>Filsafat Jalan Miyamoto Musashi

>
oleh Lazuardi Adipradana Hasyim

Dilahirkan di sebuah desa yang bernamaMiyamoto di tahun 1584, Musashi terlahir sebagai Munasai Takezo. Masa kanak-kanak Takezo tidaklah bahagia. Ia tidak akur dengan ayah kandungnya, Munasai Hirata seorang samurai pemilik tanah. Takezo selalu melontarkan kritik pedas terhadap seni bela diri ayahnya, hingga menyebabkan ketiak akuran diantara ayah dan anak ini. Situasi yang demikian membuat Takezo kabur memilih meninggalkan rumah untuk hidup bersama pamannya yang saat itu usianya belum mencapai 13 tahun.

Tapi di usianya yang 13 tahun tersebut, Takezo sudah mampu menaklukkan seorang pendekar pedang Shito-ryu yang bernama Arima Kihei. Lawannya itu dirobohkan dan dipukulinya dengan tongkat hingga tewas. Kemudian pada usia 16 tahun, Takezo bertarung dengan seorang samurai tangguh dan kembali muncul sebagai pemenang. Mulai saat itu, Takezo memutuskan pergi bertualang mengikuti “Jalan Pedang”. Tak lama kemudian Takezo terlibat dalam perang habis-habisan antara kubu daimyo (tuan tanah) Ieyasu melawan klan Hideyori dengan para pengikutnya di pertempuran besar di Sekigahara.Dalam pertempuran selama tiga hari itu tercatat 70.000 orang tewas, Takezo sendiri di pihak pasukan yang kalah berhasil meloloskan diri.

Takezo kemudian bertemu dengan Soho Takuan, seorang pendeta Zen dengan kecerdikannya kemudian berhasil “menawan” Takezo di sebuah sel gelap di puri milik Ikeda. Di sana selama tiga tahun, Takezo ditahan untuk mendalami bertumpuk-tumpuk dan beragam buku. Mulai dari seni perang dari Sun Tzu, Taoisme, buku-buku mengenai Zen hingga ke berjilid-jilid kitab mengenai sejarah Jepang. Pendeta Takuan, selalu bersikap keras itu menasihati Takezo yang terkenal bandel dan liar itu hingga mau patuh menjalani penggemblengan berat tersebut. Salah satu nasehatnya adalah;

“Anggaplah kamar ini sebagai rahim ibumu dan bersiaplah untuk lahir kembali. Kalau kau melihatnya hanya dengan matamu, tak akan kau melihat apa-apa kecuali sel yang tak berlampu dan tertutup. Tapi pandanglah lebih saksama, lihatlah dengan akalmu dan berpikirlah. Kamar ini dapat menjadi sumber pencerahan, pancuran pengetahuan yang ditemukan dan diperkaya oleh orang-orang bijak di masa lalu. Terserah padamu, apakah kamar ini menjadi kamar kegelapan ataukah kamar penuh cahaya”.

Setelah melewati masa pembelajaran tiga tahun, Takezo mendapatkan pencerahan dan dibebaskan dan boleh berkelana lagi. Saat itu usianya 21 tahun, Takezo memulai kehidupannya kembali sebagai Miyamoto Musashi.

Dalam pengembaraannya Musashi kembali bertemu dengan lawan tarung yang bukan sembarang pendekar samurai, mereka adalah para pendekar samurai terkemuka dari berbagai aliran yang mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri. Musashi dapat mengatasi mereka satu per satu walaupun ia tidak mempunyai guru atau mewarisi ilmu pedang dari satu aliran tertentu. Ilmu pedang Musashi diperoleh secara otodidak dan bakat alami yang sangat istimewa yang diasah melalui kekuatan observasi, intuisinya dan disiplin yang kuat.

Beberapa duel yang dimenangkan oleh Musashi, banyak terdapat duel yang dianggapnya “main-main”, yaitu duel antara Musashi dan pemain pedang yang dianggapnya tidak seimbang, yang sering dimenangkannya tanpa mencabut pedang atau hanya membalas tebasan lawan dengan pukulan tangan yang tentunya tidak mematikan. Musashi meyakini, adalah sia-sia jika berduel dengan lawan yang kemampuannya jauh dibawah Musashi, lebih sia-sia lagi jika dia sampai membunuhnya. Karena boleh jadi seseorang yang tidak pandai bermain pedang adalah seseorang yang sangat pandai dengan bakat yang lain sehingga biarlah dia mengisi hidup ini dengan bakatnya yang lain yang belum ia temukan, yang mungkin bermanfaat bagi orang lain.

Pertarungan puncak bagi Musashi adalah saat menghadapi Sasaki Kojiro, saingan terberatnya yang masih muda dan sangat tangguh. Kojiro pada zaman itu sosok pemain pedang yang ideal: garis keturunannya tidak ada aib dan guru-gurunya ternama; dan dengan pelatihan yang penuh disiplin, ia berhasil menciptakan teknik permainan pedang yang mengagumkan. Tapi pada akhirnya kepala Kojiro pecah oleh tebasan pedang Musashi pada pertarungan di Pulau Ganryu, 13 April 1612.

