Spirit Hari Raya Qurban : Taqorrub 2

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi Wa barokatuh….

TAQORRUBAN ILALLAH, Yang terpenting adalah prosesnya dan bukan sampainya…..

Status Facebook dari Mbak Nur Sari Aini :

MEMILIKI TUJUAN
Pada suatu siang yang terik ada seorang master Sufi yang sangat terkenal karena kebijaksanaannya sehingga beliau bisa berbicara dengan siapa saja termasuk dengan bintang sekalipun. Dalam perjalanannya melintasi padang gurun tersebut, dia melihat seekor semut yang sedang berjalan terburu-buru. Dia penasaran dan tertarik untuk mencoba menyapanya.

“Hi semut, sedang kemana kamu sepertinya terburu-buru?”

Semut tersebut kaget kok bisa-bisanya ada manusia yang ngajak ngomong dia. Karena dia lihat sang Master Sufi tersebut sangatlah bijaksana maka dia menjawab

“saya sedang berjalan menuju ke Mekah”

Sang Master Sufi tersebut terbengong-bengong dan dia berpikir “ ngga salah nih dia mau pergi ke Mekah” dibenaknya, kemudian dia menanyakan kepada semut itu.

“ Kamu ke Mekah? Kapan kamu sampai? Sedangkan perjalanan ke Mekah sangatlah jauh? Mana bisa sampai?”

Dengan bijak sang semut tersebut menjawab

“ Tidak penting sampai atau tidak sampai, yang penting saya tahu tujuan hidup saya. Saya mau ke Mekah”

Dan tercenunglah sang Master Sufi tersebut sambil berpikir. Hmmm se-ekor semut saja mempunyai tujuan dalam hidupnya. Sedangkan banyak manusia yang masih belum mempunyai tujuan dalam hidupnya. Mereka membiarkan hidup mereka terombang ambing dibawa oleh arus. Ada yang bisa sampai ketujuan ada yang sudah skeptis sebelum mencapai tujuannya. Sedangkan semut ini? Wuihhh bijaksana sekali hidup dia. Setelah dia mengatakan itu, dia berpamitan kepada sang semut yang sedang berjalan tersebut dan mendoakan semut tersebut agar sampai pada tujuannya. amin…

Ulasan saya :
Status dari Sdri. Nur Sari aini di atas menimbulkan ilham di hati saya untuk menuliskan artikel ini.

Sering saya bertemu dengan para Salik atau para spiritualis yang rindu berjumpa dengan Tuhannya. Dan mereka banyak yang berkonsultasi dan sharing dengan saya. yang pada intinya, mereka sudah tidak sabar dan ingin segera berjumpa dengan Tuhan serta bertanya rute terdekat untuk sampai kepada Tuhan.

Dan saya jawab,

  1. Lupakan segala ambisimu untuk tergesa-gesa berjumpa dengan Tuhan. Karena Tuhan tidak akan pernah dapat kau temui ketika dirimu masih dipenuhi oleh nafsu kepentingan pribadi.
  2. Lupakan segala teori tentang ilmu hakikat & makrifat. karena semua pengetahuan itu memang penting untuk membuka wawasan fikiran dan hati kita terhadap Tuhan. Tetapi ingatlah, bahwa pengetahuan itu hanya sekedar untuk menguatkan dan mengokohkan perjalanan kita, namun tidak dapat menyampaikan kita untuk naik ke Maqom (Tingkatan Spiritual) yang lebih tinggi. Karena untuk naik maqom itu adalah murni Hidayah dan Kehendak Allah swt dan bukan karena kekuatan ilmu dan Mujahadah kita. Tugas kita hanya mengusahakan sebab-sebab yang memberikan akibat turunnya ridlo Allah atas diri kita dan selanjutnya kita bertawakal dan berserah diri kepada Allah swt semata.
  3. Sebagaimana spirit yang kita pelajari dari semut dalam kisah di atas, Yang menjadi inti persoalan bukanlah mengenai kapan sampainya kita. Yang terpenting adalah kita tahu tujuan hidup kita sehingga kita dapat memfokuskan diri di atas jalan yang lurus & benar.

Dalam manajemen Sukses di sebutkan, “Sukses Adalah Proses, dan Bukan Tujuan Akhir.”
Sukses adalah sebuah perjalanan yang tiada akhir, ini adalah terkait dengan pertumbuhan yang sehat dari Pohon Kehidupan kita. Yang mana kehidupan yang sehat dan benar akan senantiasa mengalami kemajuan yang terus menerus ke arah tujuan tertinggi kita, Visi Kita, dan kehidupan yang menjadi impian kita di segala bidang kehidupan.

