Ilmu Hipnotis

Sebuah ilmu pengetahuan adalah bersifat netral, baik buruknya sebuah ilmu tergantung dari si pemakai ilmu. Hipnotis & NLP adalah sebuah ilmu yang ilmiah. Merupakan bagian dari ilmu yang mempelajari psikologi manusia dan terkait dengan pemrograman Fikiran dan Perilaku. Untuk membentengi diri dan keluarga dari kejahatan yang diakibatkan oleh penyimpangan ilmu ini, maka kita juga harus mengerti tentang ilmu ini. Paling tidak kita faham dasar-dasar dari prinsip kerjanya. Sehingga dapat mengantisipasinya. Dibawah ini saya sajikan sekilas tentang ilmu hipnotis.

Hipnosis (Inggris: hypnosis) adalah teknik atau praktik dalam mempengaruhi orang lain secara sengaja untuk masuk ke dalam kondisi yang menyerupai tidur, dimana seseorang yang terhipnotis bisa menjawab pertanyaan yang diajukan, serta menerima sugesti dengan tanpa perlawanan. Teknik ini sering dilakukan untuk menjelajahi alam bawah sadar.


Hipnotis adalah keadaan dimana proses hipnosis dilakukan, dimana seseorang membuat atau menyebabkan seseorang berada dalam keadaan hipnosis. Orang yang terhipnotis dipercaya berada dalam keadaan mental dimana perhatiannya menjadi terfokus, terkonsentrasi, dan pikirannya lebih mudah menerima permintaan atau sugesti.

Definisi dan sejarah hipnosis
Kata ‘Hipnotis’ dan ‘hipnotisme’ sama-sama merupakan turunan dari istilah ‘neuro-hipnotisme’ (nervous sleep), dicetuskan oleh dokter bedah Skotlandia James Braid sekitar tahun 1841 dan kemudian dikenal sebagai Bapak Hipnotis Modern. Braid mendasari cara kerjanya dengan metode yang dikembangkan oleh Frans Mesmer dan para pengikutnya (“Mesmerisme” atau “Magnetisme Binatang”), tapi berbeda dengan teorinya sebagaimana prosedur dilakukan.

Berlawanan dengan kesalahan konsep popular, bahwa hipnotis merupakan sebuah bentuk mirip ketidaksadaran waktu tidur, penelitan kontemporer menyebutkan bahwa hipnotis sesungguhnya merupakan keadaan bangun dari konsentrasi yang terfokus dan berpusat pada sugestibilitas, dengan kewaspadaan perifer yang berkurang. Pada buku pertama topik ini “Neurypnology” (1843), Braid mendeskripsikan “hipnotisme” sebagai keadaan relaksasi fisik disertai dan diinduksi konsentrasi mental (“abstraksi”).

Pencetus Menurut karya-karyanya, Braid mulai mendengar laporan tentang berbagai praktek kedokteran Oriental segera setelah publikasi karya pertamanya tentang hipnotisme, Neurypnology (1843). Dia pertama kali membahas beberapa praktek oriental dalam serangkaian artikel yang berjudul Magic, Mesmerism, Hypnotism, etc. Historically & Physiologically Considered. Dia menggambarkan analogi antara praktek pribadinya tentang hipnotisme dan berbagai bentuk meditasi yoga Hindu dan praktek-praktek spiritual kuno lainnya, terutama yang menlibatkan penguburan diri secara sukarela dan hibernasi manusia.

Ketertarikan Braid terhadap praktek-praktek ini muncul dari penelitiannya tentang Dabistan-I Mazahib, “Sekolah Keagamaan”, sebuah karya kuno Persia yang menggambarkan berbagai macam ritual keagamaan Oriental, kepercayaan, dan praktek-prakteknya.

“Bulan Mei lalu (1843), seorang pria yang tinggal di Edinburg yang tidak saya kenal secara pribadi, yang telah lama tinggal di India, mengirim surat persetujuan terhadap pandangan saya yang telah diterbitkan tentang sifat dan penyebab fenomena hipnotis dan mesmerisma. Untuk membuktikan pandangan saya,dia menyebutkan bahwa ia pernah menyaksikan sesuatu di daerah oriental dia merekomendasikan saya untuk melihat ke dalam “Dabistan, sebuah buku yang diterbitkan baru-baru ini, sebagai bukti tambahan efek yang sama. Dengan banyak rekomendasi, saya segera dikirimi sebuah salinan buku “Dabistan, dimana saya banyak menemukan laporan fakta nyata, bahwa orang-orang kudus timur semuanya merupakan orang yang menghipnotis diri sendiri (self hipnotisers), yang pada dasarnya sama dengan rekomendasi saya untuk keperluan yang sama.”

Walaupun ia menolak penafsiran transedental/metafisikal yang diberikan untuk fenomena tersebut, Braid menerima bahwa kejadian praktek-praktek Oriental ini mendukung pandangannya bahwa efek hipnotisme dapat dihasilkan dalam suasana kesendirian, tanpa kehadiran orang lain (seperti yang telah terbukti dengan percobaan yang dilakukannya sendiri pada November 1841), dan dia melihat hubungan antara banyak praktek-praktek ‘metafisikal’ Oriental dan neuro hipnotisme ‘rasional’nya dan sepenuhnya menolak semua teori cairan dan praktek magnetism oleh para pengikut Mesmerisme.

Kemudian ia menulis: “Sebagaimana pasien dapat membuat diri mereka sendiri dalam tidur gelisah (nervous sleep) dan mewujudkan semua fenomena umum Mesmerisme, melalui usaha mereka sendiri tanpa sengaja, seperti yang telah berkali-kali saya buktikan dengan membuat mereka mempertahankan pandangan tetap stabil dalam hal apapun, mengkonsentrasikan seluruh energy mental mereka pada sebuah ide obyek yang dipandang, atau sama dengan pasien melihat titik pada jarinya sendiri, sebagaimana yang telah dilakukan orang-orang Majus Persia dan Yogi India selama 2400 tahun untuk kepentingan keagamaan, membuat diri mereka sendiri ke dalam kerasukan (trance) ekstatik dengan menjaga pandangan mereka tetap stabil dengan memandang ujung hidungnya sendiri, sudah jelas bahwa tidak ada keperluan untuk pengalaman eksoteris untuk menghasilkan fenomena Mesmerisme. Obyek agung dalam segala proses ini adalah untuk mendorong kebiasaan ketiadaan atau konsentrasi pikiran, dimana subyek betul-betul terserap dalam satu ide, atau serangkaian ide, dimana tidak sadar atau sadar terhadap semua obyek, tujuan atau tindakan lain.”

Franz Mesmer

Franz Mesmer (1734-1815) percaya bahwa ada kekuatan magnetis atau “cairan” di dalam alam semesta yang mempengaruhi kesehatan tubuh manusia. Dia bereksperimen dengan magnet sehingga menyebabkan penyembuhan. Sekitar tahun 1774 dia telah menyimpulkan bahwa efek yang sama dapat dibuat dengan menggoyangkan tangan di kejauhan, di depan tubuh subyek, yang disebut sebagai membuat “hipnotis goyangan.” Kata ‘mesmerize’ (=pesona, bahasa Inggris) kata berasal dari nama Franz Mesmer, dan sengaja digunakan untuk memisahkan penggunanya dari berbagai macam “cairan” dan “magnet” yang tertanam dalam label teori “magnetisme”.

Pada 1784, atas permintaan Raja Louis XVI, serangkaian komite ilmiah Perancis, salah satunya termasuk duta besar Amerika untuk Perancis, Benjamin Franklin, meneliti teori Mesmer46. Mereka juga menyelidiki praktik mahasiswa dari Mesmer, Charles d’Eslon (1750-1786), dan walaupun mereka menerima bahwa hasil Mesmer itu valid, percobaan plasebo-terkontrol mereka diikuti praktik d’Eslon meyakinkan mereka bahwa Mesmerisme sepertinya dihasilkan oleh kepercayaan dan imajinasi daripada apapun energi tak terlihat (“magnetisme binatang”) yang dipancarkan dari tubuh Mesmeris. Dengan kata lain, meskipun menerima bahwa praktek Mesmer tampak memiliki kemanjuran, semua komite benar-benar menolak semua teori Mesmer’s.

James Braid Menyusul temuan komite Perancis, pada karyanya “Elements of the Philosophy of the Human Mind” (1827), Dugald Stewart, seorang filsuf akademik berpengaruh dari “Scottish School of Common Sense”, mendorong para dokter untuk menyelamatkan elemen mesmerisme dengan mengganti teori supernatural “magnetisme binatang” dengan penafsiran baru berdasarkan “akal sehat” hukum fisiologi dan psikologi. Braid mengutip kutipan berikut dari Stewart:

“Menurut saya, bahwa kesimpulan umum yang ditetapkan oleh praktek-praktek Mesmer dengan tidak mengabaikan efek fisik dari prinsip imajinasi […] lebih ingin diketahui daripada jika ia betul-betul mendemonstrasikan keberadaan bualan ilmiahnya (dari “Magnetisme Binatang”): saya tidak bisa melihat alasan mengapa seorang dokter, yang mengakui efisiensi moral (contohnya psikologis) yang dipekerjakan oleh Mesmer, harus, dalam melaksanakan profesinya, menyalin proses apa pun yang diperlukan untuk menundukkan mereka untuk perintahnya, tetapi ia lebih ragu mempekerjakan pegawai fisika baru, seperti ahli listrik atau galvanisme.”

Pada masa Braid, Scottish School of Common Sense memberikan teori dominan tentang psikologi akademik dan Braid mengacu pada filsuf lain dalam tradisi ini di seluruh tulisan-tulisannya. Oleh karena itu Braid merevisi teori dan praktek mesmerisme dan mengembangkan metode sendiri “hipnotisme” sebagai pengobatan alternative yang lebih rasional dan ‘masuk akal” .

“Di sini mungkin perlu bagi saya untuk menjelaskan, bahwa dengan istilah Hipnotisme, atau tidur saraf, yang sering terjadi, yang saya maksudkan adalah kondisi khusus dari sistem saraf, di mana mungkin dapat dibuat oleh alat buatan, dan yang berbeda, dalam beberapa hal, dari tidur biasa atau kondisi bangun. Saya tidak mengatakan bahwa kondisi ini disebabkan melalui transmisi dari pengaruh magnet atau okultisme dari tubuh saya ke dalam pasien, juga tidak saya akui, dengan proses saya, untuk menghasilkan suatu fenomena yang lebih tinggi (contohnya supranatural) dari Mesmeris. Pretensi saya adalah sebuah karakter yang jauh lebih rendah hati, dan semuanya konsisten dengan prinsip umum yang telah diakui dalam ilmu fisiologi dan psikologi. Hipnotisme karena itu mungkin tidak sesuai dengan mesmerisme rasional , berlawanan dengan Mesmerisme Transendental dari Mesmerist.”

Meskipun ia menyebutkan istilah “mesmerisme rasional”, Braid akhirnya menekankan keunikan pendekatannya, melakukan eksperimen informal sepanjang kariernya untuk membantah argumen tentang praktek supranatural, dan sebagai gantinya menunjukkan peran proses fisiologis dan psikologis biasa seperti sugesti dan konsentrasi terfokus untuk menghasilkan efek yang dapat diamati. Braid bekerja sama sangat erat dengan teman dan sekutu ahli fisiologi terkenal Profesor William Benjamin Carpenter, seorang neuro-psikolog awal, yang memperkenalkan teori sugesti “ideo-motor refleks”. Carpenter telah mengamati berbagai contoh harapan dan imajinasi yang rupanya tanpa sadar mempengaruhi gerakan otot. Sebuah contoh klasik dari prinsip ideo-motor di tindakan adalah apa yang disebut “pendulum Chevreul” (dinamai menurut Michel Eugène Chevreul). Chevreul mengklaim bahwa pendulum dapat dibuat bergoyang hanya konsentrasi yang tepat saja.

Braid segera mengasimilasikan pengamatan Carpenter dengan teorinya sendiri, menyadari bahwa pengaruh konsentrasi terfokus adalah untuk meningkatkan respon reflex ideo-motor. Braid mendefiniskan teori Carpenter untuk menjelaskan pengaruh pikiran terhadap tubuh secara lebih umum, di luar sistem otot, dan karena itu disebut respon “ideo-dinamis” dan menciptakan istilah “psiko-fisiologi” untuk merujuk pada studi pikiran umum / interaksi tubuh.

Dalam karya-karyanya berikutnya, Braid memberikan istilah ‘hipnotisme’ untuk kasus-kasus di mana subjek memasuki keadaan amnesia menyerupai tidur. Selanjutnya, ia berbicara tentang prinsip “mono-ideodynamic” untuk menekankan bahwa teknik induksi fiksasi mata bekerja dengan mempersempit konsentrasi subyek dengan ide tunggal atau melatih pikiran (“monoideism”) yang memperkuat pengaruh “ide dominan” atas tubuh subyek dengan prinsip ideo-dinamis.

Histeria vs Sugesti

Selama beberapa dekade, karya-karya Braid ebih berpengaruh di luar negeri daripada di negaranya sendiri, kecuali untuk segelintir pengikut, terutama Dr John Milne Bramwell. Ahli saraf terkemuka Dr George Miller Beard membawa teori Braid ke Amerika. Sementara karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Wilhelm T. Preyer, Profesor Fisiologi di Universitas Jena. Psikiater Albert Moll kemudian melanjutkan penelitiannya di Jerman, mempublikasikan Hipnotisme pada tahun 1889. Perancis menjadi titik fokus penelitan setelah ahli saraf terkemuka Dr Étienne Eugène Azam menyajikan penelitian Braid di Akademi Ilmiah Perancis. Azam juga menerjemahkan naskah terakhir Braid’s (On Hypnotism, 1860) ke dalam bahasa Prancis. Atas permintaan Azam, Paul Broca, dan lain-lain, Akademi Ilmiah Perancis, yang telah memeriksa mesmerisme pada 1784, tulisan diperiksa Braid’s lama setelah kematiannya.

Antusiasme Azam terhadap hipnotisme dipengaruhi Ambroise-Auguste Liébeault, seorang dokter desa. Hippolyte Bernheim menemukan kelompok hipnoterapi klinis Liebeault yang sangat terkenal dan kemudian menjadi seorang penghipnotis yang berpengaruh. Penelitan tentang hipnotisme kemudian berputar di sekitar perdebatan sengit antara Jean-Martin Charcot dan Hippolyte Bernheim, dua tokoh paling berpengaruh dalam hipnotisme akhir abad 19.

Charcot menjalankan sebuah klinik di Rumah Sakit Pitié-Salpêtrière (yang juga dikenal sebagai “Sekolah Paris” atau “Sekolah Salpêtrière”), sementara Bernheim memiliki klinik di Nancy (juga dikenal sebagai “Sekolah Nancy”). Charcot, lebih dipengaruhi oleh Mesmerisme, berpendapat bahwa hipnotis adalah sebuah keadaan fungsi saraf abnormal yang hanya ditemukan pada wanita histeris tertentu. Dia menyatakan bahwa hal tersebut terwujud dalam serangkaian reaksi fisik yang dapat dibagi ke dalam tahap yang berbeda. Bernheim berpendapat bahwa setiap orang bisa dihipnotis, dan merupaikan penjabaran dari fungsi psikologis normal, dan bahwa dampaknya adalah karena sugesti. Setelah perdebatan beberapa dekade, pandangan Bernheim mendominasi. Teori Charcot sekarang hanyalah merupakan cerita bersejarah.

Pierre Janet

Pierre Janet (1859-1947) melaporkan penelitian pada subjek Hipnotis pada tahun 1882. Charcot kemudian diangkat direktur laboratorium psikologi di Salpêtrière pada tahun 1889, setelah Janet menyelesaikan gelar doktor dalam filsafat yang membahas otomatisme psikologis. Pada tahun 1898 diangkat Janet dosen psikologi di Sorbonne, dan pada 1902 menjadi kursi psikologi eksperimental dan komparatif di College de France. Janet menyatukan pendapat antara pendapatnya dengan Bernheim dan pengikut-pengikutnya, mengembangkan psikoterapi hipnotisnya berdasarkan konsep disosiasi psikologis, pada pergantian abad, mencoba untuk menyaingi Freud dalam menyediakan teori psikoterapi yang lebih komprehensif.

Sigmund Freud

Sigmund Freud, penemu psikoanalisis, mempelajari hipnotisme pada sekolah Paris dan mengunjungi Sekolah Nancy sebentar. Pada awalnya, Freud adalah seorang pendukung antusias dari Hypnotherapy, dan segera mulai menekankan regresi Hipnotis dan reaksi ab (katarsis) sebagai metode terapi. Dia menulis artikel ensiklopedia yang mendukung hipnotis, diterjemahkan dalam salah satu karya Bernheim ke dalam bahasa Jerman, dan menerbitkan serial studi kasus yang berpengaruh bersama rekannya Joseph Breuer berjudul Studies on Hysteria (1895). Hal ini menjadi teks pendiri tradisi selanjutnya dikenal sebagai “hypno-analisis” atau “hipnoterapi regresi.”