Pertarungan Musashi melawan Sasaki Kojiro merupakan titik balik baginya. Sebelum itu, dia menyakini bahwa kemampuan seni berperang adalah kunci kemenangan dalam setiap pertarungan. Tetapi setelah mengalahkan Kojiro, Musashi menyadari bahwa kekuatan dan ketrampilan bukan satu-satunya yang bisa diandalkan untuk menentukan kemenangan;

“Ketika umurku sudah lewat tiga puluh tahun dan merenungkan kembali hidupku, aku sadar bahwa aku menjadi pemenang bukan karena kemampuan luar biasa dalam seni bela diri. Mungkin saja aku mempunyai bakat alami atau tidak menyimpang dari prinsip alami. Atau, bisa jadikah seni bela diri lawan itu yang memang mengandung suatu cacat? Setelah itu, dengan tekad jauh lebih besar untuk mencapai pemahaman yang lebih jelas mengenai prinsip-prinsip yang dalam, aku berlatih siang malam”.

Lalu, apa yang memungkinkan Musashi mengalahkan Kojiro jika bukan karena penguasan ketrampilan bertarung? Bagi Musashi, kemenangan sebuah pertarungan terletak pada prinsip atau semangat, bukan tipuan dan ketidakjujuran. Di dalam Kitab Lima Lingkaran, Musashi menulis:

“Jalan seni adalah langsung dan benar, jadi kau harus dengan tegas berusaha mengejar orang-orang lain dan menundukkan mereka dengan prinsip-prinsip sejati”.

Setelah pertarungan itu Musashi memutuskan mundur dari pertarungan, karena rasa bersalahnya sampai membawa kematian lawannya. Musashi kemudian menetap di pulau Kyushu dan tidak pernah meninggalkannya lagi, untuk menyepi dan mencari pemahaman sejati dengan menapaki paruh kedua kehidupannya untuk menjadi seorang seniman dan menjadi terfokus untuk mendalami semua seni. Di masa tuanya Musashi dikenal sebagai seniman dengan banyak kebisaan. Melukis dengan tinta india, kaligrafi, hingga membuat patung. Lagi-lagi seperti kemampuannya bermain pedang, kematangan seninya pun diperolehnya dengan tanpa guru. Buah karyanya dianggap hidup dan indah, hasil dari penyaluran energi batin yang terfokus. Sepertinya kalau inti dasar kehidupan sudah diketahui, kerja yang lain juga dapat dipahami.

Dalam kehidupannya sebagai seorang seniman, ia menulis puisi, mendesain taman, aktif dalam upacara minum teh, mempelajari drama Noh, dan terutama menciptakan lukisan-lukisan tinta dan kaligrafi. Karya seni Musashi berkelas tinggi, menunjukkan bahwa di bidang ini ia juga berbakat istimewa sekalipun menurut pengakuannya lukisan dia belumlah setara dengan teknik pedangnya. Jelas ada upaya mempertautkan antara seni rupa dan seni bela diri, hingga dikatakan, Musashi melukis dengan pikiran pedang. Intens, terkonsentrasi, dan penuh getaran chi. Ia mempunyai keyakinan dan melihat adanya kesejajaran, seperti dalam ucapannya, Dengan prinsip-prinsip seni bela diri, orang membuka jalan bagi seni serta pencapaian lain dan tidak akan keliru memahami keduanya. Pedang, seni, Zen, dan meditasi menjadi satu kesatuan yang saling mengisi, menggenapi, dan karenanya tak terpisahkan.

Musashi juga kembali mendalami ajaran Zen yang nampak dari prinsip dasar satu ini, Musashi senantiasa menekankan mutlaknya memperoleh pengetahuan nyata lewat pengalaman langsung. Tidak dapat disangkal lagi, pengetahuan nyata lewat pengalaman langsung merupakan salah satu sendi utama yang dijunjung tinggi Zen, jauh di atas yang lain, misalnya teori. Juga ungkapan pikiran sehari-hari yang alami adalah khas Zen;

“Bebaskanlah pikiranmu, maka niscaya pikiranmu akan menjadi alami.”

Selain Zen, Musashi tampak sekali menghargai tetapi mempertanyakan ajaran Sun Tzu, yang merupakan ahli strategi terbesar sepanjang masa. Terdapat perbedaan pendapat menurut Musashi dan Sun Tzu, dimana Musashi lebih mengutamakan strategi permainan bersih-sekalipun keras dan tegas, tetapi tidak licik atau kotor, menyimpulkan;

“Berpikirlah dengan membuang semua ketidakjujuran.”