Dengan meletakkan sukses di setiap titik perjalanan yang telah kita tempuh dan bukan di titik akhir perjalanan, akan menjadikan kita dapat menikmati dan mensyukuri setiap detik dari kehidupan kita…. Kita dapat menikmati moment hidup di saat ini, detik ini, dengan penuh kesadaran…. Sehingga diri kita akan senantiasa diselimuti oleh energi yang sangat kuat… Yang terpancar dari sikap positif kita terhadap kehidupan…

Dan bila energi sukses itu terpancar di setiap titik kehidupan kita, Bukankah itu artinya kita sudah hidup dan bergelimang dalam kesuksesan…..???

Allah berfirman :
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.


Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (ni’mat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. ( QS. Ibrahim 7-8 )

Jika kita bersyukur maka nikmat akan ditambah.
Rasa syukur akan menyingkap tirai dan menghapus kabut yang melingkupi begitu banyak hal yang mestinya kita syukuri. Dengan mulai bersyukur, kita akan menemukan hal lain yang langsung kita sadari juga patut disyukuri. Rasa syukur ini, kemudian juga akan menemukan hal lain yang juga patut disyukuri. Bola salju itu mulai bergulir.

Maka berjalanlah kita dari satu rasa syukur ke rasa syukur yang lain. Sesungguhnyalah, perjalanan dan petualangan dari satu syukur ke syukur yang lain, adalah perjalanan dari satu nikmat ke nikmat yang lain.

Segala kenikmatan itu telah diberikan kepada kita, tanpa kita menyadarinya selama ini. Kesadaran akan eksistensi kenikmatan yang kini terkuak itu, jelas-jelas adalah penambahan kenikmatan yang muncul dari kesadaran dan makin pekanya panca indera kita.

Kemudian, rasa syukur yang mulai menyemburat dari berbagai penjuru itu akan menciptakan sebuah fenomena unik, yaitu munculnya rasa dekat sekaligus rasa senang dan rasa menyukai terkait dengan berbagai fenomena yang disyukuri. Dengan merasa dekat, senang, dan suka ini, kita akan menjadi makin peka dan lebih mampu melihat, mendengar, dan merasakan detil dari berbagai kenikmatan.

Kemudian, petualangan rasa senang, dekat, dan menyukai ini, yang dijejali oleh berbagai penemuan akan kenikmatan yang makin jelas dan makin detil, mulai menciptakan state (kondisi Fikiran & perasaan) yang sangat kondusif untuk kepentingan Learning dan Creativity. Segala kenikmatan itu kemudian makin terbuka dan terkuak, mengambil bentuk kenikmatan pembelajaran dan penemuan, kenikmatan kreatifitas dan berkreasi.

Muaranya, adalah pintu-pintu yang terbuka menuju solusi-solusi. Sangat mungkin, kenikmatan solusi itu juga muncul dari pintu yang tak pernah disangka-sangka.

Maka, mampukah kita menghitung kenikmatan yang dianugerahkannya-Nya?

Jika suatu saat engkau merasa mentok, merasa kurang kreatif, merasa putus asa, merasa tak menemukan jawaban dan putus harapan dari segala persoalan di dalam hidupmu, Engkau tahu harus bagaimana bukan…???  BERSYUKURLAH….

Wallahu a’lam

Spirit Hari Raya Qurban : Taqorrub

Assalamu ‘Alaikum Wa Rohmatullahi Wa Barokatuh..

Sahabat, Perintah berqurban bagi mereka yang diberi kelebihan rizki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin, mengandung pesan penting “bahwa Kita bisa dekat dengan Allah swt (Taqorrub ilallah) hanya ketika Kita bisa mendekati dan menolong saudara-saudara kita yang serba kekurangan”.

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Hajj :37 )

Idul Adha dan peristiwa kurban yang setiap tahun dirayakan umat muslim di dunia seharusnya tak hanya dimaknai sebatas proses ritual, tetapi juga diletakkan dalam konteks peneguhan nilai-nilai ketauhidan, sosial, kemanusiaan, dan spirit keadilan, sebagaimana pesan tekstual utama agama.

QURBAN”, yang secara etimologi berarti “pendekatan”, mengandung pesan tentang upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jalan mempersembahkan hidup kita untuk perjuangan membela nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kebajikan ibadah qurban bukan terletak pada persembahan daging hewan qurban, melainkan ketakwaan dan ketulusan (QS al-Hajj: 37).

