Spirit Hari Raya Qurban : Taqorrub 2

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi Wa barokatuh….

TAQORRUBAN ILALLAH, Yang terpenting adalah prosesnya dan bukan sampainya…..

Status Facebook dari Mbak Nur Sari Aini :

MEMILIKI TUJUAN
Pada suatu siang yang terik ada seorang master Sufi yang sangat terkenal karena kebijaksanaannya sehingga beliau bisa berbicara dengan siapa saja termasuk dengan bintang sekalipun. Dalam perjalanannya melintasi padang gurun tersebut, dia melihat seekor semut yang sedang berjalan terburu-buru. Dia penasaran dan tertarik untuk mencoba menyapanya.

“Hi semut, sedang kemana kamu sepertinya terburu-buru?”

Semut tersebut kaget kok bisa-bisanya ada manusia yang ngajak ngomong dia. Karena dia lihat sang Master Sufi tersebut sangatlah bijaksana maka dia menjawab

“saya sedang berjalan menuju ke Mekah”

Sang Master Sufi tersebut terbengong-bengong dan dia berpikir “ ngga salah nih dia mau pergi ke Mekah” dibenaknya, kemudian dia menanyakan kepada semut itu.

“ Kamu ke Mekah? Kapan kamu sampai? Sedangkan perjalanan ke Mekah sangatlah jauh? Mana bisa sampai?”

Dengan bijak sang semut tersebut menjawab

“ Tidak penting sampai atau tidak sampai, yang penting saya tahu tujuan hidup saya. Saya mau ke Mekah”

Dan tercenunglah sang Master Sufi tersebut sambil berpikir. Hmmm se-ekor semut saja mempunyai tujuan dalam hidupnya. Sedangkan banyak manusia yang masih belum mempunyai tujuan dalam hidupnya. Mereka membiarkan hidup mereka terombang ambing dibawa oleh arus. Ada yang bisa sampai ketujuan ada yang sudah skeptis sebelum mencapai tujuannya. Sedangkan semut ini? Wuihhh bijaksana sekali hidup dia. Setelah dia mengatakan itu, dia berpamitan kepada sang semut yang sedang berjalan tersebut dan mendoakan semut tersebut agar sampai pada tujuannya. amin…

Ulasan saya :
Status dari Sdri. Nur Sari aini di atas menimbulkan ilham di hati saya untuk menuliskan artikel ini.

Sering saya bertemu dengan para Salik atau para spiritualis yang rindu berjumpa dengan Tuhannya. Dan mereka banyak yang berkonsultasi dan sharing dengan saya. yang pada intinya, mereka sudah tidak sabar dan ingin segera berjumpa dengan Tuhan serta bertanya rute terdekat untuk sampai kepada Tuhan.

Dan saya jawab,

  1. Lupakan segala ambisimu untuk tergesa-gesa berjumpa dengan Tuhan. Karena Tuhan tidak akan pernah dapat kau temui ketika dirimu masih dipenuhi oleh nafsu kepentingan pribadi.
  2. Lupakan segala teori tentang ilmu hakikat & makrifat. karena semua pengetahuan itu memang penting untuk membuka wawasan fikiran dan hati kita terhadap Tuhan. Tetapi ingatlah, bahwa pengetahuan itu hanya sekedar untuk menguatkan dan mengokohkan perjalanan kita, namun tidak dapat menyampaikan kita untuk naik ke Maqom (Tingkatan Spiritual) yang lebih tinggi. Karena untuk naik maqom itu adalah murni Hidayah dan Kehendak Allah swt dan bukan karena kekuatan ilmu dan Mujahadah kita. Tugas kita hanya mengusahakan sebab-sebab yang memberikan akibat turunnya ridlo Allah atas diri kita dan selanjutnya kita bertawakal dan berserah diri kepada Allah swt semata.
  3. Sebagaimana spirit yang kita pelajari dari semut dalam kisah di atas, Yang menjadi inti persoalan bukanlah mengenai kapan sampainya kita. Yang terpenting adalah kita tahu tujuan hidup kita sehingga kita dapat memfokuskan diri di atas jalan yang lurus & benar.

Dalam manajemen Sukses di sebutkan, “Sukses Adalah Proses, dan Bukan Tujuan Akhir.”
Sukses adalah sebuah perjalanan yang tiada akhir, ini adalah terkait dengan pertumbuhan yang sehat dari Pohon Kehidupan kita. Yang mana kehidupan yang sehat dan benar akan senantiasa mengalami kemajuan yang terus menerus ke arah tujuan tertinggi kita, Visi Kita, dan kehidupan yang menjadi impian kita di segala bidang kehidupan.

Dengan meletakkan sukses di setiap titik perjalanan yang telah kita tempuh dan bukan di titik akhir perjalanan, akan menjadikan kita dapat menikmati dan mensyukuri setiap detik dari kehidupan kita…. Kita dapat menikmati moment hidup di saat ini, detik ini, dengan penuh kesadaran…. Sehingga diri kita akan senantiasa diselimuti oleh energi yang sangat kuat… Yang terpancar dari sikap positif kita terhadap kehidupan…

Dan bila energi sukses itu terpancar di setiap titik kehidupan kita, Bukankah itu artinya kita sudah hidup dan bergelimang dalam kesuksesan…..???

Allah berfirman :
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.


Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (ni’mat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. ( QS. Ibrahim 7-8 )

Jika kita bersyukur maka nikmat akan ditambah.
Rasa syukur akan menyingkap tirai dan menghapus kabut yang melingkupi begitu banyak hal yang mestinya kita syukuri. Dengan mulai bersyukur, kita akan menemukan hal lain yang langsung kita sadari juga patut disyukuri. Rasa syukur ini, kemudian juga akan menemukan hal lain yang juga patut disyukuri. Bola salju itu mulai bergulir.

Maka berjalanlah kita dari satu rasa syukur ke rasa syukur yang lain. Sesungguhnyalah, perjalanan dan petualangan dari satu syukur ke syukur yang lain, adalah perjalanan dari satu nikmat ke nikmat yang lain.

Segala kenikmatan itu telah diberikan kepada kita, tanpa kita menyadarinya selama ini. Kesadaran akan eksistensi kenikmatan yang kini terkuak itu, jelas-jelas adalah penambahan kenikmatan yang muncul dari kesadaran dan makin pekanya panca indera kita.

Kemudian, rasa syukur yang mulai menyemburat dari berbagai penjuru itu akan menciptakan sebuah fenomena unik, yaitu munculnya rasa dekat sekaligus rasa senang dan rasa menyukai terkait dengan berbagai fenomena yang disyukuri. Dengan merasa dekat, senang, dan suka ini, kita akan menjadi makin peka dan lebih mampu melihat, mendengar, dan merasakan detil dari berbagai kenikmatan.

Kemudian, petualangan rasa senang, dekat, dan menyukai ini, yang dijejali oleh berbagai penemuan akan kenikmatan yang makin jelas dan makin detil, mulai menciptakan state (kondisi Fikiran & perasaan) yang sangat kondusif untuk kepentingan Learning dan Creativity. Segala kenikmatan itu kemudian makin terbuka dan terkuak, mengambil bentuk kenikmatan pembelajaran dan penemuan, kenikmatan kreatifitas dan berkreasi.

Muaranya, adalah pintu-pintu yang terbuka menuju solusi-solusi. Sangat mungkin, kenikmatan solusi itu juga muncul dari pintu yang tak pernah disangka-sangka.

Maka, mampukah kita menghitung kenikmatan yang dianugerahkannya-Nya?

Jika suatu saat engkau merasa mentok, merasa kurang kreatif, merasa putus asa, merasa tak menemukan jawaban dan putus harapan dari segala persoalan di dalam hidupmu, Engkau tahu harus bagaimana bukan…???  BERSYUKURLAH….

Wallahu a’lam

Iklan

Spirit Hari Raya Qurban : Taqorrub

Assalamu ‘Alaikum Wa Rohmatullahi Wa Barokatuh..

Sahabat, Perintah berqurban bagi mereka yang diberi kelebihan rizki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin, mengandung pesan penting “bahwa Kita bisa dekat dengan Allah swt (Taqorrub ilallah) hanya ketika Kita bisa mendekati dan menolong saudara-saudara kita yang serba kekurangan”.

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Hajj :37 )

Idul Adha dan peristiwa kurban yang setiap tahun dirayakan umat muslim di dunia seharusnya tak hanya dimaknai sebatas proses ritual, tetapi juga diletakkan dalam konteks peneguhan nilai-nilai ketauhidan, sosial, kemanusiaan, dan spirit keadilan, sebagaimana pesan tekstual utama agama.

QURBAN”, yang secara etimologi berarti “pendekatan”, mengandung pesan tentang upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jalan mempersembahkan hidup kita untuk perjuangan membela nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kebajikan ibadah qurban bukan terletak pada persembahan daging hewan qurban, melainkan ketakwaan dan ketulusan (QS al-Hajj: 37).

Sejarah pelaksanaan ibadah qurban ini bermula dari pengujian kesetiaan Ibrahim terhadap Tuhannya. Pada usianya yang telah mencapai 85-an tahun, Ibrahim belum dikaruniai keturunan. Sebagai ijabah dari permohonannya, Tuhan kemudian mengaruniakan seorang keturunan yang kemudian diberi nama Ismail (Tafsir al-Azhar, juz 23: 218). Lima tahun kemudian, Ibrahim bermimpi menyembelih Ismail. Setelah dimusyawarahkan, kemudian keduanya sepakat bahwa mimpi tersebut merupakan perintah dari Tuhan yang harus dilaksanakan. Di akhir kisah, Ismail diganti dengan seekor domba besar yang kemudian disembelih Ibrahim (QS. 37: 100-107).