Musashi adalah seorang penyendiri, karena sampai akhir hayatnya ia memilih untuk hidup membujang, bahkan memilih jalan kematiannya sendiri. Menurut Musashi kematian adalah sebuah konsekwensi bagi setiap kehidupan. Karena itu saat menyadari bahwa maut akan segera mendatanginya, Musashimemilih Gua Reigan sebagai tempat tuk menyambut kematiannya dengan damai dan sendirian. Saat itu, awal musim semi tahun 1645, Musashi tidak lagi sebagai orang yang kuat, upaya pendakian bukit menuju ke gua itu dicapainya dengan tubuh sangat kesakitan. Suatu hari salah seorang mengirim tabib ke Gua itu, tetapi Musashi tetap berkeras untuk menyambut kematian dengan gayanya sendiri. Tak tega akan keadaan kesehatannya gurunya itu, sang murid kemudian berangkat kepegunungan, pura-pura berburu dengan burung rajawali, dan mampir ke Gua Reigan. Disana dia telah mendapati Musashi dalam kondisi yang sangat lemah dan dia tidak mampu melakukan perlawanan sedikitpun. Akhirnya, tanpa mempedulikan protes-protes Musashi, sang murid berhasil “membujuk” gurunya itu pulang ke rumah.

Dalam penyepian sebelum kematiannya itu Musashi berhasil menyelesaikan bukunya yang berjudul Kitab Lima Cincin (Go Rin no Sho) yang menunjukkan semua pencarian dan pencapaian spiritual serta jawabannya tentang bagaimana menemukan dan mengamalkan jalan.

Ada sembilan sila yang ditawarkan Musashi untuk kita semua :
  1. Berpikirlah dengan membuang semua ketidakjujuran.
  2. Bentuklah dirimu sendiri di jalan (yang benar).
  3. Pelajarilah semua seni.
  4. Pahamilah jalan semua pekerjaan.
  5. Pahamilah keunggulan dan kelemahan dari segala sesuatu.
  6. Kembangkan mata yang tajam dalam segala hal.
  7. Pahamilah apa yang tidak terlihat oleh mata.
  8. Berikan perhatian bahkan pada hal-hal terkecil sekalipun.
  9. Jangan melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak realistis.

Dalam 62 tahun, tanggal 19 Mei 1645, Musashi menutup mata untuk selamanya di komplek Puri Chiba yang tua. Seperti yang di pinta pada detik-detik terakhirnya, tubuhnya didandani dengan seragam dan helm tempur, dilengkapi dengan enam tanda kebesaran militer, dan ditempatkan dalam peti. Sesuai dengan janji sebelumnya, Musashi kemudian dikebumikan di Kyushu tempat penyepiannya yang terakhir. Setelah selesainya upacara pemakaman yang di pimpin oleh Biksu Kepala Shunzan, terdengar suara guntur bergema di langit yang cerah sebanyak satu kali. Dan entah adakah itu pertanda bahwa Musashi sedang bertarung melawan malaikat maut di sana? Atau sang maestro pedang itu kembali bertarung kembali melawan roh musuh-musuhnya di alam sana?

Kesimpulan :

1.Menemukan dan Menciptakan Jalan

”Jalan” dalam bahasa Cina disebut dengan “Tao” dan dalam bahasa Jepang disebut “Do”. Seperti halnya akhiran –do yang biasa ada di aliran-aliran bela diri seperti kendo, aikido, karate-do, dan lainnya. Itu menandakan bahwa bela diri tersebut bukan sekadar bela diri saja, tapi juga disiplin dan jalan hidup. Makanya rata-rata beladiri tersebut filosofinya sangat dalam. Akhiran –do banyak dipakai di bela diri yang juga menunjukkan cara hidup. Sering disebut hidup sesuai jalannya, akan mengantar pada kebahagiaan dan sebuah petunjuk untuk hidup yang benar.

Bagaimana caranya menemukan jalan? Jalan dapat ditemukan dengan meniru, mencari, dan menemukan. Tetapi jika memodifikasi dan mencampurnya dengan elemen diri, dan jadilah jalan kreasi kita. Musashi, yang tak punya guru dan tak pernah belajar secara khusus pada seorang guru pun, menempuh jalannya sendiri, juga ternyata terpengaruh oleh Sun Tzu, biksu Zen Takuan Soho, samurai hebat Yagyu Munenori, dan kitab hsinhsinming. Jadi, yang ditemukan Musashi (the book of five rings) sepertinya adalah campuran ajaran Zen dari Takuan dan kitab Hsinhsinming, seni perang Sun Tzu dan keahlian Yagyu, ditambah, diaduk-aduk, dieksperimenkan dengan keseluruhan pengalaman pribadinya.

Musashi sebenarnya lebih layak untuk disebut sebagai seorang otodidak. Musashi membimbing dirinya sendiri untuk mendalami berbagai macam ilmu. Salah satu sumber yang banyak ditimbanya niscaya adalah buah pikiran Sun Tzu.Dikenal sebagai ahli strategi besar-kalau bukan yang terbesar-Sun Tzu hidup hampir 2000 tahun mendahului Musashi (400-320 tahun sebelum Masehi);

“Saya suka berpikir betapa hebatnya orang-orang kuno seperti Lao Tse, Konfusius, Socrates, Sun Tzu, sementara kebanyakan dari kita yang hidup pada milenium ketiga ini cuma segini-gini saja.”

