yang memiliki sifat mulia ini akan menempati kedudukan yang tinggi di hadapan manusia, akan disebut-sebut kebaikannya dan akan dicintai oleh mereka. Berbeda dengan orang yang sombong, orang-orang akan menganggapnya rendah sebagaimana dia menganggap orang lain rendah, tidak akan disebut-sebut kebaikannya dan orang-orang pun membencinya.

Oleh karena itu Rasulullah bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ , وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا , وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ ِللهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ
Tidak akan berkurang suatu harta karena dishadaqahkan, dan Allah tidak akan menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan dan tidaklah seseorang merendahkan hatinya karena Allah, melainkan Allah angkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 556 dari hadits Abu Hurairah )

2. Meraih al jannah.
Tentu orang-orang yang selalu berhias dengan sikap tawadhu’, mereka itu adalah sebenar-benarnya mushlihun. Yaitu orang-orang yang suka mendatangkan kebaikan dan kedamaian. Karena sikap tawadhu’ tersebut akan melahirkan akhlak-akhlak terpuji lainnya dan akan menjauhkan orang-orang yang berhias dengannya dari sikap-sikap amoral (negatif) yang dapat merusak keharmonisan masyarakat. Oleh karena itu Allah menjanjikan al jannah bagi orang-orang yang memiliki sikap tawadhu’ bukan kepada orang-orang yang sombong, sebagaiamana dalam firman-Nya (artinya):
Itulah negeri akhirat yang Kami sediakan (hanya) untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu (hanya) bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al Qashash: 83)

Rasulullah bersabda:

لاَيَدْخُلُ الجنَّةَ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk al jannah barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar semut.” (H.R. Muslimin no. 91)

Demikianlah kajian kali ini, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amien, Ya Rabbal Alamin.

>Semua Orang Bisa Marah

>

Semua orang bisa marah-itu perkara mudah. Tapi untuk dapat marah pada orang yang tepat dan kadar yang tepat dan pada waktu yang tepat untuk tujuan yang tepat dan dengan cara yang tepat – tidak semua orang dapat melakukannya dan itu bukanlah hal yang mudah.

Anybody can become angry – that is easy, but to be angry with the right person and to the right degree and at the right time and for the right purpose, and in the right way- that is not within everybody’s power and is not easy. Aristoteles

Ketika bepergian dengan seorang teman dari Gresik ke Surabaya, saya duduk di kursi penumpang sedangkan teman saya menyetir. Jalanan agak ramai. Saat mobil melaju dengan kecepatan sedang, tiba-tiba saja sebuah motor berkelebat menyalip dari sisi kanan mobil dan langsung masuk ke jalur mobil kami karena dari arah berlawanan ada kendaraan yang melaju kencang. Spontan teman saya menginjak rem, membunyikan klakson keras-keras, sambil mengumpat tak terkendali.

Selang beberapa menit, ketika dia sudah tidak emosi saya iseng bertanya. “Memang apa pengaruhnya kalau kamu marah-marah begitu, sambil membunyikan klakson keras-keras? Apakah si pengendara motor berhenti dan minta maaf?”

Agak terdiam teman saya itu menjawab bahwa marah ia keluarkan sebagai ungkapan kekesalan karena melihat orang ugal-ugalan. Saya pernah mengalami hal serupa. Lalu ditanya pertanyaan serupa. Saya menjawab yang mirip dengan teman saya itu. Si penanya, orang biasa namun sudah sepuh dan mendalami Meditasi, tidak membenarkan atau menyalahkan atas sikap dan jawaban saya.

Marah memang menjadi pelampiasan atas kekesalan hati. Namun sadarkah bahwa dengan marah kamu kehilangan banyak energi? Pikiran kita menjadi tidak tenang, tidak fokus. Dalam banyak hal, marah bukan solusi. Jika kamu marah-marah sambil mengemudi seperti ini bisa-bisa malah menimbulkan celaka. Lalu, apakah dengan marah-marah lalu lintas menjadi seperti yang kamu inginkan?” bapak di samping saya itu bertutur dalam irama yang terjaga.

Saya jadi teringat dengan ucapan seorang motivator. “Apa yang di luar kuasamu, lupakanlah. Jangan kamu pikirkan sebab akan menguras energimu.” Motivator ini bercerita tentang hilangnya barang-barang berharga miliknya karena dirampok. Setelah melapor ke polisi dia pun melupakannya. Tak mau mengingat-ingat atau menyesali keteledorannya. Buat apa? Begitu katanya. Apakah dengan segala penyesalan atau sumpah serapah ke perampok akan mengembalikan barang-barangnya?