Sejatinya Ibadah qurban adalah perintah Tuhan untuk mengorbankan dan menyembelih sifat egois, mementingkan diri sendiri, rakus dan serakah yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah swt yang diwujudkan dalam bentuk solidaritas dan kerja-kerja sosial. Kecintaan pada Allah swt ditunjukkan Nabi Ibrahim dengan kesediaan menyembelih putra kesayangannya Ismail. Sesungguhnya Tuhan menyuruh Ibrahim menyembelih putranya, yang disampaikan melalui mimpi, di samping ujian keimanan juga sarat pesan-pesan sosial kemanusiaan. Kepekaan sosial, keberpihakan kepada kaum lemah dan dilemahkan (mustadh’afin) adalah nilai sekaligus moral sosial yang terkandung dalam ibadah qurban.

Ibadah qurban hakikatnya mengajarkan kita untuk menolak segala bentuk egoisme dan keserakahan. Karena kedua sifat itu hanya akan merampas hak dan kepentingan kaum dhuafa (lemah) dan mustadh’afin (dilemahkan) . Di sisi lain ibadah qurban dapat menjadi solusi terhadap berbagai bentuk ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang masih mewarnai di sekitar kita.

Perintah berqurban bagi mereka yang diberi kelebihan rizki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin, mengandung pesan penting “bahwa Kita bisa dekat dengan Allah swt hanya ketika Kita bisa mendekati dan menolong saudara-saudara kita yang serba kekurangan”. Semangat menyembelih hewan qurban yang dagingnya dibagikan kepada kaum fuqara dan masakin (fakir dan miskin), jelas dimaksudkan agar terjadi solidaritas dan tolong-menolong antar-anggota masyarakat. Yang kaya menolong si miskin dan sebaliknya yang miskin menolong si kaya. Sikap solidaritas ini diharapkan akan mengurangi kesenjangan sosial dan kondusif bagi pemberdayaan masyarakat.

Meski perayaan ‘idul qurban di rayakan setahun sekali, namun semangat berqurban tersebut seharusnya tidak hanya muncul ketika datang ‘Idul Adha. Ia harus terus -menerus hidup dalam diri kita. Tentu saja, di luar ‘Idul Adha, berqurban itu tidak harus berbentuk penyembelihan hewan. Ia dapat berupa apa saja yang bisa mendorong terwujudnya masyarakat yang berdaya, bermartabat yang selalu menjunjung nilai-nilai keadilan.

Kita sangat berharap dengan perayaan ‘Idul Adha akan muncul semangat berqurban di masyarakat, apalagi pemerintah. Semangat berqurban ini sangat penting artinya dalam membangun masa depan bangsa dan negara ke arah yang lebih maju, lebih baik, dan lebih sejahtera. Makna utama ibadah qurban yang berupa kesediaan untuk berkorban sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dapat dijadikan inspirasi bagaimana kita bisa saling berbagi dan memberdayakan sesama umat manusia, terutama mereka yang kurang beruntung.

TAQORRUB ILALLAH
Berkaitan dengan bab taqarrub ilallah, Imam Ibnu Hajar berkata: “termasuk dalam lafadz tersebut adalah seluruh kewajiban baik fardlu ain maupun fardlu kifayah. Sehingga bisa pula diambil pengertian darinya bahwa pelaksanaan perbuatan-perbuatan yang fardlu adalah aktifitas yang paling disukai Allah SWT, mulai dari pelaksanaan shalat, pembayaran zakat, berbakti kepada orang tua, menuntut ilmu, berjihad fi sabilillah, beramar makruf nahi munkar, bersikap jujur dan ikhlas lillahi taala dalam berperilaku, beristiqamah dalam beramal, memakan makanan yang halal lagi baik, menutup aurat perempuan – laki-laki, sampai pelaksanaan hukum-hukum hudud oleh negara atas tindakan kriminal (jarimah) seperti zina, liwath (homoseksual), pencurian, riddah (keluar dari Islam), pembunuhan dan kewajiban-kewajiban lainnya. Semua itu termasuk dalam aktifitas yang akan dapat mendekatkan diri seorang hamba yang mukmin kepada Rabnya.”

Aktifitas taqarrub ilallah dapat dikelompokkan menjadi:

Pertama: Pelaksanaan kewajiban.
Diantara pelaksanaan kewajiban yang utama adalah menuntut ilmu, sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Abdil Barr)

Nabi juga memberi dorongan agar setiap orang mukmin melaksanakan kewajiban ini melalui sabda Beliau SAW:

“Barang siapa pergi menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.” (HR. AbuDawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al Baihaqi )

Selain itu yang juga dianggap sebagai qurbah adalah infaq fi sabilillah, maksudnya untuk urusan jihad. Al Quran menegaskan bahwa infaq fi sabilillah ini sebagai bentuk qurbah yang besar yang diberikan oleh seorang hamba mukmin kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:

“Diantara orang-orang Arab Badui ada orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan menjadikan harta yang ia nafkahkan (dalam jihad fi sabilillah) sebagai pendekatan di sisi Allah dan jalan untuk mendapatkan doa Rasulullah. Ketahuilah itu memang merupakan pendekatan bagi mereka. Allah akan memasukkan ke dalam rahmat-Nya (surga). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS.At Taubah[9]: 99)

Begitu juga dengan dakwah, merupakan aktifitas wajib yang dapat mendekatkan seorang mukmin kepada Allah SWT. Bahkan, berdakwah disebut sebagai perkataan yang paling baik. Allah SWT berfirman:

”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan baik.” (An Nahl [16]: 125)

”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah.” (QS. Fushshilat [41]: 33)

Kedua: Pelaksanaan sunnah-sunnah nafilah atau mandubat.
Nabi SAW bersabda:
”Tak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah nafilah hingga Aku mencintainya. Kalau Aku sudah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya. Dan Aku akan menjadi penglihatannya yang ia melihat dengannya. Dan Aku akan menjadi tangannya yang ia berbuat dengannya. Dan Aku akan menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku niscaya akan Aku beri. Dan jika ia memohon perlindungan pada-Ku niscaya akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Amal-amal nafilah adalah setiap aktifitas yang merupakan tambahan dari amal-amal yang wajib, baik berupa shadaqah, dzikir, shalat sunnah, puasa sunnah, iktikaf, qiraatul quran dan lain-lain. Melalui pelaksanaan amal-amal nafilah tersebut, seorang mukmin akan terangkat derajatnya di sisi Allah SWT. Karena itu, dorongan untuk melaksanakannya begitu besar, sebagaimana sabda Nabi SAW:

”Jika seorang hamba bertaqarrub kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari.” (HR. Bukhari)

Ketiga: Pelaksanaan ketaatan-ketaatan lainnya.
Bentuk-bentuk ketaatan lain selain melaksanakan yang fardlu dan yang sunnah adalah meninggalkan apa saja yang diharamkan Allah SWT. Diantaranya adalah meninggalkan riba, judi, zina, khamer, dan sebagainya. Allah berfirman:

”Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al Baqarah [2]: 278)

”Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah [5]: 90)

Orang-orang yang bertaqarrub ilallah, mendekatkan diri kepada Allah, mereka akan menjadi kekasih-Nya. Jika seorang hamba telah menjadi kekasih Allah, maka dia berhak untuk mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari-Nya, doa dan permintaannya akan dikabulkan, serta akan diberi kecukupan rizki oleh Allah SWT. Para kekasih Allah inilah yang akan menjadi penghantar kebaikan dan pencegah dari keburukan. Bahkan kalau sebuah negeri penduduknya menjadi kekasih Allah, dengan keimanan dan ketakwaannya, maka Allah akan membukakan barakah-Nya dari langit dan bumi. Sebagaimana firman-Nya:

”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami itu maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya,” (QS. Al A’raf [7]: 96)

Sahabat, salah satu cara untuk menghindar dari berbagai keburukan itu adalah dengan menjadikan para penduduk negeri ini sebagai orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah, sebagai kekasih Allah, yang senantiasa melakukan aktifitas taqarrub, pendekatan diri kepada Allah melalui pelaksanaan berbagai kewajiban, amal-amal nafilah serta bentuk-bentuk ketaatan lain seperti meninggalkan larangan-larangan Allah. Dengan kata lain, kita harus mencetak pribadi-pribadi yang memiliki karakter sebagai orang yang beriman sekaligus beramal shalih. Sehingga rahmat, barakah dan pertolongan akan senantiasa diberikan Allah kepada kita. Amin, Ya Rabbal Alamin.

Wallahu’alam bi al-shawab.

Selamat Jalan Abah Anom

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…. 

Kami Keluarga Besar NAQS DNA, Menghaturkan Turut Bela sungkawa atas wafatnya Abah Anom (Syeikh KH Ahmad Shohibul wafa Tajul Arifin) Ulama Besar Guru Mursyid TQN Suryalaya. Beliau telah berlindung di haribaan Ilahi Robbi pada hari Senin 5 September 2011 pukul 11.50 WIB di RS Tasik Medical Citratama.

Ya Allah, ampunilah dia, kasihilah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempatnya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah dia dengan air, salju dan embun. Sucikanlah dia dari segala kesalahan sebagaimana pakaian disucikan dari najis. Gantikan untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, gantikan untuknya keluarga yang lebih baik dari keluarganya, gantikan untuknya isteri (pasangan) yang lebih baik dari pasangannya. Masukkanlah ke dalam surga dan lindungilah dia dari azab kubur dan azab neraka.