Kalau Musashi mendekati strategi melalui contoh-contoh dari tarung-tanding (duel), Sun Tzu lebih membahasnya lewat skenario peperangan. Ada beberapa kalimat dari kitab Seni Berperang (The Art of War) Sun Tzu yang amat membekas di hati Musashi. Selama tiga tahun dalam masa penempaan, Musashi kerap membacanya secara lantang berulang-ulang dengan alunan bagaikan nyanyian;

“Barangsiapa mengenal seni perang, tak akan serampangan ia dalam gerakannya. Ia kaya karsa dalam membatasi kemungkinan.”

“Barangsiapa mengenal dirinya sendiri dan mengenal musuhnya, ia senantiasa menang dengan mudah. Barangsiapa mengenal langit dan bumi, ia menang atas segalanya.”

“Kenali musuhmu, kenali dirimu sendiri dan kemenanganmu tak akan terancam. Kenali medan, kenali iklim, maka kemenanganmu akan lengkap.”

Yang lebih menarik lagi, dalam kemampuannya untuk membaca waktu. Setelah mencapai usia 29 tahun, ia memutuskan untuk berhenti menjadi petarung. Kemudian Musashi mentransformasikan dirinya menjadi seniman dan pada usia yang lebih lanjut Musashi kembali memutuskan untuk menjadi pemikir mengenai Jalan Strategi. Keputusannya untuk pindah jalur dan beralih profesi pada saat yang tepat itu memang memerlukan ketajaman intuisi yang luar biasa. Agaknya, ini juga yang membuat Musashi menjadi petarung kehidupan yang tak terkalahkan. Musashi mengatur dan bukannya diatur oleh waktu kehidupan.

2.Keteguhan Hati Mengamalkan dan Menjaga Jalan

Memang lebih mudah untuk menjadi peka, menjadi arif dan penuh perenungan ketika kita dalam posisi yang penuh kesusahan dimana sendi-sendi harga diri kita dibenamkan dan segala kesombongan diruntuhkan. Mudah untuk memahami bentuk-bentuk pemikiran, perasaan, benda-benda dan penghargaan kita akan arti hidup itu sendiri. Mudah pula untuk menyadari akan kebeningan cita-cita.

Yang tidak mudah adalah untuk tetap konsisten pada pencapaian nurani tersebut. Tidak mudah untuk terus menjaga visi kita yang paling menggebu-gebu sekalipun. Perubahan lingkungan, kemudahan-kemudahan, orang-orang yang berbeda lambat laun dapat melunturkan pencapaian nurani. Pada prosesnya, akan muncul riak-riak yang mengganggu yang mengurangi kadar pemikiran dan tindakan kita.

Musashi pun mengalami naik turunnya semangat dalam mewujudkan jalan pedangnya. Cita-cita yang menjadi visi hidupnya. Musashi sempat terjebak dalam kesombongan sesaat ketika bertemu orang-orang yang terlihat lebih lemah. Jalan pedang seolah-olah menjadi jalan paling berarti dan dalam perjalanannya Musashi banyak mengabaikan unsur-unsur lain di luar dirinya. Musashi kemudian sadar dan berusaha membentuk jalan pedang dengan lurus-lurus pada keyakinan dirinya, menekan segala perasaan lembutnya dan satu hal yang menyelamatkannya dari bahaya keangkuhan adalah keinginannya untuk membuka pintu-pintu ilmu dan belajar dari segala macam orang, segala macam bentuk dan alam semesta.

Dalam kehidupan ini, bukan sekali kita merasakan naik turunnya iman, naik turunnya semangat baik dalam bekerja, menjaga hubungan, dan meraih mimpi-mimpi kita. Bukan sekali dua kali pula kita terjatuh dan kembali pada kebeningan pencapaian nurani. Terlalu dini untuk menyimpulkan jalan pencapain nurani, ada banyak visi dan lebih banyak konsistensi yang akan diperlukan.

Walaupun begitu, ada hal-hal menarik yang agaknya dapat dipelajari dari Musashi. Musashi adalah seorang yang sederhana, rendah hati yang bermain bersih tanpa kecurangan. Musashi keras hati dalam melatih diri dan dalam menimba ilmu berbagai aliran, karena Musashi menyadari bukannya tak mungkin terkalahkan. Musashi selalu menekankan pentingnya timing (ketepatan waktu) dan ritme dalam segala hal. Masuk terlalu cepat atau terlalu lambat dalam pertarungan dipandangnya dapat mengundang persoalan tersendiri. Kemudian perubahan yang terjadi di “langit” dan “bumi” bukan saja harus dicermati melainkan mesti pula diadaptasi untuk keselamatan diri. Juga baginya ilmu pengetahuan itu adalah sebuah “lingkaran bulat”. Artinya, kalau kita bermula dari titik A, setelah melingkar penuh kita akan kembali ke titik A semula. Apa yang dianggap paling elementer adalah juga pelajaran yang paling penting.