Semenjak itu saya berusaha untuk meredam marah. Terlebih saat mengendarai kendaraan. Jika sedang dalam kemacetan dan ada mobil lain menyodok ingin merebut posisi ya kalau masih dalam batas kewajaran ya saya biarkan saja. Enjoy aja! Begitu juga jika terpaksa harus berhenti di belakang angkutan kota yang sedang menurunkan penumpang tapi tidak meminggirkan kendaraannya, saya tidak membunyikan klakson berkali-kali. Jika emosi langsung menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Berilah saya nasihat.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari). Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.”

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah menasihatkan, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad, Shohih)

Dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, “Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thobrani, Shohih)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh juga mengatakan, “Bukanlah maksud beliau adalah melarang memiliki rasa marah. Karena rasa marah itu bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi maksudnya ialah kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itulah anda bisa melihat kalau orang sedang marah maka kedua matanya pun menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang. Bahkan terkadang rambutnya ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Dan berbagai hal lain yang tidak terpuji timbul di belakangnya. Sehingga terkadang pelakunya merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan.”

Hanya seorang yang pemarah yang bisa betul-betul bersabar. Seseorang yang tidak bisa merasa marah -tidak bisa disebut penyabar; karena dia hanya tidak bisa marah. Sedang seorang lagi yang sebetulnya merasa marah, tetapi mengelola kemarahannya untuk tetap berlaku baik dan adil adalah seorang yang berhasil menjadikan dirinya bersabar.

Dan bila Anda mengatakan bahwa untuk bersabar itu sulit, Anda sangat tepat; karena kesabaran kita diukur dari kekuatan kita untuk tetap mendahulukan yang benar dalam perasaan yang membuat kita seolah-olah berhak untuk berlaku melampaui batas.

Kesabaran bukanlah sebuah sifat, tetapi sebuah akibat.
Perhatikanlah bahwa kita lebih sering menderita karena kemarahan kita, daripada karena hal-hal yang membuat kita merasa marah. Perhatikanlah juga bahwa kemarahan kita sering melambung lebih tinggi daripada nilai dari sesuatu yang menyebabkan kemarahan kita itu, sehingga kita sering bereaksi berlebihan dalam kemarahan.

Hanya karena Anda menyadari dengan baik tentang kerugian yang bisa disebabkan oleh reaksi Anda dalam kemarahan, Anda bisa menjadi berhati-hati dalam bereaksi terhadap apa pun yang membuat Anda merasa marah. Kehati-hatian dalam bereaksi terhadap yang membuat Anda marah itu lah yang menjadikan Anda tampil sabar.

Kemarahan adalah sebuah bentuk nafsu.
Nafsu adalah kekuatan yang tidak pernah netral, karena ia hanya mempunyai dua arah gerak; yaitu bila ia tidak memuliakan, pasti ia menghinakan. Nafsu juga bersifat dinamis, karena ia menolak untuk berlaku tenang bila Anda merasa tenang. Ia akan selalu memperbaruhi kekuatannya untuk membuat Anda memperbaruhi kemapanan Anda.

Maka perhatikanlah ini dengan cermat; bila Anda berpikir dengan jernih dalam memilih tindakan dan cara bertindak dalam kemarahan, nafsu itu akan menjadi kekuatan Anda untuk meninggalkan kemapanan Anda yang sekarang untuk menuju sebuah kemapanan baru yang lebih tinggi.

Tetapi, bila Anda berlaku sebaliknya, maka ke bawahlah arah pembaruan dari kemapanan Anda. Itu sebabnya, kita sering menyaksikan seorang berkedudukan tinggi yang terlontarkan dari tingkat kemapanannya, dan kemudian direndahkan karena dia tidak berpikir jernih dalam kemarahan.

Dan bila nafsunya telah menjadikannya seorang yang tidak bisa direndahkan lagi, dia disebut sebagai budak nafsu.

Kualitas reaksi Anda terhadap yang membuat Anda marah, adalah penentu kelas Anda.

Kebijakan para pendahulu kita telah menggariskan bahwa untuk menjadi marah itu mudah, dan patut bagi semua orang. Tetapi, untuk bisa marah kepada orang yang tepat, karena sebab yang tepat, untuk tujuan yang tepat, pada tingkat kemarahan yang tepat, dan dengan cara yang tepat -itu tidak untuk orang-orang kecil.

Maka seberapa besarkah Anda menginginkan diri Anda jadinya?
Memang pernah ada orang yang mengatakan bahwa siapa pun yang membuat Anda marah telah mengalahkan Anda. Pengamatan itu tepat-hanya bila Anda mengijinkan diri Anda berlaku dengan cara-cara yang merendahkan diri Anda sendiri karena kemarahan yang disebabkan oleh orang itu. Itu sebabnya, salah satu cara untuk membesarkan diri adalah menghindari sikap dan perilaku yang mengecilkan diri.