Ya Allah, ampunilah beliau, naikkanlah darjatnya diantara orang-orang yang mendapat hidayah, dan lindungilah keluarga dan keturunannya yang masih hidup. Ampunilah dia dan kami, wahai Tuhan sekelian alam, luaskanlah kubur baginya dan berikanlah cahaya di dalamnya.

Khusyusyon Ila hadrotus syeikh KH Ahmad Shohibul wafa Tajul Arifin, Al-Fatehah…

Sahabat, Sungguh para ‘ulama merupakan pelita bagi umat. Keberadaan mereka sangat penting dalam membimbing dan mengarahkan umat ini ke jalan hidayah. Mereka adalah orang-orang terpercaya, pewaris para Nabi, yang mengemban tugas besar menjaga agama ini dari berbagai penyelewengan dan penyimpangan.

Sungguh kepergian mereka merupakan musibah besar bagi umat ini. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ؛ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh. Kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [Al-Bukhari (100, 7307); Muslim (2673)]

Oleh karena itu, Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengingatkan dan menasehatkan :

عليكم بالعلم قبل أن يرفع، ورفعه هلاك العلماء، فوالذي نفسي بيده ليودن رجال قتلوا في سبيل الله شهداء أن يبعثهم الله علماء لما يرون من كرامتهم، وإن أحدا لم يولد عالما، وإنما العلم بالتعلم
“Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sebelum ilmu tersebut dihilangkan. Hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para ‘ulama. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syuhada, mereka sangat menginginkan agar Allah membangkitkan mereka dengan kedudukan seperti kedudukannya para ‘ulama, karena mereka melihat begitu besarnya kemuliaan para ‘ulama. Sungguh tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan sudah berilmu. Ilmu itu tidak lain didapat dengan cara belajar.[lihat Al-’Imu Ibnu Qayyim, no. 94].

Begitulah bahaya dihilangkanya ilmu dari komunitas dunia dengan cara menghilangkan para ahlinya yaitu para ulama. Ilmu yang bagaimana yang akan dihilangkan tentu ini menjadi pertanyaan besar bagi kita. Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu yang ada dalam al-Quran dan as-Sunnah, keduanya adalah warisan dari para Nabi dan Rasul. Ulama yang mengajarkan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para pewaris Nabi dan Rasul. Sedangkan kehidupan kita adalah kehidupan yang membutuhnakn bimbingan dan petunjuk dari para utusan Allah.

Wafatnya para Nabi dan Rasul menjadikan peran ulama sebagai pewaris-Nya menjadi sangat penting di tengah bermunculanya ilmu-ilmu yang hanya berdimensi dunia. Ilmu dunia justru sebaliknya, ia akan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan dan bahkan nafsu manusia.

Boleh jadi ilmu tersebut (dunia) akan menghancurkan dirinya dan inilah saat-saat dimana manusia berjalan ke arah kebodohan. Imam adz-Dzahabi ulama ahli tarikh Islam memaparkan, “Dan mereka tidak diberikan ilmu kecuali hanya sedikit saja. Adapun sekarang, maka tidak tersisa dari ilmu yang sedikit itu kecuali sedikit saja pada sedikit manusia, sungguh sedikit dari mereka yang mengamalkan ilmu yang sedikit tersebut, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita”. (Tadzkiratu al-Huffaazh III/1031).

Dan ilmu yang akan dicabut paling akhir adalah ilmu tentang Allah , Rasulullah  bersabda, “Tidak akan datang hari kiamat hingga di bumi tidak lagi disebut; Allah, Allah” (Muslim kitab al-Iiman, bab Dzahabu al-Iman akhira al-zaman II/178 syarah an-Nawawi).

Sungguh para ulama merupakan pelita bagi umat. Keberadaan mereka sangat penting dalam membimbing dan mengarahkan umat ini ke jalan hidayah, dengan berpedoman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para generasi as-salafush shalih. Mereka adalah orang-orang terpercaya, pewaris para Nabi, yang mengemban tugas besar menjaga agama ini dari berbagai penyelewengan dan penyimpangan.

Wallahu a’lam

Cuplikan Berita 1 :

Sesepuh Ponpes Suryalaya Abah Anom Wafat
Abah Anom merupakan putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad.

Senin, 5 September 2011, 13:04 WIB

VIVAnews – Sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, KH A Shohibulwafa Tajul Arifin atau yang dikenal dengan nama Abah Anom, meninggal dunia. Abah Anom meninggal sebelum dzuhur, tepatnya pukul 11.50 WIB di RS Tasik Medical Citratama.

“Iya barusan meninggal sebelum dzuhur. Meninggal dalam usia 96 tahun. Saya belum tahu pasti penyebabnya apa,” kata Aay Syarif, staf Yayasan Serba Bakti di Pondok Pesantren Suryalaya, saat berbincang dengan VIVAnews.com, Senin 5 September 2011.

Menurut Aay, berita meninggalnya sesepuh kelahiran Suryalaya pada 1 Januari 1915 itu belum menyebar. Menurut dia, belum ada pejabat tinggi yang mampir dan melayat.

“Baru pejabat-pejabat dari dua kecamatan saja,” ujar Aay. Aay sendiri belum mengetahui rencana kapan dan dimana Abah Anom akan dimakamkan. “Sekarang baru saja dimandikan.”

Abah Anom merupakan putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928.

Kemudian ia masuk Sekolah Menengah semacam Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus.

Abah Anom belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah kurang lebih dua tahun di Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi. (umi)VIVAnews

Cuplikan Berita 2 :

Abah Anom dimakamkan di Suryalaya
Senin, 5 September 2011 16:58 WIB |

Tasikmalaya (ANTARA News) – Jenazah Abah Anom pendiri pondok pesantren Suryalaya, Kecamatan Pageurageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, akan dimakamkan di kompleks pemakaman Suryalaya dengan waktu dan hari belum dapat dipastikan.

“Almarhum dimakamkan di Suryalaya, tapi tidak tahu hari ini atau besok” kata Kepala Bidang Humas Suryalaya H R Bobon Setiadji Bustom saat dihubungi melalui telepon selulernya, Senin.

Rencana proses pemakaman jenazah Abah Anom, kata Bobon, terlebih dahulu dimusyawarahkan bersama keluarga, karena masih menunggu kerabat dan saudara yang berada di luar daerah.

“Kita kumpul dulu bersama keluarga, kapan dimakamkannya belum tahu,” jelasnya.

Abah Anom memiliki nama lengkap KH Shohibulwafa Tajul Arifin Ra meninggal dunia pada usia 96 tahun, Senin sekitar pukul 11.30 WIB karena penyakit jantung.

Almarhum Abah Anom sempat menerima tamu di kediamannya di Suryalaya, dan tiba-tiba merasakan sakit. Abah Anom memang memiliki riwayat penyakit jantung.

“Abah Anom tidak sedang sakit, tidak sempat dirawat, tapi karena sakit tua aja ada jantung,” jelasnya.

Abah Anom kemudian dibawa ke Rumah Sakit TMC Kota Tasikmalaya, namun setibanya di rumah sakit sudah dalam keadaan meninggal dunia. Jenazah kemudian dibawa kembali ke Suryalaya.
(FPM)

Sukses Dengan Tawakal

“Tetaplah bergerak, sebab di balik frustasi ada prestasi, dan di balik masalah ada solusi. Biarkan kakimu melangkah menuju kesuksesan hakiki”.

Allah berfirman :
“ Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal”. Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 160.

Bertawakal yang baik tidak hanya diekspresikan setelah kita berusaha, tetapi meliputi keseluruhannya baik ketika AKAN, SEDANG, maupun SETELAH berusaha.

Allah berfirman :
“ . . . . . apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” : Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 159.

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. . . .” : Q.S. Ath-Talaq [65] ayat 3.

Firman Allah : ” Wa tawakkal ‘Alallahi wakafaa billahi wakilla ” (Dan bertawakallah kepada Allah dan cukup Allah sebagai pemelihara segala urusan) A.Q.S. 3:3.

Sabda Rasulullah : ” Ikatlah untamu dan bertawakallah ” ( R. Ibnu Hibban ).

Jadi, yang namanya tawakal itu sudah dimulai sejak kita membulatkan tekad, yaitu sejak kita menetapkan impian-impian kita. Dan senantiasa bertawakal ketika kita sedang berusaha mengejar impian-impian itu, maupun setelah berusaha.

TAWAKAL ADALAH PERINTAH ALLAH
Ber-tawakal kepada Allah ( tawakkal ‘Alallah ), merupakan perintah yang banyak terdapat dalam Al-Qur’an, di samping perintah-perintah lainnya seperti bertaqwa, bersabar, beristiqomah, ikhlas dan beribadah, ridho dalam menerima ketetapan Tuhan, berlaku adil, berjihad pada jalan-Nya, berkurban dan lain-lain.

Di antara perintah-perintah yang terpokok dan terutama sekali adalah perintah untuk ber-IBADAH kepada-Nya. Oleh karena itulah maka TUGAS POKOK manusia di dunia ini tidak lain beribadah kepada-Nya sebagai mana ditegaskan oleh-Nya : ” Wamaa kholaktul jinna wal insa illa liya’buduuni ” ( Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan semata-mata supaya mereka menyembah-Ku/beribadah kepada-Ku ) A.Q.S. 51:56.