Namun, Freud secara bertahap meninggalkan hipnotisme demi psikoanalisis, menekankan asosiasi bebas dan interpretasi bawah sadar. Berjuang dengan biaya besar yang dibutuhkan psikoanalisis pada waktu itu, Freud kemudian menyarankan bahwa psikoterapi mungkin dapat dikombinasikan dengan sugesti hipnotis untuk mempercepat hasil pengobatan, Namun hanya segelintir pengikut Freud yang cukup berkualitas dalam sintesinya dengan hipnotis. Karya mereka memiliki pengaruh terbatas pada pendekatan hipnoterapi yang sekarang dikenal sebagai “hipnotis regresi”, “hipnotis progresif”, dan “hypnoanalysis”.

Emile Coue

Émile Coué (1857-1926) dibantu Ambroise-Auguste Liébeault untuk sekitar dua tahun di Nancy. Setelah berlatih selama beberapa tahun sebagai seorang hipnoterapis menggunakan metode Liébeault dan Bernheim Sekolah Nancy, Coué mengembangkan orientasi baru yang disebut “sugesti sadar.” Beberapa tahun setelah kematian Liébeault di 1904, Coué mendirikan apa yang kemudian dikenal sebagai New Nancy School, sebuah kolaborasi bebas dari beberapa praktisi yang mengajarkan dan mempromosikan pandangannya. Metode Coue tidak menekankan “tidur” atau relaksasi yang mendalam dan bukannya berfokus pada sugesti melibatkan serangkaian tes saran spesifik. Meskipun Coué berargumen bahwa ia tidak lagi menggunakan Hipnotis, pengikut seperti Charles Baudouin dilihat pendekatan sebagai bentuk ringan hypnosis diri sendiri. Metode Coué’s menjadi terkenal dengan pertolongan untuk diri sendiri (self help) dan teknik psikoterapi, yang kontras dengan psikoanalisis dan prefigured self-hypnosis dan terapi kognitif.

Clark L.Hull

Perkembangan utama berikutnya datang dari peneliti psikologi perilaku universitas Amerika. Clark L. Hull, seorang psikolog Amerika terkemuka, menerbitkan kompilasi besar pertama studi laboratorium terhadap Hipnotis, Hypnosis & Suggestibility(1933), di mana ia membuktikan bahwa Hipnotis dan tidur tak punya kesamaan. Hull menerbitkan banyak temuan-temuan kuantitatif dari Hipnotis dan meyarankan percobaan dan penelitian yang didorong oleh psikologis aliran utama. Interpretasi hinotis berdasarkan psikologi perilaku Hull interpretasi Hipnotis, menekankan refleks terkondisi, disaingi interpretasi psikologi perilaku Freudian yang menekankan transferensi bawah sadar.

Milton Erickson

Milton H. Erickson, MD adalah salah satu hipnoterapis pasca-perang yang paling berpengaruh. Dia menulis beberapa buku dan artikel jurnal tentang topik ini. Selama tahun 1960-an, Erickson mempopulerkan sebuah cabang baru dari hipnoterapi, yang dikenal sebagai hipnoterapi Ericksonian, yang memiliki ciri primer dengan sugesti tidak langsung, “metafora” (sebenarnya analogi), teknik kebingungan (confusion techniques), dan double binds di tempat induksi hipnotis formal. Namun, perbedaan antara metode Erickson dan hipnotis tradisional dimulai oleh praktisi kontemporer misalnya André Weitzenhoffer, dipertanyakan apakah ia betul-betul mempraktekkan “Hipnotis” dan bagaimana pendekatannya tetap dipertanyakan.

“Erickson tidak berkeberatan menampilkan berbagai efek sugesti seperti terhipnotis, tidak peduli apakah subyek dalam keadaan hipnotis atau tidak. Sebenarnya, dia tidak mempedulikan apakah keadaan terhipnotis seperti itu sama dengan dalam keadaan terhipnotis yang sesungguhnya atau tidak”

Karakteristik

Pandangan skeptis tentang kesulitan membedakan antara hipnotis dan efek placebo, mengatakan bahwa hipnotis sangat bergantung terhadap efek sugesti dan dipercaya bahwa hal tersebut akan susah dibayangkan, bagaimana suatu kontrol plasebo dapat diciptakan untuk penelitan tentang hipnotis. Dapat dikatakan bahwa sugesti hipnotik dimaksudkan secara eksplisit agar dapat berguna terhadap efek placebo. Sebagai contoh, Irving Kirsch telah mencetuskan definisi Hipnotis sebagai sebuah efek ‘mega-plasebo yang tidak mengecoh’, contohnya sebuah metode terbuka yang menggunakan sugesti dan menggunakan metode untuk memperbesar efeknya.

Definisi

Definisi paling awal dari kata ‘hipnotis’ dicetuskan oleh Braid, yang mencetuskan istilah ‘hipnotisme’ sebagai singkatan dari ‘neuro-hipnotisme’, atau nervous sleep yang berlawanan dengan tidur normal, dan difenisikan sebagai “keadaan aneh system saraf yang diinduksi oleh konsentrasi yang terfiksasi dan abstrak dari mental dan visual mata, pada satu obyek, bukan merupakan keadaan alami yang menegangkan.

Braid menguraikan dengan singkat definisi tersebut dalam karya berikutnya: “Asal sesungguhnya dan esensi dari kondisi hipnotik, merupakan induksi kebiasaan abstrak atau konsentrasi mental, sebagaimana dalam lamunan atau abstraksi spontan, kekuatan pikiran yang sangat banyak ditekuni dengan sebuah ide atau serangkaian pikiran, yang mengolah kesadaran individual, atau kesadaran yang secara berbeda, semua ide-ide lain, kesan-kesan, atau serangkaian ide-ide. Keadaan tidur hipnotik, bagaimanapun, merupakan antithesis atau lawan dari keadaan kondisi mental dan fisik yang mendahului dan menyertai tidur biasa.” Braid lalu mendefinisikan hipnotisme merupakan keadaan konsentrasi mental yang sering menuntun terhadap serangkaian relaksasi progresif yang disebut ‘nervous sleep”. Di kemudian hari, pada karyanya yang berjudul “The Physiology of Fascination”(1855), Braid mengakui bahwa terminologi aslinya salah, dan berpendapat bahwa istilah “hipnotisme” atau “nervous sleep” harus diterapkan pada minoritas subyek (10%) yang menunjukkan amnesia, menggantikan istilah “monodeisme”, yang artinya adalah konsentrasi terhadap satu ide, sebagai penggambaran keadaan waspada yang dialami orang lain. Sebuah definisi baru Hipnotis, diciptakan dari psikologi akademis, dicetuskan tahun 2005, ketika Perkumpulan Hipnotis Psikologi (Society for Psychological Hypnosis), Divisi 30 dari Asosiasi Psikologi Amerika (American Psychological Association-APA), mempublikasikanya mengikuti definisi formalnya.

Definisi Hipnotis yang Baru Definisi Divisi 30 dan Deskripsi Hipnotis

Hipnotis pada umumnya terkait dengan introduksi sebuah prosedur selama subyek tersebut disugesti untuk mengalami suatu pengalaman imajinatif. Induksi Hipnotis merupakan sugesti inisial yang luas menggunakan imajinasi seseorang dan mungkin mengandung perincian lebih lanjut pada introduksinya. Sebuah prosedur Hipnotis biasanya digunakan untuk memberikan dukungan dan mengevaluasi respon sugesti. Ketika menggunakan hipnotis, seseorang (subyek) dipimpin oleh orang lain (hypnotist) untuk memberikan respon terhadap sugesti untuk berubah pada pengalaman subyektifnya, perubahan persepsi, sensasi, emosi, pikiran atau tingkah laku. Orang tersebut dapat juga mempelajari Hipnotis diri sendiri (self hypnosis) yang merupakan tindakan untuk mengatur prosedur hipnotis atas kemauan orang tersebut. Jika subyek berespon terhadap sugesti hipnotis, umumnya menandakan bahwa Hipnotis telah berhasil dilakukan. Banyak pihak meyakini bahwa respon Hipnotis dan pengalaman merupakan karakteristik keadaan hipnotis. Di lain pihak, diyakini bahwa penggunaan kata ‘Hipnotis’ tidak diperlukan sebagai bagian dari induksi hipnotik, sedangkan pihak lain meyakini bahwa hal tersebut penting.

Detail prosedur hipnotik dan sugesti akan berbeda, tergantung dari tujuan praktisi dan kegunaan klinis atau penelitian. Prosedur tradisional melibatkan sugesti untuk santai, walau relaksasi tidak perlu dilakukan untuk Hipnotis dan variasi sugesti yang luas dapat digunakan, termasuk sugesti yang membuat seseorang lebih waspada. Sugesti yang menimbulkan perpanjangan waktu hipnotis harus dinilai dengan membandingkan respon terhadap skala terstandardisasi yang digunakan pada keadaan klinis dan penelitian. Ketika mayoritas individual berespon terhadap sekurang-kurangnya beberapa sugest, kisaran nilai dari standardidasi dari nilai yg tinggi hingga rata-rata. Secara tradisional, nilai dikelompokkan menjadi kategori rendah, sedang, dan tinggi. Sebagaimana pada kasus dengan pengukuran skala positif pada konstruksi psikologis, seperti perhatian, kewaspadaan, dan bukti tercapainya keadaan Hipnotis akan meningkatkan nilai individual.

Induksi

Hipnotis biasanya dimunculkan dengan tehnik ‘induksi hipnotik’. Secara tradisional, keadaan ini diinterpretasikan sebagai sebuah metode untuk membuat subyek berada dalam keadaan ‘hypnotic kerasukan (trance)’. Bagaimanapun para pencetus teori ‘nonstate’ memiliki pandangan yang berbeda, yaitu mempertinggi harapan klien, menegaskan peran mereka, memfokuskan perhatian, dan lain sebagainya. Ada banyak variasi tehnik induksi yang berbeda-beda menggunakan hipnotisme. Bagaimanapun, metode yang paling berpengaruh adalah metode ‘fiksasi mata’ (eye-fixation) Braid, yang dikenal juga dengan mana “Braidisme”. Ada banyak variasi pendekatan fiksasi mata yang ada, termasuk induksi yang digunakan pada Stanford Hypnotic Susceptibility Scale (SHSS), pendekatan yang paling banyak digunakan secara luas pad lapangan hipnotisme.

Deskripsi asli Braid terhadap induksinya adalah sebagai berikut: “Ambil obyek yang terang (saya biasanya menggunakan tempat lanset saya) antara ibu jari, telunuk, serta jari tengah tangan kiri, pegang dengan jarak 8 hingga 15 inci dari mata, pada posisi seperti ini, di atas dahi yang dapat menyebabkan tegangan antara mata dan alis, serta memampukan pandangan pasien terfiksasi pada obyek tersebut.

Pasien harus dapat mengerti bahwa pandangan matanya harus tetap terfiksasi terhadap obyek tersebt, dan pikirannya terpusat pada satu obyek. Dapat diamati, bagaimana penyesuaian pandangan mata, pertama-tama pupil akan berkontraksi dan kemudian berdilatasi, dan setelah mencapai lama yang maksimal, dapat terlihat gerakan bergelombang, bila jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan, diacungkan dan diarahkan dari benda mendekati kedua mata , sehingga obyek akan menjauh dari mata, yang sering terjadi, kelopak mata akan tertutup secara tidak sadar dengan gerakan bergetar. Jika tidak terjadi, atau pasien menggerakkan bola matanya, menimbulkan keinginannya untuk memulai kembali, berikan pengertian kepadanya bahwa dia boleh menutup mata kita jari digerakkan lagi mendekati mata, tetapi pandangannya harus tetap terfiksasi, pada posisi yang sama, dan pikirannya terfiksasi pada satu ide yaitu pada benda yang dipegang di atas kedua matanya. Umumnya akan ditemukan, bahwa kelopak mata akan tertutup dengan gerakan bergetar, atau menutup secara spasmodik.” Braid sendiri kemudian menyatakan bahwa tehnik induksi hipnotis tidak diperlukan untuk setiap kasus dan kebanyakan peneliti kemudian menemukan bahwa pada umumnya tidak banyak berguna daripada yang diperkirakan sebelumnya terhadap efek sugesti hipnotik. Banyak variasi dan alternatif dari tehnik hipnotis asli telah berkembang. Bagaimanapun, sekitar 100 tahun setelah Braid memperkenalkan metode tersebut, peneliti lain masih menyatakan: 9 dari 10 tehnik hipnotik yang aman adalah posisi bersandar, relaksasi otot, dan fiksasi pandangan disertai dengan penutupan mata.

Sugesti Ketika James Braid pertama kali mendeskripsikan hipnotisme, dia tidak menggunakan istilah ‘sugesti’ tetapi dimaksudkan pada tindakan untuk memfokuskan pikiran sadar subyek terhadap satu ide yang dominan. Strategi terapi utama Braid melibatkan stimulasi atau mengurangi fungsi fisiologis pada area tubuh yang berbeda. Pada karya berikutnya, bagaimanapun juga, Braid meletakkan dasar bentuk sugesti verbal dan non verbal, termasuk penggunaan ‘sugesti bangun’ (waking suggestion) dan Hipnotis diri sendiri (self hypnosis). Setelah itu, penekanan hipnotis oleh Hippolyte Bernheim bergeser dari keadaan fisik pada proses psikologis sugesti verbal. Konsep Bernheim terhadap sugesti verbal primer pada hipnotis mendominasi subyek selama abad ke-20. Sehingga membuat beberapa pihak menyatakan bahwa ia adalah Bapak Hipnotis Modern. Hipnotisme kontemporer memakai berbagai macam sugesti, termasuk:

Sugesti verbal langsung Sugesti verbal tidak langsung, seperti permintaan atau sindiran, metafora, dan ungkapan kata-kata pihak lain

Sugesti non verbal dalam bentuk imajinasi mental, nada suara, dan manipulasi fisik. Perbedaannya pada umumnya ada antara sugesti yang diberikan dengan permisif atau dengan cara yang lebih otoriter. Beberapa sugesti hipnotis dimaksudkan untuk memberikan reposmon langsung, sedangkan lainnya (sugesti pasca-hipnotik) dimaksudkan untuk memicu respon setelah ada penundaan waktu selama beberapa menit hingga beberapa tahun pada beberapa kasus.

Pikiran sadar vs pikiran bawah sadar

Beberapa praktisi memahami sugesti sebagai suatu bentuk komunikasi primer langsung pada pikiran sadar subyek, sementara praktisi lain memandang sugesti sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar atau pikiran sadar. Konsep-konsep ini diperkenalkan dalam konsep hipnotisme pada akhir abad 19 oleh Sigmund Freud dan Pierre Janet. Perintis hipnotisme periode zaman Victoria, termasuk Braid dan Bernheim, tidak menggunakan konsep-konsep ini, tetapi mengakui bahwa sugesti hipnotis diarahkan kepada pikiran sadar subyek. Memang, sebenarnya Braid mendefinisikan hipnotisme sebagaimana berpusat kepada perhatian sadar terhadap suatu ide atau sugesti yang dominan. Pandangan berbeda mengenai sifat dasar pikiran telah menimbulkan berbagai konsep tentang sugesti. Praktisi hipnotis yang mempercayai bahwa respon yang dimediasi terutama oleh pikiran bawah sadar, seperti Milton Erickson, menciptakan berbagai macam kegunaan sugesti tidak langsung seperti metafora atau cerita, yang bermaksud untuk menemukan artinya dari pikiran sadar subyek. Konsep sugesti subliminal juga bergantung terhadap pola pikir. Sebaliknya, praktisi hipnotis yang percaya bahwa respon terhadap sugesti terutama dimediasi oleh pikiran sadar, seperti Theodore Barber dan Nicholas Spanos cenderung menggunakan lebih banyak sugesti dan instruksi verbal secara langsung.