Kita sering merasa marah karena orang lain berlaku persis seperti kita.
Perhatikanlah, bahwa orang tua yang sering marah kepada anak-anaknya yang bertengkar adalah orang tua yang juga sering bertengkar dengan pasangannya.

Bila kita cukup adil kepada diri kita sendiri, dan mampu untuk sekejap menikmati kedamaian kita akan melihat dengan jelas bahwa kita sering menuntut orang lain untuk berlaku seperti yang tidak kita lakukan.

Dan dengannya, bukankah kemarahan Anda juga penunjuk jalan bagi Anda untuk menemukan perilaku-perilaku baik yang sudah Anda tuntut dari orang lain,tetapi yang masih belum Anda lakukan?

Lalu, mengapakah Anda berlama-lama dalam kemarahan yang sebetulnya adalah tanda yang nyata bahwa Anda belum memperbaiki diri?

Katakanlah, tidak ada orang yang cukup penting 
yang bisa membuat saya marah dan berlaku rendah.

Bila Anda seorang pemimpin, dan Anda telah menerima tugas untuk meninggikan orang lain; maka tidak ada badai, gempa, atau air bah yang bisa membuat Anda mengurangi nilai Anda bagi kepantasan untuk mengemban tugas itu.

Ingatlah, bahwa orang-orang yang berupaya mengecilkan Anda itu adalah sebetulnya orang-orang kecil.

Karena, orang-orang besar akan sangat berhati-hati dengan perasaan hormat Anda kepada diri Anda sendiri. Bila mereka marah pun kepada Anda, mereka akan berlaku dengan cara-cara yang mengundang Anda untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Sedangkan orang kecil? Orang-orang kecil membuat orang lain merasa kecil agar mereka bisa merasa besar.

Anda mengetahui kebesaran yang dijanjikan untuk Anda. Maka besarkanlah orang lain.

Tips menanggulangi kemarahan
Syaikh Wahiid Baali hafizhohulloh menyebutkan beberapa tips untuk menanggulangi marah.
Diantaranya ialah :

  1. Membaca ta’awudz yaitu, “A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim”.
  2. Mengingat besarnya pahala orang yang bisa menahan luapan marahnya
  3. Mengambil sikap diam, tidak berbicara
  4. Duduk atau berbaring
  5. Memikirkan betapa jelek penampilannya apabila sedang dalam keadaan marah
  6. Mengingat agungnya balasan bagi orang yang mau memaafkan kesalahan orang yang bodoh
  7. Meninggalkan berbagai bentuk celaan, makian, tuduhan, laknat dan cercaan karena itu semua termasuk perangai orang-orang bodoh.

Syaikh As Sa’di rohimahulloh mengatakan, “Sebaik-baik orang ialah yang keinginannya tunduk mengikuti ajaran Rasul shollallohu ‘alaihi wa sallam, yang menjadikan murka dan pembelaannya dilakukan demi mempertahankan kebenaran dari rongrongan kebatilan. Sedangkan sejelek-jelek orang ialah yang suka melampiaskan hawa nafsu dan kemarahannya. Laa haula wa laa quwwata illa billaah” (lihat Durrah Salafiyah).

Nabi bersabda:
Barangsiapa menahan kemarahan padahal ia mampu memuntahkannya, maka Allah kelak akan memanggilnya di hadapan makhluk-makhluk hingga Allah memperkenankan kepadanya untuk memilih bidadari yang dikehendakinya” (HR.Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah)

Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah akan mengampuni kalian? Dan sesungguhnya Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang” (Qs. An Nur: 22)

Hai orang-orang mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS. At Taghaabun 64:14 )

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ , وَشَرِّ عِبَادِهِ , وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنَ

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kemarahan, siksaan dan kejahatan hamba-hamba-Nya dan dari godaan setan serta jangan sampai setan mendatangiku”
 (HR. Abu Dawud: 4/12. Shahih Tirmidz:i 3/171

>Suka Memaafkan & Lapang Dada Adalah Ciri Khas Warga NAQS DNA (Zona Quantum Ikhlas)

>

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah r, kepada keluarga, shahabat serta kepada orang-orang yang menjadikan mereka sebagai panutan…Amma ba’du

Diantara akhlak yang derajatnya paling agung adalah memberikan maaf dikala mampu, inilah ibadah yang banyak ditinggalkan. Selain itu, ia merupakan bagian dari sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya yang mulia. Dialah Allah Yang Maha suci dari segala kekurangan yang memiliki nama Al-Afu dan Al-Qodir, yaitu Zat Yang Maha Memberikan maaf setelah Dia mampu membalas perbuatan dosa dan memberikan siksa atas segala kemaksiatan.