ARTI DAN MAKNA TAWAKAL
Tawakal artinya BERSERAH DIRI DAN BERPEGANG TEGUH KEPADA ALLAH. Di sini terdapat dua unsur pokok yaitu, pertama berserah diri dan kedua berpegang teguh. Kedua-duanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tidak dapat dikatakan tawakal kalau belum berserah diri secara ikhlas. Tidak dapat pula dikatakan tawakal kalau belum berpegang kepada-Nya, belum kokoh atau belum bulat pada tingkat haqqul yakin kepada kekuasaan-Nya yang tidak terbatas, keadilan-Nya, kebijaksanaan-Nya, kasih sayang-Nya untuk mengatur segala sesuatu dengan sesempurna-sempurnanya.

Jalan meraih sukses dengan pasti adalah dengan bertakwa dan bertawakkal pada Allah subhanahu wa ta’ala. Ayat yang bisa menjadi renungan bagi kita bersama adalah firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Hakekat Tawakkal
Tawakkal berasal dari kata “wukul”, artinya menyerahkan/ mempercayakan. Seperti dalam kalimat disebutkan “وَكَّلْت أَمْرِي إِلَى فُلَان”, aku menyerahkan urusanku pada fulan. Sedangkan yang dimaksud dengan tawakkal adalah berkaitan dengan keyakinan.[1]

Berdasarkan keterangan dari Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah, hakekat tawakkal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘Azza wa Jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata’.[2]

Keutamaan Tawakkal
Pertama: Tawakkal sebab diperolehnya rizki
Ibnu Rajab mengatakan, ”Tawakkal adalah seutama-utama sebab untuk memperoleh rizki”.[2] Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).

Kedua: Diberi kecukupan oleh Allah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca surat Ath Tholaq ayat 3 kepada Abu Dzar Al Ghifariy. Lalu beliau berkata padanya,

لَوْ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَخَذُوْا بِهَا لَكَفَتْهُمْ

“Seandainya semua manusia mengambil nasehat ini, itu sudah akan mencukupi mereka.”[3] Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakkal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka.[4]

Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah ketika menjelaskan surat Ath Tholaq ayat 3 mengatakan, “Barangsiapa yang bertakwa pada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menyandarkan hatinya pada-Nya, maka Allah akan memberi kecukupan bagi-Nya.”[5]

Al Qurtubhi rahimahullah menjelaskan pula tentang surat Ath Tholaq ayat 3 dengan mengatakan, “Barangsiapa yang menyandarkan dirinya pada Allah, maka Allah akan beri kecukupan pada urusannya.”[6]

Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan, “Barangsiapa menyerahkan urusannya pada Allah, maka Allah akan berikan kecukupan pada urusannya.”[7]

Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan pula, “Barangsiapa yang menyandarkan diri pada Allah dalam urusan dunia maupun agama untuk meraih manfaat dan terlepas dari kemudhorotan, dan ia pun menyerahkan urusannya pada Allah, maka Allah yang akan mencukupi urusannya. Jika urusan tersebut diserahkan pada Allah Yang Maha Mencukupi (Al Ghoni), Yang Maha Kuat (Al Qowi), Yang Maha Perkasa (AL ‘Aziz) dan Maha Penyayang (Ar Rohim), maka hasilnya pun akan baik dari cara-cara lain. Namun kadang hasil tidak datang saat itu juga, namun diakhirkan sesuai dengan waktu yang pas.”[8] Masya Allah suatu keutamaan yang sangat luar biasa sekali dari orang yang bertawakkal.

Ketiga: Masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab
Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ ، هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak beranggapan sial dan mereka selalu bertawakkal pada Rabbnya.”[9]

Merealisasikan Tawakkal
“Dalam merealisasikan tawakkal tidaklah menafikan melakukan usaha dengan melakukan berbagai sebab yang Allah Ta’ala tentukan. Mengambil sunnah ini sudah menjadi sunnatullah (ketetapan Allah yang mesti dijalankan). Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan usaha disertai dengan bertawakkal pada-Nya,” demikian penuturan Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah selanjutnya[10].

Jadi intinya, dari penjelasan beliau ini dalam merealisasikan tawakkal haruslah terpenuhi dua unsur:

  1. Bersandarnya hati pada Allah.
  2. Melakukan usaha.

Inilah cara merealisasikan tawakkal dengan benar. Tidak sebagaimana anggapan sebagian orang yang menyangka bahwa tawakkal hanyalah menyandarkan hati pada Allah, tanpa melakukan usaha atau melakukan usaha namun tidak maksimal. Tawakkal tidaklah demikian.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Usaha dengan anggota badan dalam melakukan sebab adalah suatu bentuk ketaatan pada Allah. Sedangkan bersandarnya hati pada Allah adalah termasuk keimanan.”[11]

Tawakkal Haruslah dengan Usaha
Berikut di antara dalil yang menunjukkan bahwa tawakkal tidak mesti meninggalkan usaha, namun haruslah dengan melakukan usaha yang maksimal.

Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً
“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”[12]

Al Munawi mengatakan, ”Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rizki, yang memberi rizki adalah Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakkal tidak harus meninggalkan usaha. Tawakkal haruslah dengan melakukan berbagai usaha yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rizki dengan usaha. Sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rizki.”[13]

Ibnu ‘Allan mengatakan bahwa As Suyuthi mengatakan, “Al Baihaqi mengatakan dalam Syu’abul Iman:

Hadits ini bukanlah dalil untuk duduk-duduk santai, enggan melakukan usaha untuk memperoleh rizki. Bahkan hadits ini merupakan dalil yang memerintahkan untuk mencari rizki karena burung tersebut pergi di pagi hari untuk mencari rizki. Jadi, yang dimaksudkan dengan hadits ini –wallahu a’lam-: Seandainya mereka bertawakkal pada Allah Ta’ala dengan pergi dan melakukan segala aktivitas dalam mengais rizki, kemudian melihat bahwa setiap kebaikan berada di tangan-Nya dan dari sisi-Nya, maka mereka akan memperoleh rizki tersebut sebagaimana burung yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar, kemudian kembali dalam keadaan kenyang. Namun ingatlah bahwa mereka tidak hanya bersandar pada kekuatan, tubuh, dan usaha mereka saja, atau bahkan mendustakan yang telah ditakdirkan baginya. Karena ini semua adanya yang menyelisihi tawakkal.”[14]

Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Orang yang duduk-duduk tersebut pernah berkata, ”Aku tidak mengerjakan apa-apa. Rizkiku pasti akan datang sendiri.” Imam Ahmad lantas mengatakan, ”Orang ini sungguh bodoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda,

إِنَّ اللَّه جَعَلَ رِزْقِي تَحْت ظِلّ رُمْحِي
”Allah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku.”[15]

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang”. Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. Para sahabat pun berdagang. Mereka pun mengolah kurma. Yang patut dijadikan qudwah (teladan) adalah mereka (yaitu para sahabat).[16]

Allah subhanahu wa ta’ala dalam beberapa ayat juga menyuruh kita agar tidak meninggalkan usaha sebagaimana firman-Nya,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ


”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.”
(QS. Al Anfaal: 60).

Juga firman-Nya,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah.” (QS. Al Jumu’ah: 10). Dalam ayat-ayat ini terlihat jelas bahwa kita dituntut untuk melakukan usaha.

Meraih Sukses dengan Menempuh Sebab yang Benar
Sahl At Tusturi rahimahullah mengatakan, ”Barangsiapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah mencela sunnatullah (ketentuan yang Allah tetapkan). Barangsiapa mencela tawakkal (tidak mau bersandar pada Allah) maka dia telah meninggalkan keimanan.”[17]

Dari keterangan Sahl At Tusturi ini menunjukkan bahwa jangan sampai kita meninggalkan sebab. Namun dengan catatan kita tetap bersandar pada Allah ketika mengambil sebab dan tidak boleh bergantung pada sebab semata.

Oleh karena itu, perlu diperhatikan bahwa dalam mengambil sebab ada tiga kriteria yang mesti dipenuhi. Satu kriteria berkaitan dengan sebab yang diambil. Dua kriteria lainnya berkaitan dengan orang yang mengambil sebab.

Kriteria pertama: Berkaitan dengan sebab yang diambil. Yaitu sebab yang diambil haruslah terbukti secara syar’i atau qodari.

Secara syar’i, maksudnya adalah benar-benar ditunjukkan dengan dalil Al Qur’an atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contoh: Dengan minum air zam-zam, seseorang bisa sembuh dari penyakit. Sebab ini adalah sebab yang terbukti secara syar’i artinya ada dalil yang menunjukkannya yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut air zam-zam,

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ
“Sesungguhnya air zam-zam adalah air yang diberkahi, air tersebut adalah makanan yang mengenyangkan.”[18]

Ditambahkan dalam riwayat Abu Daud (Ath Thoyalisiy) dengan sanad jayyid (bagus) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

وَشِفَاءُ سُقْمٍ
“Air zam-zam adalah obat dari rasa sakit (obat penyakit).”[19]

Begitu pula disebutkan dalam hadits lainnya, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ
“Khasiat air zam-zam sesuai keinginan orang yang meminumnya.”[20]

Secara qodari, maksudnya adalah secara sunnatullah, pengalaman dan penelitian ilmiah itu terbukti sebagai sebab memperoleh hasil. Dan sebab qodari di sini ada yang merupakan cara halal dan ada pula yang haram.

Contoh: Dengan belajar giat seseorang akan berhasil dalam menempuh UAS (Ujian Akhir Semester). Ini adalah sebab qodari dan dihalalkan.