Sumber Bacaan:

1.Musashi, Eiji Yoshikawa, Gramedia – Jakarta

2.The Lone Samurai, William Scott Wilson, Gramedia – Jakarta

3.The Book of Five Rings, William Scott Wilson, Gramedia – Jakarta

SUMBER ARTIKEL : lazuardism.blog.friendster.com/2008/10/filsafat-jalan-miyamoto-musashi/

>Kerjakan dengan Tulus

>

Seorang tukang kayu tua sudah siap untuk pensiun. Dia memberitahukan rencananya pada kontraktor majikannya. Dia telah bertekad mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pembangun rumah agar dapat menikmati hari tuanya dengan lebih menyenangkan, bersama isteri dan keluarga besarnya. Memang dia sepenuhnya sadar bahwa dia akan kehilangan penghasilannya, tetapi dia sudah lelah, dia perlu istirahat.

Sang kontraktor sangat menyayangkan kepergian karyawannya yang baik ini, tetapi tidak berhasil membujuk agar orang tua ini tetap bekerja padanya. Akhirnya sang kontraktor meminta agar dia bersedia membangunkan sebuah rumah lagi sebagai perekat hubungan baik yang sudah terjalin demikian lama.

Tukang kayu itu dengan berat hati terpaksa menyanggupinya, tetapi nampak jelas bahwa hatinya tidak lagi ada pada tugasnya, dia mengerjakannya dengan asal jadi saja dan bahkan bahan yang digunakannyapun bermutu sangat rendah. Itu adalah cara yang kurang baik dalam mengakhiri karirnya.

Ketika tukang kayu itu telah menyelesaikan tugasnya dan kontraktor atasannya telah memeriksa rumah itu, diserahkannya kunci rumah kepada orang tua itu dan berkata: “Rumah ini milikmu, ini sebagai hadiah dan tanda terima kasihku padamu!”

Dia terperanjat! Sungguh memalukan! Kalau saja dia tahu bahwa dia sedang membangun rumahnya sendiri, tentu dia akan mengerjakannya dengan cara yang sangat berbeda. Sekarang dia terpaksa tinggal bersama keluarga dalam rumah bermutu rendah yang dibangun asal jadi.

Demikian pula dengan kita, kitapun membangun kehidupan kita dengan asal jadi, lebih banyak berreaksi negatif dari pada bertindak benar, selalu melakukan sesuatu bukan dengan cara yang terbaik. Dalam hal yang penting sekalipun kita tidak melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Kemudian dengan terkejut kita terpaksa menghadapi situasi yang kita ciptakan sendiri, dan baru menyadari bahwa sekarang kita tinggal di dalam rumah yang tidak kita bangun dengan baik, kalau saja kita menyadarinya dari dahulu, kita pasti akan bertindak dengan cara yang sangat berbeda.

Sekarang anggaplah diri anda sebagai tukang kayu, pikirkan rumah anda, setiap kali anda menancapkan paku, memasang papan atau mendirikan tembok, bangunlah dengan bijak. Ini adalah satu-satunya kehidupan yang sedang anda bangun, kalaupun hanya tersisa satu hari saja lagi untuk anda jalani, seharusnya hari itu anda jalani dengan penuh syukur dan dengan perasaan bahagia.

Kehidupan anda hari ini merupakan hasil dari sikap dan pilihan anda di masa lalu. Kehidupan anda esok hari merupakan hasil dari sikap dan pilihan yang anda buat hari ini.

by. YPI

>Temukan Cinta Anda

>

Bila anda tak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang
bekerja di sana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. 
Dan, pekerjaanpun menjadi menggembirakan.


Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja anda, maka cintailah
suasana dan gedung kerja anda. Ini mendorong anda untuk bergairah
berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi.


Bila toh anda juga tak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang
pergi dari dan ke tempat kerja anda. Perjalanan yang menyenangkan
menjadi tujuan tampak menyenangkan juga.


Namun, bila anda tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apapun
yang bisa anda cintai dari kerja anda : tanaman penghias meja, cicak di
atas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela. Apa saja.


Bila anda tak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda, maka
mengapa anda ada di situ? Tak ada alasan bagi anda untuk tetap bertahan.
Cepat pergi dan carilah apa yang anda cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup
hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta
yang tulus.

>Jadilah Gelas Kosong

>

Sebuah analogi sederhana namun kaya makna.
Jika kita memiliki gelas kosong, maka kita dapat mengisinya dengan air jernih sampai gelas itu penuh. Namun jika gelas yang kita miliki sudah penuh, kita tidak dapat mengisinya lagi. Karena jika kita paksakan, maka kita akan mendapati air yang bertumpahan. Begitupun jika gelas yang kita miliki hanya kosong separuh, maka air yang dapat kita isi hanyalah separuh sisanya.

Dan jika analogi ini kita lihat dari sudut pandang menuntut ilmu ataupun mencari nasehat, maka kita harus memposisikan diri kita sebagai gelas kosong. Yang siap diisi oleh ilmu, oleh nasehat, oleh kebaikan, ataupun oleh kebenaran. Sehingga apa-apa yang di berikan tidak tumpah, melainkan selalu terserap. Jadilah gelas kosong sepanjang kelas kehidupan berlangsung.

Tidak berarti kita menjadi orang yang apatis dan menerima segalanya, sehingga mudah disetir. Sama sekali bukan seperti itu. Pasanglah antivirus di dalam akal kita, yang akan menyaring semua keabnormalan ide. Melindungi akal dan hati kita dari keburukan yang berbaju indah, yang di sodorkan kepada kita. Jadilah kritis namun jangan pesimis. Setelah menerima apa yang ditawarkan, segeralah latih akal untuk berfikir dan menggali maknanya. Tarik semua pembelajaran dan hikmah.