Memberikan maaf dengan tanpa kemampuan bisa jadi karena faktor kelemahan dan paksaan, akan tetapi memaafkan yang di sertai dengan kemampuan untuk membalas tidak di ragukan lagi bahwa inilah sifat yang agung yang dimiliki Allah, dimana terkandung di dalamnya sifat kesempurnaan, Dia dzat Allah yang Maha suci yang mencintai sifat memaafkan, Dia juga mencintai bila melihat hamba-Nya memberikan maaf atas kesalahan yang dilakukan manusia.

Keutamaan memberikan maaf

Allah (swt) berfirman tentang keutamaan memaafkan:

وإن تعفوا وتصفحوا وتغفروا فإن الله غفور الرحيم
Dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang” (Qs. At Taghobun: 14)

Dan Allah  berfirman:

وليعفوا وليصفحوا ألا تحبون أن يغفر الله لكم والله غفور رحيم
Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah akan mengampuni kalian? Dan sesungguhnya Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang” (Qs. An Nur: 22)

Nabi r bersabda:
Barangsiapa menahan kemarahan padahal ia mampu memuntahkannya, maka Allah U kelak akan memanggilnya di hadapan makhluk-makhluk hingga Allah memperkenankan kepadanya untuk memilih bidadari yang dikehendakinya” (HR.Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah)

Hendaknya seorang muslim mengetahui bahwa dengan memberikan maaf ia akan mendapatkan kemuliaan dari Allah, dan semua orang akan menghormatinya serta orang yang menjelekkan akan datang kepadanya untuk meminta maaf.

ادفع بالتي هي أحسن فإذا الذي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-oleh telah menjadi teman setia” (Qs. Fussilat: 34)

Nabi r bersabda:

ما نقصت صدقة من مال, وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا, وما تواضع عبد لله إلا رفعه الله 
Tidaklah shodaqoh itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan sifat memaafkan kecuali kemuliaan, serta tidaklah seorang hamba merendahkan diri karena Allah melainkan Allah meninggikan derajatnya“. (HR. Muslim)

Dan Allah telah mendidik atau mengajari Rasul-Nya kepada akhlak yang agung ini, Allah berfirman kepada Rasul-Nya:

خذ العفو وأمر بالمعرف وأعرض عن الجاهلين
Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang-orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (Qs.Al A’rof: 199)

Allah  berfirman:

فمن عفا وأصلح فأجره على الله
Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah”. (Qs. As Syuro: 40)

Rasulullah r telah memberikan kabar gembira kepada seseorang selama tiga hari berturut-turut bahwa ia akan masuk surga, padahal dia bukanlah orang memiliki banyak sholat, puasa dan shodaqoh, ia juga tidak banyak melaksanakan sholat sunnah pada malam hari juga sholat sunnah-shalat sunnah lainnya, akan tetapi ia diberitahukan bahwa dia akan masuk surga dan ia mendengar berita tersebut secara langsung. Ketika Ibnu Umar t meneliti kebenaran kabar tersebut, ia mendapatkan bahwa orang tersebut tidak tidur melainkan ia telah memaafkan kesalahan manusia semuanya, ia berkata:

اللهم إني قد تصدقت بعرضي على الناس وعفوت عمن ظلمني
Ya Allah, sesungguhnya aku telah mensodaqohkan kehormatanku kepada manusia dan aku maafkan orang yang telah berbuat zalim kepadaku“.

Hendaknya seorang muslim rendah hati, lemah lembut, murah hati, bertaqwa, mudah memaafkan, dekat dengan manusia, menyintai mereka, dermawan, memberi nasehat, menyadari uzur-uzur setiap orang lain melakukan kesalahan terhadap dirinya sambil berkata: Bilamana terdapat tindakan orang lain yang menimbulkan kemarahan bagi dirinya, maka hal dari syetan bukan dari mereka, bahkan syetanlah yang membujuknya dan dia juga yang mendorong terjadinya hal tersebut. Barangsiapa yang berusaha mendidik dirinya dengan ibadah seperti ini maka ia akan hidup tenang, tidur dan bangun dalam keadaan lega.