Namun ada pula sebab qodari dan ditempuh dengan cara yang haram. Misalnya menjalani ujian sambil membawa kepekan (contekan). Ini adalah suatu bentuk penipuan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى
“Barangsiapa menipu, maka ia tidak termasuk golonganku.”[21]

Misalnya lagi, memperoleh harta dengan cara korupsi. Ini adalah cara yang haram. Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, Buraidah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ

“Siapa saja yang kami pekerjakan lalu telah kami beri gaji maka semua harta yang dia dapatkan di luar gaji (dari pekerjaan tersebut, pent) adalah harta yang berstatus ghulul (baca:korupsi)”.[22]

Kriteria kedua: Berkaitan dengan orang yang mengambil sebab, yaitu hendaklah ia menyandarkan hatinya pada Allah dan bukan pada sebab. Hatinya seharusnya merasa tenang dengan menyandarkan hatinya kepada Allah, dan bukan pada sebab. Di antara tanda seseorang menyandarkan diri pada sebab adalah di akhir-akhir ketika tidak berhasil, maka ia pun menyesal.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

“Barangsiapa menggantungkan diri pada sesuatu, niscaya Allah akan menjadikan dia selalu bergantung pada barang tersebut.”[23] Artinya, jika ia bergantung pada selain Allah, maka Allah pun akan berlepas diri darinya dan membuat hatinya tergantung pada selain Allah.

Kriteria ketiga: Berkaitan dengan orang yang mengambil sebab, yaitu meyakini takdir Allah. Seberapa pun sebab atau usaha yang ia lakukan maka semua hasilnya tergantung pada takdir Allah (ketentuan Allah).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”[24]

Beriman kepada takdir, inilah landasan kebaikan dan akan membuat seseorang semakin ridho dengan setiap cobaan. Ibnul Qayyim mengatakan, “Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.” [25] [26]

Tawakkal yang Keliru
Dari penjelasan di atas kita dapat merinci beberapa bentuk tawakkal yang keliru:

  1. Pertama: Menyandarkan hati pada Allah, namun tidak melakukan usaha dan mencari sebab. Perilaku semacam ini berarti mencela sunnatullah sebagaimana dikatakan oleh Sahl At Tusturi di atas.
  2. Kedua: Melakukan usaha, namun enggan menyandarkan diri pada Allah dan menyandarkan diri pada sebab, maka ini termasuk syirik kecil. Seperti memakai jimat, agar dilancarkan dalam urusan atau bisnis.
  3. Ketiga: Sebab yang dilakukan adalah sebab yang haram, maka ini termasuk keharaman. Misalnya, meraih dengan jalan korupsi.
  4. Keempat: Meyakini bahwa sebab tersebut memiliki kekuatan sendiri dalam menentukan hasil, maka ini adalah syirik akbar (syirik besar). Keyakinan semacam ini berarti telah menyatakan adanya pencipta selain Allah. Misalnya, memakai pensil ajaib yang diyakini bisa menentukan jawaban yang benar ketika mengerjakan ujian. Jika diyakini bahwa pensil tersebut yang menentukan hasil, maka ini termasuk syirik akbar.

Ketika Mendapat Kegagalan
Ketika itu sudah berusaha dan menyandarkan diri pada Allah, maka ternyata hasil yang diperoleh tidak sesuai yang diinginkan maka janganlah terlalu menyesal dan janganlah berkata “seandainya demikian dan demikian” dalam rangka menentang takdir.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”[27]

Demikian sedikit pembahasan kami tentangt tawakkal. Semoga bermanfaat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Footnote :
[1] Lihat Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/305, Darul Ma’rifah, 1379.
[2] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 516, Darul Muayyid, cetakan pertama, tahun 1424 H.
[3] HR. Ahmad, Ibnu Majah, An Nasa-i dalam Al Kubro. Dalam sanad hadits ini terdapat inqitho’ (terputus) sehingga hadits ini adalah hadits yang lemah (dho’if). Syaikh Al Albani dalam Dho’if Al Jami’ no. 6372 mengatakan bahwa hadits tersebut dho’if. Namun makna hadits ini shahih (benar) karena memiliki asal dari ayat al Qur’an dan hadits shahih.
[4] Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 516.
[5] Tafsir Ath Thobari (Jami’ Al Bayan fii Ta’wili Ayil Qur’an), Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, 23/46, Dar Hijr.
[6] Tafsir Al Qurtubhi (Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an), Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Al Qurtubhi, 18/161, Mawqi’ Ya’sub.
[7] Fathul Qodir, Asy Syaukani, 7/241, Mawqi’ At Tafasir.
[8]
[9] HR. Bukhari no. 6472 dan Muslim no. 218.
[10] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 517.
[11] Idem.
[12] HR. Ahmad (1/30), Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ibnu Hibban no. 402. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310 mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Shohih Al Musnad no. 994 mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[13] Lihat Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8, Asy Syamilah
[14] Dalilul Falihin, Ibnu ‘Alan Asy Syafi’i, 1/335, Asy Syamilah
[15] HR. Ahmad, dari Ibnu ‘Umar. Sanad hadits ini shahih sebagaimana disebutkan Al ‘Iroqi dalam Takhrij Ahaditsil Ihya’, no. 1581. Dalam Shahih Al Jaami’ no. 2831, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[16] Fathul Bari, Ibnu Hajar ‘Al Asqolani, 11/305, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379.
[17] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 517.
[18] HR. Muslim dalam Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Keutamaan Abu Dzar, no. 4520.
[19] HR. Abu Daud Ath Thoyalisiy dalam musnadnya no. 459. Dikeluarkan pula oleh Al Haitsamiy dalam Majma’ Az Zawa-id, 3/286 dan Al Hindiy dalam Kanzul ‘Ummal, 12/34769, 3480.
[20] HR. Ibnu Majah, 2/1018. Lihat Al Maqosid Al Hasanah, As Sakhowiy hal. 359. [Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1165]
[21] HR. Muslim no. 102, dari Abu Hurairah.
[22] HR Abu Daud no 2943, Dalam Kaifa hal 11, Syeikh Abdul Muhsin al Abbad mengatakan, ‘Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih dan dinilai shahih oleh al Albani’.
[23] HR. Tirmidzi no. 2072. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[24] HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash.
[25] Al Fawaid, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 94, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1425 H.
[26] Penjelasan ini adalah faedah dari pemaparan guru kami “Ustadz Abu Isa hafizhohullah” dalam buku beliau Mutiara Faedah Kitab Tauhid, hal. 64-66, Pustaka Muslim, cetakan pertama, 1428 H.
[27] HR. Muslim no. 2664

Referensi :
Gus Rumahsyo
Website Tawakal

Hikmah Puasa

Takwa merupakan kombinasi kebijakan dan pengetahuan, serta gabungan antara perkataan dan perbuatan.

Takwa adalah buah yang diharapkan dan dihasilkan oleh puasa. Buah tersebut akan menjadi bekal orang beriman dan perisai baginya agar tidak terjatuh dalam jurang kemaksiatan. Seorang ulama sufi pernah berkata tentang pengaruh takwa bagi kehidupan seorang muslim; “Dengan bertakwa, para kekasih Allah akan terlindungi dari perbuatan yang tercela, dalam hatinya diliputi rasa takut kepada Allah sehingga senantiasa terjaga dari perbuatan dosa, pada malam hari mengisi waktu dengan kegiatan beribadah, lebih suka menahan kesusahan daripada mencari hiburan, rela merasakan lapar dan haus, merasa dekat dengan ajal sehingga mendorongnya untuk memperbanyak amal kebajikan”.

Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terhindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri dan sebagainya.

Meskipun makanan dan minuman itu halal, kita menahan diri untuk tidak makan dan minum dari semenjak fajar hingga terbenamnya matahari, karena mematuhi perintah Allah. Begitu juga isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya ketika masa berpuasa demi mematuhi perintah Allah SWT.

Ayat puasa itu dimulai dengan firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman” dan diakhiri dengan: “Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertakwa”. Jadi jelaslah bagi kita bahwa puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketakwaan. Untuk menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah kita diberi kesempatan selama bulan Ramadhan: melatih diri dari menahan hawa nafsu, makan dan minum, mencampuri isteri, menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia seperti berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan umat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya.

Rasullah SAW bersabda:“Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong kosong dan kata-kata kotor.” (HR. Ibnu Khuzaimah).

Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, karena puasa itu bukan saja dapat membersihkan ruhani manusia, tapi juga akan membersihkan jasmani manusia itu sendiri, puasa sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita senantiasa digunakan, boleh dikatakan alat-alat itu tidak pernah istirahat selama 24 jam. Alhamdulillah dengan berpuasa kita dapat mengistirahatkan alat pencernaan lebih kurang selama 12 jam setiap harinya. Oleh karena itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita dapat bekerja dengan lebih teratur dan efektif.

Perlu diingat, ibadah puasa Ramadhan akan membawa faedah bagi kesehatan ruhani dan jasmani kita apabila dilaksanakan sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan, jika tidak, maka hasilnya tidak seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia belaka.

Allah SWT berfirman “Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf:31)

Nabi SAW juga bersabda “Kita ini adalah kaum yang makan apabila merasakan lapar, dan makan dengan secukupnya (tidak kenyang).”

Tubuh kita memerlukan makanan yang bergizi sesuai keperluan tubuh kita. Jika kita makan berlebih-lebihan sudah tentu ia akan membawa mudarat kepada kesehatan kita. Bisa menyebabkan badan menjadi gemuk, efek lainnya adalah mengakibatkan sakit jantung, darah tinggi, penyakit kencing manis, dan berbagai penyakit lainnya. Dengan demikian maka puasa bisa dijadikan sebagai media diet yang paling ampuh dan praktis.