Jangan pula menjadi orang yang penuh prasangka terhadap ide-ide baru yang tidak familiar, terhadap nasehat-nasehat yang tidak diharapkan, atau kebenaran yang tidak menyenangkan. Sehingga walau gelas memang sudah kosong, tetapi air tidak bisa masuk, karena terhalang oleh sebuah ‘tutup gelas’.

Kita bisa melihat orang-orang semacam itu di seminar/ pelatihan/ kelas/ pengajian. Ketika banyak orang-orang yang menjadi cerah wajahnya dengan ilmu yang baru di terima, mereka justru selalu saja dapat menemukan hal-hal negatif untuk di bicarakan. Ketika orang-orang lain menjadi bersemangat untuk segera menerapkan ilmu baru, mereka justru merasa menyesal telah datang.

Bayangkan perbedaannya pada saat kita menjadi gelas kosong, gelas separuh kosong, dan gelas penuh. Itulah keberagaman jenis orang yang hadir di sebuah lingkaran ilmu. Sehingga di akhir majlis, ada orang-orang yang menjadi tercerahkan dan memahami hampir semua materi, ada orang yang separuh paham, namun ada pula orang yang malah bingung dan sama sekali tidak mengerti.

Sang guru sedang menuang ilmunya di majlis itu. Ilmu yang berupa gabungan dari nasehat, hukum, kebenaran, dll. Hanya gelas yang kosong yang dapat menampung semua itu.
Coba kita tanya diri kita sendiri, berapa kali kita menghadiri pelatihan/ seminar/ pengajian, namun akhlak kita belum berubah ? Apa itu karena kita belum ikhlas menerima semua ilmu itu, sehingga kita tidak meluruskan niat dan benar-benar berusaha menjadi gelas kosong yang bisa menampung semua ilmu. Atau malah, kita memang sengaja tidak mengosongkan gelas dan malah memasang tutup, sehingga semua ilmu itu tertolak.

Apakah di saat itu kita sedang sombong ? Karena yang di maksud sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia ( HR. Muslim ).

Mungkin tutup yang terpasang erat, adalah upaya kita untuk menolak melihat kebenaran yang di bawa oleh ilmu itu?

Mungkin juga kah, penolakan kita untuk mengosongkan gelas dan menampung semua ilmu yang akan datang, adalah dari sikap kita yang meremehkan sang guru, meremehkan jenis ilmu yang di berikan, meremehkan tempatnya, dll.

Astaghfirullahal’adzhim.

Padahal jika kita tidak sesombong itu, dan kita bersedia mengosongkan –setidaknya-sebagian dari gelas kita untuk menampung kucuran air yang jernih,
Walau setengah bagian dari gelas kita saat itu hanya terisi oleh air yang keruh.
Namun ketika kita sudah tidak sombong lagi, dan bersedia menerima ilmu. Maka,
Air jernih akan mengucur dan mengisi ruang gelas yang kosong hingga penuh. Bercampur dengan air keruh di dalam gelas. Kekeruhan air itu memudar karena tercampur oleh air bersih. Lalu ketika kita terus menerima , maka air didalam gelas akan mulai meluap dan tumpah. Dan tahukah, air seperti apa yang terbuang pada saat itu ? Ya benar, air yang terbuang dari gelas kita adalah air keruh itu. Sehingga yang tertinggal di dalam gelas kita hanyalah air yang jernih.

***
Bagaimana jika kita yang menjadi orang yang membagi ilmu, menjadi orang yang menuangkan air, menjadi si pemberi nasehat ?

Orang-orang yang di kirimkan kepada kita yang membagi masalahnya kepada kita, ada yang datang hanya ingin bercerita tanpa berharap nasehat, dan ada pula yang berharap solusi.

Sehingga kita harus pandai-pandai melihat, apakah gelas yang kita hadapi tertutup, kosong, atau terisi sebagian. Karena dengan mengetahui keadaaan orang yang bersangkutan, kita akan mampu mengatur tingkat pengharapan kita. Tingkat pengharapan ; adanya respon positif terhadap nasehat kita, diterimanya nasehat kita, dijalankannya solusi-solusi yang kita berikan, dll.

Memang jika orang yang tersebut adalah orang yang dekat dengan kita, yang kita sayangi, maka kita akan menjadi sangat subjektif. Kita akan berusaha sekuat mungkin untuk menolongnya. Tingkat pengharapan kita kepadanya akan sangat tinggi. Kita terus berharap agar orang yang bersangkutan akan berubah. Dan ketika orang yang di harapkan untuk berubah, ternyata tetap melakukan hal yang sama atau bahkan lebih buruk, maka kita akan sangat kecewa. Hal itu karena harapan kita kepadanya sangatlah tinggi, sehingga sakit rasanya ketika jatuh.