Sejarah pelaksanaan ibadah qurban ini bermula dari pengujian kesetiaan Ibrahim terhadap Tuhannya. Pada usianya yang telah mencapai 85-an tahun, Ibrahim belum dikaruniai keturunan. Sebagai ijabah dari permohonannya, Tuhan kemudian mengaruniakan seorang keturunan yang kemudian diberi nama Ismail (Tafsir al-Azhar, juz 23: 218). Lima tahun kemudian, Ibrahim bermimpi menyembelih Ismail. Setelah dimusyawarahkan, kemudian keduanya sepakat bahwa mimpi tersebut merupakan perintah dari Tuhan yang harus dilaksanakan. Di akhir kisah, Ismail diganti dengan seekor domba besar yang kemudian disembelih Ibrahim (QS. 37: 100-107).

Sejatinya Ibadah qurban adalah perintah Tuhan untuk mengorbankan dan menyembelih sifat egois, mementingkan diri sendiri, rakus dan serakah yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah swt yang diwujudkan dalam bentuk solidaritas dan kerja-kerja sosial. Kecintaan pada Allah swt ditunjukkan Nabi Ibrahim dengan kesediaan menyembelih putra kesayangannya Ismail. Sesungguhnya Tuhan menyuruh Ibrahim menyembelih putranya, yang disampaikan melalui mimpi, di samping ujian keimanan juga sarat pesan-pesan sosial kemanusiaan. Kepekaan sosial, keberpihakan kepada kaum lemah dan dilemahkan (mustadh’afin) adalah nilai sekaligus moral sosial yang terkandung dalam ibadah qurban.

Ibadah qurban hakikatnya mengajarkan kita untuk menolak segala bentuk egoisme dan keserakahan. Karena kedua sifat itu hanya akan merampas hak dan kepentingan kaum dhuafa (lemah) dan mustadh’afin (dilemahkan) . Di sisi lain ibadah qurban dapat menjadi solusi terhadap berbagai bentuk ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang masih mewarnai di sekitar kita.

Perintah berqurban bagi mereka yang diberi kelebihan rizki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin, mengandung pesan penting “bahwa Kita bisa dekat dengan Allah swt hanya ketika Kita bisa mendekati dan menolong saudara-saudara kita yang serba kekurangan”. Semangat menyembelih hewan qurban yang dagingnya dibagikan kepada kaum fuqara dan masakin (fakir dan miskin), jelas dimaksudkan agar terjadi solidaritas dan tolong-menolong antar-anggota masyarakat. Yang kaya menolong si miskin dan sebaliknya yang miskin menolong si kaya. Sikap solidaritas ini diharapkan akan mengurangi kesenjangan sosial dan kondusif bagi pemberdayaan masyarakat.

Meski perayaan ‘idul qurban di rayakan setahun sekali, namun semangat berqurban tersebut seharusnya tidak hanya muncul ketika datang ‘Idul Adha. Ia harus terus -menerus hidup dalam diri kita. Tentu saja, di luar ‘Idul Adha, berqurban itu tidak harus berbentuk penyembelihan hewan. Ia dapat berupa apa saja yang bisa mendorong terwujudnya masyarakat yang berdaya, bermartabat yang selalu menjunjung nilai-nilai keadilan.

Kita sangat berharap dengan perayaan ‘Idul Adha akan muncul semangat berqurban di masyarakat, apalagi pemerintah. Semangat berqurban ini sangat penting artinya dalam membangun masa depan bangsa dan negara ke arah yang lebih maju, lebih baik, dan lebih sejahtera. Makna utama ibadah qurban yang berupa kesediaan untuk berkorban sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dapat dijadikan inspirasi bagaimana kita bisa saling berbagi dan memberdayakan sesama umat manusia, terutama mereka yang kurang beruntung.