Refleks Ideo-Dinamis

Teori neuro-psikologis sugestif hipnotis pertama kali diperkenalkan oleh James Braid yang mengadaptasi teori teman dan koleganya, William Carpenter tentang respoin reflex ideo motor untuk menjelaskan fenomena hipnotis. Carpenter telah mengamati secara dekat dari pengalaman sehari-hari tentang ide bahwa dalam kondisi tertentu, gerakan otot dapat cukup menghasilkan reflex, atau otomatisasi, kontraksi atau gerakan otot-otot yang terlibat, meskipun dalam derajat yang sangat kecil. Braid menjelaskan teori Carpenter untuk mengamati berbagai respon tubuh, selain gerakan otot, dapat dipengaruhi, contohnya, ide bahwa menghisap lemon secara otomatis dapat merangsang produksi air liur, sebagai respon kelenjar sekretorik. Oleh karena itu Braid mengadopsi istilah ‘ideo-dinamis’ yang berarti ‘kekuatan ide’ untuk menjelaskan berbagai gejala ‘psiko-fisiologis’ tubuh. Braid istilah ‘ide mono dinamis’ untuk merujuk pada teori bahwa hipnotis bekerja dengan memusatkan perhatian pada satu ide untuk memperkuat pada satu ide untuk memperkuat respon reflex ideo-dinamis. Variasi dasar atau teori sugesti ideo dinamis terus memegang pengaruh besar atas teori-teori hipnotis berikutnya, termasuk Clark L.Hull, Hans Eysenck, dan Ernest Rossi. Perlu dicatat, bahwa pada Psikologi periode Victoria, kata ‘ide’ mencakup setiap representasi mental, contohnya, citra mental, atau ingatan, dan lain sebagainya. Sugesti Pasca Hipnotis (post-hypnotic) Diduga sugesti pasca hipnotis dapat digunakan untuk mengubah perilaku seseorang setelah dihipnotis. Seorang penulis menyatakan bahwa ‘seseorang bisa bertindak beberapa waktu kemudian berdasarkan satu sugesti yang ditanamkan pada sesi hipnotis’. Seorang hipnoterapis mengatakan kepada salah satu pasiennya yang juga kawannya: “Ketika saya menyentuh jari Anda, Anda akan segera terhipnotis”. Empat belas tahun kemudian, pada sebuah pesta makan malam, ia menyentuh jari temannya dan kepala temannya segera jatuh terkulai di kursi.

Kerentanan Braid membuat perbedaan kasar antara berbagai tahapan hypnosis yang disebut sebagai tahap kesadaran hipnotisme pertama dan kedua. Kemudian ia menggantikan istilah ini dengan perbedaan antara tahapan ‘sub hipnotis’, ‘hipnotis penuh’ dan ‘koma hipnotis’.. Jean-Martin Charcot membuat perbedaan serupa antara tahapan ini dengan nama berjalan saat tidur (somnambulism), kelesuan (lethargy), dan katalepsi. Namun Ambroise-Auguste Liebeault dan Bernheim memperkenalkan skala hipnotis yang lebih dalam, berdasarkan kombinasi tingkah laku, respon fisiologis dan respon subyektif. Sebagian diantaranya adalah akibat sugesti langsung dan sebagian akibat sugesti tidak langsung. Pada decade pertama abad 20, skala kedalaman klinis digantikan oleh penelitian klinis. Skala yang paling berpengaruh adalah ciptaan Davis-Husband dan Friedlander-Sarben yang dikembangkan pada tahun 1930-an. Andre Weitzenhoffer dan Ernest R.Hilgard mengembangkan Skala Kerentanan Hipnotis Standford pada tahun 1959, yang terdiri dari 12 bagian tes sugesti diikuti dengan skenario hipnotis terstandardisasi induksi fiksasi mata dan kemudian menjadi salah satu pegangan penelitian yang paling banyak direfensikan di bidang hipnotis. Tidak lama setelah itu, pada tahun 1962, Ronald Shor dan Emily Carota Orne mengembangkan skala kelompok yang mirip, disebut Skala Kerentanan Hipnotis Kelompok Harvard (Harvard Group Scale of Hypnotic Susceptibility (HGSHS)). Sedangkan teori yang lebih tua tentang kedalaman skala, mencoba untuk menyimpulkan tingkat ‘kerasukan (trance) hipnotis’ berdasarkan tanda-tanda yang dapat diamati, seperti amnesia spontan, kebanyakan pengukuran skala dari respon yang diamati atau dievaluasi sendiri terhadap tes sugesti spesifik, seperti sugesti langsung kekakuan lengan (katalepsi). Skala Standford, Harvard, dan skala kerentanan lain mengubah angka menjadi penilaian kerentanan seseorang seperti ‘tinggi’, ‘medium’, ‘rendah’. Diperkirakan 80% populasi berskala medium, 10% tinggi, dan 10% rendah. Nilai kemampuan hipnotis biasanya menetap tinggi pada masa hidup seseorang. Penelitan oleh Deirdre Barret menyatakan bahwa ada dua tipe subyek yang rentan yang disebut ‘Pengkhayal’ (Fantasizers) dan ‘Pemisah’ (dissociaters). Skor pengkhayal tinggi pada skala penyerapan sehingga mudah memblok stimulus dunia nyata tanpa hipnotis, sering kali berkhayal, melaporkan teman-teman khayalan pada saat kanak-kanak dan tumbuh dengan orang tua yang menyarankan permainan imajinasi. Pemisah sering memiliki riwayat penyiksaan anak atau trauma lainnya, belajar untuk lari pada kehampaan dan untuk melupakan kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan. Kemampuan mereka untuk berkhayal sering menjadi kosong daripada khayalan kenangan yang samar-samar. Kedua nilai kelompok ini sama-sama tinggi untuk skala formal kerentanan hipnotis.

Perilaku kognitif

Di paruh kedua abad kedua puluh, ada dua faktor yang memberikan kontribusi bagi pengembangan pendekatan perilaku kognitif Hipnotis.

  1. Teori kognitif dan perilaku tentang hakikat Hipnotis (dipengaruhi oleh teori Sarbin dan Barber) menjadi semakin berpengaruh.
  2. Praktek hipnoterapi dan berbagai bentuk terapi perilaku kognitif tumpang tindih dan saling mempengaruhi. Meskipun teori hipnotis perilaku kognitif harus dibedakan dari pendekatan perilaku kognitif untuk hipnoterapi, keduanya memiliki konsep serupa, terminologi, dan asumsi yang telah diinterintegrasikan oleh para peneliti dan klinisi yang berpengaruh seperti Irving Kirsch, Steven Jay Lynn, dan lain-lain.

Pada awal terapi kognitif-perilaku di tahun 1950-an, Hipnotis digunakan oleh para terapis perilaku awal seperti Yusuf Wolpe dan juga oleh para terapis kognitif awal seperti Albert Ellis. Barber, Spanos & Chaves memperkenalkan istilah “perilaku kognitif” untuk menggambarkan teori keadan tidak terhipnotis (nonstate) pada Hypnotism:Imagination & Human Potentialities (1974). Namun, Clark L. Hull telah memperkenalkan psikologi perilaku kembali ke tahun 1933, yang didahului oleh Ivan Pavlov. Bahkan, teori dan praktek awal dari hipnotisme, bahkan teori Braid, mirip dengan teori kognitif-perilaku dalam beberapa hal.

Istilah

Istilah hipnotisme (hipnotis) dan hipnosis pertama kali diperkenalkan oleh James Braid, seorang dokter bedah asal Skotlandia pada tahun 1841-1842 yang merupakan singkatan dari “syaraf tidur” (“neuro-hypnotism”). [5] Praktik hipnosis oleh James Braid pada awalnya berdasarkan teknik yang dikembangkan oleh Franz Anton Mesmer dan pengikutnya yaitu aliran “Mesmerisme” atau “magnet hewani”, namun teorinya berbeda dalam penerapan prosedurnya[5].

Pengamatannya tentang hipnosis mulanya berawal dari penemuan komite Perancis, yang dilanjutkan dengan pengenalan buku Elements of the Philosophy of the Human Mind (Elemen-elemen Filosofis Pikiran Manusia) (1827) oleh Dugald Stewart, seorang filsuf berpengaruh dari “Scottish School of Common Sense” (Sekolah Skotlandia Untuk Pikiran yang Berakal). Filsuf ini mendorong para dokter untuk melestarikan komponen-komponen dari Mesmerisme dengan menggantikannya menggunakan interpretasi baru menggunakan “akal sehat” berdasarkan hukum fisiologi dan psikologis.[6]

James Braid mendeskripsikan istilah hipnotis, atau tidurnya syaraf, sebagai kondisi di saat sistem syaraf dihentakkan dengan pikiran buatan. Proses ini membuat hipnotis berbeda dengan kondisi tertidur atau tersadar (bangun) pada umumnya.[7]

Praktik hipnosis

Praktik-praktik hipnotis pada awalnya dikenal sebagai teknik meditasi dari Timur (oriental). Praktik-praktik hipnotis yang dilakukan kini memiliki kesamaan dengan berbagai bentuk meditasi yoga oleh agama Hindu dan praktik-praktik spiritual kuno, seperti yang dideskripsikan oleh tulisan Persia kuno tentang berbagai macam ritual agama dan ritual penyembuhan yang dilakukan di Timur.[8]

Dalam tulisannya di “Kekuatan Pikiran di atas Kekuatan Jasmani”, walaupun James Braid menentang dalil-dalil kepercayaan pada fenomena ini, namun tulisannya menunjukkan bahwa meditasi dari Timur menghasilkan efek-efek hipotisme dalam kesendirian, tanpa hadirnya seseorang yang menghipnotis, sehingga ia melihatnya sebagai bukti bahwa hipnotisme terdapat dalam praktik-praktik kuno meditasi dan bukan dari teori-teori moderen maupun praktik aliran mesmerisme.[9].

Kontroversi hipnotis

Walaupun secara umum efek-efek dari hipnosis diakui, namun banyak perbedaan pendapat antara kalangan ilmuan dan klinis tentang bagaimana hipnosis bekerja.[4]

Psikologis E.M Thorton (1976) memperluas analogi tentang hubungan antara hipnosis, aliran mesmerisme, dan sihir. Ia menekankan bahwa subyek yang dihipnotis pada dasarnya diminta untuk “menuju kondisi seperti pasien epilepsi ditirukan seperti sebuah parodi”. Apabila subyek terlihat seperti kerasukan, maka hal ini diakibatkan karena kondisi kerasukan melibatkan konteks yang mirip secara sosio-kognitif, layaknya seseorang yang menerima peran yang diberikan kepadanya dan merasakan hubungan antara yang meminta dan diminta. Bagaimanapun hipnosis dilakukan, pada dasarnya hipnotisme, aliran mesmerisme, histeria, dan kerasukan setan memiliki dasar yang sama dimana konstruksi sosial di rancang oleh pelaku terapi yang antusias akan hal ini, pelaku pertunjukan (showmen), dan pendeta-pendeta atau pelaku ritual agama pada satu sisi – dan di sisi lain ada orang-orang yang mudah percaya, penuh imajinasi, penuh kesediaan, diikuti dengan kebutuhan emosional yang tinggi akan kemampuan orang lain untuknya.[10]

Proses hipnotis

proses terjadinya hipnotis
syarat hipnosis:

  1. Klien/subjek (orang yang di hipnotis), harus bersedia/tidak menolak untuk di hipnotis.
  2. Menggunakan bahasa yang di mengerti,
  3. Hipnotist (oarang yang menghipnotis), harus percaya diri

Pertama, melalui induksi2 hipnotis.dan induksi itu sendiri ada bermacam2.
intinya membawa kesadaran seseorang ke posisi trance/memasuki alam bawah sadarnya.

kedua lakukan pendalama/deepening.tujuanya agar klien lebih rilex,memasuki alam bawah sadarnya lebih dalam lagi,dan membuat kondisi klien sangat fokus.
ketiga berikan sugesti2 apa yang mu di berikan,klo hipnotis panggung biasanya sugesti yang di berikan itu bersifat entertaintment/menghibur.tapi kalau dalam hipnotis kesehatan,penyembuhan/hypnosys teraphy.sugesti yang di berikan bertujuan untuk penyembuhan.
langkah terakhir adalah terminatin.atau mengakhiri hipnotis,dan membawa klien ke posisi sadar.dengan sugesti tertentu..

id.wikipedia.org/wiki/Hipnosis

Hipnoterapi : Ego State Therapy [Memahami Kepribadian Lain Dalam Diri]

by. Adi W. Gunawan
Dalam hipnoterapi ada sangat banyak teknik intervensi klinis yang bisa digunakan untuk membantu klien mengatasi masalah mereka. Dari sekian banyak teknik, salah satunya yang sangat efektif adalah Ego State Therapy.

Ego State Therapy adalah terapi yang dilakukan pada Ego State. Untuk memahaminya kita perlu memahami Ego State. Apa sih Ego State itu?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas ijinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan pada anda. Pernahkah anda mengalami hal berikut:

  1. Sewaktu bangun di pagi hari anda merasa ada dua bagian dari diri anda yang “ribut”. Satu bagian ingin anda segera bangun dan yang satu lagi ingin anda melanjutkan tidur.
  2. Saat anda harus memilih atau membuat keputusan anda bingung karena ada beberapa bagian dari diri anda yang saling tidak setuju dengan keputusan anda.
  3. Anda merasa tidak nyaman atau ada perasaan bersalah setelah melakukan suatu tindakan. Padahal saat melakukannya anda merasa sangat yakin dengan tindakan anda.

Pembaca, bila anda mengalami salah satu saja dari tiga hal di atas maka sebenarnya ada telah mengalami Ego State. Dengan kata lain, Ego State sebenarnya adalah bagian dari diri kita yang aktif atau mengendalikan diri kita pada suatu saat tertentu.

Ego State, menurut Watkins dan Watkins, adalah sebuah sistem perilaku dan pengalaman yang terorganisir yang elemen-elemennya saling terhubung melalui beberapa prinsip yang sama tetapi saling dipisahkan oleh batas-batas yang dapat ditembus (permeabilitas) hingga derajat kedalaman dan fleksibilitas tertentu.

Ada berapa banyak Ego State dalam diri kita?
Tidak ada satupun pakar yang bisa menentukan secara pasti. Ini juga bergantung pada teori masing-masing pakar itu. Tansactional Analysis (TA) yang dikembangkan oleh Eric Berne mengatakan dalam diri kita ada lima ”diri”. Gestalt Therapy, yang dikembangkan oleh Frederick Perls berdasar Psychodrama-nya Jacob Moreno, tidak menetapkan suatu jumlah tertentu. Voice Dialogue dan Psychosynthesis mengatakan kita punya banyak ”diri”. Carl Jung juga mengatakan hal yang sama, tidak diketahui secara pasti ada berapa banyak ”diri” dalam diri kita.

Namun untuk lebih mudah memahami maka saya akan mengutip apa yang dikatakan oleh Rowan. Menurut Rowan kita punya antara empat sampai sembilan ”diri” atau ”bagian” yang masing-masing adalah tema besar yang menaungi ”sub-diri”. Masing-masing ”diri” mempunyai kehidupan, fungsi, kepribadian, dan tugas masing-masing. Mereka saling terhubung antara satu dengan yang lain.

Nah, itu sekilas tentang beberapa teori yang mirip dengan Ego State. Sekarang mari kita bahas sejarah dan perkembangan Ego State Therapy.

Orang pertama yang menulis tentang Ego State adalah Paul Federn, rekan sejawat Freud. Menurut teori yang dikembangkannya Federn mengatakan bahwa kepribadian seseorang tersusun atas sekelompok bagian yang ia sebut sebagai Ego State. Ego State yang aktif pada suatu saat tertentu menentukan kepribadian orang itu.

Walaupun Federn (1952) menetapkan dan menyusun teori tentang Ego State, ia tidak mengembangkan teknik terapi menggunakan dasar teori kepribadian ini. Federn melakukan praktik terapi psikoanalisa sejalan dengan orientasi terapi yang populer pada jamannya.

Sementara itu, di tahun 1957, Eloardo Weiss, seorang Italia yang sedang dalam proses menyelesaikan pendidikannya untuk menjadi seorang psikoanalis, belajar ke Paul Federn. Federn menceritakan pandangannya tentang kepribadian kepada Weiss.

Selanjutnya John Waktins mendapat pengetahuan ini pada saat belajar di bawah bimbingan Weiss sebagai bagian dari proses pendidikannya untuk menjadi seorang psikoanalis. Dari sinilah Ego State Therapy berkembang.

Dalam praktiknya sebagai psikolog utama di Welsh Convalescent Center membantu tentara yang kembali dari perang dunia kedua Waktins menemukan bahwa tentara yang diterapi dengan menggunakan hipnosis mengalami pertukaran kondisi emosi tertentu. Pada saat itu Watkins belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada tentara yang ia tangani. Barulah pada saat ia belajar ke Weiss dan mendapatkan informasi mengenai Ego State akhirnya Watkins bisa memahami dasar teori dari apa yang ia temukan.

Di pertengahan tahun 1970, Hilgard dan Hilgard menemukan bagian dari diri manusia yang mereka sebut dengan Hidden Observer atau Pengamat Tersembunyi. Mereka menemukan adanya Hidden Observer melalui eksperimen fenomena trance seperti negative auditory hallucination dan anesthesia.