Namun inilah tantangannya. Setiap dari kita memang wajib mengingatkan, wajib saling memberi nasehat, namun kita tidak akan di minta pertanggung jawabannya terhadap hasil nya kelak. Bahkan Rasulullah saw pun hanya bertugas sebagai pemberi peringatan dan sebagai suri tauladan.

Salah satu cara untuk me’manage’ pengharapan kita, maka kita harus jeli melihat. Jika orang itu datang membawa gelas kosong dan kita bisa mengisi penuh gelas itu, maka kita dapat berharap lebih dari orang yang membawa gelas yang hanya setengah kosong. Dan jika orang itu membawa gelas yang terpasangi tutup, kita dapat menyadarinya dan terhindar dari kekecewaan.

Bukankah kita telah di ajari, bahwa jika kita melihat ketidakbenaran terjadi; maka kita dapat merubahnya dengan tangan kita. Jika tidak bisa , maka kita dapat berusaha merubahnya dengan lisan kita, dan jika kita tidak mampu, maka kita dapat menolaknya dengan hati kita, walau itu adalah selemah-lemahnya iman.

Kita dapat merubah seseorang/ lingkungan dengan tangan kita, pada saat kita memiliki kewenangan / kekuasaan terhadap mereka. Dimana kita dapat memberi konsekuensi terhadap keburukan yang terjadi, dan di harapkan dengan konsekuensi itu, orang/ lingkungan menjadi kapok dan berubah.

Namun lebih seringnya, kita hanya mampu menasehati dengan lisan, ataupun hanya mampu tuk mendoakan di dalam hati. Dan karenanyalah kita harus mampu mengontrol tingkat pengharapan kita. Karena ketidak mampuan mengontrol pengharapan kita, dapat berbuah menjadi rasa kecewa yang berlipat-lipat, dan dapat berakhir dengan rasa cuek terhadap apapun yang terjadi dengan orang yang bersangkutan. Kita menjadi apatis.

Berbeda ketika kita sudah mampu mengelola pengharapan kita. Kita akan ikhlas memberi ilmu, menasehati, menolong, tanpa berfikir tentang di terima dan dijalankannya nasehat-nasehat kita. Jika di jalankan, maka insyaAllah kita akan terhindar dari sikap puas diri, dan kalaupun di tolak kita akan terhindar dari sikap berputus asa. Pada saat itu kita bukanlah bersikap cuek kepada orang yang bersangkutan, namun kita bersikap tawakkal. Menyerahkan segala sesuatunya kembali kepada Allah.

Namun jika orang yang bersangkutan, kelak menyadari semua kesalahannya, datang kembali meminta nasehat, meminta tolong agar di bantu, dan ber azzam ingin berubah. Maka saat itu kita wajib untuk kembali menasehati, kembali mengingatkan kepada kebaikan. Kembali berada di sisinya , sebagai saudara/i sesame muslim. Sebagai sebuah bangunan utuh.

Wallahu’alam

By: yunieza ( 100210).
Sedikit berbagi nasehat-nasehat yang di berikan oleh guruku, ibu Ania dan beberapa pemikiran dari Mario teguh, serta sedikit dari renunganku. Semoga bermanfaat.
Sesungguhnya semua kebenaran itu berasal dari Allah swt, dan segala kesalahan itu berasal dari hawa nafsuku dan juga syetan.

>Hasrat, Keberanian, Komitmen

>Namanya Hani. Hani Irmawati. Ia adalah gadis pemalu, berusia 17 tahun. Tinggal di rumah berkamar dua bersama dua saudara dan orangtuanya. Ayahnya adalah penjaga gedung dan ibunya pembantu rumah tangga. Pendapatan tahunan mereka, tidak setara dengan biaya kuliah sebulan di Amerika.

Pada suatu hari, dengan baju lusuh, ia berdiri sendirian di tempat parkir sebuah sekolah internasional. Sekolah itu mahal, dan tidak menerima murid Indonesia. Ia menghampiri seorang guru yang mengajar bahasa Inggris di sana. Sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian besar untuk ukuran gadis Indonesia.

“Aku ingin kuliah di Amerika,” tuturnya, terdengar hampir tak masuk akal. Membuat sang guru tercengang, ingin menangis mendengar impian gadis belia yang bagai pungguk merindukan bulan.

Untuk beberapa bulan berikutnya, Hani bangun setiap pagi pada pukul lima dan naik bis kota ke SMU-nya. Selama satu jam perjalanan itu, ia belajar untuk pelajaran biasa dan menyiapkan tambahan pelajaran bahasa Inggris yang didapatnya dari sang guru sekolah internasional itu sehari sebelumnya. Lalu pada jam empat sore, ia tiba di kelas sang guru. Lelah, tapi siap belajar.

“Ia belajar lebih giat daripada kebanyakan siswa ekspatriatku yang kaya-kaya,” tutur sang guru. “Semangat Hani meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasanya, tetapi aku makin patah semangat.”

Hani tak mungkin memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa dari universitas besar di Amerika. Ia belum pernah memimpin klub atau organisasi, karena di sekolahnya tak ada hal-hal seperti itu. Ia tak memiliki pembimbing dan nilai tes standar yang mengesankan, karena tes semacam itu tak ada.