Puasa tidak diwajibkan sepanjang tahun, juga tidak dalam waktu yang sebentar melainkan pada hari-hari yang terbatas, yaitu hari-hari bulan Ramadan, dari mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Karena, jika puasa diwajibkan secara terus menerus sepanjang tahun atau sehari semalam tanpa henti, tentu akan memberatkan. Begitu juga jika hanya untuk waktu separuh hari, tentu tak akan memiliki pengaruh apa-apa, akan tetapi puasa diwajibkan untuk waktu sepanjang hari mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam, dan dalam hari-hari yang telah ditentukan.

Selain keringanan dalam masalah waktu, Allah juga membuktikan kasih sayang-Nya kepada hamba dengan memberikan keringanan-keringanan yang lain, di antaranya kepada: orang sakit (yang membahayakan dirinya jika berpuasa) dan orang yang menempuh perjalanan jauh (yang memberatkan dirinya jika melaksanakan puasa) diperbolehkan untuk berbuka dan menggantinya pada hari yang lain, sesuai dengan jumlah puasa yang ia tinggalkan.

Dengan kalam-Nya Allah telah menegaskan kepada manusia, keutamaan puasa di bulan suci Ramadhan sebagai bulan keberkahan, dimana Allah memberikan nikmat sekaligus mukjizat yang begitu agung kepada hamba-Nya berupa turunnya Al-Qur’an.

Ayat-ayat Al-Qur’an juga menjelaskan betapa Tuhan begitu dekat dengan hambanya, Ia selalu menjawab do’a mereka di mana dan kapan pun mereka berada, tidak ada pemisah antara keduanya. Maka sudah selayaknya bagi seorang muslim, untuk selalu berdo’a, memohon ampunan kepada Tuhannya, beribadah dengan tulus-ikhlas, beriman, dan tidak menyekutukan-Nya, dengan harapan Allah akan mengabulkan semua do’a dan permintaannya.

Diriwayatkan bahwa sekumpulan orang pedalaman bertanya kepada Nabi SAW : “Wahai Muhammad! Apakah Tuhan kita dekat, sehingga kami bermunajat (mengadu dan berdoa dalam kelirihan) kepada-Nya, ataukah Ia jauh sehingga kami menyeru (mengadu dan berdoa dengan suara lantang) kepada-Nya?” Maka turunlah ayat: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. (QS. Al-Baqarah/2: 186)

Allah telah memberikan beberapa pengecualian bagi umat Muhammad dalam menjalankan ibadah puasa, seperti dibolehkannya seorang suami untuk memberikan nafkah batin kepada isterinya pada malam bulan Ramadhan, kecuali pada waktu I’tikaf di masjid, karena waktu tersebut adalah waktu di mana manusia seharusnya mendekatkan diri kepada Allah tanpa disibukkan dengan perkara yang lain.

Diantara hikmah puasa yang dapat dicatat juga adalah sebagai wijaa , perisai atau pelindung:
Rasulullah SAW menyuruh orang yang kuat “syahwatnya” dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa, menjadikannya sebagai wijaa (memutuskan syahwat jiwa) bagi syahwat ini, karena puasa eksistensi dan subtansialnya adalah menahan dan menenangkan dorongan kuatnya anggota badan hingga bisa terkontrol serta seluruh kekuatan (dorongan dari dalam) sampai bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota badan yang nyata/dhahir dan kekuatan bathin. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba’ah (mampu menikah dengan berbagai persiapannya) hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa’ (pemutus syahwat) baginya”. (HR. Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud).

Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi (seperti menahan syahwat dsb), dan neraka diliputi dengan syahwat. Jika telah jelas demikian, sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang berpuasa dari neraka. Oleh karena itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa adalah benteng dari neraka, dan perisai yang menghalangi seseorang darinya.

Bersabda Rasulullah SAW “Tidaklah seorang hamba yang berpuasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim”. (HR. Bukhari 6/35, Muslim 1153 dari Abu Sa’id Al-Khudry. Ada redaksi lain yaitu telah bersabda Rasulullah SAW : “tujuh puluh musim”, yakni : perjalanan tujuh puluh tahun, demikian dijelaskan dalam kitab Fathul Bari 6/48).

Rasulullah SAW bersabda “Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka” (HR. Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dari Utsman bin Abil ‘Ash. Ini adalah hadits shahih).

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda “Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi”.

Sebagian ulama telah memahami bahwa hadits-hadits tersebut merupakan penjelasan tentang keutamaan puasa ketika jihad dan berperang di jalan Allah. Namun dhahir/redaksi hadits ini mencakup semua puasa jika dilakukan dengan ikhlas karena mengharapkan ridha Allah SWT, ini sesuai dengan apa yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam termasuk puasa di jalan Allah (seperti yang disebutkan dalam hadits ini).

Hikmah Puasa yang lain :

  1. Menurunkan bobot tubuh.
    Berkurangnya masukkan energi pada orang berpuasa, membuat tubuh harus mencari sumber energi yang tersimpan di dalamnya, yaitu simpanan lemak dalam tubuh untuk dijadikan sumber energi. Tak heran bila setelah 29-30 hari berpuasa, tubuh akan berubah bentuknya dan berkurang bobotnya hingga sekitar 4 kg.
  2. Mencegah terjadinya stroke.
    Puasa juga dapat mengurangi risiko stroke karena dapat memperbaiki kolesterol darah. Beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa puasa dapat meningkatkan HDL (high density lipoprotein) dan menurunkan lemak trigliserol (pembentuk kolesterol LDL -low density lipoprotein- yang merusak kesehatan).
  3. Menurunkan tekanan darah.
    Pada mereka yang memiliki tekanan darah tinggi ringan sampai sedang dengan kelebihan berat badan, puasa dapat membantu menurunkan tekanan darah. Namun konsultasi dengan dokter ahli tetap harus dilakukan untuk menyesuaikan pemberian obat.
  4. Membentuk sel-sel baru.
    Puasa juga berfungsi untuk menghilangkan sel-sel rusak dalam tubuh. Rasa lapar pada orang berpuasa membuatnya menggerakan organ-organ internal dalam tubuh dan “memakan” sel-sel yang rusak untuk menutupi rasa lapar. Nah, pada saat itu badan akan menggantinya dengan sel-sel baru, sehingga bisa kembali berfungsi dan beraktivitas.
  5. Mengurangi risiko diabetes.
    Bagi orang sehat, berpuasa dapat mengurangi risiko terkena penyakit diabetes tipe 2. Hal ini terjadi karena pengurangan konsumsi kalori secara fisiologis akan mengurangi sirkulasi hormon insulin dan kadar gula darah. Dengan pengontrolan gula darah yang baik, akan mencegah penyakit diabetes tipe 2, yang disebabkan harmon insulin tidak sensitif lagi mengontrol gula darah.

Itulah beberapa hikmah yang bisa dipetik selama ramadhan, semoga bermanfa’at. wallahu’alambisshawab.

Menebar Kasih Menuai Rahmat Allah

Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (Yunus: 58)

Di antara kebutuhan asasi manusia adalah kasih sayang. Setiap orang memerlukannya, tanpa kecuali. Setiap saat dan setiap waktu kita sangat merindukan kasih sayang orang lain, khususnya orang-orang yang terdekat. Namun banyak di antara kita yang tidak sadar bahwa yang paling menyayangi kita adalah Allah Yang Maha Pencipta. Sifat utama Allah dalam rangkaian Al Asma-ul Husna (Nama-nama Allah yang baik) adalah Ar- Rahmaanir-rohiim (Yang Maha pemurah lagi Maha Penyayang). Allah telah menetapkan dalam dirinya kasih sayang. Kasih sayang Allah telah meliputi murkanya sehingga kemarahan Allah pun sebenarnya dalam rangka sayangnya kepada kita.

Allah Sumber Kasih Sayang
Allah merupakan sumber kasih sayang di alam semsta Kasih sayang Allah disebut dengan rahmat. Ada dua bentuk kasih sayang Allah. Pertama yang gratis tanpa diminta dan kedua kasih sayang Allah yang diberikan karena Allah menghargai upaya manusia tersebut. Yang pertama datang dari sifat Ar rahmaan (Allah yang Maha Pemurah) sedang yang kedua dari sifat Allah Ar Rahiim (Yang Maha Penyayang).

Kasih sayang Allah yang gratis sungguh banyak sehingga kita tidak dapat menghinggakan jumlahnya. Itulah ni’mat yang tak terhitung oleh kita rinciannya. Cobalah kita merenung sejenak. Memikirkan berapa banyak ni’mat yang telah Allah berikan kepada kita. Hidup kita, yang tadinya tiada menjadi ada. Jasad kita dari ujung rambut sampai ujung jari kaki; lengkap dengan seluruh unsurnya. Milyaran desahan nafas yang kita hirup, trilyunan detak jantung yang berdegup di dada kita. Kesehatan jasmani yang sangat mahal meliputi seluruh sel tubuh kita. Allah pun melengkapi hidup kita dengan beraneka ragam sarana yang tiada terkira banyaknya; keluarga, teman, rumah, sekolah, pekerjaan dan lain-lain…

Rahmat Allah bentuk kedua jauh lebih banyak lagi. Meliputi kasih sayang Dunia dan Akhirat diberikan kepada hama-hamba Allah yang beriman dan beramal saleh sepanjang dia menjalani hidupnya sesuai tuntunan imannya itu. Salahsatunya dengan memperbanyak dzikrullah. Firman Allah Ta’ala.

Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan Malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (Al Ahzab: 41-43)

Dengan rahmat Allah, seorang mukmin merasa bahagia karena hidupnya mendapat naungan cinta dan kasih sayang yang tiada putusnya. Kendati demikian, orang mu-min tidak boleh ghurur (tertipu) dengan amal perbuatan yang diusahakannya Karena amal itu sesungguhnya tidak dapat memasukkan dirinya ke dalam syurga sebagaimana dikatakan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam, “Bersungguh-sungguh, bersegera, dan bergembiralah karena tiada seorang pun akan masuk syurga karena amalnya”. Seorang sahabat bertanya, “Apakah juga Anda ya Rasulullah”. Jawab Nabi, “Betul saya juga. Tetapi Allah telah meliputi diri saya dengan rahmat-Nya”. (Mutafaq Alaih)

KARENA KASIH SAYANG
Sahabat Rasulullah, Jabir Radliyallahu Anhu – berkisah, “Suatu ketika Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam keluar menjumpai kami seraya berkata, “Tadi Jibril sahabatku datang menemuiku. Dia berkata, “Hai Muhammad, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran. Ada seorang hamba di antara hamba-hamba Allah telah beribadat kepada Allah selama 500 tahun di puncak gunung yang terletak di suatu pulau di tengah samudera, lebar dan tingginya 30 kali 30 hasta.

Dikelilingi oleh lautan seluas 4000 farsakh dari setiap sisinya. Allah mengeluarkan mata air baginya selebar ibu jari yang memancarkan air tawar yang mengggenang di bawah gunung itu. Dan Allah pun menumbuhkan bagi si abid tadi sebatang pohon delima yang tiap-tiap malam mengeluarkan sebuah delima.Sepanjang hari ia hanya beribadat dan menjelang sore ia berwudlu lalu memetik buah delima itu lalu memakannya. Setelah itu ia mengerjakan sholat kembali. Ia memohon kepada Rabbnya agar bila ajalnya telah tiba dia dimatikan dalam keadaan sujud dan agar bumi serta serangga tidak dapat merusak tubuhnya hingga ia dibangkitkan kelak. Ia ingin berjumpa Allah dalam keadaan sujud”.

Jibril melanjutkan ceritanya, “Permohonannya itu dikabulkan Allah. Dan kami (para Malaikat) melaluinya ketika kami turun atau naik. Kami dapatkan ia dalam ilmu, bahwa tatkala ia dibangkitkan pada hari kiamat ia dihadapkan kepada Allah. Lantas Allah berkata kepada Malaikat-Nya, “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam syurga dengan rahmat-Ku!”
Si Abid tadi menyelak, “Ya Rabb, bahkan dengan amalku?” Allah berkata, “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam syurga dengan rahmat-Ku!” Si Abid tadi berkata lagi, “Ya Rabb, bahkan dengan amalku?” Kemudian Allah berkata, “Timbanglah berat ni’mat-ni’mat-Ku kepadanya, dan bandingkan dengan amal perbuatannya!”

Maka setelah Malaikat menimbang didapatkan bahwa selama lima ratus tahun ibadatnya hanya mencukupi ni’mat mata saja. Sedangkan ni’mat jasad lainnya belum tertebus dengan amalnya. Maka Allah memerintahkan, “Masukkan hamba-Ku itu ke dalam neraka!” Ia pun digiring ke dalam neraka. Lantas si Abid berteriak, “”Ya Allah, dengan rahmat-Mu, masukkanlah aku ke dalam syurga!”Allah berkata, “Kembalikanlah ia!” Kemudian ia dihadapkan kembali kepada Allah yang bertanya kepadanya, “Hai hamba-Ku. Siapakah yang telah menciptakanmu sebelum engkau ada?”

Dia menjawab, “Engkau ya Tuhanku” “Siapakah yang telah memberimu kekuatan untuk beribadat selama lima ratus tahun”, tanya Allah lagi, “Engkau ya Tuhanku”, jawabnya. “Siapakah yang telah menempatkanmu di puncak gunung di tengah-tengah samudera dan mengeluarkan untukmu air tawar dan air asin, dan mengeluarkan sebuah delima setiap malam padahal delima itu hanya keluar sekali setahun” “Engkau Ya Tuhanku”.

Lantas Allah melanjutkan, “Itu semua adalah dengan rahmat-Ku. Dan dengan rahmat-Ku pula engkau Kumasukkan ke dalam syurga. Nah masukkan hamba-Ku ke dalam syurga”. Akhirnya Jibril berkata, “Sesungguhnya segala sesuatu itu hanya dengan rahmat Allah, Ya Muhammad”. (HR. Al Mundziry)

Imam Al Ghozali telah dimimpikan dalam tidur lalu dikatakan kepadanya: “Apakah yang diperlakukan oleh Allah SWT kepadamu?”

Beliau berkata: “Aku telah dihadapkan kehadapan Allah SWT seraya Allah SWT berfirman kepadaku: “Sebab apa engkau dihadapkan kepada-Ku?” Maka aku mulai menyebutkan amal-amalku.

Kemudian Allah SWT berfirman: “Aku tidak menerima amal-amal tersebut. Sesungguhnya yang Aku terima dari kamu hanyalah pada suatu hari ada sekor lalat yang hinggap pada tinta penamu untuk meminum tinta tersebut, sedangkan engkau tengah menulis, lalu engkau berhenti menulis karena sayangmu pada lalat tersebut sehingga lalat tersebut dapat mengambil bagiannya”.

Allah SWT berfirman: “Wahai para malaikat, bawalah hamba-Ku Al Ghozali ini ke dalam surga!”

MENEBAR KASIH SAYANG
Rasulullah SAW diutus ke dunia ini untuk menebarkan rahmat ke seluruh alam semesta. Sebagaimana yang dinyatakan Allah SWT. “Tidakkah kami utus engkau (Muhammad) kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (QS. Al Anbiya’ 107). Rahmat yang dipancarkan ajaran-ajaran Islam yang dibawanya ini tidak saja diperuntukkan kepada manusia saja akan tetapi menyelimuti seluruh makhluk ciptaan Allah. Beliau pernah bersabda yang artinya:”Orang-orang yang menebarkan rahmat (kasih sayang) akan dilimpahi rahmat oleh Allah. Oleh sebab itu tebarkanlah kasih sayang kepada semua yang di bumi ini supaya dianugerahi kasih sayang oleh yang ada di langit.” (HR.Ahmad, Al Hakim, Abu Daud, Turmudzy)

Para penyayang itu akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Sayangilah olehmu sekalian makhluk yang ada di bumi, niscaya akan menyayangi kamu sekalian makhluk yang ada di langit. [HR. Abu Daud dan Tarmidzi]

Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya penduduk langit pun akan menyayangi kalian. [HR. Ahmad]

Pengertian dari hadits ini adalah bahwa orang-orang yang sayang kepada makhluk yang ada di bumi dari manusia dan binatang yang tidak diperintah membunuhnya dengan berbuat baik kepadanya, maka Dzat Yang Maha Penyayang akan berbuat baik kepada mereka. Sayangilah olehmu sekalian siapa saja yang kamu sekalian mampu menyayangi mereka dari jenis-jenis makhluk Allah ta’ala, meskipun makhluk yang tidak berakal, dengan mengawsihi mereka dan berdoa bagi mereka dengan rahmat dan ampunan, niscaya para malaikat akan memohonkan ampun bagi kamu sekalian.

Termasuk apa yang di bumi adalah segala tanaman dan juga makhluq tak bernyawa seperti tanah, batu, air, dan udara. Jika kita menyayangi itu semua, maka Allah pun menyayangi kita. Jika Allah menyayangi kita, maka seluruh malaikat pun akan menyayangi kita, dan kemudian diilhamkan kepada makhluq yang di bumi agar menerima kita.

Apabila Allah mencintai seorang hamba-Nya, Dia menyeru Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai si anu maka cintailah dia.” Maka jibril mencintai hamba itu lalu Jibril berseru kepada penduduk langit: “Sesungguhnya Allah mencintai si anu, maka cintailah dia.” Maka seluruh penduduk langit mencintai hamba itu, kemudian orang itu pun dijadikan bisa diterima oleh penduduk bumi. [HR. Bukhari dari Abu Hurairah]

>Menebar Kasih Menuai Rahmat Allah

>

Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (Yunus: 58)

Di antara kebutuhan asasi manusia adalah kasih sayang. Setiap orang memerlukannya, tanpa kecuali. Setiap saat dan setiap waktu kita sangat merindukan kasih sayang orang lain, khususnya orang-orang yang terdekat. Namun banyak di antara kita yang tidak sadar bahwa yang paling menyayangi kita adalah Allah Yang Maha Pencipta. Sifat utama Allah dalam rangkaian Al Asma-ul Husna (Nama-nama Allah yang baik) adalah Ar- Rahmaanir-rohiim (Yang Maha pemurah lagi Maha Penyayang). Allah telah menetapkan dalam dirinya kasih sayang. Kasih sayang Allah telah meliputi murkanya sehingga kemarahan Allah pun sebenarnya dalam rangka sayangnya kepada kita.

Allah Sumber Kasih Sayang
Allah merupakan sumber kasih sayang di alam semsta Kasih sayang Allah disebut dengan rahmat. Ada dua bentuk kasih sayang Allah. Pertama yang gratis tanpa diminta dan kedua kasih sayang Allah yang diberikan karena Allah menghargai upaya manusia tersebut. Yang pertama datang dari sifat Ar rahmaan (Allah yang Maha Pemurah) sedang yang kedua dari sifat Allah Ar Rahiim (Yang Maha Penyayang).