Dalam eksperimen ini subjek penelitian seakan tidak bisa mendengar atau merasakan sakit namun ternyata ada bagian dari diri subjek yang sesungguhnya tetap mendengar dan merasakan semua ini.

John Waktins mengenali Hidden Observer sama dengan Ego State yang dikatakan oleh Federn dan Weiss. Untuk memastikan hal ini, John Watkins dan istrinya, Helen Watkins, mengulang eksperimen Hilgard dan menemukan bukti yang memvalidasi pemikiran mereka.

Sejak awal tahun 1970an John dan Helen Watkins mulai mempublikasikan hasil riset mereka mengenai Ego State di berbagai jurnal dan artikel. Dan pada tahun 1997 mereka menerbitkan buku dengan judul Ego States: Theory and Therapy.

Beberapa pakar yang juga menulis tentang Ego State Therapy dan dipublikasikan dalam bentuk artikel jurnal dan buku: Maggie Phillips, Clare Frederick, Shirley McNeal, Moshe Torem, Waltermade Hartman, Gordon Emmerson, Hunter, George Fraser, dan Michael Gainer. Di tahun 2003 diselenggarakan kongres dunia pertama Ego State Therapy di Bad Orb, satu kota dekat Frankfurt.

Bagaimana Ego State Terbentuk?

Menurut Watkins Ego State terbentuk karena tiga hal. 

  1. Pertama melalui normal differentiation yaitu anak belajar membedakan satu hal dengan yang lainnya, misalnya makanan yang ia suka dan tidak suka, orang yang baik dan tidak baik terhadap dirinya.
  2. Kedua adalah introjection of significant others yaitu anak menyerap energi positif atau negatif dari orang “penting” di sekitar anak, misalnya orangtua, guru, teman, atau siapa saja yang dianggap penting oleh anak, dan energi ini termanifestasi dalam diri anak dalam bentuk “Bagian Diri” yang dinamakan Introject. Dengan kata lain introject adalah manifestasi/perwujudan suatu figur yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan seseorang yang diadopsi/tersimpan dan “hidup” di dalam ingatan/mental/pikiran bawah sadar orang tersebut. Contoh introject antara lain sosok atau figur dari ayah, ibu, suami, istri, saudara, anak, tokoh agama, guru spiritual, dan lain-lain.
  3. Ketiga, Part atau bagian diri yang terbentuk akibat pengalaman traumatik. Saat anak mengalami suatu pengalaman traumatik dan tidak ada Ego State dalam dirinya yang mampu menangani trauma ini maka akan muncul atau tercipta Ego State baru yang khusus berfungsi menangani trauma ini.

Sedangkan menurut teori perkembangan otak, Ego State terbentuk sebagai akibat dari pengalaman atau kejadian yang dialami anak yang bersifat berkesinambungan atau berulang. Misalnya pada masa kecil seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan mendukungnya maka akan muncul Ego State yang mempunyai sifat kasih sayang. Ego

State ini muncul karena anak mengalami pengalaman secara berulang (baca: stimulasi) sehingga di otak anak terjadi pembentukan jalur saraf yang terdiri dari koneksi axon dan dendrite yang mewakili pengalaman ini. Demikan pula bila anak dibesarkan dalam lingkungan yang keras maka akan muncul atau tercipta Ego State dengan sifat yang keras.

Klasifikasi Ego State

Surface dan Underlying Ego State
Dilihat dari seberapa sering suatu Ego State muncul atau aktif maka kita mengenal ada dua jenis Ego State yaitu Surface dan Underlying Ego State. Surface Ego State adalah Ego State yang sering muncul atau digunakan dalam menjalani hidup dan berinteraksi dengan lingkungan. Sedangkan Underlying Ego State adalah Ego State yang jarang muncul atau digunakan.

Saat seseorang mengalami suatu pengalaman hidup dengan menggunakan Ego State tertentu maka Ego State ini disebut sebagai Ego State yang executive atau yang memegang kendali. Secara umum dalam keseharian Surface Ego State yang aktif berkisar antara empat hingga lima.

Seseorang yang sedang mengendarai mobil menuju ke kantor atau tempat kerjanya menggunakan satu Surface Ego State. Sedangkan saat bekerja di kantor ia menggunakan Ego State lain. Saat ia membaca buku atau bermain bisa jadi ia menggunakan Ego State yang lain lagi.

Ego State saling berkomunikasi satu dengan yang lain. Umumnya yang paling mudah diajak berkomunikasi adalah Surface Ego State karena mereka mudah untuk berbagi informasi. Bisa juga terjadi ada Underlying Ego State yang tidak berkomunikasi dengan Surface Ego State. Bila demikian kondisinya kita tidak bisa mengakses informasi yang ada pada Underlying Ego State ini dengan menggunakan cara biasa.

Ego State dan Alter
Bila dilihat dari jalur komunikasinya maka kita mengenal dua jenis Ego State yaitu normal Ego State dan Alter. Normal Ego State mampu berkomunikasi dengan baik dengan Ego State lainnya. Sedangkan Alter adalah Ego State yang jalinan komunikasinya sangat buruk atau (hampir) terputus dengan Ego State lainnya.

Putusnya komunikasi ini mengakibatkan apabila Alter ini sedang executive maka apa yang ia lakukan tidak diketahui oleh Ego State lainnya. Kondisi ini dikenal dengan nama DID atau Dissociative Identity Disorder atau dulunya lebih terkenal dengan MPD (Multiple Personality Disorder). Alter terjadi karena anak mengalami pengalaman yang sangat traumatik (severe and chronic abuse) sehingga mekanisme pertahanan diri pikiran bawah sadar membuat anak “lupa” pada kejadian itu dengan cara memutus jalur komunikasi antara Alter (Ego State yang mengalami trauma) dan Ego State lainnya yang “sehat”.

Dari beberapa penelitian MPD (Kluft, Greaves, Bliss, Putnam, Lienhart, Schreiber, Loewenstein) yang saya pelajari dan dalami ternyata ada minimal 16 (enam belas) kelompok alter. Penanganan alter menggunakan strategi yang berbeda dengan penanganan Ego State.

Ego State Berdasar Sifat Dan Fungsinya

Ego State yang berfungsi normal, non-patologis, mempunyai peran yang konstruktif demi kemajuan Ego State lain dan juga si individu. Selain Ego State yang bekerja dan berfungsi normal, juga ada yang bersifat patologis yang dikenal dengan Ego State yang bersifat vaded, retro-functioning, conflicting, dan malevolent.

Vaded Ego State adalah Ego State yang tidak bisa lagi menjalankan fungsi mereka yang seharusnya karena mengalami trauma atau pengalaman yang negatif. Saat Ego State jenis ini tampil dan aktif atau executive maka individu akan mengalami kembali emosi negatif yang berhubungan dengan trauma. Kondisi ini yang oleh Freud disebut dengan situational neurosis. Vaded Ego State tidak selalu tampil dan aktif. Untuk bisa membuatnya berfungsi normal kembali maka Ego State ini harus dibuat tampil dan aktif sehingga emosi yang berhubungan dengan trauma yang ia alami dapat diproses tuntas.

Retro-functioning Ego State adalah Ego State yang menjalankan peran lama yang bertentangan dengan Ego State lainnya atau tidak mendukung kemajuan individu. Ego State jenis ini antara lain menampilkan simtom berupa kemarahan yang tidak terkendali, kebiasaan berbohong yang kronis, atau berbagai gejala psikosomatis. Untuk mengatasi hal ini bisa dilakukan negosiasi sehingga Retro-functioning Ego State bersedia menjalankan peran baru yang lebih positif dan konstruktif. Ego State bisa bersifat vaded dan retro-functioning.

Conflicting Ego State mempunyai tujuan yang positif bagi individu namun mengalami konflik kepentingan dan tujuan dengan Ego State lainnya. Contoh seseorang mengalami Conflicting Ego State adalah saat ia ingin melakukan sesuatu tetapi mendapat pertentangan dari dalam dirinya. Misalnya seseorang ingin berhenti merokok namun tidak bisa karena ada bagian dari dirinya yang sangat suka merokok. Dalam hal ini terdapat dua Ego State yang saling bertentangan. Konflik ini juga bisa muncul saat seseorang ingin diet namun tidak bisa menahan keinginan makannya.

Malevolent Ego State adalah Ego State yang bersifat keras, ganas, dan bahkan bisa sangat kejam, baik terhadap Ego State lain, diri individu, maupun orang lain. Ego State jenis ini yang biasanya membuat seseorang memukul atau menyiksa dirinya sendiri, bahkan bisa sampai mengakibat seseorang melakukan tindakan bunuh diri.

Dalam konteks terapi Malevolent Ego State adalah jenis Ego State yang paling sulit untuk bisa diajak berkomunikasi, negosiasi, bekerja sama, atau ditundukkan. Ego State ini jugalah yang selalu menghambat dan menghalangi proses terapi. Teknik terapi konvensional yang hanya mengandalkan pemberian sugesti pada klien tidak akan bisa berhasil selama Ego State ini belum berhasil ditundukkan.

Ego State Menurut Gender dan Usia
Ego State umumnya tercipta saat seseorang masih kecil atau di usia muda. Namun dalam diri klien juga bisa ditemukan Ego State janin, bayi, anak kecil, remaja, dewasa, atau orang tua. Ego State juga mempunyai jenis kelamin pria dan wanita.

Ego State ini bisa ada dalam diri baik klien pria maupun wanita. Dengan kata lain, dalam diri seorang wanita bisa ada Ego State berjenis kelamin baik pria maupun wanita, mulai yang usia muda hingga yang tua. Demikian juga dalam diri seorang pria.

Masing-masing Ego State biasanya mempunyai nama atau panggilan yang digunakan untuk berkomunikasi baik dengan sesama Ego State, dalam bentuk komunikasi internal,maupun dengan pihak luar melalui komunikasi eksternal.

Ego State dan Fisiologi
Setiap Ego State berperan sebagai “manusia” kecil di dalam diri seseorang. Ego State mempunyai karakter, logika berpikir, sikap, sifat, perilaku, memori, emosi, kebutuhan, dan tujuan sendiri.

Pada aspek fisik, saat satu Ego State tampil dan aktif maka individu akan mengalami perubahan fisik yang nyata. Bila Ego State mempunyai sifat percaya diri maka saat ia tampil dan aktif individu juga akan tampil percaya diri, berdiri tegak, berbicara dengan suara yang tegas, dan pandangan mata penuh keyakinan. Bila Ego State mengidap suatu penyakit tertentu maka saat ia tampil dan aktif penyakitnya akan muncul di fisik si individu.

Michael Gainer (1993) melaporkan bahwa seorang wanita yang mengidap penyakit reflex sympathetic dystrophy tidak menunjukkan gejala penyakit ini saat tiga Ego State lainnya tampil dan aktif. Dari temuan ini Grainer selanjutnya menggunakan Ego State Therapy dan berhasil menemukan Ego State, yang mengalami trauma, yang menyebabkan sakit pada wanita ini. Setelah trauma berhasil diselesaikan wanita ini sembuh total dari penyakit yang dideritanya.

Emmerson dan Farmer (1996) melakukan Ego State Therapy terhadap para wanita yang menderita menstrual migraine kronis dan berhasil mengurangi rata-rata jumlah hari migraine per bulan dari 12,2 menjai 2,5. Subjek penelitian juga menunjukkan berkurangnya depresi dan kemarahan secara signifikan.

Lokasi Ego State
Ego State bisa menempati lokasi di luar tubuh atau di dalam tubuh. Di luar tubuh bisa di depan, di atas, di bawah, atau di belakang. Sedangkan kalau di dalam tubuh bisa di satu lokasi tertentu, misalnya di dada, kepala, hati, tangan, punggung, perut, atau kaki, dan bisa juga menempati seluruh tubuh secara merata.

Apa Beda Ego State dan Introject?
Ego State dan Introject walaupun sama-sama disebut sebagai Part atau Bagian Diri namun berbeda menurut sumber terciptanya. Ego State berasal dari dalam diri individu sedangkan Introject berasal dari luar.

Introject adalah persepsi tentang seseorang yang terinternalisasi ke dalam pikiran bawah sadar. Dengan demikian bisa terdapat sangat banyak Introject dalam diri seseorang.

Dalam proses terapi, khususnya saat menggunakan teknik Ego State Therapy, untuk bisa memproses trauma, maka Ego State yang mengalami trauma perlu diaktifkan agar emosi yang tersimpan dalam Ego State ini bisa diproses.

Dalam upaya ini seringkali melibatkan Introject yang ada dalam diri klien. Dialog dengan Introject ini yang seringkali salah dimengerti oleh orang awam. Apalagi bila Introject ini adalah Part yang merupakan internalisasi persepsi terhadap orang yang telah meninggal. Mereka yang tidak mengerti mengira yang diajak bicara adalah roh orang yang telah meninggal.

Lebih jelasnya begini. Saat anak masih kecil muncul Introject, atau biasa sering disebut sebagai figur, Ayah dalam diri anak. Selama anak masih hidup, mulai kecil hingga usia tua, Introject ini akan terus “hidup” di dalam diri anak.

Misalnya setelah anak beranjak dewasa, si ayah meninggal dunia. Yang meninggal adalah si ayah yang sesungguhnya, namun Introject Ayah dalam diri anak tetap hidup atau ada. Sehingga pada saat proses Ego State Therapy dilakukan terhadap Introject Ayah, dalam diri anak, akan terjadi dialog seakan-akan terapis berbicara dengan si Ayah. Tujuan dialog ini untuk memproses emosi negatif yang masih tersisa dalam diri anak terhadap ayahnya atau sebaliknya.

Saya pernah membantu klien wanita, 37 tahun, yang melakukan aborsi hingga lima kali. Aborsi pertama dilakukan saat klien berusia 25 tahun. Saat membantu klien mengatasi berbagai emosi negatif yang berhubungan dengan aborsi yang ia lakukan, salah satu teknik yang saya gunakan adalah memproses emosi yang berhubungan Introject Janin yang ia gugurkan. Saat itu muncul lima Introject Janin yang digugurkan. Dan yang luar biasa lagi Introject dari janin yang pertama digugurkan, yang dipanggil dengan nama Michael, telah tumbuh dan besar, di dalam pikiran klien tentunya, hingga usia 11 tahun. Bila anda perhatikan usia klien saat melakukan aborsi, masa kehamilan sekitar 9 – 10 bulan, dan saat ia bertemu saya untuk terapi maka usia Introject Michael adalah benar 11 tahun.

Kasus menarik lainnya yang pernah ditangani murid saya adalah kasus wanita yang “kerasukan”. Wanita ini, katanya, “dirasuki” oleh “makhluk” halus dan tubuhnya menjadi kaku dan lumpuh.

Oleh murid saya, “makhluk” ini diajak bicara dan ditanya apa maunya. “Makhluk” ini minta diberi nama. Ternyata “makhluk” ini sebenarnya adalah Introject dari janin wanita ini yang keguguran. Setelah “makhluk” ini diberi nama, wanita ini langsung sembuh, bisa bangkit berdiri dan jalan normal.

Fenomena ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang bersifat metafisis. Yang terjadi adalah Introject janin (baca: anak) wanita ini muncul dan minta nama. Tubuh wanita yang menjadi kaku dan lumpuh sebenarnya adalah indikasi bahwa ia berada dalam kondisi trance sangat dalam yang disebut dengan level Catatonic, dua level di bawah Profound Somnambulism.

Contoh lain lagi, biar lebih jelas mengenai Introject, saya pernah bertukar peran dengan seorang peserta seminar saya. Peserta ini, sebut saja Agung, saya sugestikan menjadi diri saya. Dan langsung Agung mengaku bernama Adi W. Gunawan. “Adi” ini lalu saya minta untuk melanjutkan presentasi saya (Adi yang asli) dan ia melakukannya dengan sangat baik. Yang terjadi adalah Introject Adi di dalam diri Agung tampil dan aktif dan berperan sebagai Adi melalui diri Agung.

Saat saya bertanya pada “Adi”, “Pak Adi, Bapak sudah menulis berapa buku?”

Pak “Adi” menjawab, “Saya sudah menulis delapan buku.”

Dari sini saya tahu kalau data jumlah buku yang telah ditulis pada Introject Adi belum diupdate. Saat itu saya, Adi yang asli, telah menulis 12 buku. Dan pola pikir “Adi” tentunya berbeda dengan saya, Adi yang asli. Pola pikir “Adi” atau Introject Adi adalah pola pikir berdasarkan persepsi Agung terhadap diri saya.

Obat Antidepresan dan Ego State
Klien yang mengalami depresi biasanya diberi obat antidepresan agar bisa tenang. Pemberian obat antidepresan sampai pada taraf tertentu sangat membantu klien untuk bisa stabil dan berinteraksi dengan lingkungannya walaupun masalah yang dialami klien belum diatasi.