Namun, Hani memiliki tekad lebih kuat daripada murid mana pun.

“Maukah Anda mengirimkan namaku?” pintanya untuk didaftarkan sebagai
penerima beasiswa.

“Aku tak tega menolak. Aku mengisi pendaftaran, mengisi setiap titik-titik
dengan kebenaran yang menyakitkan tentang kehidupan akademisnya, tetapi juga
dengan pujianku tentang keberanian dan kegigihannya,” ujar sang guru.

“Kurekatkan amplop itu dan mengatakan kepada Hani bahwa peluangnya untuk
diterima itu tipis, mungkin nihil.”

Pada minggu-minggu berikutnya, Hani meningkatkan pelajarannya dalam bahasa
Inggris. Seluruh tes komputerisasi menjadi tantangan besar bagi seseorang
yang belum pernah menyentuh komputer. Selama dua minggu ia belajar
bagian-bagian komputer dan cara kerjanya.

Lalu, tepat sebelum Hani ke Jakarta untuk mengambil TOEFL, ia menerima surat
dari asosiasi beasiswa itu.

“Inilah saat yang kejam. Penolakan,” pikir sang guru.

Sebagai upaya mencoba mempersiapkannya untuk menghadapi kekecewaan, sang
guru lalu membuka surat dan mulai membacakannya: Ia diterima! Hani diterima
….

“Akhirnya aku menyadari bahwa akulah yang baru memahami sesuatu yang sudah
diketahui Hani sejak awal: bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi
juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, dan keberanian untuk
percaya akan dirimu sendiri,” tutur sang guru menutup kisahnya.

Kisah Hani ini diungkap oleh sang guru bahasa Inggris itu, Jamie Winship,
dan dimuat di buku “Chicken Soup for the College Soul”, yang edisi
Indonesianya telah diterbitkan.

Tentu kisah ini tidak dipandang sebagai kisah biasa oleh Jack Canfield, Mark
Victor Hansen, Kimberly Kirberger, dan Dan Clark. Ia terpilih diantara lebih
dari delapan ribu kisah lainnya. Namun, bukan ini yang membuatnya istimewa.

Yang istimewa, Hani menampilkan sosoknya yang berbeda. Ia punya tekad. Tekad
untuk maju. Maka, sebagaimana diucapkan Tommy Lasorda, “Perbedaan antara
yang mustahil dan yang tidak mustahil terletak pada tekad seseorang.”

Anda memilikinya?

Sumber: Disadur dari Chicken Soup for the College Soul by Jack Canfield, Mark
Victor Hansen, Kimberly Kirberger, and Dan Clark

>Kreativitas Bisnis

>

Kayabukiya, sebuah pub di pinggiran Tokyo, telah merekrut Yat-chan dan Fuku-chan, dua ekor monyet menjadi pelayan. Betul, m-o-n-y-e-t, monyet. Dengan pakaian tradisional, monyet ini hilir-mudik membawakan handuk hangat dan sake dari dapur. Bahkan monyet ini sedikit-sedikit dapat mengerti perintah pelanggan.

Di sana, pelanggan cukup berteriak, maka monyet ini akan datang seketika. Agak berbeda dengan monyet kebanyakan, mereka tidak terlalu suka diiming-imingi kacang biasa. Sebagai gantinya, mereka lebih suka diiming-imingi edamame –semacam kacang kedelai. (Saya langsung teringat kisah seorang agen asuransi yang dikangeni klien-kliennya. Pasalnya? Selalu ada seekor monyet kecil yang bertengger di bahunya.) Kreatif ‘kan?

Menurut konsultan Richard Laermer, dalam dunai bisnis atau marketing, kreativitas berbisnis selalu diletakkan di akhir sebuah proses. Ini keliru! Idealnya, di awal. Mungkin melalui penamaan yang greget, penyajian produk yang greget, promosi yang greget, dan masih banyak lagi. Penyajian produk dengan memanfaatkan monyet adalah salah satu caranya. Barangkali, Anda punya cara yang lainnya ?
inspired by Ippho Santosa

>Menuju Hidup Bahagia

>

Kebahagiaan itu bermula dari ketenangan
Yang berada dalam sanubari orang beriman
Percaya kepada Alloh memberi kekuatan
Saat menghadapi segala cobaan dan rintangan

Menjaga konsistensi adalah sebuah tuntutan
Yang harus dilakukan dengan penuh kesabaran
Janganlah jadikan kehidupan dunia sebagai alasan
Untuk tidak bermuhasabah pada setiap kesempatan
Kejernihan fikiran ibarat mata air kehidupan
yang membuka relung hati menuju ketaqwaan
Jernihkanlah fikiran dan hatimu dengan kesopanan
Yang terpancar pada setiap untaian kata orang beriman
Tiada kebahagiaan bila manusia selalu berbantah bantahan
Tiada kedamaian bila hati engan membangun persaudaraan
Maka, jadikanlah Hari-Harimu penuh dengan senyuman
Dan terhindar dari segala Sifat – Sifat pemicu kemunafikan
by. Reni Ningsih @reniningsih.cybermq.com