TAQORRUB ILALLAH
Berkaitan dengan bab taqarrub ilallah, Imam Ibnu Hajar berkata: “termasuk dalam lafadz tersebut adalah seluruh kewajiban baik fardlu ain maupun fardlu kifayah. Sehingga bisa pula diambil pengertian darinya bahwa pelaksanaan perbuatan-perbuatan yang fardlu adalah aktifitas yang paling disukai Allah SWT, mulai dari pelaksanaan shalat, pembayaran zakat, berbakti kepada orang tua, menuntut ilmu, berjihad fi sabilillah, beramar makruf nahi munkar, bersikap jujur dan ikhlas lillahi taala dalam berperilaku, beristiqamah dalam beramal, memakan makanan yang halal lagi baik, menutup aurat perempuan – laki-laki, sampai pelaksanaan hukum-hukum hudud oleh negara atas tindakan kriminal (jarimah) seperti zina, liwath (homoseksual), pencurian, riddah (keluar dari Islam), pembunuhan dan kewajiban-kewajiban lainnya. Semua itu termasuk dalam aktifitas yang akan dapat mendekatkan diri seorang hamba yang mukmin kepada Rabnya.”

Aktifitas taqarrub ilallah dapat dikelompokkan menjadi:

Pertama: Pelaksanaan kewajiban.
Diantara pelaksanaan kewajiban yang utama adalah menuntut ilmu, sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Abdil Barr)

Nabi juga memberi dorongan agar setiap orang mukmin melaksanakan kewajiban ini melalui sabda Beliau SAW:

“Barang siapa pergi menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.” (HR. AbuDawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al Baihaqi )

Selain itu yang juga dianggap sebagai qurbah adalah infaq fi sabilillah, maksudnya untuk urusan jihad. Al Quran menegaskan bahwa infaq fi sabilillah ini sebagai bentuk qurbah yang besar yang diberikan oleh seorang hamba mukmin kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:

“Diantara orang-orang Arab Badui ada orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan menjadikan harta yang ia nafkahkan (dalam jihad fi sabilillah) sebagai pendekatan di sisi Allah dan jalan untuk mendapatkan doa Rasulullah. Ketahuilah itu memang merupakan pendekatan bagi mereka. Allah akan memasukkan ke dalam rahmat-Nya (surga). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS.At Taubah[9]: 99)

Begitu juga dengan dakwah, merupakan aktifitas wajib yang dapat mendekatkan seorang mukmin kepada Allah SWT. Bahkan, berdakwah disebut sebagai perkataan yang paling baik. Allah SWT berfirman:

”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan baik.” (An Nahl [16]: 125)

”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah.” (QS. Fushshilat [41]: 33)

Kedua: Pelaksanaan sunnah-sunnah nafilah atau mandubat.
Nabi SAW bersabda:
”Tak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah nafilah hingga Aku mencintainya. Kalau Aku sudah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya. Dan Aku akan menjadi penglihatannya yang ia melihat dengannya. Dan Aku akan menjadi tangannya yang ia berbuat dengannya. Dan Aku akan menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku niscaya akan Aku beri. Dan jika ia memohon perlindungan pada-Ku niscaya akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Amal-amal nafilah adalah setiap aktifitas yang merupakan tambahan dari amal-amal yang wajib, baik berupa shadaqah, dzikir, shalat sunnah, puasa sunnah, iktikaf, qiraatul quran dan lain-lain. Melalui pelaksanaan amal-amal nafilah tersebut, seorang mukmin akan terangkat derajatnya di sisi Allah SWT. Karena itu, dorongan untuk melaksanakannya begitu besar, sebagaimana sabda Nabi SAW:

”Jika seorang hamba bertaqarrub kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari.” (HR. Bukhari)

Ketiga: Pelaksanaan ketaatan-ketaatan lainnya.
Bentuk-bentuk ketaatan lain selain melaksanakan yang fardlu dan yang sunnah adalah meninggalkan apa saja yang diharamkan Allah SWT. Diantaranya adalah meninggalkan riba, judi, zina, khamer, dan sebagainya. Allah berfirman:

”Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al Baqarah [2]: 278)

”Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah [5]: 90)

Orang-orang yang bertaqarrub ilallah, mendekatkan diri kepada Allah, mereka akan menjadi kekasih-Nya. Jika seorang hamba telah menjadi kekasih Allah, maka dia berhak untuk mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari-Nya, doa dan permintaannya akan dikabulkan, serta akan diberi kecukupan rizki oleh Allah SWT. Para kekasih Allah inilah yang akan menjadi penghantar kebaikan dan pencegah dari keburukan. Bahkan kalau sebuah negeri penduduknya menjadi kekasih Allah, dengan keimanan dan ketakwaannya, maka Allah akan membukakan barakah-Nya dari langit dan bumi. Sebagaimana firman-Nya:

”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami itu maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya,” (QS. Al A’raf [7]: 96)