Kasih sayang Allah yang gratis sungguh banyak sehingga kita tidak dapat menghinggakan jumlahnya. Itulah ni’mat yang tak terhitung oleh kita rinciannya. Cobalah kita merenung sejenak. Memikirkan berapa banyak ni’mat yang telah Allah berikan kepada kita. Hidup kita, yang tadinya tiada menjadi ada. Jasad kita dari ujung rambut sampai ujung jari kaki; lengkap dengan seluruh unsurnya. Milyaran desahan nafas yang kita hirup, trilyunan detak jantung yang berdegup di dada kita. Kesehatan jasmani yang sangat mahal meliputi seluruh sel tubuh kita. Allah pun melengkapi hidup kita dengan beraneka ragam sarana yang tiada terkira banyaknya; keluarga, teman, rumah, sekolah, pekerjaan dan lain-lain…

Rahmat Allah bentuk kedua jauh lebih banyak lagi. Meliputi kasih sayang Dunia dan Akhirat diberikan kepada hama-hamba Allah yang beriman dan beramal saleh sepanjang dia menjalani hidupnya sesuai tuntunan imannya itu. Salahsatunya dengan memperbanyak dzikrullah. Firman Allah Ta’ala.

Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan Malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (Al Ahzab: 41-43)

Dengan rahmat Allah, seorang mukmin merasa bahagia karena hidupnya mendapat naungan cinta dan kasih sayang yang tiada putusnya. Kendati demikian, orang mu-min tidak boleh ghurur (tertipu) dengan amal perbuatan yang diusahakannya Karena amal itu sesungguhnya tidak dapat memasukkan dirinya ke dalam syurga sebagaimana dikatakan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam, “Bersungguh-sungguh, bersegera, dan bergembiralah karena tiada seorang pun akan masuk syurga karena amalnya”. Seorang sahabat bertanya, “Apakah juga Anda ya Rasulullah”. Jawab Nabi, “Betul saya juga. Tetapi Allah telah meliputi diri saya dengan rahmat-Nya”. (Mutafaq Alaih)

KARENA KASIH SAYANG
Sahabat Rasulullah, Jabir Radliyallahu Anhu – berkisah, “Suatu ketika Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam keluar menjumpai kami seraya berkata, “Tadi Jibril sahabatku datang menemuiku. Dia berkata, “Hai Muhammad, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran. Ada seorang hamba di antara hamba-hamba Allah telah beribadat kepada Allah selama 500 tahun di puncak gunung yang terletak di suatu pulau di tengah samudera, lebar dan tingginya 30 kali 30 hasta.

Dikelilingi oleh lautan seluas 4000 farsakh dari setiap sisinya. Allah mengeluarkan mata air baginya selebar ibu jari yang memancarkan air tawar yang mengggenang di bawah gunung itu. Dan Allah pun menumbuhkan bagi si abid tadi sebatang pohon delima yang tiap-tiap malam mengeluarkan sebuah delima.Sepanjang hari ia hanya beribadat dan menjelang sore ia berwudlu lalu memetik buah delima itu lalu memakannya. Setelah itu ia mengerjakan sholat kembali. Ia memohon kepada Rabbnya agar bila ajalnya telah tiba dia dimatikan dalam keadaan sujud dan agar bumi serta serangga tidak dapat merusak tubuhnya hingga ia dibangkitkan kelak. Ia ingin berjumpa Allah dalam keadaan sujud”.

Jibril melanjutkan ceritanya, “Permohonannya itu dikabulkan Allah. Dan kami (para Malaikat) melaluinya ketika kami turun atau naik. Kami dapatkan ia dalam ilmu, bahwa tatkala ia dibangkitkan pada hari kiamat ia dihadapkan kepada Allah. Lantas Allah berkata kepada Malaikat-Nya, “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam syurga dengan rahmat-Ku!”
Si Abid tadi menyelak, “Ya Rabb, bahkan dengan amalku?” Allah berkata, “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam syurga dengan rahmat-Ku!” Si Abid tadi berkata lagi, “Ya Rabb, bahkan dengan amalku?” Kemudian Allah berkata, “Timbanglah berat ni’mat-ni’mat-Ku kepadanya, dan bandingkan dengan amal perbuatannya!”

Maka setelah Malaikat menimbang didapatkan bahwa selama lima ratus tahun ibadatnya hanya mencukupi ni’mat mata saja. Sedangkan ni’mat jasad lainnya belum tertebus dengan amalnya. Maka Allah memerintahkan, “Masukkan hamba-Ku itu ke dalam neraka!” Ia pun digiring ke dalam neraka. Lantas si Abid berteriak, “”Ya Allah, dengan rahmat-Mu, masukkanlah aku ke dalam syurga!”Allah berkata, “Kembalikanlah ia!” Kemudian ia dihadapkan kembali kepada Allah yang bertanya kepadanya, “Hai hamba-Ku. Siapakah yang telah menciptakanmu sebelum engkau ada?”

Dia menjawab, “Engkau ya Tuhanku” “Siapakah yang telah memberimu kekuatan untuk beribadat selama lima ratus tahun”, tanya Allah lagi, “Engkau ya Tuhanku”, jawabnya. “Siapakah yang telah menempatkanmu di puncak gunung di tengah-tengah samudera dan mengeluarkan untukmu air tawar dan air asin, dan mengeluarkan sebuah delima setiap malam padahal delima itu hanya keluar sekali setahun” “Engkau Ya Tuhanku”.

Lantas Allah melanjutkan, “Itu semua adalah dengan rahmat-Ku. Dan dengan rahmat-Ku pula engkau Kumasukkan ke dalam syurga. Nah masukkan hamba-Ku ke dalam syurga”. Akhirnya Jibril berkata, “Sesungguhnya segala sesuatu itu hanya dengan rahmat Allah, Ya Muhammad”. (HR. Al Mundziry)

Imam Al Ghozali telah dimimpikan dalam tidur lalu dikatakan kepadanya: “Apakah yang diperlakukan oleh Allah SWT kepadamu?”

Beliau berkata: “Aku telah dihadapkan kehadapan Allah SWT seraya Allah SWT berfirman kepadaku: “Sebab apa engkau dihadapkan kepada-Ku?” Maka aku mulai menyebutkan amal-amalku.

Kemudian Allah SWT berfirman: “Aku tidak menerima amal-amal tersebut. Sesungguhnya yang Aku terima dari kamu hanyalah pada suatu hari ada sekor lalat yang hinggap pada tinta penamu untuk meminum tinta tersebut, sedangkan engkau tengah menulis, lalu engkau berhenti menulis karena sayangmu pada lalat tersebut sehingga lalat tersebut dapat mengambil bagiannya”.

Allah SWT berfirman: “Wahai para malaikat, bawalah hamba-Ku Al Ghozali ini ke dalam surga!”

MENEBAR KASIH SAYANG
Rasulullah SAW diutus ke dunia ini untuk menebarkan rahmat ke seluruh alam semesta. Sebagaimana yang dinyatakan Allah SWT. “Tidakkah kami utus engkau (Muhammad) kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (QS. Al Anbiya’ 107). Rahmat yang dipancarkan ajaran-ajaran Islam yang dibawanya ini tidak saja diperuntukkan kepada manusia saja akan tetapi menyelimuti seluruh makhluk ciptaan Allah. Beliau pernah bersabda yang artinya:”Orang-orang yang menebarkan rahmat (kasih sayang) akan dilimpahi rahmat oleh Allah. Oleh sebab itu tebarkanlah kasih sayang kepada semua yang di bumi ini supaya dianugerahi kasih sayang oleh yang ada di langit.” (HR.Ahmad, Al Hakim, Abu Daud, Turmudzy)

Para penyayang itu akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Sayangilah olehmu sekalian makhluk yang ada di bumi, niscaya akan menyayangi kamu sekalian makhluk yang ada di langit. [HR. Abu Daud dan Tarmidzi]

Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya penduduk langit pun akan menyayangi kalian. [HR. Ahmad]

Pengertian dari hadits ini adalah bahwa orang-orang yang sayang kepada makhluk yang ada di bumi dari manusia dan binatang yang tidak diperintah membunuhnya dengan berbuat baik kepadanya, maka Dzat Yang Maha Penyayang akan berbuat baik kepada mereka. Sayangilah olehmu sekalian siapa saja yang kamu sekalian mampu menyayangi mereka dari jenis-jenis makhluk Allah ta’ala, meskipun makhluk yang tidak berakal, dengan mengawsihi mereka dan berdoa bagi mereka dengan rahmat dan ampunan, niscaya para malaikat akan memohonkan ampun bagi kamu sekalian.

Termasuk apa yang di bumi adalah segala tanaman dan juga makhluq tak bernyawa seperti tanah, batu, air, dan udara. Jika kita menyayangi itu semua, maka Allah pun menyayangi kita. Jika Allah menyayangi kita, maka seluruh malaikat pun akan menyayangi kita, dan kemudian diilhamkan kepada makhluq yang di bumi agar menerima kita.

Apabila Allah mencintai seorang hamba-Nya, Dia menyeru Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai si anu maka cintailah dia.” Maka jibril mencintai hamba itu lalu Jibril berseru kepada penduduk langit: “Sesungguhnya Allah mencintai si anu, maka cintailah dia.” Maka seluruh penduduk langit mencintai hamba itu, kemudian orang itu pun dijadikan bisa diterima oleh penduduk bumi. [HR. Bukhari dari Abu Hurairah]