Imam Ibnu Qoyyim berkata: Wahai Anak Adam!. Sesungguhnya diantara Allah dan dirimu terdapat berbagai kesalahan dan dosa-dosa yang mana tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan sesungguhnya engkau senang apabila Allah mengampuni (dosa-dosa tersebut) bagimu, bilamana engkau senang jika Allah mengampuni (dosa-dosa tersebut) bagimu, maka maafkanlah kesalahan hamba-hambaNya. Bilamana engkau senang jika Allah mengampuni dosa-dosamu, maka ampunilah kesalahan hamba-hambaNya, sebab suatu balasan akan sesuai dengan jenis amal perbuatan….. jika engkau memberikan ampunan disini maka engkau akan diampuni di sana… bila engkau dendam di sini maka akan di balas di sana, bila engkau meminta hak disini maka dirimu akan dituntut di sana.

Bilamana Islam telah menetapkan hak bagi orang yang didzolimi untuk membalas orang yang berbuat dzalim, yaitu sebuah kejahatan dibalas dengan balasan yang sesuai dengan tuntutan keadilan, maka memberikan ampun dan maaf tanpa terdorong untuk membelas kedzaliman dan menuntut secara terus-menerus, maka itu lebih mulia dan lebih penyayang. Allah  berfirman:

والذين إذا أصابتهم البغي هم ينتصرون, وجزاء سيئة سيئة مثلها فمن عفا وأصلح فأجره على الله, إنه لا يحب الظالمين, ولمن انتصر بعد ظلمه فأولئك ما عليهم من سبيل, إنما السبيل على الذين يظلمون الناس ويبغون في الأرض بغير الحق أولئك لهم عذاب أليم, ولمن صبر وغفر إن ذلك من عزم الأمور
Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka di perlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di atas bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan“. (Qs. As Syuro:39-43)

Maka firman Allah  “Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka di perlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa”. Merupakan pembenaran terhadap hak orang-orang mukmin dalam membela diri-diri mereka bilamana mereka dizalimi, kemudian dilanjutkan dengan meletakkan batasan yang mengikat wujud bentuk membela diri ini, yaitu sebuah batasan tidak boleh dilanggar.

Kemudian Allah memperlihatkan kedudukan ihsan bahkan memberikan semangat untuk mengerjakannya, Allah berfirman: “Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah”. lalu diikuti dengan pemberitaan terhalangnya orang-orang zalim dengan tidak mendapatkan kecintaan dari Allah: “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”.

Setelah itu nash atau ayat kembali memberitahukan hak orang-orang yang di zalimi untuk membela diri mereka, juga memberitahukan dengan sangat akan pentingnya orang-orang zalim mendapatkan balasan di dunia dan siksa yang pedih di akhirat.

Allah berfirman: ” Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di atas bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih”.

Lalu ayat ini juga tidak meninggalkan untuk menjelaskan tingkatan keadilan, dimana semua pandangan secara umum tertuju kepadanya, bahkan mendorong untuk kedua kalinya kepada tingkatan ihsan dengan cara bersabar dan memaafkan, di mana dijelaskan bahwa tindakan itu termasuk perkara diutamakan. “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”.

Begitulah sifat ini diceritakan di dalam nas dengan gambaran yang sangat yang saling terkait dan berhubungan, di dalamnya terdapat penjelasan yang sangat indah dan menarik. Terlihat bahwa ayat tersebut sedang menanggulangi gelombang kejiwaan dengan sapaan yang lembut, pengarahan yang halus sambil mempertimbangkan penderitaan orang yang dizalimi, dan memandang keji dan kejam kepada orang yang zalim. Dan setelah itu ayat di atas menjelaskan tentang keberhakan orang yang dizalimi untuk membela diri mereka dengan hak, lalu kembali mendorong mereka dengan lembut untuk bersabar dan menganjurkan untuk memberikan maaf. Semua peristiwa di atas dibingkai dalam nilai keadilan dan ihsan.

Kemudian di dalam yang ayat lain, Al Qur’an menjelaskan tentang pahala bagi mereka yang memaafkan manusia di akhirat kelak:

وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموات والأرض أعدت للمتقين, الذين ينفقون في السراء والضراء والكاظمين الغيظ والعافين عن الناس والله يحب المحسنين
Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan-mu dan kepada surga yang luasnya seperti seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maipun di kala sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Qs. Ali Imron: 133-134)

Memaafkan merupakan bukti bagi kemuliaan jiwa

Sesungguhnya orang-orang yang dermawan dalam memberikan maaf maka dia adalah seorang hamba, yang jiwanya mulia, semangatnya tinggi, dan memiliki sifat sabar dan santun yang besar. Muawiyah t berkata: “Hendaklah kalian bersikap santun dan bersabar sehingga kesempatan tersebut terbuka bagi kalian, bila aku memberikan kekuasaan kepada kalian, maka hendaklah kalian membekali diri dengan suka memberi maaf dan bersikap dermawan (dengan kebaikan).