Sahabat, salah satu cara untuk menghindar dari berbagai keburukan itu adalah dengan menjadikan para penduduk negeri ini sebagai orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah, sebagai kekasih Allah, yang senantiasa melakukan aktifitas taqarrub, pendekatan diri kepada Allah melalui pelaksanaan berbagai kewajiban, amal-amal nafilah serta bentuk-bentuk ketaatan lain seperti meninggalkan larangan-larangan Allah. Dengan kata lain, kita harus mencetak pribadi-pribadi yang memiliki karakter sebagai orang yang beriman sekaligus beramal shalih. Sehingga rahmat, barakah dan pertolongan akan senantiasa diberikan Allah kepada kita. Amin, Ya Rabbal Alamin.

Wallahu’alam bi al-shawab.

Selamat Jalan Abah Anom

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…. 

Kami Keluarga Besar NAQS DNA, Menghaturkan Turut Bela sungkawa atas wafatnya Abah Anom (Syeikh KH Ahmad Shohibul wafa Tajul Arifin) Ulama Besar Guru Mursyid TQN Suryalaya. Beliau telah berlindung di haribaan Ilahi Robbi pada hari Senin 5 September 2011 pukul 11.50 WIB di RS Tasik Medical Citratama.

Ya Allah, ampunilah dia, kasihilah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempatnya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah dia dengan air, salju dan embun. Sucikanlah dia dari segala kesalahan sebagaimana pakaian disucikan dari najis. Gantikan untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, gantikan untuknya keluarga yang lebih baik dari keluarganya, gantikan untuknya isteri (pasangan) yang lebih baik dari pasangannya. Masukkanlah ke dalam surga dan lindungilah dia dari azab kubur dan azab neraka.

Ya Allah, ampunilah beliau, naikkanlah darjatnya diantara orang-orang yang mendapat hidayah, dan lindungilah keluarga dan keturunannya yang masih hidup. Ampunilah dia dan kami, wahai Tuhan sekelian alam, luaskanlah kubur baginya dan berikanlah cahaya di dalamnya.

Khusyusyon Ila hadrotus syeikh KH Ahmad Shohibul wafa Tajul Arifin, Al-Fatehah…

Sahabat, Sungguh para ‘ulama merupakan pelita bagi umat. Keberadaan mereka sangat penting dalam membimbing dan mengarahkan umat ini ke jalan hidayah. Mereka adalah orang-orang terpercaya, pewaris para Nabi, yang mengemban tugas besar menjaga agama ini dari berbagai penyelewengan dan penyimpangan.

Sungguh kepergian mereka merupakan musibah besar bagi umat ini. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ؛ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh. Kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [Al-Bukhari (100, 7307); Muslim (2673)]

Oleh karena itu, Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengingatkan dan menasehatkan :

عليكم بالعلم قبل أن يرفع، ورفعه هلاك العلماء، فوالذي نفسي بيده ليودن رجال قتلوا في سبيل الله شهداء أن يبعثهم الله علماء لما يرون من كرامتهم، وإن أحدا لم يولد عالما، وإنما العلم بالتعلم
“Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sebelum ilmu tersebut dihilangkan. Hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para ‘ulama. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syuhada, mereka sangat menginginkan agar Allah membangkitkan mereka dengan kedudukan seperti kedudukannya para ‘ulama, karena mereka melihat begitu besarnya kemuliaan para ‘ulama. Sungguh tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan sudah berilmu. Ilmu itu tidak lain didapat dengan cara belajar.[lihat Al-’Imu Ibnu Qayyim, no. 94].

Begitulah bahaya dihilangkanya ilmu dari komunitas dunia dengan cara menghilangkan para ahlinya yaitu para ulama. Ilmu yang bagaimana yang akan dihilangkan tentu ini menjadi pertanyaan besar bagi kita. Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu yang ada dalam al-Quran dan as-Sunnah, keduanya adalah warisan dari para Nabi dan Rasul. Ulama yang mengajarkan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para pewaris Nabi dan Rasul. Sedangkan kehidupan kita adalah kehidupan yang membutuhnakn bimbingan dan petunjuk dari para utusan Allah.

Wafatnya para Nabi dan Rasul menjadikan peran ulama sebagai pewaris-Nya menjadi sangat penting di tengah bermunculanya ilmu-ilmu yang hanya berdimensi dunia. Ilmu dunia justru sebaliknya, ia akan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan dan bahkan nafsu manusia.