Yang sesungguhnya terjadi adalah obat ini memblok atau menekan Ego State yang mengalami depresi sehingga tidak bisa muncul, dari surface menjadi underlying, dan klien merasa tidak ada masalah atau baik-baik saja, selama obatnya terus diminum. Jika klien berhenti minum obat maka kondisinya akan kembali menjadi tidak stabil karena Ego State yang tadinya tertekan kini muncul kembali dan aktif.

Saya pernah menangani klien yang sempat depresi karena pasangannya selingkuh. Klien selama 8 tahun minum obat dan merasa dirinya baik-baik saja. Dalam kondisi sadar normal klien mengatakan bahwa ia telah sembuh. Buktinya, ia sudah tidak lagi marah pada pasangannya. Bahkan saat bertemu dengan selingkuhan pasangannya ia juga biasa-biasa saja. Saya yakin kondisi klien yang tenang dan “sembuh” ini adalah karena pengaruh obat yang masih ia minum.

Selanjutnya saya melakukan pemeriksaan langsung ke pikiran bawah sadarnya, ternyata klien masih menyimpan perasaan terluka, marah, benci, dan dendam kepada pasangannya. Selama Ego State yang menyimpan emosi ini tidak diproses maka klien akan selalu bergantung obat untuk bisa tenang.

Kondisi ideal, bila memungkinkan, sebaiknya sebelum diberi obat klien dibantu dengan Ego State Therapy. Dalam kondisi ini klien dan terapis dapat mengakses Ego State yang mengalami depresi dan memproses emosinya dengan cepat dan tuntas sehingga klien tidak perlu harus minum obat.

Cara Mengakses Ego State
Dalam kondisi normal kita hanya bisa mengakses Surface Ego State. Namun bila kita ingin mengakses Underlying Ego State yang menyimpan trauma tertentu maka dibutuhkan teknik yang spesifik dengan prasyarat khusus.

Ada dua cara untuk mengakses Underlying Ego State. Pertama, dengan menggunakan rileksasi pikiran dan kedua, tanpa rileksasi pikiran. Umumnya buku atau literatur tentang Ego State Therapy mensyaratkan rileksasi pikiran sebagai sarana untuk mengakses Underlying Ego State. Dengan kondisi pikiran yang rileks dan penggunaan teknik yang tepat akan dicapai hasil terapi yang sangat luar biasa dalam waktu yang relatif singkat.

Level kedalaman rileksasi pikiran yang umumnya digunakan untuk bisa mengakses Underlying Ego State adalah profound somnambulism. Bila kurang dalam atau lebih dalam dari profound somnambulism, Ego State Therapy biasanya akan kurang efektif.

Dari eksperimen dan pengalaman praktik saya menemukan bahwa kita bisa mengakses Underlying Ego State tanpa harus merilekskan pikiran sama sekali. Hasil terapi yang dicapai juga sama efektifnya.

Masing-masing cara mengakses Underlying Ego State mempunyai kelebihan masing-masing dan digunakan dalam situasi yang berbeda.

Manfaat Ego State Therapy

Ego State Therapy bila dipelajari dengan mendalam, cermat, dan dikuasai dengan baik akan memberikan manfaat terapeutik yang sungguh sangat luar biasa. Dalam praktik profesional sebagai hipnoterapis, dengan menggunakan Ego State Therapy, saya berhasil membantu klien mengatasi masalah, antara lain:
•phobia
•trauma/luka batin
•tidak percaya diri
•kesulitan diet
•takut sukses
•takut gagal
•insomnia
•migraine
•masalah seks
•kecemasan
•stress
•depresi
•takut berbicara di depan umum
•konflik diri (inner conflict)
•pencapaian prestasi hidup rendah
•perilaku obsessive/compulsive
•perilaku adiktif
•berbagai penyakit psikosomatis
•sabotase diri
•dan masih banyak lagi.

LINK ; http://www.adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&mode=detil&ID=260

Memahami Fenomena Kesurupan Dengan Ilmu Hipnoterapi

by. Adi W. Gunawan
Dalam setiap pelatihan, baik itu Quantum Life Transformation (QLT) maupun Quantum Hypnosis Indonesia (QHI), saya selalu mendapat satu pertanyaan yang cukup menggelitik rasa ingin tahu, “Apa sih sebenarnya kesurupan itu?”

Pertanyaan ini bisa dilihat dari dua kaca mata berbeda; dari sudut pandang metafisika dan dari sudut pandang ilmu hipnoterapi yang membahas mengenai pikiran, khususnya pikiran bawah sadar.

Dalam artikel ini saya tidak membahas kesurupan dari sudut pandang metafisika karena ini di luar ranah keilmuan saya. Kali ini saya khusus membahas kesurupan dari sudut ilmu hipnoterapi.

Menurut pemahaman masyarakat bila seseorang sedang kesurupan maka ia akan bertindak atau berperilaku bukan seperti dirinya yang biasa. Seakan-akan ada pribadi atau makhluk lain yang sedang menguasai orang ini. Pribadi atau mahkluk ini ada yang bisa diajak komunikasi. Ada juga yang tidak bisa. Ada yang punya nama dan ada juga yang tidak.

Biasanya akan terjadi perubahan yang jelas pada aspek fisik. Misalnya cara bicara, suara, bahasa tubuhnya berbeda dari biasanya. Sering terjadi, saat kesurupan, orang bisa berbicara dengan bahasa yang biasanya tidak pernah ia gunakan.

Fenomena kesurupan dalam ilmu hipnoterapi adalah suatu kondisi yang biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Yang terjadi pada diri seseorang yang kesurupan, sekali lagi ini dari sudut pandang ilmu hipnoterapi, adalah pada saat itu sebenarnya ia sedang deep trance dan ada satu, dua, atau lebih Ego State atau Part yang aktif dan mengendalikan kesadarannya.

Lho, apa itu Ego State atau Part? Kok bisa muncul?

Sebelum saya teruskan saya perlu menjelaskan terlebih dahulu apa itu trance atau kondisi hipnosis. Setiap hari sebenarnya kita beberapa kali masuk dan keluar kondisi hipnosis atau trance baik secara sadar maupun tidak. Semuanya terjadi secara alamiah. Ada yang bisa masuk ke kondisi deep trance dengan mudah. Ada juga yang membutuhkan upaya ekstra untuk bisa masuk trance.

Kondisi hipnosis bisa juga terjadi saat seseorang berada dalam tekanan mental yang melampaui ambang batas toleransi yang diijinkan pikiran bawah sadarnya. Saat seseorang berada di dalam tekanan mental, mengalami suatu peristiwa dengan muatan emosi negatif yang tinggi, maka pada saat itu hanya ada dua pilihan; fight (lawan) atau flight (lari).

Saat seseorang tegang maka adrenalin akan dipompa masuk ke dalam darah dan menyiapkan fisiknya untuk siap melakukan perlawanan. Hal ini bisa dirasakan dengan jantung yang berdegup semakin kencang, otot-otot tubuh menjadi kaku, dan seluruh sistem diri siap untuk menghadapi dan mengatasi bahaya atau sesuatu yang dipersepsikan sebagai bahaya.

Bahaya yang saya maksudkan di sini bisa berupa bahaya yang mengancam secara fisik maupun mental. Bila tekanan atau ancaman terlalu besar dan tidak mampu dilawan (fight) maka secara reflek pikiran akan memilih opsi kedua yaitu flight atau lari. Lari dalam hal ini bisa sungguh-sungguh melarikan diri, mengambil langkah seribu, atau bisa juga “melarikan diri” ke dalam. Saat seseorang lari ke dalam dirinya maka pada saat itu ia masuk ke kondisi trance atau hipnosis. Seringkali orang bisa masuk ke kondisi deep trance atau bahkan very deep trance.

Saya pernah menangani seorang klien wanita yang saat masih di SMP dan SMA seringkali pingsan. Dan kalau sudah pingsan sadarnya lama sekali. Berbagai cara sudah dilakukan untuk membangunkan klien ini tapi tidak berhasil. Bahkan sampai dibawa ke orang pintar dan dibacakan doa tetap nggak bisa bangun atau sadar. Nanti sadarnya terjadi tiba-tiba.

Mendengar kisah ini saya langsung berkata pada klien ini, “Sebenarnya anda tidak pingsan. Yang terjadi adalah anda mengalami begitu banyak tekanan mental, baik dari keluarga maupun dari sekolah, yang membuat anda tidak tahan, dan akhirnya anda memutuskan untuk lari dari keadaan ini. Benar atau tidak?”

“Benar. Lho, Pak Adi kok tahu kalau saat itu saya mengalami banyak tekanan?” jawab si klien.

“Lha iya lah…apa yang anda alami ini sebenarnya sesuatu yang sangat alamiah. Nah, saat anda “pingsan” anda tetap masih mendengar suara orang di sekitar anda, kan?” tanya saya lagi.

“Ya, Pak” jawab klien.

“Mengapa anda tidak mau keluar dari kondisi “pingsan” padahal anda mendengar orang-orang di sekitar anda memanggil-manggil nama anda?” kejar saya.

“Soalnya saat “pingsan” itu saya merasakan begitu nikmat, tenang, dan perasaan bahagia yang tidak terlukiskan. Sekarang saja kalau saya mau saya bisa masuk kembali ke kondisi ini” jawab klien saya.

Nah, pembaca, tahukah anda bahwa klien ini bukannya pingsan tapi ia berada dalam kondisi trance yang sangat-sangat dalam yang dikenal dengan level Esdaile atau Hypnotic Coma?

Saat seseorang masuk ke kondisi ini maka yang ia rasakan adalah suatu perasaan euphoria, bahagia yang luar biasa, tidak terlukiskan, sangat nyaman, dan orang biasanya tidak mau keluar dari kondisi ini. Inilah yang sebenarnya dialami oleh klien saya. Jadi ia bukannya pingsan tapi, karena tidak kuat melawan tekanan mental/psikis, memutuskan untuk flight (lari) dan masuk ke dalam dirinya sendiri, dan trance.

Di salah satu sesi terapi yang saya lakukan pada klien ini benar ia tidak mau keluar dari kondisi ini. Saya akhirnya menggunakan teknik tertentu untuk membuat ia keluar dan berhasil.

Pemahaman ini juga yang saya gunakan saat membangunkan atau menyadarkan 2 siswi SMA di Malang yang pingsan saat mengikuti pelatihan yang saya selenggarakan. Bayangkan, bagaimana nggak pingsan, lha aula diisi oleh lebih dari 1.500 orang peserta, semuanya siswa/siswi kelas 3 SMA/SMK, dan tidak ada AC (air conditioner). Yang dipake AC hemat listrik yaitu Angin Cendela…he…he. Bisa dibayangkan bagaimana panasnya.

Siswi pertama pingsan karena ketakutan saat saya mengeluarkan ular mainan yang biasa saya gunakan untuk demo mengatasi emosi dengan teknik Hypno-EFT. Begitu melihat ular saya, ular mainan maksud saya, anda jangan berpikir yang lain lho, siswi ini langsung pucat dan “memutuskan” untuk pingsan.

Berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk menyadarkan mereka berdua? Tidak lama. Masing-masing hanya butuh waktu sekitar 2 sampai 3 menit saja. Nggak pake doa, baca-baca, atau ritual tertentu.

Apa yang saya lakukan?

Ya, saya panggil nama mereka dan saya minta mereka bangun. Saya tahu mereka masih tetap bisa mendengar suara saya. Saya tahu bahwa mereka tidak benar-benar tidak sadarkan diri. Mereka hanya masuk ke kondisi deep trance. Jadi, ya saya bimbing mereka keluar dari kondisi trance seperti saat saya selesai menerapi orang. Mudah, kan?

Nah, kembali ke Ego State atau Part. Pada saat dalam kondisi deep trance ini bisa muncul banyak fenomena. Salah satunya adalah munculnya satu atau lebih Ego State/Part yang mengendalikan kesadaran seseorang.

Pertanyaanya sekarang, “Apa sih Ego State atau Part itu?”

Penjelasan agak detil bisa anda dapatkan dengan membaca artikel saya yang berjudul “Kita Punya Banyak Diri” (bisa dilihat di http://www.adiwgunawan.com) .

Singkatnya begini. Di dalam diri kita ada banyak “diri”. Masing-masing diri ini mempunyai kepribadian, karakter, nama, sikap, pola pikir, kebiasaan, memori, dan emosi. Jika anda bingung dengan hal ini coba anda ingat-ingat. Pernahkah, saat ingin memutuskan sesuatu, anda ragu atau bingung? Yang anda rasakan adalah ada dua atau lebih “Bagian” dari diri anda yang ribut sendiri. Akibatnya anda menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Nah, “Bagian” inilah yang disebut dengan Ego State atau Part.

Anda jelas sekarang?

Untuk lebih mudah memahami Ego State caranya begini. Di komputer mental kita, yaitu pikiran, khususnya pikiran bawah sadar, ada banyak folder. Setiap folder berisi data-data tertentu. Nah, saat folder ini aktif atau diakses dengan teknik tertentu, tentunya dalam kondisi trance, maka isi folder akan keluar. Pada saat inilah isi folder masuk ke pikiran sadar dan aktif. Ego State adalah folder ini.

Saya pernah, saat memberikan seminar di UGM, mensugestikan seorang peserta bahwa dia adalah saya, Adi W. Gunawan. Selanjutnya saya bertanya, “Bapak namanya siapa?”

“Adi W. Gunawan” jawabnya mantap.

“Bapak lagi ngapain di sini?” tanya saya lagi.

“Lagi kasih seminar” jawabnya tegas.

“Pak Adi, bisa tolong diteruskan seminarnya?” tanya saya.

Apa yang terjadi setelah itu?

Peserta ini langsung memegang mic dan bicara dengan mantap seperti saya. Ia memberikan seminar dan motivasi sangat mirip dengan yang saya lakukan.

Saat saya bertanya kepada peserta ini, “Pak Adi, anda punya berapa orang anak?”

“Tiga. Semuanya perempuan” jawabnya.

“Bapak sudah menulis berapa buku?” tanya saya lagi.

“Sudah delapan buku best seller” jawabnya mantap.

Nah, di sini saya tahu bahwa data jumlah buku di folder “Adi W. Gunawan” di dalam komputer mentalnya ternyata belum di-update. Delapan buku adalah data yang lama karena total buku yang sudah saya tulis semuanya dua belas.

Anda jelas sekarang?

Bagaimana Ego State bekerja dan apa yang perlu dilakukan untuk bisa berkomunikasi dengan Ego State saya ajarkan di kelas pelatihan hipnoterapi 100 jam QHI. Saya juga memberikan demonstrasi dengan live therapy di kelas sehingga peserta pelatihan bisa benar-benar mengerti apa itu Ego State.

Biasanya untuk menyelesaikan suatu masalah yang dialami klien minimal ada 2 Ego State yang kita panggil keluar dan diajak berkomunikasi. Masing-masing Ego State punya nama dan peran yang spesifik untuk diri klien. Bahkan ada Ego State yang tidak bisa berbahasa Indonesia.

Seorang peserta pelatihan yang berasal dari Palembang, yang kebetulan berprofesi sebagai seorang healer, setelah mengerti mengenai Ego State, sekarang kalau menangani kasus kesurupan, selalu menggunakan teknik Ego State Therapy. Dan hasilnya lebih cespleng. Dulu ia harus pake air putih dan baca doa tertentu.

Ok, kalau begitu, pertanyaannya, “Bagaimana dengan kesurupan masal yang sering diberitakan di media masa?”
Oh, ini jawabannya sama seperti penjelasan di atas. Coba anda amati. Yang seringkali mengalami kesurupan adalah murid kelas 3 SMP atau kelas 3 SMA dan biasanya wanita.

Mengapa kelas 3 SMP atau 3 SMA?

Ya, karena mereka takut dan sangat tertekan dengan tingginya beban akademis, jam pelajaran yang sangat panjang yang melelahkan fisik dan mental, muatan pelajaran dengan tingkat kesulitan yang tinggi, dan ditambah lagi adanya UN atau Ujian Nasional.

Mereka semua ketakutan. Mereka secara terus menerus mengalami tekanan mental. Hingga pada satu saat, karena sudah melebihi ambang batas toleransi, murid-murid ini, karena tidak bisa melawan (fight), akhirnya memilih lari (flight). Begitu ada satu orang kesurupan maka secara cepat menyebar ke rekan-rekannya. Ini sebenarnya bentuk histeria masal.

Saat “kesurupan” ini, yang sebenarnya kondisi deep trance, maka terjadilah abreaction atau keluarnya emosi yang selama ini tertekan (repressed emotion).

Dari berita-berita di media massa diketahui bahwa kebanyakan pelajar yang mengalami kesurupan adalah pelajar wanita. Dugaan itu didukung kenyataan serupa, berdasar penelitian Gaw, Ding, Levine, dan Gaw (1998) di Tiongkok.