Pada saat didatangkan kepada Abdul Malik bin Marwan beberapa tawanan Ibnu Atsasy, semasa terjadinya fitnah, Abdul Malik berkata kepada Roja’ bin Hayawah: Bagaimana pendapatmu?”. Ia menjawab: “Sesungguhnya Allah telah memberikan bagimu apa yang engkau senangi dari kemenangan, maka persembahkanlah kepada Allah apa yang Dia senangi dari pemberian memberi maaf (kepada para tawanan), lalu beliau mengampuni mereka semua“.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata:

Mereka berkata: kau diam, kau dimusuhi. Ku katakan bagi mereka
Sesungguhnya membalas suatu kejelekan merupakan sebuah pintu
Sesungguhnya memaafkan orang bodoh atau tolol itu termasuk adab
Benar, sebab dengannya kemuliaan diri terjaga dan dapat diperbaiki
Sesungguhnya singa-singa itu sangat ditakuti padahal mereka terdiam
Walau anjing menjulurkan lidahnya, tetap di lempar saat menggonggong

Sesungguhnya tanda seorang mu’min yang sholeh, mudah mema’afkan, lemah lembut, menghendaki keridoan Allah dan balasan di akhirat, adalah senantiasa membersihkan jiwanya dari egoisme dan kepentingan-kepentingan pribadinya, mengutamakan keridhoaan Tuhannya, sangat ingin diampuni dosa-dosanya, dima’afkan kesalahan-kesalahannya. Maka dengan demikian ia telah diberi anugrah jiwa yang dirido’i, mendahulukan balasan dimasa yang akan datang (akhirat) dari balasan di masa sekarang (dunia), menembus dengan kekuatan menusuk hati manusia yang dalam, sehingga ia meminpin mereka untuk menegakkan kebenaran dan mempertahankannya, tegak berdiri dengan memuliakan dan mengagungkan orang yang senantiasa menjadikan ini sebagai petunjuk dan agamanya.

Wahai pemilik hati yang bersih, engkau adalah pilihan Allah, para shahabat telah bertanya kepada Rasulullah r tentang orang yang paling utama, beliau menjawab:

كل مخموم القلب صدوق اللسان, قالوا: صدوق اللسان نعرفه: فما مخموم القلب؟ قال: التقي النقي الذي لا إثم فيه ولا بغى ولا غل ولا حسد.
“Setiap hati yang bersih, jujur lidahnya, Mereka berkata: Kami mengetahui orang yang jujur lidahnya: apa yang disebut dengan hati yang bersih? Beliau menjawab: Hati yang bertaqwa, suci, yang tidak ada dosa di dalamnya, tidak ada aniaya, iri dan dengki” (Dishohihkan oleh Al Albani dalam kitab As silsilah (2))

Kemudian kami katakan: Sesungguhnya selamatnya hati merupakan salah satu sebab yang agung bagi diterimanya amal sholeh. Nabi r bersabda:

تعرض الأعمال كل يوم اثنين وخميس فيغفر الله U في ذلك اليوم لكل امرئ لا يشرك بالله شيئا إلا امرؤ كانت بينه وبين أخيه شحناء, فيقول: أنظروا هذين حتى يصطلحا
Amal perbuatan diperlihatkan (dihadapan Allah) setiap hari senin dan kamis, kemudian pada hari itu Allah U mengampuni dosa setiap orang yang tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun kecuali orang yang terdapat diantara dia dan saudaranya permusuhan, Allah berfirman: Tangguhkanlah dari kedua orang ini hingga keduanya berdamai“. (HR.Muslim)

Lihatlah!, berapa banyak kebaikan yang hilang dari diri orang yang menyimpan di dalam hatinya rasa dendam, iri dan dengki?!!!

DR. A’id Al Qorni berkata di dalam salah satu makalahnya: “Hendaklah setiap orang berusaha memberikan maaf secara umum menjelang tidurnya pada setiap malam bagi setiap orang yang telah berbuat buruk kepada dirinya sepanjang siang, baik berbuat buruk dengan perkataan, tulisan, ghibah, cacian atau dengan berbagai bentuk tindakan yang menyakitkan. Dengan cara ini, seseorang akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman lahir batin serta pengampunan dari Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Memberikan maaf secara umum kepada setiap orang yang berbuat kejahatan adalah obat yang paling utama di dunia, obat ini keluar dari apotek wahyu: “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik”. “Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.