Boleh jadi ilmu tersebut (dunia) akan menghancurkan dirinya dan inilah saat-saat dimana manusia berjalan ke arah kebodohan. Imam adz-Dzahabi ulama ahli tarikh Islam memaparkan, “Dan mereka tidak diberikan ilmu kecuali hanya sedikit saja. Adapun sekarang, maka tidak tersisa dari ilmu yang sedikit itu kecuali sedikit saja pada sedikit manusia, sungguh sedikit dari mereka yang mengamalkan ilmu yang sedikit tersebut, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita”. (Tadzkiratu al-Huffaazh III/1031).

Dan ilmu yang akan dicabut paling akhir adalah ilmu tentang Allah , Rasulullah  bersabda, “Tidak akan datang hari kiamat hingga di bumi tidak lagi disebut; Allah, Allah” (Muslim kitab al-Iiman, bab Dzahabu al-Iman akhira al-zaman II/178 syarah an-Nawawi).

Sungguh para ulama merupakan pelita bagi umat. Keberadaan mereka sangat penting dalam membimbing dan mengarahkan umat ini ke jalan hidayah, dengan berpedoman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para generasi as-salafush shalih. Mereka adalah orang-orang terpercaya, pewaris para Nabi, yang mengemban tugas besar menjaga agama ini dari berbagai penyelewengan dan penyimpangan.

Wallahu a’lam

Cuplikan Berita 1 :

Sesepuh Ponpes Suryalaya Abah Anom Wafat
Abah Anom merupakan putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad.

Senin, 5 September 2011, 13:04 WIB

VIVAnews – Sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, KH A Shohibulwafa Tajul Arifin atau yang dikenal dengan nama Abah Anom, meninggal dunia. Abah Anom meninggal sebelum dzuhur, tepatnya pukul 11.50 WIB di RS Tasik Medical Citratama.

“Iya barusan meninggal sebelum dzuhur. Meninggal dalam usia 96 tahun. Saya belum tahu pasti penyebabnya apa,” kata Aay Syarif, staf Yayasan Serba Bakti di Pondok Pesantren Suryalaya, saat berbincang dengan VIVAnews.com, Senin 5 September 2011.

Menurut Aay, berita meninggalnya sesepuh kelahiran Suryalaya pada 1 Januari 1915 itu belum menyebar. Menurut dia, belum ada pejabat tinggi yang mampir dan melayat.

“Baru pejabat-pejabat dari dua kecamatan saja,” ujar Aay. Aay sendiri belum mengetahui rencana kapan dan dimana Abah Anom akan dimakamkan. “Sekarang baru saja dimandikan.”

Abah Anom merupakan putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928.

Kemudian ia masuk Sekolah Menengah semacam Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus.

Abah Anom belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah kurang lebih dua tahun di Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi. (umi)VIVAnews

Cuplikan Berita 2 :

Abah Anom dimakamkan di Suryalaya
Senin, 5 September 2011 16:58 WIB |

Tasikmalaya (ANTARA News) – Jenazah Abah Anom pendiri pondok pesantren Suryalaya, Kecamatan Pageurageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, akan dimakamkan di kompleks pemakaman Suryalaya dengan waktu dan hari belum dapat dipastikan.

“Almarhum dimakamkan di Suryalaya, tapi tidak tahu hari ini atau besok” kata Kepala Bidang Humas Suryalaya H R Bobon Setiadji Bustom saat dihubungi melalui telepon selulernya, Senin.

Rencana proses pemakaman jenazah Abah Anom, kata Bobon, terlebih dahulu dimusyawarahkan bersama keluarga, karena masih menunggu kerabat dan saudara yang berada di luar daerah.

“Kita kumpul dulu bersama keluarga, kapan dimakamkannya belum tahu,” jelasnya.

Abah Anom memiliki nama lengkap KH Shohibulwafa Tajul Arifin Ra meninggal dunia pada usia 96 tahun, Senin sekitar pukul 11.30 WIB karena penyakit jantung.

Almarhum Abah Anom sempat menerima tamu di kediamannya di Suryalaya, dan tiba-tiba merasakan sakit. Abah Anom memang memiliki riwayat penyakit jantung.

“Abah Anom tidak sedang sakit, tidak sempat dirawat, tapi karena sakit tua aja ada jantung,” jelasnya.

Abah Anom kemudian dibawa ke Rumah Sakit TMC Kota Tasikmalaya, namun setibanya di rumah sakit sudah dalam keadaan meninggal dunia. Jenazah kemudian dibawa kembali ke Suryalaya.
(FPM)