Sejauh ini anda pasti sudah cukup jelas dan mengerti kesurupan dari sudut pandang ilmu hipnoterapi.

Sebagai penutup saya ingin anda berpikir mengenai fenomena yang terjadi di sekitar anda. Saya yakin anda pasti pernah mendengar atau melihat langsung bagaimana seseorang yang “kesurupan” roh Harimau dan berperilaku persis seperti si Harimau.

Pertanyaannya adalah mengapa kok Harimau? Belum pernah kan anda membaca seseorang yang kesurupan Panda, Kuda Nil, atau Kanguru?

Demikian juga, kalau di desa, biasanya ada yang kesurupan Gatot Koco. Nggak pernah ada yang mengalami kesurupan Spiderman atau Hulk.

LINK ; http://www.adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&mode=detil&ID=190

>Hipnoterapi : Ego State Therapy [Memahami Kepribadian Lain Dalam Diri]

>

by. Adi W. Gunawan
Dalam hipnoterapi ada sangat banyak teknik intervensi klinis yang bisa digunakan untuk membantu klien mengatasi masalah mereka. Dari sekian banyak teknik, salah satunya yang sangat efektif adalah Ego State Therapy.

Ego State Therapy adalah terapi yang dilakukan pada Ego State. Untuk memahaminya kita perlu memahami Ego State. Apa sih Ego State itu?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas ijinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan pada anda. Pernahkah anda mengalami hal berikut:

  1. Sewaktu bangun di pagi hari anda merasa ada dua bagian dari diri anda yang “ribut”. Satu bagian ingin anda segera bangun dan yang satu lagi ingin anda melanjutkan tidur.
  2. Saat anda harus memilih atau membuat keputusan anda bingung karena ada beberapa bagian dari diri anda yang saling tidak setuju dengan keputusan anda.
  3. Anda merasa tidak nyaman atau ada perasaan bersalah setelah melakukan suatu tindakan. Padahal saat melakukannya anda merasa sangat yakin dengan tindakan anda.

Pembaca, bila anda mengalami salah satu saja dari tiga hal di atas maka sebenarnya ada telah mengalami Ego State. Dengan kata lain, Ego State sebenarnya adalah bagian dari diri kita yang aktif atau mengendalikan diri kita pada suatu saat tertentu.

Ego State, menurut Watkins dan Watkins, adalah sebuah sistem perilaku dan pengalaman yang terorganisir yang elemen-elemennya saling terhubung melalui beberapa prinsip yang sama tetapi saling dipisahkan oleh batas-batas yang dapat ditembus (permeabilitas) hingga derajat kedalaman dan fleksibilitas tertentu.

Ada berapa banyak Ego State dalam diri kita?
Tidak ada satupun pakar yang bisa menentukan secara pasti. Ini juga bergantung pada teori masing-masing pakar itu. Tansactional Analysis (TA) yang dikembangkan oleh Eric Berne mengatakan dalam diri kita ada lima ”diri”. Gestalt Therapy, yang dikembangkan oleh Frederick Perls berdasar Psychodrama-nya Jacob Moreno, tidak menetapkan suatu jumlah tertentu. Voice Dialogue dan Psychosynthesis mengatakan kita punya banyak ”diri”. Carl Jung juga mengatakan hal yang sama, tidak diketahui secara pasti ada berapa banyak ”diri” dalam diri kita.

Namun untuk lebih mudah memahami maka saya akan mengutip apa yang dikatakan oleh Rowan. Menurut Rowan kita punya antara empat sampai sembilan ”diri” atau ”bagian” yang masing-masing adalah tema besar yang menaungi ”sub-diri”. Masing-masing ”diri” mempunyai kehidupan, fungsi, kepribadian, dan tugas masing-masing. Mereka saling terhubung antara satu dengan yang lain.

Nah, itu sekilas tentang beberapa teori yang mirip dengan Ego State. Sekarang mari kita bahas sejarah dan perkembangan Ego State Therapy.

Orang pertama yang menulis tentang Ego State adalah Paul Federn, rekan sejawat Freud. Menurut teori yang dikembangkannya Federn mengatakan bahwa kepribadian seseorang tersusun atas sekelompok bagian yang ia sebut sebagai Ego State. Ego State yang aktif pada suatu saat tertentu menentukan kepribadian orang itu.

Walaupun Federn (1952) menetapkan dan menyusun teori tentang Ego State, ia tidak mengembangkan teknik terapi menggunakan dasar teori kepribadian ini. Federn melakukan praktik terapi psikoanalisa sejalan dengan orientasi terapi yang populer pada jamannya.

Sementara itu, di tahun 1957, Eloardo Weiss, seorang Italia yang sedang dalam proses menyelesaikan pendidikannya untuk menjadi seorang psikoanalis, belajar ke Paul Federn. Federn menceritakan pandangannya tentang kepribadian kepada Weiss.

Selanjutnya John Waktins mendapat pengetahuan ini pada saat belajar di bawah bimbingan Weiss sebagai bagian dari proses pendidikannya untuk menjadi seorang psikoanalis. Dari sinilah Ego State Therapy berkembang.

Dalam praktiknya sebagai psikolog utama di Welsh Convalescent Center membantu tentara yang kembali dari perang dunia kedua Waktins menemukan bahwa tentara yang diterapi dengan menggunakan hipnosis mengalami pertukaran kondisi emosi tertentu. Pada saat itu Watkins belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada tentara yang ia tangani. Barulah pada saat ia belajar ke Weiss dan mendapatkan informasi mengenai Ego State akhirnya Watkins bisa memahami dasar teori dari apa yang ia temukan.

Di pertengahan tahun 1970, Hilgard dan Hilgard menemukan bagian dari diri manusia yang mereka sebut dengan Hidden Observer atau Pengamat Tersembunyi. Mereka menemukan adanya Hidden Observer melalui eksperimen fenomena trance seperti negative auditory hallucination dan anesthesia.

Dalam eksperimen ini subjek penelitian seakan tidak bisa mendengar atau merasakan sakit namun ternyata ada bagian dari diri subjek yang sesungguhnya tetap mendengar dan merasakan semua ini.

John Waktins mengenali Hidden Observer sama dengan Ego State yang dikatakan oleh Federn dan Weiss. Untuk memastikan hal ini, John Watkins dan istrinya, Helen Watkins, mengulang eksperimen Hilgard dan menemukan bukti yang memvalidasi pemikiran mereka.

Sejak awal tahun 1970an John dan Helen Watkins mulai mempublikasikan hasil riset mereka mengenai Ego State di berbagai jurnal dan artikel. Dan pada tahun 1997 mereka menerbitkan buku dengan judul Ego States: Theory and Therapy.

Beberapa pakar yang juga menulis tentang Ego State Therapy dan dipublikasikan dalam bentuk artikel jurnal dan buku: Maggie Phillips, Clare Frederick, Shirley McNeal, Moshe Torem, Waltermade Hartman, Gordon Emmerson, Hunter, George Fraser, dan Michael Gainer. Di tahun 2003 diselenggarakan kongres dunia pertama Ego State Therapy di Bad Orb, satu kota dekat Frankfurt.

Bagaimana Ego State Terbentuk?

Menurut Watkins Ego State terbentuk karena tiga hal. 

  1. Pertama melalui normal differentiation yaitu anak belajar membedakan satu hal dengan yang lainnya, misalnya makanan yang ia suka dan tidak suka, orang yang baik dan tidak baik terhadap dirinya.
  2. Kedua adalah introjection of significant others yaitu anak menyerap energi positif atau negatif dari orang “penting” di sekitar anak, misalnya orangtua, guru, teman, atau siapa saja yang dianggap penting oleh anak, dan energi ini termanifestasi dalam diri anak dalam bentuk “Bagian Diri” yang dinamakan Introject. Dengan kata lain introject adalah manifestasi/perwujudan suatu figur yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan seseorang yang diadopsi/tersimpan dan “hidup” di dalam ingatan/mental/pikiran bawah sadar orang tersebut. Contoh introject antara lain sosok atau figur dari ayah, ibu, suami, istri, saudara, anak, tokoh agama, guru spiritual, dan lain-lain.
  3. Ketiga, Part atau bagian diri yang terbentuk akibat pengalaman traumatik. Saat anak mengalami suatu pengalaman traumatik dan tidak ada Ego State dalam dirinya yang mampu menangani trauma ini maka akan muncul atau tercipta Ego State baru yang khusus berfungsi menangani trauma ini.

Sedangkan menurut teori perkembangan otak, Ego State terbentuk sebagai akibat dari pengalaman atau kejadian yang dialami anak yang bersifat berkesinambungan atau berulang. Misalnya pada masa kecil seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan mendukungnya maka akan muncul Ego State yang mempunyai sifat kasih sayang. Ego

State ini muncul karena anak mengalami pengalaman secara berulang (baca: stimulasi) sehingga di otak anak terjadi pembentukan jalur saraf yang terdiri dari koneksi axon dan dendrite yang mewakili pengalaman ini. Demikan pula bila anak dibesarkan dalam lingkungan yang keras maka akan muncul atau tercipta Ego State dengan sifat yang keras.

Klasifikasi Ego State

Surface dan Underlying Ego State
Dilihat dari seberapa sering suatu Ego State muncul atau aktif maka kita mengenal ada dua jenis Ego State yaitu Surface dan Underlying Ego State. Surface Ego State adalah Ego State yang sering muncul atau digunakan dalam menjalani hidup dan berinteraksi dengan lingkungan. Sedangkan Underlying Ego State adalah Ego State yang jarang muncul atau digunakan.

Saat seseorang mengalami suatu pengalaman hidup dengan menggunakan Ego State tertentu maka Ego State ini disebut sebagai Ego State yang executive atau yang memegang kendali. Secara umum dalam keseharian Surface Ego State yang aktif berkisar antara empat hingga lima.

Seseorang yang sedang mengendarai mobil menuju ke kantor atau tempat kerjanya menggunakan satu Surface Ego State. Sedangkan saat bekerja di kantor ia menggunakan Ego State lain. Saat ia membaca buku atau bermain bisa jadi ia menggunakan Ego State yang lain lagi.

Ego State saling berkomunikasi satu dengan yang lain. Umumnya yang paling mudah diajak berkomunikasi adalah Surface Ego State karena mereka mudah untuk berbagi informasi. Bisa juga terjadi ada Underlying Ego State yang tidak berkomunikasi dengan Surface Ego State. Bila demikian kondisinya kita tidak bisa mengakses informasi yang ada pada Underlying Ego State ini dengan menggunakan cara biasa.

Ego State dan Alter
Bila dilihat dari jalur komunikasinya maka kita mengenal dua jenis Ego State yaitu normal Ego State dan Alter. Normal Ego State mampu berkomunikasi dengan baik dengan Ego State lainnya. Sedangkan Alter adalah Ego State yang jalinan komunikasinya sangat buruk atau (hampir) terputus dengan Ego State lainnya.

Putusnya komunikasi ini mengakibatkan apabila Alter ini sedang executive maka apa yang ia lakukan tidak diketahui oleh Ego State lainnya. Kondisi ini dikenal dengan nama DID atau Dissociative Identity Disorder atau dulunya lebih terkenal dengan MPD (Multiple Personality Disorder). Alter terjadi karena anak mengalami pengalaman yang sangat traumatik (severe and chronic abuse) sehingga mekanisme pertahanan diri pikiran bawah sadar membuat anak “lupa” pada kejadian itu dengan cara memutus jalur komunikasi antara Alter (Ego State yang mengalami trauma) dan Ego State lainnya yang “sehat”.

Dari beberapa penelitian MPD (Kluft, Greaves, Bliss, Putnam, Lienhart, Schreiber, Loewenstein) yang saya pelajari dan dalami ternyata ada minimal 16 (enam belas) kelompok alter. Penanganan alter menggunakan strategi yang berbeda dengan penanganan Ego State.

Ego State Berdasar Sifat Dan Fungsinya

Ego State yang berfungsi normal, non-patologis, mempunyai peran yang konstruktif demi kemajuan Ego State lain dan juga si individu. Selain Ego State yang bekerja dan berfungsi normal, juga ada yang bersifat patologis yang dikenal dengan Ego State yang bersifat vaded, retro-functioning, conflicting, dan malevolent.

Vaded Ego State adalah Ego State yang tidak bisa lagi menjalankan fungsi mereka yang seharusnya karena mengalami trauma atau pengalaman yang negatif. Saat Ego State jenis ini tampil dan aktif atau executive maka individu akan mengalami kembali emosi negatif yang berhubungan dengan trauma. Kondisi ini yang oleh Freud disebut dengan situational neurosis. Vaded Ego State tidak selalu tampil dan aktif. Untuk bisa membuatnya berfungsi normal kembali maka Ego State ini harus dibuat tampil dan aktif sehingga emosi yang berhubungan dengan trauma yang ia alami dapat diproses tuntas.

Retro-functioning Ego State adalah Ego State yang menjalankan peran lama yang bertentangan dengan Ego State lainnya atau tidak mendukung kemajuan individu. Ego State jenis ini antara lain menampilkan simtom berupa kemarahan yang tidak terkendali, kebiasaan berbohong yang kronis, atau berbagai gejala psikosomatis. Untuk mengatasi hal ini bisa dilakukan negosiasi sehingga Retro-functioning Ego State bersedia menjalankan peran baru yang lebih positif dan konstruktif. Ego State bisa bersifat vaded dan retro-functioning.

Conflicting Ego State mempunyai tujuan yang positif bagi individu namun mengalami konflik kepentingan dan tujuan dengan Ego State lainnya. Contoh seseorang mengalami Conflicting Ego State adalah saat ia ingin melakukan sesuatu tetapi mendapat pertentangan dari dalam dirinya. Misalnya seseorang ingin berhenti merokok namun tidak bisa karena ada bagian dari dirinya yang sangat suka merokok. Dalam hal ini terdapat dua Ego State yang saling bertentangan. Konflik ini juga bisa muncul saat seseorang ingin diet namun tidak bisa menahan keinginan makannya.

Malevolent Ego State adalah Ego State yang bersifat keras, ganas, dan bahkan bisa sangat kejam, baik terhadap Ego State lain, diri individu, maupun orang lain. Ego State jenis ini yang biasanya membuat seseorang memukul atau menyiksa dirinya sendiri, bahkan bisa sampai mengakibat seseorang melakukan tindakan bunuh diri.

Dalam konteks terapi Malevolent Ego State adalah jenis Ego State yang paling sulit untuk bisa diajak berkomunikasi, negosiasi, bekerja sama, atau ditundukkan. Ego State ini jugalah yang selalu menghambat dan menghalangi proses terapi. Teknik terapi konvensional yang hanya mengandalkan pemberian sugesti pada klien tidak akan bisa berhasil selama Ego State ini belum berhasil ditundukkan.

Ego State Menurut Gender dan Usia
Ego State umumnya tercipta saat seseorang masih kecil atau di usia muda. Namun dalam diri klien juga bisa ditemukan Ego State janin, bayi, anak kecil, remaja, dewasa, atau orang tua. Ego State juga mempunyai jenis kelamin pria dan wanita.

Ego State ini bisa ada dalam diri baik klien pria maupun wanita. Dengan kata lain, dalam diri seorang wanita bisa ada Ego State berjenis kelamin baik pria maupun wanita, mulai yang usia muda hingga yang tua. Demikian juga dalam diri seorang pria.

Masing-masing Ego State biasanya mempunyai nama atau panggilan yang digunakan untuk berkomunikasi baik dengan sesama Ego State, dalam bentuk komunikasi internal,maupun dengan pihak luar melalui komunikasi eksternal.

Ego State dan Fisiologi
Setiap Ego State berperan sebagai “manusia” kecil di dalam diri seseorang. Ego State mempunyai karakter, logika berpikir, sikap, sifat, perilaku, memori, emosi, kebutuhan, dan tujuan sendiri.

Pada aspek fisik, saat satu Ego State tampil dan aktif maka individu akan mengalami perubahan fisik yang nyata. Bila Ego State mempunyai sifat percaya diri maka saat ia tampil dan aktif individu juga akan tampil percaya diri, berdiri tegak, berbicara dengan suara yang tegas, dan pandangan mata penuh keyakinan. Bila Ego State mengidap suatu penyakit tertentu maka saat ia tampil dan aktif penyakitnya akan muncul di fisik si individu.

Michael Gainer (1993) melaporkan bahwa seorang wanita yang mengidap penyakit reflex sympathetic dystrophy tidak menunjukkan gejala penyakit ini saat tiga Ego State lainnya tampil dan aktif. Dari temuan ini Grainer selanjutnya menggunakan Ego State Therapy dan berhasil menemukan Ego State, yang mengalami trauma, yang menyebabkan sakit pada wanita ini. Setelah trauma berhasil diselesaikan wanita ini sembuh total dari penyakit yang dideritanya.