Wahai orang yang menghendaki kehidupan dengan warnanya yang paling menarik dan perhiasannya yang paling indah, cucilah hatimu tujuh kali dengan suka memberi maaf lalu oleskan yang ke delapannya dengan pemaafan. Seseorang berdiri mencela Abu Bakar Siddiq t dengan mengatakan: “Demi Allah sungguh aku akan mencacimu dengan celaan yang akan kau bawa sampai ke dalam kuburanmu, Abu Bakar menjawab: Bahkan engkaulah akan memikulnya ke dalam kuburmu”. Seseorang mencela Imam As Sya’bi, lalu As Sya’bi mejawab: “Bilamana engkau berbohong, semoga Allah mengampunimu, namun bila engkau benar, semoga Allah mengampuniku”. Sesungguhnya mengalihkan hati kepada ular-ular kedendaman, taring-taring kedengkian, racun-racun berbisa sifat hasad merupakan bukti nyata atas kelemahan iman dan dangkalnya kecemburuan serta buruknya perhitungan terhadap suatu perkara, sebagaimana yang diceritakan oleh Syaksabir: Janganah engkau menyalakan api kemarahan dalam dadamu di hadapan musuhmu yang mana engkau akan terbakar sendiri di dalamnya, alangkah baiknya hati yang suci dan bersih, alangkah bahagianya orang yang memilikinya, alangkah sejuk kehidupannya alangkah nyenyak tidurnya, alangkah bersih jiwanya, lalu adakah diusia yang pendek ini ruang waktu untuk membereskan pelbagai perhitungan dengan lawan, dan membalas catatan-catatan permusuhan bersama orang yang berbeda-beda? Sesungguhnya usia ini lebih pendek dari itu, dan orang yang ingin membalas setiap manusia yang berbuat jelek kepadanya, serta dendam kepada setiap orang yang berbuat salah kepadanya akan mengakibatkan hilangnya pahala, bertambahnya dosa, sempitnya dada, menimbulkan kebingungan serta radang di dalam lambung, tekanan darah tinggi, bahkan terkadang menyebabkan setruk secara tiba-tiba atau terhentinya aliran darah ke otak yang menyebabkan orang tersebut harus dirawat di ruang gawat darurat (UGD) untuk mendapatkan perawatan yang intensif, dan menambah jumlah daftar orang-orang yang meninggal karena menderita penyakit dalam yang disebabkan oleh kegemukan setelah memakan makanan tradisional yang mematikan.

Sesungguhnya dokter yang paling baik di dunia ada tiga: Pertama dokter kesenangan, spesialisasinya kesenangan, kegembiraan, pengampunan dan pemberi maaf. Kedua dokter ketenangan, spesialisasinya memutuskan sesuatu dengan tenang, membalas dengan yang lebih baik. Ketiga dokter pengutuk, spesialisasinya berbuat sesuatu untuk mengekang badan guna mencegahnya dari setiap kerusakan juga mencegah dari berbagai kehendak hawa nafsu, sebagai umpanan syetan yang terkutuk.

Wahai umat manusia: Sesungguhnya hidup ini indah, tidaklah engkau melihat siang hari yang terang benderang, mataharinya bersinar, paginya elok, sorenya memikat dan waktu awal malamnya mempesona, mengapa engkau tidak meniru keindahan alam semesta, tertawa seperti bintang-bintang, memiliki pengharapan yang tinggi seperti burung-burung, ramah seperti angin sepoi-sepoi, lemah-lembut seperti hujan gerimis, hidup ini indah bilamana engkau mengeluarkan syetan darinya, mengeluarkan keburukan, keraguan, cacian, perasaan sial, roman muka yang jelek, Masalahnya adalah sebagaian diantara kita selalu berputus asa jika engkau engkau tampil dihadapan mereka dengan muka seperti matahari, dia mengeluhkan kepanasannya, jika engkau mempersembahkan sekuntum bunga baginya mereka memperlihatkan durinya di hadapanmu, jika menunjuk bintang-bintang di malam hari maka dia mengeluh dengan kegelapan malamnya. Oleh karenanya aku menyerankan kepadamu agar mengeluarkan sebuah keputusan yang tersirat di malam hari dengan memberikan maaf kepada setiap orang yang berbuat jahat kepadamu, barulah setelah itu engkau akan tidur malam dengan senang hati dimana belum pernah melewati suatu malam yang lebih indah darinya, sebagai mana di utarakan oleh temanku As Syarif Ar Ridho:

Wahai malam bertaburnya maaf tidakkah engkau kembali untuk kedua kalinya?
Menyiram masamu dengan hujan yang gerimis

Selamat bagi orang yang memberikan maaf kepada orang-orang, peluk ciuman bagi orang yang menahan amarahnya, sekuntum bunga mawar bagi yang memberi ampun dan memperbaiki hubungan. Serta ucapan terima kasih yang banyak kepada seorang Kanada yang bertopi, dimana ia bertutur kata:

Tidaklah aku membawa kedengkian yang lama terhadap mereka
Dan bukanlah mulia, orang yang membawa dendam

Manusia yang seimbang dan seorang mukmin yang cerdas terhindar dari lemak beracun, dia terbebas (darinya) karena akhlaknya yang mulia, dimana pada keningnya tertera sebuah motto “siapa yang mengampuni dan berbuat baik maka pahala kepada Allah”, semoga Allah mengampuni dosa kita atas keburukan yang kita perbuat kepada orang lain, dan semoga pula Allah mengampuni orang yang berbuat jahat kepada kita, esok lusa kita akan ketemu di surga insya Allah dibawah satu atap “Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada di hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan”. Dan aku telah mengatakan di dalam sebuah sya’ir gubahanku:

Wahai segenap manusia marilah bersahabat
Lebih berbuat baik dari ibu yang memeluk dan menaruh cinta kasih sayang
Kemarilah!, kita kembalikan hubungan yang penuh dengan keberkahan
Jadikanlah aku sebagai saudaramu jika aku berbapak Adam
Jika engkau sosok Qobil yang menebar permusuhan dan kejahatan
Sesungguhnya aku sosok Habil dalam berpendapat dan bermadzhab

Keselamatan hati:

Dengan selamatnya hati, manusia akan dianugrahkan kejujuran, sebab orang yang selalu jujur kepada Allah disetiap urusannya, maka Allah akan menjadikan baginya seperti apa yang diperbuat kepada yang lainnya.

Dengan selamatnya hati, manusia akan mencurahkan sifat santun, dan tidaklah termsuk santun jika seseorang berbuat zalim kemudian bertindak sebagai penyantun, sehingga bilamana ia mampu maka dia akan memberikan maaf karena didorong oleh keselamatan hatinya.

Dengan selamatnya hati, manusia akan diberi sifat senang berkorban, bersenda gurau dengan teman dan cinta memberikan sesuatu, semua prilaku ini tidak akan terpancar melainkan dari hati yang selamat, dan tidak cukup hanya dengan pengakuan sebab hal itu akan cepat terbongkar.

Dengan selamatnya hati, manusia akan diberi sifat tawadu’ atau rendah hati, suatu rasa bahwa semua yang ada lebih utama darinya, semua yang ada lebih baik darinya. Al Hasan pernah ditanya tentang tawadu’ beliau menjawab: “Engkau keluar dari rumahmu lalu tidaklah engkau ketemu dengan seseorang melainkan engkau melihatnya bahwa ia lebih utama dari pada dirimu”.

Abu Ubadah berkata: Tidaklah aku duduk dengan seseorang sedikitpun melainkan aku berhayal bahwa diriku akan berkunjung kepadanya.

Dengan selamatnya hati, manusia akan diberi jiwa yang lemah lembut, dengannya seseorang mendapatkan apa-apa yang tidak didapatkannya dengan kekerasan, kelembutan bagaikan air dalam kelenturannya, memecahkan batu (dengan mudah) bagaimanapun kerasnya.

Dikatakan kepada Muhlib: Bagaimana engkau dan aku mengetahui sesuatu? Beliau berkata: Dengan ilmu, dikatakan kepadanya: Sesugguhnya orang selainmu lebih banyak pengetahuannya daripada pengetahuan yang engkau miliki, namun orang lain tidak mendapatkan seperti apa yang yang kau dapatkan? Ia menjawab: Itu pengetahuan yang dipikul dan ini ilmu yang diamalkan.

Selamatnya hati merupakan bagian dari amal-amal dan budi pekerti, ia tidak bisa dipisahkan dari kenyataan, dan tidak ada manfaatnya bila berwujud sekedar pernyataan dan kata-kata akan tetapi ia ada untuk dipraktekkan dan dikerjakan.

Selamatnya hati merupakan penyelamat dimasa kita ini, dimana kesempatan selamat hampir padam di dalamnya.

Sesungguhnya tegar dalam menjaga keselamatan hati lalu kontinyu dalam menitinya, merupakan perisai utama pada hari ini di dalam kehidupan seorang mu’min, dan aku memandang, bahwa dia mengulang-ulanginya sekalipun hati mengingkarinya:

Aku terheran dengan hatimu bagimana bisa berubah
Padahal kau telah mencintainya, kenapa dia bisa sirna
Dan yang lebih mengherankan dari ini dan ini bahwa aku
Melihatmu dengan mata keredhaan pada saat amarah

Maka hendaklah seseorang menjaga hatinya sehingga menjadi selamat sehingga terwujdulah apa yang disebutkan di dalam pengecualian Robbani “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada semua shahabat-shahabatnya.