Emmerson dan Farmer (1996) melakukan Ego State Therapy terhadap para wanita yang menderita menstrual migraine kronis dan berhasil mengurangi rata-rata jumlah hari migraine per bulan dari 12,2 menjai 2,5. Subjek penelitian juga menunjukkan berkurangnya depresi dan kemarahan secara signifikan.

Lokasi Ego State
Ego State bisa menempati lokasi di luar tubuh atau di dalam tubuh. Di luar tubuh bisa di depan, di atas, di bawah, atau di belakang. Sedangkan kalau di dalam tubuh bisa di satu lokasi tertentu, misalnya di dada, kepala, hati, tangan, punggung, perut, atau kaki, dan bisa juga menempati seluruh tubuh secara merata.

Apa Beda Ego State dan Introject?
Ego State dan Introject walaupun sama-sama disebut sebagai Part atau Bagian Diri namun berbeda menurut sumber terciptanya. Ego State berasal dari dalam diri individu sedangkan Introject berasal dari luar.

Introject adalah persepsi tentang seseorang yang terinternalisasi ke dalam pikiran bawah sadar. Dengan demikian bisa terdapat sangat banyak Introject dalam diri seseorang.

Dalam proses terapi, khususnya saat menggunakan teknik Ego State Therapy, untuk bisa memproses trauma, maka Ego State yang mengalami trauma perlu diaktifkan agar emosi yang tersimpan dalam Ego State ini bisa diproses.

Dalam upaya ini seringkali melibatkan Introject yang ada dalam diri klien. Dialog dengan Introject ini yang seringkali salah dimengerti oleh orang awam. Apalagi bila Introject ini adalah Part yang merupakan internalisasi persepsi terhadap orang yang telah meninggal. Mereka yang tidak mengerti mengira yang diajak bicara adalah roh orang yang telah meninggal.

Lebih jelasnya begini. Saat anak masih kecil muncul Introject, atau biasa sering disebut sebagai figur, Ayah dalam diri anak. Selama anak masih hidup, mulai kecil hingga usia tua, Introject ini akan terus “hidup” di dalam diri anak.

Misalnya setelah anak beranjak dewasa, si ayah meninggal dunia. Yang meninggal adalah si ayah yang sesungguhnya, namun Introject Ayah dalam diri anak tetap hidup atau ada. Sehingga pada saat proses Ego State Therapy dilakukan terhadap Introject Ayah, dalam diri anak, akan terjadi dialog seakan-akan terapis berbicara dengan si Ayah. Tujuan dialog ini untuk memproses emosi negatif yang masih tersisa dalam diri anak terhadap ayahnya atau sebaliknya.

Saya pernah membantu klien wanita, 37 tahun, yang melakukan aborsi hingga lima kali. Aborsi pertama dilakukan saat klien berusia 25 tahun. Saat membantu klien mengatasi berbagai emosi negatif yang berhubungan dengan aborsi yang ia lakukan, salah satu teknik yang saya gunakan adalah memproses emosi yang berhubungan Introject Janin yang ia gugurkan. Saat itu muncul lima Introject Janin yang digugurkan. Dan yang luar biasa lagi Introject dari janin yang pertama digugurkan, yang dipanggil dengan nama Michael, telah tumbuh dan besar, di dalam pikiran klien tentunya, hingga usia 11 tahun. Bila anda perhatikan usia klien saat melakukan aborsi, masa kehamilan sekitar 9 – 10 bulan, dan saat ia bertemu saya untuk terapi maka usia Introject Michael adalah benar 11 tahun.

Kasus menarik lainnya yang pernah ditangani murid saya adalah kasus wanita yang “kerasukan”. Wanita ini, katanya, “dirasuki” oleh “makhluk” halus dan tubuhnya menjadi kaku dan lumpuh.

Oleh murid saya, “makhluk” ini diajak bicara dan ditanya apa maunya. “Makhluk” ini minta diberi nama. Ternyata “makhluk” ini sebenarnya adalah Introject dari janin wanita ini yang keguguran. Setelah “makhluk” ini diberi nama, wanita ini langsung sembuh, bisa bangkit berdiri dan jalan normal.

Fenomena ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang bersifat metafisis. Yang terjadi adalah Introject janin (baca: anak) wanita ini muncul dan minta nama. Tubuh wanita yang menjadi kaku dan lumpuh sebenarnya adalah indikasi bahwa ia berada dalam kondisi trance sangat dalam yang disebut dengan level Catatonic, dua level di bawah Profound Somnambulism.

Contoh lain lagi, biar lebih jelas mengenai Introject, saya pernah bertukar peran dengan seorang peserta seminar saya. Peserta ini, sebut saja Agung, saya sugestikan menjadi diri saya. Dan langsung Agung mengaku bernama Adi W. Gunawan. “Adi” ini lalu saya minta untuk melanjutkan presentasi saya (Adi yang asli) dan ia melakukannya dengan sangat baik. Yang terjadi adalah Introject Adi di dalam diri Agung tampil dan aktif dan berperan sebagai Adi melalui diri Agung.

Saat saya bertanya pada “Adi”, “Pak Adi, Bapak sudah menulis berapa buku?”

Pak “Adi” menjawab, “Saya sudah menulis delapan buku.”

Dari sini saya tahu kalau data jumlah buku yang telah ditulis pada Introject Adi belum diupdate. Saat itu saya, Adi yang asli, telah menulis 12 buku. Dan pola pikir “Adi” tentunya berbeda dengan saya, Adi yang asli. Pola pikir “Adi” atau Introject Adi adalah pola pikir berdasarkan persepsi Agung terhadap diri saya.

Obat Antidepresan dan Ego State
Klien yang mengalami depresi biasanya diberi obat antidepresan agar bisa tenang. Pemberian obat antidepresan sampai pada taraf tertentu sangat membantu klien untuk bisa stabil dan berinteraksi dengan lingkungannya walaupun masalah yang dialami klien belum diatasi.

Yang sesungguhnya terjadi adalah obat ini memblok atau menekan Ego State yang mengalami depresi sehingga tidak bisa muncul, dari surface menjadi underlying, dan klien merasa tidak ada masalah atau baik-baik saja, selama obatnya terus diminum. Jika klien berhenti minum obat maka kondisinya akan kembali menjadi tidak stabil karena Ego State yang tadinya tertekan kini muncul kembali dan aktif.

Saya pernah menangani klien yang sempat depresi karena pasangannya selingkuh. Klien selama 8 tahun minum obat dan merasa dirinya baik-baik saja. Dalam kondisi sadar normal klien mengatakan bahwa ia telah sembuh. Buktinya, ia sudah tidak lagi marah pada pasangannya. Bahkan saat bertemu dengan selingkuhan pasangannya ia juga biasa-biasa saja. Saya yakin kondisi klien yang tenang dan “sembuh” ini adalah karena pengaruh obat yang masih ia minum.

Selanjutnya saya melakukan pemeriksaan langsung ke pikiran bawah sadarnya, ternyata klien masih menyimpan perasaan terluka, marah, benci, dan dendam kepada pasangannya. Selama Ego State yang menyimpan emosi ini tidak diproses maka klien akan selalu bergantung obat untuk bisa tenang.

Kondisi ideal, bila memungkinkan, sebaiknya sebelum diberi obat klien dibantu dengan Ego State Therapy. Dalam kondisi ini klien dan terapis dapat mengakses Ego State yang mengalami depresi dan memproses emosinya dengan cepat dan tuntas sehingga klien tidak perlu harus minum obat.

Cara Mengakses Ego State
Dalam kondisi normal kita hanya bisa mengakses Surface Ego State. Namun bila kita ingin mengakses Underlying Ego State yang menyimpan trauma tertentu maka dibutuhkan teknik yang spesifik dengan prasyarat khusus.

Ada dua cara untuk mengakses Underlying Ego State. Pertama, dengan menggunakan rileksasi pikiran dan kedua, tanpa rileksasi pikiran. Umumnya buku atau literatur tentang Ego State Therapy mensyaratkan rileksasi pikiran sebagai sarana untuk mengakses Underlying Ego State. Dengan kondisi pikiran yang rileks dan penggunaan teknik yang tepat akan dicapai hasil terapi yang sangat luar biasa dalam waktu yang relatif singkat.

Level kedalaman rileksasi pikiran yang umumnya digunakan untuk bisa mengakses Underlying Ego State adalah profound somnambulism. Bila kurang dalam atau lebih dalam dari profound somnambulism, Ego State Therapy biasanya akan kurang efektif.

Dari eksperimen dan pengalaman praktik saya menemukan bahwa kita bisa mengakses Underlying Ego State tanpa harus merilekskan pikiran sama sekali. Hasil terapi yang dicapai juga sama efektifnya.

Masing-masing cara mengakses Underlying Ego State mempunyai kelebihan masing-masing dan digunakan dalam situasi yang berbeda.

Manfaat Ego State Therapy

Ego State Therapy bila dipelajari dengan mendalam, cermat, dan dikuasai dengan baik akan memberikan manfaat terapeutik yang sungguh sangat luar biasa. Dalam praktik profesional sebagai hipnoterapis, dengan menggunakan Ego State Therapy, saya berhasil membantu klien mengatasi masalah, antara lain:
•phobia
•trauma/luka batin
•tidak percaya diri
•kesulitan diet
•takut sukses
•takut gagal
•insomnia
•migraine
•masalah seks
•kecemasan
•stress
•depresi
•takut berbicara di depan umum
•konflik diri (inner conflict)
•pencapaian prestasi hidup rendah
•perilaku obsessive/compulsive
•perilaku adiktif
•berbagai penyakit psikosomatis
•sabotase diri
•dan masih banyak lagi.

LINK ; http://www.adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&mode=detil&ID=260

>Memahami Fenomena Kesurupan Dengan Ilmu Hipnoterapi

>

by. Adi W. Gunawan
Dalam setiap pelatihan, baik itu Quantum Life Transformation (QLT) maupun Quantum Hypnosis Indonesia (QHI), saya selalu mendapat satu pertanyaan yang cukup menggelitik rasa ingin tahu, “Apa sih sebenarnya kesurupan itu?”

Pertanyaan ini bisa dilihat dari dua kaca mata berbeda; dari sudut pandang metafisika dan dari sudut pandang ilmu hipnoterapi yang membahas mengenai pikiran, khususnya pikiran bawah sadar.

Dalam artikel ini saya tidak membahas kesurupan dari sudut pandang metafisika karena ini di luar ranah keilmuan saya. Kali ini saya khusus membahas kesurupan dari sudut ilmu hipnoterapi.

Menurut pemahaman masyarakat bila seseorang sedang kesurupan maka ia akan bertindak atau berperilaku bukan seperti dirinya yang biasa. Seakan-akan ada pribadi atau makhluk lain yang sedang menguasai orang ini. Pribadi atau mahkluk ini ada yang bisa diajak komunikasi. Ada juga yang tidak bisa. Ada yang punya nama dan ada juga yang tidak.

Biasanya akan terjadi perubahan yang jelas pada aspek fisik. Misalnya cara bicara, suara, bahasa tubuhnya berbeda dari biasanya. Sering terjadi, saat kesurupan, orang bisa berbicara dengan bahasa yang biasanya tidak pernah ia gunakan.

Fenomena kesurupan dalam ilmu hipnoterapi adalah suatu kondisi yang biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Yang terjadi pada diri seseorang yang kesurupan, sekali lagi ini dari sudut pandang ilmu hipnoterapi, adalah pada saat itu sebenarnya ia sedang deep trance dan ada satu, dua, atau lebih Ego State atau Part yang aktif dan mengendalikan kesadarannya.

Lho, apa itu Ego State atau Part? Kok bisa muncul?

Sebelum saya teruskan saya perlu menjelaskan terlebih dahulu apa itu trance atau kondisi hipnosis. Setiap hari sebenarnya kita beberapa kali masuk dan keluar kondisi hipnosis atau trance baik secara sadar maupun tidak. Semuanya terjadi secara alamiah. Ada yang bisa masuk ke kondisi deep trance dengan mudah. Ada juga yang membutuhkan upaya ekstra untuk bisa masuk trance.

Kondisi hipnosis bisa juga terjadi saat seseorang berada dalam tekanan mental yang melampaui ambang batas toleransi yang diijinkan pikiran bawah sadarnya. Saat seseorang berada di dalam tekanan mental, mengalami suatu peristiwa dengan muatan emosi negatif yang tinggi, maka pada saat itu hanya ada dua pilihan; fight (lawan) atau flight (lari).

Saat seseorang tegang maka adrenalin akan dipompa masuk ke dalam darah dan menyiapkan fisiknya untuk siap melakukan perlawanan. Hal ini bisa dirasakan dengan jantung yang berdegup semakin kencang, otot-otot tubuh menjadi kaku, dan seluruh sistem diri siap untuk menghadapi dan mengatasi bahaya atau sesuatu yang dipersepsikan sebagai bahaya.

Bahaya yang saya maksudkan di sini bisa berupa bahaya yang mengancam secara fisik maupun mental. Bila tekanan atau ancaman terlalu besar dan tidak mampu dilawan (fight) maka secara reflek pikiran akan memilih opsi kedua yaitu flight atau lari. Lari dalam hal ini bisa sungguh-sungguh melarikan diri, mengambil langkah seribu, atau bisa juga “melarikan diri” ke dalam. Saat seseorang lari ke dalam dirinya maka pada saat itu ia masuk ke kondisi trance atau hipnosis. Seringkali orang bisa masuk ke kondisi deep trance atau bahkan very deep trance.

Saya pernah menangani seorang klien wanita yang saat masih di SMP dan SMA seringkali pingsan. Dan kalau sudah pingsan sadarnya lama sekali. Berbagai cara sudah dilakukan untuk membangunkan klien ini tapi tidak berhasil. Bahkan sampai dibawa ke orang pintar dan dibacakan doa tetap nggak bisa bangun atau sadar. Nanti sadarnya terjadi tiba-tiba.

Mendengar kisah ini saya langsung berkata pada klien ini, “Sebenarnya anda tidak pingsan. Yang terjadi adalah anda mengalami begitu banyak tekanan mental, baik dari keluarga maupun dari sekolah, yang membuat anda tidak tahan, dan akhirnya anda memutuskan untuk lari dari keadaan ini. Benar atau tidak?”

“Benar. Lho, Pak Adi kok tahu kalau saat itu saya mengalami banyak tekanan?” jawab si klien.

“Lha iya lah…apa yang anda alami ini sebenarnya sesuatu yang sangat alamiah. Nah, saat anda “pingsan” anda tetap masih mendengar suara orang di sekitar anda, kan?” tanya saya lagi.

“Ya, Pak” jawab klien.

“Mengapa anda tidak mau keluar dari kondisi “pingsan” padahal anda mendengar orang-orang di sekitar anda memanggil-manggil nama anda?” kejar saya.

“Soalnya saat “pingsan” itu saya merasakan begitu nikmat, tenang, dan perasaan bahagia yang tidak terlukiskan. Sekarang saja kalau saya mau saya bisa masuk kembali ke kondisi ini” jawab klien saya.

Nah, pembaca, tahukah anda bahwa klien ini bukannya pingsan tapi ia berada dalam kondisi trance yang sangat-sangat dalam yang dikenal dengan level Esdaile atau Hypnotic Coma?

Saat seseorang masuk ke kondisi ini maka yang ia rasakan adalah suatu perasaan euphoria, bahagia yang luar biasa, tidak terlukiskan, sangat nyaman, dan orang biasanya tidak mau keluar dari kondisi ini. Inilah yang sebenarnya dialami oleh klien saya. Jadi ia bukannya pingsan tapi, karena tidak kuat melawan tekanan mental/psikis, memutuskan untuk flight (lari) dan masuk ke dalam dirinya sendiri, dan trance.

Di salah satu sesi terapi yang saya lakukan pada klien ini benar ia tidak mau keluar dari kondisi ini. Saya akhirnya menggunakan teknik tertentu untuk membuat ia keluar dan berhasil.

Pemahaman ini juga yang saya gunakan saat membangunkan atau menyadarkan 2 siswi SMA di Malang yang pingsan saat mengikuti pelatihan yang saya selenggarakan. Bayangkan, bagaimana nggak pingsan, lha aula diisi oleh lebih dari 1.500 orang peserta, semuanya siswa/siswi kelas 3 SMA/SMK, dan tidak ada AC (air conditioner). Yang dipake AC hemat listrik yaitu Angin Cendela…he…he. Bisa dibayangkan bagaimana panasnya.

Siswi pertama pingsan karena ketakutan saat saya mengeluarkan ular mainan yang biasa saya gunakan untuk demo mengatasi emosi dengan teknik Hypno-EFT. Begitu melihat ular saya, ular mainan maksud saya, anda jangan berpikir yang lain lho, siswi ini langsung pucat dan “memutuskan” untuk pingsan.

Berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk menyadarkan mereka berdua? Tidak lama. Masing-masing hanya butuh waktu sekitar 2 sampai 3 menit saja. Nggak pake doa, baca-baca, atau ritual tertentu.

Apa yang saya lakukan?

Ya, saya panggil nama mereka dan saya minta mereka bangun. Saya tahu mereka masih tetap bisa mendengar suara saya. Saya tahu bahwa mereka tidak benar-benar tidak sadarkan diri. Mereka hanya masuk ke kondisi deep trance. Jadi, ya saya bimbing mereka keluar dari kondisi trance seperti saat saya selesai menerapi orang. Mudah, kan?

Nah, kembali ke Ego State atau Part. Pada saat dalam kondisi deep trance ini bisa muncul banyak fenomena. Salah satunya adalah munculnya satu atau lebih Ego State/Part yang mengendalikan kesadaran seseorang.

Pertanyaanya sekarang, “Apa sih Ego State atau Part itu?”

Penjelasan agak detil bisa anda dapatkan dengan membaca artikel saya yang berjudul “Kita Punya Banyak Diri” (bisa dilihat di http://www.adiwgunawan.com) .

Singkatnya begini. Di dalam diri kita ada banyak “diri”. Masing-masing diri ini mempunyai kepribadian, karakter, nama, sikap, pola pikir, kebiasaan, memori, dan emosi. Jika anda bingung dengan hal ini coba anda ingat-ingat. Pernahkah, saat ingin memutuskan sesuatu, anda ragu atau bingung? Yang anda rasakan adalah ada dua atau lebih “Bagian” dari diri anda yang ribut sendiri. Akibatnya anda menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Nah, “Bagian” inilah yang disebut dengan Ego State atau Part.

Anda jelas sekarang?

Untuk lebih mudah memahami Ego State caranya begini. Di komputer mental kita, yaitu pikiran, khususnya pikiran bawah sadar, ada banyak folder. Setiap folder berisi data-data tertentu. Nah, saat folder ini aktif atau diakses dengan teknik tertentu, tentunya dalam kondisi trance, maka isi folder akan keluar. Pada saat inilah isi folder masuk ke pikiran sadar dan aktif. Ego State adalah folder ini.

Saya pernah, saat memberikan seminar di UGM, mensugestikan seorang peserta bahwa dia adalah saya, Adi W. Gunawan. Selanjutnya saya bertanya, “Bapak namanya siapa?”

“Adi W. Gunawan” jawabnya mantap.

“Bapak lagi ngapain di sini?” tanya saya lagi.

“Lagi kasih seminar” jawabnya tegas.

“Pak Adi, bisa tolong diteruskan seminarnya?” tanya saya.

Apa yang terjadi setelah itu?

Peserta ini langsung memegang mic dan bicara dengan mantap seperti saya. Ia memberikan seminar dan motivasi sangat mirip dengan yang saya lakukan.

Saat saya bertanya kepada peserta ini, “Pak Adi, anda punya berapa orang anak?”

“Tiga. Semuanya perempuan” jawabnya.

“Bapak sudah menulis berapa buku?” tanya saya lagi.

“Sudah delapan buku best seller” jawabnya mantap.

Nah, di sini saya tahu bahwa data jumlah buku di folder “Adi W. Gunawan” di dalam komputer mentalnya ternyata belum di-update. Delapan buku adalah data yang lama karena total buku yang sudah saya tulis semuanya dua belas.

Anda jelas sekarang?

Bagaimana Ego State bekerja dan apa yang perlu dilakukan untuk bisa berkomunikasi dengan Ego State saya ajarkan di kelas pelatihan hipnoterapi 100 jam QHI. Saya juga memberikan demonstrasi dengan live therapy di kelas sehingga peserta pelatihan bisa benar-benar mengerti apa itu Ego State.

Biasanya untuk menyelesaikan suatu masalah yang dialami klien minimal ada 2 Ego State yang kita panggil keluar dan diajak berkomunikasi. Masing-masing Ego State punya nama dan peran yang spesifik untuk diri klien. Bahkan ada Ego State yang tidak bisa berbahasa Indonesia.

Seorang peserta pelatihan yang berasal dari Palembang, yang kebetulan berprofesi sebagai seorang healer, setelah mengerti mengenai Ego State, sekarang kalau menangani kasus kesurupan, selalu menggunakan teknik Ego State Therapy. Dan hasilnya lebih cespleng. Dulu ia harus pake air putih dan baca doa tertentu.

Ok, kalau begitu, pertanyaannya, “Bagaimana dengan kesurupan masal yang sering diberitakan di media masa?”
Oh, ini jawabannya sama seperti penjelasan di atas. Coba anda amati. Yang seringkali mengalami kesurupan adalah murid kelas 3 SMP atau kelas 3 SMA dan biasanya wanita.

Mengapa kelas 3 SMP atau 3 SMA?

Ya, karena mereka takut dan sangat tertekan dengan tingginya beban akademis, jam pelajaran yang sangat panjang yang melelahkan fisik dan mental, muatan pelajaran dengan tingkat kesulitan yang tinggi, dan ditambah lagi adanya UN atau Ujian Nasional.

Mereka semua ketakutan. Mereka secara terus menerus mengalami tekanan mental. Hingga pada satu saat, karena sudah melebihi ambang batas toleransi, murid-murid ini, karena tidak bisa melawan (fight), akhirnya memilih lari (flight). Begitu ada satu orang kesurupan maka secara cepat menyebar ke rekan-rekannya. Ini sebenarnya bentuk histeria masal.

Saat “kesurupan” ini, yang sebenarnya kondisi deep trance, maka terjadilah abreaction atau keluarnya emosi yang selama ini tertekan (repressed emotion).

Dari berita-berita di media massa diketahui bahwa kebanyakan pelajar yang mengalami kesurupan adalah pelajar wanita. Dugaan itu didukung kenyataan serupa, berdasar penelitian Gaw, Ding, Levine, dan Gaw (1998) di Tiongkok.

Sejauh ini anda pasti sudah cukup jelas dan mengerti kesurupan dari sudut pandang ilmu hipnoterapi.

Sebagai penutup saya ingin anda berpikir mengenai fenomena yang terjadi di sekitar anda. Saya yakin anda pasti pernah mendengar atau melihat langsung bagaimana seseorang yang “kesurupan” roh Harimau dan berperilaku persis seperti si Harimau.

Pertanyaannya adalah mengapa kok Harimau? Belum pernah kan anda membaca seseorang yang kesurupan Panda, Kuda Nil, atau Kanguru?

Demikian juga, kalau di desa, biasanya ada yang kesurupan Gatot Koco. Nggak pernah ada yang mengalami kesurupan Spiderman atau Hulk.

LINK ; http://www.adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&mode=detil&ID=190

Hipnosis, Membongkar Rahasia Kekuatan Supranatural

Pertama ada baiknya kita pisahkan dunia supranatural dalam dua kategori,

  1. pertama adalah olah kekuatan supranatural / linuwih dari orang yang dianggap memiliki intuisi, perasaan peka, cenayang dan lainnya.
  2. kedua, adalah penggunaan kekuatan ’pinjaman’ dari mahluk lain tanpa wujud. 

Namun, disini kita hanya membahas yang pertama saja, ilmu-ilmu linuwih itu. Ilmu tersebut biasanya diperoleh dengan suatu lelaku atau diberikan oleh orang lain atau bakat yang ada pada seseorang. Semua teknik bisa dilihat dari states management (mengelola kondisi pikiran). Dalam dunia supranatural, cara states management ini dilakukan melalui puasa mutih, tirakat, meditasi ditempat yang sepi dan ritual lainnya.

Dalam hipnosis kita mengakses state ini dengan cara lain yang lebih modern, misalnya dengan anchor. Anchor merupakan pengkondisian seseorang mengalami kondisi mental tertentu, dengan pencetus simbol – simbol yang dibuatnya. Sebagai contoh, seseorang dapat membuat simbol gerakan menyilangkan jari tengah dan telunjuk, dan ia langsung mengalami perasaan tenang, damai dan bahagia. Hal seperti itu sering digunakan oleh hipnosis modern. Sedangkan pada hipnosis tradisional, hal ini dilakukan dengan, contohnya memakai ”jimat” yang dianggap keramat yang apabila ia memilikinya maka usahanya akan menjadi laris. Sama halnya dengan ”lelaku”, apabila ia melakukan ritual atau lelaku tertentu, maka kondisi mentallah yang terbentuk untuk memerintahkan pikirannya memfokuskan pada apa yang diinginkannya. Sehingga dari fokus pikiran dengan kondisi mental yang tepat maka apapun yang dipikirkan akan menjadi kenyataan dalam kehidupannya.

Pada dasarnya ilmu yang tak bisa dirumuskan secara logis itu akan terjelaskan dengan pola hipnosis dan bisa diduplikasikan dengan lebih mudah dengan cara meniru beberapa kemampuannya tanpa menggunakan ritual, mantra, puasa dan apapun caranya. Inti dari proses tersebut adalah pemfokusan pikiran dan kondisi mental yang tepat.

Sebagai contoh, sebut saja seorang teman (paranormal) jika mau menolong membantu menyembuhkan orang lain. Beliau bilang awalnya cuma dengan membayangkan sosok Sunan Kalijaga. Ketika sudah terbayang jelas dan beliau merasa menjadi Sunan Kalijaga, tiba-tiba kemampuan tersebut keluar dengan sendirinya.

Namun, bisa jadi ketika kita menerapkan itu ternyata tidak bisa, karena Sunan Kalijaga bukan tokoh favorit yang bermakna apapun bagi kita. Setelah kita kaji, maka terlihat disini bahwa Sunan Kalijaga itu hanyalah anchor atau pemicu untuk membangkitkan state of mind (kondisi mental) tertentu. Begitu beliau membayangkan Sunan Kalijaga, maka beliau bilang Sunan Kalijaga itu menimbulkan state : yaitu rasa welas-asih yang tak terbatas.

Di sini berarti kita harus mencari simbol lain yang lebih cocok. Suatu simbol yang jika kita bayangkan akan meng-generate rasa welas asih. Dalam memahami hipnosis, harus disadari yang sakti bukanlah si penghipnotisnya. Yang sakti itu imajinasi orang-orang yang dihipnosis karena berhasil berkonsentrasi dan membayangkan pembangkitan kemampuannya. Penghipnosis pada dasarnya hanyalah sebagai fasilitator. Saat seseorang menghipnosis kita, yang terjadi adalah bahwa seseorang tersebut memfasilitasi proses internal kita. Begitu proses berjalan, kita menghipnosis diri kita sendiri. Jadi yang namanya hipnosis itu tidak ada, yang ada self hypnotic. Si penghipnotis memfasilitasi proses internal kita untuk sampai terhipnosis. Artinya tanpa beliau, kita bisa menghipnosis diri sendiri. Dan sekilas hipnosis itu memang lebih mudah dibantu orang lain, melalui kepercayaan yang dibentuk pada orang lain.

Yang kita bicarakan adalah pola hipnosis yang merupakan kemampuan internal seseorang. Ini termasuk agar punya kemampuan yang dimiliki kaum ”linuwih” yang sebenarnya adalah soal cracking atau unlocking (mengaktualisasikan potensi yang terpendam pada diri manusia). Bagaimana nge-crack bakat metafisiknya. Jadi sebenarnya adalah mengetahui bagaimana sesuatu itu diketahui pola dan cara kerjanya. Intinya itu. Begitu ketahuan polanya ya selesai. Semua orang bisa mempunyai kemampuan metafisik itu, dan sebenarnya hal tersebut ilmiah. Namun banyak kalangan belum menyebut ilmiah, karena belum bisa dijelaskan secara logis.

pustaka ; annunaki.wordpress.com

>Hipnosis, Membongkar Rahasia Kekuatan Supranatural

>

Pertama ada baiknya kita pisahkan dunia supranatural dalam dua kategori,

  1. pertama adalah olah kekuatan supranatural / linuwih dari orang yang dianggap memiliki intuisi, perasaan peka, cenayang dan lainnya.
  2. kedua, adalah penggunaan kekuatan ’pinjaman’ dari mahluk lain tanpa wujud. 

Namun, disini kita hanya membahas yang pertama saja, ilmu-ilmu linuwih itu. Ilmu tersebut biasanya diperoleh dengan suatu lelaku atau diberikan oleh orang lain atau bakat yang ada pada seseorang. Semua teknik bisa dilihat dari states management (mengelola kondisi pikiran). Dalam dunia supranatural, cara states management ini dilakukan melalui puasa mutih, tirakat, meditasi ditempat yang sepi dan ritual lainnya.

Dalam hipnosis kita mengakses state ini dengan cara lain yang lebih modern, misalnya dengan anchor. Anchor merupakan pengkondisian seseorang mengalami kondisi mental tertentu, dengan pencetus simbol – simbol yang dibuatnya. Sebagai contoh, seseorang dapat membuat simbol gerakan menyilangkan jari tengah dan telunjuk, dan ia langsung mengalami perasaan tenang, damai dan bahagia. Hal seperti itu sering digunakan oleh hipnosis modern. Sedangkan pada hipnosis tradisional, hal ini dilakukan dengan, contohnya memakai ”jimat” yang dianggap keramat yang apabila ia memilikinya maka usahanya akan menjadi laris. Sama halnya dengan ”lelaku”, apabila ia melakukan ritual atau lelaku tertentu, maka kondisi mentallah yang terbentuk untuk memerintahkan pikirannya memfokuskan pada apa yang diinginkannya. Sehingga dari fokus pikiran dengan kondisi mental yang tepat maka apapun yang dipikirkan akan menjadi kenyataan dalam kehidupannya.

Pada dasarnya ilmu yang tak bisa dirumuskan secara logis itu akan terjelaskan dengan pola hipnosis dan bisa diduplikasikan dengan lebih mudah dengan cara meniru beberapa kemampuannya tanpa menggunakan ritual, mantra, puasa dan apapun caranya. Inti dari proses tersebut adalah pemfokusan pikiran dan kondisi mental yang tepat.

Sebagai contoh, sebut saja seorang teman (paranormal) jika mau menolong membantu menyembuhkan orang lain. Beliau bilang awalnya cuma dengan membayangkan sosok Sunan Kalijaga. Ketika sudah terbayang jelas dan beliau merasa menjadi Sunan Kalijaga, tiba-tiba kemampuan tersebut keluar dengan sendirinya.

Namun, bisa jadi ketika kita menerapkan itu ternyata tidak bisa, karena Sunan Kalijaga bukan tokoh favorit yang bermakna apapun bagi kita. Setelah kita kaji, maka terlihat disini bahwa Sunan Kalijaga itu hanyalah anchor atau pemicu untuk membangkitkan state of mind (kondisi mental) tertentu. Begitu beliau membayangkan Sunan Kalijaga, maka beliau bilang Sunan Kalijaga itu menimbulkan state : yaitu rasa welas-asih yang tak terbatas.

Di sini berarti kita harus mencari simbol lain yang lebih cocok. Suatu simbol yang jika kita bayangkan akan meng-generate rasa welas asih. Dalam memahami hipnosis, harus disadari yang sakti bukanlah si penghipnotisnya. Yang sakti itu imajinasi orang-orang yang dihipnosis karena berhasil berkonsentrasi dan membayangkan pembangkitan kemampuannya. Penghipnosis pada dasarnya hanyalah sebagai fasilitator. Saat seseorang menghipnosis kita, yang terjadi adalah bahwa seseorang tersebut memfasilitasi proses internal kita. Begitu proses berjalan, kita menghipnosis diri kita sendiri. Jadi yang namanya hipnosis itu tidak ada, yang ada self hypnotic. Si penghipnotis memfasilitasi proses internal kita untuk sampai terhipnosis. Artinya tanpa beliau, kita bisa menghipnosis diri sendiri. Dan sekilas hipnosis itu memang lebih mudah dibantu orang lain, melalui kepercayaan yang dibentuk pada orang lain.

Yang kita bicarakan adalah pola hipnosis yang merupakan kemampuan internal seseorang. Ini termasuk agar punya kemampuan yang dimiliki kaum ”linuwih” yang sebenarnya adalah soal cracking atau unlocking (mengaktualisasikan potensi yang terpendam pada diri manusia). Bagaimana nge-crack bakat metafisiknya. Jadi sebenarnya adalah mengetahui bagaimana sesuatu itu diketahui pola dan cara kerjanya. Intinya itu. Begitu ketahuan polanya ya selesai. Semua orang bisa mempunyai kemampuan metafisik itu, dan sebenarnya hal tersebut ilmiah. Namun banyak kalangan belum menyebut ilmiah, karena belum bisa dijelaskan secara logis.

pustaka ; annunaki.wordpress.com